Uji Beda Harapan dan Persepsi
Uji ini dilakukan guna menguji apakah terdapat kesenjangan (gap) antara Harapan dengan Persepsi dalam variabel yang dianalisis. Uji dilakukan dengan membedakan nilai Mean antara Harapan dengan Persepsi dan perbedaan tersebut berlangsung dalam kelompok sampel yang sama (pelanggan sama, mengisi kuesioner sama). Nilai Mean tiap variabel diinput ke dalam SPSS, berlaku untuk variabel Harapan dan variabel Persepsi.
Guna menguji ada tidaknya gap, digunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Uji ini diciptakan oleh Frank Wilcoxon tahun 1945. Uji ini diterapkan pada data-data yang sifatnya non parametrik seperti data tidak berdistribusi normal dan diukur dengan skala yang lebih rendah dari interval.
Wilcoxon Signed-Rank Test diterapkan jika terdapat 2 perangkat skor yang ingin diperbandingkan. Skor-skor tersebut berasal dari partisipan yang sama. Skor yang berbeda adalah skor Harapan dan skor Persepsi. Partisipan yang sama adalah Pelanggan yang sama.
Uji Wilcoxon Signed-Rank Test dilakukan dengan menggunakan SPSS. Tata tertib dalam melakukan uji ini dengan SPSS adalah:
- Buat 2 variabel baru yaitu : (a) Mean Harapan tiap Responden dan (b) Mean Persepsi tiap Responden.
- Klik menu Analyze > Nonparametric Tests > 2 Related Samples.
- Pada jendela Two-Related Samples Test masukkan Mean Harapan ke Variable 1 dan Mean Persepsi ke Variable 2.
- Pastikan Test Type Wilcoxon sudah terceklis.
- Klik OK.
- H0 : Tidak ada kesenjangan antara Harapan dengan Persepsi pelanggan.
- H1 : Ada kesenjangan antara Harapan dengan Persepsi pelanggan.
- H0 : d = 0, artinya tidak ada gap antara Persepsi dengan Harapan.
- H1 : d ≠ 0, artinya ada gap antara Persepsi dengan Harapan pelanggan.
- Jika zhitung < ztabel pada tingkat signifikansi 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.
- Jika zhitung > ztabel pada tingkat signifikansi 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima
Dimana :
N = jumlah sampel (sampel selisih 0 tidak disertakan)
Sementara untuk ztabel, untuk uji 2 sisi, nilai yang dicari adalah 0,025 yaitu 1,96 pada tabel Z score.
Pengambilan keputusan juga dapat dilihat dengan kurva normal berikut:
Statistik Deskriptif dengan Importance-Performance Analysis (IPA)
Importance-Performance Analysis (selanjutnya disingkat IPA) adalah suatu metode statistik bercorak deskriptif. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh John A. Martilla dan John C. James tahun 1977 lewat karya mereka yang dimuat dalam Journal of Marketing berjudul "Importance-Performance Analysis."
Martilla dan James menyodorkan contoh sebuah dealer otomobil yang hanya 37% pembeli mobilnya tetap loyal setelah mencapai 6000 mil. Perusahaan hendak meningkatkan loyalitas hingga 50%, terutama memperbaiki sektor pelayanan mereka. Lalu ditentukan 14 atribut yang diyakini punya pengaruh dalam konteks pelayanan. Responden lalu ditanyai 2 pertanyaan untuk ke-14 atribut tersebut, yaitu:
- Seberapa pentingkah layanan ini ? (melukiskan Harapan)
- Seberapa baikkah kinerja dealer? (melukiskan Persepsi)
Hal menarik dari IPA adalah hasil penelitian disampaikan dalam bentuk kuadran 2 dimensi yang bersifat grafis dan mudah diinterpretasi. Hasil kuadran penelitian yang dicontohkan Martilla dan James sebagai berikut:
A. Concentrate Here (konsentrasi di sini).
Faktor-faktor yang terletak dalam kuadran ini dianggap sebagai faktor yang Penting dan atau Diharapkan oleh konsumen tetapi kondisi Persepsi dan atau Kinerja Aktual yang ada pada saat ini belum memuaskan sehingga pihak manajemen berkewajiban mengalokasikan sumber daya yang memadai untuk meningkatkan kinerja berbagai faktor tersebut. Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini merupakan prioritas untuk ditingkatkan.
B. Keep up with the good work (pertahankan prestasi).
Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini dianggap Penting dan Diharapkan sebagai faktor penunjang bagi kepuasan konsumen sehingga pihak manajemen berkewajiban memastikan bahwa kinerja institusi yang dikelolanya dapat terus mempertahankan prestasi yang telah dicapai.
C. Low Priority (prioritas rendah)
Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini mempunyai tingkat Persepsi atau Kinerja Aktual yang rendah sekaligus dianggap tidak terlalu Penting dan atau terlalu Diharapkan oleh konsumen sehingga manajemen tidak perlu memprioritaskan atau terlalu memberikan perhatian pada faktor-faktor tersebut.
D. Possibly Overkill (terlalu berlebih).
Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini dianggap Tidak Terlalu Penting dan atau Tidak Terlalu Diharapkan sehingga pihak manajemen perlu mengalokasikan sumber daya yang terkait dengan faktor-faktor tersebut kepada faktor-faktor lain yang mempunyai prioritas penanganan lebih tinggi yang masih membutuhkan peningkatan, semisal di kuadran B.
C. L. Martinez mengutarakan terdapat 2 (dua) cara dalam mempresentasikan data IPA. Pertama, menempatkan garis perpotongan kuadran pada nilai rata-rata pada sumbu tingkat kepuasan dan sumbu prioritas penanganan dengan tujuan mengetahui secara umum penyebaran data terletak pada kuadran ke berapa.
Dalam konteks IPA ini, peneliti akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
- Menghitung Mean Harapan setiap responden.
- Menghitung Mean Persepsi setiap responden.
- Melakukan plotting Mean Harapan dan Mean Persepsi secara Cartesian ke dalam Kuadran IPA Martilla and James.
- Melakukan interpretasi dan analisis seputar indikator-indikator apa yang masuk ke dalam kategori:
Concentrate Here;Keep Up with the Good Work;Low PriorityPossibly Overkill
Bagaimana Menggambar Kuadran?
Plotting Data untuk Masing-masing Indikator
Hal ini serupa seperti sebelumnya. C-line untuk sumbu x dan y adalah sama. Hanya saja plotting datanya yang berbeda. Perhitungannya jika peneliti menggunakan 5 indikator (reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan tangible) maka mean persepsi dan mean harapan dibuat berdasarkan skor masing-masing indikator.
Dapat diperhatikan, c-line untuk sumbu x dan sumbu y sama dengan bagi 20 item di atas. Hal yang berbeda adalah mean p dan mean e nya. Mean p untuk indikator Keandalan misalnya, diperoleh dari perhitungan (mean p item#1 + mean p item#2 + mean p item#3 + mean p item#4)/4 = 3,21. Demikian untuk mean e dan indikator-indikator selanjutnya.
Untuk plotting data selanjutnya sama dengan cara di atas. Hanya saja, tentu plotting yang dihasilkan cuma 5 plot karena menggunakan 5 indikator. Dengan 5 indikator hasil plotting misalnya sebagai berikut:

Field, Andi, Discovering Statistics using SPSS, Second Edition (California : SAGE Publication, 2006)

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.