Apakah dunia benar-benar ditakdirkan untuk berbenturan antara "Barat", "Islam", dan "Konfusian"? Esai ini akan membedah fondasi teori, memetakan arsitektur peta peradaban Huntington, serta mengukur relevansi dan ketidakrelevansiannya di tengah kepungan politik identitas, rivalitas AS-Tiongkok, hingga perang di Gaza dan Ukraina.
Coba kita bayangkan sejenak suasana dunia di awal dekade 1990-an. Tembok Berlin baru saja runtuh, Uni Soviet bubar, dan Perang Dingin yang mencekam selama hampir setengah abad tiba-tiba usai. Suasana dipenuhi euforia. Para pemikir Barat buru-buru menulis obituari bagi sejarah konflik besar. Yang paling terkenal adalah Francis Fukuyama, yang dengan lantang menyatakan bahwa dunia telah mencapai "The End of History", titik akhir evolusi ideologis umat manusia, di mana demokrasi liberal Barat dinyatakan sebagai pemenang akhir yang tak terbantahkan.
Di tengah pesta kemenangan inilah, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Harvard bernama Samuel P. Huntington melontarkan sebuah tesis yang bagai menyiram air dingin ke wajah para optimis. Pada tahun 1993, melalui artikelnya yang menggelegar di jurnal Foreign Affairs, "The Clash of Civilizations?", ia berargumen bahwa runtuhnya Uni Soviet bukanlah akhir dari konflik, melainkan awal dari jenis konflik yang sama sekali baru. Artikel tersebut, menurut para editor jurnal itu, "telah menghasilkan lebih banyak diskusi ketimbang artikel mana pun sejak artikel 'X' karya George Kennan tentang pembendungan (containment) di tahun 1940-an" (Huntington, 1996, hlm. 13).
Apa yang disampaikan Huntington sangat provokatif: "Adalah hipotesis saya bahwa sumber fundamental konflik di dunia baru ini tidak akan terutama bersifat ideologis atau ekonomis. Pembagian besar di antara umat manusia dan sumber dominan konflik adalah kultural." (Huntington, 1993, hlm. 22; 1996, hlm. 20). Pernyataan ini adalah inti dari Teori Benturan Peradaban. Huntington meramalkan bahwa "benturan peradaban akan mendominasi politik global" dan "garis-garis patahan antarperadaban akan menjadi garis pertempuran di masa depan" (Huntington, 1993, hlm. 22).
Tesis ini menjadi kontroversial karena secara fundamental menggeser fokus analisis Hubungan Internasional dari negara-bangsa dan ideologi menuju entitas yang lebih besar, longgar, dan sangat emosional: peradaban. Jika dulu konflik adalah tentang siapa yang memiliki senjata nuklir paling banyak, kini, menurut Huntington, konflik adalah tentang identitas: Siapa Anda? Berdasarkan agama dan budaya apa Anda mendefinisikan diri? Peta dunia dalam pandangan Huntington bukan lagi peta politik yang terdiri dari 193 negara anggota PBB, melainkan peta kultural yang terbagi ke dalam tujuh atau delapan peradaban besar yang siap berbenturan di sepanjang "garis patahan" (fault lines). Esai ini akan mengupas tuntas peta baru konflik tersebut, mengukur seberapa tajam ramalan ini memotret realitas politik internasional hari ini, dan menunjukkan di sisi mana ia justru gagal total.
Fondasi Teori
Untuk memahami Teori Benturan Peradaban, kita harus menempatkannya sebagai sebuah "peta mental" baru untuk menavigasi dunia yang tiba-tiba kehilangan kompas lamanya.Tesis Huntington secara eksplisit dilontarkan sebagai antitesis terhadap tesis "The End of History" yang dipopulerkan oleh Francis Fukuyama. Bagi Fukuyama (1992), kemenangan Barat dalam Perang Dingin adalah bukti bahwa demokrasi liberal dan kapitalisme pasar adalah "titik akhir evolusi ideologis umat manusia" (hlm. xi). Dengan runtuhnya komunisme, tidak akan ada lagi pertarungan ideologi besar; dunia akan memasuki era damai yang dipimpin oleh konsensus nilai-nilai liberal.
Huntington menolak keras optimisme ini. Baginya, sejarah tidak pernah berakhir. Ia adalah siklus abadi dari persaingan dan konflik yang kini bergeser dari basis ideologi ke basis budaya. Huntington menyebut tesis Fukuyama sebagai bagian dari "euforia sesaat" (moment of euphoria) yang gagal memahami kekuatan identitas primordial yang terpendam di bawah permukaan Perang Dingin. "Permukaan politik global yang damai pasca-Perang Dingin itu menipu," tulisnya. "Di bawahnya, bergolak konflik-konflik identitas yang siap meledak" (Huntington, 1996, hlm. 28).
Jika konflik masa depan adalah benturan antarperadaban, lantas apa itu "peradaban"? Huntington mendefinisikannya sebagai "pengelompokan kultural tertinggi dari manusia dan level identitas kultural terluas yang dimiliki manusia, yang membedakan manusia dari spesies lain" (Huntington, 1993, hlm. 24; 1996, hlm. 43). Ia mengidentifikasi peradaban berdasarkan elemen-elemen objektif seperti bahasa, sejarah, agama, adat istiadat, dan institusi, serta elemen subjektif yaitu identifikasi diri masyarakat.
Peradaban bagi Huntington adalah entitas yang jauh lebih besar dan lebih fundamental daripada negara-bangsa. Sebuah negara bisa runtuh, tetapi peradaban tetap bertahan. Inilah yang membedakan teorinya secara radikal dari teori Hubungan Internasional arus utama yang berpusat pada negara (state-centric), seperti Realisme dan Liberalisme. Dalam pandangan Huntington, loyalitas tertinggi manusia bukanlah kepada negara, melainkan kepada "keluarga besar" peradaban mereka. Negara-negara hanyalah "aktor utama" di panggung dunia, tetapi "plot" ceritanya ditulis oleh peradaban.
Garis Patahan Budaya
Dengan kerangka berpikir ini, hipotesis utama Huntington melontarkan tantangan langsung terhadap asumsi fundamental Hubungan Internasional pasca-Perang Dingin. Ia merumuskan tesisnya dalam satu kalimat kunci yang sering disalahpahami: "Benturan peradaban akan mendominasi politik global. Garis-garis patahan antarperadaban akan menjadi garis pertempuran di masa depan." (Huntington, 1993, hlm. 22; 1996, hlm. 20).Frasa "garis patahan" (fault lines) yang dipinjam dari ilmu geologi adalah metafora yang paling kuat dari teori ini. Huntington berargumen bahwa konflik paling brutal dan paling sulit diselesaikan akan terjadi justru di zona-zona perbatasan tempat peradaban yang berbeda bertemu dan saling bergesekan. Contoh paling jelas, menurutnya, adalah garis patahan yang membentang dari ujung Afrika, melalui Timur Tengah, Balkan, Kaukasus, hingga Asia Tengah dan Selatan, garis yang membelah Islam dari Kristen Ortodoks, Hindu, dan peradaban lainnya. Di zona-zona inilah "perang patahan" (fault line wars) akan sering berkobar.
Enam tesis kunci Teori Benturan Peradaban akan memudahkan pemahaman kita dalam merangkum teori Huntington:
Pertama, politik global untuk pertama kalinya bersifat multipolar dan multisivilisasional (multipolar and multicivilizational). Modernisasi tidak sama dengan Westernisasi; negara-negara non-Barat menjadi modern tanpa menjadi Barat (Huntington, 1996, hlm. 20-21). Kedua, keseimbangan kekuasaan antarperadaban sedang bergeser. Pengaruh relatif Barat menurun, sementara peradaban Asia dan Islam bangkit kembali dan semakin asertif (Huntington, 1996, hlm. 81-82).
Ketiga, sebuah tatanan dunia berbasis peradaban sedang muncul. Negara-negara dengan kesamaan budaya bekerja sama satu sama lain, dan upaya untuk memindahkan suatu masyarakat dari satu peradaban ke peradaban lain tidak berhasil (Huntington, 1996, hlm. 121-122). Keempat, klaim universalis Barat semakin membawanya ke dalam konflik dengan peradaban lain, khususnya Islam dan Tiongkok (Huntington, 1993, hlm. 39-42).
