Dengan menggunakan pendekatan ekonomi politik, artikel ini mengajukan proposisi bahwa tesis Michels tetap relevan tetapi tidak murni: Kecenderungan oligarkis dalam partai-partai politik memang nyata dan terverifikasi, tetapi tidak bersifat deterministik maupun universal sebagaimana diklaim Michels.
Analisis terhadap data empiris menunjukkan bahwa "Sembilan Naga" yaitu jaringan konglomerat yang terbentuk sejak era Orde Baru, telah membangun penetrasi mendalam ke partai politik nasional melalui pendanaan kampanye, kepemilikan media, dan posisi strategis dalam kabinet. Sementara itu, "Sembilan Haji" merepresentasikan gelombang baru oligarki berbasis sumber daya alam yang mengonsolidasi kekuasaan di tingkat daerah melalui jaringan patronase dan dinasti politik lokal.
Pergeseran dari "Sembilan Naga" ke "Sembilan Haji" tidak mengubah struktur oligarkis yang umum berlaku di dalam partai-partai politik, melainkan sekadar berganti aktor, sebuah fenomena yang mirip dengan konsep "sirkulasi elite" Vilfredo Pareto. Artikel ini menyimpulkan bahwa hukum besi oligarki Michels lebih tepat dipahami sebagai peringatan dini (early warning) tentang kecenderungan yang harus terus-menerus dilawan, bukan sebagai vonis yang tak terelakkan.
Penetrasi "Sembilan Naga" dan "Sembilan Haji" ke Dalam Partai Politik: Pembuktian atas Robert Michels
April 2026
DOI: 10.13140/RG.2.2.34649.89445
Conference: Seta Basri Tetap Menulis
https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.