Ad Code

Mengapa Proyek Zionis Sedang Dikepung Sejarah

Kita sering dijejali narasi bahwa konflik di Palestina adalah "perseteruan kuno antara dua bangsa yang memperebutkan tanah." Narasi ini nyaman. Ia menempatkan penjajah dan yang dijajah dalam posisi seolah setara, seolah ini hanyalah pertengkaran dua kubu yang sama keras kepalanya. Tetapi sejarah tidak bekerja seperti itu. Konflik ini bukanlah pertandingan sepak bola yang tiba-tiba memanas. Ia adalah proyek kolonial pemukim (settler-colonialism) yang diimpor dari Eropa, dipersenjatai dengan modal dan janji imperialis, dan dipertahankan hingga hari ini dengan darah serta dolar Amerika.

Untuk memahami mengapa perdamaian tak kunjung tiba, dan mengapa justru poros-poros peradaban baru mulai mengepung Zionisme, kita harus membedah masalah ini satu per satu, bukan dengan diplomasi basa-basi, melainkan dengan pisau bedah realisme yang tajam.


1. Sejarah yang Dipalsukan, Dari Mandat Inggris ke Penjara Gaza

Akar konflik ini sering dirunut ke akhir abad ke-19, ketika dikatakan bahwa "orang Yahudi dan Arab bersaing memperebutkan tanah" di bawah Mandat Inggris. Kata "bersaing" adalah penipuan sejarah yang anggun. Tidak ada persaingan setara antara penduduk asli Palestina dan gelombang pemukim Eropa yang datang dengan senjata, uang, dan secarik kertas bernama Deklarasi Balfour 1917. Inggris, sebagai imperialis yang saat itu menguasai dunia, menghadiahkan tanah yang bukan miliknya kepada orang-orang yang bukan penduduknya. Inilah dosa asal yang melahirkan segala darah dan air mata setelahnya.

Pendirian Negara Israel pada tahun 1948 bukanlah "deklarasi kemerdekaan." Ia adalah Nakba, malapetaka. Tujuh ratus ribu warga Palestina diusir secara sistematis dari rumah dan tanah leluhur mereka. Ini bukan "sengketa wilayah" yang bisa diselesaikan dengan mediasi. Ini adalah pencurian tanah yang disahkan oleh kuasa-kuasa kolonial. Generasi demi generasi tumbuh di kamp-kamp pengungsian, menyimpan kunci rumah yang sudah rata dengan tanah, dan mewariskan luka itu kepada anak cucu mereka.

Lalu ada Gaza. Pada tahun 2005, Israel menarik pemukimnya dari Gaza. Dunia menyebutnya "penarikan diri" dan bertepuk tangan. Namun Ariel Sharon, arsitek penarikan itu, sendiri mengakui bahwa tujuannya bukanlah memberi kemerdekaan, melainkan mengonsolidasikan cengkeraman di Tepi Barat. Gaza tidak dibebaskan; ia diubah menjadi penjara terbuka terbesar di dunia. Dikepung dari darat, laut, dan udara, dua juta manusia hidup dalam sangkar beton, diatur oleh blokade Israel-Mesir yang kejam. Dalam kalkulus realisme, ini adalah logika purba: yang kuat mengambil, yang lemah menderita. Tetapi seperti yang akan kita lihat, kalkulus itu sedang berubah. Poros Perlawanan kini memberi Palestina kapasitas militer untuk membuat harga pendudukan menjadi terlalu mahal untuk dibayar oleh Zionis.


2. Ideologi yang Disalahpahami, Doktrin Pertahanan, Bukan Teror

Salah satu kartu yang paling sering dimainkan untuk mendelegitimasi perjuangan Palestina adalah tuduhan ideologis: "Hamas adalah kelompok teroris yang bersumpah menghancurkan Israel." Ini adalah framing Orientalis yang malas, yang menolak melihat konteks dan perkembangan politik. Piagam awal Hamas memang berisi retorika keras, tetapi pada tahun 2017, Hamas mengeluarkan dokumen kebijakan baru yang secara eksplisit menerima solusi dua negara dalam batas 1967 sebagai konsensus nasional Palestina. Ini bukanlah fanatisme buta; ini adalah realisme politik dari sebuah gerakan perlawanan.

