Benjamin Netanyahu adalah tokoh politik paling dominan sekaligus paling kontroversial dalam sejarah Israel modern. Masa jabatannya yang panjang dan kebijakan garis kerasnya, yang berakar pada ideologi Zionisme Revisionis, secara fundamental telah mengubah lanskap politik Israel dan memupuskan harapan bagi perdamaian dengan Palestina khususnya, dan kawasan Timur Tengah umumnya.
Benjamin Netanyahu lahir di Tel Aviv pada 21 Oktober 1949 dari keluarga Yahudi Ashkenazi yang taat dan berhaluan Zionis Revisionis (Liputan6, 2023; Tribunnews, 2024). Masa remajanya dihabiskan di Philadelphia, Amerika Serikat, tempat ayahnya, Benzion Netanyahu, seorang sejarawan Yahudi terkemuka, bekerja sebagai profesor. Setelah menyelesaikan dinas militernya di unit elit Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Sayeret Matkal, ia kembali ke AS untuk meraih gelar di bidang arsitektur dan administrasi bisnis dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) (Beritasatu, 2021).
Kematian kakaknya, Yonatan, dalam Operasi Entebbe yang terkenal pada 1976 menjadi titik balik yang mendorongnya terjun secara mendalam ke dunia politik dan kontraterorisme internasional. Karier politiknya melejit setelah terpilih sebagai anggota Knesset (parlemen Israel) pada 1988 mewakili partai sayap kanan Likud. Puncaknya, ia terpilih sebagai Perdana Menteri termuda Israel pada usia 46 tahun (1996), dan kemudian kembali berkuasa untuk periode 2009–2021, mencatatkan namanya sebagai pemimpin terlama dalam sejarah negara itu (Liputan6, 2023).
Ideologi dan Kebijakan
Akar politik dan ideologi Netanyahu sangat penting untuk memahami kebijakannya. Ia adalah penganut setia Zionisme Revisionis, sebuah ideologi yang diwarisi dari ayahnya dan tokoh Ze'ev Jabotinsky. Aliran Zionisme ini secara fundamental meyakini bahwa bangsa Arab tidak akan pernah menerima keberadaan permukiman Yahudi di tanah Palestina, sehingga menolak segala bentuk kompromi teritorial (Tempo, 2024). Sebagai pemimpin Partai Likud, Netanyahu secara terbuka dan konsisten menyatakan penentangannya terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka. Platform partainya mengklaim hak abadi dan tak terbantahkan bagi orang Yahudi atas seluruh tanah Palestina historis (Republika, 2024).
Namun, pandangan ini secara teologis ditentang keras. Rabbi Yisroel Dovid Weiss, juru bicara gerakan Yahudi ultra-Ortodoks anti-Zionis Neturei Karta, menuduh Netanyahu dan gerakan Zionis sebagai "tumor bagi Yudaisme" yang menggunakan agama untuk membenarkan "genosida di Gaza dan penindasan terhadap rakyat Palestina" (Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam Iz.ru, 2025, para. 3; Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam El Independiente, 2025, para. 18). Menurut Weiss, "Negara Zionis Israel pada dasarnya menyamar, bersembunyi di balik agama saya dan mengatakan bahwa agama membenarkan dan mendukung genosida mereka di Gaza... Padahal Yudaisme secara kategoris melarang kami untuk membunuh dan mencuri" (Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam Iz.ru, 2025, para. 2-3). Weiss membandingkan logika yang digunakan Israel terhadap Palestina dengan logika yang digunakan Nazi terhadap orang Yahudi (El Independiente, 2025).
Penolakan teologis ini memiliki akar yang dalam. Rabbi Joel Teitelbaum, pendiri dinasti Satmar, adalah salah satu pemimpin Yahudi pertama yang secara terbuka mengutuk pendirian negara Israel pada tahun 1948 (Jewish Virtual Library, t.t.). Ia mendasarkan posisinya pada interpretasi Talmud yang melarang pendirian kedaulatan Yahudi sebelum kedatangan Mesias. Hingga kini, para pengikutnya, seperti yang terlihat dalam protes anak-anak Satmar yang melempari telur ke mobil tiruan Netanyahu, meneriakkan "Pemerintah Israel, malulah kalian!" dan membawa tanda bertuliskan, "Seorang Yahudi bukanlah seorang Zionis" (Jewish Telegraphic Agency, 2016). Bagi mereka, Negara Israel adalah sebuah entitas politik yang tidak memiliki legitimasi teologis, dan kebijakan Netanyahu adalah penyimpangan dari esensi Yudaisme yang sejati.
Dari perspektif Kristen, suara para teolog Palestina juga sangat lantang. Naim Ateek, seorang teolog Anglikan Palestina dan pendiri Sabeel Ecumenical Liberation Theology Centre di Yerusalem, melihat kebijakan Netanyahu sebagai buah dari hermeneutika Alkitab yang cacat (Ateek, 1989, 2017). Dalam sebuah wawancara dengan The Christian Century, Ateek menyatakan, "Sudah sewajarnya bagi Netanyahu untuk berpaling kepada orang-orang Kristen fundamentalis untuk membantu mendukung klaim Israel atas seluruh tanah itu" (Ateek, seperti dikutip dalam The Christian Century, 1998, para. 8). Ateek mengkritik bagaimana narasi Alkitab digunakan untuk membenarkan penindasan dan perampasan tanah, menyebutnya sebagai bentuk "ekstremisme Kristen yang terinstitusionalisasi" (Ateek, seperti dikutip dalam Countercurrents, 2026).
Senada dengan itu, Mitri Raheb, seorang pendeta Lutheran Palestina dari Betlehem, melontarkan kritik yang sangat tajam. Raheb menyebut Netanyahu sebagai "Herodes zaman kita" (Raheb, seperti dikutip dalam Gladbib.dk, t.t.), mengaitkannya dengan penguasa kejam dalam kisah Natal yang memerintahkan pembantaian bayi. Raheb secara eksplisit menyatakan, "Agar Netanyahu tetap berkuasa, lebih dari 8.000 anak telah dibunuh di Gaza" (Raheb, seperti dikutip dalam IndyTurk, 2023, para. 11). Ia juga membongkar apa yang disebutnya "teologi genosida" yang dirujuk oleh Netanyahu, yang menggunakan teks-teks Alkitab seperti kisah pemusnahan bangsa Amalek untuk membenarkan tindakan militer (Raheb, 2024).
Geries Khoury, seorang teolog Katolik Yunani Melkit, meskipun tidak secara langsung mengomentari Netanyahu secara pribadi, adalah bagian dari trio teolog Palestina (bersama Ateek dan Raheb) yang secara fundamental menentang Zionisme dan negara Israel, menyediakan landasan teologis bagi penolakan terhadap konsep negara Yahudi (Quer, 2019). Pemikiran mereka memberikan kerangka bagi umat Kristen untuk memahami konflik tersebut di luar narasi Zionis.
Suara dari Akademisi
Kritik terhadap Netanyahu tidak hanya datang dari kalangan teolog. Noam Chomsky, seorang intelektual dan ahli bahasa terkemuka, selama puluhan tahun menjadi pengkritik vokal kebijakan Israel. Chomsky menyoroti kontradiksi antara retorika perdamaian Netanyahu dan realitas di lapangan. Ia menunjukkan bagaimana Netanyahu, yang mengklaim menginginkan perdamaian, pada saat yang sama "menolak untuk menghentikan pembangunan koloni di Wilayah Pendudukan" dan "mengejar mimpi Israel Raya yang belum terwujud" (Chomsky, seperti dikutip dalam Gulf News, 2013). Bagi Chomsky, Netanyahu dan pemerintahannya melakukan "kejahatan perang" dan kebijakan mereka telah menyebabkan "penderitaan luar biasa bagi rakyat Palestina" (Chomsky, seperti dikutip dalam Telesur English, 2023).
Norman G. Finkelstein, seorang ilmuwan politik dan penulis Amerika keturunan Yahudi yang orang tuanya selamat dari Holocaust, adalah salah satu kritikus paling tajam terhadap kebijakan Israel. Finkelstein menggambarkan Israel di bawah kepemimpinan seperti Netanyahu sebagai "bangsa pembunuh" yang dicintai oleh kelompok sayap kanan (Finkelstein, seperti dikutip dalam NormanFinkelstein.com, 2019). Ia menyoroti bagaimana undangan Donald Trump kepada Netanyahu ke Gedung Putih menunjukkan bahwa "hukum internasional tidak akan berperan dalam pemerintahannya," sebuah sikap yang secara efektif memberikan lampu hijau bagi tindakan Israel di Gaza (Finkelstein, seperti dikutip dalam Open The Magazine, 2025).
Alfred M. Lilienthal, seorang penulis dan pengacara Yahudi-Amerika, adalah kritikus awal Zionisme politik. Ia memandang bahwa Zionisme politik telah "merusak Yudaisme" dan bahwa kesetiaan kepada Negara Israel adalah bentuk "penyembahan berhala" (Lilienthal, seperti dikutip dalam WRMEA, 2008). Buku monumentalnya, What Price Israel, mempertanyakan klaim Zionisme dan mengkritik pengaruh lobi Yahudi terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat (Lilienthal, 1953). Analisisnya meletakkan dasar bagi banyak kritik kontemporer terhadap dukungan AS yang tak tergoyahkan bagi Israel di bawah para pemimpin seperti Netanyahu.
Terakhir, Steven Paas, seorang teolog Reformed asal Belanda, menawarkan kritik dari perspektif Kristen yang berbeda. Paas mengkritik fenomena "Israelisme" atau Zionisme Kristen, yang menurutnya memberikan status lebih tinggi kepada orang Yahudi dan Negara Israel daripada yang seharusnya (Paas, seperti dikutip dalam CT.org.tw, 2024). Bagi Paas, "Israel modern memang memiliki hak untuk eksis, tetapi itu bukanlah Israel yang dimaksud dalam Alkitab, dan ia harus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri" (Paas, seperti dikutip dalam CT.org.tw, 2024). Ini adalah sanggahan langsung terhadap klaim teologis yang sering digunakan untuk mendukung kebijakan Netanyahu.
Dakwaan Hukum dan Kontroversi Domestik
Kekuasaan Netanyahu yang panjang tidak terlepas dari bayang-bayang skandal korupsi. Ia menghadapi tiga kasus korupsi besar yang terpisah (Kasus 1000, 2000, dan 4000), yang telah menyeretnya ke meja hijau sejak didakwa pada tahun 2019 (CNN Indonesia, 2026). Dakwaan tersebut meliputi tuduhan menerima suap, penipuan, dan penyalahgunaan kepercayaan publik, dengan total nilai dugaan korupsi mencapai lebih dari US$500 juta setara Rp.8.570.000.000.000 (CNN Indonesia, 2026; Tribunnews, 2025). Netanyahu secara konsisten membantah semua tuduhan dan menyebutnya sebagai "perburuan penyihir" politik, tetapi persidangan yang dimulai pada 2020 terus membayangi karier politiknya (Republika, 2026).
Selain itu, upayanya untuk merombak sistem peradilan Israel (reformasi yudisial) pada tahun 2023 memicu gelombang protes nasional terbesar dalam sejarah negara itu. Rencana ini, yang bertujuan untuk membatasi kekuasaan Mahkamah Agung dan memberikan kendali lebih besar kepada pemerintah atas penunjukan hakim, dipandang oleh para kritikus sebagai upaya "kudeta yudisial" yang mengancam fondasi demokrasi Israel (Parstoday, 2023; Sindo News, 2023). Protes massal yang berlangsung selama berbulan-bulan akhirnya memaksa Netanyahu untuk menangguhkan sementara rencana tersebut (Anadolu Agency, 2023).
Gaza dan Tepi Barat
Warisan paling kelam Netanyahu mungkin terletak pada kebijakan militernya yang brutal terhadap Gaza dan Tepi Barat. Di bawah komandonya, Israel telah melancarkan beberapa operasi militer skala besar, yang mengakibatkan puluhan ribu warga sipil Palestina tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak (Jawa Pos, 2025). Ia dituduh menggunakan perang sebagai alat politik untuk mempertahankan kekuasaannya dan mengalihkan perhatian dari masalah hukum domestiknya (Jawa Pos, 2025).Serangan militer terbaru sejak Oktober 2023 telah digambarkan sebagai salah satu yang paling mematikan, dengan laporan menyebutkan hampir 61.000 warga Palestina tewas (Garuda TV, 2025). Netanyahu telah berulang kali mengabaikan seruan gencatan senjata internasional dan bahkan menyatakan niat untuk "menaklukkan total Jalur Gaza" (CNN Indonesia, 2025). Tindakannya telah menuai kecaman global dan secara luas dianggap sebagai bentuk impunitas dan penghasutan perang (Jawa Pos, 2025).
“Pembantaian Sistematis,” Jejak Darah Netanyahu di Palestina dan Lebanon 1996–2026
Anatomi Seorang Arsitek Kekerasan
Benjamin Netanyahu adalah fenomena politik yang mencengangkan: Seorang pemimpin yang telah menjabat sebagai Perdana Menteri Israel selama total lebih dari 17 tahun, terlama dalam sejarah negara itu, di tengah dakwaan korupsi, surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (Internasional Criminal Court atau ICC), dan kecaman global yang semakin keras (Liputan6, 2023; Tribunnews, 2024). Namun yang lebih mencengangkan adalah bagaimana ia berhasil mempertahankan kekuasaanya justru melalui siklus kekerasan yang tiada henti.
Tiga periode kekuasaannya, yaitu 1996–1999, 2009–2021, dan 2022–sekarang, bukan sekadar babak dalam sejarah politik Israel, melainkan kronik pertumpahan darah yang sistematis. Sebuah laporan yang dikutip oleh organisasi hak asasi manusia Israel, B'Tselem, mencatat bahwa sejak Netanyahu menjabat pada 1996, hampir 3.500 warga Palestina, termasuk 799 anak-anak dan 342 perempuan, telah gugur akibat serangan pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Gaza yang dikepung (Anadolu Agency, 2020). Angka ini belum termasuk puluhan ribu korban yang berjatuhan setelah 7 Oktober 2023.
Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami fondasi ideologis yang menggerakkan kebijakan Netanyahu. Ia adalah pewaris sejati Zionisme Revisionis, sebuah aliran yang dipelopori oleh Ze'ev Jabotinsky, tokoh yang dianggap bertanggung jawab atas pembentukan milisi-milisi Yahudi yang melakukan kekerasan terhadap penduduk Arab Palestina pada era Mandat Inggris (Tempo, 2024). Ideologi ini mengajarkan bahwa konflik dengan bangsa Arab tidak dapat diselesaikan melalui kompromi, melainkan hanya melalui "Tembok Besi" (Iron Wall) kekuatan militer yang tak tergoyahkan. Ayah Netanyahu yang bernama Benzion adalah sekretaris pribadi Jabotinsky, sehingga “Nettie” menyerap doktrin kekerasan brutal Jabotinsky sejak kecil dan menerapkannya dengan konsistensi yang mengerikan sepanjang karier politiknya.
Norman G. Finkelstein, ilmuwan politik Amerika keturunan Yahudi yang kedua orang tuanya adalah penyintas Holocaust, telah mendokumentasikan konflik Israel-Palestina selama lebih dari empat dekade. Dalam berbagai tulisannya, Finkelstein menuduh Israel melakukan "genosida" dan menggambarkan Gaza sebagai "kamp konsentrasi" (Finkelstein, seperti dikutip dalam Podcasts.Apple.com, 2024). Sementara itu, Rabbi Yisroel Dovid Weiss dari gerakan Neturei Karta secara tegas menyatakan bahwa "Negara Zionis Israel pada dasarnya menyamar, bersembunyi di balik agama saya dan mengatakan bahwa agama membenarkan dan mendukung genosida mereka di Gaza dan penindasan terhadap rakyat Palestina" (Weiss, seperti dikutip dalam Iz.ru, 2025).
Pembaptisan Darah di Awal Kekuasaan, 18 Juni 1996 – 6 Juli 1999
Netanyahu dilantik sebagai Perdana Menteri termuda Israel pada usia 46 tahun, mewakili Partai Likud sayap kanan, dengan platform yang secara eksplisit menolak pembentukan negara Palestina (Beritasatu, 2021). Masa jabatan pertamanya yang singkat, hanya tiga tahun, langsung ditandai dengan provokasi dan operasi militer yang menewaskan ratusan warga sipil.
Kerusuhan Terowongan Tembok Barat, September 1996
Hanya tiga bulan setelah menjabat, Netanyahu memerintahkan pembukaan pintu masuk baru untuk terowongan arkeologi yang membentang di sepanjang kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem. Keputusan ini, yang oleh para pengamat disebut sebagai provokasi yang disengaja dan dapat diprediksi, langsung memicu bentrokan berdarah antara pasukan Israel dan warga Palestina di seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Menurut laporan dari Institute for Palestine Studies, insiden ini mengakibatkan "17 tentara Israel dan 70 warga Palestina tewas dalam bentrokan yang terjadi setelah pembukaan meriah Terowongan Tembok Barat oleh Israel di jantung Yerusalem Timur yang diduduki" (Rabbani, 2012). Pola ini, yaitu provokasi sengaja di tempat-tempat suci, diikuti oleh penolakan untuk melakukan de-eskalasi, kemudian menjadi ciri khas kepemimpinan Netanyahu selama dua dekade berikutnya.
Operasi Grapes of Wrath, April 1996 dan Pembantaian Qana
Meskipun Operasi Grapes of Wrath secara teknis dimulai di bawah Perdana Menteri Shimon Peres pada 11 April 1996, Netanyahu sudah menjabat ketika tragedi puncaknya terjadi, dan ia mewarisi tanggung jawab penuh atas konsekuensi kampanye tersebut. Human Rights Watch melaporkan bahwa "sekitar 154 warga sipil tewas di Lebanon, dan 351 lainnya luka-luka" dalam operasi ini (Human Rights Watch, 1996).
Puncak kebiadaban operasi ini terjadi pada 18 April 1996, ketika artileri Israel menembaki sebuah kompleks PBB di desa Qana, Lebanon Selatan. Kompleks tersebut saat itu menampung sekitar 800 warga sipil Lebanon yang mencari perlindungan dari pertempuran. Menurut laporan investigasi, "pembantaian anak-anak di Qana di Lebanon pada 1996, di antara 109 warga sipil yang tewas akibat tembakan peluru Israel saat mereka berlindung di kamp PBB, adalah kejahatan perang" (Belfast Telegraph, 2014).
Norman G. Finkelstein telah mendokumentasikan bagaimana pola kekerasan yang tidak proporsional terhadap warga sipil ini telah menjadi karakteristik rezim Zionis sejak awal. Sebuah sumber mencatat bahwa "Finkelstein percaya bahwa alasan utama keberadaan Israel adalah pembunuhan seluruh populasi Palestina. Ia pertama kali menuduh Israel melakukan genosida pada 1982, selama perang Lebanon pertama" (Jewish Standard, 2024).
Penghancuran Rumah dan Pembunuhan di Luar Hukum
Selama periode pertama Netanyahu, penghancuran rumah-rumah Palestina dan pembunuhan di luar hukum menjadi kebijakan yang dilembagakan. Sebuah laporan dari Washington Report on Middle East Affairs pada Maret 1998 mencatat, "Sejak Netanyahu menjabat pada Mei 1996, Israel telah menghancurkan 245 rumah Palestina, dengan lebih dari tiga ribu dijadwalkan untuk dihancurkan pada 1998, menurut Applied Research Institute of Jerusalem" (Marshall, 1998).
Laporan yang sama juga mendokumentasikan pembunuhan sewenang-wenang: "Hampir tidak ada minggu berlalu tanpa laporan di pers Arab tentang penembakan atau pemukulan terhadap warga Palestina oleh tentara atau pemukim Israel. Khas dari pembunuhan sewenang-wenang semacam itu adalah penembakan fatal terhadap Jimmy Kanawati, 36 tahun, oleh seorang polisi perbatasan Israel pada 22 November" (Marshall, 1998). Hal yang lebih mengerikan, "Dua tentara yang menembak mati Muhammad Abu Khalil, 65 tahun, di depan tetangganya pada Januari 1996 hanya diberi 'teguran lisan' oleh pengadilan militer Israel" (Marshall, 1998).
Noam Chomsky, seorang intelektual dan ahli bahasa terkemuka yang telah menjadi pengkritik vokal kebijakan Israel selama puluhan tahun, mencatat bahwa pola impunitas ini berakar pada struktur kekuasaan yang lebih dalam. Dalam berbagai tulisannya, Chomsky telah menunjukkan bagaimana Israel mengejar "kebijakan genosida inkremental di Palestina" (Chomsky, seperti dikutip dalam Iran Daily, 2023).
Eskalasi dan Pembantaian Massal, Periode Kedua 31 Maret 2009 – 13 Juni 2021
Periode kedua Netanyahu adalah periode terpanjangnya, mencakup lebih dari satu dekade yang ditandai oleh tiga perang besar di Gaza dan eskalasi kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tepi Barat.
Operasi Pilar Pertahanan, November 2012
Pada November 2012, Netanyahu memerintahkan Operasi Pilar Pertahanan terhadap Jalur Gaza. Menurut data dari B'Tselem, "167 warga Palestina kehilangan nyawa dalam serangan Israel tahun 2012 di Gaza" (Anadolu Agency, 2020). Operasi delapan hari ini menargetkan infrastruktur militer Hamas tetapi juga mengakibatkan korban sipil yang signifikan, termasuk anak-anak dan perempuan.
Alfred M. Lilienthal, seorang penulis dan pengacara Yahudi-Amerika yang merupakan kritikus awal Zionisme politik, telah memperingatkan bahwa "Zionisme politik telah merusak Yudaisme" dan bahwa kesetiaan kepada Negara Israel adalah bentuk "penyembahan berhala" (Lilienthal, seperti dikutip dalam WRMEA, 2008). Buku monumentalnya, What Price Israel (1953), mempertanyakan klaim Zionisme dan mengkritik pengaruh lobi Yahudi terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Operasi Tepi Pelindung, Juli–Agustus 2014
Tahun 2014 adalah salah satu tahun paling berdarah dalam sejarah Palestina. Selama 50 hari, militer Israel melancarkan lebih dari 6.000 serangan udara dan menembakkan hampir 50.000 peluru tank dan artileri ke Jalur Gaza yang padat penduduk (Anadolu Agency, 2020).
Angka korban sangat mencengangkan. Menurut laporan PBB yang dikutip oleh Anadolu Agency, "2.251 warga Palestina, termasuk 551 anak-anak dan 299 perempuan, menjadi syuhada, lebih dari 11.000 orang terluka, dan lebih dari 1.500 anak menjadi yatim piatu" (2020). The Daily Star melaporkan bahwa "1.422 orang telah tewas dalam 24 hari kekerasan" dan "angka PBB menunjukkan dua pertiga korban adalah warga sipil, hampir setengahnya adalah perempuan dan anak-anak" (2014).
Kepala hak asasi manusia PBB saat itu, Navi Pillay, mengecam Israel karena "menyerang rumah, sekolah, dan rumah sakit, menuduhnya melakukan 'pembangkangan yang disengaja' terhadap hukum internasional. 'Tidak satu pun dari ini tampaknya tidak disengaja bagi saya,' katanya kepada wartawan. 'Tampaknya ada pembangkangan yang disengaja terhadap kewajiban yang dibebankan hukum internasional pada Israel'" (The Daily Star, 2014).
Great March of Return, 2018–2019
Di bawah pemerintahan Netanyahu, pembantaian terhadap demonstran damai menjadi pemandangan biasa. Selama demonstrasi Great March of Return yang dimulai pada 30 Maret 2018, tentara Israel menggunakan kekuatan berlebihan, termasuk peluru tajam, terhadap warga Palestina yang tidak bersenjata.
