Geopolitik Kritis dipelopori oleh Gearóid Ó Tuathail dan Simon Dalby, pendekatan ini bukan sekadar teori, melainkan pisau analisis untuk membongkar kepentingan tersembunyi di balik setiap narasi “ancaman”, “tanah air”, atau “dunia bebas”. Dengan bahasa yang populer, esai ini akan membedah fondasi teori, arsitektur diskursus, dan relevansinya yang mengejutkan di era perang modern, kebangkitan Global South, serta revolusi kecerdasan buatan.
Pernahkah Anda mendengar istilah “poros kejahatan” (axis of evil), “negara poros”, atau “ancaman global”? Istilah-istilah ini terdengar begitu meyakinkan dan seolah menggambarkan realitas dunia yang tak terbantahkan. Geopolitik, yang dipahami secara konvensional, seringkali tampil sebagai ilmu yang mempelajari pengaruh faktor geografis, seperti posisi strategis, sumber daya alam, dan bentang alam, terhadap perilaku politik internasional. Tokoh klasik seperti Halford Mackinder dengan teori “Daerah Jantung” (Heartland) seolah memberikan formula ilmiah bahwa siapa yang menguasai suatu ruang, ia akan menguasai dunia.
Namun, apa jadinya jika kita berhenti sejenak dan bertanya: Siapa yang menulis narasi “poros” itu? Mengapa suatu tempat dianggap penting dan tempat lain diabaikan? Untuk kepentingan siapa sebuah ruang “diciptakan” sebagai ancaman?
Di sinilah Geopolitik Kritis hadir. Ia tidak mempercayai klaim objektivitas seperti itu. Bagi para pemikirnya, geopolitik bukanlah sekadar penggambaran netral tentang fakta-fakta geografis. Geopolitik adalah sebuah “praktik diskursif” (discursive practice) yang secara aktif memproduksi dan melegitimasi kepentingan kekuasaan tertentu. Pendekatan radikal ini dipelopori oleh dua geografer politik kenamaan, Gearóid Ó Tuathail (sering juga ditulis Gerard Toal) dan Simon Dalby.
Bayangkan ini seperti seorang pelukis yang menghasilkan potret. Pelukis itu tidak hanya “meniru” realitas, ia memilih sudut pandang, membubuhkan warna tertentu, dan menyembunyikan detail lain. Hasilnya adalah sebuah representasi yang sarat interpretasi. Begitu pula dengan geopolitik: para pemikir dan negarawan adalah pelukis yang menciptakan potret “ruang global” demi tujuan-tujuan politis. Maka dari itu, untuk memahami politik internasional hari ini, kita harus berhenti sekadar menghafal peta dan mulai bertanya: siapa yang melukis peta ini, dengan kuas apa, dan demi uang siapa?
Fondasi Filosofis
Untuk membangun argumennya, Geopolitik Kritis tidak bisa dilepaskan dari tiga raksasa pemikiran kritis kontemporer: Michel Foucault, Jacques Derrida, dan Edward Said. Ketiganya menyediakan peralatan konseptual bagi Ó Tuathail dan Dalby untuk membongkar apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai fakta keras.Gagasan Foucault tentang hubungan yang tak terpisahkan antara kuasa dan pengetahuan (power/knowledge) adalah mesin penggerak utama Geopolitik Kritis. Bagi Foucault, kuasa tidak hanya bersifat represif (melarang dan menindas), tetapi juga produktif: Ia memproduksi realitas, bidang objek, dan ritual kebenaran. Kuasa dan pengetahuan saling mendefinisikan; tidak ada relasi kuasa tanpa pembentukan bidang pengetahuan yang berkorelasi, begitu pula sebaliknya (Foucault, 1977, hlm. 27). Pengetahuan, dengan demikian, tidak pernah netral.
Dari sinilah Geopolitik Kritis berangkat. Ia memperlakukan teori-teori geopolitik klasik, mulai dari Mackinder hingga Alfred Thayer Mahan, bukan sebagai teori ilmiah yang menemukan “kebenaran” geografi politik, melainkan sebagai wacana yang terlibat dalam permainan kuasa. Wacana (discourse) di sini, mengikuti definisi Foucault, adalah serangkaian pernyataan yang menghasilkan objek pembicaraan, posisi subjek, dan strategi institusional (Foucault, 1972, hlm. 49-50).