Kelima, untuk bertahan hidup di dunia baru ini, Amerika Serikat dan Barat harus meninggalkan pretensi universalismenya, mengkonsolidasi peradabannya sendiri, dan mengakui bahwa intervensinya terhadap urusan peradaban lain mungkin merupakan "satu-satunya sumber instabilitas yang paling berbahaya dalam dunia multipolar dan multisivilisasional yang muncul" (Huntington, 1996, hlm. 310-312). Keenam, tesis sentralnya: "Benturan peradaban adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dunia, dan tatanan internasional berbasis peradaban adalah proteksi paling pasti terhadap perang dunia." (Huntington, 1996, hlm. 321).
Delapan Aktor dalam Drama Global
Dunia seperti apa yang dilukis oleh peta peradaban Huntington, dan di mana kiranya letak titik-titik api potensial yang ia ramalkan? Mengapa peradaban akan berbenturan? Huntington tidak hanya meramalkan benturan; ia menyusun argumen sistematis mengapa peradaban, bukan ideologi, yang menjadi sumber konflik masa depan. Ia mengajukan enam alasan utama (Huntington, 1996, hlm. 20-29):- Perbedaan itu nyata dan fundamental. Peradaban berbeda dalam pandangan fundamental tentang hubungan antara Tuhan dan manusia, individu dan kelompok, warga negara dan negara, orang tua dan anak, serta nilai-nilai tentang kebebasan, kesetaraan, dan hierarki. Perbedaan ini "lebih fundamental ketimbang perbedaan di antara ideologi-ideologi politik dan rezim-rezim politik" (Huntington, 1996, hlm. 26).
- Dunia semakin menyempit. Interaksi global yang meningkat justru memperkuat kesadaran akan perbedaan dan "kesadaran peradaban" (civilization consciousness). Orang menjadi lebih sadar akan apa yang memisahkan mereka dari orang lain.
- Modernisasi ekonomi dan perubahan sosial melemahkan negara-bangsa sebagai sumber identitas dan mendorong kebangkitan gerakan-gerakan keagamaan fundamentalis di seluruh dunia.
- Kesadaran peradaban diperkuat oleh peran ganda Barat. Di satu sisi, Barat berada di puncak kekuasaan. Di sisi lain, dan mungkin sebagai akibatnya, terjadi "kembalinya ke akar" (return to roots) di kalangan peradaban non-Barat.
- Karakteristik dan perbedaan kultural kurang mudah dinegosiasikan dan diselesaikan ketimbang kepentingan ekonomi atau politik. Anda bisa berkompromi soal harga minyak, tetapi Anda tidak bisa berkompromi soal identitas.
- Regionalisme ekonomi sedang meningkat, dan keberhasilannya diperkuat oleh kesamaan budaya. Integrasi ekonomi Eropa yang paling berhasil justru terjadi di antara negara-negara yang berbagi warisan budaya Barat.
Fenomena kunci yang diamati Huntington adalah bahwa negara-negara non-Barat semakin mampu memodernisasi diri tanpa harus menyerap nilai-nilai inti Barat (Westernisasi). Ini adalah pukulan telak terhadap teori modernisasi klasik yang menyamakan modernisasi dengan Westernisasi. Ketika Jepang, dan kemudian Tiongkok, membuktikan bahwa Anda bisa menjadi kaya dan modern sambil tetap mempertahankan nilai-nilai Konfusian Anda, maka mitos bahwa "menjadi modern berarti menjadi Barat" pun runtuh. Inilah awal dari "revolt against the West" dan "the indigenization of non-Western societies" (Huntington, 1996, hlm. 91-101).
Islam dan Konfusian
Huntington memetakan dunia ke dalam delapan peradaban utama: Sinic (Konfusian/Tiongkok), Jepang, Hindu, Islam, Ortodoks (Rusia), Barat (Eropa Barat dan Amerika Utara), Amerika Latin, dan (secara tentatif) Afrika (Huntington, 1996, hlm. 45-47). Namun, di antara kedelapan peradaban ini, dua mendapat sorotan paling tajam sebagai "ancaman" bagi Barat: peradaban Islam dan peradaban Sinic (Konfusian).Terhadap Islam, Huntington mengutip tesis Bernard Lewis tentang "The Roots of Muslim Rage" (1990) dan menyatakan bahwa Islam memiliki "perbatasan berdarah" (bloody borders) karena konflik dengan hampir semua peradaban tetangganya (Huntington, 1996, hlm. 254-258). Terhadap Tiongkok, ia melihat konvergensi kepentingan Konfusian-Islam yang membentuk aliansi "bukan hanya untuk menyeimbangkan kekuasaan Barat, tetapi juga untuk menegaskan identitas non-Barat mereka" (Huntington, 1996, hlm. 238-245). Aliansi "Konfusian-Islam" ini, menurutnya, adalah tantangan geopolitik paling serius bagi Barat di abad ke-21.
Dari peta ini, Huntington membuat sejumlah prakiraan spesifik. Ia memprediksi bahwa "perang patahan" antara Islam dan tetangga-tetangganya akan terus berkobar dan sulit dipadamkan. Ia meramalkan bahwa Rusia akan terus menjadi "torn country" (negara terbelah) yang bimbang antara identitas Barat dan Ortodoks-Slaviknya. Ia memperkirakan bahwa integrasi Eropa yang paling dalam hanya akan terjadi di antara negara-negara Katolik-Protestan Eropa Barat, sementara Yunani Ortodoks dan negara-negara Balkan akan tetap menjadi bagian periferal. Dan yang paling penting, ia memperingatkan bahwa intervensi Barat dalam konflik di perbatasan peradaban lain, terutama di dunia Islam, adalah "jaminan pasti menuju eskalasi konflik" (Huntington, 1996, hlm. 312).
Mengapa Teori Ini Tak Kunjung Mati
Meskipun diperkenalkan lebih dari tiga dekade lalu, teori Huntington terus menjadi rujukan dalam analisis politik global. Mengapa? Karena sejumlah peristiwa kontemporer tampak "berbicara" dalam bahasa yang ia gunakan. Namun, relevansi ini bersifat paradoksal: teori ini seringkali relevan bukan karena ia sepenuhnya benar, melainkan karena ia telah menjadi ramalan yang tergenapi sendiri (self-fulfilling prophecy). Para aktor politik, dengan membaca dan mempercayai tesis Huntington, bertindak seolah-olah dunia memang terbagi ke dalam blok-blok peradaban yang saling bermusuhan, dan dengan demikian, menciptakan konflik yang mereka takutkan.Mari kita perhatikan fenomena politik identitas dan nasionalisme populis. Inilah arena di mana teori Huntington menemukan relevansinya yang paling mencekam: Politik identitas di dalam negeri negara-negara Barat sendiri. Dalam buku terakhirnya, Who Are We? The Challenges to America's National Identity (2004), Huntington membawa tesis benturan peradabannya dari panggung global ke dalam negeri Amerika Serikat. Ia berargumen bahwa imigran Hispanik dalam jumlah besar yang tidak mengasimilasi nilai-nilai Anglo-Protestan akan mengancam identitas inti Amerika. Buku ini menjadi bacaan wajib kaum nasionalis populis dan menjadi dasar intelektual bagi kebijakan-kebijakan anti-imigran, termasuk upaya membangun tembok perbatasan dan "Muslim travel ban".
Beberapa pengamat secara eksplisit menghubungkan kebangkitan Trumpisme dengan kerangka pemikiran Huntington. Jeffrey Haynes mencatat bahwa Trump dan gerakan populis sayap kanan Barat "berhubungan dengan kecenderungan anti-Muslim di masyarakat mereka dan dengan penegasan identitas 'siapa kita' (who we are), yang merupakan manifestasi dari benturan peradaban di dunia saat ini" (sebagaimana dikutip dalam Li, 2024, hlm. 1-2). Ketika politisi berbicara tentang "invasi" imigran Muslim atau "konspirasi globalis" yang mengancam warisan Kristen-Barat, mereka sedang berbicara dalam kosakata Huntington. Politik identitas adalah perwujudan konkret dari "garis patahan" yang kini bergeser dari perbatasan teritorial ke dalam jantung kota-kota Barat sendiri.
Selain itu, mari kita bersama perhatikan fenomena perang, terorisme, dan narasi "benturan." Serangan 11 September 2001 adalah titik balik yang mendorong teori Huntington dari kontroversi akademik menjadi "kebenaran" yang diterima secara luas di koridor kekuasaan. Setelah 9/11, "citra Huntington tentang Islam yang terlibat dalam benturan peradaban dengan Barat menjadi pandangan dominan di kalangan pembuat kebijakan AS" (Shahi, 2017a). Seperti dicatat oleh Shahi (2017b) dalam analisisnya tentang Afghanistan pasca-9/11, "penggambaran Afghanistan sebagai lokasi benturan peradaban seharusnya tidak didasarkan pada retorika politik yang kasual, melainkan pada analisis historis yang serius, yang justru membantah penerapan tesis Huntington terhadap 9/11 dan perang melawan teror di Afghanistan yang dipimpin AS."
Invasi Irak tahun 2003 juga dibenarkan sebagian oleh logika Huntingtonian: Rezim Saddam Hussein dilihat sebagai ancaman dari "peradaban Islam". Yang lebih relevan adalah bagaimana narasi "benturan peradaban" terus digunakan dalam konflik Israel-Palestina terbaru (2023-2024). Sebuah artikel dari tahun 2024 secara eksplisit menyatakan bahwa "wacana benturan peradaban adalah upaya untuk mempertahankan hegemoni Barat di Timur Tengah" dan bahwa narasi ini berfungsi sebagai "ramalan yang tergenapi sendiri" (self-fulfilling prophecy) yang memperburuk konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut (Knihovny.cz, 2024).
Selain itu juga mari kita simak bersama fenomena ketegangan AS-Tiongkok. Bagian dari tesis Huntington yang kini paling sering dikutip oleh para pembuat kebijakan di Washington adalah prediksinya tentang konflik Barat-Konfusian. Rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) saat ini sering dibingkai bukan sekadar sebagai persaingan dua kekuatan besar (great power competition), tetapi sebagai "benturan peradaban" antara Barat yang liberal-demokratis dan Tiongkok yang otoriter-Konfusian.
Pemerintahan Trump dan Biden sama-sama menggunakan retorika yang sangat bernuansa kultural. Ketika para pejabat AS menggambarkan persaingan dengan Tiongkok sebagai "perjuangan antara demokrasi dan otokrasi", mereka sedang meminjam kerangka Huntington. Dari sisi Tiongkok, responsnya juga berbasis peradaban. Untuk melawan narasi Huntington, Tiongkok meluncurkan Global Civilization Initiative (GCI) pada tahun 2023.
Sebuah studi komparatif antara teori Benturan Peradaban dan GCI menyimpulkan bahwa kedua narasi ini kini menjadi "wacana Barat dan Timur mengenai peradaban" yang saling berhadap-hadapan, dengan GCI berfungsi sebagai "kontra-narasi terhadap perang ideasional AS" (Barrech, Malghani, & Naz, 2024). Pertanyaan kritisnya adalah: apakah ini benar-benar benturan peradaban, atau hanya kompetisi geopolitik tradisional yang dibungkus dengan bahasa peradaban untuk mobilisasi massa? Banyak analis, seperti Li Qiang dari Universitas Peking, dengan tegas menyatakan bahwa "konflik antara AS dan Tiongkok saat ini pada hakikatnya bukanlah benturan peradaban, melainkan konflik kepentingan dan ideologi" meskipun "kerangka benturan peradaban tetap memiliki relevansi sebagai alat analisis" (Li, 2021).
Masih dalam konteks “benturan” ini coba perhatikan fenomena kebangkitan "civilization states" dan respons Global South. Salah satu perkembangan paling menarik dalam dua dekade terakhir adalah bagaimana aktor-aktor non-Barat secara sadar mulai mengadopsi dan memformulasikan ulang bahasa "peradaban" untuk memperkuat posisi mereka di panggung global. Tiongkok menyebut dirinya "negara peradaban" (civilization state), bukan sekadar negara-bangsa. Narendra Modi di India secara eksplisit memproyeksikan India sebagai "negara peradaban Hindu". Recep Tayyip Erdoğan di Turki memimpin kebangkitan neo-Ottomanisme. Vladimir Putin merangkul "Eurasianisme" sebagai fondasi ideologis bagi Rusia yang beradab.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tesis Huntington, meskipun mungkin salah secara empiris, telah menjadi senjata diskursif yang ampuh di tangan para pemimpin non-Barat untuk menantang hegemoni nilai-nilai liberal Barat. Mereka berkata: "Kami adalah peradaban yang berbeda, dengan sejarah dan nilai-nilai kami sendiri, dan oleh karena itu kami berhak untuk tidak mengikuti model Barat." Di sinilah letak paradoks terbesar dari teori Huntington: ia awalnya dimaksudkan sebagai peringatan untuk Barat, tetapi justru dipeluk oleh "the Rest" sebagai pembenaran bagi penolakan mereka terhadap universalisme liberal.
Hal lain yang masih dapat kita simak terjadi di muka bumi ini adalah "Clash Within Civilizations." Ini adalah titik di mana Teori Benturan Peradaban menemukan relevansinya yang paling mendalam sekaligus paling ironis. Jika kita mencermati peristiwa-peristiwa dunia kontemporer, konflik paling berdarah justru sering terjadi di dalam peradaban yang sama, bukan di antara peradaban yang berbeda, dan seringkali dipicu oleh pertanyaan mendasar tentang identitas peradaban itu sendiri: "Siapa kita?" Inilah yang disebut sebagai "clash within civilizations".
Fenomena ini paling jelas terlihat di dunia Islam. Perang saudara di Suriah, konflik sektarian antara Syiah dan Sunni di Irak dan Yaman, serta ketegangan internal di negara-negara Muslim tentang peran Islam dalam politik, semua ini adalah konflik intra-peradaban Islam. Persis seperti yang diramalkan Huntington (1996, hlm. 174-175), di dunia di mana modernisasi telah menggerus identitas tradisional, agama bangkit kembali bukan sebagai "candu rakyat" tetapi sebagai "sangkar identitas" yang paling kokoh. Kaum muda Muslim yang terdidik dan urban justru lebih mungkin untuk bergabung dengan gerakan-gerakan Islamis ketimbang orang tua mereka yang hidup di pedesaan.
Namun, "clash within civilizations" tidak hanya terjadi di dunia Islam. Ini adalah fenomena global. Perang Rusia-Ukraina (2022-sekarang) pada hakikatnya adalah perang saudara di dalam peradaban Ortodoks-Slavik, yang dipicu oleh pertanyaan apakah Ukraina harus menjadi bagian dari "Dunia Rusia" (Russkiy Mir) atau berpaling ke Barat. Di Amerika Serikat, polarisasi politik yang akut antara kaum liberal kosmopolitan dan kaum nasionalis populis adalah "clash within Western civilization" tentang bagaimana mendefinisikan identitas Barat di era globalisasi. Sebuah esai provokatif di Boston Globe secara tepat menyatakan bahwa "benturan peradaban yang sesungguhnya akan terjadi di dalam negeri, termasuk di sini, di rumah kita sendiri (...the real clash of civilizations will take place within the West, including here at home)" (Aziz, 2023). Pergeseran fokus dari "clash between" ke "clash within" inilah yang membuat kerangka berpikir Huntington tetap relevan, karena ia dengan cemerlang mengidentifikasi bahwa politik identitas, bukan sumber daya alam, adalah bahan bakar utama konflik di era kita.
Sisi Gelap Paradigma Huntington
Setajam apa pun analisisnya, Teori Benturan Peradaban menghadapi gelombang kritik yang sangat dahsyat, yang menunjukkan keterbatasannya yang serius.Kritik paling fundamental datang dari intelektual Palestina-Amerika, Edward W. Said. Dalam esainya yang terkenal, "The Clash of Ignorance" (2001), Said menolak seluruh fondasi pemikiran Huntington. Ia berargumen bahwa Huntington memperlakukan peradaban sebagai "entitas yang tertutup, tersegel, dan tersekat yang telah dibersihkan dari arus dan kontra-arus yang tak terhitung jumlahnya yang menghidupkan sejarah manusia" (Said, 2001, hlm. 3). Said menyebut tesis Huntington bukan sebagai analisis ilmiah, melainkan sebagai "ideologi" yang berbahaya karena mereduksi identitas manusia yang kompleks menjadi "dunia kartun tempat Popeye dan Bluto saling pukul tanpa ampun" (Said, 2001, hlm. 5). Bagi Said, yang dibenturkan Huntington bukanlah peradaban, melainkan kebodohan tentang peradaban lain.
