Ad Code

Trump Pasti Tega Hadirkan Konflik Sunni-Syiah

Masih ingat dulu tahun 1990-an terbit buku Clash of Civilization yang ditulis Samuel P. Huntington? Penulis menganggap itu sebuah karya pseudo-ilmiah atau kalau boleh sedikit sarkas, “blue-print politik rasial” karena sesungguhnya berisikan saran-saran kepada Zionis dan AS mengenai “what is to be done” pasca runtuhnya dunia Bipolar. Jika pembaca kurang yakin, maka silakan baca ulang buku tersebut.

Tulisan kali ini bukan membahas karya “pseudo-ilmiah” itu. Penulis hanya coba memprediksi aneka kemungkinan yang bakal terjadi dalam upaya bela diri Iran. Maka sebagai gantinya, penulis menemukan sebuah buku yang ditulis Jonathan Cook berjudul “Israel and the Clash of Civilisations: Iraq, Iran and the Plan to Remake the Middle East.” Selain buku tersebut, Cook juga pernah menerbitkan buku berjudul “Blood and Religion” serta “The Unmasking of the Jewish and Democratic State.”

Saat ini agresi militer “slebor" dari Trump Netanyahu masih terus berlangsung dan kian menggila. Tertutupi hawa nafsunya, Trump sampai tidak sempat membaca survey terakhir Gallup bahwa mayoritas rakyat Amerika lebih pro Palestina ketimbang Israel. Trump juga lupa soal penggunaan uang agar lebih manfaat ketimbang tunduk pada "rengekan" Netanyahu: Semakin banyak rakyat Amerika yang tidur di kendaraan, bangku-bangku taman, dan tenda ala kadarnya sebab biaya sewa dan harga rumah yang bombastis. Namun, tentu empati tidak bisa kita harapkan dari orang semacam Trump, yang bahkan mekanisme demokrasi penentuan perang di Kongres AS pun ia tidak atau pura-pura tidak tahu. 

Pada lain pihak, Iran tetap “strict” pada posisi terukur: Terus berupaya hanya fokus pada fasilitas militer AS dan pendukungnya, wilayah Israel. Tidak seperti Trump Netanyahu yang seperti terkena“rabies” sehingga tidak peduli siapa yang mereka tembak: Fasilitas militer, personil militer, sumber daya militer dan tentu saja sekolah-sekolah, rumah sakit, pemukiman penduduk di Teheran dan sekujur wilayah Iran.

 
Sumber: Sujiha (@Sujihaza04) / X


Buku Cook ini memang sudah lama terbit yaitu tahun 2008. Namun, setelah penulis baca relevansinya dengan "ontran-ontran" Timur Tengah tahun 2026, sangat koheren dengan agresi “slebor” Trump-Netanyanhu. Meminjam istilah Rocky Gerung, Israel versus Iran adalah dua entitas yang jelas bermusuhan. Iran versus AS adalah “perang main-main” karena Trump hendak menunjukkan bahwa dia berada di atas Konsitusi Amerika, di atas Hukum Internasional, dan lebih jauh secara sinis dapat kita sebut Modern Pharaoh

Bahkan, saat saya sedang menulis artikel ini, ada salah satu narasumber sebuah media mainstream Indonesia di sebuah channel Yutub menyebut Trump “sakit jiwa.” Demi kebaikan orang yang komentarnya begitu tepat, kami tidak akan sebut namanya. Baiklah mari kita mulai bahas sedikit apa yang Cook tulis.

Alkisah, pada tahun 2007, Ghaith Abdul Ahad (asal Irak) jurnalis surat kabar Guardian dan Rajiv Chandrasekaran (asal India) jurnalis Washington Post menerima penghargaan atas liputan mereka atas Invasi AS atas Iraq tahun 2003 dan ekses-eksesnya. Cook mengisahkan bahwa kedua jurnalis tersebut sepakat bahwa dalam invasi tersebut lebih dari 650.000 rakyat Irak diperkirakan tewas terbunuh sejak awal invasi tahun 2003. Namun, tidak hanya sampai di sana. Invasi AS memicu munculnya situasi berdarah dan chaos akibat vakum kekuasaan setelah Saddam Husein kehilangan kendali atas negerinya: Civil War.

Sebelum invasi, masih menurut kedua jurnalis, Irak baik-baik saja kendati harus menderita “pembunuhan perlahan oleh AS” akibat embargo di segala lini kehidupan pasca Perang Teluk yang dilakukan Bush (semak) Senior, “babehnya” Bush (semak) Junior. Ahad dan Chandrasekaran menyatakan, sebelum agresi AS tahun 2003, rakyat Irak rata-rata tidak tahu bahwa apakah tetangga mereka bermazhab Sunni atau Syiah. Mereka tidak begitu peduli kendati pun yang menganut hardliner paham. Namun, jumlah mereka selalu minoritas tidak Irak bahkan negara mana pun termasuk Indonesia. Kerap terjadi pernikahan antar laki-laki dan perempuan Irak yang berbeda mazhabnya, dan itu “fine-fine” saja. Itu semua terjadi di saat Saddam Husein belum dihajar oleh “preman-preman” antek Pemerintah AS.

Pembaca tentu telah mengetahui, bahwa AS hendak memanfaatkan perbedaan mazhab Sunni dan Syiah untuk mereyakasa Perang Saudara di Irak, agar mereka saling menghancurkan sesama saudara, karena resources personil militer AS yang organik banyak tewas dalam invasi dan Bush (semak) Junior banyak diprotes “mak-mak Amerika” yang anaknya jadi korban dari sebuah uneccesary war atau kalau mau lebih keras, wasted war, karya "arsitek perang paling kesohor di muka bumi" yaitu lobi Zionis dan Bush (semak) Junior sebagai kacung lapangan. 

Pemastian jalannya perang sipil Sunni-Syiah di Irak banyak dipastikan keberjalanannya oleh serdadu bayaran AS yang mereka sewa terutama dari agensi-agensi Blackwater, Inc. dan sejenisnya. Tentara bayaran tersebut diletakkan komandonya di bawah arahan Paul Bremer, antek AS yang dipasang di Irak. Bremer yang amoral tidak peduli apakah para tentara bayaran itu menjarah harta, memperkosa wanita beristri maupun perawan, membunuh sebagai mana permainan "tembak bebek", memakan bagian jasad manusia Irak di kala mabuk. Itulah Bremer, dan yang bertanggung jawab atas semua kejahatan perang itu adalah Zionis Israel dan Pemerintah Amerika Serikat, wa bil khusus si "semak" itu yang pernah secara terhormat ditimpuk sepatu oleh seorang jurnalis Irak. Saya bilang "terhormat" karena diliput oleh media konconya sendiri yaitu CNN dan FoxNews. Bagi rakyat Irak dan publik Muslim, itu adalah tontonan yang indah dan menghibur: Sepatu bekas pakai melayang ke wajah Bush (semak) Junior, dan kalau kata orang Indonesia "masih untung bisa berkelit."  

Para tentara bayaran melakukan agitasi dan propaganda untuk mengadu-domba kaum Sunni dan Syiah Irak. Mereka tentu saja bukan otaknya, melainkan agen-agen Mossad dan CIA. Mirip seperti di Indonesia, saat CIA banyak memberikan arahan bagaimana menciptakan kebencian massal atas PKI dengan aneka bumbu ala film-film Hollywood.  

Dalam Perang di Tahun Kuda ini, taktik yang sama sangat jelas indikasinya untuk dipraktekkan ulang oleh Trump Netanyahu. Mereka ingin mengadu-domba Sunni Syiah dan ini sudah terbukti. Perbedaannya, jika di Irak Perang Sipil Sunni-Syiah berlangsung internal antar sesama bangsa Irak maka di dalam agresi militer mereka atas Iran, mereka hendak memancing Perang Saudara Sunni-Syiah yang makin meluas: Seluruh negara Arab yang mayoritas Sunni menyerang Iran yang Syiah. Asumsi Trump Netanyahu adalah ada “permusuhan” antar Mazhab di antara orang-orang Islam. Apa indikasinya?

Beberapa hari lalu (artikel ini ditulis tanggal 4/4/2) kilang minyak terbesar Saudi dihancurkan. Propagandis Trump-Netanyahu menyatakan bahwa itu akibat serangan udara Iran. Namun, segera setelahnya justru Pemerintah Saudi sendiri menyatakan bahwa serangan itu bukan dari Iran. Hal yang paling mungkin adalah sabotase oleh Mossad. Ingat, bagaimana tingkah Irgun dan Ze'ev Jabotinsky menjelang tahun 1948, yang dengan dingin bagai di film-film mafia, tega mengebom sejumlah markas militer Inggris, menewaskan manusianya lalu mengarahkan tuduhan kepada pejuang Palestina. Zionis terlampau rendah memandang kecerdasan orang Inggris, hingga saat ini. Itu fakta, lho.

Kembali kepada karya Cook. Apa yang terjadi setelah agresi militer kasar AS sebanyak 27.000.000 penduduk Irak menjadi fakir di rumah sendiri. Mereka pergi meninggalkan tanah-tanah tempat mereka hidup dan berkehidupan. Terjadilah fenomena yang secara sosiologis disebut “internal refugees.” Ini disusul munculnya fenomena partisi antar rakyat Irak berdasarkan garis primordial etnis dan anutan mazhab yang memperburuk situasi. Masyarakat Irak terbelah antara Sunni, Syiah, dan Kurdi. Masing-masing kemudian mengelompok di sekitar garis primordial. Satu sama lain saling curiga, tentu saja ditambah provokasi agen-agen CIA dan Mossad. Suasana semakin panas dan terjadilah perang saudara Sunni-Syiah di Irak.

Namun, lambat-laun umat dan para pimpinan mazhab di Irak sadar. Musuh mereka bukan Sunni ataupun Syiah tetapi penjajah AS dan penghasutnya Zionis Israel. Pada tahun 2008, diadakanlah Deklarasi Kesepahaman Sunni-Syiah Irak di Kota Suci Mekkah. Para ulama dari kedua mazhab menuliskan butir-butir kesalingpahaman antar mazhab. Konflik yang terjadi di antara mereka sejak 2003 s.d. 2008 bukan disebabkan oleh mereka, melainkan pihak “kafir” yang hendak membuat kerusakan dan permusuhan di antara sesama Muslim. Ini adalah skenario penyelesaian konflik jika suatu saat terjadi provokasi untuk menggunakan sentimen sektarian yang dihembuskan Zionis Israel dan Pemerintah AS dalam menundukkan Iran dengan menggunakan “alat” pertikaian antar Mazhab.

Zionis Israel dan Rezim Trump perlu kami ingatkan. Bahwa di tingkat global, sudah adalah Risalah Amman (ibukota Yordania). Apa itu Risalah Amman? Ia adalah kesepahaman antar mazhab dalam Islam yang ditandatangani oleh ratusan ulama lintas mazhab dan negara dari segenap penjuru dunia yang dilakukan pada bulan Ramadhan 1425 H atau November 2004 M.

Risalah Amman adalah seruan persatuan umat Islam sedunia. Tujuannya agar tidak terpecah-belah meskipun berbeda mazhab. Mereka sadar, bahwa musuh mereka bukan sesama Muslim, tetapi kekuatan Zionis dan Barat. Risalah Amman ditandatangani oleh 552 ulama, aktivis, dan intelektual Islam dari berbagai belahan dunia. Secara lisan, Risalah ini dibacakan sebagai sebuah khutbah bulan Ramadhan oleh Hakim Agung Yordania Syeikh Izuddin al-Tamimi di depan Raja Abdullah II dan sejumlah ulama.

Kini, apa poin utama dari Risalah Amman? Di antaranya adalah bahwa dalam Islam:

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan sasul-rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya ... kami dengar dan Kami taat ... Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali (QS 2:285)."


Itu merupakan pegangan basis dari Risalah Amman. Kini mari kita menukik pada poin per poin, yang penulis kutip secara lengkap. Setelah ucapan Bismillah dan shalawat kepada Rasulullah, dituliskan:

“Setiap orang patuh terhadap salah satu dari empat madzhab Sunni dalam hukum Islam (Hanafi, Malifi, Syafi’i dan Hanbali), dua aliran hukum Islam dalam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), baik Madzhab Ibadi dalam hukum Islam maupun Madzhab Thahiri, semuanya adalah Muslim.”


“Sebagai penegasan bahwa tidak diperkenankan mengatakan bahwa seseorang  adalah murtad. Sesungguhnya darahnya, kehormatannya, dan hartanya terlindungi dan tidak bisa diganggu.”


Mengapa dilakukan di Amman? Di Yordania, kekuasaan dipegang oleh keturunan Bani Hasyim, bani yang secara primordial merupakan garis biologis Rasulullah. Saat ini, keturunan beliau menempati wilayah Yordania sebagai tempat tinggal dan berkehidupan.

Poin penting lainnya (walau semua paragraf dalam Risalah bagi penulis adalah penting, silakan baca langsung bukunya) adalah Muhammad saw adalah seorang Nabi dan Rasul kepada seluruh umat manusia, sehingga:

“Semua sama-sama mengimani lima rukun Islam: dua kalimah syahadah; salat lima waktu, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah yang kudus di Mekah.”


“Semua juga bersepakat tentang dasar-dasar keyakinan: keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, dan di hari kiamat, ketentuan Ilahi yang baik maupun yang buruk.”


Akhirnya, sebuah poin lagi menyebutkan bahwa:

“Perbedaan pendapat antara ulama dari delapan madzhab hukum Islam hanya berkaitan dengan cabang-cang agama (furu’) saja dan tidak dalam prinsip-prinsip dan dasar-dasar (ushul) agama Islam.”


“Perbedaan pendapat sehubungan dengan permasalahan cabang agama (furuuddin) adalah sebuah rahmat. Di zaman dahulu dikatakan bahwa perbedaan pendapat diantara para ulama (cendekiawan) dianggap sebagai “hal yang baik””


Demikianlah Risalah Amman, risalah yang ditandatangani demi Allah. Maka siapa pun ulama penandatangan yang melanggar, itu artinya ia keluar dari “tali Allah.” Demikian pula, agar para pembaca dapat mengkritisi apabila ada di antara kita yang masih dalam kejumudan karena menganggap mazhabnya yang paling baik dan yang lain “sesat.”

Hal ini, di Indonesia, penulis perhatikan masih banyak terjadi, terutama dilakukan oleh “ulama-ulama tanggung” tetapi punya follower banyak baik di platform X, Facebook, Instagram, dan Yutub. Sebab itu penulis dengan sadar memasang poster Cak Nun di atas. Waspadailah, karena suka-tidak suka, benci tidak benci, secara de fakto hanya Iran yang secara terang-terangan berani melawan Zionis Israel secara “macho” bukan a la ayam sayur.” Bagi para influencer berkedok ulama atau ustaz “tanggung” ada baiknya Anda semua tahu bahwa Anda sekadar manusia biasa, dan sikap mau belajar dari kesalahan bukan sesuatu yang memalukan malah terhormat. 

Sebelum Anda menghujat salah satu mazhab di platform kalian, terutama karena merasa “sudah paham agama” silakan terlebih dahulu bertabayyun kepada beberapa ulama yang lebih zuhud dan sejuk, yang dari sisi keilmuan agama tidak tanggung-tanggung, kendati mereka juga sama seperti Anda: Manusia biasa. Masih banyak kok ulama yang benar-benar ulama dan paham apa hakikat Islam. Jika persoalan Anda, wahai para influencer agama yang tenar tetapi fana secara khusus hendak menghujat Syiah, maka kami sarankan silakan bertabayyun dengan Kang Jalan di Pesantren Muthahari di Bandung Barat. Berjanji temulah melalui alat komunikasi, silaturahim, silakan lontarkan hujatan Anda secara jantan dan santun di depan beliau, bukan pengecut hanya di dunia maya.

Sekarang, akan penulis bentangkan beberapa penanda tangan Risalah Amman dari negara-negara tertentu yang penulis pilih sendiri. Jika Anda ingin tahu siapa seluruh penanda tangannya silakan baca sendiri buku tersebut Risalah Amman.


Para Penanda Tangan Risalah Amman

Para penandatangan Risalah Amman ini berasal dari aneka wilayah geopolitik: Timur Tengah, Amerika Utara, negara-negara Anggota NATO, Asia Tenggara, dan Asia Timur.

Bahrain:

H.M. King Hamad bin Isa al-Khalifa, Shayh Dr. Muhammad Ali al-Sutri (menteri kehakiman), Dr. Farid bin Ya’qub al-Miftah (sekjen kementerian untuk hubungan Islam), Mr. Mansour al-Jamri, dan Dr. Ibrahim Fadil al-Dibbo (profesor di fakultas kemanusia universitas Bahrain).

Australia:

Shaykh Alim ‘Ulwan al-Hassani Fatwa (sekjen Darulfatwa, Majelis Tinggi Islam Australia) dan Ms. Maha Karim Abdo.

Austria:

Prof. Anas al-Shaqfa (ketua komisi Islam), Ayman Aly (federasi organisasi Islam di Eropa, Graz), dan Mr. Tarafa Baghajati (inisiator Kaum Muslim Austria).

Bahrain:

H.M. King Hamad bin Isa al-Khalifa, Shaykh Dr. Muhammad ali al-Sutri (menteri kehakiman), Dr. Farid bin Ya’qub al-Miftah (sekretaris kementerian Hubungan Islam), Mr. Mansour al-Jamri, dan Dr. Ibrahim Fadil al-Dibbo (profesor di fakultas kemanusiaan Universitas Bahrain).

Belgia:

Mr. Ismail Batakli (profesor Studi Islam), Mr. Mohamed BOulif (presiden, Dewan Eksekutif Islam), Mr. Ahmed Bouziane, Dr. Karim Chemlal (institut Pasteur di Lille), Mrs. Malika Hamidi-Hosseinpour (koordinator, Jaringan Muslim Eropa), Mr. Ibrahim Kocaoglu, Sheikh Yacob Mahi (profesor Studi Islam di Athenee Royal Leonardo da Vinci), Dr. Abdelmajid Mhauchi (profesor Studi Islam), dan Mr. Khallad Swaid (presiden, Forum Pemuda dan Pelajar Muslim Eropa atau FEMYSO).

Brunei Darussalam:

H.M. Sultan Haji Hassanal Bolkiah dan Prof. Suhaili bin Hajj Muhyi al-Din (deputi Mufti Brunei).

Kanada:

Shaykh Faraz Rabbani (ulama Hanafi di Sunnipath.com) dan Mr. Fouzan Khan (Kebangkitan Organisasi Ghirah Islam).

Denmark:

Imam Fatih Alev dari Asosiasi Cybermuslim Denmark.

Mesir:

Mr. Mohamed Hosni Mubarak (presiden), Grand Imam Prof. Dr. Muhammad Sayyid Tantawi fatwa (Shayk al-Azhar), Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq (menteri hubungan agama), Prof. Dr. Ali Jumu’a fatwa (Grand Mufti of the Arab Republic of Egypt), Prof. Dr. Ahmad Muhammad al-Tayyib (Presiden Universitas al-Azhar Kairo), Prof. Dr. Kamal Abu al-Majd (intelektual Islam, bekas menteri informasi, Jaksa di Pengadilan Kasasi serta spesialis internasional di bidang hubungan hukum), Prof. Dr Muhammad al-Ahmadi Abu al-Nur (besar menteri hubungan agama Mesir, profesor di fakultas Hukum Islam di Universitas Yarmouk Yordania), Prof. Dr Fawzi al-Zifzaf (ketua dan Komite Penghargaan al-Azhar Permanen bagi dialog antar agama samawi, anggota Akademi Riset Islam), Prof. Dr. Hasan Hanafi (peneliti dan intelektual Islam di Departemen Filsafat Universitas Kairo, penerima beasis di Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought), Prof. Dr. Muhammad Muhammad al-Kahlawi (sekretaris Persatuan Umum Arkeologi Islam, dekan Fakultas Zaman Kuno cabang Fayyum Universitas Kairo), Prof. Dr. Ayman Fuad Sayyid (mantan sekretaris jenderal di Dar al-Kutub al-Misriyya), Shaykh Dr. Zaghlul Najjar (Ketua Komite Keistemewaan Al Quran di Majelis Tinggi Hubungan Islam Mesir), Shaykh Moez Masood (misionaris Islam), Prof. Dr. Muhammad al-Dasuqi (peneliti dan anggota Forum Proksimitas Mazhab Islam), Mr. Amr Khaled (misionaris Islam), Mr. Bara Kherigi (Direktur Awakening Records), Dr. Heba Raouf Ezzat (Departemen Ilmu Politik Universitas Kairo), Dr. Ja’far Abdussalam (Presiden Liga Universitas Islam), Dr. Shawqi Ahmad Dunya (Dekan Fakultas Perdangan Universitas al-Azhar), Dr. ‘Umar ‘Abd al-Kafi, Dr. Huda ‘Abd al-Sami’, Eng. ‘Amr Faruk Farid, Mr. Muhammad al-Samman Lutfi, Eng. Abu al-‘Ala Madi, Dr. ‘Abd al-Wahhab al-Masiri, Dr. ‘Abd al-Halim Oweis, Mr. Ahmad Sha’ban, Mr. Husam Tammam, Mr. Muntasir al-Zayyat, Dr. Raged al-Sirjani, Dr. Muhammad Hidaya, dan Dr. Muhammad abd al-Mun’im Abu Zayd (profesor, Fakulta Syariah Departemen Ekonomi Islam Universitas Yarmouk Yordania).

Perancis

Shayh Prof. Dalil Abu Bakr (ketua Majelis Tertinggi Agama Islam Perancis dan Ketua DKM Masjid Paris), Dr. Husayn Raid (Direktur Hubungan Budaya di Masjid Agung Paris), Prof. Dr. Abd al-Majid al-Najjar (Presiden Islamic Center Paris), dan Dr. Fouad Alaoui (presiden Uni Organisasi Islam Perancis atau UOIF), Ms. Fatiha Ajbli (sosiolog), Ms. Siham Andalouci (anggota Presence Musulman), Dr. Ahmed Bakcan (perwakilan Milli Gorus), Mr. Abdelwaheb Bakli (presiden, Pemuda Muslim Perancis), Shaykh Khalid Adlen Bentounes (Ordo Sufi Alawiyah, Presiden Honoris Asosiasi Internasional untuk Sahabat Islam), Mr. El Hadji Babou Biteye (Presiden, Mahasiswa Muslim Perancis atau (EMF), Mr. Laj Thami Breze (Uni Organisasi Islam Perancis atau UOIF), Mr. Haydar Meriyurek (sekjen Majelis Islam Perancis), Dr. Boubaker el-Hadj Amor (bendahara di Uni Organisasi Islam Perancis atau UOIF), Shaykh Ounis Guergah (Ketua Rumah Fatwa Paris), Prof. Dr. Omer Faruk Harman (DITIP Jerman), Mr. Fouad Imarraine (Perkumpulan Muslim Perancis), Dr. Ahmed Jaballah (anggota Dewan Fatwa dan Riset Eropa di Perancis), Mrs. Noura Ben Hamouda Jaballah (Presiden Forum Perempuan Eropa di Perancis), Dr. Zuhair Mahmood (Institut Ilmu-ilmu Humaniora atau IESH di Paris), Dr. Mohamed Mestiri (Direktur Institut Internasional Pemikiran Islam Paris), Mr. Abdelmajid Najar, Ms. Nora Rami (Organisasi Komunitas Merdeka Paris), Shaykh Zakaria Seddiki, dan Dr. Muhamad Bashari (presiden, Federasi Masyarakat Muslim Perancis).

India

Maulana Mahmood Madani (anggota parlemen, sekjen Jmiat Ulema-i-Hindi), Pangeran Ja’far al-Sadiq Mufaddal Sayf al-Dina (intelektual Islam), Pangeran Taha Sayf al-Din (intelektual Islam), Prof. Dr. Sayyid Awsaf Ali (presiden Universitas Hamdard), Prof. Dr. Akhtar al-Wasi (Kepala Biro Studi Islam, Dekan Kolese Kemanusiaan dan Bahasa, Direktur Pusat Studi Islam Husayn Dhakir).

Indonesia

Dr. Alwi bin Shihab (Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat dan Misi Khusus Presiden), Dr. Muhammad Maftuh Basyuni (Menteri Agama), Dr. Tutty Alawiyah (Rektor Universitas Islam as-Syafi’iyah), Dubes Rabhan Abd al-Wahhab (dutabesar RI untuk Yordania), Shayk al-Hajj Ahmad Hashim Muzadi (Ketua PB Nahdlatul Ulama Indonesia), Shaykh Rozy Munir (Wakil Ketua PB Nahdlatul Ulama Indonesia), M. Muhamad Iqbal Sullam (International Conference of Islamic Sholars Indonesia), Dr. Muhammad Masyuri Naim (profesor, Universitas Islam), dan Prof. Dr. M. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhamadiyah).

Iran

Supreme Spiritual Leader Grand Ayatollah (al-Sayyid Ali Khamenei fatwa), Dr. Mahmood Ahmadinejad (presiden Iran), Grand Ayatollah Shaykh Muhammad Ali al-Taskhiri fatwa (sekjen Forum bagi Proksimitas Mazhab Hukum Islam), Grand Ayatollah al-Sayyid Fadil Lankarani fatwa, Grand Ayatollah Muhammad Waez-zade al-Khorasani (manta sekjen Forum Proksimitas Mazhab Hukum Islam), Grand Ayatollah Prof. Dr. al-Sayyid Mustafa Mohagheh Daman (direktur Akademi Ilmu Pengetahuan, hakim di Kementerian Kehakimam, Kepala Inspektoran Jenderal), Jujjad al-aIslam Dr. Mahmoud Mohammadi Iraqi (Ketua Liga Budaya dan Hubungan Islam di Republik Islam Iran), Dr. al-Sayyid Mahmoud Maret’ashi al-Najafi (Kepala Perpustakaan Grand Ayatollah Maret’ashi al-Najafi), Dr. Muhammad Ali Adharshab (sekjen, Masyarakat Persahabatan Iran-Arab), Mr. Murtada Hashim Bur Qadi (sekjen, Biro Hubungan Internasional, Ensiklopedia Besar Seputar Islam), Shaykh Abbas Ali Sulaymani (perwakilan Supreme Spiritual Leader di Iran bagian Timur), Mr. Ghulam Rida Mirzai (anggota Majelis Konsultatif), Dr. Syed Muhammad Rida Khatimi (pemimpin politik mantan Jubir Parlemen Iran), Shayk Muhammad Syari’ati (manda Penasehat Presiden Iran, anggota Parlemen), Dubes Muhammad Kazem Khuwansari (Perwakilan Tetap Iran di Organisasi Konferensi Islam), Mr. Ma Sha Allah Mahoumd Shams al-Waithin (jurnalis dan penulis), Dr. Ruqayya Rustum Yurmaki (Universitas Iman Sadiq), Shaykh Ahmad Mablaghi (Profesor di Pesantren Qum), Dr. Gholam Reza Noor-Mohammadi (direktur, Pusat Riset Medis Islam Universitas Imam Sadiq di Qum juga profesor di Fakultas Kesehatan Universitas Teheran, dan Shaykh Hassan Jawahiri Zadeh (profesor, Pesantren Agama di Qum).

Italia

Mr. Yahya Sergio Pallavicini (Wakil Presiden Komunitas Agama Islam Italia atau CO.RE.IS) dan Dr. Ali Abu Shwaima (ketua, Islamic Center Milan).

Kuwait

H.H. Shaykh Sabah al-Ahmad al-Jabel al-Sabah (perdana menteri), Dr. Abdullah Matuq al-Matuq (Menteri Wakaf dan Hubungan Antaragama Kuwait), Prof. Dr. Abdullah Yusuf al-Ghoneim (Kepala Pusat Riset dan Studi Kuwait), Dr. Adel Abdulah al-Fallah (sekretaris Menteri Hubungan Antaragama), Dr. Mohamed Abdul Ghaffar al-Sharif (sekjen Sekretratiat Umum Hubungan Antaragama), Dr. Muhammad Abd Allah Ja’far al-Sharif (sekretaris Yayasan Wakaf), Mr. Mutlaq Rashed al-Qarawi, Shaykh Dr. ‘Ajil Jassim al-Nashami (profesor Fakultasi Syariah Universitas Kuwait), dan Dr. Ahmad Raja’i al-Jundi (Organi Ilmu Kesehatan Islam Kuwait).

Malaysia

D.E. Dato’ Seri Abdullah bin Haji Ahmad Badawi (perdana menteri), Dr. Anwar Ibrahim (mantan Deputi Perdana Menteri), Dato’ Dr. Abdul Hamid Othman (Menteri Kantor Perdana Menteri), Prof. Dr. Kamal Hasan (Presiden Universitas Islam Internasional Kuala Lumpur), Prof. Dr. Mohammad Hashim Kamali (Dekan Intitut Pemikiran dan Peradaban Islam), Mr. Shahidan Kasem (Menteri Utama Negara Bagian Perlak), Mr. Khayri Jamal al-Din (Deputi Ketua Urusan Pemuda di Partai UMNO), dan Dr. Salih Qadir Karim al-Zanki (Universitas Islam Internasional).

Belanda

Mr. Aris Ali (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan).

Norwegia

Mr. Brahim Belkilani (jurnalis di ITRI) dan Dr. Lena Larsen (Koordinator, Koalisi Oslo untuk Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan di Pusat HAM Norwegia di Universitas Oslo).

Oman

H.H. al-Syed Asaad bin Tareq al-Said (utusan khusus Sultan), Shaykh Ahmad bin Haad al-Khalili fatwa (Mufti Agung Kesultanan Oman), Shaykh Ahmad bi Sa’ud al-Siyabi (Sekjen Kantor Mufti Agung), Shaykh Dr. Kahlam bin Nahban al-Kharusi (Penasehat Yurisprudensi di Kantor Penerbitan Fatwa).

Pakistan

Jenderal Pervez Musharraf (presiden), Shaykh Mufti Muhammad Taqi Uthmani (Deputi Ketua Dewan Fiqih Islam Jeddah, Wakil Presiden Darul Ulum Karachi).

Palestina Merdeka

Mr. Ahmed Qorei (perdana menteri), Shaikh Dr. Ikrimah Sabri (Mufti Agung Yerusalem dan Seluruh Palestina, Imam Besar Masjid al-Aqsa), Shaykh Taysir Rajab al-Tamimi (kepala kehakiman Palestina), Dr. Mustafa Mahmud Yusuf Abu Suway (dosen di Departemen Studi dan Filsafat Islam Universitas al-Quds), Dr Muhammad Ali al-Salibi (Universitas al-Najah), dan Dr. Marwan Ali al-Qaddumi (Universitas al-Najah).

Polandia

Dr. Samir Ismail

Portugal

Mr. Abdool Magid Vakil (Diretur Umum Bank Efisa), Mr. Sohail Nakhooda (Editor Kepala Majalah Islamica).

Qatar

Shyakh Hamad bin Jassem al-Thani (Deputi Pertama Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri), Prof. Dr. Shaykh Yusuf al-Qaradhawi fatwa (Dirutur Dewan Sunni dan Syiah, Wakil Presiden Persatuan Ulama Islam Internasional), Dr. Ali Muhyi al-Din Qaradaghi (profesor, Fakultas Syariah Universitas Qatar, Prof. Dr. Aisha al-Mana’i (anggota Majelis Hukum Tertinggi), dan Shaykh Mohammad Haj Yusuf Ahmad (imam Masjid Doha).

Rusia

Shaykh Rawi Ayn al-Din (Mufti, Ketua Administrasi Agama Islam Rusia), Prof. Dr. Said Hibatullah Kamilev (Direktur, Intitut Moskow untuk Peradaban Islam), Dr. Murad Murtazien (Presiden Universitas Islam Moskow), Mr. Rushan Abasoof (Direktur Hubungan Eksternal Departemen Dewan Mufti Rusia), dan Mr. Yakupov Valiullah (asisten Mufti Kepala daerah Tatarstan).

Saudi Arabia

H.M. King Abdullah bin Abdel Aziz al-Saud (Raja Saudi Arabia, penjaga dua masjid suci), Shaykh Abd Allah Sulayman bin Manif (anggota Dewan Ulama Senior Saudi Arabia), Dr. Hassan bin Mohamed Safat (profesor Departemen Studi Islam, Fakultas Kemanusiaan Universitas King Abdulaziz Jeddah), Dr. Muhammad Jabr al-Alfi (profesor, Intitut Hukum Tertinggi, Departemen Yurisprudensi Perbandingan di Riyadh), Dr. Ahmad Abd al-Alim Abd al-Latif (peneliti, Akademi Fiqih Islam Internasional di Jeddah).

Singapura

Dr. Yaqub Ibrahim (Menteri Lingkungan, Sumber Daya Air dan Hubungan Islam)

Spanyol

Mr. Mansur Escudero (Komisi Islam Spanyol) dan Mr. Ali Boussaid (Liga Islam untuk Dialog dan Kesalingpahaman).

Swedia

Mr. Mahmud Khalfi Driri

Swiss

Prof. Tariq Ramadan (intelektual Islam).

Suriah

Shaykh Dr. Ahmad Badr Hasoun (Mufti Agung Republik Arab Suriah), Prof. Dr. Shaykh Wahba Mustafa al-Zuhayli (Ketua Departeen Yurisprudensi dan Mazhab Islam di Fakultas Hukum Islam Universitas Damaskus), Dr. Muhammad Tawfiq Sa’ide al-Buti (profesor syariah di Universitas Damaskus).

Thailand

Mr. Wan Muhammad Nur Matha (penasehat Perdana Menteri) dan Dubes Wiboon Khusakul (dubes Thailand di Baghdad).

Turki

Mr. Bulent Arinc (Presiden Majelis Agung Turki), Prof. Dr. Ekmeleddin Ihsanoglu (sekjen Organisasi Konferensi Islam), Prof. Dr. Ali Bardakoglu (Ketua Direktorat Hubungan Islam), Prof. Dr. Mualla Saljuq (Dekan Fakultas Hukum Islam Universitas Ankara), Prof. Dr. Mustafa Cagrici (Mufti Agung Istanbul dan Profesor Filsafat Islam), Prof. Ibrahim Kafi Donmez (Profesor Yurisprudensi Islam di Universitas Marmara), Prof. Ali Dere (Departemen Hubungan Luar Negeri Kepresidenan Hubungan Agama di Ankara), Prof. Recep Kaymakcan (Asisten Profesor Pendidikan Islam Universitas Sakarya), Mr. Ali Sarikaya (presiden Forum Pemuda Konferensi Islam untuk Dialog dan Kerjasama), Prof. Bulent Senay (Profesor Perbandingan Agama Universitas Uludag Bursa), Mr. Ahmet Selim Tekelioglu (SETA, Ankara), Dr Nuri Tinaz (Pusat Studi Islam Istanbul, dan Profesor Ali Murat Yel (Dosen Sosiologi dan Antropologi Universitas Fatih).

Uni Emirat Arab

HH. Shaykh Khalifa bin Zayed al-Nahyan (presiden), Mr. Ali bin al-Sayyid Abd al-Rahman al-Hashim (Penasehat Presiden untuk Hubungan Hukum dan Agama), Shaykh Muhammad al-Banani (Hakim di Pengadilan Tertinggi Federal), dan Dr. Abd al-Salam Muhammad Darwis al-Marzuqi (Hakim di Pengadilan Dubai), Dr. Ahmad Abdul Aziz al-Haddad (Mufti Kepala di Biro Hubungan Islam dan Kerja Amaliyah Dubai), Shaykh Talib Muhammad al-Shehi (penceramah, Kementerian Keadilan dan Hubungan Islam), Dr. Mahmud Ahmad abu Layl (Profesor, Fakultas Syariah Universitas al-‘Ain), Dr. Ali Muhammad Ujla (Managing Director Majalah Manar al-Islam).