Menurut data dari Al Mezan, sebuah organisasi hak asasi manusia di Gaza, "215 warga Palestina menjadi syuhada oleh tentara Israel dan ribuan terluka dalam demonstrasi tersebut. Di antara mereka yang kehilangan nyawa dalam serangan Israel di perbatasan Gaza adalah 47 anak-anak, dua perempuan, empat petugas kesehatan, dua jurnalis, dan sembilan penyandang disabilitas" (Anadolu Agency, 2020). Gulf News melaporkan bahwa pada 14 Mei 2018 saja, "pasukan rezim pendudukan Israel menewaskan setidaknya 41 warga Palestina di sepanjang perbatasan Gaza" dan "900 warga Palestina terluka, sekitar 450 di antaranya oleh peluru tajam" (2018).
Dari perspektif Kristen, suara para teolog Palestina sangat lantang. Naim Ateek, seorang teolog Anglikan Palestina dan pendiri Sabeel Ecumenical Liberation Theology Centre di Yerusalem, melihat kebijakan Netanyahu sebagai buah dari hermeneutika Alkitab yang cacat. Dalam bukunya Justice and Only Justice: A Palestinian Theology of Liberation (1989), Ateek mengkritik bagaimana narasi Alkitab digunakan untuk membenarkan penindasan dan perampasan tanah.
Mitri Raheb, seorang pendeta Lutheran Palestina dari Betlehem, melontarkan kritik yang sangat tajam. Dalam Faith in the Face of Empire (2014), Raheb menawarkan kerangka kritis yang menentukan, dengan berargumen bahwa "pola keterlibatan Kristen dan Yahudi yang berulang dengan narasi alkitabiah dalam konteks imperial adalah pola identifikasi diri dengan kekuatan dominan" (Raheb, seperti dikutip dalam Countercurrents, 2026).
Eskalasi Mei 2021
Pada Mei 2021, eskalasi besar lainnya terjadi di bawah kepemimpinan Netanyahu. Al Jazeera melaporkan bahwa "setidaknya 192 orang, termasuk 58 anak-anak dan 34 perempuan, telah tewas di Jalur Gaza sejak kekerasan terbaru dimulai seminggu yang lalu" (2021). Reuters kemudian melaporkan bahwa "lima mayat lagi ditarik dari reruntuhan Gaza, menjadikan jumlah korban tewas menjadi 248, termasuk 66 anak-anak, dengan lebih dari 1.900 terluka" (2021).
Genosida di Abad ke-21, 29 Desember 2022 – Sekarang
Periode ketiga Netanyahu, yang dimulai pada akhir 2022, akan dikenang sebagai salah satu babak paling gelap dalam sejarah modern, sebuah genosida yang disiarkan langsung ke seluruh dunia.
Angka Kematian yang Mencengangkan, Perang Gaza 2023–2026
Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Netanyahu melancarkan apa yang oleh banyak pakar disebut sebagai kampanye genosida. Skala kehancurannya belum pernah terjadi sebelumnya. Pada Januari 2026, bahkan militer Israel sendiri terpaksa mengakui kebenaran yang selama ini mereka bantah. Star Daily melaporkan, "Seorang pejabat keamanan senior dalam briefing mengakui bahwa data korban jiwa yang dirilis oleh otoritas kesehatan Gaza secara garis besar akurat. Pejabat tersebut mengungkapkan bahwa sejak pecahnya konflik Israel-Hamas pada Oktober 2023, sekitar 70.000 warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel" (2026).
Lebih lanjut, laporan tersebut mencatat, "Data dari otoritas kesehatan Gaza menunjukkan bahwa jumlah korban tewas langsung akibat serangan telah melampaui 71.660 orang, dengan sedikitnya 10.000 lainnya diyakini terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang dibom dan dinyatakan hilang" (Star Daily, 2026). Hal yang paling mengejutkan adalah pengakuan tentang proporsi korban sipil, "Jika mengacu pada klaim sebelumnya bahwa militer Israel telah menewaskan 22.000 anggota milisi, maka ini berarti dari 70.000 korban yang diakui, lebih dari dua pertiganya adalah warga sipil, jauh melampaui klaim Perdana Menteri Netanyahu sebelumnya tentang tingkat korban 50%, tetapi masih di bawah tingkat kematian warga sipil 83% yang terungkap dalam basis data rahasia militer Israel" (Star Daily, 2026).
Norman G. Finkelstein, dalam sebuah ceramah di University of Massachusetts pada September 2025, menyatakan bahwa "konflik Israel-Gaza telah mengakibatkan 66.005 kematian yang terkonfirmasi. Akibat hancurnya sistem layanan kesehatan, jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi" (Finkelstein, seperti dikutip dalam Amherst Indy, 2025). Finkelstein juga memperingatkan bahwa "Gaza telah menjadi puing-puing, dengan puluhan ribu anak terbunuh dan tidak ada intervensi internasional yang berarti" (Finkelstein, seperti dikutip dalam India Today, 2025).
Noam Chomsky, dalam sebuah artikel di Telesur English (2023), menulis bahwa "pemerintahan Netanyahu sedang melakukan kejahatan perang yang tidak akan luput dari hukuman, meskipun sekarang tampaknya tidak mungkin hal itu akan terjadi, tetapi pasti akan menyebabkan penderitaan luar biasa bagi mereka yang melakukan atau menyetujui genosida ini."
Rabbi Yisroel Dovid Weiss, juru bicara gerakan Yahudi ultra-Ortodoks anti-Zionis Neturei Karta, menyatakan dengan tegas, "Itulah sebabnya kami menangis bersama warga Palestina. Negara Zionis Israel pada dasarnya menyamar, bersembunyi di balik agama saya dan mengatakan bahwa agama membenarkan dan mendukung genosida mereka di Gaza dan penindasan terhadap rakyat Palestina" (Weiss, seperti dikutip dalam IslamiCity, 2023). Weiss juga menekankan "kebingungan umum antara Yudaisme dan Zionisme ... yang berusaha menampilkan dirinya sebagai Negara Yahudi" (Weiss, seperti dikutip dalam Minute Mirror, 2023).
Perang Lebanon 2024–2026
Netanyahu juga memperluas perang ke Lebanon. Menurut laporan dari Kantor Berita Xinhua yang dikutip oleh berbagai media, "sejak 2 Maret hingga 16 April 2026, serangan Israel ke Lebanon telah mengakibatkan 2.294 kematian dan 7.544 luka-luka. Korban termasuk 100 petugas pertolongan pertama dan tenaga medis, dengan 233 petugas pertolongan pertama dan tenaga medis lainnya terluka" (Tibet.cn, 2026). Laporan lain dari QQ News menyebutkan bahwa "dalam lebih dari sebulan terakhir, Israel terus melancarkan operasi militer di Lebanon selatan, mengakibatkan 1.800 kematian, 5.873 luka-luka, dan lebih dari 1,1 juta orang mengungsi" (2026).
The Guardian, dalam sebuah artikel yang dikutip oleh TVB News, menyebut Netanyahu sebagai "arsitek utama kehancuran Gaza" dan menyatakan bahwa ia, bersama dengan Trump, "dianggap sebagai pelaku utama kejahatan perang" (2026). Artikel tersebut mencatat bahwa "Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag masih memberlakukan surat perintah penangkapan terhadapnya" (The Guardian, seperti dikutip dalam TVB News, 2026).
Suara-Suara yang Dibungkam
Suara-suara yang menentang kebijakan Netanyahu datang dari berbagai latar belakang, yaitu umat Yahudi, Kristen, dan Muslim, yang semuanya melihat tindakan Israel sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.
Noam Chomsky, "Genosida Inkremetal"
Chomsky telah menulis secara ekstensif tentang konflik Israel-Palestina. Dalam Fateful Triangle, ia menunjukkan bagaimana Israel mengejar "kebijakan genosida inkremental di Palestina" (Chomsky, seperti dikutip dalam Iran Daily, 2023). Chomsky secara konsisten menyoroti kontradiksi antara retorika perdamaian Netanyahu dan realitas di lapangan, di mana pembangunan permukiman ilegal terus berlanjut dan kekerasan terhadap warga Palestina tidak pernah berhenti.
Norman G. Finkelstein, "Gaza sebagai Kamp Konsentrasi"
Finkelstein, yang karyanya tentang "industri Holocaust" telah membuatnya menjadi persona non grata di Israel, adalah salah satu suara paling vokal yang menuduh Israel melakukan genosida. "Finkelstein menyebut Israel sebagai 'negara supremasi Yahudi' dan telah dilarang memasuki Israel selama sepuluh tahun" (Finkelstein, seperti dikutip dalam Jewish Standard, 2024). Analisisnya tentang Gaza sebagai "kamp konsentrasi" telah menjadi kerangka penting untuk memahami realitas pendudukan.
Rabbi Yisroel Dovid Weiss dan Neturei Karta, "Yudaisme Bukan Zionisme"
Weiss dan gerakan Neturei Karta mewakili suara minoritas Yahudi yang secara konsisten menolak Zionisme atas dasar teologis. "Neturei Karta mengatakan bahwa orang Yahudi tidak memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri" (Weiss, seperti dikutip dalam IslamiCity, 2023). Bagi mereka, Negara Israel adalah entitas politik yang tidak memiliki legitimasi teologis, dan kebijakan Netanyahu adalah penyimpangan dari esensi Yudaisme yang sejati.
Alfred M. Lilienthal, Kritik Awal terhadap Zionisme
Lilienthal adalah salah satu suara Yahudi-Amerika pertama yang secara terbuka mengkritik Zionisme politik. Bukunya What Price Israel (1953) mempertanyakan klaim Zionisme dan mengkritik pengaruh lobi Yahudi terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa Zionisme politik akan "merusak Yudaisme" dan menciptakan konflik abadi di Timur Tengah.
Naim Ateek dan Mitri Raheb, Teologi Pembebasan Palestina
Ateek dan Raheb mewakili suara Kristen Palestina yang menolak penggunaan Alkitab untuk membenarkan penindasan. Ateek, dalam Justice and Only Justice (1989), meletakkan dasar bagi teologi pembebasan Palestina. Raheb, dalam Faith in the Face of Empire (2014), menawarkan kritik terhadap "ekstremisme Kristen yang terinstitusionalisasi" yang mendukung Zionisme.
Steven Paas, Kritik terhadap Zionisme Kristen
Paas, seorang teolog Reformed Belanda, mengkritik fenomena "Israelisme" atau Zionisme Kristen, yang menurutnya memberikan status lebih tinggi kepada orang Yahudi dan Negara Israel daripada yang seharusnya. Baginya, "Israel modern memang memiliki hak untuk eksis, tetapi itu bukanlah Israel yang dimaksud dalam Alkitab, dan ia harus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri" (Paas, seperti dikutip dalam CT.org.tw, 2024). Ini adalah sanggahan langsung terhadap klaim teologis yang sering digunakan untuk mendukung kebijakan Netanyahu.
Warisan Darah dan Impunitas
Benjamin Netanyahu akan dikenang dalam sejarah sebagai salah satu pemimpin paling kontroversial dan paling banyak menumpahkan darah di era modern. Di bawah kepemimpinannya, puluhan ribu warga Palestina dan Lebanon telah kehilangan nyawa, jutaan lainnya mengungsi, dan seluruh infrastruktur sipil dihancurkan. Surat perintah penangkapan ICC, kecaman PBB, dan protes global tampaknya tidak mampu menghentikan mesin perang yang ia kendalikan.
Warisan Netanyahu adalah warisan darah dan impunitas. Ia telah menunjukkan kepada dunia bahwa kekuasaan militer yang didukung oleh sekutu-sekutu kuat dapat meniadakan hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, seperti yang diperingatkan oleh para kritikus seperti Chomsky, Finkelstein, Weiss, dan yang lainnya, keadilan pada akhirnya akan menuntut pertanggungjawaban. Sejarah tidak akan melupakan, dan para korban tidak akan diam. Sebagai bahan tafakur, silakan lihat buah kejahatan Netanyahu pada Tabel Kronologis Operasi Militer Israel di Bawah Pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Tabel Kronologis Operasi Militer Israel di Bawah Pemerintahan Benjamin Netanyahu.
