Memang, Israel-Amerika mampu “membunuh dengan kejam” Ayatollah Khamenei di rumahnya sendiri. Tidak seperti pemimpin negara sekuler, Khamenei menolak untuk “kabur” atau “mengungsi.” Beliau tetap di rumah kendati Garda Revolusi Iran dan para penasehatnya telah memberitahu bahwa dua negara agresor akan mengebom rumah tinggalnya. Sang Pemimpin hanya menjawab, “Saya tetap di sini. Memang jika telah tiba saatnya saya berpulang itu ketentuan Allah. Untuk apa jika saya selamat tetapi rakyat Iran justru banyak yang tewas.” Dan di sanalah, di rumahnya sendiri tempat ia bercengkerama dengan keluarga dan melakukan ibadah, beliau syahid. Dampak dari keikhlasan ini sangat ekstrem, sekitar 5 juta rakyat Iran justru berkumpul di sekeliling rumah beliau untuk menyatakan bela sungkawa kendati pun pesawat dua negara agresor meraung-meraung seperti salak “anjing” dari belakang kandang besi yang tidak bisa menggigit apa pun.
Kini, pemimpin syahid telah mendapat pengganti. Sang pengganti tiada lain adalah putra ke-2 dari sang syahid. Namanya Mojtaba Khamenei, dengan mana istri dan putrinya turut tewas bersama sang ayah saat pesawat dua negara agresor menyerang tempat tinggal. Ya, tempat tinggal atau rumah sehari-hari, bukan bunker atau tempat perlindungan khusus.
![]() |
| Kartun Digenerate Menggunakan Amuse-AMD |
Negar Mojtahedi, jurnalis internasional Iran memberitakan bahwa Dewan Ahli (Assembly of Experts) Iran telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan ayahnya. Dewan ini terdiri atas ulama-ulama yang menguasai aneka disiplin ilmu berbeda dari eksak, agama, hingga sosial. Mojtahedi menambahkan bahwa dalam sejarah Republik Islam Iran yang berdiri 1979, baru kali ini terjadi transfer pimpinan tertinggi dari ayah ke anak. Namun, jangan salah, Republik Islam Iran bukan Kerajaan Persia atau Monarki “korup” Pahlevi, sang kacung Israel. Dewan Ahli tentu memiliki berdasarkan kapasitas keahlian, bukan garis darah yang kerap kali menyesatkan. Seperti misalnya Dari Panembahan Senopati ke putranya Amangkurat I yang ternyata “sakit jiwa” sehingga hobi membunuhi semua musuh nyata dan tidak nyatanya. Atau, negara sekuler seperti AS yang memilih seorang presiden yang penuh “kontroversi dan isuk dele sore tempe.”
Majtahedi melanjutkan bahwa usia Mojtaba Khamenei adalah 55 tahun. Selama syahid Ayatollah Khamenei memimpin, Mojtaba telah aktif di belakang layar demi mendukung Pemimpin Tertinggi Iran, yang saat itu kebetulan adalah ayahnya. Namun, jangan samakan dukungan Mojtaba terhadap Khamenei dengan dukungan Jared Kuchner terhadap Trump. Itu bagaikan bumi dan langit. Kuchner yang Yahudi Ortodoks berpihak pada Israel Raya yang akan terus-menerus memunculkan gejolak di kawasan Timur Tengah. Sementara Mojtaba fokus pada self-resilient Iran dan kebijakan domestik. Selama bertahun-tahun Mojtaba yang alumni Pesantren Qum Iran ini beroperasi dari dalam Kantor Supreme Leader. Mojtaba mengambil peran sebagai “gatekeeper” serta “power broker” yang membentengi ayahnya. Namun, tentu saja fokus Mojtaba kali ini adalah Perang dengan dua negara agresornya: Israel dan Amerika Serikat.
![]() |
| Mojtaba Khamenei |
Dalam pusaran politik Timur Tengah yang kompleks, muncul figur yang selama ini berada di bayang-bayang kekuasaan: Mojtaba Khamenei. Setelah pengangkatan resminya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret 2026, nama yang sebelumnya jarang terdengar ini tiba-tiba menjadi sorotan dunia internasional. Namun, siapakah sebenarnya putra kedua dari Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang berhasil naik ke puncak struktur kekuasaan Republik Islam Iran?
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada tanggal 8 September 1969 (17 Shahrivar 1348 dalam kalender Persia) di kota suci Syiah, Mashhad, Iran timur laut. Ia merupakan putra kedua dari enam bersaudara dari pernikahan Ayatollah Ali Khamenei dan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. Keluarganya berasal dari latar belakang keagamaan yang kuat, dengan kakeknya, Sayyed Javad Khamenei, juga seorang ulama terkemuka. Ketika Revolusi Islam Iran berhasil menggulingkan rezim Shah pada tahun 1979, keluarga Khamenei pindah ke Teheran, tempat Mojtaba menghabiskan masa remajanya.
Pendidikan awal Mojtaba ditempuh di lingkungan yang religius. Ia menyelesaikan pendidikan menengahnya di Sekolah Alavi di Teheran, sebuah institusi prestisius yang melahirkan banyak elit Republik Islam, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Javad Zarif. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Mojtaba melanjutkan studi keagamaan di Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah di Iran. Di kota suci ini, ia menempuh pendidikan tingkat lanjut di bidang fikih, ushul fikih, dan ilmu rijal. Menurut laporan media Iran, ia mengambil pelajaran dari ulama-ulama terkemuka seperti Ayatollah Hossein Wahid Khorasani, Ayatollah Mojtaba Tehrani, dan Ayatollah Musa Shubairi Zanjani.
Situs berita Tasnim melaporkan bahwa Mojtaba telah menghadiri kelas-kelas tingkat lanjut selama lebih dari 17 tahun secara konsisten dan menghasilkan karya-karya ilmiah dalam bahasa Arab. Ia juga dikatakan memiliki penguasaan bahasa Arab dan Inggris, serta menyelesaikan kursus-kursus khusus dalam psikologi dan psikoanalisis.
Gelar keagamaan yang disandangnya adalah "Hojjatoleslam", sebuah tingkatan dalam hierarki keagamaan Syiah yang berada di bawah Ayatollah. Hal ini menjadikannya pemimpin dengan otoritas keagamaan yang relatif lebih rendah dibandingkan pendahulunya.
Mojtaba punya pengalaman militer dalam Perang Iran-Irak. Pada usia 17 tahun, Mojtaba bergabung dengan Pasukan Revolusi Islam Iran (IRGC) dan bertugas dalam Perang Iran-Irak (1980-1988). Ia bertugas di Batalyon Habib bin Mazhar, bagian dari Divisi 27 Muhammad Rasulullah Teheran, dan berpartisipasi dalam operasi-operasi seperti Baitul Maqdis 2, 3, 4, al-Fajr 10, dan Mersad. Pengalaman ini membentuk jaringan hubungannya dengan individu-individu yang kemudian menduduki posisi-posisi penting dalam aparat keamanan dan intelijen Iran.
Meskipun tidak pernah memegang jabatan formal dalam pemerintahan, Mojtaba secara luas dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran. Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan IRGC dan milisi Basij, serta memiliki akses signifikan terhadap jaringan bisnis yang dikuasai oleh aparat keamanan. Laporan-laporan menyebutkan bahwa ia telah mengumpulkan kekuatan ekonomi yang substansial, dengan aset-aset yang tersebar di berbagai negara. Sifatnya yang tertutup dan misterius membuat informasi tentang kekayaan pribadinya sulit diverifikasi.
Mojtaba dikabarkan memiliki pandangan konservatif dan keras, serta menentang reformis yang berusaha terlibat dengan Barat dalam upaya mengekang program nuklir Iran. Ia juga diyakini memainkan peran penting dalam mendukung Presiden Mahmoud Ahmadinejad melalui distribusi dana kepada kelompok-kelompok keagamaan.
Pada tahun 1999, Mojtaba menikahi Zahra Haddad Adel, putri dari Gholamali Haddad Adel, seorang politisi dan mantan Ketua Parlemen Iran. Pasangan ini dikaruniai dua putra dan satu putri bernama Muhammad Baqir, Muhammad Amin, dan Fatimah. Tragedi menimpa keluarga ini ketika Zahra dilaporkan gugur sebagai syahid dalam serangan udara AS-Israel pada Februari 2026 di kompleks tempat tinggal Pemimpin Tertinggi.
Berbeda dengan ayahnya yang merupakan figur publik yang dikenal luas, Mojtaba dikenal sangat tertutup. Ia tidak pernah memberikan pidato publik, tidak pernah memberikan wawancara media, dan tidak pernah memegang jabatan publik formal. Hanya sedikit foto dan video dirinya yang tersedia untuk publik. Sifat misterius ini membuatnya dijuluki sebagai "figur paling misterius di lingkar kekuasaan Iran".
Pada Maret 2026, setelah Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan udara AS-Israel, Majelis Ahli Iran mengumumkan pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran. Pengangkatan ini menandai pertama kalinya dalam sejarah Republik Islam terjadi suksesi kepemimpinan secara turun-temurun.
Pengangkatan Mojtaba, dengan gelar keagamaan Hojjatoleslam yang relatif lebih rendah dibandingkan pendahulunya yang bergelar Ayatollah, memicu perdebatan mengenai legitimasi keagamaannya. Namun, Majelis Ahli dengan cepat mempromosikannya menjadi "Ayatollah", mirip dengan yang terjadi pada ayahnya pada tahun 1989.
Mojtaba dianggap sebagai satu-satunya anggota keluarga Khamenei yang memiliki ambisi politik yang jelas. Dukungannya dari IRGC dan aparat keamanan, serta posisinya sebagai figur kunci di balik layar selama beberapa dekade, menjadikannya kandidat yang kuat untuk posisi tersebut.
Sejak pengangkatannya, Mojtaba menghadapi berbagai tantangan. Laporan media pada April 2026 menyebutkan bahwa ia dilaporkan tidak sadarkan diri dan menerima perawatan medis di Qom dalam kondisi kritis. Jika laporan ini akurat, kondisi kesehatannya dapat mempengaruhi stabilitas politik Iran pada saat negara tersebut berada dalam ketegangan dengan AS dan Israel. Mojtaba juga menghadapi sanksi dari AS dan negara-negara Barat. Posisinya sebagai pemimpin yang secara langsung mewarisi kekuasaan dari ayahnya, tanpa melalui proses demokratis yang substansial, dapat memicu ketidakpuasan di dalam negeri.
Mojtaba Khamenei adalah figur yang kompleks: seorang ulama yang dididik secara tradisional, seorang veteran perang, seorang pengumpul kekuasaan di balik layar, dan kini seorang pemimpin negara. Misteri yang menyelimuti dirinya membuat penilaian objektif tentang karakter dan kapasitasnya sulit dilakukan. Namun, yang jelas, pengangkatannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menandai babak baru dalam sejarah Republik Islam, di mana suksesi kekuasaan secara turun-temurun menjadi realitas baru.
Peran Mojtaba sebagai gatekeeper dan power broker ini bukan pertama kalinya. Dahulu, saat Iran masih dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomenei, putranya yaitu Ahmad Khomenei yang bertindak selaku pimpinan kunci dan garda depan saat Republik Islam Iran baru saja berdiri dan mendapat tentangan sangat keras dari Amerika Serikat dan Israel. Sejumlah analis, masih menurut Majtahedi, perlahan tetapi pasti menyerap garis ideologis pemerintahan teokrasi Islam Syiah Iran. Mojtaba pun telah membangun pengaruh dan wibawa lintas unit pemerintahan penting di Iran: Rezim politik, Garda Republik, dan Lembaga Ulama. Inilah tripartit kekuatan utama di Iran yang khas. Israel dan Amerika Serikat tidak memiliki kekuatan ini, terutama di Lembaga Ulama yang setiap Jumat berkomunikasi dengan umat Islam melalui khutbah-khutbah di aneka masjid kota dan desa untuk menyosialisasikan apa yang sedang dilakukan pemerintah Iran bagi rakyat Iran.
Bahkan, seorang analis dari Middle East Political and Information Network (MEPIN) Dr. Eric Mandel berani melontarkan statement bahwa sesungghnya Mojtaba-lah yang menjadi sentral dari politik tingkat tinggi Iran kendati luput dari perhatian publik. Mandel melanjutkan:
“Mojtaba Khamenei, the son of former Supreme Leader Ali Khamenei, has long operated behind the scenes in Tehran, building deep ties with the Islamic Revolutionary Guard Corps and consolidating influence within the regime’s power structure. He is widely viewed as one of the architecs’s repression,” Mandel said.”
Dalam teori Biopolitik Neo Darwinisme, otoritarianisme adalah default option sistem pemerintahan. Wujudnya bisa aneka bentuk, dari yang benevolent hingga wicked. Spesies yang mewujud dalam populasi di suatu wilayah tidak peduli siapa alpha male mereka. Syarat utamanya adalah, sang alpha male mampu melakukan distribusi resource dan menjamin mereka (para spesies) untuk melakukan tindak reproduksi tanpa gangguan. Jika sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan mampu dipastikan oleh Alpha Male terdistribusi dengan baik kepada para spesies di dalam populasi, maka political obedience secara otomatis akan muncul dalam diri setiap individu spesies terhadap siapa pun Alpha Male mereka. Turmoil atau pergolakan di internal populasi hanya akan terjadi jika Alpha Male status quo gagal melakukan distribusi resource dan penjaminan reproduksi secara aman. Kegagalan ini mendorong munculnya Alpha Male tandingan. Namun, Alpha Male tandingan tetap akan dalam posisi submisi jika populasi spesies tidak mendukungnya.
Indonesia di era Suharto, sekurangnya sejak 1971 hingga 1987 cenderung menerima Otoritarianisme politik yang diterapkan. Suharto hanya merepresi orang-orang yang dianggap “dissident” agar sesuatu yang lebih besar yaitu stabilitas politik dapat terjamin. Tanpa stabilitas politik, pembangunan ekonomi tidak akan dapat berlangsung dengan baik. Di masa Suharto dalam kurun seperti telah disebut, sekolah-sekolah inpres, puskesmas-puskemas, jalan-jalan trans Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dibangun. Selain itu, swasembada beras dapat dicapai. Inilah yang membuat Indonesia dipandang hormat oleh aneka negara ASEAN. Saat ini bagaimana?
Prabowo tega menandatangani perjanjian Board of Peace tanpa konsultasi dengan wakil rakyat di DPR karena hal tersebut akan berdampak pada anggaran luar negeri Indonesia. Setelah ia sadar bahwa telah ditipu oleh Trump, ia menyesal. Penyesalan ini tampak dari undangannya kepada para mantan presiden, mantan wakil presiden, dan pimpinan ormas-ormas Islam yang banyak anggotanya, dan semuanya secara kompak menyatakan sikap tidak setuju karena BoP akan diubah Trump menjadi BoW (Board of War).
Namun, semua sudah terlanjur dan di setiap pertemuan Prabowo hanya dapat mengajukan apologi. Kini, apakah Prabowo punya nyali besar untuk keluar dari BoP nya Trump? Karena selain harus mengirim pasukan ke Gaza untuk berhadapan dengan HAMAS, Indonesia juga harus membayar iuran yang tidak kecil dalam bentuk Dollar, sementara sejumlah wilayah NKRI terutama di Sumatera sedang dirundung bencana alam, rakyat Indonesia menderita, sementara dengan jumawanya presiden Republik Indonesia terus berkoar-koar di dunia Internasional untu menjadi Juru Damai, seolah ia adalah Bung Karno di masa jayanya.
Bagaimana mungkin Prabowo bisa jadi juru damai: Ingat, juru damai itu harus dimiliki oleh seluruh pihak dan punya wibawa. Sekarang apa wibawa Prabowo? Sejak Prabowo menjadi presiden, dua kapal tanker Iran disita di sekitar perairan Natuna. Setiap kapal tanker membawa 2 juta barrel minyak. Keputusan Bakamla vesi Prabowo adalah didorong bahwa 2 tanker Iran mencemari perairan, tetapi anehnya hanya kapal Iran yang disita, sementara kapal-kapal tanker negara lain yang juga “pasti” mencemari laut dibiarkan lenggang-kangkung.
Kini, dengan arogannya pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tengah melelang dua kapal Iran. Betapa sakit-hatinya Dubes Iran (dan para Pimpinan Politik Tertinggi di Iran, tidak sakit hati tetapi “tidak menganggap lagi Indonesia). Mudah-mudahan ini semua tidak terjadi akibat atas kelakuan “aneh” Prabowo jika berhadapan dengan Trump. Gesturnya seperti anak buah menghadapi bos: Prabowo anak buah, Trump bos. Padahal, Prabowo juga dulu kan pernah jadi Bos di Kiani Kertas. Harusnya posisi setara: Indonesia itu Negara NonBlok dan Anggota OKI, BRICS+, dan G-9 bersama Iran. Indonesia bukan kacung Amerika.
Selain itu, juga setelah Prabowo jadi presiden, Indonesia mengundang Iran dalam parade kapal perang yang diadakan di perairan Indonesia. Iran memenuhi undangan dengan mengirim dua kapal perang (tentu dengan bahan bakar dan logistik yang Iran biayai dari APBN mereka). Namun, Prabowo mendapat “titah” dari Amerika bahwa jika kapal Iran diizinkan masuk perairan Indonesia maka Amerika dan sekutunya akan pergi dari acara. Prabowo menurut pada Amerika dan melarang 2 kapal perang Iran masuk perairan Indonesia. Untuk mengatasi kekecewaan, mereka berkunjung ke Malaysia yang pimpinan politiknya lebih bernyali menghadapi Amerika ketimpang pimpinan politik Indonesia.
Terakhir, Indonesia adalah negara anggota OKI bersama Iran, dan tidak punya masalah dalam hubungan bilateral dengan Iran sejak masa Soeharto hingga Joko Widodo. Saat Ayatollah Khamenei syahid dibunuh Israel dan Amerika, semua pemimpin dunia mengucapkan belasungkawa langsung, bahkan Malaysia. Prabowo selama beberapa hari tidak menunjukkan empati kepada Iran, yang sudah Indonesia anggap negara sahabat karena kita surplus dagang dengan Iran. Akhirnya, baru 7 hari setelah Khamenei syahid, ucapan Prabowo baru datang. Itu pun hanya berupa sepucuk surat (kita tidak tahu apa isinya) yang diserahkan anak buah Prabowo, Sugiyono (Menlu) kepada Dubes Iran. Kenapa bukan Prabowo sendiri yang secara gentleman datang tanpa perlu surat? Terus terang saya bingung dengan bekas “jenderal tempur” ini, yang begitu kikuk jika berhadapan dengan Amerika. Entah ada apa, mungkin pembaca lebih tahu.
Bagaimana mungkin Prabowo bisa jadi juru damai: Ingat, juru damai itu harus dimiliki oleh seluruh pihak dan punya wibawa. Sekarang apa wibawa Prabowo? Sejak Prabowo menjadi presiden, dua kapal tanker Iran disita di sekitar perairan Natuna. Setiap kapal tanker membawa 2 juta barrel minyak. Keputusan Bakamla vesi Prabowo adalah didorong bahwa 2 tanker Iran mencemari perairan, tetapi anehnya hanya kapal Iran yang disita, sementara kapal-kapal tanker negara lain yang juga “pasti” mencemari laut dibiarkan lenggang-kangkung.
Kini, dengan arogannya pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tengah melelang dua kapal Iran. Betapa sakit-hatinya Dubes Iran (dan para Pimpinan Politik Tertinggi di Iran, tidak sakit hati tetapi “tidak menganggap lagi Indonesia). Mudah-mudahan ini semua tidak terjadi akibat atas kelakuan “aneh” Prabowo jika berhadapan dengan Trump. Gesturnya seperti anak buah menghadapi bos: Prabowo anak buah, Trump bos. Padahal, Prabowo juga dulu kan pernah jadi Bos di Kiani Kertas. Harusnya posisi setara: Indonesia itu Negara NonBlok dan Anggota OKI, BRICS+, dan G-9 bersama Iran. Indonesia bukan kacung Amerika.
Selain itu, juga setelah Prabowo jadi presiden, Indonesia mengundang Iran dalam parade kapal perang yang diadakan di perairan Indonesia. Iran memenuhi undangan dengan mengirim dua kapal perang (tentu dengan bahan bakar dan logistik yang Iran biayai dari APBN mereka). Namun, Prabowo mendapat “titah” dari Amerika bahwa jika kapal Iran diizinkan masuk perairan Indonesia maka Amerika dan sekutunya akan pergi dari acara. Prabowo menurut pada Amerika dan melarang 2 kapal perang Iran masuk perairan Indonesia. Untuk mengatasi kekecewaan, mereka berkunjung ke Malaysia yang pimpinan politiknya lebih bernyali menghadapi Amerika ketimpang pimpinan politik Indonesia.
Terakhir, Indonesia adalah negara anggota OKI bersama Iran, dan tidak punya masalah dalam hubungan bilateral dengan Iran sejak masa Soeharto hingga Joko Widodo. Saat Ayatollah Khamenei syahid dibunuh Israel dan Amerika, semua pemimpin dunia mengucapkan belasungkawa langsung, bahkan Malaysia. Prabowo selama beberapa hari tidak menunjukkan empati kepada Iran, yang sudah Indonesia anggap negara sahabat karena kita surplus dagang dengan Iran. Akhirnya, baru 7 hari setelah Khamenei syahid, ucapan Prabowo baru datang. Itu pun hanya berupa sepucuk surat (kita tidak tahu apa isinya) yang diserahkan anak buah Prabowo, Sugiyono (Menlu) kepada Dubes Iran. Kenapa bukan Prabowo sendiri yang secara gentleman datang tanpa perlu surat? Terus terang saya bingung dengan bekas “jenderal tempur” ini, yang begitu kikuk jika berhadapan dengan Amerika. Entah ada apa, mungkin pembaca lebih tahu.
Israel tentu dengan senang hati akan menerima Indonesia sebagai Juru Damai, tapi dengan satu syarat Indonesia harus mengakui Israel. Begitu Prabowo "nekat" karena ambisinya menjadi Juru Damai dan meluluskan, maka seluruh publik Muslim di Indonesia akan mencercanya. Apalagi dengan Amerika Serikat, posisi Prabowo sudah tidak lagi setara dengan Trump. Ia adalah "anak buah" Trump yang sengaja dijebak untuk membawa-bawa Kertas Naskah BoP dan difoto oleh seluruh wartawan dunia internasional. Sudahlah, quo vadis dengan niatan menjadi Juru Damai. Hal yang perlu dilakukan Prabowo adalah bersiap mencari minyak dengan harga murah (ingat, kapal Cina diizinkan Iran melintasi Selat Hormuz). Minyak murah lebih mungkin diperoleh dari Cina (atau perdagangan minyak Iran yang dititipkan ke tanker-tanker Cina) ketimbang kita turuti ucapan menteri "bingung" Bahlil yang mau beli dari Amerika. Beli pakai Dollar dari mana, Bung Bahlil ?
Dengan tiga indikator tersebut, maukah Iran menerima Indonesia sebagai juru damai. Jika kita gunakan bahasa diplomatik, maka jawabannya adalah “silakan mengajukan, tetapi kami sampai saat ini belum memiliki opsi negosiasi karena kami tengah berperang.” Jika kita gunakan bahasa anak gaul, maka jawaban Iran adalah “siape luh, gua harus bilang wow begitu.”
Kembali kita ke internal Iran. Kita ingat bagaimana dahulu Iran itu rusuh. Pemimpin yang menjanjikan yaitu Mohammad Mossadegh yang sosialis tetapi sesungguhnya penuh harapan dikudeta oleh Amerika Serikat. Sayangnya, Mossadegh kurang populer di kalangan Ulama sehingga dukungan Ulama dan pengikut mereka dari “kaum bazaari” (pedagang) tidak begitu besar. Ini berbeda dengan saat Ayatollah Ruhollah Khamenei terus berbicara dari Paris untuk melakukan Revolusi atas Shah Pahlevi, Alpha Male yang korup dan tidak mampu mendistribusikan resource dan pemastian reproduksi atas rakyat Iran. Dengan dukungan Ali Syari’ati, intelektual revolusioner Iran yang kemudian “diracun” oleh SAVAK, polisi rahasia Pahlevi, sehingga usianya tidak sampai ke tahun 1979 saat Revolusi Islam Iran, Khomenei pun mampu menggulingkan Pahlevi dukungan Israel-Amerika Serikat.
Sejak Khomeinei, Iran terisolir sehingga belajar hidup dari Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia mereka sendiri. Dan hingga saat ini, Iran sanggup bertahan. Jika kita balik, bagaimana Israel tanpa bantuan Amerika Serikat? Penulis yakin negara itu tidak akan bertahan dan kalah dalam Perang Arab-Israel Pertama.
Saat ini adalah penting bagi Iran untuk terus memastikan kerjasama harmonis antara Garda Revolusi, Ulama, dan Eksekutif. Kunci dari pengaruh Mojtaba adalah kedekatan hubungannya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Selama perang Iran-Ira tahun 1980an, Mojtaba pernah bertugas di Batalion Habib. Batalion ini dibentuk terutama dari unsur relawan yang memiliki hubungan dengan jaringan Revolusi Islam Iran yang sukses menendang Pahlevi Korup dari Iran. Batalion Habib beroperasi di bawah pasukan yang punya hubungan langsung dengan IRGC dan kerap ambil bagian dalam sejumlah perang besar dengan pasukan Irak. Tentu saja, pengalaman ini sangat berharga bagaimana seorang ulama juga pernah ikut serta dalam sebuah perang dan sejumlah pertempuran besar. Bukankah Rasulullah pun pernah ikut serta dalam puluhan pertempuran melawan musuh-musuh Islam?
Sejumlah rekan Mojtaba di Batalion Habib kemudian atas kemampuan mereka sendiri, duduk di aneka posisi senior baik di aparatus keamanan dan intelijen, termasuk sejumlah individu yang menjadi pimpinan desisif di Garda Revolusi yang bertanggung jawab atas pengorganisasian intelijen dan komando keamanan demi melindungi Rezim Republik Islam Iran.
Satu hal yang mungkin berpotensi untuk “dimasak” oleh Israel, Iran, dan keturunan Pahlevi. Mereka pasti berkatan, level keulamaan Mojtaba belum senior. Kendati ia belajar di Pesantren Qum di bawah didikan para ulama konservatif, Mojtaba belum beroleh gelar Ayatollah. Para calon “pemasak” lupa bahwa saat menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomenei, pendiri Republik Islam Iran, Khamenei belum bergelar Ayatollah. Namun, mengapa Dewan Ahli memilih Khamenei? Itu karena kapasitas, kapabilitas, kezuhudan, dan ketaatan Khamenei dalam beragama Islam.
Dengan hadirnya Mojtaba (ingat, Mojtaba hanya satu dari empat orang yang syahid Khamenei ajukan untuk menjadi pengganti. Tiga orang lainnya tentu punya kapasitas dan kabilitas. Selain itu, para anggota Dewan Ahli pun memiliki kesempatan untuk dipilih menjadi Supreme Leader. Dengan demikian, andaikata Mojtaba syahid, masih ada 3 orang calon pengganti, dan apabila mereka semua kembali syahid, masih ada puluhan anggota Dewan Ahli yang mampu menjadi Supreme Leader di Iran. Dengan dasar ideologis inilah, dan kemampuan logistik perang dan sumber daya, Iran memutuskan untuk Perang Panjang dengan Israel-Amerika. Mampukah Israel-Amerika menjawab keputusan Iran ini?
Kandidat Lain Selain Mojtaba
Apa yang dilakukan oleh Iran dalam memimpin Pemimpin Tertinggi sesungguhnya telah ada presedennya di masa lampau. Saat Umar bin Khatab merasa hidupnya tidak akan lama lagi akibat sakit, maka beliau mengangkat dewan formatur terdiri atas enam sahabat. Termasuk ke dalamnya Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair bin Awwam dan Abu Musa. Keenam orang tersebut dianggap Umar akan mampu menunjuk seorang khalifah dari keenam orang tersebut. Penulis tidak akan merinci detail pemilihan dewan formatur tersebut karena akan panjang. Singkatnya, Usman bin Affan terpilih lalu mulailah nepotisme Bani Umayah terjadi.
Dengan tiga indikator tersebut, maukah Iran menerima Indonesia sebagai juru damai. Jika kita gunakan bahasa diplomatik, maka jawabannya adalah “silakan mengajukan, tetapi kami sampai saat ini belum memiliki opsi negosiasi karena kami tengah berperang.” Jika kita gunakan bahasa anak gaul, maka jawaban Iran adalah “siape luh, gua harus bilang wow begitu.”
Kembali kita ke internal Iran. Kita ingat bagaimana dahulu Iran itu rusuh. Pemimpin yang menjanjikan yaitu Mohammad Mossadegh yang sosialis tetapi sesungguhnya penuh harapan dikudeta oleh Amerika Serikat. Sayangnya, Mossadegh kurang populer di kalangan Ulama sehingga dukungan Ulama dan pengikut mereka dari “kaum bazaari” (pedagang) tidak begitu besar. Ini berbeda dengan saat Ayatollah Ruhollah Khamenei terus berbicara dari Paris untuk melakukan Revolusi atas Shah Pahlevi, Alpha Male yang korup dan tidak mampu mendistribusikan resource dan pemastian reproduksi atas rakyat Iran. Dengan dukungan Ali Syari’ati, intelektual revolusioner Iran yang kemudian “diracun” oleh SAVAK, polisi rahasia Pahlevi, sehingga usianya tidak sampai ke tahun 1979 saat Revolusi Islam Iran, Khomenei pun mampu menggulingkan Pahlevi dukungan Israel-Amerika Serikat.
Sejak Khomeinei, Iran terisolir sehingga belajar hidup dari Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia mereka sendiri. Dan hingga saat ini, Iran sanggup bertahan. Jika kita balik, bagaimana Israel tanpa bantuan Amerika Serikat? Penulis yakin negara itu tidak akan bertahan dan kalah dalam Perang Arab-Israel Pertama.
Saat ini adalah penting bagi Iran untuk terus memastikan kerjasama harmonis antara Garda Revolusi, Ulama, dan Eksekutif. Kunci dari pengaruh Mojtaba adalah kedekatan hubungannya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Selama perang Iran-Ira tahun 1980an, Mojtaba pernah bertugas di Batalion Habib. Batalion ini dibentuk terutama dari unsur relawan yang memiliki hubungan dengan jaringan Revolusi Islam Iran yang sukses menendang Pahlevi Korup dari Iran. Batalion Habib beroperasi di bawah pasukan yang punya hubungan langsung dengan IRGC dan kerap ambil bagian dalam sejumlah perang besar dengan pasukan Irak. Tentu saja, pengalaman ini sangat berharga bagaimana seorang ulama juga pernah ikut serta dalam sebuah perang dan sejumlah pertempuran besar. Bukankah Rasulullah pun pernah ikut serta dalam puluhan pertempuran melawan musuh-musuh Islam?
Sejumlah rekan Mojtaba di Batalion Habib kemudian atas kemampuan mereka sendiri, duduk di aneka posisi senior baik di aparatus keamanan dan intelijen, termasuk sejumlah individu yang menjadi pimpinan desisif di Garda Revolusi yang bertanggung jawab atas pengorganisasian intelijen dan komando keamanan demi melindungi Rezim Republik Islam Iran.
Satu hal yang mungkin berpotensi untuk “dimasak” oleh Israel, Iran, dan keturunan Pahlevi. Mereka pasti berkatan, level keulamaan Mojtaba belum senior. Kendati ia belajar di Pesantren Qum di bawah didikan para ulama konservatif, Mojtaba belum beroleh gelar Ayatollah. Para calon “pemasak” lupa bahwa saat menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomenei, pendiri Republik Islam Iran, Khamenei belum bergelar Ayatollah. Namun, mengapa Dewan Ahli memilih Khamenei? Itu karena kapasitas, kapabilitas, kezuhudan, dan ketaatan Khamenei dalam beragama Islam.
Dengan hadirnya Mojtaba (ingat, Mojtaba hanya satu dari empat orang yang syahid Khamenei ajukan untuk menjadi pengganti. Tiga orang lainnya tentu punya kapasitas dan kabilitas. Selain itu, para anggota Dewan Ahli pun memiliki kesempatan untuk dipilih menjadi Supreme Leader. Dengan demikian, andaikata Mojtaba syahid, masih ada 3 orang calon pengganti, dan apabila mereka semua kembali syahid, masih ada puluhan anggota Dewan Ahli yang mampu menjadi Supreme Leader di Iran. Dengan dasar ideologis inilah, dan kemampuan logistik perang dan sumber daya, Iran memutuskan untuk Perang Panjang dengan Israel-Amerika. Mampukah Israel-Amerika menjawab keputusan Iran ini?
Kandidat Lain Selain Mojtaba
Apa yang dilakukan oleh Iran dalam memimpin Pemimpin Tertinggi sesungguhnya telah ada presedennya di masa lampau. Saat Umar bin Khatab merasa hidupnya tidak akan lama lagi akibat sakit, maka beliau mengangkat dewan formatur terdiri atas enam sahabat. Termasuk ke dalamnya Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair bin Awwam dan Abu Musa. Keenam orang tersebut dianggap Umar akan mampu menunjuk seorang khalifah dari keenam orang tersebut. Penulis tidak akan merinci detail pemilihan dewan formatur tersebut karena akan panjang. Singkatnya, Usman bin Affan terpilih lalu mulailah nepotisme Bani Umayah terjadi.
Di Iran, ada Dewan Ahli yang terdiri atas 88 Ayatollah dari seluruh Iran. Jika di masa Khalifah Umar hanya beliau sendiri yang menunjuk Dewan Formatur, maka di Iran kandidat ada di tangan 88 orang Ayatollah. Selain Mojtaba Khamenei terdapat sejumlah calon lainnya yaitu Ayatollah Alireza Arafi, Ayatollah Sadeq Larijani, Hassan Khomeini, dan Mohammad Mehdi Mirbagheri.
![]() |
| Alireza Arafi |
Ayatollah Alireza Arafi berasal dari luar lingkaran klerik Iran dan kurang begitu dikenal secara luas. Kendati pun demikian sebagai ulama senior Arafi sangat erat hubungannya dengan aneka lembaga keagamaan di Iran dan sebab itu namanya beredar sebagai kandidat pengganti syahid Khamenei. Arafi lahir tahun 1959 di Yazd, sebuah provinsi Iran bagian tengah. Arafi juga diangkat menjadi anggota fuqaha di Dewan Kepemimpinan Iran. Tugas dewan ini adalah melaksanakan aneka tugas Pemimpin Tertinggi yang syahid dalam perjuangan melawan Israel-AS hingga terpilihnya seorang Supreme Leader baru. Arafi juga merupakan ulama yang menjadi anggota Dewan Keamanan (Guardian Council) Iran. Dengan posisinya tersebut maka Arafi menjadi "presidium" Dewan Kepemimpinan sementara Iran sebelum terpilihnya pemimpin tertinggi definitif bersama-sama dengan Presiden Iran Masoud Pazeshian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei.
![]() |
| Sadeq Larijani |
Ayatollah Sadeq Larijani juga merupakan kandidat Pemimpin Tertinggi. Ia merupakan saudara kandung Ali Larijadi, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang syahid dibunuh oleh Mossad Israel. Larijani sempat menjadi Kepala Pengadilan. Kendati figurnya tidak sedesisif para kandidat lain, tetapi Sadeq Larijani memiliki posisi selaku Kepala Pengadilan dan menjadi anggota kunci dari Guardian Council yakni sebuah dewan yang tugasnya mereview undang-undang dan menyetujui aneka kandidat untuk duduk di sebuah jabatan. Selain di Guardian Council, Sadeq Larijani juga anggota kunci di Expendiency Discernment Council yang tugasnya menyelesaikan aneka persengketaan antara parlemen dengan Guardian Council dan memberikan nasehat kepada Pemimpin Tertinggi mengenai suatu kebijakan.
![]() |
| Hassan Khomeini |
Hassan Khomeini adalah cucu dari pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini. Usia Hassan kurang lebih 53 tahun. Hassan telah mengambil peran selaku penjaga makam kakeknya di Teheran selatan. Kendati pun demikian, Hassan Khomeini belum pernah bekerja di pemerintahan. Hassan juga dikenal sebagai tokoh yang relatif moderat dan memiliki hubungan akrab dengan kalangan reformis yang kemudian "terpental" di masa syahid Khamenei. Mantan presiden Iran Mohammed Khatami dan Hassan Rouhani adalah dua reformis Iran yang mencoba untuk melakukan pendekatan dengan pihak Barat. Namun, syahid Khamenei melihat bahwa ganjalan Zionis Israel akan memanfaatkan upaya pendekatan ini untuk semakin mencengkeram Palestina dan mendirikan Israel Raya.
![]() |
| Mehdi Mirbagheri |
Terakhir, Mehdi Mirbagheri adalah kandidat pengganti syahid Khamenei. Mirbagheri berasal dari kelompok garis keras. Ia juga merupakan figur puncak di antara ke-88 anggota Dewan Ahli. Posisi keras Mirbagheri lebih keras dari Mojtaba Khamenei terhadap Zionis Israel dan AS. Kandidat ini juga memiliki aliansi ideologis yang sangat kuat dengan aneka faksi konservatif dalam sistem politik Iran.
Acuan
Khamenei, S. M. (2026). Biografi Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei. Gahar.ir. https://gahar.ir/biography-of-ayatollah-seyyed-mojtaba-khamenei/
Tasnim News Agency. (2026, March 9). Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, siapa pemimpin baru Iran? https://www.tasnimnews.ir/fa/news/1404/12/18/3535243/آیت-الله-سیدمجتبی-خامنه-ای-رهبر-جدید-ایران-کیست
Wikipedia bahasa Persia. (2026). Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei. https://fa.wikipedia.org/wiki/سید_مجتبی_خامنهای
Iran International. (2026, March 9). Cleric says some Assembly members not informed of meeting to name new leader. https://www.iranintl.com
BBC News Persian. (2026, March 9). Mojtaba Khamenei, siapa pemimpin ketiga Republik Islam Iran? https://www.bbc.com/persian
Kompas.com. (2026, March 8). Siapa Ayatollah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran? https://internasional.kompas.com
Rokna.net. (2026, March 20). Biografi Mojtaba Khamenei, putra kedua pemimpin syahid revolusi. https://www.rokna.net
Mehr News Agency. (2026, March 9). Dokumenter pertama tentang perjalanan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, pemimpin ketiga. https://www.mehrnews.com






https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.