Ada apa dengan negeri yang kabarnya menghargai pidato founding father Moh. Hatta berjudul Mendajung di antara Dua Karang. Kalau Indonesia masuk BOP, ya sudahlah anggap itu keputusan bijaksana (mau apa lagi, wong sudah ditanda tangani). Entah itu bisikan dari kind person atau bad person. Ambiguitas ini mirip saat kita baca novel Dan Brown berjudul Malaikat dan Iblis. Namun, toh kalau masih punya nyali, Indonesia bisa keluar dari BOP ketimbang mengirim 8000 tentara yang nanti harus berhadapan dengan HAMAS demi kepentingan Israel juga membayar 1 juta Dollar (kalau 1 juta Rupiah no problem) sebagai wujud serius partisipasi.
Baiklah, Sang Presiden menerjemahkan masuknya Indonesia ke BOP sebagai pengejawantahan dari Politik Luar Negeri Bebas Aktif yang berpihak pada perdamaian dunia. Berpihak pada perdamaian dunia, dalam konteks Gaza kenapa Indonesia mau apabila Israel ada padahal Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengannya. Sementara sejak 1988 Indonesia telah mengakui kemerdekaan Palestina melalui Palestine Liberation Organization (PLO) alm. Yasser Arafat. Itu hanya aktif saja, aspek bebas kurang diperhatikan.
Apabila seseorang terlalu aktif, maka ia menjadi Togog, tokoh wayang yang sangat ambisius ingin berbuat apa pun yang menurutnya baik, tetapi tidak punya arah. Manakala ke sini mentok lalu langsung berbalik ke sana. Ke sana mentok lalu berbalik ke sono. Ke sono mentok lalu berbalik ke ... (isi sendiri).
Politik luar negeri suatu negara wajib didasarkan atas konsep national interest (kepentingan nasional). Kepentingan nasional adalah sesuatu yang dianggap sangat bernilai bagi suatu negara. Kepentingan itu meliputi kedaulatan, keamanan, kesejahteraan, dan promosi nilai-nilai ke dunia internasional. Sukarno adalah satu-satunya presiden Indonesia yang paling berani menjalakan politik luar negeri bebas aktif. Namun, karena sikap independennya Zionis, Zionis Eropa, dan Zionis Amerika tidak suka padanya. Sebab itu maka ia pun digulingkan, sama seperti mereka gulingkan Mohammad Mossadegh di Iran tahun 1953.
Dukungan Indonesia kepada kemerdekaan Palestina adalah amanat Konstitusi dan negeri ini telah melakukannya tahun 1988. Hal ini diikuti dengan hingga saat ini tidak pernah dibangun hubungan diplomatik dengan Israel karena negara tersebut pelaku penjajahan di atas dunia. Kepentingan ini Indonesia atas Palestina sifatnya immaterial sehingga dengan jenis kepentingan nasional berkategori promosi nilai-nilai. Indonesia mempromosikan nilai-nilai bahwa tidak boleh ada lagi penjajahan di atas dunia.
Mengapa Indonesia tega duduk di BOP sementara di sana ada perwakilan penjajah, sementara yang dijajah tetapi Indonesia akui kemerdekaan dan punya hubungan diplomatik yaitu Palestina malah tidak ada. Jika Sukarno disodori kenyataan demikian, atau katakanlah Megawati S.P. presidennya, Indonesia tidak akan masuk BOP. Namun, presiden kali ini hanya pakaian, peci, dan kegemaran pidato Sukarno yang ditiru. Sikap beraninya terhadap AS sayangnya tidak mampu ditunjukkan.
Menurut pakar minyak Archandra Tahar, minyak Iran itu ringan dan lebih mudah diolah menjadi aneka jenis bahan bakar. Jalurnya pun lebih dekat, dari Selat Hormuz langsung menuju Samudera Hindia, masuk Selat Sunda dan didistribusikan ke aneka kilang minyak yang ada di Indonesia. Pada lain pihak, menteri ESDM yang cerdas secara politik tetapi tidak di bidang ekonomi dan minyak berserah pada AS. Minyak AS jika pun ada pasti masuk program MAGA. Minyak di pasar AS dan cadangan minyaknya pasti diprioritaskan untuk dalam negerinya. Kalau ada sisa baru dijual ke luar negeri. Dan, belinya pun harus menggunakan Dollar yang kini hampir 17.000 rupiah.
Mungkin menteri-menteri Indonesia yang berkait dengan minyak dan gas ingin menari di atas agresi AS atas Venezuela. Ya, minyak Venezuela itu banyak tetapi berat, menurut Archandra Tahar. Proses salinasinya lebih rumit ketimbang minyak dari Iran. Dan itu pun, hingga kini belum ada perusahaan minyak yang bersedia mengolah minyak Venezuela. Pertama, belum adanya kepastian politik di Venezuela. Apakah rakyat Venezuela begitu saja menerima presiden mereka, Nicolas Maduro diadili begitu saja oleh pemerintah Amerika di pengadilan negeri Amerika? Sungguh, itu adalah ibarat melemparkan kerak comberan ke wajah rakyat Venezuela. Entah mereka sadar atau tidak. Jika AS kalah perang dengan Iran, kemungkinan besar Maduro akan bebas, PBB bebas mengutuk Trump, dan negara-negara Teluk akan berkerumun di sekeliling Iran (ditambah Rusia dan Cina).
Kedua, perusahaan minyak yang hendak mengolah minyak Venezuela berpikir soal pembiayaan. Proses rekonstruksi aneka kilang minyak, sebelum bisa produksi, memakan waktu 5 tahun. Setelah itu proses produksi baru dimulai dan kemungkinan besar modal baru kembali setelah 10 tahun investasi. Jadi perlu waktu 15 tahun bagi setiap perusahaan yang "nekad" berinvestasi di Venezuela. Perusahaan mana yang berani berspekulasi mengingat Donald Trump begitu "togog."
Baiklah, AS berbaik hati kepada Indonesia. Namun, kapan dalam sejarah Indonesia AS benar-benar tulus membantu Indonesia? Mereka masih dendam pada Indonesia akibat saham Freeport mereka tinggal 49% dan Indonesia 51%. Lalu berapa harga minyak yang harus dibeli Indonesia dari AS. Berapa jarak yang harus ditempuh oleh tanker-tanker Indonesia yang tanggung atau tanker-tanker AS yang harus kita sewa dengan harga mahal. Maka berapa harga minyak bumi dan gas saat masuk ke pasar Indonesia. Itu pun dengan asumsi Indonesia sendiri yang melakukan desalinasi minyak bumi menjadi Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, ataupun Avtur. Bagaimana kalau minyak yang dibeli Indonesia dari AS sudah dalam bentuk jadi? Berapa ongkos produksinya di sana mengingat upah buruh di AS jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia.
Alternatifnya, AS berbaik hati mengirimkan minyak mentah ke Indonesia. Karena pemerintah Indonesia malas mengkonversi minyak mentah menjadi BBM siap SPBU, maka konversi dilakukan di negara ke-3, taruhlah Singapura. Lalu, apabila dari tangan ke-3, berapa jatuhnya harga BBM di SPBU-SPBU Indonesia, berapa di Papua, Papua Barat?
Juga, darimana BBM untuk prestasi baru kebanggaan Prabowo Subianto yaitu Kapal Induk Prabu Siliwangi II ? Ketimbang mengisi BBM kapal tersebut yang entah mau pesiar ke mana, lebih baik BBM distok untuk kebutuhan SPBU-SPBU karena langsung menyentuh hajat hidup orang banyak. Iran mengajarkan kita untuk hati-hati memilih kawan. Saat negara-negara teluk dirudal Iran, Zionis Amerika tidak berbuat apa-apa. Sejumlah kilang dan hotel mewah milik tuan-tuan kaya negara teluk hancur dan AS tidak berbuat apa-apa. Dengan demikian, janganlah pimpinan negeri ini "marah-marah" saat AS nantinya menerapkan kuota pembelian minyak untuk Indonesia lengkap dengan harga tak masuk akal karena kini nilai rupiah terus merosot terhadap Dollar.
Jika nilai 1 Dollar sudah tembus 20.000 rupiah maka lebih baik jangan beli minyak mentah dari AS. Pemerintah negara tersebut tidak pernah memikirkan nasib bangsa lain. Jangankan nasib bangsa lain, penduduk mereka pun semakin banyak yang menjadi gembel karena sudah tidak mampu membeli rumah, mencicil rumah, membeli apartemen, mencicil apartemen. Ibarat gembel, mereka tidur di dalam mobil atau membangun tenda di taman-taman kota. Mereka itu rata-rata pekerja kantoran, tetapi karena inflasi AS terus mengembang akibat APBN mereka lebih banyak diperuntukkan bagi kepentingan Zionis Israel ketimbang rakyat mereka sendiri. Apa yang Prabowo Subianto harapkan dari pemerintah dengan karakter seperti itu?
Izinkan penulis sedikit bicara positif mengenai pemimpin Malaysia, Anwar Ibrahim. Dahulu Sukarno mencak-mencak karena Malaysia adalah boneka Inggris. Munculah KOGAMA yang akhirnya digembosi oleh jenderal-jenderal angkatan darat Indonesia sendiri. Soeharto, Wakil Panglima Mandala mengirim Ali Moertopo untuk berdialog damai dengan orang-orang Tun Abdul Razak. Herakleitos menyatakan bahwa di dunia ini yang abadi hanya perubahan. Hingga kini, Malaysia adalah negara anggota Persemakmuran Inggis. Anehnya, politik luar negeri Malaysia justru Bebas dan Aktif. Indonesia justru kebalikannya.
Dengan ringannya, Anwar Ibrahim mengecam serangan Zionis Israel dan Zionis Amerika atas Iran. Dengan simpatiknya Anwar Ibrahim menyatakan belasungkawa atas syahidnya Ayatollah Ali Khamenei secara lisan (bukan surat satu minggu kemudian seperti negara tetangganya yang katanya pemberani). Anwar dan Masoud bicara soal persatuan Islam. Malaysia itu Sunni sementara Iran itu Syi'ah. Masoud mengingatkan agar negara-negara mayoritas Muslim jangan mau diadu-domba oleh Zionis Israel maupun Zionis Amerika. Sebelumnya, tahun 2024 seorang petinggi Jama'at-el-Islami Pakistan, organisasi bentukan Abul A'la al-Mawdudi menyatakan bahwa Ayatollah Ali Khamenei adalah pemimpin umat Islam yang nyata. Hal itu disuarakan di Universitas Karachi, sehingga tidak heran apabila demonstrasi anti Zionis Israel dan Zionis Amerika meledak cukup besar di Pakistan.
Hari ini (saat tulisan dibuat), sebelumnya Anwar Ibrahim aktif berbicang melalui hubungan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian). Dalam pembicaraan tersebut, berulang-kali Anwar menyatakan pendirian Malaysia bahwa mereka tidak akan pernah menerima tindakan negara mana pun yang mencederai kedaulatan dan integritas wilayah negara lain. Sungguh cerdas dan berani. Anwar Ibrahim berani berkata TIDAK pada Zionis Israel dan Zionis Amerika. Sementara negara tetangganya di sebelah selatan terus berkoar-koar ingin menjadi mediator dengan datang ke Iran.
Agak menggelikan memang keinginan ini. Presiden negara di selatan Malaysia yang masuk BOP, sangat terlambat menyatakan belasungkawa atas syahidnya Ayatollah Ali Khamenei dan itu pun malu-malu (mungkin takut ketahuan AS) melalui sepucuk surat yang diserahkan Menlu. Mengapa bukan presiden sendiri? Duta besar sebuah negara ibarat kepala negara yang ia wakili. Semoga pihak Iran tidak menganggap hal ini sebagai penghinaan. Ini bukan masalah remeh, ini masalah dignity rakyat Iran.
Kita lanjutkan kisah Anwar Ibrahim. Sementara negara-negara ASEAN bersikap lebay dengan pembatasan energi, WFH, membatasi penggunaan BBM, Malaysia justru bicara dengan Iran bahwa Malaysia akan membeli minyak Iran. Karena Masoud Pezeshkian menganggap Anwar Ibrahim seorang gentleman, maka Iran setuju kapal-kapal tanker Malaysia melalui Selat Hormuz dan memberi pengawalan. Harganya jauh lebih murah, kualitas minyak lebih tinggi, dan bisa dibeli tanpa Dollar melainkan Yuan. Iran tidak mau menerima Dollar.
Sebagai penutup blunder politik luar negeri Indonesia, dalam masalah BBM. Terapkanlah politik luar negeri bebas aktif. Malaysia bisa untuk tetap jadi anggota Persemakmuran Inggris. Inggris sekutu paling kuat AS. Namun, dengan ringannya Malaysia mengecam sekutu Inggris, yaitu Zionis Amerika dan Zionis Israel manakala mereka bertindak melanggar hukum internasional. Memang, kini derajat Malaysia, suka ataupun tidak, harus kita akui sudah jauh di atas Indonesia. Kampus-kampus Malaysia banyak mengungguli kampus-kampus Indonesia bahkan di Asia dan ASEAN.
Dahulu orang-orang Malaysia banyak menimba ilmu di Indonesia, sekarang orang Indonesia bangga sekali kalau bisa kuliah di Malaysia. Malaysia adalah negara penampung "robot bernyawa" Indonesia, yang di Malaysia mereka mampu menabung untuk membangun rumah di kampung halaman tetapi setelah pulang ke Indonesia dengan gesitnya mereka dipalaki oleh karyawan imigrasi Indonesia. What kind of a shame country did I lived. Dengan demikian, Indonesia tidak perlu lebay. Jika BBM Indonesia kurang, maka hubungi Anwar Ibrahim. Titip uang non Dollar kepada beliau untuk membeli minyak dari Iran. Namun, hati-hati nanti ketahuan AS, lho.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar