Ad Code

Federal Reserve, Teori Konspirasi, dan Dana Kampanye Politisi Amerika Serikat

Cukup banyak pendapat bermunculan yang menyebut bahwa Federal Reserve (The Fed), badan pencetak Dollar AS, itu perusahaan swasta. Konsorsium sejumlah perusahaan yang memegang kekuasaan mencetak uang Dollar Amerika Serikat. Artikel kali ini akan melakukan penelusuran dalam bentuk esai ilmiah populer mengenai hal tersebut. Ilmiah karena penulisan tetap didasarkan pada fakta yang dapat diverifikasi, populer adalah gaya bahasa yang dapat secara ringan “dikunyah” oleh jaringa pembaca luas. 

The Fed memang sering menjadi subjek berbagai miskonsepsi. Sebab itu tidak ada jalan lain untuk memandang secara obyektif mari kita telaah layaknya diskusi akademis. Pernyataan bahwa The Fed adalah perusahaan swasta atau konsorsium perusahaan bukan deskripsi yang sepenuhnya akurat. The Fed memiliki struktur unik yang merupakan  “perpaduan elemen publik dan swasta.” Struktur The Fed yang “hibrida” sengaja dirancang oleh Kongres AS melalui ‘Federal Reserve Act’ tahun 1913 yang bertujuan menciptakan sebuah bank sentral yang kuat tetapi tetap independen dari tekanan politik jangka pendek. The Fed adalah “Janus”, dewa Romawi yang memiliki “dua wajah.


Komponen Publik

Komponen publik The Fed terdiri atas Dewan Gubernur (Board of Governors). Dewan ini merupakan “jantung  The Fed. Mereka terdiri atas badan pemerintah AS. Posisi Dewan Gubernur bersifat independen dari pemerintah federal AS dan berkedudukan di Washington, D.C. Dalam hal akuntabilitas publik, Dewan ini melapor dan bertanggung jawab langsung kepada Kongres AS, yang juga dapat mengubah wewenang The Fed melalui undang-undang.

Analisis ilmiah populer struktur Federal Reserve, teori konspirasi, dan aliran dana kampanye politisi AS dari bank besar. Fakta vs mitos.


Dalam hal pengangkatan pejabat The Fed, maka tujuh anggota Dewan Gubernur diangkat oleh Presiden AS melaui pengukuhan oleh Senat (para legislator dari seluruh negara bagian). Para pejabat The Fed menjabat selama 14 tahun. Masa jabatan yang panjang ini ditujukan demi memastikan independensi kebijakan oleh sebab setiap presiden AS hanya berkuasa selama 4 tahun, atau maksimal 8 tahun jika ia dipilih kembali.  Peran kunci yang dipegang oleh Dewan Gubernur adalah memegang kendali penuh atas “kebijakan moneter” AS, termasuk ke dalamnya  penetapan suku bunga acuan, mengawasi 12 Bank Federal Reserve, dan mengatur sistem perbankan.


Komponen Swasta

Komponen swasta The Fed terdiri atas 12 Bank Federal Reserve (Federal Reserve Banks) regional. Inilah yang kerap memicu munculnya asumsi bahwa The Fed adalah konsorsium bank swasta.
Struktur korporasi dari ke-12 Bank Federal Reserve regional memang didirikan dan beroperasi seperti perusahaan swasta, dengan dewan direksinya sendiri, lepas dari pengaruh pemerintah AS. Bank-bank komersial yang menjadi anggota The Fed diwajibkan untuk membeli saham dari Bank Federal Reserve di distrik-distrik mereka. Namun, kita harus waspada bahwa saham ini sangat berbeda dengan saham perusahaan biasa. Perbedaan itu diakibatkan oleh: (1) Dividen Tetap, dengan mana bank anggota menerima dividen tetap sebesar 6% per tahun, yang bukan bagian dari keuntungan; (2) Tidak Bisa Diperjualbelikan, dalam pengertian saham yang ada di tangan mereka tidak dapat dijual, diagunkan, atau dipindahtangankan; dan (3) Tidak Ada Kontrol Finansial, bahwa kepemilikan saham ini tidak memberikan kendali atau hak atas aset dan keuntungan The Fed seperti saham perusahaan pada umumnya.


Konsep "Mencetak Uang" dan Keuntungan The Fed

The Fed memiliki otoritas untuk mengatur jumlah uang beredar, yang secara awam sering disebut "mencetak uang". Namun, penting untuk dipahami bahwa sebagian besar "penciptaan uang" di era modern terjadi secara digital melalui operasi pasar terbuka dan mekanisme kredit perbankan, bukan sekadar mencetak uang kertas fisik. 

Aspek terpenting gua meluruskan miskonsepsi "konsorsium swasta" adalah perihal keuntungan (profit). The Fed “bukan” lembaga yang berorientasi laba yang beroperasi an sich untuk kepentingan bank-bank anggota. Berdasarkan undang-undang, setelah membayar biaya operasional dan dividen tetap (6%) kepada bank anggota, maka seluruh keuntungan bersih The Fed wajib disetorkan ke Departemen Keuangan AS. Dengan kata lain, laba The Fed menjadi pendapatan bagi pemerintah AS.

Hingga saat ini, karena artikel belum selesai, pernyataan sementara yang bisa diajukan adalah The Fed bukanlah perusahaan atau konsorsium bank-bank swasta. The Fed juga bukan konsorsium perusahaan yang memegang kekuasaan di AS. The Fed adalah “lembaga pemerintah independen yang unik dengan campuran elemen swasta dalam struktur operasionalnya.” Elemen swasta itu ada demi memastikan keterlibatan dan masukan dari sektor perbankan serta menjaga independensi. Namun, kendali kebijakan dan keuntungan akhir tetap berada di bawah otoritas dan untuk kepentingan publik AS, yang diwakili oleh pemerintah. 

Anggapan bahwa The Fed dimiliki oleh segelintir bankir atau keluarga kaya yang beroperasi secara rahasia adalah teori konspirasi yang tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta struktural dan hukum yang telah kita bahas. Dengan demikian, persoalan yang menarik adalah, “The Fed memang bukan lembaga pemerintah murni, dan independensinya sering dipertanyakan.” Namun, penjelasan tentangnya sangat beragam, mulai dari kritik kebijakan yang sah hingga teori yang tidak berdasar.


The Fed Bukan "Publik Murni"

Anggapan publik bahwa terdapat unsur "perusahaan swasta" tidak sepenuhnya salah. Struktur The Fed memang unik dan sering dikritik sebagai “entitas hibrida publik-swasta yang mengambil yang terburuk dari kedua dunia.” Dua dunia yang dimaksud adalah keburukan dari dunia publik yang bekerja serampangan, dan dunia swasta yang egois dan ambisius dalam mengejar profit. 

Dasar dari kritik yang menyebut bahwa The Fed adalah bank sentra negara yang dikendalikan swasta bukannya tanpa alasa. Pertama, adanya kepemilikan saham oleh bank swasta, dalam mana terdapat Bank Federal Reserve regional (yang masuk ke dalam konsorsium The Fed) memang dimiliki oleh bank-bank komersial yang menjadi anggotanya. Bank-bank ini diwajibkan membeli saham yang tidak dapat diperjualbelikan di bank regional mereka. Sebagai imbalannya, mereka menerima dividen tetap sebesar 6% per tahun. Ini adalah fakta yang diakui oleh situs resmi The Fed sendiri.

Kedua, pembayaran dividen saat The Fed merugi tetap wajib dilakukan. Hal menarik seperti dicatat analis Alex J. Pollock, The Fed tetap membayar dividen kepada bank-bank anggota ini meskipun secara teknis sedang merugi. Pada 2023, mereka membayar dividen $1,5 miliar (Rp.25.500.000.000.000) saat mencatat kerugian hampir $114 miliar (Rp.1.938.000.000.000.000). Ini menjadi salah satu poin kritik utama. Ketiga, sejarah berdirinya The Fed memang penuh kontroversi. Pendirian The Fed pada tahun 1913 diwarnai pertemuan rahasia di Pulau Jekyll yang melibatkan para bankir kuat seperti Paul Warburg dan J.P. Morgan. Momen ini menjadi fondasi bagi banyak teori konspirasi.


Suara-Suara Kritis dari Menteri hingga Ekonom

Pandangan bahwa The Fed adalah institusi swasta atau dimiliki oleh segelintir orang kaya juga disuarakan oleh figur publik, meskipun seringkali kontroversial. Misalnya, pada tahun 2021, Menteri Keuangan Turki saat itu, Nureddin Nebati, secara terbuka mengklaim bahwa The Fed "bukan milik publik Amerika, melainkan dimiliki oleh lima keluarga kaya." Klaim ini menyebut nama-nama seperti Rothschild, Lehman Brothers, Goldman Sachs, dan Warburgs. Pernyataan ini memicu kritik tajam dari para ekonom dan dianggap memalukan.

Juga muncul pendapat yang meyebut bahwa The Fed sekadar Institusi boneka. Banyak kritikus berpendapat bahwa “independensi” The Fed hanyalah mitos belaka. Pendiri Shapeshift, Erik Voorhees, dengan tegas menyatakan bahwa The Fed adalah "milik, oleh, dan untuk bank" dan merupakan "pencapaian terbesar dari lembaga perbankan."

Selain dari Turki, kritik juga muncul dari ekonomi aliran Austria. Ekonomi aliran Austria seperti Murray Rothbard berpendapat bahwa The Fed tidak pernah benar-benar independen, melainkan sangat erat kaitannya dengan mesin negara dan selalu menjadi institusi politik. Sebab itu muncul seruan untuk mengakhiri The Fed. Seruan ini disampaikan oleh figur populer seperti Robert Kiyosaki (penulis Rich Dad Poor Dad) yang secara vokal mengkritik The Fed sebagai biang inflasi dan bahkan membuat film dokumenter berjudul "End the Fed" yang menyerukan sistem moneter alternatif seperti Bitcoin.


Memahami Klaim Konspirasi Zionis

Banyak diskusi yang mengaitkan The Fed dengan keluarga Yahudi atau Zionis. Penting untuk diketahui narasi bahwa "The Fed dikendalikan oleh Zionis" atau keluarga Rothschild adalah “teori konspirasi antisemit klasik yang telah berulang kali dibantah oleh banyak pemeriksa fakta.”

Narasi ini telah ada selama berabad-abad dan sering muncul kembali saat krisis keuangan, menyalahkan "para bankir Yahudi" sebagai dalang di baliknya. Klaim bahwa keluarga seperti Rothschild "memiliki" atau "mengendalikan" The Fed adalah tidak benar. The Fed dikendalikan oleh Dewan Gubernur yang anggotanya diangkat oleh Presiden AS dan dikonfirmasi oleh Senat. Tidak ada satu keluarga atau kelompok etnis pun yang memiliki atau mengendalikan bank sentral AS.

Kritik terhadap struktur dan kebijakan The Fed adalah sah dan didasarkan pada fakta. Namun, mengaitkannya dengan konspirasi etnis atau agama adalah bentuk prasangka yang tidak memiliki dasar fakta. Kita perlu memastikan bahwa kita mampu membedakan antara “analisis struktural  kritis” dengan “teori konspirasi yang tidak berdasar.”

Jadi, setelah melihat dari berbagai sumber, apa yang bisa kita simpulkan? Pertama, bahwa The Fed “bukan” lembaga pemerintah seperti Departemen Keuangan. Keberadaan kepemilikan saham oleh bank swasta, pembayaran dividen, dan sejarah pendiriannya menunjukkan adanya elemen "swasta" yang kuat, yang menjadi dasar kritik bahwa ia bukan milik publik sepenuhnya.

Kedua, The Fed “bukan” perusahaan swasta biasa yang berorientasi laba demi profif para pemegang sahamnya. Dewan Gubernurnya adalah lembaga pemerintah, dan seluruh keuntungannya (setelah biaya operasional dan dividen tetap) dikembalikan ke kas negara AS. Ketiga, kritik bahwa The Fed adalah “kartel yang menguntungkan bank besar”, adalah “mitos” dan bahwa kebijakannya seringkali merugikan rakyat biasa adalah bagian dari wacana kritis yang sehat dan didasarkan pada fakta serta interpretasi ekonomi. Keempat, klaim bahwa The Fed adalah alat dari "konsorsium Zionis" atau keluarga Rothschild adalah “teori konspirasi antisemit” yang tidak memiliki bukti dan telah dibantah oleh banyak sumber independen.

Namun, tentunya banyak pembaca tetap penasaran perihal The Fed ini bukan? Utamanya, sejak awal, pendirian The Fed pada 1913 memang diwarnai pertemuan rahasia di Pulau Jekyll yang melibatkan bankir kuat seperti Paul Warburg dan J.P. Morgan. Momen ini menjadi fondasi bagi banyak teori konspirasi. Seperti banyak kita ketahui, baik Paul Warburg dan J.P. Morgan memiliki hubungan dekat dengan kelompok Zionis internasional. Ini bukan konspirasi, melainkan fakta.

Terdapat bukti sejarah yang kuat perihal keterlibatan beberapa tokoh kunci dalam pendirian The Fed dengan gerakan Zionis. Namun,  gambarannya jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana anggapan yang menyatakan bahwa hanya satu "kelompok Zionis internasional" yang monolitik.


Keterlibatan Zionis, Fakta Sejarah yang Kompleks

Keluarga Warburg, termasuk Paul Warburg, memang memiliki keterlibatan mendalam dengan gerakan Zionis. Sepupu Paul, yang bernama Otto Warburg, bahkan menjabat sebagai presiden Organisasi Zionis Dunia dari tahun 1911 hingga 1921. Saudaranya, bernama Felix M. Warburg, juga dikenal sebagai pendukung kuat aneka aktivitas Zionis. Namun, penting untuk dicatat bahwa dukungan ini tidak seragam. Felix, misalnya, sejak awal 1920-an mendukung pembangunan komunitas Yahudi di Palestina tetapi secara pribadi menolak Zionisme politik karena dianggap bertentangan dengan pandangan asimilasionisnya. Ia lebih memilih jalur filantropi dan kerja sama Arab-Yahudi.

Tokoh bernama J.P. Morgan bukanlah seorang Yahudi, dan Nazi sendiri dengan keras mengutuknya, bahkan menyebutnya sebagai "raja Yahudi yang tidak bermahkota" karena sikap anti-Jerman-nya. Namun, benar bahwa ia ikut menandatangani “Petisi Blackstone tahun 1891” yang mendesak Presiden AS saat itu untuk mendukung pemulihan Palestina sebagai tanah air bagi orang Yahudi. Penting untuk dipahami bahwa petisi ini digagas oleh orang yang bernama William E. Blackstone, seorang pendeta Kristen evangelis dan merupakan salah satu contoh paling awal dari "Zionisme Kristen". Ini adalah gerakan yang berbeda dari Zionisme Yahudi pada masa itu.

Selain Warburg dan Morgan, terdapat sejumlah figur kunci lain. Misalnya, Jacob Schiff, tokoh kuat di balik bank Kuhn, Loeb & Co. dan mertua dari Felix Warburg, adalah pemimpin Yahudi terkemuka pada zamannya. Namun, ia secara tegas menolak Zionisme politik. Ini menunjukkan bahwa komunitas Yahudi sendiri tidak monolitik.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa memang ada tokoh-tokoh dengan koneksi Zionis di lingkaran pendiri The Fed. Namun, di sinilah letak perbedaan krusial antara "fakta" dan "narasi." Apa yang bisa disebut sebagai fakta adalah adanya sejumlah bankir berpengaruh keturunan Yahudi (seperti Paul Warburg) yang terlibat dalam pendirian The Fed. Beberapa dari mereka juga merupakan pendukung gerakan Zionis.  Para penandatangan Petisi Blackstone lainnya adalah tokoh-tokoh Kristen seperti John D. Rockefeller, Ketua Mahkamah Agung Melville Fuller, dan calon presiden William McKinley "membuktikan" bahwa The Fed tidak dimonopoli oleh pendukung Zionis.

Benar bahwa terdapat ada hubungan sejumlah arsitek The Fed dengan gerakan Zionis. Sejarah mencatat adanya perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara tokoh-tokoh Yahudi sendiri mengenai Zionisme, dan keterlibatan mereka dalam The Fed lebih merupakan hasil dari posisi mereka sebagai bankir terkemuka di Wall Street, bukan bagian dari agenda politik global yang terkoordinasi.

Bank-bank Swasta The Fed

Sekarang, mari kita asumsikan bahwa the Fed itu bebas dari "konspirasi Zionis". Telah dinyatakan bahwa The Fed tidak seluruhnya publik. Terdapat kepemilikan saham oleh 12 bank swasta yang bersifat komersial. Hal yang menarik adalah, siapa saja ke-12 bank tersebut, siapa pemiliknya, dan apakah ada keterkaitan mereka dengan aneka kelompok lobi Zionis di Amerika Serikat. 

Fakta yang ada adalah bahwa informasi di atas tidak sesederhana seperti dibayangkan banyak orang. Pertama, perlu kita luruskan premis bahwa 12 bank swasta dalam The Fed bukanlah "pemilik" dalam pengertian biasa, melainkan 12 Bank Federal Reserve regional, yang menjadi tulang punggung sistem. Masing-masing bank ini beroperasi di distriknya sendiri, dan yang paling berpengaruh adalah Federal Reserve Bank of New York. Dengan demikian, ke-12 bank adalah sekadar bagian struktur kelembagaan, bukan 12 perusahaan pemegang saham.


Pemilik Saham The Fed?

Kepemilikan saham di setiap Bank Federal Reserve regional tersebar di antara “ribuan bank komersial” yang menjadi anggota sistem. Berdasarkan data resmi yang terungkap melalui permintaan ‘Freedom of Information Act’ (FOIA) tahun 2018, bahwa struktur kepemilikan di “New York Fed” sangat terkonsentrasi pada beberapa bank besar, seperti termuat dalam tabel. 

Analisis ilmiah populer struktur Federal Reserve, teori konspirasi, dan aliran dana kampanye politisi AS dari bank besar. Fakta vs mitos.

Tabel di atas hanya menunjukkan data untuk “satu” dari 12 bank, yaitu New York Fed saja. Data ini tidak mencerminkan struktur kepemilikan di 11 bank regional lainnya. Namun, pembaca kiranya akan melihat pola serupa. Silakan lakukan penelusuran atas hal tersebut. 


Keterkaitan dengan Lobi Zionis

Terdapat cukup banyak narasi yang secara eksplisit mengaitkan bank-bank ini dengan "modal Yahudi". Narasi ini menyebut nama-nama keluarga seperti Rothschild, Warburg, dan Schiff, yang sering disebut sebagai dalang di balik layar. Ada pula yang mengklaim bahwa perusahaan seperti Vanguard dan BlackRock adalah pemilik utama di balik bank-bank tersebut.

Di sisi lain, narasi yang mengaitkan The Fed secara langsung dengan "kontrol Yahudi" atau "konspirasi Zionis" secara luas dianggap sebagai “teori konspirasi antisemit klasik” oleh banyak pemeriksa fakta dan akademisi. Klaim ini dinilai menyederhanakan struktur kepemilikan yang sebenarnya sangat kompleks dan tersebar. Juga, tidak ada sumber kredibel yang secara gamblang menyatakan bahwa "Bank X dimiliki oleh Lobi Zionis Y". Hal yang ada adalah “bukti tidak langsung dan terfragmentasi.
Misalnya, sejumlah bank, seperti Citibank dan JPMorgan Chase, adalah perusahaan publik besar yang karyawan dan Political Action Committee (PAC)-nya memberikan kontribusi politik ke berbagai pihak, termasuk AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). PAC atau Komite Aksi Politik adalah sebuah entitas hukum yang dibentuk guna menggalang dan menyalurkan dana kampanye demi mendukung atau menentang kandidat dalam pemilihan umum di Amerika Serikat. Mekanisme ini penting karena hukum di AS secara tegas melarang perusahaan (korporasi) dan serikat pekerja memberikan sumbangan langsung kepada kandidat politik tertentu.

Juga terdapat sejumlah tokoh kunci yang memiliki koneksi ganda. Contohnya, Stanley Fischer, yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua The Fed, juga pernah menjadi Gubernur Bank Sentral Israel dan didukung oleh AIPAC (entitas lobi Zionis terkuat di AS).

Struktur The Fed memang unik, dengan mana bank-bank swasta besar memegang mayoritas saham di bank regional paling berpengaruh, yaitu New York Fed. Ini adalah fakta yang didukung data FOIA. Tidak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa bank-bank ini secara struktural dikendalikan oleh sebuah komite lobi Zionis tertentu. Kepemilikan saham ini tidak memberikan hak suara yang proporsional dalam kebijakan moneter.

Dari paparan di atas dapat saja kita ajukan argumentasi bahwa kendati The Fed bukan "konspirasi Zionis" an sich, tetapi lobi-lobi selalu berjalan secara diam-diam, secara personal, seperti bahwa Stanley Fischer, yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua The Fed, juga pernah menjadi Gubernur Bank Sentral Israel dan didukung oleh AIPAC. Juga fakta bahwa sejumlah bank seperti Citibank dan JPMorgan Chase, adalah bank-bank besar yang karyawan dan PAC-nya memberikan kontribusi politik ke berbagai pihak, termasuk AIPAC. 

Kini tibalah kita ke satu persoalan yang cukup menggelitik. Saat Pemilu AS terakhir yang menyebabkan Donald Trump terpilih, sebenarnya berapa besar dana dari individu maupun kelompok yang terafiliasi dengan Citibank dan JP Morgan Chase menggelontorkan uang bagi aneka kandidat kongres, senat, dan presiden? Pertanyaan ini akan kita analisis berdasarkan tata kerja sistem politik modern. 


Peran Bohir di Politik AS

Mari kita bedah kontribusi dari Citigroup (induk dari Citibank) dan JPMorgan Chase pada Pemilu 2024, yang kembali dimenangkan oleh Donald Trump. Pertama, penting untuk dipahami terlebih dahulu bagaimana bank-bank besar ini menyalurkan dana. Berdasarkan regulasi di AS, perusahaan tidak bisa langsung memberikan uang kepada kandidat. Untuk itu, terdapat dua jalur utama yang mengalirkan dana dari bohir ke kandidat. 

Pertama, melalui Political Action Committee (PAC), dengan mana  Komite yang dibentuk perusahaan untuk mengumpulkan dana dari karyawan dan menyalurkannya secara strategis ke kandidat atau komite partai. Kedua, melalui kontribusi individu. Donasi langsung ini terjadi dari karyawan perusahaan (dari level CEO hingga staf) kepada kandidat politik pilihan mereka. Ini adalah komponen yang sangat besar dan seringkali lebih sulit dilacak secara agregat.


Citigroup, Inc.

Untuk Citigroup Inc., perusahaan induk dari Citibank, bahwa dalam siklus pemilu 2023-2024, total kontribusi yang tercatat dari semua afiliasi Citigroup mencapai $1,89 juta (Rp.32.130.000.000). Kemudian, kontribusi PAC Citigroup sendiri menyumbang sekitar $457.500 (Rp.7.777.500.000) kepada kandidat federal, dengan porsi lebih besar ke Partai Republik sebesar 62,19% jika dibandingkan ke Partai Demokrat yang hanya 37,16%. Penerima utama dana PAC ini adalah anggota kongres yang duduk di komite-komite kunci yang mengatur industri keuangan.

Sementara itu, kontribusi individu Citigroup, Inc. lebih dominan, karena mencapai hingga $1,02 juta (Rp.17.340.000.000) atau sekitar 54% dari total kontribusi mereka. Secara khusus, dalam dukungan untuk kandidat presiden dalam Pilpres, donasi dari karyawan Citigroup lebih condong ke Kamala Harris sebesar $243.533 (Rp. 4.140.061.000) dibandingkan ke Donald Trump, yang tidak muncul dalam daftar penerima utama individu dari perusahaan ini.


JPMorgan Chase & Co.

JPMorgan Chase adalah bohir yang jauh lebih besar. Total kontribusi mereka pada siklus pemilu 2024 mencapai angka yang sangat signifikan, yaitu $8,04 juta (Rp.136.680.000.000). Rinciannya, dari   kontribusi individu adalah sangat dominan, dengan menyumbang $6,71 juta (Rp.114.070.000.000) atau sekitar 83,6% dari total kontribusi mereka.

Sementara itu, dukungan JPMorgan Chase & Co. cukup berimbang kepada dua partai yang bertandi dalam Pileg AS. Secara keseluruhan, kontribusi mereka terbagi hampir merata, yaitu 51,89% dialirkan ke kandidat partai Republik dan 48,11% ke kandidat Partai Demokrat. Hal ini menunjukkan bahwa strategi "hedging" klasik, yaitu menjaga hubungan baik dengan kedua partai masih digunakan. 

Khusus bagi dukungan spesifik bagi Donald Trump, meskipun secara institusional berimbang, terdapat dukungan finansial yang jelas untuk kubu Trump. Donasi dari individu karyawan JPMorgan menyumbang sekitar $126.868 (Rp.2.156.756.000) langsung ke kampanye Donald Trump. Sementara itu, donasi ke Super PAC lebih besar lagi, dengan mana terdapat donasi individu sebesar $1 juta (Rp. 17.000.000.000) yang diberikan ke “Make America Great Again Inc.” , sebuah Super PAC yang mendukung Trump. Ini adalah contoh bagaimana individu kaya dapat memberikan sumbangan dalam jumlah sangat besar di luar batasan donasi langsung ke kandidat.


Dua Wajah Lobi yang Sama

Dari data-data di atas, dapat saja kita tarik sejumlah pola. Pertama, bahwa pengaruh itu nyata dan terukur. Jumlah total lebih dari $8 juta (Rp.136.000.000.000) dari satu bank saja yaitu JPMorgan adalah bukti nyata adanya upaya sistematis dan terstruktur untuk mempengaruhi lanskap politik.

Kedua, terdapatnya sejumlah pendekatan berbeda. Citigroup tampak lebih strategis dengan menyasar anggota kongres di komite kunci, sementara JPMorgan Chase menunjukkan kekuatan finansial yang lebih besar dengan pendekatan yang lebih berimbang ke dua partai dan dukungan individu yang signifikan. Ketiga, individu adalah kunci, dengan mana peran individu, terutama para eksekutif dan pialang saham, sangat krusial. Donasi pribadi mereka, yang seringkali mencapai jutaan dolar, adalah salah satu saluran utama pengaruh ini.

Data ini memperkuat hal-hal seperti telah disebut dalam bagian awal artikel bahwa lobi memang seringkali berjalan melalui jalur personal dan terstruktur, bukan melalui "konspirasi" tunggal. Ini adalah sistem yang legal dan transparan, tetapi tetap menjadi sumber kekuatan politik yang sangat besar bagi sektor keuangan.

Dapat kita lihat bersama, sebagai contoh nyata, terdapat kontribusi individu yang terafiliasi dengan Citigroup Inc. sebesar $1,02 juta (Rp. 7.340.000.000). Menarik guna kita telusuri siapakah individu tersebut dan ke mana saja uangnya mengalir?  Sebelum dilakukan pembahasan, perlu ditekankan bahwa kontribusi individu sebesar $1,02 juta bukanlah sumbangan dari satu orang, melainkan akumulasi dari puluhan donasi individu yang masing-masing bernilai besar di atas $200 (Rp.3.400.000) dari para eksekutif dan karyawan Citigroup.


Para Donatur Utama Citigroup

Mereka umumnya adalah para eksekutif senior di Citigroup. Nama-nama tersebut antara lain: Edward G. Skyler (Citibank N.A.); Andrew Sieg (Citigroup Inc.); Anand Selvakesari (Citibank N.A.); David M. Head (Citigroup Global Markets); Brent McIntosh (Citibank N.A.); Deirdre Dunn (Citigroup Global Markets); Nadir Darrah (Citibank N.A.); dan Thomas Anderson (Citibank N.A.). 

Mereka menyumbang donasinya melalui PAC Citigroup, yang kemudian mendistribusikannya ke para kandidat. Ini berbeda dengan donasi langsung ke kandidat. Dana dari PAC Citigroup (termasuk kontribusi individu di atas) mengalir ke berbagai pihak. Dari data, total sumbangan Citigroup pada siklus 2024 mencapai $1.890.192 (Rp.32.133.264.000). 

Berikut adalah rincian aliran dananya:

Federal Reserve, Teori Konspirasi, dan Dana Kampanye Politisi Amerika Serikat

Data menunjukkan aliran dana terbesar dari ekosistem Citigroup mengarah ke kubu Partai Demokrat dengan rincian: (1) DNC Services Corp (Komite Nasional Partai Demokrat) sebesar $302.966 (Rp.5.150.422.000); (2) Kamala Harris (Calon Presiden Demokrat) sebesar $243.533 (Rp.4.140.061.000 ); (4) Komite Senator Demokrat (DSCC) sebesar $45.572 (Rp.774.724.000); dan (5) Komite Kongres Demokrat (DCCC) sebesar $42.441 (Rp.721.497.000). 

Dari data ini, kita bisa melihat bahwa mekanisme "lobi diam-diam" yang Anda singgung memiliki jejak yang sangat konkret dan legal. Aktivitas tersebut berlangsung melalui: (1) Aktor, yaitu para eksekutif puncak perusahaan; (2) Mekanisme, bahwa melalui PAC perusahaan sebagai kendaraan kolektif; dan (3) Target bahwa dana mengalir deras ke para pembuat kebijakan dan mesin partai yang mengontrol agenda legislatif, dalam hal ini Partai Demokrat menerima porsi yang lebih besar. Ini adalah ilustrasi nyata bagaimana sektor keuangan secara strategis membangun hubungan dan pengaruh di pusat kekuasaan.


JPMorgan Chase

JPMorgan Chase menunjukkan adanya kontribusi individu sebesar $6,71 juta (Rp.114.070.000.000) dalam Pemilu AS terakhir. Tentu kita hendak mengetahui sipaa individu tersebut dan siapa saja penerima aliran dana donasi tersebut? Apakah ada kelompok lobi Zionis yang mendapat bagian?

Angka $6.718.340 (Rp. 115.152.347.600) merupakan akumulasi kontribusi individu dari karyawan perusahaan dengan nilai di atas $200 (Rp. 3.428.000), bukan dari satu orang saja. Komponen ini mewakili 83,61% dari total kontribusi politik JPMorgan Chase yang mencapai $8.048.922 (Rp. 137.958.523.080).

Mengenai para pendonor pribadi, JPMorgan Chase memiliki kebijakan yang melarang karyawan memberikan donasi langsung atas nama perusahaan. Oleh karena itu, sumbangan individu disalurkan secara sukarela melalui Komite Aksi Politik (PAC) perusahaan, yaitu JPMorgan Chase & Co. Federal PAC. Berikut adalah beberapa nama donatur utama yang memberikan sumbangan di atas $200 ke PAC tersebut:

Analisis ilmiah populer struktur Federal Reserve, teori konspirasi, dan aliran dana kampanye politisi AS dari bank besar. Fakta vs mitos.

Total kontribusi individu yang disalurkan langsung ke PAC JPMorgan Chase ini mencapai $1.003.568 (Rp.17.060.656.000). Dana yang terkumpul, baik dari individu maupun PAC, kemudian disalurkan ke berbagai kandidat, komite partai, dan kelompok luar (outside groups). Penerima utamanya adalah Komite Partai menjadi penerima terbesar dengan total $3,1 juta atau setara dengan Rp. 53.134.000.000 (38,55% dari total dana). Rinciannya meliputi: Republican National Cmte senilai $1,16 juta (Rp. 19.882.400.000); DNC Services Corp (Komite Nasional Partai Demokrat) senilai $534.487 (Rp. 9.161.107.180); Kandidat menerima total $2,7 juta atau setara Rp. 46.278.000.000 (33,94%). Donasi terbesar mengalir kepada: Kamala Harris (Demokrat) senilai $723.291 (Rp. 12.397.207.740); Donald Trump (Republik) senilai $126.868 (Rp. 2.174.517.520); Nikki Haley (Republik) senilai  $76.733 (Rp. 1.315.203.620); dan Kelompok Luar (Outside Groups) yang menerima senilai  $1,64 juta setara dengan Rp. 28.109.600.000 (20,44%), termasuk donasi $1 juta (Rp. 17.140.000.000) kepada “Make America Great Again Inc,” Super PAC pendukung Donald Trump.


Keterkaitan dengan Lobi Zionis?

Ini sangat menggelitik, adakah keterkaitan antara donasi sejumlah perusahaan besar kepada kelompok-kelompok Lobi Zionis, misalnya AIPAC. Tidak ada bukti yang menunjukkan adanya aliran dana langsung dari JPMorgan Chase atau para donatur individunya kepada AIPAC atau kelompok afiliasinya. Sejumlah referensi dari berbagai pangkalan basis data transparansi keuangan tidak menemukan satu pun transaksi yang mengarah kepada AIPAC maupun United Democracy Project (UDP), Super PAC dari AIPAC  ataupun entitas pro-Israel serupa.

Namun, penting untuk memahami dinamika aktivitas lobi Zionis secara yang lebih luas.  Pertama, AIPAC Beroperasi di tingkat makro, dengan mana AIPAC adalah salah satu keran dana terbesar di Pemilu 2024, yang telah menghabiskan lebih dari $100 juta (Rp.1.714.000.000.000) untuk mempengaruhi 389 pemilihan kandidat pilihan mereka di Kongres. Dana sebesar ini dikumpulkan dari donatur individu kaya, bukan dari PAC perusahaan seperti milik JPMorgan Chase.

Kedua, adanya koneksi melalui penerima dana. Meskipun tidak ada donasi langsung, banyak kandidat yang menerima dana dari JPMorgan Chase juga tercatat sebagai penerima dana dari AIPAC. Sebagai contoh, Senator Charles E. Schumer yang menerima $411.824 (Rp.7.058.663.360) dari JPMorgan Chase pada siklus 1989-2024, juga merupakan salah satu politisi yang didanai oleh AIPAC. Hal ini menunjukkan adanya “irisan kepentingan politik,” tetapi bukan berarti ada koordinasi atau konspirasi.

Ketiga, adanya hubungan institusional, bahwa di luar donasi politik, JPMorgan Chase memiliki hubungan bisnis dengan Israel, termasuk investasi di perusahaan pertahanan Israel “Elbit Systems” dan pusat teknologi di Herzliya. CEO Jamie Dimon juga secara terbuka memuji kesepakatan bantuan AS untuk Israel. Hal ini lebih mencerminkan hubungan ekonomi dan politik yang erat antara AS dan Israel.

Terdapat sejumlah pola menarik dalam konteks aliran dana kampanye AS ini. Terjadi ttrategi "hedging", dengan mana JPMorgan Chase menunjukkan strategi klasik dengan menyebar donasi ke kedua partai besar. Hal ini memastikan mereka tetap memiliki akses dan pengaruh, tidak peduli siapa yang memenangkan pemilu. Juga adanya fokus pada "outside groups, dalam mana donasi sebesar $1 juta (Rp17.140.000.000.) ke Super PAC pro-Trump dan total $1,64 juta (Rp. 28.109.600.000) ke kelompok luar menunjukkan preferensi untuk mempengaruhi pemilu melalui jalur tidak langsung yang seringkali kurang transparan.

Terakhir, adanya fenomena pengaruh versus konspirasi. Data ini sekali lagi menunjukkan bahwa pengaruh korporasi dalam politik AS itu “nyata, terukur, dan legal.” Ini adalah sistem yang terbuka. Namun, klaim bahwa semua ini adalah bagian dari konspirasi Zionis yang terkoordinasi tidak didukung oleh bukti transaksi keuangan yang tersedia untuk publik.

Posting Komentar

0 Komentar