Dengan menggunakan perspektif kritis dari para intelektual Muslim dan analis anti-imperialis, tulisan ini membongkar bagaimana kekayaan dan pengaruh politik Rothschild yang luar biasa digunakan untuk mendanai gelombang awal kolonisasi Yahudi (Aliyah), melobi kekuatan imperialis Inggris untuk mengeluarkan Deklarasi Balfour, dan membangun fondasi ekonomi bagi sebuah negara Yahudi.
Lebih jauh, esai ini menganalisis akar kapitalisme ribawi Rothschild yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam, serta dampak destruktif proyek Zionis yang mereka biayai terhadap rakyat Palestina. Tulisan ini menyimpulkan bahwa keluarga Rothschild, melalui kendali mereka atas modal finansial global, telah bertindak sebagai salah satu arsitek utama dari salah satu ketidakadilan kolonial terbesar dalam sejarah modern, yaitu penjajahan Israel atas Palestina.
Rothschild, Lebih dari Sekadar Nama
Nama Rothschild telah lama melampaui sekadar identitas sebuah keluarga. Ia telah menjadi simbol kekayaan yang tak terbayangkan, pengaruh politik yang misterius, dan, bagi banyak kalangan di dunia Islam, merupakan representasi dari kekuatan kapitalis global yang menjadi tulang punggung proyek Zionis.Fondasi di Atas Riba dan Perang
Kekaisaran finansial Rothschild dibangun di atas dua pilar utama yang dalam perspektif Islam sangat problematis: riba (bunga) dan spekulasi dari konflik bersenjata. Mayer Amschel Rothschild, sang patriark, memulai bisnisnya sebagai pedagang koin kuno sebelum akhirnya menjadi bankir bagi bangsawan Eropa.Seorang penulis Muslim, Ahmad Thomson (2021), menguraikan bagaimana "Meyer Amschel Rothschild adalah seorang banker Yahudi yang tinggal di Frankfurt yang telah menjadi sangat kaya setelah William IX... Kelima anak-anaknya melanjutkan bisnis keluarga setelah kematian Rothschild dalam tahun 1812" (p. 1). Praktik riba ini menjadi inti dari model bisnis mereka dan secara tegas dilarang dalam Islam. Al-Qur'an menyatakan: "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (QS. Al-Baqarah 2:275).
Selain riba, keluarga Rothschild secara cerdik memanfaatkan perang untuk mengakumulasi kekayaan. Mereka bertindak sebagai bankir bagi berbagai pihak yang bertikai, terutama selama Perang Napoleon. Nathan Mayer Rothschild, yang memimpin cabang London, mendanai pasukan Inggris di bawah Duke of Wellington melawan Napoleon.
Pepatah terkenal Mayer Amschel Rothschild merangkum filosofi mereka: "Give me control of a nation's money and I care not who makes the laws" (dikutip dalam The Guardian, 2013, komentar). Pernyataan ini secara eksplisit menunjukkan ambisi mereka untuk mengendalikan negara melalui kendali atas sistem moneternya, sebuah bentuk imperialisme finansial yang menjadi ciri khas kapitalisme Barat.
Mendanai Aliyah dan Pemukiman (dan Penjajahan) di Palestina
Puncak dari pengaruh Rothschild terlihat jelas dalam peran mereka yang tak tergantikan dalam gerakan Zionis dan kolonisasi fisik Palestina. Dukungan ini bukanlah sekadar sumbangan filantropis, melainkan investasi strategis dan terencana untuk membangun sebuah "tanah air" Yahudi. Baron Edmond James de Rothschild, dari cabang keluarga di Prancis, adalah tokoh kunci dalam hal ini. Ia dikenal sebagai "Bapak Yishuv" (komunitas Yahudi di Palestina) dan secara aktif mendanai gelombang pertama imigrasi Yahudi (Aliyah Pertama) pada akhir abad ke-19.Studi akademis oleh Manal Totry-Jubran (2020) secara spesifik meneliti "sejarah hukum proyek pemukiman Baron Edmond de Rothschild selama periode Ottoman dan Mandat" dan menyelidiki "implikasi normatif" dari proyek tersebut (p. 305).
Penelitian ini menyoroti bagaimana Rothschild tidak hanya membiayai pembelian tanah dan pendirian koloni pertanian seperti Rishon LeZion dan Zikhron Ya'akov, tetapi juga menciptakan sebuah struktur administratif yang ketat untuk mengendalikan koloni-koloni tersebut. Totry-Jubran (2020) lebih lanjut menjelaskan bahwa "proyek pemukimannya mengakibatkan penggusiran paksa penduduk Arab lokal yang kurang mampu yang disebut fellaheen dan secara tidak adil melanggar hak teritorial mereka" (p. 305). Ini adalah proyek kolonial yang disengaja, yang dengan sadar mengabaikan hak dan keberadaan penduduk asli Palestina.
Arsitek Politik
Pengaruh Rothschild tidak berhenti pada pendanaan di lapangan. Mereka juga memainkan peran yang sangat menentukan dalam ranah politik tingkat tinggi, yang berpuncak pada Deklarasi Balfour tahun 1917. Surat yang hanya terdiri dari 67 kata ini, yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour kepada Lionel Walter Rothschild, Baron Rothschild ke-2, adalah dokumen yang secara resmi menyatakan dukungan Inggris untuk "pendirian rumah nasional bagi orang-orang Yahudi" di Palestina.Fakta bahwa surat ini dialamatkan kepada Walter Rothschild, yang saat itu adalah pemimpin komunitas Yahudi Inggris dan seorang Zionis yang berpengaruh, menunjukkan betapa besarnya kekuasaan lobi keluarga ini. Deklarasi Balfour adalah titik balik yang mengubah aspirasi Zionis dari sekadar gerakan menjadi proyek negara yang didukung oleh kekuatan imperialis terbesar saat itu, sebuah pencapaian yang tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh dan koneksi keluarga Rothschild.
Perusahaan, The Fed, dan Pengaruh Global
Kekuasaan keluarga Rothschild berakar pada jejaring perusahaan dan institusi keuangan yang mereka kendalikan atau mereka pengaruhi secara signifikan. Di puncak kejayaannya, mereka memiliki saham di perusahaan-perusahaan raksasa global. Salah satu klaim yang paling kontroversial namun konsisten muncul dalam berbagai analisis adalah keterlibatan keluarga Rothschild dalam pendirian Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, pada tahun 1913.Analisis dari perspektif Islam, seperti yang dipublikasikan oleh Eramuslim (2021), menyatakan bahwa "Negara Amerika bentuknya sejatinya adalah anak perusahaan Federal Reserve" yang sahamnya dimiliki oleh konsorsium bank-bank internasional termasuk "Rothschild Bank of London" dan afiliasinya (p. 5). Meskipun sering dianggap sebagai teori konspirasi oleh media arus utama, analisis semacam ini menyoroti pertanyaan mendasar tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan pasokan uang global dan bagaimana kekuatan finansial swasta dapat mendikte kebijakan negara.
Pengaruh global mereka juga merambah ke Asia. Nathaniel "Nat" Rothschild, misalnya, adalah pemegang saham di perusahaan batu bara terbesar Indonesia, PT Bumi Resources, dan perusahaan manufaktur kabel Volex. Kehadirannya dalam peresmian pabrik Volex di Batam yang didampingi oleh presiden terpilih Indonesia menunjukkan bahwa akses dan pengaruh politik keluarga ini tetap terjaga hingga saat ini.
Dampak atas Perlawanan Rakyat Palestina
Bagi rakyat Palestina, nama Rothschild bukanlah simbol kesuksesan finansial, melainkan identik dengan awal dari penderitaan kolektif mereka. Dukungan finansial dan politik keluarga ini terhadap Zionisme adalah faktor kunci yang memungkinkan terjadinya Nakba (bencana) tahun 1948, di mana ratusan ribu warga Palestina diusir dari tanah air mereka.Sebuah analisis kritis dengan tegas menyatakan bahwa "Zionism is a House of Rothschild Project. The House of Rothschild controls all the world's money supply" (Ebrahim, 2010, p. 6). Keluarga Rothschild secara konsisten dianggap sebagai "biang kerok dari permasalahan Palestina-Israel selama lebih dari 7 dekade" karena peran mereka yang tak terhapuskan dalam pendirian negara Israel di atas tanah Palestina.
Perlawanan rakyat Palestina terhadap proyek kolonial ini adalah respons yang tak terelakkan terhadap penjajahan dan perampasan tanah. Oleh karena itu, tanggung jawab moral atas pertumpahan darah dan ketidakadilan yang terus berlanjut di Palestina tidak dapat dilepaskan dari mereka yang mendanai dan memfasilitasi proyek Zionis sejak awal, termasuk dinasti Rothschild.
Analisis Marxis (Israeli, 1968) mencatat bahwa "kolonisasi Rothschild adalah bagian dari sistem kolonial Prancis" (p. 33). Ini menegaskan bahwa proyek Zionis bukanlah sekadar gerakan keagamaan, melainkan proyek kolonial-pemukim (settler-colonial) yang didorong oleh kepentingan kapitalis dan imperialis.
Antara Agama dan Sekularisme
Meskipun keluarga Rothschild secara konsisten mempertahankan identitas Yahudi mereka dan menjadi pendukung utama Zionisme, hubungan mereka dengan agama yang terorganisir bersifat kompleks. Mayer Amschel Rothschild lahir dari keluarga yang berharap ia menjadi seorang rabi, dan keluarganya tetap menjadi bagian dari komunitas Yahudi.Namun, kekuasaan dan pengaruh mereka telah memicu berbagai spekulasi dan teori, termasuk yang mengaitkan mereka dengan Freemasonry. Dalam beberapa narasi yang beredar di kalangan Muslim, keluarga Rothschild bahkan dikaitkan dengan Dajjal (Anti-Christ) atau sebagai bagian dari konspirasi Illuminati untuk menguasai dunia. Buku seperti Rothschild Yahudi kepercayaan dajjal karya Ibnuyaacob (2012) adalah contoh bagaimana figur Rothschild telah masuk ke dalam diskursus eskatologis Islam. Meskipun klaim-klaim ini sering kali bercampur dengan teori konspirasi, hal ini menunjukkan betapa mendalamnya citra Rothschild sebagai simbol kekuatan global yang misterius dan, bagi sebagian orang, jahat.
Pelajaran dari Sejarah untuk Umat Islam
Kisah keluarga Rothschild adalah pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana kekayaan dan kekuasaan finansial dapat digunakan untuk membentuk kembali tatanan dunia dan menciptakan ketidakadilan yang berskala masif.Dari perspektif Islam, kebangkitan mereka adalah cerminan dari sistem kapitalisme ribawi yang eksploitatif dan imperialisme yang merusak. Peran sentral mereka dalam proyek Zionis dan pendirian Israel adalah noda abadi dalam sejarah, yang menjadi akar dari penderitaan rakyat Palestina hingga hari ini.
Bagi umat Islam, memahami sejarah ini bukanlah untuk tenggelam dalam teori konspirasi, melainkan untuk mengambil pelajaran strategis. Ini adalah panggilan untuk membangun kemandirian ekonomi, mengembangkan sistem keuangan yang bebas riba, dan memperkuat solidaritas politik untuk melawan segala bentuk penjajahan dan ketidakadilan.
Selama kapitalisme global yang didominasi oleh kekuatan-kekuatan seperti yang direpresentasikan oleh dinasti Rothschild masih berkuasa, perjuangan untuk keadilan, khususnya bagi Palestina, akan tetap menjadi perjuangan yang berat namun harus terus dilanjutkan. Sejarah Rothschild adalah bukti bahwa uang, jika tidak dikendalikan oleh nilai-nilai moral dan keadilan, dapat menjadi senjata pemusnah massal yang paling efektif.
Daftar Pustaka
Ebrahim, Z. (2010, 20 Juli). Response to a Palestinian intellectual. Salem-News.Com. http://www.salem-news.com/print/15268Eramuslim. (2021, 2 Oktober). Amerika Serikat, sejatinya adalah anak perusahaan Federal Reserve (FED). https://www.eramuslim.com/tahukah-anda/amerika-serikat-sejatinya-adalah-anak-perusahaan-federal-reserve-fed/3/
The Guardian. (2013, 20 Desember). UK growth figures revised upwards, but trade gap widens – as it happened. https://www.theguardian.com/discussion/p/3yc7k?page=7
Ibnuyaacob. (2012). Rothschild Yahudi kepercayaan dajjal. Moonmedia.
Israeli, N. (1968). Israel and imperialism (a brief analysis). International Socialism, (32), 32-37. https://www.marxists.org/history/etol/newspape/isj/1968/no032/israeli.htm
Penslar, D. J. (1991). Zionism and technocracy: The engineering of Jewish settlement in Palestine, 1870-1918. Indiana University Press.
Reeves, J. (1887). The Rothschilds: The financial rulers of nations. A.C. McClurg & Co.
Thomson, A. (2021, 11 Oktober). Ahmad Thomson urai kapitalis (4): Selusin bank adalah bawahannya, tentaranya adalah pedagang, dan spekulasi adalah pedangnya. Eramuslim. https://www.eramuslim.com/berita/dunia/ahmad-thomson-urai-kapitalis-4-selusin-bank-adalah-bawahannya-tentaranya-adalah-pedagang-dan-spekulasi-adalah-pedangnya/
Totry-Jubran, M. (2020). Historical justice of private history in state building. Theoretical Inquiries in Law, 21(2), 305-341. https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3687646


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.