Memang, Israel-Amerika mampu “membunuh dengan kejam” Ayatollah Khamenei di rumahnya sendiri. Tidak seperti pemimpin negara sekuler, Khamenei menolak untuk “kabur” atau “mengungsi.” Beliau tetap di rumah kendati Garda Revolusi Iran dan para penasehatnya telah memberitahu bahwa dua negara agresor akan mengebom rumah tinggalnya. Sang Pemimpin hanya menjawab, “Saya tetap di sini. Memang jika telah tiba saatnya saya berpulang itu ketentuan Allah. Untuk apa jika saya selamat tetapi rakyat Iran justru banyak yang tewas.” Dan di sanalah, di rumahnya sendiri tempat ia bercengkerama dengan keluarga dan melakukan ibadah, beliau syahid. Dampak dari keikhlasan ini sangat ekstrem, sekitar 5 juta rakyat Iran justru berkumpul di sekeliling rumah beliau untuk menyatakan bela sungkawa kendati pun pesawat dua negara agresor meraung-meraung seperti salak “anjing” dari belakang kandang besi yang tidak bisa menggigit apa pun.
Kini, pemimpin syahid telah mendapat pengganti. Sang pengganti tiada lain adalah putra ke-2 dari sang syahid. Namanya Mojtaba Khamenei, dengan mana istri dan putrinya turut tewas bersama sang ayah saat pesawat dua negara agresor menyerang tempat tinggal. Ya, tempat tinggal atau rumah sehari-hari, bukan bunker atau tempat perlindungan khusus.
![]() |
| Kartun Digenerate Menggunakan Amuse-AMD |
Negar Mojtahedi, jurnalis internasional Iran memberitakan bahwa Dewan Ahli (Assembly of Experts) Iran telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan ayahnya. Dewan ini terdiri atas ulama-ulama yang menguasai aneka disiplin ilmu berbeda dari eksak, agama, hingga sosial. Mojtahedi menambahkan bahwa dalam sejarah Republik Islam Iran yang berdiri 1979, baru kali ini terjadi transfer pimpinan tertinggi dari ayah ke anak. Namun, jangan salah, Republik Islam Iran bukan Kerajaan Persia atau Monarki “korup” Pahlevi, sang kacung Israel. Dewan Ahli tentu memiliki berdasarkan kapasitas keahlian, bukan garis darah yang kerap kali menyesatkan. Seperti misalnya Dari Panembahan Senopati ke putranya Amangkurat I yang ternyata “sakit jiwa” sehingga hobi membunuhi semua musuh nyata dan tidak nyatanya. Atau, negara sekuler seperti AS yang memilih seorang presiden yang penuh “kontroversi dan isuk dele sore tempe.”
Majtahedi melanjutkan bahwa usia Mojtaba Khamenei adalah 55 tahun. Selama syahid Ayatollah Khamenei memimpin, Mojtaba telah aktif di belakang layar demi mendukung Pemimpin Tertinggi Iran, yang saat itu kebetulan adalah ayahnya. Namun, jangan samakan dukungan Mojtaba terhadap Khamenei dengan dukungan Jared Kuchner terhadap Trump. Itu bagaikan bumi dan langit. Kuchner yang Yahudi Ortodoks berpihak pada Israel Raya yang akan terus-menerus memunculkan gejolak di kawasan Timur Tengah. Sementara Mojtaba fokus pada self-resilient Iran dan kebijakan domestik. Selama bertahun-tahun Mojtaba yang alumni Pesantren Qum Iran ini beroperasi dari dalam Kantor Supreme Leader. Mojtaba mengambil peran sebagai “gatekeeper” serta “power broker” yang membentengi ayahnya. Namun, tentu saja fokus Mojtaba kali ini adalah Perang dengan dua negara agresornya: Israel dan Amerika Serikat.
Peran sebagai gatekeeper dan power broker ini bukan pertama kalinya. Dahulu, saat Iran masih dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomenei, putranya yaitu Ahmad Khomenei yang bertindak selaku pimpinan kunci dan garda depan saat Republik Islam Iran baru saja berdiri dan mendapat tentangan sangat keras dari Amerika Serikat dan Israel. Sejumlah analis, masih menurut Majtahedi, perlahan tetapi pasti menyerap garis ideologis pemerintahan teokrasi Islam Syiah Iran. Mojtaba pun telah membangun pengaruh dan wibawa lintas unit pemerintahan penting di Iran: Rezim politik, Garda Republik, dan Lembaga Ulama. Inilah tripartit kekuatan utama di Iran yang khas. Israel dan Amerika Serikat tidak memiliki kekuatan ini, terutama di Lembaga Ulama yang setiap Jumat berkomunikasi dengan umat Islam melalui khutbah-khutbah di aneka masjid kota dan desa untuk menyosialisasikan apa yang sedang dilakukan pemerintah Iran bagi rakyat Iran.
Bahkan, seorang analis dari Middle East Political and Information Network (MEPIN) Dr. Eric Mandel berani melontarkan statement bahwa sesungghnya Mojtaba-lah yang menjadi sentral dari politik tingkat tinggi Iran kendati luput dari perhatian publik. Mandel melanjutkan:
“Mojtaba Khamenei, the son of former Supreme Leader Ali Khamenei, has long operated behind the scenes in Tehran, building deep ties with the Islamic Revolutionary Guard Corps and consolidating influence within the regime’s power structure. He is widely viewed as one of the architecs’s repression,” Mandel said.”
Dalam teori Biopolitik Neo Darwinisme, otoritarianisme adalah default option sistem pemerintahan. Wujudnya bisa aneka bentuk, dari yang benevolent hingga wicked. Spesies yang mewujud dalam populasi di suatu wilayah tidak peduli siapa alpha male mereka. Syarat utamanya adalah, sang alpha male mampu melakukan distribusi resource dan menjamin mereka (para spesies) untuk melakukan tindak reproduksi tanpa gangguan. Jika sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan mampu dipastikan oleh Alpha Male terdistribusi dengan baik kepada para spesies di dalam populasi, maka political obedience secara otomatis akan muncul dalam diri setiap individu spesies terhadap siapa pun Alpha Male mereka. Turmoil atau pergolakan di internal populasi hanya akan terjadi jika Alpha Male status quo gagal melakukan distribusi resource dan penjaminan reproduksi secara aman. Kegagalan ini mendorong munculnya Alpha Male tandingan. Namun, Alpha Male tandingan tetap akan dalam posisi submisi jika populasi spesies tidak mendukungnya.
Indonesia di era Suharto, sekurangnya sejak 1971 hingga 1987 cenderung menerima Otoritarianisme politik yang diterapkan. Suharto hanya merepresi orang-orang yang dianggap “dissident” agar sesuatu yang lebih besar yaitu stabilitas politik dapat terjamin. Tanpa stabilitas politik, pembangunan ekonomi tidak akan dapat berlangsung dengan baik. Di masa Suharto dalam kurun seperti telah disebut, sekolah-sekolah inpres, puskesmas-puskemas, jalan-jalan trans Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dibangun. Selain itu, swasembada beras dapat dicapai. Inilah yang membuat Indonesia dipandang hormat oleh aneka negara ASEAN. Saat ini bagaimana?
Prabowo tega menandatangani perjanjian Board of Peace tanpa konsultasi dengan wakil rakyat di DPR karena hal tersebut akan berdampak pada anggaran luar negeri Indonesia. Setelah ia sadar bahwa telah ditipu oleh Trump, ia menyesal. Penyesalan ini tampak dari undangannya kepada para mantan presiden, mantan wakil presiden, dan pimpinan ormas-ormas Islam yang banyak anggotanya, dan semuanya secara kompak menyatakan sikap tidak setuju karena BoP akan diubah Trump menjadi BoW (Board of War).
Namun, semua sudah terlanjur dan di setiap pertemuan Prabowo hanya dapat mengajukan apologi. Kini, apakah Prabowo punya nyali besar untuk keluar dari BoP nya Trump? Karena selain harus mengirim pasukan ke Gaza untuk berhadapan dengan HAMAS, Indonesia juga harus membayar iuran yang tidak kecil dalam bentuk Dollar, sementara sejumlah wilayah NKRI terutama di Sumatera sedang dirundung bencana alam, rakyat Indonesia menderita, sementara dengan jumawanya presiden Republik Indonesia terus berkoar-koar di dunia Internasional untu menjadi Juru Damai, seolah ia adalah Bung Karno di masa jayanya.
Bagaimana mungkin Prabowo bisa jadi juru damai: Ingat, juru damai itu harus dimiliki oleh seluruh pihak dan punya wibawa. Sekarang apa wibawa Prabowo? Sejak Prabowo menjadi presiden, dua kapal tanker Iran disita di sekitar perairan Natuna. Setiap kapal tanker membawa 2 juta barrel minyak. Keputusan Bakamla vesi Prabowo adalah didorong bahwa 2 tanker Iran mencemari perairan, tetapi anehnya hanya kapal Iran yang disita, sementara kapal-kapal tanker negara lain yang juga “pasti” mencemari laut dibiarkan lenggang-kangkung.
Kini, dengan arogannya pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tengah melelang dua kapal Iran. Betapa sakit-hatinya Dubes Iran (dan para Pimpinan Politik Tertinggi di Iran, tidak sakit hati tetapi “tidak menganggap lagi Indonesia). Mudah-mudahan ini semua tidak terjadi akibat atas kelakuan “aneh” Prabowo jika berhadapan dengan Trump. Gesturnya seperti anak buah menghadapi bos: Prabowo anak buah, Trump bos. Padahal, Prabowo juga dulu kan pernah jadi Bos di Kiani Kertas. Harusnya posisi setara: Indonesia itu Negara NonBlok dan Anggota OKI, BRICS+, dan G-9 bersama Iran. Indonesia bukan kacung Amerika.
Selain itu, juga setelah Prabowo jadi presiden, Indonesia mengundang Iran dalam parade kapal perang yang diadakan di perairan Indonesia. Iran memenuhi undangan dengan mengirim dua kapal perang (tentu dengan bahan bakar dan logistik yang Iran biayai dari APBN mereka). Namun, Prabowo mendapat “titah” dari Amerika bahwa jika kapal Iran diizinkan masuk perairan Indonesia maka Amerika dan sekutunya akan pergi dari acara. Prabowo menurut pada Amerika dan melarang 2 kapal perang Iran masuk perairan Indonesia. Untuk mengatasi kekecewaan, mereka berkunjung ke Malaysia yang pimpinan politiknya lebih bernyali menghadapi Amerika ketimpang pimpinan politik Indonesia.
Terakhir, Indonesia adalah negara anggota OKI bersama Iran, dan tidak punya masalah dalam hubungan bilateral dengan Iran sejak masa Soeharto hingga Joko Widodo. Saat Ayatollah Khamenei syahid dibunuh Israel dan Amerika, semua pemimpin dunia mengucapkan belasungkawa langsung, bahkan Malaysia. Prabowo selama beberapa hari tidak menunjukkan empati kepada Iran, yang sudah Indonesia anggap negara sahabat karena kita surplus dagang dengan Iran. Akhirnya, baru 7 hari setelah Khamenei syahid, ucapan Prabowo baru datang. Itu pun hanya berupa sepucuk surat (kita tidak tahu apa isinya) yang diserahkan anak buah Prabowo, Sugiyono (Menlu) kepada Dubes Iran. Kenapa bukan Prabowo sendiri yang secara gentleman datang tanpa perlu surat? Terus terang saya bingung dengan bekas “jenderal tempur” ini, yang begitu kikuk jika berhadapan dengan Amerika. Entah ada apa, mungkin pembaca lebih tahu.
Bagaimana mungkin Prabowo bisa jadi juru damai: Ingat, juru damai itu harus dimiliki oleh seluruh pihak dan punya wibawa. Sekarang apa wibawa Prabowo? Sejak Prabowo menjadi presiden, dua kapal tanker Iran disita di sekitar perairan Natuna. Setiap kapal tanker membawa 2 juta barrel minyak. Keputusan Bakamla vesi Prabowo adalah didorong bahwa 2 tanker Iran mencemari perairan, tetapi anehnya hanya kapal Iran yang disita, sementara kapal-kapal tanker negara lain yang juga “pasti” mencemari laut dibiarkan lenggang-kangkung.
Kini, dengan arogannya pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tengah melelang dua kapal Iran. Betapa sakit-hatinya Dubes Iran (dan para Pimpinan Politik Tertinggi di Iran, tidak sakit hati tetapi “tidak menganggap lagi Indonesia). Mudah-mudahan ini semua tidak terjadi akibat atas kelakuan “aneh” Prabowo jika berhadapan dengan Trump. Gesturnya seperti anak buah menghadapi bos: Prabowo anak buah, Trump bos. Padahal, Prabowo juga dulu kan pernah jadi Bos di Kiani Kertas. Harusnya posisi setara: Indonesia itu Negara NonBlok dan Anggota OKI, BRICS+, dan G-9 bersama Iran. Indonesia bukan kacung Amerika.
Selain itu, juga setelah Prabowo jadi presiden, Indonesia mengundang Iran dalam parade kapal perang yang diadakan di perairan Indonesia. Iran memenuhi undangan dengan mengirim dua kapal perang (tentu dengan bahan bakar dan logistik yang Iran biayai dari APBN mereka). Namun, Prabowo mendapat “titah” dari Amerika bahwa jika kapal Iran diizinkan masuk perairan Indonesia maka Amerika dan sekutunya akan pergi dari acara. Prabowo menurut pada Amerika dan melarang 2 kapal perang Iran masuk perairan Indonesia. Untuk mengatasi kekecewaan, mereka berkunjung ke Malaysia yang pimpinan politiknya lebih bernyali menghadapi Amerika ketimpang pimpinan politik Indonesia.
Terakhir, Indonesia adalah negara anggota OKI bersama Iran, dan tidak punya masalah dalam hubungan bilateral dengan Iran sejak masa Soeharto hingga Joko Widodo. Saat Ayatollah Khamenei syahid dibunuh Israel dan Amerika, semua pemimpin dunia mengucapkan belasungkawa langsung, bahkan Malaysia. Prabowo selama beberapa hari tidak menunjukkan empati kepada Iran, yang sudah Indonesia anggap negara sahabat karena kita surplus dagang dengan Iran. Akhirnya, baru 7 hari setelah Khamenei syahid, ucapan Prabowo baru datang. Itu pun hanya berupa sepucuk surat (kita tidak tahu apa isinya) yang diserahkan anak buah Prabowo, Sugiyono (Menlu) kepada Dubes Iran. Kenapa bukan Prabowo sendiri yang secara gentleman datang tanpa perlu surat? Terus terang saya bingung dengan bekas “jenderal tempur” ini, yang begitu kikuk jika berhadapan dengan Amerika. Entah ada apa, mungkin pembaca lebih tahu.
Israel tentu dengan senang hati akan menerima Indonesia sebagai Juru Damai, tapi dengan satu syarat Indonesia harus mengakui Israel. Begitu Prabowo "nekat" karena ambisinya menjadi Juru Damai dan meluluskan, maka seluruh publik Muslim di Indonesia akan mencercanya. Apalagi dengan Amerika Serikat, posisi Prabowo sudah tidak lagi setara dengan Trump. Ia adalah "anak buah" Trump yang sengaja dijebak untuk membawa-bawa Kertas Naskah BoP dan difoto oleh seluruh wartawan dunia internasional. Sudahlah, quo vadis dengan niatan menjadi Juru Damai. Hal yang perlu dilakukan Prabowo adalah bersiap mencari minyak dengan harga murah (ingat, kapal Cina diizinkan Iran melintasi Selat Hormuz). Minyak murah lebih mungkin diperoleh dari Cina (atau perdagangan minyak Iran yang dititipkan ke tanker-tanker Cina) ketimbang kita turuti ucapan menteri "bingung" Bahlil yang mau beli dari Amerika. Beli pakai Dollar dari mana, Bung Bahlil ?
Dengan tiga indikator tersebut, maukah Iran menerima Indonesia sebagai juru damai. Jika kita gunakan bahasa diplomatik, maka jawabannya adalah “silakan mengajukan, tetapi kami sampai saat ini belum memiliki opsi negosiasi karena kami tengah berperang.” Jika kita gunakan bahasa anak gaul, maka jawaban Iran adalah “siape luh, gua harus bilang wow begitu.”
Kembali kita ke internal Iran. Kita ingat bagaimana dahulu Iran itu rusuh. Pemimpin yang menjanjikan yaitu Mohammad Mossadegh yang sosialis tetapi sesungguhnya penuh harapan dikudeta oleh Amerika Serikat. Sayangnya, Mossadegh kurang populer di kalangan Ulama sehingga dukungan Ulama dan pengikut mereka dari “kaum bazaari” (pedagang) tidak begitu besar. Ini berbeda dengan saat Ayatollah Ruhollah Khamenei terus berbicara dari Paris untuk melakukan Revolusi atas Shah Pahlevi, Alpha Male yang korup dan tidak mampu mendistribusikan resource dan pemastian reproduksi atas rakyat Iran. Dengan dukungan Ali Syari’ati, intelektual revolusioner Iran yang kemudian “diracun” oleh SAVAK, polisi rahasia Pahlevi, sehingga usianya tidak sampai ke tahun 1979 saat Revolusi Islam Iran, Khomenei pun mampu menggulingkan Pahlevi dukungan Israel-Amerika Serikat.
Sejak Khomeinei, Iran terisolir sehingga belajar hidup dari Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia mereka sendiri. Dan hingga saat ini, Iran sanggup bertahan. Jika kita balik, bagaimana Israel tanpa bantuan Amerika Serikat? Penulis yakin negara itu tidak akan bertahan dan kalah dalam Perang Arab-Israel Pertama.
Saat ini adalah penting bagi Iran untuk terus memastikan kerjasama harmonis antara Garda Revolusi, Ulama, dan Eksekutif. Kunci dari pengaruh Mojtaba adalah kedekatan hubungannya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Selama perang Iran-Ira tahun 1980an, Mojtaba pernah bertugas di Batalion Habib. Batalion ini dibentuk terutama dari unsur relawan yang memiliki hubungan dengan jaringan Revolusi Islam Iran yang sukses menendang Pahlevi Korup dari Iran. Batalion Habib beroperasi di bawah pasukan yang punya hubungan langsung dengan IRGC dan kerap ambil bagian dalam sejumlah perang besar dengan pasukan Irak. Tentu saja, pengalaman ini sangat berharga bagaimana seorang ulama juga pernah ikut serta dalam sebuah perang dan sejumlah pertempuran besar. Bukankah Rasulullah pun pernah ikut serta dalam puluhan pertempuran melawan musuh-musuh Islam?
Sejumlah rekan Mojtaba di Batalion Habib kemudian atas kemampuan mereka sendiri, duduk di aneka posisi senior baik di aparatus keamanan dan intelijen, termasuk sejumlah individu yang menjadi pimpinan desisif di Garda Revolusi yang bertanggung jawab atas pengorganisasian intelijen dan komando keamanan demi melindungi Rezim Republik Islam Iran.
Satu hal yang mungkin berpotensi untuk “dimasak” oleh Israel, Iran, dan keturunan Pahlevi. Mereka pasti berkatan, level keulamaan Mojtaba belum senior. Kendati ia belajar di Pesantren Qum di bawah didikan para ulama konservatif, Mojtaba belum beroleh gelar Ayatollah. Para calon “pemasak” lupa bahwa saat menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomenei, pendiri Republik Islam Iran, Khamenei belum bergelar Ayatollah. Namun, mengapa Dewan Ahli memilih Khamenei? Itu karena kapasitas, kapabilitas, kezuhudan, dan ketaatan Khamenei dalam beragama Islam.
Dengan hadirnya Mojtaba (ingat, Mojtaba hanya satu dari empat orang yang syahid Khamenei ajukan untuk menjadi pengganti. Tiga orang lainnya tentu punya kapasitas dan kabilitas. Selain itu, para anggota Dewan Ahli pun memiliki kesempatan untuk dipilih menjadi Supreme Leader. Dengan demikian, andaikata Mojtaba syahid, masih ada 3 orang calon pengganti, dan apabila mereka semua kembali syahid, masih ada puluhan anggota Dewan Ahli yang mampu menjadi Supreme Leader di Iran. Dengan dasar ideologis inilah, dan kemampuan logistik perang dan sumber daya, Iran memutuskan untuk Perang Panjang dengan Israel-Amerika. Mampukah Israel-Amerika menjawab keputusan Iran ini?
Sampai jumpa di tulisan kami selanjutnya.
Dengan tiga indikator tersebut, maukah Iran menerima Indonesia sebagai juru damai. Jika kita gunakan bahasa diplomatik, maka jawabannya adalah “silakan mengajukan, tetapi kami sampai saat ini belum memiliki opsi negosiasi karena kami tengah berperang.” Jika kita gunakan bahasa anak gaul, maka jawaban Iran adalah “siape luh, gua harus bilang wow begitu.”
Kembali kita ke internal Iran. Kita ingat bagaimana dahulu Iran itu rusuh. Pemimpin yang menjanjikan yaitu Mohammad Mossadegh yang sosialis tetapi sesungguhnya penuh harapan dikudeta oleh Amerika Serikat. Sayangnya, Mossadegh kurang populer di kalangan Ulama sehingga dukungan Ulama dan pengikut mereka dari “kaum bazaari” (pedagang) tidak begitu besar. Ini berbeda dengan saat Ayatollah Ruhollah Khamenei terus berbicara dari Paris untuk melakukan Revolusi atas Shah Pahlevi, Alpha Male yang korup dan tidak mampu mendistribusikan resource dan pemastian reproduksi atas rakyat Iran. Dengan dukungan Ali Syari’ati, intelektual revolusioner Iran yang kemudian “diracun” oleh SAVAK, polisi rahasia Pahlevi, sehingga usianya tidak sampai ke tahun 1979 saat Revolusi Islam Iran, Khomenei pun mampu menggulingkan Pahlevi dukungan Israel-Amerika Serikat.
Sejak Khomeinei, Iran terisolir sehingga belajar hidup dari Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia mereka sendiri. Dan hingga saat ini, Iran sanggup bertahan. Jika kita balik, bagaimana Israel tanpa bantuan Amerika Serikat? Penulis yakin negara itu tidak akan bertahan dan kalah dalam Perang Arab-Israel Pertama.
Saat ini adalah penting bagi Iran untuk terus memastikan kerjasama harmonis antara Garda Revolusi, Ulama, dan Eksekutif. Kunci dari pengaruh Mojtaba adalah kedekatan hubungannya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Selama perang Iran-Ira tahun 1980an, Mojtaba pernah bertugas di Batalion Habib. Batalion ini dibentuk terutama dari unsur relawan yang memiliki hubungan dengan jaringan Revolusi Islam Iran yang sukses menendang Pahlevi Korup dari Iran. Batalion Habib beroperasi di bawah pasukan yang punya hubungan langsung dengan IRGC dan kerap ambil bagian dalam sejumlah perang besar dengan pasukan Irak. Tentu saja, pengalaman ini sangat berharga bagaimana seorang ulama juga pernah ikut serta dalam sebuah perang dan sejumlah pertempuran besar. Bukankah Rasulullah pun pernah ikut serta dalam puluhan pertempuran melawan musuh-musuh Islam?
Sejumlah rekan Mojtaba di Batalion Habib kemudian atas kemampuan mereka sendiri, duduk di aneka posisi senior baik di aparatus keamanan dan intelijen, termasuk sejumlah individu yang menjadi pimpinan desisif di Garda Revolusi yang bertanggung jawab atas pengorganisasian intelijen dan komando keamanan demi melindungi Rezim Republik Islam Iran.
Satu hal yang mungkin berpotensi untuk “dimasak” oleh Israel, Iran, dan keturunan Pahlevi. Mereka pasti berkatan, level keulamaan Mojtaba belum senior. Kendati ia belajar di Pesantren Qum di bawah didikan para ulama konservatif, Mojtaba belum beroleh gelar Ayatollah. Para calon “pemasak” lupa bahwa saat menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomenei, pendiri Republik Islam Iran, Khamenei belum bergelar Ayatollah. Namun, mengapa Dewan Ahli memilih Khamenei? Itu karena kapasitas, kapabilitas, kezuhudan, dan ketaatan Khamenei dalam beragama Islam.
Dengan hadirnya Mojtaba (ingat, Mojtaba hanya satu dari empat orang yang syahid Khamenei ajukan untuk menjadi pengganti. Tiga orang lainnya tentu punya kapasitas dan kabilitas. Selain itu, para anggota Dewan Ahli pun memiliki kesempatan untuk dipilih menjadi Supreme Leader. Dengan demikian, andaikata Mojtaba syahid, masih ada 3 orang calon pengganti, dan apabila mereka semua kembali syahid, masih ada puluhan anggota Dewan Ahli yang mampu menjadi Supreme Leader di Iran. Dengan dasar ideologis inilah, dan kemampuan logistik perang dan sumber daya, Iran memutuskan untuk Perang Panjang dengan Israel-Amerika. Mampukah Israel-Amerika menjawab keputusan Iran ini?
Sampai jumpa di tulisan kami selanjutnya.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar