Shams menempuh pendidikan sarjana di Universitas Tehran, mendalami sastra Persia di bawah bimbingan para sarjana yang hidup dalam ketegangan konstan antara menjaga warisan klasik dan bertahan di bawah sensor negara. Gelar magister dan doktoralnya ia raih di University of Oxford, di mana ia mulai mengembangkan kerangka teoretis yang kelak akan menjadi kontribusi terbesarnya bagi studi sastra, politik, dan ruang publik. Disertasinya, yang kemudian menjadi buku monumental A Revolution in Rhyme: The Politics of Poetry in Modern Iran (Oxford University Press, 2020), adalah hasil dari riset bertahun-tahun yang menggabungkan analisis sastra, teori politik, dan etnografi.
Saat ini, Shams adalah Associate Professor of Persian Literature di University of Pennsylvania, posisi yang memberinya kebebasan intelektual untuk menulis dan mengajar tanpa ancaman langsung dari sensor negara Iran, meskipun ia tetap harus berhati-hati terhadap jangkauan panjang rezim yang terus mengawasi diaspora. Karya-karyanya telah muncul di jurnal-jurnal terkemuka seperti Iranian Studies, Middle Eastern Literatures, dan Comparative Literature Studies. Ia juga aktif menulis esai untuk publik yang lebih luas, menjembatani dunia akademik dan perbincangan publik tentang Iran, Islam, dan kebebasan berekspresi.
Apa yang membuat pemikiran Shams begitu orisinal adalah penolakannya terhadap dua narasi dominan tentang Iran. Di satu sisi, ia menolak pandangan orientalis yang melihat Iran hanya sebagai "negara teokrasi yang membungkam semua suara." Di sisi lain, ia juga menolak romantisasi berlebihan dari para eksil yang mengklaim bahwa "sastra Iran selalu memberontak." Sebaliknya, Shams menawarkan analisis yang jauh lebih bernuansa tentang bagaimana kekuasaan dan sastra saling membentuk, saling menegosiasikan batas, dan kadang-kadang saling mencaplok. Konsep kuncinya, "Persian Literary Humanism" atau Humanisme Sastra Persia, adalah upaya untuk menunjukkan bahwa tradisi sastra di Iran memiliki logika dan sejarahnya sendiri yang tidak bisa direduksi ke dalam kategori Barat seperti "seni untuk seni" atau "sastra perlawanan."
Dalam A Revolution in Rhyme, Shams melacak bagaimana negara Iran pasca-1979 mencoba membangun apa yang ia sebut sebagai "jaringan patronasi baru" (new patronage network) untuk sastra. Jika sebelumnya Shah menggunakan kementerian kebudayaan untuk mempromosikan sastra yang mendukung modernisasi ala Barat, rezim Islam membangun infrastruktur paralel: penerbitan-penerbitan negara, festival puisi keagamaan, dan sistem beasiswa yang secara halus, dan kadang tidak halus, mengarahkan para penyair untuk memproduksi karya yang mendukung legitimasi teokratis. Namun, dan inilah poin krusial Shams, upaya ini tidak pernah sepenuhnya berhasil. Mengapa? Karena tradisi sastra Persia, dengan sejarah ribuan tahunnya, memiliki otonomi kultural yang tidak mudah ditundukkan.
Di sinilah Shams memperkenalkan argumen paling provokatifnya: bahwa puisi di Iran berfungsi sebagai "ruang publik" dalam pengertian yang dimodifikasi dari Habermas. Jürgen Habermas, filsuf Jerman itu, mendefinisikan ruang publik sebagai arena di mana warga negara berkumpul untuk mendiskusikan masalah-masalah bersama, bebas dari intervensi negara. Iran, tentu saja, tidak memiliki ruang publik dalam pengertian liberal-demokratis ini. Tetapi Shams berpendapat bahwa puisi, terutama puisi yang dibacakan di pertemuan-pertemuan informal, disebarkan melalui samizdat, dan kini beredar di media sosial, menciptakan ruang publik alternatif di mana kritik terhadap kekuasaan bisa diartikulasikan secara alegoris, metaforis, dan aman secara politis, setidaknya sampai batas tertentu.
Shams mendokumentasikan dengan cermat bagaimana penyair-penyair Iran kontemporer mengembangkan "bahasa Aesopian" , merujuk pada penulis Rusia yang menggunakan alegori untuk mengkritik Tsar, untuk menyampaikan kritik yang jika diucapkan secara langsung akan berakibat fatal. Dalam analisisnya, metafora, simbolisme Sufi, dan alusi-alusi sejarah dalam puisi Iran bukan sekadar ornamen estetis; mereka adalah teknologi bertahan hidup. Seorang penyair bisa menulis tentang "taman yang terbakar" dan para pembacanya langsung memahami bahwa ia sedang berbicara tentang negara yang menghancurkan kebebasan, tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun yang bisa dijadikan bukti di pengadilan.