“Crimes Against Humanity” yang Lenggang Kangkung
Dunia internasional telah mengambil beragam tindakan hukum terhadap Benjamin Netanyahu. Mulai dari surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC), hingga penyelidikan di pengadilan berbagai negara, semuanya bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi di Gaza.
Berikut adalah rangkuman dari berbagai upaya hukum tersebut, yang saya sajikan dalam bentuk tabel agar lebih mudah untuk dipahami lihat Tabel Rangkuman Tindakan Hukum Internasional terhadap Benjamin Netanyahu.
Tabel Rangkuman Tindakan Hukum Internasional terhadap Benjamin Netanyahu)
Mengapa Netanyahu Asyik Lenggang Kangkung?
Mungkin kita semua marah ataupun bingung mengapa walau surat perintah penangkapan internasional sudah diterbitkan, tetapi Netanyahu masih bebas bepergian. Mungkin pula muncul pertanyaan dalam benak kita, "Siapa yang melindunginya?" Jawabannya adalah “jejaring kekuasaan global yang beroperasi secara terang-terangan dan saling berkelindan.” Jadi, tidak ada unsur konspirasi terlebih mistisisme di sini. Jaringan ini terdiri atas negara adidaya, mesin lobi politik terorganisir dengan pendanaan masif, serta aliansi ideologis yang mengakar. Inilah yang secara kolektif telah menciptakan perisai kokoh, tetapi amoral, yang melindungi seorang penjahat dari hukuman.
Para pemikir kritis seperti Noam Chomsky, Norman Finkelstein, hingga teolog Palestina Naim Ateek dan Mitri Raheb, telah lama membongkar anatomi kekuasaan ini. Mari kita bedah satu per satu aktor-aktor kunci yang membentuk perisai tersebut berdasarkan analisis mereka.
Amerika Serikat, Centeng “Setia” Netanyahu
Centeng adalah sebutan di zaman Betawi “tempo doeloe” yaitu penjaga keamanan orang-orang kaya “Londo”, “Babah”, atau “Demang.” Itulah pekerjaan Donald Trump, centeng Netanyahu. Trump baru mau kerja apabila bayaran (fulus) cocok. “Kagak cocok, kagak kerja” itulah prinsip Trump. Trump adalah “pengusaha sukses” yang kini turun derajat kemanusiaannya jadi sekadar “centeng” (bahasa kerennya bodigat) Netanyahu. Perbuatan Anda menunjukkan siapa Anda, dan Trump pasti paham itu (kalau tidak demensia).
Ada sejumlah cara kerja Trump dalam mencentengi Netanyahu. Pertama, Tameng Veto di Dewan Keamanan PBB. Selama perang Gaza yang menghancurkan, AS adalah satu-satunya negara yang secara konsisten menggunakan hak istimewanya sebagai anggota tetap DK PBB untuk melindungi Israel dari kecaman dan tuntutan internasional. Bahkan sejak Oktober 2023, Washington telah “empat kali menggunakan hak veto” untuk menggagalkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata di Gaza. Pada voting terbaru bulan November 2024, AS sendirian melawan 14 anggota DK PBB lainnya. Inilah bukti nyata loyalitas seorang centeng kepada bohirnya. Sekaligus, ini juga bukti nyata adanya isolasi diplomatik ekstrem AS demi membela Israel.
Kedua, melakukan perlindungan dari ICC dengan ancaman militer. Ketika Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan, AS menjadi pembela Netanyahu yang paling vokal. Perlindungan ini bukan hanya retorika, melainkan didasari oleh undang-undang yang kontroversial, yang sengaja diterbitkan di Kongres AS yaitu “The Hague Invasion Act” (Undang-Undang Invasi Den Haag). Undang-undang ini resminya bernama American Service-Members' Protection Act, disahkan pada tahun 2002 dan secara eksplisit "memberi wewenang kepada AS untuk menggunakan segala cara, termasuk kekuatan militer, untuk melindungi warga negaranya dan warga negara sekutunya dari yurisdiksi ICC". Ancaman eksistensial ini jelas ditujukan untuk mengintimidasi Mahkamah yang berbasis di Den Haag, Belanda. Dengan demikian, Anda masih percaya pemerintah Amerika Serikat itu beradab dalam hubungan internasionalnya?
Ketiga, adanya aliran dana dan senjata tak terbatas kepada Zionis Israel. Perilaku “centeng” ini mewujud dalam “tameng diplomatik dan hukum”, yang diperkuat oleh dukungan material yang luar biasa besar. Sejak Oktober 2023 hingga akhir 2024, AS telah menggelontorkan bantuan militer ke Israel senilai lebih dari 22 miliar dolar AS (setara Rp. 377.080.000.000.000). Angka ini jauh melampaui bantuan tahunan normal, dan bantuan ini juga mencakup puluhan ribu ton persenjataan canggih yang memungkinkan mesin perang Israel terus beroperasi tanpa hambatan.
Operasi Mesin Lobi Zionis AIPAC di AS
Mengapa dukungan AS begitu kokoh dan tampak tak tergoyahkan? Di sinilah peran kunci American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Kelompok lobi ini adalah salah satu yang paling berpengaruh dalam sejarah politik Amerika, dan kekuatannya berakar pada pendanaan yang masif dan strategi yang sistematis. Penulis akan membedah isi perut dari organisasi “tukang sogok” ini.
Organisasi ini punya jaringan pengaruh dengan dana raksasa. AIPAC adalah "mesin" yang memastikan kebijakan luar negeri AS tetap pro-Israel. Dalam siklus pemilu 2024 saja, AIPAC dan afiliasinya menghabiskan 95,1 juta dolar AS (setara Rp. 1.630.014.000.000) untuk memengaruhi hasil pemilu, termasuk mengalahkan para kritikus Israel di Kongres seperti Jamaal Bowman dan Cori Bush. Norman G. Finkelstein menyebut fenomena ini sebagai "pembelian hampir setiap politisi senior di Amerika Serikat, yang difasilitasi oleh sistem suap yang dilegalkan". Kekuasaan AIPAC begitu besar sehingga kritik terhadap Israel hampir tidak ditoleransi di media arus utama AS.
Membongkar Akar Ideologis "Tangan Tak Terlihat" Pelindung Zionis Israel
Para intelektual dan teolog yang Anda sebutkan telah lama membongkar fondasi ideologis dan politik dari "tangan tak terlihat" pelindung Zionis Israel. Noam Chomsky berpendapat bahwa dukungan AS yang tak tergoyahkan kepada Israel bukanlah semata karena kekuatan lobi, melainkan karena “Israel berfungsi sebagai "negara klien" AS” untuk mendominasi Timur Tengah yang kaya sumber daya. Dalam pandangannya, selama "tuan" (AS) setuju, maka apa pun yang dikatakan hukum internasional tidak lagi relevan bagi Zionis Israel. Ia menggambarkan operasi militer Israel di Gaza sebagai "kekejaman yang mengerikan, sadis, kejam, dan pembunuhan" yang dilakukan secara periodik.
Norman G. Finkelstein secara konsisten menyoroti bagaimana lobi pro-Israel, dengan AIPAC di garis depan, telah "membeli" hampir setiap politisi senior di AS, sebuah fakta yang difasilitasi oleh sistem "suap yang dilegalkan" (legalised bribery) dalam politik Amerika. Alfred M. Lilienthal, sebagai kritikus awal Zionisme politik, ia telah memperingatkan bahwa "Zionisme bukanlah Yudaisme. Yudaisme bukanlah Zionisme. Zionisme adalah gerakan politik". Peringatannya ini penting untuk memahami bahwa kritik terhadap Israel dan pendukungnya bukanlah anti-Semitisme, melainkan kritik politik yang sah. Ia bahkan menyebut bahwa kesetiaan kepada Negara Israel adalah bentuk "penyembahan berhala".
Rabbi Yisroel Dovid Weiss (Neturei Karta) mewakili suara dari dalam tradisi Yahudi sendiri ini dengan lantang mengutuk "Negara Zionis Israel" yang menurutnya telah "menyamar, bersembunyi di balik agama saya dan mengatakan bahwa agama membenarkan dan mendukung genosida mereka di Gaza". Ia secara eksplisit menyebut Netanyahu "bukan Yahudi" dan "melawan Tuhan". Rabbi Joel Teitelbaum (Satmar Rebbe), seorang pendiri Dinasti Satmar ini adalah penulis Va-yoel Moshe, yang dianggap sebagai "teks anti-Zionis paling radikal yang pernah ditulis oleh seorang Yahudi di zaman modern". Warisan pemikirannya terus hidup dan menginspirasi gerakan anti-Zionis Yahudi hingga hari ini.
Naim Ateek & Mitri Raheb, keduanya adalah teolog Kristen Palestina. Ateek, seorang pendeta Anglikan, adalah pelopor teologi pembebasan Palestina yang mengkritik penggunaan Alkitab untuk membenarkan penindasan. Raheb, seorang pendeta Lutheran, menyerukan dekolonisasi teologi dan menyebut proyek Israel sebagai "kolonialisme pemukim" yang didukung oleh teologi Kristen yang salah kaprah. Lalu, terdapat pula Steven Paas, seorang teolog Reformed Belanda mengkritik fenomena "Israelisme" atau “Zionisme Kristen,” yang menurutnya memberikan status lebih tinggi kepada orang Yahudi dan Negara Israel daripada yang seharusnya. Baginya, "Israel modern memang memiliki hak untuk eksis, tetapi itu bukanlah Israel yang dimaksud dalam Alkitab, dan ia harus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri".
Dengan demikian, "tangan tak terlihat" yang melindungi Benjamin Netanyahu bukanlah misteri yang tak terpecahkan. Ia adalah manifestasi dari kekuatan negara adidaya yang menggunakan sekutunya sebagai proksi geopolitik, mesin lobi politik yang bekerja dengan pendanaan fantastis, dan aliansi ideologis yang dibangun di atas interpretasi agama yang eksklusif dan supremasis. Kombinasi dari faktor-faktor inilah, bukan konspirasi bawah tanah, yang menciptakan tembok impunitas yang begitu tebal. Selama tembok ini berdiri, perjalanan menuju keadilan internasional bagi rakyat Palestina dan Lebanon akan terus menjadi perjuangan yang sangat berat.
Para “Bohir” Zionis Yahudi dan Zionis Kristen
Politisi AS tidak akan mau bekerja kalau tidak ada uang. Uang mereka peroleh melalui PAC dari aneka lobi Zionis di Amerika Serikat. Sebenarnya, siapa saja bohir-bohir Zionis Yahudi dan Zionis Kristen yang paling banyak menyebarkan uang kepada para politisi Amerika Serikat?
Para Bohir ini adalah inti bagaimana kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Israel dapat tetap kokoh selama puluhan tahun. Kebijakan ini tetap kokoh , bahkan di bawah bayang-bayang tuduhan kejahatan perang terhadap Israel. Di balik dukungan yang tampak tak tergoyahkan itu, terdapat jaringan pendanaan yang sangat terorganisir dan masif. Jaringan ini bukanlah konspirasi rahasia, melainkan sebuah sistem "suap yang dilegalkan" (legalised bribery) yang bekerja secara terbuka, di mana para miliarder dan kelompok lobi menuangkan dana fantastis untuk memastikan para politisi AS tetap sejalan dengan agenda mereka (Finkelstein, 2019).
Terdapat sejumlah “Bohir Gemuk” atau bahasa kerennya “megadonor (bukan megalodon, lho) utama” baik dari kalangan Zionis Yahudi maupun Zionis Kristen, yang menjadi arsitek keuangan di balik kebijakan pro Israel yang selalu menjadi hegemoni di pusat-pusat pemerintahan AS.
Keluarga Adelson, yang kini dipegang Miriam Adelson dari Sheldon Adelson yang sudah mati. Adelson adalah “bohir gemuk” asal Yahudi. Mereka adalah dinasti donatur terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah politik AS modern, terutama di Partai Republik. Kekayaan mereka yang berasal dari bisnis kasino global bernama Las Vegas Sands, yang digunakan sebagai senjata politik yang sangat efektif.
Setelah kematian Sheldon pada tahun 2021, Miriam Adelson Sang Janda, seorang dokter dan miliarder Israel-Amerika, mengambil alih kendali penuh dan terbukti menjadi kekuatan yang lebih besar. Pada tahun 2024 saja, ia menggelontorkan dana sekitar $100 juta dolar AS (setara Rp. 1.714.000.000.000) melalui komite aksi politik (PAC, Political Action Committee) supernya yang bernama Preserve America, guna mendukung kampanye Donald Trump (English.pravda.ru, 2026; Islam Times, 2025). Sumbangan sebesar itu menjadikan Miriam sebagai salah satu donor politik paling kuat dalam sejarah AS. Tujuan utamanya jelas, demi memastikan dukungan AS yang tak tergoyahkan kepada Israel, termasuk pengakuan atas pencaplokan wilayah dan penentangan terhadap pembentukan negara Palestina.
“Bohir gemuk” Zionis Yahudi lainnya bernama Haim Saban. Jika Adelson adalah raja di Partai Republik, Haim Saban adalah tokoh kuncinya di Partai Demokrat. Miliarder media keturunan Israel-Amerika, yang kekayaannya berasal dari waralaba "Power Rangers" ini, adalah donatur utama Partai Demokrat dan sangat vokal dalam upayanya memastikan partai tersebut tetap pro-Israel. Ia terkenal dengan pernyataannya yang blak-blakan, "Saya hanya peduli pada satu isu, dan isu saya adalah Israel," dan tidak segan menggunakan pengaruh finansialnya untuk menyingkirkan politisi yang dianggapnya tidak cukup mendukung Israel. Pada tahun 2002, ia menyumbang $13 juta (setara Rp. 222.820.000.000) ke Brookings Institution untuk mendirikan "Saban Center for Middle East Policy" guna membentuk narasi kebijakan Timur Tengah di Washington (IRMEP, 2022). Selama bertahun-tahun, ia dan istrinya telah menyumbangkan jutaan dolar untuk kampanye presiden dari Partai Demokrat, termasuk $5 juta (setara Rp.85.700.000.000) untuk Super PAC Hillary Clinton pada tahun 2016 (Presstv.ir, 2016).
Paul E. Singer adalah “bohir gemuk” Zionis Yahudi lainnya. Singer adalah seorang manajer hedge fund miliarder yang merupakan salah satu pendukung finansial terbesar Partai Republik dan gerakan pro-Israel. Pada pemilu 2024, Singer menyumbang jutaan dolar ke Super PAC Partai Republik, termasuk $25 juta (setara Rp.428.500.000.000) untuk Senate Leadership Fund dan $12 juta (setara Rp.205.680.000.000) untuk Congressional Leadership Fund (InfluenceWatch, 2025). Ia juga merupakan salah satu donatur utama AIPAC (Declassified UK, 2025). Kedekatannya dengan elite politik Israel, termasuk menjadi penasihat ekonomi bagi Benjamin Netanyahu, menunjukkan hubungan simbiosis mutualisme antara donatur dan politisi.
Pembaca pasti pernah dengar Michael Bloomberg, seorang Zionis Yahudi yang juga “bohir gemuk.” Mantan Wali Kota New York dan konglomerat media ini adalah salah satu donatur individu terbesar untuk kandidat Partai Demokrat. Bloomberg telah berulang kali menegaskan komitmennya yang "teguh" terhadap Israel, termasuk berjanji tidak akan meninjau kembali paket bantuan militer tahunan AS yang bernilai miliaran dolar. Ia secara aktif mendanai kandidat-kandidat yang sejalan dengan visinya untuk hubungan AS-Israel, menjadikannya pilar penting pendanaan pro-Israel di kubu Demokrat.
Jika Anda pernah mendengar Home Depot, maka nama Bernard "Bernie" Marcus perlu diketahui juga, sebab ialah pendirinya. “Bohir gemuk” Zionis Yahudi bernama Bernie Marcus yang kini “sudah beda alam” adalah salah satu donatur Republik dan pendukung Israel yang paling konsisten. Sebelum sakaratul maut dan ajal menjemputnya pada November 2024, ia sempat memberikan sumbangan sebesar $1 juta (setara Rp.17.140.000.000) kepada United Democracy Project, sebuah Super PAC yang berafiliasi dengan AIPAC (Times of Israel, 2024). Ia juga menyumbang puluhan juta dolar untuk program-program seperti RootOne, yang bertujuan mengirim remaja Yahudi ke Israel untuk membangun koneksi yang kuat dengan negara tersebut (Commentary.org, 2024).
“Bohir gemuk” Zionis Yahudi lainnya bernama J.B. Pritzker. Meskipun Gubernur Illinois dari Partai Demokrat ini belakangan mengkritik AIPAC atas pengaruhnya yang "pro-Trump" dan berhenti menjadi donor lebih dari satu dekade lalu, profilnya penting untuk menunjukkan bagaimana jaringan ini bekerja. Sebagai seorang miliarder, ia dulunya adalah bagian dari jaringan donor AIPAC yang sangat berpengaruh, sebelum akhirnya memutuskan hubungan dan menyebut uang kepentingan khusus tersebut telah merusak politik (Times of Israel, 2026).
Selain Zionis Yahudi, terdapat pula para arsitek dana dari kalangan yang kerap dijuluki sebagai Zionis Kristen. Pengaruh lobi Zionis Kristen ini mayoritas berasal dari kalangan Evangelikal dan seringkali luput dari perhatian. Namun, namun secara finansial dan politik dampaknya sangat besar, bahkan seringkali melampaui lobi Zionis Yahudi.
Sebuah organisasi bernama International Fellowship of Christians and Jews (IFCJ) adalah contoh utama. IFCJ dipimpin oleh orang bernama Yael Eckstein. IFCJ adalah pembangkit tenaga listrik filantropi yang sebagian besar donornya (92%) berasal dari komunitas Kristen, terutama Evangelikal (Mother Jones, 2025). Organisasi ini adalah mesin penggalangan dana terbesar untuk Israel. Sejak didirikan pada tahun 1983, IFCJ mengklaim telah menyalurkan lebih dari $3,6 miliar dolar AS (setara Rp.61.704.000.000.000) untuk mendukung Israel dan berbagai program yang berkaitan dengan orang Yahudi (Pamfleti.net, 2025). Setelah serangan 7 Oktober 2023, IFCJ langsung menggelontorkan $100 juta (setara Rp.1.714.000.000.000) dalam bentuk bantuan darurat, termasuk untuk membangun tempat perlindungan bom dan menyediakan kendaraan lapis baja (Jerusalem Post, 2024). Skala pendanaannya menjadikan IFCJ sebagai salah satu kekuatan finansial terbesar di balik proyek Zionis modern.
Selain IFCJ terdapat pula Christians United for Israel (CUFI). CUFI didirikan oleh pendeta John Hagee. CUFI adalah organisasi akar rumput Zionis Kristen terbesar di AS, dengan klaim anggota mencapai 10 hingga 11 juta orang, jauh lebih besar dari seluruh populasi Yahudi di Amerika (Political Research, 2024; The Guardian, 2023). CUFI tidak hanya memobilisasi jutaan suara, tetapi juga menggalang dana besar-besaran. John Hagee Ministries dan CUFI secara total telah menyumbangkan lebih dari $135 juta dolar AS (setara Rp.2.313.900.000.000) untuk mendukung tujuan-tujuan Yahudi dan Israel (Channel 3000, 2025). Pengaruh politik CUFI di Partai Republik sangat besar. CUFI secara aktif melobi Kongres untuk menolak solusi dua negara dan mendukung perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat (The National News, 2008).
AIPAC, Mesin Perang Finansial di Capitol Hill
AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) adalah saluran utama yang mengonsolidasikan dan mendistribusikan kekayaan para donatur ini ke dalam sistem politik AS. Melalui Super PAC-nya, United Democracy Project (UDP), AIPAC bertindak sebagai mesin yang sangat efektif untuk mendukung sekutu dan menghancurkan lawan politik.
Pada siklus pemilu 2024, AIPAC dan afiliasinya mengeluarkan dana sedikitnya $95,1 juta atau setara Rp.1.630.014.000.000 (Jewish News Syndicate, 2025). Menurut laporan lain, angkanya bahkan mencapai $100 juta (setara Rp.1.714.000.000.000) yang diinvestasikan dalam 389 pemilihan kongres (318 dimenangkan oleh kandidat pro-Israel) (Wikipedia, 2025). Angka ini menjadikan AIPAC sebagai salah satu organisasi pengeluaran luar terbesar dalam sejarah pemilu AS.
Sasaran utama AIPAC adalah politisi progresif, terutama anggota "The Squad" yang vokal mengkritik pendudukan Israel. Mereka menggelontorkan sedikitnya $14,5 juta (Rp.248.530.000.000) hanya untuk mengalahkan Jamaal Bowman di New York dan Cori Bush di Missouri, menjadikannya salah satu pengeluaran terbesar untuk sebuah pemilihan pendahuluan dalam sejarah AS (AIPAC spending, 2024). Taktik ini adalah pesan yang jelas bagi semua politisi: Kritik terhadap Israel akan berakhir pada kematian karier politik Anda.
Jadi, "tangan tak terlihat" bukanlah konspirasi, melainkan kekuatan kapital yang bekerja secara sistematis melalui jaringan donatur seperti Miriam Adelson, Paul Singer, Michael Bloomberg, Haim Saban, dan organisasi seperti AIPAC, IFCJ, dan CUFI. Mereka adalah bukti nyata bagaimana uang dapat membentuk kebijakan luar negeri sebuah negara adidaya dan membutakan mata dunia terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi setiap hari. Selama aliran dana ini terus mengalir, selama itulah mesin perang dan pendudukan Israel akan terus mendapatkan "cek kosong" dari Washington.
Jaringan Para Bohir Zionis
Jaringan pendanaan yang mendukung kebijakan Netanyahu bersifat global, melibatkan perusahaan multinasional, konglomerasi media, dan individu-individu dengan kekayaan luar biasa. Seperti yang telah diingatkan oleh para pemikir kritis seperti Noam Chomsky dan Norman G. Finkelstein, aliansi antara kekuatan kapital dan ideologi Zionis ini beroperasi secara sistemik dan lintas batas.
Penulis akan menyajikan data secara terstruktur, dimulai dari perusahaan-perusahaan yang dikendalikan oleh para “bohir utama”, kemudian profil para pemimpin AIPAC dan UDP, dan terakhir, pemetaan para pemain kunci dari berbagai negara dan sektor industri.
Perusahaan yang Dikendalikan oleh Para Bohir Utama
Berikut adalah rincian perusahaan dan aset yang berada di bawah kendali para tokoh Zionis Yahudi dan Zionis Kristen. Akan dipaparkan aneka perusahaan, aset, dan sektor industri tempat mereka berkegiatan dalam Tabel Perusahaan yang Dikendalikan Bohir-bohir Utama.
Tabel Perusahaan yang Dikendalikan Bohir-bohir Utama
Profil Pemimpin AIPAC dan UDP
Elliot Brandt adalah CEO AIPAC saat ini, yang secara resmi mengambil alih jabatan tersebut pada akhir tahun 2024, menggantikan Howard Kohr yang telah menjabat selama 27 tahun. Brandt adalah seorang veteran di AIPAC, telah bekerja di organisasi tersebut selama hampir tiga dekade. Ia lulus dari Stanford University pada tahun 1990 dengan gelar di bidang Ilmu Politik. Sebelum menjadi CEO, ia menjabat sebagai Wakil CEO dan memimpin kantor-kantor AIPAC di San Francisco dan Los Angeles. Ia juga pernah mengikuti program fellowship OTZMA di Israel pada tahun 1991. Pengangkatannya terjadi pada masa yang krusial bagi hubungan AS-Israel.