Geopolitik adalah wacana karena ia memproduksi “Timur Tengah” sebagai wilayah yang “kacau”, “Balkan” yang “primitif”, atau “Barat” yang “rasional dan maju”. Semua label ini melayani kepentingan geopolitik tertentu dan memungkinkan intervensi. Sebagaimana dicatat oleh Neil Smith, pengaruh intelektual terhadap proyek Ó Tuathail terutama berasal dari gagasan Michel Foucault tentang sejarah sebagai ‘genealogi’ dan teori Jacques Derrida tentang dekonstruksi tekstual.
Jika Foucault menyediakan teori tentang kuasa, maka Derrida, melalui filsafat dekonstruksinya, menyediakan metode membaca yang kritis. Dekonstruksi bukanlah penghancuran teks, melainkan pembongkaran atas oposisi biner yang hierarkis, Barat/Timur, modern/primitif, kita/mereka, tertib/kacau, untuk menunjukkan bahwa makna tidak stabil, melainkan selalu merupakan konstruksi bahasa. Dalam geopolitik, oposisi biner ini sangat jelas: “Kita” adalah peradaban, “mereka” adalah ancaman. Geopolitik Kritis membaca teks-teks strategis dari pidato menteri luar negeri, memo kebijakan, artikel berita, hingga film Hollywood, untuk menunjukkan bagaimana teks-teks ini membangun dunia melalui oposisi tersebut. Ini persis seperti yang dimaksud Ó Tuathail sebagai “politics of writing global space” (politik penulisan ruang global). Penulisan itu sendiri adalah tindakan politis.
Kontribusi besar lainnya berasal dari Edward Said melalui mahakaryanya, Orientalism (1978). Said menunjukkan bagaimana Barat, selama berabad-abad, telah membangun citra tentang “Timur” (Orient) bukan sebagai tempat nyata, melainkan sebagai konstruksi imajinatif yang eksotis, terbelakang, despotik, dan feminin, citra yang melegitimasi kolonialisme Eropa. Said menyebut proses ini sebagai penciptaan “imaginative geographies” (geografi imajinatif). Ini adalah representasi tentang orang dan tempat yang mengekspresikan persepsi, hasrat, fantasi, dan proyeksi dari para penulisnya, yang umumnya adalah pengamat eksternal.
Ó Tuathail dan Dalby mengadopsi konsep ini secara penuh. Bagi mereka, geopolitik pada hakikatnya adalah praktik penciptaan geografi imajinatif dalam skala dan intensitas yang massif. Ketika sebuah negara adidaya berbicara tentang “kawasan strategis” atau “negara gagal”, ia sejatinya sedang memproduksi geografi imajinatif versinya sendiri. Konsep ini menjadi senjata analitis yang sangat ampuh untuk memahami hampir semua fenomena internasional hari ini.
Bongkar Kuasa Geopolitik
Setelah memahami fondasi filosofisnya, mari kita bongkar arsitektur utama dari teori Geopolitik Kritis itu sendiri, yang sebagian besar dikanonisasi oleh dua teks fundamental: Critical Geopolitics (Ó Tuathail, 1996) dan Rethinking Geopolitics (Dalby & Ó Tuathail, 1998).Geopolitik lama, atau “geopolitik klasik”, adalah produk dari era imperialisme akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia berpura-pura menjadi sains yang objektif. Mackinder (1904), misalnya, membagi dunia menjadi “Pulau Dunia”, “Bulan Sabit Dalam”, dan sebagainya, yang secara implisit adalah sebuah rekomendasi strategis bagi Kerajaan Inggris untuk mengelola persaingan dengan kekuatan darat (Jerman/Rusia). Bagi Ó Tuathail, ini bukanlah ilmu, melainkan “imperial incitement” , hasutan imperial , yang membingkai dunia dari kacamata superioritas Barat.
Geopolitik Kritis kemudian melakukan pembalikan: Ia tidak lagi bertanya “faktor geografis apa yang menentukan politik luar negeri?”, tetapi bertanya “bagaimana praktik diskursif tentang politik luar negeri dan keamanan menghasilkan pemahaman kita tentang geografi itu sendiri?” Ini adalah pergeseran yang revolusioner. Objek analisisnya berpindah dari wilayah (territory) ke wacana (discourse).
Seperti yang sudah kita sentuh, kalimat pertama Ó Tuathail adalah kunci. “Geography is about power.” Dalam kerangka ini, ‘power’ (kekuasaan) bukan hanya kapasitas militer atau ekonomi, tetapi terutama kekuasaan untuk merepresentasikan, untuk menamai, dan untuk mengkategorikan. Inilah kuasa diskursif. Politik global dipahami sebagai proses tak terhentikan dari “spatializing” (meruang-wilayahkan) dan “scripting” (menaskahkan) peristiwa-peristiwa internasional. Para aktor politik secara konstan ‘menspasialisasi’ politik internasional dan merepresentasikannya sebagai sebuah ‘dunia‘ yang dicirikan oleh tipe-tipe tempat tertentu. Contoh sederhana: menyebut suatu negara sebagai “poros” adalah sebuah skenario spasial. Tiba-tiba, sebuah hubungan bilateral seketika menjadi masalah global yang terletak di pusat sebuah poros jahat.
Geo-Power
Ó Tuathail memperkenalkan konsep “geo-power” (geo-kuasa) untuk menjelaskan secara lebih presisi bagaimana kuasa dan pengetahuan geografis berkelindan. Geo-power adalah “the governmentalization of geographical knowledge by the state” (governmentalisasi pengetahuan geografis oleh negara) (Ó Tuathail, 1996, hlm. 7). Ini adalah proses di mana negara mengumpulkan, mengelola, dan menggunakan informasi geografis, mulai dari pemetaan, sensus, survei sumber daya, hingga citra satelit, untuk mengadministrasi penduduk dan teritorinya, serta untuk menjalankan strategi keamanan dan perang. Dengan kata lain, dari sensus penduduk hingga penargetan drone, semuanya adalah bentuk geo-power. Pengetahuan adalah alat kelola, dan alat kelola adalah kuasa. Ini adalah jantung dari geopolitik modern.Geopolitical Imaginations
Produk dari geo-power dan praktik diskursif adalah apa yang disebut sebagai “geopolitical imaginations” (imajinasi geopolitik). Imajinasi ini adalah cara-cara spesifik di mana kita memandang dunia, membaginya ke dalam “kawasan”, mengidentifikasi “ancaman”, dan mendefinisikan tempat kita di dalamnya.Contoh klasik adalah “Perang Dingin”. Ini bukan hanya periode historis, tetapi sebuah imajinasi geopolitik yang kuat yang membagi dunia menjadi blok “Timur” vs “Barat”, “Komunisme” vs “Dunia Bebas”. Imajinasi ini begitu hegemonik sehingga semua peristiwa, dari kudeta di Amerika Latin hingga perang di Vietnam, dipahami melalui lensa biner tersebut. John Agnew secara khusus menyebut ini sebagai “modern geopolitical imagination”, yang ia kaitkan dengan pengalaman historis Eropa sejak abad ke-16.
Diketemukannya tiga dimensi geopolitik yaitu: Formal, Praktis, dan Populer merupakan kontribusi paling orisinal dan berguna dari Geopolitik Kritis. Untuk menganalisis bagaimana geo-power bekerja dan imajinasi geopolitik disebarkan, sarjana Geopolitik Kritis membagi medan diskursif ke dalam tiga dimensi yang saling terkait. Handbook of Critical European Studies mengerucutkannya menjadi tiga dimensi inti yang heuristik: Formal, Praktis, dan Populer.
- Geopolitik Formal (Formal Geopolitics). Ini adalah ranah para ahli strategi, akademisi, dan intelektual think-tank. Merekalah yang memproduksi teori-teori “ilmiah” tentang mengapa suatu ruang penting secara strategis. Pidato Mackinder tentang ‘Pivot Area’ adalah geopolitik formal. Buku-buku kontemporer seperti The Clash of Civilizations oleh Huntington atau The Revenge of Geography oleh Kaplan juga masuk dalam kategori ini (Dalby, 2008, hlm. 416).
- Geopolitik Praktis (Practical Geopolitics). Ini adalah wacana geopolitik yang dijalankan oleh para negarawan, diplomat, dan birokrat militer dalam kegiatan sehari-hari mereka. Ini adalah pernyataan menteri luar negeri, doktrin keamanan nasional, memo kebijakan luar negeri, dan bahasa diplomasi. Misalnya, ketika seorang presiden mengatakan, “Kami akan pergi ke sana bukan untuk berperang, tapi untuk membawa demokrasi,” ia sedang menjalankan geopolitik praktis. Inilah yang awalnya menjadi fokus utama analisis Geopolitik Kritis.
- Geopolitik Populer (Popular Geopolitics). Ini adalah ranah yang paling merakyat dan seringkali paling berpengaruh. Geopolitik populer mengeksplorasi bagaimana budaya populer, film Hollywood, novel spionase, berita televisi, video game, meme internet, hingga pertandingan olahraga, mereproduksi dan menaturalisasi imajinasi geopolitik tertentu. Film Rambo III (1988) yang menunjukkan Rambo bekerja sama dengan Mujahidin Afghanistan melawan Soviet adalah contoh geopolitik populer yang ikut mengkonstruksi “pejuang kemerdekaan” yang kemudian hari dikonstruksi ulang sebagai “teroris”. Begitu pula film superhero James Bond yang selalu menyelamatkan dunia dari ancaman spektakuler, menanamkan pemahaman tentang siapa agen moral dan siapa penjahat dalam tatanan global.
Ketiga dimensi ini tidak terpisah, melainkan saling menggemakan dan memperkuat satu sama lain membentuk sebuah “konstelasi geopolitik kritis” (Dalby & Ó Tuathail, 1996).
Lalu, apa yang mesti dilakukan oleh seorang analis Geopolitik Kritis? Simon Dalby dengan tegas menyatakan bahwa tugas utama dari apa yang kemudian menjadi Geopolitik Kritis adalah “the need to expose the complicity of geopolitics with domination and imperialism” (kebutuhan untuk menyingkap persekongkolan geopolitik dengan dominasi dan imperialisme). Ini adalah misi politik yang eksplisit: Bukan sekadar memahami, tetapi menggugat.
Metodologinya adalah analisis wacana (discourse analysis). Ini dimulai dari analisis tekstual, menelusuri jejak-jejak wacana dalam dimensi formal, praktis, dan populer, dengan dekonstruksi sebagai strategi pembacaan utama. Seorang analis, misalnya, akan membongkar pidato kenegaraan, tidak untuk menilai benar atau salahnya, tetapi untuk mengungkap asumsi-asumsi yang tak terucapkan, oposisi biner yang digunakan, subjek yang dibungkam, dan kepentingan yang dilegitimasi. Ini adalah kerja detektif diskursif.
Relevansi dan Ketidakrelevansian di Abad ke-21
Setelah lebih dari dua dekade, apakah pisau analisis Geopolitik Kritis masih tajam? Jawabannya, dengan beberapa syarat, adalah: Sangat relevan, bahkan mungkin lebih relevan dari sebelumnya. Namun, ia juga menghadapi beberapa keterbatasan serius yang lahir dari perubahan lanskap global.Relevansi pertama adalah diskursus identitas dan perang, dengan studi kasus invasi Rusia ke Ukraina. Tidak ada laboratorium yang lebih sempurna bagi Geopolitik Kritis selain perang Rusia-Ukraina. Ini bukan sekadar perang tank dan artileri, tetapi perang wacana yang intens. Rusia dan Barat sama-sama secara masif menjalankan geopolitik formal, praktis, dan populer. Ambil contoh Rusia. Jauh sebelum invasi penuh 2022, Rusia telah mengembangkan wacana “Russkiy Mir” (Dunia Rusia).
Melalui analisis wacana kritis dengan kerangka Geopolitik Kritis, sebuah studi menunjukkan bagaimana Ukraina dalam wacana ini “dibayangkan sebagai inti dari Russkiy Mir dan karena itu pada esensinya adalah Rusia.” (Appels, 2024, hlm. iii). Sementara itu, Kazakhstan diimajinasikan secara berbeda: Ia ‘berutang’ eksistensinya pada Rusia dan Soviet. Ini adalah contoh sempurna bagaimana geopolitik praktis (pernyataan resmi Kremlin) didukung oleh geopolitik formal (teori Eurasianisme oleh para intelektual seperti Aleksandr Dugin) untuk menciptakan geografi imajinatif yang melegitimasi agresi.
Di sisi lain, sebuah riset terbaru tentang disinformasi Rusia terhadap Polandia dalam konteks perang Ukraina menggunakan Geopolitik Kritis sebagai kerangka kerja. Riset tersebut menemukan empat narasi disinformasi utama: a) Imperialisme Polandia; b) Hubungan Polandia-Ukraina; c) Persiapan perang; d) Likuidasi Polandia. Narasi-narasi ini adalah geopolitik dalam bentuknya yang paling murni: Mereka menulis ulang ruang persepsi publik untuk tujuan strategis. Penelitian ini secara eksplisit membuktikan penerapan Geopolitik Kritis untuk memahami peperangan informasi kontemporer.
Bahkan, respon Eropa pun bisa dianalisis dengan cara ini. Kebangkitan wacana “kedaulatan strategis” (strategic sovereignty) di Uni Eropa, yang mengonstruksi Eropa sebagai benteng yang terkepung, adalah sebuah adopsi wacana geopolitik itu sendiri. Dengan meminjam institusionalisme diskursif dan Geopolitik Kritis, kita bisa melihat bagaimana para pemimpin UE melegitimasi instrumen kekuasaan baru dengan menancapkannya pada imajinasi ruang seperti “Eropa inti” (core Europe) melawan “garis depan timur” (eastern frontline). Ini menunjukkan bahwa para “aktor” kini sudah melek geopolitik, dan secara sadar menggunakan wacana sebagai senjata.
Relevansi kedua adalah menciptakan “Global South” yang merupakan dekonstruksi atas label politik. Istilah “Global South” (Selatan Global) kini begitu populer. Dari pertemuan G20 hingga krisis iklim, semua orang membicarakannya. Bagi seorang Geopolitik Kritis, ini adalah objek analisis yang menggiurkan. Apa itu Global South? Apakah ia sebuah fakta geografis? Sama sekali tidak. Istilah ini adalah konstruksi diskursif yang ampuh. Negara-negara seperti India, Brasil, Indonesia, atau Afrika Selatan secara geografis tidak semuanya berada di selatan, dan kesamaan mereka lebih pada pengalaman historis kolonialisme dan deprivasi ekonomi.
Geopolitik Kritis akan bertanya: Siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini dan untuk tujuan apa? Apakah ia melayani kepentingan negara-negara “utara” untuk mengelompokkan dan mengelola “yang lain” dalam satu kategori besar yang bisa dinegosiasikan secara massal? Ataukah ini sebuah strategi dari negara-negara bekas jajahan untuk menciptakan identitas politik bersama dan meningkatkan posisi tawar mereka? Federico Ferretti (2023) dalam Political Geography memperingatkan bahaya esensialisasi satu gagasan tunggal tentang 'Global South', dan sebaliknya mengadvokasi untuk menghubungkan Geopolitik Kritis dengan pendekatan dekolonial untuk mempelajari pluralitas ‘Selatan-Selatan’ yang ada. Ini adalah pendalaman dari Geopolitik Kritis itu sendiri: Tidak berhenti pada dekonstruksi, tapi menolak untuk mengganti satu dogma dengan dogma lainnya. Jadi, relevansi di sini bukan hanya untuk membongkar, tapi juga untuk menawarkan cara pandang yang lebih plural.
Sementara itu, terdapat pula argumen bahwa Geografi Kritis telah mengalami ketidakrelevansian dan kritik internal, dan ini di antaranya disuarakan oleh penganut Feminisme. Meski tajam, Geopolitik Kritis tidak luput dari kritik, dan di sinilah letak ‘ketidakrelevansian parsial’-nya yang justru membuatnya terus berkembang.
Kritik dari Geopolitik Feminis atas Geopolitik Kritis. Para sarjana feminis melancarkan kritik paling fundamental. Mereka menuduh Geopolitik Kritis terlalu asyik dengan dekonstruksi tekstual dan melupakan tubuh, terutama tubuh-tubuh yang paling rentan terkena dampak langsung kekerasan geopolitik. Geopolitik Feminis, sebagai sebuah tanggapan, menempatkan tubuh dan praktik sehari-hari di pusat analisis. Mereka bertanya: di mana perempuan, anak-anak, dan kelompok marginal dalam narasi-narasi besar geopolitik? Bagaimana kebijakan luar negeri dirasakan dalam kehidupan intim dan domestik? Ini adalah pukulan yang amat keras bagi Geopolitik Kritis yang cenderung elitis dan logosentris.
Kritik dari Neil Smith dan “Soal Kelas.” Neil Smith (2000) dalam esainya yang provokatif, Is a critical geopolitics possible?, mempertanyakan fondasi Foucauldian-nya. Ia berargumen bahwa dengan terlalu menekankan pada wacana, Geopolitik Kritis telah mengabaikan realitas material yang keras, terutama dinamika kelas dan kapitalisme. Baginya, perang dan imperialisme didorong bukan hanya oleh konstruksi diskursif ‘musuh’, tetapi juga oleh logika akumulasi kapital, ekspansi pasar, dan perebutan sumber daya yang sangat material.
Kritik terhadap fokus tekstual dalam Geografi Kritis. Nigel Thrift sejak tahun 2000 telah memperingatkan tentang “mesmerized attention to texts and images” yang dapat mengabaikan ‘hal-hal kecil’ (the little things) dalam kehidupan. Ini mendorong gelombang baru dalam studi ini untuk melihat lebih pada materialitas, afek, emosi, dan praktik, mendorong apa yang disebut sebagai “post-critical geopolitics.”
Jadi, di satu sisi, fokus awal Geopolitik Kritis pada analisis teks memang bisa dianggap “ketinggalan zaman” di era di mana perang terjadi melalui drone, algoritma, dan manipulasi siber yang bekerja di luar mekanisme tekstual konvensional.
Sementara itu, relevansi ketiga dari Geografi Kritis adalah munculnya gelombang baru, AI, media digital, dan disinformasi. Justru di sinilah Geopolitik Kritis kembali menemukan relevansinya, dengan beradaptasi. Arena baru geopolitik kini adalah data, algoritma, dan kecerdasan buatan (AI). AI telah berevolusi dari sekadar alat teknologi menjadi aktor geo-strategis yang mendefinisikan ulang dinamika kekuasaan global (Trends Research, TRENDS Report, 2025). Ekstraksi data dari negara-negara Selatan Global oleh perusahaan teknologi raksasa di Utara adalah bentuk baru dari imperialisme dan ketergantungan, sebuah bentuk neo-ekstraktivisme.
Bagaimana Geopolitik Kritis bisa dipakai? Sempurna. Proyek AI Geopolitik adalah tentang menaskahkan dunia. Ketika kita berbicara tentang “AI yang bertanggung jawab” dari Barat vs. “AI otoriter” dari Tiongkok, kita sedang menyaksikan geopolitik praktis dan formal bekerja dalam bentuk paling modern. Sebuah studi terbaru menunjukkan bagaimana para sarjana Tiongkok, dengan menarasikan AI, turut membentuk apa yang bisa disebut “tradisi geopolitik AI Tiongkok” (Chinese AI geopolitical tradition) (Narrating Chinese AI Geopolitical Tradition, 2025). Ini adalah geopolitik formal dalam balutan teknologi tinggi.
Sementara itu, di ranah media, konsep “framing” dan “representasi” menjadi sangat penting. Sebuah penelitian yang menggabungkan teori pembingkaian media, studi platform digital, dan Geopolitik Kritis menganalisis bagaimana ASEAN diposisikan secara berbeda dalam ekosistem media di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Ini menunjukkan bahwa alat-alat Geopolitik Kritis sangat diperlukan untuk membedah bagaimana perang persepsi dijalankan di dunia maya, di mana disinformasi menyebar bagai virus. Perang disinformasi Rusia, seperti yang telah kita lihat, adalah contohnya: ‘Georivalization’ (geo-persaingan) terjadi melalui manipulasi persepsi yang terstruktur dan diskursif.
Penutup
Perjalanan kita dalam memahami Geopolitik Kritis membawa kita pada satu kebenaran mendasar: Peta dunia yang kita kenal bukanlah cermin realitas, melainkan medan pertempuran wacana. Apa yang dianggap sebagai “kepentingan nasional” yang objektif, “blok peradaban”, atau “ancaman strategis” bukanlah pengakuan atas fakta keras, melainkan buah dari proses penulisan, pembingkaian, dan narasi yang dilakukan oleh pusat-pusat kuasa.Dipioniri oleh Gearóid Ó Tuathail dan Simon Dalby, serta dipersenjatai oleh pemikiran Foucault, Derrida, dan Said, Geopolitik Kritis memberikan kepada kita sebuah keterampilan penting: Kemampuan untuk “membaca di balik teks” (reading against the grain). Ini adalah seni untuk selalu curiga dan bertanya: Siapa yang bicara? Kepentingan siapa yang dilayani? Siapa yang dibungkam? Misi awalnya yang disuarakan Dalby, untuk menyingkap “persekongkolan geopolitik dengan dominasi dan imperialisme”, sama mendesaknya hari ini seperti dua puluh tahun lalu. Bahkan, di era post-truth, disinformasi, dan perang hibrida, keterampilan ini telah bermetamorfosis dari sekadar perangkat akademis menjadi kebutuhan hidup warga global yang bertanggung jawab.
Namun, pendekatan ini tidak bebas dari kelemahan. Kritik dari feminisme yang mengingatkan kita pada tubuh yang menderita, dari ekonomi politik yang mengingatkan pada kelas dan kapital, dan dari para pendahulunya sendiri yang mengingatkan akan bahaya jebakan tekstual, justru membuat Geopolitik Kritis terus bergerak dan berevolusi. Ia kini tak lagi semata-mata membaca dokumen, tetapi juga menganalisis algoritma, merasakan afek, dan menyentuh materialitas perang.
Akhir kata, jangan pernah lagi melihat peta dengan naif. Setiap garis batas, setiap label, dan setiap warna di atasnya adalah hasil dari perjuangan dan negosiasi yang seringkali brutal. Tugas kita, sebagai pembelajar dan warga dunia, adalah menjadi pembaca kritis yang tak henti-hentinya mendekonstruksi narasi, agar kita tidak mudah tersihir oleh mantra-mantra geo-power yang dipasarkan sebagai kebenaran tunggal. Sebab, “geography is about power,” dan kuasa pertama yang harus direbut adalah kuasa untuk menentukan bagaimana dunia dituliskan.
Referensi
Agnew, J. (1998). Geopolitics: Re-visioning world politics. Routledge.Appels, S. (2024). Russkiy Mir discourse: A comparative analysis of Ukraine and Kazakhstan [Master's thesis, University of Tartu]. DSpace. https://hdl.handle.net/10062/105830
Dalby, S. (1991). Critical geopolitics: Discourse, difference, and dissent. Environment and Planning D: Society and Space, 9(3), 261–283.
Dalby, S. (2008). Imperialism, domination, culture: The continued relevance of critical geopolitics. Geopolitics, 13(3), 413–436. https://doi.org/10.1080/14650040802203650
Dalby, S., & Ó Tuathail, G. (1996). The critical geopolitics constellation: problematizing fusions of geographical knowledge and power. Political Geography, 15(6), 451-456.
Dalby, S., & Ó Tuathail, G. (Eds.). (1998). Rethinking geopolitics. Routledge.
Dodds, K., Kuus, M., & Sharp, J. (Eds.). (2013). The Ashgate research companion to critical geopolitics. Ashgate Publishing.
Ferretti, F. (2023). Geography, pluriverse and ‘Southern Thought’: Engaging with decoloniality from the Mediterranean. Political Geography, 107, 102990. https://doi.org/10.1016/j.polgeo.2023.102990
Foucault, M. (1972). The archaeology of knowledge (A. M. Sheridan Smith, Trans.). Pantheon Books.
Foucault, M. (1977). Discipline and punish: The birth of the prison (A. Sheridan, Trans.). Pantheon Books.
Mackinder, H. J. (1904). The geographical pivot of history. The Geographical Journal, 23(4), 421-437.
Müller, M. (2013). Text, discourse, affect and things. In K. Dodds, M. Kuus, & J. Sharp (Eds.), The Ashgate research companion to critical geopolitics (pp. 49–68). Ashgate.
Ó Tuathail, G. (1996a). Critical geopolitics: The politics of writing global space. University of Minnesota Press.
Ó Tuathail, G. (1996b). Political geography II: (counter) revolutionary times. Progress in Human Geography, 20(3), 404-412.
Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books.
Sharp, J. (2008). Critical Geopolitics (1996): Gearóid Ó Tuathail. In P. Hubbard, R. Kitchin, & G. Valentine (Eds.), Key texts in human geography (pp. 189-195). SAGE Publications.
Smith, N. (2000). Is a critical geopolitics possible? Foucault, class and the vision thing. Political Geography, 19(3), 365-371.
Thrift, N. (2000). It’s the little things. In K. Dodds & D. Atkinson (Eds.), Geopolitical traditions: A century of geopolitical thought (pp. 380-387). Routledge.
War Studies University. (2025). From disinformation to georivalization: The Russian information war against Poland in the context of critical geopolitics. Torun International Studies. https://doi.org/10.12775/TIS.2025.003
(2025). Future TRENDS Edition 15: AI as a Geopolitical and Military Transformative Power. TRENDS Research & Advisory.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.