Ad Code

Perang Badut, Togog, Petruk, dan Telur Demokrasi

Kisah ini adalah satir politik dengan mana Togog dilanda kejenuhan dalam bekerja dengan Duryudana yang ia nilai kurang mampu berpikir mendalam dalam mengelola negara dan cenderung percaya pada advice dua orang licik yaitu Sengkuni dan Dursasana. Akibatnya Togog merindukan Filsuf-Raja Plato, tetapi ia harus berhadapan dengan Petruk yang memupus idealisme atau impian Togog dengan menggunakan Aristoteles sebagai dalih penentang.


Bagian Satu: 
Pertemuan di Warung Netral

Malam di kota perbatasan antara Astina dan Amarta selalu punya aromanya sendiri. Aroma sate kambing bercampur asap knalpot truk pengangkut sayur yang bolak-balik melintasi pos perbatasan. Di antara hingar-bingar itu, berdiri sebuah warung kopi sederhana bernama "Kopi Netral". Warung ini terkenal sebagai zona bebas, tempat para pegawai rendah kedua negara bisa bertemu, minum kopi, dan mengeluh tentang atasan masing-masing tanpa takut dilapor ke intelijen. Karena pemiliknya, seorang perempuan tua bernama Mak Iti, punya aturan tidak tertulis: "Di sini tidak ada mata-mata. Yang ada cuma kopi pahit dan gorengan yang kadang agak berminyak."

Malam itu, Togog duduk sendirian di sudut warung. Topi bututnya ia taruh di atas meja, wajahnya tampak lebih kusut dari biasanya. Ia menyeruput kopi tubruk dengan gula batu yang belum larut sempurna, menciptakan sensasi pahit-manis yang aneh di lidahnya, persis seperti kariernya di Istana Astina. Sudah berbulan-bulan sejak Revolusi Badut mengguncang negerinya, dan meskipun Duryudana lengser, ia masih saja bekerja sebagai "Staf Ahli" untuk rezim transisi yang, jujur saja, tidak jauh berbeda dari rezim sebelumnya. Hanya saja, sekarang Sengkuni tidak lagi menggunakan jubah hitam, ia berganti batik cokelat dan menyebut dirinya "Konsultan Kebijakan."


"Masih saja begini," gumam Togog pada kopinya. "Saya kasih seribu saran, yang diterima cuma sepuluh. Itu pun setelah dipelintir sedemikian rupa sampai saya sendiri tidak kenal lagi saran saya sendiri."

Ia baru saja melalui rapat yang melelahkan. Ia mengusulkan agar program "rehabilitasi mental" ala rezim lama diganti dengan program pendidikan kritis. Diterima? Tentu tidak. Sengkuni, dengan liciknya, memelintir usulan itu menjadi "Program Pelatihan Berpikir Terarah" yang ujung-ujungnya tetap saja berisi doktrin. Dursasana bahkan mengusulkan agar pelatihan itu dilengkapi dengan "ujian fisik" supaya "ototnya juga ikut kritis." Duryudana, yang kini hanya jadi simbol seremonial, hanya mengangguk-angguk sambil sesekali melihat ponselnya, mencari tahu berapa banyak mention di media sosial tentang dirinya.

"99 persen saran saya ditolak," desah Togog. "Saya ini staf ahli atau hiasan pohon natal?"

Belum selesai ia mengeluh pada kopinya, seorang laki-laki kurus tinggi dengan hidung panjang yang khas masuk ke warung. Ia mengenakan kaos oblong bertuliskan "Think Globally, Act Locally" dan sandal jepit butut. Petruk. Sahabat lamanya dari zaman pelatihan pegawai negeri dulu. Mereka satu angkatan, tapi memilih jalur yang berbeda. Togog memilih mengabdi pada Kurawa, berharap bisa mengubah sistem dari dalam. Petruk memilih mengabdi pada Pandawa, karena katanya, "Kerja sama tim di sana lebih enak, bisa debat dulu sebelum mutusin sesuatu."


"Togog! Sialan, kau di sini!" seru Petruk dengan suara khasnya yang sedikit bindeng. Ia langsung duduk di hadapan Togog tanpa permisi. "Wajahmu kusut sekali. Seperti tahu goreng yang kelamaan di wajan."

Togog mendengus. "Dan kau masih saja seperti cendol: lonjong dan bikin orang mules."

Mereka berdua tertawa kecil. Mak Iti datang membawa segelas kopi untuk Petruk. "Kopi susu, Pak Petruk? Seperti biasa?"

"Bener, Mak. Tapi susunya jangan dari sapi yang diperah sambil diperdengarkan pidato presiden ya. Aku alergi sama susu yang terlalu nasionalis."

Mak Iti cekikikan. Togog hanya menggeleng-gelengkan kepala. Petruk memang selalu begitu: ringan, penuh canda, dan tampaknya tidak pernah stres meskipun menjadi penasihat para Pandawa. Sementara Togog, setiap hari merasa seperti sedang mencoba mengajari kucing untuk membaca Al-Quran.

"Makin kurus kau, Gog," kata Petruk sambil menyeruput kopinya. "Apa di Astina tidak ada beras lagi? Atau Sengkuni sudah mengkudeta jatah makan siangmu?"

"Beras ada. Tapi setiap kali aku mau makan, ada saja rapat mendadak yang isinya cuma menyetujui hal yang sudah diputuskan oleh Sengkuni dari awal. Rapat itu seperti sinetron: alurnya bisa ditebak, aktingnya payah, tapi semua orang wajib nonton."

Petruk tertawa. "Di Amarta juga banyak rapat. Tapi setidaknya kami rapat untuk berdebat. Kadang debatnya sampai tiga hari cuma untuk mutusin warna apa yang cocok untuk cat pagar istana. Tapi ya itulah, demokrasi. Lambat, tapi setidaknya kami merasa menjadi bagian dari kelambatan itu."

Di situlah percakapan mereka mulai memasuki wilayah yang lebih dalam. Togog, yang sudah terlalu lelah dengan pekerjaannya, mulai mencurahkan isi hatinya. "Kau tahu, Truk, aku ini capek. Bukan capek bekerja. Tapi capek melihat betapa bodohnya para penguasa. Duryudana itu sebenarnya tidak jahat. Dia hanya tolol. Tapi ketololannya itu dimanfaatkan oleh Sengkuni yang jahat, dan Dursasana yang gila. Bayangkan, sebagai presiden, dia lebih suka mendengar saran dari orang yang hobinya membanting meja dan dari orang yang kumisnya lebih tajam dari golok, ketimbang mendengar saranku."

"Lalu, apa maumu?" tanya Petruk, kali ini dengan nada lebih serius.

"Aku ingin Duryudana jadi filsuf," jawab Togog dengan mata berbinar. "Aku ingin dia jadi seperti yang dibayangkan oleh Plato: Raja Filsuf. Seorang pemimpin yang bijaksana, yang berpikir secara mendasar dan radikal, yang tidak mudah dibodohi oleh penasihat licik. Jika dia filsuf, dia bisa memfilter saran Sengkuni. Dia akan tahu mana yang baik untuk rakyat dan mana yang cuma trik retorika. Dia akan memerintah dengan kebijaksanaan, bukan dengan hawa nafsu dan ketakutan."

Petruk memandang Togog dengan tatapan heran. "Plato? Kau serius? Filsuf yang percaya ada alam ide yang sempurna di luar sana? Yang bilang bahwa dunia ini cuma bayang-bayang dari realitas sejati?"

"Iya! Justru itu! Presiden harus bisa melihat realitas sejati, bukan cuma bayang-bayang yang diperlihatkan oleh Sengkuni!"

Petruk menghela napas panjang. "Gog, Gog. Kau ini pintar, tapi kadang terlalu polos. Aku tidak mau menyinggung perasaanmu, tapi kau seperti kerbau yang bermimpi jadi kuda pacuan. Gagah, tapi jalannya tetap lambat."

Togog meletakkan gelas kopinya dengan agak keras. "Maksudmu?"

"Maksudku," kata Petruk, mencondongkan tubuhnya ke depan, "Plato itu pemimpi. Ajarannya indah, tapi tidak realistis. Kau bilang ingin presiden jadi filsuf. Di dunia nyata, presiden itu politisi. Dan politisi itu pekerjaannya bukan berpikir radikal. Pekerjaannya adalah mempertahankan kekuasaan. Itu saja."

Percakapan mereka berhenti sejenak. Mak Iti meletakkan sepiring pisang goreng di atas meja mereka. "Sudah, sudah. Jangan berdebat politik. Nanti pisang gorengnya dingin."

Tapi Togog dan Petruk sudah terlanjur panas. Perdebatan besar akan segera dimulai. Perang antara dua badut, dua filsuf rakyat, yang mewakili dua sistem dan dua cara pandang yang berbeda. Togog dengan idealismenya yang membara. Petruk dengan realismenya yang tenang. Dan di antara mereka, ada Plato, Aristoteles, telur ayam, dan nasib dua negara yang sedang dalam masa transisi.

"Baiklah," kata Togog akhirnya. "Kau tidak suka Plato. Aku akan tunjukkan kenapa Plato benar. Mulai dari telur ayam."

Petruk mengangkat alis. "Telur ayam? Kau mau masak apa, Gog?"

"Bukan masak. Ini filsafat. Kau tahu kan, perdebatan klasik: mana yang lebih dulu, ayam atau telur?"

Petruk mengangguk, meskipun wajahnya tampak bingung. "Lanjutkan. Tapi kalau terlalu berat, aku panggil pesan antar kopi dulu."


Bagian Dua: 
Telur, Ayam, dan Raja Filsuf

Togog mengambil sebatang pisang goreng, menggigitnya perlahan, lalu memulai argumennya dengan gaya seorang profesor yang sedang memberikan kuliah di universitas ternama, hanya saja universitasnya adalah warung kopi dan mahasiswanya adalah Petruk yang sedang mengupil.

"Begini, Truk. Plato, dalam teori idenya, percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah bayang-bayang dari 'ide' yang sempurna. Ada ide tentang 'keadilan', ada ide tentang 'kebaikan', dan ada ide tentang 'keayaman'. Ayam yang kita lihat di kandang, yang berkokok dan bertelur, hanyalah tiruan dari 'Ayam Ideal' yang ada di alam ide. Ayam Ideal itu sempurna. Ia tidak perlu berkokok karena kehadirannya sudah merupakan kokok itu sendiri."

Petruk mengernyit. "Jadi, maksudmu, ada ayam di alam ide yang tidak bertelur, tidak makan, tidak bisa disembelih, dan tidak bisa dijadiin sop?"

"Kurang lebih begitu. Tapi yang penting adalah, bagi Plato, Ayam Ideal itulah yang lebih dulu ada. Ayam riil yang kita lihat hanyalah bayang-bayangnya. Jadi, ayam lebih dulu ada daripada telur."

Petruk menepuk meja. "Tunggu dulu. Itu tidak masuk akal! Ayam riil kan lahir dari telur! Bagaimana bisa ayam lebih dulu dari telur?"

Togog tersenyum, menikmati kebingungan Petruk. "Itu karena kau berpikir secara biologis, bukan metafisis. Bagi Plato, telur adalah potensi. Telur bisa menetas menjadi apa saja: bisa jadi anak ayam, bisa jadi anak buaya, bisa jadi anak tokek, bisa jadi anak ular, bahkan bisa jadi telur asin. Telur itu tidak jelas identitasnya. Ia belum memiliki 'keayaman' yang sejati. Tapi ayam? Ayam tetaplah ayam. Telur yang dihasilkan oleh ayam pasti telur ayam. Telur ayam tidak mungkin menetas menjadi buaya. Jadi, ayamlah yang memberikan identitas pada telur, bukan sebaliknya."

Petruk diam sejenak. Ia mencoba mencerna argumen itu. "Jadi, menurutmu, yang lebih dulu adalah yang memberi identitas, bukan yang melahirkan?"

"Persis!" seru Togog. "Dan begitulah seharusnya seorang pemimpin. Presiden haruslah seorang Filsuf, karena Filsuf-lah yang memiliki akses ke alam ide. Ia tahu apa itu 'Keadilan Ideal', 'Kebaikan Ideal', dan 'Kemakmuran Ideal'. Ia tidak akan terombang-ambing oleh pendapat-pendapat sesaat. Ia seperti ayam yang tahu bahwa ia adalah ayam, tidak peduli berapa banyak telur yang ada di sekitarnya."

Petruk menggaruk kepalanya. "Kau menghubung-hubungkan ayam dengan presiden? Aku harap Sengkuni tidak mendengar ini. Bisa-bisa ia membuat kebijakan baru: semua pejabat wajib berkokok setiap pagi."

Togog tidak mempedulikan ledekan Petruk. Ia melanjutkan dengan semangat. "Plato membayangkan sebuah negara yang dipimpin oleh seorang Raja Filsuf. Seorang pemimpin yang telah dididik secara ketat dalam bidang matematika, filsafat, dan etika, sehingga ia mampu melihat kebenaran sejati. Ia memerintah bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk golongan, tapi demi kebahagiaan seluruh rakyat. Itulah yang kuinginkan untuk Astina. Aku ingin Duryudana, atau siapapun presiden kami, menjadi seperti itu. Agar ia tidak bisa dibodohi oleh Sengkuni. Agar ia tidak bisa dihasut oleh Dursasana. Ia akan berpikir secara radikal, mendasar, sampai ke akar-akar permasalahan, dan kemudian mengambil keputusan yang bijaksana."

Petruk menyeruput kopinya. "Indah sekali, Gog. Tapi izinkan aku bertanya. Di sepanjang sejarah manusia, pernahkah ada Raja Filsuf seperti yang kau bayangkan itu?"

Togog terdiam sejenak. "Plato sendiri mencoba mendidik Dionysius, tiran dari Syracuse, untuk menjadi Raja Filsuf. Tapi memang akhirnya gagal."

"Kenapa gagal?"

"Karena Dionysius lebih suka pesta dan wanita ketimbang belajar filsafat."

Petruk tertawa terbahak-bahak. "Itu dia! Kau tahu kenapa gagal? Karena manusia, Gog, bukanlah ide. Manusia punya nafsu. Punya ego. Punya perut yang lapar dan dompet yang ingin diisi. Kau mengharapkan seorang presiden untuk menjadi filsuf, tapi kau lupa bahwa presiden itu manusia. Dan manusia, pada dasarnya, lebih suka yang enak-enak daripada yang susah-susah."

"Itu karena pendidikannya salah!" balas Togog. "Jika sejak kecil seorang calon pemimpin dididik dengan benar, dia bisa menjadi Raja Filsuf. Plato sudah merancang sistem pendidikan yang ketat. Sejak kecil, anak-anak berbakat dipisahkan dari orang tua mereka, dididik dalam asrama negara, diajari musik, gimnastik, matematika, dan akhirnya filsafat. Setelah puluhan tahun, yang terbaik di antara mereka akan menjadi pemimpin. Mereka tidak akan tertarik pada kekayaan dan kenikmatan duniawi, karena mereka sudah dilatih untuk hidup sederhana."

"Kedengarannya seperti sekolah militer yang sangat ketat," kata Petruk sambil mengunyah pisang goreng. "Atau seperti pesantren, tapi tanpa liburan. Bayangkan, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya sejak kecil, tidak boleh main layangan, tidak boleh jajan es krim, hanya boleh belajar dan berfilsafat. Menurutmu, berapa banyak anak yang mau?"

"Itu untuk kebaikan mereka sendiri. Dan untuk kebaikan negara."

"Gog," Petruk menatap sahabatnya dengan tatapan serius. "Kau tahu apa masalahnya dengan idemu ini? Kau ingin menciptakan manusia super yang kebal terhadap godaan. Tapi kenyataannya, bahkan orang yang paling bijak sekalipun, jika diberi kekuasaan mutlak tanpa pengawasan, suatu saat akan korup. Lord Acton bilang, 'Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.' Plato ingin memberi kekuasaan mutlak kepada sang Filsuf. Tapi siapa yang menjamin sang Filsuf itu tidak akan berubah menjadi tiran?"

Togog membalas cepat. "Karena sang Filsuf tidak akan tertarik pada kekuasaan. Dia memerintah karena kewajiban, bukan karena keinginan."

"Ah, itu omong kosong!" seru Petruk. "Semua orang yang berkuasa akan bilang bahwa dia berkuasa demi kewajiban. Duryudana juga bilang dia memimpin demi rakyat. Sengkuni juga bilang dia menasihati demi kebaikan bangsa. Tapi kita tahu ujung-ujungnya: proyek-proyek itu, kroni-kroni itu, sawah-sawah yang digusur itu. Semuanya atas nama kewajiban."

Perdebatan semakin memanas. Mak Iti, yang sejak tadi mendengarkan dari balik meja kasir, hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Dua orang pintar ini kalau sudah ngomong, lebih seru dari sinetron," gumamnya.

Togog, yang merasa argumennya mulai terdesak, mengambil napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan jurus pamungkasnya. "Baiklah, kau tidak percaya pada Raja Filsuf. Tapi setidaknya kau harus mengakui bahwa demokrasi yang kau banggakan di Amarta itu punya banyak kelemahan. Apa kau tidak lihat bagaimana rakyat biasa seringkali tidak tahu apa yang baik untuk mereka? Mereka memilih pemimpin berdasarkan suara paling keras, bukan paling benar. Mereka bisa dibodohi oleh janji-janji palsu. Plato sudah memprediksi ini. Ia bilang demokrasi akan merosot menjadi tirani, karena para demagog akan memanfaatkan kebodohan rakyat untuk naik ke tampuk kekuasaan."

Petruk tersenyum. "Aku tidak bilang demokrasi sempurna, Gog. Tidak ada sistem yang sempurna. Tapi setidaknya, dalam demokrasi, rakyat punya hak untuk salah. Dan mereka bisa belajar dari kesalahan mereka. Dalam sistemmu, rakyat tidak bisa salah karena mereka tidak bisa memilih. Semua ditentukan oleh sang Filsuf. Dan jika sang Filsuf ternyata salah, rakyat hanya bisa gigit jari. Tidak ada mekanisme untuk mengoreksinya kecuali kudeta atau revolusi."

"Itu sebabnya pendidikan penting!" Togog hampir berteriak. "Plato menekankan pentingnya pendidikan bagi semua warga, bukan hanya calon pemimpin. Rakyat yang terdidik akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk."

"Setuju. Tapi untuk mendidik seluruh rakyat, butuh waktu puluhan tahun. Sementara itu, siapa yang memerintah? Para filsuf yang kau pilih? Bagaimana kalau para filsuf itu sendiri yang korup? Plato tidak pernah memberi jawaban yang memuaskan soal ini."

Togog terdiam. Ia menatap gelas kopinya yang sudah dingin. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar. Malam semakin larut.

"Aku akui," kata Togog pelan, "ide Plato tidak sempurna. Tapi setidaknya ia menawarkan visi. Ia memberikan arah. Ia membuat kita berpikir tentang apa itu keadilan yang sejati. Di Astina, kami tidak punya visi. Yang ada hanya Sengkuni yang memelintir kata-kata dan Duryudana yang mengangguk-angguk. Setidaknya Plato memberiku harapan bahwa suatu hari nanti, bisa ada pemimpin yang benar-benar bijaksana."

Petruk menepuk bahu Togog. "Dan aku menghargai harapanmu itu, kawan. Tapi kau tahu, terkadang harapan yang terlalu tinggi bisa membuatmu buta terhadap realitas. Dan di situlah aku berbeda denganmu."


Bagian Tiga: 
Realisme Aristoteles dan Negara Mahjong

Petruk menggeser duduknya, mencari posisi yang lebih nyaman. Matanya berbinar, pertanda ia akan meluncurkan serangan balik. "Gog, kau sudah banyak bicara tentang Plato. Sekarang giliranku. Kau tahu siapa murid Plato yang paling terkenal?"

"Aristoteles," jawab Togog datar.

"Tepat! Aristoteles. Orangnya lebih pendek dari Plato, tapi pikirannya lebih tinggi. Aku tahu, Plato dan Aristoteles sering digambarkan sebagai dua kutub: Plato menunjuk ke atas, ke alam ide. Aristoteles menunjuk ke depan, ke realitas yang bisa kita sentuh dan amati. Dan dalam politik, Aristoteles jauh lebih realistis daripada gurunya."

Togog mendengus. "Aristoteles itu pengkhianat. Dia murid Plato, tapi dia menolak teori ide."

"Bukan menolak, tapi mengkritisi. Itu bedanya, Gog. Dalam ilmu pengetahuan, mengkritisi itu bagian dari penghormatan. Aristoteles tidak percaya ada alam ide yang terpisah dari dunia nyata. Baginya, ide tentang 'ayam' tidak berada di alam ide yang jauh di sana. Ide tentang 'ayam' ada di dalam setiap ayam yang kita lihat. Setiap ayam memiliki esensinya sendiri. Tidak perlu ada 'Ayam Ideal' yang nangkring di alam metafisika."

"Jadi, menurut Aristoteles, ayam dan telur, mana yang lebih dulu?" tanya Togog.

"Pertanyaan bagus," Petruk tersenyum. "Aristoteles akan bilang, ayam dan telur itu saling bergantung. Tidak ada yang lebih dulu. Ayam berasal dari telur, dan telur berasal dari ayam. Ini adalah siklus abadi. Sama seperti negara dan rakyat. Negara membentuk rakyat, dan rakyat membentuk negara. Tidak ada yang mutlak. Semuanya berkembang, berubah, dan bergerak menuju kesempurnaan yang tidak akan pernah tercapai sepenuhnya."

Togog terdiam mendengar penjelasan itu. Ada logika yang sulit dibantah di dalamnya. "Lalu, bagaimana Aristoteles memandang pemerintahan?"

Petruk meneguk kopinya, lalu memulai kuliahnya. "Aristoteles membagi sistem pemerintahan menjadi tiga: monarki, aristokrasi, dan politeia. Monarki adalah pemerintahan oleh satu orang. Aristokrasi oleh sekelompok orang terbaik. Politeia oleh banyak orang. Masing-masing punya versi busuknya. Monarki bisa merosot menjadi tirani. Aristokrasi menjadi oligarki. Politeia menjadi demokrasi, dalam arti yang buruk, yaitu pemerintahan oleh massa yang kacau."

"Jadi Aristoteles tidak suka demokrasi?" tanya Togog, sedikit terkejut.

"Dia skeptis terhadap demokrasi murni. Baginya, demokrasi yang buruk adalah ketika orang-orang miskin yang jumlahnya lebih banyak memerintah hanya untuk kepentingan mereka sendiri, merampas harta orang kaya, dan menciptakan ketidakstabilan. Tapi dia juga tidak suka oligarki, di mana segelintir orang kaya menguasai negara untuk kepentingan mereka sendiri."

"Lalu apa solusinya?"

"Politeia. Sistem campuran," jawab Petruk dengan semangat. "Aristoteles mengusulkan sistem yang menggabungkan elemen-elemen terbaik dari oligarki dan demokrasi. Dari oligarki, kita ambil prinsip bahwa orang-orang yang punya kemampuan lebih, termasuk yang kaya, harus punya peran dalam pemerintahan. Dari demokrasi, kita ambil prinsip bahwa rakyat banyak harus punya suara. Hasilnya adalah sistem yang seimbang, di mana tidak ada satu kelompok pun yang terlalu dominan."

Togog mengernyit. "Tapi oligarki, bagaimanapun juga, adalah pemerintahan oleh orang kaya. Itu bermoral buruk."

"Ah, di situlah kau terlalu hitam-putih, Gog," Petruk menggeleng. "Memangnya di negara yang kau impikan, orang kaya tidak berkuasa? Di Astina, siapa yang mendanai kampanye Duryudana dulu? Siapa yang punya akses langsung ke Istana? Bukankah para pemilik tambang, pemilik perkebunan, pemilik pabrik? Mereka adalah oligarki. Bedanya, di Astina mereka berkuasa secara sembunyi-sembunyi, di balik layar. Di sistem yang Aristoteles bayangkan, mereka diberi tempat yang jelas, dengan aturan main yang jelas, sehingga bisa diawasi."

Togog membalas, "Tapi tetap saja, itu artinya memberikan kekuasaan pada uang, bukan pada kebajikan."

"Kebajikan tanpa uang bisa berbuat apa?" balas Petruk cepat. "Kau ingin membangun sekolah? Butuh uang. Kau ingin membangun rumah sakit? Butuh uang. Dari mana uang itu? Dari pajak. Dan siapa pembayar pajak terbesar? Orang kaya dan perusahaan mereka. Jadi, alih-alih memusuhi mereka, bukankah lebih baik merangkul mereka dalam sistem yang adil?"

Perdebatan berhenti sejenak. Mak Iti datang membawa dua gelas kopi baru. "Ini kopi gratis dari saya. Kalian berdua terlalu serius. Minum dulu, nanti masuk angin."

Petruk berterima kasih, lalu melanjutkan. "Kau tahu, Gog, ada sebuah negara yang menurutku menerapkan sistem campuran Aristoteles dengan cukup baik. Negaranya bernama Mahjong."

"Mahjong? Negara di seberang lautan yang katanya sangat maju itu?"

"Ya. Aku baru saja berkunjung ke sana. Di Mahjong, demokrasi mereka sangat sibuk. Pemilu setiap dua tahun sekali. Kampanye di mana-mana. Baliho kandidat bertebaran seperti jamur di musim hujan. Tapi coba tebak, siapa yang mendanai semua itu?"

"Para oligark," jawab Togog datar.

"Tepat! Di Mahjong, oligarki adalah bagian tak terpisahkan dari sistem. Mereka adalah para bohir, pemilik modal besar, yang mendanai kampanye para kandidat presiden, kandidat anggota legislatif, bahkan kandidat kepala daerah. Mereka seringkali berdiri di semua kaki. Artinya, mereka mendanai semua kandidat, dari partai A sampai partai Z. Siapa pun yang menang, posisi mereka tetap aman."

Togog menggeleng. "Itu kan mengerikan. Itu artinya demokrasi hanya sandiwara. Rakyat memilih, tapi yang berkuasa tetap para pemilik modal."

"Itu kalau dilihat dari kacamata idealismemu yang langit-langit itu," Petruk menunjuk ke atas. "Tapi coba lihat dari bawah. Di Mahjong, karena para oligark mendanai semua kandidat, semua kandidat punya uang untuk kampanye. Kampanye itu menciptakan lapangan kerja: tukang pasang baliho, tukang cetak kaos, tim kreatif, bahkan warung-warung kecil yang menjual makanan saat kampanye. Uang beredar. Ekonomi bergerak. Rakyat dapat hiburan. Dan setelah pemilu selesai, pemenangnya akan membuat undang-undang yang menguntungkan para oligark. Tapi di saat yang sama, mereka juga harus membuat kebijakan yang populis agar bisa terpilih lagi. Jadi, ada keseimbangan."

"Keseimbangan? Itu bukan keseimbangan. Itu transaksi!" protes Togog. "Itu immoral! Oligarki menguasai negara melalui mekanisme transaksional!"

"Dan politik memang transaksional, Gog!" suara Petruk meninggi. "Kau kira di negara Plato yang ideal itu tidak ada transaksi? Setiap pemimpin, bahkan Raja Filsuf sekalipun, pasti akan berhadapan dengan kenyataan bahwa untuk menjalankan kebijakannya, ia butuh dukungan. Dukungan dari siapa? Dari orang-orang yang punya sumber daya. Itu adalah transaksi. Bedanya, di sistem Plato, transaksinya tidak transparan. Di Mahjong, transaksinya terang-terangan. Kau bisa lihat siapa mendanai siapa. Dan rakyat bisa menilai."

Togog menatap Petruk dengan tatapan frustrasi. "Kau membela sistem yang korup."

"Aku tidak membela korupsi. Aku membela realisme," Petruk menatap balik dengan tenang. "Aristoteles mengajarkanku bahwa politik bukanlah tentang menciptakan surga di bumi. Politik adalah tentang mengelola ketidaksempurnaan manusia. Manusia itu egois, serakah, dan seringkali bodoh. Tapi mereka juga punya akal. Sistem politik yang baik bukanlah sistem yang menghilangkan sifat-sifat buruk itu, karena itu tidak mungkin, tapi sistem yang bisa mengarahkannya ke arah yang produktif."

Ia melanjutkan, "Di Mahjong, keserakahan para oligark diarahkan untuk mendanai kampanye. Ambisi para politisi diarahkan untuk bersaing secara sehat dalam pemilu. Dan kebodohan rakyat, maaf, maksudku, keterbatasan informasi rakyat, dilawan dengan membanjiri mereka dengan informasi dari berbagai pihak. Hasilnya? Mahjong adalah salah satu negara dengan ekonomi terkuat di kawasannya."

Togog masih tidak terima. "Tapi di Amarta, sistemnya tidak seperti itu kan? Setahuku Pandawa tidak didanai oleh oligark."

Petruk tertawa kecil. "Oh, Gog. Kau pikir di Amarta tidak ada oligark? Tentu saja ada. Tapi Pandawa berusaha mengaturnya dengan ketat. Mereka mewajibkan semua sumbangan kampanye dilaporkan secara transparan. Mereka membatasi jumlah maksimal sumbangan per orang. Mereka bahkan punya sistem pendanaan publik untuk kampanye, di mana negara memberi uang kepada partai politik agar tidak tergantung pada oligark. Tapi tetap saja, di luar itu semua, para pemilik modal besar tetap punya pengaruh. Dan selama mereka mengikuti aturan main, pengaruh itu tidak selalu buruk. Mereka membuka lapangan kerja. Mereka membayar pajak. Mereka mendorong inovasi."

"Itu hanya pembenaran," gumam Togog.

"Itu realita, kawanku," jawab Petruk lembut. "Dan kau tahu, di Amarta, aku lebih bahagia. Karena saran-saranku, meskipun seringkali mentah dan tidak sempurna, diterima setidaknya 99 persen. Hanya satu persen yang ditolak. Itu pun biasanya dengan syarat-syarat yang masuk akal. Kenapa? Karena Pandawa percaya pada deliberasi. Mereka mungkin lambat dalam mengambil keputusan, tapi setiap keputusan yang mereka ambil sudah mempertimbangkan banyak sudut pandang. Aku tidak harus menjadi filsuf untuk didengar. Aku cukup menjadi Petruk, seorang badut, yang kadang idenya ngawur, tapi kadang juga brilian."

Togog merenung. Ia teringat lagi pada frustrasinya di Astina. 99 persen sarannya ditolak. Bahkan kadang-kadang ia merasa, semakin keras ia berteriak, semakin tidak didengar. Apakah itu karena ia berada di sistem yang salah? Atau karena ia berjuang untuk idealisme yang terlalu tinggi?

"Kau beruntung, Truk," katanya akhirnya. "Kau bekerja untuk orang-orang yang mau mendengar."

"Aku beruntung," Petruk mengangguk. "Tapi keberuntunganku bukan cuma karena bosku baik. Tapi karena sistem di Amarta memaksa bosku untuk mendengarkan. Di Amarta, presiden tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Dia harus melalui parlemen. Dia harus mendengar pendapat rakyat. Dia bahkan bisa digugat ke pengadilan jika kebijakannya dinilai merugikan. Sistem itu memaksanya untuk tidak hanya mendengar saran dari orang-orang yang setuju dengannya, tapi juga dari orang-orang sepertiku, yang suka ngawur."

Togog menatap langit-langit warung kopi yang terbuat dari anyaman bambu. "Jadi, kau lebih memilih Aristoteles daripada Plato?"

"Aku memilih keduanya," jawab Petruk. "Plato memberiku mimpi. Aristoteles memberiku jalan untuk mencapai mimpi itu, meskipun jalannya berlubang dan kadang harus bayar tol. Tanpa mimpi, kita tidak akan bergerak. Tanpa realisme, kita akan tersesat."

Di luar, suara azan subuh mulai berkumandang. Keduanya terkejut, tidak menyangka bahwa perdebatan mereka telah berlangsung semalaman suntuk. Mak Iti, yang sejak tadi tertidur di meja kasir, terbangun dan menguap lebar. "Kalian masih di sini? Sudah subuh. Pulanglah. Istirahat. Nanti kalau mau debat lagi, balik sini. Tapi tolong bawa gorengan sendiri."

Togog dan Petruk saling memandang, lalu tertawa. Mereka bangkit dari duduk, meregangkan badan yang kaku. Di luar, langit mulai berwarna jingga.

"Togog," kata Petruk sebelum berpisah, "aku tidak tahu apakah kau akan tetap bertahan di Astina atau pindah ke Amarta. Tapi satu yang pasti, jangan berhenti menjadi badut. Dunia butuh lebih banyak badut yang kritis, bukan badut yang hanya lucu."

Togog tersenyum. "Dan kau, Petruk, jangan berhenti menjadi cendol yang bikin mules. Dunia butuh lebih banyak orang yang tidak nyaman di perut."

Mereka berdua berpelukan sejenak, lalu berjalan ke arah yang berlawanan. Petruk ke timur, menuju Amarta. Togog ke barat, menuju Astina. Matahari terbit, menyinari dua negara yang berbeda sistem, namun memiliki masalah yang sama: bagaimana menjadi lebih baik.


Bagian Empat: 
Surat untuk Presiden

Kembali ke Astina, Togog tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada perdebatan dengan Petruk. Ia duduk di beranda rumah kontrakannya, menatap jalanan yang masih sepi. Burung kenarinya, Demokrasio, berkicau riang menyambut pagi. Togog mengambil kertas dan pena, lalu mulai menulis.

"Kepada Yth. Bapak Presiden Duryudana (atau siapapun yang saat ini menjabat),"

Ia berhenti. Apakah ia menulis surat untuk Duryudana? Atau untuk dirinya sendiri? Atau untuk Astina?

"Astina yang kucintai sedang tidak baik-baik saja. Aku sudah mencoba, dengan segala keterbatasanku, untuk memberikan saran. 99 persen di antaranya ditolak. Mungkin karena saranku memang buruk. Atau mungkin karena sistem kita tidak dirancang untuk mendengar. Malam tadi, aku berdebat dengan seorang sahabat tentang Plato dan Aristoteles, tentang ayam dan telur, tentang mimpi dan realita. Dan aku sampai pada satu kesimpulan yang merepotkan: mungkin kita butuh sedikit Aristoteles."

Togog memandang tulisannya. Ia tidak percaya ia baru saja menulis kalimat itu.

"Aku masih percaya pada mimpi Plato. Aku masih percaya bahwa suatu hari nanti, Astina bisa dipimpin oleh seorang filsuf, atau setidaknya, seorang pemimpin yang berpikir secara mendasar dan bijaksana. Tapi aku juga sadar, mimpi itu tidak akan tercapai dalam semalam. Dan selama menunggu mimpi itu terwujud, kita butuh sistem yang realistis. Sistem yang bisa melindungi rakyat dari kebodohan para pemimpinnya sendiri. Sistem yang memaksa pemimpin untuk mendengar, meskipun ia tidak mau. Sistem yang memungkinkan saran-saran dari orang-orang seperti aku, orang biasa, badut, rakyat jelata, untuk didengar dan dipertimbangkan."

Ia melanjutkan, "Petruk bilang, di Amarta, 99 persen sarannya diterima. Itu bukan karena Petruk lebih pintar dari aku. Tapi karena di Amarta, presiden tidak bisa memerintah sendiri. Ada parlemen yang mengawasi. Ada pers yang bebas. Ada rakyat yang berani bersuara. Semua itu memaksa Pandawa untuk mendengar. Dan meskipun sistem itu lambat dan kadang menjengkelkan, hasilnya lebih baik."


Togog berhenti menulis. Ia menatap ke luar jendela. Matahari sudah semakin tinggi. Anak-anak mulai beraktivitas, berangkat sekolah. Pedagang sayur mulai lewat dengan gerobaknya. Astina yang riil, bukan Astina yang ideal.

"Jadi, Bapak Presiden," tulisnya melanjutkan, "saran saya yang ke seribu satu kali ini mungkin akan ditolak lagi. Tapi tidak apa-apa. Saya akan tetap menyampaikannya. Mulailah membangun sistem yang tidak bergantung pada satu orang. Bangunlah parlemen yang benar-benar mewakili rakyat. Bebaskan pers. Hentikan pengawasan yang berlebihan. Dan yang paling penting, mulailah mendengar. Bukan hanya mendengar penasihat-penasihat yang mengatakan apa yang ingin Anda dengar. Tapi dengarlah juga para badut yang mengatakan apa yang tidak ingin Anda dengar. Karena di dalam suara kami, ada kebenaran yang mungkin tidak ingin Anda akui."

Ia menandatangani surat itu, lalu melipatnya. Entah akan ia kirim atau tidak, ia sendiri tidak yakin. Mungkin ia akan menyimpannya di laci, sebagai pengingat. Atau mungkin ia akan menerbangkannya ke udara, berharap angin membawanya ke arah yang tepat.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Ada pesan dari Petruk.

"Gog, aku lupa bilang. Aristoteles juga bilang bahwa kebahagiaan adalah tujuan tertinggi manusia. Dan kebahagiaan tidak bisa dicapai sendirian. Kita butuh teman. Jadi, kapan-kapan kita debat lagi ya. Kali ini tentang hedonisme Epikuros. Aku traktir kopi."

Togog tersenyum. Ia membalas, "Siap. Tapi kali ini aku yang pilih tempat. Di warung yang ada WiFi-nya. Aku perlu googling dulu biar tidak kalah lagi."

Togog menaruh ponselnya, lalu mengambil kertas yang berisi surat untuk presiden itu. Ia melipatnya menjadi bentuk burung, sebuah origami sederhana. Ia meletakkannya di dekat sangkar Demokrasio. "Kau lihat ini, Burung? Suatu hari, surat ini akan kubacakan di depan parlemen. Atau mungkin aku akan menyewanya sebagai jalan cerita untuk wayang kardusku."

Demokrasio berkicau, seolah menjawab. Togog menyeruput kopinya yang sudah benar-benar dingin. Rasanya pahit, tapi ia tidak lagi mengeluh.


Bagian Lima: 
Debat Kedua, Malam Ketiga

Beberapa minggu kemudian, Togog dan Petruk bertemu lagi. Kali ini di warung kopi yang berbeda, warung yang lebih modern dengan WiFi cepat dan colokan listrik di setiap sudut. Namanya "Kopi Konstitusi", dan pengunjungnya rata-rata adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dan pegawai negeri yang pura-pura sibuk.

Togog datang lebih awal. Ia membawa buku catatan tebal, penuh coretan-coretan tentang Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf lain yang baru saja ia pelajari. Ia juga membawa satu set wayang kardus baru. Kali ini, wayangnya adalah Plato dan Aristoteles.

Petruk datang setengah jam kemudian, masih dengan kaos oblong dan sandal jepitnya. "Maaf telat. Tadi di perjalanan dicegat Bima. Beliau minta diajari cara bikin wayang kardus. Katanya mau dipakai buat nostalgia."

"Bisma bikin wayang? Untuk apa?" tanya Togog.

"Katanya sih buat koleksi. Tapi aku curiga, beliau mau bikin pertunjukan diam-diam di pendapa. Mengkritik Pandawa dengan cara halus. Katanya, 'Kalau badut saja bisa mengkritik, kenapa resi tidak?' Aku sih setuju-setuju saja."

Mereka berdua tertawa. Kemudian Togog membuka catatannya. "Oke, malam ini aku mau membahas tentang konsep eudaimonia. Menurut Aristoteles..."

"Tunggu dulu, Gog," potong Petruk. "Sebelum kita mulai, aku mau tanya. Bagaimana dengan suratmu untuk presiden? Jadi dikirim?"

Togog terkejut. "Kau tahu soal surat itu?"

"Aku punya mata-mata di mana-mana. Namanya Mak Iti. Beliau cerita kau datang ke warungnya minggu lalu sambil membawa origami berbentuk burung. Katanya kau menangis-nangis sambil baca surat."

"Aku tidak menangis-nangis!" protes Togog. "Aku cuma... berkaca-kaca. Itu beda."

"Ya, ya, terserah. Jadi, suratnya bagaimana?"

Togog menghela napas. "Aku kirim. Tapi bukan ke Duryudana. Aku kirim ke Bisma. Beliau yang membacakan di depan Dewan Wong. Dan kau tahu apa yang terjadi?"

"Apa?"

"Ditolak. Tentu saja. Tapi kali ini penolakannya lebih sopan. Sengkuni bilang, 'Ini pemikiran yang menarik, tapi terlalu prematur untuk Astina.' Dursasana bilang, 'Siapa yang suruh badut ikut campur urusan negara?' Tapi setidaknya, suratku sudah dibaca. Itu sudah lebih dari yang kuharapkan."

Petruk mengangguk. "Itu sudah lumayan, Gog. Langkah kecil. Tapi dari langkah-langkah kecil itulah perubahan besar dimulai. Aristoteles bilang, kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Jadi, keunggulan bukanlah tindakan, melainkan kebiasaan."

"Kau mengutip Aristoteles lagi?"

"Tentu. Aku ini pengagum Aristoteles. Tapi tenang, aku juga masih mengagumi Plato. Terutama idenya tentang cinta Platonik. Itu kan idenya Plato, kan?"

"Itu sih bukan Plato. Itu interpretasi dari Simposium."

"Ah, sama saja. Yang penting kan idenya bagus: mencintai tanpa syarat, tanpa mengharapkan balasan. Seperti aku mencintai Amarta, meskipun kadang Amarta membuatku pusing."

Togog tersenyum. "Kau beruntung punya negara yang bisa kau cintai, meskipun kadang membuatmu pusing. Aku? Aku mencintai Astina, tapi Astina lebih sering membuatku ingin pindah planet."

"Itu karena kau mencintai Astina yang ideal, Gog. Cobalah mencintai Astina yang riil. Yang penuh dengan Sengkuni-Sengkuni licik, Dursasana-Dursasana temperamental, dan Duryudana-Duryudana yang mudah dibodohi. Cintai mereka sebagai manusia. Bukan sebagai tokoh wayang."

Togog terdiam. Kata-kata Petruk menohok. Selama ini, ia memang terlalu sibuk membandingkan realita dengan cita-cita, sampai lupa bahwa realita itu sendiri punya nilainya sendiri. Bahwa Sengkuni, Dursasana, dan Duryudana adalah manusia-manusia yang bisa berubah. Bisa diajak bicara. Bisa disentuh hatinya, meskipun mungkin butuh waktu.

"Baiklah," kata Togog akhirnya. "Aku akan mencoba. Tapi jangan harap aku akan berhenti mengkritik. Itu pekerjaanku."

"Justru. Kritiklah terus. Tapi kritik dengan cinta. Bukan dengan kebencian. Itu bedanya badut yang baik dan badut yang cuma nyinyir."

Malam itu, perdebatan mereka tentang eudaimonia tidak jadi dilakukan. Mereka malah berbicara panjang lebar tentang cinta, tentang negara, tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh di tengah sistem yang rusak. Mereka berbicara sampai pagi, ditemani kopi dan pisang goreng. Dan ketika matahari terbit, mereka berpisah dengan perasaan yang lebih ringan.


Epilog: 
Dua Badut, Dua Negara, Satu Mimpi

Setahun kemudian, Astina dan Amarta menandatangani perjanjian kerja sama baru. Bukan hanya dalam bidang ekonomi dan pertahanan, tapi juga dalam bidang "Pertukaran Kebudayaan dan Intelektual." Salah satu programnya adalah mengirimkan para penasihat untuk magang di negara tetangga.

Togog dikirim ke Amarta. Selama tiga bulan, ia bekerja di bawah pengawasan Petruk, mengamati bagaimana sistem musyawarah dan voting berjalan. Ia menyaksikan sendiri betapa ribetnya rapat-rapat di parlemen Amarta. Betapa banyaknya suara yang harus didengar. Betapa seringnya keputusan ditunda. Tapi ia juga menyaksikan betapa setiap suara dihargai. Betapa bahkan suara seorang badut seperti Petruk dianggap penting.

Sementara itu, Petruk dikirim ke Astina. Ia bekerja di bawah pengawasan Togog, menyaksikan bagaimana Sengkuni masih memelintir kata-kata, bagaimana Dursasana masih suka membanting meja, bagaimana Duryudana masih suka mengangguk-angguk. Tapi ia juga menyaksikan perubahan-perubahan kecil. Dewan Wong mulai berani menyuarakan pendapatnya. Media-media kritis mulai bermunculan. Dan rakyat, yang dulu takut, kini mulai berani mengkritik.

Di akhir masa magang, Togog dan Petruk bertemu lagi di warung Kopi Netral. Mak Iti, yang sudah semakin tua, menyambut mereka dengan hangat.

"Bagaimana, Gog? Amarta menyenangkan?" tanya Petruk.

"Menyenangkan. Tapi melelahkan. Terlalu banyak rapat. Terlalu banyak debat. Aku sampai kangen dengan efisiensinya Astina."

Petruk tertawa. "Dan aku kangen dengan ketenangannya Amarta. Di Astina, setiap hari ada saja drama. Dursasana marah-marah, Sengkuni memelintir kata-kata, Duryudana galau. Seperti sinetron, tapi tanpa iklan."

Mereka berdua tertawa bersama.

"Jadi, Gog," kata Petruk setelah tawa mereka reda. "Setelah semua ini, kau masih percaya pada Plato? Atau kau sudah pindah ke Aristoteles?"

Togog merenung. "Aku masih percaya pada Plato. Tapi aku juga percaya pada Aristoteles. Dan aku juga percaya pada Petruk."

"Wah, itu jawaban yang diplomatis sekali. Kau pasti sudah belajar banyak dari Sengkuni."

"Bukan dari Sengkuni. Dari kau," jawab Togog tulus. "Kau mengajarkanku bahwa tidak ada sistem yang sempurna. Yang ada hanyalah manusia yang terus berusaha memperbaiki sistem itu. Plato memberiku mimpi tentang pemimpin ideal. Aristoteles memberiku realisme bahwa mimpi itu harus disesuaikan dengan kenyataan. Dan kau... kau memberiku pertemanan. Dan itu lebih berharga dari semua filsafat."

Petruk tersenyum. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Sialan, Gog. Kau bikin aku terharu. Nanti kalau aku nangis, kamu yang bayar kopinya."

"Tenang saja. Aku sudah siapkan uang. Gajiku di Astina lumayan besar, meskipun saranku tetap 99 persen ditolak."

Mereka berdua tertawa lagi. Di luar, matahari terbenam, menciptakan langit jingga yang indah. Dua badut, dari dua negara yang berbeda, duduk bersama di warung kopi netral. Mereka tidak lagi berdebat tentang Plato dan Aristoteles. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil: tentang keluarga, tentang hobi, tentang wayang kardus yang mulai laku dijual di pasar. Mereka adalah bukti bahwa persahabatan bisa melampaui ideologi. Bahwa dua orang yang berbeda pendapat bisa tetap saling menghormati. Bahwa tawa, pada akhirnya, adalah bahasa universal yang bisa menyatukan.

Togog menulis status terakhirnya sebelum pulang:

"Plato memberiku ayam. Aristoteles memberiku telur. Petruk memberiku tahu: bahwa ayam dan telur, keduanya enak kalau digoreng. Selamat malam, Astina. Selamat malam, Amarta. Kita bertemu lagi di warung kopi berikutnya."


TAMAT


Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi. Kalau ada kesamaan dengan realitas, itu cuma kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, karena realitas kadang lebih absurd daripada fiksi 

Perang Badut, Togog, Petruk, dan Telur Demokrasi

Posting Komentar

0 Komentar