Pertanyaan inilah yang menghantui Antonio Gramsci, seorang pemikir Marxis Italia yang menghabiskan sebelas tahun terakhir hidupnya di balik jeruji besi rezim fasis Mussolini. Dari sel penjaranya yang sempit, Gramsci menghasilkan sebuah teori yang bukan hanya menjawab pertanyaan di atas, melainkan juga mengubah wajah ilmu sosial dan politik secara fundamental: Teori hegemoni.
Teori hegemoni Gramsci berangkat dari satu pengamatan sederhana namun revolusioner: Kekuasaan dalam masyarakat kapitalis modern tidak terutama bertumpu pada kekerasan dan paksaan, melainkan pada kemampuan kelompok dominan untuk membuat cara pandang mereka diterima sebagai "kewajaran" oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagaimana ditegaskan oleh Gramsci (1971), "hegemoni adalah kombinasi antara kekuatan dan konsensus" (p. 80, fn. 49). Inilah inti dari apa yang ia sebut sebagai "kepemimpinan moral dan intelektual", sebuah bentuk dominasi yang bekerja bukan melalui todongan senjata, melainkan melalui pembentukan kesadaran (Gramsci, 1971, p. 57).
Namun, menyebut hegemoni sekadar sebagai "dominasi melalui konsensus" adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Seperti yang diperingatkan oleh sejumlah penafsir kontemporer, "tendensi yang tersebar luas untuk menafsirkan istilah ini sebagai analog dengan 'kepemimpinan berdasarkan konsensus' telah mereduksi kekuasaan menjadi kontrol ideologis" semata (Cox, 1983, sebagaimana dikutip dalam berbagai sumber). Hegemoni Gramsci, sebaliknya, adalah konsep yang jauh lebih kompleks, multilapis, dan paradoksal, sebuah sintesis dialektis antara koersi dan konsensus, antara struktur ekonomi dan superstruktur kultural, antara momen "ekonomi-korporat" dan momen "etis-politis" (Femia, 1981, p. 24).
Esai ini hendak menelusuri arsitektur konseptual teori hegemoni Gramsci secara mendalam. Kita akan menyusuri perjalanan hidup sang pemikir, menelusuri akar-akar intelektualnya dalam tradisi Marxis dan pemikiran Italia, membedah konsep-konsep kuncinya, mengeksplorasi kritik dan perdebatannya, serta melihat bagaimana teori ini terus hidup dan relevan dalam analisis sosial kontemporer.
Namun, sebelum kita menyelami kedalaman teori hegemoni, ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan sang pemikir itu sendiri. Sebab, sebagaimana akan kita lihat, teori Gramsci bukanlah produk abstrak dari kontemplasi spekulatif, ia adalah buah dari kehidupan yang penuh pergolakan, perlawanan, dan pengorbanan.
Antonio Gramsci
Antonio Gramsci lahir pada 22 Januari 1891 di Ales, sebuah kota kecil di pulau Sardinia, Italia (Britannica, 2026). Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara dalam keluarga kelas pekerja. Ayahnya, Francesco Gramsci, adalah seorang pegawai kantor pendaftaran tanah. Ibunya, Giuseppina Marcias, adalah seorang perempuan tangguh yang membesarkan anak-anaknya nyaris seorang diri setelah suaminya dipenjara pada 1898 atas tuduhan penyalahgunaan jabatan, sebuah pengalaman yang mungkin secara tidak langsung membentuk kepekaan Gramsci terhadap ketidakadilan sistemik (Fiori, 1970).Masa kecil Gramsci diwarnai oleh kemiskinan dan penderitaan fisik. Pada usia tiga tahun, ia menderita penyakit tuberkulosis tulang belakang yang menyebabkan pertumbuhan tubuhnya terhambat dan membuatnya menjadi bungkuk seumur hidup. Kondisi fisiknya yang lemah, ditambah dengan latar belakangnya sebagai orang Sardinia, yang pada masa itu dipandang rendah oleh orang Italia daratan, menanamkan dalam diri Gramsci kesadaran yang tajam tentang marginalisasi dan ketidakadilan (Gramsci, 1975).
Dari Sardinia ke Turin: Pembentukan Seorang Revolusioner. Pada 1911, Gramsci memenangkan beasiswa untuk belajar di Universitas Turin, jantung industri Italia utara. Di sinilah ia berkenalan dengan gerakan buruh yang sedang bergelora dan dengan pemikiran sosialis. Turin pada masa itu adalah kota kontradiksi: Di satu sisi, pusat industri Fiat yang menjadi simbol modernitas kapitalis; di sisi lain, rumah bagi gerakan buruh militan yang terinspirasi oleh Revolusi Bolshevik di Rusia (1917). Gramsci bergabung dengan Partai Sosialis Italia (PSI) pada 1914 dan segera menjadi salah satu jurnalis dan agitator politiknya yang paling tajam (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2023).
Pada 1919, bersama Palmiro Togliatti dan sekelompok intelektual muda radikal, Gramsci mendirikan majalah L'Ordine Nuovo (Tatanan Baru), sebuah terbitan yang menjadi corong bagi gerakan dewan pabrik (factory council movement) di Turin. Gerakan ini, yang mencapai puncaknya pada "Biennio Rosso" (Dua Tahun Merah) 1919-1920, melihat para buruh menduduki pabrik-pabrik dan mengorganisir produksi secara mandiri. Bagi Gramsci, dewan-dewan pabrik ini bukan sekadar alat perjuangan ekonomis, melainkan "embrio" dari negara proletar masa depan, sekolah bagi kelas pekerja untuk belajar memerintah (Gramsci, 1977).
Pada Januari 1921, di Livorno, Gramsci dan para pendukungnya memisahkan diri dari PSI dan mendirikan Partai Komunis Italia (PCd'I). Gramsci menjadi salah satu pemimpin utamanya. Ia menghabiskan tahun 1922-1924 di Moskow dan Wina, bekerja untuk Komintern (Internasionale Komunis). Di Moskow, ia bertemu dan menikah dengan Julia Schucht, seorang pemain biola Rusia, yang memberinya dua putra: Delio dan Giuliano (Britannica, 2026).
Penjara dan Kelahiran "Prison Notebooks". Pada 1922, Benito Mussolini dan Partai Fasis berkuasa di Italia. Pada 1926, rezim fasis secara sistematis menindas oposisi politik. Gramsci ditangkap pada 8 November 1926, meskipun ia memiliki kekebalan parlementer sebagai anggota parlemen. Pada pengadilan tahun 1928, jaksa penuntut fasis secara terkenal menyatakan, "Kita harus menghentikan otak ini berfungsi selama dua puluh tahun." Gramsci dijatuhi hukuman 20 tahun penjara (Fiori, 1970).
