Wilayah yang masuk malah sekutu Zionis Amerika yaitu Saudi Arabia, Yordania, Irak, dan Suriah. Juga salah satu negara dengan mana komposisi penganut Syi’ahnya cukup banyak yaitu Lebanon. Iran yakin, pada suatu titik ia akan diserang oleh Zionis Amerika. Hingga tulisan ini terbit, Iran masih mampu menyerang balik Israel dan Zionis Amerika.
Setelah drama penyanderaan di kedutaan besar Amerika Serikat berakhir, Zionis Amerika pun memperalat Saddam Hussain. Saddam bukanlah pemimpin agama, tetapi ia bermazhab Sunni. Sementara itu penduduk Irak seperti di Kufah, Najaf, dan wilayah sekitar Karbala adalah Syi’ah. Seperti telah Anda ketahui, seorang Imam Syi’ah yaitu al-Husayn bin Ali bin Abi Thalib syahid di Padang Karbala dan makamnya ada di wilayah Irak.
Zionis Amerika ternyata tidak berideologi kecuali uang. Saddam berasal dari Partai Ba’th yang berideologikan sosialis. Ideologi Saddam sedikit mirip dengan Mohammad Mossadegh, pemimpin sosialis terpilih Iran yang mampu menumbangkan rezim teror Reza Pahlevi (ayah dari Muhammad Reza Pahlevi).
Karena Mossadegh yang sosialis, bersikap konfrontatif atas Inggris dan Amerika Serikat seputar persolanan pengelolaan minyak dan gas Iran, hendak menasionalisasinya, Zionis Amerika bekerja sama dengan SAVAK dan anasir militer pro Pahlevi guna menggulingkan dan menggantung Mohammad Mossadegh. Padalah seperti diketahui, Mossadegh berposisi tengah: Bukan komunis, didukung sejumlah Ulama, didukung kalangan intelektual, dan kalangan Bazaari. Ali Syari’ati, intelektual yang berasal dari keluarga Ulama dari Masyhad pun mendukung Mossadegh.
Setelah Mossadegh digulingkan Zionis Amerika, Muhammad Reza Pahlevi duduk menggantikan ayahnya. Hubungan diplomatik dengan Israel pulih, pengusaha Inggris dan Amerika Serikat bebas mengeksploitasi minyak dan gas Iran demi profit mereka sendiri, bukan rakyat Iran. Pahlevi berupaya membaratkan masyarakat Iran yang relijius, menebar teror melalui polisi rahasia mereka yaitu SAVAK, dan melakukan aneka korupsi demi menjamin dukungan dari para “pangeran” yang menyokong kekuasaan Pahlevi.
Rezim korup Pahlevi Junior pun akhirnya tumbang. Ayatollah Ruhollah Khomeini pulang dari pengasingannya di Perancis dan memimpin langsung Revolusi Islam Iran. Semua struktur pemerintahan monarki Pahlevi dirombak. Berlaku Velayat el-Faqih seperti ditulis dalam buku tipis yang banyak beredar di Indonesia berjudul Sistem Pemerintahan Islam karya Imam Khomeini. Semua anasir pro Pahlevi terbunuh, tertawan, atau kabur. Termasuk Pahlevi Junior yang paling pertama kabur ke Amerika Serikat, induk semangnya.
Kembali ke masalah Saddam Hussein. Inilah uniknya Zionis Amerika yang selalu gembar-gembor soal demokrasi tetapi senang membantu rezim otoriter yang menguntungkan bagi mereka. Dirancanglah limited war dengan tujuan mengetahui resiliensi Republik Islam Iran. Perang Iran versus Irak berlangsung selama 8 tahun, sejak 1980 s.d. 1988. Zionis Amerika membantu senjata, dukungan intelijen CIA dan Mossad, serta pendanaan kepada Saddam. Hasilnya adalah Zionis Amerika gagal menaklukan Republik Islam Iran yang saat itu masih dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Habis manis sepah dibuang. Tahun 2003 Zionis Amerika menyerang Irak dan menangkap lalu menggantung Saddam Hussain. Irak terjebak dalam perang sipil Sunni-Syi’ah yang menewaskan ribuan orang Irak, dari setiap mazhab Islam. Akhirnya, para ulama di Irak sadar bahwa mereka diprovokasi Zionis Amerika untuk melemahkan potensi Irak berdiri secara otonom. Konflik Sunni-Syi’ah adalah hasil propaganda Zionis Amerika. Tahun 2004, dideklarasikan kesaling pengertian Sunni-Syi’ah dalam Risalah Amman. Saat itu, Irak tengah dirusak oleh tentara bayaran Zionis Israel dengan Paul Bremmer sebagai Pontius Pilatusnya.
Lima tahun sejak Irak dirusak Zionis Amerika, para tokoh Sunni dan Syi’ah Irak menjalin kesaling pengertian dalam Deklarasi Damai Sunni-Syi’ah di Mekah tahun 2008. Sejak deklarasi tersebut, perang sipil di Irak secara signifikan menurun intensitasnya. Bahkan, dalam Perang Zionis Amerika atas Iran, pemerintah Irak menyatakan kutukannya atas serangan duet Netanyahu-Trump atas Iran. Pangkalan militer NATO dibombardir para pejuang Irak dan membuat mereka kabur dari wilayah Irak. Iran melibas kedutaan besar Zionis Amerika yang merupakan pusat aktivitas CIA-Mossad. Gedung-gedung di sana hancur lebur.
Kembali ke masalah Iran, mereka sadar bahwa aksi militer Zionis Amerika adalah keniscayaan. Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat, muncul Ayatollah Ali Khamenei sebagai pengganti. Garis politik tetap jelas: Amerika adalah Setan Besar; Israel adalah Setan Kecil. Irak, Suriah, Afghanistan dianggap Zionis Amerika telah takluk hingga tinggal tersisa satu kekuatan: Iran.
Di tengah perjanjian Zionis Amerika dan Iran yang difasilitasi Oman berlangsung, tiba-tiba Zionis menyerang Iran dan mensyahidkan Imam Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran. Hal itu dilanjutkan dengan pengeboman sengaja Zionis Amerika atas sekolah putri Iran di Mihnab yang menewaskan 149 murid dan guru di sana. Iran meradang, kini sudah tiba bagi Iran menyongsong apa yang sudah ditunggu selama ini: Invasi Zionis Amerika atas negeri mereka.
Seorang bekas kepala mata-mata India bernama A.S. Dulat menyatakan bahwa Iran telah melakukan persiapan untuk peperangan jangka panjang. Ia juga mengungkap bahwa Ayatollah Ali Khamenei, berdasarkan hasil spionasenya selama ia menjabat, telah mempersiapkan daftar keseluruhan para pengganti dirinya (Khamenei) juga aneka posisi strategis Iran baik di lembaga ICRG, Dewan Keamanan, Kementerian Luar Negeri, dan aneka posisi pengambil keputusan strategis yang menentukan kepemimpinan Iran. Daftar inilah yang kemudian membuat Iran seperti tidak terpengaruh walaupun para pemimpin mereka baik di kalangan sipil maupun bersenjata dibunuh oleh Mossad.
Dulat menambahkan bahwa kelemaham Zionis Amerika adalah terlampau underestimate atas Iran, dan ini fatal. Dulat mengingat kunjungan Henry Kissinger ke India tahun 2005, dan Dulat menyatakan “I was then a member of the NSA (National Security Agency) here and he [Kissinger] said that if Iran doesn’t behave, it’ll be blown of the face of the earth. Now it has been 21 years.” (A.S. Dulat, “US Not Ready to Put Boots on Ground in Iran – Ex-Indian Spy Chief, 26 Maret 2026).
Kini invasi Zionis Amerika sudah satu bulan. Iran terus menyerang sementara Trump merengek minta negosiasi. Mengenai ini, Dulat menyatakan bahwa untuk menaklukan Iran, Zionis Israel harus masuk ke bumi Iran, melakukan serangan darat. Jika itu dilakukan, lanjut Dulat, maka itulah neraka bagi pasukan Zionis Amerika. Pilihan itu akan ditentang habis-habisan oleh publik Amerika Serikat yang masih trauma dengan Perang Irak dan Perang Afghanistan.
Dulat menambahkan, “But once you put boots on the ground, that means you must be prepared for body bags to come back, and that the Americans would not like.” Dulat, yang saat aktif sebagai kepala mata-mata India untuk urusan luar negeri pun menambahkan, “the Russian and the Chinese are very much with Iran, there’s no doubt.” Satu-satunya jalan bagi Zionis Amerka untuk kabur dari blunder Perang Iran adalah memberi konsesi kepada Iran, bukan penghentian perang secara bersyarat.
Dari apa yang dikatakan Dulat, tampak jelas bahwa Iran ada dalam posisi kunci. Perundingan hanya akan terjadi jika Iran menghendakinya. Jika Iran tidak menghendaki, maka operasi True Promise akan terus berlanjut. Negeri Iran porak-poranda pada mereka dalam tahap perundingan dengan Zionis Amerika.
![]() |
| Trump Pusing |
Zionis Amerika ternyata tidak berideologi kecuali uang. Saddam berasal dari Partai Ba’th yang berideologikan sosialis. Ideologi Saddam sedikit mirip dengan Mohammad Mossadegh, pemimpin sosialis terpilih Iran yang mampu menumbangkan rezim teror Reza Pahlevi (ayah dari Muhammad Reza Pahlevi).
Karena Mossadegh yang sosialis, bersikap konfrontatif atas Inggris dan Amerika Serikat seputar persolanan pengelolaan minyak dan gas Iran, hendak menasionalisasinya, Zionis Amerika bekerja sama dengan SAVAK dan anasir militer pro Pahlevi guna menggulingkan dan menggantung Mohammad Mossadegh. Padalah seperti diketahui, Mossadegh berposisi tengah: Bukan komunis, didukung sejumlah Ulama, didukung kalangan intelektual, dan kalangan Bazaari. Ali Syari’ati, intelektual yang berasal dari keluarga Ulama dari Masyhad pun mendukung Mossadegh.
Setelah Mossadegh digulingkan Zionis Amerika, Muhammad Reza Pahlevi duduk menggantikan ayahnya. Hubungan diplomatik dengan Israel pulih, pengusaha Inggris dan Amerika Serikat bebas mengeksploitasi minyak dan gas Iran demi profit mereka sendiri, bukan rakyat Iran. Pahlevi berupaya membaratkan masyarakat Iran yang relijius, menebar teror melalui polisi rahasia mereka yaitu SAVAK, dan melakukan aneka korupsi demi menjamin dukungan dari para “pangeran” yang menyokong kekuasaan Pahlevi.
Rezim korup Pahlevi Junior pun akhirnya tumbang. Ayatollah Ruhollah Khomeini pulang dari pengasingannya di Perancis dan memimpin langsung Revolusi Islam Iran. Semua struktur pemerintahan monarki Pahlevi dirombak. Berlaku Velayat el-Faqih seperti ditulis dalam buku tipis yang banyak beredar di Indonesia berjudul Sistem Pemerintahan Islam karya Imam Khomeini. Semua anasir pro Pahlevi terbunuh, tertawan, atau kabur. Termasuk Pahlevi Junior yang paling pertama kabur ke Amerika Serikat, induk semangnya.
Kembali ke masalah Saddam Hussein. Inilah uniknya Zionis Amerika yang selalu gembar-gembor soal demokrasi tetapi senang membantu rezim otoriter yang menguntungkan bagi mereka. Dirancanglah limited war dengan tujuan mengetahui resiliensi Republik Islam Iran. Perang Iran versus Irak berlangsung selama 8 tahun, sejak 1980 s.d. 1988. Zionis Amerika membantu senjata, dukungan intelijen CIA dan Mossad, serta pendanaan kepada Saddam. Hasilnya adalah Zionis Amerika gagal menaklukan Republik Islam Iran yang saat itu masih dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Habis manis sepah dibuang. Tahun 2003 Zionis Amerika menyerang Irak dan menangkap lalu menggantung Saddam Hussain. Irak terjebak dalam perang sipil Sunni-Syi’ah yang menewaskan ribuan orang Irak, dari setiap mazhab Islam. Akhirnya, para ulama di Irak sadar bahwa mereka diprovokasi Zionis Amerika untuk melemahkan potensi Irak berdiri secara otonom. Konflik Sunni-Syi’ah adalah hasil propaganda Zionis Amerika. Tahun 2004, dideklarasikan kesaling pengertian Sunni-Syi’ah dalam Risalah Amman. Saat itu, Irak tengah dirusak oleh tentara bayaran Zionis Israel dengan Paul Bremmer sebagai Pontius Pilatusnya.
Lima tahun sejak Irak dirusak Zionis Amerika, para tokoh Sunni dan Syi’ah Irak menjalin kesaling pengertian dalam Deklarasi Damai Sunni-Syi’ah di Mekah tahun 2008. Sejak deklarasi tersebut, perang sipil di Irak secara signifikan menurun intensitasnya. Bahkan, dalam Perang Zionis Amerika atas Iran, pemerintah Irak menyatakan kutukannya atas serangan duet Netanyahu-Trump atas Iran. Pangkalan militer NATO dibombardir para pejuang Irak dan membuat mereka kabur dari wilayah Irak. Iran melibas kedutaan besar Zionis Amerika yang merupakan pusat aktivitas CIA-Mossad. Gedung-gedung di sana hancur lebur.
Kembali ke masalah Iran, mereka sadar bahwa aksi militer Zionis Amerika adalah keniscayaan. Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat, muncul Ayatollah Ali Khamenei sebagai pengganti. Garis politik tetap jelas: Amerika adalah Setan Besar; Israel adalah Setan Kecil. Irak, Suriah, Afghanistan dianggap Zionis Amerika telah takluk hingga tinggal tersisa satu kekuatan: Iran.
Di tengah perjanjian Zionis Amerika dan Iran yang difasilitasi Oman berlangsung, tiba-tiba Zionis menyerang Iran dan mensyahidkan Imam Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran. Hal itu dilanjutkan dengan pengeboman sengaja Zionis Amerika atas sekolah putri Iran di Mihnab yang menewaskan 149 murid dan guru di sana. Iran meradang, kini sudah tiba bagi Iran menyongsong apa yang sudah ditunggu selama ini: Invasi Zionis Amerika atas negeri mereka.
Seorang bekas kepala mata-mata India bernama A.S. Dulat menyatakan bahwa Iran telah melakukan persiapan untuk peperangan jangka panjang. Ia juga mengungkap bahwa Ayatollah Ali Khamenei, berdasarkan hasil spionasenya selama ia menjabat, telah mempersiapkan daftar keseluruhan para pengganti dirinya (Khamenei) juga aneka posisi strategis Iran baik di lembaga ICRG, Dewan Keamanan, Kementerian Luar Negeri, dan aneka posisi pengambil keputusan strategis yang menentukan kepemimpinan Iran. Daftar inilah yang kemudian membuat Iran seperti tidak terpengaruh walaupun para pemimpin mereka baik di kalangan sipil maupun bersenjata dibunuh oleh Mossad.
Dulat menambahkan bahwa kelemaham Zionis Amerika adalah terlampau underestimate atas Iran, dan ini fatal. Dulat mengingat kunjungan Henry Kissinger ke India tahun 2005, dan Dulat menyatakan “I was then a member of the NSA (National Security Agency) here and he [Kissinger] said that if Iran doesn’t behave, it’ll be blown of the face of the earth. Now it has been 21 years.” (A.S. Dulat, “US Not Ready to Put Boots on Ground in Iran – Ex-Indian Spy Chief, 26 Maret 2026).
Kini invasi Zionis Amerika sudah satu bulan. Iran terus menyerang sementara Trump merengek minta negosiasi. Mengenai ini, Dulat menyatakan bahwa untuk menaklukan Iran, Zionis Israel harus masuk ke bumi Iran, melakukan serangan darat. Jika itu dilakukan, lanjut Dulat, maka itulah neraka bagi pasukan Zionis Amerika. Pilihan itu akan ditentang habis-habisan oleh publik Amerika Serikat yang masih trauma dengan Perang Irak dan Perang Afghanistan.
Dulat menambahkan, “But once you put boots on the ground, that means you must be prepared for body bags to come back, and that the Americans would not like.” Dulat, yang saat aktif sebagai kepala mata-mata India untuk urusan luar negeri pun menambahkan, “the Russian and the Chinese are very much with Iran, there’s no doubt.” Satu-satunya jalan bagi Zionis Amerka untuk kabur dari blunder Perang Iran adalah memberi konsesi kepada Iran, bukan penghentian perang secara bersyarat.
Dari apa yang dikatakan Dulat, tampak jelas bahwa Iran ada dalam posisi kunci. Perundingan hanya akan terjadi jika Iran menghendakinya. Jika Iran tidak menghendaki, maka operasi True Promise akan terus berlanjut. Negeri Iran porak-poranda pada mereka dalam tahap perundingan dengan Zionis Amerika.
Ayatollah Ali Khamenei dibunuh saat perundingan tengah berlangsung 28 Februari 2026. Sekolah putri Iran di Mihnab dibombardir secara sengaja. Para pimpinan militer dan sipil tingkat tinggi Iran dibunuh oleh Mossad. Di mana logikanya bahwa Trump menyatakan bahwa Iran yang ingin perundingan? Justru sebaliknya, Trump yang merengek minta perundingan, sementara Zionis ngotot terus menyerang Iran karena mereka memegang Federal Reserve dan borok-borok moral hampir seluruh politisi Amerika Serikat baik di Kongres, Gedung Putih, dan Pentagon.
Donald Trump terjebak dalam Perang Iran. Di satu sisi Zionis Yahudi terus menekan dirinya berperang melalui Jared Kushner. Di lain sisi ia dicerca oleh rakyat Amerika Serikat hampir di seluruh negara bagian dan bahkan walikota New York menyatakan bahwa Iran dizalimi oleh Amerika Serikat.
Donald Trump terjebak dalam Perang Iran. Di satu sisi Zionis Yahudi terus menekan dirinya berperang melalui Jared Kushner. Di lain sisi ia dicerca oleh rakyat Amerika Serikat hampir di seluruh negara bagian dan bahkan walikota New York menyatakan bahwa Iran dizalimi oleh Amerika Serikat.
Juga pada lain sisi, apabila 200 milyar Dollar yang diminta Trump jadi digelontorkan, maka Federal Reserve akan dengan senang hati mengeluarkannya karena merekalah yang mencetak uang. Mereka, konsorsium perusahaan swas pro Zionis ini, untuk 2 sen untuk setiap 1 Dollar yang dicetak. Jika demikian maka Trump akan menjerumuskan rakyat AS ke dalam hyperinflation: Dollar menjadi tidak berharga. Pada lain pihak, Iran telah menyatakan bahwa pembelian minyak dan gas Iran wajib menggunakan mata uang Yuan China. Hal yang akan terjadi adalah porak-porandanya nilai Dollar di bursa-bursa jual-beli mata uang dunia.
Sebagai penutup penulis hendak menyampaikan, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Dalam berita terakhir Iran mengungkap bahwa perundingan itu lebih baik antara Trump dengan Rakyat Amerika, bukan Iran. Karena Iran adalah pihak yang diserang, tetapi masih mampu melawan. Pihak yang paling pantas membuat syarat perdamaian bukan 15 poin Trump, melainkan syarat-syarat yang Iran ajukan. Untuk saat ini, Iran tengah menunggu aksi militer Zionis Amerika di Selat Hormuz dan serangan darat mereka.
Sebagai penutup penulis hendak menyampaikan, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Dalam berita terakhir Iran mengungkap bahwa perundingan itu lebih baik antara Trump dengan Rakyat Amerika, bukan Iran. Karena Iran adalah pihak yang diserang, tetapi masih mampu melawan. Pihak yang paling pantas membuat syarat perdamaian bukan 15 poin Trump, melainkan syarat-syarat yang Iran ajukan. Untuk saat ini, Iran tengah menunggu aksi militer Zionis Amerika di Selat Hormuz dan serangan darat mereka.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar