Bagian Satu: Surat Sakti dari Istana
Matahari di Astina pagi itu tidak lebih pedas dari pada status Facebook yang ditulis oleh Togog tiga jam sebelumnya: “Hidup itu pilihan. Tapi kalau pilihannya cuma makan nasi atau makan batu, ya jelas aku pilih jadi pengangguran bermartabat.” Status itu mendapat dua likes dan satu komentar dari akun bernama “Bilung Pengharapan” yang berbunyi, “Suhu, ngopi dulu. Jangan ngadi-ngadi.”
Togog, dengan wajah khasnya yang kalem seperti kerbau setelah dimandikan di sungai, sedang duduk di beranda rumah kontrakannya yang sempit. Ia menyeruput kopi tubruk dari gelas selai yang sudah retak. Angin pagi menerbangkan debu-debu jalanan yang belum diaspal. Pikirannya saat itu hanya satu: bagaimana caranya bertahan hidup sampai akhir bulan tanpa harus menjual ginjal virtual di marketplace. Tiba-tiba, sebuah mobil dinas hitam mengilat dengan pengawalan dua motor trail berhenti di depan rumahnya. Debu beterbangan, membuat kopi Togog mendadak beraroma tanah.
Dari dalam mobil, turun seorang ajudan berseragam rapi. Langkahnya kaku, wajahnya seperti menyimpan rahasia negara yang tidak penting-penting amat. Ia membawa sebuah tablet berlapis emas, sebuah kemewahan yang kontras dengan jalanan berlubang di depan rumah Togog.
“Bapak Togog?” tanya ajudan itu dengan suara yang seperti diatur oleh chip kecerdasan buatan, datar namun otoritatif.
“Tergantung siapa yang nanya. Kalau debt collector, saya lagi pindah rumah. Kalau kurir paket, letakkan saja di meja,” jawab Togog tanpa menoleh, matanya masih fokus pada gumpalan kopi yang mengambang.
Ajudan itu tidak tersenyum. Ia mengangkat tabletnya. “Anda mendapatkan kehormatan luar biasa. Sebuah surat sakti dari Istana Negara Astina. Langsung dari Bapak Presiden Duryudana.”
Mendengar nama itu, Togog nyaris tersedak ampas kopi. Duryudana? Presiden Astina? Itu sama absurdnya dengan mendengar katak mencalonkan diri sebagai pemimpin paduan suara burung. Duryudana adalah sosok yang jika muncul di berita, selalu tentang pidato berapi-api yang isinya 80 persen menunjuk-nunjuk ke arah yang salah, 15 persen menyalahkan Pandawa, dan 5 persen sisanya adalah jeda minum. Togog mengambil tablet itu. Ia menyentuh layarnya, dan seketika wajah Duryudana muncul dalam format hologram kecil. Wajah itu tersenyum dengan gigi yang terlalu rapi, produk dari proyek “Senyum Satu Komando untuk Pejabat” yang menelan anggaran setara dengan perbaikan seluruh irigasi desa.
“Salam Satu Komando, Saudara Togog!” suara Duryudana menggelegar dari speaker tablet. “Dengan ini, saya, Presiden Astina, atas nama kemajuan bangsa, atas nama efisiensi negara, atas nama makan siang gratis yang lebih cepat, mengangkat Anda sebagai Staf Ahli Presiden! Anda dipilih bukan karena Anda cerdas, tapi karena survei mengatakan figur Anda paling tidak mengancam. Selamat bergabung di Istana. Jangan lupa like dan subscribe akun resmi saya.”
Hologram itu lenyap. Togog menatap layar yang kini hitam, memantulkan wajahnya yang bingung. Staf Ahli Presiden? Ia yang hobinya cuma mikir dan kadang-kadang ketiduran di kamar mandi? Ini pasti semacam program baru pemerintah: merekrut orang biasa-biasa saja sebagai kedok untuk menyembunyikan betapa tidak biasa-biasanya yang lain.
“Kapan saya mulai?” tanya Togog lemah.
“Tadi pagi. Bapak sudah terlambat. Silakan masuk mobil,” kata ajudan itu.
Togog menatap kopinya yang belum habis. Ia menatap sandal jepitnya yang putus satu. Ia menatap kipas angin yang berputar dengan suara seperti traktor. Mungkin ini takdir. Mungkin ini saatnya ia berhenti mengeluh di media sosial dan mulai mengeluh langsung di jantung kekuasaan. Dengan langkah pasrah, ia masuk ke mobil dinas. Debu kembali beterbangan. Rumah kontrakan itu kembali sunyi.
Di perjalanan, Togog mencoba merasionalisasi situasi. Ia tahu, Astina di bawah Duryudana itu unik. Ini negeri yang mengagungkan kecepatan. Kecepatan membangun, kecepatan memutuskan, kecepatan menangkap ikan di kolam tetangga. Slogan di mana-mana: “Astina Cepat, Astina Hebat, Astina Gas Pol!” Tapi Togog juga tahu, di balik kecepatan itu, ada sesuatu yang baunya lebih anyir dari ikan asin tiga hari. Ia menyebutnya: nepotisme struktural dengan bumbu kuasa absolut.
Ia masih ingat, bagaimana Duryudana menyusun kabinetnya. Menteri Pertahanan dipegang oleh Dursasana, adiknya yang terkenal dengan julukan “Si Amarah Instan.” Setiap rapat kabinet, jika ada yang membantah, Dursasana tidak membantah dengan data, tapi dengan membanting meja. Konon, anggaran penggantian meja di kementeriannya adalah yang tertinggi di seluruh Astina. Menteri Koordinator Kesetiaan, sebuah kementerian yang baru dibentuk, dipegang oleh Karna. Pria gagah ini adalah ikon kesetiaan yang tragis. Ia lebih merasa dihargai oleh Kurawa ketimbang oleh Pandawa, saudaranya sendiri. Baginya, Duryudana adalah bos yang memberi gaji dan jabatan. Utang budi adalah mata uang tertinggi. Setiap kebijakan Duryudana, Karna membelanya dengan pidato yang jika dipotong-potong, isinya cuma: “Apa yang dikatakan Presiden adalah kebenaran. Titik. Koma pun tidak diperlukan.”
Lalu ada Kretawarma, adik Duryudana yang lainnya. Posisinya adalah Menteri Koordinator Angin. Maksudnya, ke mana angin berhembus, ke situ ia ikut. Jika hasil polling Presiden tinggi, ia akan tampil di depan kamera memuji Duryudana setinggi langit. Jika hasil polling turun sedikit, ia akan terlihat “sakit” dan tidak bisa dikonfirmasi. Ia adalah barometer berjalan. Dalam setiap rapat, ia lebih banyak diam, mencatat, dan sesekali mengangguk dengan ritme yang bisa berarti setuju, tidak setuju, atau cuma kram leher. Tidak ada yang tahu.
Dan yang paling ditakuti, bukan seorang Kurawa, melainkan seorang Sengkuni. Ia Menteri Strategi dan Filsafat Terapan. Pria dengan kumis yang ujungnya melengkung seperti belati itu konon menguasai segala macam pemikiran dari seluruh dunia. Dari Timur ke Barat, dari yang klasik sampai yang baru saja diposting di jurnal internasional. Ia adalah otak di balik setiap langkah Duryudana. Jika Duryudana adalah tangan yang memukul, Sengkuni adalah algoritma yang mengarahkan pukulan itu ke titik paling sakit, paling strategis, dan paling tidak terduga.
Mobil memasuki gerbang istana. Arsitekturnya megah, campuran gaya Eropa dengan sentuhan lokal yang dipaksakan. Pilar-pilarnya besar, menjulang, seolah berteriak, “Lihatlah aku! Anggaranku lebih besar dari dana pendidikan kalian!” Di sepanjang jalan menuju gedung utama, terpampang baliho besar bergambar Duryudana sedang menunjuk ke depan dengan tulisan, “Ikuti Aku, Atau Tersesat.”
Togog menarik napas dalam. Ia merasa seperti kerupuk yang dilempar ke dalam kobaran api. Dia tahu, di dalam sana ada pertempuran ide. Tapi yang lebih mengerikan, mungkin di sana tidak ada pertempuran sama sekali. Hanya gema.
Bagian Dua: Ruang Perang Pikiran
Ruang rapat utama Istana Negara Astina bukan sekadar ruangan. Ia adalah kuil dari ilusi demokrasi yang dikelola secara pribadi. Dindingnya dari kayu jati berukir, lantainya marmer yang konon didatangkan dari negara yang baru saja dibebaskan dari kolonialisme, sehingga harganya masih murah dan penuh penderitaan. Di tengah ruangan, meja besar berbentuk huruf U. Di ujungnya, kursi tertinggi, lebih mirip singgasana, milik Duryudana.
Saat Togog masuk, ia merasa seperti anak baru di sekolah yang semua muridnya adalah predator. Dursasana sedang berdiri di dekat jendela, menelepon seseorang dengan suara keras. “Saya tidak peduli proses tender! Yang penting, proyek pengadaan sepatu tentara itu harus selesai minggu ini! Kalau tidak, saya tendang kamu pakai sepatu yang belum dibayar itu!” Kretawarma duduk di sudut, membaca koran dengan posisi yang bisa melihat seluruh ruangan. Matanya melirik ke pintu saat Togog masuk, lalu kembali ke koran tanpa ekspresi. Ekspresinya baru akan muncul jika ia tahu siapa yang akan menang.
Karna berdiri di dekat singgasana Duryudana, dengan postur tegap. Seragamnya penuh bintang dan medali. Ia menyapa Togog dengan anggukan dingin. “Selamat datang, Staf Ahli baru. Semoga Anda mengerti, di sini kita tidak berdebat untuk mencari kebenaran. Kita berdebat untuk memenangkan kehendak Presiden.”
Togog hanya bisa mengangguk. “Jadi, ini semacam klub debat, tapi wasitnya juga pemain?”
Karna mengerutkan kening. “Itu analogi yang kurang tepat. Di sini, wasit, pemain, bola, dan stadion adalah milik Presiden. Kita hanya penonton yang dibayar untuk bertepuk tangan.”
Belum sempat Togog mencerna pernyataan itu, pintu terbuka. Sengkuni masuk. Langkahnya pelan, tapi setiap langkahnya seperti detak jantung. Suasana ruangan berubah. Dursasana langsung menutup teleponnya. Kretawarma melipat korannya dan menyimpannya rapi. Bahkan Karna sedikit menegakkan tubuhnya. Togog merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan rasa takut. Ini adalah respons biologis terhadap kehadiran sebuah otak yang tidak pernah berhenti menghitung.
Sengkuni tersenyum. Senyumnya tipis, tidak sampai ke mata. “Ah, Togog. Staf Ahli yang baru. Saya sudah membaca makalah-makalah kecil Anda yang Anda sebut sebagai ‘status Facebook’. Menarik. Sangat… romantis.”
“Romantis?” tanya Togog, mencoba tidak tersinggung.
“Ya. Anda mencintai ide-ide seperti orang mencintai puisi. Anda pikir kemanusiaan bisa diatur dengan bunga dan pelukan. Saya suka itu. Itu akan menjadi hiburan yang baik di sini. Seperti badut di sela-sela sirkus,” kata Sengkuni sambil duduk di kursi yang paling dekat dengan kursi Duryudana. Itu adalah posisi telinga.
Detik berikutnya, pintu utama terbuka lebar oleh dua protokol. Duryudana masuk. Ia berjalan dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat berwibawa di kamera. Punggungnya tegak, dagunya sedikit diangkat. Ia mengenakan setelan jas berwarna gelap dengan pin bergambar matahari di kerahnya. Rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut yang aromanya memenuhi sepertiga ruangan.
“Duduk! Duduk semua! Jangan formal! Kita ini keluarga, bukan?” kata Duryudana dengan suara yang keras. Ia duduk di singgasananya. Matanya menyapu seluruh ruangan. Senyumnya lebar. “Kita akan buat negara ini terbang. Tapi sebelum terbang, kita harus pastikan tidak ada yang berani memotong sayap kita. Termasuk rakyat yang suka protes.”
Semua tertawa, kecuali Togog. Togog hanya tersenyum kecut. Ini jenis lelucon yang hanya lucu jika yang mendengar adalah algojo.
“Saya sudah muak,” lanjut Duryudana, kali ini dengan nada yang lebih serius. “Kita punya tetangga baru, Amarta. Negara kecil yang dipimpin oleh Yudistira dan Pandawa lainnya. Negara mereka baru seumur jagung, tapi lihat! Kemakmuran mereka meroket. Ekonomi mereka tumbuh. Rakyatnya tersenyum. Sementara kita? Kita yang sudah tua, kita yang punya segalanya, kenapa kalah? Ada yang salah. Ada yang harus kita perbaiki.”
Togog mengangkat tangan sedikit, ragu-ragu. “Izin, Bapak Presiden. Boleh saya tahu, menurut Bapak, apa kelemahan Amarta?”
Duryudana menatap Togog, lalu menatap Sengkuni. Sengkuni mengangguk pelan.
“Kelemahan mereka adalah demokrasi. Musyawarah. Voting. Itu semua omong kosong yang bikin lamban,” kata Duryudana tegas. “Setiap kali mereka mau bangun jembatan, mereka harus rapat dulu. Setiap mau ganti kurikulum, harus dengar pendapat. Dengar pendapat? Pendapat siapa? Pendapat rakyat yang tidak tahu apa-apa? Di Amarta, sebelum keputusan diambil, debat kusir dulu berbulan-bulan. Bima mau A, Arjuna mau B. Yudistira cuma bisa melamun sambil mikir bagaimana caranya tidak menyinggung siapa-siapa. Itu bukan negara. Itu klub diskusi buku.”
“Tapi bukankah dengan musyawarah, kebijakan yang dihasilkan lebih matang dan diterima oleh semua pihak?” tanya Togog hati-hati.
“Matang? Matang itu kalau kita lambat, orang lain sudah duluan! Lihat Amarta. Mereka memang makmur sekarang. Tapi tunggu sampai krisis datang. Ketika keputusan harus diambil dalam hitungan jam, mereka akan sibuk menghitung suara. Sementara kita? Kita langsung gas. Surat keputusan presiden, tanda tangan, jalan! Cepat, efisien, dan tidak perlu berdebat dengan orang yang tidak kompeten!” Duryudana memukul meja pelan, tapi efeknya membuat Kretawarma langsung mengangguk cepat.
Sengkuni berdehem. Semua perhatian beralih padanya. “Bapak Presiden, jika diizinkan, saya ingin sedikit memberikan perspektif agar kita tidak sekadar berbicara tentang kecepatan, tetapi tentang fondasi. Kecepatan tanpa fondasi adalah resep kecelakaan. Kita perlu satu sistem yang bukan hanya cepat, tetapi membuat rakyat tidak ingin melawan. Bukan karena mereka takut, tapi karena mereka merasa itulah satu-satunya cara hidup yang benar.”
“Itu dia! Itu yang saya mau!” seru Duryudana. “Saya tidak mau rakyat saya patuh karena takut dipukul. Saya mau mereka patuh karena mereka pikir, ‘Oh, memang begini seharusnya.’ Saya mau mereka produktif. Petani lebih rajin. Buruh lebih efisien. Guru lebih pintar. Ilmuwan menemukan ini-itu. Tentara dan polisi dalam satu komando mutlak. Dan Dewan Wong? Perwakilan rakyat itu? Mereka hanya boleh bersuara kalau suaranya adalah versi lain dari suara saya. Tapi mereka tidak boleh merasa dibungkam. Mereka harus merasa bebas, padahal tidak. Itu seni tertinggi kekuasaan.”
Togog merasakan dingin menjalar di tulang punggungnya. Ia membaca sesuatu dalam kata-kata Duryudana. Ini bukan lagi tentang otoritarianisme konvensional yang kasar. Ini tentang sesuatu yang lebih halus, lebih canggih, lebih mengerikan. Ia melirik Sengkuni yang tersenyum tipis. Orang itulah arsiteknya.
Dursasana tiba-tiba berdiri, wajahnya merah. “Dan saya akan memastikan seni itu berjalan! Kakak, saya minta pasukan kuda, pasukan jalan kaki, dan telik sandi diserahkan di bawah komando saya! Saya akan membuat sistem keamanan yang tidak hanya mengawasi gerak-gerik rakyat, tapi juga denyut nadi mereka. Jika ada yang berani berpikir dua kali, saya akan hajar dia dengan program pembinaan mental yang membuat dia lupa cara berpikir!”
Karna ikut berdiri. “Saya mendukung penuh. Pandawa, dengan segala kemunafikan demokrasi mereka, hanyalah sekelompok idealis yang bermimpi. Mereka mengusir kami, menghina kami, dan sekarang pamer kemakmuran. Saya akan pastikan kebijakan ini sukses. Untuk Presiden. Untuk Astina.”
Kretawarma melihat Duryudana, lalu melihat ke luar jendela seolah sedang membaca arah angin. “Saya rasa, untuk saat ini, kita perlu mempelajari draft kebijakan ini lebih lanjut. Saya akan membentuk tim kecil untuk mengkaji… oh, tapi kalau Presiden mau cepat, tim itu bisa saya bubarkan dan saya langsung setuju. Bagaimana?” Ia tersenyum, bangga dengan fleksibilitas prinsipnya.
Tinggallah Togog. Semua mata tertuju padanya. Ia tahu, ia berada di persimpangan. Bisma, sang tetua, satu-satunya suara nalar yang terhormat, tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat janji kuno untuk melindungi para Kurawa. Janji itu mengikatnya seperti rantai gajah. Seekor gajah yang kuat, tapi tidak bisa bergerak dari tempatnya.
“Saya… saya tidak bisa, Bapak Presiden,” kata Togog, suaranya bergetar tapi ia paksakan stabil. “Ini bertentangan dengan rasa kemanusiaan saya. Kita tidak bisa memperlakukan manusia seperti… seperti mesin yang bisa disetel urat-urat ketaatannya.”
Keheningan. Duryudana menatap Togog dengan tatapan yang sulit dibaca. Bukan marah, bukan benci. Lebih seperti heran. Seperti seorang koki yang baru pertama kali melihat lobster mencoba kabur dari panci.
Sengkuni berdiri. Ia menepuk-nepuk meja pelan. “Ah, Togog. Rasa kemanusiaan. Konsep yang indah. Mari kita mulai saja permainan kita. Saya akan mendengarkan argumentasi Anda, berdasarkan rasa kemanusiaan itu. Silakan. Katakan pada kami, mengapa kami salah? Saya akan mencoba, dengan sedikit pengetahuan saya yang terbatas, untuk menjawabnya. Anggap saja ini forum intelektual untuk mencerdaskan bangsa.”
Togog tahu, tantangan ini bukan undangan berdebat. Ini adalah arena gladiator. Dan Sengkuni, dengan filsafat Foucault di tangan kanan dan Neo-Darwinisme di tangan kiri, adalah singa lapar yang sudah terlatih untuk mencabik-cabik mangsanya.
Pertarungan akan segera dimulai.
Bagian Tiga: Jean-Jacques di Sarang Singa
Hari itu, ruang rapat menjadi saksi bisu dari sebuah ritual kuno: pengorbanan ide di altar kuasa. Togog berdiri dari kursinya. Ia memilih untuk tidak duduk. Ia ingin darahnya mengalir, ia ingin pikirannya setajam mungkin. Ia teringat pada Jean-Jacques Rousseau, filsuf jenius dari Jenewa yang sering ia baca di perpustakaan umum yang berdebu. Ia mengambil napas dalam. Jika ini pertempuran, maka peluru pertamanya adalah konsep tentang kodrat manusia.
“Baiklah, Paman Sengkuni,” kata Togog, suaranya lebih tenang sekarang. “Saya akan mulai dari fondasinya. Anda, dengan segala hormat, ingin membangun negara dengan fondasi kontrol total atas kehidupan rakyat. Anda ingin mengatur dari cara mereka bertani sampai cara mereka bernapas. Tapi, bukankah manusia itu lahir bebas? Rousseau mengatakan, ‘Manusia dilahirkan bebas, tetapi di mana-mana ia terbelenggu.’ Belenggu itu adalah hasil dari peradaban yang korup, dari sistem yang diciptakan oleh mereka yang haus kekuasaan. Tugas negara bukanlah menambah belenggu itu, melainkan membebaskannya. Negara yang ideal, menurut kontrak sosial, adalah negara yang merupakan perwujudan dari kehendak umum rakyatnya, bukan kehendak satu orang yang duduk di singgasana.”
Duryudana mengerutkan kening. Ia melirik Sengkuni, seolah bertanya, “Siapa orang gila yang dibawa Togog ini?” Tapi Sengkuni hanya tersenyum. Ia menunggu. Seperti seekor ular yang menunggu katak selesai bernyanyi sebelum menyambarnya.
“Togog, Togog,” kata Sengkuni akhirnya, sambil berjalan pelan mengelilingi meja. “Anda mengutip Rousseau. Indah sekali. Romantis, seperti yang saya katakan tadi. Anda berbicara tentang manusia yang lahir bebas. Coba lihat sekeliling Anda. Apakah ada manusia yang lahir bebas? Seorang bayi yang lahir di gubuk petani miskin, apakah dia bebas? Dia tidak bebas dari kelaparan, dia tidak bebas dari penyakit, dia tidak bebas dari kebodohan. Kebebasan yang Anda bicarakan adalah kebebasan fiktif kaum elit yang sudah punya segalanya.”
Sengkuni berhenti, menatap Togog lekat-lekat. “Rousseau sendiri mengakui bahwa kontrak sosial berarti setiap individu harus menyerahkan hak-hak individualnya kepada komunitas. ‘Kehendak umum’ yang Anda sebut itu, siapa yang merumuskan? Apakah rakyat yang tidak berpendidikan bisa tahu apa yang terbaik untuk mereka? Apakah petani yang tidak pernah melihat peta dunia bisa mengerti strategi geopolitik? Di Astina, kami percaya pada efisiensi. Kehendak umum itu sudah inkarnasi dalam diri Presiden. Presiden adalah kristalisasi dari harapan, impian, dan kebutuhan rakyat. Jadi, dengan mengikuti Presiden, rakyat justru sedang menjalankan kontrak sosial yang paling murni. Mereka tidak kehilangan kebebasan, mereka menemukan kebebasan sejati: bebas dari tanggung jawab untuk berpikir hal-hal rumit yang bukan urusan mereka.”
Togog terhenyak. Argumentasinya dibalikkan dengan sangat elegan. Sengkuni tidak menyerang Rousseau, ia membajaknya. “Tapi Paman, penyerahan hak itu harus bersifat sukarela, berdasarkan kesadaran, bukan paksaan struktural yang menghilangkan pilihan lain!”
Sengkuni tertawa kecil. “Sukarela? Kesadaran? Anda pikir rakyat datang ke bilik suara dengan kesadaran penuh? Mereka datang karena diberi sembako, karena diiming-imingi proyek, karena takut dikucilkan. Itu juga bukan kesadaran. Itu rekayasa kesadaran. Kami hanya memotong jalurnya. Kami buat rekayasa itu lebih jujur. Tidak perlu pura-pura memilih. Kami beri mereka kemakmuran, ketertiban, dan kepastian. Itu lebih dari cukup.”
Togog merasakan lantai di bawahnya seperti bergeser. Oke, Rousseau tidak mempan. Ia harus ganti senjata. Ia teringat pada Jeremy Bentham, filsuf utilitarianisme. Mungkin jika ia tidak bisa menang secara idealis, ia bisa menang secara matematis.
“Baik, kita coba dari sisi lain, Paman. Jeremy Bentham mengajarkan prinsip utilitarianisme: ‘kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbanyak.’ Tugas negara adalah memaksimalkan kebahagiaan dan meminimalkan penderitaan. Sekarang, jika kita menerapkan sistem otoritarian yang menghalangi kebebasan berekspresi, apakah itu menciptakan kebahagiaan terbesar? Penderitaan karena tidak bisa bersuara, ketakutan karena diawasi terus-menerus, itu adalah penderitaan yang nyata. Apakah tidak lebih baik kita mengadopsi sistem yang membuka ruang partisipasi, agar kebahagiaan itu bisa diukur dan dirasakan oleh semua orang?”
Kali ini, Dursasana yang tiba-tiba menyahut. “Kebahagiaan? Saya bisa tunjukkan kebahagiaan versi saya!” Ia mengepalkan tangannya. Tapi Sengkuni mengangkat tangan, mencegahnya.
“Bagus, Togog. Anda mulai masuk ke ranah perhitungan. Itu lebih ilmiah. Tapi, maaf, perhitungan Anda sangat kekanak-kanakan. Anda mengukur penderitaan karena tidak bisa bersuara? Berapa persen rakyat yang benar-benar butuh bersuara? Mayoritas rakyat hanya butuh perut kenyang, listrik menyala, dan jalan mulus. Itu kebahagiaan dasar. Dan kami berikan itu. Anda bicara tentang ketakutan diawasi? Justru dengan diawasi, rakyat merasa aman. Mereka tahu negara hadir. Mereka tahu jika ada pencuri, ada kamera yang merekam. Kebebasan yang Anda tawarkan justru menciptakan ketidakpastian, yang ujungnya adalah penderitaan. Demonstrasi tiap hari, debat kusir di parlemen, ketidakpastian hukum… itu semua penderitaan.”
Sengkuni berjalan mendekati Togog. “Utilitarianisme yang benar adalah utilitarianisme yang paham bahwa kebahagiaan itu harus dikelola, didistribusikan, dan kadang-kadang, didefinisikan oleh yang berwenang. Jika kami bisa membuat sistem di mana rakyat merasa bahagia dengan kondisi mereka, bukankah itu memenuhi syarat ‘kebahagiaan terbesar’? Kami tidak hanya memaksimalkan kebahagiaan, kami juga meminimalkan definisi kebahagiaan yang bisa menimbulkan konflik. Jadi, perhitungan kami lebih efisien daripada perhitunganmu.”
Togog menelan ludah. Definisi kebahagiaan yang diminimalkan. Itu adalah konsep yang mengerikan. Tapi ia belum menyerah. Ia punya amunisi lain. Frantz Fanon, pemikir revolusioner asal Martinique. Jika Sengkuni bicara tentang kontrol, Fanon bicara tentang pembebasan dari penjajahan mental.
“Paman Sengkuni, Anda mungkin bisa memanipulasi definisi kebahagiaan. Tapi Anda tidak bisa menyembunyikan fakta dari kekerasan. Frantz Fanon dalam bukunya The Wretched of the Earth menjelaskan bahwa kolonialisme, dan segala bentuk tirani, selalu bergantung pada kekerasan sebagai alat utamanya. Ia juga mengatakan bahwa dekolonisasi, pembebasan sejati, selalu merupakan fenomena yang penuh kekerasan karena ia adalah proses menggantikan satu ‘spesies’ manusia dengan ‘spesies’ yang lain. Jika sistem Anda mengandalkan pasukan, pengawasan, dan pembungkaman, itu adalah kekerasan epistemik dan fisik. Itu akan melahirkan generasi yang berjiwa budak. Dan pada akhirnya, sistem itu akan runtuh oleh kekerasan balasan dari mereka yang tertindas.”
Ruangan menjadi sunyi. Dursasana memandang Sengkuni dengan muka bingung. “Spesies? Epistemik? Bahasa apa ini?” gerutunya. Kretawarma pura-pura menulis, tapi tintanya sudah kering.
Sengkuni menatap Togog dengan mata berbinar. Ia menikmati ini. “Fanon. Saya kira Anda akan membawa Marx atau Lenin. Tapi Fanon, itu pilihan yang lebih menarik.”
Sengkuni kembali duduk. Ia menyeruput air putih. “Togog, Anda terjebak dalam romantisme kekerasan ala revolusi Prancis. Anda pikir kekerasan hanya ada dalam bentuk tentara dan pentungan? Di Amarta, di negara demokrasi yang Anda kagumi, ada kekerasan yang jauh lebih kejam: kekerasan pasar. Rakyat dibiarkan miskin, ditindas oleh korporasi, tanah mereka dirampas oleh developer dengan kedok legalitas demokratis. Apakah itu bukan kekerasan? Kami di sini, dengan sistem otoritarian yang terencana, justru melindungi rakyat dari kekerasan pasar itu. Kami memberi mereka kepastian. Kami adalah benteng.”
Ia melanjutkan, nadanya lebih menusuk. “Dan soal dekolonisasi mental, saya setuju. Tapi yang menjajah mental rakyat kami bukanlah kami. Yang menjajah mereka adalah ilusi demokrasi yang diekspor oleh Barat. Demokrasi membuat mereka berpikir bahwa suara mereka penting, padahal suara mereka dibeli oleh oligarki. Kami sedang melakukan dekolonisasi terhadap ilusi demokrasi itu. Kami berikan mereka identitas sejati sebagai rakyat Astina yang kuat, disiplin, dan satu komando. Kekerasan yang Anda takutkan itu tidak akan terjadi jika sistem kami berjalan sempurna. Rakyat tidak akan memberontak karena mereka tidak merasa terjajah. Mereka merasa dilindungi.”
Togog merasakan kepalanya berdenyut. Setiap kali ia mencoba menyerang, Sengkuni menggunakan energi serangan itu untuk memperkuat posisinya. Ini seperti mencoba mengosongkan lautan dengan ember bocor. Tapi ia masih punya satu kartu yang menurutnya bisa menyentuh sisi spiritual dan kultural. Ali Syari'ati, sosiolog revolusioner Iran yang memadukan Islam dengan pemikiran kiri. Siapa tahu, dengan menyentuh dimensi agama dan budaya lokal, Sengkuni bisa terpeleset.
“Kalau begitu, Paman Sengkuni, kita bicara tentang identitas dan agama. Ali Syari’ati mengatakan bahwa Islam, dalam esensi revolusionernya, adalah agama pembebasan. Ia melawan segala bentuk penindasan. Ia menolak sistem yang membuat manusia terbagi menjadi tuan dan budak. Konsep tauhid adalah penolakan terhadap otoritarianisme selain Tuhan. Bukankah dengan mengultuskan pemimpin, menjadikan titahnya sebagai kebenaran mutlak, kita sedang melakukan syirik politik modern? Kita menyekutukan Tuhan dengan seorang presiden.”
Pernyataan itu cukup berani. Bahkan Duryudana yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, mendongak. Tapi ia tidak terlihat tersinggung. Ia hanya menatap Sengkuni, menunggu bagaimana jawabannya.
Sengkuni menghela napas panjang, seperti seorang guru yang harus menjelaskan hal elementer untuk keseribu kalinya. “Togog, Anda lucu. Anda mengutip Syari’ati, yang berbicara tentang Iran, lalu mencoba menempelkannya di sini. Itu adalah kesalahan kategoris. Tapi baiklah, saya layani.”
“Syari’ati benar bahwa tauhid adalah melawan berhala. Tapi apa berhala terbesar di zaman ini? Bukan patung. Bukan presiden. Berhala terbesar adalah hawa nafsu dan individualisme. Demokrasi liberal, yang Anda bela diam-diam, adalah sistem yang menyembah individualisme. Setiap orang merasa dirinya paling benar, paling bebas, paling suci. Itu adalah perpecahan umat. Itu adalah kekacauan. Di Astina, kami mengajarkan tauhid sosial: bersatunya umat di bawah satu komando untuk melawan musuh bersama: kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Presiden hanyalah simbol pemersatu, sebuah alat. Mengkritik Presiden bukanlah bagian dari tauhid, melainkan bagian dari menebar fitnah yang memecah belah. Yang Anda sebut syirik politik, kami sebut sebagai solidaritas organik untuk mencapai kemaslahatan bersama.”
Sengkuni tersenyum. “Dan satu hal lagi. Syari’ati adalah seorang ideolog. Ideolog itu menjual mimpi. Kami di sini adalah teknokrat dan negarawan. Kami tidak menjual mimpi. Kami menjual kenyataan: jalan tol yang mulus, harga sembako yang stabil, dan keamanan dari begal. Rakyat lebih memilih kenyataan itu daripada mimpi tentang demokrasi yang tidak jelas juntrungannya.”
Togog terkulai di kursinya. Empat pukulan, empat KO. Ia merasa seperti petinju amatir yang masuk ring melawan juara dunia kelas berat. Tapi ia belum habis. Ia punya satu senjata yang mungkin bisa membuat sistem ini sadar akan absurditasnya sendiri: Jürgen Habermas dan teori tindakan komunikatifnya. Ini tentang komunikasi rasional, tentang ruang publik yang ideal di mana argumen yang lebih baik menang.
“Satu lagi, Paman. Habermas…” kata Togog lirih.
“Oh, silakan,” sela Sengkuni. “Semakin banyak Anda bicara, semakin terang bagi kita semua betapa naifnya alam pikiran Anda.”
“Habermas mengajukan konsep situasi tutur ideal. Sebuah komunikasi yang bebas dari dominasi dan tekanan, di mana partisipan hanya tunduk pada kekuatan argumen yang lebih baik. Demokrasi yang sehat adalah yang menyediakan ruang publik untuk komunikasi rasional semacam itu. Jika Anda membungkam Dewan Wong, jika Anda mengontrol media, jika Anda tidak mengizinkan kritik, maka Anda sedang menghancurkan ruang publik. Anda membunuh rasionalitas. Negara yang tidak punya ruang publik yang sehat adalah negara yang akan membuat keputusan bodoh, karena tidak ada yang berani mengoreksi.”
Sengkuni tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju layar besar di ujung ruangan. Ia menyalakannya. Di layar itu muncul sebuah video amatir tentang rapat Dewan Wong di Amarta. Tampak para wakil rakyat sedang berdebat, tapi debatnya saling teriak, ada yang melempar kertas, ada yang tidur. Layar berganti menampilkan sebuah video demonstrasi yang berakhir rusuh, orang-orang membakar ban, polisi menembakkan gas air mata.
“Itu ruang publik yang Anda dambakan?” tanya Sengkuni sinis. “Habermas berbicara tentang situasi tutur ideal. Itu adalah fiksi filosofis. Tidak pernah ada dalam realitas. Di dunia nyata, komunikasi dikuasai oleh mereka yang punya modal, yang punya akses media, yang punya suara paling keras. Ruang publik yang tidak dikelola hanya akan menjadi pasar argumen yang penuh dengan hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi.”
Ia mematikan layar. “Di Astina, kami memang membatasi ruang publik. Tapi itu bukan untuk membunuh rasionalitas. Justru untuk menyelamatkannya dari kebisingan. Kami menyediakan ‘situasi tutur ideal’ versi kami: di mana para ahli duduk bersama, merumuskan kebijakan terbaik, dan kemudian hasilnya disampaikan kepada rakyat. Rakyat tidak perlu berdebat, mereka hanya perlu memahami dan melaksanakan. Itu komunikasi yang jauh lebih rasional dan efisien. Itu adalah tindakan komunikatif yang dipimpin oleh negara, bukan oleh orang gila di media sosial.”
Togog kali ini benar-benar terdiam. Pikirannya kacau. Sengkuni dengan piawai memutarbalikkan setiap konsep. Ia bahkan mempertanyakan kewarasannya sendiri. Mungkin Sengkuni benar? Mungkin demokrasi memang hanya ilusi? Mungkin otoritarianisme adalah solusi yang lebih realistis? Tidak! Ada sesuatu dalam dirinya yang berontak. Sebuah suara kecil yang mengatakan bahwa semua argumentasi Sengkuni adalah rasionalisasi yang licik dari keinginan untuk berkuasa. Tapi ia tidak bisa menemukan celahnya.
Ia teringat pada Antonio Gramsci, pemikir Italia yang menulis tentang hegemoni dalam penjara. Ini mungkin pukulan terakhirnya. “Paman, terakhir. Gramsci. Ia berbicara tentang hegemoni. Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui paksaan, tapi melalui persetujuan yang direkayasa oleh kelas penguasa terhadap yang dikuasai. Bukankah yang Paman lakukan sekarang adalah menciptakan hegemoni? Anda tidak hanya ingin mengontrol tubuh kami, Anda ingin mengontrol pikiran kami, sehingga kami menganggap sistem ini sebagai ‘akal sehat’. Itu adalah bentuk penjajahan paling halus. Dan hegemoni seperti ini, menurut Gramsci, pada akhirnya akan dilawan oleh ‘intelektual organik’ dari rakyat, yang akan membangun ‘blok historis’ untuk melawan.”
Sengkuni tertawa. Kali ini tawanya tidak tertahan. “Togog, Anda baru saja memberikan saya pujian tertinggi, tanpa Anda sadari. Ya, apa yang kami lakukan adalah membangun hegemoni. Kami menciptakan ‘akal sehat’ baru. Itu adalah proyek yang sangat sulit dan hanya bisa dilakukan oleh rezim yang benar-benar visioner. Anda mengutip Gramsci, seolah hegemoni adalah hal yang buruk. Bagi kami, hegemoni adalah alat. Alat untuk memenangkan perang ideologi tanpa harus menumpahkan darah. Bukankah itu lebih manusiawi?”
“Dan soal ‘intelektual organik’,” lanjut Sengkuni, matanya menyipit. “Anda pikir kami tidak tahu? Kami tahu. Itu seBAGIANnya kami mengangkat Anda ke sini. Untuk mengamati cara berpikir Anda, untuk memahami argumen Anda, dan untuk mengkooptasinya. Jika kami bisa mengalahkan Anda di ruangan ini, di jantung kekuasaan, maka kami bisa mengalahkan argumen serupa di mana pun di negeri ini. Anda adalah intelektual organik yang kami ‘jinakkan’. Dan soal ‘blok historis’… Silakan. Kami justru sedang membangun blok historis kami sendiri: aliansi antara negara, teknokrat, dan rakyat yang sudah tercerahkan oleh kebijakan kami.”
Sengkuni menatap Togog dengan belas kasihan palsu. “Itu tadi Rousseau, Bentham, Fanon, Syari’ati, Habermas, dan Gramsci. Apakah ada lagi?”
Togog hanya bisa menggeleng.
Duryudana bertepuk tangan pelan. “Brilliant! Brilliant! Pertunjukan yang luar biasa! Jadi, Togog, setelah semua ini, Anda masih belum bisa menerima realitas?”
Togog menunduk. Ia kalah dalam debat. Tapi di dalam hatinya, ia belum kalah. Ia tahu Sengkuni licik. Sengkuni menang bukan karena argumennya benar, tapi karena ia tidak bermain di lapangan yang sama. Ia mengubah setiap aturan, membelokkan setiap istilah. Tapi bagaimana ia bisa membuktikannya?
Sengkuni seolah membaca pikirannya. “Jangan khawatir, Togog. Kekalahan intelektual itu pahit. Tapi untuk menutup sesi kita hari ini, saya akan memberi Anda sebuah perspektif pamungkas. Sebuah perspektif yang akan membuat Anda paham mengapa semua argumen Anda, pada akhirnya, hanyalah bunyi genta yang berlawanan dengan takdir biologis umat manusia.”
Sengkuni berdiri di depan layar. Gambar berubah menjadi diagram DNA, lukisan purba, dan foto-foto kerusuhan. “Selamat datang di kuliah mini: Biopolitik Neo-Darwinis. Filsafat pamungkas negara kami.”
Bagian Empat: Gen Penguasa dan Biopolitik Badut
Sengkuni berdiri di depan layar raksasa dengan postur seorang profesor yang sedang memberikan kuliah tamu di universitas ternama. Bedanya, jika profesor biasa dibayar dengan honorarium, Sengkuni dibayar dengan kuasa. Cahaya proyektor menyinari wajahnya, membuat kumisnya yang melengkung tampak seperti antena yang siap menangkap sinyal ketidaktaatan dari seluruh Astina.
“Saudara-saudara,” Sengkuni memulai, suaranya rendah tapi menusuk. “Kita telah banyak mendengar tentang Rousseau, tentang kebebasan, tentang Habermas dan ruang publiknya yang indah. Itu semua adalah cerita pengantar tidur yang diciptakan oleh para filsuf yang tidak pernah sekalipun memegang tampuk pemerintahan. Sekarang, saya akan mengajak Anda semua menyelami realitas yang lebih keras, lebih dingin, dan lebih jujur: realitas biologi.”
Ia menekan remote. Di layar muncul gambar seekor serigala alfa yang sedang berdiri gagah di atas bukit, dikelilingi oleh kawanannya yang menunduk patuh. “Alam telah mengajari kita satu hal sejak miliaran tahun lalu: hierarki adalah keniscayaan. Otoritarianisme bukanlah temuan Hitler atau Stalin. Otoritarianisme adalah mode pemerintahan yang merupakan bawaan genetik kita. Ia ada dalam DNA setiap makhluk hidup. Lihatlah serigala. Lihatlah semut. Lihatlah simpanse. Mereka tidak berdebat soal demokrasi saat memilih pemimpin. Mereka tunduk pada yang terkuat, pada yang paling mampu bertahan hidup. Itulah seleksi alam.”
Togog mendengus pelan. Ia ingin menyela, tapi ia tahu ini adalah bagian di mana Sengkuni akan menggelar karpet teori yang paling licik. Ia memilih diam dan mendengarkan, berharap menemukan jahitan yang longgar.
“Demokrasi,” lanjut Sengkuni sambil mengganti gambar menjadi foto para filsuf Yunani yang sedang berdebat di agora, “hanyalah ‘temuan’ atau ‘budaya’ yang relatif baru dalam sejarah umat manusia. Ia bukan bawaan lahir. Ia adalah produk dari kondisi material tertentu di kota-kota kecil Yunani kuno. Ia adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir warga kota yang punya banyak budak untuk mengurus keperluan hidup mereka. Sejak awal, demokrasi adalah sistem yang artifisial, rentan, dan hanya berfungsi dalam kondisi ideal. Ia seperti tanaman hias yang butuh disiram tiap hari. Jika terjadi kemarau panjang, tanaman itu akan mati, dan yang tumbuh kembali adalah rumput liar yang kuat: otoritarianisme.”
Dursasana bersorak. “Betul itu! Saya tidak suka tanaman hias. Saya suka rumput liar! Lebih mudah diinjak-injak!” Sengkuni mengabaikannya. Matanya tetap pada Togog.
“Dalam perspektif biopolitik yang kami anut, negara adalah tubuh. Rakyat adalah sel-selnya. Presiden adalah otaknya. Jika satu sel mulai bertindak sendiri-sendiri, itu namanya kanker. Tugas negara adalah mencegah kanker itu tumbuh. Bagaimana caranya? Bukan hanya dengan memotong sel kanker itu, tapi dengan merekayasa lingkungan mikro biologisnya. Kami ingin mempengaruhi denyut nadi rakyat, ritme sirkadian mereka, cara mereka makan, cara mereka bekerja, cara mereka mencintai. Kami ingin menciptakan manusia Astina yang baru. Manusia yang produktif, sehat, dan yang terpenting: tidak bertanya macam-macam.”
“Ini adalah proyek biopolitik yang paling agung dalam sejarah,” kata Sengkuni, matanya berbinar. “Foucault berbicara tentang bagaimana negara modern mulai mengelola kehidupan. Kami akan mewujudkan itu dengan sempurna. Petani akan kami beri jadwal tanam yang seragam. Kami akan memodifikasi bibit agar lebih produktif, dan memberi mereka insentif biologis, bukan cuma uang. Buruh akan kami atur ritme kerjanya dengan musik-musik tertentu yang merangsang saraf simpatik, meningkatkan produktivitas tanpa mereka sadari. Guru akan kami wajibkan belajar lebih keras dengan sistem kompetisi yang ketat, di mana yang terbaik akan kami kloning metodologinya, dan yang gagal akan kami kirim ke pusat pelatihan ulang.”
“Tentara dan polisi, tentu saja, dalam satu komando,” sambungnya, kali ini menatap Dursasana yang langsung membusungkan dada. “Mereka bukan hanya penjaga keamanan. Mereka adalah antibodi. Mereka akan disebar ke seluruh pelosok negeri, bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk ‘mengingatkan’. Kehadiran mereka akan menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari, seperti pohon dan lampu jalan. Rakyat akan merasa aman, dan secara tidak sadar, mereka akan merasa selalu diawasi. Itu adalah mekanisme panoptikon yang disempurnakan: penjara yang begitu sempurna sehingga para narapidana tidak lagi sadar bahwa mereka sedang dipenjara.”
Togog tidak tahan lagi. “Ini gila!” serunya, berdiri dari kursinya. “Anda memperlakukan manusia seperti kelinci percobaan di laboratorium raksasa! Manusia punya jiwa! Mereka punya mimpi! Mereka bukan cuma sekumpulan gen yang bisa disetel sesuka hati penguasa!”
Sengkuni tersenyum. “Itu letak kesalahan Anda, Togog. Anda terlalu sentimentil. Jiwa? Mimpi? Itu semua adalah produk dari proses biologis di otak. Itu semua bisa direkayasa. Beri saya anggaran yang cukup, dan saya bisa menciptakan mimpi-mimpi yang seragam untuk seluruh rakyat Astina. Mimpi tentang panen raya, mimpi tentang kemajuan teknologi, mimpi tentang kejayaan bangsa di bawah komando Bapak Presiden. Bukankah itu lebih indah daripada mimpi tentang kebebasan yang hanya berujung pada frustrasi?”
Sengkuni melangkah lebih dekat. “Dan inilah puncak argumentasi saya. Neo-Darwinisme mengajarkan bahwa evolusi tidak peduli pada moral. Evolusi hanya peduli pada siapa yang bertahan. Dalam situasi normal, demokrasi mungkin bisa berfungsi sebagai katup pengaman, sebagai cara untuk mendistribusikan sumber daya tanpa banyak konflik. Tapi, jika terjadi turmoil, jika terjadi krisis, jika sumber daya menipis… apa yang terjadi?”
Ia menunjuk layar. Gambar berganti menjadi video kerusuhan, penjarahan, dan kekerasan di berbagai belahan dunia. “Lihatlah. Saat listrik mati total selama tiga hari, pasar swalayan dijarah. Saat kelaparan melanda, tetangga saling bunuh. Saat krisis, lapisan tipis budaya yang disebut ‘demokrasi’ itu mengelupas, dan muncullah sifat asli manusia: mementingkan diri sendiri dan mencari pemimpin kuat yang bisa melindungi mereka. Gen otoritarianisme itu dominan. Ia hanya butuh pemicu lingkungan untuk aktif. Kami di sini tidak sedang menciptakan sesuatu yang baru. Kami hanya sedang menyiapkan diri untuk mengaktifkan gen itu secara terkendali, sebelum keadaan yang tidak terkendali yang mengaktifkannya. Kami memilih untuk menjadi gembala yang tegas, daripada menunggu serigala kelaparan yang akan memakan domba-domba.”
“Itu adalah ramalan yang menjadi kenyataan dengan sendirinya!” teriak Togog. “Anda menciptakan krisis untuk kemudian Anda jadikan alasan mengambil alih kekuasaan mutlak! Itu bukan sains. Itu manipulasi politik!”
“Semua politik adalah manipulasi,” jawab Sengkuni tenang. “Pertanyaannya adalah, siapa yang lebih jujur dalam bermain? Kami jujur bahwa kami ingin berkuasa. Mereka yang berteriak tentang demokrasi juga ingin berkuasa, tapi mereka bersembunyi di balik topeng moralitas. Kami memilih untuk tampil apa adanya. Rakyat, pada akhirnya, akan berterima kasih. Karena dalam sistem kami, setidaknya mereka tahu siapa bosnya. Dalam sistem Anda, mereka disuruh memilih, tapi bosnya tetap oligarki yang tidak pernah mereka lihat wajahnya. Pilih racunmu, Togog.”
Ruang rapat itu hening. Bahkan Dursasana yang biasanya selalu punya komentar, kali ini hanya bisa menatap Sengkuni dengan kekaguman yang tercampur ngeri. Kretawarma sibuk mengetik di ponselnya, mungkin mencari tahu di media sosial bagaimana reaksi publik andai kata debat ini disiarkan langsung. Karna berdiri tegak, wajahnya penuh keyakinan. Baginya, semua ini adalah pembenaran atas kesetiaannya.
Duryudana bangkit dari singgasananya. Ia menepuk-nepuk bahu Sengkuni. “Luar biasa, Paman. Anda selalu berhasil membuat saya merasa bahwa ambisi saya adalah takdir alam semesta.” Ia lalu menatap Togog. “Jadi, Staf Ahli Togog, setelah pencerahan dari Paman Sengkuni, apakah Anda masih akan berdiri di sana dengan wajah murung? Atau Anda siap bergabung dalam proyek besar ini? Kita akan menciptakan sejarah. Kita akan membangun Astina Raya yang tak tertandingi. Amarta dengan demokrasi lembeknya akan kita tinggalkan di belakang.”
Semua mata kembali tertuju pada Togog. Ia merasa seperti sebutir pasir di tengah badai. Semua argumennya dipatahkan. Semua idealismenya dicap naif. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipatahkan oleh filsafat secanggih apa pun: perasaan tidak nyaman di perutnya sendiri. Rasa mual yang muncul saat ia mendengar kata ‘rekayasa biologis’ dan ‘mimpi seragam’. Rasa kemanusiaan itu mungkin tidak bisa diartikulasikan dalam silogisme yang rapi, tapi ia ada. Ia nyata. Sama nyatanya dengan rasa lapar.
Togog menatap Duryudana. “Saya… saya minta waktu untuk berpikir, Bapak Presiden. Ini semua sangat… sulit dicerna.”
Duryudana tertawa. “Berpikir? Tentu saja. Tapi jangan terlalu lama. Di negara ini, kami tidak suka orang yang terlalu lama berpikir. Itu tandanya tidak produktif. Dursasana, antarkan tamu kita ini ke ruang kerjanya yang baru. Siapa tahu dengan melihat fasilitas yang kita berikan, ia bisa lebih cepat ‘berpikir’.”
Dursasana maju dengan senyum lebar yang lebih mirip seringai. “Mari, Staf Ahli Togog. Saya tunjukkan ruangan Anda. Di sana ada dispenser dan meja yang sangat kuat. Meja itu tidak akan pecah meskipun Anda membenturkan kepala berkali-kali. Saya yang memilih sendiri bahannya.”
Togog berjalan keluar dengan langkah gontai. Ia melirik Karna. Pria itu menatapnya dengan tatapan ‘saya sudah memperingatkanmu’. Ia melirik Kretawarma yang langsung membuang muka. Ia tahu, di ruangan ini, ia adalah satu-satunya yang janggal. Satu-satunya yang mencoba berenang melawan arus.
Saat pintu ruang rapat menutup di belakangnya, ia mendengar suara Duryudana. “Paman Sengkuni, pastikan program biopolitik itu segera dimulai. Fase pertama: rekayasa jadwal tidur petani. Saya ingin mereka bermimpi tentang panen, bukan tentang Amarta.”
Pintu tertutup rapat. Togog berdiri di koridor panjang dengan karpet merah dan lampu kristal. Di depannya, Dursasana berjalan dengan langkah berat. Di belakangnya, suara-suara persetujuan bergema. Ia mengepalkan tangan. Ia kalah dalam debat. Tapi perang belum usai. Selama rasa mual itu masih ada, selama ia masih merasa ada yang salah, berarti ia belum sepenuhnya kalah. Ia harus mencari cara lain. Mungkin bukan dengan filsafat. Mungkin dengan humor. Karena seperti kata pepatah lama, “Jika sistem sudah terlalu gila, mungkin hanya badut yang bisa menyelamatkan kita.”
Togog tersenyum kecut. Ia baru saja diangkat menjadi staf ahli, tapi ia merasa lebih tepat disebut sebagai calon penghuni pertama rumah sakit jiwa yang akan dibangun oleh rezim ini. Atau, jika ia beruntung, menjadi duri paling lucu dalam daging kekuasaan yang paling serius.
Bagian Lima: Opera Sang Pengamat
Kantor baru Togog terletak di sayap timur istana, sebuah area yang oleh para pegawai rendahan disebut sebagai “Kandang Sapi Perah”, karena di situlah para loyalis yang dianggap kurang berguna ditempatkan, diperah pikirannya, dan jika sudah kering, dilupakan. Ruangannya cukup luas, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke taman yang penuh dengan bunga-bunga tertata rapi. Tapi Togog tidak bisa menikmatinya. Bunga-bunga itu baginya tampak seperti tentara yang sedang parade: seragam, teratur, dan membosankan.
Di mejanya, sudah ada sebuah tablet baru dengan aplikasi bawaan yang tidak bisa dihapus: “AstaNet”, “SatuKomandoChat”, dan “PantauKinerja”. Di dinding, terpasang plakat emas dengan tulisan: “Bekerja, Berpikir, Tapi Jangan Membantah.” Togog mendudukkan diri di kursi kerjanya yang empuk. Kursi itu seperti simbol dari posisinya: nyaman, menyenangkan, tapi membuatmu tidak ingin bergerak.
Hari-hari pertama berlalu dengan lambat. Togog lebih banyak mengamati. Ia menghadiri rapat-rapat kecil yang isinya hanya menyetujui rancangan yang sudah diputuskan di rapat besar. Ia melihat bagaimana Sengkuni, dengan piawai, mengarahkan setiap kebijakan. Program biopolitik itu dimulai dengan nama yang indah: “Gerakan Astina Bangkit Prima”. Fase pertama adalah “Optimalisasi Bioritme Petani”.
Togog membaca sebuah dokumen yang tidak sengaja tertinggal di meja fotokopi. Dokumen itu berisi jadwal harian yang wajib diikuti oleh petani di seluruh Astina. Pukul 03.00: Wajib bangun tidur (akan ada sirine dari speaker masjid yang sudah diambil alih). Pukul 03.30: Senam Pagi Pembangkit Stamina versi Satu Komando (gerakannya didesain oleh ahli biokinestetik untuk menstimulasi hormon pertumbuhan tanaman). Pukul 04.30: Sarapan bubur fortifikasi yang dibagikan gratis. Pukul 05.00: Serentak ke sawah. Pukul 12.00: Istirahat, mendengarkan siaran radio yang berisi lagu-lagu daerah yang liriknya diubah menjadi pujian untuk Presiden. Pukul 13.00: Kembali bekerja. Pukul 20.00: Wajib tidur. Lampu di seluruh desa akan dimatikan secara terpusat dari ibu kota kecamatan.
Jika ada yang melanggar, ada sanksi berupa pengurangan jatah pupuk subsidi. Togog membaca itu dengan mulut ternganga. Ini bukan lagi negara. Ini adalah kamp militer berkedok koperasi tani. Ia ingin menulis status di media sosial, tapi ia sadar, AstaNet sudah memblokir semua kata kunci seperti “otak”, “kontrol”, dan “aneh”. Bahkan kata “kerbau” diblokir karena dianggap terlalu dekat dengan “kebebasan”.
Di sisi lain, program untuk buruh pabrik lebih canggih lagi. Di pabrik-pabrik, dipasang alat pemantau gelombang otak. Siapa pun yang mulai memikirkan “hal-hal yang tidak produktif” seperti hak cuti atau kenaikan upah, akan terkena semburan aroma terapi yang menenangkan dan otomatis akan kembali fokus pada rantai produksi. Sengkuni menyebutnya “aromaterapi ideologis”. Dursasana, yang kini memimpin pasukan khusus biopolitik, menyebutnya “parfum setan”.
Togog semakin gelisah. Ia sering duduk di kafetaria istana, mengamati para birokrat dan staf ahli lainnya. Mereka semua tampak ceria, tertawa-tawa, saling memuji dasi dan sepatu baru. Mereka seperti aktor di panggung opera yang megah, memainkan peran masing-masing dengan sempurna, tanpa sadar bahwa panggung itu dibangun di atas fondasi yang retak.
Suatu hari, di kafetaria itu, Togog bertemu dengan Kretawarma. Menteri Koordinator Angin itu sedang duduk sendirian, menikmati secangkir cappuccino dengan gambar wajah Duryudana di atas busanya. Togog memutuskan untuk duduk di hadapannya. Siapa tahu, dari orang yang paling oportunis ini, ia bisa mendapatkan secercah informasi.
“Selamat siang, Pak Menteri. Cappuccinonya artistik sekali,” sapa Togog basa-basi.
Kretawarma mendongak, sedikit kaget. “Ah, Togog. Duduk, duduk. Ini adalah menu baru di kafetaria. Namanya ‘Kapucino Komando’. Katanya busanya dibuat dengan susu dari sapi yang diperah sambil diperdengarkan pidato Presiden. Katanya sih begitu. Saya sih tidak terlalu peduli. Yang penting rasanya enak. Sampai saat ini, rasanya enak.”
Togog menangkap nada ketidakpedulian yang khas dari Kretawarma. “Bagaimana pendapat Bapak tentang kebijakan baru ini? Yang soal jadwal tidur petani dan aroma terapi untuk buruh? Bukankah itu agak… berlebihan?”
Kretawarma menyeruput kopinya, lalu meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Anda tahu, Togog, dalam hidup ini, ada tiga macam orang. Pertama, orang yang membuat ombak. Kedua, orang yang menunggangi ombak. Ketiga, orang yang tenggelam oleh ombak. Saya selalu berusaha menjadi tipe kedua. Kadang berhasil, kadang saya basah-basahan. Tapi yang jelas, saya tidak mau tenggelam.”
“Tapi ini bukan soal ombak, Pak. Ini soal kebijakan yang mungkin saja salah arah. Bukankah tugas kita sebagai pejabat untuk meluruskan?”
Kretawarma tersenyum tipis. Senyum yang penuh arti. “Togog, Anda ini aneh. Anda berdebat dengan Sengkuni soal filsafat. Anda bicara soal kebenaran dan moral. Sementara yang lain sibuk memikirkan bagaimana caranya nama mereka disebut dalam pidato Presiden. Saya kasih tahu satu rahasia ya. Ini rahasia kecil dari saya.”
Togog mencondongkan tubuhnya.
“Saya ini sudah lama di pemerintahan. Saya sudah lihat pemimpin datang dan pergi. Saya sudah lihat kebijakan dibuat dan dibatalkan. Polanya selalu sama. Ada api, ada asap, lalu semuanya menjadi abu. Yang paling penting adalah: jangan sampai Anda yang menjadi abunya. Saya dukung kebijakan ini karena sekarang anginnya ke situ. Jika suatu saat anginnya berbalik, ya saya dukung yang sebaliknya. Itu bukan hipokrisi. Itu adalah adaptasi. Seperti bunglon. Bunglon itu makhluk yang paling bertahan lama di padang pasir politik.”
Togog terperangah. “Jadi Bapak tidak peduli dengan isinya? Hanya peduli dengan siapa yang mengusulkan?”
“Isinya?” Kretawarma tertawa kecil. “Isinya bisa berubah kapan saja. Besok jika ada krisis pangan, jadwal tidur petani bisa diubah, dan Sengkuni akan menyebutnya sebagai ‘penyesuaian dinamis’. Semua kebijakan hanyalah iklan dari kekuasaan. Yang penting adalah produknya: kuasa itu sendiri. Selama kuasa masih dipegang oleh lingkaran ini, saya aman. Anda, saya sarankan, rileks saja. Nikmati gaji Anda. Tulis status-status ambigu yang tidak jelas apakah Anda mendukung atau menolak. Itu teknik bertahan hidup paling aman.”
Togog meninggalkan kafetaria dengan perasaan lebih buruk. Jika orang seperti Kretawarma adalah tulang punggung birokrasi, maka negara ini benar-benar dijalankan oleh zombie-zombie yang canggih. Mereka tidak jahat, tapi ketidakpedulian mereka adalah pupuk terbaik bagi kejahatan untuk tumbuh subur.
Hari berganti minggu. Togog mencoba memanfaatkan aksesnya sebagai staf ahli untuk melihat lebih dalam. Ia mengunjungi proyek percontohan “Desa Prima” di pinggiran Astina. Di sana, ia melihat para petani bekerja dengan robotik. Tidak ada yang tersenyum, tapi tidak ada juga yang marah. Mereka hanya kosong. Seperti robot yang dagingnya kebetulan terbuat dari manusia. Ia berbicara dengan seorang petani tua.
“Pak, bagaimana rasanya dengan aturan baru ini?”
Petani itu menatap Togog dengan mata yang sayu. “Enak, Pak. Sekarang kami tidak usah mikir. Semua sudah diatur. Mau nanam apa, kapan nanam, kapan panen. Kami tinggal ikut.”
“Tapi bukankah dulu Bapak lebih suka bebas? Memilih tanaman sendiri, menjual ke pasar sendiri?”
Petani itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dulu sih iya, Pak. Tapi dulu juga susah. Harga tidak pasti. Kadang panen, kadang gagal. Sekarang kami digaji tetap. Dapat beras. Dapat jadwal. Hidup jadi lebih… sederhana. Tapi…”
“Tapi apa, Pak?”
“Tapi kadang-kadang, saya kangen mikir, Pak. Kangen pusing sendiri mikirin utang. Aneh ya. Tapi dengan mikir itu, saya ngerasa hidup. Sekarang, saya ngerasa cuma kayak wayang. Digerakin sama dalang. Siapa dalangnya? Ya pemerintah. Katanya sih, kami harus ikhlas. Ikhlas itu kan tidak mengeluh. Saya sudah tidak mengeluh. Tapi saya juga sudah tidak bisa ketawa.”
Jawaban itu menusuk Togog lebih dalam dari semua pisau retorika Sengkuni. Inilah bukti nyata dari biopolitik. Mereka tidak hanya mengontrol tubuh, tapi juga menghilangkan keinginan untuk bermimpi. Mereka menciptakan surga yang steril, di mana manusia tidak lagi menjadi manusia, melainkan sekadar nomor induk kependudukan yang bernapas.
Kembali ke Istana, Togog mendapati suasana sedang gempar. Bisma, sang tetua yang selama ini diam, tiba-tiba muncul di ruang rapat utama. Semua Kurawa berkumpul. Dursasana tampak gugup. Karna berdiri dengan wajah muram. Bahkan Kretawarma meletakkan korannya.
Bisma berdiri di tengah ruangan. Meskipun tua, posturnya masih menjulang. Suaranya dalam, penuh wibawa. “Aku sudah mendengar semuanya. Eksperimen biopolitik kalian. Aku tidak akan tinggal diam.”
Duryudana mencoba tersenyum. “Kakek, kami hanya melanjutkan cita-citamu. Membangun Astina yang kuat.”
“Diam kau, Duryudana!” bentak Bisma. “Aku berjanji untuk menjaga kalian, bukan untuk mendukung kegilaan kalian. Aku tidak bisa melawan kalian, tapi aku bisa mengutuk. Kalian sedang menciptakan neraka di bumi. Kalian pikir dengan mengontrol kapan petani tidur, kalian bisa mengontrol nasib? Alam akan melawan. Hati nurani akan melawan. Dan aku, dengan seluruh sisa umurku, akan berdiri di sini sebagai saksi bisu. Setiap tetes keringat paksa yang kalian peras, setiap tawa yang kalian bunuh, akan menjadi batu yang kelak menghantam kepala kalian!”
Kata-kata Bisma seperti petir di siang bolong. Tapi Sengkuni, dengan tenang, melangkah maju. “Kakek Bisma, kami menghormatimu. Tapi dunia sudah berubah. Anda berbicara tentang hati nurani. Hati nurani adalah konsep yang bisa direkayasa. Dan soal alam, kami tidak melawannya, kami mengelolanya. Duduklah, Kakek. Nikmati masa pensiunmu. Kami yang muda akan menyelesaikan ini.”
Bisma menatap Sengkuni dengan mata yang menyala. “Kau, Sengkuni. Ucapanmu seperti racun yang manis. Kau pikir kau memenangkan debat dengan Togog? Kau hanya memenangkan pertunjukan. Kebenaran tidak butuh kemenangan. Kebenaran hanya butuh waktu.”
Setelah mengatakan itu, Bisma berbalik dan meninggalkan ruangan. Langkahnya berat, tapi tegar. Ia kembali ke sunyinya, menjadi patung moral di tengah sirkus kekuasaan. Togog menatap kepergian Bisma. Ia merasa mendapatkan sekutu, meskipun sekutu itu tidak bisa bertarung bersamanya.
Setidaknya, ia tidak sendiri. Kegilaan ini diakui oleh orang yang paling bijak. Itu cukup untuk membuatnya bertahan.
Malam harinya, Togog duduk di beranda kamarnya di kompleks istana. Udara malam terasa dingin, berbeda dengan udara siang yang penuh tekanan. Ia termenung. Ia teringat pada perbincangannya dengan Kretawarma, pada wajah kosong petani itu, pada kemarahan Bisma. Semua drama ini seperti sebuah opera yang megah, dengan Sengkuni sebagai konduktor, Duryudana sebagai primadona, dan Dursasana sebagai pemain perkusi yang hanya bisa memukul.
Dan ia? Ia adalah penonton yang dipaksa naik ke panggung, disuruh memakai kostum badut, dan diminta untuk menertawakan para pemain lainnya. Tapi ia tahu, dalam setiap opera, selalu ada momen di mana topeng-topeng itu jatuh. Momen di mana musik berhenti dan kebohongan terungkap. Ia tidak tahu kapan momen itu akan tiba. Tapi ia yakin, dengan semua kegilaan biopolitik ini, panggung ini sedang disiapkan untuk sebuah akhir yang spektakuler. Sebuah akhir yang mungkin akan ditulis oleh rakyat yang sudah bosan diatur. Atau, oleh seorang badut yang tiba-tiba belajar menggunakan pedang.
Togog menyalakan tabletnya. Ia membuka aplikasi “AstaNet”. Semua berita sama: kemajuan, ketertiban, produktivitas. Tapi di sudut-sudut gelap internet, di forum-forum yang belum diblokir, ia mulai melihat untaian-untaian keresahan. Sebuah meme mulai menyebar. Gambar Duryudana dengan mahkota, tetapi wajahnya diedit menjadi seekor ayam jantan, dengan tulisan: “Sang Penguasa Fajar, Membangunkanmu dengan Paksa.” Meme itu konyol, tapi berbahaya. Togog tersenyum.
Opera belum usai.
Opera belum usai.
Bagian Enam: Wayang Golek Revolusi
Pagi itu, Togog terbangun bukan oleh sirine dari speaker masjid, karena ia tinggal di kompleks istana yang bebas dari aturan biopolitik. Ia terbangun oleh suara burung kenari milik istrinya, seekor burung yang diberi nama ‘Demokrasio’, yang ironisnya, setiap pagi bernyanyi dengan sangat keras dan tidak bisa diatur. Togog memandang burung itu dan bergumam, “Setidaknya di sangkar ini, masih ada suara yang tidak bisa dikontrol.”
Hari ini, ia punya rencana. Kekalahan debat melawan Sengkuni mengajarinya satu hal: melawan monster di arena yang sama adalah kebodohan. Sengkuni adalah dewa di atas ring retorika dan filsafat. Ia bisa memutar otak manusia seperti memutar adonan roti. Maka, arena harus diubah. Jika Sengkuni menggunakan senjata logika dingin, Togog akan menggunakan senjata yang lebih tua dari filsafat: tertawaan. Karena tirani, pada dasarnya, tidak bisa ditertawakan. Tirani itu serius, angkuh, dan sangat sensitif. Tertawaan adalah cryptonite bagi Superman-Superman politik.
Ia melirik ke tumpukan kertas di sudut kamar. Kertas-kertas itu adalah rancangan kebijakan “Dewan Wong 2.0” yang baru saja ia terima. Sengkuni telah merancang sebuah sistem di mana Dewan Wong, perwakilan rakyat, akan diisi oleh orang-orang yang dipilih bukan melalui pemilu, tapi melalui “seleksi kompetensi dan loyalitas”. Sidang-sidangnya akan dipandu oleh moderator dari Istana, dan setiap suara yang “menyimpang” akan dipotong otomatis oleh sistem audio ruangan. Mereka boleh berbicara, tapi suaranya tidak akan terdengar. Mereka akan merasa sedang berdebat, padahal mereka hanya bergumam di dalam kotak kedap suara.
Togog tahu, ini adalah titik tersakit dari sistem ini. Duryudana ingin membungkam tanpa terlihat membungkam. Inilah yang akan ia sasar.
Ia memutuskan untuk mengunjungi salah satu calon anggota Dewan Wong. Namanya Wong Cilik. Seorang pemilik warung sate kambing muda yang sederhana, jujur, dan tiba-tiba namanya muncul sebagai calon terpilih versi Istana. Wong Cilik dipilih karena ia populer di kalangan rakyat kecil berkat satenya yang enak, dan ia dianggap tidak berbahaya.
Togog pergi ke warung sate itu, menyamar dengan kaos oblong dan celana jins butut. Ia ingin mendengar suara rakyat tanpa filter. Warung itu ramai. Bau asap arang dan daging kambing membumbung tinggi. Wong Cilik, dengan wajahnya yang selalu basah oleh keringat, sedang sibuk mengipasi sate.
“Pak Wong, saya Togog. Saya dari… ee… media. Boleh wawancara sebentar?” tanya Togog berbohong.
Wong Cilik menatapnya curiga. “Media mana? Media yang isinya berita kematian artis dan promo kredit motor itu? Atau media yang isinya hanya wajah Presiden?”
“Media yang suka menertawakan keduanya,” jawab Togog cepat.
Wong Cilik terkekeh. “Boleh, deh. Duduk sini. Mau sate berapa tusuk?”
Sambil makan sate, Togog mulai menggali. “Anda kan calon anggota Dewan Wong, Pak. Bagaimana perasaannya?”
Wong Cilik meletakkan kipasnya. “Saya bingung, Mas. Saya kan cuma penjual sate. Tiba-tiba ada petugas datang, bilang saya terpilih. Katanya saya wakil rakyat. Tapi saya tidak pernah dipilih. Saya dipilih oleh yang milih Presiden. Aneh, kan?”
“Lalu, Anda mau bicara apa di dewan nanti?”
“Ya saya mau bicara soal harga cabai yang naik turun. Soal jalan berlubang. Soal anak saya yang susah masuk sekolah negeri. Itu kan masalah rakyat.”
Togog menatap mata Wong Cilik. Ada ketulusan di sana. “Bagaimana kalau nanti suara Bapak dimatikan? Tidak terdengar?”
Wong Cilik terdiam. Ia mengambil tusuk sate yang kosong dan memainkannya. “Kalau suara saya dimatikan, saya akan tetap bicara. Saya akan teriak. Atau, saya akan bawa sate ini ke dalam dewan. Kalau suara saya dipotong, saya tusuk-tusukkan sate ini ke meja, biar pada kaget.”
Togog tersenyum. Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya. Sebuah ide yang mungkin bisa mengubah segalanya. “Pak Wong, bagaimana kalau saya ajari Bapak cara berbicara yang tidak bisa dimatikan oleh tombol? Bagaimana kalau kita buat Dewan Wong menjadi panggung wayang golek, di mana para dalangnya adalah rakyat, dan wayangnya adalah para pejabat yang kita tertawakan bersama?”
Wong Cilik mengerutkan dahi. “Maksud Mas?”
“Kita akan membuat Dewan Wong menjadi pertunjukan komedi. Tapi komedi yang menusuk. Satir yang pahit. Setiap kebijakan yang konyol, kita buatkan guyonan. Setiap pernyataan Sengkuni yang njlimet, kita terjemahkan ke dalam bahasa rakyat yang lucu. Jika mereka memotong suara kita, kita akan bicara dengan gerakan. Dengan pantomim. Dengan tarian. Saya akan menulis naskahnya. Anda dan teman-teman Anda akan memainkannya. Kita akan membuat rakyat menonton persidangan dewan seperti mereka menonton pertunjukan wayang favorit mereka. Dan para penonton akan tahu, di balik kelucuan si Cepot, ada kebenaran yang lebih tajam dari pedang.”
Wong Cilik tercengang. “Tapi itu berbahaya, Mas.”
“Memang. Tapi lebih berbahaya lagi jika kita diam. Jika kita diam, anak-anak kita akan lahir ke dunia di mana jadwal tidur mereka diatur oleh negara, dan mimpi mereka dipilihkan oleh Sengkuni. Kita mungkin bukan pahlawan. Tapi kita bisa menjadi badut. Dan badut yang baik, bisa menjatuhkan raja hanya dengan satu banyolan yang tepat.”
Malam itu juga, Togog mulai menyusun rencana. Ini adalah strategi intelektual ala rakyat jelata. Ia akan menggunakan posisinya di Istana untuk mengakses informasi, lalu menyebarkannya ke Wong Cilik dan jaringan rakyat kecil lainnya. Mereka akan membentuk jaringan “Wayang Revolusi”. Setiap hari, setelah sidang dewan yang absurd, mereka akan menggelar pertunjukan dadakan di alun-alun. Menggunakan wayang golek dari kardus bekas, mereka akan memainkan ulang apa yang terjadi di dewan, dengan bumbu humor yang pedas. Tokoh Sengkuni akan dibuat dengan kumis yang bisa memanjang sendiri. Tokoh Duryudana akan dibuat dengan kepala yang bisa menggelembung. Tokoh Dursasana akan dibuat dengan tangan yang selalu memegang palu.
Dan Togog akan menjadi penulis bayangan. Penulis naskah untuk revolusi paling lucu yang pernah ada.
Sementara itu, di Istana, program biopolitik terus berjalan. Fase kedua dimulai: “Harmonisasi Akademik”. Semua guru diwajibkan mengikuti pelatihan intensif di pusat-pusat yang dijaga ketat. Mereka diajarkan bahwa kurikulum harus seragam, dan satu-satunya kebenaran adalah “Kebenaran Astina”. Sejarah dirombak. Dalam buku baru, diceritakan bahwa Duryudana adalah keturunan langsung para dewa yang turun ke bumi untuk menyelamatkan manusia dari kekacauan demokrasi. Pandawa digambarkan sebagai pengkhianat yang iri hati.
Togog membaca buku itu dan hampir muntah. Ia membayangkan anak-anak sekolah yang harus menghafal kebohongan itu. Ia semakin yakin, rencananya harus segera dijalankan.
Hari pelantikan Dewan Wong 2.0 tiba. Gedung dewan baru saja direnovasi. Kini tampak seperti studio televisi yang megah. Ada kamera di mana-mana. Kursi-kursinya dilengkapi dengan sensor. Jika ada yang bicara terlalu keras, kursi itu akan menyetrum pelan. Sengkuni benar-benar memikirkan segalanya.
Wong Cilik dan anggota dewan lainnya dilantik dengan sumpah yang aneh. Mereka bersumpah setia kepada “Negara dan Presiden”, bukan kepada rakyat. Setelah pelantikan, sidang pertama dimulai. Duryudana hadir, duduk di balkon VIP, diiringi oleh Sengkuni, Dursasana, Karna, dan Kretawarma.
Wong Cilik dan anggota dewan lainnya dilantik dengan sumpah yang aneh. Mereka bersumpah setia kepada “Negara dan Presiden”, bukan kepada rakyat. Setelah pelantikan, sidang pertama dimulai. Duryudana hadir, duduk di balkon VIP, diiringi oleh Sengkuni, Dursasana, Karna, dan Kretawarma.
Sidang dibuka. Seorang anggota dewan dari fraksi boneka membacakan pidato sambutan. Isinya penuh pujian. Lalu, sesi tanya jawab dimulai. Mikrofon dinyalakan satu per satu sesuai urutan yang sudah diatur. Semua pertanyaan sudah disiapkan oleh tim Istana. Semuanya berjalan seperti drama yang membosankan.
Sampai akhirnya, giliran Wong Cilik tiba. Keringat mengucur di pelipisnya. Ia menatap sekeliling. Ia melihat kamera. Ia melihat kursinya yang mungkin akan menyetrumnya. Ia lalu teringat pesan Togog: “Jangan lawan ombak dengan tubuhmu. Jadilah air.”
Mikrofonnya menyala. Moderator dari Istana, dengan senyum plastiknya, berkata, “Silakan, Bapak Wong Cilik. Apa pertanyaan Anda untuk pemerintah yang kita cintai ini?”
Wong Cilik berdiri. Ia tidak langsung bicara. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah wayang golek kecil dari kardus, berbentuk Duryudana dengan mahkota yang kebesaran. Semua orang di ruangan itu terkejut. Kamera langsung menyorot.
“Saya tidak punya pertanyaan,” kata Wong Cilik. “Saya hanya punya cerita.”
Moderator panik. “Ba-Pak, itu tidak sesuai prosedur! Saya akan mematikan mikrofon Anda!”
Tapi sebelum mikrofon dimatikan, Wong Cilik mulai mendalang. Ia memainkan wayang Duryudana itu. Dengan suara yang lucu, ia menirukan gaya bicara Duryudana. “Halo rakyatku! Aku adalah pemimpinmu yang hebat! Aku sudah mengatur jam tidurmu, jam makanmu, dan jam buang air besarmu! Kalian tidak usah mikir! Biar aku saja yang mikir! Karena otakku segede gedung ini!” Ia menunjuk gedung dewan.
Para hadirin terbelalak. Beberapa anggota dewan boneka tertawa refleks, lalu buru-buru menutup mulut mereka. Duryudana di balkon VIP berdiri, wajahnya merah padam. “Matikan! Matikan orang gila itu!” teriaknya.
Petugas keamanan berlari mendekati Wong Cilik. Tapi Wong Cilik melanjutkan, kali ini dengan wayang Sengkuni. Wayang itu memiliki kumis yang terbuat dari lidi panjang. “Saya adalah otak di balik semua ini. Saya sangat pintar. Saya bisa membuat kalian merasa bebas padahal kalian sedang dikerangkeng. Saya bisa mengubah hitam menjadi putih, dan putih menjadi abu-abu yang bikin pusing. Tapi jangan khawatir, saya tidak jahat. Saya hanya alergi dengan kebenaran. Setiap kali ada yang jujur, saya bersin. Hatchiiiim!”
Ruang sidang berubah menjadi kacau. Suara tawa dan teriakan bercampur. Ini bukan lagi sidang dewan. Ini adalah pertunjukan rakyat. Para juru kamera, yang mungkin juga sudah bosan dengan kebohongan, tidak mematikan kamera mereka. Sinyal siaran langsung terus mengalir ke seluruh Astina. Di warung-warung kopi, di pabrik-pabrik, di sawah-sawah, orang-orang yang biasanya hanya bisa diam, sekarang tertawa terbahak-bahak. Mereka menonton wayang golek Wong Cilik dengan mata berbinar. Sinyal itu bahkan menembus blokir AstaNet, karena banyak yang menyiarkan ulang melalui radio komunitas.
Di Istana, Togog duduk di depan televisi, tersenyum. Operasi Badut dimulai. Ia tahu ini baru permulaan. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, ketakutan berubah menjadi tawa. Dan tawa, seperti yang ia tahu, adalah langkah pertama menuju keberanian.
Sementara itu, di ruang sidang, Dursasana turun tangan. Ia melompat dari balkon VIP, mendarat dengan keras di lantai, dan langsung merebut wayang golek dari tangan Wong Cilik. “Ini penghinaan! Ini makar!” raungnya. Ia menginjak-injak wayang kardus itu sampai hancur.
Tapi Wong Cilik tidak melawan. Ia hanya tersenyum. “Silakan diinjak, Pak. Itu cuma kardus. Yang tidak bisa Bapak injak adalah ceritanya. Cerita itu sudah terbang. Sekarang ada di kepala jutaan orang. Dan percayalah, di kepala mereka, cerita itu akan tumbuh lebih besar dari patung Bapak Presiden.”
Dursasana nyaris memukul Wong Cilik, tapi Karna menahannya. “Jangan di sini, Dursasana! Kamera masih menyala! Kita tidak boleh terlihat seperti preman!”
Dursasana menggeram. Ia melemparkan pandangan kebencian ke seluruh ruangan. “Kalian semua! Kalian pikir ini lucu?! Kalian akan lihat! Fase ketiga akan saya percepat! Fase Keamanan Mutlak! Kalian semua akan saya awasi 24 jam! Tidak akan ada lagi wayang-wayangan!”
Wong Cilik digelandang keluar oleh petugas. Tapi saat ia berjalan keluar, ia menoleh ke kamera dan berkata lirih, “Jangan lupa, wayang berikutnya akan bercerita tentang Menteri yang suka membanting meja. Saksikan!”
Di seluruh negeri, tawa masih bergema. Di Istana, suasana mencekam. Duryudana mengamuk di ruang rapat tertutup. Sengkuni, untuk pertama kalinya, terlihat tidak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka lawannya bukanlah argumen, melainkan satir. Ia tahu, menghadapi filsuf ia bisa menang. Tapi menghadapi badut? Ia tidak punya senjatanya.
Togog menutup televisinya. Ia menatap burung kenarinya, Demokrasio, yang berkicau riang. “Nah, sekarang kita mulai BAGIANak baru, Burung. BAGIANak di mana badut dan burung kenari bisa lebih berbahaya dari bom atom. Karena mereka tidak bisa dihentikan dengan teori.”
Di kejauhan, sirene polisi mulai meraung-raung. Fase Keamanan Mutlak akan segera dimulai. Tapi Togog tidak takut. Karena sekarang ia tidak sendirian. Ia punya panggung, ia punya penonton, dan ia punya dalang-dalang dadakan yang siap memainkan cerita apa pun. Bahkan cerita yang belum selesai ini.
Bagian Tujuh: Fase Keamanan Mutlak dan Lahirnya Dalang-Dalang Pasar
Setelah peristiwa “Wayang Kardus” yang mengguncang Istana, Astina memasuki BAGIANak baru yang lebih gelap. Duryudana, yang merasa dipermalukan di depan seluruh rakyatnya sendiri, menandatangani dekrit yang dijuluki “Dekrit Keamanan Mutlak”. Isinya sederhana namun mengerikan: negara berhak melakukan segala cara untuk menjaga stabilitas, termasuk penyadapan penuh, penangkapan preventif, dan “rehabilitasi mental” bagi siapa pun yang dianggap menyebarkan “virus satir”.
Dursasana, yang kini resmi menyandang gelar Panglima Komando Keamanan Mutlak, bergerak cepat. Pasukan kuda dan pasukan jalan kaki dikerahkan ke setiap sudut kota. Mereka mendirikan pos-pos pemeriksaan di setiap perempatan. Setiap orang yang lewat wajib menunjukkan “Kartu Ketawa” yang dikeluarkan oleh negara, semacam lisensi untuk tersenyum. Jika ada yang tertawa tanpa kartu, atau lebih buruk, tertawa dengan nada yang dianggap “sinis”, mereka akan langsung dibawa ke pusat rehabilitasi.
Pusat-pusat rehabilitasi ini, yang oleh rakyat disebut sebagai “Kampus Senyum”, adalah gedung-gedung putih bersih yang terletak di pinggiran kota. Di sana, para “pasien” diajari cara tertawa yang benar. Tawa yang lepas, polos, dan tanpa maksud tersembunyi. Mereka diperdengarkan rekaman pidato Presiden berulang-ulang, dan setiap kali Presiden selesai bicara, mereka harus tertawa dengan skala desibel yang terukur. Jika tidak cukup keras, mereka akan diberi kejutan listrik ringan. Jika terlalu keras, itu dianggap berlebihan dan juga kena setrum. Mereka harus tertawa dengan “presisi”.
Togog menyaksikan semua ini dengan hati yang semakin ciut. Ia tidak bisa lagi keluar istana dengan bebas. Setiap gerak-geriknya diawasi. Ponselnya disadap. Namun, ia tetap berhasil berkomunikasi dengan jaringan Wong Cilik melalui cara-cara kuno: surat yang diselipkan di dalam tumpukan baju kotor yang akan dicuci oleh pembantu istana yang setia pada Wong Cilik. Seorang pembantu bernama Mbok Darmi, seorang nenek berusia 70 tahun yang tidak pernah dianggap berbahaya oleh siapa pun. Mbok Darmi adalah kurir paling andal. Ia menyembunyikan catatan-catatan Togog di dalam sanggul rambutnya.
Catatan-catatan itu berisi skenario baru. “Fokus pada Dursasana. Jadikan dia bahan tertawaan. Semakin seram seseorang, semakin lucu saat ia jatuh terpeleset kulit pisang.” Togog menulis naskah baru: “Senam Pagi Pembangkit Stamina versi Dursasana”. Di naskah itu, digambarkan bagaimana Dursasana mengajarkan senam pagi, tapi gerakannya adalah gabungan antara jurus silat dan tepuk tangan untuk diri sendiri.
Wong Cilik, yang kini bersembunyi di pasar-pasar, bersama para pedagang bakso, tukang sol sepatu, dan seniman jalanan, mulai memproduksi pertunjukan-pertunjukan bawah tanah. Mereka tidak lagi menggunakan panggung terbuka. Mereka menggunakan “panggung gerilya”. Sebuah pertunjukan berdurasi lima menit yang dilakukan di tengah keramaian pasar, lalu bubar sebelum pasukan Dursasana datang.
Dalang-dalang baru bermunculan. Ada Juminten, penjual jamu gendong, yang pandai menyanyi. Ia menciptakan lagu-lagu jenaka dengan lirik yang menyindir program “aroma terapi”. Liriknya berbunyi: “Mbok, parfum pabrik kok bau melati, katanya biar betah, malah bikin pusing setengah mati. Bolak-balik aku semprotin, kok ingatanku malah jadi mati. Eh, ternyata itu bukan melati, tapi bau mayat yang dibalsem janji!”
Lalu ada Dul Kodok, seorang pemuda yang pekerjaannya menangkap kodok di sawah. Ia menciptakan “Teater Kodok”. Ia melatih kodok-kodoknya untuk melompat mengikuti komando, dan setiap lompatan diiringi narasi tentang seorang menteri yang suka melompat-lompat mengikuti arah angin. Pertunjukan ini sangat populer di kalangan petani.
Represi Dursasana semakin brutal, tapi anehnya, semakin ditekan, semakin kreatif rakyat. Sengkuni, yang biasanya tenang, mulai menunjukkan tanda-tanda frustrasi. Dalam sebuah rapat terbatas, ia memarahi Dursasana. “Kau ini bodoh! Kekerasanmu hanya membuat mereka semakin bersemangat! Mereka menjadikanmu bintang dalam cerita-cerita mereka! Kita harus melawan dengan cara yang lebih cerdas!”
“Lalu bagaimana, Paman?” tanya Dursasana dengan nada kesal. “Mereka seperti kecoa. Diinjak satu, seribu muncul. Direndam air, mereka berenang. Disemprot baygon, mereka malah mabuk dan nyanyi.”
Sengkuni berpikir sejenak. “Kita akan mencuri panggung mereka. Kita akan membuat program televisi yang lebih lucu dari mereka. Kita akan menciptakan komedian-komedian negara. Kita akan mengalihkan perhatian rakyat dengan humor yang kita kontrol sendiri. Humor yang tidak menyindir, hanya menghibur. Humor yang membuat mereka lupa.”
Duryudana menyetujui ide itu. Maka, lahirlah stasiun televisi baru: “TVRI Komando”, dengan program unggulan “Opera Van Java-Ga”. Program komedi yang menampilkan banyolan-banyolan ringan tentang suami istri yang bertengkar, atau tentang pejabat yang terjatuh di selokan. Semua ditulis oleh tim Sengkuni. Semua pemainnya adalah orang-orang Istana yang dilatih melawak. Program ini berhasil cukup sukses. Di warung-warung, orang-orang menonton dan tertawa. Tapi Togog tahu, tawa itu adalah tawa kosong. Tawa yang tidak membebaskan.
Togog menulis catatan untuk Wong Cilik: “Mereka mencoba mencuri panggung kita. Jangan lawan dengan konten yang sama. Kita harus naik level. Satir harus menjadi filosofis. Harus membuat mereka berpikir ulang. Gunakan absurditas untuk melawan absurditas.”
Wong Cilik membaca catatan itu dengan bingung. “Filosofis? Satir filosofis? Apa itu?” Ia bertanya kepada Dul Kodok. Dul Kodok menggaruk kepalanya. “Mungkin maksudnya, kita harus membuat lelucon yang bikin orang mikir dulu, baru ketawa.”
“Lalu, lelucon apa yang bisa bikin orang mikir?” tanya Juminten.
Mereka bertiga merenung. Lalu, Juminten mendapatkan ide. “Kita bikin pertunjukan yang tidak jelas. Yang absurd. Tentang seorang filsuf yang berdebat dengan kursi.”
“Filsuf dengan kursi?” Wong Cilik mengernyit.
“Iya. Filsufnya kita sebut Sokrates. Dia berdebat dengan kursi kosong. Kursi itu mewakili Dewan Wong kita. Filsufnya bicara tentang kebebasan, keadilan, dan kebenaran. Tapi kursinya hanya diam, atau kadang-kadang digerakkan oleh angin. Itu akan jadi simbol bahwa dewan kita cuma kursi kosong yang digerakkan oleh angin.”
Maka, lahirlah “Teater Absurd Pasar”. Pertunjukan ini semakin aneh dan semakin filosofis. Mereka tidak lagi sekadar menyindir kebijakan, tapi mempertanyakan hakikat realitas. Mereka memakai topeng-topeng aneh, kostum dari karung goni, dan dialog yang kadang tidak masuk akal. Dalam salah satu pertunjukan, Dul Kodok berperan sebagai “Sengkuni” yang berusaha menghitung jumlah malaikat yang bisa menari di ujung jarum, sementara rakyat kelaparan. Penonton awalnya bingung, tapi kemudian, saat perenungan datang, tawa mereka lebih dalam. Itu adalah tawa yang lahir dari pemahaman.
Di Istana, Sengkuni menyaksikan rekaman pertunjukan absurd itu melalui laporan intelijen. Wajahnya berubah serius. “Ini berbahaya. Mereka tidak lagi melawan dengan senjata atau dengan satire biasa. Mereka mulai menggunakan senjata kaum intelektual: dekonstruksi. Mereka sedang mendelegitimasi realitas yang kita bangun.”
Duryudana tidak mengerti. “Apa maksudmu, Paman? Mereka cuma orang-orang gila yang main-main di pasar.”
“Tidak, Paduka. Mereka mempertanyakan realitas. Jika realitas kita dianggap tidak masuk akal oleh rakyat, maka semua kebijakan kita, semua aturan biopolitik kita, akan runtuh bukan karena dilawan, tapi karena ditertawakan sebagai sesuatu yang menggelikan dan tidak layak dipatuhi. Itu adalah revolusi di alam pikiran.”
Karna, yang mendengarkan, angkat bicara. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menangkap semua dalang dan pemain teater itu?”
“Kita tidak bisa menangkap mereka semua. Mereka sudah menjadi jamur di musim hujan. Kita harus membunuh sumber inspirasinya,” kata Sengkuni, matanya menyipit. “Kita harus menangkap dalang utamanya. Penulis naskahnya. Otak di balik semua sandiwara ini.”
“Siapa?” tanya Duryudana.
“Togog.”
Semua mata di ruangan itu terbelalak. Dursasana langsung berdiri. “Benar juga! Dari awal dia memang mencurigakan! Dia tidak pernah tertawa lepas di setiap lelucon kakak! Saya akan tangkap dia sekarang juga!”
“Tunggu!” bentak Sengkuni. “Kita tidak bisa asal tangkap dia. Dia masih Staf Ahli Presiden. Kita butuh bukti yang kuat. Atau, kita bisa membuatnya terlihat seperti pengkhianat di mata rakyat. Kita akan mengadakan sebuah debat publik, disiarkan langsung ke seluruh negeri. Kali ini, bukan tentang filsafat. Tapi tentang loyalitas. Aku akan membuat dia terpojok, dan dengan terpojoknya dia, gerakan ini akan kehilangan legitimasi. Kita akan balikkan logika mereka: jika mereka membuat kita menjadi bahan tertawaan, kita akan membuat pemimpin mereka terlihat seperti badut yang bodoh.”
Rencana Sengkuni disetujui. Sebuah surat tantangan resmi dikirimkan ke Togog. “Staf Ahli Togog ditantang untuk berdebat terbuka dengan Menteri Strategi dan Filsafat Terapan, dengan tema: ‘Siapa yang Lebih Mencintai Rakyat: Negara atau Penghasut?’”
Togog menerima surat itu dengan tangan gemetar. Ia tahu ini adalah jebakan. Tapi ia juga tahu, menolak berarti mengakui kekalahan. Wong Cilik dan teman-temannya menunggunya di markas rahasia di bawah pasar.
“Anda tidak bisa maju, Mas Togog,” kata Wong Cilik. “Sengkuni pasti sudah menyiapkan segalanya. Dia akan menghancurkan Anda. Dia akan membuat Anda terlihat seperti orang gila.”
“Justru karena dia mengira bisa menghancurkan saya, saya harus maju,” jawab Togog. “Jika saya tidak maju, maka semua yang sudah kita bangun akan kehilangan nyali. Tapi kali ini, saya tidak akan berdebat dengan gaya dia. Saya akan berdebat dengan gaya kita. Saya akan membawa wayang.”
Malam sebelum debat, Togog duduk di kamarnya, memandangi wayang kardus buatannya sendiri. Wayang itu adalah dirinya sendiri. Wajahnya jelek, lucu, dan penuh kerutan. Ia menamainya “Togog Sang Badut”. Di sebelahnya, ada wayang Sengkuni dengan kumis lidi. Ia tidak membuat wayang Duryudana, karena ia tidak ingin istana terbakar.
Ia menulis naskah untuk dirinya sendiri. Bukan naskah argumen yang berat, tapi naskah pertunjukan. Ia akan menjawab setiap serangan Sengkuni dengan cerita, bukan dengan teori. Ia akan menggunakan metode yang sudah diajarkan oleh panggung-panggung pasar: jika tidak bisa menang dengan logika, menanglah dengan absurditas. Karena kebenaran, di negeri ini, seringkali lebih mudah ditemukan dalam lelucon daripada dalam pernyataan resmi.
Bagian Delapan: Debat Akbar di Panggung Gajah
Hari yang ditunggu tiba. Stadion Gajah Mada, stadion terbesar di Astina, dipenuhi oleh ribuan orang. Tapi bukan untuk menonton konser atau pertandingan olahraga. Mereka datang untuk menonton duel intelektual paling akbar dalam sejarah negeri itu: Sengkuni melawan Togog. Di seluruh negeri, layar-layar raksasa didirikan. Saluran TVRI Komando, yang biasanya hanya menyiarkan pidato dan komedi negara, kini dipaksa untuk menyiarkan langsung acara ini. Sengkuni ingin seluruh Astina menjadi saksi bagaimana ia menghancurkan simbol perlawanan terakhir.
Panggung megah didesain oleh arsitek terbaik Istana. Di tengahnya, dua podium berdiri berhadapan. Satu podium berwarna emas, dengan ukiran kepala serigala. Itu podium Sengkuni. Satu podium lainnya terbuat dari kayu jati tua, sederhana, tanpa ukiran. Itu podium Togog. Di belakang podium Togog, ada sebuah layar putih besar, dan di sampingnya, sebuah meja kecil tempat wayang-wayang kardus berjajar rapi.
Ribuan aparat keamanan berjaga. Dursasana sendiri yang memimpin pengamanan. Ia berdiri di depan barisan pasukan anti huru-hara. Wajahnya tegang, tangannya sesekali mengepal. Ia sudah tidak sabar untuk menangkap Togog begitu acara selesai.
Di balkon VIP, Duryudana duduk di kursi kehormatan, didampingi oleh Karna dan Kretawarma. Karna memandang ke arah panggung dengan ekspresi getir. Ada rasa tidak enak di hatinya. Bagaimanapun, Togog adalah teman yang tidak pernah menyakitinya secara pribadi. Tapi loyalitas adalah loyalitas. Kretawarma sibuk memantau layar ponselnya, melihat bagaimana sentimen publik di sisa-sisa forum internet yang masih berfungsi. Mayoritas postingan mendukung Togog, tapi ia tidak berani bersuara.
Sengkuni naik ke panggung lebih dulu. Ia mengenakan jubah hitam panjang, membuatnya tampak seperti hakim agung. Langkahnya tenang, penuh wibawa. Ia menatap kerumunan dengan senyum tipisnya. Tepuk tangan dari para pegawai negeri yang diwajibkan hadir bergemuruh. Ia mendekati podium emasnya dan meletakkan setumpuk kertas tebal, hasil riset bertahun-tahun.
Beberapa menit kemudian, Togog tiba. Ia naik ke panggung dengan langkah yang agak gontai. Ia tidak memakai jas mahal. Ia hanya memakai batik lengan panjang, sedikit lusuh, dan sandal selop. Ia membawa sebuah koper kecil. Penampilannya kontras dengan kemegahan acara. Ribuan pasang mata menatapnya. Ada yang menertawakan, ada yang menatapnya dengan harapan. Togog naik ke podium kayunya. Ia membuka koper kecilnya, mengeluarkan wayang-wayang kardus itu satu per satu, dan menyusunnya di atas meja.
Moderator, seorang penyiar senior TVRI Komando yang terkenal dengan gaya bicaranya yang datar, memulai acara. “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Hari ini kita akan menyaksikan debat akbar antara dua pemikir terbaik Astina. Di podium emas, Menteri Strategi dan Filsafat Terapan, Yang Mulia Paman Sengkuni. Di podium kayu, Staf Ahli Presiden, Saudara Togog. Tema debat: ‘Siapa yang Lebih Mencintai Rakyat: Negara atau Penghasut?’”
Moderator melanjutkan, “Aturan debat: setiap pembicara diberi waktu sepuluh menit untuk menyampaikan argumen, dilanjutkan sesi tanya jawab selama tiga puluh menit. Dilarang menggunakan kata-kata kotor, menghina simbol negara, dan yang paling penting, dilarang membawa properti yang tidak relevan.” Moderator menatap wayang-wayang Togog. “Itu termasuk wayang, Pak Togog.”
Togog tersenyum. “Saya tidak akan menggunakannya jika tidak diperlukan. Tapi saya jamin, wayang ini sangat relevan. Mereka adalah tim kuasa hukum saya.”
Beberapa penonton tertawa kecil. Sengkuni memutar bola matanya.
Giliran pertama diberikan kepada Sengkuni. Ia berdiri tegak, memandang kamera, lalu berbicara dengan suara yang dalam dan terukur.
“Rakyat Astina yang saya cintai. Kita berkumpul di sini bukan hanya untuk menyaksikan perdebatan, tapi untuk menyaksikan sebuah pengakuan. Saudara Togog, yang mengaku sebagai pembela rakyat, sejatinya adalah seorang penghasut. Ia dan gerombolan dalang pasarnya telah menyebarkan virus satir yang merusak tatanan masyarakat. Mereka menertawakan negara. Menertawakan Presiden. Menertawakan pembangunan. Mereka mengaku lucu, tapi mereka tidak memberikan solusi. Mereka hanya bisa mengkritik tanpa bisa membangun. Siapa yang lebih mencintai rakyat? Kami, pemerintah, yang setiap hari bekerja membangun irigasi, jalan tol, dan pabrik? Atau mereka, yang setiap hari hanya membuat karikatur dan wayang kardus?”
Sengkuni melanjutkan, “Kami mencintai rakyat dengan tindakan nyata. Program biopolitik kami mungkin keras, tapi itu demi kebaikan rakyat sendiri. Seorang ayah yang melarang anaknya makan permen berlebihan, apakah ia tidak mencintai anaknya? Justru karena cinta, ia tegas. Kami tegas karena kami sayang. Mereka lunak karena mereka ingin popularitas. Pilihlah, wahai rakyatku. Pilih kasih sayang yang tegas, atau ejekan yang menghancurkan?”
Pidato Sengkuni disambut tepuk tangan meriah dari sektor pendukung pemerintah. Kamera menyorot wajah-wajah para pejabat yang tersenyum puas. Duryudana di balkon VIP mengangguk-angguk bangga.
Giliran Togog tiba. Ia berdiri. Ia tidak melihat ke kamera. Ia melihat langsung ke arah penonton, ke arah rakyat biasa yang duduk di sektor belakang.
“Bapak, Ibu, Saudara-saudara. Saya tidak akan berpidato. Saya ingin bercerita,” kata Togog, suaranya tenang. “Dulu, ada seorang petani. Sebut saja dia Karto. Karto sangat mencintai kerbaunya. Setiap hari, kerbau itu ia mandikan, ia beri makan rumput terbaik, ia ajak bicara. Tapi suatu hari, pemerintah datang. Mereka bilang, kerbau Karto tidak sehat. Mereka akan membawanya ke pusat kesehatan hewan. Karto percaya. Kerbaunya dibawa. Seminggu kemudian, kerbau itu dikembalikan. Tapi kerbau itu berubah. Ia tidak lagi mau makan rumput. Ia hanya mau makan bubur fortifikasi. Ia tidak lagi mau berkubang. Ia hanya mau berdiri diam mendengarkan radio yang menyanyikan lagu pujian. Karto sedih. Ia bertanya pada kerbaunya, ‘Kamu kenapa?’ Kerbau itu menjawab, ‘Saya sudah di-upgrade.’ Paman Sengkuni, itukah cinta yang Anda maksud? Mencintai dengan cara meng-upgrade yang dicintai hingga ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri?”
Penonton terdiam. Mereka mulai merenung. Togog melanjutkan, kali ini ia mengambil wayang kardus bergambar seorang petani dan seekor kerbau.
“Paman Sengkuni bilang, kami hanya bisa mengkritik tanpa memberi solusi. Saya jawab dengan cerita ini. Kami, para badut, memang tidak bisa membangun jembatan. Tapi kami adalah orang-orang yang berdiri di bawah jembatan itu, memastikan jembatan itu tidak runtuh menimpa rakyat. Kami adalah alarm. Ketika semuanya diam, kami berteriak. Ketika semuanya tunduk, kami menertawakan. Itu adalah solusi kami: menjaga agar kalian tetap waras.”
Sengkuni menyela. “Itu omong kosong! Anda berbicara tentang kerbau yang di-upgrade. Itu kan hanya karikatur! Tidak ada dalam kenyataan!”
“Oh, tidak ada?” Togog tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah video di layar putih. Video itu adalah wawancaranya dengan petani di Desa Prima beberapa waktu lalu. Wajah petani itu disamarkan. Suaranya direkam dengan jelas. “Sekarang kami tidak usah mikir. Semua sudah diatur.” Video itu disiarkan ke seluruh negeri.
“Itu suara rakyat Anda, Paman. Bukan suara wayang. Bukan suara kardus. Itu suara daging dan darah yang sudah di-upgrade oleh program biopolitik Anda,” kata Togog.
Sengkuni terpaku. Ia tidak menduga Togog membawa bukti.
Togog melanjutkan, “Anda bicara tentang cinta. Tapi cinta Anda adalah cinta seorang pemahat pada patung. Anda pahat rakyat ini sesuka hati Anda, Anda bentuk sesuai imaji Anda, lalu Anda pamerkan di galeri dan berkata, ‘Lihatlah betapa aku mencintai ciptaanku.’ Tapi rakyat bukan patung, Paman. Rakyat adalah manusia. Dan cinta sejati adalah ketika Anda mencintai seseorang bukan karena ia seperti yang Anda inginkan, tapi karena ia adalah dirinya sendiri, dengan segala kekurangannya, dengan segala kebebasannya untuk memilih jalan hidupnya sendiri, termasuk memilih untuk sesekali menertawakan Anda.”
Pidato Togog tidak disambut tepuk tangan meriah. Hanya ada keheningan yang panjang dan dalam. Sebuah keheningan yang lebih menggetarkan daripada gemuruh applause. Di keheningan itu, jutaan orang di seluruh Astina merenungkan kata-kata Togog. Di pasar-pasar, di sawah-sawah, di pabrik-pabrik, orang-orang menatap layar televisi dengan mata berkaca-kaca.
Sengkuni, yang mulai panik, berusaha mengambil alih kendali. “Itu hanya satu kasus! Dan itu bukan solusi! Itu hanya keluhan! Saudara moderator, saya minta sesi tanya jawab segera dimulai! Saya akan menguji seberapa dalam ‘cinta’ Saudara Togog pada rakyat!”
Sesi tanya jawab dimulai. Sengkuni melancarkan serangan bertubi-tubi. Ia bertanya tentang ekonomi, tentang geopolitik, tentang ancaman perang. Semua pertanyaan dirancang untuk membuat Togog terlihat bodoh dan tidak kompeten. Tapi Togog tidak menjawab dengan data dan statistik. Ia menjawab semuanya dengan cerita. Dengan perumpamaan. Dengan wayang.
Ketika Sengkuni bertanya, “Bagaimana Anda bisa menjamin kesejahteraan rakyat tanpa kontrol yang ketat?”, Togog mengambil wayang Dursasana dan memainkannya. “Begini, kata Pak Dursasana, kesejahteraan adalah ketika rakyat diam dan tidak minta macam-macam. Diberi beras, diam. Diberi jadwal, diam. Diberi parfum, diam. Nah, kalau semua diam, kan tidak ada yang mengeluh. Kalau tidak ada yang mengeluh, berarti sejahtera, kan? Itu ilmu matematika tingkat tinggi dari kampus senyum!”
Ribuan penonton tertawa terbahak-bahak. Bahkan beberapa tentara yang berjaga ikut tersenyum, meskipun mereka berusaha menyembunyikannya. Dursasana di depan barisan pasukan wajahnya merah padam. Ia mengepalkan tinjunya. “Dia menghinaku lagi! Dia menghinaku di depan seluruh negeri!” desisnya.
Sengkuni berusaha keras mengembalikan wibawanya. “Itu bukan jawaban! Itu lawakan receh! Saya bertanya tentang serius, Anda menjawab dengan banyolan!”
“Karena di negeri ini, Paman,” jawab Togog, kali ini dengan nada serius, “hal-hal serius sudah terlalu lama digunakan untuk membodohi kami. Kebijakan serius Anda telah membuat petani lupa cara bermimpi. Program serius Anda telah membuat buruh menjadi robot. Maka, maafkan kami jika kami memilih untuk tertawa. Karena dalam tawa, ada kebenaran yang tidak bisa Anda sensor. Dalam tawa, ada kebebasan yang tidak bisa Anda atur jadwalnya. Dalam tawa, kami menemukan kembali kemanusiaan kami yang telah Anda rampok.”
Togog mengambil wayang terakhir. Wayang Sengkuni dengan kumis lidi. “Anda adalah orang paling pintar yang pernah saya temui, Paman. Anda menguasai Foucault, Anda mengerti Darwin, Anda hafal Gramsci di luar kepala. Tapi ada satu hal yang Anda tidak pernah pelajari.”
“Apa itu?” tanya Sengkuni, matanya menyipit.
“Cara menjadi manusia biasa,” jawab Togog. “Manusia biasa yang bisa menertawakan dirinya sendiri. Anda begitu serius dengan kuasa Anda, sampai-sampai Anda lupa bahwa sejarah selalu berakhir dengan para penguasa lalim yang menjadi bahan tertawaan di buku-buku sejarah. Anda ingin dikenang sebagai apa, Paman? Sebagai filsuf besar yang disegani, atau sebagai tokoh wayang dengan kumis lidi yang ditertawakan oleh anak cucu kita?”
Pertanyaan itu melesat seperti anak panah, menembus perisai intelektual Sengkuni. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, di depan ribuan orang, di depan jutaan pemirsa, Sengkuni terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Karena pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan logika. Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan hati nurani, sesuatu yang sudah lama ia kebiri habis-habisan.
Keheningan di stadion berubah menjadi gemuruh. Tapi bukan gemuruh amarah. Itu adalah gemuruh tawa dan tepuk tangan. Sebuah katarsis kolektif. Rakyat Astina, yang selama ini dicekoki oleh ketakutan dan aturan, akhirnya bisa tertawa lepas. Mereka menertawakan Sengkuni yang terdiam. Mereka menertawakan Dursasana yang meradang. Mereka menertawakan seluruh absurditas sistem yang menindas mereka.
Di balkon VIP, Duryudana berdiri, wajahnya pucat. Karna menunduk, entah karena malu atau karena rasa bersalah yang mulai merayap. Kretawarma, sambil melihat layar ponselnya, berbisik pada dirinya sendiri, “Sepertinya, angin sudah berubah arah.”
Debat berakhir tanpa kesimpulan resmi. Tapi semua orang tahu siapa yang menang. Togog, sang badut, telah mengalahkan sang raksasa dengan senjata paling sederhana dan paling manusiawi: ketulusan yang dibungkus humor. Ia melangkah turun dari panggung, diiringi oleh tatapan kagum dan haru. Ia tahu, ini bukanlah akhir. Rezim belum runtuh. Tapi benteng ketakutan di hati rakyat sudah mulai retak. Dan retakan itu dimulai dari sebuah tawa.
Bagian Sembilan: Retakan di Dinding Emas
Keesokan harinya, suasana di Istana Astina berubah drastis. Jika biasanya para pegawai dan pejabat berjalan dengan dada membusung dan senyum lebar, kali ini mereka berjalan dengan kepala menunduk dan langkah cepat. Koridor-koridor megah itu mendadak terasa seperti rumah sakit jiwa yang pasiennya baru saja sadar bahwa mereka sakit.
Duryudana menguncikan diri di ruang kerjanya. Ia tidak mau menerima siapa pun, bahkan Sengkuni sekalipun. Di dalam, suara barang-barang yang dibanting terdengar jelas. Vas-vas mahal dari dinasti Ming hancur berkeping-keping. Lukisan dirinya yang sedang menunjuk ke depan dengan gagahnya, sekarang terjatuh dengan bingkai yang penyok. Rakyat sudah tidak takut. Itu adalah kekalahan terbesarnya.
Sengkuni duduk di ruangannya, menatap layar komputer yang penuh dengan analisis sentimen dari media sosial. Semua grafik berwarna merah. Tagar #TogogSangBadut menjadi trending nomor satu, diikuti oleh #KumisLidiSengkuni dan #MaafkanAkuKerbau. Di mana-mana, orang-orang membuat meme. Wajah Sengkuni diedit dengan kumis lidi yang lebih panjang. Wajah Dursasana diedit sedang menimang wayang sambil menangis. Ini adalah bencana humas terbesar dalam sejarah Astina.
Dursasana masuk ke ruangan Sengkuni tanpa mengetuk pintu. Ia membanting sebuah tablet ke meja. “Lihat ini! Lihat! Pasukan saya diejek di mana-mana! Mereka menyebut pasukan kuda saya sebagai ‘kuda poni peliharaan Sengkuni’! Ini tidak bisa dibiarkan, Paman! Kita harus tangkap semua! Saya tidak peduli lagi! Saya akan bakar pasar-pasar itu! Saya akan…”
“Diam, Dursasana!” bentak Sengkuni, suaranya masih tenang tapi ada getaran kemarahan di dalamnya. “Kau mau apa? Membantai rakyat kita sendiri di depan kamera? Itu yang mereka mau! Mereka ingin kita brutal. Mereka ingin menunjukkan ke seluruh dunia bahwa kita adalah monster. Dan kau, dengan otakmu yang sekarat itu, akan dengan senang hati memenuhi keinginan mereka.”
Dursasana tercekat. “Lalu… kita harus bagaimana?”
Sengkuni memijat pelipisnya. “Kita harus tenang. Kita masih memegang kendali. Militer di tangan kita. Media massa di tangan kita. Distribusi pangan di tangan kita. Rakyat boleh tertawa. Tapi tawa tidak bisa mengisi perut. Kita akan menggunakan kartu terakhir kita: blokade ekonomi.”
Sengkuni menyusun rencana baru. Ia akan menciptakan kelangkaan pangan di daerah-daerah yang menjadi basis perlawanan. Harga beras akan dinaikkan. Pupuk akan ditarik. Ia akan membuat rakyat kelaparan, dan kemudian, ia akan datang sebagai penyelamat. “Biopolitik belum mati,” katanya pada dirinya sendiri. “Ini hanya fase penyesuaian. Aku akan membuat mereka merangkak kembali.”
Sementara itu, Togog berada di markas rahasia di bawah pasar. Suasana di sana sangat berbeda dengan di Istana. Kegembiraan terpancar dari wajah para pedagang, seniman, dan rakyat jelata. Mereka merayakan kemenangan debat dengan menyantap sate kambing dan nasi liwet. Tapi Togog tidak ikut larut dalam euforia. Ia tahu, ular yang terluka justru lebih berbisa.
“Kita belum menang, kawan-kawan,” kata Togog, duduk di atas peti ikan. “Sengkuni tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas. Dan balasannya pasti akan mengenai perut rakyat. Kita harus bersiap.”
Wong Cilik mendekat. “Apa yang harus kita lakukan, Mas Togog?”
“Kita harus ubah strategi. Kalau mereka memainkan kartu kelaparan, kita harus memainkan kartu solidaritas. Kita bentuk jaringan lumbung pangan rakyat. Semua hasil panen dari petani yang setia pada kita, kita kumpulkan. Kita distribusikan ke daerah-daerah yang diblokade. Kita tunjukkan bahwa rakyat bisa hidup tanpa negara yang menindas.”
“Tapi itu butuh modal besar, Mas,” kata Juminten, sang penjual jamu.
Togog tersenyum. “Kita tidak butuh modal. Kita butuh gotong royong. Itu adalah teknologi tertua bangsa ini. Teknologi yang tidak bisa diretas oleh Sengkuni. Kita akan gunakan ‘AstaNet Rakyat’, jaringan komunikasi rahasia kita, untuk mengkoordinir semuanya. Kita akan buktikan bahwa demokrasi yang katanya lamban itu, bisa lebih cepat dari kediktatoran, jika yang menggerakkan adalah cinta, bukan ketakutan.”
Rencana Togog mulai dijalankan. Jaringan dalang-dalang pasar yang tadinya hanya membuat pertunjukan, kini bertransformasi menjadi jaringan logistik. Dul Kodok dan pasukan kodoknya bertugas mengirim pesan rahasia yang disembunyikan di dalam bambu-bambu kecil yang dilarung di saluran irigasi. Juminten, dengan gerobak jamunya, mengantarkan beras dan obat-obatan ke desa-desa terpencil, dengan label “Jamu Anti-Lapar” dan “Jamu Anti-Takut”.
Gerakan ini tumbuh seperti bola salju. Semakin ditekan oleh pusat, semakin solid di bawah. Para ilmuwan muda yang dipaksa oleh rezim untuk membuat inovasi biopolitik, mulai membelot secara diam-diam. Mereka mengirimkan informasi tentang kelemahan sistem distribusi pangan negara. Para guru yang dipaksa mengajarkan sejarah palsu, mulai mengajarkan kebenaran dengan cara sembunyi-sembunyi, menggunakan buku-buku komik wayang yang dibuat oleh Wong Cilik.
Di Istana, Bisma yang tua renta, yang selama ini hanya menjadi patung moral, diam-diam mulai bergerak. Ia tidak bisa melawan secara fisik, tapi ia bisa melakukan sesuatu yang lebih berbahaya: berbicara dari hati ke hati. Ia mengunjungi Karna di malam hari.
Karna terkejut melihat kedatangan Bisma. “Kakek? Ada apa gerangan datang ke tempat hamba yang hina ini?”
Bisma duduk dengan susah payah. “Karna, cucuku. Aku datang bukan sebagai sesepuh, tapi sebagai orang tua yang menyaksikan anaknya tersesat. Aku tahu kau sakit hati pada Pandawa. Aku tahu kau merasa dihargai oleh Duryudana. Tapi apa yang kau bela sekarang bukan lagi negara. Itu adalah kegilaan.”
Karna menunduk. “Apa yang harus hamba lakukan, Kakek? Hamba sudah terlanjur bersumpah setia. Hutang budi hamba pada Duryudana tidak akan pernah bisa lunas.”
“Hutang budi yang sejati adalah pada kebenaran, cucuku. Bukan pada orang per orang. Duryudana memberimu jabatan karena dia tahu kau adalah alat yang ampuh. Dia tidak mencintaimu. Dia mencintai bayanganmu yang selalu mendukungnya. Jika suatu saat kau berhenti mendukung, dia akan membuangmu seperti sampah.”
Karna terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Tapi hamba tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Mulailah dengan diam. Jangan aktif membela mereka. Itu sudah cukup. Biarkan kebenaran yang berbicara. Dan satu hal lagi,” Bisma mendekat, berbisik, “Lindungi Togog. Dia adalah kunci dari masa depan negeri ini. Jika dia mati, harapan akan mati. Dan aku tahu, ada rencana untuk membunuhnya.”
Karna terkejut. “Pembunuhan? Siapa yang merencanakan?”
“Sengkuni dan Dursasana. Mereka sudah putus asa. Debat itu telah menghancurkan wibawa mereka. Sekarang mereka hanya ingin darah. Aku tidak bisa mencegah mereka. Hanya kau yang bisa. Karena kau adalah satu-satunya orang di lingkaran dalam yang masih memiliki hati nurani, meskipun tertutup oleh kabut kesetiaan yang salah arah.”
Setelah Bisma pergi, Karna duduk termenung sepanjang malam. Di langit-langit kamarnya, ia seperti melihat bayangan masa lalunya. Pertemuannya dengan Pandawa. Kebaikan Yudistira. Dan betapa ia memilih jalan ini karena sebuah penghinaan yang mungkin sebenarnya hanya salah paham.
Bagian Sepuluh: Panen di Tengah Badai
Rencana Sengkuni berjalan. Kelangkaan pangan mulai terasa di desa-desa. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Di mana-mana, antrean panjang mengular di depan toko-toko. Propaganda TVRI Komando menyalahkan para “penghasut” yang mengganggu stabilitas. Tapi rakyat tidak sebodoh yang Sengkuni kira. Mereka tahu, justru di saat sulit seperti ini, solidaritas ala Togog-lah yang bekerja.
Lumbung-lumbung rakyat bermunculan. Setiap malam, para relawan yang menamakan diri “Ksatria Badut” menyusuri jalan-jalan tikus untuk mengirimkan bahan makanan ke daerah-daerah yang dikepung. Mereka tidak memungut bayaran. Mereka hanya meminta satu hal: “Tersenyumlah, dan jika suatu saat nanti negara ini merdeka dari ketakutan, ceritakanlah kepada anak cucumu tentang badut-badut yang mengirimimu beras.”
Situasi ini membuat posisi rezim semakin terjepit. Duryudana, yang merasa dikhianati oleh situasi, semakin murka. Ia memanggil Sengkuni, Dursasana, dan Karna ke ruang rapat.
“Ini sudah keterlaluan! Mereka seperti semut! Kecil-kecil, tapi bersama-sama mereka bisa mengalahkan gajah! Aku ingin kalian menghancurkan sarang semut itu! Bakar markas mereka! Tangkap Togog hidup atau mati!” teriak Duryudana.
“Jangan khawatir, Paduka,” kata Dursasana dengan seringai kejam. “Pasukan khusus saya sudah menemukan lokasi markas mereka di bawah pasar. Malam ini, saya akan pimpin sendiri penyerbuan. Saya akan bawa kepala Togog ke hadapan Paduka sebelum sarapan besok pagi.”
Karna yang mendengar itu, teringat pesan Bisma. Hatinya bergejolak. Ia tahu, jika ia diam, Togog akan mati. Tapi jika ia membela Togog, ia akan dianggap pengkhianat. Sebuah pilihan yang menghancurkan.
“Aku ikut dalam penyerbuan ini,” kata Karna tiba-tiba.
Semua orang menoleh. Duryudana tersenyum. “Nah, itu baru Ksatria Kesetiaanku! Kau tidak akan mengecewakanku, Karna.”
Karna mengangguk pelan. Tapi di dalam hatinya, ia sudah membuat rencana lain.
Malam itu, langit di atas kota Astina mendung tebal. Petir sesekali menyambar, pertanda badai akan segera turun. Pasukan gabungan di bawah komando Dursasana dan Karna bergerak menuju pasar. Mereka membawa senjata lengkap. Kendaraan lapis baja.
Sesampainya di pintu masuk rahasia menuju markas bawah tanah, Dursasana memerintahkan pasukannya untuk bersiap. “Kita akan masuk dan bunuh semua yang ada di sana. Tidak ada tawanan. Mengerti?”
Tiba-tiba, Karna maju. “Tunggu. Biarkan aku yang masuk duluan. Aku akan memastikan Togog dan pemimpinnya ada di dalam. Kalian tunggu di sini sampai aku memberi aba-aba. Jika aku berteriak ‘Serbu!’, kalian boleh masuk.”
Dursasana curiga. “Kenapa kau yang duluan, Karna? Ini tugas kita bersama.”
“Karena ini masalah pribadi. Togog pernah menghinaku secara intelektual. Aku ingin melihat wajahnya saat aku menangkapnya. Jangan rebut momen ini dariku,” jawab Karna dengan tatapan dingin yang meyakinkan.
Dursasana, yang selalu menghormati dendam pribadi, mengangguk. “Baik. Tapi jangan lama-lama. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar suara tembakan.”
Karna masuk ke dalam lorong bawah tanah. Begitu ia jauh dari pandangan pasukan, ia langsung berlari. Ia tidak mencari Togog dengan niat jahat. Ia mencari Togog untuk menyelamatkannya.
Di dalam markas, Togog, Wong Cilik, dan puluhan anggota jaringan sedang berdiskusi. Mereka tahu serangan akan datang, tapi mereka tidak menyangka secepat ini. Saat Karna muncul dengan napas terengah-engah, semua orang terkejut. Beberapa pemuda langsung menghunus golok.
“Tunggu! Jangan bunuh dia!” seru Togog.
Karna mengangkat tangan. “Aku bukan musuh kalian malam ini. Kalian harus segera pergi! Dursasana dan pasukannya ada di atas! Mereka akan membantai kalian semua! Aku bisa menunda mereka sebentar, tapi tidak lama!”
Wong Cilik menatap Karna dengan curiga. “Bagaimana kami bisa percaya padamu? Kau adalah tangan kanan Duryudana.”
Karna menatap Wong Cilik, lalu menatap Togog. “Kalian tidak perlu percaya padaku. Percayalah pada pesan Bisma. Dan percayalah pada apa yang kalian lihat malam ini. Aku tidak ingin lagi menjadi alat. Aku ingin menjadi manusia.”
Togog mengangguk. Ia melihat ketulusan di mata Karna. “Baik. Kita percaya padamu, Karna. Teman-teman, kita evakuasi sekarang! Lewat terowongan belakang menuju selokan kota. Kita kumpul di titik aman di desa sebelah.”
Semua orang bergerak cepat. Dokumen-dokumen penting dibakar. Wayang-wayang kardus dimasukkan ke dalam karung. Mereka melarikan diri melalui terowongan sempit yang berbau lumpur.
Sementara itu, di atas, Dursasana mulai tidak sabar. “Kenapa lama sekali? Karna! Karna!” Tidak ada jawaban. Kecurigaan Dursasana memuncak. “Sialan! Dia berkhianat! Serbu! Serbu sekarang juga!”
Pasukan menyerbu masuk. Mereka menemukan markas yang sudah kosong. Hanya ada sisa-sisa api unggun dan kertas yang terbakar. Dursasana mengamuk. Ia menghancurkan apa pun yang tersisa. “Cari mereka! Mereka tidak mungkin jauh!”
Tapi alam sepertinya berpihak pada Togog. Hujan deras tiba-tiba turun. Petir menyambar-nyambar. Pasukan Dursasana kesulitan mencari jejak di tengah badai. Di kegelapan dan hujan, Karna berhasil menyelinap keluar dari lorong yang berbeda. Ia bergabung kembali dengan rombongan Togog yang berlari di tengah selokan.
Mereka akhirnya mencapai desa pinggiran yang aman. Di sebuah gubuk tua, dengan pakaian basah kuyup, mereka beristirahat. Karna terduduk di pojok. Ia menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tapi ia merasa lebih tenang. Lebih bersih.
Togog mendekatinya. “Terima kasih, Karna. Kau telah menyelamatkan kami.”
Karna menatap Togog. “Aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar atau salah secara politik. Tapi aku tahu, ini benar secara kemanusiaan. Mungkin, inilah yang selama ini aku cari. Bukan pengakuan. Tapi kedamaian hati.”
Wong Cilik yang mendengarkan, menepuk bahu Karna. “Selamat datang di klub badut, Ksatria. Di sini, kami tidak punya jabatan. Hanya punya hati.”
Malam itu, di tengah badai, aliansi baru terbentuk. Aliansi antara sang filsuf badut, para dalang pasar, dan seorang ksatria yang memilih kebenaran di atas kesetiaan buta.
Bagian Sebelas: Jatuhnya Topeng-topeng
Berita tentang pembelotan Karna mengguncang Istana seperti gempa bumi berkekuatan 10 skala Richter. Duryudana, yang mendengar laporan dari Dursasana, terduduk lemas di singgasananya. Wajahnya pucat pasi. “Karna? Karna yang melakukan ini? Karna yang paling setia padaku? Tidak mungkin! Pasti ada yang salah! Pasti kalian semua yang salah!”
Tapi Dursasana, dengan amarah yang meluap, menegaskan. “Dia berkhianat, Kakak. Dia yang memberi tahu mereka sehingga mereka bisa kabur. Dia sekarang mungkin bersama mereka, menertawakan kita.”
Duryudana mengepalkan tinjunya, lalu membantingnya ke meja. “Kalau begitu, dia bukan lagi saudaraku. Bukan lagi kawanku. Dia adalah musuh! Tangkap dia! Tangkap semua! Saya tidak peduli lagi dengan pencitraan! Saya ingin mereka semua mati!”
Di sudut ruangan, Kretawarma mendengar semuanya. Kali ini, ia tidak bisa lagi hanya diam dan mengamati arah angin. Anginnya sudah terlalu kencang, dan ia harus memutuskan untuk berlabuh di mana. Melihat Karna, seorang ksatria paling setia, memilih membelot, membuatnya merenung. “Jika Karna saja bisa berubah, mungkin sudah waktunya bagiku untuk… setidaknya, tidak ikut-ikutan dalam pertumpahan darah.”
Sementara itu, Sengkuni duduk di ruangannya, seorang diri. Di hadapannya, ada wayang kardus bergambar dirinya dengan kumis lidi, yang ditinggalkan oleh seseorang di mejanya. Entah bagaimana wayang itu bisa sampai di sana. Ia mengambil wayang itu. Ia menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, Sengkuni tidak melihat wayang itu sebagai bahan ejekan. Ia melihatnya sebagai cermin. Sebagai sebuah refleksi dari dirinya yang sebenarnya: seorang dalang yang licik, yang menggunakan segala kepintarannya untuk membenarkan kejahatan. Ia teringat pada kata-kata Togog: “Anda ingin dikenang sebagai apa?”
Ia meremas wayang itu. Tapi ia tidak menghancurkannya. Ia meletakkannya kembali di meja. Ia termenung. Apakah ia sudah terlalu jauh? Apakah ia masih bisa kembali? Atau apakah ia akan terus memainkan peran ini sampai akhir, meskipun ia tahu bahwa ini adalah peran antagonis yang akan dihujat oleh sejarah?
Sengkuni tidak punya jawaban. Tapi untuk pertama kalinya, ia meragukan dirinya sendiri. Keraguan itu, meskipun kecil, adalah awal dari keruntuhan. Karena orang seperti Sengkuni, kekuatannya terletak pada keyakinannya yang mutlak. Begitu keyakinan itu retak, ia hanyalah seorang tua dengan kumis yang melengkung.
Keesokan harinya, tanpa koordinasi dari Sengkuni, Dursasana mengambil alih komando penuh. Ia menyatakan keadaan darurat militer. Jam malam diberlakukan. Setiap sudut kota dijaga oleh tentara dengan senapan terhunus. Siapa pun yang kedapatan membawa wayang, akan langsung ditembak di tempat. Pasar-pasar ditutup. Sekolah-sekolah diliburkan. Astina berubah menjadi kamp konsentrasi besar.
Tapi di desa-desa, di bawah tanah, di selokan-selokan, jaringan Togog terus bergerak. Kini, dengan bergabungnya Karna, mereka memiliki pengetahuan tentang strategi militer dan kelemahan sistem pertahanan Istana. Karna tahu di mana titik-titik lemah pasukan Dursasana. Ia tahu jadwal patroli. Ia tahu sandi-sandi komunikasi.
Pertunjukan-pertunjukan gerilya berlanjut, tapi kali ini dengan bumbu aksi yang lebih nyata. Setiap malam, di berbagai tempat, muncul gambar-gambar mural raksasa di dinding-dinding kota. Mural Togog sebagai badut bijak, mural Karna sebagai ksatria bertopeng badut, mural rakyat yang sedang bergandengan tangan menertawakan tank-tank yang lewat.
Dursasana semakin kalap. Ia memerintahkan pasukannya untuk menangkap siapapun yang dicurigai. Penjara-penjara penuh. Tapi gerakan tidak mati. Sebaliknya, semakin banyak tentara yang bersimpati. Banyak dari mereka yang berasal dari desa yang sama dengan para dalang. Mereka mendengar cerita dari orang tua mereka tentang program biopolitik yang menghancurkan. Hati nurani mereka mulai berbicara.
Puncaknya terjadi di alun-alun utama Istana. Duryudana, dengan sisa-sisa wibawanya, menggelar pidato akbar. Ia berdiri di atas panggung tinggi, dengan pengawalan super ketat. Wajahnya keras, matanya menyala-nyala. Ia berteriak melalui mikrofon.
“Rakyat Astina! Kalian telah dibodohi oleh badut-badut itu! Mereka menjanjikan kebebasan, tapi apa yang mereka berikan? Kekacauan! Kelaparan! Lihatlah! Hanya dengan satu komando, kita bisa kembali stabil! Serahkan Togog! Serahkan Karna pengkhianat itu! Dan aku akan memberikan kalian pengampunan!”
Di tengah pidatonya, tiba-tiba layar-layar raksasa di sekitar alun-alun yang biasanya menayangkan wajah Duryudana, berubah. Sekarang, layar itu menampilkan wajah Togog. Entah bagaimana, jaringan “AstaNet Rakyat” berhasil membajak frekuensi siaran.
Togog berbicara dari sebuah tempat rahasia. “Saudara-saudaraku. Aku mendengar Presiden memintaku untuk menyerahkan diri. Aku akan datang. Tapi bukan untuk menyerah. Aku datang untuk mengajak kalian semua datang ke Istana. Bukan dengan senjata. Bukan dengan amarah. Tapi dengan cara kita. Bawa wayangmu. Bawa alat musikmu. Bawa tawamu. Mari kita buat sebuah pertunjukan terbesar yang pernah ada. Pertunjukan di mana kita bukan penonton, tapi pemain utamanya. Mari kita rebut kembali panggung kita.”
Layar kembali menampilkan wajah Duryudana yang marah besar. “Jangan dengarkan dia! Itu hasutan! Itu…”
Tapi rakyat sudah tidak mendengarkan. Mereka, satu per satu, beranjak dari tempat mereka. Mereka berjalan menuju Istana. Bukan dengan berlari, bukan dengan berteriak. Mereka berjalan dengan tenang. Membawa wayang-wayang kardus. Membawa gendang. Membawa rebana. Sebuah pawai badut raksasa.
Dursasana panik. Ia memerintahkan pasukannya untuk menghalau massa. Tapi para tentara itu melihat ke dalam kerumunan. Mereka melihat wajah-wajah yang mereka kenal. Wajah ibu mereka. Wajah adik mereka. Wajah anak mereka. Mereka tidak bisa menembak. Perlahan, mereka menurunkan senapan mereka. Beberapa bahkan ikut berjalan, meninggalkan barisan.
Dursasana berteriak histeris. “Tembak! Tembak mereka! Itu perintah!” Tapi tidak ada yang bergerak. Kini, ia sendirian di atas kendaraan komandonya, dikelilingi oleh lautan manusia yang terus berjalan mendekat.
Di Istana, Duryudana melihat semua ini dari jendela. Ia melihat lautan badut itu. Ia mendengar genderang dan tawa. Ia menyaksikan keruntuhan total dari segala yang ia bangun. Bukan oleh bom atau peluru, tapi oleh wayang kardus dan senyuman.
Ia berbalik, mencari Sengkuni. Tapi Sengkuni tidak ada di tempatnya. Sengkuni sedang duduk di ruangannya, masih menatap wayang kumis lidi itu. Ia mendengar suara keramaian di luar. Ia tahu ini adalah akhir. Ia tersenyum pahit. “Kau menang, Togog. Tapi aku penasaran, bisakah kau membangun sesuatu yang lebih baik dari ini? Atau kau hanya akan menjadi aku yang baru, dengan topeng yang berbeda?”
Sementara itu, Kretawarma, dengan koper di tangannya, keluar dari pintu belakang Istana. Ia sudah memesan tiket ke luar negeri. “Aku akan berlibur dulu. Sampai semuanya reda. Kalau yang baru berkuasa bagus, aku pulang. Kalau tidak, ya sudah, aku cari negara lain.” Prinsipnya tidak pernah berubah.
Epilog: Fajar di Amarta
Tiga bulan setelah peristiwa yang dikenal sebagai “Revolusi Badut” itu, Astina dan Amarta menandatangani perjanjian reunifikasi. Yudistira, pemimpin Amarta, ditunjuk sebagai Presiden Sementara. Pemilu demokratis yang sesungguhnya direncanakan untuk tahun depan.
Duryudana, Dursasana, dan beberapa Kurawa inti lainnya diasingkan ke sebuah pulau terpencil untuk menjalani rehabilitasi mental. Mereka diwajibkan mengikuti kelas “Cara Menertawakan Diri Sendiri” yang diajari langsung oleh Dul Kodok dan Juminten. Konon, Dursasana adalah murid yang paling susah diajari, tapi setelah beberapa bulan, ia akhirnya bisa tersenyum tanpa harus membanting meja.
Sengkuni memilih untuk tidak ikut ke pengasingan. Ia menghilang. Ada yang bilang ia menjadi pertapa di gunung, menulis buku tentang “Filsafat Kekalahan”. Ada juga yang bilang ia menjadi penulis naskah komedi di televisi swasta. Tapi rumor yang paling kuat mengatakan, ia sering terlihat duduk di perpustakaan umum, membaca ulang semua filsuf yang dulu ia kutip, mencoba menemukan di mana letak kesalahannya. Apakah ia salah menafsirkan, atau memang filsafat tidak bisa melindungi seseorang dari kebusukan hati.
Kretawarma? Ia kembali seminggu setelah reunifikasi, membawa oleh-oleh dari luar negeri untuk para pemimpin baru, dan langsung menawarkan diri untuk menjadi “penasihat”. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Togog. “Maaf, Pak. Kami sedang tidak membutuhkan baling-baling angin. Kami butuh jangkar.”
Bisma, sang tetua, akhirnya bisa tersenyum. Di usianya yang sangat renta, ia diundang untuk memberikan pidato kunci di upacara perdamaian. “Aku sudah melihat banyak hal dalam hidupku. Perang dan damai. Cinta dan benci. Tapi baru kali ini aku melihat tirani dikalahkan oleh wayang kardus. Ini adalah pelajaran paling berharga bagiku, dan bagi kalian semua: jangan pernah meremehkan kekuatan seorang badut.”
Adapun Karna, ia tidak mengambil jabatan apa pun di pemerintahan baru. Ia memilih untuk berkeliling negeri, mengunjungi desa-desa yang dulu terluka oleh perang. Ia mengajarkan pada anak-anak muda tentang bahayanya kesetiaan yang buta. “Setialah pada kebenaran, bukan pada orang. Karena orang bisa berubah, tapi kebenaran tetap abadi.” Itu pesannya.
Dan Togog? Pahlawan revolusi itu menolak semua jabatan. Ia kembali ke rumah kontrakannya yang dulu. Ia duduk di beranda, menyeruput kopi tubruk dari gelas selai yang retak, sambil memberi makan burung kenarinya, Demokrasio.
Di pagi yang cerah itu, Wong Cilik datang membawa bungkusan sate. “Mas Togog, kenapa Anda menolak jadi Menteri? Padahal semua orang mendukung Anda.”
Togog mengambil sebatang sate, memakannya dengan nikmat. “Wong, saya ini badut. Pekerjaan badut itu menghibur dan menyindir dari luar. Kalau saya masuk ke dalam tenda, ikut menjadi pemain sirkus yang punya kuasa, nanti suara saya tidak akan lagi didengar sebagai suara hati nurani. Suara saya akan berubah menjadi suara kekuasaan. Dan itu, kawan, adalah awal dari kehancuran. Biarlah saya tetap di sini, di beranda ini. Mengawasi mereka yang berkuasa. Dan sesekali, kalau mereka mulai bertingkah aneh lagi, saya akan buat wayang mereka.”
Wong Cilik manggut-manggut. “Jadi, tetap jadi oposisi, ya?”
“Bukan oposisi. Tapi teman kritis. Teman yang mengingatkan dengan cara paling menyebalkan: dengan tertawa.”
Togog menatap ke kejauhan. Di langit, burung-burung beterbangan bebas. Di jalanan, anak-anak bermain wayang kardus. Di pasar, para pedagang saling melempar guyonan. Demokrasi memang lamban. Rapat-rapat di parlemen pasti akan penuh debat kusir lagi. Tapi itu lebih baik. Karena di dalam debat yang ribut itu, ada suara rakyat. Suara yang tidak akan bisa diatur oleh jadwal tidur atau semprotan aroma terapi.
Togog menulis status di media sosialnya yang baru: “Kita telah membuktikan bahwa tawa adalah senjata paling ampuh melawan tirani. Tapi jangan lengah. Tawa juga bisa membius. Tirani bisa kembali, dengan wajah yang lebih lucu dan lebih menghibur. Maka, tetaplah menjadi badut yang kritis. Bukan badut yang hanya tertawa, tapi badut yang tahu kapan harus berhenti tertawa dan mulai bertindak.”
Ia menekan tombol ‘kirim’. Status itu langsung mendapat ribuan likes.
Di kejauhan, suara azan berkumandang. Sore mulai merambat. Togog menyeruput kopinya yang sudah dingin. Ia tersenyum. Perjuangan belum selesai. Tidak akan pernah selesai. Tapi setidaknya, untuk saat ini, ia boleh istirahat sejenak. Menikmati kopi, sate, dan kicauan burung kenari yang bernama Demokrasio.
TAMAT
Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi. Kalau ada kesamaan dengan realitas, itu cuma kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, karena realitas kadang lebih absurd daripada fiksi.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.