Pada tanggal 3 Maret 2026, secara resmi Rusia mengutuk serangan Israel-AS atas Iran sebagai bentuk agresi seraya secara diplomatis menghimbau gencatan senjata dan menurunkan eskalasi ketegangan “sesegera mungkin.” Seperti telah diketahui bersama, pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, Trump-Netanyahu bertanggung-jawab dalam sebuah serangan udara atas Iran. Serangan tersebut mensyahidkan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi (presidium) wilayatul faqih Iran.
![]() |
| https://www.al.com/politics/2025/11/monster-email-drop-shows-how-scary-trump-epstein-files-really-are.html |
Sebagai negara berdaulat, Iran segera melakukan serangan balasan. Iran bukan negara “lemah” seperti Panama ataupun Venezuela. Sejak 1979 Iran telah “digodok” untuk hidup dalam kesulitan ekonomi dan hubungan diplomatik akibat embargo yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutu Zionis mereka. Dalam kemandirian dan kesendirian, Iran sejak 1979 tentu telah belajar sangat banyak seputar mekanisme survival. Jika sebuah negara diasumsikan sebagai makhluk hidup, maka individu yang “terbuang” akan “hijrah” ke kondisi baru yang memungkinkan mereka untuk terus hidup dan memperkuat diri agar dapat melakukan reproduksi. Dalam melakukan reproduksi maka sumber daya apa pun yang tersedia, langka maupun tidak, sepenuhnya difungsikan untuk tetap survive.
Jika Israel sejak 1948 tetap mampu bertahan hidup maka itu bukan akibat kemandirian mereka. Itu akibat “keganasan” mereka dalam merampas lahan-lahan milik rakyat Palestina, bantuan ekonomi dan militer dari AS dan Eropa Barat yang para pemimpinnya tunduk di bawah kaki para “raja uang” anggota dan pendukung Zionis, serta menggunakan taktik Ze’eb Jabotinsky, teroris Zionis asal Uni Soviet, yang menyatakan bahwa “kita harus homo homini lupus.” Ze’eb tidak ragu-ragu merencanakan dan mengeksekusi pengeboman atas markas militer Inggris serta fasilitas sipil lalu mengarahkan fitnah pada gerakan perlawanan rakyat Palestina menjelang tahun 1948. “Rabies” adalah kata yang cukup ramah untuk menggambarkan bagaimana otak kaum Zionis mampu bertahan di tanah Palestina (secara sepihak) dari 1948 hingga 2026 ini.
Kembali ke masalah agresi Trump-Netanyahu. Di sini, kami menggunakan kata “Trump” dan “Netanyahu” secara tergabung untuk menegaskan bahwa agresi atas Iran adalah “buah kerajinan tangan mereka” bukan kehendak rakyat Israel dan rakyat Amerika Serikat. Agresi atas Iran adalah aksi oligarki pro Zionis, baik yang bersembunyi bak “kutu busuk atau tumbila” di balik dinding-dinding Knesset maupun Kongres (plus White House). Alasan Trump-Netanyahu dalam melakukan agresi atas Iran setali tiga uang dengan agresi Bush (semak) Junior atas Irak dahulu: Fantasi Program Nuklir. Trump-Netanyahu ibarat pecandu LSD plus skizoprenia sebab berkali-kali menyebut Iran tengah mengembangkan senjata nuklir yang faktanya adalah fantasi “walt-disney.”
Trump Netanyahu juga menyatakan bahwa selain delusi program nuklir, mereka menyerang Iran untuk mengganti kepemimpinan. Mungkin karena sindrom “LSD” mereka berkhayal jika pemimpin tertinggi dapat mereka bungkam, maka otomatis Iran hilang komando. Duet maut perusak tatanan damai dunia internasional tersebut sepenuhnya salah. Itu karena mereka berdua adalah sekularis tulen yang menganggap kehidupan hanya ada di dunia saja. Mereka tidak memahami bahwa ada alam lain setelah mereka mati. Sebab itu keduanya begitu “ngotot” mengumbar syahwat apa pun yang mereka miliki. Pemimpin Tertinggi Iran dapat dengan mudah diganti sebab yang berkuasa di Iran bukan Supreme Leader ataupun Presiden. Penguasa tertinggi di Iran adalah para ulama di sebuah presidium yang sekurangnya terdiri atas 80 orang yang telah terseleksi sejak 1979 mampu mengendalikan politik Iran dan menyebarkan ghirah agama. Jadi, Trump “ben” Netanyahu memang sebodoh yang kita kira, dan memang demikian kenyataannya.
Dari rt.com tercatat Presiden Rusia Vladimir Putin, rekan Iran dalam BRICS+ memberi pernyataan rasa dukanya kepada rakyat Iran (hingga saya tulis artikel ini, pimpinan “resmi” Indonesia, Sang Jenderal yang juga “ikut-ikutan” BRICS+ bersama Iran belum memberikan pernyataan itu). Putin menyatakan pensyahidan atas Khamenei sebagai:
“a cynical violation of every norm of morality and international law.”
