Ad Code

Onak dan Duri, Sebuah Debat Panjang di Bawah Pohon ASEM

Ini adalah satir politik mengenai Togog yang belajar Das Kapital dan Semar yang belajar The Wealth of Nations dengan mana keduanya menggunakan sudut pandang Marx (Togog) dan Smith (Semar) dalam mengkritisi Negeri Mahjong yang dikuasai oleh dua kelompok oligarki raksasa.

PROLOG: NEGERI YANG KAYA RAYA TAPI LAPAR HARGA DIRI


Mahjong adalah negeri yang ironis.

Bayangkan sebuah negara yang tanahnya mengandung emas, perak, tembaga, nikel, bauksit, dan entah mineral apa lagi yang namanya sulit dieja. Hutan-hutannya lebat, menyimpan kayu-kayu bernilai tinggi yang di pasar internasional dihargai setara dengan ginjal manusia. Lautnya begitu kaya; ikan-ikan berenang dengan sombong seolah tahu bahwa mereka adalah komoditas ekspor premium. Belum lagi gas alam dan minyak bumi yang mengalir di perut buminya seperti darah dalam nadi.

Penduduk Mahjong juga melimpah. Jumlahnya sekitar 280 juta jiwa, dengan komposisi usia produktif yang membuat negara-negara tetangga cemburu. Setiap tahun, ribuan anak muda lulus dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, membawa ijazah dan harapan yang sama tebalnya. Mereka adalah "bonus demografi", istilah yang sering diucapkan para pejabat dengan nada optimistis yang semakin lama semakin terdengar seperti doa kosong.

Namun, di balik semua kekayaan itu, Mahjong menyimpan satu rahasia yang memalukan: tidak ada satu pun produk buatan sendiri yang bisa dibanggakan.


Ya, Mahjong adalah jagonya ekspor bahan mentah dan juaranya impor bahan jadi. Bijih besi dikirim ke luar negeri, lalu dibeli kembali dalam bentuk mobil. Kayu gelondongan diekspor dengan harga murah, lalu diimpor kembali sebagai furnitur mewah seharga selangit. Minyak mentah dijual ke pasar dunia, lalu rakyat Mahjong mengantre berjam-jam untuk membeli bensin impor yang harganya naik-turun seenak perut spekulan.

"Kita ini seperti keledai," gerutu seorang kakek di warung kopi suatu hari. "Makan rumput sendiri, tapi tenaganya dipakai untuk mengangkut barang milik orang lain."

Tapi keluhan kakek itu hanya terdengar di warung kopi. Di televisi, berita-berita selalu riang. 
"Pertumbuhan ekonomi Mahjong mencapai 5,2 persen!" "Investasi asing masuk dengan deras!" 
"Konsumsi masyarakat meningkat!" Angka-angka itu menari-nari seperti balerina, menghibur siapa saja yang cukup dangkal untuk tidak bertanya lebih dalam.

Dan di balik semua kemeriahan angka itu, berkuasalah dua kelompok oligarki yang menjadi dalang sesungguhnya.


BAGIAN 1: SEMBILAN ONAK DAN SEMBILAN DURI

Kelompok pertama disebut Sembilan Onak.

Onak adalah sejenis duri besar yang tumbuh di pohon aren. Bentuknya menakutkan: panjang, hitam, tajam, dan kalau menusuk kulit, ia akan patah di dalam dan menyeBAGIANkan infeksi yang sulit sembuh. Filosofi penamaan ini pas: Sembilan Onak adalah keluarga-keluarga tua yang sudah mengakar di Mahjong sejak zaman kolonial. Mereka mendapatkan kekayaannya dari tanah. Lahan-lahan raksasa yang diberikan oleh penguasa kolonial kepada leluhur mereka, yang kemudian diwariskan turun-temurun, menjadi sumber kekuasaan yang tak tergoyahkan.

Sembilan Onak menguasai perkebunan, pertambangan, dan kehutanan. Mereka memiliki puluhan perusahaan yang nama-namanya terdengar seperti mantra: Bumi Karya Nusantara, Rimba Lestari Abadi, Mineral Mulia Persada. Di balik nama-nama puitis itu, tersembunyi praktik-praktik yang jauh dari puitis: penambangan liar yang mengeruk gunung-gunung, pembalakan yang menghabisi hutan, dan perkebunan yang menggusur desa-desa adat.

Ketua tidak resmi Sembilan Onak adalah seorang pria tua bernama Kyai Wisamuka. Usianya sudah delapan puluh tahun, tapi wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kegagahan masa muda. Ia selalu berpakaian beskap hitam dengan blangkon cokelat, dan di tangannya selalu ada tongkat kayu jati berukir ular naga. Konon, tongkat itu adalah warisan dari leluhurnya yang pertama kali menerima tanah dari pemerintah kolonial tiga ratus tahun yang lalu.

"Mahjong ini tanah kami," kata Kyai Wisamuka dalam suatu pertemuan tertutup dengan anggota Sembilan Onak lainnya. "Kami yang pertama kali mengelolanya. Kami yang membangunnya. Jadi sudah sepantasnya kami yang menikmati hasilnya."

Tidak ada yang membantah. Di ruangan berlapis marmer itu, dengan lukisan-lukisan mahal bergantung di dinding, kata-kata Kyai Wisamuka terasa seperti hukum alam.

Kelompok kedua disebut Sembilan Duri.

Kalau onak adalah duri besar yang kuno dan berasal dari pohon, maka duri adalah istilah generik yang lebih modern dan beragam. Sembilan Duri adalah oligarki baru yang muncul di era reformasi. Mereka tidak mewarisi tanah, melainkan membangun kekayaannya dari koneksi politik, lisensi impor, kontrak pemerintah, dan, yang paling penting, utang luar negeri yang dikelola dengan "kreatif".

Jika Sembilan Onak tampil dengan pakaian tradisional dan berbicara tentang leluhur dan tanah air, maka Sembilan Duri tampil dengan setelan jas Italia, jam tangan Swiss, dan berbicara tentang "pasar bebas", "globalisasi", dan "arus modal internasional". Mereka menguasai sektor keuangan, telekomunikasi, ritel, dan, ironisnya, industri otomotif dan barang konsumsi yang membanjiri pasar Mahjong.

Pemimpin tidak resmi Sembilan Duri adalah seorang pria setengah baya bernama Ardana Setiabudi. Ia lulusan universitas ternama di luar negeri, bergelar MBA dari institusi yang namanya selalu ia sebutkan di setiap kesempatan. Ardana adalah tipe orang yang berbicara dengan kecepatan tinggi, menggunakan istilah-istilah bisnis dalam bahasa Inggris, dan selalu menatap lawan bicaranya dengan senyum yang terlalu lebar untuk dipercaya.

"Kita hidup di era globalisasi, Bapak-bapak sekalian," kata Ardana dalam pertemuan dengan anggota Sembilan Duri lainnya. "Nasionalisme itu romantis, tapi tidak menguntungkan. Yang penting adalah efisiensi. Kenapa harus memproduksi sendiri kalau negara lain bisa memproduksi lebih murah? Itu prinsip dasar keunggulan komparatif. Adam Smith sudah mengatakannya dua ratus tahun yang lalu."
Anggota Sembilan Duri lainnya mengangguk-angguk, meskipun sebagian dari mereka tidak pernah membaca Adam Smith dan hanya tahu bahwa "pasar bebas" adalah mantra yang memungkinkan mereka terus mengimpor barang-barang dari luar negeri tanpa hambatan berarti.

Hubungan antara Sembilan Onak dan Sembilan Duri bersifat paradoksal. Di permukaan, mereka tampak bersaing. Onak mewakili "ekonomi lama" berbasis sumber daya alam; Duri mewakili "ekonomi baru" berbasis keuangan dan perdagangan. Tapi di balik layar, mereka sebenarnya bersimbiosis.

Sembilan Onak butuh Sembilan Duri untuk memasarkan komoditas mereka ke pasar global dan mengamankan lisensi ekspor. Sebaliknya, Sembilan Duri butuh Sembilan Onak untuk mendapatkan akses ke lahan, izin tambang, dan, yang paling penting, perlindungan politik. Banyak anggota parlemen dan pejabat tinggi Mahjong yang berasal dari keluarga Sembilan Onak atau disponsori oleh Sembilan Duri.

"Kita ini seperti ikan hiu dan ikan remora," kata Kyai Wisamuka suatu kali kepada Ardana Setiabudi dalam sebuah pertemuan di vila pribadinya. "Berbeda spesies, tapi saling menguntungkan."

Ardana tersenyum lebar. "Betul sekali, Kyai. Tapi saya lebih suka metafora yang lebih modern: kita ini seperti merger dan akuisisi. Sinergi."

Kyai Wisamuka tidak sepenuhnya paham apa itu "merger dan akuisisi", tapi ia mengangguk bijak seolah mengerti. Itulah keahliannya: terlihat bijak dalam ketidaktahuan.



BAGIAN 2: TOGOG MENEMUKAN MARX

Sementara oligarki Mahjong sibuk dengan permainan kekuasaannya, di sebuah desa kecil di kaki gunung, hiduplah seorang pria bernama Togog. Ia adalah pensiunan guru sekolah menengah pertama yang menghabiskan masa pensiunnya dengan membaca, berkebun, dan, aktivitas favoritnya, berdebat dengan sahabatnya, Semar.

Togog bukanlah orang kaya. Rumahnya sederhana: dinding anyaman bambu, lantai tanah yang dikeraskan, atap genteng yang sudah berlumut di sana-sini. Tapi ia memiliki harta yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang: sebuah perpustakaan pribadi berisi lebih dari lima ratus buku, hasil pengumpulannya selama tiga puluh tahun mengajar.

Buku-buku itu berjejer di rak kayu buatannya sendiri. Ada novel-novel klasik, buku-buku sejarah, ensiklopedia usang, dan, yang belakangan ini menjadi obsesinya, buku-buku tentang politik dan ekonomi.

Semuanya bermula tiga bulan sebelumnya, ketika Togog menemukan sebuah buku tua bersampul merah di pasar loak kota kabupaten. Sampulnya sudah lusuh, halaman-halamannya menguning, dan baunya khas: campuran debu, jamur, dan waktu. Tapi judulnya membuat jantung Togog berdebar: "Das Kapital - Karl Marx" edisi terjemahan bahasa Mahjong terbitan tahun 1962.

"Ini dia," bisik Togog kepada dirinya sendiri, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. "Kitab suci kaum tertindas."

Ia membeli buku itu dengan harga lima belas ribu rupiah, lebih murah dari sepiring nasi goreng, lalu membawanya pulang dengan perasaan seperti seorang ksatria yang menemukan pedang legendaris.
Togog membaca Das Kapital dengan intensitas yang mengerikan. Setiap pagi, setelah salat subuh, ia duduk di beranda rumahnya dengan secangkir kopi hitam dan buku merah itu. Ia membaca perlahan, mengulang-ulang paragraf yang sulit, membuat catatan di buku tulis, dan kadang-kadang berhenti untuk memandangi langit sambil merenungkan apa yang baru dibacanya.

Konsep-konsep Marx memasuki pikirannya seperti air yang meresap ke tanah kering. Nilai lebih (surplus value). Akumulasi primitif. Alienasi. Perjuangan kelas. Setiap halaman membuka pemahaman baru, dan setiap pemahaman baru membuatnya semakin gelisah.

"Istriku," kata Togog suatu sore kepada istrinya yang sedang memasak di dapur, "kamu tahu tidak? Selama ini kita ditipu."

Istrinya, seorang wanita sederhana bernama Sukini, menoleh dengan alis terangkat. "Ditipu siapa, Pakne?"

"Oleh kapitalis. Oleh borjuasi. Oleh pemilik modal. Kita bekerja, tapi hasil kerja kita diambil oleh mereka. Itu namanya eksploitasi."

Sukini mengaduk sayur lodehnya. "Terus, hubungannya sama kita apa? Kita kan bukan buruh pabrik. Bapak cuma pensiunan guru."

"Semua orang adalah buruh dalam sistem kapitalisme, Bu. Guru, petani, tukang ojek, bahkan seniman. Semua menjual tenaganya untuk bertahan hidup. Sementara segelintir orang, kaum borjuis, menikmati hasil kerja kita tanpa bekerja."

Sukini menambahkan garam ke dalam sayurnya. "Jadi Bapak mau jadi borjuis? Katanya enak tidak perlu bekerja."

"Bukan begitu, Bu..."

"Atau Bapak mau revolusi? Gulingkan yang kaya-kaya?"

"Itu..."

"Sudah, Pakne. Makan dulu. Urusan revolusi nanti saja. Perut kosong tidak bisa berpikir jernih."

Togog menghela napas. Istrinya memang bukan tipe orang yang bisa diajak berdiskusi tentang Marxisme. Tapi ia tidak menyalahkannya. Lagi pula, sayur lodeh buatan istrinya memang selalu berhasil mengalihkan perhatian dari revolusi proletariat.



BAGIAN 3: SEMAR MENEMUKAN ADAM SMITH

Di desa yang sama, sekitar setengah kilometer dari rumah Togog, tinggallah Semar. Kalau Togog adalah pensiunan guru, maka Semar adalah pensiunan pegawai koperasi desa yang habis masa kerjanya. Tubuhnya gemuk, wajahnya selalu tersenyum, dan gaya bicaranya santai seperti orang yang tidak pernah terburu-buru dalam hidupnya.

Semar juga memiliki hobi membaca, meskipun seleranya berbeda dengan Togog. Kalau Togog menyukai buku-buku tebal yang membuat kepala pusing, Semar lebih menyukai bacaan ringan: majalah pertanian, buku resep, dan, akhir-akhir ini, buku-buku tentang bisnis dan kewirausahaan.

Dua minggu setelah Togog menemukan Das Kapital, Semar menemukan buku yang akan mengubah cara pandangnya. Di sebuah toko buku bekas di kota kecamatan, ia menemukan edisi terjemahan "The Wealth of Nations" karya Adam Smith. Sampulnya biru tua dengan gambar pabrik abad ke-18 dan tulisan emas yang sudah pudar.

"Nah, ini bacaan yang cocok," kata Semar kepada penjaga toko. "Buku tentang kekayaan bangsa-bangsa. Pasti isinya tips-tips praktis."

Penjaga toko, yang tidak pernah membaca buku itu, mengangguk setuju. "Betul, Pak. Buku itu bestseller zamannya."

Semar membayar dua puluh ribu rupiah, sedikit lebih mahal dari Das Kapital Togog, mungkin karena sampulnya lebih bagus, lalu pulang dengan gembira.

Cara Semar membaca sangat berbeda dengan Togog. Kalau Togog membaca dengan intens dan penuh catatan, Semar membaca dengan santai sambil selonjoran di dipan bambu. Ia tidak membuat catatan, tapi ia sering berhenti untuk tertawa sendiri atau berkomentar seolah-olah sedang berbicara dengan penulisnya.

"Adam, Adam," katanya suatu kali setelah membaca BAGIAN tentang pembagian kerja. "Kamu ini pintar sekali. Tapi apa kamu yakin tukang daging memberi kita daging bukan karena kebaikannya? Ah, mungkin benar juga. Tukang daging dekat pasar itu pelit sekali. Masa beli satu kilo dikasih bonus tulang."

Ia melanjutkan membaca. Konsep-konsep Adam Smith memasuki pikirannya seperti angin sepoi-sepoi: tangan tak terlihat (invisible hand), pembagian kerja (division of labor), keunggulan absolut, dan, yang paling ia sukai, kebebasan pasar.

"Nenekku," kata Semar kepada istrinya, Nyi Semar, suatu sore, "ternyata selama ini kita hidup dalam ilusi. Kita pikir negara harus mengatur segalanya. Padahal, semakin sedikit campur tangan negara, semakin makmur rakyatnya. Itu kata Adam Smith."

Nyi Semar, yang sedang menjemur kerupuk, menoleh dengan malas. "Terus, kalau negara tidak ngatur, siapa yang bangun jalan, Pakne?"

"Itu... ehm... bisa diserahkan ke swasta."

"Swasta mau bangun jalan cuma-cuma?"

"Mereka bisa narik tol."

"Jadi kita harus bayar untuk lewat jalan yang dulu gratis?"

Semar menggaruk kepalanya. "Ya, kira-kira begitu. Tapi dengan begitu, jalannya lebih bagus!"

Nyi Semar menggeleng-gelengkan kepala. "Bapak ini makin tua makin aneh-aneh bacanya. Sudah, sini bantu jemur kerupuk. Lebih produktif daripada mikirin swasta mau bangun jalan."

Semar menuruti istrinya, tapi pikirannya tetap melayang ke Skotlandia abad ke-18, berkhayal tentang pasar bebas dan tangan tak terlihat.



BAGIAN 4: PERTEMUAN DI BAWAH POHON ASEM

Sudah menjadi tradisi bagi Togog dan Semar untuk bertemu setiap sore di bawah pohon asem besar yang tumbuh di perbatasan desa. Pohon itu sudah berusia lebih dari seratus tahun, dengan batang yang begitu besar sehingga perlu tiga orang dewasa untuk memeluknya. Cabang-cabangnya menjulang ke segala arah, menciptakan kanopi rindang yang sempurna untuk berdiskusi.

Di bawah pohon itulah, di atas tikar pandan yang sudah lusuh, ditemani teko kopi dan dua cangkir butut, Togog dan Semar menghabiskan sore-sore mereka. Topik diskusinya beragam: dari harga gabah, politik desa, sampai makna kehidupan. Tapi belakangan ini, topiknya menjadi semakin berat.

Sore itu, Togog datang lebih dulu. Ia membawa Das Kapital-nya, beberapa lembar catatan, dan ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa ia sudah siap berdebat. Semar datang beberapa menit kemudian, membawa The Wealth of Nations-nya dan senyum santai khasnya.

"Wah, Togog, mukamu serius sekali," kata Semar sambil duduk. "Ada apa? Harga cabai naik lagi?"
"Lebih serius dari harga cabai, Semar," jawab Togog. "Aku baru saja menyelesaikan BAGIAN tentang akumulasi primitif. Dan aku marah. Sangat marah."

Semar menuang kopi ke cangkirnya. "Akumulasi apa? Kedengerannya seperti penyakit kulit."
"Itu bukan penyakit kulit. Itu proses bagaimana kapitalisme lahir dari rahim kekerasan dan perampasan. Tanah-tanah rakyat dirampas, penduduk desa diusir, lalu dipaksa menjadi buruh di pabrik-pabrik. Itulah asal-usul kapitalisme. Darah dan air mata."

Semar menyeruput kopinya. "Menarik. Tapi Adam Smith bilang, kapitalisme lahir dari kebebasan. Orang bebas memilih pekerjaan, bebas berdagang, bebas mengejar keuntungan. Itu yang menciptakan kemakmuran."

"Kemakmuran untuk siapa? Untuk segelintir pemilik modal. Sementara buruh-buruh tetap miskin. Coba lihat Mahjong. Siapa yang menikmati kekayaan negeri ini? Sembilan Onak dan Sembilan Duri. Sementara rakyat jelata seperti kita begini-begini saja."

Semar tersenyum. "Nah, soal Onak dan Duri, aku setuju denganmu. Tapi masalahnya bukan pada kapitalismenya, melainkan pada praktiknya yang menyimpang. Adam Smith juga mengkritik monopoli, tahu. Ia tidak suka pada pedagang yang bersekongkol melawan kepentingan publik."

"Tapi praktik menyimpang itu justru bawaan dari sistemnya! Kapitalisme pada dasarnya adalah sistem eksploitasi. Pemilik modal mengeksploitasi buruh. Itu bukan penyimpangan, itu fitur!"

"Fiturnya bisa diatur, Togog. Makanya butuh regulasi. Butuh negara yang kuat untuk memastikan persaingan sehat."

Togog tertawa sinis. "Negara kuat? Di Mahjong? Negara kita ini cuma alatnya Onak dan Duri. Mereka yang membuat undang-undang, mereka yang menentukan kebijakan. Negara bukan wasit netral, Semar. Negara adalah panitia lomba yang sudah dibayar oleh salah satu kontestan."

Debat sore itu berlanjut hingga magrib. Keduanya tidak ada yang menyerah, juga tidak ada yang menang. Tapi justru di situlah letak kenikmatannya. Bagi Togog dan Semar, berdebat bukan soal siapa yang benar. Berdebat adalah olahraga otak, seni mengasah pikiran, dan, yang paling penting, cara untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin gila.



BAGIAN 5: EKSPLOITASI ATAU PILIHAN BEBAS?

Keesokan harinya, Togog dan Semar kembali bertemu di bawah pohon asem. Kali ini, Togog membawa contoh konkret.

"Semar, coba lihat ini," kata Togog sambil mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. "Aku dapat data dari koran kemarin. Buruh tambang di Pertambangan Gunung Mas, yang dimiliki oleh Kyai Wisamuka, digaji dua juta rupiah per bulan. Dua juta! Padahal mereka bekerja dua belas jam sehari, di kedalaman tiga ratus meter, dengan risiko kecelakaan yang tinggi."

"Memang kecil," aku Semar.

"Kecil? Itu eksploitasi! Sementara itu, Kyai Wisamuka hidup di istana. Anak-anaknya sekolah di luar negeri. Mereka punya puluhan mobil mewah. Dan semua itu berasal dari keringat buruh-buruh tambang yang digaji dua juta per bulan. Ini contoh sempurna dari nilai lebih yang Marx bicarakan. Buruh menciptakan nilai, tapi nilai itu diambil oleh pemilik modal."

Semar menggaruk-garuk dagunya. "Tapi buruh-buruh itu kan bekerja secara sukarela, Togog. Tidak ada yang memaksa mereka. Mereka memilih bekerja di tambang karena itulah pilihan terbaik yang tersedia."

"Itu bukan pilihan bebas! Itu pilihan karena tidak ada pilihan lain. Kalau ada pabrik, ada industri pengolahan, ada pertanian modern, mereka bisa memilih. Tapi karena semua lahan dan sumber daya dikuasai oleh Onak dan Duri, buruh tidak punya alternatif. Mereka terpaksa menjual tenaganya dengan harga murah."

"Lalu solusimu apa? Menghapuskan kepemilikan pribadi? Itu sudah dicoba di banyak negara dan gagal total."

Togog menggeleng. "Aku tidak bilang harus seperti Uni Soviet. Tapi setidaknya, buruh harus punya kekuatan tawar. Mereka harus berserikat, mereka harus bisa menuntut upah yang adil. Dan negara harus berpihak kepada buruh, bukan kepada pemilik modal."

"Negara berpihak kepada buruh..." Semar mengulangi dengan nada berpikir. "Kedengarannya indah. Tapi dalam praktiknya, negara mana yang benar-benar berpihak kepada buruh? Bahkan di negara komunis, buruh tetap dieksploitasi. Hanya saja pengeksploitasinya berganti: dari kapitalis ke birokrat partai."

"Justru karena itu, perjuangan buruh tidak boleh bergantung pada negara. Buruh harus mengorganisir diri sendiri. Revolusi harus datang dari bawah."

Semar tertawa. "Revolusi? Di Mahjong? Togog, Togog. Kamu pikir rakyat Mahjong mau revolusi? Mereka terlalu sibuk nonton sinetron dan main media sosial. Ngomong-ngomong soal media sosial, tahu tidak? Kemarin aku baca berita, ternyata aplikasi-aplikasi media sosial yang kita pakai sehari-hari itu semuanya dimiliki oleh Ardana Setiabudi. Itu contoh bagus soal kapitalisme yang sukses."

"Contoh bagus?" Togog nyaris tersedak kopinya. "Itu contoh monopoli! Ardana menguasai seluruh platform digital di Mahjong. Dia bisa mengontrol informasi, dia bisa memanipulasi opini publik, dia bisa membungkam kritik. Dan semua itu dilakukan dengan dalih 'pasar bebas'. Ini bukan kapitalisme, ini feodalisme digital!"

"Kenapa kamu selalu melihat sisi buruknya?" Semar menyandarkan punggungnya ke batang pohon asem. "Ardana sukses karena dia pintar, dia inovatif. Dia menciptakan layanan yang dibutuhkan masyarakat. Itu esensi kewirausahaan."

"Dia sukses karena koneksi politiknya, Semar. Jangan naif. Dia dapat lisensi eksklusif, dia dapat insentif pajak, dia dapat perlindungan dari persaingan. Itu bukan kewirausahaan, itu kapitalisme kroni. Dan Adam Smith yang kamu agung-agungkan itu justru mengutuk praktik semacam itu!"

Semar terdiam sejenak. Togog ada benarnya. Adam Smith memang mengkritik habis-habisan praktik monopoli dan persekongkolan antara pengusaha dan pemerintah. Tapi Semar tidak mau kalah begitu saja.

"Baiklah," katanya setelah jeda. "Aku akui, praktik di Mahjong memang menyimpang dari ideal Adam Smith. Tapi bukan berarti kapitalismenya yang salah. Yang salah adalah implementasinya. Solusinya bukan menghapuskan kapitalisme, tapi memperbaikinya."

"Memperbaiki kapitalisme itu seperti memperbaiki harimau yang suka makan manusia," Togog menyindir. "Kamu bisa memasang kuku palsu, memakaikan masker, memberinya obat penenang. Tapi pada dasarnya, ia tetap harimau. Dan suatu saat, ia akan memangsa lagi."

"Kalau begitu, komunisme itu seperti apa? Domba yang katanya jinak, tapi begitu dilepas, ia berubah jadi monster yang lebih ganas?"

Keduanya tertawa. Perdebatan mereka semakin memanas, tapi juga semakin lucu.



BAGIAN 6: DIALEKTIKA NASI GORENG

Pada sore ketiga, Togog datang dengan membawa kertas besar berisi diagram yang ia buat sendiri. Semar memandangnya dengan campuran kagum dan geli.

"Apa itu?" tanya Semar.

"Ini diagram dialektika materialisme historis," jawab Togog bangga. "Aku buat semalaman."

"Kamu begadang cuma untuk bikin ini? Togog, kamu butuh hobi baru."

"Ini hobi yang produktif, Semar. Coba lihat. Aku terapkan dialektika Marx untuk kasus Mahjong."
Togog mulai menjelaskan dengan semangat seorang dosen yang memberi kuliah kepada mahasiswa yang mengantuk.

"Tesis kita adalah Sembilan Onak. Mereka adalah feodalisme lanjutan. Mereka menguasai tanah dan sumber daya alam, seperti tuan tanah di abad pertengahan. Antitesisnya adalah Sembilan Duri. Mereka adalah borjuasi modern. Mereka menantang Onak dengan kapitalisme global. Terjadi pertentangan, konflik, perebutan kekuasaan."

"Lalu sintesisnya?" tanya Semar.

"Sintesisnya... ehm... aku belum sampai ke sana."

Semar terkekeh. "Kamu bikin diagram tapi tidak tahu ujungnya?"

"Aku tahu, tapi aku tidak suka. Sintesisnya adalah kolaborasi Onak dan Duri. Mereka bukannya saling menghancurkan, malah saling menguntungkan. Ini namanya dialektika yang gagal."

"Atau, dialektika yang realistis," Semar menimpali. "Dalam teori Adam Smith, persaingan akan menciptakan efisiensi. Tapi kalau para pesaing memilih bekerja sama, itu artinya pasar sedang mencari keseimbangan baru."

"Keseimbangan yang merugikan rakyat!"

"Itu kan interpretasimu."

Togog memukul-mukul diagramnya. "Ini bukan interpretasi. Ini fakta. Coba lihat, Semar. Berapa harga nasi goreng di warung dekat pabrik tambang Onak? Lima belas ribu. Berapa harga nasi goreng di restoran milik Duri? Tujuh puluh lima ribu. Kenapa? Karena buruh tambang tidak mampu beli nasi goreng mahal, sementara konglomerat tidak sudi beli nasi goreng murah. Ini adalah segregasi kelas yang terwujud dalam nasi goreng!"

Semar terbahak. "Kamu serius? Kamu menganalisis politik lewat nasi goreng?"

"Kenapa tidak? Marx sendiri menganalisis kapitalisme lewat komoditas. Nasi goreng adalah komoditas. Ia mengandung nilai pakai, mengenyangkan perut, dan nilai tukar, bisa dijual dengan harga tertentu. Dan perbedaan harga nasi goreng itu mencerminkan ketimpangan struktural!"

"Oke, oke," Semar mengangkat tangan tanda menyerah. "Tapi Adam Smith juga bisa menjelaskan fenomena nasi goreng. Kenapa ada nasi goreng mahal dan murah? Karena pasar tersegmentasi. Ada segmen premium dan segmen ekonomi. Itu mekanisme pasar yang alamiah."

"Alamiah? Tidak ada yang alamiah dari ketimpangan, Semar. Ketimpangan itu diciptakan. Buruh tidak dilahirkan untuk makan nasi goreng murah, dan konglomerat tidak dilahirkan untuk makan nasi goreng mahal. Itu hasil dari sistem yang tidak adil."

"Jadi kamu mau semua orang makan nasi goreng yang sama? Dengan harga yang sama? Itu namanya komunisme, Togog. Dan sejarah membuktikan, itu tidak berhasil."

"Bukan harga yang sama. Tapi kesempatan yang sama. Setiap orang harus punya akses ke nasi goreng yang layak. Dan itu hanya bisa terjadi kalau alat-alat produksi, dalam hal ini, dapur, beras, minyak goreng, tidak dimonopoli oleh segelintir orang."

Semar menggeleng-gelengkan kepala. "Togog, Togog. Kita mulai dari Marxisme, sekarang kita sudah sampai ke nasi goreng. Besok-besok kita mungkin akan berdebat tentang martabak."

"Kenapa tidak? Martabak juga komoditas."

Mereka berdua tertawa bersama. Di bawah pohon asem yang rindang, di tengah sore yang mulai berubah menjadi senja, perdebatan mereka terasa lebih seperti permainan daripada pertikaian.



BAGIAN 7: TANGAN TAK TERLIHAT YANG TERLALU TERLIHAT

Sore keempat, giliran Semar yang membawa materi. Ia membawa koran bekas yang memuat berita tentang proyek infrastruktur besar-besaran yang diumumkan pemerintah Mahjong.

"Lihat ini, Togog," kata Semar sambil menunjuk berita. "Pemerintah mau bangun jalan tol baru, pelabuhan baru, bandara baru. Semuanya dikerjakan oleh investor swasta, sebagian besar dari konsorsium Sembilan Onak dan Sembilan Duri. Menurut Adam Smith, ini bagus. Investasi infrastruktur akan mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan."

Togog membaca berita itu dengan alis berkerut. "Tapi coba baca lebih teliti, Semar. Proyek-proyek ini didanai oleh utang luar negeri. Dan kontraknya diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Onak dan Duri, tanpa tender transparan. Ini bukan pembangunan, ini bancakan."

"Tapi infrastrukturnya akan terwujud. Jalan tol akan terbangun. Itu manfaat konkret."

"Manfaat untuk siapa? Jalan tol itu menghubungkan kawasan industri milik Onak ke pelabuhan milik Duri. Petani-petani kecil tidak akan bisa mengaksesnya karena biaya tol mahal. Nelayan-nelayan tradisional tidak akan bisa bersaing dengan kapal-kapal besar yang bersandar di pelabuhan baru. Jadi sebenarnya, proyek ini memperkuat monopoli, bukan menghancurkannya."

Semar termenung. Argumen Togog selalu sulit dibantah karena selalu didukung oleh data-data spesifik. Itulah kelebihan Togog: ia tidak hanya bicara teori, tapi juga mengamati realitas.

"Tapi bagaimana dengan lapangan kerja?" Semar mencoba bertahan. "Proyek-proyek itu kan menyerap tenaga kerja."

"Tenaga kerja kontrak, Semar. Tidak ada jaminan sosial, tidak ada serikat pekerja, tidak ada kepastian kerja. Begitu proyek selesai, mereka di-PHK. Ini adalah contoh sempurna dari apa yang Marx sebut 'tentara cadangan buruh', sekumpulan pengangguran yang siap dipekerjakan kapan saja dengan upah rendah, untuk menekan upah buruh yang sedang bekerja."

"Jadi menurutmu, proyek infrastruktur itu buruk?"

"Proyek infrastruktur itu baik, kalau dikelola dengan benar. Tapi di tangan Onak dan Duri, proyek infrastruktur berubah menjadi alat akumulasi kapital. Mereka membangun infrastruktur bukan untuk rakyat, tapi untuk melancarkan bisnis mereka sendiri. Dan biayanya ditanggung oleh negara, artinya, oleh rakyat, melalui utang yang bunganya mencekik."

Semar memandangi koran di tangannya. Tiba-tiba ia merasa seperti orang bodoh yang baru sadar bahwa selama ini ia dibodohi.

"Adam Smith bicara tentang tangan tak terlihat," katanya pelan. "Tapi di Mahjong, tangan tak terlihat itu justru terlalu terlihat. Ia berbentuk Sembilan Onak dan Sembilan Duri."

Togog tersenyum. "Nah, akhirnya kau melihatnya juga."



BAGIAN 8: ALIENASI DI ERA DIGITAL

Pada sore kelima, topiknya bergeser ke teknologi. Togog, yang biasanya kritis terhadap kapitalisme, kali ini membawa argumen yang lebih dalam.

"Semar, kau ingat Ardana Setiabudi yang menguasai platform digital?"

"Ingat. Kenapa?"

"Marx punya konsep yang disebut alienasi. Dalam sistem kapitalisme, buruh teralienasi dari produk kerjanya. Ia bekerja membuat sesuatu, tapi sesuatu itu bukan miliknya. Ia teralienasi dari proses kerjanya sendiri, karena ia tidak punya kontrol atas bagaimana ia bekerja. Ia teralienasi dari sesamanya, karena hubungan antarmanusia berubah menjadi hubungan antarkomoditas. Dan yang terparah, ia teralienasi dari esensi kemanusiaannya sendiri."

"Menarik. Tapi apa hubungannya dengan Ardana Setiabudi?"

"Coba pikirkan. Di platform digital milik Ardana, pengguna, yaitu kita, adalah buruh yang tidak digaji. Kita membuat konten, kita menulis status, kita mengunggah foto, kita membuat video. Semua itu adalah produk kerja kita. Tapi produk itu bukan milik kita. Ia milik Ardana. Ardana yang mendapat keuntungan dari iklan, dari data, dari algoritma. Kita bekerja tanpa upah, dan kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang bekerja."

Semar tercengang. "Jadi kita ini buruh digital?"

"Tepat sekali. Buruh digital yang dieksploitasi dengan cara yang lebih canggih daripada buruh pabrik. Buruh pabrik setidaknya sadar bahwa ia sedang bekerja dan ia dibayar, meskipun rendah. Buruh digital tidak sadar bahwa ia sedang bekerja, dan ia tidak dibayar sama sekali. Ia malah membayar dengan kuota internetnya sendiri. Ini adalah bentuk eksploitasi paling halus dalam sejarah kapitalisme."

"Tapi kan kita enjoy, Togog. Kita main media sosial untuk hiburan."

"Itulah jeniusnya kapitalisme digital. Ia mengaburkan batas antara kerja dan hiburan, antara produksi dan konsumsi. Kita pikir kita sedang bersenang-senang, padahal kita sedang bekerja untuk Ardana. Kita pikir kita adalah konsumen, padahal kita adalah produk yang dijual kepada pengiklan."

Semar memandangi ponselnya yang tergeletak di atas tikar. Tiba-tiba ia merasa ponsel itu bukan lagi alat yang melayaninya, melainkan majikan yang memerintahnya.

"Ini menakutkan," katanya.

"Memang. Tapi Marx sudah meramalkannya. Kapitalisme selalu mencari cara baru untuk mengeksploitasi. Dari eksploitasi fisik di pabrik, ke eksploitasi mental di platform digital. Proletariat dulu menjual tenaga fisiknya; proletariat digital sekarang menjual perhatian, kreativitas, dan data pribadinya."

"Jadi apa yang harus kita lakukan? Menghapus media sosial?"

"Tidak. Tapi kita harus sadar. Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan. Marx menyebutnya 'kesadaran kelas'. Buruh harus sadar bahwa ia sedang dieksploitasi. Begitu ia sadar, ia akan mulai bertanya: mengapa? Dan dari pertanyaan itu, lahirlah perlawanan."

Semar menyeruput kopinya. "Togog, kamu ini semakin hari semakin radikal. Tapi aku suka. Setidaknya, kamu membuatku berpikir."

"Itu tugas kita, Semar. Membuat orang berpikir. Karena orang yang berpikir adalah musuh terbesar oligarki."



BAGIAN 9: ADAM SMITH MEMBALAS

Sore keenam, Semar datang dengan persiapan matang. Ia membawa setumpuk catatan dan ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa ia siap membalas serangan-serangan Togog.

"Hari ini, aku akan menunjukkan kelemahan Marxisme," katanya penuh percaya diri.

"Silakan," jawab Togog sambil tersenyum. "Aku selalu siap."

"Kelemahan pertama: Marxisme terlalu fokus pada konflik. Ia melihat sejarah sebagai sejarah perjuangan kelas. Tapi Adam Smith melihat sejarah sebagai sejarah kerja sama. Manusia bekerja sama untuk menciptakan kemakmuran. Pembagian kerja, spesialisasi, adalah bentuk kerja sama yang paling produktif. Tukang daging, peternak, pembuat roti, mereka semua bekerja sama, bukan bertikai."

"Kerja sama yang tidak setara, Semar. Tukang daging dan peternak bekerja keras, tapi siapa yang menikmati keuntungan terbesar? Pemilik toko daging, pemilik peternakan, itulah kapitalis."

"Itu klise, Togog. Adam Smith mengakui adanya ketimpangan. Tapi solusinya bukan konflik, melainkan pertumbuhan. Kalau kue ekonomi membesar, semua orang mendapat bagian yang lebih besar. Buruh dapat upah lebih tinggi, kapitalis dapat keuntungan lebih besar. Ini win-win."

"Teori 'trickle-down' yang naif! Sudah terbukti di seluruh dunia: kue ekonomi membesar, tapi yang menikmati kue itu ya itu-itu juga. Yang miskin tetap miskin, yang kaya makin kaya. Kue membesar, tapi piringnya tidak bertambah."

"Karena pajaknya tidak progresif, karena regulasinya tidak adil. Itu kesalahan kebijakan, bukan kesalahan kapitalisme."

"Lagi-lagi 'kebijakan'! Selalu ada alasan untuk membela kapitalisme. Kalau kapitalisme gagal, salah kebijakan. Kalau kapitalisme sukses, itu berkat pasar bebas. Ini namanya 'no true capitalism fallacy'. Kapitalisme yang gagal bukan kapitalisme sejati. Kapitalisme yang eksploitatif bukan kapitalisme sejati. Lalu kapitalisme sejati itu apa? Hantu? Mitos?"

Semar terdiam. Togog memang jago dalam hal logika.

"Baiklah," kata Semar setelah berpikir sejenak. "Aku akui, kapitalisme murni mungkin tidak pernah ada. Tapi alternatifnya, sosialisme, komunisme, juga tidak pernah berhasil. Setiap kali dicoba, hasilnya malah lebih buruk. Uni Soviet runtuh. Korea Utara jadi negara paling miskin di Asia. Kuba masih bertahan dengan susah payah."

"Itu karena sosialisme yang diterapkan adalah sosialisme otoriter, bukan sosialisme demokratis. Marx tidak pernah membayangkan negara polisi. Ia membayangkan demokrasi buruh, di mana buruh mengelola sendiri pabrik-pabriknya."

"Demokrasi buruh? Itu omong kosong! Pekerja tidak punya keahlian manajemen, tidak punya modal, tidak punya jaringan pemasaran. Bagaimana mungkin mereka mengelola pabrik?"

"Mereka bisa belajar, Semar. Buruh bukan bodoh. Mereka hanya tidak diberi kesempatan. Lagi pula, bukankah para kapitalis juga awalnya tidak punya keahlian? Mereka belajar sambil jalan. Bedanya, mereka punya akses ke modal. Buruh tidak."

"Akses ke modal itu diberikan oleh sistem perbankan, Togog. Dan sistem perbankan ada karena kapitalisme. Itu lingkaran yang tidak bisa diputus."

"Itulah kenapa butuh revolusi. Untuk memutus lingkaran itu."

Semar menghela napas panjang. "Revolusi, revolusi. Kamu terus bicara revolusi. Tapi kamu sendiri tahu, di Mahjong, revolusi tidak mungkin terjadi. Rakyat terlalu terpecah, terlalu sibuk bertahan hidup. Mereka tidak punya waktu untuk memikirkan revolusi."

"Itu dulu. Tapi dengan media sosial, dengan teknologi, rakyat bisa terhubung. Mereka bisa sadar. Revolusi digital mungkin adalah revolusi yang kita butuhkan."

"Atau, revolusi digital justru memperkuat oligarki, seperti yang kamu bilang kemarin. Platform digital dimiliki oleh Ardana Setiabudi. Dia bisa menyensor, memanipulasi, membungkam."

Togog terdiam. Semar kali ini benar.



BAGIAN 10: KISAH DUA PETANI

Untuk mencairkan suasana yang mulai tegang, Semar mengusulkan pendekatan baru.

"Togog, daripada kita terus berdebat teori, bagaimana kalau kita pakai contoh konkret? Aku punya cerita tentang dua petani."

"Silakan."

"Di desa kita ini, ada dua petani. Sebut saja Pak Karto dan Pak Dirman. Pak Karto adalah petani tradisional. Ia menanam padi, jagung, dan singkong di lahan warisan seluas setengah hektar. Ia tidak pakai pupuk kimia, tidak pakai traktor. Hasil panennya cukup untuk makan keluarganya, tapi tidak lebih. Kadang-kadang ia menjual kelebihan panennya ke tengkulak dengan harga murah."

"Itu contoh petani subsisten yang dieksploitasi oleh rantai pasok," komentar Togog.

"Tunggu dulu. Pak Dirman berbeda. Ia petani modern. Ia menyewa lahan, menggunakan traktor, pupuk, bibit unggul. Ia menanam sayuran organik yang diekspor ke luar negeri. Ia punya kontrak dengan perusahaan eksportir, yang kebetulan dimiliki oleh salah satu keluarga Sembilan Duri. Penghasilannya jauh lebih besar daripada Pak Karto. Ia bisa menyekolahkan anaknya sampai universitas, membangun rumah bagus, bahkan memberangkatkan haji istrinya."

"Aku paham ke mana arahmu. Pak Dirman sukses karena kapitalisme."

"Benar! Pak Dirman sukses karena ia berani mengambil risiko, berinovasi, dan memanfaatkan peluang pasar. Itulah semangat kewirausahaan yang dipuji Adam Smith. Sementara Pak Karto tetap miskin karena ia bertahan di cara-cara tradisional."

Togog tersenyum tipis. "Ceritamu belum selesai, Semar. Aku tahu cerita ini. Pak Dirman memang sukses, tapi dengan harga apa?"

"Apa maksudmu?"

"Pak Dirman berutang ke bank untuk membeli traktor dan bibit. Bank itu milik keluarga Sembilan Duri. Bunganya tinggi. Kalau panennya gagal, ia bisa kehilangan segalanya. Lahan yang ia garap adalah lahan sewaan milik keluarga Sembilan Onak. Sewanya naik setiap tahun. Dan kontraknya dengan perusahaan eksportir? Itu kontrak yang mengikat. Ia harus menjual dengan harga yang sudah ditentukan, tidak boleh menjual ke pihak lain. Kalau melanggar, ia didenda."

"Tapi ia tetap lebih sejahtera daripada Pak Karto."

"Benar. Tapi ia tidak merdeka. Ia terikat oleh utang, sewa, dan kontrak. Ia adalah buruh yang menyamar sebagai pengusaha. Marx menyebutnya 'petty bourgeoisie', borjuasi kecil. Mereka pikir mereka independen, padahal mereka hanya pion dalam sistem kapitalisme."

Semar menggaruk kepalanya. Kenapa setiap cerita sukses selalu berubah menjadi cerita suram begitu Togog yang menganalisis?

"Baiklah," kata Semar. "Kalau begitu, bagaimana dengan contoh yang lain? Bagaimana dengan koperasi? Koperasi adalah bentuk ekonomi kolektif yang sesuai dengan nilai-nilai lokal Mahjong. Aku sendiri dulu bekerja di koperasi desa. Koperasi itu berhasil, Togog. Anggotanya sejahtera."

"Koperasi desa itu hebat, aku akui. Tapi kenapa koperasi tidak berkembang di Mahjong? Karena Onak dan Duri tidak suka. Koperasi adalah ancaman bagi monopoli mereka. Mereka melobi pemerintah untuk membuat regulasi yang mempersulit koperasi. Mereka mendirikan koperasi palsu yang sebenarnya adalah alat untuk mengeruk dana desa. Koperasi yang benar-benar mandiri akan dihancurkan, pelan-pelan."

"Jadi, semua yang baik akan dihancurkan oleh Onak dan Duri?"

"Itulah realitasnya, Semar. Selama Onak dan Duri berkuasa, tidak ada yang baik yang bisa tumbuh dengan sehat. Itu seBAGIANnya kita butuh perubahan struktural. Bukan sekadar perbaikan kecil-kecilan, tapi perubahan total."

"Revolusi?"

"Atau setidaknya, reformasi radikal."



BAGIAN 11: NEGARA SEBAGAI WASIT ATAU PEMAIN?

Sore ketujuh, perdebatan mereka memasuki topik yang paling pelik: peran negara.

"Adam Smith," kata Semar, "tidak menolak negara. Ia hanya ingin negara yang minimal. Negara bertugas menyediakan pertahanan, keamanan, dan infrastruktur dasar. Selebihnya diserahkan ke pasar. Karena pasar lebih efisien daripada birokrat."

"Tapi di Mahjong, negara tidak minimal," balas Togog. "Negara justru gemuk. Bukan gemuk karena pelayanan publiknya, tapi gemuk karena birokrasinya yang korup. Setiap izin harus disogok, setiap proyek harus ada fee-nya. Dan fee itu mengalir ke kantong Onak dan Duri."

"Itu karena negara kita dikelola dengan buruk. Kalau dikelola dengan baik, negara minimal akan berhasil."

"Negara minimal tidak akan pernah berhasil di Mahjong, Semar. Karena masalah kita bukan hanya inefisiensi. Masalah kita adalah ketimpangan struktural. Pasar tidak bisa menyelesaikan ketimpangan. Pasar justru menciptakan ketimpangan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Negara harus intervensi. Negara harus mendistribusikan kekayaan, melalui pajak progresif, jaminan sosial, pendidikan gratis, kesehatan gratis."

"Itu negara kesejahteraan, Togog. Dan negara kesejahteraan sudah gagal di Eropa. Defisit anggaran membengkak, utang menumpuk, generasi muda terbebani."

"Itu karena negara kesejahteraan dikelola dengan kompromi politik yang busuk, bukan karena konsepnya salah. Lagi pula, kenapa kita harus meniru Eropa? Kita bisa menciptakan model sendiri. Model Mahjong. Negara gotong royong."

"Negara gotong royong? Maksudmu?"

"Negara di mana alat-alat produksi strategis dimiliki secara kolektif. Bukan oleh negara, bukan oleh swasta. Tapi oleh rakyat. Melalui koperasi, melalui badan usaha milik desa, melalui perusahaan publik yang transparan. Ini adalah jalan tengah antara kapitalisme dan komunisme. Sosialisme lokal."

Semar terdiam. Ia harus mengakui, visi Togog cukup indah. Tapi ia juga skeptis.

"Itu visi yang menarik, Togog. Tapi siapa yang akan memulainya? Siapa yang akan melawan Onak dan Duri? Mereka terlalu kuat. Mereka punya uang, mereka punya tentara, mereka punya media. Kita hanya dua orang tua yang berdebat di bawah pohon asem."

"Setiap perubahan besar selalu dimulai dari bawah pohon, Semar. Marx dan Engels menulis Manifesto Komunis di ruang sempit. Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan di rumah sederhana. Mungkin perdebatan kita di bawah pohon asem ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar."

"Atau mungkin, kita hanya dua orang gila yang terlalu banyak membaca."

Mereka berdua tertawa. Matahari sudah mulai terbenam, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Burung-burung kembali ke sarang, dan dari kejauhan terdengar suara azan magrib.



BAGIAN 12: KONTRADIKSI INTERNAL OLIGARKI

Sore kedelapan, Togog membawa berita besar.

"Semar, kau harus dengar ini," katanya dengan mata berbinar. "Kemarin malam aku membaca laporan investigasi di koran. Ternyata ada konflik antara Sembilan Onak dan Sembilan Duri."

"Konflik? Bukankah selama ini mereka bekerja sama?"

"Itu dulu. Sekarang, ada perebutan proyek tambang raksasa di Pulau Matapura. Onak mengklaim tanah itu milik mereka berdasarkan warisan kolonial. Duri mengklaim mereka yang punya lisensi eksplorasi dari pemerintah."

"Ini menarik," Semar menyandarkan tubuhnya. "Ceritakan lebih detail."

Togog bercerita dengan semangat. Pulau Matapura adalah pulau kecil di timur Mahjong yang baru-baru ini ditemukan mengandung cadangan emas dan tembaga dalam jumlah fantastis. Nilainya diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Baik Sembilan Onak maupun Sembilan Duri menginginkannya.

"Yang membuat konflik ini berbeda," jelas Togog, "adalah bahwa Sembilan Duri menggunakan argumen kapitalis: merekalah yang paling efisien, paling punya teknologi, paling punya jaringan pemasaran global. Sementara Sembilan Onak menggunakan argumen nasionalis: tanah itu adalah tanah leluhur, warisan kolonial yang sah, dan harus dikelola oleh 'putra daerah', meskipun 'putra daerah' yang dimaksud adalah mereka sendiri."

Semar terkekeh. "Jadi Onak pakai argumen nasionalis, Duri pakai argumen kapitalis?"

"Tepat. Dan keduanya munafik. Onak tidak pernah peduli dengan putra daerah. Buktinya, selama puluhan tahun mereka mengeruk sumber daya alam Mahjong, penduduk lokal tetap miskin. Duri juga tidak peduli dengan efisiensi. Buktinya, bisnis mereka selalu mengandalkan monopoli dan koneksi politik."

"Ini yang disebut Marx sebagai kontradiksi internal kapitalisme, ya?"

"Ya! Kapitalisme menciptakan kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Persaingan antar kapitalis pada akhirnya akan menghancurkan kapitalisme itu sendiri. Inilah yang terjadi antara Onak dan Duri. Mereka bersaing untuk sumber daya yang semakin langka, dan dalam prosesnya, mereka menelanjangi kemunafikan masing-masing."

"Tapi bukankah persaingan itu bagus? Adam Smith bilang, persaingan menciptakan efisiensi."

"Persaingan antara Onak dan Duri bukan persaingan pasar bebas, Semar. Ini adalah pertarungan dua monster yang memperebutkan mangsa. Tidak ada yang efisien dari pertarungan ini. Yang ada adalah kekacauan politik, manuver hukum, dan kemungkinan konflik terbuka."

"Apa mungkin ini kesempatan bagi rakyat? 'Divide et impera' terbalik: mereka terpecah, rakyat bisa bersatu?"

Togog tersenyum lebar. "Nah, sekarang kau mulai berpikir seperti Marxis."



BAGIAN 13: HEGEMONI DAN KESADARAN PALSU

Sore kesembilan, perdebatan memasuki wilayah yang lebih filosofis. Togog membawa buku baru yang ia temukan di perpustakaan kota: karya Antonio Gramsci, seorang Marxis Italia yang menulis tentang hegemoni.

"Marx bilang, ideologi yang dominan di suatu masyarakat adalah ideologi kelas penguasa," kata Togog. "Tapi Gramsci mengembangkannya. Ia bilang, kelas penguasa tidak hanya menguasai secara fisik dan ekonomi, tapi juga secara budaya dan intelektual. Mereka menciptakan 'hegemoni'. Sebuah sistem kepercayaan yang membuat rakyat menerima penindasan sebagai sesuatu yang alamiah."

"Contoh?" tanya Semar.

"Contoh sederhana: di Mahjong, kita diajarkan bahwa menjadi pegawai negeri adalah pekerjaan paling mulia. Kenapa? Karena Onak dan Duri yang menguasai birokrasi dan perusahaan butuh pekerja yang patuh. Mereka butuh rakyat yang bercita-cita menjadi pegawai, bukan menjadi pengusaha atau inovator. Dengan begitu, rakyat tidak akan menyaingi mereka."

"Itu interpretasi yang menarik," komentar Semar. "Tapi menjadi pegawai negeri memang menjanjikan kestabilan. Itu pilihan rasional."

"Pilihan rasional yang diciptakan oleh sistem! Di negara lain, menjadi pengusaha adalah cita-cita yang dihargai. Di Mahjong, menjadi pengusaha kecil itu sulit. Izinnya ribet, pajaknya tinggi, persaingannya tidak adil karena pengusaha besar sudah dimonopoli. Jadi rakyat memilih menjadi pegawai negeri. Bukan karena itu panggilan jiwa, tapi karena itu pilihan paling aman dalam sistem yang korup."
Semar merenung. "Jadi hegemoni membuat kita tidak sadar bahwa kita sedang ditindas?"

"Tepat. Itu yang disebut 'kesadaran palsu'. Kita pikir kita bebas, padahal kita hanya memilih di antara pilihan-pilihan yang sudah ditentukan oleh oligarki. Kita pikir kita demokratis, padahal pemilu hanya memilih di antara kandidat yang semuanya disponsori oleh Onak dan Duri. Kita pikir kita kritis, padahal kritik kita hanya dalam batas-batas yang diizinkan."

"Ini mengerikan," kata Semar.

"Memang. Tapi Gramsci juga memberikan harapan. Ia bilang, hegemoni tidak pernah total. Selalu ada celah, selalu ada ruang untuk perlawanan. Tugas kaum intelektual, itu berarti kita, Semar, adalah menciptakan 'kontra-hegemoni'. Sebuah narasi alternatif yang menantang dominasi ideologi penguasa."

"Jadi perdebatan kita di bawah pohon asem ini..."

"Adalah bagian dari kontra-hegemoni. Kita mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang selama ini diterima begitu saja. Kenapa kita harus impor barang jadi? Kenapa kita tidak bisa produksi sendiri? Kenapa Onak dan Duri yang menguasai segalanya? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah awal dari perlawanan."

Semar memandang Togog dengan kagum. "Kamu berubah, Togog. Dulu kamu hanya guru pensiunan yang suka mengeluh. Sekarang kamu seperti... revolusioner."

"Aku tidak berubah. Aku hanya menemukan kata-kata untuk apa yang selama ini aku rasakan."



BAGIAN 14: PASAR BEBAS ATAU PASAR DIKTE?

Sore kesepuluh, Semar kembali dengan argumen baru.

"Togog, aku sudah memikirkan kritikmu tentang hegemoni. Tapi aku tetap percaya bahwa pasar bebas adalah jalan terbaik untuk memutus hegemoni oligarki."

"Jelaskan."

"Kalau pasar benar-benar bebas, tanpa monopoli, tanpa kroniisme, tanpa intervensi negara yang memihak, maka siapa pun bisa bersaing. Petani kecil bisa menjual langsung ke konsumen tanpa lewat tengkulak. Pengusaha kecil bisa mengakses modal tanpa perlu koneksi politik. Inovasi akan dihargai, efisiensi akan menang. Onak dan Duri tidak akan bisa mempertahankan dominasinya karena mereka akan kalah bersaing."

"Itu utopia, Semar. Pasar bebas tidak pernah benar-benar bebas. Selalu ada yang lebih kuat, yang kemudian mendominasi yang lemah. Itu hukum alam kapitalisme: akumulasi modal mengarah ke konsentrasi dan monopoli."

"Tapi itu bisa dicegah dengan regulasi anti-monopoli."

"Regulasi anti-monopoli dibuat oleh negara. Dan di Mahjong, negara dikuasai oleh Onak dan Duri. Mereka tidak akan membuat regulasi yang merugikan diri sendiri. Ini lingkaran setan."

"Jadi bagaimana memutusnya?"

"Seperti yang aku bilang: perubahan struktural. Bukan sekadar mengatur pasar, tapi mengubah kepemilikan. Alat-alat produksi strategis harus dimiliki secara kolektif. Bukan oleh segelintir orang, bukan oleh negara yang korup, tapi oleh rakyat. Melalui koperasi, melalui perusahaan publik yang dikelola secara demokratis."

"Itu ide yang bagus di atas kertas. Tapi dalam praktiknya, bagaimana? Siapa yang akan menjalankan perusahaan-perusahaan itu? Bagaimana memastikan mereka efisien? Bagaimana mencegah mereka dari korupsi?"

"Pertanyaan bagus. Dan aku tidak punya semua jawabannya. Tapi yang jelas, sistem sekarang tidak berfungsi. Onak dan Duri sudah membuktikan diri sebagai pengelola yang buruk. Mereka mengeruk keuntungan untuk diri sendiri, meninggalkan kerusakan lingkungan dan kemiskinan untuk rakyat. Apakah sistem alternatif mungkin lebih buruk? Mungkin. Tapi setidaknya kita harus mencoba."

Semar terdiam. Ia mengakui, Togog punya poin. Sistem di Mahjong memang tidak berfungsi. Tapi ia masih skeptis terhadap alternatif yang ditawarkan.

"Kita ini seperti dua orang buta yang meraba gajah," katanya akhirnya. "Aku meraba kakinya dan bilang gajah itu seperti pohon. Kamu meraba belalainya dan bilang gajah itu seperti ular. Mungkin kebenarannya ada di tengah-tengah."

"Atau mungkin," Togog menyahut, "kita butuh orang ketiga yang bisa melihat gajah secara utuh."



BAGIAN 15: SINTESIS YANG TAK TERDUGA

Sore kesebelas, suasana berbeda. Tidak ada debat panas. Togog dan Semar duduk bersebelahan, memandangi sawah yang mulai menguning di kejauhan.

"Togog," kata Semar pelan, "aku sudah banyak berpikir. Tentang Marx, tentang Adam Smith, tentang Onak dan Duri. Dan aku sampai pada kesimpulan: kita berdua benar. Dan kita berdua juga salah."

"Menarik. Jelaskan."

"Kapitalisme, dalam bentuknya yang sekarang, memang eksploitatif. Onak dan Duri adalah bukti nyatanya. Mereka bukan kapitalis sejati dalam pengertian Adam Smith; mereka adalah predator yang menyamar sebagai pengusaha. Tapi Marxisme, dalam praktiknya, juga bermasalah. Setiap revolusi yang mengatasnamakan Marx selalu berakhir dengan kediktatoran baru."

"Jadi solusinya?"

"Aku tidak tahu. Tapi mungkin kita tidak perlu memilih salah satu secara dogmatis. Mungkin kita bisa mengambil yang terbaik dari keduanya. Dari Marx, kita ambil kritiknya terhadap eksploitasi dan ketimpangan. Dari Smith, kita ambil kepercayaannya pada inovasi dan kebebasan individu. Sintesisnya: ekonomi pasar yang berkeadilan."

Togog tersenyum. "Kau tahu, Semar, itu hampir sama dengan apa yang aku pikirkan. Sosialisme pasar. Atau ekonomi kerakyatan. Atau apa pun namanya. Intinya: pasar tetap ada, tapi negara, atau lebih tepatnya, masyarakat, memastikan bahwa pasar tidak dikuasai oleh segelintir orang."

"Jadi kita sepakat?"

"Kita sepakat."

Mereka berdua bersalaman. Untuk pertama kalinya dalam sebelas hari, mereka mencapai titik temu.

Tapi kemudian Semar bertanya, "Pertanyaannya sekarang: bagaimana mewujudkannya?"

Togog memandang langit. "Itu pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada berdebat teori."



BAGIAN 16: RENCANA YANG MULAI TERBENTUK

Sore kedua belas, perdebatan berubah menjadi sesi brainstorming. Togog dan Semar, yang sebelumnya berdebat tentang teori, kini mulai merancang strategi konkret.

"Kita harus mulai dari bawah," kata Togog. "Desa adalah basis. Kalau setiap desa punya koperasi produksi, kita bisa memotong rantai tengkulak. Petani tidak perlu menjual ke Onak, nelayan tidak perlu bergantung pada Duri."

"Tapi koperasi butuh modal," Semar menimpali. "Dan bank-bank dikuasai oleh Duri. Mereka tidak akan memberi pinjaman kepada koperasi yang bisa mengancam bisnis mereka."

"Makanya kita butuh bank alternatif. Bank desa. Atau bank koperasi. Dimulai dari skala kecil, dari simpan pinjam antar anggota."

"Itu sudah ada. Namanya koperasi simpan pinjam. Tapi skalanya kecil."

"Justru itu. Kita harus menghubungkan koperasi-koperasi kecil ini menjadi jaringan yang lebih besar. Kalau ada seratus koperasi desa yang bersatu, kekuatan mereka setara dengan satu bank menengah. Kalau ada seribu, setara dengan bank besar."

Semar mulai tertarik. "Menarik. Tapi koperasi hanya bisa bergerak di sektor pertanian dan kerajinan. Bagaimana dengan industri? Bagaimana kita bisa memproduksi mobil, elektronik, atau mesin-mesin?"

"Itu tahap selanjutnya. Dimulai dari industri kecil dulu. Industri pengolahan hasil pertanian. Pabrik tahu, pabrik tempe, pabrik minyak kelapa. Dari situ, kita kumpulkan modal, kita latih tenaga kerja, kita bangun jaringan pemasaran. Pelan-pelan, kita naik ke industri yang lebih kompleks."
"Ini akan memakan waktu puluhan tahun."

"Benar. Tapi tidak ada jalan pintas. Onak dan Duri membangun kekuasaannya selama puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Kita tidak bisa menghancurkannya dalam semalam. Tapi kita bisa membangun alternatif yang pelan-pelan menggerogoti dominasi mereka."

Semar mengangguk-angguk. "Kedengarannya seperti strategi perang gerilya, tapi di bidang ekonomi."
"Tepat sekali. Gerilya ekonomi. Kita tidak menyerang Onak dan Duri secara langsung. Kita membuat mereka tidak relevan. Kalau rakyat sudah punya koperasi sendiri, bank sendiri, pabrik sendiri, maka Onak dan Duri akan kehilangan pasarnya. Mereka akan layu dengan sendirinya."

"Ini bukan revolusi Marx, dan bukan juga kapitalisme Smith. Ini... sesuatu yang berbeda."

"Aku menyebutnya Jalan Mahjong."



BAGIAN 17: KEBANGKITAN RAKYAT

Sementara Togog dan Semar berdiskusi di bawah pohon asem, sesuatu sedang bergolak di seluruh Mahjong. Konflik antara Sembilan Onak dan Sembilan Duri yang mereka diskusikan sebelumnya mulai membesar dan menciptakan efek samping yang tak terduga.

Perebutan tambang di Pulau Matapura menjadi katalis. Kedua belah pihak saling serang di media, di pengadilan, bahkan di jalanan. Pendukung Onak dan pendukung Duri bentrok di beberapa kota. Pemerintah pusat lumpuh karena para menterinya terbelah: setengah berasal dari kubu Onak, setengah dari kubu Duri.

Rakyat, yang biasanya hanya menjadi penonton, kali ini mulai terusik. Demonstrasi bermunculan. Tapi bukan demonstrasi yang mendukung salah satu kubu. Demonstrasi yang menuntut: "HENTIKAN PERTENGKARAN ELITE! PIKIRKAN RAKYAT!"

"Lihat itu," kata Togog suatu sore sambil menunjukkan video demonstrasi di ponselnya. "Rakyat mulai sadar. Mereka tidak mau lagi menjadi tumbal konflik oligarki."

"Ini seperti yang kamu bilang: kontradiksi internal kapitalisme melahirkan kesadaran kelas," komentar Semar.

"Tapi kesadaran ini masih rapuh. Kalau Onak dan Duri tiba-tiba berdamai dan membentuk aliansi baru, rakyat bisa kembali ke sikap apatis."

"Jadi apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus memanfaatkan momentum ini. Kita harus menyebarkan ide-ide kita lebih luas. Bukan hanya di bawah pohon asem. Tapi ke seluruh desa, ke seluruh kota."

Semar memandang Togog dengan takjub. "Kamu serius?"

"Serius. Kita sudah terlalu lama hanya berdebat. Saatnya bertindak."



BAGIAN 18: DARI DEBAT KE AKSI

Sore ketiga belas, Togog dan Semar tidak lagi hanya berdua. Mereka mengundang beberapa orang: petani, buruh, guru, mahasiswa, pedagang kecil. Semuanya berkumpul di bawah pohon asem, membentuk lingkaran diskusi.

"Ini bukan partai politik," kata Togog membuka pertemuan. "Ini bukan organisasi massa. Ini adalah lingkaran belajar. Kita belajar bersama, berdiskusi bersama, dan mencari jalan keluar dari masalah yang kita hadapi."

Para peserta, yang sebagian besar belum pernah membaca Marx atau Adam Smith, mendengarkan dengan antusias. Mereka mungkin tidak mengerti istilah-istilah seperti "nilai lebih" atau "tangan tak terlihat", tapi mereka mengerti realitas sehari-hari: harga pupuk yang mahal, tengkulak yang menipu, kredit bank yang mencekik, anak-anak yang putus sekolah karena tidak mampu bayar uang gedung.
"Kenapa sih, Pak Togog," tanya seorang petani, "harga gabah di tingkat petani murah, tapi harga beras di pasar mahal?"

"Itu karena rantai pasok dikuasai oleh tengkulak dan pedagang besar," jawab Togog. "Mereka yang menentukan harga. Petani tidak punya kekuatan tawar."

"Terus gimana solusinya?"

"Kita harus memotong rantai itu. Kita bentuk koperasi. Koperasi yang membeli gabah dari petani dengan harga adil, menggilingnya sendiri, menjualnya langsung ke konsumen."

"Itu sudah pernah dicoba, Pak. Tapi selalu gagal. Koperasi ditekan oleh pedagang besar, atau malah dibeli oleh mereka."

"Itu karena koperasinya sendirian. Kalau ada seratus koperasi, seribu koperasi, mereka tidak bisa menekan semuanya."

Diskusi berlangsung hingga malam. Togog menjelaskan konsep-konsep Marx dengan bahasa sederhana, sementara Semar menambahkan perspektif praktis dari pengalamannya di koperasi. Kombinasi keduanya ternyata efektif: Togog memberikan visi, Semar memberikan strategi.



BAGIAN 19: PERLAWANAN DARI ATAS

Berita tentang lingkaran diskusi di bawah pohon asem menyebar dari mulut ke mulut. Dalam waktu singkat, lingkaran-lingkaran serupa bermunculan di desa-desa lain. Gerakan ini tidak punya nama resmi, tidak punya struktur, tidak punya ketua. Tapi ia tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Tentu saja, Onak dan Duri tidak tinggal diam. Mereka punya mata-mata di mana-mana. Laporan tentang "gerakan rakyat" yang mulai tumbuh sampai ke telinga Kyai Wisamuka dan Ardana Setiabudi.

"Apa ini?" tanya Kyai Wisamuka dalam pertemuan darurat Sembilan Onak. "Gerakan apa ini? Siapa pemimpinnya?"

"Tidak ada pemimpin yang jelas, Kyai," jawab seorang asisten. "Ini gerakan organik. Dimulai dari diskusi-diskusi kecil di desa-desa. Tapi yang menarik, ada dua nama yang sering disebut: Togog dan Semar."

"Togog dan Semar? Siapa mereka? Politisi?"

"Bukan. Mereka pensiunan guru dan pegawai koperasi. Orang biasa."

"Orang biasa?" Kyai Wisamuka mengernyitkan dahi. "Orang biasa tidak mungkin memulai gerakan sebesar ini. Pasti ada dalangnya. Cari tahu."

Sementara itu, di markas Sembilan Duri, Ardana Setiabudi juga menerima laporan serupa. Reaksinya berbeda.

"Menarik," katanya sambil menyeringai. "Gerakan rakyat, ya? Ini bisa jadi kesempatan."

"Maksud Bapak?" tanya seorang anak buahnya.

"Kalau kita tidak bisa mengalahkan gerakan ini, kita bisa menungganginya. Ciptakan tokoh-tokoh boneka yang seolah-olah mewakili gerakan ini. Tawarkan mereka dana, tawarkan mereka akses media. Dalam waktu singkat, gerakan ini akan terpecah. Sebagian besar akan mengikuti boneka kita, sisanya akan terpinggirkan."

"Brilliant, Pak."

"Lakukan segera."



BAGIAN 20: INFILTRASI

Tiga bulan berlalu. Lingkaran diskusi Togog dan Semar semakin berkembang. Pertemuan rutin di bawah pohon asem kini dihadiri oleh puluhan orang, dan ide-idenya menyebar ke puluhan desa.

Tapi seiring pertumbuhannya, gerakan ini mulai mengalami masalah. Orang-orang baru bermunculan, mengaku sebagai aktivis, menawarkan bantuan dana, koneksi, dan strategi. Sebagian besar dari mereka adalah agen yang dikirim oleh Ardana Setiabudi.

"Togog, aku curiga dengan orang-orang baru ini," kata Semar suatu sore. "Mereka terlalu bersemangat, terlalu banyak uang, terlalu banyak janji."

"Aku juga curiga," jawab Togog. "Tapi kita tidak bisa menolak semua orang. Gerakan ini harus inklusif."

"Harus inklusif, tapi jangan naif. Kalau kita tidak hati-hati, gerakan ini akan dibajak."

Kekhawatiran Semar terbukti. Dalam sebuah pertemuan besar, seorang "aktivis" baru, yang belakangan diketahui sebagai agen Sembilan Duri, mengusulkan agar gerakan ini bertransformasi menjadi partai politik.

"Kita harus ikut pemilu!" katanya dengan pidato berapi-api. "Kita harus merebut kekuasaan! Kalau kita tidak ikut pemilu, suara kita tidak akan didengar!"

Sebagian besar peserta setuju. Mereka lelah berdiskusi, lelah berjuang tanpa hasil. Tawaran untuk terjun ke politik praktis terlihat seperti jalan pintas menuju perubahan.

Togog dan Semar saling pandang. Mereka tahu ini jebakan.

"Kita belum siap menjadi partai politik," kata Togog mencoba menahan. "Partai politik butuh struktur, butuh dana, butuh koneksi. Semua itu akan membuat kita bergantung pada elite."

"Justru itu! Kita harus mengambil alih sistem dari dalam!" seru sang aktivis.

Pertemuan berakhir dengan perpecahan. Mayoritas memilih untuk membentuk partai politik baru, dengan nama Partai Rakyat Mahjong. Togog dan Semar, bersama minoritas yang setia, memilih untuk tetap menjadi gerakan akar rumput.

"Kita kalah," kata Semar dengan nada murung.

"Kita tidak kalah. Kita hanya memilih jalan yang berbeda. Mereka memilih jalan cepat, kita memilih jalan panjang."



BAGIAN 21: PEMILU YANG ABSURD

Setahun kemudian, pemilu Mahjong digelar. Partai Rakyat Mahjong, yang didirikan oleh para aktivis baru, ikut serta. Mereka berkampanye dengan isu-isu populis: lawan oligarki, bela rakyat, bangun industri nasional.

Tapi di balik layar, partai ini menerima dana besar dari Ardana Setiabudi. Dan tanpa disadari oleh para pendukungnya, platform partai ini sudah dimodifikasi agar tidak mengancam kepentingan Sembilan Duri.

"Lawan oligarki" berubah menjadi "lawan oligarki yang merugikan rakyat", yang artinya, oligarki yang "baik" tidak perlu dilawan.

"Bangun industri nasional" berubah menjadi "bangun industri nasional melalui kerja sama dengan investor asing", yang artinya, impor tetap berlanjut.

Togog dan Semar menyaksikan dari pinggiran, dengan perasaan campur aduk antara marah dan geli.

"Mereka membajak gerakan kita," kata Semar.

"Dan mereka mengemasnya dengan indah," tambah Togog. "Ini hegemoni yang Gramsci bicarakan. Pergerakan radikal dinegasikan, dijinakkan, lalu dijadikan bagian dari sistem."

Hasil pemilu semakin absurd. Partai Rakyat Mahjong menang di beberapa daerah, tapi tidak cukup untuk menguasai parlemen. Mereka masuk koalisi dengan partai-partai besar yang didukung oleh Onak dan Duri. Para pemimpin partai yang tadinya berapi-api tentang "melawan oligarki" kini duduk manis di kursi empuk, menerima amplop tebal, dan melupakan semua janji mereka.

Sementara itu, rakyat tetap miskin. Tambang-tambang tetap dikuasai Onak. Perdagangan tetap dikuasai Duri. Satu-satunya yang berubah adalah: sekarang ada lebih banyak politisi yang mengaku "pro-rakyat" sambil tetap melayani oligarki.



BAGIAN 22: KEMBALI KE BAWAH POHON ASEM

Togog dan Semar kembali ke rutinitas lama mereka. Berdebat di bawah pohon asem, ditemani kopi dan gorengan. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

"Kita gagal," kata Semar.

"Kita belum gagal," jawab Togog. "Kita hanya kalah dalam satu pertempuran. Perang masih panjang."

"Tapi rakyat sudah apatis lagi. Mereka melihat Partai Rakyat Mahjong berkhianat, dan mereka menyimpulkan: semua politisi sama. Lebih baik tidak peduli."

"Itu memang yang diinginkan Onak dan Duri. Mereka ingin rakyat apatis. Rakyat yang apatis adalah rakyat yang mudah diperintah."

"Jadi apa yang harus kita lakukan? Mulai lagi dari nol?"

"Ya. Mulai lagi dari nol. Tapi kali ini, lebih hati-hati. Lebih sabar. Lebih gigih."

Semar tersenyum kecut. "Kamu tidak pernah lelah, ya?"

"Lelah. Tapi menyerah lebih melelahkan."

Mereka berdua memandang langit senja. Di kejauhan, terdengar suara azan magrib. Sore itu, tidak ada kesimpulan besar, tidak ada rencana revolusioner. Hanya ada dua orang tua, duduk di bawah pohon, mencoba memahami dunia yang semakin sulit dipahami.

Tapi di dalam hati mereka, api masih menyala. Kecil, tapi belum padam.



EPILOG: YANG TERTULIS DAN YANG TERJADI

Sepuluh tahun kemudian.

Togog sudah tiada. Ia meninggal dengan tenang di rumahnya, dikelilingi oleh buku-bukunya dan keluarganya. Das Kapital edisi 1962 itu masih ada di rak bukunya, dengan halaman-halaman yang semakin menguning dan coretan-coretan tangan yang semakin pudar.

Semar, yang lebih muda lima tahun, masih hidup. Tapi ia tidak lagi berdebat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan bercocok tanam dan bermain dengan cucu-cucunya. Kadang-kadang, ia datang ke bawah pohon asem itu, duduk sendirian, dan mengenang sahabatnya.

"Togog," bisiknya suatu sore, "kamu benar. Revolusi tidak terjadi. Oligarki masih berkuasa. Onak dan Duri masih menguasai Mahjong. Bahkan sekarang, mereka sudah beranak-pinak. Ada Onak-Onak baru, ada Duri-Duri baru."

Ia menyeruput kopinya. "Tapi kamu juga salah. Karena meskipun revolusi tidak terjadi, rakyat tidak sepenuhnya kalah. Ada koperasi-koperasi kecil yang bertahan. Ada sekolah-sekolah alternatif yang mengajarkan pemikiran kritis. Ada petani-petani yang berhasil mandiri. Kecil, memang. Tapi ada."

Di seberang desa, di sebuah kafe kecil yang dikelola oleh koperasi pemuda, beberapa anak muda sedang berdiskusi dengan semangat. Mereka membicarakan Marx, Adam Smith, Gramsci, dan pemikir-pemikir lain yang tidak pernah mereka temui tapi terasa akrab. Mereka tidak tahu bahwa di desa yang sama, puluhan tahun yang lalu, dua orang tua pernah melakukan hal yang persis sama.

Roda sejarah berputar. Ide-ide tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

Dan di bawah pohon asem yang sama, dengan batang yang semakin besar dan akar yang semakin dalam, angin sore berbisik pelan. Seolah-olah, Togog dan Semar masih di sana, masih berdebat, masih berharap.


TAMAT


Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi. Kalau ada kesamaan dengan realitas, itu cuma kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, karena realitas kadang lebih absurd daripada fiksi.

Posting Komentar

0 Komentar