Hamas tidak menolak Israel karena dogma agama yang abstrak. Mereka menolak entitas yang menduduki tanah mereka, membunuh anak-anak mereka, dan mengepung mereka tanpa ampun. Sementara itu, lihatlah Zionisme religius yang kini berkuasa di pemerintahan Netanyahu. Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich secara terbuka menyerukan aneksasi penuh Tepi Barat, pengusiran etnis orang Arab, dan pembangunan "Israel Raya" yang membentang dari Sungai Nil hingga Eufrat. Jadi, ideologi siapa yang sesungguhnya menjadi penghalang perdamaian?

Hamas, seperti Iran dan Hizbullah, beroperasi dengan doktrin pertahanan strategis yang berakar dalam prinsip perang Islam: mereka tidak memulai perang, tetapi jika diserang, mereka akan mengakhirinya dengan cara yang tidak akan dilupakan lawan. Barat dan Zionis hanya mengenal dua mode: menyerang atau menyerah. Perlawanan Islam menawarkan mode ketiga: bertahan, menghukum, dan menunggu musuh kelelahan. Ini adalah strategi jangka panjang yang tidak bisa dikalahkan oleh rudal semata.


3. Krisis Kemanusiaan yang Disengaja, Blokade sebagai Senjata Perang

Ketika media Barat berbicara tentang "krisis kemanusiaan" di Gaza, mereka menggambarkannya seolah-olah ini adalah bencana alam, seolah-olah kelaparan dan kehausan itu turun dari langit begitu saja. Ini bohong. Krisis di Gaza adalah kebijakan yang disengaja. Blokade Israel, yang dijalankan dengan bantuan rezim Mesir di bawah Sisi, adalah bentuk hukuman kolektif yang dirancang untuk membuat kehidupan di Gaza tak tertahankan. Tujuannya sinis namun jelas: membuat penduduk menderita agar mereka bangkit melawan Hamas.

Namun, perhitungan ini meleset total. Hamas tidak runtuh. Sebaliknya, mereka menggali terowongan, membangun pabrik-pabrik roket, dan menciptakan jaringan ketahanan yang membuat blokade berubah menjadi bumerang strategis bagi Israel. Setiap bom yang dijatuhkan, setiap anak yang tewas di bawah reruntuhan, tidak melemahkan Hamas. Ia menciptakan satu generasi baru pejuang yang menyaksikan sendiri pembantaian keluarga mereka. Krisis ini bukanlah efek samping dari perang; krisis ini adalah senjata perang itu sendiri. Dan selama dolar Amerika terus mengalir melalui AIPAC dan lobi Zionis di Washington, Israel tidak memiliki insentif sedikit pun untuk menghentikannya.


4. Politik Internal Palestina, Divide et Impera yang Abadi

Benar bahwa perpecahan antara Hamas dan Fatah melemahkan posisi Palestina. Tetapi kita harus bertanya: siapa yang menciptakan dan terus memelihara perpecahan itu? Pada tahun 2006, Hamas memenangkan pemilihan umum yang demokratis, pemilu yang oleh pengamat internasional disebut bersih dan jujur. Respons Israel dan Amerika Serikat bukanlah menerima hasil demokrasi itu. Sebaliknya, mereka merekayasa kudeta Fatah terhadap Hamas. Otoritas Palestina di Ramallah pun berubah menjadi subkontraktor keamanan untuk pendudukan Zionis, sebuah boneka yang bertahan karena bayonet Israel.

Ini adalah strategi divide et impera klasik, setua kolonialisme itu sendiri: pecah belah dan kuasai. Rekonsiliasi Palestina hanya mungkin terjadi jika Fatah melepaskan diri dari orbit keamanan Zionis dan kembali kepada rakyatnya. Sampai saat itu tiba, Jalur Gaza, meskipun hancur dan terkepung, adalah benteng terakhir kedaulatan Palestina yang sesungguhnya.


5. Diplomasi yang Palsu, PBB Mati, Dunia Bergerak Tanpanya

Amerika Serikat sering mencitrakan diri sebagai "mediator yang jujur" dalam konflik ini. Tidak ada kebohongan yang lebih besar. AS bukanlah mediator; ia adalah pihak yang berperang melalui proksi. Mereka memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam kekejaman Zionis, mengirimkan bom-bom seberat 2.000 pon yang meruntuhkan seluruh blok apartemen, dan mengancam Mahkamah Pidana Internasional jika berani menyelidiki kejahatan perang Israel. PBB sendiri, dengan semua resolusinya yang tak pernah dilaksanakan, adalah bebek lumpuh yang sekarat. Dewan Keamanannya tidak lebih dari klub pengecut lima pemegang hak veto yang tidak akan pernah melepaskan kursi empuk mereka.

