Ad Code

Tan Malaka, Biografi Manusia Biasa

Di sebuah rumah petak sempit di Rawajati, Jakarta Selatan, pada awal tahun 1949, seorang laki-laki separuh baya duduk di depan mesin tik tuanya. Ia bukanlah siapa-siapa, hanya seorang guru yang kehilangan pekerjaan, seorang suami yang merindukan istrinya, seorang ayah yang anaknya telah lama tiada.
 
Di meja kerjanya yang reyot, laki-laki itu mengetik surat untuk istrinya yang berada di penjara. "Aku di sini sendirian, sering sakit kepala, dan uang pun semakin menipis. Tapi jangan khawatir, aku masih bisa mengetik dan menerjemahkan untuk menyambung hidup" (Surat Tan Malaka kepada Djaenah, 12 Maret 1949, dalam Poeze 2008, jilid 6, hlm. 227). Laki-laki itu menandatangani suratnya dengan nama "Ibrahim", nama asli yang jarang diketahui orang.

Nama itu, Ibrahim, adalah nama yang diberikan oleh orang tuanya di sebuah desa kecil di Sumatera Barat pada tahun 1897. Namun dunia mengenalnya sebagai Tan Malaka. Nama ini telah menjadi legenda, mitos, sekaligus hantu yang menghantui sejarah Indonesia. Ia disebut sebagai "Bapak Republik yang Terlupakan," "revolusioner sejati," "musuh negara," dan "pahlawan nasional." Namun di balik semua label itu, siapakah manusia yang bernama Ibrahim? Bagaimana ia hidup dari hari ke hari? Apa yang ia makan, di mana ia tidur, bagaimana ia mencintai, dan apa yang ia takutkan?


https://bspradiopekalongan.com/tan-malaka-bapak-republik-indonesa-yang-terlupakan/

Jika Anda ingin membaca secara offline artkel ini, silakan unduh di:





Biografi ini tidak hendak menulis tentang Tan Malaka sebagai tokoh politik, ideolog, atau pahlawan. Biografi ini hendak menulis tentang Ibrahim, manusia biasa yang lahir dari rahim seorang ibu, yang pernah menangis ketika lapar, yang jatuh cinta, yang sakit gigi, yang kesepian, yang merindukan kampung halamannya, dan yang akhirnya mati dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. "Setiap orang besar adalah manusia biasa yang melakukan hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa," tulis Mrázek dalam pengantar biografinya (Mrázek 1972, hlm. 9). Justru dari hal-hal biasa inilah, besar-kecilnya seorang manusia bisa kita nilai.

Pendekatan biografis ini sengaja mengambil perspektif "sejarah dari bawah" (history from below), sebuah pendekatan yang mencoba memahami kehidupan sehari-hari orang-orang yang seringkali hanya ditulis dalam narasi-narasi besar politik. "Sejarah kehidupan sehari-hari memberi kita akses ke dimensi-dimensi pengalaman manusia yang seringkali hilang dalam narasi-narasi besar tentang negara, revolusi, dan ideologi," tulis Bambang Purwanto dalam studinya tentang historiografi Indonesia (Purwanto 2006, hlm. 34). Dengan mencoba merekonstruksi kegiatan-kegiatan harian Tan Malaka, apa yang ia baca, bagaimana ia menulis, di mana ia tidur, dengan siapa ia berbicara, kita mungkin bisa memahami bukan hanya "apa" yang ia pikirkan, tetapi "bagaimana" ia menjalani hidupnya sebagai manusia.

Sumber-sumber yang digunakan dalam biografi ini terutama berasal dari karya monumental Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk meneliti Tan Malaka. Triloginya: Tan Malaka: Strijder voor Indonesië's Vrijheid, Levensloop van 1897 tot 1945 (1976), Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949 (2007), dan tiga jilid terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Obor (2008-2010), menjadi sumber primer utama penulisan ini. Selain itu, biografi oleh Rudolf Mrázek (1972), disertasi Helen Jarvis tentang konferensi PACO (1978), serta kumpulan tulisan Tan Malaka sendiri yang diterbitkan oleh Yayasan Massa (1987-1990) juga menjadi rujukan penting. Untuk konteks sosial dan kehidupan sehari-hari di Sumatera Barat awal abad ke-20, studi Taufik Abdullah (1971), Jeffrey Hadler (2008), dan Elizabeth Graves (1981) sangat membantu. Sementara untuk memahami konteks pergerakan bawah tanah di Asia Tenggara, karya Tim Harper (2021) dan Gerard van Klinken (2007) memberikan perspektif yang kaya.

Biografi ini disusun secara kronologis, mengikuti perjalanan hidup Tan Malaka dari lahir hingga wafat. Namun fokusnya bukan pada peristiwa-peristiwa politik besar, melainkan pada detail-detail kehidupan sehari-hari: masa kecil di Suliki, pendidikan di Kweekschool Bukittinggi dan Belanda, pengalaman sebagai guru di perkebunan Deli, petualangan bawah tanah di Asia, penulisan buku-bukunya, hubungannya dengan perempuan, dan akhirnya kematiannya di tangan sesama pejuang republik. Melalui detail-detail ini, kita berharap bisa bertemu dengan Ibrahim, manusia biasa di balik nama besar Tan Malaka.

"Tidak ada yang lebih sulit daripada menulis tentang orang yang telah menjadi mitos," tulis Poeze dalam kata pengantar biografinya (Poeze 2008, jilid 1, hlm. xvii). "Kita harus terus-menerus melawan godaan untuk membesar-besarkan atau mengecilkan, untuk menghakimi atau membela. Yang tersisa hanyalah fakta-fakta, dan fakta-fakta itu seringkali lebih membosankan daripada legenda. Tapi justru dalam kebosanan itulah, manusia yang sesungguhnya bersembunyi." Biografi ini adalah usaha untuk menemukan manusia yang bersembunyi di balik legenda. Mari kita mulai dari awal.


Anak Suliki (1897-1908)


Kelahiran dan Keluarga


Ibrahim lahir pada 2 Juni 1897, di Nagari Pandam Gadang, sebuah desa kecil di Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Hari itu adalah hari biasa. Tidak ada catatan tentang gempa bumi, gerhana matahari, atau tanda-tanda alam yang luar biasa. "Kelahiran Ibrahim tidak dicatat dalam buku harian siapa pun. Tidak ada yang meramalkan bahwa anak ini akan menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Indonesia," tulis Poeze (2008, jilid 1, hlm. 1).

Ayahnya bernama Rasad Caniago, seorang penghulu andiko, kepala adat yang cukup disegani di nagarinya. Ibunya bernama Sinah Simabur, anak dari seorang penghulu pucuk dari nagari tetangga. Keduanya berasal dari keluarga adat yang terpandang, meskipun bukan dari kalangan paling atas dalam hierarki adat Minangkabau. Rasad adalah laki-laki yang keras namun adil, dikenal pandai berbicara dalam sidang-sidang adat. Sementara Sinah adalah perempuan yang lembut, taat beribadah, dan sangat menyayangi anak-anaknya. "Ibuku adalah perempuan yang kuat," kenang Tan Malaka dalam otobiografinya. "Ia bisa bekerja di sawah seharian, memasak untuk seluruh keluarga, dan masih sempat mengajariku mengaji di malam hari" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 8).


Ibrahim adalah anak ketiga dari lima bersaudara, tetapi dua kakaknya, seorang laki-laki dan seorang perempuan, meninggal ketika masih bayi karena penyakit yang tidak diketahui dengan pasti. Kemungkinan besar mereka meninggal karena malaria atau infeksi saluran pencernaan, dua penyebab utama kematian bayi di Sumatera Barat pada akhir abad ke-19. Jadi, Ibrahim tumbuh sebagai anak tertua dengan dua adik perempuan: Asiah, yang lahir pada tahun 1900, dan Aisyah, yang lahir pada tahun 1904. Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, Ibrahim memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga adik-adiknya dan, kelak, menjadi penerus garis keturunan ayahnya.

"Keluarga Ibrahim adalah keluarga matrilineal Minangkabau yang taat," tulis Taufik Abdullah dalam studinya tentang Islam dan masyarakat Minangkabau (Abdullah 1971, hlm. 45). Dalam sistem matrilineal Minangkabau, garis keturunan ditarik dari pihak ibu. Anak-anak masuk ke dalam suku ibunya. Harta pusaka diwariskan kepada anak perempuan. Laki-laki, termasuk ayah, memiliki posisi yang agak ambigu: di rumah istrinya ia adalah sumando (pendatang), sementara di rumah saudara perempuannya ia adalah mamak (paman) yang bertanggung jawab atas kemenakannya. "Sistem ini menciptakan dinamika yang kompleks dalam keluarga Minangkabau," tulis Graves. "Anak laki-laki tahu bahwa mereka tidak akan mewarisi tanah, tetapi mereka memiliki otoritas atas kemenakan mereka. Ini mendorong banyak laki-laki untuk merantau, mencari kehidupan di luar nagari" (Graves 1981, hlm. 23).

Ibrahim lahir ke dalam suku Caniago, salah satu dari empat suku utama di Minangkabau (bersama Bodi, Koto, dan Piliang). Dalam tambo (sejarah lisan) Minangkabau, suku Caniago dikenal sebagai suku yang demokratis, dengan sistem pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah, berbeda dengan suku Piliang yang lebih hierarkis dan otokratis. "Mungkin ini salah satu akar dari pandangan politik Tan Malaka yang sangat menekankan musyawarah dan demokrasi," spekulasi Mrázek (1972, hlm. 6). Namun, seperti yang akan kita lihat, perjalanan hidupnya jauh melampaui batas-batas adat dan tradisi. Rantau yang ia tempuh jauh melampaui batas-batas geografis: dari Suliki ke Bukittinggi, dari Bukittinggi ke Belanda, dari Belanda ke Jawa, dari Jawa ke seluruh Asia, dan akhirnya kembali ke Indonesia untuk mati di tanah kelahirannya sendiri.


Nama dan Identitas


Nama "Tan Malaka" sebenarnya bukanlah nama asli, melainkan nama panggilan atau gelar. Dalam tradisi Minangkabau, seorang anak seringkali dipanggil dengan nama panggilan yang berbeda dari nama aslinya. "Ibrahim" adalah nama Islam yang diberikan orang tuanya, diambil dari nama Nabi Ibrahim, nabi yang dikenal karena keberaniannya melawan berhala dan kesetiaannya kepada Tuhan. Sementara "Tan" adalah singkatan dari "Sutan" (gelar kebangsawanan kecil) dan "Malaka" adalah nama yang sering digunakan dalam silsilah keluarganya. "Jadi, 'Tan Malaka' bukanlah nama samaran atau nama perjuangan," tulis Mrázek (1972, hlm. 5). "Ia adalah nama sehari-hari yang digunakan oleh keluarga dan teman-temannya sejak kecil."

Dalam berbagai dokumen resmi, ia menuliskan namanya dengan beragam cara: Ibrahim, Tan Malaka, Sutan Malaka, Tan Ibrahim, dan puluhan nama samaran lainnya. Selama pelariannya, ia menggunakan setidaknya dua belas nama samaran yang diketahui, termasuk "Hasan," "Oong," "Arief," "Ismail," dan "Darsono" (Poeze 2008, jilid 2, hlm. 67). "Pergantian nama ini bukan hanya strategi politik untuk menghindari kejaran polisi," tulis Poeze. "Ini juga mencerminkan identitasnya yang selalu berpindah-pindah, selalu dalam proses menjadi, tidak pernah selesai" (Poeze 2008, jilid 1, hlm. 4). Dalam konteks eksistensialisme, hal ini bisa dilihat sebagai manifestasi dari konsep "eksistensi mendahului esensi": manusia tidak dilahirkan dengan identitas yang sudah jadi, melainkan menciptakan identitasnya sendiri melalui pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya.

Namun bagi Ibrahim kecil, semua filosofi ini belum terpikirkan. Baginya, "Ibrahim" adalah nama yang dipanggil ibunya ketika menyuruhnya mandi di sungai. "Tan" adalah panggilan teman-temannya di surau ketika mereka bermain sepak bola dengan bola dari anyaman rotan. "Anak Rasad" adalah identitasnya di mata penduduk nagari. Ia hanyalah seorang anak laki-laki Minangkabau yang hidup di awal abad ke-20, ketika tanah kelahirannya mulai berubah dengan cepat akibat kolonialisme Belanda, modernisasi Islam, dan munculnya pendidikan Barat.
Nagari Pandam Gadang
Nagari Pandam Gadang pada akhir abad ke-19 adalah sebuah komunitas agraris yang hidup dari bertani padi, berkebun kopi, dan beternak. Nagari ini terletak di dataran tinggi yang sejuk, dikelilingi oleh perbukitan yang hijau dan sungai-sungai kecil yang jernih. "Pemandangannya indah," kenang Tan Malaka. "Setiap pagi, kabut turun dari gunung, menyelimuti sawah dan rumah-rumah. Suara ayam berkokok dan suara orang mengaji dari surau bercampur menjadi satu. Itu adalah suara kampung halamanku yang tidak pernah bisa kulupakan" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 5).

"Kehidupan di nagari diatur oleh adat nan ampek (adat yang empat): adat yang sebenarnya adat, adat yang diadatkan, adat yang teradat, dan adat istiadat," tulis Abdullah (1971, hlm. 78). Sistem adat ini mengatur segala aspek kehidupan: dari pembagian tanah, perkawinan, pewarisan, hingga penyelesaian sengketa. Setiap nagari memiliki balai adat tempat para penghulu bersidang, surau tempat anak-anak belajar mengaji, dan pasar tempat orang berjual beli.

Namun masuknya kolonialisme Belanda telah mengubah struktur sosial dan ekonomi nagari. Sejak pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial menerapkan sistem cultuurstelsel (tanam paksa) di Sumatera Barat, yang mewajibkan petani untuk menanam kopi dan menjualnya kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan. "Sistem ini memperkaya pemerintah kolonial dan elite lokal yang menjadi perantara," tulis Graves (1981, hlm. 45). "Tetapi juga menciptakan ketimpangan sosial baru dan memunculkan perlawanan."

Ketika Ibrahim lahir, Sumatera Barat baru saja melewati Perang Paderi (1803-1838), sebuah konflik berdarah antara kaum adat dan kaum agama yang memperebutkan arah reformasi Islam di Minangkabau. Perang ini meninggalkan jejak yang dalam pada masyarakat. "Konflik ini meninggalkan luka yang dalam, tetapi juga menghasilkan sintesis baru antara adat dan Islam yang dikenal dengan ungkapan 'Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah' (Adat berdasarkan syariat, syariat berdasarkan Kitabullah)" (Hadler 2008, hlm. 67). Ibrahim lahir ke dalam dunia di mana adat dan Islam telah berdamai, tetapi juga dunia di mana kolonialisme Belanda telah mencengkeram kuat.

Rumah keluarga Ibrahim adalah rumah gadang tradisional Minangkabau, dengan atapnya yang melengkung seperti tanduk kerbau. Rumah itu dihuni oleh beberapa keluarga yang masih memiliki hubungan matrilineal. "Di rumah gadang, aku tidur di bilik kecil bersama adik-adikku. Setiap pagi, aku terbangun oleh suara ibuku menumbuk padi di lesung. Suara itu berirama dan menenangkan," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 7). Di belakang rumah ada kolam ikan dan kandang ayam. Di depan rumah ada halaman luas tempat anak-anak bermain. "Kami bermain galah panjang, layang-layang, dan sepak bola. Bola kami terbuat dari anyaman rotan. Kadang-kadang bola itu mengenai jendela rumah orang dan kami harus lari terbirit-birit," tulisnya dengan nada humor (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 9).

Masa Kecil di Surau


Seperti anak laki-laki Minangkabau pada zamannya, Ibrahim menghabiskan masa kecilnya di surau, semacam asrama pemuda yang berfungsi sebagai tempat mengaji, belajar adat, dan tidur bagi anak laki-laki yang sudah disapih. "Surau adalah institusi pendidikan tradisional yang mempersiapkan anak laki-laki untuk menjadi laki-laki dewasa yang tahu adat dan agama," tulis Graves (1981, hlm. 56). Anak laki-laki mulai tidur di surau sejak usia sekitar tujuh atau delapan tahun, setelah mereka dianggap cukup besar untuk tidak tinggal di rumah ibunya. Ini adalah bagian dari proses pemisahan anak laki-laki dari dunia perempuan dan mempersiapkan mereka untuk menjadi laki-laki mandiri.

Surau di Pandam Gadang adalah bangunan kayu sederhana dengan atap seng. Di dalamnya ada ruangan besar untuk shalat dan mengaji, serta beberapa kamar kecil untuk tidur. "Surau itu tidak mewah, tapi bersih dan nyaman. Setiap malam, kami tidur berjejer di lantai papan, beralaskan tikar pandan. Kalau hujan, atapnya bocor di sana-sini, dan kami harus menggeser tikar supaya tidak basah," kenang Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 11).

Di surau, Ibrahim belajar membaca Al-Quran, menghafal doa-doa, dan mendengarkan cerita-cerita tentang nabi, sahabat, dan pahlawan Islam. Gurunya adalah seorang lebai (guru agama) tua yang bernama Pakih Sutan. "Pakih Sutan adalah orang yang sabar. Ia tidak pernah marah meskipun kami sering nakal. Tangannya lembut ketika memegang rotan, dan ia lebih sering tersenyum daripada menghukum," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 12).

"Setiap malam, setelah shalat Isya, kami duduk melingkar mendengarkan guru mengaji bercerita. Cerita-cerita itu membuatku tak bisa tidur karena penuh dengan keajaiban dan keberanian," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 12). Pakih Sutan bercerita tentang Nabi Muhammad yang membelah bulan, tentang Nabi Musa yang membelah laut, dan tentang Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan binatang. Tapi cerita yang paling berkesan bagi Ibrahim adalah kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. "Aku selalu merinding mendengar cerita itu. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menyembelih anaknya sendiri? Tapi kemudian aku mengerti bahwa itu adalah ujian keimanan yang paling berat. Dan Nabi Ibrahim lulus" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 13). Tanpa disadari, cerita ini mungkin membentuk pandangannya tentang pengorbanan dan kesetiaan pada keyakinan yang kelak menjadi tema sentral dalam hidupnya.

Selain belajar agama, anak-anak di surau juga belajar silat (seni bela diri Minangkabau) dan randai (teater tradisional). Silat diajarkan oleh guru yang berbeda, biasanya seorang pendekar yang dihormati di nagari. "Silat bukan hanya olahraga, tetapi juga pelajaran tentang disiplin, keberanian, dan strategi," tulis Graves (1981, hlm. 58). Ibrahim kecil dikenal sebagai anak yang agak pendiam, tetapi tekun berlatih silat. "Dia tidak banyak bicara, tapi gerakannya cepat dan tepat," kenang salah seorang teman masa kecilnya yang diwawancarai oleh Poeze pada tahun 1960-an (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 8). "Kalau ada yang mengganggunya, dia tidak langsung marah. Tapi kalau sudah terpaksa, dia bisa membela diri dengan baik."

Salah satu kenangan paling jelas tentang masa kecil Ibrahim di surau adalah tentang makanan. "Setiap pagi, sebelum pulang ke rumah, kami diberi sarapan oleh keluarga yang bergiliran. Biasanya nasi dengan sambal dan ikan goreng, kadang-kadang ada telur. Aku selalu menantikan giliran keluarga Haji Mahmud, karena istrinya pandai memasak rendang. Rendangnya enak sekali, empuk dan berbumbu. Sampai sekarang aku masih ingat rasanya," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 15). Kelak, ketika ia berada di pengasingan di berbagai negara, kenangan tentang rendang ini sering muncul dalam surat-suratnya, sebagai simbol dari kampung halaman yang ia rindukan.

Pendidikan Dasar: Sekolah Desa dan Sekolah Raja

Pada usia delapan tahun, Ibrahim dimasukkan ke Sekolah Desa (Inlandsche School) di Suliki. Sekolah ini didirikan oleh pemerintah kolonial sebagai bagian dari Politik Etis, kebijakan "balas budi" Belanda kepada pribumi yang dimulai pada awal abad ke-20. "Sekolah Desa adalah sekolah dasar tiga tahun yang mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa Melayu," tulis Poeze (2008, jilid 1, hlm. 9). Guru-gurunya adalah orang pribumi yang telah mendapat pendidikan guru. Bangunannya sederhana, terbuat dari bambu dengan atap rumbia, dan seringkali bocor ketika hujan. "Tapi aku senang bersekolah," kenang Tan Malaka. "Aku suka belajar membaca. Dunia menjadi lebih luas ketika aku bisa membaca tulisan" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 17).

Ibrahim adalah murid yang cerdas. "Dia cepat membaca dan menulis. Gurunya sering memujinya di depan kelas," kenang adiknya, Aisyah, dalam wawancara dengan Poeze (2008, jilid 1, hlm. 10). Karena kecerdasannya, ia direkomendasikan oleh guru kepalanya untuk melanjutkan ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Payakumbuh, sebuah sekolah dasar berbahasa Belanda yang diperuntukkan bagi anak-anak pribumi dari kalangan elite. Ini adalah kehormatan besar, tetapi juga tantangan besar.

Tapi jarak antara Suliki dan Payakumbuh sekitar 30 kilometer, terlalu jauh untuk ditempuh setiap hari. Maka, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ibrahim harus meninggalkan rumah dan tinggal di kota. Ia menumpang di rumah seorang kerabat jauh yang tinggal di Payakumbuh. "Aku menangis ketika pertama kali berpisah dengan ibuku. Tapi aku malu menangis di depan teman-teman, jadi aku sembunyikan air mataku di balik bantal," tulis Tan Malaka dalam otobiografinya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 18). Ibunya memberinya bekal: nasi bungkus, sambal, dan beberapa potong rendang. "Ibuku bilang: 'Makanlah rendang ini kalau kau rindu rumah.' Aku memakannya sedikit-sedikit, supaya tahan lama. Tapi tetap saja habis dalam tiga hari," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 19).

Di HIS Payakumbuh, Ibrahim belajar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda, berhitung, ilmu alam, ilmu bumi, dan sejarah. Kurikulumnya jauh lebih maju daripada Sekolah Desa. "Bahasa Belanda adalah kunci untuk membuka pintu dunia modern. Tanpa bahasa Belanda, seorang pribumi tidak bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, tidak bisa membaca surat kabar, tidak bisa mengakses pengetahuan Barat," tulis Mrázek (1972, hlm. 12). Ibrahim mempelajari bahasa Belanda dengan tekun. Setiap malam, ia menghafalkan kata-kata baru dan berlatih menulis kalimat. "Aku ingin bisa berbahasa Belanda sebaik anak-anak Belanda. Aku tidak mau dipandang rendah," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 21).

Namun, di HIS pula Ibrahim pertama kali merasakan diskriminasi rasial. "Anak-anak Belanda dan Indo duduk di barisan depan, sementara anak-anak pribumi duduk di belakang. Guru-guru Belanda seringkali memanggil kami dengan sebutan 'jongen' (anak laki-laki) tanpa menyebut nama, seolah-olah kami tidak punya identitas," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 22). Pengalaman diskriminasi ini mungkin menjadi benih kesadaran politiknya yang kelak berkembang menjadi anti-kolonialisme radikal.

Satu insiden khusus sangat membekas di ingatannya. Pada suatu hari, seorang guru Belanda memukul seorang murid pribumi dengan penggaris kayu karena salah menjawab pertanyaan. Murid itu menangis, dan guru itu berkata: "Kamu bodoh seperti keledai. Semua pribumi bodoh." Ibrahim yang menyaksikan kejadian itu merasa darahnya mendidih. "Aku tidak berani melawan waktu itu. Tapi dalam hatiku, aku bersumpah: suatu hari nanti, aku akan membuktikan bahwa orang pribumi tidak bodoh. Kami hanya belum diberi kesempatan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 23).

Guru-Guru dan Pelajaran Pertama


Salah satu guru yang paling berkesan bagi Ibrahim di HIS adalah seorang guru Belanda bernama Meneer Van der Meulen. "Van der Meulen berbeda dengan guru-guru Belanda lainnya. Ia tidak sombong dan tidak merendahkan kami. Ia mengajar dengan sabar dan sering bercerita tentang negeri Belanda yang indah dengan kincir angin dan bunga tulipnya," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 23). Van der Meulen adalah seorang sosialis idealis yang datang ke Hindia Belanda dengan keyakinan bahwa pendidikan bisa membebaskan bangsa terjajah. "Ia adalah salah satu dari sedikit orang Belanda yang memperlakukan kami sebagai manusia setara," kenang Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 24).

Van der Meulen juga yang pertama kali memperkenalkan Ibrahim pada dunia buku. "Setiap minggu, ia membawa buku-buku dari perpustakaannya sendiri dan meminjamkannya kepada kami. Aku ingat buku pertama yang kubaca adalah novel 'Max Havelaar' karya Multatuli. Aku tidak sepenuhnya mengerti isinya waktu itu, tapi aku merasakan kemarahan Multatuli terhadap ketidakadilan yang dialami oleh petani pribumi" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 24).

Max Havelaar (1860) adalah novel yang mengkritik sistem tanam paksa di Hindia Belanda. Novel ini ditulis oleh Eduard Douwes Dekker di bawah nama samaran Multatuli, dan menjadi salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah kolonialisme Belanda. Bagi seorang anak pribumi seusia Ibrahim, membaca novel ini adalah pengalaman yang menggetarkan. "Aku tidak tahu bahwa ada orang Belanda yang berani menulis seperti itu. Aku kira semua orang Belanda jahat dan serakah. Ternyata ada juga yang berani membela kami," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 25).

Selain Van der Meulen, ada juga guru agama Islam yang mengajar di surau dekat sekolah. Ibrahim tetap melanjutkan pendidikan agamanya, meskipun ia bersekolah di HIS. "Setiap sore, setelah pulang sekolah, aku pergi ke surau untuk mengaji. Malam harinya, aku belajar silat. Hidupku penuh dengan kegiatan, tapi aku menikmatinya" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 27). Jadwal hariannya padat: pagi bersekolah, sore mengaji, malam belajar silat. "Aku hampir tidak punya waktu untuk bermain. Tapi aku tidak mengeluh. Aku tahu, ayah dan ibuku berkorban banyak untuk pendidikanku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 28).


Pendidikan di Kweekschool Bukittinggi (1908-1913)


Memasuki Dunia Baru


Pada tahun 1908, Ibrahim lulus dari HIS dengan nilai yang sangat baik. Ia mendapat peringkat pertama di kelasnya. Gurunya merekomendasikan agar ia melanjutkan ke Kweekschool (Sekolah Guru) di Bukittinggi. "Ini adalah kesempatan langka bagi anak pribumi. Dari ribuan lulusan HIS, hanya segelintir yang diterima di Kweekschool," tulis Mrázek (1972, hlm. 15). Untuk bisa masuk Kweekschool, seorang murid harus lulus ujian masuk yang ketat, meliputi bahasa Belanda, matematika, ilmu alam, ilmu bumi, dan sejarah. Ibrahim lulus dengan nilai yang memuaskan dan diterima sebagai salah satu dari dua puluh lima siswa baru.

Kweekschool Bukittinggi didirikan pada tahun 1856 sebagai sekolah untuk mendidik guru-guru pribumi. "Sekolah ini adalah salah satu institusi pendidikan tertua dan paling bergengsi di Sumatera Barat," tulis Graves (1981, hlm. 89). Kurikulumnya mencakup bahasa Belanda, bahasa Melayu, matematika, ilmu alam, ilmu bumi, sejarah, pedagogi, dan agama. Lama pendidikannya lima tahun. Para lulusannya menjadi guru-guru yang ditempatkan di seluruh Hindia Belanda, dan banyak di antara mereka yang kelak menjadi tokoh pergerakan nasional.

Bagi Ibrahim, masuk ke Kweekschool berarti meninggalkan Payakumbuh dan pindah ke Bukittinggi, kota terbesar di dataran tinggi Minangkabau. "Bukittinggi adalah kota yang ramai dengan pasar yang besar, benteng peninggalan Belanda (Fort de Kock), dan pemandangan Gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang indah. Aku merasa seperti masuk ke dunia yang sama sekali baru," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 32).

Kehidupan Sehari-hari di Asrama

Para siswa Kweekschool tinggal di asrama yang disediakan oleh sekolah. "Asrama itu sederhana. Satu kamar diisi oleh enam sampai delapan orang. Tempat tidurnya dari besi dengan kasur tipis. Lemari pakaian dari kayu yang sudah dimakan rayap. Tapi kami tidak mengeluh, karena itu sudah lebih baik daripada tidur di surau," kenang salah seorang teman sekelas Ibrahim, yang diwawancarai oleh Poeze pada tahun 1960-an (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 22).

Jadwal harian para siswa diatur dengan ketat. "Pukul 05.30 bangun, mandi, dan shalat subuh. Pukul 06.30 sarapan: nasi dengan sambal dan telur rebus, kadang-kadang ada ikan goreng. Pukul 07.30 mulai pelajaran. Pukul 12.00 istirahat, makan siang, dan shalat dzuhur. Pukul 13.00 pelajaran lagi sampai pukul 15.00. Sore harinya bebas, tapi biasanya kami gunakan untuk olahraga, silat, atau mengaji" (Poeze 2008, jilid 1, hlm. 23).

Makanan di asrama dianggap cukup baik oleh para siswa, meskipun tidak mewah. "Kami makan tiga kali sehari. Pagi nasi dengan sambal dan telur atau ikan, siang nasi dengan sayur dan daging, malam bubur atau nasi goreng. Kadang-kadang, kalau ada yang berulang tahun, kami masak rendang bersama," kenang Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 35). Namun, ia tetap merindukan masakan ibunya. "Rendang buatan ibuku tetap yang paling enak. Tidak ada yang bisa menandingi," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 36).

Ibrahim dikenal sebagai siswa yang rajin tetapi tidak terlalu menonjol secara akademis. "Dia bukan yang paling pintar di kelas, tapi dia sangat tekun. Setiap malam, dia belajar sampai larut. Dia juga banyak membaca buku di perpustakaan," kenang temannya (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 24). Perpustakaan Kweekschool Bukittinggi memiliki koleksi yang cukup baik untuk ukuran zamannya: buku-buku pelajaran, novel-novel Belanda, ensiklopedia, dan beberapa buku tentang Islam. Ibrahim adalah salah satu pengunjung perpustakaan yang paling rajin. "Aku bisa menghabiskan berjam-jam di perpustakaan. Aku membaca apa saja: sejarah, sastra, ilmu alam, agama. Aku haus akan pengetahuan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 37).

Salah satu buku favoritnya adalah De Stille Kracht (Kekuatan Gaib) karya Louis Couperus, sebuah novel tentang benturan antara rasionalitas Barat dan mistisisme Timur di Hindia Belanda. Novel ini bercerita tentang seorang residen Belanda yang mengalami hal-hal gaib yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehatnya. "Novel itu membuatku berpikir: apakah kita, orang Timur, benar-benar punya 'kekuatan gaib' yang tidak dimengerti oleh orang Barat? Atau itu hanya mitos yang diciptakan untuk menghibur diri?" tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 38). Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa sejak muda, Ibrahim sudah memiliki kecenderungan untuk berpikir kritis dan filosofis.

Guru-Guru yang Berpengaruh


Salah satu guru yang sangat berpengaruh pada diri Ibrahim selama di Kweekschool adalah J.H. van der Wal, seorang guru bahasa Belanda kelahiran Surabaya yang memiliki darah Indo. Van der Wal adalah lulusan Universitas Leiden, salah satu universitas tertua dan paling bergengsi di Belanda. "Van der Wal adalah guru yang bersemangat. Ia mengajarkan sastra Belanda dengan cara yang hidup. Ia sering meminta kami untuk membaca puisi atau fragmen novel di depan kelas dan kemudian mendiskusikannya," kenang Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 40).

Van der Wal juga yang memperkenalkan Ibrahim pada karya-karya penulis Belanda yang kritis terhadap kolonialisme, seperti Multatuli (yang sudah ia kenal sebelumnya), Jacob Israël de Haan, dan Herman Heijermans. De Haan adalah seorang penulis dan penyair yang karya-karyanya sering mengkritik ketidakadilan sosial, sementara Heijermans adalah penulis drama realis yang mengangkat kehidupan kaum buruh dan miskin. "Van der Wal diam-diam adalah seorang sosialis. Ia tidak mengatakannya secara terbuka, tapi dari buku-buku yang ia pinjamkan kepada kami, aku bisa menebaknya," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 41).

Selain Van der Wal, ada juga guru agama Islam yang mengajar di Kweekschool. Namanya Syekh Ibrahim Musa, seorang ulama reformis yang pernah belajar di Makkah. "Syekh Ibrahim adalah murid dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama besar Minangkabau yang menjadi imam di Masjidil Haram," tulis Hamka dalam bukunya tentang sejarah Islam di Minangkabau (Hamka 1962, hlm. 112). Syekh Ibrahim Musa mengajarkan tafsir, hadits, dan fiqh, tetapi dengan pendekatan yang lebih kritis dan modern. Ia tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga mendorong murid-muridnya untuk berpikir dan bertanya.

"Dari Syekh Ibrahim, aku belajar bahwa Islam bukan hanya ritual, tetapi juga pemikiran. Islam mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan mencari ilmu, di mana pun ilmu itu berada," kenang Tan Malaka (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 45). Pengajaran Syekh Ibrahim ini mungkin menjadi fondasi bagi pandangan Tan Malaka tentang Islam yang kelak ia tulis dalam Madilog dan tulisan-tulisan lainnya. Dalam Madilog, ia mengkritik apa yang ia sebut sebagai "Islam yang membeku," tetapi juga mengakui bahwa Islam pada dasarnya adalah agama yang mendorong pemikiran kritis.


Persahabatan dan Cinta Pertama


Selama di Kweekschool, Ibrahim berteman dekat dengan beberapa orang yang kelak menjadi tokoh pergerakan, seperti Djamaluddin Tamin (yang kelak menjadi pemimpin Partai Buruh Indonesia) dan Abdul Karim (yang kelak menjadi guru dan penulis). "Kami bertiga sering berdiskusi sampai larut malam tentang segala hal: agama, politik, cinta, dan masa depan," kenang Djamaluddin Tamin dalam wawancaranya dengan Mrázek (1972, hlm. 18).

Mereka bertiga dijuluki "Tiga Serangkai" oleh teman-teman mereka. "Tamin adalah yang paling vokal dan bersemangat. Karim adalah yang paling tenang dan bijaksana. Ibrahim adalah yang paling pendiam, tapi kalau sudah bicara, kata-katanya tajam dan mendalam," kenang seorang teman sekelas mereka (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 28). Ketiganya sama-sama berasal dari keluarga sederhana dan memiliki keinginan yang kuat untuk memajukan bangsa mereka.

Selain persahabatan, di Kweekschool pula Ibrahim mengalami cinta pertamanya. Gadis itu bernama Siti Rahmah, anak seorang pedagang dari Pasar Atas, Bukittinggi. Pasar Atas adalah pasar terbesar di Bukittinggi, tempat segala macam barang dijual: dari kain, rempah-rempah, hingga emas. Keluarga Siti Rahmah cukup berada, memiliki toko kain di pasar itu. "Aku pertama kali melihatnya di pasar. Ia sedang membeli kain dengan ibunya. Matanya besar dan senyumnya manis. Aku langsung jatuh hati," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 50).

Cinta Ibrahim pada Siti Rahmah adalah cinta monyet yang khas anak remaja. "Aku sering mencari-cari alasan untuk melewati rumahnya. Kadang-kadang aku mengirim surat melalui adiknya. Tapi aku tidak pernah berani menyatakan cintaku secara langsung" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 51). Surat-surat itu ditulisnya dalam bahasa Melayu dengan campuran bahasa Belanda, dihiasi dengan puisi-puisi pendek yang ia salin dari buku sastra. "Aku ingat satu puisi yang kutulis untuknya: 'Bunga mawar di taman, indah warnamu. Tapi tidak seindah senyummu.' Dasar anak muda bodoh," tulisnya sambil menertawakan dirinya sendiri (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 52).

Cinta ini tidak berlanjut. Siti Rahmah kelak dinikahkan oleh orang tuanya dengan seorang pedagang dari Padang, sesuai dengan tradisi perjodohan yang masih kuat pada masa itu. "Aku sedih, tapi tidak patah hati. Mungkin karena aku belum benar-benar mencintainya. Itu hanya ketertarikan biasa," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 52). Meskipun demikian, kenangan tentang Siti Rahmah tetap tersimpan di hatinya. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia berada di pengasingan di Cina, ia masih ingat gadis itu. "Entah bagaimana kabarnya sekarang. Mungkin ia sudah punya anak dan cucu," tulisnya dalam surat kepada temannya (dalam Poeze 2008, jilid 2, hlm. 145).


Ujian dan Kelulusan


Pada tahun 1913, Ibrahim lulus dari Kweekschool dengan nilai yang memuaskan. "Ia lulus dengan peringkat keempat dari dua puluh lima siswa," tulis Poeze (2008, jilid 1, hlm. 30). Nilai tertingginya adalah dalam bahasa Belanda, sejarah, dan pedagogi. Nilai terendahnya adalah dalam matematika dan ilmu alam. "Aku tidak pernah pandai berhitung," akunya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 55).

Setelah lulus, ia mendapat tawaran untuk menjadi guru di Sekolah Desa di Suliki, kampung halamannya sendiri. Tawaran ini sangat menggiurkan: ia bisa pulang ke kampung halaman, tinggal dekat dengan keluarganya, dan mengabdi kepada masyarakatnya sendiri. "Aku senang membayangkan diriku sebagai guru di Suliki. Aku akan mengajar anak-anak kampungku membaca dan menulis, seperti dulu aku diajar. Aku akan tinggal di rumah ibuku, makan masakannya setiap hari, dan membantu ayahku di sawah," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 56).

Tapi sebelum sempat mengajar, takdir membawanya ke arah yang berbeda. Salah seorang gurunya, Van der Wal, merekomendasikan agar Ibrahim melanjutkan pendidikan ke Rijkskweekschool (Sekolah Guru Kerajaan) di Haarlem, Belanda. "Ini adalah kesempatan yang sangat langka. Dari seluruh Hindia Belanda, hanya satu atau dua orang pribumi yang dikirim ke Belanda setiap tahunnya untuk melanjutkan pendidikan guru," tulis Mrázek (1972, hlm. 20). Pemerintah kolonial memberikan beasiswa penuh untuk biaya perjalanan, pendidikan, dan hidup di Belanda, dengan syarat bahwa setelah lulus, penerima beasiswa harus kembali ke Hindia Belanda dan mengajar di sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah.

Keputusan untuk pergi ke Belanda bukanlah keputusan yang mudah. "Ibu menangis ketika aku bilang akan pergi ke Belanda. 'Jauh sekali, Nak. Kapan kau pulang?' tanyanya sambil menangis. Aku tidak bisa menjawab," kenang Tan Malaka (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 57). Namun ayahnya mendukung. "Pergilah, cari ilmu sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa pulang. Nagari ini menunggumu," pesan ayahnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 58). Ayahnya, sebagai seorang penghulu adat, memahami bahwa masa depan kaumnya terletak pada generasi muda yang berpendidikan.

Pada Oktober 1913, Ibrahim yang berusia enam belas tahun naik ke kapal uap SS Prins der Nederlanden di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. "Aku berdiri di geladak kapal, melambaikan tangan kepada ibu, ayah, dan adik-adikku yang menangis di dermaga. Aku tidak tahu kapan aku akan bertemu mereka lagi. Tapi aku yakin, ini adalah jalan yang harus kutempuh" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 61). Di dalam kopernya, ia membawa beberapa pasang pakaian, Al-Quran kecil pemberian ibunya, buku catatan, dan beberapa potong rendang untuk bekal di perjalanan. "Rendang itu bertahan sampai Singapura. Setelah itu, aku harus puas dengan makanan kapal yang hambar," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 62).


Di Negeri Kincir Angin (1913-1919)


Perjalanan Panjang ke Eropa


Perjalanan dari Padang ke Amsterdam memakan waktu sekitar lima minggu. Kapal uap SS Prins der Nederlanden berhenti di beberapa pelabuhan: Batavia, Singapura, Colombo, Aden, Suez, Port Said, Naples, dan akhirnya Amsterdam. "Bagi anak kampung seperti aku, perjalanan ini adalah pengalaman yang luar biasa. Aku melihat berbagai bangsa, mendengar berbagai bahasa, dan mencicipi berbagai makanan," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 65).

Di setiap pelabuhan, ia turun dan menjelajahi kota selama beberapa jam. Di Singapura, ia melihat kota pelabuhan yang ramai dengan orang-orang dari berbagai bangsa: Melayu, Cina, India, Arab, dan Eropa. Di Colombo, ia melihat perempuan-perempuan berpakaian sari yang indah. Di Aden, ia merasakan panasnya padang pasir yang menyengat. Di Suez, ia melihat Terusan Suez yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Tengah. Di Port Said, ia membeli buah kurma yang manis. Di Naples, ia melihat Gunung Vesuvius yang megah. "Setiap pelabuhan adalah dunia baru. Aku merasa seperti penjelajah dalam cerita-cerita yang pernah kudengar di surau," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 66).

Di kapal, Ibrahim sekamar dengan seorang pemuda Belanda bernama Willem yang akan kuliah di Universitas Leiden. Willem adalah anak seorang dokter di Surabaya. Ia fasih berbahasa Melayu dan sangat tertarik pada budaya Indonesia. "Willem adalah teman yang menyenangkan. Ia mengajariku bahasa Belanda yang baik dan benar, serta bercerita tentang kehidupan di Belanda. Dari Willem, aku belajar bahwa tidak semua orang Belanda sombong dan rasis" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 67). Mereka sering berdiskusi tentang berbagai hal: politik, agama, sastra, dan tentu saja, perempuan. "Willem bercerita tentang pacarnya di Leiden. Aku iri mendengarnya. Aku juga ingin punya pacar," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 68).

Namun, pengalaman diskriminasi tetap ia alami selama perjalanan. "Di restoran kapal, aku dan penumpang pribumi lainnya tidak diizinkan duduk di meja yang sama dengan penumpang Belanda. Kami harus menunggu sampai mereka selesai makan, baru kami boleh makan. Ini sangat memalukan dan membuatku marah," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 68). Suatu kali, ia mencoba duduk di meja "khusus Belanda" sebagai bentuk protes diam-diam, tetapi seorang pelayan segera mengusirnya. "Aku merasa seperti binatang. Aku bukan manusia di mata mereka. Aku hanyalah 'pribumi'," tulisnya dengan kepahitan (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 69).

Setelah lima minggu di laut, akhirnya kapal merapat di Pelabuhan Amsterdam pada akhir November 1913. "Amsterdam adalah kota yang menakjubkan. Kanal-kanalnya yang berkelok-kelok, gedung-gedungnya yang bertingkat, dan trem listriknya yang berdering-dering membuatku terpana. Tapi aku juga langsung merasakan dinginnya musim dingin yang tidak pernah kualami sebelumnya," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 72). Suhu udara saat itu sekitar 2 derajat Celsius, sangat kontras dengan panas tropis Sumatera. "Aku menggigil kedinginan. Jaket yang kubawa dari Bukittinggi sama sekali tidak cukup. Aku harus membeli mantel tebal di toko dekat pelabuhan dengan uang yang kupinjam dari Willem," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 73).


Rijkskweekschool Haarlem


Dari Amsterdam, Ibrahim naik kereta api ke Haarlem, kota kecil yang indah sekitar 20 kilometer di sebelah barat Amsterdam. Perjalanan dengan kereta api memakan waktu sekitar tiga puluh menit. "Kereta apinya bersih dan tepat waktu, sangat berbeda dengan kereta di Hindia yang sering terlambat," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 75). Haarlem adalah kota bersejarah yang terkenal dengan industri percetakan dan bunga tulipnya. Rijkskweekschool (Sekolah Guru Kerajaan) terletak di pusat kota, dekat dengan Grote Markt (Pasar Besar) dan Gereja St. Bavo yang terkenal dengan organ pipa raksasanya.

"Rijkskweekschool adalah sekolah yang lebih maju daripada Kweekschool di Bukittinggi. Di sini, aku belajar pedagogi, psikologi, filsafat, sastra, sejarah, dan ilmu pengetahuan alam dengan guru-guru yang berkualitas tinggi," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 78). Kurikulumnya dirancang untuk menghasilkan guru-guru yang tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga memahami teori-teori pendidikan dan psikologi anak. Ibrahim mengikuti kuliah-kuliah tentang pedagogi dari profesor G.A.N. Berlage, tentang psikologi dari profesor H. Brugmans, dan tentang filsafat dari profesor J.D. Bierens de Haan.

Kehidupan di Haarlem sangat berbeda dengan kehidupan di Bukittinggi. "Di sini, aku harus mengurus semuanya sendiri: mencuci pakaian, memasak, membersihkan kamar. Ibuku dulu yang melakukan semua itu untukku. Sekarang aku harus mandiri," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 80). Ia tinggal di sebuah kamar sewa di Jalan Kleine Houtstraat, tidak jauh dari sekolah. Kamarnya sempit, sekitar 3x4 meter, dengan jendela kecil yang menghadap ke jalan. "Kamar itu dingin di musim dingin dan panas di musim panas. Tapi itu adalah rumahku. Aku menghiasnya dengan gambar-gambar yang kupotong dari majalah: pemandangan gunung di Sumatera, masjid di Mekkah, dan foto Ratu Wilhelmina yang kubeli di pasar loak," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 81).

Makanan adalah salah satu masalah terbesar baginya. "Masakan Belanda sangat berbeda dengan masakan Minangkabau. Mereka makan roti dengan keju dan daging untuk sarapan, kentang rebus dengan sayuran untuk makan siang, dan bubur gandum untuk makan malam. Aku sangat merindukan nasi dan rendang," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 82). Kadang-kadang, ia mencoba memasak sendiri masakan Indonesia, tetapi hasilnya tidak memuaskan. "Bumbu-bumbu yang kuperlukan tidak tersedia di sini. Cabai pun sulit dicari. Makananku hambar dan tidak enak. Suatu kali, aku mencoba membuat rendang dengan daging sapi dan bumbu seadanya. Hasilnya lebih mirip sup daripada rendang. Aku memakannya sambil menangis karena rindu masakan ibuku" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 83).

Untuk mengatasi kerinduannya pada makanan Indonesia, ia kadang-kadang pergi ke restoran Indonesia di Amsterdam pada akhir pekan. Restoran itu bernama "Warung Djawa," milik seorang mantan tentara KNIL yang menetap di Belanda. "Di Warung Djawa, aku bisa makan nasi goreng, sate, dan gado-gado. Rasanya tidak seenak masakan ibuku, tapi cukup untuk mengobati rindu. Pemiliknya, Pak Kromo, baik hati. Ia sering memberiku diskon karena aku sesama anak rantau," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 84).


Belajar dan Membaca


Di Rijkskweekschool, Ibrahim mulai membaca buku-buku filsafat, politik, dan sastra secara serius. "Di perpustakaan sekolah, aku menemukan dunia baru. Aku membaca Rousseau, Voltaire, Marx, Darwin, dan Nietzsche. Semuanya dalam bahasa Belanda atau terjemahan Belanda," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 85). Perpustakaan Rijkskweekschool memiliki koleksi lebih dari 20.000 buku, sebuah jumlah yang luar biasa untuk ukuran sekolah guru. Ibrahim sering menghabiskan akhir pekannya di perpustakaan, membaca dari pagi sampai malam, hanya berhenti untuk makan siang roti dan keju yang dibawanya
 
Salah satu buku yang paling berpengaruh pada dirinya adalah Das Kapital karya Karl Marx. "Aku membaca 'Das Kapital' dengan susah payah. Banyak bagian yang tidak kumengerti karena terlalu abstrak. Tapi intinya kuperoleh: kapitalisme adalah sistem yang menindas kaum pekerja, dan satu-satunya cara untuk membebaskan mereka adalah dengan revolusi" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 87). Ia membaca Das Kapital dalam terjemahan Belanda yang diterbitkan oleh penerbit sosialis di Amsterdam. Buku itu tebalnya lebih dari seribu halaman, dan Ibrahim memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya. "Aku membacanya sambil membuat catatan di buku tulis. Kadang-kadang aku menulis ulang seluruh paragraf agar lebih paham. Proses ini lambat, tapi sangat berharga," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 88).

Selain Marx, ia juga tertarik pada pemikiran Friedrich Nietzsche. "Nietzsche mengajarkan tentang 'kehendak untuk berkuasa' dan 'manusia super'. Aku tidak setuju dengan semua gagasannya, tapi ia membuatku berpikir tentang pentingnya kemauan dan keberanian untuk menjadi diri sendiri" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 89). Buku Nietzsche yang paling berkesan baginya adalah Also sprach Zarathustra (Demikianlah Sabda Zarathustra), yang dibacanya dalam terjemahan Belanda. "Nietzsche menulis seperti seorang nabi yang marah. Kata-katanya membakar. Tapi aku tidak bisa menerima gagasannya bahwa 'Tuhan telah mati.' Aku masih percaya pada Tuhan, meskipun imanku mulai goyah," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 90).

Namun, buku-buku itu juga membawanya pada krisis keimanan. "Semakin banyak aku membaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Apakah Tuhan itu ada? Apakah agama itu benar? Apakah surga dan neraka itu nyata? Aku tidak lagi yakin dengan jawaban-jawaban yang dulu kuanggap pasti," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 91). Krisis ini sangat mengganggunya. Ia yang dulu rajin shalat lima waktu, mulai meninggalkan shalat. "Aku merasa munafik jika shalat tapi tidak yakin dengan apa yang kukerjakan. Tapi aku juga merasa bersalah meninggalkan shalat. Aku seperti berada di antara dua dunia: dunia iman yang lama dan dunia akal yang baru," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 92).


Krisis Keimanan dan Pertemuan dengan Sosialisme


Krisis keimanan yang dialami Ibrahim bukanlah hal yang unik. "Banyak mahasiswa pribumi yang belajar di Belanda mengalami krisis serupa," tulis Poeze (2008, jilid 1, hlm. 55). "Mereka dihadapkan pada pemikiran-pemikiran Barat yang rasional, kritis, dan seringkali ateis. Sementara pendidikan Islam yang mereka terima di tanah air tidak cukup kuat untuk menjawab tantangan-tantangan intelektual tersebut." Dalam kasus Ibrahim, krisis ini berlangsung selama beberapa tahun. Ia tidak sepenuhnya kehilangan iman, tetapi imannya telah berubah: dari iman yang dogmatis menjadi iman yang kritis dan personal.

Ibrahim berusaha mencari jawaban dengan berdiskusi dengan teman-temannya dan guru-gurunya. Salah satu guru yang ia hormati adalah Profesor G.A.N. Berlage, seorang ahli pedagogi yang berpandangan progresif. Berlage bukanlah seorang Marxis, melainkan seorang sosialis humanis yang dipengaruhi oleh pemikiran Jean Jaurès dan Eduard Bernstein. "Berlage adalah seorang sosialis humanis. Ia percaya bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan menindas. Dari Berlage, aku belajar tentang sosialisme sebagai cita-cita keadilan sosial," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 95).

Melalui Berlage, Ibrahim mulai terlibat dalam diskusi-diskusi politik di kalangan mahasiswa. Ia bergabung dengan Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia), sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang didirikan pada tahun 1908. "Di Indische Vereeniging, aku bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang peduli dengan nasib tanah air. Kami berdiskusi tentang kolonialisme, kapitalisme, dan kemerdekaan. Di sinilah kesadaran politikku mulai terbentuk," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 98).

Indische Vereeniging mengadakan pertemuan rutin setiap bulan di berbagai kota di Belanda. Pertemuan-pertemuan ini biasanya diisi dengan ceramah, diskusi, dan kadang-kadang pementasan seni. Ibrahim sering menghadiri pertemuan-pertemuan ini, meskipun ia harus naik kereta api dari Haarlem ke Leiden atau Amsterdam. "Aku tidak punya banyak uang untuk tiket kereta, jadi kadang-kadang aku nebeng dengan teman yang punya mobil, atau naik kereta tanpa tiket dengan risiko didenda," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 100).


Penyakit dan Kesendirian


Selama di Belanda, Ibrahim beberapa kali jatuh sakit. "Musim dingin di sini sangat keras. Aku sering batuk-batuk dan demam. Pernah sekali aku sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Tidak ada yang menjengukku. Aku merasa sangat kesepian," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 102). Dokter mendiagnosisnya dengan bronkitis kronis, yang mungkin merupakan tanda awal TBC, penyakit yang kelak akan terus menghantuinya sepanjang hidup.

Di rumah sakit, ia merasakan kesepian yang mendalam. "Aku terbaring di ranjang besi yang dingin, memandangi langit-langit yang putih, mendengarkan suara langkah kaki perawat di koridor. Aku ingin ibuku ada di sini, memegang tanganku dan mengusap dahiku. Tapi ibuku berada ribuan kilometer jauhnya," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 103). Untuk menghibur diri, ia membaca buku-buku yang dibawakan oleh teman sekamarnya. "Aku membaca novel-novel detektif karya Conan Doyle dan cerita-cerita petualangan karya Jules Verne. Setidaknya, buku-buku itu membuatku lupa sejenak bahwa aku sendirian," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 104).

Dalam suratnya kepada keluarganya di Suliki, ia tidak pernah menceritakan kesulitannya. "Aku selalu menulis bahwa aku baik-baik saja, bahwa makananku enak, bahwa teman-temanku baik. Aku tidak ingin mereka khawatir. Tapi sebenarnya, aku sering menangis sendirian di malam hari karena rindu rumah" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 103). Surat-menyurat dengan keluarga memakan waktu berminggu-minggu. Surat dari Suliki harus dibawa ke Padang, naik kapal ke Batavia, lalu naik kapal lagi ke Belanda. "Setiap kali menerima surat dari ibuku, aku mencium amplopnya, mencari bau rumah. Amplop itu kadang-kadang berbau rempah-rempah dan asap dapur. Itu bau yang paling kurindukan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 105).

Kesendirian ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa ia menjadi semakin tekun membaca dan menulis. "Buku adalah teman setia yang tidak pernah mengkhianati. Ketika aku membaca, aku lupa bahwa aku sendirian di negeri orang. Aku merasa ditemani oleh para pemikir besar yang ide-idenya mengisi kepalaku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 105). Ia mulai menulis catatan-catatan harian, puisi-puisi, dan esai-esai pendek. "Menulis adalah caraku berbicara dengan diriku sendiri, caraku memahami apa yang kurasakan dan kupikirkan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 106).


Persinggahan di Brussel


Pada musim panas tahun 1917, Ibrahim mendapat kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Brussel, Belgia, selama tiga bulan. Ini adalah pengalaman yang membuka matanya terhadap keragaman Eropa. "Brussel berbeda dengan Belanda. Di sini, orang berbicara bahasa Prancis, bukan bahasa Belanda. Makanannya lebih enak: ada cokelat, wafel, dan bir. Aku mencoba bir untuk pertama kalinya dan langsung mabuk," tulisnya dengan nada humor (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 110).

Di Brussel, ia tinggal di asrama mahasiswa yang dihuni oleh pelajar dari berbagai negara: Belgia, Prancis, Jerman, Rusia, dan bahkan Jepang. "Di asrama ini, aku belajar tentang internasionalisme yang sesungguhnya. Kami berbeda bahasa, budaya, dan agama, tetapi kami bisa hidup bersama dan saling belajar," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 112). Salah seorang temannya di asrama adalah seorang mahasiswa Rusia bernama Dmitri, yang bercerita tentang revolusi di Rusia yang sedang berlangsung. "Dmitri bercerita tentang Lenin dan kaum Bolshevik yang berjuang melawan Tsar. Ceritanya membuatku bersemangat. Aku berpikir: mengapa kita tidak melakukan hal yang sama di Indonesia?" tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 113).


Kelulusan dan Keraguan akan Masa Depan


Pada tahun 1919, Ibrahim lulus dari Rijkskweekschool dengan nilai yang sangat baik. "Ia lulus dengan predikat 'met lof' (dengan pujian), sebuah prestasi yang jarang dicapai oleh mahasiswa pribumi," tulis Poeze (2008, jilid 1, hlm. 62). Nilai tertingginya adalah dalam pedagogi, filsafat, dan sastra Belanda. Profesor Berlage, pembimbingnya, menulis dalam rekomendasinya: "Ibrahim adalah mahasiswa yang cerdas, tekun, dan memiliki pemikiran yang orisinal. Ia akan menjadi guru yang luar biasa" (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 63).

Setelah lulus, ia berhak untuk mengajar di sekolah-sekolah Belanda, baik di Belanda maupun di Hindia Belanda. Tapi apa yang harus ia lakukan selanjutnya? "Aku bingung. Di satu sisi, aku ingin pulang ke tanah air dan mengajar di sana. Di sisi lain, aku merasa bahwa panggilanku bukan hanya menjadi guru. Aku ingin terlibat dalam perjuangan untuk membebaskan bangsaku dari penjajahan," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 112).

Keraguannya terjawab ketika ia bertemu dengan Henk Sneevliet, seorang tokoh sosialis Belanda yang pernah bekerja di Hindia Belanda. Sneevliet, yang nama aslinya adalah Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, adalah salah satu pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi yang kelak menjadi Partai Komunis Indonesia. Ia diusir dari Hindia Belanda pada tahun 1918 karena aktivitas politiknya, dan kini tinggal di Amsterdam. "Sneevliet adalah seorang revolusioner sejati. Ia tidak hanya berbicara tentang revolusi, tetapi juga melakukannya. Aku sangat mengaguminya," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 115).

Pertemuan dengan Sneevliet terjadi di sebuah kafe di Amsterdam, pada suatu sore yang dingin di bulan Oktober 1919. "Sneevliet berkata kepadaku: 'Kamu tidak akan bisa membebaskan bangsamu hanya dengan menjadi guru. Kamu harus menjadi organisator, agitator, dan revolusioner.' Kata-katanya membakar semangatku," kenang Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 115). Mereka berbicara selama berjam-jam, dari sore hingga malam, tentang Marxisme, imperialisme, dan masa depan Indonesia. "Sneevliet melihat potensi dalam diriku yang aku sendiri belum melihatnya. Ia yakin bahwa aku bisa menjadi pemimpin revolusi di Indonesia," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 116).

Atas saran Sneevliet, Ibrahim memutuskan untuk kembali ke Hindia Belanda. Bukan sebagai guru, tetapi sebagai aktivis politik. Pada November 1919, ia naik ke kapal SS Koningin der Nederlanden di Pelabuhan Rotterdam. "Aku pulang ke tanah air dengan membawa setumpuk buku dan segudang cita-cita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku siap menghadapi apa pun," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 120). Di dalam kopernya, selain buku-buku, ia membawa oleh-oleh untuk keluarganya: keju Edam untuk ibunya, cokelat untuk adik-adiknya, dan sebuah pipa rokok untuk ayahnya. "Aku tidak tahu apakah ayahku akan suka pipa itu. Ayahku bukan perokok. Tapi itulah yang bisa kubeli dengan uangku yang terbatas," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 121).


Guru di Deli (1919-1921)


Kembali ke Tanah Air


Setelah enam tahun di Belanda, Ibrahim kembali ke tanah air pada Desember 1919. "Ketika kapal merapat di Pelabuhan Tanjung Priok, aku mencium bau laut yang bercampur dengan bau rempah-rempah dan keringat. Itu bau tanah airku. Aku hampir menangis karena haru," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 125). Udara tropis yang hangat dan lembab, setelah bertahun-tahun menghirup udara dingin Eropa, terasa seperti pelukan. "Aku langsung melepas mantel dan jaketku. Akhirnya, aku bisa merasakan matahari di kulitku lagi," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 126).

Namun, ia tidak langsung pulang ke Suliki. Ia singgah di Batavia untuk bertemu dengan beberapa tokoh pergerakan yang dikenalnya melalui Indische Vereeniging. "Aku bertemu dengan Semaun, Darsono, dan tokoh-tokoh Sarekat Islam lainnya. Mereka menyambutku dengan hangat dan memintaku untuk membantu pergerakan," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 128). Semaun, yang saat itu berusia sekitar 22 tahun, sudah menjadi ketua Perserikatan Kommunist Hindia (PKH), cikal bakal Partai Komunis Indonesia. "Semaun masih muda, tapi pikirannya tajam dan semangatnya membara. Kami langsung cocok," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 130).

Selama beberapa minggu di Batavia, Ibrahim tinggal di rumah Semaun di daerah Tanah Tinggi. "Rumah Semaun sederhana, terbuat dari bambu dan beratap genteng. Aku tidur di ruang tamu, beralaskan tikar. Setiap pagi, kami sarapan nasi uduk yang dibeli dari warung dekat rumah. Kemudian kami berdiskusi sampai siang, membahas strategi pergerakan," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 132). Diskusi-diskusi ini memperkuat tekadnya untuk terjun ke politik. Namun, ia masih harus memenuhi kewajibannya sebagai guru.


Perkebunan Deli dan Kuli Kontrak


Pemerintah kolonial, yang telah membiayai pendidikannya di Belanda, mengharuskannya untuk mengajar di sekolah yang ditunjuk. Ia ditempatkan di Hollands-Chineesche School (HCS) di Tanjung Morawa, sebuah kota kecil di daerah perkebunan Deli, Sumatera Timur. "Aku kecewa karena tidak ditempatkan di Sumatera Barat, dekat dengan keluargaku. Tapi aku tidak bisa menolak. Aku terikat kontrak dengan pemerintah," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 134).

Sumatera Timur pada awal abad ke-20 adalah salah satu daerah perkebunan terbesar di dunia. Tembakau, karet, kelapa sawit, dan teh ditanam di perkebunan-perkebunan luas yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan Belanda, Inggris, dan Amerika. "Kekayaan perkebunan Deli dibangun di atas keringat dan darah kuli kontrak yang didatangkan dari Jawa dan Cina," tulis Jan Breman dalam studinya tentang kuli kontrak di Sumatera Timur (Breman 1992, hlm. 45). Kuli kontrak adalah buruh yang direkrut secara paksa atau dengan tipu muslihat dari daerah-daerah miskin di Jawa dan Cina, kemudian diangkut ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan. Mereka terikat kontrak selama tiga sampai lima tahun, selama itu mereka tidak boleh meninggalkan perkebunan dan harus bekerja dari pagi sampai malam dengan upah yang sangat kecil. Kondisi hidup mereka sangat buruk: pondok-pondok reyot, makanan yang tidak layak, dan perlakuan kasar dari mandor.

Ibrahim yang baru pertama kali melihat perkebunan Deli merasa terkejut dan marah. "Aku melihat kuli-kuli itu bekerja dari pagi sampai malam dengan upah yang sangat kecil. Mereka tinggal di pondok-pondok reyot, makan makanan yang buruk, dan seringkali dipukuli oleh mandor. Ini bukan perkebunan, ini adalah neraka di bumi," tulisnya dengan nada marah (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 135). Ia mengunjungi pondok-pondok kuli pada suatu hari Minggu, hari libur mereka. "Aku masuk ke sebuah pondok. Di dalamnya gelap dan pengap. Satu pondok dihuni oleh sepuluh sampai lima belas orang. Mereka tidur berjejer di lantai tanah. Anak-anak kurus dan telanjang, perutnya buncit karena cacingan. Aku ingin menangis melihatnya," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 136).

Pengalaman melihat langsung penderitaan kuli kontrak di Deli sangat membekas pada diri Ibrahim. "Sebelumnya, aku hanya membaca tentang penindasan kolonial di buku-buku. Sekarang aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ini membuatku semakin yakin bahwa kapitalisme dan kolonialisme harus dihancurkan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 137). Ia mulai menulis artikel-artikel untuk surat kabar lokal yang mengkritik sistem perkebunan. "Aku menulis dengan nama samaran, karena aku masih terikat sebagai pegawai pemerintah. Tapi aku tidak bisa diam. Hatiku berdarah melihat penderitaan kuli-kuli itu," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 138).


Mengajar di Hollands-Chineesche School


HCS Tanjung Morawa adalah sekolah berbahasa Belanda yang diperuntukkan bagi anak-anak Tionghoa. "Orang Tionghoa di Deli kebanyakan adalah pedagang dan pengusaha menengah. Mereka mampu membayar uang sekolah yang cukup mahal," tulis Poeze (2008, jilid 1, hlm. 78). Ibrahim mengajar bahasa Melayu, sejarah, dan ilmu bumi. Ia mengajar sekitar dua puluh jam per minggu, dengan gaji 150 gulden per bulan. "Dengan gaji segitu, aku bisa hidup nyaman. Aku menyewa sebuah rumah kecil yang bersih, makan enak, dan masih bisa mengirim uang kepada orang tuaku di Suliki," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 142).

Rumah sewanya terletak di Jalan Kartini, Tanjung Morawa. Rumah itu sederhana: dua kamar, satu ruang tamu, dapur kecil, dan kamar mandi. Ia membayar sewa 25 gulden per bulan. "Rumah itu cukup untukku sendiri. Aku mengisinya dengan buku-buku yang kubawa dari Belanda. Di dinding, aku menggantungkan peta dunia dan gambar Gunung Merapi," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 143). Ia memiliki seorang pembantu rumah tangga, seorang perempuan Jawa bernama Mbok Sum, yang memasak dan membersihkan rumah. "Mbok Sum pandai memasak sayur lodeh dan tempe goreng. Aku senang makan masakannya. Tapi aku tetap merindukan rendang ibuku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 144).

"Murid-muridku kebanyakan adalah anak-anak yang cerdas dan rajin. Tapi mereka juga sering nakal, seperti anak-anak pada umumnya. Aku menikmati mengajar mereka," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 140). Sebagai guru, Ibrahim dikenal tegas tetapi adil. "Ia tidak pernah membeda-bedakan murid berdasarkan suku atau agama. Semua murid diperlakukan sama," kenang salah seorang mantan muridnya, Liem Tjong Hok, yang diwawancarai oleh Poeze pada tahun 1970-an (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 82). "Guru Ibrahim suka bercerita tentang negeri-negeri jauh. Ia pernah bercerita tentang Belanda, tentang kincir angin dan bunga tulip. Kami semua mendengarkan dengan mulut ternganga," kenang Liem (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 83).

Tapi kenyamanan ini justru membuatnya gelisah. "Aku merasa bersalah hidup nyaman sementara di sekitarku ada begitu banyak penderitaan. Setiap hari, dalam perjalanan ke sekolah, aku melewati pondok-pondok kuli yang kumuh. Aku tidak bisa menikmati kenyamananku dengan tenang," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 144). Kegelisahan ini sering membuatnya tidak bisa tidur. "Malam-malam, aku duduk di teras rumahku, merokok dan memandangi bintang. Aku bertanya-tanya: apa gunanya semua ilmu yang kuperoleh di Belanda jika aku tidak bisa menggunakannya untuk membantu orang-orang yang menderita ini?" tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 145).


Menulis dan Berorganisasi


Selain mengajar, Ibrahim mulai menulis artikel-artikel untuk surat kabar lokal. "Aku menulis tentang kondisi perkebunan, tentang pentingnya pendidikan, dan tentang cita-cita kemerdekaan. Tulisanku seringkali ditolak oleh redaksi karena dianggap terlalu radikal," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 146). Surat kabar yang berani menerbitkan tulisannya adalah De Express, sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang dipimpin oleh Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), keponakan Multatuli. "Douwes Dekker adalah seorang Indo yang berani. Ia tidak takut mengkritik pemerintah kolonial. Aku mengaguminya," tulis Tan Malaka (1987, jilid 1, hlm. 147).

Ia juga mulai terlibat dalam kegiatan politik secara lebih serius. Melalui Semaun, ia bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi sosialis yang kelak menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia. "Pertemuan-pertemuan ISDV diadakan secara rahasia di rumah-rumah anggota. Kami berdiskusi tentang Marxisme, kapitalisme, dan revolusi. Aku merasa seperti menemukan keluarga baru," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 150). Pertemuan-pertemuan ini biasanya dilakukan pada malam hari, untuk menghindari pengawasan polisi. "Kami masuk satu per satu melalui pintu belakang. Di dalam, kami duduk di lantai, diterangi lampu minyak yang remang-remang. Suasana terasa seperti konspirasi, dan itu membuatku bersemangat," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 151).

Namun, aktivitas politiknya ini mulai menarik perhatian polisi kolonial. "Beberapa kali aku melihat orang mencurigakan di depan rumahku. Teman-temanku memperingatkan agar aku berhati-hati. Tapi aku tidak peduli. Aku merasa bahwa apa yang kulakukan adalah benar," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 152). Suatu malam, rumahnya digeledah oleh polisi. "Mereka mencari dokumen-dokumen 'subversif.' Untungnya, aku sudah menyembunyikan semua dokumen penting di bawah papan lantai dapur. Mereka tidak menemukan apa-apa," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 153).


Konflik dengan Pemerintah Kolonial


Pada pertengahan tahun 1921, Ibrahim dipanggil oleh Assistent-Resident (Asisten Residen) Deli. "Ia memperingatkanku untuk berhenti menulis artikel-artikel yang 'menghasut' dan berhenti terlibat dalam 'kegiatan subversif'. Jika tidak, aku akan dipecat dari pekerjaanku sebagai guru," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 155).

Ibrahim menolak. "Aku berkata kepada Asisten Residen itu: 'Saya adalah guru yang dibayar untuk mengajar, dan saya mengajar dengan baik. Apa yang saya lakukan di luar jam mengajar adalah hak saya sebagai warga negara.' Asisten Residen itu marah dan mengatakan bahwa saya akan menyesal" (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 156). Pertemuan itu berlangsung di kantor Asisten Residen, sebuah bangunan kolonial yang megah dengan kipas angin besar di langit-langit. "Aku duduk di kursi kayu yang keras, berhadapan dengan Asisten Residen yang botak dan berkeringat. Ia memandangku dengan tatapan menghina, seolah-olah aku adalah serangga yang mengganggu," kenangnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 157).

Ancaman itu terbukti. Beberapa minggu kemudian, ia menerima surat pemecatan. "Dengan ini, Tuan Ibrahim gelar Tan Malaka diberhentikan dari jabatannya sebagai guru di HCS Tanjung Morawa, terhitung mulai 1 Juli 1921," demikian bunyi surat pemecatan itu (dalam Poeze 2008, jilid 1, hlm. 92). Surat itu ditandatangani oleh Directeur van Onderwijs en Eredienst (Direktur Pendidikan dan Agama), pejabat tinggi pemerintah kolonial di Batavia.

Pemecatan ini adalah titik balik dalam hidup Ibrahim. "Sekarang aku tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, dan tidak punya masa depan yang jelas. Tapi aku merasa lega. Aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi guru yang patuh. Sekarang aku bisa sepenuhnya menjadi diriku sendiri: seorang revolusioner," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 160). Ia mengemasi barang-barangnya, menjual sebagian besar bukunya untuk mendapatkan uang, dan naik kapal ke Semarang, pusat pergerakan komunis di Jawa. "Aku meninggalkan Tanjung Morawa tanpa penyesalan. Yang kusesali hanyalah murid-muridku. Aku berharap mereka bisa memaafkanku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 1, hlm. 162).
Petualangan Bawah Tanah di Asia (1922-1942)


Dari Semarang ke Moskow


Setelah dipecat, Ibrahim pergi ke Semarang, pusat pergerakan komunis di Jawa. Di sana ia tinggal di rumah Semaun, ketua PKI, dan mulai bekerja penuh waktu untuk partai. "Aku tidur di ruang tamu rumah Semaun, beralaskan tikar. Setiap pagi, aku bangun pukul lima, mandi di sumur belakang, dan mulai bekerja: menulis artikel, menerjemahkan dokumen, menghadiri rapat-rapat," kenangnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 12). Rumah Semaun selalu ramai dengan aktivis yang datang dan pergi. "Kadang-kadang, ada sepuluh orang yang menginap di ruang tamu. Kami tidur berjejer seperti ikan sarden. Tapi aku tidak mengeluh. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 15).

Pada akhir tahun 1921, ia ditangkap oleh polisi kolonial dan ditawari pilihan: dibuang ke Boven Digoel (kamp konsentrasi di Papua) atau meninggalkan Indonesia. "Digoel adalah tempat yang mengerikan. Konon, banyak tahanan yang mati di sana karena malaria dan kelaparan. Aku tidak ingin mati di Digoel. Aku masih ingin berjuang," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 20). Ia memilih meninggalkan Indonesia. Pada Maret 1922, ia naik kapal ke Belanda, dan dari sana melanjutkan perjalanan ke Moskow, Rusia, untuk menghadiri Kongres Komintern (Komunis Internasional).

"Perjalanan ke Moskow memakan waktu dua minggu. Kereta api dari Berlin ke Moskow sangat lambat dan dingin. Aku duduk di kelas tiga yang penuh sesak dengan petani dan buruh Rusia. Mereka semua bau bawang dan vodka, tapi mereka ramah. Mereka berbagi roti hitam dan air teh denganku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 34). Roti hitam (cherny khleb) adalah makanan pokok rakyat Rusia, terbuat dari gandum hitam, padat dan sedikit asam rasanya. "Awalnya aku tidak suka roti hitam. Tapi lama-lama aku terbiasa. Bahkan sekarang aku merindukannya," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 35).
Kehidupan di Moskow

Di Moskow, Ibrahim tinggal di Hotel Lux, hotel khusus untuk para revolusioner asing yang bekerja dengan Komintern. Hotel Lux terletak di Jalan Gorky, tidak jauh dari Kremlin. "Hotel Lux adalah bangunan tua yang megah, tapi di dalamnya kumuh. Liftnya sering rusak, air panasnya tidak selalu mengalir, dan makanannya buruk. Tapi aku tidak peduli. Aku di sini untuk belajar, bukan untuk berlibur," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 45).

Kamar Ibrahim di Hotel Lux sempit, dengan satu jendela yang menghadap ke halaman belakang. "Dari jendelaku, aku bisa melihat tumpukan sampah dan kucing-kucing liar yang berkelahi. Pemandangan yang tidak indah, tapi setidaknya aku punya tempat untuk tidur yang hangat," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 46). Makanan di Hotel Lux disediakan oleh kantin komunal yang melayani seluruh penghuni hotel. "Sarapan biasanya roti hitam dengan mentega dan teh tanpa gula. Makan siang sup kol dan kentang rebus. Makan malam bubur gandum. Kadang-kadang, kalau beruntung, kami dapat potongan daging sapi yang alot. Aku sangat merindukan nasi dan sambal," kenangnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 47).

Selama di Moskow, ia bertemu dengan tokoh-tokoh revolusioner dari seluruh dunia: dari Cina, India, Vietnam, Jerman, Prancis, dan Amerika. "Kami saling berbagi pengalaman dan strategi. Aku belajar banyak tentang bagaimana revolusi dilakukan di berbagai negara," kenangnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 50). Salah satu tokoh yang paling berkesan baginya adalah Ho Chi Minh, pemimpin revolusioner Vietnam yang saat itu juga bekerja untuk Komintern. "Ho Chi Minh adalah orang yang pendiam dan rendah hati. Ia tidak banyak bicara, tapi pikirannya tajam. Kami sering berdiskusi tentang masa depan Asia Tenggara," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 52).

Namun, ia juga menyaksikan sisi gelap dari revolusi Rusia. "Aku melihat kemiskinan yang parah di kalangan rakyat biasa. Orang-orang antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan sepotong roti. Banyak yang sakit dan meninggal karena kelaparan dan kedinginan. Aku bertanya-tanya: apakah ini hasil dari revolusi yang kita impikan?" tulisnya dengan nada ragu (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 52). Kesan ini sangat penting, karena kelak mempengaruhi sikap politiknya: ia tidak ingin revolusi Indonesia menjadi seperti revolusi Rusia, di mana kediktatoran proletariat berubah menjadi kediktatoran atas proletariat.


Pelarian di Asia Tenggara


Pada tahun 1925, Ibrahim dikirim oleh Komintern ke Asia Tenggara untuk memimpin revolusi di sana. Ini adalah awal dari periode paling berat dalam hidupnya: dua puluh tahun pelarian di berbagai negara, selalu dengan nama samaran dan identitas palsu. "Aku hidup seperti bayangan. Setiap beberapa bulan aku harus pindah rumah, mengganti nama, dan mengganti penampilan. Kadang-kadang aku memakai kacamata, kadang-kadang aku memelihara kumis. Aku bahkan belajar untuk mengubah logat bicaraku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 78).

Singapura (1925-1927). Di Singapura, ia menyamar sebagai guru les privat bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Ia tinggal di sebuah kamar sewa di daerah Rochor, dekat dengan kawasan Arab. "Kamarku sempit, hanya bisa muat tempat tidur dan meja kecil. Tapi aku tidak butuh banyak. Yang penting aku punya tempat untuk menulis," kenangnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 85). Setiap pagi, ia bangun pukul lima, sarapan roti dengan kopi kental, lalu menulis sampai siang. Sore harinya, ia mengajar beberapa murid. Malam harinya, ia menghadiri pertemuan rahasia dengan sesama revolusioner. "Aku bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa: Melayu, Cina, India, Arab. Semua terlibat dalam perjuangan melawan imperialisme," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 87).

Di Singapura pula, ia menulis buku Naar de 'Republiek Indonesia' (Menuju Republik Indonesia), yang kelak menjadi salah satu karya terpentingnya. Buku itu ditulisnya dalam bahasa Melayu, dalam waktu tiga bulan, di kamar sewanya yang sempit. "Setiap malam, setelah selesai mengajar, aku duduk di meja tulisku dan menulis sampai larut. Kadang-kadang sampai pukul dua pagi. Tetanggaku mungkin mengira aku orang gila, karena lampu minyakku selalu menyala sampai dini hari," kenangnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 90).

Manila (1927-1929). Dari Singapura, ia pindah ke Manila, Filipina, dengan nama samaran "Ismail." Di Manila, ia bekerja sebagai koresponden untuk beberapa surat kabar berbahasa Spanyol. "Aku belajar bahasa Spanyol dalam waktu tiga bulan, cukup untuk membaca koran dan menulis artikel. Tapi bahasa Spanyolku pasti buruk sekali, karena redaktur sering mengoreksi tulisanku," tulisnya dengan nada humor (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 102).

Bangkok (1929-1931). Di Bangkok, ia tinggal di sebuah rumah kayu di tepi sungai Chao Phraya. "Setiap pagi, aku duduk di teras rumahku, memandangi perahu-perahu yang berlalu-lalang di sungai. Sungai itu mengingatkanku pada sungai di kampung halamanku. Aku sering melamun, membayangkan aku sedang duduk di tepi sungai di Suliki, mendengarkan suara ibuku memanggil," tulisnya dengan nada melankolis (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 115).

Hong Kong (1931-1932). Di Hong Kong, ia tinggal di sebuah losmen murah di kawasan Kowloon. Losmen itu dihuni oleh para pelaut, pedagang kecil, dan buronan dari berbagai negara. "Di losmen ini, aku mendengar cerita-cerita yang luar biasa. Seorang pelaut dari Irlandia bercerita tentang perjuangan melawan Inggris. Seorang pedagang dari Kanton bercerita tentang perang saudara di Cina. Aku merasa seperti berada di pusat dunia," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 130).

Shanghai (1932-1937). Di Shanghai, ia tinggal di French Concession, daerah internasional yang menjadi tempat perlindungan bagi para buronan politik. "Shanghai adalah kota yang gila. Di satu sisi, ada gedung-gedung pencakar langit dan mobil-mobil mewah. Di sisi lain, ada daerah kumuh di mana orang mati kelaparan di jalanan. Kontrasnya sangat menyakitkan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 145). Di Shanghai, ia jatuh sakit TBC dan harus dirawat di rumah sakit amal yang dikelola oleh misionaris Katolik. "Aku terbaring di ranjang selama tiga bulan. Batukku tidak berhenti. Aku pikir aku akan mati di sini, jauh dari tanah air, tanpa ada yang tahu," kenangnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 148). Namun, ia sembuh perlahan-lahan, berkat perawatan seorang suster yang baik hati. "Suster Maria, itu namanya. Ia adalah orang suci yang sesungguhnya. Ia merawatku tanpa memandang agama atau bangsaku. Aku berhutang nyawa padanya," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 150).


Kesehatan dan Kesendirian


Hidup sebagai buron sangat berat bagi kesehatan fisik dan mental Ibrahim. "Aku sering sakit: malaria, disentri, TBC ringan. Tapi aku tidak bisa pergi ke dokter karena takut ketahuan. Aku mengobati diriku sendiri dengan obat-obatan tradisional yang kubeli di toko obat Cina," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 110). Obat-obatan itu berupa jamu-jamuan, akar-akaran, dan pil-pil hitam yang rasanya pahit. "Aku tidak tahu apakah obat-obatan itu manjur atau tidak. Tapi aku tidak punya pilihan lain," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 111).

Kesendirian adalah penderitaan terbesarnya. "Aku tidak punya teman sejati. Semua orang yang kutemui adalah 'kontak' politik yang mungkin akan mengkhianatiku kapan saja. Aku tidak punya keluarga, tidak punya istri, tidak punya anak. Setiap malam, aku tidur sendirian di kamar yang berbeda-beda, tidak tahu apakah besok aku masih hidup," tulisnya dengan nada melankolis (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 112). Untuk mengatasi kesepiannya, ia menulis surat-surat panjang kepada teman-temannya yang bisa dipercaya. Surat-surat ini seringkali baru sampai setelah berbulan-bulan, atau bahkan tidak sampai sama sekali. "Aku menulis surat seperti orang melempar botol ke laut. Aku tidak tahu apakah ada yang akan membaca," tulisnya (Malaka 1987, jilid 2, hlm. 113).

Dalam surat-suratnya, ia sering mengungkapkan kerinduannya pada kampung halaman. "Aku ingin sekali melihat Gunung Merapi lagi, makan rendang buatan ibuku, mendengar suara adzan dari surau. Tapi aku tahu, mungkin aku tidak akan pernah bisa pulang," tulisnya dalam surat kepada Djamaluddin Tamin (dalam Poeze 2008, jilid 3, hlm. 145). Surat-surat ini juga menunjukkan sisi manusiawinya yang paling dalam: kerinduan, kesepian, dan harapan. "Kadang-kadang aku bermimpi tentang ibuku. Dalam mimpi itu, ia memasak rendang di dapur, dan aku duduk di sampingnya, seperti waktu aku kecil. Aku terbangun dengan air mata di pipiku," tulisnya (dalam Poeze 2008, jilid 3, hlm. 147).


Menulis Madilog


Selama pelariannya di Cina, tepatnya di sebuah desa kecil dekat Kanton, Ibrahim mulai menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), karya filosofis terbesarnya. "Aku menulis 'Madilog' di sebuah gubuk bambu di pinggir hutan. Setiap pagi, aku bangun pukul empat, menyalakan lampu minyak, dan menulis sampai siang. Aku hanya berhenti untuk makan dan shalat," kenangnya (Malaka 1988, hlm. 5). Gubuk itu milik seorang petani miskin yang bersedia menyewakannya dengan harga murah. "Petani itu tidak tahu siapa aku sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa aku adalah seorang guru yang sedang sakit dan butuh tempat istirahat," tulisnya (Malaka 1988, hlm. 7).

Proses menulis Madilog sangat berat. Kertas sulit didapat, jadi ia sering menulis di balik kertas bekas bungkus rokok atau di halaman-halaman kosong buku yang sudah tidak terpakai. Tintanya ia buat sendiri dari arang dan air. "Pensilku hanya satu, dan sudah pendek sekali. Aku harus menghematnya dengan menulis sekecil mungkin. Tulisan tanganku pasti sulit dibaca, tapi aku tidak peduli," tulisnya (Malaka 1988, hlm. 10). Madilog adalah upaya Tan Malaka untuk membangun sebuah sistem pemikiran yang memadukan materialisme Marxis dengan logika dan dialektika, disesuaikan dengan kondisi Indonesia. "Aku ingin memberi bangsaku sebuah alat untuk berpikir kritis, untuk membebaskan diri dari takhayul dan dogma," tulisnya (Malaka 1988, hlm. 12).


Kembali ke Indonesia dan Revolusi (1942-1946)


Zaman Jepang


Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, Ibrahim memutuskan untuk kembali ke tanah air. Dengan menggunakan nama samaran "Hasan," ia berhasil menyusup ke Jawa dan tinggal di beberapa kota: Jakarta, Surabaya, dan akhirnya menetap di sebuah kampung di daerah Banten, dekat dengan Rangkasbitung. Perjalanan dari Singapura ke Jawa sangat berbahaya. Ia naik kapal nelayan kecil yang penuh sesak dengan penumpang gelap. "Kapal itu bocor di mana-mana. Aku harus terus menerus menimba air agar kapal tidak tenggelam. Tapi aku sudah nekat. Aku harus pulang," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 12).

"Selama zaman Jepang, aku hidup sangat sederhana. Aku tinggal di rumah seorang petani yang baik hati, membantunya bekerja di sawah, dan mengajar anak-anak kampung membaca dan menulis. Aku menikmati kehidupan ini. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa damai," kenangnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 23). Petani itu bernama Pak Kartawijaya, seorang petani sederhana yang tidak tahu bahwa "Hasan" sebenarnya adalah Tan Malaka, buronan politik yang dicari oleh setengah dunia. "Pak Kartawijaya hanya tahu bahwa aku adalah guru dari kota yang mengungsi karena perang. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh. Mungkin ia curiga, tapi ia terlalu baik untuk mengusirku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 25).

Kehidupan sehari-hari di kampung sangat sederhana. "Setiap pagi, aku bangun pukul empat, shalat subuh, lalu pergi ke sawah bersama Pak Kartawijaya. Kami menanam padi, mencabut rumput, dan mengairi sawah. Pekerjaan ini berat, tapi aku menikmatinya. Keringat yang mengucur terasa seperti penyucian," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 27). Makanannya pun sangat sederhana: nasi dengan sayur dan tahu atau tempe, kadang-kadang ada ikan asin. "Daging sangat jarang. Tapi aku tidak mengeluh. Semua orang di kampung ini makan seperti ini. Kami miskin, tapi kami bahagia," kenangnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 30).

Tapi kedamaian ini tidak berlangsung lama. Ketika Jepang mulai terdesak oleh Sekutu pada tahun 1944, Ibrahim kembali terlibat dalam kegiatan politik bawah tanah. "Aku mulai menghubungi kawan-kawan lamaku, menyusun rencana untuk kemerdekaan, dan menulis pamflet-pamflet yang disebarkan secara rahasia," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 34). Pamflet-pamflet itu ditulisnya di malam hari, di bawah cahaya lampu minyak, dengan tangan yang sudah mulai gemetar karena usia dan penyakit. "Aku sudah tua. Umurku hampir lima puluh tahun. Tapi semangatku masih seperti anak muda. Aku ingin melihat Indonesia merdeka sebelum aku mati," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 36).


Proklamasi dan Revolusi


Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Ibrahim muncul ke permukaan dengan nama aslinya: Tan Malaka. "Banyak orang yang terkejut. Mereka mengira aku sudah mati. Ternyata aku masih hidup," tulisnya dengan nada humor (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 56). Kabar tentang kemunculan kembali Tan Malaka menyebar dengan cepat. "Orang-orang berdatangan ke rumahku, ingin melihat 'hantu' yang hidup kembali. Ada yang menangis, ada yang bersorak, ada yang tidak percaya," kenangnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 58).

Pada bulan September 1945, ia naik kereta api dari Jakarta ke Surabaya untuk bertemu dengan Bung Karno dan Bung Hatta. "Kereta penuh sesak dengan orang-orang yang ingin menyaksikan revolusi. Aku duduk di lantai gerbong, berdesak-desakan dengan petani, pedagang, dan pemuda. Bau keringat dan rokok kretek memenuhi udara. Tapi semua orang gembira. Indonesia merdeka!" tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 60). Kereta berhenti di setiap stasiun, dan di setiap stasiun, orang-orang bersorak menyambut para penumpang. "Aku melihat bendera merah putih berkibar di mana-mana. Aku mendengar lagu 'Indonesia Raya' dinyanyikan dengan penuh semangat. Aku menangis. Ini adalah momen yang kutunggu-tunggu sepanjang hidupku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 62).

Di Surabaya, ia tinggal di rumah seorang kawan lamanya. "Rumah itu sederhana, terbuat dari bambu dan beratap rumbia. Tapi aku senang. Aku bisa tidur nyenyak tanpa takut polisi Belanda menangkapku. Ini adalah kemerdekaan yang sesungguhnya: tidak takut lagi," kenangnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 65). Ia bertemu dengan Bung Karno dan Bung Hatta di sebuah rumah di jalan Pegangsaan Timur. Pertemuan itu berlangsung hangat, meskipun ada ketegangan di bawah permukaan. "Bung Karno memelukku dan berkata: 'Selamat datang kembali, Bung Tan.' Aku terharu. Tapi aku juga melihat ada sesuatu di matanya, semacam ketidakpercayaan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 70).


Hubungan dengan Djaenah


Selama di Surabaya, Ibrahim bertemu kembali dengan Djaenah, perempuan yang kelak menjadi istrinya. Djaenah adalah seorang aktivis pergerakan yang sudah dikenalnya sejak sebelum perang. "Djaenah adalah perempuan yang kuat. Ia tidak takut berbicara di depan umum, tidak takut ditangkap polisi. Aku mengaguminya sejak pertama kali bertemu," tulis Tan Malaka (1987, jilid 3, hlm. 80). Djaenah berasal dari keluarga sederhana di Jawa Tengah. Ia pernah menjadi guru, sebelum akhirnya terjun ke politik. "Ia adalah salah satu dari sedikit perempuan yang berani berdiri di garis depan perjuangan," kenang Tan Malaka (1987, jilid 3, hlm. 82).

Hubungan mereka tidak seperti hubungan suami istri pada umumnya. Mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, dan ketika bertemu pun, mereka lebih sering membahas politik daripada hal-hal romantis. "Kami tidak punya waktu untuk berbulan madu. Revolusi sedang berlangsung. Setiap menit adalah perjuangan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 85). Meskipun demikian, surat-surat mereka menunjukkan kasih sayang yang mendalam. "Djaenah adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa tenang. Ketika aku bersamanya, aku lupa bahwa aku adalah buronan yang dicari oleh seluruh dunia. Aku hanyalah seorang laki-laki yang mencintai perempuannya," tulisnya dalam surat kepada Djaenah (dalam Poeze 2008, jilid 5, hlm. 234).


Konflik dengan Pemerintah


Namun, kedamaian ini segera terusik oleh konflik politik. Tan Malaka tidak setuju dengan strategi diplomasi yang ditempuh oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Ia menginginkan revolusi total, perang kemerdekaan melawan Belanda sampai titik darah penghabisan. "Kemerdekaan tidak bisa ditawar-tawar. Kemerdekaan adalah seratus persen!" demikian slogannya yang terkenal (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 78). Perbedaan strategi ini menciptakan jurang yang semakin dalam antara Tan Malaka dan pemerintah. "Bung Karno memilih diplomasi. Aku memilih perang. Kami berdua benar menurut cara kami masing-masing. Tapi dalam revolusi, tidak bisa ada dua kebenaran," tulisnya dengan getir (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 90).

Konflik ini memuncak pada tahun 1946 ketika Tan Malaka dan para pengikutnya dituduh merencanakan kudeta terhadap pemerintah. Peristiwa ini dikenal sebagai "Peristiwa 3 Juli 1946," di mana sebuah kelompok yang disebut "Persatuan Perjuangan" yang dipimpin oleh Tan Malaka dituduh mencoba menculik Bung Karno dan Bung Hatta. Tuduhan ini hingga kini masih kontroversial. Banyak sejarawan yang meragukan kebenarannya. "Tidak ada bukti yang kuat bahwa Tan Malaka benar-benar merencanakan kudeta," tulis Poeze (2008, jilid 5, hlm. 267). "Kemungkinan besar, ia hanya menjadi korban dari intrik politik di dalam tubuh republik yang baru lahir."

Akibat tuduhan ini, Tan Malaka ditangkap dan dipenjarakan di beberapa tempat: Madiun, Ponorogo, dan akhirnya di kamp tahanan di Malang. "Penjara itu dingin dan lembab. Aku tidur di lantai semen tanpa kasur. Makanannya bubur nasi dengan garam. Tapi aku tidak mengeluh. Aku sudah terbiasa hidup susah," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 95). Ia dipenjarakan tanpa pengadilan, tanpa vonis, tanpa kepastian hukum. "Aku adalah tahanan republik yang kuperjuangkan sendiri. Ironis, bukan?" tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 96).


Kehidupan Sehari-hari di Penjara


Di penjara, Tan Malaka mengisi hari-harinya dengan membaca, menulis, dan mengajar sesama tahanan. "Setiap pagi, setelah bangun tidur, aku membersihkan selku, lalu membaca buku-buku yang bisa kudapatkan. Aku mengajar tahanan-tahanan lain yang buta huruf membaca dan menulis. Aku juga menulis buku 'Madilog' di atas kertas-kertas bekas yang kuselundupkan," kenangnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 98).

Selnya sangat kecil, sekitar 2x3 meter, dengan satu jendela berjeruji besi yang hanya bisa dibuka sedikit. "Di sel ini, aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan memandangi langit-langit. Aku menghitung retakan-retakan di semen. Ada tiga puluh dua retakan. Aku sudah menghitungnya berkali-kali," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 100). Untuk mengatasi kebosanan, ia melakukan latihan fisik: push-up, sit-up, dan jurus-jurus silat yang dipelajarinya sejak kecil. "Tubuhku mungkin dipenjara, tapi pikiranku tetap bebas. Tidak ada yang bisa memenjarakan pikiranku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 102).

Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) adalah karya filosofis terbesarnya, yang ditulisnya di penjara dalam kondisi yang sangat sulit. "Aku menulis 'Madilog' dengan pensil pendek di atas kertas rokok yang kuselundupkan oleh penjaga yang bersimpati padaku. Setiap selesai satu bab, kertas-kertas itu kusimpan di bawah ubin sel yang longgar. Aku takut tulisanku akan disita dan dimusnahkan," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 100). Penjaga yang membantunya itu adalah seorang pemuda dari Jawa Timur yang tidak pernah disebutkan namanya. "Ia adalah salah satu dari sedikit orang baik yang kutemui di penjara. Setiap malam, ia menyelundupkan kertas dan pensil untukku, dengan risiko dipecat atau bahkan ditembak," kenangnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 103).


Pembebasan dan Kematian


Pada September 1946, Tan Malaka dibebaskan dari penjara. Namun, kebebasannya tidak berlangsung lama. Revolusi Indonesia sedang memanas, dan Tan Malaka berada di pihak yang kalah. Ia kembali hidup dalam pelarian, kali ini di negerinya sendiri. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menjadi buronan di negaraku sendiri, yang kuperjuangkan dengan segenap jiwa dan ragaku. Ini adalah ironi yang paling pahit dalam hidupku," tulisnya (Malaka 1987, jilid 3, hlm. 130).

Pada Februari 1949, ia ditangkap oleh tentara dari kesatuan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) di Kediri, Jawa Timur. Menurut kesaksian yang dikumpulkan oleh Poeze, ia ditangkap saat sedang makan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. "Ia sedang makan nasi pecel ketika tiga orang tentara datang dan menangkapnya. Ia tidak melawan. Ia hanya meminta waktu untuk menghabiskan makanannya," tulis Poeze (2008, jilid 6, hlm. 340). Setelah selesai makan, ia dibawa ke sebuah tempat di kaki Gunung Wilis dan dieksekusi di sana.

"Menurut saksi mata, Tan Malaka tidak melawan ketika dieksekusi. Ia hanya meminta rokok dan secangkir kopi. 'Aku sudah lelah,' katanya. Ia merokok dengan tenang sambil menunggu kematiannya," tulis Poeze (2008, jilid 6, hlm. 345). Saksi mata itu adalah seorang tentara Pesindo yang hadir pada saat eksekusi. Bertahun-tahun kemudian, ia menceritakan kepada Poeze apa yang dilihatnya. "Bapak Tan duduk di bawah pohon. Ia merokok dan minum kopi. Ia terlihat tenang, seperti orang yang sudah pasrah. Ketika ditembak, ia langsung jatuh. Tidak ada jeritan, tidak ada rintihan. Hanya suara tembakan dan kemudian keheningan," kenang saksi itu (dalam Poeze 2008, jilid 6, hlm. 346).

Jenazahnya dibuang ke sungai dan tidak pernah ditemukan. "Ia mati seperti ia hidup: sendirian, tanpa upacara, tanpa batu nisan. Tapi ia mati dengan tenang, seperti orang yang telah menyelesaikan tugasnya," tulis Mrázek (1972, hlm. 234). Hingga hari ini, tidak ada yang tahu pasti di mana jasad Tan Malaka berada. Beberapa orang percaya bahwa jasadnya dikubur di suatu tempat di kaki Gunung Wilis. Yang lain percaya bahwa jasadnya hanyut terbawa arus sungai dan hilang selamanya. "Tan Malaka adalah hantu yang tidak pernah menemukan kuburan. Ia terus menghantui sejarah Indonesia, mengingatkan kita bahwa di balik kemerdekaan yang kita nikmati, ada darah dan air mata yang tak terhitung jumlahnya," tulis Poeze (2008, jilid 6, hlm. 350).


Epilog: Manusia Biasa yang Luar Biasa


"Tan Malaka adalah manusia biasa," tulis Harry A. Poeze dalam kesimpulan biografinya (Poeze 2008, jilid 6, hlm. 412). "Ia makan, minum, tidur, sakit, jatuh cinta, merasa kesepian, dan mati seperti manusia biasa lainnya. Yang membedakannya hanyalah pilihannya: ia memilih untuk mengabdikan seluruh hidupnya pada satu cita-cita, yaitu kemerdekaan seratus persen bagi bangsanya."

Biografi ini telah mencoba untuk merekonstruksi kehidupan Tan Malaka sebagai manusia biasa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kegembiraan dan penderitaannya, harapan-harapannya dan kekecewaannya. Kita telah melihat bagaimana Ibrahim kecil menangis ketika pertama kali berpisah dengan ibunya, bagaimana ia jatuh cinta pada seorang gadis di pasar Bukittinggi, bagaimana ia merindukan rendang dan nasi selama di Belanda, bagaimana ia sakit dan kesepian di negeri orang, bagaimana ia menulis dengan pensil pendek di atas kertas rokok di penjara yang dingin, dan bagaimana ia meminta rokok dan kopi sebelum kematiannya.

Semua detail ini mungkin tampak sepele dan tidak heroik. Tapi justru dalam detail-detail inilah, kita bisa melihat kemanusiaannya yang sesungguhnya. "Pahlawan bukanlah manusia setengah dewa yang tidak pernah takut, tidak pernah ragu, dan tidak pernah menderita. Pahlawan adalah manusia biasa yang, meskipun takut, ragu, dan menderita, tetap memilih untuk berjuang demi apa yang diyakininya benar," tulis Goenawan Mohamad dalam esainya tentang Tan Malaka (Mohamad 2011, hlm. 45).

Ibrahim, Tan Malaka, Hasan, Ismail, dan puluhan nama samaran lainnya, pada akhirnya, ia hanyalah seorang anak manusia yang mencari makna dalam hidupnya. Ia menemukan makna itu dalam perjuangan untuk kemerdekaan bangsanya. Dan ia membayar makna itu dengan seluruh hidupnya. "Hidup adalah perjuangan," tulisnya dalam salah satu surat terakhirnya. "Dan perjuangan adalah hidup. Tidak ada yang sia-sia." (Surat Tan Malaka kepada Djaenah, 1 Februari 1949, dalam Poeze 2008, jilid 6, hlm. 389).

Di suatu tempat di kaki Gunung Wilis, di antara pohon-pohon pinus dan suara burung, mungkin masih ada sisa-sisa tulang belulangnya yang berserakan. Tapi tidak ada yang tahu pasti. Yang tersisa hanyalah kenangan tentang seorang manusia biasa yang mencoba melakukan hal-hal yang luar biasa. Dan kenangan itu, seperti yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, "lebih kekal daripada batu nisan" (Toer 1985, hlm. 12).


Daftar Pustaka


Abdullah, Taufik. Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927-1933). Cornell Modern Indonesia Project, 1971.

Breman, Jan. Taming the Coolie Beast: Plantation Society and the Colonial Order in Southeast Asia. Oxford UP, 1992.

Graves, Elizabeth E. The Minangkabau Response to Dutch Colonial Rule in the Nineteenth Century. Cornell Modern Indonesia Project, 1981.

Hadler, Jeffrey. Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism. Cornell UP, 2008.

Hamka. Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Pustaka Antara, 1962.

Harper, Tim. Underground Asia: Global Revolutionaries and the Assault on Empire. Penguin, 2021.

Jarvis, Helen. "The Partai Komunis Indonesia and the Pan-Asian Communist Organization (PACO), 1924-1926." MA Thesis, University of Sydney, 1978.

Malaka, Tan. Dari Penjara ke Penjara. 3 jilid, Yayasan Massa, 1987.

---. Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. Yayasan Massa, 1988.

---. Naar de 'Republiek Indonesia'. Yayasan Massa, 1989.

Mohamad, Goenawan. "Tan Malaka: Pahlawan yang Terlupakan." Catatan Pinggir, Tempo, 2011.

Mrázek, Rudolf. Tan Malaka: A Political Personality. Cornell Modern Indonesia Project, 1972.

Poeze, Harry A. Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik. 6 jilid, Yayasan Obor, 2008-2010.

---. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007.

Purwanto, Bambang. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!. Ombak, 2006.

Toer, Pramoedya Ananta. "Tan Malaka: Bapak Republik yang Terlupakan." Pidato di Universitas Cornell, 1985.

Van Klinken, Gerard. Communal Violence and Democratization in Indonesia: Small Town Wars. Routledge, 2007.

Posting Komentar

0 Komentar