![]() |
| Kathy Charmaz https://www.socialsciencespace.com/2020/07/kathy-charmaz-1939-2020-developer-of-constructivist-grounded-theory/ |
Bagi Charmaz, inkuiri ilmiah ilmu sosial yang sistematis bukan hanya dimiliki metodologi Kuantitatif, melainkan juga Kualitatif. Salah satu metode penelitian dalam metodologi Kualitatif adalah Grounded Theory. Bagi Charmaz, Grounded Theory adalah metode yang memberikan pedoman induktif yang sistematis untuk melakukan pengumpulan dan analisis data guna membangun kerangka teoretis yang bersifat middle-range, yang mampu menjelaskan data yang telah terkumpul. Dalam proses penelitian, Grounded Theory mengembangkan interpretasi atas data yang digunakan sebagai titik tolak untuk melakukan pengambilan data selanjutnya, dan data (sekali lagi, data) ini digunakan pada gilirannya untuk mengkormisasi dan menghaluskan analisis teoretis yang dikembangkan.
Tema tulisan Charmaz kali ini adalah adanya serangan terhadap Grounded Theory, baik dari dalam maupun luar. Serangan dari dalam berasal dari kaum Posmodernis dan Postrukturalis, sementara serangan dari luar lebih bersifat senyap, yaitu dari kaum Positivistik. Glaser, Strauss, dan Corbin dianggap Charmaz membawa Grounded Theory ke arah yang konfliktual.[2] Kendati merupakan pelopor Grounded Theory, Charmaz menyatakan bahwa baik Glaser maupun Strauss sesungguhnya tetap dijiwai oleh Positivisme lewat kecederungan-kecenderungan Obyektivis mereka.
CGT menerima pengetahuan atas dunia empiris dari tangan pertama, ambil posisi tengah antara Postmodernisme dan Positivisme, serta menawarkan aneka metode yang sifatnya aksesibel bagi riset Kualitatif di abad ke-21. Konstruktivisme mengasumsikan relativisme realitas sosial karena sifatnya realitas tersebut memang majemuk, serta harus menerima penciptaan pengetahuan yang sifatnya mutual baik oleh peneliti maupun yang diteliti. Konstruktivisme bertujuan mencapai pemahaman ‘makna’ dari subyek secara interpretive.
Bagi Charmaz, peneliti Grounded Theory dapat saja menggunakan data Kualitatif maupun Kuantitatif. Kendati demikian, bagi Charmaz sendiri Grounded Theory lebih cocok untuk data-data yang sifatnya Kuantitatif. Juga, pilihan data ini (Kualitatif dan Kuantitatif) bisa diterapkan oleh kaum Obyektivis maupun Konstruktivis.
Keketatan pendekatan Grounded Theory menawarkan para peneliti Kualitatif seperangkat pedoman jelas dari mana kerangka eksplanatori disusun. Kerangka tersebut merinci hubungan antar konsep di dalam penelitian. Metode Grounded Theory tidak merinci teknik pengumpulan data; ia melangkah dari tahap penelitian satu ke tahapan penelitian lain atas nama perkembangan data, penghalusan teori, dan kesalinghubungan konsep.
Pengembangan Grounded Theory
Charmaz menilai, Grounded Theory berkembang sejak karya Glaser and Strauss. Karya mereka menentang arus utama metodologi ilmiah saat itu: Metodologi Kuantitatif. Kuantitatif menganggap bahwa semua dapat diukur dan diangkakan. Ini menyulitkan berkembangnya metodologi alternatif.
Mengapa karya Glaser dan Strauss dianggap revolutif? Bagi Charmaz itu karena karya mereka menentang hegemoni metodologi Kuantitatif, yang nuansanya adalah:
Charmaz menduga bahwa Glaser dan Strauss menyodorkan pembenaran intelektual untuk menerapkan penelitian Kualitatif yang memungkin peneliti newbie melaksanakannya. Sebelum karya Glaser dan Strauss, metodologi Kualitatif hanya diajarkan secara oral di lembaga-lembaga pendidikan tinggi.
Lalu, apa sesungguhnyaGrounded Theory itu? Menurut Glaser (seperti dicatat oleh Charmaz), ialah yang punya versi termurni dari Grounded Theory. Bagi Charmaz, pernyataan tersebut tepat, jika orang setuju bahwa formulasi awal sebaiknya dijadikan standar penelitian.
Strategi Grounded Theory
Charmaz menulis sejumlah strategi dalam metode Grounded Theory yaitu:
Pertama, Grounded Theory fokus pada strategi analisis yang rinci, bukan pada masalah pengumpulan data. Ini membuat Grounded Theory kerap diasosiasikan dengan penelitian wawancara terbatas (baik membatasi siapa yang diwawancarai dan berapa jumlahnya) [6] Sama seperti Studi Kasus, Grounded Theory bisa menggunakan aneka sumber data: observasi, konversasi, wawancara formal, otobiografi, arsip publik, laporan organisasi, diari dan jurnal responden. Jadi, dalam Grounded Theory, data yang bicara, data sebagai realitas, dan data tidak pernah bohong.
Kedua, masalah koding data[7]. Grounded Theory adalah metode untuk langsung meneliti. Bagi Charmaz, analisis segera diberlakukan setiap data ditemukan. Lewat koding data, peneliti mulai menentukan dan mengkategorikan data. Dalam koding Grounded Theory, peneliti menciptakan aneka kode saat tengah melakukan penelitian atas data. Peneliti harus berinteraksi dengan data dan mengajukan pertanyaan saat melakukan koding tersebut.
Ketiga, masalah penulisan memo. Bagi Charmaz, penulisan memo adalah langkah antara, setelah koding dan draft awal analisis. Memo mendorong munculnya letupan pemikiran dan memungkinkan kita melihat data dan kode dalam cara baru. Memo bisa membantu kita menentukan arah pengumpulan data pula. Lewat memo, kita bisa mengelaborasi aneka proses, asumsi, dan tindakan. Bagi Charmaz, memo membimbing kita mengeksplorasi kode-kode kita; kita bisa meluaskan penggunaan memo dalam melakukan sorting (pemangkasan) data.[8]
Keempat, masalah theoretical sampling. Grounded Theory mendorong kita menciptakan aneka kategori dan mengembangkannya menjadi konstruk teoretis, dan kemudian muncul gap antara data yang kita miliki dan lubang di dalam teori kita. Untuk itu, Charmaz menyarankan kita kembali ke lapangan dan mengumpulkan data tertentu untuk mengisi gap konseptual ini. Inilah yang disebut theoretical sampling. Pada theoretical sampling kita memiliki sampel untuk isu tertentu saja, bukan semuannya. Tujuannya untuk mendekatkan gap data dan menambal lubang teori.
Kelima, masalah analisis dengan bantuan komputer. Grounded Theorytidak alergi terhadap bantuan komputer. Komputer justru dapat memberi bantuan teknis seputar koding, sorting, dan integrating data. Sejumlah program seperti NUD*1ST dan Ethnograph memang diperuntukkan guna membantu analisis Grounded Theory.
Grounded Theory dalam Penelitian Kualitatif
Bagi Charmaz, penelitian Grounded Theory cocok bagi tradisi yang luas dan lapangan studi analisis Kualitatif. Sebagian besar penelitian ini bersandar pada material Kualitatif yang rinci, yang diperoleh melalui temuan lapangan atau etnografis (Grounded Theory tidak melulu etnografis karena tidak semata ditujukan pada komunitas tertentu). Grounded Theory sama seperti studi Kualitatif lainnya sekadar hanya bisa memotret fenomena secara temporer.[9]
Bagi Charmaz pula, Grounded Theory lebih sebagai proses yang muncul ketimbang produk dari masalah penelitian tunggal yang sifatnya logis dan deduktif. Pertanyaan penelitian awal pada Grounded Theory bisa saja konkrit dan deskriptif, tetapi peneliti dapat mengembangkan pertanyaan analitis yang lebih dalam lewat studinya atas data yang diperoleh.
Grounded Theory Konstruktivis versus Obyektivis
Kaum Konstruktivis mengakui pengamat dapat menciptakan data dan melakukan analisis lewat interaksinya dengan pihak yang diamati. Bagi mereka, data tidak memberikan jendela atas realitas.[10] Realitas harus ditemukan, dan muncul dari proses interaktif, yang sifatnya kontekstual secara temporal, kultural, dan struktural.[11]
Menurut Charmaz, bagi kaum Konstruktivis, sebab-akibat itu sifatnya sugestif, tidak lengkap, dan tidak bisa ditentukan dalam kamus kaum Konstruktivis. Sebab itu, sekali lagi bagi Charmaz, Grounded Theory Konstruktivis amat terbuka untuk diperbaiki. Makna dan tindakan responden lebih mendapat prioritas ketimbang kepentingan analitis dan metodologi pengamat.
Bagaimana dengan kaum Obyektivis Grounded Theory ? Mereka ini lebih dekat dengan ‘qanun’ ilmu pengetahuan tradisional. Kaum Obyektivis mengasumsikan bahwa anutan atas perangkat metode yang sistematis akan mendorong peneliti dalam menemukan realitas dan mengonstruksi pernyataan sementara yang bisa diterima, teruji, dan dan teori yang bisa diverifikasi. Teori ini menyediakan tidak hanya pemahaman tetapi juga prediksi.
Kesimpulan
Charmaz menyimpulkan tulisannya sebagai berikut. Pertama, Grounded Theory berkembang dalam cara berbeda bergantung pada cara padandang dan kecenderungan dari pengikutnya. Charmaz sendiri cenderung pada yang Konstruktifis. Kedua, kita dapat mereduksi atau menyelesaikan ketegangan antara Postmodernisme dan Konstruktifis dalam konteks Grounded Theory manakala kita menggunakan Postmodernisme untuk memberi pencerahan dan memperluas penggunaan Konstruktifis. Ketiga, masa depan Grounded Theory terletak baik di dalam visi kaum Obyektivis maupun Konstruktifis.
[1] Kathy Charmaz, “Grounded Theory: Objectivist and Constructivist Methods” dalam Norman Denzin and Yvonna Lincoln, Handbook of Qualitative Research (London and New York: Sage Publication, 2000) p. 509.
[2] ibid. 510.
[3] ibid. 511.
[4] ibid. 512.
[5] ibid., p. 513.
[6] ibid., p. 514.
[7] ibid. 515.
[8] ibid. p. 517.
[9] ibid. 522
[10] ibid. 523.
[11] ibid., p. 524.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.