Selain Said, kritik juga datang dari India, dengan mana Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, dalam bukunya Identity and Violence: The Illusion of Destiny (2006), mengajukan kritik yang sama tajamnya tetapi dari pendekatan yang berbeda. Sen berargumen bahwa teori Huntington melakukan "miniaturisasi manusia" (miniaturization of human beings). Ia memaksa setiap individu untuk masuk ke dalam satu "kotak peradaban" yang tunggal dan tanpa pilihan, seolah-olah seorang Muslim tidak bisa sekaligus menjadi seorang ilmuwan, seorang ibu, seorang penggemar sepak bola, dan seorang aktivis demokrasi. "Identitas bukanlah takdir," tegas Sen (2006, hlm. xii). Setiap manusia memiliki "identitas majemuk" (multiple identities) yang tidak bisa direduksi hanya menjadi satu label peradaban. Dengan memaksakan singularitas identitas, teori Huntington justru menciptakan ilusi "takdir" yang bisa menjadi bumerang kekerasan.
Kritik yang paling merusak dari sudut pandang ilmiah adalah kritik empiris. Jika tesis Huntington benar, seharusnya sebagian besar konflik setelah Perang Dingin terjadi melintasi garis peradaban. Namun, riset-riset kuantitatif justru menunjukkan sebaliknya. "Mayoritas besar konflik bersenjata di era pasca-Perang Dingin terjadi di dalam peradaban, bukan di antara peradaban," simpul sebuah studi yang menguji klaim Huntington (Gleditsch & Rudolfsen, dikutip dalam Jurnal Studi Perdamaian, 2022). Perang saudara di Rwanda, Sudan, Suriah, Myanmar, dan Ukraina, semua terjadi di dalam batas peradaban yang sama. Bahkan, seperti yang kita bahas sebelumnya, konflik paling mematikan abad ini justru seringkali terjadi di dalam satu peradaban.
Selain itu, kritik juga datang dari perspektif ekonomi-politik dan Feminis. Para sarjana ekonomi-politik mengkritik Huntington karena mengabaikan akar material dari konflik. Bagi mereka, apa yang tampak sebagai "benturan peradaban" seringkali hanyalah konflik kelas, perebutan sumber daya, atau resistensi terhadap ketimpangan ekonomi global yang dibungkus dengan bahasa agama. Gerakan-gerakan Islamis di Timur Tengah, misalnya, tidak bisa dipahami tanpa mempertimbangkan pengangguran massal kaum muda, korupsi rezim yang didukung Barat, dan ketimpangan pendapatan yang kronis.
Kritik feminis menambahkan dimensi yang lebih dalam lagi: teori Huntington sama sekali mengabaikan dinamika gender. Padahal, kontrol atas tubuh perempuan, kebijakan keluarga, dan pertanyaan tentang "nilai-nilai tradisional" versus "nilai-nilai Barat" seringkali menjadi medan pertempuran paling nyata dari apa yang disebut sebagai "benturan peradaban". Perdebatan tentang jilbab di Prancis, tentang hak-hak reproduksi di Polandia, atau tentang "propaganda LGBT" di Rusia, semua ini adalah "benturan" yang tidak bisa dijelaskan oleh Huntington, karena ia tidak pernah memperhitungkan bahwa separuh dari populasi setiap peradaban memiliki pengalaman yang berbeda secara fundamental dari separuh lainnya.
