Pernyataan itu, yang disiarkan oleh Kantor Berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC, menyatakan bahwa "mulai pukul 20.00 waktu Tehran pada Rabu, 1 April, institusi-institusi utama yang terlibat dalam operasi teroris akan menjadi target sah kami" (Press TV, 2026a, paragraf 3). Seruan kepada para karyawan untuk segera meninggalkan tempat kerja dan penduduk dalam radius satu kilometer untuk mengungsi mengubah kantor-kantor pusat regional perusahaan teknologi di Dubai, Abu Dhabi, Manama, dan Doha menjadi zona perang potensial dalam semalam (Mirror, 2026, paragraf 2).
Langkah ini bukanlah sekadar eskalasi retoris. Ini merupakan peristiwa bersejarah: Untuk pertama kalinya, sebuah negara-bangsa secara resmi mentransformasi perusahaan perangkat lunak, perangkat keras, dan jasa keuangan menjadi target militer langsung karena peran yang dimainkan algoritma, data center, dan chip prosesor mereka dalam memandu rudal-rudal yang menewaskan hampir 2.000 warga Iran dalam agresi militer AS-Israel yang dijuluki Operation Epic Fury sejak 28 Februari 2026 (Press TV, 2026b, L26-L28; Xinhua, 2026, paragraf 1).
Esai ini akan membedah daftar 18 perusahaan tersebut secara mendetail: siapa mereka, apa peran spesifik mereka dalam mesin perang, siapa pendiri dan CEO mereka, dan di mana pangkalan mereka beroperasi. Lebih dari sekadar pemetaan aktor, analisis ini menggunakan kerangka Teori Perang yang Adil (Just War Theory) dan Teori Hubungan Internasional, khususnya Realisme Struktural, Teori Kapitalisme Pengawasan, dan Konstruktivisme, untuk merespons pertanyaan fundamental, “bagaimana kita memahami momen di mana kode, korporasi, dan konflik bersenjata melebur menjadi satu, serta apa implikasinya bagi tatanan global masa depan?”
Deklarasi IRGC bukanlah daftar acak. Ia merupakan peta jalan yang teliti menuju jantung infrastruktur teknologi yang memungkinkan Operation Epic Fury, operasi gabungan AS-Israel yang tidak hanya mengandalkan daya hancur konvensional, tetapi juga keunggulan informasi dan kecepatan pengambilan keputusan yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Daftar ini mencakup perusahaan-perusahaan yang menyediakan komponen vital dalam "rantai pembunuhan (kill chain)" digital, mulai dari hardware jaringan hingga inferensi AI, dari mesin jet hingga sistem penargetan algoritmik. Mari kita telaah satu per satu kedelapan belas aktor korporat yang kini berada dalam garis bidik IRGC.
Palantir Technologies Inc., Otak di Balik Operasi
Perannya dalam Perang Iran, Palantir adalah pusat gravitasi dari seluruh operasi. Platform AIP (Artificial Intelligence Platform) dan Maven Smart System-nya menjadi "otak" Operation Epic Fury, memproses ribuan sumber data, dari citra satelit, intelijen sinyal, hingga komunikasi yang disadap, untuk menghasilkan lebih dari 1.000 skenario serangan hanya dalam 12 jam pertama perang (CNA, 2026, paragraf 4).
Perangkat lunak ini mengintegrasikan model AI Claude dari Anthropic, memungkinkan analisis yang sebelumnya membutuhkan 2.000 personel intelijen kini dikerjakan oleh hanya 20 tentara (Press TV, 2026b, L112-L115). Waktu identifikasi target dipangkas dari beberapa jam menjadi kurang dari satu menit. CEO Alex Karp secara terbuka mengakui bahwa produknya "digunakan untuk membunuh orang" (Asher Hamilton, 2020, paragraf 8). Dalam perang Iran, perangkat lunak inilah yang memandu bom-bom presisi menghancurkan gedung-gedung, termasuk Sekolah Dasar Perempuan Minab yang menewaskan 168 anak (Press TV, 2026b, L118-L120).
Didirikan pada tahun 2003 oleh Peter Thiel, Alex Karp, Stephen Cohen, dan Joe Lonsdale (Hindustan Times, 2025, paragraf 4). Thiel, seorang miliarder libertarian yang juga mendirikan PayPal dan menjadi investor awal Facebook, menyusun visi awal perusahaan setelah peristiwa 9/11, dengan keyakinan bahwa analisis data besar dapat mencegah serangan teroris berikutnya. Alex Karp, yang meraih gelar Ph.D. dalam filsafat dari Universitas Goethe di Frankfurt, menjabat sebagai CEO sejak 2004 dan dikenal sebagai pemimpin yang tidak konvensional, ia berlatih Tai Chi, bekerja dari lumbung, dan secara terbuka mengkritik "pluralisme kosong" yang dianggapnya menghambat supremasi teknologi Barat (Al Jazeera, 2026, paragraf 5, 22).
Perusahaan ini berbasis di Denver, Colorado, AS. Dia apes jadi target karena dianggap sebagai aktor paling sentral dalam daftar IRGC. Keberadaannya sebagai penyedia sistem penargetan berbasis AI yang digunakan secara langsung dalam pembunuhan di Iran menjadikannya target dengan urgensi tertinggi.
Microsoft Corporation, Tulang Punggung Komputasi Cloud Perang
Peran Microsoft dalam Perang Iran sangat luas dan mendalam. Platform cloud Azure digunakan untuk memproses data intelijen dari drone dan satelit AS secara real-time. Microsoft memiliki kontrak JWCC (Joint Warfighting Cloud Capability) dengan Pentagon, menyediakan layanan cloud untuk seluruh Departemen Pertahanan (Wenweipo, 2026, paragraf 6-7). Platform "Army Vantage" yang dibangun di atas Azure mengintegrasikan perangkat lunak Palantir dengan Microsoft Power BI, alat komersial yang digunakan jutaan analis bisnis untuk membuat grafik penjualan kini menjadi dasbor untuk mengelola "rantai pembunuhan" (Press TV, 2026b, L84-L85). Di panggung yang lebih politis, Microsoft mengecam seruan aktivis anti-perang di kalangan karyawannya sendiri dan menganggap aksi mogok sebagai "ancaman" terhadap keamanan nasional (MEMRI, 2026, paragraf 3).
Perusahaan ini didirikan pada 4 April 1975 di Albuquerque, New Mexico, oleh Bill Gates dan Paul Allen, dua sahabat sejak masa kanak-kanak di Seattle (Business Insider, 2025, paragraf 4-5). Gates, seorang dropout Harvard yang jenius dalam pemrograman, menjabat sebagai CEO pertama hingga tahun 2000. Saat ini, Satya Nadella, insinyur kelahiran Hyderabad, India yang bergabung dengan Microsoft pada tahun 1992, menjabat sebagai CEO sejak Februari 2014 dan sebagai Executive Chairman sejak Juni 2021 (Business Insider, 2025a, paragraf 1).
Perusahaan ini berbasis di Redmond, Washington, AS. Dia apes jadi target karena Azure menjadi tulang punggung komputasi awan untuk operasi militer, dan pusat data regionalnya di Timur Tengah dianggap memfasilitasi serangan langsung terhadap Iran.
Google (Alphabet Inc.), Mata Digital yang Tak Pernah Berkedip
Keterlibatan Google dalam kompleks industri-militer sangat kontradiktif. Setelah kontroversi dan protes besar-besaran karyawan, Google menyatakan pada 2018 tidak akan memperbarui kontrak Project Maven, proyek Pentagon yang menggunakan AI untuk menganalisis video drone. Namun, Google Cloud terus menyediakan layanan untuk Pentagon, dan pada tahun-tahun berikutnya keterlibatan Google dalam proyek-proyek pertahanan kembali meningkat di bawah proyek bernama "Nimbus" yang kontroversial (Wenweipo, 2026, paragraf 5-6). Infrastruktur Google Cloud digunakan untuk analisis data skala besar yang mendukung operasi intelijen di Iran. Selain itu, data dari platform seperti YouTube dan Google Earth telah lama menjadi sumber intelijen sumber terbuka (OSINT) yang vital bagi militer AS.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1998 oleh Larry Page dan Sergey Brin, dua mahasiswa doktoral Universitas Stanford yang mengembangkan algoritma mesin pencari revolusioner bernama "Backrub" (Business Insider, 2024, paragraf 2-3). Page menjabat sebagai CEO pertama dan kembali memimpin dari 2011 hingga 2015. Saat ini, Sundar Pichai, insinyur kelahiran Chennai, India yang bergabung dengan Google pada 2004 dan memimpin pengembangan produk-produk kunci seperti Chrome, menjabat sebagai CEO Alphabet Inc. sejak Desember 2019 (Business Insider, 2024a, paragraf 4).
Basis perusahaan ini ada di di Mountain View, California, AS. Dia apes jadi target akibat keterlibatannya dalam menyediakan layanan AI dan cloud untuk militer AS dan Israel, termasuk Proyek Nimbus yang menyediakan infrastruktur komputasi awan komprehensif untuk pemerintah Israel.
Amazon.com, Inc., Infrastruktur Digital Kekaisaran
Melalui Amazon Web Services (AWS), perusahaan ini menyediakan infrastruktur cloud computing yang menjadi fondasi bagi aplikasi militer dan intelijen AS. AWS GovCloud dirancang khusus untuk menangani data rahasia pemerintah AS, dan kontrak JWCC Pentagon menempatkan AWS sebagai salah satu penyedia utama layanan komputasi awan untuk seluruh Departemen Pertahanan. Server-server AWS memproses data logistik, komunikasi, dan analisis intelijen yang memungkinkan koordinasi serangan-serangan dalam Operation Epic Fury. Dalam konteks yang lebih luas, AWS menjadi tulang punggung digital yang tanpanya mesin perang modern AS tidak dapat beroperasi pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan (Wenweipo, 2026, paragraf 7-8).
Perusahaan ini didirikan pada 5 Juli 1994 di Bellevue, Washington, oleh Jeff Bezos, seorang lulusan Universitas Princeton yang meninggalkan kariernya di Wall Street untuk menjual buku secara online dari garasi rumahnya. Bezos menjabat sebagai CEO hingga Juli 2021, membangun Amazon dari toko buku daring menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Saat ini, Andy Jassy, yang bergabung dengan Amazon pada 1997 dan mendirikan AWS pada 2006, membangunnya menjadi pemimpin pasar cloud computing global, menjabat sebagai Presiden dan CEO sejak Juli 2021.
Kantor pusat perusahaan ini ada di Seattle, Washington, AS. Dia apes jadi target karena AWS menyediakan infrastruktur cloud yang memungkinkan pemrosesan data intelijen dan koordinasi operasi militer dalam skala masif.
Apple Inc., Paradoks Privasi dan Kekuasaan
Meskipun kerap diposisikan sebagai perusahaan consumer electronics yang membela privasi pengguna, infrastruktur cloud (iCloud) dan perangkat keras Apple, khususnya chip seri M yang sangat kuat, digunakan oleh lembaga pemerintah AS. Kebijakan privasi Apple bersifat paradoksial karena data iCloud tetap dapat diakses oleh penegak hukum dengan surat perintah, dan kerja samanya dengan lembaga intelijen terus menjadi perdebatan publik (Wenweipo, 2026, paragraf 9-10). Dalam konteks Operation Epic Fury, perangkat keras Apple, dari MacBook Pro yang digunakan oleh analis intelijen hingga iPad yang digunakan oleh pilot di kokpit, menjadi bagian dari ekosistem teknologi yang mendukung operasi militer.
Perusahaan ini didirikan pada 1 April 1976 di Los Altos, California, oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne (Deccan Herald, 2026, paragraf 1). Jobs, seorang visioner karismatik yang diadopsi saat bayi dan kelak merevolusi industri komputer pribadi, dipecat dari perusahaannya sendiri pada 1985, kembali pada 1997 sebagai CEO interim, dan memimpin Apple hingga kematiannya pada 2011. Saat ini, John Ternus, insinyur perangkat keras yang bergabung dengan Apple pada 2001 dan memimpin pengembangan chip seri M yang revolusioner, menjabat sebagai CEO sejak menggantikan Tim Cook pada April 2026 (Deccan Herald, 2026, paragraf 3).
Kantor pusat perusahaan ini ada di Apple Park, Cupertino, California, AS. Dia apes jadi target karena infrastrukturnya dianggap bagian dari arsitektur data yang dimanfaatkan dalam operasi intelijen, dan ekosistem perangkat kerasnya digunakan secara luas di lingkungan militer.
Intel Corporation, Jantung Semikonduktor Mesin Perang
Sebagai arsitek utama mikroprosesor, Intel adalah "jantung" komputasi dari pusat data militer AS. Chip Intel Xeon dan prosesor canggih lainnya menjalankan simulasi, pemrosesan data radar, dan operasi keamanan siber Pentagon (Press TV, 2026b, L14-L16). Intel juga memiliki kontrak langsung dengan Departemen Pertahanan AS untuk pengembangan semikonduktor aman melalui program seperti RAMP-C (Rapid Assured Microelectronics Prototypes – Commercial). Dalam perang modern, keunggulan komputasi sama pentingnya dengan keunggulan udara, dan chip Intel adalah fondasi dari keunggulan tersebut. Tanpa prosesor Intel, sistem komando dan kendali, analisis intelijen, dan simulasi serangan akan lumpuh.
Perusahaan ini didirikan pada 18 Juli 1968 di Mountain View, California, oleh Gordon Moore dan Robert Noyce, dua pionir semikonduktor yang sebelumnya bekerja di Fairchild Semiconductor (TechTarget, 2024, paragraf 2). Moore kelak terkenal dengan "Hukum Moore"-nya yang meramalkan penggandaan transistor setiap dua tahun, sedangkan Noyce adalah salah satu penemu sirkuit terintegrasi. Andrew Grove, karyawan ketiga Intel, menjabat sebagai CEO dari 1987 hingga 1998 dan mentransformasi Intel dari produsen chip memori menjadi raksasa mikroprosesor. Saat ini, Lip-Bu Tan, veteran industri semikonduktor yang sebelumnya memimpin Cadence Design Systems, menjabat sebagai CEO sejak Maret 2025.
Kantor pusat perusahaan ini ada di Santa Clara, California, AS. Dia apes jadi target akibat perannya sebagai fondasi daya komputasi intelijen dan operasi militer membuatnya menjadi target strategis.
Nvidia Corporation, Otot AI di Balik Penargetan
GPU (Graphics Processing Unit) Nvidia adalah "otot" dari revolusi AI modern. Chip Nvidia, seperti seri H100 dan B200, adalah komponen esensial yang melatih dan menjalankan model AI dalam sistem seperti Maven Smart System yang digunakan Palantir. Tanpa GPU Nvidia, pemrosesan data satelit secara real-time, pengenalan gambar otomatis, dan inferensi AI dalam kecepatan tinggi tidak akan mungkin terjadi (Wenweipo, 2026, paragraf 9-10). Dalam Operation Epic Fury, chip-chip inilah yang memproses ribuan citra satelit Iran, mengidentifikasi target potensial, dan menghasilkan rekomendasi serangan dalam hitungan detik. Jika Palantir adalah "otak," maka Nvidia adalah "korteks visual" yang memungkinkan otak tersebut "melihat."
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1993 oleh Jensen Huang, Chris Malachowsky, dan Curtis Priem, yang secara legendaris merancang ide awal perusahaan di sebuah restoran Denny's di San Jose, California (Business Insider, 2025b, paragraf 1-3). Huang, seorang imigran Taiwan yang pernah bekerja sebagai pencuci piring di Denny's, meraih gelar master di bidang teknik elektro dari Universitas Stanford sebelum mendirikan Nvidia pada usia 30 tahun. Ia telah menjabat sebagai Presiden dan CEO sejak pendirian perusahaan, menjadikannya salah satu pemimpin terlama di Silicon Valley.
Perusahaan ini berbasis di Santa Clara, California, AS. Dia apes jadi target akibat Chip AI-nya adalah fondasi perangkat keras yang memungkinkan kemampuan pengolahan data dan penargetan AI dalam sistem seperti Maven.
Cisco Systems, Inc., Arsitek Jaringan Komando dan Kendali
Cisco adalah penyedia fundamental infrastruktur jaringan dan keamanan siber global. Teknologinya, router, switch, dan sistem enkripsi, tertanam dalam arsitektur komunikasi militer AS, memasok sistem routing dan pengawasan penting untuk jaringan komando-dan-kendali, komunikasi pemerintah rahasia, dan program pengumpulan intelijen sinyal (SIGINT) NSA (Press TV, 2026b, L35-L44). Di wilayah pendudukan Israel, Cisco memiliki pusat penelitian dan pengembangan yang bekerja erat dengan unit-unit elit cyberwarfare seperti Unit 8200 (Press TV, 2026b, L47-L52). Jembatan langsung antara inovasi korporat dan operasi ofensif siber ini menjadikan Cisco bukan sekadar pemasok, melainkan mitra dalam operasi intelijen.
Perusahaan ini didirikan pada Desember 1984 di Menlo Park, California, oleh pasangan suami-istri Leonard Bosack dan Sandra Lerner, yang bertemu saat bekerja di Universitas Stanford dan mengembangkan teknologi router pertama untuk menghubungkan jaringan komputer di kampus (Britannica, 2026a, paragraf 1). Mereka kemudian bercerai dan kehilangan kendali perusahaan kepada investor modal ventura Sequoia Capital pada 1987. John Morgridge menjabat sebagai CEO dari 1988 hingga 1995, membawa Cisco ke bursa saham dan membangun fondasi pertumbuhannya. Saat ini, Chuck Robbins, yang bergabung dengan Cisco pada 1997 dan sebelumnya memimpin divisi penjualan global, menjabat sebagai CEO sejak Juli 2015.
Kantor pusat Cisco ada di San Jose, California, AS. Dia apes jadi target karena dituduh menyediakan infrastruktur komunikasi yang memfasilitasi operasi intelijen dan penargetan, secara langsung menjembatani kebutuhan birokrasi militer AS dan Israel.
Oracle Corporation, Gudang Data Intelijen Global
Oracle menyediakan infrastruktur cloud dan basis data yang digunakan oleh Departemen Pertahanan AS, termasuk untuk manajemen logistik dan data intelijen. Oracle Cloud Infrastructure (OCI) disewa oleh Pentagon untuk beban kerja AI dan analitik (Press TV, 2026b, L14-L16). Sistem basis data Oracle telah lama menjadi standar di lingkungan intelijen AS, menyimpan dan mengelola data yang digunakan untuk melacak target, merencanakan operasi, dan mengevaluasi hasil serangan. Dalam Operation Epic Fury, basis data Oracle menyimpan informasi intelijen yang menjadi bahan baku bagi sistem penargetan Palantir.
Perusahaan ini didirikan pada 16 Juni 1977 di Santa Clara, California, oleh Larry Ellison, Bob Miner, dan Ed Oates dengan nama awal Software Development Laboratories (Forbes, 2026, paragraf 1). Ellison, seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh bibi dan pamannya di Chicago, keluar dari Universitas Chicago tanpa gelar dan pindah ke California untuk belajar pemrograman. Ia menjabat sebagai CEO Oracle selama 37 tahun hingga 2014, menjadikannya salah satu pemimpin terlama dalam sejarah teknologi. Saat ini, Safra Catz, yang bergabung dengan Oracle pada 1999 dan memainkan peran kunci dalam lebih dari 100 akuisisi perusahaan, menjabat sebagai CEO sejak 2014, sementara Ellison tetap sebagai Chairman dan Chief Technology Officer.
Basis perusahaan ini ada di Austin, Texas, AS. Dia apes jadi target karena komitmennya dalam menyediakan layanan cloud dan basis data untuk keperluan militer dan intelijen, serta kemitraan strategisnya dengan Palantir dan Pentagon.
Meta Platforms, Inc., Laboratorium Intelijen Sosial Terbesar di Dunia
Meta, melalui Facebook dan Instagram, menyediakan data intelijen sumber terbuka (OSINT) yang sangat besar. Volume data publik dan semi-publik dari media sosial, unggahan, komentar, jaringan pertemanan, dan metadata lokasi, digunakan oleh lembaga intelijen AS untuk mengidentifikasi pola perilaku, jaringan sosial, dan lokasi individu yang menjadi target (MEMRI, 2026, paragraf 2). Unit keamanan Meta secara rutin bekerja sama dengan pemerintah dalam isu kontra-terorisme, memberikan akses data kepada lembaga penegak hukum dan intelijen melalui proses hukum maupun kemitraan informal. Dalam konteks Iran, data dari platform Meta berpotensi digunakan untuk memetakan jaringan komando IRGC, mengidentifikasi lokasi fasilitas, dan melacak pergerakan personel kunci.
Perusahaan ini didirikan pada Februari 2004 di kamar asrama Harvard oleh Mark Zuckerberg, bersama dengan Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes (Britannica, 2026b, paragraf 1). Zuckerberg, seorang dropout Harvard yang mengajarkan diri sendiri pemrograman komputer, meluncurkan "TheFacebook" dari kamar asramanya dan dalam dua dekade membangunnya menjadi perusahaan dengan hampir tiga miliar pengguna. Ia tetap menjabat sebagai Chairman dan CEO Meta Platforms hingga saat ini, menjadikannya salah satu pendiri terakhir yang masih memimpin perusahaan teknologi raksasa yang didirikannya.
Basis perusahaan ini ada di Menlo Park, California, AS. Dia apes jadi target karena IRGC menganggap platformnya sebagai alat pengumpulan intelijen masif yang memfasilitasi penargetan individu dan fasilitas di Iran.
IBM, Komputasi Tingkat Tinggi dan Warisan Panjang Kompleks Militer
IBM memiliki sejarah panjang dengan kompleks industri-militer AS yang merentang hingga Perang Dunia II. Dalam konteks modern, IBM menyediakan infrastruktur AI (melalui platform watsonx), analitik data canggih, dan superkomputer untuk Departemen Energi dan Pertahanan AS. Kontraknya mencakup komputasi kuantum untuk aplikasi militer masa depan, dan sistem IBM adalah komponen standar dalam banyak fasilitas komputasi militer (Times of India, 2026, paragraf 5). Dalam Operation Epic Fury, sistem analitik IBM kemungkinan digunakan untuk pemodelan target, simulasi serangan, dan analisis pasca-serangan.
IBM berakar pada beberapa perusahaan yang didirikan pada akhir abad ke-19, termasuk Tabulating Machine Company yang didirikan oleh Herman Hollerith pada 1896. Namun, sosok yang membentuk IBM modern adalah Thomas J. Watson Sr., yang bergabung dengan Computing-Tabulating-Recording Company (CTR) pada 1914 dan mengganti namanya menjadi International Business Machines pada 1924 (Britannica, 2026c, paragraf 1). Watson Sr. membangun kultur perusahaan yang legendaris dengan moto "THINK." Putranya, Thomas J. Watson Jr., menjabat sebagai CEO dari 1956 hingga 1971 dan memimpin transisi IBM ke era komputer. Saat ini, Arvind Krishna, insinyur kelahiran India yang bergabung dengan IBM pada 1990 dan memimpin akuisisi Red Hat senilai $34 miliar, menjabat sebagai CEO sejak April 2020.
Kantor pusat IBM ada di Armonk, New York, AS. Perusahaan “renta” ini apes jadi target karena IBM adalah penyedia utama layanan analitik dan komputasi tinggi yang digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi militer, dengan warisan panjang dalam kompleks industri-militer AS.
Hewlett-Packard (HP) Inc., Infrastruktur Fisik Komputasi Militer
HP menyediakan perangkat keras komputasi, server, dan layanan edge computing yang kritis bagi infrastruktur data militer. Server dan workstation HP diintegrasikan ke dalam jaringan logistik dan komando Pentagon (Mirror, 2026, paragraf 23-24). HP Enterprise (HPE), yang merupakan hasil pemisahan HP pada 2015, secara khusus fokus pada solusi perusahaan dan pemerintah, termasuk superkomputer untuk laboratorium nasional AS. Dalam konteks Operation Epic Fury, server-server HP menjadi infrastruktur fisik yang menjalankan perangkat lunak analisis data dan sistem komunikasi militer.
HP didirikan pada 1 Januari 1939 di Palo Alto, California, oleh William R. Hewlett dan David Packard, dua lulusan teknik elektro Universitas Stanford yang memulai perusahaan dari garasi dengan modal $538 (Britannica, 2026d, paragraf 1). Garasi HP di 367 Addison Avenue kini dianggap sebagai "tempat kelahiran Silicon Valley." Packard menjabat sebagai CEO dari 1964 hingga 1967, dan Hewlett dari 1968 hingga 1978. Saat ini, HP Inc. dipimpin oleh Enrique Lores, insinyur kelahiran Spanyol yang bergabung dengan HP sebagai intern pada 1989 dan naik ke jajaran eksekutif tertinggi, yang menjabat sebagai Presiden dan CEO sejak November 2019.
Basis HP ada di Palo Alto, California, AS. HP apes jadi target karena IRGC mengidentifikasi HP sebagai pemasok perangkat keras inti yang memungkinkan analisis data dan operasi logistik militer.
Dell Technologies Inc., Tulang Punggung Pusat Data Militer
Dell adalah pemasok besar perangkat keras, server, dan infrastruktur TI untuk Departemen Pertahanan AS dan komunitas intelijen. Server PowerEdge Dell adalah komponen standar di banyak pusat data militer, dan layanan Dell EMC menyediakan solusi penyimpanan data untuk volume informasi intelijen yang sangat besar (Xinhua, 2026, paragraf 12). Dalam Operation Epic Fury, server-server Dell menyimpan dan memproses data intelijen yang menjadi fondasi bagi sistem penargetan algoritmik.
Perusahaan ini didirikan pada 1 Mei 1984 di Austin, Texas, oleh Michael Dell saat ia masih menjadi mahasiswa baru di Universitas Texas dengan modal $1.000 (Britannica, 2026e, paragraf 1). Dell memulai bisnisnya dari kamar asrama, menjual komputer rakitan langsung ke pelanggan, model bisnis direct-to-consumer yang revolusioner pada masanya. Pada 1992, di usia 27 tahun, ia menjadi CEO termuda dari perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500. Michael Dell tetap menjabat sebagai Chairman dan CEO Dell Technologies hingga saat ini, setelah membawa perusahaan kembali ke status privat pada 2013 dan kemudian kembali ke bursa pada 2018.
Kantor pusat Dell ada di Round Rock, Texas, AS. Dia apes jadi target karena dituduh berkontribusi sebagai infrastruktur fisik dan komputasi yang mendukung operasi militer melawan Iran.
General Electric (GE), Mesin Jet dan Daya Hancur Fisik
GE Aerospace adalah produsen mesin jet militer utama, termasuk mesin F414 yang menggerakkan F/A-18 Super Hornet dan mesin XA100 untuk F-35 generasi berikutnya (GE Aerospace, 2022, paragraf 1). Pesawat-pesawat ini adalah tulang punggung serangan udara dalam Operation Epic Fury. Berbeda dengan perusahaan perangkat lunak dalam daftar ini, keterlibatan GE dalam perang bersifat fisik dan langsung: Mesin-mesin buatan GE-lah yang mengangkat pesawat-pesawat tempur dari landasan dan membawa mereka ke wilayah udara Iran untuk menjatuhkan bom.
Perusahaan ini didirikan pada 15 April 1892 di Schenectady, New York, melalui merger antara Edison General Electric Company dan Thomson-Houston Electric Company. Pendirinya termasuk Thomas Edison, Elihu Thomson, dan Edwin J. Houston (Britannica, 2026f, paragraf 1). Edison, sang penemu legendaris yang memegang lebih dari 1.000 paten, mendirikan perusahaan yang kelak menjadi cikal bakal GE pada 1878. Setelah pembubaran konglomerat GE menjadi tiga perusahaan terpisah pada 2024, GE Aerospace kini dipimpin oleh H. Lawrence Culp Jr., yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Danaher Corporation dan menjadi CEO GE pada 2018, memimpin transformasi radikal perusahaan.
Kantor GE ada di Boston, Massachusetts, AS (GE Aerospace di Evendale, Ohio). Dia apes jadi target karena komponen mesin jet dan avionik buatan GE adalah "otot" fisik yang mengantarkan daya hancur ke wilayah Iran, menjadikannya penyedia sarana pemusnah paling langsung.
Boeing Company, Sayap Pengebom yang Menjangkau Tehran
Boeing adalah ikon industri pertahanan AS dan pemasok utama platform tempur udara. Dalam Operation Epic Fury, pesawat pengebom siluman B-2 Spirit buatan Northrop Grumman, yang menggunakan berbagai komponen dan sistem buatan Boeing, terbang dalam misi non-stop 36 jam dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman untuk menjatuhkan bom penghancur bunker pada fasilitas bawah tanah Iran (Military Times, 2026, paragraf 5-9). Rudal-rudal Boeing, seperti JDAM (Joint Direct Attack Munition) yang mengubah bom konvensional menjadi senjata presisi berpemandu GPS, adalah alat yang diandalkan dalam serangan tersebut. Pesawat KC-46 Pegasus buatan Boeing juga menyediakan pengisian bahan bakar udara yang memungkinkan misi-misi jarak jauh.
Perusahaan ini didirikan pada 15 Juli 1916 di Seattle, Washington, oleh William E. Boeing, seorang pengusaha kayu yang tertarik pada penerbangan setelah menghadiri pameran udara di Los Angeles (Boeing, 2026, paragraf 1). Boeing membangun pesawat pertamanya, B&W, bersama rekannya Conrad Westervelt. Ia memimpin perusahaan hingga 1926. Saat ini, Kelly Ortberg, veteran industri penerbangan yang sebelumnya memimpin Rockwell Collins, menjabat sebagai Presiden dan CEO Boeing sejak Agustus 2024, mengambil alih perusahaan di tengah krisis keselamatan dan kepercayaan publik.
Basis perusahaan ini ada di Arlington, Virginia, AS. Dia apes jadi target karena manufaktur pesawat dan persenjataan militer Boeing adalah alat penghancur paling langsung dan paling mematikan dalam perang melawan Iran.
Tesla, Inc., Komunikasi Medan Perang dan Energi Militer
Tesla, melalui jaringan komunikasi satelit Starlink, menyediakan konektivitas yang tangguh dan terenkripsi untuk unit-unit militer AS di medan tempur. Starlink telah terbukti vital dalam konflik sebelumnya, terutama di Ukraina, dan memberikan keunggulan komunikasi yang tidak dapat disaingi oleh sistem konvensional (Times Now News, 2026, paragraf 26). Selain Starlink, Tesla juga menyediakan sistem penyimpanan energi skala industri (Megapack) yang dapat digunakan untuk memasok listrik ke pangkalan militer di lokasi-lokasi terpencil. Keterkaitan erat Elon Musk dengan aparat keamanan nasional AS, termasuk kontrak SpaceX dengan Pentagon, menambah bobot politik perusahaan ini.
Perusahaan ini didirikan pada Juli 2003 di San Carlos, California, oleh Martin Eberhard dan Marc Tarpenning, dua insinyur Silicon Valley yang terinspirasi oleh visi mobil listrik (Market Realist, 2022, paragraf 2). Eberhard menjabat sebagai CEO pertama. Elon Musk, yang memimpin investasi awal sebesar $6,5 juta pada 2004 dan menjadi Chairman dewan, mengambil alih sebagai CEO pada Oktober 2008 setelah krisis keuangan global. Meskipun Musk secara hukum diakui sebagai co-founder melalui penyelesaian hukum pada 2009, pendiri asli perusahaan adalah Eberhard dan Tarpenning. Musk tetap menjabat sebagai CEO Tesla hingga saat ini.
Basis perusahaan ini ada di Austin, Texas, AS. Dia apes jadi target karena Starlink merupakan aset komunikasi militer yang vital, dan Tesla mewakili konvergensi teknologi, kekuasaan korporat, dan operasi keamanan nasional di bawah kepemimpinan figur publik paling kontroversial di Amerika.
Spire Solutions, Perantara Keamanan Siber Regional
Perusahaan yang berkantor pusat di Uni Emirat Arab, Spire Solutions adalah penyedia solusi dan layanan keamanan siber yang bertindak sebagai distributor nilai tambah (VAD) untuk perusahaan keamanan global di kawasan Teluk. Perannya diduga sebagai perantara yang menyediakan teknologi keamanan siber ofensif dan defensif untuk rezim-rezim di Teluk yang bersekutu dengan AS dan Israel (SignalHire, 2026, paragraf 1). Spire menjembatani perusahaan teknologi Barat dengan klien-klien Timur Tengah, termasuk kemungkinan lembaga pemerintah dan militer. Dalam konteks Operation Epic Fury, perannya mungkin terkait dengan penyediaan infrastruktur keamanan siber yang melindungi jaringan komando dan kendali sekutu di kawasan.
Perusahaan ini didirikan di Dubai, UEA. Pendiri dan Presidennya adalah Sanjeev Walia, yang memimpin perusahaan sebagai Presiden dan CEO (SignalHire, 2026, paragraf 1; Spire Solutions, 2024, paragraf 2). Walia adalah figur kunci dalam ekosistem keamanan siber Timur Tengah, secara reguler berbicara di konferensi-konferensi seperti GISEC tentang tren AI dan keamanan cloud.
Kantor pusat perusahaan ini ada di Dubai, Uni Emirat Arab. Dia apes jadi target karena berperan sebagai integrator dan distributor teknologi siber yang memungkinkan operasi intelijen regional dan melindungi infrastruktur digital sekutu AS-Israel di kawasan Teluk.
G42 (Group 42), Jembatan AI antara Abu Dhabi dan Washington
G42 adalah perusahaan AI dan komputasi awan terkemuka UEA yang memainkan peran geopolitik yang sangat signifikan. G42 memimpin proyek Stargate, pusat data AI senilai $30 miliar di Abu Dhabi, yang didukung oleh OpenAI dan Oracle (France 24, 2025, paragraf 3). Diketuai oleh Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, saudara Presiden UEA dan Penasihat Keamanan Nasional UEA, G42 menjadi "jembatan" kritis yang menghubungkan teknologi AI AS dengan lanskap strategis Teluk. Microsoft menginvestasikan $1,5 miliar di G42 pada April 2024, memperdalam integrasi teknologi antara kedua entitas (Data Center Dynamics, 2024, paragraf 1). Kekhawatiran intelijen Barat tentang potensi alih teknologi ke China membuat G42 berada di bawah sorotan, tetapi justru memperkuat perannya sebagai perantara esensial bagi AS di kawasan.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 2018 di Abu Dhabi. CEO-nya adalah Peng Xiao, seorang eksekutif kelahiran China yang meraih gelar sarjana dan magister di AS, bekerja di MicroStrategy di Virginia, dan sebelumnya memimpin DarkMatter, perusahaan keamanan siber yang dituduh sebagai "badan pengawasan sewaan negara" (Forbes Middle East, 2025, paragraf 2; Data Center Dynamics, 2024, paragraf 6). Xiao bergabung dengan G42 pada 2018 dan memimpin transformasinya menjadi pemain AI global. Chairman G42 adalah Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, salah satu anggota paling berpengaruh dari keluarga penguasa Abu Dhabi, yang juga mengetuai beberapa entitas investasi dan keamanan utama UEA.
Perusahaan ini berkantor pusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dia apes jadi target karena keberadaannya sebagai pusat data AI dan komputasi awan yang mendukung infrastruktur militer dan intelijen AS di kawasan, serta perannya sebagai jembatan geopolitik antara Washington dan Abu Dhabi, menjadikannya target infrastruktur digital utama.
Setelah kita memetakan kedelapan belas aktor korporat, kita memerlukan kerangka analitis untuk memahami signifikansi historis dan politis dari deklarasi IRGC. Tiga perspektif teoretis akan digunakan: Just War Theory untuk menguji legitimasi moral, Realisme Struktural untuk memahami logika kekuasaan, Teori Kapitalisme Pengawasan untuk membongkar dimensi ekonomi-politik, dan Konstruktivisme untuk menganalisis bagaimana norma-norma baru tentang perang sedang dibangun.
Just War Theory
Tradisi filsafat Just War Theory telah berevolusi selama lebih dari satu milenium, dari Agustinus hingga Aquinas, dari Grotius hingga Michael Walzer. Teori ini berfokus pada dua pertanyaan fundamental: jus ad bellum (kapan perang dapat dibenarkan) dan jus in bello (bagaimana perang harus dilaksanakan secara etis). Dalam konteks deklarasi IRGC, dua prinsip jus in bello menjadi sangat relevan: Prinsip pembedaan (distinction) dan prinsip proporsionalitas (proportionality).
Prinsip pembedaan menyatakan bahwa hanya kombatan dan target militer yang boleh diserang; warga sipil dan objek sipil harus dilindungi. Inilah yang oleh Walzer (2015, hlm. 151) sebut sebagai "landasan moral dari semua aturan perang." Prinsip proporsionalitas mensyaratkan bahwa kerugian sipil yang diperkirakan tidak boleh berlebihan dibandingkan dengan keuntungan militer yang diantisipasi.
Deklarasi IRGC menimbulkan pertanyaan fundamental: Apakah perusahaan teknologi dapat diklasifikasikan sebagai "target militer yang sah"? Hukum Humaniter Internasional, sebagaimana dikodifikasi dalam Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1977, Pasal 52(2), mendefinisikan objek militer sebagai objek yang "berdasarkan sifat, lokasi, tujuan, atau penggunaannya memberikan kontribusi efektif terhadap aksi militer" dan yang penghancurannya "menawarkan keuntungan militer yang pasti."
Dalam perspektif ini, argumen IRGC memiliki dasar hukum yang dapat diperdebatkan. Jika server Palantir di Dubai secara langsung memproses data yang memandu rudal ke target di Tehran, maka server tersebut, berdasarkan "penggunaannya", memberikan "kontribusi efektif terhadap aksi militer." Ini mentransformasi infrastruktur digital dari objek sipil yang dilindungi menjadi target militer yang sah. Solis (2010, hlm. 523) mencatat bahwa objek sipil dapat kehilangan kekebalannya jika digunakan untuk tujuan militer. Namun, pertanyaan menjadi sangat kompleks ketika kita mempertimbangkan pusat data yang melayani lalu lintas sipil dan militer secara bersamaan, atau chip prosesor yang digunakan di rumah sakit sekaligus di sistem senjata. Di sinilah "dual-use dilemma" mencapai puncaknya yang paling akut.
Lebih problematis lagi, perusahaan-perusahaan dalam daftar IRGC beroperasi melalui apa yang disebut Press TV (2026b, L84-L85) sebagai "infrastruktur kekaisaran yang tak terlihat", aliansi strategis yang mengaburkan batas antara komersial dan militer. Platform "Army Vantage" mengintegrasikan perangkat lunak Palantir dengan Microsoft Power BI, alat komersial yang digunakan jutaan analis bisnis. Integrasi ini secara efektif menormalisasi proses pembunuhan seolah-olah hanya pekerjaan kantor biasa. Dalam kerangka Just War Theory, normalisasi ini menimbulkan masalah serius terkait prinsip tanggung jawab moral (moral responsibility). Siapa yang bertanggung jawab ketika keputusan hidup-mati dibuat melalui antarmuka yang didesain menyerupai dasbor bisnis?
Realisme Struktural
Realisme struktural, sebagaimana diartikulasikan oleh Kenneth Waltz (1979, hlm. 102-128), berpendapat bahwa struktur anarkis sistem internasional memaksa negara-negara untuk memprioritaskan keamanan dan kekuasaan relatif. Dalam sistem self-help, negara harus mengandalkan kapasitasnya sendiri untuk bertahan hidup. Inovasi teknologi militer selalu menjadi variabel kunci dalam kalkulasi kekuatan realis.
Deklarasi IRGC adalah manifestasi sempurna dari dilema keamanan (security dilemma) yang dijelaskan oleh John Herz (1950, hlm. 157): tindakan yang diambil oleh satu negara untuk meningkatkan keamanannya secara tidak sengaja mengurangi keamanan negara lain, memicu respons balasan. AS dan Israel mengembangkan kapasitas AI militer melalui Palantir untuk meningkatkan keamanan mereka; Iran merespons dengan menyatakan infrastruktur tersebut sebagai target militer. Siklus eskalasi ini persis seperti yang diprediksi oleh teori realis.
Namun, deklarasi IRGC mengungkapkan sesuatu yang melampaui pemahaman realis konvensional: aktor non-negara, korporasi, kini telah menjadi begitu integral terhadap kapasitas militer negara sehingga mereka sendiri menjadi target strategis. Waltz (1979) memfokuskan analisisnya pada negara sebagai aktor utama, tetapi fenomena Palantir menunjukkan bahwa garis antara aktor negara dan non-negara telah terkikis secara fundamental.
Mearsheimer (2001, hlm. 29-54) berpendapat bahwa negara-negara besar selalu mencari peluang untuk mendominasi, karena itulah cara paling pasti untuk menjamin kelangsungan hidup. Dalam konteks ini, Palantir adalah kunci untuk mencapai superioritas informasi dan kecepatan pengambilan keputusan, apa yang bisa disebut sebagai "kompleks industri-militer digital" yang telah berevolusi jauh melampaui peringatan Presiden Eisenhower pada 1961. Kontrak $10 miliar dari Angkatan Darat AS kepada Palantir pada Agustus 2025 adalah perwujudan material dari dorongan ofensif ini: investasi triliunan rupiah untuk memastikan bahwa Amerika dapat melihat dan menyerang lebih dulu.
Kapitalisme Pengawasan
Perspektif kritis yang dikembangkan oleh Shoshana Zuboff (2019) dalam The Age of Surveillance Capitalism menawarkan lensa yang sangat relevan. Zuboff (2019, hlm. 8) mendefinisikan kapitalisme pengawasan sebagai "logika ekonomi baru yang mengekstraksi pengalaman manusia sebagai bahan baku gratis untuk diterjemahkan ke dalam data perilaku." Data ini kemudian digunakan untuk memprediksi dan mengubah perilaku demi keuntungan.
Palantir adalah perwujudan sempurna dari logika ini, tetapi dengan tujuan yang jauh lebih mematikan. Data yang "ditambang" bukan untuk menjual iklan, melainkan untuk mengidentifikasi, melacak, dan melenyapkan target. Seperti dicatat oleh Press TV (2026b, L48-L51), pendapatan Palantir pada kuartal ketiga 2025 melonjak 63% year-over-year menjadi $1,18 miliar, dengan segmen pemerintahan AS menyumbang $486 juta. Ini mengungkapkan insentif struktural yang mengerikan: perang adalah model bisnis yang sangat menguntungkan.
Nadibaidze dan Vanderborght (2025, hlm. 1) menganalisis bagaimana demonstrasi virtual oleh perusahaan seperti Palantir secara visual merepresentasikan perang algoritmik sebagai "bisnis yang bersih, terkendali, dan presisi, terputus dari pengalaman nyata para korban tak bersalah." Ini adalah mekanisme kunci untuk menormalisasi kekerasan yang termediasi oleh korporasi.
Sistem ELITE yang dibangun Palantir untuk ICE, yang diduga menambang basis data layanan publik untuk menandai individu yang "berpotensi tinggi" untuk ditangkap (Press TV, 2026b, L164-L165), adalah contoh sempurna dari logika ini: jaring pengaman sosial diubah menjadi jaring deportasi. Pola yang sama diterapkan di medan perang: infrastruktur sipil, pola komunikasi, data lokasi, jaringan sosial, ditambang untuk menghasilkan target militer.
Konstruktivisme
Pendekatan konstruktivis, yang dikembangkan oleh pemikir seperti Alexander Wendt (1999), menekankan bahwa realitas sosial, termasuk norma-norma perang dan kategori-kategori hukum, dibangun melalui ide, praktik, dan interaksi sosial. Wendt (1999, hlm. 1) merangkumnya dengan terkenal: "Anarki adalah apa yang dibuat oleh negara-negara."
Dalam konteks ini, deklarasi IRGC adalah sebuah tindakan konstruksi norma. Dengan menyatakan perusahaan teknologi sebagai "target militer yang sah," Iran tidak sekadar merespons secara militer; ia sedang membangun norma baru dalam sistem internasional. Deklarasi ini menantang asumsi yang telah lama dipegang bahwa infrastruktur digital korporat kebal dari serangan balasan.
Sebuah makalah yang dipresentasikan di Konferensi BISA 2026 secara kritis meneliti bagaimana platform seperti Maven tidak hanya "membantu" pengambil keputusan, tetapi secara aktif membangun kategori hukum dari "kombatan" dan "sipil" di hulu (BISA Conference Paper, 2026). Infrastruktur teknis, data, model, antarmuka, secara diam-diam membakukan asumsi tentang siapa yang boleh dibunuh dan atas dasar bukti apa, di luar pengawasan demokratis dan hukum tradisional. Ini menunjukkan bahwa hukum humaniter internasional tidak rusak secara eksternal oleh AI, melainkan dimaknai ulang dari dalam oleh infrastruktur sosioteknikal yang diprivatisasi.
Ketika CEO Palantir Alex Karp dan co-founder Nicholas Zamiska, dalam buku manifesto mereka The Technological Republic, menyerukan "kekerasan yang didukung perangkat lunak mutakhir" sebagai kewajiban moral Barat, mereka sedang terlibat dalam apa yang disebut filsuf Mark Coeckelbergh sebagai "contoh teknofasisme", sebuah upaya untuk membangun norma baru di mana kecepatan teknologi melampaui deliberasi demokratis (Al Jazeera, 2026, paragraf 5, 16).
Deklarasi IRGC adalah kontra-norma: Jika perusahaan teknologi dapat menjadi "arsitek pembunuhan," maka mereka juga dapat menjadi "target yang sah." Ini adalah konstruksi realitas baru yang radikal, dan pertarungan normatif ini akan membentuk masa depan konflik global.
Implikasi bagi Tatanan Global
Apa yang dapat kita sintesiskan dari analisis ini? Deklarasi IRGC pada 31 Maret 2026 adalah titik balik dalam sejarah konflik global. Ia menandai beberapa pergeseran fundamental:
Pertama, deklarasi ini menghapus "tempat aman" (safe haven) tradisional perusahaan teknologi. Selama beberapa dekade, perusahaan seperti Google dan Microsoft beroperasi dengan asumsi implisit bahwa infrastruktur digital mereka kebal dari serangan militer langsung. Realitas baru yang diciptakan oleh IRGC menghancurkan asumsi ini: jika server dan algoritma memandu rudal, maka server dan algoritma itu sendiri menjadi sasaran balasan yang sah.
Kedua, deklarasi ini memprovokasi krisis akuntabilitas yang mendalam. Dalam sistem yang digerakkan oleh AI, siapa yang bertanggung jawab ketika serangan salah sasaran? Palantir menyalahkan militer; militer menyalahkan perangkat lunak; dan korban terkubur di bawah puing-puing. Seperti dicatat oleh BBC (2026, paragraf 11-12), kepala bisnis Palantir di Inggris secara eksplisit mendelegasikan semua tanggung jawab kepada militer pengguna, menciptakan "kekosongan akuntabilitas" yang sempurna.
Ketiga, deklarasi ini mengungkapkan privatisasi perang yang telah mencapai titik ekstrem. Delapan belas perusahaan dalam daftar IRGC bukanlah kontraktor pertahanan konvensional; mereka adalah perusahaan teknologi konsumen, bank investasi, dan penyedia layanan cloud. Batas antara Wall Street, Silicon Valley, dan medan tempur telah sepenuhnya runtuh. Seperti dicatat oleh Press TV (2026b), Palantir tidak lagi sekadar kontraktor, tetapi telah menjadi bagian integral dari "rantai pembunuhan" militer AS.
Keempat, deklarasi ini menandai lahirnya geopolitik digital yang sesungguhnya. G42 di Abu Dhabi, dengan investasi $1,5 miliar dari Microsoft dan pusat data AI senilai $30 miliar, adalah simbol dari era baru ini: infrastruktur digital adalah infrastruktur geopolitik. Aliansi antara Washington, Abu Dhabi, dan perusahaan-perusahaan teknologi menciptakan peta kekuasaan baru yang melampaui batas-batas negara tradisional.
Penutup
Pada akhirnya, deklarasi IRGC adalah sebuah cermin yang memantulkan realitas paling gelap dari era kita: era di mana algoritma, kapital, dan kekerasan telah melebur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kedelapan belas perusahaan dalam daftar tersebut, dari Palantir dengan sistem penargetan AI-nya hingga JPMorgan Chase dengan pendanaan perangnya, dari Nvidia dengan chip pemroses AI-nya hingga Boeing dengan pesawat pengebomnya, adalah pilar-pilar dari sebuah orde baru di mana perang bukan lagi urusan eksklusif negara, melainkan usaha patungan antara negara dan korporasi.
Just War Theory mengingatkan kita bahwa bahkan dalam perang, ada batasan moral dan hukum yang harus dihormati. Prinsip pembedaan mensyaratkan perlindungan warga sipil; prinsip proporsionalitas menuntut penimbangan yang cermat antara keuntungan militer dan kerugian sipil. Namun, dalam sistem yang digerakkan oleh kecepatan algoritmik, di mana 1.000 target dihasilkan sebelum fajar menyingsing dan keputusan dieksekusi dalam hitungan menit, ruang untuk penilaian moral yang cermat dan "keraguan yang manusiawi" telah direkayasa hingga nyaris punah.
Realisme mengajarkan kita bahwa negara-negara akan selalu mencari keunggulan strategis dalam sistem yang anarkis. Namun, ketika keunggulan itu dicapai melalui infrastruktur digital yang dimiliki oleh perusahaan swasta dengan insentif keuangan langsung dalam keberlanjutan konflik, logika realis konvensional tidak lagi memadai. Kita menyaksikan lahirnya aktor hibrida baru: korporasi yang bukan negara, namun memiliki kapasitas untuk secara fundamental membentuk hasil konflik bersenjata dan bahkan memprovokasi deklarasi perang terhadap infrastruktur mereka sendiri.
Kita berdiri di ambang era baru. Jalan ke depan menuntut transparansi radikal, akuntabilitas tak terbagi, dan pembangunan kembali pagar yang kokoh di antara mesin, negara, dan pasar. Sebab, seperti yang diperingatkan oleh para filsuf dan ahli hukum selama berabad-abad, perang yang paling adil sekalipun terikat oleh batasan. Dan setiap serangan, terlepas dari presisi algoritmiknya, adalah tragedi moral yang harus dijaga dengan hati-hati. Dalam kegelapan yang dihasilkan oleh "batu penglihatan" modern, kita tidak bisa membiarkan kilatan keempat dari siklus pembunuhan menjadi satu-satunya cahaya yang memandu peradaban.
Referensi
Al Jazeera. (2026, 20 April). ‘Technofascism’: Critics accuse Palantir of pushing AI war doctrine. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/4/20/technofascism-critics-accuse-palantir-of-pushing-ai-war-doctrine
Asher Hamilton, I. (2020, 26 Mei). ‘Our product is used on occasion to kill people’: Palantir’s CEO claims its tech is used to target and kill terrorists. Business Insider India. https://www.businessinsider.in/tech/news/our-product-is-used-on-occasion-to-kill-people-palantirs-ceo-claims-its-tech-is-used-to-target-and-kill-terrorists/articleshow/76003454.cms
BBC. (2026, 1 April). Palantir UK boss says it's up to militaries to decide how AI targeting is used in war. BBC News. https://www.bbc.com/news/articles/cdrm52g4pl2o
BISA Conference. (2026). Making a Combatant: Palantir and the Technological Construction of a Legal Category. BISA 2026 Conference Paper.
Boeing. (2026). Boeing history: Biplanes to jetliners. Boeing.com.
Britannica. (2026a). Cisco Systems: History & facts. Britannica Money.
Britannica. (2026b). Meta Platforms: History & facts. Britannica Money.
Britannica. (2026c). IBM: Founding, history, & products. Britannica Money.
Britannica. (2026d). Hewlett-Packard Company: History & facts. Britannica Money.
Britannica. (2026e). Michael Dell: History, leadership, & philanthropy. Britannica Money.
Britannica. (2026f). General Electric: History, products, & facts. Britannica Money.
Business Insider. (2024). Inside the life and career of Larry Page, Google's co-founder and first CEO. Business Insider.
Business Insider. (2024a). Google's CEO: A timeline of the company's leadership evolution. Business Insider.
Business Insider. (2025). Microsoft: A history of the software giant co-founded by Bill Gates. Business Insider.
Business Insider. (2025a). Microsoft's CEO: A timeline of the company's leadership. Business Insider.
Business Insider. (2025b). Meet Jensen Huang, Nvidia's founder and CEO. Business Insider.
CNA. (2026, 14 April).** 帕蘭泰爾AI系統助攻美軍 伊朗戰爭首日產逾千打擊方案 [Sistem AI Palantir membantu militer AS, menghasilkan lebih dari seribu rencana serangan pada hari pertama perang Iran]. *中央社 (Central News Agency).
Data Center Dynamics. (2024, 16 April). Microsoft invests $1.5bn in UAE-based AI firm G42. Data Center Dynamics.
Deccan Herald. (2026, 21 April). Apple CEO History: From Michael Scott to John Ternus. Deccan Herald.
Forbes. (2026, 10 Maret). Larry Ellison. Forbes.
Forbes Middle East. (2025, 17 November). Peng Xiao. Forbes Middle East.
France 24. (2025). G42: UAE's AI powerhouse at the center of global tech geopolitics. France 24.
GE Aerospace. (2022). GE engines power the world's most advanced military aircraft. geaerospace.com.
Herz, J. H. (1950). Idealist internationalism and the security dilemma. World Politics, 2(2), 157–180.
Hindustan Times. (2025, 5 Agustus). Who is Shyam Sankar? The billionaire technologist driving Palantir's AI-boom. Hindustan Times.
Market Realist. (2022, 13 Mei). Elon Musk bought Tesla ownership stake in the early years, has served as CEO since. Market Realist.
Mearsheimer, J. J. (2001). The tragedy of great power politics. W. W. Norton.
MEMRI. (2026). Tech companies under fire: Corporate responses to anti-war activism. MEMRI.
Military Times. (2026). Inside the B-2 mission that struck Iran's underground nuclear facilities. Military Times.
Mirror. (2026, 31 Maret). Iran gives chilling warning to kill anyone inside '18 tech companies' including Apple, Google, and Microsoft. Mirror.
Nadibaidze, A., & Vanderborght, R. (2025). Military demonstrations as digital spectacles: How virtual presentations of AI decision-support systems shape perceptions of war and security. European Journal of International Security.
Press TV. (2026a, 31 Maret). Explainer: Which US tech and arms companies did IRGC declare 'legitimate targets'. Press TV.
Press TV. (2026b, 26 April). Algorithm of war: How Palantir became Pentagon's indispensable AI arsenal in wars abroad. Press TV.
SignalHire. (2026). Spire Solutions company profile. SignalHire.
Solis, G. D. (2010). The law of armed conflict: International humanitarian law in war. Cambridge University Press.
Spire Solutions. (2024, 9 Oktober). Spire Solutions announces appointment of Syed Quadri as Chief Operating Officer. Spire Solutions.
TechTarget. (2024, 21 Agustus). What is Intel? TechTarget.
Times Now News. (2026). Iran declares 18 US tech companies as 'legitimate targets' amid tensions. Times Now News.
Times of India. (2026). Full list of 18 US companies Iran has declared 'legitimate targets'. Times of India.
Walzer, M. (2015). Just and unjust wars: A moral argument with historical illustrations (edisi ke-5). Basic Books.
Waltz, K. N. (1979). Theory of international politics. Addison-Wesley.
Wendt, A. (1999). Social theory of international politics. Cambridge University Press.
Wenweipo. (2026). 伊朗宣布18家美企为"合法打击目标" [Iran mengumumkan 18 perusahaan AS sebagai "target militer yang sah"]. Wenweipo.
Xinhua. (2026, 31 Maret). Iran declares 18 U.S. tech companies as legitimate military targets. Xinhua.
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power. PublicAffairs.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.