Yang pertama, berambut pirang kepirangan dengan swirl ajaib yang digerakkan oleh hukum aerodinamika entah dari mana, adalah Donald J. Trump, mantan presiden yang masih percaya bahwa dirinya adalah presiden. Yang kedua, berambut putih salju dengan ketebalan yang mengundang decak kagum tukang sulap, adalah Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel yang masa jabatannya lebih panjang daripada daftar dakwaan terhadapnya. Keduanya ditemani semangkuk popcorn raksasa dan segelas Diet Coke yang jumlah kalorinya sama dengan janji kampanye: nol, tapi bikin ketagihan.
“Bibi, dengarkan aku,” Trump memulai, tangannya mengepal seperti akan memukul bola golf imajiner. “Iran. Negara itu. Selalu saja. Kita sudah coba semuanya. Sanksi paling dahsyat, paling keras, sanksi yang bahkan bikin Kim Jong-un bilang, ‘Wah, itu keterlaluan.’ Tapi mereka tetap saja memperlakukan kita seperti restoran fast food yang buka drive-thru untuk nuklir.”
Netanyahu mengangguk, sambil matanya melirik ke arloji, bukan untuk mengecek waktu, melainkan memastikan tidak ada mikrofon dari jaksa agung yang tertanam di rantainya. “Donald, sahabatku, Iran adalah kucing Persia. Kalau kau usir dari taman, dia akan kembali lewat pintu belakang sambil menjilati bulunya. Kita butuh sesuatu yang... monumental. Seperti waktu kau pindahkan Kedutaan Besar ke Yerusalem. Itu brilian.”
“Itu aku!” seru Trump, tiba-tiba berdiri dan menunjuk ke satu-satunya lukisan dirinya bertubuh Rambo yang tergantung di atas perapian marmer. “Aku yang melakukannya. Semua orang bilang tidak mungkin. Jaringan berita palsu CNN, MSNBC, ABCDEFG, semuanya bilang akan ada perang dunia ketiga. Ternyata yang terjadi hanya parade kemenangan tanpa akhir. Iran seharusnya ketakutan sekarang. Tapi mereka malah... santai. Kenapa mereka santai, Bibi? Kenapa mereka tidak takut padaku?”
Netanyahu menyesap air putih, bukan karena diet, tetapi karena istrinya, Sara, mengirim SMS bahwa hari ini puasa sumpah jabatan untuk menangkal jin pengadilan. “Mungkin, Donald, karena mereka mengira kita hanya bisa menggonggong. Kau tahu, seperti pudel yang dilatih untuk menggonggong ‘Kematian bagi Amerika’ tapi tidak punya gigi. Maksudku... gigi yang bisa menggigit secara literal, bukan gigi palsu dari Tiongkok yang kita impor.”
Trump mengabaikan metafora gigi itu. “Oke, aku akan tunjukkan mereka. Kita akan bikin operasi. Operasi besar, paling dahsyat, paling indah, begitu indahnya sampai kamu akan menangis bahagia. Aku akan memimpin sendiri dari sini, memakai remote control yang terkoneksi ke iPhoneku. Kamu, Bibi, akan jadi wakil komandan. Kita sebut saja... OPERATION PERSIAN FURY.”
“Kedengarannya seperti judul film laga yang tidak lulus sensor,” gumam Netanyahu. “Tapi baiklah, aku setuju. Asal jangan libatkan Menachem Begin, karena dia sudah meninggal. Dan jangan libatkan Jared. Jared masih sibuk mengurus perdamaian Timur Tengah yang ke-537, kali ini antara pabrik hummus di Ramallah dengan burung merpati di Tel Aviv.”
Maka, dimulailah rangkaian kegagalan paling epik dalam sejarah upaya penggulingan kekuasaan Iran oleh dua orang yang percaya bahwa segalanya bisa diselesaikan lewat akun Twitter, perjanjian real estate, dan kekuatan sugesti massal.
Serangan Khusus Tweet Baja
Keesokan paginya, Trump duduk di toilet emasnya, tempat dia mengaku mendapatkan inspirasi terbaik, sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Jemarinya menari di atas layar seperti kobra yang tersengat listrik. Netanyahu, yang baru saja menyelesaikan panggilan konferensi dengan pengacara kelima belasnya, masuk dengan hati-hati, takut jangan-jangan pintu toilet itu ternyata portal ke dimensi lain.
“Aku akan men-tweet mereka, Bibi. Aku akan men-tweet mereka dengan keras,” kata Trump tanpa menoleh. “Ini akan menjadi tweet paling spektakuler. Aku akan sebut mereka... ‘Penguasa Korup yang Menyedihkan’. Itu akan menghancurkan moral mereka. Dulu Korea Utara gemetar ketika aku panggil Kim ‘Rocket Man’. Kim sampai mengirim surat cinta padaku.”
Netanyahu menatap layar yang dipamerkan Trump. Di sana sudah tertulis draf tweet dengan huruf kapital semua, seolah kapitalisasi adalah senjata pemusnah massal. Bunyinya:
“IRAN ADALAH NEGARA YANG SANGAT BURUK, DIPIMPIN OLEH ORANG-ORANG YANG TIDAK PINTAR! MEREKA PIKIR MEREKA HEBAT DENGAN NUKLIR TAPI EKONOMINYA LEBIH KACAU DARIPADA RESTORAN STEAK YANG TIDAK PUNYA SAUS A1! SAYA AKAN MEMBUAT IRAN HEBAT KEMBALI, TAPI DENGAN CARA YANG TIDAK MEREKA SUKA! SAD!”
“Menurutku, Donald, frasa ‘kacau daripada restoran steak’ terlalu spesifik dan mungkin tidak relevan secara budaya,” Netanyahu menyarankan dengan nada seorang arsitek yang melihat retakan di Fondasi. “Orang Iran lebih sensitif terhadap... harga kacang pistachio. Atau larangan ekspor karpet. Kau seharusnya bilang, ‘Karpet kalian penuh ngengat!’ Itu akan lebih menyakitkan.”
Trump melotot. “Karpet? Karpet? Bibi, kita bukan mau melawan toko perabot. Kita mau melawan mullah! Mereka tidak peduli dengan karpet, kecuali karpet ajaib yang bisa terbang. Tunggu... apakah mereka punya karpet ajaib? Kalau iya, kita butuh anti-pesawat yang bisa membedakan karpet dari drone. Kamu ada teknologi itu di Mossad?”
Sebelum Netanyahu menjawab, tweet itu sudah terkirim. Akibatnya langsung terasa di lorong-lorong maya. Retweet, like, dan komentar membanjiri, tapi bukan dari akun pendukung MAGA atau troll pro-Israel. Balasan paling populer datang dari akun resmi Pemimpin Tertinggi Iran, @Khamenei_IR (yang asli atau palsu, tidak ada yang tahu), dengan sebuah gambar meme: Trump sebagai karakter kucing Garfield, berbaring di atas tumpukan uang, dengan teks: “AKU BENCI SENIN, TAPI MAKSIATMU LUCU.” Meme itu viral dalam hitungan menit. Akun-akun media sosial Garda Revolusi ikut meramaikan dengan mengunggah video pendek: seorang pria mirip Trump menari salsa dengan bendera Iran sambil memegang semangka, buah yang katanya simbol perlawanan.
Netanyahu menonton video itu di tabletnya, lalu menutup mata rapat-rapat. “Ini tidak baik. Mereka membalas dengan meme dan tarian. Artinya mereka tidak menganggap kita ancaman serius. Ini lebih buruk daripada perang. Ini adalah perang psikologis tingkat dewa.”
Trump bangkit dari toiletnya, wajahnya semerah saus tomat. “Oh, jadi mereka mau main meme? Main tarian? Aku juga bisa menari. Aku penari terbaik. Semua orang bilang begitu. Aku bisa menari lebih bagus dari ‘penari salsa’ gadungan itu.” Dia mulai melakukan gerakan tangannya yang terkenal, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “the Trump Jutsu”, sebuah tarian yang mirip orang memeraskan jeruk tapi tidak tahu di mana jeruknya berada.
Dua jam kemudian, Trump mengunggah video balasan dari studio darurat yang dibangun di ruang dansa Mar-a-Lago, dikelilingi penari latar yang direkrut dari klub golf setempat. Video itu menampilkan Trump, mengenakan tuksedo emas, melakukan gerakan yang dia sebut “The Sanctions Shuffle”. Liriknya: “Kau dapat nuklir, aku dapat tweet / Ekonomimu jatuh, aku tetap di suite / Kamu kira hebat, tapi salah besar / Aku presiden, kau cuma penguasa lapar...” Video itu diposting dengan judul: “TRUMP MENARI LEBIH BAIK DARI PEMIMPIN IRAN!”
Alih-alih malu, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran justru mengundang Trump untuk tampil di Festival Film Internasional Fajr sebagai “seniman perlawanan yang pantas diapresiasi”. Mereka bahkan mengirimkan undangan resmi melalui email yang subjeknya tertulis: “Untuk Penari Yang Lebih Baik Dari Kami”. Undangan itu tiba di folder spam, sehingga tidak pernah dibaca.
Operasi pertama: gagal total. Skor Iran vs. Trump-Netanyahu: 1-0.
Kapal Selam Nuklir dan Misteri Koordinat yang Hilang
Setelah malu di arena menari global, Netanyahu memutuskan sudah waktunya untuk pendekatan yang lebih serius. Ia mengundang Trump ke Tel Aviv, tepatnya ke bunker rahasia di bawah Kementerian Pertahanan. Bunker itu dilengkapi dengan layar raksasa, tombol-tombol berwarna permen, dan pendingin udara yang terlalu dingin hingga napas mereka berubah menjadi embun, suasana yang menurut Trump “mirip toko daging beku.”
“Donald,” Netanyahu memulai, suaranya bergema, “kita akan melakukan serangan presisi terhadap fasilitas pengayaan uranium di Fordow. Tapi tidak dengan rudal biasa. Kita akan menggunakan kapal selam kelas Dolphin yang telah dimodifikasi. Kapal selam ini bisa menyelinap di bawah Teluk Persia seperti belut mekanik. Tidak ada yang akan tahu.”
Trump mengangguk antusias. “Aku suka kapal selam. Kapal selam itu seperti rudal yang berenang. Aku pernah punya ide untuk membuat kapal selam pribadi bernama ‘The Trumpmarine’. Tapi ternyata tidak ada gunanya kalau tidak bisa parkir di depan Mar-a-Lago. Baiklah, mari kita lakukan. Aku akan mengontrol serangan dari iPad-ku. Kamu punya koneksi internet di sini? Paling tidak secepat Twitter.”
Tahap perencanaan berjalan rumit. Kepala Staf IDF menyampaikan bahwa koordinat target harus tepat, karena jika meleset sedikit saja, bom bisa mengenai sekolah, rumah sakit, atau, yang lebih buruk secara diplomatik, pabrik kacang pistachio yang memasok Whole Foods di Amerika.
Trump tiba-tiba mendapat ide brilian. “Kenapa kita tidak pakai Google Maps saja? Aku selalu pakai Google Maps untuk menemukan McDonald’s. Aku bisa mencari ‘Fasilitas Nuklir Iran’ dan akan muncul. Sederhana.” Dia lalu mengetik di iPad. Hasil pencarian menampilkan beberapa lokasi, antara lain: “Restoran Fast Food Uran-A-Peel”, “Toserba Atomik Qom”, dan “Panti Pijat Centrifuge”.
“Ini membingungkan,” gerutu Trump. “Mana yang benar?”
Netanyahu menunjuk ke salah satu titik. “Itu dia, di dekat Qom. Tapi jangan gunakan Google Maps. Kami punya koordinat intelijen yang tepat: 34.3768° LU, 50.8062° BT.”
Trump memasukkan koordinat itu ke aplikasi catatannya. Namun, karena fitur auto-correct di iPad-nya yang terlalu agresif, saat ia mengetik “34.3768”, sistem mengubahnya menjadi “34.3768 GOLF BALLS”. Angka bujur “50.8062” berubah menjadi “50.8062 HAMBURGERS”. Alhasil, ketika perintah peluncuran diberikan melalui pesan teks ke kapal selam (karena Trump tidak mau repot dengan protokol militer yang rumit), koordinat yang terkirim bukanlah koordinat Fordow, melainkan koordinat sebuah lapangan golf mini di Pulau Kish dan sebuah restoran burger di pusat kota Teheran.
Kapal selam Dolphin, yang dikomandani oleh seorang kapten yang sangat patuh dan tidak pernah bertanya, meluncurkan enam rudal jelajah tepat pukul tiga dini hari. Rudal pertama mendarat di lapangan golf mini Pulau Kish, menghancurkan kincir angin plastik di hole ke-7 dan menciptakan bunker pasir raksasa yang secara tidak sengaja justru memperindah lapangan. Tiga rudal berikutnya menghantam restoran burger “Big Mullah” di Teheran, yang untungnya sedang tutup karena pemiliknya sedang mengikuti pengajian malam, dan mengubahnya menjadi kawah raksasa yang langsung dijadikan lokasi syuting video musik protes oleh anak-anak muda setempat. Dua rudal terakhir entah bagaimana berbelok karena gangguan sinyal GPS yang dikirim oleh seekor unta yang tanpa sengaja menginjak pemancar sinyal, dan jatuh di Gurun Dasht-e Kavir, menciptakan danau buatan berisi air payau. Dalam waktu seminggu, danau itu menjadi destinasi wisata baru yang dinamai “Danau Martir Trump” oleh warga lokal, lengkap dengan penyewaan perahu bebek.
Televisi pemerintah Iran langsung menyiarkan kejadian itu dengan narasi: “Agresi Zionis-Amerika telah gagal total dan malah memberikan berkah berupa lapangan golf yang lebih menantang, kawah yang estetis untuk ekspresi seni, dan objek wisata air baru. Kami mengucapkan terima kasih kepada musuh kami yang tidak kompeten.” Ayatollah Khamenei sendiri merilis pernyataan singkat: “Allah telah menjadikan kebodohan musuh-musuh kami sebagai tameng yang lebih kuat dari baja.”
Trump menyaksikan laporan itu dari bunker sambil menghancurkan segelas air mineral. “Ini tidak mungkin. Aku memasukkan koordinat dengan benar. Aku lulusan Wharton School of Finance! Aku tahu angka!”
Netanyahu membuka aplikasi Translate untuk mencari arti “kebodohan” dalam bahasa Persia. “Yang Mulia, sepertinya iPad-mu mengira kita memesan makanan dan bermain golf. Kita baru saja menghancurkan kincir angin dan membuat danau. Ini seperti kisah Don Quixote, tapi dengan hulu ledak.”
“Don Quixote siapa? Dia jenderal Iran?” bentak Trump.
“Bukan, dia karakter fiksi yang menyerang kincir angin karena mengira itu raksasa.”
Trump berpikir keras. “Jadi... karakter itu melakukan kesalahan yang sama denganku? Berarti aku selevel tokoh sastra klasik. Ini sebenarnya bagus. Aku akan menulis memoar: ‘Aku dan Kincir Angin: Perang Melawan Ilusi’. Akan jadi buku terlaris.”
Skor: Iran 2, Duo Dinamis 0.
Kunjungan Rahasia Jared dan Perjanjian Abad Ini Versi 784
Karena dua operasi militer gagal, Netanyahu memutuskan untuk mencoba pendekatan diplomatik. “Donald, kita perlu melunakkan hati Iran dengan tawaran yang tidak bisa mereka tolak. Aku akan mengirim utusan khusus. Seseorang yang supel, tampan, dan bisa membuat kesepakatan dalam tidurnya.”
Trump menatap langit-langit, lalu berseru, “Jared! Pasti Jared! Menantuku. Dia sudah menciptakan Perjanjian Abraham. Dia bikin negara-negara Arab berdamai dengan Israel seolah-olah itu cuma transaksi properti. Jared bisa menjual pendingin udara ke Eskimo. Jared bisa menyelesaikan konflik Israel-Palestina, eh... mungkin belum yang itu. Tapi dia bisa!”
Maka, Jared Kushner, si menantu ajaib berwajah tanpa cela dan senyum yang begitu tulus hingga bisa membius ular, dikirim dalam misi rahasia ke Teheran. Misi ini disebut “Operasi Karpet Merah Damai”. Dengan jet pribadi tak bertanda, Jared mendarat di Bandara Mehrabad, disambut oleh para pejabat Kementerian Luar Negeri Iran yang penuh senyum dan membawa buket bunga mawar Damaskus, jenis bunga yang konon bisa membuat tamu lupa akan agenda semula.
Pertemuan berlangsung di Istana Niavaran, di bawah lukisan raksasa burung Simurgh. Jared, duduk bersila di atas karpet Persia senilai tiga apartemen di Manhattan, memaparkan proposalnya dengan PowerPoint yang berjudul “Damai Seindah Taman Eden: Diskon Spesial”.
“Tuan-tuan,” Jared memulai, suaranya tenang, “kami ingin Iran bergabung dalam Perjanjian Abraham. Bayangkan, negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain sudah menikmati kerja sama ekonomi dengan Israel. Kini giliran Anda. Kami menawarkan: penghapusan sanksi, investasi besar-besaran di sektor AI dan blockchain, serta suplai hummus organik bersertifikat kosher. Sebagai imbalannya, Iran cukup berhenti menyanyikan ‘Mampus Amerika’ setiap hari Jumat dan menunda program nuklir sekitar... seribu tahun.”
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian (yang dalam cerita ini memiliki selera humor tinggi dan kumis yang bisa mendeteksi kebohongan), tersenyum tipis. “Tuan Kushner, kami sangat menghargai presentasi Anda yang penuh grafik batang dan clip art merpati. Namun, kami memiliki ide balasan. Kami setuju berdamai dengan Israel, bahkan mengakui hak hidup Yahudi, dengan syarat-syarat berikut: Pertama, Israel harus mengakui bahwa negara Palestina memiliki ibu kota di Yerusalem Timur, tetapi juga di... Shiraz. Bagian bersejarahnya, tentu saja, agar kita bisa mengklaim makam Koresh Agung sebagai bagian dari narasi nasional Palestina. Kedua, setiap perjanjian harus disertai dengan ekspor tahunan 50.000 karpet Persia bergambar Masjid Al-Aqsa ke Tel Aviv. Ketiga, sebagai simbol perdamaian, semua pejabat Israel harus belajar menari Persian Bandari di depan umum. Dan keempat, Timnas sepak bola Iran boleh otomatis lolos ke Piala Dunia tanpa kualifikasi.”
Jared mencatat sambil mengerutkan kening. Secara naluri bisnis real estate, dia tahu ada jebakan di sini. “Jadi... Anda ingin mencaplok Shiraz ke dalam Palestina? Itu seperti kami memberikan New Jersey ke Meksiko. Secara geografis, agak nyeleneh. Tapi mungkin bisa dinegosiasikan. Bagaimana kalau kita tawarkan kota Kish untuk menjadi zona ekonomi khusus bersama? Dan soal tarian, saya tidak yakin Bibi bisa menari. Pinggulnya kaku karena terlalu lama duduk di kursi perdana menteri.”
Abdollahian tertawa. “Kish? Kau sudah menghancurkan lapangan golf kami di sana, Jared. Atau setidaknya bosmu yang melakukannya. Sekarang Kish kekurangan hole ke-7. Kami mau ganti rugi berupa pulau buatan. Mungkin dari Israel?”
Perdebatan berlangsung alot selama tujuh jam, diselingi makan siang dengan menu kebab dan tahdig yang renyah. Akhirnya tercapai sebuah naskah kerja yang aneh: “Perjanjian Damai dan Saling Pengertian Melalui Seni Kuliner dan Geografi Kreatif”. Dalam draf itu, Israel akan memberi Iran teknologi desalinasi air, sementara Iran akan mengizinkan ziarah Yahudi ke makam Ester dan Mordekhai tanpa visa. Masalah nuklir akan diselesaikan dengan cara mengubah reaktor Arak menjadi pabrik es krim saffron, yang akan diekspor ke seluruh Timur Tengah dengan label “Ice Cream of Peace”.
Jared pulang dengan membawa draf itu, merasa dirinya telah menyelamatkan dunia. Namun, begitu tiba di Washington (via Mar-a-Lago, tentu saja), Trump membaca draf tersebut dan melemparkannya ke perapian. “Apa-apaan ini, Jared? Mereka minta kita bangun pabrik es krim? Nuklir jadi es krim? Es krim saffron? Itu kan es krim mahal! Ini jebakan. Mereka mau buat kita bangkrut dengan es krim mewah! Dan soal tarian, aku satu-satunya yang boleh menari dalam perjanjian. Ini memalukan!”
Netanyahu juga membaca draf itu via email terenkripsi. Kepalanya langsung terasa berat, seperti baru memikul seluruh lembar dakwaan. “Jared, kau dengan polosnya menyerahkan kedaulatan koreografi kami kepada Iran. Sara, istriku, tidak akan pernah setuju. Dia tidak suka Persian Bandari. Dia lebih suka Zumba. Dan soal Shiraz jadi ibu kota Palestina, itu akan memicu perdebatan sejarah yang bisa berlangsung hingga abad ke-22. Kita butuh solusi lain.”
Maka, Perjanjian Abad Ini versi 784 berakhir di tong sampah digital. Iran mengumumkan di media bahwa mereka tertawa selama dua hari dua malam di parlemen. Sebuah meme Jared sebagai pangeran Persia dari film Aladdin beredar luas, lengkap dengan monyet Abu yang wajahnya diganti dengan Trump.
Skor: Iran 3, Duo 0.
Operasi Badai Pasir Digital, Perang Hacker yang Salah Sistem
Setelah kegagalan militer dan diplomatik, Netanyahu merasa malu karena Mossad, lembaga intelijen kebanggaan Israel, belum berbuat banyak. Maka, dia memanggil kepala Unit 8200, divisi perang siber Israel yang katanya mampu meretas apa saja, dari pabrik pengayaan uranium hingga mesin penjual cokelat di Pyongyang.
“Saya mau kalian lumpuhkan sistem komando Iran,” titah Netanyahu di ruang rapat bawah tanah yang penuh dengan monitor holografik. “Serang web Garda Revolusi. Curi data-data doktrinal. Dan, tolong, jangan sampai salah sasaran. Terakhir kali ada operasi, kita tidak sengaja meng-hack server game Pokemon Go di Teheran dan membuat semua Charmander berkumpul di depan masjid Jumat. Itu bencana PR.”
Komandan unit, seorang perwira muda berkacamata dengan janggut tipis dan kaos bertuliskan “Ctrl+Alt+Devastate”, tersenyum percaya diri. “Jangan khawatir, Pak Perdana Menteri. Kami sudah siapkan worm super canggih. Namanya ‘Shakingsphere’, gabungan dari Shakespeare dan sphere. Kode ini bisa memasuki sistem pertahanan Iran dan memutar rekaman deklamasi Hamlet dalam bahasa Farsi, membuat para operator mereka bingung dan terlena dalam renungan eksistensial.”
Rencana itu terdengar filosofis. Bahkan Trump yang mendengar via telekonferensi dari tempat tidur emasnya langsung antusias. “Hamlet? Aku suka drama! Aku produser acara TV ‘The Apprentice’. Itu kan drama juga. Kita harus tambahkan kalimat pamungkas: ‘You’re fired!’ Itu akan jadi pukulan telak.”
Maka, worm diluncurkan pada tengah malam, menargetkan jaringan tertutup militer Iran. Namun, Tim Keamanan Siber Garda Revolusi Iran, yang dikenal dengan nama “Kucing Persia Mengepung” (Persian Cat Siege), telah mendeteksi intrusi itu sejak awal. Mereka bukannya memblokir, melainkan malah menyambut worm itu dengan gembira dan langsung membajaknya.
Kepala tim siber Iran, seorang wanita muda bernama Atefeh yang hobinya main catur dan menonton anime, memutuskan untuk membalikkan worm tersebut dengan sentuhan humor. Dia memprogram ulang “Shakingsphere” agar alih-alih mendeklamasikan Hamlet, worm itu mengirim ribuan pesan pop-up ke seluruh komputer di Israel, dari kantor perdana menteri hingga pom bensin di Eilat. Isi pop-up itu adalah teks-teks puisi cinta Hafez yang diterjemahkan secara ngawur ke dalam bahasa Ibrani oleh Google Translate, dengan bingkai bergambar khayalan Presiden Iran Ebrahim Raisi sedang memeluk kucing Persia sambil tersenyum.
Bunyi salah satu puisi: “Wahai kekasihku dari Zion / Hatimu bagaikan falafel yang digoreng dalam minyak kerinduan / Kulitmu adalah pagar pembatas tapi matamu adalah Tepi Barat yang tak berdinding...” dan seterusnya.
Di tengah-tengah bait puisi, ada gambar animasi Raisi dengan balon dialog: “CINTA ITU JEMBATAN, BUKAN TEMBOK. TAPI KALAU MAU TEMBOK JUGA, KITA PUNYA YANG BAGUS. KIRIM DM!”
Yang lebih fatal, worm yang sudah dibajak itu juga menyusup ke sistem Audio di mobil-mobil Israel yang terkoneksi internet. Saat pengemudi menyalakan radio, alih-alih mendengar berita politik, yang keluar adalah lagu pop Iran berjudul “Joonam” dengan lirik diubah: “Joonam, Bibi joonam, kenapa kau serius sekali? Santai, mari minum teh.”
Kemacetan di Tel Aviv menjadi kacau balau. Orang-orang turun dari mobil sambil tertawa, menyangka ada festival budaya. Netanyahu, yang sedang dalam perjalanan ke ruang sidang, mendengar lagu itu dari iring-iringan mobil dinasnya. Wajahnya pias. “Ini bukan perang siber, ini konser cinta virtual! Mereka mengirim Sufi hafiz ke firewall kita!”
Sementara itu, Trump yang menunggu update di Mar-a-Lago, menerima laporan bahwa komputer di resornya juga terinfeksi. Tiba-tiba, layar monitor besar di ruang dansa yang biasa menampilkan angka jajak pendapat Fox News, menayangkan video slow-motion dirinya sedang memeragakan “The Sanctions Shuffle” diedit dengan wajah-wajah pemimpin Iran yang ditambahkan efek hati berterbangan ala anime. Video itu diberi judul: “TRUMP DAN AYATOLLAH: KISAH CINTA TERLARANG SEBERANG TELUK.” Musik latarnya adalah lagu “My Heart Will Go On” versi santur Persia.
Trump terpana, lalu dengan nada aneh berkata, “Sebenarnya efek hatinya tidak buruk. Aku kelihatan sangat tampan. Tapi kenapa ada Khomeini? Mereka tidak boleh mencampurku dengan Khomeini. Khomeini tidak bisa menari. Aku bisa. Anggap saja ini penghinaan dengan bentuk pujian. Jadi... kita menang 50%.”
Netanyahu berteriak dari sambungan telepon, “Tidak, Donald. Kita kalah 100%! Mereka memporak-porandakan mental bangsa kami dengan puisi dan emoji! Tentara saya sekarang bukannya berjaga, malah mencari terjemahan kata ‘rindu’ dalam bahasa Farsi! Kita harus merespons dengan operasi psikologis balasan. Saya usul kita kirim video istrimu, Melania, membaca puisi Bialik.”
“Jangan libatkan Melania,” potong Trump. “Dia cuma mau baca kalau itu bagian dari kontrak. Tapi aku setuju. Kita kirim sesuatu. Kita kirim pidatoku. Pidato terbaikku. Aku akan bacakan pidato ‘Api dan Kemurkaan’, tapi khusus untuk Iran, dengan versi lebih puitis: ‘Api, kemurkaan, dan... kebingungan, yang belum pernah dunia lihat sebelumnya.’ Mereka akan bingung. Tanpa sensor.”
Maka, direkamlah pidato Trump selama 30 menit dari Studio Emas Mar-a-Lago, dikirim melalui semua saluran yang berhasil mereka retas balik. Isinya adalah ancaman yang tidak jelas, pujian untuk dirinya sendiri, dan penawaran membeli properti di Teheran dengan harga miring. Pidato itu diterima oleh Kantor Pemimpin Tertinggi dan diputuskan untuk dijadikan nada dering resmi untuk telepon umum di seluruh Iran selama seminggu. Hasilnya: rakyat Iran malah menjadikan kutipan-kutipan Trump sebagai candaan di bazar, dan pengusaha suvenir mulai memproduksi kaus bertuliskan “Saya Bingung, Tapi Kamu Juga” dalam bahasa Inggris dan Farsi, dengan karikatur Trump mengangkat bahu.
Skor: Iran 4, Duo Kewalahan 0.
Operasi Borakh, Ketika Cuaca Menjadi Musuh
Putus asa, duet Trump-Netanyahu mengadakan rapat darurat di Camp David, yang disulap menjadi markas badai otak. Hadir pula para penasihat aneh: seorang jenderal yang selalu memakai seragam loreng meskipun di dalam ruangan, seorang ilmuwan gila yang menemukan cara mengubah pasir menjadi kaca, dan seorang koki pribadi Trump yang bertugas memastikan menu steak well-done tidak hangus.
Trump mengetuk meja. “Kita sudah coba via darat, laut, udara, siber, sampai kartun. Semua gagal. Kenapa? Karena kita terlalu baik. Kita terlalu terpaku pada aturan. Sekarang, saatnya perang yang sebenarnya. Operasi Badai Pasir! Bukan, Badai Gurun sudah dipakai oleh Bush senior. Bagaimana dengan... Operasi Putaran Tornado Merah Muda? Itu keren.”
Netanyahu menyela, “Kita butuh kejutan. Kejutan total. Saya telah mengaktifkan kembali proyek rahasia: ‘Sayap Zion’, sebuah pesawat siluman yang tertutup oleh cat reflektif gelombang radar dari sayap kelelawar dan doa rabbi. Pesawat ini bisa menjatuhkan bom ‘Spice 3000’ dengan akurasi 0,1 milimeter. Kita akan menargetkan satu objek simbolis: menara Azadi di Teheran. Bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk menulis grafiti di atasnya dengan ledakan presisi, bertuliskan: ‘TRUMP & BIBI DI SINI, IRAN MAMPUS’. Itu akan menghancurkan moral mereka.”
“Ini seni, Bibi. Seni!” puji Trump. “Tapi kenapa harus ‘Mampus’? Kurang diplomatis. Bagaimana kalau ‘Iran, Kamu Kalah Telak’? Lebih sopan.”
Rencana disetujui. Pesawat siluman “Sayap Zion” lepas landas dari pangkalan rahasia di Negev pada tengah malam, dipiloti oleh seorang kapten bernama Yoni, yang sebelumnya bertugas sebagai pilot drone dan hobi bermain Tetris. Pesawat itu benar-benar tak terdeteksi radar Iran, melesat di ketinggian rendah melewati pegunungan Zagros.
Namun, alam berkata lain. Sebuah fenomena cuaca aneh, yang oleh para ahli meteorologi Israel disebut “badai pasir mikro dengan kepribadian”, tiba-tiba muncul tepat di atas rute penerbangan. Badai itu bukan badai biasa; badai itu mengandung partikel magnetik dari tambang besi alam di dekat Isfahan, yang bereaksi dengan cat siluman pesawat. Akibatnya, pesawat yang tadinya tak terlihat di radar, justru mulai bersinar terang benderang, memantulkan warna-warni aurora, seperti disko terbang raksasa. Penduduk kota-kota kecil di bawahnya bangun dan mengira sedang ada festival cahaya atau kunjungan alien yang baik hati.
Di kokpit, Kapten Yoni panik. “Markas, kami mengalami... ehm, transformasi visual. Pesawat berubah menjadi bola disko. Apakah ini bagian dari rencana? Over.”
Di Camp David, Netanyahu membeku. “Bola disko? Tidak ada dalam rencana! Itu pasti ulah Iran! Mereka mungkin punya laser pesta yang bisa mengubah siluman menjadi hiburan!”
Trump malah bersorak, “Bola disko? Aku su sekali disko! Aku raja disko tahun 80-an! Suruh dia teruskan. Mungkin bisa mengajak rakyat Iran berdansa damai.”
Namun, malang. Cahaya terang itu membuat pesawat terlihat jelas oleh pertahanan udara Iran. Bukan rudal yang dikerahkan, karena Jenderal Iran memutuskan ini kesempatan propaganda, melainkan segerombolan drone quadcopter yang dilengkapi spanduk besar bertuliskan: “SELAMAT DATANG PESTA MALAM! SILAHKAN MAMPIR MINUM TEH.” Drone-drone itu mengelilingi Sayap Zion dan menggiringnya dengan sopan menuju Bandara Mehrabad, sambil menembakkan confetti dan kembang api kecil.
Kapten Yoni tidak punya pilihan selain mendarat. Pesawat siluman canggih itu mendarat mulus di landasan bandara, disambut oleh orkes tradisional dan sekelompok anak-anak yang melambaikan bendera Iran dan Israel secara bersamaan. Seorang pejabat protokol Iran melangkah maju, memberikan karangan bunga, dan berkata dalam bahasa Inggris yang beraksen Oxford, “Selamat datang di Teheran, Kapten. Kami harap penerbangan Anda menyenangkan. Sangat disayangkan Anda melewatkan festival malam kami yang sebenarnya. Anda diundang untuk makan malam bersama keluarga kami. Ada ghormeh sabzi yang enak.”
Berita itu sampai ke Camp David. Trump dan Netanyahu saling pandang dengan mulut terbuka. Pilot mereka, yang seharusnya menjatuhkan bom, kini sedang disuguhi makanan tradisional dan diajak selfie oleh petugas bandara. Televisi Iran menyiarkan langsung: “Pesawat Siluman Zionis Mendarat dengan Damai, Membawa Pesan Tersembunyi: Mereka Lapar!” Gambar Kapten Yoni tersenyum canggung sambil memegang sendok menjadi headline koran pagi.
“Setidaknya dia tidak ditangkap,” kata Netanyahu dengan nada pasrah. “Itu adalah penculikan dengan keramahan. Lebih buruk dari penjara, karena dia akan pulang dan bercerita bahwa ghormeh sabzi mereka enak. Moral pasukan kita bisa runtuh.”
Trump termenung. “Ghormeh sabzi... Itu makanan dari sayuran? Aku tidak suka sayur. Steak lebih baik. Mungkin ini rahasianya: kita harus mengalahkan mereka dengan steak. Kirim steak beku ke seluruh Iran, dan ketika mereka ketagihan, kita boikot. Itu ide jenius.”
Skor: Iran 5, Duo Konyol 0. Sang pilot lalu dijadikan selebriti dadakan di Iran, muncul di talkshow, dan menikah dengan gadis setempat setelah masuk Islam dengan nama “Younes”. Mossad hanya bisa menggaruk kepala.
Operasi Daging Sapi dan Sandiwara Sanksi Terbalik
Trump tidak bercanda soal steak. Setelah debat panjang di mana Netanyahu bersikeras bahwa daging sapi tidak halal dan tidak bisa digunakan sebagai senjata terhadap negara Muslim, Trump memutuskan untuk menjalankan “Operasi Porterhouse” seorang diri, atau setidaknya, dengan bantuan pengusaha daging dari Texas yang merupakan donatur kampanyenya.
Rencananya sederhana: membanjiri Iran dengan daging sapi termahal dan paling lezat hingga mereka kecanduan, lalu menariknya tiba-tiba sebagai sanksi baru yang menyakitkan. “Mereka akan menjilati piring dan menangis minta ampun!” seru Trump dalam acara penggalangan dana di Houston.
Ratusan kontainer daging sapi beku, mulai dari wagyu hingga tenderloin, dikirim melalui jalur belakang melalui Dubai, Oman, dan bahkan Afghanistan. Begitu memasuki pasar gelap Iran, daging-daging itu didistribusikan dengan harga sangat murah, hampir gratis, oleh jaringan agen buatan yang terdiri dari pedagang karpet yang tidak curiga.
Efeknya justru berkebalikan. Di Iran, daging sapi selama ini adalah barang mewah. Begitu daging melimpah, rakyat bergembira. Mereka mengadakan “Festival Grill Nasional” spontan. Di taman-taman, trotoar, bahkan atap rumah, orang-orang memanggang shish kebab dan burger, menikmati daging empuk yang sebelumnya hanya akrab di foto-foto Instagram para diplomat. Hastag #DagingSapiMurah pun viral, dan banyak yang memuji “Tuhan telah mengirim daging dari langit” – tanpa menyadari itu dari Trump.
Para mullah memandang fenomena ini dengan campuran antara heran dan syukur. Ayatollah Khamenei mengeluarkan fatwa situasional: “Daging sapi dari musuh yang tidak diketahui asal-usulnya halal jika dimakan dengan niat mengolok-olok mereka. Barang siapa menolak daging gratis, dia telah menolak rezeki Allah yang dikirim melalui jalan yang sesat.”
Trump, melihat berita bahwa rakyat Iran mengadakan pesta daging, mula-mula bingung. “Kenapa mereka senang? Aku baru akan mencabut dagingnya setelah mereka ketagihan. Tapi sepertinya mereka sudah senang duluan. Apakah ini berarti aku sudah berbuat baik secara tidak sengaja?” Dia langsung menulis tweet: “IRAN SEKARANG MAKAN SEPERTI RAJA BERKAT SAYA! TAPI TUNGGU SAJA SAMPAI SAYA CABUT DAGINGNYA, MEREKA AKAN MENDERITA! SAD!”
Tapi terlambat. Iran sudah membangun industri penggemukan sapi sendiri dalam waktu singkat, dengan menyilangkan sapi lokal dengan embrio yang diselundupkan dari kontainer daging beku itu. Mereka menciptakan “Sapi Martir” yang berbulu lembut dan menghasilkan susu tinggi protein. Para insinyur pertanian Iran malah berterima kasih kepada program “Transfer Teknologi Sapi” yang tak disengaja.
Netanyahu menelepon Trump dengan suara seperti habis mengunyah lemon. “Donald, Anda telah menciptakan revolusi peternakan di Iran! Mereka sekarang swasembada daging sapi. Ini sanksi yang paling gagal sejak kita mencoba memblokade kopi mereka dan malah membuat mereka juara barista Timur Tengah.”
Skor: Iran 6, Trump sang Dermawan 0. Kini di setiap bazar Iran, ada patung sapi kecil dari tanah liat bertuliskan “Sapi Trump: Pembawa Kemakmuran”, dijual sebagai suvenir oleh anak-anak. Trump tidak tahu apakah harus bangga atau marah.
Deklarasi Bomb Kartun di PBB
Netanyahu menyadari bahwa semua pendekatan kongkret gagal. Ia kembali ke metode lamanya yang paling sukses: presentasi kartun di Majelis Umum PBB. Pada 2012, ia pernah memukau dunia dengan gambar bom kartun dan spidol merah, yang meskipun dikritik, sangat ikonik. Kini, ia akan mengulanginya dengan teknologi lebih mutakhir.
Dengan bantuan animator dari Pixar (yang direkrut melalui koneksi Trump di Hollywood), Netanyahu menyiapkan sebuah video 3D berdurasi 15 menit yang menampilkan bom Iran sebagai karakter mirip Bola Salju jahat dalam film animasi, dengan suara mirip Trump yang disulih suarakan (tanpa izin). Video itu menunjukkan si bom berwajah seram berusaha menyelinap ke berbagai ibukota, tapi dihadang oleh pahlawan super bernama “Captain Bibi” dan sidekick-nya “Little Donnie”. Adegan klimaksnya adalah bom itu terjatuh ke lubang besar berisi lumpur, sambil berteriak “AKU AKAN KEMBALI! TAPI SETELAH PELAJARI BAHASA PERSIA KUNO!”
Pada hari pidato, Netanyahu naik podium dengan percaya diri, membawa remote presentasi. Di hadapan para diplomat dunia, ia berkata, “Hari ini, saya akan menunjukkan ancaman sesungguhnya. Sebuah ancaman yang bukan hanya untuk Timur Tengah, tapi untuk semua karakter kartun di dunia!” Layar besar menampilkan video tersebut.
Awalnya, para hadirin tampak terkesima dengan animasi yang halus. Namun, begitu karakter “Little Donnie” muncul, sebuah figur pendek berambut oranye yang selalu berteriak, “Kamu dipecat!” dan “Bangun tembok!”, tawa mulai pecah. Lalu, bom jahat itu tiba-tiba, karena kesalahan penyuntingan, malah menari-nari mengikuti irama lagu “Bella Ciao” versi remix, yang entah bagaimana tersisipkan oleh si animator sebagai lelucon internal. Hadirin PBB pun tergelak.
Yang lebih buruk, delegasi Iran sudah siap. Ketika video berakhir, perwakilan Iran, yang hari itu adalah seorang diplomat tua berjanggut putih, bangkit dari kursinya dan mengeluarkan... spidol merah. “Terima kasih, Tuan Netanyahu, atas hiburan yang menggemaskan. Sebagai tanggapan, kami ingin melaporkan bahwa program nuklir kami sekarang sudah mencapai level yang lebih tinggi: kami telah berhasil membangun... BOM CINTA.” Dia lalu berjalan ke papan tulis kosong yang tiba-tiba digelar oleh stafnya, dan mulai menggambar hati besar, sangat besar, dengan spidol merah. Di dalam hati itu, dia menggambar bendera Israel dan Iran bergandengan tangan. “Bom cinta ini tidak memiliki daya ledak, tapi memiliki daya leleh. Melelehkan kebencian menjadi tarian. Kami mengundang seluruh dunia untuk bergabung dalam latihan perang cinta kami minggu depan, yang bertajuk ‘Zumba untuk Zionis, Pilates untuk Persia’.”
Tepuk tangan meriah mengguncang aula. Netanyahu, yang berdiri di podium, memegang remote dengan tangan gemetar. Spidol merah itu telah membalas dendam. Trump, yang menyaksikan dari layar di Mar-a-Lago, menghubungi Netanyahu lewat pesan singkat: “Bibi, kenapa kamu tidak bilang spidol bisa jadi senjata? Aku bisa bawa spidol emas! Aku selalu bawa spidol. Kita kalah berdebat soal alat tulis?!”
Skor: Iran 7, Duo Spidol vs Spidol 0. Keesokannya, spidol merah merek Iran laris manis di toko-toko alat tulis di seluruh dunia sebagai “Perlawanan Damai”.
Operasi Bawah Sadar, Mimpi Buruk yang Terjual
Setelah episode PBB, mereka mencoba pendekatan psikologi. Seorang “ahli perang bawah sadar” yang mengaku pernah menasihati militer Soviet, meski umurnya baru 40 tahun, direkrut. Idenya: mengirim pesan subliminal ke dalam mimpi para pemimpin Iran melalui teknologi gelombang theta yang dipancarkan dari satelit.
“Kami akan menanamkan dalam mimpi mereka bahwa setiap kali mereka memperkaya uranium, mereka akan berubah menjadi donat,” jelas si ahli dengan serius. “Donat adalah simbol ketidakberdayaan. Semua orang suka donat, tapi takut menjadi donat.”
Trump sangat menyukai ide itu karena melibatkan makanan. “Donat! Aku suka donat. Aku bisa makan empat donat dalam satu menit. Kalau para Mullah bermimpi jadi donat, aku akan memakannya dalam mimpi itu. Itu kemenangan psikologis.”
Netanyahu, meski skeptis, menyetujui pendanaan kecil. Satelit diluncurkan diam-diam dari pangkalan di Kazakhstan. Namun, karena kesalahan pemrograman oleh kontraktor yang lebih suka main Candy Crush, gelombang theta bukannya menargetkan otak para pemimpin Iran, melainkan otak seluruh penduduk Qatar, karena koordinatnya tertukar (Doha dan Teheran sama-sama diawali huruf D dan T, begitu alasan kontraktor). Akibatnya, seluruh penduduk Qatar, termasuk Emir, serempak mengalami mimpi buruk tentang donat raksasa yang mengejar mereka dengan lagu “Hatikvah” versi dangdut. Hubungan diplomatik Israel dengan Qatar, yang tadinya membaik diam-diam, langsung anjlok. Emir Qatar mengirim protes keras: “Kenapa kami? Kami bahkan tidak punya program nuklir! Dan kenapa donat? Itu kan makanan penutup yang damai!”
Trump dan Netanyahu saling menyalahkan. “Kamu yang bilang Qatar mirip Iran karena sama-sama di Teluk,” ujar Netanyahu.
“Energi di Teluk itu sama semua, Bibi. Gelombang tidak bisa membedakan negara mana yang punya tim sepak bola bagus!” balas Trump.
Skor: Iran tetap 7, tapi Qatar sekarang jadi 1 karena ikut kena. Ketidakmampuan mereka kini merambat ke negara lain.
Drone Pembalas dan Balet Pelabuhan
Iran, yang sejauh ini hanya bertahan dengan gaya satir, akhirnya memutuskan untuk melancarkan satu serangan balasan langsung, tapi tetap dalam bingkai humor. Mereka mengumumkan “Operasi Balet Beracun”: mengirim 500 drone kecil yang membawa bukan bom, melainkan kotak-kotak kecil berisi kue tradisional Iran seperti baklava, sohan, dan gaz, ke tiga kota di Israel. Drone-drone itu akan menjatuhkan kue-kue di atas atap rumah secara acak, dengan catatan kecil: “Dari rakyat Iran, supaya kalian manis seperti kami. Tolong berhenti mencoba meledakkan kami. Hormat kami, Tetangga.”
Namun, karena angin kencang, drone-drone itu terbawa ke arah selatan dan menjatuhkan muatan tepat di atas pangkalan udara Palmachim. Para tentara Israel yang berjaga menemukan hujan baklava di landasan pacu. Awalnya mereka mengira serangan kimia. Setelah laboratorium lapangan memeriksa dan mendapati itu hanya kue legit dengan kadar gula tinggi, mereka malah mengadakan pesta kecil di bunker.
Netanyahu marah besar. “Mereka membius prajurit saya dengan sirup dan pistachio! Ini senjata biologis kuliner! Bagaimana kita bisa melawan jika mereka terus mengirim makanan enak?”
Trump justru iri. “Kenapa mereka tidak mengirim ke Mar-a-Lago? Aku ingin baklava. Aku bisa menjualnya di toko suvenirku. Ini diskriminasi. Aku akan tweet bahwa Iran memberikan makanan gratis hanya untuk Yahudi, tidak untuk Kristen. Itu akan membuat evangelikal marah.”
Tapi sebelum tweet itu dikirim, ajudan mengingatkan bahwa itu justru akan memperburuk citra. Akhirnya, Trump mengklaim bahwa dia sebenarnya sudah pernah menerima baklava dari Iran secara diam-diam, tapi dia tidak suka karena kurang gula. “Mereka tidak tahu cara membuat dessert sebaik aku. Kueku, Trump Cake, adalah yang terbaik.”
Skor: Iran 8, Duo Gemetar 0.
Baju Tahan Peluru dan Harimau Persia
Putus asa, Trump mengusulkan operasi darat. “Kita kirim pasukan khusus. Navy SEALs. Delta Force. Dan temanku, orang-orang dari dunia gulat. Kita akan menyusup melalui perbatasan Afghanistan, menunggangi kuda seperti Rambo, dan menangkap Pemimpin Tertinggi saat dia sedang berpidato. Aku sendiri yang akan memimpin, memakai baju zirah dari emas murni.”
Netanyahu menatap Trump seolah pria itu baru saja mengusulkan membangun taman hiburan di atas gunung berapi. “Kuda? Anda mau menunggang kuda dari Afghanistan ke Teheran? Medannya pegunungan, gurun, ladang ranjau. Dan baju zirah emas akan berkilat, menjadi sasaran empuk.”
“Itu kan kejutannya! Mereka tidak akan menembak karena mengira aku patung Oscar,” sahut Trump.
Rencana gila itu disusun dan akhirnya disetujui setelah Trump mengancam akan memboikot sumbangan ke Partai Likud. Pasukan kecil yang terdiri dari sukarelawan bergaya Rambo, ditambah seorang pawang ular dan seekor kambing yang dipercaya sebagai maskot, disusupkan melalui perbatasan timur. Tapi seperti biasa, intelijen Iran sudah mengetahui segalanya berkat jaringan informan mereka yang tersebar di... toko hewan peliharaan di Dubai (karena penyamaran agen menggunakan kambing, kambing itu dibeli dari situ dan sudah dipasangi chip).
Alih-alih menyergap, Garda Revolusi menyambut rombongan itu dengan panggung musik dan tarian etnis. Di lembah terpencil, saat rombongan Trump (tanpa Trump karena Trump hanya mau ikut kalau ada helikopter) kelelahan dan kehausan, tiba-tiba terdengar alunan setar dan ney. Muncul sekelompok pria berkostum tradisional, membawa bendera bertuliskan “Selamat Datang Wisatawan Pemberani”. Mereka menawari air dingin, buah delima, dan menunjukkan jalan pintas menuju kota terdekat, Qazvin, untuk beristirahat.
Sang komandan pasukan, seorang Mayor bengal bernama Rick, mencoba menolak. “Kami musuh kalian! Kami mau menyerang!” teriaknya.
Ketua penyambut Iran, seorang pria tua dengan mata berbinar, menjawab sambil menyodorkan segelas teh, “Tidak, nak. Di tanah kami, musuh pun adalah tamu. Dan tamu belum makan siang. Mari, kami punya dizi (sejenis sup kacang) yang hangat. Kalian bisa menyerang setelah kenyang. Atau besok. Atau tidak sama sekali, karena aku yakin kalian akan ketiduran.”
Kelelahan dan godaan kuliner membuat pasukan elite itu luluh. Mereka menghabiskan makan siang, lalu tertidur di bawah pohon pisang. Mereka terbangun dengan perut kenyang dan dikelilingi oleh anak-anak desa yang meminta swafoto. Misi infiltrasi berubah menjadi homestay budaya.
Netanyahu menerima laporan bahwa pasukannya “tersesat dan diasimilasi oleh makanan”, dan hanya bisa meletakkan telepon, lalu pergi ke balkon kantornya untuk menatap langit Yerusalem, merenungi absurditas. Trump malah menelepon Mayor Rick. “Mayor, bagaimana rasanya? Apakah mereka punya steak?”
“Tidak, Pak. Tapi kacangnya enak sekali. Dan mereka mengajari kami menyanyi ‘Ey Iran’. Kami akan pulang besok, insya Allah.”
“INSYA ALLAH?!” pekik Trump. “Mereka sudah mencuci otakmu dengan kata-kata Arab!”
Skor: Iran 9, Duo Jatuh Cinta 0.
Operasi Bombastik Megatron, Hujan Kulit Pisang dan Kesalahan Fatal
Setelah semua kegagalan, Trump dan Netanyahu memutuskan untuk menghabiskan semua sumber daya pada satu operasi terakhir yang gilanya melampaui nalar. Nama operasi: “Megatron’s Revenge”. Ide gila ini muncul setelah Trump menonton film Transformers ulangan sambil makan burger tengah malam. “Kita buat robot raksasa, Bibi. Robot yang lebih besar dari gedung. Kita namai Freedom Prime. Robot ini akan berjalan ke Teheran, meruntuhkan menara dengan satunya, sambil memutar lagu ‘We Are the Champions’. Tidak ada yang bisa menghentikan robot.”
Netanyahu, yang sedang stres berat karena harus menghadiri sidang kasus korupsi keesokan harinya, hanya mengangkat bahu. “Bikin robot raksasa? Anggaran kita sudah bocor. Tapi baiklah, aku punya teman di industri teknologi. Mungkin kita bisa modifikasi robot perakit mobil di Ashkelon.”
Proyek Freedom Prime dimulai dengan sangat rahasia. Robot berbentuk mirip patung Liberty, tapi dengan wajah Trump yang dicor dari fiberglass dan wig baja tahan karat. Tingginya 30 meter, digerakkan oleh mesin diesel hasil curian dari kapal kargo. Kendalinya ada di kokpit di dalam kepala robot, tempat Trump berencana duduk dengan kursi malas dan remote kontrol Xbox.
Netanyahu menyarankan, “Setidaknya biarkan insinyur yang mengendalikan. Kalau Trump yang pegang, bisa-bisa robot nge-tweet sendiri.”
Namun, Trump bersikeras. “Aku yang mengendalikan. Aku adalah robot itu. Aku adalah Iron Man, tapi lebih besar, lebih emas, lebih pintar.”
Malam peluncuran tiba. Freedom Prime diangkut ke perbatasan Irak-Iran menggunakan trailer raksasa, lalu mulai berjalan menuju Kermanshah. Gerakannya lambat, menghentak, dan setiap langkahnya membuat suara seperti kontainer kosong jatuh. Di kokpit, Trump ditemani Netanyahu, yang memakai helm perang dari plastik (karena yang asli dipakai sebagai barang bukti pengadilan). Mereka melihat melalui jendela kaca: gurun pasir membentang.
Begitu memasuki wilayah Iran, robot itu langsung terdeteksi. Tapi bukannya mengerahkan rudal, militer Iran malah menyebarkan drone-drone pengintai untuk menyiarkan langsung ke seluruh dunia melalui akun YouTube resmi mereka. “Saksikan, robot bodoh terbesar dalam sejarah, berusaha menginvasi negeri kami. Like dan subscribe.”
Di dalam kokpit, Trump bersemangat. “Mereka menonton. Kita populer! Robot, maju! Hancurkan target pertama: papan iklan anti-Amerika!” Dia menggerakkan joystick. Tangan robot raksasa itu terayun, tapi karena desain sendi yang buruk, tangan itu malah lepas sendiri dan jatuh menimpa sebuah truk tangki... yang kosong, jadi hanya menghasilkan dentingan nyaring. Tangan robot berikutnya terayun ke belakang dan malah memukul kepala robot itu sendiri, menyebabkan panel wig baja goyang dan akhirnya jatuh menutupi kaca depan. Pandangan gelap total.
“Bibi! Aku tidak bisa melihat! Senter! Dimana senter?” teriak Trump. Netanyahu meraba-raba dashboard, menemukan tombol bertuliskan “Kabut”, lalu menekannya. Yang keluar bukan lampu, melainkan sirine yang memutar rekaman suara Trump: “SAD! SAD! KAMU PECAT!” Sirine itu malah membangunkan seluruh desa.
Penduduk desa keluar. Melihat robot raksasa buta yang berputar-putar sambil berteriak “SAD!”, mereka tertawa terpingkal-pingkal. Anak-anak melempari robot dengan... kulit pisang, sebagai simbol ejekan. Kulit-kulit pisang itu tidak merusak, tapi membuat permukaan jalan menjadi licin. Ketika robot mengambil langkah mundur, ia menginjak tumpukan kulit pisang, terpeleset hebat, dan jatuh telentang tepat di atas sebuah bukit kecil. Badan robot patah menjadi dua, memperlihatkan mesin diesel yang masih menyala dan mengeluarkan asap berbentuk hati (karena modifikasi pipa knalpot oleh kontraktor iseng).
Dari puing-puing, Trump dan Netanyahu merangkak keluar tidak terluka, hanya penuh oli dan rambut wig yang miring. Mereka disambut oleh warga desa yang malah memberikan selimut dan teh. Kamera drone Iran menyiarkan adegan itu dengan narasi: “Robot Penjajah Tersungkur oleh Kulit Pisang. Bangsa Kami Sekali Lagi Membuktikan Bahwa Humor Adalah Senjata Pamungkas.”
Netanyahu duduk di atas reruntuhan tangan robot, menatap kosong. “Aku akan diadili bukan hanya karena korupsi, tapi karena mempermalukan bangsa dengan robot konyol. Ini akhir karierku.”
Trump mencoba membersihkan rambutnya. “Setidaknya robotnya jatuh dengan gaya. Itu karena kulit pisang, bukan karena rudal. Kulit pisang adalah senjata licik. Kita harus mengajukan protes ke PBB tentang penggunaan kulit pisang dalam perang. Itu tidak fair. Tapi jujur, terjatuh begitu cukup menyakitkan untuk punggungku. Aku butuh chiropractor.”
Skor: Iran 10, Duo Terjatuh 0.
Pertemuan Rahasia di Pulau Kharg, Perdamaian dengan Karpet
Setelah peristiwa robot, baik Trump maupun Netanyahu tenggelam dalam kesunyian dan cemoohan internasional. Majalah Time edisi khusus menampilkan karikatur mereka berdua sebagai Don Quixote dan Sancho Panza, menyerang kincir angin berbentuk kubah masjid. Trump, yang membaca edisi itu, marah, tapi juga penasaran, “Sancho Panza itu siapa? Dia orang Meksiko? Apa dia bisa membangun tembok?”
Namun, gemuruh politik di dalam negeri memaksa mereka untuk mengakhiri petualangan ini. Netanyahu menghadapi pemilu kelima dalam tiga tahun, dan jaksa menambah satu dakwaan baru: “Penyalahgunaan dana negara untuk pembangunan robot Freedom Prime yang memalukan.” Sementara Trump, secara tak terduga, menerima pesan dari calon saingan politiknya bahwa ia terlalu fokus pada Iran dan mengabaikan isu harga telur di Iowa.
Di tengah keadaan genting, sebuah surat tiba di Mar-a-Lago. Amplopnya dari kertas daur ulang, dengan stiker perangko bergambar kucing Persia. Surat itu, ditulis dalam bahasa Inggris yang sedikit puitis, berasal dari “Kementerian Humor dan Diplomasi Kreatif Republik Islam Iran”. Isinya:
“Kepada Tuan Trump dan Tuan Netanyahu, musuh kami yang paling menghibur. Kami telah menikmati pertunjukan Anda selama beberapa bulan terakhir. Sungguh, tidak ada komedian di dunia yang bisa merancang operasi militer selucu milik kalian. Kami mengundang Anda berdua ke Pulau Kharg, terminal minyak kami yang indah, untuk sebuah pertemuan puncak damai tanpa syarat, tanpa ancaman, hanya dengan syarat: masing-masing membawa satu karpet Persia terbaik dari koleksi Anda sebagai tanda niat baik. Jika tidak punya, jangan khawatir, kami akan menyediakan sewa. Hormat hangat, H. Hosseini, Kepala Departemen Satire Strategis.”
Trump menunjukkan surat itu kepada Netanyahu yang sedang berada di ruang sidang virtual. “Mereka mengundang kita. Mereka mengakui bahwa kita lucu. Akhirnya, pengakuan!”
Netanyahu membaca sambil menyeka keringat. “Ini jebakan. Pulau Kharg adalah lokasi strategis. Mereka bisa menculik kita dan menjadikan tontonan. Atau lebih buruk, mereka bisa membuat kita menandatangani perjanjian yang isinya mengakui bahwa spidol lebih kuat dari bom.”
“Tapi Bibi, ini kesempatan. Kita bisa akhiri dengan perjanjian damai yang sebenarnya. Bayangkan: Trump dan Netanyahu menunggangi harimau perdamaian ke Teheran, pulang sebagai pahlawan. Aku akan buat perjanjian yang lebih baik dari Perjanjian Abraham. Namanya ‘Perjanjian Trump-Bibi: Kami Sebenarnya Saling Menyukai’.”
Setelah berdebat panjang, dan dengan tekanan dari pengacara Netanyahu yang menyarankan agar kliennya melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian publik, mereka akhirnya berangkat. Kali ini, tidak ada robot, tidak ada tentara, hanya mereka berdua dan satu tim kecil pembawa karpet: Trump membawa karpet dari lobi Trump Tower (gambar gedung pencakar langit dan namanya sendiri, karena dia tidak punya karpet Persia asli), Netanyahu membawa karpet tua pemberian neneknya yang bergambar menorah dan tulisan “Shalom” yang sudah pudar.
Mereka mendarat di Pulau Kharg. Sambutannya berbeda: hanya beberapa pejabat berpakaian rapi, tanpa senjata, tanpa spanduk ancaman, hanya hamparan karpet merah (tentu saja) dan meja perundingan yang diletakkan di pantai, dengan latar belakang anjungan minyak yang dihias lampu warna-warni menyerupai pohon Natal, hanya untuk membingungkan.
Yang menyambut mereka adalah Menteri Humor dan Diplomasi Kreatif sendiri, seorang pria kurus berkumis tipis dengan senyum misterius. “Selamat datang, Tuan Trump, Tuan Netanyahu. Kami harap perjalanan Anda tidak diiringi badai pasir atau serangan tweet. Silakan, duduk.”
Trump, dengan gaya negosiasinya, langsung berkata, “Oke, begini kesepakatannya: kalian hentikan pengayaan uranium, aku cabut sanksi, dan kita buka hotel Trump International di Teheran, tepat di seberang bekas kedutaan. Itu tawaran yang tidak bisa kalian tolak.”
Menteri itu tertawa kecil. “Tuan Trump, pengayaan uranium kami sudah tidak bisa dihentikan, bukan karena nuklir, tapi karena sekarang kami menggunakan sentrifuse untuk memisahkan biji saffron murni dari serbuk sari. Bisnis rempah sangat menguntungkan. Kami berhenti mengancam. Sebaliknya, kami ingin mengancam pasar dunia dengan saffron murah. Apakah Anda mau menjadi distributor resmi? Kita bisa beri merek ‘Trump Saffron – It’s Golden, It’s Tremendous’. Anda akan dapat persentase besar. Tapi syaratnya, Anda harus hentikan retorika ‘Api dan Kemurkaan’.”
Netanyahu mengerutkan kening. “Bagaimana dengan kami? Apa yang Israel dapat?”
“Ah, Tuan Netanyahu. Kami sangat terkesan dengan ketangguhan Anda menghadapi dakwaan. Kami orang Iran juga ahli dalam dakwaan dan pengadilan. Kami bisa menawarkan kerja sama hukum: Anda bisa menyewa pengacara Iran untuk menangani kasus Anda. Mereka sangat berpengalaman dalam menangani tuduhan penipuan, percayalah. Selain itu, kami ingin Israel berinvestasi di resor kesehatan di Kish, pulau yang lapangan golfnya Anda hancurkan. Kita bisa bangun lapangan golf baru, kali ini tahan bom. Dan sebagai imbalan, kami akan memastikan bahwa tidak ada satu pun rudal dari Gaza atau Lebanon yang mengarah ke Tel Aviv selama setidaknya... satu musim dingin. Itu lumayan.”
Suasana menjadi sangat ganjil. Seharusnya mereka membahas perang dan damai, malah berubah menjadi pitch bisnis dan nasihat hukum. Tapi itulah keajaiban: Trump dan Netanyahu, dihadapkan pada ultimatum bisnis yang melibatkan saffron dan lapangan golf, tiba-tiba melihat peluang. Mereka mulai tawar-menawar. Trump menginginkan hak atas semua gedung bernama “Persia” di seluruh dunia, sementara Netanyahu meminta agar Iran secara resmi mengakui bahwa karpet Israel juga nyaman untuk salat.
Setelah delapan jam negosiasi yang diselingi dengan makan siang ikan bakar dan presentasi power point tentang industri karpet, tercapailah “Perjanjian Pulau Kharg: Kerja Sama Ekonomi dan Penghormatan Timbal Balik Melalui Pengakuan bahwa Kita Semua Sama-Sama Lucu”. Isinya kira-kira:
1. Iran akan mengekspor saffron dan pistachio dengan label “Trump Luxury Nuts and Spices” ke Amerika.
2. Israel akan mengirimkan teknologi irigasi tetes untuk pertanian pistachio di Iran, sekaligus mengimpor hummus versi Iran yang disebut “Shirazi Spread”.
3. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak lagi menggunakan spidol merah sebagai senjata di forum internasional; cukup menggunakan pulpen biru sebagai simbol ketenangan.
4. Sebagai ganti, Freedom Prime (yang sudah menjadi puing) akan dilebur dan dijadikan patung “Tangan Persahabatan” setinggi 5 meter di perbatasan Irak-Iran, yang bentuknya adalah jabat tangan antara tangan robot berkulit putih dan tangan manusia berkulit sawo matang, dengan tulisan: “Dari Kulit Pisang, Lahirlah Perdamaian.”
5. Trump diizinkan membangun satu hotel di Pulau Kish, asalkan tidak lebih tinggi dari menara Azadi dan menyediakan menu tanpa babi.
6. Netanyahu secara pribadi menerima hadiah karpet bergambar adegan dia menunjuk bom kartun, tetapi di bawah bom itu tertulis “BOOM! Tertawa.”
Malam harinya, upacara penandatanganan dilakukan di atas kapal tanker minyak yang disulap jadi panggung dengan orkestra yang memainkan lagu “My Way” versi biola dan daf. Trump menandatangani perjanjian dengan spidol emasnya, Netanyahu dengan pulpen yang katanya dipakai juga untuk menandatangani surat dakwaannya (agar ironis). Menteri Humor Iran menandatangani dengan kuas kaligrafi, menulis “Bismillah, selesai sudah.”
Ketika tinta mengering, dunia terbelalak. Berita utama CNN: “TRUMP DAN BIBI AKHIRI KONFLIK DENGAN IRAN – BUKAN DENGAN BOM, TAPI DENGAN KACANG.” Fox News: “PRESIDEN TRUMP MENGALAHKAN IRAN DENGAN CARA BARU: MENJUAL SAFFRON, MENANG BESAR!” Al Jazeera: “Iran Menerima Karpet Trump Tower, Dunia Tidak Percaya.” Media Israel: “Netanyahu Menang: Kami Tidak Jadi Perang, Tapi Anggaran untuk Saffron Jadi Polemik Baru di Knesset.”
Epilog, Konferensi Pers di Gudang Pistachio
Tiga minggu kemudian, Trump dan Netanyahu mengadakan konferensi pers bersama di sebuah gudang pistachio yang baru dibuka di Yerusalem, hasil impor pertama dari Iran. Ribuan karung bertuliskan “Trump’s Best Nuts” berjejer. Netanyahu, yang baru saja lolos dari satu mosi tidak percaya, tampak sedikit lebih tenang. Trump, dengan topi MAGA yang dimodifikasi bertuliskan “Make Iran Great Again, Also”, mengawali pidatonya.
“Semua orang bilang kita tidak bisa damai dengan Iran. Aku bilang, kita bisa. Malah, kita dapat pistachio termurah sepanjang sejarah. Aku selalu suka pistachio. Warnanya hijau, seperti uang. Sekarang, setiap kali kalian makan pistachio, ingatlah bahwa itu adalah kemenangan. Kemenangan tanpa satu tembakan pun. Kecuali tembakan dari robot yang jatuh, itu tidak dihitung.”
Seorang wartawan bertanya, “Pak Trump, apakah Anda benar-benar menyerah dalam menghentikan program nuklir Iran?”
Trump tersenyum lebar. “Nuklir? Mereka bilang sentrifuse mereka sekarang cuma untuk memisahkan saffron. Saya sudah kirim inspektur saya ke sana. Ternyata betul, aromanya saffron semua. Satu-satunya reaksi berantai yang terjadi adalah reaksi alergiku terhadap saffron. Sedikit gatal, tapi worth it. Sekarang Iran adalah mitra bisnis. Dan aku tahu bagaimana menghadapi mitra bisnis. Kalau mereka macam-macam, aku akan bangkrutkan mereka seperti aku membangkrutkan kasino di Atlantic City. Gampang.”
Netanyahu, yang mendapat giliran, berbicara lebih diplomatis. “Kita telah belajar bahwa perang bisa dimenangkan dengan tawa. Dalam sejarah Yahudi, humor adalah senjata bertahan hidup. Hari ini, kita menambahkan bab baru: hummus dan humor. Israel kini punya perjanjian dengan Iran yang aneh, ya, tapi setidaknya kita tidak lagi mendengar ‘Kematian bagi Israel’ setiap Jumat. Sekarang diganti dengan ‘Keuntungan bagi Semua’ setiap Senin. Saya kira ini kemajuan.”
Tentu saja, di balik layar, Iran masih melanjutkan program nuklirnya, hanya saja lebih tersembunyi dan kali ini dengan kode nama “Proyek Rempah-rempah Abadi”. Mereka juga memanfaatkan jaringan distribusi Trump untuk menyelundupkan komponen-komponen tertentu ke dalam kontainer pistachio. Tapi itu bukan urusan Trump, karena dia sudah mendapat cek royalti pertama. Netanyahu juga pura-pura tidak tahu, karena popularitasnya naik 2% berkat harga kacang yang murah.
Suatu sore, di kantor oval Mar-a-Lago (replika), Trump dan Netanyahu duduk berdua, memandangi tumpukan karpet dan pistachio. “Bibi, menurutmu, apakah kita berhasil mengalahkan Iran?” tanya Trump.
Netanyahu memakan segenggam pistachio. “Sulit dikatakan, Donald. Secara teritorial, tidak. Secara nuklir, mungkin tidak. Tapi kita berhasil mengalahkan mereka... dalam hal menjual kacang-kacangan dan karpet. Itu kemenangan yang tidak terduga.”
Trump mengangguk. “Betul. Dan jangan lupa, aku sekarang punya pengikut di Iran. Banyak yang suka meme-meku. Aku Duta Besar Meme tidak resmi untuk Iran. Itu jabatan yang akan kutulis di bio Instagramku.”
Netanyahu tersenyum tipis. “Aku juga. Pengacaraku sekarang punya cabang di Teheran. Setidaknya aku bisa dapat diskon.”
Keduanya terdiam. Lalu, bersamaan, mereka mengambil smartphone masing-masing. Trump mulai mengetik tweet baru: “Iran adalah negara yang luar biasa, dipimpin oleh orang-orang yang sangat cerdas. Aku mencintai mereka! #TrumpSaffron.” Netanyahu mulai membaca aplikasi berita: “Pemimpin Tertinggi Iran Puji Trump sebagai ‘Badut Terbaik yang Pernah Menguntungkan Kami’.” Bibi menghela napas. Ah, sudahlah, setidaknya ceknya sudah cair.
Di luar jendela, matahari terbenam di atas Palm Beach, burung-burung camar menukik rendah, dan di langit, sebuah pesawat membawa spanduk bertuliskan: “TERIMA KASIH TRUMP & BIBI – DARI PETERNAK SAPI IRAN.” Siklus kegagalan yang lucu itu pun berakhir, bukan dengan ledakan, melainkan dengan pistachio dan tawa. Dan begitulah, dua sahabat yang tak kunjung mampu kalahkan Iran, malah menjadi pahlawan tak sengaja bagi industri kacang-kacangan global.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.