Super PAC AIPAC adalah UDP (United Democracy Project) dan CEO-nya bernama Robert H. “Rob” Bassin. United Democracy Project (UDP), Super PAC yang berafiliasi dengan AIPAC dan diluncurkan pada Desember 2021. Sebelum memimpin UDP, Bassin adalah direktur politik AIPAC, yang berarti ia memiliki pemahaman mendalam tentang strategi pendanaan politik dan lobi di Washington. Di bawah kepemimpinannya, UDP berhasil mengumpulkan $87 juta (setara Rp.1.491.180.000.000) pada siklus pemilu 2023-2024, menjadikannya salah satu Super PAC bipartisan terbesar di AS, dan secara agresif menargetkan politisi progresif yang kritis terhadap Israel seperti Jamaal Bowman dan Cori Bush.
Para Bohir dari Zionis Israel dan Zionis Kristen dari Berbagai Negara
Berikut adalah pemetaan para pemain kunci dari berbagai negara, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari sumber-sumber independen. Para pembaca perlu mengetahui bahwa aktivitas lobi Zionis tidak hanya ada di Amerika Serikat saja melainkan cukup global.
Tabel Para Bohir di Kawasan Amerika Utara dan Eropa Barat
Tabel Para Bohir Zionis Eropa Selatan dan Lainnya
Zionis di Sejumlah Negara Lain
Untuk negara-negara seperti Selandia Baru, Malta, Monaco, Singapura, Indonesia, Polandia, Ukraina, Cina, Turki, Yunani, Portugal, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Mesir, Kuwait, Oman, Yordania, Austria, Liechtenstein, Norwegia, Finlandia, Swedia, Ceko, Slovak, Serbia, Kroasia, dan Siprusdata mengenai individu-individu "bohir" yang secara terbuka dan dominan mendanai gerakan Zionis Israel secara langsung dari negara-negara tersebut sangat sulit ditemukan dalam sumber-sumber kritis yang independen.
Ini tidak berarti tidak ada aliran dana. Pola yang terjadi seringkali lebih kompleks:
- Aliran Dana Melalui Perusahaan Multinasional. Banyak perusahaan global yang beroperasi di negara-negara ini (misalnya, Chevron, JP Morgan, BAE Systems) secara aktif mendanai atau berbisnis dengan Israel, tetapi para pengambil keputusannya seringkali berbasis di AS atau Eropa.
- Operasi Melalui LSM dan Yayasan Global. Organisasi seperti IFCJ atau ELNET beroperasi secara global, menggalang dana dari individu di banyak negara tanpa harus memiliki "bohir" lokal yang menonjol.
- Dinamika Geopolitik yang Kompleks. Di negara-negara seperti Turki, China, atau Arab Saudi, hubungan dengan Israel lebih banyak digerakkan oleh kepentingan negara dan perdagangan bilateral daripada sumbangan individu.
Tabel Para Bohir Zionis dari Aneka Sektor Industri
Akhir Kisah, antara Jabotinsky dan Netanyahu
Di akhir tulisan ini, penulis hendak menceritakan sebuah kisah bertema perulangan sejarah. Ini terjadi manakala kita lakukan perbandingan antara Ze'ev Jabotinsky dan Benjamin Netanyahu. Perbandingan keduanya bukanlah sekadar membandingkan dua individu, melainkan menelusuri sebuah kontinum ideologis. Jabotinsky adalah arsitek yang merancang cetak birunya, sementara Netanyahu adalah kontraktor yang, dengan teknologi dan kekuatan militer abad ke-21, mewujudkan cetak biru tersebut dalam skala yang tak terbayangkan oleh sang arsitek.
Keduanya adalah dua sosok yang dihubungkan oleh benang merah ideologi yang sama: Zionisme Revisionis, sebuah doktrin yang secara fundamental menolak hak-hak politik bangsa Palestina dan menempatkan kekuatan militer sebagai satu-satunya bahasa diplomasi yang sah. Berikut adalah perbandingan mendalam berdasarkan perspektif para pemikir kritis yang menjadi rujukan kita.
Ze'ev Jabotinsky, Arsitek "Tembok Besi"
Ze'ev (Vladimir) Jabotinsky (1880–1940) adalah bapak intelektual Zionisme Revisionis. Pengaruhnya yang paling abadi adalah doktrin "Tembok Besi" (Iron Wall) yang ia rumuskan dalam esainya pada tahun 1923 (Zakariah, 2024). Ideologi "tembok besi" fondasi filosofisnya didasarkan pada kekerasan.
Dalam esai The Iron Wall dan The Ethics of the Iron Wall, Jabotinsky menyatakan dengan sangat gamblang bahwa tidak ada kemungkinan untuk mencapai kesepakatan damai dengan bangsa Arab Palestina. Ia menolak keras gagasan Zionis arus utama yang percaya bahwa pembangunan ekonomi dan kemajuan teknologi akan melunakkan hati penduduk asli (Kaplan, 2024). Baginya, itu adalah ilusi yang berbahaya. Jabotinsky menulis:
"Setiap penduduk asli di seluruh dunia akan melawan para kolonis selama mereka masih memiliki secercah harapan untuk bisa menyingkirkan bahaya penjajahan. Itulah yang akan dilakukan oleh bangsa Arab di Palestina selama masih ada secercah harapan di hati mereka." (Jabotinsky, seperti dikutip dalam Kaplan, 2024)
Jabotinsky berargumen bahwa tujuan Zionis untuk mendirikan negara Yahudi di atas tanah Palestina hanya dapat dicapai melalui penggunaan kekuatan militer yang luar biasa dan tanpa kompromi. "Tembok Besi" yang ia maksud adalah metafora untuk kekuatan militer Yahudi yang tak tertembus, yang akan memaksa bangsa Arab untuk menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan atau mengusir para pemukim Yahudi. Pandangan ini secara fundamental menolak gagasan tentang koeksistensi atau solusi dua negara. Sebaliknya, ia meletakkan dasar bagi proyek "Israel Raya" (Eretz Yisrael HaShlema), yang mencakup seluruh wilayah Palestina historis (Royanews, 2025).
Kekejaman Jabotinsky dari Teori ke Praktik
Ideologi Jabotinsky tidak tinggal diam di atas kertas. Ia berperan penting dalam pembentukan organisasi-organisasi paramiliter yang menjadi cikal bakal militer Israel modern. Dalam konteks Haganah, Jabotinsky berkontribusi dalam pembentukannya pada tahun 1920. Haganah awalnya sekadar milisi pertahanan Yahudi tetapi kemudian terlibat dalam berbagai operasi ofensif (Bahloul, 2024). Haganah dianggap sebagai fondasi dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) saat ini.
Selain Haganan, Jabotinsky menginspirasi dalam pembentukan Irgun Zvai Leumi. Irgun adalah organisasi paramiliter bawah tanah yang lebih militan ketimbang Haganah. Irgun didirikan pada tahun 1931 oleh para pengikut Jabotinsky yang merasa Haganah terlalu moderat. Irgun, di bawah kepemimpinan Menachem Begin (yang kelak menjadi Perdana Menteri Israel), bertanggung jawab atas serangan-serangan teror terhadap warga sipil Palestina dan Inggris, termasuk pemboman Hotel King David pada tahun 1946 yang menewaskan 91 orang (Meyssan, 2024).
Warisan paling kelam dari Irgun adalah Pembantaian Deir Yassin pada 9 April 1948. Lebih dari 100 warga sipil Palestina, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua, dibantai secara brutal. Tindakan ini secara luas dianggap sebagai tindakan teror yang bertujuan untuk menakut-nakuti penduduk Palestina agar melarikan diri dari tanah mereka, sebuah peristiwa kunci dalam Nakba (Malapetaka) yang menyebabkan terusirnya lebih dari 750.000 warga Palestina (Bahloul, 2024).
Warisan Jabotinsky yang Terkutuk
Para pemikir kritis dengan jelas melihat Jabotinsky sebagai sumber ideologis dari kekerasan Zionis. Dari perspektif Marxis, John Rose (2006) menyebut "Iron Wall" sebagai "penerapan doktrin Zionis yang berlumuran darah" yang menjadi bahan bakar pendorong perang Israel. Dalam perspektif Kristen Palestina, para teolog seperti Naim Ateek dan Mitri Raheb melihat Jabotinsky sebagai arsitek "kolonialisme pemukim" yang menggunakan narasi Alkitab untuk membenarkan perampasan tanah dan penindasan terhadap penduduk asli (Raheb, 2023).
Meskipun Jabotinsky meletakkan fondasi ideologis, ia tidak memiliki kekuatan militer dan teknologi modern untuk melaksanakan visinya dalam skala penuh. Di sinilah Benjamin Netanyahu, sang pelaksana, mengambil alih.
Benjamin Netanyahu, Melampaui Jabotinsky
Benjamin Netanyahu bukan sekadar pengikut Jabotinsky. Netanyahu adalah produk langsung dari ideologi tersebut. Ayahnya, Benzion Netanyahu, adalah sekretaris pribadi Jabotinsky, sehingga sang Perdana Menteri secara harfiah "dibesarkan dengan ASI" Zionisme Revisionis (Tehran Times, 2018; Royanews, 2025). Jika kita analogikan bahwa Jabotinsky adalah arsitek, maka Netanyahu adalah kontraktor yang, dengan sumber daya negara modern, mampu mewujudkan cetak biru "Tembok Besi" dalam skala yang tak terbayangkan oleh Jabotinsky.
Penerapan Doktrin "Tembok Besi" di Abad ke-21
Kebijakan Netanyahu adalah perpanjangan tangan langsung dari doktrin Jabotinsky. Sebuah studi akademis dari Universiti Sains Malaysia secara tegas menyimpulkan bahwa pemerintahan Netanyahu "bertindak sesuai dengan Doktrin Tembok Besi yang dibangun oleh Ze'ev Jabotinsky, khususnya dalam kampanye genosida Gaza baru-baru ini" (Zakariah, 2024).
Penolakan atas solusi dua negara. Sama seperti Jabotinsky yang menolak kompromi teritorial, Netanyahu, melalui partai Likud-nya, secara konsisten menolak pendirian negara Palestina. Platform partainya secara eksplisit menyatakan klaim atas "Israel Raya" (Royanews, 2025). Selain itu, perluasan permukiman ilegal Jabotinsky diperhebat oleh Netanyahu. Kebijakan perluasan permukiman di Tepi Barat yang diduduki, yang merupakan jantung dari proyek "Israel Raya", adalah implementasi praktis dari visi Jabotinsky tentang kolonisasi tanpa henti. Di bawah pemerintahan Netanyahu, pembangunan permukiman mencapai rekor tertinggi (Royanews, 2025).
Hal yang sudah pasti dari keduanya adalah penggunaan kekuatan militer yang brutal. Inilah area di mana Netanyahu secara fundamental melampaui Jabotinsky. Jabotinsky menulis tentang "Tembok Besi" sebagai metafora, tetapi Netanyahu memiliki Angkatan Udara Israel, drone, tank Merkava, dan persenjataan canggih yang didanai oleh miliaran dolar AS untuk membangun "tembok" itu dari baja dan api.
Kekejaman Netanyahu, Genosida yang Disiarkan Langsung
Skala kekejaman yang dilakukan di bawah komando Netanyahu sama sekali tidak sebanding dengan apa yang terjadi pada masa Jabotinsky. Dalam Perang Gaza 2023-2026, dalam menanggapi serangan 7 Oktober, Netanyahu melancarkan kampanye militer yang oleh banyak pakar, termasuk penyelidik PBB dan organisasi hak asasi manusia, disebut sebagai genosida. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, lebih dari 25.000 warga Palestina di Gaza telah dibunuh (Meyssan, 2024). Angka ini terus melonjak hingga lebih dari 70.000 kematian yang dikonfirmasi pada awal 2026, dengan puluhan ribu lainnya terkubur di bawah reruntuhan.
Kekejaman lain Netanyahu yang jauh melampaui Jabotinsky adalah pola kesengajaan untuk melakukan penghancuran total. Berdasarkan data satelit PBB (UNOSAT), 66% bangunan di Jalur Gaza rusak atau hancur total. Ini adalah penghancuran infrastruktur sipil yang sistematis dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern (Bahloul, 2024). Militer Israel di bawah Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa lebih dari dua pertiga korban tewas di Gaza adalah warga sipil, dengan mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Angka ini adalah bukti nyata dari doktrin "Tembok Besi" yang diterapkan tanpa ampun.
