Ad Code

Adagium Perang yang Sederhana

Ada sebuah adagium yang diujar oleh praktisi yang kemudian menjadi teoretisi perang asal Jerman, Carl von Clausewitz. Bunyinya sebagai berikut, "The result of a war is never absolute." Hasil akhir dari suatu perang tidak pernah mutlak. Perang, adalah satu metode dalam politik. Jika terjadi perang internal, misalnya dahulu antara Pemerintah RI melawan GAM dan atau OPM. Baik pemerintah RI maupun GAM dan atau OPM, dalam konteks perang yaitu aneka pertempuran yang terjadi di dalamnya, selama sekian tahun, tidak pernah bisa mampu menghabisi seluruh kekuatan bersenjata GAM maupun OPM. Demikian pula sebaliknya, baik GAM maupun OPM tidak pernah bisa melepaskan diri dari Republik Indonesia kendatipun untuk senjata barangkali mereka punya sumber yang berkepentingan atas tujuan separatis mereka.


Demikian pula, hasil dari dua kali Perang Irak yang digagas baik oleh George Bush (semak) Tua dan Georga Bush (semak) Muda. Tahun 1990-an, Irak melakukan invasi atas Kuwait dikarenakan minyak dan banyaknya pangkalan AS di sana, sebagai hasil propaganda para "hawkish" Gedung Putih yang dikompori oleh Zionis Israel. Wilayah Irak, terutama di bagian barat adalah bagian dari peta imajiner Israel Raya. Hasil dari perang tersebut adalah Kuwait gagal dianeksasi Irak. Kendati pun demikian wilayah kedaulatan Irak (saat itu masih di bawah Saddam Hussein) status quo, rezimnya tetap bertahan, tetapi menguras kapasitas persenjataan, ekonomi, dan turunnya moralitas pasukan dan rakyat Irak. Terlebih lagi, Saddam Hussein bukanlah pemimpin yang terlalu dicintai rakyat Irak. 

Gambar Digenerate Menggunakan perchance.org

Irak adalah negara Arab yang penduduknya mayoritas Islam. Namun, umat Islam di Irak terbelah menjadi dua mazhab berbeda yaitu Sunni dan Syiah. Saddam Hussein adalah penganut Sunni dan tentu saja aneka kebijakannya lebih banyak mendengarkan para ulama Sunni. Sementara itu umat Islam yang bermazhab Syiah yang banyak terkonsentrasi di Selatan, Tenggara, dan Timur Irak ada kemungkinan "setengah hati" dalam mendukung Perang Irak I. Bantuan paling potensial bagi Irak sesungguhnya dapat berasal dari Iran. Namun, Iran tentu masih belum pulih dari trauma Perang Iran-Irak (yang digagas AS dan Zionis Israel) yang tujuan utamanya adalah menggulingkan pemerintah Iran yang berbasis Velayat el-Faqih pasca Revolusi Islam Iran tahun 1979. 

Selain itu, rezim Hussein adalah rezim Partai Baath yang sosialis. Rezim sekuler kiri yang di internal Iran pun menjadi persoalan dengan keberadaan milisi Mojahedin e-Khalk yang dikawatirkan akan bergerak dari internal mereka, kendati pun dibandingkan Irak, AS dan Zionis Israel adalah musuh yang lebih besar bagi Iran. Irak pun akhirnya hanya mengandalkan persenjataan bantuan dari "Rusia" bekasi Uni Sovyet yang masih berkutat dalam membenahi urusan internal mereka. Rudal-rudal SCUD Irak yang saat itu dibilang canggih bertempur melawan rudal-rudal Tomahawk AS. 

Selain itu, medan Perang Irak I mayoritas adalah medan datar dan gurun. Satelit-satelit AS tentu saja sangat mudah mendeteksi pergerakan pasukan dan artileri Irak. Juga, Irak (masih di bawah Saddam Hussein) juga adalah proxy AS dalam melawan Iran dalam perang tahun 1980an. Sehingga AS memiliki "buku catatan" perihal kekuatan militer Irak. Para pembaca tentu masih ingat bahwa Saddam Hussein sampai perlu menambahkan kalimat Allahu Akbar di bendera nasional mereka. Namun, negara mayoritas Islam mana yang tertarik membantu Irak: Irak menginvasi Kuwait, rezim Partai Baath adalah rezim sekuler bukan Islam,  kampanye solidaritas Arab yang dipropagandakan Hussein gagal karena bagaimana solidaritas Arab dapat terbangun sementara Irak pun tega menginvasi Kuwait yang notabene negara Arab. Dengan ini, adagium the result of a war is never absoluti pun berlaku. 

Demikian, secara praktis Irak harus berperang sendiri melawan AS yang telah memiliki informasi yang cukup untuk memaksa Irak menghentikan perang. Akhirnya, Irak harus angkat kaki dari Kuwait, membayar ganti-rugi, dan AS melalui Dewan Keamanan PBB memberlakukan embargo atas Irak. Namun, mengapa rezim Saddam Hussein tidak digulingkan saja langsung oleh AS? Alasan utamanya adalah Irak masih diperlukan sebagai barrier pengaruh Iran atas kawasan Arab di Timur Tengah. AS berkepentingan agar ideologi revolusi Islam Iran tidak menular ke negara-negara "kambrat" AS dan Zionis-Israel di Timur Tengah seperti Saudi, Qatar, Kuwait, UAE, Oman, Bahrain, ataupun Yordania. 

Dari Perang Irak Pertama sesungguhnya rencana AS dan Zionis Israel atas Israel Raya dan penguasaan minyak dunia menjadi telah memperlihatkan buktinya. Anda dapat membaca di aneka buku kritis tulisan para penulis Barat sendiri seperti Jonathan Cook, John Mearsheimer dan Stephen Walt. Itu selain aneka tulisan intelektual Yahudi "rabaniyyun" seperti Norman Finkelstein, Ilan Pappe, dan tentu saja Noam Chomsky. 

Akhir dari Perang Irak Pertama adalah embargo ekonomi dan militer guna memastikan Irak ada dalam posisi lemah. Tahun 2001 diadakanlah "dalih" perang besar demi Israel Raya dan minyak yaitu rentetan Perang Irak Kedua (2003), Perang Libya, "Perang Aljazair," "Perang Tunisia", "Perang Mesir", Perang Suriah, dan Perang Afghanistan. AS dan Zionis Israel menang untuk sementara. Arab Spring diciptakan sebagai perang "vertikel internal" antara warganegara Arab yang ingin bebas dari kungkungan rezim otoritarian pemerintah di negara masing-masing negara. 

Skenario perang "vertikal internal" ini membuat rezim petro dollar paling strategis di Timur-Tengah menderita "ketakutan" atas badai politik yang dengan sinis disebut sebagai "Arab Spring." Namun, manakala tiba di "kata" Iran, lobi Zionis di Gedung Putih dan Kongres belum berhasil memaksa AS menjadi "anjing" Pitbull untuk menggigit Iran. Iran ini berbeda, AS belum siap sebagai Pittbull Zionis Israel untuk menggigit Iran.  

Saudi, Qatar, UAE, Oman, Bahrain, Kuwait secara psikologi dipaksa untuk semakin bergantung kepada AS dan mendapat "restu" Zionis Israel agar dapat tetap berkuasa. Pangkalan-pangkalan militer AS didirikan di sekujur negara petrodollar, bahkan di Kuwait sendiri yang wilayah geografisnya sangat kecil malah ada tiga pangkalan militer AS di sana. 

Dalam rentetang perang yang digagas AS-Lobi Zionis Israel, masyarakat AS sangat menderita. Tibanya peti-peti mati berisikan jenazah putra-putri serdadu militer AS memunculkan kemuakan di kalangan rakyat AS atas perang yang tidak perlu, bahkan mubazir. Inilah mengapa di hampir di sepanjang rezim Obama AS sangat jarang terlibat dalam perang-perang yang terus digagas Zionis. Perang tetap dilakukan oleh AS tetapi dalam wujud proxy semisal pembentukan ISIS, penggunaan tentara bayaran dari perusahaan SDM perang seperti Blackwater, Inc. dan sejenisnya. Di masa-masa ini AS lebih terkonsentrasi untuk mengisolasi Iran dari dunia internasional. 

Dunia pun berubah. Unipolaritas AS sudah tidak sekuat dahulu. Muncul Rusia dan Cina sebagai potent alpha male. Kedua rival AS tersebut kemudian membentuk BRIC yang kemudian dikembangkan menjadi BRICS+. Memang, statuta BRICS adalah kerjasama ekonomi, tetapi bukan tidak mungkin jalinan kerja sama ekonomi menjadi selubung kerja sama jenis lain. Iran kemudian bergabung dengan BRICS kemudian menjadi BRICS+ yaitu Brazil, Rusia, India, China, South Africa, Iran, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. 

Setelah periode "hibernasi bergeliat" di rezim Partai Demokrat selesai, muncul seorang hawkish seperti Donald Trump memimpin AS. Warganegara AS kembali trauma atas perang. Perang yang menyedot dana-dana "welfare state" bagi warganegara AS seperti anggara kesehatan, pendidikan, jaring pengaman sosial, dan keamanan warganegara AS yang berpelesir dan berbisnis di seluruh dunia. Trauma ini kemudian dibuktikan dengan kalahnya Trump dalam Pilpres AS dengan mana ia dikalahkan oleh Biden. Di masa Biden ini pula, trauma warganegara AS atas perang "yang tidak perlu" diakomodasi. AS bersikap pasif dalam konflik bersenjata Rusia versus Ukraina. Walaupun Zelensky, presiden Ukraina yang berasal dari ras Yahudi Ashkenazi berkali-kali melakukan "drama Korea" untuk melibatkan AS dan NATO ke perang mereka. 

Zelensky memaksa Rusia untuk angkat senjata dengan provokasi bertajuk "Ukraina Ingin Bergabung dengan NATO." Tentu saja Rusia meradang karena itu ibarat membiarkan seekor anjing Pitbull ganas diikat "rantai plastik" di halaman depan "rumah" Rusia. Konflik bersenjata Rusia-Ukraina tidak terhindarkan. Hingga rezim Biden berganti dengan rezim Trump di AS, konflik bersenjata Rusia-Ukraina tidak kunjung berhenti. Perang antar bangsa tiada lain adalah kesinambungan politik dalam wujud lain. Rusia tidak berhenti di Ukraina untuk menunjukkan bahwa NATO tidak boleh terus melakukan ekspansi ke negara-negara yang berbatasan langsung dengan Rusia. Zelensky dibiarkan hidup untuk membongkar bagaimana politik Zionis di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah. Rusia pun berencana untuk tidak merusak fasilitas-fasilitas strategis terkait Sumber Daya Alam di Ukraina, terutama kesuburan tanah. 

Terakhir, tetapi bukan akhir kisah, Trump-Netanyahu menyerang Iran dengan mencontoh blitzkrieg Nazi Jerman Hitler. Tanggal 28 Februari 2026 Ayatollah Khamenei syahid, tetapi Iran tidak jatuh. Mojtaba Khamenei yang lebih anti AS dan Zionis Israel justru terpilih menjadi Supreme Leader Iran. Hingga tulisan ini dibuat, warganegara Israel yang biasa hidup enak kini terpaksa mengalami apa yang sejak tahun 1948 dialami bangsa Palestina: Hidup di bawah ancaman maut setiap detik. Warganegara Israel banyak yang tewas tetapi tidak diberitakan karena rezim Netanyahu mengancam pidana 5 tahun penjara apabila ada rakyat Israel yang memberitakan kerusakan sebenarnya di sekujur wilayah Israel yang selama ini makmur: Tel Aviv dan Haifa. 

Pada lain pihak, damage di Iran tidak kalah ekstremnya. Fasilitas militer, sipil, dan korban manusia  terjadi. Berbeda dengan rakyat Israel, rakyat Iran terbiasa hidup susah sejak tahun 1979. Sebab itu kebertahanan hidup dan semangat di level warganegara antara Israel dan Iran berbeda. Rakyat Iran lebih unggul dari sisi survival ketimbang Israel. Juga, akibat wilayah geografis Iran yang luas, penduduknya yang berjumlah besar, benteng-benteng alamiah Iran yaitu Pegunungan Elbrus di utara dan Zagros di selatan, membuat para komandan dan ahli strategi militer di marinir AS dan pasukan Israel "ciut" nyalinya. 

Di lain pihak, warganegara AS masih mengalami trauma akibat Perang Irak Kedua dan Perang Afghanistan, dua perang yang tidak mutlak dimenangkan AS. Buktinya, niat Zionis Israel dan AS untuk memecah Irak menjadi dua negara Sunni dan Syiah gagal dengan diriliskan Deklarasi Perdamaian Sunni-Syiah di Mekkah tahun 2008. Kesia-siaan Perang Afghanistan juga terbukti dengan kembali berkuasanya Rezim Taliban di sana. Lalu, rakyat AS yang lebih waras dari Trump dan para penasehatnya yang dimakelari oleh Jared Kuchner (menantu Trump yang Yahudi Ortodoks) pasti mempertanyakan: Mengapa harus jatuh ke lubang yang sama untuk kesekian kalinya? Padahal, seekor keledai pun tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk dua kali berturut-turut. Inilah yang terjadi apabila sebuah negara besar dan kuat dipimpin oleh seorang fasik. Seorang fasik yang gagal paham bahwa the result of a war is never absolute. 

Perang AS terhadap Iran adalah bukan perang antara bangsa Amerika melawan Iran. Juga bukan perang antara bangsa Israel melawan Iran. Perang yang terjadi adalah Perang Zionis dalam Mewujudkan Israel Raya. Wujud imajinatif para penganut Zionis Sekuler dan Religius yang sentripetal karena menganggap kejayaan masa lampau adalah dapat diulang. Ada yang bicara bahwa itulah yang dibicarakan oleh Talmud mereka. Namun, Talmud adalah tafsir atas Taurat yang disusun oleh sekian banyak rabi Yahudi. Israel Raya yang imajinatif itu hanyalah tafsiran rabi Zionis yang seharusnya dibenturkan kepada realitas. Seluruh negara petrodollar akan terkena dampak dari cita-cita Israel Raya. Kini pun mereka sudah terkena dampaknya: Wisatawan menurun, kegiatan ekonomi sangat terganggu, kenyamanan hidup diwarnai seliweran rudal dan drone, juga "musik" ledakan yang sayup-sayup dan atau jelas terdengar. 

Perang di Iran adalah Perang Zionis Israel, sebab di sepanjang sejak tahun 2000 (bahkan jauh sebelumnya yaitu 1848 saat Manifesto Partai Komunis ditulis Moses Mordechai Marx dan Friedrich Engels, telah direncanakan. Tidak kurang seorang pebisnis bernama Henry Ford pun menulis buku berjudul The International Jews. Juga temuan seorang Jenderal Inggris bernama Deedes atas tulisan berjudul The Protocol of Elder Jews. Dengan demikian, diperanginya Iran oleh AS adalah bukan pemenuhan janji Trump yaitu MAGA (Make America Great Again) melainkan MGICT (Make Greater Israel Come True). 

Trump telah dikader oleh Zionis Internasional untuk menjadi presiden AS karena secara psikologis ia memiliki kelemahan psikologis-prinsip sehinggga tidak akan ragu menyerang Iran. Trump tidak akan terpilih sebagai presiden AS jika tidak dijebak dalam masalah pribadi Epstein Files (Epstein ini seorang Zionis) yang membuat warga negara AS harus turut menanggung "dosanya." Trump yang kurang cerdas dijebak dalam sebuah perang ideologis jangka panjang antara Zionis versus Islam. Trump kini tidak akan bisa melepaskan diri dari jeratan Zionis tanpa menghancurkan dirinya sendiri. There are no exit ways for Trump. He just a tool from big rogue namely International Zionist. Megalomania yang diderita Trump akan berakhir dalam malam-malam panjang yang penuh emosi kemarahan tak tersalurkan. 

Hal yang ironis adalah publik Dunia Yang Mayoritas Penduduknya Beragama Islam, Minimal di KTP. Para pemimpin negara-negara tersebut tentu tahu, bahwa serangan atas Iran bukan perang yang perlu (necessary war). Perang itu adalah Perangnya Netanyahu + Trump (Netty and Trumpstein). 

Keputusan yang dibuat seorang psikotik tentu akan diwarnai unsur psikotik. Mereka semua tahu, Benjamin Netanyahuti adalah War Criminal atau Penjahat Perang yang vonisnya sudah diketuk palu oleh Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court) di The Hague bahkan sempat dikejar-kejar akibat kejahatan kemanusiaannya di Gaza. Bagaimana kejiwaan Netanyahu saat memerintahkan genosida di Gaza? Ia tersenyum dan menyeringai. Semua juga tahu, Trump direkam oleh agen Zionis bernama Epstein Sang Pefofil dalam Epstein Files. 

Bagaimana rakyat di negara sebesar AS masih bisa punya harga diri mengetahui pemimpin mereka punya kaitan hubungan Epstein, pelaku perbuatan zalim dan menjijikkan? Ada peribahasa jika kau ingin tahu perilaku seseorang, lihat dengan siapa dia bergaul. Menyiksa anak perempuan di bawah umum pun senyum dan menyeringai apalagi membunuhi orang-orang Muslim di Iran. Agaknya Tuhan Netty-Trumpstein bukanlah Tuhan sebagaimana umat Islam, Kristen, dan Yahudi persepsikan. Tuhan Netty-Trumpstein itu berbeda dengan yang disembah oleh umat-umat beragama. Buktinya? Lihat perbuatan mereka, jangan kata-kata mereka. kata-kata dapat diputar balik, tetapi kenyataan tindakan adalah tidak.  

Sampai jumpa di tulisan kami selanjutnya. 

Posting Komentar

0 Komentar