Penutup
Setelah kita tapaki lorong panjang pemikiran Huntington, dari fondasi teorinya hingga kritik yang menggoyahkannya, sampailah kita pada pertanyaan pamungkas: Bagaimana kita harus menyikapi teori ini? Teori Benturan Peradaban adalah salah satu dari sedikit teori dalam ilmu sosial yang memiliki kekuatan performatif, ia tidak hanya mendeskripsikan dunia, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengubahnya. Seperti peta yang dibawa oleh penjelajah, peta peradaban Huntington telah membentuk cara para pembuat kebijakan, jurnalis, dan warga biasa melihat dunia. Dan karena mereka melihat dunia melalui lensa ini, mereka bertindak seolah-olah dunia memang seperti itu.Ini adalah "ramalan yang tergenapi sendiri" (self-fulfilling prophecy). Ketika para pemimpin Barat dan Timur sama-sama percaya bahwa mereka terlibat dalam benturan peradaban, mereka menciptakan kebijakan-kebijakan yang memperuncing permusuhan, memperkuat stereotip, dan pada akhirnya, membuat konflik yang mereka takutkan menjadi kenyataan. Sebuah studi Malaysia secara eksplisit menyatakan bahwa "narasi ini berfungsi sebagai ramalan yang tergenapi sendiri, memperburuk konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut" (Jurnal Studi Malaysia, 2024). Dalam pengertian ini, teori Huntington adalah bumerang intelektual: ia menciptakan musuh yang ingin ia lawan.
Namun, akan naif untuk menolak mentah-mentah tesis Huntington. Di balik semua generalisasinya yang kasar dan prediksinya yang gagal, ia menangkap satu kebenaran fundamental yang sering diabaikan oleh teori-teori Hubungan Internasional arus utama: identitas itu penting. Orang rela mati, membunuh, dan menghancurkan bukan hanya untuk uang atau kekuasaan, tetapi juga untuk rasa memiliki, untuk pengakuan, untuk mempertahankan siapa diri mereka. Dan di era globalisasi yang mengguncang semua kepastian identitas tradisional, politik identitas, baik dalam bentuk kebangkitan agama, nasionalisme populis, maupun "clash within civilizations", akan menjadi salah satu kekuatan paling menentukan dalam politik global abad ke-21.
Jadi, apakah dunia sedang menuju benturan peradaban? Jawabannya: Ya dan Tidak. Bukan antara blok-blok monolitik yang digambarkan Huntington, melainkan di dalam setiap peradaban, di setiap perbatasan, dan di setiap hati manusia yang bimbang antara membuka diri pada yang lain atau menutup diri dalam sangkar identitas. Tugas kita sebagai warga dunia yang bertanggung jawab bukanlah memilih salah satu sisi dalam benturan yang diramalkan Huntington, melainkan menolak logika benturan itu sendiri dan membangun jembatan-jembatan di atas garis-garis patahan, baik yang ada di peta dunia maupun yang ada di dalam jiwa kita sendiri.
Referensi
Aziz, O. (2023, 31 Desember). The real ‘clash of civilizations’ will happen at home. Boston Globe.Barrech, D., Malghani, Z., & Naz, S. (2024). A comparative analysis between clash of civilizations and the Global Civilization Initiative. Asia-Pacific Journal, 42(42). https://doi.org/10.47781/asia-pacific.vol42.Iss42.7405
Fukuyama, F. (1992). The end of history and the last man. Free Press.
Huntington, S. P. (1993). The clash of civilizations? Foreign Affairs, 72(3), 22–49.
Huntington, S. P. (1996). The clash of civilizations and the remaking of world order. Simon & Schuster.
Huntington, S. P. (2004). Who are we? The challenges to America's national identity. Simon & Schuster.
Li, Q. (2021). The clash of civilizations and the future of the world order: Revisiting Huntington's The Clash of Civilizations. Journal of Peking University (Philosophy and Social Sciences), 58(3).
Said, E. W. (2001, 22 Oktober). The clash of ignorance. The Nation. https://public.websites.umich.edu/~elias/Courses/War/said.htm
Sen, A. (2006). Identity and violence: The illusion of destiny. W. W. Norton & Company.
Shahi, D. (2017a). Understanding post-9/11 Afghanistan: A critical insight into Huntington's civilizational approach. E-International Relations Publishing.
Shahi, D. (2017b). The clash of civilizations thesis: A critical appraisal. E-International Relations. https://www.e-ir.info/2017/04/02/the-clash-of-civilizations-thesis-a-critical-appraisal/
Ziglôbitha. (2024). Two turbulent decades in the new millennium: To what extent was a ‘clash of civilizations’ inevitable? Ziglôbitha, (10). https://doi.org/10.47781/asia-pacific.vol42.Iss42.7405

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.