Kutukan atas Netanyahu dari Para Pemikir Kritis
Norman G. Finkelstein secara konsisten menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai "genosida" dan menyamakan Gaza dengan "kamp konsentrasi". Baginya, Netanyahu adalah personifikasi dari negara "supremasi Yahudi" yang dibangun di atas fondasi ideologis Jabotinsky. Noam Chomsky menyebut operasi militer Israel di Gaza sebagai "kekejaman yang mengerikan, sadis, kejam, dan pembunuhan" yang dilakukan secara periodik. Ia melihat tindakan Netanyahu sebagai bagian dari strategi "genosida inkremental" untuk menghancurkan masyarakat Palestina.
Rabbi Yisroel Dovid Weiss, pemimpin Neturei Karta menyebut Netanyahu "bukan Yahudi" dan "melawan Tuhan". Baginya, tindakan negara Zionis adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Yudaisme yang sejati, dan ia menyebut serangan di Gaza sebagai "serangan genosida". Thierry Meyssan, dalam analisisnya untuk Voltaire Network, Meyssan (2024) secara eksplisit menyebut kelompok yang dipimpin Netanyahu sebagai "pewaris ideologi yang telah melakukan kejahatan semacam itu selama satu abad", merujuk langsung pada garis keturunan ideologis dari Jabotinsky.
Tabel Satu Nafas Jabotinsky dan Netanyahu
Referensi
11Onze. (2025). Armed banking: funding the Palestinian genocide. (Laporan LSM independen).
AIPAC spending. (2024, June 21). AIPAC spends $14.5 million to defeat a pro-Palestinian representative. Alquds.com. https://alquds.com/en/posts/60966
Al Jazeera. (2019, May 5). Netanyahu pledges ‘massive strikes’ in Gaza as death toll rises. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2019/5/5/netanyahu-pledges-massive-strikes-in-gaza-as-death-toll-rises
Al Jazeera. (2021, May 16). Gaza death toll nears 200 amid surge of Israeli raids. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2021/5/16/more-deaths-gaza-israel-launches-most-intense-raids-yet
Al Jazeera. (2025). Who is Miriam Adelson, the pro-Israel donor Trump lauded at the Knesset?. (Laporan media kritis).
Amherst Indy. (2025, October 2). Norman Finkelstein at UMass: The past, present, and future of Gaza. Amherst Indy. https://www.amherstindy.org/2025/10/02/norman-finkelstein-at-umass-the-past-present-and-future-of-gaza
Anadolu Agency. (2020, September 16). Nearly 3,500 Palestinians killed during Netanyahu era. Anadolu Agency. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/nearly-3-500-palestinians-killed-during-netanyahu-era/1975548
Anadolu Agency. (2023, Maret 28). Presiden Israel desak Netanyahu dan oposisi berdialog soal reformasi yudisial. Aa.com.tr. https://www.aa.com.tr/id/dunia/presiden-israel-desak-netanyahu-dan-oposisi-berdialog-soal-reformasi-yudisial/2857616
Anadolu Agency. (2025, May 28). US has spent $22B supporting Israel's military since October 2023. https://www.aa.com.tr/en/americas/us-has-spent-22b-supporting-israel-s-military-since-october-2023/3439052
Antara. (2025, September 12). Tepi Barat kian terbelah, Netanyahu tegaskan takkan ada Palestina. Antaranews.com. https://www.antaranews.com/berita/5105173/tepi-barat-kian-terbelah-netanyahu-tegaskan-takkan-ada-palestina
Ateek, N. (1989). Justice and Only Justice: A Palestinian Theology of Liberation. Orbis Books.
Ateek, N. (1998, June 17). The Palestinian story: An interview with Naim Ateek. The Christian Century. https://www.christiancentury.org/article/2012-05/palestinian-story
Ateek, N. (2017). A Palestinian Theology of Liberation. Orbis Books.
Belfast Telegraph. (2014, July 2). Israeli teenagers' funeral: It is obscene when either side kills children ... not only Palestinians. Belfast Telegraph. https://www.belfasttelegraph.co.uk/opinion/columnists/archive/fionola-meredith/israeli-teenagers-funeral-it-is-obscene-when-either-side-kills-children-not-only-palestinians/30399635.html
Beritasatu. (2021, May 31). Netanyahu, anggota pasukan khusus yang jadi PM Israel terlama. Beritasatu.com. https://www.beritasatu.com/internasional/780839/netanyahu-anggota-pasukan-khusus-yang-jadi-pm-israel-terlama
Blick.ch. (2025). Zürcher Stiftung finanziert israelische Siedler. (Investigasi media Swiss tentang yayasan pendukung pemukim).
Channel 3000. (2025, October 21). Hagee Ministries holds 45th annual night to honor Israel. https://www.channel3000.com/hagee-ministries-holds-45th-annual-night-to-honor-israel/article_...
Chomsky, N. (2013, May 5). Many ironies of the Palestine conflict. Gulf News. https://gulfnews.com/opinion/op-eds/many-ironies-of-the-palestine-conflict-1.1179455
Chomsky, N. (2023, November 3). Gaza, Israel and the Politics of Genocide. Telesur English. https://www.telesurenglish.net/news/Gaza-Israel-and-the-Politics-of-Genocide-20231103-0015.html
Chomsky, N. (t.t.). Noam Chomsky: US role crucial to Israel's crimes. Cuba Si. https://cubasi.cu/en/print/1257
CNN Indonesia. (2025, Agustus 7). Kenapa Kepala IDF Israel tolak rencana Netanyahu rebut total Gaza?. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250807143056-120-1318918/kenapa-kepala-idf-israel-tolak-rencana-netanyahu-rebut-total-gaza
CNN Indonesia. (2026, April 10). Korupsi Netanyahu yang didakwa sejak 2019 capai lebih dari Rp8,5 T. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260410145349-120-1346555/korupsi-netanyahu-yang-didakwa-sejak-2019-capai-lebih-dari-rp85-t
Commentary.org. (2024, November 5). The unapologetic Bernie Marcus. https://www.commentary.org/seth-mandel/the-unapologetic-bernie-marcus/
Countercurrents. (2026, April 20). When faith becomes state power: The rise of institutionalised Christian extremism. Countercurrents. https://countercurrents.org/2026/04/when-faith-becomes-state-power-the-rise-of-institutionalised-christian-extremism
Dawnmena.org. (2025). Elliot Brandt - Profile. (Laporan profil independen).
Dawnmena.org. (2025). Robert H. Bassin - Profile. (Laporan profil independen).
Declassified UK. (2025, October 16). Revealed: Pro-Israel lobbyist’s secret funding operation. https://www.declassifieduk.org/revealed-pro-israel-lobbyists-secret-funding-operation/
Defencepk.com. (2025). Bankrolling genocide: The biggest donors to AIPAC. (Analisis independen).
El Independiente. (2025, May 25). El rabino que predica el fin de Israel: “Está usando con los palestinos la misma lógica que emplearon los nazis contra los judíos”. https://www.elindependiente.com/internacional/2025/05/25/rabino-odia-israel-esta-usando-palestinos-misma-logica-nazis-judios/
Electronic Intifada. (2025). Bank Leumi. (Laporan media kritis tentang perbankan Israel).
English.pravda.ru. (2026, March 3). Who influences US policy on Israel? Marco Rubio explains who rules Washington. https://english.pravda.ru/world/165121-us_policy_israel_rubio/
Finkelstein, N. (2019, August 23). A nation of murderers. NormanFinkelstein.com. https://www.normanfinkelstein.com/a-nation-of-murderers/
Finkelstein, N. (2019, March 10). Israel‘s stranglehold on American politics. OpEdNews. https://www.opednews.com/articles/Israel-s-Stranglehold-on-A-by-Chris-Hedges-Aipac_Israel-Lobby_Israel-Zionism-190308-472.html
Finkelstein, N. (2025, January 30). Norman Finkelstein on Gaza as ‘prime real estate’ for Trump and his invite to Netanyahu. Open The Magazine. https://openthemagazine.com/feature/norman-finkelstein-on-gaza-as-prime-real-estate-for-trump-and-his-invite-to-netanyahu
Forbes. (2025). Miriam Adelson & family. (Meskipun Forbes adalah media arus utama, data kepemilikan saham dan kekayaannya adalah fakta finansial yang dapat diverifikasi).
Garuda TV. (2025, Agustus 5). Netanyahu putuskan pendudukan penuh terhadap Gaza. Garuda.tv. https://garuda.tv/netanyahu-putuskan-pendudukan-penuh-terhadap-gaza
Greenleft.org.au. (2025). Antisemitism summit sponsors are linked to Israel weapons lobby. (Laporan media independen Australia).
Gulf News. (2018, May 14). Israeli shoots dead 41 Palestinians in Gaza. Gulf News. https://gulfnews.com/world/mena/israeli-shoots-dead-41-palestinians-in-gaza-1.2221218
Human Rights Watch. (1996). Israel/Lebanon - "Operation Grapes of Wrath": The civilian victims. Human Rights Watch.
India Today. (2025, November 6). Israel‘s open-air genocide: Norman Finkelstein speaks out. India Today. https://www.indiatoday.in/india-today-insight/story/israels-open-air-genocide-norman-finkelstein-speaks-out-2651173-2025-11-06
InfluenceWatch. (2025, August 20). Paul E. Singer. https://www.influencewatch.org/person/paul-e-singer/
Iran Daily. (2023, November 28). Occupation familiar to American mind. Iran Daily. https://newspaper.irandaily.ir/7742/3/14153
IRMEP. (2022, May 2). AIPAC Super PAC launders donor identities to influence Democratic campaigns in service to Israel. https://irmep.org/aipac-super-pac-launders-donor-identities-to-influence-democratic-campaigns-in-service-to-israel/
Islam Times. (2025, October 30). The Adelson effect: How a donor shaped US diplomacy toward “Israel”. https://www.islamtimes.com/en/article/125121/the-adelson-effect-how-a-donor-shaped-us-diplomacy-toward-israel
IslamiCity. (2023, October 30). "We cry for the Palestinians." IslamiCity. https://www.islamicity.org/93814/we-cry-for-the-palestinians
Iz.ru. (2025, February 6). An anti-Zionist rabbi accused Netanyahu of manipulating religion. https://en.iz.ru/en/1834587/2025-02-06/anti-zionist-rabbi-accused-netanyahu-manipulating-religion
Jawa Pos. (2025, Oktober 22). Profil dan kontroversi Benjamin Netanyahu: Pemimpin terlama Israel yang enggan turun tahta. Jawapos.com. https://www.jawapos.com/internasional/016733422/profil-dan-kontroversi-benjamin-netanyahu-pemimpin-terlama-israel-yang-enggan-turun-tahta?page=2
Jerusalem Post. (2024, October 9). Bridging faiths: IFCJ leads the charge against antisemitism. https://store.jpost.com/bridging-faiths-ifcj-leads-the-charge-against-antisemitism
Jewish News Syndicate. (2025, February 6). Campaign spending at pro-Israel political action committees up in 2024. https://www.jns.org/u.s.-news/campaign-spending-at-pro-israel-political-action-committees-up-in-2024
Jewish Standard. (2024, February 22). Why I digitally decapitated Norman Finkelstein on international TV. Jewish Standard. https://jewishstandard.timesofisrael.com/why-i-digitally-decapitated-norman-finkelstein-on-international-tv
Jewish Telegraphic Agency. (2016, August 24). Anti-Zionist Hasidic children pelt eggs at mock Netanyahu car in anti-Israel protest. https://www.jta.org/2016/08/24/ny/anti-zionist-hasidic-children-pelt-eggs-at-mock-netanyahu-car-in-anti-israel-protest-2
Jewish Virtual Library. (t.t.). Rabbi Yoel Teitelbaum - The Satmarer Rebbe. https://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/biography/teitelbaum.html
Just Peace Advocates. (2024). Who has received funds from Schwartz and Reisman?. (Laporan LSM advokasi perdamaian).
Kompas. (2021, Mei 18). Biografi tokoh dunia: Benjamin Netanyahu, prajurit veteran Israel pemegang komando serangan ke Gaza. Kompas.com. https://www.kompas.com/global/read/2021/05/18/050000470/biografi-tokoh-dunia-benjamin-netanyahu-prajurit-veteran-israel-pemegang?page=2
Lilienthal, A. M. (1953). What price Israel? H. Regnery Co.
Lilienthal, A. M. (2008, December 28). Alfred M. Lilienthal (1913-2008): A prophetic Jewish voice is stilled. Washington Report on Middle East Affairs. https://www.wrmea.org/008-december/alfred-m.-lilienthal-1913-2008-a-prophetic-jewish-voice-is-stilled.html
Liputan6. (2023, November 9). Profil Benjamin Netanyahu, PM Israel terlama yang didesak mundur oleh warganya sendiri. Liputan6.com. https://opera.liputan6.com/lifestyle/read/5446633/profil-benjamin-netanyahu-pm-israel-terlama-yang-didesak-mundur-oleh-warganya-sendiri
Marketscreener. (2025). Paul Singer - Profile. (Data eksekutif dan kepemilikan perusahaan).
Marshall, R. (1998, March). In his dealings with Arafat and Clinton, Israeli Prime Minister Netanyahu ensures there will be no peace. Washington Report on Middle East Affairs, 9–10. https://www.wrmea.org/1998-march/in-his-dealings-with-arafat-and-clinton-israeli-prime-minister-netanyahu-ensures-there-will-be-no-peace.html
Michael West Media. (2026). The billionaires bankrolling rightwing astroturfer Advance Australia. (Jurnalisme investigatif Australia).
Minute Mirror. (2023, October 31). We are crying with Palestinians: Jewish anti-Zionist group. Minute Mirror. https://minutemirror.com.pk/we-are-crying-with-palestinians-jewish-anti-zionist-group-253376
Mother Jones. (2025, September 25). God‘s “blank check”: Christian Zionists are pouring billions of dollars into Israeli extremism. https://www.motherjones.com/politics/2025/09/christian-zionism-billions-dollars-israeli-extremism/
Paas, S. (2012). Christian Zionism examined: A review of ideas on Israel, the church and the kingdom [Review of the book Christian Zionism examined, by S. Paas]. International Journal for Religious Freedom, 5(2), 123–125.
Paas, S. (2024). Christian Zionism Examined (2nd ed.). Wipf and Stock Publishers.
Pamfleti.net. (2025, September 26). God‘s “blank check”/ Christian Zionists, billions of dollars for Israeli extremism. https://www.pamfleti.net/en/share/gods-blank-check-christian-zionists-billions-of-dollars-for-israeli-extremism
Parstoday. (2023, Juli 19). Tolak rencana reformasi yudisial, staf medis Israel unjuk rasa. Parstoday.ir. https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i149884-tolak_rencana_reformasi_yudisial_staf_medis_israel_unjuk_rasa
Pikiran Rakyat. (2025, September 13). Tandatangani kesepakatan perluasan pemukiman di Tepi Barat, PM Netanyahu: Tidak akan ada negara Palestina. Pikiran-rakyat.com. https://www.pikiran-rakyat.com/news/pr-019643440/tandatangani-kesepakatan-perluasan-pemukiman-di-tepi-barat-pm-netanyahu-tidak-akan-ada-negara-palestina?page=all
Podcasts.Apple.com. (2024). Norman Finkelstein: Donald J. Trump, Mossad conspiracies in Israel, and the dying left. Apple Podcasts. https://podcasts.apple.com/us/podcast/norman-finkelstein-donald-j-trump-mossad-conspiracies/id1504809458?i=1000696827544
Political Research. (2024, April 24). 101: Christian Zionism. https://politicalresearch.org/2024/04/24/101-christian-zionism
Press TV. (2024). Zionist lobbyists bankrolling British Labour Party. (Laporan media kritis).
Presstv.ir. (2016, August 20). Pro-Israel billionaires ‘biggest donors’ of Clinton’s super PAC. https://www.presstv.ir/Detail/2016/08/20/480858/US-billionaire-Soros-Saban-Clinton
QQ News. (2026, April 13). "Hanya untuk bersenang-senang," Israel kembali melakukan pembantaian. QQ News. https://news.qq.com/rain/a/20260413A04Y2P00
Quer, G. M. (2019). Israel and Zionism in the eyes of Palestinian Christian theologians. Religions, 10(8), 487. https://doi.org/10.3390/rel10080487
Rabbani, M. (2012, November 17). Bibi’s first war. Palestine Studies. https://oldwebsite.palestine-studies.org/ar/node/226409
Raheb, M. (2014). Faith in the face of empire: The Bible through Palestinian eyes. Orbis Books.
Raheb, M. (2023). Decolonizing Palestine: The land, the people, the Bible. Orbis Books.
Raheb, M. (2023, December 23). Filistinli Rahip Mitri Raheb: 75 günde Gazze'deki Hristiyan topluluğunun yüzde 3'ü öldürüldü. IndyTurk. https://www.indyturk.com/node/683941/d%C3%BCnya/filistinli-rahip-raheb-75-g%C3%BCnde-gazzedeki-hristiyan-toplulu%C4%9Funun-y%C3%BCzde-3%C3%BC
Raheb, M. (2024, October 18). Rev. Dr. Mitri Raheb On the Dangers of Genocidal Theology. Blubrry.com. https://blubrry.com/monday_musings_podcast/134896792/rev-dr-mitri-raheb-on-the-dangers-of-genocidal-theology/
Republika. (2024, November 21). 'Tak punya hati', AS kembali veto gencatan senjata di Gaza. https://news.republika.co.id/berita/sn9rw8393/tak-punya-hati-as-kembali-veto-gencatan-senjata-di-gaza
Republika. (2024, September 13). Ideologi Partai Likud yang dipimpin Netanyahu, sumber terjadinya peperangan. Republika.co.id. https://khazanah.republika.co.id/berita/sjqq3x451/ideologi-partai-likud-yang-dipimpin-netanyahu-sumber-terjadinya-peperangan
Republika. (2026, April 11). Bakal disidang Ahad, Netanyahu coba gagalkan gencatan senjata. Republika.co.id. https://news.republika.co.id/berita/tdb6oz393/bakal-disidang-ahad-netanyahu-coba-gagalkan-gencatan-senjata
Reuters. (2021, May 20). Israel and Hamas both claim victory as ceasefire holds. Reuters. https://www.reuters.com/world/middle-east/gaza-truce-between-israel-hamas-begins-mediated-by-egypt-2021-05-20
Saban Capital Group. (2026). Saban Capital Opens Asia Office. (Siaran pers perusahaan, digunakan untuk data portofolio).
Sindo News. (2023, Maret 27). PM Netanyahu pecat Menhan Israel karena berani melawannya. International.sindonews.com. https://international.sindonews.com/read/1056777/43/pm-netanyahu-pecat-menhan-israel-karena-berani-melawannya-1679875429?showpage=all
Sportico. (2024). Who Are the Dallas Mavs' Owners, the Adelsons and Dumonts?. (Laporan kepemilikan olahraga).
Star Daily. (2026, January 31). Misteri angka kematian Gaza: Militer Israel berbalik arah, akui data 70.000 korban akurat. Star Daily. https://www.singtaousa.com/2026/01/31/news/world/israel-accepts-health-authorities-gaza-death-toll-is-broadly-accurate-saying-70000-have-died
Teitelbaum, J. (1960). Va-yoel Moshe. (Sebuah teks anti-Zionis yang diterbitkan secara pribadi).
Tempo. (2024, April 7). Zionisme Benjamin Netanyahu. Dua.tempo.co. https://dua.tempo.co/kolom/zionisme-benjamin-netanyahu-817119
Tempo. (2024, April 7). Zionisme Benjamin Netanyahu. Tempo.co. https://dua.tempo.co/kolom/zionisme-benjamin-netanyahu-817119
The Cradle. (2025). Paramount 'blacklisting' Hollywood figures critical of Gaza genocide. (Laporan media kritis).
The Daily Star. (2014, July 31). Death toll hits 1,422. The Daily Star. https://www.thedailystar.net/death-toll-hits-1-422-35334
The Ferret. (2025). Arms firms supplying Israel receive money from the Scottish Government. (Jurnalisme investigatif Skotlandia).
The Guardian. (2023, March 6). Evangelical Christians flock to Republicans over support for Israel. https://www.theguardian.com/us-news/2023/mar/06/evangelical-christians-republicans-support-israel
The Intercept. (2020). Bloomberg's Investment Portfolio Includes Bets on Private Equity, Fracking. (Laporan investigatif tentang kekayaan Bloomberg).
The Intercept. (2025). Meet the U.S. Donors Funding ELNET, the AIPAC of Europe. (Laporan investigatif utama).
The National News. (2008, August 21). Taking aim at Goliath. https://www.thenationalnews.com/world/mena/taking-aim-at-goliath-1.476144
The Week. (2025, September 13). Saturday wrap: King Bibi. Theweek.com. https://theweek.com/uk/edition/theweekuk-saturday-wrap-2025-09-13-070001
Tibet.cn. (2026, April 18). Gencatan senjata Israel-Lebanon berlaku, Lebanon selatan diserang drone Israel, satu tewas tiga luka. Tibet.cn. https://www.tibet.cn/2026-04/18/content_123456.html
Times of Israel. (2024, November 5). Bernie Marcus, Home Depot cofounder who gave to Republicans and Israel, dies at 95. https://www.timesofisrael.com/bernie-marcus-home-depot-cofounder-who-gave-to-republicans-and-israel-dies-at-95/
Times of Israel. (2026, March 19). Illinois’ Jewish Gov. J.B. Pritzker, once an AIPAC donor, slams pro-Israel lobby. https://www.timesofisrael.com/illinois-jewish-gov-jb-pritzker-once-an-aipac-donor-slams-pro-israel-lobby/
Tribunnews. (2024, October 21). Sosok Benjamin Netanyahu, rayakan ulang tahun ke-75 dengan tangan berlumur darah Gaza dan Lebanon. Tribunnews.com. https://m.tribunnews.com/amp/internasional/2024/10/21/sosok-benjamin-netanyahu-rayakan-ulang-tahun-ke-75-dengan-tangan-berlumur-darah-gaza-dan-lebanon
Tribunnews. (2024, Oktober 21). Sosok Benjamin Netanyahu, rayakan ulang tahun ke-75 dengan tangan berlumur darah Gaza dan Lebanon. Tribunnews.com. https://m.tribunnews.com/amp/internasional/2024/10/21/sosok-benjamin-netanyahu-rayakan-ulang-tahun-ke-75-dengan-tangan-berlumur-darah-gaza-dan-lebanon
Tribunnews. (2025, Juli 1). 3 Kasus korupsi yang menjerat Benjamin Netanyahu, 2 kasus lainnya tidak mencapai persidangan. Tribunnews.com. https://m.tribunnews.com/internasional/2025/07/01/3-kasus-korupsi-yang-menjerat-benjamin-netanyahu-2-kasus-lainnya-tidak-mencapai-persidangan
TRT World. (2026, February 11). Netanyahu at White House amid protests urging Trump 'not to be misled' by Israeli PM over Iran. https://www.trtworld.com/magazine/netanyahu-at-white-house-amid-protests-urging-trump-not-to-be-misled-by-israeli-pm-over-iran-18276518
TVB News. (2026, April 14). The Guardian: Netanyahu adalah pelaku utama kejahatan perang, akan melakukan apa saja demi pemilu Israel mendatang. TVB News. https://news.tvb.com/tc/world/69dc590635eab337bbf51987
U.S. Department of State. (2002). American Service-Members' Protection Act. (Undang-undang yang disahkan oleh Kongres AS).
Weiss, Y. D. (2023, October 30). We cry for the Palestinians. IslamiCity. https://www.islamicity.org/93814/we-cry-for-the-palestinians
WRMEA. (2008, December 28). Alfred M. Lilienthal (1913-2008): A Prophetic Jewish Voice Is Stilled. https://www.wrmea.org/008-december/alfred-m.-lilienthal-1913-2008-a-prophetic-jewish-voice-is-stilled.html






https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.