Kapan Studi Kasus Digunakan
Bagi Rowley, Studi Kasus kerap dianggap metode atau strategi penelitian yang secara tradisional dinilai kurang ketat dan obyektif. Ini apabila ia diperbandingan dengan metode-metode riset sosial lainnya. Namun, Studi Kasus justru banyak digunakan sebab ia menawarkan cara pandang yang tidak bisa dicapai lewat pendekatan lain.
Mengenai definisi Studi Kasus, Rowley mengutip Eisenhardt, “ ... secara khusus cocok bagi area penelitian baru atau area penelitian di mana teori yang ada dinilai sudah tidak lagi mencukupi. Jenis karya ini (Studi Kasus) sangat komplementer dengan pembangunan teori secara inkremental dari penelitian riset umumnya.
![]() |
| Jennifer Rowley From Research Gate |
Rowley menyebut, Studi Kasus juga baik untuk menginvestigasi aneka fenomena aktual dengan mana aneka perilaku yang relevan tidak bisa dimanipulasi. Umumnya, Studi Kasus menggunakan buki dari berbagai sumber berbeda: dokumen, artifak, wawancara dan observasi, dan ini melampaui apa yang biasanya tersedia dalam penelitian historis.
Kembali ke masalah definisi Studi Kasus.[3] Dengan mengutip Yin, Rowley mendefinisikan Studi Kasus sebagai “inkuiri empiris yang menginvestigasi fenomena kontemporer di dalam konteks kehidupan nyata, terutama manakala batasan antara fenomena dan konteks tidak begitu jelas.”
Desain Riset
Rowley menyebut desain riset kerap dianggap suatu misteri bagi para peneliti newbie. Penjelasan desain riset Rowley atas Studi Kasus menggunakan pendekatan positivistik dan deduktif. Sebab itu, ia perlu menentukan pertanyaan dan proposisi sebagai arahan dalam pengambilan data. Hal ini kontras dengan dengan Grounded Theory atau pendekatan induktif, dengan mana pertanyaan, pemahaman, proposisi, dan gambaran muncul dari pengambilan data. Rowley berpijak pada pendapat bahwa pendekatan Positivistik menyediakan fundasi yang lebih kuat untuk pemahaman dan menangani masalah seperti validitas dan reliabilitas, serta dalam hal melakukan strukturasi atas pengambilan data dan analisisnya.
Apa itu desain riset? Bagi Rowley, desain riset adalah nalar yang menghubungkan antara data yang akan dikumpulkan dan kesimpulan yang hendak diambil atas pertanyaan penelitian sebelumnya; Ia harus memastikan terjadinya koherensi. Cara lain Desain Riset juga merupakan rencana aksi dari pertanyaan hingga kesimpulan penelitian. Sebab itu, dalam Studi Kasus hal yang harus dicapai adalah serupa, dan sebab itu harus melibatkan penentuan komponen dasar investigasi seperti pertanyaan penelitian dan proposisi, agaimana validitas dan reliabilitas dapat diterapkan, dan semilihan desain Studi Kasus.
Rowley menyusun desain penelitian menjadi 5 (lima) tahap, yaitu: [4] (1) Pertanyaan penelitian; (2) proposisi penelitian; (3) unit analisis; (4) nalar yang menghubungkan antara data dengan proposisi; dan (5) kriteria dalam menafsirkan hasil temuan.
Pertama, pertanyaan penelitian harus dibuat sejelas mungkin. Aneka teori sehubungan topik Studi Kasus dapat dijadikan bahan membuat pertanyaan penelitian. Kedua, studi-studi deskriptif dan ekplanatif perlu proposisi. Pertanyaaan penelitian perlu diterjemahkan ke dalam proposisi. Peneliti harus membuat spekulasi, atas dalasar literaratur dan aneka bukti yang ada terlebih dahulu sebagaimana apa yang mereka harapkan untuk ditemukan di dalam penelitian. Pengumpulan data dan analisis lalu bisa distrukturasi dalam rangka mendukung atau menolak proposisi penelitian.
Generalisasi, Validitas, dan Reliabilitas
Sama seperti Bhattarjee, Rowley mempermasalahkan single-case dan multiple-case dalam desain Studi Kasus. Desain single-case mirip dengan sigle experiment. Multiple-case didesain untuk membangun atau menolak suatu teori. Studi Kasus juga bisa dibedakan ke dalam studi yang sifatnya holistik ataupun embedded. Holistik adalah Studi Kasus yang menguji kasus sebagai satu unit, fokus pada aneka isu yang luas seperti budaya atau strategi organisasi. Embedded adalah Studi Kasus yang didesain untuk mengidentifiksasi jumlah sub—sub unit (seperti pertemuan, peran, atau lokasi) yang setiapnya dijelajahi secara individual.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam Studi Kasus bergantung pada kompetensi peneliti. Penelitian adalah agen aktif dalam melakukan penafsiran atas data yang terkumpul. Sebab itu, peneliti harus cerdas dalam melancarkan pertanyaan wawancara, mendengarkan, dan menginterpretasikan jawaban. Morley menawarkan protokol pengumpulan data dalam Studi Kasus yaitu: (1) Tinjauan atas proyek Studi Kasus; (2) prosedur-prosedur lapangan; (3) pertanyaan penelitian atau pertanyaan yang harus dicamkan peneliti dalam pengumpulan data. [6]
Pengumpulan Bukti
Bagi Morley, Studi Kasus memperoleh data dari aneka sumber.[7] Termasuk ke dalamnya adalah dokumen, rekaman arsip, wawancara, observasi langsung, observasi partisipatoris, dan artifak fisik. Persoalannya adalah, bagaimana peneliti harus menyikapi seluruh sumber data yang berlimpah ini? Morley menawarkan 3 cara yaitu: (1) Triangulasi, dengan mana bukti-bukti dapat dikumpulkan dari aneka sumber, kemudian triangulasi dilakukan dengan misi hanya bukti yang menguatkan saja yang dimanfaatkan; (2) Database Studi Kasus, tetap penting untuk dipelihara kendati disertasi sudah selesai, yaitu berupa catatan, memo, dokumen yang diperoleh selama periode penelitian, transkrip wawancara; dan (3) Rantai Bukti, yaitu bahwa laporan penelitian seharusnya punya bagian yang jelas seputar pengutipan dokumen dan wawancara.
Analisis Bukti Studi Kasus
Strategi analisis data dalam Studi Kasus adalah menggunakan proposisi penelitian yang merangkum tujuan dari penelitian dan yang telah turut menentukan pengumpulan data. [8] Dari proposisi inilah semua bukti disuling, dicari mana yang mendukung ataupun menolak proposisi yang sudah diajukan sebelumnya. Secara umum, tidak ada sesuatu yang baku dalam menganalisis aneka bukti yang diperoleh dalam Studi Kasus, tetapi Morley menyebutkan 4 (empat) hal yaitu: (1) analisis hanya mengambil bukti yang relevan; (2) analisis mempertimbangkan semua penafsiran rival yang utama, dan menjelajahi setiapnya; dan (4) analisis seharusnya ditujukan pada aspek paling signifikan dari Studi Kasus.
Menulis Laporan Studi Kasus
Menurut Morley, menulis laporan Studi Kasus bisa merupakan suatu hal yang menakutkan. Di sinilah peneliti harus menentukan apa yang perlu atau tidak perlu dimuat dalam laporan disertasi. Analisis yang efektif akan membantu struktur penulisan laporan. Hal yang menjadi acuan dalam penulisan laporan disertasi adalah siapa audiensnya. Audiens potensial dari Studi Kasus adalah kolega akademik, pembuat kebijakan, profesional-praktisi, masyarakat umum, promotor disertasi dan pengujinya, serta penyandang dana penelitian. Para audiens ini punya kebutuhan yang berbeda. [9]
Perspektif Altenatif Studi Kasus
Morley lebih condong pada Studi Kasus Positivistik. Ia mengutip Yin bahwa pendekatan Studi Kasus Positivistik dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: (1) Pendekatan analitis ke arah generalisasi; (2) Teori seharusnya mengkonfirmasi proposisi, dan proposisi mengkonfirmasi pengumpulan dan analisis data; dan (3) Peneliti bertindak selaku komentator, dalam mewakili dan menafsirkan kasus yang berhubungan dengan teori sebelumnya.
Morley juga mengetengahkan perdebatan antara kalangan Positivistik dan Fenomenologis. Perdebatan ini berkisar pada 3 hal, yaitu:
Jennifer Rowley, “Using Case Study in Research” dalam Management Research News, Vol. 25 No. 1 (MBC UP Ltd, 2002), pp. 16-27
[1] Jennifer Rowley, “Using Case Study in Research” dalam Management Research News, Vol. 25 No. 1 (MBC UP Ltd, 2002), pp. 16
[2] ibid., p. 17.
[3] ibid., p. 18.
[4] ibid., p. 19.
[5] ibid., p. 20.
[6] ibid.,p. 22.
[7] ibid., p. 23.
[8] ibid., p. 24.
[9] ibid., p. 25.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.