Inggris

Dr. Abbas Mahajarani (Anggota Yayasan Kasih Imam al-Khoei), Dr. Hassan Shamsi Basha (ahli di Akademi Fiqih Islam Internasional di Jeddah), Mr. Shams Vellani (Direktur, Studi Khusus, Institut Studi Ismaili), Dr. Farhad Daftary (Asosiate Direktur Institut Studi Ismaili), Shaykh Yusuf Islam (dulu namanya Cat Stevens, misionaris Islam), Dr. Fuad Nadi (Editor Kepala Q-News Internasional), Shaykh Wanis al-Mabrouk (perwakilan Persatuan Organisasi Muslim Inggris dan EIRE), Mr. Sharif Banna (co-founder Awakening Records, Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Inggris), Mr. Sami Yusuf (penyanyi Muslim), Mr. Iqbal Asaria (Direktur Keuangan Dewan Muslim Inggris), Dr. Sophie Gilliat-Ray (Universitas Cardiff), Mrs. Sarah Joseph (Editor Majalah Emel), Prof. Farhan Nizami, Direktur Pusat Studi Islam Oxford).

Amerika Serikat

Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr (penulis dan Profesor Studi Islam di Universitas George Washington), Shaykh Hamza Yusuf Hanson (Presiden Zaytuna Institute), Shaykh Faisal Abdur Rauf (Imam Masjid Agung Kota New York), Prof. Dr. Ingrid Mattson (Profesor Studi Islam, Pesantren Hartford; Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara atau ISNA), Prof. Dr. Suleiman Abdallah Schleifer (Direktur Emeritus Pusat Jurnalisme Televisi Adham), Mr. Nihad Awad, Direktur Eksekutif Dean Hubungan Amerika-Islam), Shaykh Nuh Ha Mim Keller (Misionaris dan Intelektual Islam; Penerima Beasiswa Institut Pemikiran Islam Aal al-Bayt), Sheikh Suhaib D. Webb (misionaris Islam), Prof. James Morris (Universitas Exeter), Prof. Joseph Lumbard (mantan asisten khusus bagi Raja Abdullah II untuk Hubungan Antaragama).

Yaman

Jenderal Ali Abdullah Saleh (presiden), Shaykh Muhammmad bin Muhammad Isma’il al-Mansur fatwa, Shykh Humud bin ‘Abbas al-Mu’ayyad fatwa, Shayk Ibrahim bin Muhammad al-Wazir fatwa (sekjen Unifikasi dan Gerakan Kekaryaan Islam), Shaykh Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz (Kepala Darul Mustafa di Tarim), Shaykh al-Habi ‘Ali al-Jifri (misionaris dan intelektual Islam).


Penutup

Tentu saja negara dan jumlah partisipan dalam Risalah Amman jauh lebih banyak. Penulis tentu saja lelah dalam mengetik semua. Namun, paling tidak terdapat gambaran betapa seriusnya para partisipan Risalah Amman tersebut. Banyak pimpinan politik tertinggi serta para mufti masjid-masjid besar yang ikut serta. Mereka berasal dari aneka mazhab Islam. Mereka bukan orang sembarang dalam memahami agama. Mereka bukan orang-orang yang belajar agama Islam dari Tik-Tok, Youtube, Short Video, Snack Video, ataupun Instagram. Rata-rata mereka pernah membaca teks-teks asli tulisan para pendiri mazhab dan tentu saja pernah melakukan dialog dengan orang yang berbeda mazhab secara tabayyun, bukan lewat aneka posting forward di WA.

Mereka tentu cuma manusia biasa, sama seperti para influencer Muslim “ujug-ujug” di negeri ini. Para influencer yang tentu saja perlu kita kritisi apa kata-kata mereka. Terkadang, bukan cuma Zionis yang mereka musuhi, tetapi sesama Muslim yang tidak sama pandangannya dengan mereka. Pandangan yang sesungguhnya masih harus diuji dengan bijaksana. Jangan telan mentah-mentah isi konten para pendakwah “ujug-ujug” di media sosial. Kritisi dan bandingkan dengan sumber lain. Mereka bukan Tuhan, tetapi manusia yang sama seperti penulis, masih butuh makan, minum, tempat tinggal, dan mencari biaya untuk menyekolahkan anak.

Terakhir adalah, umat Islam sedunia, terutama di Indonesia, waspadai provokasi agen-agen Mossad dan CIA dalam "memasak' perbedaan mazhab di kalangan umat Islam, tidak hanya Sunni-Syiah, tetapi di antara internal Sunni sendiri. Para ulama kita di Risalah Amman telah memberikan teladan yang baik dengan menandatangani Risalah Amman dan tentu saling berbincang dan beramah-tamah. Penulis bukan orang yang paham agama secara mendalam, tetapi penulis dengan segala keterbatasan (semoga) masih dapat memilah mana pendakwah yang membawa pada kerukunan-ketenangan hati dan mana yang membawa pada permusuhan-panas hati.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar