Dimensi pertama adalah intrumental. Dalam dimensi ini, patron umumnya lebih kaya atau lebih kuat, yang kemudian menyediakan pada para klien mereka yang lebih lemah atau miskin dengan keuntungan material, perlindungan, atau keduanya. Penyediaan material ini terkait dengan loyalitas politik, pelayanan politik, atau keduanya, yang diberikan klien terhadap si patron.
Dimensi kedua adalah afeksi (perasaan). Hubungan yang terjadi antara patron dengan kliennya sangat personal. Norma yang berlaku antara patron dengan klien adalah loyalitas. Klientelisme bisa pula dikontraskan dengan universalitas birokratis atau rasionalisme pasar. Klientelisme menolak kedua macam rasionalisme dalam masyarakat moderen tersebut.
Studi yang banyak dirangkum dalam Teori Klientelisme ini adalah pengalaman Amerika Latin. Douglas Chalmers misalnya, menyatakan bahwa di Amerika Latin, jaringan Klientelisme terorganisir rapi dari "atas" ke "bawah." Jaringan tersebut bertumpu pada keberadaan para "broker politik", yaitu pelaksana kegiatan politik yang tugasnya mengelompokkan tuntutan dari komunitas asal mereka sekaligus pada sisi lain, mendistribusikan aneka keuntungan atau sumber daya yang diberikan oleh "pusat" kekuasaan.
Hubungan yang terjadi antara komunitas (klien) dan penyedia sumber daya (patron) dihubungkan dengan pola pemberian suara dalam pemilu. Komunitas punya sumber daya suara tetapi miskin sumber daya. Sementara pemberi suara kaya akan sumber daya tetapi perlu suara untuk bercokol di dalam kekuasaan politik.
Julio F. Carrion, "Clientelistic Parties in Latin America" dalam dalam George Thomas Kurian, ed., Encylopedia of Political Science (Washington: CQ Press, 2011) p. 254-5.

.webp)
https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.