Moralitas dan hukum internasional dilanggara Trump Netanyahu. Moralitas Trump dan Netanyahu terdefinisikan sebagai penyaluran syahwat kepentingan Zionis. Hukum internasional bagi Trump dan Netanyahu (ingat, dia sudah diputuskan sebagai penjahat perang lho oleh hakim MI di Denhaq). Hukum bagi Trump dan Netanyahu adalah hukum yang diturunkan dari sistem limbik. Dalam sistem limbik otak, tidak ada masalah patuh atau tidak patuh. Dalam sistem limbik yang dikenal adalah hidup atau mati, dapat atau tidak dapat. Keduanya belum mencapai proses evolusi yang sempurna dengan mana struktur neokorteks mampu menekan aktivitas sistem limbik. Itulah manusia yang asli, yang tidak mengenal revelasi Tuhan untuk belajar bagaimana hidup secara baik dan mengendalikan insting.
Dari sumber yang sama pula dikisahkan bahwa Putin pada hari Senin, 2 Maret 2026 segera menelepon seluruh pimpinan negara-negara UAE (juga anggota BRICS+), Qatar, Bahrain, dan Saud. Di negara-negara tersebut terdapat pangkalan militer AS (yang sebernarnya membenci) Trump. Putin mengingatkan bahwa negara-negara tersebut harus siap menerima konsekuensi serangan rudal Iran bukan atas negara mereka, tetapi Pangkalan Militer AS. Putin juga menyatakan secara khusus kepada emir UAE Mohamed bin Zayed al-Nahyan bahwa Rusia akan menunjukkan perhatian khusus atas wilayah Teluk dan menasihati Iran. Namun, secara lebih lanjut Putin menyatakan bahwa konflik Trump-Netanyahu versus Iran punya potensi:
“full-scale war with unpredictable consequences.”
Terhadap Trump Netanyahu, Kremlin (pemerintah Rusia) menyatakan sikap kecewa mereka dengan negosiasi yang dimediasi Oman di Jenewa. Negosiasi yang dilakukan Oman tidak menghasilkan sesuatu yang positif dan malah serangan sepihak Trump-Netanyahu atas Iran di hari Sabtu. Kremlin juga menujukan sikap mereka terhadap AS bahwa Moskow hanya akan melakukan:
“draw relevant conclusions. We still greatly appreciate the US mediation efforts, but ultimateli we trust only ourselves.”
Pernyataan tersebut diujar oleh Jubir Kremlin Dmitry Peskov. Itu memang pernyataan diplomatis yang mengandung arti bahwa Rusia tidak menghargai tindakan Trump Netanyahu. Sebagai tambahan, Rusia akan menarik kesimpulan sendiri, bukan kesimpulan Trump Netanyahu atas Iran. Ini mengindikasikan bahwa tidak lama lagi Rusia akan mengambil sikap secara teknis lapangan.
Apa yang akan Rusia lakukan pun dapat kita simak dari pernyataan Menlu Rusia mengenai serangan Trump Netanyahu atas Iran. Beberapa di antara pernyataan resmi sehubungan dengan serangan “duet-mabuk” tersebut atas Iran adalah sebagai berikut:
“unprovoked miitary aggression ... the practice of political assassinations and the huntung of leaders of sovereign states ... any attack on civilian infrastructure – both in Iran and the Arab countries – is unacceptable and should be avoided .... the lawful interests of all countries in the Persian Gulf must be respected.”
Harapan Menlu Rusia hanya dapat terjadi apabila “duet mabuk” Trump Netanyahu telah sadar dari mabuknya. Namun, apabila keduanya terus menambah “minuman” ke lambung mereka karena “stress berat” maka adalah tugas para pemimpin dunia yang masih waras (tidak mabuk) untuk menggelandang dua pemabuk ke sel tahanan dan melakukan rehabilitasi kecanduan “mabuk perang” mereka.
Sebagai berita “ringan” terdapat informasi bahwa seorang anggota Kongres dari Partai Republik bernama Thomas Massie menuduh Trump Netanyahu menyerang Iran tanpa persetujuan kongres akibat alasan konyol. Alasan tersebut adalah Iran sekadar pengalih perhatian publik Amerika sebagai “buntut” dari dirilisnya jutaan halaman dari file yang dimiliki Jeffrey Epstein, seorang pedofilia, oleh oleh Departemen Kehakiman AS. Dokumen atau file milik Si Pedofil “bejat” tersebut menyebut nama Trump lebih dari 5000 kali, kendati belum terbukti adanya delik tindak kriminal. Di platform X, Massie berujar:
“Bombing a counry on the other side of the globe won’t make the Epstein files go away ... acts of war unauthorized by Congress ... this is not ‘America First’”
Jika pembaca penasaran (saya juga) dengan pernyataan Massie, silakan login dan search “Massie on Trump Epstein.” Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar