Bagian Satu:
Kencing yang Bersejarah
Togog tidak pernah menyangka bahwa puncak dari hari yang melelahkan itu akan terjadi di sebuah urinoir. Bukan di ruang rapat megah dengan panel kayu jati dan lampu kristal. Bukan di depan podium dengan mikrofon yang siap menyiarkan pidato berapi-api. Melainkan di toilet pria di sayap timur Gedung Rumah Rakyat Republik Mahjong, lantai tiga, tepat di depan urinoir nomor dua yang agak mampet dan mengeluarkan bunyi seperti kucing tersedak saat disiram.
Hari itu, Togog mendampingi dua belas perwakilan petani dari Desa Rapat Sari. Mereka datang dengan bus sewaan yang AC-nya mati, membawa serta segunung keluhan dan setoples kecil gumpalan lumpur dari sawah mereka. Rombongan ini naik ke ibu kota setelah menerima surat dari Kementerian Cultuur Stelsel yang isinya, dalam bahasa birokrat yang berbelit-belit, kurang lebih berbunyi: "Mulai musim tanam depan, sawah Anda akan ditanami tebu. Bukan padi. Demi percepatan produksi etanol nasional. Terima kasih atas pengorbanan Anda."
Pengorbanan. Kata itu dipakai seolah para petani itu punya pilihan. Seolah mereka adalah pahlawan yang dengan sukarela menyerahkan sawahnya. Padahal, jika mereka menolak, pupuk bersubsidi akan dicabut, irigasi akan "direnovasi" entah sampai kapan, dan proposal Kredit Usaha Tani mereka akan menguap seperti air di wajan panas.
Rapat dengan Komisi IV Rumah Rakyat dimulai pukul dua siang. Ruang rapatnya bersih, dingin, dan wangi pengharum ruangan aroma lavender. Kontras sekali dengan bau keringat dan lumpur yang masih menempel di sandal para petani. Ketua komisi, Yang Mulia Durjajana, seorang pria berbadan besar dengan keringat yang selalu muncul di dahinya meski AC menyala penuh, membuka rapat dengan senyum lebar. Senyum yang sama yang dipakainya saat meresmikan proyek, saat menerima suap, dan saat berbohong kepada konstituen. "Selamat datang, Bapak-Bapak petani tulang punggung bangsa!" serunya. "Aspirasi Anda adalah oksigen bagi demokrasi kami!"
Togog, yang duduk di belakang para petani, langsung menulis di buku catatannya: "Oksigen. Tapi nanti pasti mereka dapat gas karbon dioksida."
Rapat berlangsung selama tiga jam. Para petani bergantian bicara. Pak Karto, yang paling tua, menjelaskan dengan suara bergetar bahwa sawah itu sudah digarap turun-temurun sejak zaman kakek buyutnya. Bahwa tanah itu bukan cuma sumber penghidupan, tapi juga pusara leluhur. Bahwa padi adalah nadi, dan jika ditukar dengan tebu, nadi itu akan putus. Bu Sarmi, satu-satunya perempuan dalam rombongan, menangis saat bercerita bahwa anaknya baru bisa sekolah setelah panen tahun lalu. "Kalau nanam tebu, saya tidak tahu cara ngurusnya, Pak. Saya cuma tahu nanam padi. Nanti kalau gagal panen, anak saya berhenti sekolah."
Para anggota dewan mendengarkan dengan wajah prihatin. Ada yang mengangguk-angguk. Ada yang mencatat. Ada yang pura-pura mencatat padahal sedang menggambar bunga. Togog memperhatikan semuanya. Ia sudah cukup lama berkecimpung di dunia politik untuk tahu bahwa wajah prihatin adalah topeng yang paling murah harganya. Jauh lebih murah daripada pupuk urea.
Hasil rapat? Sebuah kesepakatan yang membuat Togog ingin membenturkan kepalanya ke meja. Isinya: "Keluhan petani sudah dicatat oleh sepuluh anggota Rumah Rakyat dan akan dikonsultasikan dengan Menteri Cultuur Stelsel Republik Mahjong setelah masa reses satu bulan."
Satu bulan. Di saat musim tanam sudah di depan mata. Di saat petani harus segera memutuskan akan menanam apa. Mereka diminta menunggu sebulan, sementara para wakil rakyat itu akan menikmati masa reses, yang dalam bahasa awam artinya: liburan ke luar negeri dengan alasan studi banding.
"Apa maksudnya dikonsultasikan setelah reses?!" protes Togog. "Musim tanam tidak bisa menunggu reses! Reses itu kan cuma alasan buat kalian jalan-jalan ke Eropa!"
Para anggota dewan saling pandang. Durjajana tersenyum, kali ini lebih tipis. "Saudara Togog, kami memahami kekhawatiran Anda. Tapi prosedur tetaplah prosedur. Demokrasi itu tidak bisa instan. Kami harus berkonsultasi dulu dengan kementerian terkait."
"Prosedur? Anda menyebut ini prosedur? Ini namanya mengulur waktu!" Togog berdiri, suaranya meninggi. "Sawah itu butuh kepastian sekarang! Bukan sebulan lagi!"
Tapi Durjajana sudah tidak mendengarkan. Ia sibuk melihat jam tangannya yang berlapis emas. Mungkin menghitung berapa lama lagi ia bisa pergi dari ruangan itu.
Perwakilan petani menolak menandatangani berita acara. Sebagai gantinya, Pak Karto mengambil segumpal lumpur sawah dari toples, meletakkannya di atas meja rapat yang mengilap itu, dan meratakannya hingga membentuk bulatan sebesar gundu. Sebuah tindakan yang lebih fasih daripada seribu kata. "Ini tanda tangan kami," katanya pelan. "Ini tanah kami. Tanah yang akan kalian tanami tebu. Kenanglah baunya saat kalian nanti menikmati etanol."
Para petani keluar tanpa mengucapkan salam. Togog mengikuti di belakang. Saat pintu tertutup, ia sempat mendengar Durjajana berkata kepada rekan-rekannya, "Rapat selesai, saudara-saudara ditunggu di Sekretariat Rumah Rakyat untuk mengambil transpor." Tentu saja kalimat itu diucapkan setelah para petani dan Togog hilang dari pandangan. Togog mengepalkan tinjunya. Ia ingin kembali dan membanting meja itu. Tapi apa gunanya? Meja di ruang rapat pasti lebih kuat dari meja di kementeriannya Dursasana dulu. Sudah didesain khusus untuk menahan pukulan frustrasi.
Rombongan petani pulang. Togog memutuskan untuk tinggal sebentar. Ia perlu menenangkan diri. Mungkin dengan membasuh muka. Atau sekadar duduk di tangga Rumah Rakyat sambil memandangi kemegahan gedung yang kontras dengan nasib rakyat yang diwakilinya. Saat itulah, dalam perjalanan mencari toilet, sejarah kecil terjadi.
Gedung Rumah Rakyat Republik Mahjong di malam hari adalah tempat yang sunyi dan sedikit menyeramkan. Koridor-koridornya panjang, diterangi lampu sensor yang kadang menyala kadang tidak, menciptakan efek seperti di film horor. Patung-patung pahlawan nasional berjejer di sepanjang dinding, tampak seperti sedang mengawasi setiap langkah. Togog berjalan menyusuri koridor lantai tiga, mencari toilet. Papan petunjuk arah sudah lama rusak, dan ia tersesat dua kali sebelum akhirnya menemukan sebuah lorong kecil yang mengarah ke toilet.
Saat itulah ia mendengarnya. Suara-suara dari sebuah ruangan dengan pintu yang tidak tertutup rapat. Bukan suara hantu atau suara tikus. Tapi suara manusia. Suara tawa yang renyah, denting gelas, dan potongan-potongan percakapan yang jika didengar oleh orang awam mungkin tidak berarti apa-apa, tapi bagi Togog yang sudah terlatih dalam intrik politik, itu bagaikan sirene tanda bahaya.
Togog menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Koridor sepi. Patung pahlawan tetap diam. Lampu sensor di ujung lorong tiba-tiba mati, menyisakan remang-remang. Ia mendekat ke pintu yang sedikit terbuka itu. Dari celahnya, ia bisa melihat ke dalam. Ia membungkuk, menempelkan telinganya, dan mulai mendengarkan.
Di dalam ruangan itu, ia menghitung ada sekitar tiga belas orang. Sembilan laki-laki, empat perempuan. Delapan di antaranya langsung ia kenali. Mereka adalah ketua-ketua fraksi Rumah Rakyat. Wajah-wajah yang sering muncul di televisi, mengucapkan sumpah setia pada rakyat, berdebat dengan penuh semangat di depan kamera, tapi kini duduk dengan santai di sofa kulit, memegang gelas-gelas kristal berisi cairan berwarna keemasan yang pasti bukan teh botol.
Lima orang lainnya adalah wajah-wajah yang jarang muncul di televisi, tapi sering muncul di daftar orang terkaya versi majalah keuangan. Mereka adalah perwakilan dari dua kelompok oligarki paling berpengaruh di Republik Mahjong: Sembilan Onak dan Sembilan Duri. Dua orang dari Onak, tiga dari Duri. Nama-nama mereka adalah legenda. Onak adalah kelompok sembilan keluarga yang menguasai industri pertambangan dan energi. Duri adalah kelompok sembilan keluarga yang menguasai perkebunan dan keuangan. Bersama-sama, mereka mengendalikan hampir 70 persen ekonomi Mahjong.
Togog menahan napas. Apa yang dilakukan para ketua fraksi bersama para oligark di malam hari, di ruangan tersembunyi, tanpa staf, tanpa wartawan, tanpa kamera? Ini bukan pertemuan resmi. Tidak mungkin. Pertemuan resmi tidak menyajikan minuman beralkohol dalam gelas kristal. Pertemuan resmi tidak dihadiri oleh orang-orang terkaya dengan setelan jas yang harganya setara dengan lima tahun penghasilan petani Desa Rapat Sari.
Togog mendekatkan telinganya. Detak jantungnya berpacu. Ia tahu, apa pun yang akan ia dengar, itu mungkin akan mengubah segalanya. Atau, paling tidak, memberinya bahan untuk wayang kardus edisi berikutnya.
Bagian Dua:
Minuman dan Bisikan
Ruangan itu bukan ruang rapat biasa. Togog bisa melihat dari celah pintu bahwa interiornya lebih mirip lounge eksekutif di hotel bintang lima. Dindingnya berlapis kayu gelap dengan ukiran-ukiran halus. Ada perapian buatan dengan nyala api LED yang menari-nari. Di sudut ruangan, sebuah bar kecil dengan deretan botol-botol mahal. Sofa kulit berwarna krem tersusun melingkar, dan di tengahnya, meja marmer besar tempat peta-peta dan dokumen berserakan.
Yang Mulia Durjajana, yang tadi siang duduk dengan wajah prihatin mendengarkan keluhan petani, kini duduk dengan pose seenaknya. Satu tangannya memegang gelas, tangan lainnya memegang cerutu yang mengeluarkan asap berbentuk cincin-cincin kecil. Wajahnya rileks, senyumnya lebar, benar-benar berbeda dari sosok "abdi rakyat" yang ia perankan beberapa jam sebelumnya.
Di sebelahnya duduk Yang Mulia Anindyaputri, ketua fraksi perempuan satu-satunya, yang terkenal dengan pidato-pidatonya tentang pemberdayaan ekonomi rakyat kecil. Malam itu, ia mengenakan gaun merah marun yang mungkin harganya setara dengan biaya perbaikan seluruh irigasi di Desa Rapat Sari. Di jemarinya, berlian berkilauan setiap kali ia mengangkat gelas.
Ketua-ketua fraksi lainnya duduk berbaur dengan para oligark. Ada Yang Mulia Purnamajaya dari Fraksi Partai Persatuan Nasional, yang dalam setiap kampanye selalu bilang "Saya ini orang susah, saya dulu cuma anak petani." Malam ini, ia tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon dari seorang perempuan paruh baya yang dikenali Togog sebagai Ratu Duri, salah satu dari tiga perwakilan Sembilan Duri. Konon, Ratu Duri menguasai 40 persen perkebunan tebu di Mahjong.
Dari pihak Onak, ada dua pria. Yang pertama adalah Tuan Onak Senior, pria berusia enam puluhan dengan rambut putih dan kacamata bulat. Ia adalah generasi ketiga dari keluarga Onak, yang menguasai tambang-tambang nikel dan bauksit. Yang kedua adalah Onak Junior, cucunya, seorang pria berusia tiga puluhan yang terkenal doyan pamer mobil sport di media sosial dan sering menjadi bahan meme karena wajahnya yang selalu terlihat seperti baru bangun tidur.
Dari pihak Duri, selain Ratu Duri, ada dua pria lainnya. Tuan Duri Tua, yang terkenal dengan perkebunan kelapa sawitnya, dan Tuan Duri Muda, yang baru saja mengambil alih bisnis keluarga dan terkenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
Togog mencoba menangkap percakapan mereka. Suara tawa dan denting gelas membuat suara-suara itu tidak jelas, tapi perlahan, seiring dengan berkurangnya isi botol, suara mereka mulai meninggi dan lebih mudah didengar.
"Jadi, soal RUU Energi Terbarukan itu," suara Tuan Onak Senior, berat dan penuh wibawa. "Kami dari Onak sudah investasi besar di infrastruktur etanol. Pabrik sudah setengah jadi di tiga lokasi. Kalau RUU ini molor, kerugian kami bisa sampai dua triliun."
"Tenang, Tuan," jawab Durjajana sambil mengepulkan asap cerutunya. "RUU itu sudah di meja sidang. Begitu reses selesai, kita jadwalkan paripurna. Paling lambat dua bulan, sudah bisa diketok palu."
"Dua bulan?" Onak Junior menyela, suaranya terdengar seperti rengekan. "Dua bulan itu lama, Om. Saham perusahaan kita sudah turun tiga persen sejak rumor RUU ini muncul. Kalau sampai tiga bulan lagi, bisa-bisa aku tidak bisa beli kapal pesiar yang baru kuincar."
Tawa meledak di ruangan itu. Togog merasakan sesuatu yang panas naik ke tenggorokannya. Bukan mual karena asam lambung, tapi mual karena kemarahan.
"Sabar, Nak Muda," kata Purnamajaya, ketua fraksi yang katanya mantan anak petani itu. "Kita semua di sini paham. Makanya rapat malam ini kita adakan. Biar semua clear. RUU Energi Terbarukan ini prioritas. Program mandatori etanol lima persen itu tidak bisa ditawar. Kalau tidak, pabrik-pabrik kalian tidak ada gunanya."
"Tapi masalahnya," sela Anindyaputri, meletakkan gelasnya, "ada resistensi dari petani. Tadi siang kita dengar sendiri, kan? Desa Rapat Sari itu cuma satu contoh. Masih banyak desa lain yang menolak konversi padi ke tebu. Kalau kita paksakan, bisa ada gejolak."
"Gejolak bisa dikelola," jawab Durjajana enteng. "Kita punya dana aspirasi. Kita punya dana reses. Kita bisa 'sosialisasikan' ke desa-desa. Kasih mereka bantuan bibit, pupuk, sedikit uang kompensasi. Nanti juga diam sendiri."
Togog mengepalkan tinjunya. Jadi ini rapatnya. Rapat yang sesungguhnya. Bukan rapat dengan petani tadi siang. Itu hanya sandiwara. Hanya formalitas untuk memenuhi prosedur "mendengarkan aspirasi rakyat." Aspirasi yang sudah ditakdirkan untuk dikubur di bawah tumpukan dokumen dan ditunda sampai reses. Rapat sesungguhnya ada di sini, di ruangan tersembunyi ini, antara para wakil rakyat dan para pemilik modal, dengan minuman mahal dan cerutu, membahas bagaimana cara memeras rakyat dengan lebih halus.
"Sosialisasi? Kompensasi?" Ratu Duri tiba-tiba angkat bicara, suaranya dingin seperti es. "Itu cuma buang-buang uang. Aku sudah puluhan tahun di bisnis ini. Petani itu tidak perlu dikasih kompensasi. Mereka butuh dipaksa. Kalau dikasih kompensasi, mereka malah manja. Nanti minta lagi, minta lagi. Lebih baik kita mainkan harga pupuk. Naikkan sedikit. Nanti kalau mereka tidak sanggup nanam padi, mereka akan dengan senang hati nanam tebu."
Onak Senior mengangguk setuju. "Betul itu. Kita kontrol pupuk, kita kontrol benih, kita kontrol harga. Petani tidak punya pilihan. Itu lebih murah daripada kompensasi."
Togog menggigit bibirnya. Jadi itu strateginya. Bukan dengan peluru, bukan dengan tank, tapi dengan pupuk. Dengan benih. Dengan membuat petani tidak punya pilihan lain kecuali tunduk. Ini adalah perang yang lebih kejam dari perang senjata, karena korbannya mati pelan-pelan, dan pembunuhnya tidak pernah bisa diseret ke pengadilan.
"Tapi kita harus hati-hati sama LSM-LSM itu," kata Yang Mulia Sasongko, ketua fraksi dari Partai Peduli Rakyat, yang ironisnya tidak pernah peduli pada apa pun kecuali kursinya sendiri. "Mereka bisa bikin ribut. Bisa bikin petani turun ke jalan. Nanti media meliput, citra kita jelek."
"Media?" Tuan Duri Tua tertawa, suaranya serak seperti perokok berat. "Media itu milik siapa? Dua stasiun televisi terbesar sahamnya dipegang oleh keluarga Onak. Tiga surat kabar nasional milik keluarga Duri. Siapa yang berani liput?"
"Tapi media sosial susah dikontrol," sela Anindyaputri. "Anak-anak muda sekarang suka bikin konten. Kemarin ada TikTok dari Desa Rapat Sari. Lumayan viral. Isinya petani lagi protes sambil nyanyi-nyanyi. Katanya sih lucu, tapi pesannya menusuk."
"Itu yang bahaya," gumam Durjajana. "Badut-badut itu."
Mendengar kata "badut", Togog hampir tersedak ludahnya sendiri. Apakah mereka sedang membicarakan dirinya? Tidak mungkin. Ia tidak seterkenal itu. Tapi tunggu... Siapa tahu mereka memang membicarakan fenomena badut-badut yang mulai menjamur di mana-mana?
"Maksud Tuan Ketua?" tanya Onak Junior, yang tampaknya paling bodoh di antara yang hadir.
"Badut-badut. Para satiris. Komedian-komedian jalanan. Kayak yang dulu pernah bikin onar di Astina. Revolusi Badut, katanya. Mereka bukan sekadar melawak. Mereka melakukan perlawanan dengan cara yang susah ditangkap. Bikin wayang kardus, bikin lagu-lagu jenaka, bikin meme. Dan itu lebih berbahaya dari demonstrasi."
Ratu Duri mengangguk. "Aku dengar, dalangnya adalah seorang bernama Togog. Dia penasihat di Astina. Siapa tahu dia sudah merembes ke sini."
Jantung Togog berhenti selama dua detik. Ia bersembunyi di balik pintu, dan orang-orang di dalam sedang membicarakan dirinya. Ini seperti adegan di film mata-mata, hanya saja ia bukan James Bond. Ia cuma Togog, seorang badut tua dengan kopi tubruk di perutnya dan kemarahan yang membara di dadanya.
"Jangan khawatir," kata Durjajana sambil menyesap minumannya. "Astina masih beda dengan Mahjong. Di sini, kita lebih... sophisticated. Kita tidak pakai tentara dan parfum pengontrol otak seperti yang dilakukan kawan kita Sengkuni dulu. Kita pakai uang. Uang adalah senjata paling canggih. Lebih canggih dari peluru. Lebih halus dari parfum. Dan lebih mematikan."
Semua orang di ruangan itu tertawa. Gelas-gelas diangkat, bersulang. "Untuk uang!" seru seseorang. "Untuk Mahjong yang lebih makmur!" seru yang lain. Tawa mereka bergema, memantul di dinding-dinding berlapis kayu, dan merembes keluar melalui celah pintu, langsung menusuk gendang telinga Togog.
Togog mundur perlahan. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti kucing yang baru saja mencuri ikan. Ia tidak ingin ketahuan. Belum. Belum saatnya. Ia harus mengumpulkan lebih banyak bukti. Ia harus merekam ini semua. Oh, sial. Ponselnya ketinggalan di tas, dan tasnya ada di mobil. Ia tidak bisa merekam. Ia hanya bisa mengandalkan ingatannya. Dan ingatannya, meskipun sudah sering dipenuhi oleh kopi dan kurang tidur, masih cukup tajam untuk urusan seperti ini.
Ia melirik ke dalam lagi. Kali ini, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya semakin mendidih. Purnamajaya, si mantan anak petani itu, mengeluarkan sebuah map tebal dari tasnya. "Ini, Tuan-tuan. Draf final RUU Energi Terbarukan. Sudah kami revisi sesuai masukan dari tim legal Onak dan Duri. Pasal 7 tentang konversi lahan sudah diperkuat. Petani yang menolak bisa dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan subsidi."
Ratu Duri mengambil map itu, membukanya sekilas, lalu melemparkannya ke meja. "Bagus. Tapi pasal tentang insentif pajak untuk pabrik etanol harus ditambah. Lima tahun terlalu pendek. Minimal sepuluh tahun, dengan opsi perpanjangan."
"Bisa diatur," jawab Durjajana cepat. "Kita bisa tambahkan di pasal penutup. Itu cuma soal redaksional."
"Redaksional yang bisa menghemat triliunan buat kami," Onak Senior tersenyum puas.
Togog tidak tahan lagi. Kemarahannya sudah mencapai titik didih. Ia ingin membuka pintu itu lebar-lebar, masuk, dan membalikkan meja marmer itu. Ia ingin berteriak, "Kalian semua bajingan! Kalian mengkhianati rakyat yang memilih kalian! Kalian menjual negeri ini kepada segelintir orang kaya!" Tapi ia tahu, tindakan seperti itu hanya akan membuatnya ditangkap oleh petugas keamanan dan dijebloskan ke sel dengan tuduhan mengganggu ketertiban. Ia harus pintar-pintar. Ia harus cerdik. Ia harus menjadi badut, bukan pahlawan yang bodoh.
Togog mencatat semuanya dalam memorinya. Nama-nama. Wajah-wajah. Kalimat-kalimat. Semua akan ia dokumentasikan begitu ia keluar dari sini. Lalu ia akan membuat sesuatu. Wayang kardus, mungkin. Atau naskah pertunjukan. Atau surat terbuka yang akan ia sebarkan ke seluruh penjuru negeri.
Saat ia berbalik untuk pergi, tiba-tiba... krek! Suara pijakan kaki di lantai kayu. Togog menoleh dengan panik. Seorang petugas kebersihan tua mendorong kereta pel, menatapnya dengan heran. Bukan sembarang petugas kebersihan. Pria ini berbadan kurus, dengan punggung sedikit membungkuk, rambut putih dibiarkan gondrong, dan mata yang sayu tapi menyimpan ketajaman yang aneh. Di kereta pelnya, selain ember dan kain pel, tergantung sebuah gitar kecil yang sudah compang-camping.
"Pak... Bapak ngapain di sini? Ini area khusus. Tidak boleh sembarangan," kata petugas itu, suaranya pelan tapi tegas.
Togog menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberi isyarat diam. Tapi pria itu malah memajukan keretanya, mendekat ke arah Togog. "Bapak yang tadi siang dampingi petani Desa Rapat Sari, ya? Saya lihat Bapak dari tadi. Saya tahu Bapak sedang menguping rapat mereka."
Jantung Togog hampir copot. "Sssst! Diam, Pak! Nanti kita ketahuan!"
Pria tua itu tersenyum tipis. "Tenang saja. Saya sudah bertahun-tahun kerja di sini. Saya tahu semua seluk-beluk gedung ini. Saya tahu ruangan ini. Mereka menyebutnya 'Ruang Mahoni'. Tempat para elite bertemu. Saya sering membersihkannya setelah mereka pesta-pesta. Botol-botol mahal, cerutu, kadang ada lipstik di gelas. Saya bersihkan semuanya. Mereka tidak pernah peduli dengan saya. Saya ini seperti hantu bagi mereka. Tidak kelihatan."
Togog menatap pria tua itu dengan campuran takut dan penasaran. "Siapa nama Bapak?"
"Panggil saya Ki Selo. Saya petugas kebersihan di sini sudah dua puluh tahun. Sebelumnya, saya dalang wayang kulit di desa. Tapi wayang saya dianggap terlalu kritis oleh pemerintah daerah waktu itu. Saya diusir. Akhirnya saya ke kota, melamar jadi cleaning service di sini. Setidaknya di sini saya bisa mendengar banyak hal."
Togog langsung tertarik. "Bapak dalang? Wayang kulit?"
"Ah, itu masa lalu. Sekarang saya cuma penyapu lantai dan pembersih toilet. Tapi kadang-kadang, kalau malam minggu, saya main gitar di taman kota. Menyanyi lagu-lagu sindiran. Tidak ada yang dengar. Tidak ada yang peduli." Ki Selo menunjuk gitar kecil di keretanya.
Saat itulah, suara dari dalam ruangan meninggi. "Siapa di luar?" terdengar suara Durjajana, kali ini tanpa keramahan palsu. Suaranya tajam seperti golok.
Ki Selo dengan sigap berdehem dan menjawab dengan suara keras, "Cuma saya, Pak. Ki Selo. Petugas kebersihan. Maaf, tadi saya tidak sengaja nabrak ember. Saya segera pergi."
Ia memberi isyarat pada Togog untuk segera pergi. Togog mengangguk cepat, lalu berbisik, "Saya Togog. Saya tinggal di penginapan Mawar, dekat terminal. Besok, kalau Bapak ada waktu, temui saya di sana. Saya butuh orang seperti Bapak."
Ki Selo mengangguk pelan. Togog lalu berlari sekencang mungkin menyusuri koridor, melewati patung-patung pahlawan yang seperti menertawakannya, menuruni tangga, melewati lobi utama, dan keluar ke halaman Gedung Rumah Rakyat.
Napas Togog tersengal-sengal saat mencapai mobil tuanya. Ia masuk, mengunci pintu, dan duduk diam selama beberapa menit. Keringat mengucur deras di dahinya. Jantungnya masih berdetak kencang. Tapi di kepalanya, pikirannya justru jernih. Sangat jernih. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Dan kini, ia mungkin punya sekutu baru. Seorang dalang tua yang sudah dua puluh tahun menjadi hantu di rumah rakyat.
Bagian Tiga:
Ki Selo dan Gitar Tanpa Senar
Keesokan harinya, Togog duduk di warung kopi dekat penginapannya. Warung ini kecil, bernama "Kopi Merdeka", yang ironisnya letaknya persis di seberang kantor polisi. Tapi justru karena letaknya di seberang kantor polisi, warung ini aman. Polisi tidak pernah curiga bahwa para "subversif" berkumpul tepat di bawah hidung mereka. Pemiliknya, seorang perempuan gemuk bernama Bu Lastri, adalah mantan aktivis mahasiswa yang kini memilih jalur aman: menjual kopi dan menyediakan tempat bagi siapa saja yang ingin bicara politik tanpa takut disadap. Katanya, "Kopi saya lebih aman dari aplikasi chatting manapun. Karena kopi tidak bisa diretas."
Togog baru saja menyeruput kopinya ketika Ki Selo muncul. Pria tua itu kini tidak mengenakan seragam cleaning service. Ia memakai batik lusuh berwarna cokelat, sandal jepit, dan membawa gitar kecilnya. Rambut gondrongnya diikat ke belakang, membuatnya tampak seperti seniman yang baru bangun dari tidur panjang.
"Selamat pagi, Pak Togog," sapanya sambil duduk.
"Selamat pagi, Ki Selo. Silakan pesan kopi. Saya yang traktir."
Ki Selo memesan kopi tubruk, lalu duduk diam memperhatikan lalu-lalang di jalan. "Saya sudah dua puluh tahun membersihkan gedung itu," katanya pelan. "Saya tahu setiap sudutnya. Saya tahu rahasia-rahasianya. Tapi saya hanya pendengar. Tidak pernah bertindak. Karena saya pikir, buat apa? Rakyat kecil seperti saya tidak bisa mengubah apa pun."
"Tapi sekarang Bapak bertemu saya," kata Togog. "Dan saya adalah badut yang percaya bahwa rakyat kecil bisa mengubah segalanya."
Ki Selo tersenyum. "Saya tahu. Saya dengar cerita tentang Revolusi Badut di Astina. Saya kira itu cuma dongeng. Tapi setelah melihat Bapak tadi malam, saya percaya. Orang yang berani menguping rapat para elite dengan modal nekat, itu orang yang bisa diandalkan."
Togog tertawa kecil. "Nekat? Saya hanya kebelet pipis. Sejarah kadang dimulai dari hal-hal yang tidak terduga."
Mereka berdua tertawa. Kopi datang. Ki Selo menyesapnya perlahan. "Pak Togog, saya punya banyak cerita. Dua puluh tahun saya mendengar percakapan di gedung itu. Saya tahu siapa yang jujur dan siapa yang munafik. Saya tahu fraksi mana yang paling banyak menerima amplop. Saya tahu oligark mana yang paling sering datang malam-malam. Saya tahu di laci mana mereka menyimpan dokumen-dokumen rahasia."
Togog meletakkan cangkirnya. "Bapak bisa menjadi saksi kunci."
"Saya tidak ingin jadi saksi. Saksi itu rawan. Bisa dibunuh, bisa disuap. Saya ingin jadi dalang lagi. Seperti dulu." Mata Ki Selo berbinar. "Saya dengar Bapak jago bikin wayang kardus. Saya jago bikin wayang kulit. Bagaimana kalau kita gabungkan? Wayang kulit dari kardus. Cerita dari rapat-rapat rahasia. Dimainkan oleh mantan dalang yang kini jadi tukang sapu. Itu akan menjadi pertunjukan yang... sangat menarik."
Togog menatap Ki Selo dengan kagum. "Bapak genius."
"Bukan genius. Hanya orang tua yang sudah bosan menjadi hantu. Saya ingin menjadi manusia lagi, sebelum mati."
Mereka berdua menghabiskan dua jam berikutnya untuk berdiskusi. Togog menceritakan semua yang ia dengar tadi malam. Tentang Durjajana dan cerutunya. Tentang Ratu Duri dan kata-katanya yang kejam. Tentang Onak Junior dan kapal pesiarnya. Tentang Purnamajaya yang dulu petani tapi kini menjual petani. Ki Selo mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat di buku kecilnya.
"Saya akan buat wayangnya," kata Ki Selo. "Saya masih punya alat-alat di rumah. Kulit sapi saya ganti dengan kardus bekas. Catnya dari arang dan kunyit. Murah, tapi bisa hidup. Dan untuk ceritanya, saya akan tambahkan tokoh-tokoh baru. Tokoh-tokoh yang tidak ada di dunia politik nyata, tapi ada di hati rakyat."
"Maksud Bapak?"
Ki Selo mengambil gitarnya. "Ini gitar tanpa senar. Saya tidak pernah memasang senar karena saya tidak bisa main gitar. Tapi saya selalu membawanya ke mana-mana. Kenapa? Karena gitar ini adalah simbol. Simbol bahwa suara tidak selalu harus berupa musik. Kadang, suara adalah diam yang berbicara."
Togog terpana. "Bapak ini bukan cuma dalang. Bapak ini filsuf."
"Ah, bukan. Saya cuma orang tua yang banyak waktu untuk berpikir sambil mengepel lantai."
Ki Selo lalu memetik gitar tanpa senar itu, menciptakan bunyi "pluk pluk pluk" yang aneh. "Saya akan ciptakan tokoh bernama 'Si Gitar Tanpa Senar'. Dia adalah seorang pengamen jalanan yang tidak bisa main musik, tapi lagunya didengar oleh seluruh negeri. Karena lagunya bukan dari senar, tapi dari hati. Dia akan menjadi narator dalam pertunjukan kita."
Togog mengangguk. "Siapa lagi?"
"Ada 'Nyi Kardus', seorang penjual gorengan yang diam-diam merekam rapat-rapat rahasia dengan ponsel bututnya. Ada 'Kang Ember', pemulung yang menemukan dokumen-dokumen penting di tong sampah. Ada 'Mbah Jingkrak', nenek-nenek yang jago main media sosial dan bisa bikin thread Twitter yang lebih tajam dari pisau. Mereka semua tidak ada di dunia politik nyata. Tapi mereka ada. Di setiap sudut negeri ini, ada Nyi Kardus, Kang Ember, Mbah Jingkrak. Mereka adalah rakyat yang tidak terlihat, tapi kini akan kita tampilkan di panggung."
Togog merasa merinding. "Ki Selo, saya pikir saya yang akan menulis naskah. Tapi ternyata Bapak yang lebih paham."
"Kita tulis bersama. Saya tahu cerita dari dalam. Bapak tahu cerita dari luar. Kita gabungkan. Kita bikin pertunjukan yang tidak hanya lucu, tapi juga mengharukan. Karena rakyat tidak butuh cuma tawa. Rakyat juga butuh air mata. Air mata yang menyadarkan."
Bagian Empat:
Nyi Kardus dan Ponsel Butut
Tiga hari kemudian, Togog sudah kembali ke Desa Rapat Sari. Bersamanya, Ki Selo yang telah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan. "Saya sudah bosan jadi hantu. Sekarang saatnya jadi dalang," katanya saat menyerahkan surat pengunduran diri kepada kepala bagian kebersihan yang terbelalak tidak percaya.
Mereka disambut oleh Pak Karto, Bu Sarmi, dan Udin. Ketiganya terkejut melihat Togog datang bersama seorang pria tua misterius dengan gitar tanpa senar. Togog memperkenalkan Ki Selo, dan setelah mendengar ceritanya, Pak Karto langsung memeluknya. "Selamat datang di keluarga kami, Ki. Di sini tidak ada jabatan. Yang ada cuma perut lapar dan kemarahan yang siap meledak."
Latihan dimulai. Ki Selo, dengan keterampilan tangannya yang sudah puluhan tahun tidak terpakai, mulai membuat wayang-wayang dari kardus bekas. Tapi wayangnya berbeda dengan wayang Togog. Wayang Ki Selo lebih detail, lebih hidup. Ia bisa membuat tokoh Durjajana dengan cerutu yang benar-benar bisa mengeluarkan asap, rahasianya adalah kapas yang dibakar di belakang layar. Ia bisa membuat tokoh Ratu Duri dengan berlian dari potongan CD bekas yang berkilauan. Ia bisa membuat tokoh Onak Junior dengan ekspresi wajah yang sok keren tapi kelihatan bodoh.
Sementara itu, Togog dan Udin menulis naskah. Togog bertugas menuangkan detail-detail politiknya. Udin bertugas menerjemahkannya ke dalam bahasa yang lucu dan mudah dicerna. "Pak Togog, ini dialognya terlalu berat. Nanti penonton malah ngantuk. Kita kasih banyolan receh sedikit. Misalnya, pas adegan Ratu Duri bilang 'Petani itu tidak perlu kompensasi', kita tambahin suara kentut. Biar penonton tahu bahwa omongan Ratu Duri itu sama busuknya dengan kentut."
Togog tertawa. "Kau ini dalang atau komedian?"
"Dua-duanya, Pak. Di negeri ini, dalang yang tidak lucu akan ditinggal penonton. Dan komedian yang tidak menyindir akan dibayar rezim."
Di tengah latihan, Bu Lastri, pemilik warung Kopi Merdeka, tiba-tiba muncul di Desa Rapat Sari. Ia datang dengan mobil bututnya, membawa serta seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluhan. Perempuan itu kurus, berkacamata tebal, dan selalu menenteng sebuah ponsel butut yang layarnya sudah retak.
"Pak Togog, kenalkan. Ini keponakan saya. Namanya Sari. Tapi orang-orang memanggilnya Nyi Kardus," kata Bu Lastri.
Togog dan Ki Selo saling pandang. "Nyi Kardus? Seperti yang Bapak ceritakan?" tanya Togog.
Ki Selo mengangguk, wajahnya berseri-seri. "Saya tidak menyangka nama yang saya karang ternyata sudah ada orangnya."
Sari, atau Nyi Kardus, tersenyum malu. "Saya sebenarnya hanya pedagang gorengan keliling. Tapi saya suka merekam hal-hal yang saya lihat. Awalnya iseng. Tapi lama-lama saya jadi punya banyak rekaman. Rekaman pegawai korup, rekaman polisi minta suap, rekaman pejabat yang pesta-pesta. Saya simpan semuanya di ponsel ini."
Ia menunjukkan ponselnya. Layarnya retak, casing-nya sudah penyok di sana-sini. Tapi di dalamnya, ada ribuan file rekaman. "Ini ponsel butut, tapi isinya lebih berharga dari ponsel mahal manapun. Karena isinya adalah kebenaran."
Togog menatap ponsel itu dengan kagum. "Kau seperti WikiLeaks, tapi versi gorengan."
"Saya tidak tahu WikiLeaks itu apa. Tapi kalau itu bisa bikin para pejabat takut, saya mau jadi itu."
Ki Selo tertawa. "Nah, ini dia Nyi Kardus yang saya maksud. Dia bisa menjadi tokoh yang menginspirasi rakyat kecil lainnya. Bahwa siapa pun, bahkan penjual gorengan, bisa menjadi ancaman bagi para penguasa."
Sejak hari itu, Nyi Kardus bergabung dengan kelompok Togog. Ia tidak bisa main wayang, tidak bisa nyanyi, tidak bisa main musik. Tapi ia bisa merekam. Ia bisa mendokumentasikan. Ia bisa menyimpan bukti-bukti yang nantinya akan menjadi senjata paling mematikan.
Bagian Lima:
Kang Ember dan Dokumen Ajaib
Seminggu kemudian, kelompok Togog bertambah lagi. Kali ini datang seorang pemulung bernama Ember. Nama aslinya Surya, tapi semua orang memanggilnya Kang Ember karena ia selalu membawa ember plastik besar ke mana-mana. Ember itu adalah alat kerjanya, tempat ia mengumpulkan botol plastik dan kaleng bekas. Tapi di dasar ember itu, di bawah tumpukan sampah, ia menyimpan sesuatu yang lebih berharga: dokumen-dokumen.
Kang Ember menemukan Togog secara tidak sengaja. Ia sedang memulung di sekitar Gedung Rumah Rakyat ketika melihat Togog dan Ki Selo sedang duduk di taman, berdiskusi sambil membawa wayang-wayang kardus. Ia mendekat karena penasaran, dan setelah mendengar percakapan mereka, ia langsung angkat bicara.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja mendengar. Bapak-bapak ini sedang merencanakan perlawanan, ya?" tanyanya.
Togog dan Ki Selo terkejut. "Kau siapa?"
"Saya Ember. Pemulung. Saya sering nemu dokumen-dokumen aneh di tong sampah dekat gedung ini. Kadang isinya rapat-rapat rahasia. Kadang isinya daftar proyek-proyek aneh. Kadang isinya transfer uang yang tidak jelas. Saya kumpulin semua. Saya pikir, siapa tahu suatu hari berguna."
Ki Selo menatap Kang Ember dengan mata berbinar. "Kau... kau Kang Ember! Tokoh yang saya ciptakan dalam cerita! Kau benar-benar ada!"
Kang Ember menggaruk kepalanya yang gatal. "Tokoh? Cerita? Saya tidak ngerti, Pak. Saya cuma pemulung. Tapi kalau dokumen-dokumen ini bisa membantu, saya serahkan semuanya."
Ia lalu mengeluarkan setumpuk kertas kusam dari dasar embernya. Togog dan Ki Selo memeriksanya dengan cepat. Mata mereka membelalak. Di antaranya ada fotokopi transfer uang dari rekening perusahaan milik keluarga Onak ke rekening pribadi Durjajana. Jumlahnya mencapai puluhan miliar. Ada juga draft awal RUU Energi Terbarukan yang berbeda dengan draft resmi yang beredar di parlemen. Draft awal ini lebih eksplisit dalam mencantumkan insentif untuk perusahaan-perusahaan tertentu.
"Kang Ember," kata Togog dengan suara bergetar, "kau baru saja memberi kami harta karun."
"Harta karun? Itu cuma sampah, Pak. Sampah yang dibuang orang-orang kaya. Sampah mereka adalah harta kita?" Kang Ember tampak bingung.
"Ya, Kang. Di negeri ini, sampah orang kaya adalah senjata orang miskin," jawab Ki Selo.
Sejak hari itu, Kang Ember menjadi anggota tetap kelompok. Ia tidak hanya menyumbangkan dokumen-dokumennya, tapi juga menjadi "mata-mata" yang menyamar sebagai pemulung. Setiap hari, ia berkeliling ke kantor-kantor pemerintahan, ke gedung-gedung perusahaan, memulung sampah, dan mencari dokumen-dokumen yang tidak sengaja terbuang. Hasilnya luar biasa. Dalam seminggu, ia sudah mengumpulkan cukup bukti untuk membuat setidaknya lima anggota dewan ketakutan setengah mati.
Bagian Enam:
Mbah Jingkrak dan Thread Twitter
Ketika kelompok Togog sudah mulai berlatih untuk pertunjukan perdana, seorang nenek-nenek muncul di Desa Rapat Sari. Ia datang dengan ojek online, turun dengan lincah meskipun usianya sudah tujuh puluh tahun. Rambutnya putih semua, disanggul dengan tusuk konde dari bambu. Pakaiannya sederhana: kebaya lusuh dan kain batik yang sudah pudar. Tapi di tangannya, ia memegang smartphone terbaru.
"Saya mencari Pak Togog," katanya kepada Pak Karto yang sedang duduk di teras.
"Ada perlu apa, Mbah?"
"Saya dengar dari grup WhatsApp, di sini ada kelompok perlawanan. Saya mau ikut."
Pak Karto terkejut. "Grup WhatsApp? Mbah umur berapa?"
"Tujuh puluh tiga. Tapi jangan remehkan saya. Saya punya tiga akun Twitter, dua akun Instagram, dan satu akun TikTok. Follower saya total hampir setengah juta. Saya adalah Mbah Jingkrak. Mungkin Bapak pernah lihat thread saya yang viral tentang korupsi pupuk?"
Pak Karto belum pernah mendengar, tapi ia segera memanggil Togog. Begitu Togog keluar dan melihat Mbah Jingkrak, ia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Mbah Jingkrak! Tokoh ketiga Ki Selo! Kalian semua benar-benar ada!"
Mbah Jingkrak tersenyum. "Tentu saja saya ada. Saya sudah lama mengikuti berita tentang Togog. Saya kira Bapak cuma legenda. Tapi ternyata Bapak nyata. Jadi, izinkan saya bergabung. Saya tidak bisa main wayang, tidak bisa nyanyi, tidak bisa mulung. Tapi saya bisa bikin thread yang bikin pejabat tidak bisa tidur."
Mbah Jingkrak lalu menunjukkan ponselnya. Di layar, terpampang sebuah thread Twitter yang sudah viral. Isinya membongkar skandal kecil-kecilan di sebuah kementerian. "Ini buatan saya. Cuma modal kopi dan wifi gratisan di alun-alun."
Togog menatap Mbah Jingkrak dengan kagum. "Mbah, Anda adalah bukti bahwa revolusi tidak mengenal usia."
"Revolusi tidak mengenal usia, tidak mengenal gender, tidak mengenal pekerjaan. Revolusi hanya mengenal keberanian. Dan saya, meskipun sudah tua, masih punya keberanian itu. Karena saya ingin cucu-cucu saya hidup di negeri yang lebih baik. Bukan negeri yang dijual oleh segelintir orang rakus."
Mbah Jingkrak resmi menjadi anggota kelompok. Ia mendapat julukan baru: "Sang Penyebar Hoaks Kebenaran". Karena thread-thread-nya, meskipun isinya kebenaran semua, sering dianggap hoaks oleh pemerintah dan media-media milik oligark. Tapi Mbah Jingkrak tidak peduli. "Dulu saya dianggap gila karena suka ngomong sendiri. Sekarang saya dianggap gila karena suka ngomong kebenaran. Sama saja. Lebih baik dianggap gila daripada dianggap penjilat."
Bagian Tujuh:
Latihan dan Lagu-lagu Perlawanan
Dengan bergabungnya Ki Selo, Nyi Kardus, Kang Ember, dan Mbah Jingkrak, kelompok Togog kini bertambah besar. Mereka menamakan diri "Sanggar Wayang Rapat Sari", diambil dari nama desa Pak Karto. Latihan dilakukan setiap malam, di balai desa yang sudah tidak terpakai.
Ki Selo menjadi dalang utama. Ia melatih Udin dan beberapa pemuda lainnya cara memainkan wayang. "Wayang itu bukan cuma boneka. Wayang itu adalah perpanjangan dari jiwa dalangnya. Kalau kau mainkan dengan amarah, wayangmu akan terlihat menakutkan. Kalau kau mainkan dengan cinta, wayangmu akan terlihat hidup."
Togog dan Mbah Jingkrak menulis naskah. Togog menyumbang detail politik dan satir. Mbah Jingkrak menyumbang "bumbu viral", kalimat-kalimat pendek yang mudah diingat dan mudah disebarkan di media sosial. "Pak Togog, dialognya terlalu panjang. Orang sekarang tidak suka baca panjang-panjang. Kita harus bikin kalimat yang bisa di-screenshot, di-share, dan dijadikan status. Misalnya: 'Lebih baik makan nasi tanpa lauk daripada makan janji tanpa bukti.' Atau: 'Mereka bilang etanol itu masa depan. Tapi masa depan siapa? Masa depan kita, atau masa depan kapal pesiar mereka?'"
Togog mengakui kebijaksanaan Mbah Jingkrak. "Mbah, Anda benar. Saya terlalu sibuk dengan Plato dan Aristoteles sampai lupa bahwa rakyat lebih suka mendengar kalimat yang sederhana."
"Plato itu siapa? Apa dia pemain bola?" tanya Mbah Jingkrak polos.
Togog tertawa terbahak-bahak. "Sudahlah, Mbah. Lupakan Plato. Kita pakai bahasa kita sendiri."
Bu Sarmi dan Pak Karto menggubah lagu-lagu. Bu Sarmi yang bersuara merdu menjadi vokalis utama. Pak Karto yang jago main kendang menjadi pengiring. Lagu-lagu mereka adalah campuran dari lagu daerah dan lagu pop yang liriknya diubah menjadi sindiran. Salah satu lagu yang paling populer adalah "Etanol Oh Etanol", yang melodinya diambil dari lagu "Yen Ing Tawang" tapi liriknya diubah menjadi:
"Etanol oh etanol... katamu untuk rakyat... tapi kenapa petani... malah jadi tersingkir... Sawahku ditanami tebu... perutku ditanami lapar... etanol oh etanol... kau bikin aku mabuk... mabuk kemiskinan..."
Lagu ini nantinya akan menjadi anthem gerakan mereka.
Nyi Kardus, dengan ponsel bututnya, merekam setiap latihan. Ia juga bertugas menyebarkan rekaman-rekaman itu ke grup-grup WhatsApp petani di seluruh Mahjong. "Ini bukan sekadar latihan," katanya suatu hari. "Ini adalah dokumentasi sejarah. Suatu hari nanti, anak cucu kita akan menonton rekaman ini dan tahu bahwa kakek nenek mereka pernah melawan."
Kang Ember terus mencari dokumen-dokumen. Setiap kali ia menemukan sesuatu yang baru, ia langsung memberikannya kepada Togog dan Ki Selo. Dokumen-dokumen itu kemudian dimasukkan ke dalam naskah. "Kita harus pastikan bahwa setiap adegan yang kita mainkan didukung oleh fakta," kata Togog. "Kita bukan menyebar fitnah. Kita menyebar kebenaran dengan bungkus wayang."
Bagian Delapan:
Pertunjukan di Pasar Senja
Dua minggu kemudian, seluruh persiapan sudah matang. Togog dan Ki Selo telah menulis naskah sepanjang tiga puluh halaman. Udin dan para pemuda telah mahir memainkan wayang. Bu Sarmi dan Pak Karto telah merekam lagu-lagu mereka dan menyebarkannya melalui Nyi Kardus. Mbah Jingkrak telah menyiapkan thread Twitter yang akan ia posting bersamaan dengan pertunjukan. Kang Ember telah menemukan lebih banyak dokumen, termasuk sebuah memo internal dari perusahaan Onak yang secara eksplisit menyebutkan "target melumpuhkan resistensi petani dalam waktu tiga bulan."
Mereka memutuskan untuk menggelar pertunjukan perdana di Pasar Senja, pasar terbesar di kota kecamatan, yang setiap sore dipenuhi oleh ratusan orang yang baru pulang kerja. Tempat itu strategis. Banyak orang, tapi tidak terlalu terbuka sehingga tidak mudah digerebek. Dan yang paling penting, pasar adalah tempat rakyat biasa. Tempat di mana suara mereka tidak perlu disaring oleh mikrofon mahal.
Sore itu, langit berwarna jingga. Pasar Senja dipenuhi oleh pedagang sayur, penjual ikan, tukang bakso, dan pembeli yang tawar-menawar. Di sudut pasar, dekat tiang bendera yang catnya sudah mengelupas, rombongan Togog mendirikan panggung darurat. Berbeda dengan pertunjukan Togog sebelumnya yang hanya beralas tikar, kali ini mereka punya panggung kecil dari bambu yang dirancang oleh Ki Selo. Di belakang panggung, kain hitam dibentangkan sebagai latar. Di atasnya, lampu petromaks digantung, menciptakan efek cahaya yang dramatis.
Togog, dengan kostum badutnya, topi butut, kaos oblong bertuliskan "Tanya Kenapa", dan sarung yang diselempangkan, naik ke panggung. Ia memukul kendang kecil dari kaleng biskuit untuk menarik perhatian. Dung... dung... dung...
"Warga Pasar Senja! Warga kota kecamatan! Bapak-bapak, Ibu-ibu, anak-anak, kucing-kucing, dan siapa pun yang lewat! Kami dari Sanggar Wayang Rapat Sari mempersembahkan sebuah pertunjukan spesial! Sebuah cerita yang diangkat dari kisah nyata! Sebuah drama tentang... 'Sang Raja Tebu dan Konspirasi Malam di Rumah Rakyat'!"
Orang-orang mulai mendekat. Ada yang penasaran, ada yang iseng, ada yang memang tidak punya hiburan lain. Dalam waktu sepuluh menit, sekitar seratus orang sudah berkumpul. Jauh lebih banyak dari perkiraan. Mbah Jingkrak, yang sudah menyebarkan info di media sosial, tersenyum puas. "Ini baru setengah dari followerku. Yang setengah lagi masih di jalan."
Pertunjukan dimulai. Ki Selo, sebagai dalang utama, duduk bersila di belakang layar. Tangannya yang sudah keriput ternyata masih lincah memainkan wayang. Suaranya yang tadinya pelan dan lirih, kini berubah menjadi merdu dan penuh wibawa saat ia menjadi narator.
"Ini adalah kisah tentang negeri yang kaya raya. Negerinya subur, tanahnya makmur. Tapi kekayaan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang. Sisanya? Sisanya hanya menjadi penonton."
Wayang pertama muncul. Tokoh "Yang Mulia Durjana", bangsawan gemuk dengan cerutu raksasa di mulutnya, hasil karya Ki Selo yang paling lucu sekaligus paling menjijikkan. Wayangnya dibuat dengan perut buncit dari kapas yang dilapisi kardus, dan cerutunya dari kertas rokok yang benar-benar bisa berasap. Setiap kali ia membuka mulut, asap mengepul, membuatnya tampak seperti naga yang baru bangun tidur.
"Selamat datang, rakyatku! Aku adalah wakilmu yang paling setia! Aku akan mendengarkan keluhanmu, mencucurkan air mata untukmu, dan kemudian... menunda-nundanya sampai reses!"
Penonton tertawa. Tapi di balik tawa, ada kemarahan. Mereka tahu persis siapa yang dimaksud.
Kemudian muncul wayang Ratu Duri, dengan berlian dari potongan CD bekas yang berkilauan diterpa cahaya petromaks. Setiap kali ia digerakkan, berliannya memantulkan cahaya ke wajah penonton, menciptakan efek yang aneh: penonton seperti disilaukan oleh kekayaan yang tidak akan pernah mereka miliki.
"Jangan kasih mereka kompensasi! Nanti mereka manja! Naikkan saja harga pupuk! Biarkan mereka kelaparan! Nanti mereka akan dengan senang hati nanam tebu!"
Penonton kini bukan cuma tertawa, tapi juga bergumam. "Wah, keterlaluan sekali ini tokoh," terdengar suara dari kerumunan.
Lalu muncul wayang Tuan Kapal Pesiar, Onak Junior versi kardus. Rambutnya dibuat dari serabut kelapa yang dicat pirang. Matanya sipit, ekspresinya selalu bingung. Setiap kali bicara, suaranya dibuat sengau oleh Ki Selo.
"Aku tidak peduli kalian makan apa! Yang penting saham perusahaanku naik! Aku mau beli kapal pesiar baru! Yang ada kolam renangnya! Yang ada bioskopnya! Yang ada... eh, apa lagi ya? Pokoknya mahal!"
Tawa penonton semakin keras. Tapi kali ini tawanya lebih pedas. Lebih menusuk.
Setelah adegan para oligark dan politisi, muncullah tokoh-tokoh baru ciptaan Ki Selo. Pertama, "Si Gitar Tanpa Senar", seorang pengamen dengan gitar yang tidak bisa berbunyi, tapi setiap kali ia "memainkan" gitarnya, penonton bisa mendengar suara hati mereka sendiri. Ki Selo memainkan tokoh ini dengan penuh perasaan.
"Aku tidak bisa main musik. Tapi aku bisa menyanyi. Lagu ini untuk kalian, wahai rakyat yang terlupakan. Lagu ini untuk kalian, yang suaranya tidak pernah didengar di istana. Dengarlah... dengarlah suara tanpa senar ini... karena di dalam diam, ada jeritan yang lebih keras dari petir."
Suasana mendadak hening. Para penonton terdiam. Ada yang menunduk. Ada yang meneteskan air mata. Tokoh Gitar Tanpa Senar bukan sekadar lucu. Ia adalah simbol. Simbol bahwa rakyat yang tidak punya suara tetap bisa berbicara. Dengan cara mereka sendiri.
Kemudian muncul "Nyi Kardus", penjual gorengan dengan ponsel butut. Wayangnya dibuat dengan tangan kanan memegang ponsel, tangan kiri memegang tahu isi. Setiap kali ia bicara, ia merekam. "Klik! Klik! Semua kurekam. Semua kusimpan. Kalian pikir aku cuma penjual gorengan? Aku adalah mata dan telinga yang tidak bisa kalian tutup!"
Lalu "Kang Ember", pemulung dengan ember besar. Wayangnya digerakkan dengan gaya membungkuk-bungkuk seperti sedang memulung. "Sampah kalian adalah hartaku. Dokumen yang kalian buang adalah senjataku. Kalian tidak pernah peduli pada pemulung. Tapi pemulung peduli pada kalian. Terlalu peduli, malah."
Dan akhirnya, "Mbah Jingkrak", nenek-nenek dengan smartphone di tangan kiri dan tongkat di tangan kanan. Wayangnya dibuat dengan sanggul putih dari kapas dan kacamata dari kawat. Setiap kali ia bicara, suaranya dibuat cempreng oleh Ki Selo.
"Aku sudah tua. Tapi jariku masih lincah. Lihat ini! Thread! Klik! Retweet! Klik! Like! Kalian pikir nenek-nenek cuma bisa bikin kue? Aku bisa bikin pejabat stres hanya dengan satu thread! Cucuku bilang, 'Mbah, jangan main Twitter terus. Nanti darah tinggi.' Aku jawab, 'Justru dengan main Twitter, darahku mendidih. Dan itu sehat! Darah yang mendidih adalah darah yang hidup!'"
Penonton tertawa terbahak-bahak. Mbah Jingkrak yang asli, yang duduk di antara penonton, ikut tertawa. "Itu aku! Itu aku!" serunya bangga.
Pertunjukan berlanjut hingga ke adegan klimaks: rapat rahasia di Ruang Mahoni. Semua tokoh berkumpul. Durjana dengan cerutunya, Ratu Duri dengan berliannya, Tuan Kapal Pesiar dengan kebodohannya. Mereka membahas cara memaksa petani menanam tebu. Tapi tiba-tiba, munculah Gitar Tanpa Senar, Nyi Kardus, Kang Ember, dan Mbah Jingkrak. Mereka menyusup ke dalam ruangan, merekam semuanya, dan menyebarkannya ke seluruh negeri.
Adegan terakhir adalah adegan di mana rakyat berkumpul di depan Rumah Rakyat, membawa wayang-wayang kardus buatan sendiri. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak melempar batu. Mereka hanya memainkan wayang, menertawakan para penguasa, dan menyanyikan lagu "Etanol Oh Etanol".
Bu Sarmi maju ke depan panggung, memimpin penonton menyanyikan lagu itu. Suaranya yang merdu mengalun, diikuti oleh suara seratusan penonton yang ikut menyanyi. Beberapa di antara mereka tidak hafal liriknya, tapi mereka ikut bersenandung. Ini bukan lagi pertunjukan. Ini adalah ibadah. Ibadah perlawanan.
Di akhir pertunjukan, Togog naik ke panggung. Ia tidak membawa wayang. Ia tidak membawa naskah. Ia hanya membawa dirinya sendiri, seorang badut dengan topi butut dan hati yang penuh.
"Saudara-saudara. Pertunjukan ini adalah hiburan. Tapi juga bukan sekadar hiburan. Pertunjukan ini adalah cermin. Jika kalian merasa lucu, maka negeri ini memang lucu. Tapi lucu dalam arti yang menyedihkan. Jika kalian merasa marah, maka kemarahan itu wajar. Tapi jangan biarkan kemarahan itu menjadi bara yang membakar. Jadikanlah kemarahan itu menjadi api yang menerangi. Api yang menunjukkan jalan."
Ia berhenti sejenak. "Kami tidak mengajak kalian untuk membenci. Kami mengajak kalian untuk berpikir. Kami tidak mengajak kalian untuk merusak. Kami mengajak kalian untuk membangun. Tapi membangun dengan kesadaran. Bahwa negeri ini milik kita bersama. Bukan milik segelintir orang yang kebetulan punya uang dan jabatan."
Penonton bertepuk tangan. Bukan tepuk tangan meriah, tapi tepuk tangan yang dalam. Tepuk tangan yang penuh makna.
Saat itulah, terdengar suara sirine. Mobil polisi datang. Dua orang polisi turun, mendekati kerumunan. Tapi kali ini, berbeda dengan pertunjukan Togog sebelumnya di tempat lain. Kali ini, para penonton tidak panik. Mereka tetap duduk, tenang, menunggu.
"Selamat malam, Pak Polisi," sapa Togog ramah. "Mari, gabung. Kami baru saja selesai. Tapi kalau Bapak mau, kami bisa ulangi dari awal. Khusus untuk Bapak."
Polisi senior itu, yang sama dengan polisi yang dulu pernah menggerebek pertunjukan Togog, menghela napas panjang. "Togog. Saya tahu ini kau. Saya sudah hafal gayamu."
"Wah, Bapak penggemar saya? Terima kasih. Nanti saya tanda tangani wayang, ya."
Polisi itu tidak tersenyum. "Kau tidak kapok juga, ya? Sudah berapa kali kutinggal, kau muncul lagi, bikin pertunjukan lagi. Kali ini malah lebih besar."
"Karena kebenaran tidak bisa dikapokkan, Pak. Seperti kata pepatah, 'Hari ini ditangkap, besok tumbuh lagi.'"
Polisi itu menggeleng. "Aku tidak akan menangkapmu. Atasanku sudah muak. Setiap kali kami menangkapmu, media sosial malah ramai. Kau jadi semakin populer. Kami yang kelihatan bodoh."
"Jadi... kami boleh lanjut?"
"Boleh. Tapi jangan terlalu malam. Ini sudah jam sembilan. Kasihan warga yang besok harus bangun pagi."
Togog tersenyum lebar. "Baik, Pak! Tertib kami. Sebelum bubar, izinkan kami menyanyikan satu lagu lagi."
Dengan isyarat, Bu Sarmi mulai menyanyi. Kali ini lagunya bukan sindiran, tapi lagu yang menyentuh hati. Lagu tentang tanah air, tentang harapan, tentang cinta yang tidak akan pernah padam.
Polisi itu berdiri di pinggir kerumunan, mendengarkan. Entah mengapa, ia tidak pergi. Mungkin di hatinya, ia juga setuju. Tapi tugas adalah tugas. Dan malam ini, tugasnya adalah... tidak melakukan apa-apa.
Bagian Sembilan:
Bara yang Menyebar
Video pertunjukan di Pasar Senja menyebar dengan kecepatan yang tidak terduga. Kali ini, bukan cuma akun-akun anonim yang menyebarkan. Beberapa media kecil yang masih independen mulai meliputnya. Surat kabar kampus. Radio komunitas. Bahkan sebuah stasiun televisi lokal yang putus asa karena ratingnya terus turun, memutuskan untuk menayangkan cuplikan pertunjukan itu dengan judul: "Wayang Kardus: Hiburan Rakyat atau Ancaman Negara?"
Mbah Jingkrak, dengan keahliannya, membuat thread Twitter tentang pertunjukan itu. Thread-nya menjadi viral, mendapatkan puluhan ribu retweet dalam waktu dua hari. Akun-akun besar mulai ikut menyebarkan. Para influencer yang tadinya hanya peduli pada makeup dan makanan, tiba-tiba ikut berkomentar tentang "wayang kardus yang lucu dan menyindir."
Pemerintah pusat, yang tadinya mengabaikan, mulai panik. Durjajana mengadakan rapat darurat dengan para ketua fraksi. "Ini sudah darurat! Mereka bukan cuma main wayang di pasar. Mereka sudah menyebar ke mana-mana! Ada yang bilang, di Kota Pelabuhan juga sudah muncul kelompok peniru. Di Kota Pegunungan juga. Bahkan di kampung halaman saya sendiri!"
Anindyaputri, yang biasanya tenang, kali ini tampak gugup. "Media sosial kita sudah tidak bisa membendung. Tagar WayangKardus dan EtanolOhEtanol trending terus. Setiap kali kita suruh hapus, muncul lagi. Lebih banyak lagi."
"Kita harus tangkap dalangnya!" seru Onak Junior, yang seperti biasa, solusinya selalu yang paling bodoh. "Tangkap Togog! Tangkap Ki Selo! Tangkap semua!"
"Tidak bisa," jawab Durjajana muram. "Kita tidak punya alasan hukum. Mereka tidak melanggar undang-undang. Mereka hanya main wayang. Wayang itu seni budaya. Kalau kita tangkap mereka, kita akan dianggap anti budaya. Itu bunuh diri politik."
Ratu Duri, yang ikut dalam rapat itu melalui telekonferensi, bersuara dengan dingin. "Kalau tidak bisa ditangkap secara hukum, kita harus lawan dengan cara lain. Aku sudah bilang, kita harus bikin pertunjukan tandingan. Saya sudah menyewa dalang profesional. Namanya Ki Gunasasmita. Dia terkenal di seluruh Mahjong. Dia bisa bikin pertunjukan yang lebih megah, lebih lucu, dan lebih menghibur. Rakyat akan melupakan wayang kardus itu."
"Tapi, Bu," sela Purnamajaya, yang suaranya terdengar ragu, "rakyat tidak sebodoh itu. Mereka tahu mana yang asli dan mana yang bayaran."
"Kalau pertunjukan tandingan tidak berhasil, kita pakai cara lain." Ratu Duri menatap dingin ke arah kamera. "Kita infiltrasi kelompok mereka. Kita cari tahu kelemahannya. Setiap orang punya kelemahan. Termasuk Togog."
Bagian Sepuluh:
Ki Gunasasmita dan Wayang Kemasan
Dua minggu setelah pertunjukan di Pasar Senja, sebuah pertunjukan besar digelar di alun-alun kota kecamatan. Namanya "Festival Wayang Nusantara." Panggungnya megah, dengan lampu sorot warna-warni, sound system canggih, dan layar LED raksasa di belakang panggung. Dalangnya adalah Ki Gunasasmita, seorang dalang kondang yang biasanya tampil di hotel-hotel berbintang dan acara-acara kenegaraan. Tarifnya sekali tampil bisa mencapai puluhan juta. Tapi kali ini, ia dibayar oleh konsorsium Onak dan Duri dengan tarif yang jauh lebih tinggi.
Ki Gunasasmita adalah pria berusia lima puluhan, berbadan gemuk, dengan suara bariton yang menggetarkan. Ia mengenakan beskap mahal dan blangkon berlapis emas. Wayang-wayangnya bukan dari kardus, melainkan dari kulit kerbau pilihan, diukir dengan detail yang memukau, dan dicat dengan warna-warna cerah. Pertunjukannya berjudul "Sang Petani dan Ajaibnya Etanol."
Ceritanya tentang seorang petani miskin yang hidupnya sengsara karena menanam padi. Lalu datanglah seorang pahlawan bernama "Tuan Energi" yang mengajarinya menanam tebu. Awalnya si petani ragu, tapi setelah mencoba, hidupnya berubah drastis. Sawahnya menghasilkan uang berlimpah. Anaknya bisa sekolah. Istrinya bisa beli perhiasan. Desanya menjadi makmur berkat etanol.
Di akhir cerita, Ki Gunasasmita berseru, "Inilah bukti bahwa etanol adalah masa depan! Jangan takut pada perubahan! Tinggalkan padi yang kuno! Sambutlah tebu yang modern!"
Ribuan orang menonton. Mereka terhibur. Wayangnya bagus. Ceritanya lucu. Musiknya megah. Tapi ada yang aneh. Saat pertunjukan selesai, tidak ada yang menyanyi. Tidak ada yang menangis. Tidak ada yang merasa tersentuh. Mereka hanya bertepuk tangan dengan sopan, lalu pulang. Itu saja.
Togog, yang menonton dari kejauhan bersama Ki Selo, tersenyum. "Lihat, Ki. Mereka punya uang. Mereka punya teknologi. Tapi mereka tidak punya hati."
Ki Selo mengangguk. "Wayang itu bukan tentang kemewahan. Wayang adalah tentang kebenaran. Dan kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang."
Mbah Jingkrak, yang juga ikut menonton, langsung membuat thread Twitter. Isinya membandingkan pertunjukan Ki Gunasasmita dengan pertunjukan mereka. Judulnya: "Wayang Emas vs Wayang Kardus: Mana yang Lebih Berharga?"
Thread itu langsung viral. Banyak yang berkomentar bahwa wayang kardus lebih "asli", lebih "membumi", lebih "berjiwa". Seorang warganet menulis, "Wayang emas cuma menghibur. Wayang kardus menyadarkan. Aku lebih butuh disadarkan daripada dihibur."
Bagian Sebelas:
Infiltrasi dan Pengkhianatan
Ratu Duri tidak tinggal diam. Setelah kegagalan wayang tandingan, ia melancarkan strategi berikutnya: infiltrasi. Ia menyewa seorang mantan intelijen swasta bernama Laksana. Pria ini terkenal dengan kemampuannya menyamar dan mengorek informasi. Misinya: masuk ke dalam kelompok Togog, cari kelemahan mereka, dan hancurkan dari dalam.
Laksana menyamar sebagai seorang petani dari desa jauh yang tanahnya juga akan dikonversi menjadi kebun tebu. Ia datang ke Desa Rapat Sari dengan cerita yang menyentuh: istrinya meninggal karena stres, anaknya putus sekolah, dan ia kini sendirian berjuang. "Saya dengar di sini ada kelompok perlawanan. Saya mau ikut. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi," katanya dengan air mata buaya.
Pak Karto, yang baik hati, langsung menerimanya. Tapi Togog curiga. Ada sesuatu dalam tatapan Laksana yang tidak beres. "Orang ini matanya terlalu jeli," bisik Togog kepada Ki Selo. "Dia selalu mencatat. Selalu bertanya. Selalu ingin tahu di mana kami menyimpan dokumen, siapa saja anggota kami, apa rencana kami selanjutnya."
Ki Selo setuju. "Kita awasi saja. Tapi jangan langsung tuduh. Siapa tahu dia benar-benar petani."
Selama seminggu, Laksana berbaur. Ia ikut latihan, ikut membuat wayang, ikut menyanyi. Ia bahkan memberikan ide-ide cemerlang untuk pertunjukan berikutnya. "Kita harus bikin adegan di mana para petani berhasil menduduki gedung parlemen. Itu akan membakar semangat rakyat," usulnya suatu hari.
"Itu terlalu radikal," jawab Togog. "Kita tidak mau kekerasan. Kita mau perubahan melalui kesadaran, bukan melalui pendudukan."
Laksana mengangguk, tapi di dalam hatinya ia mencatat: "Togog menolak kekerasan. Ini bisa dipakai untuk mendiskreditkan dia di mata kelompok yang lebih radikal."
Suatu malam, Nyi Kardus memergoki Laksana sedang menyelinap di dekat gudang tempat mereka menyimpan dokumen-dokumen Kang Ember. "Sedang apa, Kang?" tanyanya curiga.
"Ah, saya cuma cari wayang yang jatuh tadi siang," jawab Laksana gugup.
Nyi Kardus tidak percaya. Ia melapor kepada Togog. Malam itu juga, Togog, Ki Selo, dan anggota inti lainnya mengadakan rapat rahasia, kali ini benar-benar rahasia, bukan seperti rapat di Ruang Mahoni.
"Dia mata-mata," kata Togog. "Aku yakin. Tapi kita tidak bisa langsung menuduhnya tanpa bukti."
"Kita bisa menjebaknya," usul Mbah Jingkrak. "Kita kasih dia informasi palsu. Kalau informasi itu sampai ke telinga polisi atau media punya oligark, berarti dia benar mata-mata."
Semua setuju. Keesokan harinya, Togog dengan sengaja memberi tahu Laksana bahwa kelompoknya akan menggelar pertunjukan rahasia di sebuah gudang di luar kota, dan di sana mereka akan mengumumkan "aksi pendudukan" gedung parlemen. Informasi itu palsu. Tidak ada rencana pendudukan.
Dua hari kemudian, polisi menggerebek gudang itu. Tapi tentu saja, gudang itu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Sementara itu, Mbah Jingkrak memantau media sosial. Benar saja, sebuah akun anonim menyebarkan informasi bahwa "kelompok wayang kardus akan menduduki parlemen." Akun itu langsung dilacak oleh Mbah Jingkrak dan ternyata terhubung dengan alamat IP yang sama dengan ponsel Laksana.
"Kena kau!" seru Mbah Jingkrak.
Laksana ditangkap basah. Ia mencoba mengelak, tapi bukti sudah jelas. "Saya hanya menjalankan tugas," katanya akhirnya. "Saya dibayar oleh Ratu Duri."
Pak Karto, yang tadinya paling baik pada Laksana, kini menatapnya dengan kecewa. "Kau mengkhianati kami. Padahal kami sudah anggap kau saudara."
Laksana menunduk. "Saya... saya butuh uang. Anak saya sakit."
"Anakmu sakit, lalu kau jual kami?" Bu Sarmi menangis. "Kami juga punya anak, Kang. Anak-anak kami juga sakit. Sakit karena tidak bisa sekolah. Sakit karena tidak cukup makan. Tapi kami tidak menjual siapa pun. Kami melawan dengan cara yang benar."
Laksana dibiarkan pergi. Togog melarang anggotanya untuk menyakitinya. "Kita bukan seperti mereka. Kita tidak pakai kekerasan. Biarkan dia pergi. Ceritakan pada majikannya bahwa kita tahu. Bahwa kita tidak takut."
Laksana pergi dengan membawa rasa bersalah yang mendalam. Entah apa yang terjadi padanya setelah itu. Ada yang bilang ia kembali ke kota dan berhenti bekerja untuk Ratu Duri. Ada yang bilang ia malah menjadi simpatisan gerakan Togog. Tapi yang jelas, upaya infiltrasi itu gagal total.
Bagian Dua Belas:
Sidang di Senayan dan Gumpalan Lumpur Kedua
Sementara wayang Togog terus menyebar dan upaya infiltrasi gagal, RUU Energi Terbarukan akhirnya masuk ke jadwal sidang paripurna. Sesuai rencana, Durjajana dan kawan-kawannya menjadwalkan sidang pada jam-jam sepi, agar tidak banyak wartawan yang meliput. Tapi mereka tidak memperhitungkan satu hal: media sosial dan jaringan rakyat yang sudah terbentuk.
Beberapa anggota dewan yang masih punya hati nurani, atau setidaknya, masih takut dengan konstituennya, mulai membocorkan jadwal sidang. Tagar RUUEnergiPengkhianatan mulai trending. Rakyat turun ke jalan, bukan dengan amarah, tapi dengan... wayang.
Ribuan orang berkumpul di depan Gedung Rumah Rakyat. Mereka membawa wayang kardus buatan sendiri. Wayang Durjana, wayang Ratu Duri, wayang Kapal Pesiar. Wayang Gitar Tanpa Senar, wayang Nyi Kardus, wayang Kang Ember, wayang Mbah Jingkrak. Mereka memainkan adegan-adegan dari pertunjukan Togog. Polisi yang berjaga tidak bisa berbuat apa-apa. Atas dasar apa mereka menangkap orang yang sedang main wayang?
Di dalam gedung, sidang berlangsung dengan tegang. Durjajana, yang memimpin sidang, tampak gugup. Suara dari luar, tawa, nyanyian, genderang, menembus dinding dan mengganggu konsentrasi. Beberapa anggota dewan mulai ragu. Apakah mereka akan tetap mendukung RUU ini dan menghadapi kemarahan rakyat? Ataukah mereka akan menarik dukungan dan menyelamatkan kursi mereka di pemilu berikutnya?
Togog, yang kali ini diundang sebagai "peninjau" oleh salah satu fraksi oposisi, duduk di balkon. Ia mengenakan setelan jas yang dipinjam dari seorang teman, jas yang kekecilan di bagian perut sehingga ia harus menahan napas sepanjang sidang. Tapi ia tetap di sana, menyaksikan. Di sebelahnya, Ki Selo, Nyi Kardus, Kang Ember, dan Mbah Jingkrak juga hadir. Mereka datang sebagai "rombongan seniman" yang diundang oleh fraksi oposisi. Mbah Jingkrak sibuk dengan ponselnya, membuat thread langsung dari dalam ruang sidang.
Ketika giliran voting tiba, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Purnamajaya, si mantan anak petani yang dulu ikut dalam rapat rahasia itu, tiba-tiba berdiri. Wajahnya pucat. Suaranya bergetar.
"Saudara Ketua, rekan-rekan sekalian. Saya... saya ingin menyampaikan sesuatu sebelum voting dimulai."
Semua mata tertuju padanya. Durjajana menatapnya dengan tajam, seolah memberi peringatan.
"Saya sudah lama menjadi anggota dewan ini. Saya sudah banyak mengambil keputusan. Ada yang benar, ada yang salah. Tapi malam ini, saya tidak bisa tidur. Saya teringat kata-kata almarhum bapak saya, yang dulu seorang petani. Beliau bilang, 'Nak, kalau jadi orang jangan lupa diri. Tanah ini yang besarkan kamu. Jangan kau jual tanah ini.'"
Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Saya tahu, RUU ini akan menguntungkan banyak pihak. Tapi saya juga tahu, RUU ini akan merugikan lebih banyak pihak. Petani-petani kecil. Buruh-buruh tani. Keluarga-keluarga yang hidupnya bergantung pada padi, bukan tebu. Saya... saya tidak bisa."
Ia lalu mengambil sebuah benda dari sakunya. Sebuah gumpalan lumpur kering, yang diambilnya diam-diam dari meja rapat setelah pertemuan dengan petani Rapat Sari dua minggu lalu. Ia meletakkannya di atas meja sidang.
"Ini tanda tangan petani. Ini suara mereka. Suara yang tidak bisa kita abaikan hanya karena mereka tidak punya uang untuk menyewa pelobi."
Ruang sidang gempar. Durjajana memukul palu berkali-kali. "Saudara Purnamajaya, ini tidak sesuai prosedur! Angkat gumpalan lumpur itu dari meja!"
Tapi Purnamajaya tidak bergerak. Beberapa anggota dewan lain ikut berdiri. "Kami juga menarik dukungan!" seru salah satu dari mereka. "Kami tidak mau jadi pengkhianat rakyat!"
Kekacauan terjadi. Anggota dewan saling berteriak. Wartawan yang tadinya hanya sedikit, kini membanjiri ruangan, entah dari mana datangnya. Kamera menyorot gumpalan lumpur di atas meja sidang yang megah. Sebuah kontras yang lebih fasih daripada seribu editorial.
Togog, di balkon, meneteskan air mata. Air mata kemenangan. Air mata haru. Ia tidak menyangka bahwa dari semua orang, justru Purnamajaya, yang dulu ikut dalam rapat rahasia itu, yang menjadi pahlawan. Mungkin benar kata Petruk dulu, "Manusia bisa berubah, Gog. Bahkan Sengkuni pun bisa menangis jika kau sentuh hatinya dengan cara yang tepat."
Voting akhirnya ditunda. RUU Energi Terbarukan tidak jadi diketok palu malam itu. Dan rakyat di luar, yang mendengar berita itu dari siaran langsung ponsel, bersorak-sorai. Wayang-wayang kardus diangkat tinggi-tinggi. Genderang ditabuh lebih keras. Malam itu, rakyat menang.
Epilog:
Surat dari Petruk dan Kelanjutan Perjuangan
Beberapa minggu setelah sidang bersejarah itu, Togog kembali ke Astina. Ia duduk di beranda rumah kontrakannya, menyeruput kopi tubruk, dengan Demokrasio berkicau riang di sangkarnya. Di tangannya, sebuah surat dari Petruk.
"Gog, aku dengar ceritamu di Mahjong. Hebat. Kau berhasil mengulangi Revolusi Badut di negeri orang. Dan kali ini dengan pemain yang lebih banyak: dalang tua, penjual gorengan, pemulung, dan nenek-nenek Twitter. Itu adalah tim yang sempurna. Tim yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh uang, karena mereka tidak butuh uang. Mereka hanya butuh keadilan.
Tapi ingat, kemenangan ini baru satu babak. Pertempuran masih panjang. Oligark tidak akan menyerah hanya karena satu RUU ditunda. Mereka akan kembali, dengan strategi yang lebih halus, dengan kemasan yang lebih indah. Ratu Duri pasti sudah menyusun rencana baru. Onak Junior mungkin sudah membeli kapal pesiar baru untuk melupakan kekalahannya. Dan Durjajana, aku dengar, sedang sibuk mencari cara untuk mengembalikan kepercayaan para oligark.
Jadi, jangan berhenti jadi badut. Dunia masih butuh wayang kardusmu. Dan salam untuk teman-teman barumu: Ki Selo, Nyi Kardus, Kang Ember, dan Mbah Jingkrak. Mereka adalah pahlawan sejati. Pahlawan yang tidak akan pernah masuk buku sejarah, tapi akan selalu dikenang oleh rakyat.
PS: Aku dikirim Pandawa untuk magang di Mahjong bulan depan. Katanya mereka mau belajar 'diplomasi wayang' dan 'strategi nenek-nenek Twitter'. Kau ada waktu? Aku traktir kopi di warung netralnya Mak Iti. Kali ini aku yang pilih tempat. Warung Kopi Merdeka milik Bu Lastri. Aku dengar kopinya lebih aman dari aplikasi chatting manapun."
Togog tersenyum. Ia melipat surat itu, lalu mengambil buku catatannya. Ia mulai menulis naskah baru. Kali ini tentang seorang badut yang tidak sengaja mendengar rapat rahasia di toilet, dan bagaimana gumpalan lumpur bisa lebih berharga daripada emas, dan bagaimana gitar tanpa senar bisa menyanyikan lagu yang lebih keras dari semua speaker di dunia.
Di luar, matahari terbenam. Demokrasio berkicau. Togog menyeruput kopinya. Perjuangan belum selesai. Tapi untuk sekarang, ia boleh beristirahat sejenak. Besok, ia akan kembali. Dengan wayang kardusnya. Dengan tawanya. Dengan kebenarannya.
TAMAT
Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi. Kalau ada kesamaan dengan realitas, itu cuma kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, karena realitas kadang lebih absurd daripada fiksi

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.