Pada 13 Juni 2025, pukul 02:17 dini hari, langit di atas Teheran, Isfahan, Arak, Tabriz, dan Kermanshah berubah menjadi lautan api. Lebih dari 200 pesawat tempur Israel meluncurkan rudal ke lebih dari 100 sasaran militer dan permukiman penduduk (Al Jazeera, 2025). Dalam 12 hari konflik yang berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni, Kementerian Kesehatan Iran mencatat 610 warga tewas dan sedikitnya 4.746 orang terluka, termasuk 185 perempuan dan 13 anak-anak. Tujuh rumah sakit rusak akibat serangan langsung, dan hujan serpihan rudal menghantam pusat-pusat kesehatan serta unit gawat darurat (Al Jazeera, 2025).
Namun, di tengah gambaran mengerikan itu, terjadi sesuatu yang melampaui imajinasi para analis konflik pada umumnya. Tidak ada eksodus massal yang tak terkendali. Tidak ada keruntuhan total tatanan sosial sipil. Presiden Masoud Pezeshkian, dalam rapat dewan sosial di Tehran pada 25 Juni 2025, menyatakan bahwa musuh memperhitungkan rakyat akan turun ke jalan dan menciptakan kekacauan setelah serangan, namun yang terjadi justru sebaliknya sama sekali (ABNA News, 2025). Presiden secara eksplisit merujuk pada "modal sosial" yang dimiliki bangsa Iran, sebuah terminologi yang sangat jarang muncul dalam pidato politik Timur Tengah, sebagai faktor yang "harus dimanfaatkan untuk mengatasi tantangan" (ABNA News, 2025).
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud Presiden Pezeshkian dengan "modal sosial"? Konsep ini, dalam tiga dekade terakhir, telah menjadi salah satu istilah paling berpengaruh dan paling diperebutkan dalam ilmu-ilmu sosial. Tiga pemikir besar, Francis Fukuyama, Robert Putnam, dan Pierre Bourdieu, telah mengembangkannya dalam kerangka epistemologis yang berbeda secara fundamental. Fukuyama menekankan kepercayaan kultural dan radius of trust (Fukuyama, 1995, hlm. 26); Putnam membedakan antara modal sosial yang bonding dan bridging (Putnam, 2000, hlm. 22-23); sementara Bourdieu menempatkannya dalam kerangka kritis tentang konversi modal dan reproduksi kelas (Bourdieu, 1986, hlm. 248-249). Memahami ketiganya bukanlah sekadar latihan akademik: ini adalah kunci untuk membaca fenomena Iran secara utuh.
Kontribusi orisinal esai ini terletak pada penerapan simultan tiga perspektif teoretis yang berbeda untuk membaca satu kasus empiris yang sama, yaitu ketahanan sosial Iran selama perang 12 hari. Secara spesifik, esai ini akan: (1) Menguraikan secara sistematis arsitektur konseptual masing-masing pemikir; (2) Mengkaji persamaan dan perbedaan di antara ketiga pendekatan dalam enam dimensi analitis; (3) Menerapkan ketiga kerangka teoretis untuk menjelaskan paradoks Iran; dan (4) Mengevaluasi mana di antara ketiganya yang memiliki daya jelajah paling kuat. Signifikansi kajian ini terletak pada kemampuannya untuk melampaui analisis konvensional tentang perang semata, dan menyibak lapisan-lapisan sosial yang sering kali tidak terlihat di balik berita-berita kematian dan kehancuran.
Francis Fukuyama
Francis Fukuyama masuk ke dalam konsep modal sosial melalui pintu refleksi tentang ekonomi politik. Setelah melambungkan tesis kontroversial "The End of History?", ia menemukan sebuah teka-teki: Mengapa sebagian negara demokratis-kapitalis berhasil membangun kemakmuran, sementara yang lain gagal? Jawaban Fukuyama, yang ia kembangkan secara mendalam dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995), sangat jelas: variabel kuncinya adalah kepercayaan (trust).Definisi Fukuyama tentang kepercayaan adalah, "Harapan yang muncul dalam suatu komunitas mengenai perilaku yang teratur, jujur, dan kooperatif, berdasarkan norma-norma yang dianut bersama, di pihak anggota-anggota lain dari komunitas tersebut" (Fukuyama, 1995, hlm. 26). Dari fondasi inilah, ia merumuskan modal sosial sebagai "kemampuan untuk berkolaborasi demi tujuan-tujuan bersama" (ability to collaborate for common purposes), sebuah kapasitas yang lahir dari adanya kepercayaan (Fukuyama, 1995, hlm. 10). Pernyataan ini penting: Bagi Fukuyama, modal sosial adalah kapasitas, bukan sekadar atribut struktural. Ia menuliskannya dengan ringkas, "Modal sosial adalah kapabilitas yang muncul dari prevalensi kepercayaan dalam suatu masyarakat atau pada bagian-bagian tertentu darinya" (Fukuyama, 1995, hlm. 26).
Salah satu argumen Fukuyama yang paling provokatif adalah bahwa "berbagai tipe kebiasaan etis yang berbeda kondusif bagi bentuk-bentuk organisasi ekonomi yang berbeda dan membawa pada variasi besar dalam struktur ekonomi" (Fukuyama, 1995, hlm. 88). Ia membedakan masyarakat menjadi dua kategori besar: Masyarakat kepercayaan tinggi (high-trust societies), seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat, yang memiliki spontaneitas sosial (spontaneous sociability), yaitu kecenderungan alami untuk membentuk asosiasi dan bekerja sama dengan orang-orang di luar lingkaran keluarga inti; dan masyarakat familistik atau kepercayaan rendah (low-trust societies), seperti Italia Selatan, Prancis, Tiongkok, dan Korea Selatan, yang memiliki spontaneitas sosial yang rendah, sehingga organisasi bisnisnya didominasi oleh perusahaan keluarga yang enggan berkembang menjadi korporasi besar (Fukuyama, 1995, hlm. 88, 93).
Tabel Masyarakat Kepercayaan Tinggi versus Kepercayaan Rendah
Salah satu kontribusi Fukuyama yang paling tajam, tetapi sering diabaikan adalah konsep radius kepercayaan (radius of trust). Semua kelompok yang mewujudkan modal sosial, tulis Fukuyama (2000), memiliki radius kepercayaan tertentu, yaitu lingkaran orang-orang di antara siapa norma-norma kooperatif berlaku. Radius kepercayaan dapat lebih besar daripada kelompok itu sendiri jika kelompok menghasilkan eksternalitas positif, atau lebih kecil jika norma kooperatif hanya berlaku di antara pimpinan atau staf permanen (Fukuyama, 2000). Konsep ini menghindarkan analisis dari simplifikasi biner: Sebuah masyarakat bisa saja memiliki kohesi internal yang kuat (seperti kelompok etnis atau agama), tetapi lemah dalam kerja sama lintas kelompok.
Penerapan pada konteks Iran sangat relevan. Pertanyaan krusialnya adalah: setelah puluhan tahun sanksi dan tekanan eksternal, ke manakah arah ekspansi atau kontraksi radius kepercayaan dalam masyarakat Iran?
Dalam analisis yang lebih bernuansa, Fukuyama mengidentifikasi tiga lapis (tipologi) kepercayaan yang membentuk arsitektur modal sosial. Pertama, kepercayaan berbasis keluarga (familial trust), yang terkuat tetapi radiusnya paling sempit; dalam konteks Iran, ini tercermin dalam soliditas jaringan keluarga besar (khanevadeh) yang tetap menjadi jaring pengaman ekonomi dan psikologis utama. Kedua, kepercayaan berbasis masyarakat (communal trust), yang melampaui keluarga tetapi tetap terikat pada identitas komunal tertentu, seperti etnis, agama, atau lokalitas; inilah fondasi dari mahalleh (lingkungan) dan hey'at (perkumpulan keagamaan). Ketiga, kepercayaan umum (generalized trust), yang paling luas namun paling rapuh, yaitu kepercayaan kepada orang asing dan institusi abstrak.
Tabel Tiga Jenis Kepercayaan dalam Masyarakat Iran
Sumber: Diadaptasi dari Fukuyama (1995, hlm. 26-27; 2000).
Kekuatan utama Fukuyama terletak pada kemampuannya menghubungkan dimensi kultural dengan kinerja ekonomi. Namun, pendekatan ini juga memiliki kelemahan signifikan. Pertama, ia cenderung memperlakukan kepercayaan sebagai variabel monolitik pada tingkat bangsa, padahal, masyarakat yang sama bisa memiliki variasi kepercayaan yang sangat besar antar wilayah, kelas, dan kelompok. Kedua, ia kurang memberikan perhatian pada dimensi kekuasaan, siapa yang diuntungkan dan dirugikan oleh distribusi modal sosial yang timpang. Ketiga, ia tidak membahas secara mendalam bagaimana kepercayaan dapat digunakan sebagai mekanisme kontrol sosial, bukan sekadar fasilitator kerja sama.
Robert Putnam
Jika Fukuyama mendekati modal sosial melalui pintu ekonomi politik dan refleksi filosofis, Robert Putnam menempuh rute yang sangat berbeda: Penelitian empiris berskala besar. Ketertarikan Putnam pada modal sosial berawal dari studinya tentang kinerja pemerintahan regional di Italia, yang diterbitkan dalam Making Democracy Work (1993). Ia menemukan bahwa Italia Utara, dengan tradisi kewargaan yang berakar kuat, jaringan asosiasi horisontal, norma resiprositas, dan kepercayaan sosial, jauh lebih makmur dan terkelola dengan baik daripada Italia Selatan yang didominasi oleh hubungan patron-klien yang hierarkis. Temuan ini membawa Putnam pada kesimpulan bahwa modal sosial adalah fondasi bagi demokrasi yang berfungsi.Kontribusi Putnam yang paling berpengaruh adalah pembedaan antara dua jenis modal sosial: Bonding (mengikat) dan Bridging (menjembatani). Ia mendefinisikan modal sosial sebagai "koneksi di antara individu-individu, jaringan sosial dan norma-norma resiprositas dan kepercayaan yang muncul darinya" (Putnam, 2000, hlm. 19). Namun, pembedaan bonding dan bridging memberikan analisis ini kompleksitas baru.
Putnam menjelaskan bahwa modal sosial bonding bersifat "melihat ke dalam" (inward looking) dan cenderung memperkuat identitas eksklusif dan kelompok homogen. Contohnya meliputi "organisasi persaudaraan etnis, klub country, dan kelompok-kelompok berbasis kesamaan agama atau etnis" (Putnam, 2000, hlm. 22). Sebaliknya, modal sosial bridging bersifat "melihat ke luar" (outward looking) dan mencakup orang-orang melintasi "berbagai belahan sosial yang beragam" (diverse social cleavages), seperti gerakan hak-hak sipil dan kelompok-kelompok pelayanan pemuda (Putnam, 2000, hlm. 22). Dalam metafora yang kini terkenal, Putnam menulis: "modal sosial bonding merupakan semacam lem super sosiologis, sementara modal sosial bridging menyediakan WD-40 sosiologis" (Putnam, 2000, hlm. 23).
Tabel Putnam Perbandingan Modal Sosial Bonding dan Bridging
Sumber: Disarikan dari Putnam (2000, hlm. 22-23).
Pembedaan bonding dan bridging bukanlah kategorisasi "salah satu atau yang lain" (either/or), ia adalah dimensi "lebih atau kurang" (more or less). Sebuah institusi yang sama dapat secara simultan mengikat individu berdasarkan ras atau agama (bonding) namun menjembatani melintasi garis kelas (bridging). Putnam menekankan bahwa modal sosial bonding berguna untuk "bertahan" (getting by), sementara modal sosial bridging esensial untuk "maju" (getting ahead) (Putnam, 2000, hlm. 23). Dalam konteks krisis seperti yang dialami Iran pada Juni 2025, pemahaman tentang kapan bonding berfungsi protektif dan kapan ia justru menghambat pemulihan jangka panjang menjadi sangat kritikal.
Iran kontemporer menyediakan laboratorium yang kaya untuk mengamati interaksi antara bonding dan bridging capital. Di satu sisi, jaringan masjid dan hey'at (perkumpulan keagamaan) berfungsi sebagai bonding capital yang sangat kuat, mengikat umat Syiah dalam solidaritas berbasis iman. Majelis-majelis duka Asyura, peringatan wafatnya Imam Hussein, dan ritual-ritual kolektif lainnya telah membangun selama berabad-abad sebuah jaringan kepercayaan dan solidaritas yang mendalam. Saat rudal Israel jatuh di Teheran, jaringan inilah yang menjadi infrastruktur sosial pertama yang aktif.
Di sisi lain, Iran juga memiliki tradisi bridging capital yang menarik untuk dicermati. Selama perang, terjadi fenomena yang disebut oleh satu studi akademik sebagai "solidaritas lintas-spektrum yang menyatukan faksi-faksi politik yang berseberangan" (Ghanbari, 2025, hlm. 169-199). Figur-figur oposisi dari Mehdi Karroubi hingga kalangan konservatif menunjukkan dukungan, dan simbol-simbol nasional seperti lagu kebangsaan Ey Iran serta citra singa Iran dihidupkan kembali bersama identitas keagamaan. Ini adalah contoh langka di mana bonding capital berbasis agama dan bridging capital berbasis nasionalisme bekerja secara simultan.
Penting untuk mencatat pengakuan Putnam sendiri tentang "sisi gelap" (dark side) modal sosial. Ia mengakui bahwa modal sosial bonding, khususnya, dapat memperkuat identitas eksklusif dan mendorong permusuhan terhadap kelompok luar, dan dalam kasus ekstrem, memfasilitasi aktivitas kriminal seperti mafia dan geng jalanan (Putnam, 2000, hlm. 350). Dalam konteks Iran, pertanyaan tentang sisi gelap ini sangat relevan: Solidaritas nasional yang muncul selama perang bisa juga diiringi oleh penguatan kontrol negara terhadap masyarakat sipil.
Kekuatan pendekatan Putnam terletak pada kemampuannya untuk dioperasionalisasikan secara empiris dan sensitivitasnya terhadap dimensi internal-eksternal modal sosial. Namun, kelemahannya juga signifikan: Putnam cenderung abai terhadap dimensi kekuasaan dan konflik, ia melihat modal sosial sebagai barang publik yang positif, tanpa cukup memperhatikan bagaimana modal sosial dapat menjadi instrumen dominasi.
Pierre Bourdieu
Berbeda dengan Fukuyama yang optimistis dan Putnam yang empiris, Pierre Bourdieu (1930-2002) menawarkan perspektif yang secara fundamental kritis. Bourdieu adalah seorang sosiolog yang proyek intelektualnya adalah membongkar mekanisme-mekanisme tersembunyi yang melaluinya ketidaksetaraan sosial direproduksi dari generasi ke generasi. Konsep modal sosialnya harus dipahami dalam kerangka proyek yang lebih besar ini.Bourdieu mengembangkan teori modal sosialnya dalam esai klasik "The Forms of Capital" (1986). Dalam esai ini, ia berargumen bahwa "dunia sosial adalah sejarah yang terakumulasi" (Bourdieu, 1986, hlm. 241), dan untuk memahaminya, seseorang harus memperkenalkan kembali gagasan tentang modal dalam segala bentuknya, bukan hanya modal ekonomi yang diakui oleh teori ekonomi arus utama. Bourdieu kemudian mengidentifikasi empat bentuk modal yang saling terkait: Modal ekonomi, modal kultural, modal sosial, dan modal simbolik.
Bourdieu mendefinisikan modal sosial sebagai "agregat dari sumber daya aktual atau potensial yang terhubung dengan kepemilikan jaringan yang tahan lama (durable network) dari hubungan-hubungan yang kurang lebih terinstitusionalisasikan mengenai saling kenal dan saling mengakui, atau, dengan kata lain, keanggotaan dalam suatu kelompok" (Bourdieu, 1986, hlm. 248-249). Definisi ini mengandung beberapa elemen kunci yang membedakannya secara fundamental dari Fukuyama dan Putnam.
Pertama, modal sosial adalah sumber daya yang dimiliki oleh individu, bukan atribut kolektif masyarakat. Kedua, sumber daya ini berasal dari keanggotaan dalam jaringan yang tahan lama dan terinstitusionalisasi, bukan dari norma bersama atau kepercayaan umum. Ketiga, volume modal sosial yang dimiliki seorang individu bergantung pada "ukuran jaringan koneksi yang dapat ia mobilisasi secara efektif dan pada volume modal (ekonomi, kultural, atau simbolik) yang dimiliki dalam haknya sendiri oleh setiap orang yang terhubung dengannya" (Bourdieu, 1986, hlm. 249).
Hubungan antara keempat bentuk modal ini bersifat hierarkis sekaligus konvertibel. Bourdieu menyatakan secara eksplisit bahwa "modal ekonomi adalah dasar bagi semua tipe modal lainnya" (Bourdieu, 1986, hlm. 252). Namun, ia juga menekankan bahwa modal kultural dan modal sosial dapat dikonversi menjadi modal ekonomi, dan sebaliknya. Inilah "fenomena konversi", proses di mana satu tipe modal bertransformasi menjadi tipe lainnya. Misalnya, gelar akademik dari universitas elit (modal kultural terinstitusionalisasi) dapat dikonversi menjadi akses ke jaringan profesional eksklusif (modal sosial) dan akhirnya menjadi pekerjaan bergaji tinggi (modal ekonomi).
Inilah aspek paling kritis dari teori Bourdieu: modal sosial bukanlah sesuatu yang netral atau "baik" secara inheren. Ia adalah mekanisme yang melaluinya kelas atas mempertahankan posisi istimewa mereka. Bourdieu menulis bahwa keempat tipe modal "berperan dalam reproduksi sosial, karena modal diwariskan dari generasi ke generasi dan menjaga orang-orang tetap berada dalam kelas sosial yang sama seperti orang tua mereka sebelumnya" (Bourdieu, 1986, hlm. 254).
Ketika diterapkan pada Iran, kerangka Bourdieu mengajukan serangkaian pertanyaan yang sangat berbeda dari Fukuyama dan Putnam. Alih-alih bertanya tentang tingkat kepercayaan atau jenis asosiasi yang dominan di masyarakat Iran, perspektif Bourdieu akan bertanya: Siapa yang mengakumulasi modal sosial dalam krisis? Jaringan mana yang diaktifkan, dan siapa yang dikecualikan? Bagaimana modal sosial yang dimobilisasi selama perang dikonversi menjadi modal ekonomi atau politik setelah perang berakhir?
Kekuatan utama Bourdieu terletak pada kemampuannya untuk mengungkap dimensi kekuasaan yang tersembunyi dalam modal sosial. Ia mengingatkan bahwa jaringan, kepercayaan, dan asosiasi yang tampaknya netral sering kali mencerminkan dan memperkuat stratifikasi sosial yang sudah ada. Namun, kelemahan pendekatannya juga signifikan: Ia cenderung deterministik dan kurang memberikan ruang bagi agensi dan perubahan sosial. Bagi Bourdieu, modal sosial hampir selalu menjadi instrumen reproduksi, ia kesulitan menjelaskan bagaimana modal sosial bisa menjadi sumber transformasi.
Tiga Pemikir, Tiga Visi
Untuk memperjelas peta konseptual, bagian ini mengkaji persamaan dan perbedaan antara Fukuyama, Putnam, dan Bourdieu dalam enam dimensi analitis. Tabel di bawah ini menyajikan perbandingan komprehensif.Meskipun berasal dari tradisi intelektual yang berbeda, ketiga pemikir memiliki beberapa titik temu. Pertama, ketiganya sepakat bahwa hubungan sosial memiliki nilai, bahwa jaringan, norma, dan kepercayaan bukan sekadar epifenomena dari kekuatan ekonomi, melainkan entitas yang memiliki kekuatan kausalnya sendiri. Kedua, ketiganya menggunakan metafora kapital untuk menekankan bahwa hubungan sosial adalah sumber daya yang dapat diinvestasikan dan menghasilkan keuntungan. Ketiga, ketiganya mengakui bahwa modal sosial memiliki dimensi kolektif, meskipun cara mereka memahami "kolektif" ini sangat berbeda.
Perbedaan di antara ketiganya jauh lebih substansial. Tabel berikut mengidentifikasi enam dimensi kontras utama: unit analisis, sumber modal sosial, mekanisme kerja, hubungan dengan modal ekonomi, fungsi politik, dan konsekuensi normatif.
Tabel Perbandingan Modal Sosial Fukuyama, Putnam, dan Bordieu
Sumber: Diadaptasi dari Fukuyama (1995, hlm. 26-27, 88-93);
Putnam (2000, hlm. 19-23, 350); Bourdieu (1986, hlm. 241-255).
Perbedaan fundamental di antara ketiga pemikir dapat diringkas pada tiga kata kunci: Kepercayaan (Fukuyama), jaringan (Putnam), dan kekuasaan (Bourdieu).
Bagi Fukuyama, kepercayaan adalah fondasi dari segalanya. Ia adalah "harapan" tentang perilaku kooperatif yang didasarkan pada "norma bersama" (Fukuyama, 1995, hlm. 26). Tanpa kepercayaan, tidak ada kerja sama skala besar, tidak ada korporasi modern, tidak ada kemakmuran. Modal sosial, dalam rumusannya, adalah efek dari kepercayaan.
Bagi Putnam, jaringan adalah intinya. Kepercayaan bukanlah penyebab melainkan produk dari interaksi yang berulang dalam asosiasi horisontal. Orang belajar mempercayai satu sama lain karena mereka bekerja sama dalam klub, gereja, dan organisasi sukarela. Modal sosial, dalam rumusannya, adalah atribut dari struktur sosial.
Bagi Bourdieu, pertanyaan tentang kepercayaan dan jaringan adalah naif jika tidak disertai dengan analisis tentang kekuasaan. Jaringan memang penting, tetapi jaringan siapa? Kepercayaan memang berharga, tetapi kepercayaan di antara siapa? Akses ke jaringan eksklusif, tulis Bourdieu, bergantung pada kepemilikan modal kultural dan ekonomi, dan inilah yang direproduksi dari generasi ke generasi (Bourdieu, 1986, hlm. 249-252).
Membaca Iran
Jika kita menerapkan kerangka Fukuyama untuk membaca Iran kontemporer, kita dihadapkan pada sebuah paradoks yang mendalam. Secara ekonomi, Iran adalah gambaran sempurna dari apa yang oleh Fukuyama sebut sebagai "masyarakat kepercayaan rendah": Inflasi yang melonjak di atas 42% pada akhir 2025 (Majalla, 2026), harga pangan yang meroket 72% (Sina News, 2026), dan mata uang yang jatuh ke titik terendah dalam sejarah. Perekonomian Iran, yang dihantam oleh sanksi internasional selama puluhan tahun, seharusnya, menurut logika Fukuyama, tidak mampu mempertahankan tingkat kepercayaan yang diperlukan untuk kerja sama skala besar.Namun di sinilah letak paradoksnya: Di bawah hujan rudal Israel pada Juni 2025, masyarakat Iran justru mendemonstrasikan tingkat solidaritas dan kerja sama yang luar biasa. Satu studi di jurnal Health Scope (Menati et al., 2025) menemukan bahwa "pengalaman Iran menunjukkan bahwa krisis nasional dapat memperkuat ikatan sosial, meningkatkan kepercayaan, dan membangun solidaritas komunitas" (hlm. 1-2). Ini bukanlah degradasi modal sosial seperti yang diprediksi oleh teori, melainkan akselerasi modal sosial, sebuah fenomena yang sulit dijelaskan oleh Fukuyama.
Bagian dari jawabannya terletak pada karakteristik struktural ekonomi politik Iran yang unik. Iran memiliki apa yang oleh Hadi Salehi Esfahani disebut sebagai "ekonomi kontrak implisit", sebuah sistem di mana negara menyediakan subsidi dan jaring pengaman sebagai imbalan atas loyalitas politik. Sistem bonyad (yayasan amal) dan basij (milisi sukarela) berfungsi sebagai infrastruktur untuk mendistribusikan sumber daya dan memobilisasi solidaritas di tingkat akar rumput. Selama perang, jaringan ini teraktivasi secara masif: Masjid-masjid mendistribusikan makanan, klinik-klinik bergerak didirikan, dan tetangga saling menampung mereka yang kehilangan rumah.
Jika Fukuyama kesulitan menjelaskan fenomena Iran, Putnam justru menawarkan kerangka yang lebih memadai. Apa yang terjadi di Iran pada Juni 2025 dapat dibaca sebagai aktivasi dramatis dari bonding social capital yang telah terakumulasi selama puluhan tahun, sebuah "lem super sosiologis" yang tiba-tiba mengeras di bawah panasnya krisis.
Jaringan masjid dan hey'at di Iran adalah contoh klasik dari bonding capital. Putnam (2000) menjelaskan bahwa bonding capital "baik untuk 'bertahan' (getting by)" (hlm. 23), dan itulah yang terjadi di Iran. Saat pemerintah Iran memberlakukan pembatasan internet hampir total selama separuh durasi konflik (ThreatBeat, 2026), ketika panggilan telepon gagal tersambung, ketika rumah sakit kewalahan, jaringan bonding di tingkat komunitas mengambil alih fungsi-fungsi yang biasanya dijalankan oleh negara. Dokter-dokter membuka praktik sukarela, pengusaha menyediakan layanan gratis, dan masyarakat mengorganisasi distribusi bantuan di tingkat blok dan gang.
Presiden Pezeshkian sendiri secara eksplisit mengakui peran kritis jaringan berbasis komunitas ini. Dalam pidatonya, ia "menyoroti peran penting masjid dalam jaringan layanan sosial, menyerukan aktivasi institusi lokal dalam koordinasi dengan pusat kesehatan, komite bantuan, dan organisasi kesejahteraan" (ABNA News, 2025). Ini adalah pengakuan resmi atas bonding social capital sebagai infrastruktur pertahanan sipil.
Di saat yang sama, perang juga menghasilkan fenomena bridging capital yang langka. Studi Ghanbari (2025) mendokumentasikan "solidaritas lintas-spektrum yang menyatukan faksi-faksi politik yang berseberangan" (hlm. 169), sebuah jembatan antara kelompok-kelompok yang sebelumnya terpolarisasi.
Justru di sinilah pisau analitis Bourdieu menunjukkan ketajamannya. Bourdieu akan mengingatkan kita untuk bertanya: Siapa yang mengendalikan jaringan-jaringan ini? Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan oleh mobilisasi solidaritas ini? Bagaimana krisis mengubah, atau malah memperkuat, distribusi modal yang ada?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada analisis yang lebih gelap. Solidaritas nasional yang muncul selama perang juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial. Dengan memobilisasi jaringan masjid, bonyad, dan basij, negara Iran tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga memperkuat hegemoninya atas masyarakat sipil. Bourdieu (1986) menulis tentang "fenomena konversi", transformasi satu tipe modal menjadi tipe lainnya (hlm. 252-255). Dalam konteks Iran, krisis perang dapat dibaca sebagai momen konversi besar-besaran: Modal sosial yang terakumulasi dalam jaringan keagamaan dan komunitas dikonversi menjadi modal politik bagi rezim. Solidaritas rakyat menjadi legitimasi bagi negara.
Lebih jauh, perspektif Bourdieu juga mengungkapkan siapa yang tidak memiliki akses ke jaringan solidaritas ini. Kelompok-kelompok minoritas etnis dan agama, aktivis-aktivis prodemokrasi yang dipenjara, perempuan-perempuan yang menolak hijab wajib, apakah mereka juga termasuk dalam radius solidaritas yang diperkuat oleh perang? Ataukah perang justru menyingkirkan mereka lebih jauh dari pusat-pusat kekuasaan dan distribusi sumber daya?
Tabel Aplikasi Lensa Fukuyama, Putnam, dan Bordie pada Kasus Iran
Sumber: Analisis penulis berdasarkan sumber-sumber sebagaimana dirujuk dalam esai.
Analisis di atas menunjukkan bahwa tidak satu pun dari ketiga perspektif yang secara sendirian mampu menangkap kompleksitas fenomena Iran secara utuh. Fukuyama menawarkan wawasan tentang bagaimana krisis dapat memperkuat kepercayaan, tetapi tidak menjelaskan bagaimana kepercayaan itu didistribusikan dan dimanipulasi. Putnam menyediakan alat untuk mengidentifikasi jenis modal sosial yang bekerja (bonding vs. bridging), tetapi tidak cukup sensitif terhadap dimensi kekuasaan. Bourdieu memberikan analisis kritis yang tajam, tetapi cenderung deterministik dan kurang memberikan ruang bagi agensi dan solidaritas sejati.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah model integratif yang mensintesiskan ketiga perspektif. Model ini dapat dirumuskan dalam tiga variabel inti:
- Tingkat kepercayaan (Fukuyama): Seberapa kuat ekspektasi tentang perilaku kooperatif di antara anggota masyarakat;
- Jenis jaringan (Putnam): Apakah jaringan yang dominan bersifat bonding, bridging, atau kombinasi keduanya;
- Distribusi kekuasaan (Bourdieu): Siapa yang mengendalikan jaringan, siapa yang memiliki akses, dan bagaimana modal dikonversi dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Perang dan Modal Sosial
Apa yang membuat Iran berbeda? Jawabannya, menurut data yang tersedia, terletak pada kombinasi unik antara ancaman eksternal, struktur sosial yang telah terlembagakan, dan respons komunitas yang spontan.Studi oleh Ghanbari (2025) dalam jurnal Political Sociology of the Islamic Revolution menyimpulkan bahwa "ancaman eksternal memicu aktivasi cepat kesadaran kolektif dan menciptakan solidaritas lintas-spektrum yang menyatukan faksi-faksi politik yang berseberangan, dari Mehdi Karroubi hingga konservatif" (hlm. 169). Mekanisme ini, di mana ancaman dari luar memicu penyatuan di dalam, bukanlah fenomena baru. Para sosiolog telah lama mendokumentasikan in-group cohesion effect of external threat. Namun, intensitas dan kecepatan respons solidaritas di Iran, di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk dan polarisasi politik yang tajam, tetap mencengangkan.
Jantung dari ketahanan sosial Iran terletak pada infrastruktur sosial yang telah dibangun selama berabad-abad dan diperkuat oleh Revolusi 1979: masjid, hey'at, dan mahalleh. Presiden Pezeshkian dalam pidatonya menekankan pentingnya "merancang model yang jelas dan koheren tentang pemberian layanan dengan secara tepat mendefinisikan populasi sasaran di tingkat lingkungan" dan bahwa model ini harus dikembangkan "sampai ke tingkat gang, sekolah, dan pusat kesehatan" (ABNA News, 2025). Ini adalah petunjuk tentang bagaimana negara Iran memandang, dan berusaha memanfaatkan, modal sosial berbasis komunitas.
Masjid di Iran bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah pusat kehidupan sosial, politik, dan ekonomi komunitas. Setiap masjid memiliki hey'at, perkumpulan keagamaan yang mengorganisasi ritual, amal, dan kegiatan sosial. Jaringan mahalleh (lingkungan tradisional) menyediakan struktur tatap muka yang memungkinkan kepercayaan dan kerja sama. Saat rudal Israel jatuh, infrastruktur ini sudah siap, tidak perlu dibangun dari nol, ia hanya perlu diaktifkan.
Salah satu aspek paling kontroversial dari perang Iran-Israel 2025 adalah keputusan pemerintah Iran untuk memberlakukan pembatasan internet hampir total selama sekitar setengah durasi konflik (ThreatBeat, 2026). Bagi banyak pengamat Barat, pembatasan ini dibaca sebagai upaya rezim untuk menyembunyikan informasi dan mencegah mobilisasi oposisi. Namun, dampak aktualnya lebih kompleks. Ketika internet dan panggilan telepon gagal, masyarakat Iran beralih ke jaringan komunikasi tatap muka, ke masjid, ke pertemuan lingkungan, ke kunjungan dari rumah ke rumah. Ini adalah contoh paradoks modernitas: Pemadaman teknologi justru mengaktifkan kembali modal sosial tradisional yang berbasis pada interaksi langsung dan kepercayaan personal.
Setelah menganalisis fenomena Iran secara mendalam melalui ketiga lensa, esai ini telah menunjukkan kompleksitas modal sosial yang tidak dapat direduksi ke dalam satu perspektif tunggal. Fukuyama menangkap dimensi kultural dari kepercayaan yang bangkit di bawah ancaman; Putnam mengungkap mekanisme jaringan yang memungkinkan solidaritas itu bekerja di tingkat akar rumput; sementara Bourdieu mengingatkan bahwa di balik solidaritas itu, ada dinamika kekuasaan yang menentukan siapa yang termasuk dan siapa yang tersingkir, siapa yang memperoleh dan siapa yang kehilangan.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara definitif dalam esai ini, tetapi mereka menunjukkan bahwa modal sosial adalah fenomena yang secara inheren bersifat politis dan moral. Ia bisa menjadi sumber ketahanan dan solidaritas, tetapi juga bisa menjadi instrumen penindasan dan eksklusi.
Kasus Iran membawa tiga pelajaran penting bagi pemahaman kita tentang modal sosial dalam konteks krisis. Pertama, modal sosial adalah pedang bermata dua, ia dapat menjadi fondasi ketahanan sekaligus instrumen kontrol. Kedua, jenis modal sosial yang berbeda (bonding vs. bridging, kepercayaan umum vs. kepercayaan eksklusif, jaringan egaliter vs. jaringan hierarkis) memiliki fungsi yang berbeda dalam krisis. Ketiga, membangun modal sosial tidak dapat dilakukan secara instan, ia membutuhkan waktu, institusi, dan konteks kultural yang kondusif.
Tabel Implikasi Kebijakan dari Kasus Iran
Sumber: Analisis penulis berdasarkan sumber-sumber sebagaimana dirujuk dalam esai.
Penutup
Esai ini telah menelusuri tiga perjalanan intelektual yang berbeda namun saling melengkapi. Fukuyama mengajarkan bahwa di balik setiap ekonomi yang makmur, setiap negara yang stabil, terdapat lapisan kepercayaan yang tidak terlihat, yang memungkinkan orang untuk bekerja sama melampaui batas keluarga dan kalkulasi kepentingan pribadi. Putnam menambahkan kompleksitas dengan menunjukkan bahwa tidak semua modal sosial diciptakan sama: ada yang mengikat ke dalam dan ada yang menjembatani ke luar, dan masyarakat yang sehat membutuhkan keseimbangan di antara keduanya. Bourdieu, dengan skeptisismenya yang tajam, mengingatkan bahwa di balik setiap hubungan sosial, setiap jaringan kepercayaan dan resiprositas, terdapat dinamika kekuasaan yang tersembunyi, dan modal sosial sering kali menjadi instrumen yang melaluinya hierarki sosial direproduksi.Kasus Iran pada Juni 2025 memberikan validasi empiris yang kuat untuk ketiga perspektif ini, tetapi juga mengungkap keterbatasan masing-masing. Fukuyama benar bahwa kepercayaan dapat bangkit di bawah tekanan; Putnam benar bahwa jaringan komunitas adalah tulang punggung solidaritas; Bourdieu benar bahwa di balik semua ini, ada politik distribusi dan kontrol yang tidak boleh diabaikan.
Melampaui perdebatan akademik, ada satu pelajaran yang mendalam dari kisah ini: Modal sosial memungkinkan orang-orang biasa untuk terus hidup, terus saling menolong, terus percaya pada hari esok, bahkan ketika langit di atas mereka terbakar. Dan kekuatan itu, dalam segala paradoksnya, adalah sesuatu yang patut dipelajari oleh kita semua.
Daftar Pustaka
ABNA News. (2025, 25 Juni). Enemies initiated military action thought to take advantage of internal disputes: Iran President. https://en.abna24.com/news/1701559/Enemies-initiated-military-action-thought-to-take-advantage-ofAl Jazeera. (2025, 26 Juni). Visualising 12 days of the Israel-Iran conflict. https://www.aljazeera.com/news/2025/6/26/visualising-12-days-of-the-israel-iran-conflict
Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. Dalam J. G. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and
Research for the Sociology of Education (hlm. 241–258). Greenwood Press.
Fukuyama, F. (1995). Trust: The social virtues and the creation of prosperity. Free Press.
Fukuyama, F. (2000). Social capital and civil society (IMF Working Paper No. 00/74). International Monetary Fund.
Ghanbari, S. (2025). Political Sociology of Solidarity in Crisis: An Analysis of Iran's Social Transformations During the 12-Day War and National Capacity-Building Implications. Political Sociology of the Islamic Revolution, 6(2), 169–199.
Majalla. (2026, 20 Januari). Sanctions make stabilising Iran's rial an uphill battle. https://en.majalla.com/node/5182821
Menati, R., Setoodehzadeh, F., & Kassani, A. (2025). Social capital and psychological resilience in post-war Iran: A critical review of the twelve-day conflict. Health Scope, 15(1), e166814.
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Sina News. (2026, 6 Februari). 经济制裁如何加剧伊朗社会动荡并引发大规模抗议? [Bagaimana sanksi ekonomi memperburuk kerusuhan sosial di Iran dan memicu protes besar-besaran?]. https://news.sina.cn
ThreatBeat. (2026, 10 April). Iran’s other front: The war over the internet. https://threatbeat.com






https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.