Ad Code

Diktat Mata Kuliah Resensi Buku Humor Satir Politik


Halo Para Pengujung Setia website Seta Basri Tetap Menulis. Kini kami hadir dengan aneka kompilasi berupa Diktat Mata Kuliah, Buku-buku Referensi, dan Aneka Sinopsi Buku Penting yang karena Anda kurang waktu luang untuk membaca tuntas, kami sajikan inti-inti pikiran yang dimaksudkan oleh sang penulis. 

Donasi, jika Anda ikhlas, dapat dilakukan di :


Silakan Anda memilah-dan-memilih sebelum menjatuhkan pilihan. Hal ini penulis baktikan demi penyebaran ilmu pengetahuan yang penulis rasakan jadi beban apabila tidak dibagi kepada khalayak penggemar Ilmu Politik berikut turunan-turunannya. 


Anatomi Sang Jago Teori Lokal Strongmen dan Lanskap Politik Indonesia


Buku yang kini berada di tangan Anda, atau lebih tepatnya, di layar perangkat Anda, adalah hasil dari sebuah pengembaraan intelektual yang panjang, melelahkan, dan seringkali meresahkan. Ia lahir dari sebuah kegelisahan yang telah lama menghantui saya: mengapa, di negeri yang konstitusinya begitu indah dan rakyatnya begitu tangguh, kita seolah tak berdaya menyaksikan para "jagoan" lokal, para bandit berdasi, preman berjubah, dan dermawan predatoris, terus menari di atas puing-puing kontrak sosial (konstitusi)? Mengapa negara kita, yang merdeka dengan darah dan air mata, seolah menjadi panggung bagi ribuan raja kecil yang memerintah tanpa mahkota, tetapi dengan golok, uang, dan koneksi?   Kegelisahan itu membawa saya pada perjalanan yang tidak terduga. Awalnya, saya hanya ingin menulis sebuah analisis politik biasa, mungkin sebuah artikel jurnal atau makalah seminar. Namun, semakin dalam saya menggali, semakin jelas bahwa fenomena Local Strongman di Indonesia tidak bisa dipahami hanya dengan konsep-konsep ilmu politik konvensional. Ia menuntut saya untuk menyelami ranah yang lebih dalam: ontologi (apa hakikat keberadaan mereka?), epistemologi (bagaimana kita bisa mengetahui yang sengaja disembunyikan?), dan aksiologi (bagaimana kita menilai moralitas mereka yang sekaligus pemangsa dan pelindung?). Ia memaksa saya untuk menelusuri lorong-lorong sejarah, dari Jago Betawi di abad ke-19 hingga broker politik di era Pilkada. Ia membawa saya ke tambang emas liar di Kalimantan, ke pasar-pasar yang dikuasai geng motor di Medan, dan ke tanah-tanah warisan Jawara di Banten yang terus direbut.   Buku ini, oleh karena itu, bukanlah bacaan ringan. Ia adalah upaya untuk membangun sebuah anatomi, sebuah pisau bedah konseptual, untuk membongkar tubuh kuasa informal yang telah menjadi parasit sekaligus simbion dalam tubuh negara Indonesia. Saya menggunakan kerangka 5W+1H yang elementer, tetapi mengisinya dengan refleksi filosofis dan jejak genealogis para mahaguru: dari Weber yang fondasional, Migdal yang kritis, hingga Sidel yang tajam. Saya mencoba merajut semuanya menjadi satu sintesis, dengan harapan bisa memberikan peta yang lebih jernih untuk membaca rimba kuasa di negeri ini.   Buku ini tidak menawarkan resep mujarab. Ia tidak menjanjikan bahwa setelah membacanya, kita akan tahu cara menyingkirkan para Strongman dalam semalam. Sebaliknya, buku ini mungkin akan membuat Anda lebih gelisah. Karena di bagian akhir, saya sampai pada refleksi yang agak pahit: bahwa para jagoan ini adalah bagian dari kodrat politik kita, produk dari struktur yang kita bangun dan naluri yang kita warisi. Mereka mungkin tidak akan pernah benar-benar lenyap. Namun, justru di dalam pengakuan itulah, menurut saya, letak awal dari perlawanan yang sejati. Kita tidak bisa melawan apa yang tidak kita kenali. Kita tidak bisa menyembuhkan penyakit yang tidak berani kita diagnosa dengan jujur.   Saya menulis buku ini bagi siapa pun yang masih peduli, aktivis, mahasiswa, akademisi, jurnalis, atau warga biasa yang lelah dengan keadaan. Saya menulisnya dengan bahasa yang kadang puitis, kadang sarkastis, dan kadang filosofis, karena saya percaya bahwa memahami politik tidak harus selalu kering dan teknokratis. Kuasa adalah tentang manusia, dan manusia adalah makhluk yang penuh dengan cerita, metafora, dan ironi.  Akhirnya, buku ini adalah undangan. Undangan untuk memasuki rimba kuasa informal, untuk menatap langsung wajah-wajah predator yang mungkin selama ini hanya mampu kita bisikkan diam-diam, dan untuk merenungkan bersama: setelah mengetahui semua ini, apa yang akan kita lakukan?  Selamat membaca. Selamat mengembara.


Buku yang kini berada di tangan Anda, atau lebih tepatnya, di layar perangkat Anda, adalah hasil dari sebuah pengembaraan intelektual yang panjang, melelahkan, dan seringkali meresahkan. Ia lahir dari sebuah kegelisahan yang telah lama menghantui saya: mengapa, di negeri yang konstitusinya begitu indah dan rakyatnya begitu tangguh, kita seolah tak berdaya menyaksikan para "jagoan" lokal, para bandit berdasi, preman berjubah, dan dermawan predatoris, terus menari di atas puing-puing kontrak sosial (konstitusi)? Mengapa negara kita, yang merdeka dengan darah dan air mata, seolah menjadi panggung bagi ribuan raja kecil yang memerintah tanpa mahkota, tetapi dengan golok, uang, dan koneksi?


Kegelisahan itu membawa saya pada perjalanan yang tidak terduga. Awalnya, saya hanya ingin menulis sebuah analisis politik biasa, mungkin sebuah artikel jurnal atau makalah seminar. Namun, semakin dalam saya menggali, semakin jelas bahwa fenomena Local Strongman di Indonesia tidak bisa dipahami hanya dengan konsep-konsep ilmu politik konvensional. Ia menuntut saya untuk menyelami ranah yang lebih dalam: ontologi (apa hakikat keberadaan mereka?), epistemologi (bagaimana kita bisa mengetahui yang sengaja disembunyikan?), dan aksiologi (bagaimana kita menilai moralitas mereka yang sekaligus pemangsa dan pelindung?). Ia memaksa saya untuk menelusuri lorong-lorong sejarah, dari Jago Betawi di abad ke-19 hingga broker politik di era Pilkada. Ia membawa saya ke tambang emas liar di Kalimantan, ke pasar-pasar yang dikuasai geng motor di Medan, dan ke tanah-tanah warisan Jawara di Banten yang terus direbut.


Buku ini, oleh karena itu, bukanlah bacaan ringan. Ia adalah upaya untuk membangun sebuah anatomi, sebuah pisau bedah konseptual, untuk membongkar tubuh kuasa informal yang telah menjadi parasit sekaligus simbion dalam tubuh negara Indonesia. Saya menggunakan kerangka 5W+1H yang elementer, tetapi mengisinya dengan refleksi filosofis dan jejak genealogis para mahaguru: dari Weber yang fondasional, Migdal yang kritis, hingga Sidel yang tajam. Saya mencoba merajut semuanya menjadi satu sintesis, dengan harapan bisa memberikan peta yang lebih jernih untuk membaca rimba kuasa di negeri ini.


Buku ini tidak menawarkan resep mujarab. Ia tidak menjanjikan bahwa setelah membacanya, kita akan tahu cara menyingkirkan para Strongman dalam semalam. Sebaliknya, buku ini mungkin akan membuat Anda lebih gelisah. Karena di bagian akhir, saya sampai pada refleksi yang agak pahit: bahwa para jagoan ini adalah bagian dari kodrat politik kita, produk dari struktur yang kita bangun dan naluri yang kita warisi. Mereka mungkin tidak akan pernah benar-benar lenyap. Namun, justru di dalam pengakuan itulah, menurut saya, letak awal dari perlawanan yang sejati. Kita tidak bisa melawan apa yang tidak kita kenali. Kita tidak bisa menyembuhkan penyakit yang tidak berani kita diagnosa dengan jujur.


Saya menulis buku ini bagi siapa pun yang masih peduli, aktivis, mahasiswa, akademisi, jurnalis, atau warga biasa yang lelah dengan keadaan. Saya menulisnya dengan bahasa yang kadang puitis, kadang sarkastis, dan kadang filosofis, karena saya percaya bahwa memahami politik tidak harus selalu kering dan teknokratis. Kuasa adalah tentang manusia, dan manusia adalah makhluk yang penuh dengan cerita, metafora, dan ironi.

Akhirnya, buku ini adalah undangan. Undangan untuk memasuki rimba kuasa informal, untuk menatap langsung wajah-wajah predator yang mungkin selama ini hanya mampu kita bisikkan diam-diam, dan untuk merenungkan bersama: setelah mengetahui semua ini, apa yang akan kita lakukan?

Selamat membaca. Selamat mengembara.


KUASA DAN KEHANCURAN: Tinjauan Psikopolitik Donald Trump dan Benjamin Netanyahu



Eh, ente pernah nggak sih ngerasa gregetan sendiri tiap kali ngeliat kelakuan Donald Trump sama Benjamin Netanyahu di tipi atau di hape? Dua orang ini tuh kayak punya "ilmu kebal" dari akal sehat. Bikin kebijakan yang kadang bikin kita garuk-garuk kepala, penuh kontroversi, tapi kok ya tetep aja banyak yang dukung? Nah, buku Kuasa dan Kehancuran: Tinjauan Psikopolitik Donald Trump dan Benjamin Netanyahu ini ibarat ngajak ente buat nge-Rontgen jiwa mereka berdua. Bukan cuma ngomongin politiknya doang, tapi ngebedah isi kepalanya, ngulik-ngulik "penyakit jiwa" yang ternyata bocor ke mana-mana dan bikin bumi ikutan ancur.

Jadi, ceritanya buku ini dibuka dengan premis sederhana: kelakuan orang gede yang nyebelin itu sebenernya ada sebab-musababnya. Tim penulisnya nggak mau cuma teriak-teriak "Trump gila!" atau "Netanyahu penjahat!", tapi mereka justru kayak detektif jiwa. Mereka ngebongkar masa kecil dua tokoh ini buat nyari tau, "Luka batin apaan sih yang mereka pendem dari sono-nya?"
Bayangin aja, Bang, ente bakal dibawa ke masa kecil Donald Trump yang keras dan dingin. Bokapnya, Fred Trump, katanya otoriter banget dan nggak pernah ngasih kehangatan emosi. Anaknya cuma diliat sebagai aset bisnis. Dari situ, para penulisnya ngejelasin pake teori relasi objek, gimana si Donald kecil ini akhirnya ngebentuk "diri yang rapuh" di balik topeng songongnya. Pokoknya, segala tingkah narsisnya yang minta dipuji, nggak bisa ngaku salah, dan ngeliat dunia cuma sebagai panggung buat egonya—itu semua akarnya dari masa kecil yang kekurangan cinta.

Nah, kalo ente pindah ke Benjamin Netanyahu, ceritanya nggak kalah seru. Ente bakal diseret ke akar ideologi keluarganya yang Zionis garis keras, pengikut setia Ze'ev Jabotinsky. Dari sononya, si Bibi ini udah dicekokin paham bahwa tanah itu harus direbut, musuh harus dihancurkan, dan kompromi itu tanda kelemahan. Buku ini nunjukin gimana "dendam historis" dan paranoia yang diidapnya—merasa dikepung musuh dari segala penjuru—bukan cuma strategi politik, tapi emang udah jadi napas hidupnya.

Nah, pas udah masuk ke bagian tengah, di situlah "darah" buku ini ngalir deras. Ente bakal disuguhin analisis yang bikin merinding. Satu per satu, kebijakan-kebijakan kontroversial mereka dibedah pake pisau psikopatologi. Misalnya, keputusan Trump mindahin Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, atau bikin "Kesepakatan Abad Ini" yang timpang, itu dianalisa bukan cuma sebagai langkah politik, tapi sebagai ekspresi dari narsisisme maligna dia. Trump butuh panggung, butuh dikenang sebagai "the deal maker", nggak peduli duh risiko kemanusiaannya.

Begitu juga Netanyahu. Dukungan buta dan mutlaknya terhadap pembantaian di Gaza nggak cuma diliat sebagai manuver perang, tapi sebagai manifestasi dari "psikopatologi" yang udah akut. Bab-bab yang ngebahas "Pengorbanan Manusia demi Ambisi Pribadi" atau "Kebencian pada Kebenaran dan Manipulasi" bakal bikin ente ngangguk-ngangguk sambil misuh-misuh sendiri. Di sini, ente bakal paham bahwa perang dan genosida yang ente saksikan di layar hape itu bukan semata soal geopolitik, tapi juga soal jiwa pemimpin yang terluka dan haus kuasa.

Yang bikin buku ini istimewa dan anti-mainstream, Bang, dia nggak cuma jagoan diagnosis dan ngasih vonis "Wah, ini mah udah kena NPD" atau "Itu jelas Megalomania". Encer banget penjelasannya soal istilah-istilah psikologi kayak narsisisme maligna, megalomania, psikopati, atau paranoia, tapi langsung dibekelin contoh nyata dari kelakuan Trump dan Netanyahu. Jadi, buat ente yang awam psikologi pun nggak bakal puyeng.

Terus, puncaknya, di bagian akhir buku ini ngasih "obat". Setelah puas ngebongkar kebobrokan jiwa dua pemimpin dunia, para penulis ngajak ente buat ngadem sejenak dan nengok ke khazanah peradaban Islam. Di sini, ada tiga tokoh gede yang dipanggil buat ngasih resep: Ibn Khaldun, Al-Ghazali, dan Imam Ali. Ibaratnya, setelah ngomongin penyakit, sekarang ngomongin vitamin dan vaksinnya.

Dari Ibn Khaldun, ente diajarin bahwa peradaban bisa hancur kalo solidaritas dan keadilan udah punah dari hati pemimpinnya. Dari Al-Ghazali, ente dikasih peta buat nyembuhin "penyakit hati" yang jadi biang keladi kezaliman politik. Dan yang paling dalem, dari Imam Ali, ente ditunjukin contoh konkret pemimpin ideal: yang tidurnya nggak nyenyak kalo rakyatnya susah, dan tangannya nggak gemeter buat negakin keadilan walau ke kerabat sendiri.

Jadi, Kuasa dan Kehancuran ini bukan buku bikin-bikin pengen marah terus. Dia adalah ajakan lengkap: dari ngeh-in masalah, ngulik akar-akarnya, sampe ngasih secercah harapan bahwa kepemimpinan itu bisa dan seharusnya berbeda. Buat ente yang capek lihat berita politik yang gitu-gitu aja, buku ini bakal jadi bacaan yang membuka mata, mengaduk-aduk emosi, tapi juga nambah wawasan. Cocok buat santai sambil ngopi, terus manggut-manggut sendiri sambil gumam, "Oalah, pantesan!"


Santet di Indonesia




Gue yakin lo semua pasti pernah denger istilah "santet". Bisa jadi dari obrolan warung kopi, sinetron mistis, atau bahkan dari cerita seram keluarga sendiri. Kata yang satu ini punya aura aneh: bikin bulu kuduk merinding, tapi sekaligus bikin penasaran setengah mati. Nah, buku yang sekarang lo pegang ini, Santet di Indonesia, lahir dari rasa penasaran itu. Bukan buat nakut-nakutin, apalagi bikin lo jadi parno, tapi justru buat ngupas tuntas fenomena yang udah jadi bagian dari kultur kita ini dengan kepala dingin dan mata terbuka.

Kenapa sih gue nulis buku ini? Karena gue ngerasa, di zaman yang katanya udah modern gini, santet masih jadi "hantu" yang terus menghantui, tapi jarang dibahas secara serius. Banyak yang takut setengah mati, banyak juga yang mengaku jadi korban, tapi ngomonginnya cuma lewat bisik-bisik. Sementara di sisi lain, ada yang manfaatin ketakutan itu buat cari duit, kuasa, atau malah bikin fitnah. Akhirnya, santet jadi kayak monster dalam gelap: makin gelap, makin serem. Nah, buku ini ibarat senter buat masuk ke ruangan gelap itu. Kita akan sama-sama ngeliat, sebenernya apa sih santet itu? Kok bisa ya, gagasan tentang "serangan gaib jarak jauh" ini bertahan dan terus dipercaya dari generasi ke generasi di Indonesia?

Kita bakal ngobrol santai, pakai bahasa yang nggak ruwet, kayak lagi ngobrol di pos ronda sambil nyeruput kopi, tentang asal-usul santet dalam sejarah Nusantara. Lo bakal diajak buat ngeliat bahwa santet bukan sekadar klenik recehan, tapi punya akar yang dalem dalam struktur sosial dan spiritual masyarakat kita. Ada bab yang ngebedah gimana sih mekanisme "serangan" ini dipercaya bekerja, jenis-jenisnya dari berbagai daerah, mulai dari teluh, sirep, tenung, sampe bacokan, lengkap dengan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat. Kita nggak akan cuma jadi "tukang rekam" cerita serem, tapi juga akan ngeliat fenomena ini dari berbagai sudut pandang: antropologi, psikologi, sampe sosiologi.

Yang paling seru, gue ngajak lo buat mikir kritis: kalau santet itu emang "gaib", kenapa korbannya seringkali orang-orang yang emang punya konflik sosial, punya rasa bersalah, atau lagi dalam kondisi psikologis yang rapuh? Apakah santet itu murni serangan mistis, atau justru cerminan dari ketakutan dan ketegangan dalam hubungan antar manusia? Buku ini bakal ngebedah juga fenomena "sugesti" dan "nocebo effect", di mana keyakinan seseorang bisa bikin dirinya sakit beneran, bahkan sampe mati. Jadi, kita nggak cuma ngomongin dunia halus, tapi juga ngomongin otak dan hati manusia yang nggak kalah ruwetnya.