Ia dikirim ke penjara Turi di Bari, Italia selatan. Di sanalah, dalam kondisi kesehatan yang terus memburuk, Gramsci memulai proyek intelektual monumentalnya: Menulis serangkaian catatan yang kelak dikenal sebagai Prison Notebooks (Quaderni del carcere). Antara 1929 dan 1935, ia menulis lebih dari 30 buku catatan berisi sekitar 3.000 halaman analisis tentang sejarah, politik, filsafat, budaya, dan strategi revolusioner (Gramsci, 1971).
Prison Notebooks ditulis dalam kondisi yang sangat sulit. Gramsci menderita insomnia, tuberkulosis, arteriosklerosis, dan berbagai penyakit lainnya. Tulisannya bersifat fragmentaris dan sering menggunakan bahasa yang disandikan untuk menghindari sensor penjara. Ia menyebut Marxisme sebagai "filsafat praksis" (philosophy of praxis), Lenin sebagai "Ilyich," dan komunisme sebagai "tatanan baru." Meskipun fragmentaris, Prison Notebooks adalah "salah satu teks Marxis paling populer yang tersedia dan terus menginspirasi para pembaca di seluruh dunia" (Filippini, 2017, p. ix).
Gramsci tidak pernah bebas. Pada 1934, kesehatannya memburuk secara kritis dan ia dipindahkan ke beberapa klinik. Ia meninggal pada 27 April 1937, hanya beberapa hari setelah secara resmi dibebaskan dari penjara, tetapi sudah terlambat bagi tubuhnya yang hancur. Ia meninggal di usia 46 tahun.
Akar Intelektual
Teori hegemoni Gramsci tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah sintesis kreatif dari berbagai tradisi intelektual, yang dirajut ulang oleh Gramsci menjadi sesuatu yang baru dan orisinal.Melampaui Marx, dari determinisme ekonomi ke "filsafat praksis." Gramsci adalah seorang Marxis, tetapi ia adalah Marxis yang tidak ortodoks. Ia menolak determinisme ekonomi yang kaku, pandangan bahwa "basis" ekonomi secara mekanis menentukan "superstruktur" politik dan kultural. Dalam kritiknya terhadap materialisme historis yang mekanistik (mechanical historical materialism), Gramsci menekankan bahwa hubungan antara ekonomi dan politik, antara struktur dan superstruktur, adalah hubungan dialektis yang kompleks, bukan hubungan kausal satu arah (Gramsci, 1971, pp. 365-366).
Bagi Gramsci, Marxisme adalah "filsafat praksis", sebuah filsafat yang menekankan kesatuan antara teori dan praktik, antara pemahaman dan transformasi dunia. Konsep ini bukan sekadar penyamaran terminologis untuk menghindari sensor fasis, melainkan reorientasi filosofis yang mendalam. Filsafat praksis, tulis Gramsci (1971), adalah "humanisme absolut", sebuah filsafat yang menempatkan aktivitas manusia yang sadar dan transformatif di pusat analisis sosial (p. 381).
Pelajaran yang ia petik dari Lenin adalah “hegemoni proletariat”. Konsep hegemoni sebenarnya sudah digunakan dalam perdebatan di kalangan Bolshevik Rusia pada awal 1920-an, terutama dalam diskusi tentang hubungan antara kelas pekerja dan kaum tani dalam revolusi. Lenin dan para pengikutnya berargumen bahwa proletariat harus membangun "hegemoni" atas sekutu-sekutu kelasnya, terutama kaum tani, untuk memenangkan revolusi. Gramsci mengambil konsep ini tetapi memberinya makna yang jauh lebih luas dan lebih kaya, mentransformasikannya dari konsep taktis tentang aliansi kelas menjadi konsep strategis tentang seluruh cara kerja kekuasaan dalam masyarakat kapitalis maju (Femia, 1981, pp. 23-25).
Akar intelektual Gramsci lainnya adalah dialognya dengan Croce. Idealisme dan "Agama Kebebasan." Benedetto Croce, filsuf idealis Italia yang dominan pada masa Gramsci, adalah lawan dialog utama Gramsci. Croce menekankan peran ide-ide, budaya, dan "roh" dalam sejarah, suatu penekanan yang berlawanan dengan materialisme Marxis ortodoks. Gramsci mengkritik Croce sebagai ideolog borjuasi, tetapi pada saat yang sama belajar banyak darinya. Dari Croce, Gramsci belajar untuk memperlakukan ide-ide, budaya, dan kesadaran sebagai kekuatan material dalam sejarah, bukan sekadar cerminan pasif dari basis ekonomi (Adamson, 1980, pp. 98-112).
Tentu saja, sebagai seorang Italia dan aktivis, Machiavelli adalah rujukan Gramsci, khususnya buku Sang Pangeran yang ia tafsirkan secara modern. Niccolò Machiavelli adalah inspirasi kunci lainnya. Dalam The Prince, Machiavelli menyerukan pembentukan negara Italia yang bersatu di bawah seorang pemimpin yang kuat. Gramsci menafsirkan "Sang Pangeran" bukan sebagai figur individu, melainkan sebagai metafora untuk partai politik revolusioner, "Pangeran Modern" yang mampu mengorganisir kehendak kolektif nasional-populer dan membangun hegemoni baru. Seperti Machiavelli, Gramsci menekankan pentingnya memahami hubungan kekuatan (rapporti di forza) secara realistis, tanpa ilusi moralistik (Gramsci, 1971, pp. 125-133).
Hegemoni
Kini kita tiba di jantung teori Gramsci. Apa sebenarnya yang ia maksud dengan "hegemoni"? Pertanyaan ini lebih sulit dijawab ketimbang yang tampak. Gramsci tidak pernah memberikan definisi tunggal yang final tentang hegemoni. Sebaliknya, ia mengembangkan konsep ini melalui serangkaian catatan yang tersebar di Prison Notebooks-nya, dan maknanya berevolusi seiring perkembangan pemikirannya.Definisi Gramsci yang paling terkenal adalah kepemimpinan moral dan intelektual. Dalam salah satu perumusannya yang paling sering dikutip, Gramsci (1971) mendefinisikan hegemoni sebagai "kepemimpinan kultural, moral, dan ideologis" dari suatu kelompok atas kelompok-kelompok sekutu dan subaltern (p. 57). Ini adalah kepemimpinan yang melampaui dominasi semata; ia melibatkan pembentukan konsensus aktif, bukan sekadar penerimaan pasif. "Suatu kelompok sosial," tulis Gramsci (1971), "dapat, dan bahkan harus, sudah menjalankan 'kepemimpinan' sebelum memenangkan kekuasaan pemerintahan" (p. 57).
Hegemoni sebagai "Weltanschauung" (Pandangan Dunia). Pada tingkat yang lebih dalam, hegemoni bukan sekadar strategi politik, melainkan suatu "cara hidup dan berpikir", sebuah Weltanschauung (pandangan dunia) yang menjadi dasar preferensi, selera, moralitas, etika, dan prinsip-prinsip filosofis mayoritas (Gramsci, 1971). Dalam pengertian ini, hegemoni adalah "seluruh proses sosial yang dengannya suatu kelas fundamental mengkoordinasikan dan mengorganisir berbagai kekuatan sosial ke dalam suatu sistem hubungan yang koheren yang memungkinkan reproduksi masyarakat kapitalis" (Morton, 2007, p. 90).
Gramsci juga mengurai aneka dimensi hegemoni. Untuk memahami hegemoni secara lebih sistematis, kita dapat membedakan beberapa dimensinya:
- Hegemoni sebagai Strategi Politik. Kemampuan kelas fundamental untuk membangun aliansi dengan kelas-kelas lain dan memproyeksikan kepentingannya sebagai kepentingan universal.
- Hegemoni sebagai Formasi Ideologis. Proses di mana ideologi kelas dominan menjadi "common sense", kewajaran yang diterima begitu saja, bagi seluruh masyarakat.
- Hegemoni sebagai "Blok Historis". Artikulasi antara struktur ekonomi dan superstruktur politik-ideologis yang membentuk suatu kesatuan organik.
- Hegemoni sebagai Proses Pedagogis. Sebagaimana ditegaskan Gramsci, "setiap hubungan hegemoni niscaya adalah hubungan pedagogis" (Gramsci, 1971, p. 350), hegemoni melibatkan pendidikan, pembentukan subjektivitas, dan transformasi kesadaran.
Patut diingat baik-baik, bagi Gramsci hegemoni bukan dominasi. Sebab itu penting kita bedakan hegemoni dari dominasi (dominazione) atau kediktatoran. Dominasi bertumpu pada koersi, penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memaksakan kepatuhan. Hegemoni, sebaliknya, bertumpu terutama pada konsensus, kesukarelaan pihak yang dipimpin untuk menerima kepemimpinan pihak yang memimpin. Namun, dan ini sangat penting, Gramsci tidak pernah memisahkan kedua momen ini secara mutlak. Hegemoni selalu "dilindungi oleh baju besi koersi" (Gramsci, 1971, p. 263). Koersi dan konsensus bukanlah alternatif yang saling mengecualikan, melainkan dua kutub dari satu kontinum kekuasaan.
Negara Integral
Gramsci bicara soal “negara integral” yang diperoleh dari persamaan: Masyarakat Politik + Masyarakat Sipil = Hegemoni Berlapis Baja. Salah satu inovasi teoretis Gramsci yang paling signifikan adalah konsepsinya tentang "negara integral" (stato integrale). Berbeda dengan pemahaman Marxis ortodoks yang melihat negara sebagai instrumen koersi kelas penguasa, Gramsci memperluas konsep negara untuk mencakup bukan hanya aparatus koersif (polisi, tentara, penjara) tetapi juga institusi-institusi "masyarakat sipil" yang memproduksi konsensus.Dua ranah superstruktur juga dikategorisasi. Gramsci (1971) membedakan dua "tingkat" superstruktur yang besar:
- Masyarakat Sipil (società civile): "Ansambel organisme yang umumnya disebut 'privat', gereja, serikat buruh, sekolah, media, partai politik, dan asosiasi-asosiasi kultural." Masyarakat sipil adalah ranah di mana hegemoni dibangun, dipertahankan, dan diperebutkan. Ini adalah "sistem pertahanan" yang melindungi negara dari gelombang revolusioner.
- Masyarakat Politik (società politica): Aparatus negara dalam arti sempit, pemerintahan, birokrasi, polisi, militer, dan sistem hukum. Masyarakat politik adalah ranah "dominasi langsung" atau "komando" yang menjalankan fungsi koersif.
Formula terkenal Gramsci: Negara = Masyarakat Politik + Masyarakat Sipil, yaitu "hegemoni yang dilindungi oleh baju besi koersi" (Gramsci, 1971, p. 263).
Mengapa negara integral itu penting? Konsepsi negara integral memiliki implikasi revolusioner. Pertama, ia menunjukkan bahwa kekuasaan kelas penguasa tidak hanya bertumpu pada kontrol atas aparatus koersif, tetapi juga, dan terutama di negara-negara kapitalis maju, pada kemampuannya untuk membentuk kesadaran melalui institusi-institusi masyarakat sipil. Kedua, ia memperluas medan perjuangan politik: Revolusi bukan hanya tentang merebut aparatus negara, melainkan juga tentang membangun hegemoni alternatif dalam masyarakat sipil sebelum, atau bersamaan dengan, perebutan kekuasaan politik. Ketiga, ia menjelaskan mengapa revolusi ala Bolshevik (serangan frontal terhadap negara) tidak dapat begitu saja direplikasi di negara-negara Barat. "Di Timur," tulis Gramsci (1971), "negara adalah segalanya, masyarakat sipil adalah primitif dan gelatin; di Barat, terdapat hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat sipil, dan ketika negara bergetar, struktur masyarakat sipil yang kokoh segera tampak" (p. 238).
Koersi dan Konsensus
Salah satu kekeliruan paling umum dalam menafsirkan Gramsci adalah mereduksi hegemoni menjadi sekadar "konsensus" dan mempertentangkannya dengan "koersi." Bacaan yang lebih cermat atas Prison Notebooks menunjukkan bahwa Gramsci selalu melihat koersi dan konsensus sebagai dua momen yang saling terkait secara dialektis dalam setiap hubungan hegemoni."Centaur" Machiavelli adalah setengah binatang, setengah manusia. Gramsci menemukan metafora yang sempurna untuk hubungan koersi-konsensus dalam figur centaur (makhluk setengah manusia setengah kuda) yang digunakan oleh Machiavelli. "Sang Pangeran," demikian Gramsci (1971) menafsirkan Machiavelli, "harus bisa menggunakan baik sifat manusia maupun sifat binatang... ada dua cara berjuang: Dengan hukum dan dengan kekerasan" (p. 169-170). Hegemoni, dalam pengertian ini, adalah "perspektif ganda" yang menggabungkan kekuatan dan persuasi, otoritas dan legitimasi, kekerasan dan peradaban.
Bagi Gramsci pula, konsensus bukanlah ketiadaan konflik. Penting untuk dicatat bahwa konsensus dalam pengertian Gramscian bukanlah harmoni tanpa konflik. Konsensus hegemoni adalah hasil dari negosiasi, kompromi, dan perjuangan yang terus-menerus. Kelas penguasa, untuk mempertahankan hegemoni, harus membuat konsesi kepada kelas-kelas subaltern, tidak hanya konsesi material (kenaikan upah, kesejahteraan sosial), tetapi juga konsesi simbolik dan ideologis. Sebagaimana dicatat oleh Gramsci (1971), "hegemoni... niscaya didasarkan pada kompromi antara kelompok yang memimpin dan kelompok yang dipimpin" (p. 161).
Mekanisme Produksi Konsensus. Bagaimana konsensus diproduksi? Gramsci mengidentifikasi berbagai mekanisme yang bekerja di dalam masyarakat sipil:
- Sistem Pendidikan. Sekolah mentransmisikan pengetahuan, keterampilan, tetapi juga nilai-nilai dan norma-norma yang mereproduksi tatanan sosial yang ada.
- Media dan Budaya Populer. Surat kabar, radio, film, dan bentuk-bentuk budaya populer lainnya membentuk "common sense", asumsi-asumsi yang diterima begitu saja tentang dunia sosial.
- Agama dan Gereja. Institusi religius memainkan peran kunci dalam membentuk moralitas dan pandangan dunia, terutama di masyarakat seperti Italia.
- Intelektual. Para intelektual adalah "para komisaris" hegemoni, mereka yang mengorganisir dan mengartikulasikan pandangan dunia kelas penguasa. (Kita akan membahas ini lebih mendalam pada bagian berikutnya.)
Bagi Gramsci, koersi adalah "baju besi" bagi Hegemoni. Meskipun menekankan konsensus, Gramsci tidak pernah melupakan dimensi koersif kekuasaan. Koersi, baginya, bukanlah alternatif bagi hegemoni, melainkan "baju besi" yang melindunginya. Ketika konsensus gagal, ketika kelas-kelas subaltern menolak kepemimpinan moral dan intelektual kelas penguasa, negara harus siap menggunakan kekerasan untuk mempertahankan tatanan. Hubungan antara koersi dan konsensus juga bervariasi secara historis dan kontekstual: Dalam periode krisis organik, koersi cenderung menjadi lebih dominan; dalam periode hegemoni yang stabil, konsensus lebih menonjol.
Intelektual Organik dan Tradisional
Tidak ada diskusi tentang hegemoni Gramsci yang lengkap tanpa membahas teori intelektualnya yang brilian. Bagi Gramsci, pertanyaan tentang intelektual bukanlah pertanyaan sekunder atau spesialistis; ia adalah pertanyaan yang terletak di jantung seluruh teori politiknya. Siapa yang memproduksi, mengorganisir, dan menyebarkan ide-ide? Siapa yang membentuk "common sense" suatu masyarakat? Siapa yang menjembatani antara kelas penguasa dan massa yang dikuasai?Dalam konteks ini, Gramsci berupaya melampaui definisi konvensional. Gramsci menolak definisi intelektual yang sempit berdasarkan profesi atau tingkat pendidikan formal. "Semua orang adalah intelektual," tulisnya (Gramsci, 1971, p. 9), "tetapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat." Entitas membedakan intelektual bukanlah isi dari aktivitas mentalnya, melainkan fungsinya dalam keseluruhan hubungan sosial. Setiap orang berpikir, setiap orang memiliki konsepsi tentang dunia, tetapi hanya beberapa orang yang secara sistematis mengorganisir, mengartikulasikan, dan menyebarluaskan ide-ide yang mengikat suatu kelompok sosial bersama atau memproyeksikan pengaruhnya ke seluruh masyarakat.
Konsep kunci Gramsci adalah intelektual organik. Setiap kelas sosial fundamental, demikian argumennya, menciptakan intelektualnya sendiri secara "organik", yaitu, intelektual yang muncul dari kelas itu sendiri dan berfungsi untuk memberikannya homogenitas dan kesadaran akan fungsinya sendiri. Pengusaha kapitalis, misalnya, menciptakan insinyur, ekonom, manajer, dan ahli hukum yang mengorganisir produksi dan mengartikulasikan kepentingan kelas kapitalis. Kelas pekerja, dalam perjuangannya untuk hegemoni, juga harus menciptakan intelektual organiknya sendiri, pemikir, aktivis, organisator yang mampu mengartikulasikan "kehendak kolektif nasional-populer" (Gramsci, 1971, pp. 5-6).
Pada lain pihak, Gramsci juga mengulas tentang intelektual tradisional. Ia adalah kategori intelektual yang tampaknya otonom dari kelas-kelas sosial fundamental dan mengklaim memiliki kontinuitas historis yang tak terputus. Pendeta, filsuf, profesor universitas, dan sastrawan sering kali masuk dalam kategori ini. Gramsci berpendapat bahwa meskipun intelektual tradisional menampilkan diri sebagai independen dan universal, mereka sebenarnya, secara halus, terhubung dengan kelas penguasa. Mereka memainkan peran penting dalam membangun dan mempertahankan hegemoni dengan memproyeksikan nilai-nilai dan pandangan dunia kelas penguasa sebagai "peradaban" itu sendiri (Gramsci, 1971, pp. 7-8).
Sebab itu, bagi Gramsci bicara khusus seputar fungsi organisatoris intelektual. Intelektual, bagi Gramsci, bukanlah pemikir yang terisolasi di menara gading. Mereka adalah "para 'komisaris' dari kelompok dominan untuk fungsi-fungsi subaltern dari hegemoni sosial dan pemerintahan politik" (Gramsci, 1971, p. 12). Fungsi mereka adalah organisatoris: Mereka mengorganisir produksi, mengorganisir budaya, mengorganisir "kepercayaan" yang mengikat suatu masyarakat bersama. Dalam perjuangan untuk hegemoni, partai politik revolusioner, "Pangeran Modern", berfungsi sebagai "intelektual kolektif" yang mengorganisir dan mengarahkan intelektual organik kelas pekerja (Gramsci, 1971, pp. 15-16). Di Indonesia hal ini terjadi pada Tan Malaka, Sukarno, dan M. Natsir.
Blok Historis
Salah satu konsep Gramsci yang paling kaya sekaligus paling sulit didefinisikan adalah "blok historis" (blocco storico). Konsep ini mencoba menangkap bagaimana, dalam formasi sosial tertentu, struktur ekonomi, institusi politik, dan formasi ideologis saling terkait secara organik membentuk suatu kesatuan yang koheren.Bagaimana Gramsci mendefinisikan blok historis? Gramsci tidak pernah memberikan definisi formal tentang blok historis, tetapi berbagai catatannya menunjukkan arah yang jelas. Blok historis adalah hubungan organik antara "struktur" (basis ekonomi) dan "superstruktur" (institusi politik dan ideologis) yang membentuk suatu "kesatuan historis" tertentu. Ini bukanlah hubungan deterministik satu arah di mana basis menentukan superstruktur; sebaliknya, ini adalah hubungan dialektis di mana "kekuatan material adalah isi, dan ideologi adalah bentuk" dari blok historis (Gramsci, 1971, p. 377).
Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami: Blok historis adalah konfigurasi spesifik dari institusi ekonomi, politik, dan kultural yang mengikat kelas-kelas yang berbeda bersama di bawah kepemimpinan suatu kelas fundamental. Ini adalah cara di mana suatu "sistem" sosial tertentu "bekerja" sebagai keseluruhan yang terintegrasi, bukan karena harmoni alami, melainkan karena hegemoni kelas penguasa yang berhasil mengartikulasikan kepentingan-kepentingan yang berbeda ke dalam suatu proyek yang tampaknya universal.
Blok historis saling berkelindang dengan konsep hegemoni. Blok historis dan hegemoni adalah dua konsep yang saling terkait erat. Jika hegemoni adalah proses di mana suatu kelas membangun kepemimpinan moral dan intelektual atas kelas-kelas lain, maka blok historis adalah hasil dari proses tersebut: Formasi sosial yang terbentuk ketika suatu kelas fundamental berhasil menyatukan berbagai kelompok sosial di bawah kepemimpinannya ke dalam suatu aliansi yang stabil. Hegemoni adalah "semen" yang mengikat blok historis bersama; blok historis adalah "struktur" yang dibangun melalui hegemoni.
Dari bahasan ini maka kita dapat menyebut bahwa blok historis sebagai wujud teori formasi sosial. Dengan konsep blok historis, Gramsci menawarkan alternatif terhadap teori "basis-superstruktur" Marxis yang mekanistik. Alih-alih melihat ekonomi, politik, dan ideologi sebagai "tingkat" yang terpisah dengan hubungan kausal satu arah, Gramsci melihatnya sebagai "momen" dari suatu totalitas organik yang saling mengandaikan. "Analisis tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan keseluruhan kompleks," tulisnya (Gramsci, 1971, p. 180). "Orang tidak dapat memisahkan 'ekonomi' dari 'politik'... karena dalam realitas aktual mereka adalah satu dan sama."
Perang
Teori hegemoni Gramsci bukan sekadar analisis tentang bagaimana kekuasaan bekerja; ia juga merupakan teori strategi tentang bagaimana kekuasaan dapat ditantang dan ditransformasi. Di sinilah Gramsci menggunakan metafora militer yang terkenal: Perang manuver (guerra di movimento) dan perang posisi (guerra di posizione), serta konsep revolusi pasif (rivoluzione passiva).Seperti Tan Malaka, Gramsci kritis dalam mempelajari aneka strategi revolusi yang berlaku dari dunia Timur ke Barat. Mengapa strategi revolusioner Berbeda? Titik tolak Gramsci adalah perbandingan antara Revolusi Bolshevik di Rusia (1917) dan kegagalan revolusi di Eropa Barat. Di Rusia, negara Tsar bersifat "primitif dan gelatin", tidak ada masyarakat sipil yang kuat yang bisa menjadi "sistem pertahanan" melawan revolusi. Oleh karena itu, strategi "perang manuver", serangan frontal, perebutan kekuasaan negara secara langsung, bisa berhasil. Di Barat, sebaliknya, negara "hanyalah parit depan, di belakangnya berdiri rangkaian benteng dan pertahanan yang kokoh" berupa institusi-institusi masyarakat sipil (Gramsci, 1971, p. 238).
Salah titik kritik Gramsci adalah Perang Posisi. Strategi yang tepat untuk Barat, menurut Gramsci, adalah "perang posisi", perjuangan yang panjang, bertahap, dan molekuler untuk membangun hegemoni alternatif dalam masyarakat sipil sebelum melancarkan serangan terhadap negara. Perang posisi adalah "perjuangan untuk mengubah basis kultural politik, untuk menantang hegemoni kelas penguasa dan menggantikannya dengan hegemoni, atau dalam istilah Gramsci, 'common sense', massa" (Gramsci, 1971).
Perang posisi dalam pemahan Gramsci melibatkan:
- Pembentukan intelektual organik kelas pekerja yang mampu mengartikulasikan pandangan dunia alternatif.
- Penaklukan "benteng-benteng dan kubu-kubu" masyarakat sipil, serikat buruh, partai politik, institusi pendidikan, media, dan organisasi kultural, melalui perjuangan ideologis dan organisasional.
- Transformasi "common sense" massa, dari penerimaan pasif terhadap tatanan yang ada menuju kesadaran kritis tentang kemungkinan tatanan alternatif.
- Pembangunan "blok historis" baru, aliansi kelas yang dipimpin oleh proletariat tetapi mencakup berbagai kelompok subaltern lainnya.
Gramsci juga mengajukan konsep revolusi pasif manakala terjadi saat perubahan dipaksakan dari atas. Konsep revolusi pasif menangkap situasi di mana kelas penguasa berhasil mengelola perubahan sosial tanpa membiarkan kelas-kelas subaltern memainkan peran protagonis. Istilah ini awalnya digunakan Gramsci untuk menganalisis Risorgimento Italia (penyatuan Italia pada abad ke-19), yang merupakan "revolusi tanpa revolusi", transformasi yang dipimpin oleh elit liberal moderat (Cavour) tanpa partisipasi massa populer. Revolusi pasif adalah "revolusi-restorasi": Revolusi dalam arti bahwa ia menghasilkan perubahan struktural, tetapi restorasi dalam arti bahwa ia melakukannya dengan cara yang mempertahankan kekuasaan kelas penguasa (Gramsci, 1971, pp. 106-114).
Konsep revolusi pasif memiliki relevansi yang mengejutkan untuk analisis kontemporer. Neoliberalisme, misalnya, dapat dianalisis sebagai revolusi pasif, restrukturisasi kapitalisme secara fundamental yang dilakukan oleh dan untuk kepentingan kelas kapitalis, sementara kelas pekerja dan gerakan sosial lainnya dipinggirkan atau dikooptasi. Sebagaimana dicatat oleh Morton (2007), revolusi pasif adalah konsep kunci untuk menganalisis "proyek neoliberalisme, proses pembentukan negara, dan praktik-praktik perlawanan" di era kontemporer (p. 90).
Common Sense
Salah satu kontribusi Gramsci yang paling substansial, dan paling sering diabaikan, adalah analisisnya tentang "common sense" dan perannya dalam hegemoni. Bagi Gramsci, common sense bukan sekadar kategori kognitif atau psikologis; ia adalah medan perjuangan ideologis yang krusial.Apa itu common sense? Common sense, dalam pengertian Gramscian, adalah "konsepsi dunia yang tersebar luas", seperangkat asumsi, keyakinan, dan nilai-nilai yang diterima begitu saja oleh sebagian besar orang dalam masyarakat tertentu. Ia adalah "filsafat non-filsuf", cara orang biasa memahami dunia dan tempat mereka di dalamnya. Common sense tidak koheren secara logis atau sistematis; ia fragmentaris, kontradiktif, dan merupakan campuran dari berbagai elemen: Sains populer, agama, folklor, pengalaman praktis, dan "jejak" ideologi kelas penguasa (Gramsci, 1971, pp. 323-333).
Dengan demikian, dalam cara pikir Gramsci, common sense adalah bagian dari Medan Hegemoni. Common sense adalah medan kunci di mana hegemoni beroperasi, atau gagal beroperasi. Kelas penguasa, melalui institusi-institusi masyarakat sipil, berusaha membentuk common sense sedemikian rupa sehingga tatanan sosial yang ada tampak "alami," "masuk akal," dan "satu-satunya yang mungkin." Ketika ini berhasil, dominasi kelas penguasa tidak lagi dialami sebagai dominasi, ia dialami sebagai kewajaran itu sendiri. Orang menerima ketidaksetaraan, eksploitasi, dan hierarki bukan karena mereka dipaksa, melainkan karena mereka "melihatnya" sebagai bagian dari tatanan alamiah benda-benda.
Namun, common sense juga mengandung elemen-elemen "good sense" (buon senso), momen-momen kesadaran kritis, pengalaman penindasan, dan aspirasi untuk perubahan. Tugas perjuangan kontra-hegemoni adalah untuk "menyaring" good sense dari common sense, mengembangkannya menjadi kesadaran yang koheren dan sistematis, dan menggunakannya sebagai dasar untuk membangun pandangan dunia alternatif.
Sebagai intelektual praktis, Gramsci kemudian bicara soal perlahiran dari common sense ke "good sense" dan itu bisa dilalu lewat proses pedagogis. Transformasi common sense menjadi "good sense" adalah, bagi Gramsci, proses pedagogis yang esensial. Sebagaimana telah disebutkan, "setiap hubungan hegemoni niscaya adalah hubungan pedagogis" (Gramsci, 1971, p. 350). Ini berarti bahwa perjuangan untuk hegemoni adalah, pada intinya, perjuangan pendidikan, bukan dalam arti sempit schooling, melainkan dalam arti luas pembentukan subjektivitas, kesadaran, dan kehendak kolektif.
Intelektual organik kelas pekerja memiliki peran kunci dalam proses ini. Mereka harus "keluar dari diri mereka sendiri," meninggalkan "menara gading" pengetahuan spesialis, dan terlibat secara organik dengan massa, memahami common sense mereka, belajar dari pengalaman mereka, dan bekerja bersama mereka untuk mengembangkan good sense menjadi "filsafat praksis" yang koheren dan transformatif.
Kaum Subaltern
Jika hegemoni adalah tentang bagaimana kelas penguasa mempertahankan kepemimpinannya, maka pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana hegemoni bisa ditantang? Di sinilah konsep "subaltern" dan "kontra-hegemoni" menjadi sangat penting.Siapakah kaum subaltern? Gramsci menggunakan istilah "subaltern", yang secara harfiah berarti "bawahan" dalam hierarki militer, untuk merujuk pada kelompok-kelompok sosial yang tersubordinasi, termarjinalkan, dan dikecualikan dari kekuasaan. Kaum subaltern bukan hanya kelas pekerja dalam arti Marxis tradisional; mereka mencakup petani, perempuan, kelompok etnis minoritas, dan kelompok marjinal lainnya yang kepentingannya tidak terwakili secara memadai dalam blok historis yang ada (Gramsci, 1971, pp. 52-55).
Sejarah kaum subaltern, menurut Gramsci, adalah sejarah yang "fragmenter dan episodik", sejarah kekalahan, perlawanan yang gagal, dan aspirasi yang tidak terwujud. Mereka tidak memiliki otonomi, organisasi, dan kesadaran yang diperlukan untuk menjadi protagonis sejarah atas kemauan mereka sendiri. Mereka selalu "dimasukkan" ke dalam proyek-proyek politik yang dipimpin oleh kelas-kelas lain, entah sebagai sekutu subordinat dalam blok historis yang dipimpin borjuasi, entah sebagai massa yang dimobilisasi oleh gerakan-gerakan populis.
Gramsci juga bicara soal kontra-hegemoni lalu membangun alternatif. Kontra-hegemoni adalah proses di mana kelas-kelas subaltern membangun kapasitas mereka sendiri untuk kepemimpinan moral dan intelektual, menantang hegemoni kelas penguasa, dan membangun "blok historis alternatif." Ini bukan sekadar "perlawanan" dalam arti negatif; ia adalah konstruksi positif dari tatanan alternatif, pandangan dunia, institusi, dan praktik-praktik sosial yang berbeda (Gramsci, 1971).
Kontra-hegemoni melibatkan beberapa elemen kunci:
- Kritik Ideologis. Membongkar klaim-klaim universalitas kelas penguasa dan mengungkapkan bagaimana kepentingan partikular borjuasi disajikan sebagai kepentingan universal.
- Pembangunan Institusional. Menciptakan institusi-institusi alternatif dalam masyarakat sipil, serikat buruh militan, media alternatif, sekolah-sekolah populer, dan organisasi-organisasi kultural, yang dapat menjadi basis bagi hegemoni alternatif.
- Pembentukan Subjektivitas. Mengembangkan kesadaran kritis di kalangan kelas-kelas subaltern, mentransformasi mereka dari "kelas dalam dirinya sendiri" (classe in sé) menjadi "kelas untuk dirinya sendiri" (classe per sé).
- Aliansi Politik. Membangun "blok historis" baru yang menyatukan berbagai kelompok subaltern di bawah kepemimpinan kelas pekerja, berdasarkan program yang mengartikulasikan kepentingan mereka dalam proyek transformasi sosial yang koheren.
Terdapat hubungan dialektis antara subaltern dan hegemoni. Penting untuk dicatat bahwa Gramsci tidak melihat hubungan antara hegemoni dan subalternitas sebagai oposisi sederhana. Subalternitas adalah produk dari kegagalan hegemoni, atau lebih tepatnya, dari keberhasilan hegemoni kelas penguasa dalam menjaga kelas-kelas subaltern tetap terfragmentasi dan tidak terorganisir. Kaum subaltern selalu "sudah berada dalam" hegemoni, common sense mereka dibentuk oleh ideologi kelas penguasa, aspirasi mereka diartikulasikan dalam istilah-istilah yang disediakan oleh tatanan yang ada. Perjuangan kontra-hegemoni, oleh karena itu, bukanlah perjuangan dari "luar" melawan "dalam"; ia adalah perjuangan di dalam dan melawan hegemoni yang ada, menggunakan elemen-elemen "good sense" dalam common sense massa sebagai titik tolak untuk membangun alternatif.
Kritik atas Gramsci
Tidak ada teori besar yang lolos dari kritik, dan teori hegemoni Gramsci tidak terkecuali. Sejak dipopulerkannya pada 1970-an, teori ini telah menjadi subjek perdebatan yang intens di kalangan Marxis dan non-Marxis.Louis Althusser melancarkan kritik seputar hegemoni dan bahaya "historisisasi". Althusser, filsuf Marxis Prancis, mengembangkan teori "aparatus ideologis negara." Althusser mengkritik konsep hegemoni Gramsci karena terlalu "historis" dan tidak cukup "ilmiah." Menurut Althusser, Gramsci mengaburkan peran menentukan basis ekonomi atas superstruktur, melarutkan spesifisitas aparatus negara, dan memperlemah keharusan historis kediktatoran proletariat. Hegemoni, bagi Althusser, terlalu menekankan pada ideologi dan kesadaran, dan tidak cukup pada struktur objektif yang membatasi dan mengondisikan tindakan manusia (Althusser, 1970).
Kemudian Perry Anderson mempersoalkan "Antinomi" Gramsci. Dalam esainya yang berpengaruh "The Antinomies of Antonio Gramsci" (1976), sejarawan Marxis Perry Anderson mengidentifikasi apa yang ia anggap sebagai ketegangan internal dalam pemikiran Gramsci. Anderson berargumen bahwa Gramsci mengayunkan konsep hegemoni antara tiga pasangan oposisi yang berbeda: Hegemoni versus dominasi, masyarakat sipil versus negara, dan konsensus versus koersi. Menurut Anderson, ketidakjelasan ini mencerminkan perkembangan pemikiran Gramsci yang tidak selesai, dan juga kondisi penjara yang menghalangi Gramsci untuk mensistematiskan pemikirannya (Anderson, 1976).
Tidak ketinggalan, kaum perempuan pun turut mengkritik Gramsci. Kritik kaum feminis lokusnya adalah hegemoni dan relasi gender. Kritik feminis berargumen bahwa Gramsci, seperti kebanyakan Marxis pada zamannya, mengabaikan dimensi gender dari hegemoni. Teori hegemoni berfokus terutama pada relasi kelas dalam ranah "publik", negara, tempat kerja, partai politik, dan mengabaikan bagaimana dominasi direproduksi dalam ranah "privat" keluarga dan hubungan personal. Feminis Gramscian, bagaimanapun, telah berusaha untuk memperluas teori hegemoni untuk mencakup patriarki dan hubungan gender.
Perspektif Post-Kolonial juga mengkritik hegemoni sebagai manifestasi lain Eurosentrisme. Teori post-kolonial telah mempertanyakan universalitas konsep hegemoni Gramsci. Apakah teori yang dikembangkan untuk memahami kapitalisme Eropa Barat dapat begitu saja diaplikasikan ke konteks kolonial dan post-kolonial? Kaum subaltern dalam pengertian Gramsci, petani Italia atau buruh pabrik Turin, berada dalam posisi yang sangat berbeda dari kaum subaltern kolonial, misalnya, petani India atau buruh perkebunan di Karibia. Ranajit Guha dan para sejarawan Subaltern Studies telah mengembangkan ulang konsep subaltern Gramsci untuk konteks kolonial, tetapi juga menunjukkan keterbatasannya.
Terakhir, hegemoni dinyatakan terlalu kultural sehingga kurang aspek material. Kritik yang sering dilontarkan adalah bahwa teori hegemoni terlalu menekankan dimensi kultural dan ideologis dari kekuasaan dengan mengorbankan fondasi materialnya. Neo-Gramscian dalam Hubungan Internasional, misalnya, telah dikritik karena cenderung mereduksi hegemoni menjadi "difusi ide-ide intersubjektif" tanpa memperhatikan "fondasi struktural kapitalisme" yang lebih dalam (Joseph, 2008, sebagaimana dikutip dalam berbagai sumber).
Hegemoni dan Zaman Kiwari
Meskipun, atau mungkin justru karena, diperdebatkan, teori hegemoni Gramsci terus hidup dan menginspirasi analisis sosial di berbagai bidang. Misalnya di bidang cultural studies dari Stuart Hall yang kerap disebut sebagai "Gramscisme Inggris."Mungkin tidak ada tradisi intelektual yang lebih banyak berutang pada Gramsci ketimbang Cultural Studies Inggris, terutama yang dikembangkan di Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies. Stuart Hall, tokoh sentralnya, melihat dalam Gramsci sebuah jalan keluar dari kemandekan antara "strukturalisme" (yang menekankan penentuan struktural atas tindakan) dan "kulturalisme" (yang menekankan agensi dan kreativitas) dalam analisis budaya. Dari Gramsci, Hall belajar untuk melihat budaya sebagai medan perjuangan hegemoni, bukan sekadar cermin dari struktur ekonomi, tetapi juga bukan ranah kebebasan tanpa batas (Hall, 1986).
Hall mengembangkan analisis Gramscian tentang "ras," media, dan budaya populer, menunjukkan bagaimana hegemoni bekerja melalui formasi rasial, bagaimana "common sense" rasis direproduksi dan ditantang, dan bagaimana media massa berfungsi sebagai aparatus produksi konsensus. Pengaruh Gramsci pada Cultural Studies sangat besar sehingga beberapa penulis menyebutnya sebagai "Gramscisme Inggris" (Turner, 1990).
Neo-Gramscianisme pun dapat dipergunakan dalam konteks Hubungan Internasional. Robert W. Cox, sarjana Hubungan Internasional Kanada, adalah tokoh kunci dalam "neo-Gramscianisme", aplikasi teori hegemoni Gramsci ke analisis politik global. Cox mengadaptasi konsep hegemoni untuk memahami tatanan dunia: Hegemoni global adalah situasi di mana suatu negara (atau aliansi negara) tidak hanya mendominasi secara militer dan ekonomi, tetapi juga memproyeksikan model pembangunan dan tata kelola global yang diterima sebagai "alami" dan "diinginkan" oleh negara-negara lain. Hegemoni AS pasca-Perang Dunia II, dengan institusi-institusi seperti IMF, Bank Dunia, dan GATT/WTO, adalah contoh klasik dari hegemoni global dalam pengertian ini (Cox, 1983).
Hegemoni sebagai alat kritik Neoliberalisme. Teori hegemoni Gramsci telah terbukti sangat produktif dalam menganalisis neoliberalisme, proyek restrukturasi kapitalis yang telah mendominasi ekonomi politik global sejak 1970-an. Menggunakan konsep-konsep Gramscian, para analis telah menunjukkan bagaimana neoliberalisme dibangun sebagai "revolusi pasif", restrukturisasi yang dipimpin dari atas oleh kelas kapitalis untuk memulihkan profitabilitas dan kekuasaan kelas setelah krisis akumulasi 1970-an. Neoliberalisme tidak dipaksakan semata-mata melalui kekerasan (meskipun koersi selalu hadir); ia dibangun melalui perjuangan hegemoni yang panjang, melalui think tank, departemen ekonomi universitas, media bisnis, dan lembaga-lembaga internasional, yang berhasil membuat logika pasar tampak sebagai satu-satunya logika yang "realistis" dan "bertanggung jawab" (Morton, 2007).
Selain itu, tentu saja konsep hegemoni juga dapat dihubungkan dengan Media Digital dan "Digitalocene." Di era digital, teori hegemoni Gramsci menemukan medan aplikasi baru. Bagaimana platform media sosial membentuk "common sense"? Bagaimana algoritma mereproduksi atau menantang hegemoni? Bagaimana "perang posisi" terjadi di ruang digital? Sebagaimana dicatat oleh analis kontemporer, "era digital menimbulkan pertanyaan baru tentang bagaimana hegemoni beroperasi, bagaimana konsensus diproduksi, dan bagaimana kontra-hegemoni dapat diorganisir" dalam konteks "digitalocene" (Williams, 2020).
Gerakan sosial kiwari pun dapat dianalisis melalui konsep hegemoni. Dari Occupy Wall Street hingga No King, dari gerakan petani hingga gerakan feminis kontemporer, konsep hegemoni terus digunakan untuk menganalisis, dan menginformasikan, perjuangan sosial. Gerakan-gerakan ini dapat dilihat sebagai "perang posisi" kontemporer, upaya untuk membangun hegemoni alternatif melalui konstruksi "common sense" baru, penciptaan institusi alternatif, dan artikulasi "kehendak kolektif" yang menantang neoliberalisme, rasisme, patriarki, dan bentuk-bentuk dominasi lainnya.
Penutup
Ketika Antonio Gramsci meninggal di sebuah klinik di Roma pada pagi 27 April 1937, hanya sedikit yang menyangka bahwa tahanan yang sakit-sakitan dan bungkuk ini akan menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh abad ke-20. Ia meninggalkan istrinya Julia di Uni Soviet, yang tidak bisa ia temui lagi setelah 1926, dan dua putra yang tidak pernah benar-benar ia kenal. Ia meninggalkan lebih dari 30 buku catatan yang ditulis dalam kondisi yang mengerikan, dengan bahasa yang tersandi, dan tanpa harapan untuk diterbitkan. Namun, catatan-catatan ini akan bertahan, diterbitkan secara anumerta, diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, dan dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia.Warisan Gramsci bukan terutama terletak pada jawaban-jawaban yang ia berikan, melainkan pada pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan, dan pada cara ia merumuskan masalah. Teori hegemoni Gramsci mengubah cara kita memahami kekuasaan, dengan menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui paksaan, tetapi juga melalui produksi makna, pembentukan subjektivitas, dan organisasi konsensus. Ia menunjukkan bahwa revolusi bukan hanya tentang merebut Istana Musim Dingin; ia juga, dan terutama di masyarakat kapitalis maju, tentang perjuangan yang panjang dan sulit di dalam "parit-parit dan benteng-benteng" masyarakat sipil. Ia menunjukkan bahwa "common sense" adalah medan perjuangan politik yang krusial, bahwa mengubah cara orang berpikir tentang dunia adalah bagian integral dari mengubah dunia itu sendiri.
Bagi kita yang hidup di abad ke-21, Gramsci menawarkan bukan sekadar teori, melainkan metode, sebuah "filsafat praksis" yang menuntut kita untuk terus menghubungkan analisis dan tindakan, teori dan praktik, pemahaman dan transformasi. Di dunia yang didominasi oleh neoliberalisme, otoritarianisme baru, krisis iklim, dan ketidaksetaraan yang menganga, pertanyaan-pertanyaan Gramsci tetap mendesak: Bagaimana hegemoni kapitalis dipertahankan? Bagaimana ia bisa ditantang? Dan bagaimana kita, sebagai intelektual organik dari kelas-kelas subaltern, dapat berkontribusi pada pembangunan "blok historis" baru yang mampu membawa umat manusia melampaui barbarisme kapitalisme menuju tatanan yang lebih adil, demokratis, dan berkelanjutan?
"Dia yang tidak bergerak," tulis Gramsci dalam salah satu surat terakhirnya dari penjara, "tidak dapat menyadari rantainya." Teori hegemoni adalah undangan untuk bergerak, untuk memahami rantai yang membelenggu kita, tentu saja, tetapi juga untuk membayangkan dan memperjuangkan dunia tanpa rantai. Inilah pesimisme intelek dan optimisme kehendak yang Gramsci wariskan kepada kita. Inilah pelajaran dari sel penjara yang terus menerangi jalan mereka yang menolak untuk tunduk.
Referensi
Adamson, W. L. (1980). Hegemony and revolution: A study of Antonio Gramsci's political and cultural theory. University of California Press.Althusser, L. (1970). Idéologie et appareils idéologiques d'État. La Pensée, 151, 3–38.
Anderson, P. (1976). The antinomies of Antonio Gramsci. New Left Review, I/100, 5–78.
Cox, R. W. (1983). Gramsci, hegemony and international relations: An essay in method. Millennium: Journal of International Studies, 12(2), 162–175. https://doi.org/10.1177/03058298830120020701
Femia, J. V. (1981). Gramsci's political thought: Hegemony, consciousness, and the revolutionary process. Clarendon Press.
Fiori, G. (1970). Antonio Gramsci: Life of a revolutionary. New Left Books.
Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks of Antonio Gramsci (Q. Hoare & G. Nowell Smith, Eds. & Trans.). International Publishers.
Gramsci, A. (1975). Letters from prison (L. Lawner, Ed. & Trans.). Harper & Row.
Gramsci, A. (1977). Selections from political writings (1910–1920) (Q. Hoare, Ed. & Trans.). Lawrence and Wishart.
Gramsci, A. (1995). Further selections from the prison notebooks (D. Boothman, Ed. & Trans.). University of Minnesota Press.
Hall, S. (1986). Gramsci's relevance for the study of race and ethnicity. Journal of Communication Inquiry, 10(2), 5–27. https://doi.org/10.1177/019685998601000202
Morton, A. D. (2007). Unravelling Gramsci: Hegemony and passive revolution in the global political economy. Pluto Press.
Mouffe, C. (Ed.). (1979). Gramsci and Marxist theory. Routledge & Kegan Paul.
Sassoon, A. S. (1987). Gramsci's politics (2nd ed.). University of Minnesota Press.
Showstack Sassoon, A. (1982). Approaches to Gramsci. Writers and Readers.
Stanford Encyclopedia of Philosophy. (2023, January 13). Antonio Gramsci. https://plato.stanford.edu/entries/gramsci/
Williams, R. (1977). Marxism and literature. Oxford University Press.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.