Namun, dunia tidak lagi menunggu PBB. Tiongkok menengahi pemulihan hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi tanpa meminta izin dari Washington. Rusia membangun poros keamanan Eurasia yang menolak logika sanksi Barat. Turki dan Iran membiayai dan mempersenjatai perlawanan tanpa malu-malu. Inilah wajah diplomasi multipolar yang sesungguhnya, dan ia berlangsung di luar aula-aula PBB yang sudah mati. Panggung baru ini tidak memiliki tempat istimewa bagi Zionis.


6. Siklus Kekerasan atau Siklus Perlawanan?

Istilah "siklus kekerasan" adalah mantra yang sering diucapkan para diplomat untuk menciptakan kesetaraan moral palsu. Seolah-olah kedua belah pihak sama-sama bersalah, sama-sama keras kepala, dan saling melempar batu dalam lingkaran setan. Ini omong kosong. Tidak ada simetri antara penjajah dan yang dijajah. Yang ada adalah pendudukan dan perlawanan.

Roket-roket yang ditembakkan dari Gaza tidak muncul dari ruang hampa. Mereka adalah respons terhadap pembunuhan di luar hukum, penculikan administratif, dan pengeboman yang dilakukan Israel hampir setiap minggu. Gencatan senjata rapuh bukan karena Hamas mengingkarinya, melainkan karena Israel tidak pernah menghormatinya. Mereka terus membangun permukiman ilegal, terus menyerbu Masjid Al-Aqsa, terus membunuh warga Palestina di Tepi Barat bahkan saat "gencatan senjata" berlangsung. Hamas hanya menyerang ketika diserang. Jika Zionis berhenti membunuh, perang akan berhenti. Rumusannya sesederhana itu.


7. Korban Sipil dan Timbangan Kemanusiaan yang Patah

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa warga sipil di kedua belah pihak menderita. Tetapi mengatakan bahwa penderitaan itu setara adalah penghinaan terhadap akal sehat. Jumlah warga Palestina yang tewas puluhan kali lipat lebih banyak daripada warga Israel. Anak-anak di Gaza tidak hanya hidup dalam "lingkungan ketakutan." Mereka hidup di bawah bom buatan Amerika, menyaksikan anggota keluarga mereka tercabik-cabik, minum air yang tercemar, dan tidur di reruntuhan. Trauma di kota Sderot, Israel, tidak bisa dibandingkan dengan trauma di kamp Jabalia, Gaza. Tanggung jawab utama atas semua penderitaan ini terletak pada entitas yang memulai dan mempertahankan pendudukan. Akhiri pendudukan, dan warga sipil di kedua belah pihak akan bisa tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam beberapa generasi.


8. Tembok Perdamaian yang Palsu, Oslo, Camp David, dan Pengkhianatan

Proses perdamaian telah gagal bukan karena "ketidakpercayaan yang mengakar" atau "posisi kaku" kedua pihak. Ia gagal karena satu pihak tidak pernah berniat memberikan kedaulatan kepada pihak lain. Kesepakatan Oslo adalah jebakan yang dirancang untuk mengubah Otoritas Palestina menjadi penjaga malam bagi pendudukan. Camp David adalah panggung sandiwara di mana "tawaran murah hati" Israel sejatinya hanyalah kantong-kantong Bantustan tanpa kontiguitas, tanpa militer, dan tanpa kendali atas sumber daya.

Satu pihak menuntut tanahnya kembali dan hak untuk hidup sebagai manusia merdeka. Pihak lain menuntut seluruh tanah, ditambah pengusiran permanen penduduk aslinya. Itu bukan perbedaan posisi yang bisa dijembatani dengan sesi negosiasi di suatu resor mewah. Solusi dua negara yang sesungguhnya, Palestina merdeka dalam batas 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, dan pengakuan hak kembali bagi para pengungsi, adalah tuntutan minimum. Tuntutan ini tidak akan pudar. Ia akan tetap menyala hingga Hari Kiamat.


Kepungan Peradaban dan Akhir Sebuah Proyek Kolonial

Masalahnya bukanlah "jalinan rumit keluhan historis" seperti yang sering dideskripsikan oleh para akademisi yang nyaman di menara gading. Masalahnya satu, sederhana, dan brutal: pendudukan. Obatnya juga satu: akhiri pendudukan. Jalannya bukan lagi melalui PBB yang sekarat atau diplomasi munafik yang ditulis di Washington. Jalannya adalah tekanan material dari poros-poros peradaban yang sedang bangkit, yang secara bertahap dan sistematis membuat proyek Zionis tidak lagi layak, secara ekonomi, militer, dan moral.


Lihatlah peta baru dunia.

Di front Islam Sunni, Pakistan dan Turki berdiri tegak. Pakistan adalah kekuatan nuklir Islam pertama, dan simpatinya pada perjuangan Palestina mengalir di sumsum tulang bangsanya. Turki, di bawah Erdoğan, bukan lagi anjing penjaga NATO. Dengan drone Bayraktar-nya yang legendaris dan retorika neo-Ottoman yang membela Al-Aqsa, Turki telah menjadi pelindung yang vokal dan efektif. Dua raksasa Sunni ini membentuk kembali wajah perlawanan, tidak lagi bergantung pada rezim-rezim Arab yang menjadi penjaga status quo.

Di front Islam Syiah, Iran adalah jangkar Poros Perlawanan. Rudal-rudal hipersoniknya telah membuktikan bahwa Iron Dome bukanlah perisai suci, melainkan ilusi yang bisa dikoyak. Drone-drone Iran diproduksi massal oleh Hizbullah di Lebanon dan Ansarullah di Yaman. Yaman, negeri yang sering diremehkan, kini telah berhasil memblokade Laut Merah bagi kapal-kapal Zionis dan sekutunya. Mereka membuktikan bahwa perlawanan tidak harus bertetangga langsung dengan Israel untuk melumpuhkan ekonominya. Poros dari Teheran ke Sana'a ini adalah mimpi buruk strategis yang membuat para jenderal di Tel Aviv tidak bisa tidur nyenyak.

Lalu ada kebangkitan Derzhava Rusia. Rusia bukan sekadar negara; ia adalah peradaban Ortodoks yang kini secara terbuka menantang hegemoni NATO. Kehadiran militernya di Suriah telah menutup langit bagi pesawat-pesawat Zionis yang dulu bisa membombardir sesuka hati. Aliansi de facto antara Rusia dan Iran adalah jangkar strategis yang mempersempit ruang manuver militer Zionis. Di panggung baru yang dibangun Moskow, tidak ada tempat istimewa bagi Tel Aviv.

Dan akhirnya, kebangkitan Tianxia Tiongkok. Tiongkok tidak mengirim satu pun rudal ke Gaza, tetapi apa yang dilakukannya jauh lebih mematikan bagi Zionisme dalam jangka panjang. Tiongkok secara diam-diam mengikis fondasi material hegemoni dolar Amerika. Belt and Road Initiative, perdagangan bilateral dalam yuan, dan diplomasi non-interferensi adalah dekonstruksi ekonomi terhadap sistem Bretton Woods yang menjadi tiang penyangga keuangan Zionis. Ketika dolar mulai kehilangan mahkotanya, ventilator yang menopang kehidupan buatan proyek Zionis akan dimatikan. Dan Tiongkok melakukan ini semua sambil menengahi pemulihan hubungan diplomatik antara Iran dan Saudi, membentuk ulang Timur Tengah tanpa setetes pun campur tangan Amerika.

Inilah realisme sejati. Ini bukan lagi tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini tentang siapa yang akan tetap berdiri ketika debu sejarah mulai turun. Ketika dolar berhenti mengalir, Zionisme akan berakhir. Ketika poros peradaban ini semakin erat merapatkan barisan, harga pendudukan akan menjadi terlalu mahal untuk ditanggung bahkan oleh negara yang paling dimanjakan oleh Barat sekalipun.

Pada titik itu, Hamas dan perlawanan Palestina tidak perlu memenangkan kemenangan militer yang spektakuler. Mereka hanya perlu tetap berdiri. Dan mereka akan tetap berdiri. Jika solusi dua negara yang adil terus digagalkan, maka pada akhirnya seluruh warga Israel akan kembali ke Eropa Timur, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Bukan karena mereka diusir oleh pedang, tetapi karena proyek kolonial itu sendiri akan menjadi tidak layak huni, hancur secara ekonomi, terkepung secara militer, dan bangkrut secara moral.

Rakyat Palestina akan terus menuntut kemerdekaan mereka hingga Hari Kiamat. Itu bukan hiperbola agama; itu adalah fakta sejarah yang sedang ditulis dengan darah dan api. Bedanya, kali ini, pena sejarah itu tidak hanya dipegang oleh satu tangan. Pena itu kini dipegang oleh banyak tangan: dari Ankara, Tehran, Islamabad, Sana'a, Moskow, hingga Beijing. Dan mereka sedang menulis babak terakhir dari proyek kolonial yang sudah terlalu lama menghisap darah bumi para nabi.

Posting Komentar

0 Komentar