Tentu, gue juga nggak bakal munafik. Di negeri ini, praktisi supranatural, dukun, orang pinter, atau apapun sebutannya, emang masih eksis dan punya klien dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa sampe pejabat. Kita akan nengok gimana praktik ini bertahan di tengah modernitas, dan gimana hukum negara kita yang majemuk ini bergulat dengan kasus-kasus dugaan santet. Ada kisah-kisah nyata dari pengadilan, di mana orang diadili bukan karena membunuh pakai pisau, tapi karena dituduh membunuh pakai "ilmu". Di sinilah kita akan liat betapa absurd-nya, tapi juga betapa nyata-nya, dampak kepercayaan pada santet dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada akhirnya, buku ini ditulis bukan untuk meremehkan kepercayaan orang, apalagi mendiskreditkan dimensi spiritual yang emang jadi bagian dari hidup kebanyakan masyarakat Indonesia. Tujuan gue sederhana: mengajak lo semua buat berani mikir, berani nanya, dan berani memahami secara lebih jernih. Karena gue percaya, pemahaman adalah musuh utama dari ketakutan yang irasional. Setelah baca buku ini, gue berharap lo nggak gampang dicekoki isu "si A nyantet si B" tanpa bukti, dan bisa lebih bijak menyikapi cerita-cerita mistis yang bertebaran di sekitar kita.

Selamat membaca. Jangan takut, kita cuma ngulik, bukan ngamalin. Dan ingat, musuh paling bahaya itu bukan "kiriman" dari luar, tapi ketakutan dari dalam diri kita sendiri.

Penulis
City of Cileungsi
East Bogor



Teori Perbandingan Politik


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 

Biografi Politik Tan Malaka Berdasar Rekonstruksi Harry A. Poeze



Gelombang sejarah kerap menenggelamkan nama-nama besar, namun Tan Malaka terus muncul menantang dari kedalaman lupa. Buku “Biografi Politik Tan Malaka Hasil Rekonstruksi Harry A. Poeze” yang ada di tangan Anda adalah ikhtiar monumental untuk menyusun kembali mozaik kehidupan seorang pemikir dan pejuang yang terlampau visioner bagi zamannya.

Sebagai Penulis yang Masih Belajar, saya menyaksikan betapa mudahnya narasi sejarah direduksi menjadi hitam-putih, terutama menyangkut tokoh kontroversial seperti Tan Malaka. Ia seorang Marxis yang kukuh, nasionalis yang menolak segala bentuk penjajahan, internasionalis yang fasih berbahasa asing, namun selalu memimpikan Indonesia Merdeka 100 persen. Di tengah historiografi Indonesia yang kerap terjebak dalam glorifikasi dan demonisasi, karya Harry A. Poeze hadir sebagai oase objektivitas. Sejarawan Belanda ini mendedikasikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk meneliti Tan Malaka, membangun biografi politik yang sangat rinci berbasis arsip-arsip dari berbagai negara serta wawancara dengan saksi sejarah yang kini telah tiada. Proses rekonstruksinya tak ubahnya seorang arkeolog yang sabar menyikat debu dari artefak yang terkubur, mengungkap sosok Tan Malaka yang multidimensional.

Buku ini bukan sekadar terjemahan atau ringkasan dari magnum opus Poeze, melainkan sintesis dan penyesuaian yang memungkinkan pembaca Indonesia menyelami pemikiran dan gerak politik Tan Malaka dalam alur yang terpadu. Di dalamnya terhampar perjalanan dari masa kecil di Pandan Gadang, pengembaraan intelektual di Belanda, aktivitas revolusioner di Jawa, pertemuan dengan tokoh-tokoh Komintern di Moskow, penyamaran sebagai “Pendekar” di Manila dan Shanghai, hingga peran misteriusnya menjelang Proklamasi dan pendirian Partai Murba. Setiap bab membuka lanskap pergolakan dunia pada paruh pertama abad ke-20, tempat Tan Malaka bergerak lincah di antara raksasa-raksasa politik global.

Keistimewaan buku ini terletak pada penekanan dimensi politik pemikiran Tan Malaka. Poeze tidak sekadar merekam kronologi, melainkan membedah gagasan-gagasan radikal: Republik Indonesia yang harus diproklamasikan sejak 1925, konsep “Merdeka 100 Persen”, federalisme dan sosialisme ala Indonesia, kritik terhadap kapitalisme dan imperialisme, serta polemiknya dengan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Rekonstruksi ini menampilkan Tan Malaka sebagai seorang realis yang menawarkan jalan terjal namun jelas menuju kedaulatan rakyat.

Namun, sebagaimana diisyaratkan oleh judul salah satu karya Poeze, “Verguisd en vergeten” (Dihujat dan Dilupakan), kehidupan Tan Malaka berakhir tragis: ia ditembak mati di kaki Gunung Wilis pada 1949, tanpa pengadilan, oleh bangsanya sendiri yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ironi sejarah ini menjadi luka abadi yang dirawat oleh buku ini, bukan untuk menebar dendam, melainkan untuk memulihkan ingatan dan keadilan. Dengan menyajikan bukti-bukti yang teliti, Harry A. Poeze seakan menuntun kita menyaksikan sebuah persidangan sejarah yang tak pernah terjadi.
Saya mengagumi dedikasi Poeze yang memadukan kecerdasan, keberanian, dan ketekunan. Melacak jejak seorang “hantu” revolusi yang sengaja dihapus dari catatan resmi menuntut lebih dari sekadar metode akademis; ia menuntut kecintaan pada kebenaran. Hasilnya, buku ini adalah harta karun bagi siapa pun yang ingin mengerti Indonesia secara jujur, di luar mitos-mitos rezim.
Akhirnya, saya mengundang para pembaca untuk menyelami buku ini sebagai sebuah perjalanan intelektual. Biarkan narasi yang disusun dengan kedisiplinan tinggi ini membawa Anda berlayar, dan biarkan Tan Malaka berbicara langsung kepada zaman kita yang masih bergulat dengan isu keadilan sosial, kedaulatan nasional, dan integritas perjuangan. Semoga buku ini menjadi suluh yang menerangi salah satu sudut tergelap sejarah bangsa.

Ditulis di kedalaman lautan data, pada suatu fajar di musim panas Tahun Kuda Api, 2026.


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya


Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 



mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 

Politik Lingkungan dan Perubahan Iklim

mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya


Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 



Pengantar Ilmu Ekonomi


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 


Pengantar Studi Pemerintahan


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 


Pengantar Ilmu Hukum


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 



Pengantar Ilmu Hubungan Internasional


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 




Pendidikan Moral Pancasila


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 




mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 

Otonomi Daerah dan Politik Lokal

mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 



mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Silakan bagi Anda yang ingin mendalami, mengajar, atau membutuhkan buku pegangan guna dikembangkan dalam Mata Kuliah 


Metode Penelitian Kuantitatif


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 




mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 


mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 




mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini.  



mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 



mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Diktat mata kuliah ini disusun per pertemuan dengan sumber-sumber yang terbarukan serta teknis perkuliahan sehari-hari. Dosen atau mahasiswa dpersilakan mengikuti seluruh, sebagian, atau sama sekali tidak mengikuti isi diktat mata kuliah ini. 



mencari atau beli dikta ajar mata kuliah sebagai pegangan mengajar atau memodifikasi sesuai kurikulum kampus saya

Negeri Mahjong bukanlah negeri dunia interpewayangan. Negeri ini benar-benar ada tetapi letaknya entah di mana. Persoalan Negeri Mahjong mirip dengan Astina. Bedanya, jika Presiden Astina yakn Duryudana terang-terangan memuji Otoritarianisme dan membenci Demokrasi, sementara pejabat dan rakyat Negeri Mahjong memuji-muji Demokrasi tetapi perilaku mereka adalah bentuk Otoritarianisme. Silakan simak perdebatan sistem politik yang dimotori Togog dalam "Panggi Saja Namaku Togog."



Silakan bagi Anda yang ingin bersantai dengan satir politik Togog. Togog adalah kakak kandung Semar. Namun, nasib bicara lain, Togog ditugaskan Hyang Wenang untuk menasihati para Kurawa, sementara Semar para Pandawa. Semua nasihat Togog kepada para Kurawa berlaku sebagai G-I-G-O. Dan bagi Togog, sumber semua kebengalan para Kurawa, selain sifat asli mereka, adalah pengaruh buruk dari Sengkuni. Sebab itu, Togog berusaha meruntuhkan dominasi Sengkuni atas Duryudana dan adik-adiknya. 




Novel Humor Satir Saat Karna Melakukan Debat Terbuka Melawan Sengkuni. Sebelum debat, dengan bantuan Yiyitsu, seorang Kurawa yang menasehati Karna bahwa jika ia hendak menikahi Dursilawati (satu-satunya Kurawa perempuan) maka Karna harus menghapus imagenya sebagai centeng. Tidak ada cara yang lebih baik ketimbang mengalahkan Sengkuni di muka publik. Karena, apapun langkah Karna, jika Sengkuni tidak ditutup mulutnya, maka Dursilawati tidak akan dapat Karna peroleh. Silakan nikmati perdebatan filosofis antara Karna versus Sengkuni, yang mengambil argumen dari aneka filsu dari zaman kuno hingga modern.



Novel Humor Satir Saat Karna dan Dursilawati Perempuan yang Cintai Berhasil memperoleh Kepercayaan Duryudana. Ratu Dursilawati diberikan wilayah Waralaba Province, provinsi termiskin di Astina, dan kini setelah dibangun oleh Karna dan Dursilawati menjadi negara berdaulat dengan nama Republik Wahana Bersatu. 





Sistem Pemerintahan Islam terus menjadi perbincangan yang menarik karena Islam, sebagai peradaban, tidak memisahkan antara agama dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamana. Dalam karya saya ini, Anda akan disuguhkan perbandingan dua konsep Pemerintahan Islam. Satu adalah Republik Islam Iran yang sudah berjalan, dan lainnya adalah Teodemokrasi yang masih menjadi kontroversi di Pakistan. Menariknya, Iran dan Pakista lokasinya berbatasan langsung. Walau mayoritas orang Iran menganut Mazhab Syiah, tetapi kuantitas penganut Mazhab Sunni cukup signifikan. Demikian pula, mayoritas Muslim di Pakistan menganuh Mazhab Sunni, tetapi penganut Mazhab Syiah di sana cukup signifikan. 




Kaum "Yahudi" dari Eropa Timur, perlahan tetapi pasti bermigrasi ke Palestina. Dari aliyah pertama, kedua, dan puncaknya proklamasi sepihak negara Israel tahun 1948. Sejak itu hingga saat tulisan ini dibuat, konflik Palestina-Israel, dua bangsa satu keturunan, tidak pernah berakhir. Sebenarnya, siapa kaum "yahudi" dari Eropa Timur tersebut? Apakah mereka mereka bangsa Semit atau bangsa Arya yang memeluk agama Yahudi?



Semar dan Keluarga Politiknya

Semar hanya ada di Indonesia, wayang India tidak mengenal tokoh ini. Semar adalah ahli politik yang tugasnya memberi nasihat politik dan lain-lain kepada keluarga Pandawa manakala mereka ada dalam situasi bimbang. Ini mirip dengan Kresna, tokoh asli India, wangsa Yadawa dan raja Dwaraka. Di dalam novel ini Anda akan menikmati bagaimana peran-peran politik Semar dan keluarganya (Petruk, Gareng, dan Bagong) dalam dunia politik Amarta dan Astina.


Tokoh novel ini, Semiaji, merenungi eksistensinya di dunia ini. Ia berpikir bahwa sebelumnya ia tiada. Kini ia ada. Dan kelak ia pun akan tiada setelah fase kematian. Kisah ini banyak menggunakan aneka pikiran para filsuf, baik Barat maupun Islam dalam mencari jalan keluar yang agak memuaskan seputar persoalan eksistensial kita. Tentu saja tidak ada jawaban final, terlebih pasti. Semua kembali kepada pembaca yang terhormat.
Tokoh novel ini, Semiaji, merenungi eksistensinya di dunia ini. Ia berpikir bahwa sebelumnya ia tiada. Kini ia ada. Dan kelak ia pun akan tiada setelah fase kematian. Kisah ini banyak menggunakan aneka pikiran para filsuf, baik Barat maupun Islam dalam mencari jalan keluar yang agak memuaskan seputar persoalan eksistensial kita. Tentu saja tidak ada jawaban final, terlebih pasti. Semua kembali kepada pembaca yang terhormat. 


Dalam kisah ini, penulis khusus membahas Kuntilanak, hantu paling populer di populer di Pulau Jawa dan film-film Indonesia. Jika Anda saksikan aneka podcast di Youtube dari ratusan channel yang berbicara soal "dunia lain", para narasumber begitu yakin bahwa dengan Panca Indera (empiris) mereka mencerap Kuntilanak, lengkap dengan detail-detailnya. Apakah pernyataan mereka bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah atau tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah? Silakan Anda baca dalam karya saya ini:

Dalam kisah ini, penulis khusus membahas Kuntilanak, hantu paling populer di populer di Pulau Jawa dan film-film Indonesia. Jika Anda saksikan aneka podcast di Youtube dari ratusan channel yang berbicara soal "dunia lain", para narasumber begitu yakin bahwa dengan Panca Indera (empiris) mereka mencerap Kuntilanak, lengkap dengan detail-detailnya. Apakah pernyataan mereka bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah atau tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah? Silakan Anda baca dalam karya saya ini:



Eksistensialisme di Dunia Barat tanpa Krenyit Kening



Tradisi yang kita sebut “Eksistensialisme” selalu menolak untuk dikebiri menjadi sekadar “isme”, sebuah sistem gagasan yang rapi, kering, dan tuntas. Ia lebih menyerupai sebuah aliran sungai bawah tanah yang menembus bentang waktu dan geografi, menyembul ke permukaan dalam pelbagai wujud: di dalam catatan-catatan seorang matematikawan jenius yang menyulam jaketnya dengan api (Pascal); di dalam laku dramatis seorang bungkuk Denmark yang menulis dengan lusinan nama samaran demi menyelamatkan iman dari cengkeraman sistem (Kierkegaard); di dalam novel-novel tebal seorang epileptik Rusia yang menjadikan ruang interogasi sebagai laboratorium kebebasan (Dostoevsky); hingga di atas panggung teater tempat dua orang gelandangan menunggu sesuatu yang tak kunjung datang sambil mempertanyakan apakah kata-kata masih bermakna (Beckett).


Indonesia dalam Belitan Kali Yuga: Tambahi Eling, Kurangi Mbeling




Naskah ini tidak lahir dari rahim optimisme. Ia lahir dari rahim kegelisahan, kegelisahan seorang punakawan tua yang menyaksikan dunianya retak di mana-mana. Retak yang tidak bisa ditambal dengan retorika, tidak bisa disembunyikan di balik spanduk-spanduk pemilu, dan tidak bisa diabaikan begitu saja seperti lalat yang hinggap di pisang goreng. Retak ini, konon, sudah diperhitungkan sejak ribuan tahun lalu oleh para resi yang lebih pandai matematika kosmologis daripada saya.

Jika Anda bertanya apa agama saya, maka saya jawab being in Islamic process. Islam? Mana mungkin,  kenapa Anda gunakan sejumlah ajarah Hindu dalam buku ini? Saya akan jawab, “Apa yang jadi masalah Anda? Baca dahulu, baru Anda timpakan vonis pada saya,” kira-kira itu jawaban saya.  

Kita hidup di zaman Kali Yuga. Begitu kata mereka yang membaca kitab-kitab kuno. Saya sendiri tidak pernah membaca Surya Siddhanta secara langsung, jujur saja, bahasa Sanskerta membuat kepala saya pusing seperti habis menonton sidang paripurna Dewan Wong, tapi saya percaya pada kata orang-orang yang lebih pintar. Kata mereka, Kali Yuga dimulai pada 18 Februari 3102 Sebelum Masehi. Tanggal itu bukan sembarang tanggal. Ia adalah hari wafatnya Sri Krishna. Hari ketika sang pengendali roda dharma meninggalkan panggung dunia, dan roda itu mulai oleng.

Kata para resi, setiap Yuga dilambangkan dengan sapi. Satya Yuga: sapi berdiri dengan empat kaki, kokoh, sempurna. Treta Yuga: tiga kaki, mulai goyah. Dwapara Yuga: dua kaki, semakin limbung. Dan Kali Yuga? Sapi tanpa kaki. Nol. Kosong. Ia tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya bisa terguling-guling di lumpur, menunggu seseorang, siapa pun, untuk menegakkannya kembali.

Itulah zaman kita sekarang. Zaman di mana kebenaran dan kebohongan saling bertukar kostum, di mana para suhu spiritual menerima jasa santet, di mana para pemimpin lebih suka membaca buku daripada membaca keadaan, di mana rumor berubah menjadi kebenaran hanya karena diulang-ulang oleh orang-orang yang cukup keras suaranya. Zaman di mana Black Hole, baik yang harfiah maupun yang metaforis, menelan apa saja yang mencoba bersinar.

Naskah ini adalah rekaman dari zaman itu. Ia adalah catatan dari seorang saksi yang tidak penting, saya, yang kebetulan ada di tengah-tengah pusaran dan selamat untuk menceritakannya. Saya bukan pahlawan. Saya bukan filsuf. Saya hanya punakawan dengan perut buncit dan lutut yang mulai berderit. Tapi selama mulut saya masih bisa bicara, saya akan terus bercerita. Bukan karena cerita saya penting. Tapi karena diam di zaman sapi tanpa kaki adalah pengkhianatan.

Amarta, KalaCakra 12
Seta Basri



Posting Komentar

0 Komentar