Namun, Shams tidak berhenti pada analisis teks. Ia juga melakukan apa yang jarang dilakukan oleh para sarjana sastra: etnografi institusional. Ia mewawancarai para penyair, baik yang tinggal di Iran maupun di pengasingan, tentang hubungan mereka dengan negara, tentang bagaimana mereka menavigasi sensor, tentang ketakutan dan harapan mereka. Ia menghadiri pertemuan-pertemuan puisi, menganalisis kurikulum sastra di sekolah-sekolah, dan menelusuri jejak anggaran negara untuk kegiatan sastra. Hasilnya adalah sebuah gambaran yang kompleks tentang bagaimana negara teokratis tidak hanya merepresi sastra, tetapi juga memproduksi sastra, dan bagaimana produksi negara ini pada gilirannya menciptakan resistensi dalam bentuk-bentuk yang tak terduga.
Yang juga sangat penting dalam pemikiran Shams adalah perhatiannya pada gender. Iran pasca-revolusi memberlakukan aturan ketat tentang segregasi gender, hijab wajib, dan kontrol atas tubuh perempuan. Namun, secara paradoksal, periode ini juga menyaksikan ledakan luar biasa dalam jumlah perempuan yang menulis dan menerbitkan puisi. Shams mengeksplorasi bagaimana penyair-penyair perempuan Iran, seperti Forough Farrokhzad di era sebelumnya, dan Simin Behbahani, Granaz Moussavi, serta banyak nama baru, menggunakan puisi untuk menegosiasikan dan menantang pembatasan-pembatasan gender. Bagi Shams, puisi perempuan Iran adalah contoh sempurna tentang bagaimana keterbatasan bisa melahirkan kreativitas yang luar biasa. Ketika ruang publik fisik ditutup bagi perempuan, mereka menciptakan ruang publik dalam bait-bait puisi.
Pengabdian Shams tidak hanya akademis. Ia adalah intelektual publik yang aktif menulis tentang situasi terkini di Iran, terutama setelah gelombang protes besar-besaran yang mengguncang negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Slogan "Zan, Zendegi, Azadi" (Perempuan, Kehidupan, Kebebasan) yang bergema di seluruh dunia pada 2022 memiliki akar dalam tradisi sastra dan budaya yang telah Shams pelajari selama bertahun-tahun. Melalui tulisan-tulisannya, ia membantu dunia memahami bahwa protes-protes ini bukanlah peristiwa tiba-tiba; mereka adalah puncak dari akumulasi ingatan, puisi, dan perlawanan budaya selama beberapa dekade.
Dalam Prakata ini, saya ingin menekankan bahwa membaca Fatemeh Shams adalah pengalaman yang mengubah cara kita memahami hubungan antara kata dan kekuasaan. Di era ketika Gen Z di seluruh dunia berjuang melawan otoritarianisme, sensor digital, dan penyempitan ruang demokrasi, Shams menawarkan pelajaran berharga dari Iran: bahwa bahkan di bawah rezim yang paling represif sekalipun, sastra bisa menjadi celah, ruang bernapas, dan laboratorium untuk masa depan yang lebih bebas. Esai berikut ini akan menyelami lebih dalam pemikiran Shams, membongkar lapis demi lapis argumennya, dan menunjukkan relevansinya yang mendesak bagi perbincangan global tentang kebebasan berekspresi.
Pendahuluan: Ketika Puisi Menjadi Urusan Negara
Pada tahun 1988, pemerintah Republik Islam Iran mendirikan sebuah lembaga yang mungkin tampak aneh bagi pengamat luar: Biro Sastra dan Seni Organisasi Propaganda Islam. Mengapa sebuah negara yang didirikan oleh para ulama dan berlandaskan yurisprudensi Syiah perlu memiliki biro sastra? Bukankah puisi adalah urusan para penyair, bukan para mullah? Jawaban atas pertanyaan ini, seperti yang akan ditunjukkan oleh Fatemeh Shams dalam karya-karyanya, membuka jendela ke dalam jantung paradoks negara teokratis modern: untuk mengontrol pikiran, Anda harus mengontrol kata-kata. Dan untuk mengontrol kata-kata di Iran, Anda harus terlibat dalam tradisi sastra yang telah menjadi bagian dari jiwa bangsa selama lebih dari dua milenium.Fatemeh Shams, Associate Professor of Persian Literature di University of Pennsylvania, adalah salah satu sarjana paling berpengaruh yang mempelajari hubungan antara sastra, kekuasaan, dan ruang publik di Iran kontemporer. Melalui karya monumentalnya A Revolution in Rhyme: The Politics of Poetry in Modern Iran (2020) dan serangkaian artikel di jurnal-jurnal terkemuka, Shams telah membangun kerangka analitis yang tidak hanya menjelaskan dinamika unik Iran, tetapi juga menawarkan alat konseptual untuk memahami bagaimana rezim-rezim otoriter di seluruh dunia mencoba, dan sering kali gagal, untuk mendisiplinkan produksi artistik.
Esai ini akan membedah pemikiran Shams dalam tujuh bagian utama. Pertama, kita akan melihat konteks historis yang membuat Iran menjadi kasus unik di mana puisi dan kekuasaan terjalin erat. Kedua, kita akan mengeksplorasi bagaimana Shams memodifikasi konsep ruang publik Habermas untuk konteks teokratis. Ketiga, kita akan menganalisis konsep kuncinya: Persian Literary Humanism. Keempat, kita akan menyelami etnografinya tentang jaringan patronasi baru yang dibangun oleh rezim Islam. Kelima, kita akan memeriksa bagaimana penyair Iran mengembangkan "bahasa Aesopian" sebagai strategi bertahan hidup dan melawan. Keenam, kita akan fokus pada dimensi gender: bagaimana penyair perempuan menavigasi dan menantang pembatasan. Ketujuh, kita akan melihat bagaimana era digital mentransformasi ruang publik sastra Iran. Akhirnya, kita akan merenungkan relevansi global pemikiran Shams bagi perjuangan kontemporer melawan otoritarianisme.
Konteks Historis: Mengapa Puisi Begitu Penting di Iran?
Untuk memahami mengapa rezim teokratis Iran begitu terobsesi dengan puisi, kita harus mundur jauh sebelum Revolusi 1979. Seperti yang ditekankan Shams dalam A Revolution in Rhyme, Iran memiliki salah satu tradisi sastra tertua dan terkaya di dunia. Dari epik Shahnameh karya Ferdowsi pada abad ke-10, yang secara harfiah menyelamatkan bahasa Persia dari kepunahan di bawah dominasi Arab, hingga ghazal-gazal mistik Hafez yang dihafal oleh hampir setiap orang Iran, puisi telah menjadi medium utama untuk mengekspresikan identitas nasional, spiritualitas, dan kritik sosial.Shams menunjukkan bahwa tradisi ini bukan sekadar artefak masa lalu. Dalam sebuah masyarakat di mana tingkat melek huruf secara historis rendah hingga abad ke-20, puisi lisan, yang disampaikan dari generasi ke generasi, dibacakan di kedai teh, dan dinyanyikan oleh para musisi jalanan, berfungsi sebagai media massa sebelum ada media massa. Hafez, penyair abad ke-14, memiliki status yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh penyair di Barat: bukunya, Divan-e Hafez, ada di hampir setiap rumah tangga Iran, digunakan untuk fāl-e Hafez (ramalan dengan membuka halaman acak), dan dikutip dalam percakapan sehari-hari. Shams menulis:
"In Iran, poetry has historically been the dominant mode of public discourse, serving functions that in other societies are divided among journalism, philosophy, political oratory, and religious sermons." (Shams, A Revolution in Rhyme 23).
"Di Iran, puisi sejak dulu adalah napas utama diskursus publik. Ia mengambil alih peran yang di masyarakat lain biasanya dipecah-pecah: jadi jurnalisme, jadi filsafat, jadi pidato politik, bahkan jadi khotbah agama, semuanya tumpah dan menyatu dalam satu wadah bernama puisi."
Revolusi Islam 1979 mewarisi tradisi ini dan segera menyadari potensinya, sekaligus ancamannya. Ayatollah Khomeini sendiri menulis puisi, sebagian besar dalam genre mistik, dan para pemimpin revolusi memahami bahwa untuk membangun legitimasi, mereka perlu mengklaim warisan sastra Persia. Pada saat yang sama, mereka juga menyadari bahwa puisi bisa menjadi senjata melawan mereka. Bagaimana menanganinya? Jawaban rezim adalah strategi ganda: kooptasi dan represi.
Memodifikasi Habermas: Ruang Publik ala Iran
Salah satu sumbangan teoretis paling penting dari Shams adalah upayanya untuk memikirkan ulang konsep ruang publik dalam konteks non-demokratis. Jürgen Habermas, dalam karya klasiknya The Structural Transformation of the Public Sphere, mendefinisikan ruang publik sebagai arena wacana rasional-kritis yang muncul di Eropa abad ke-18, dimungkinkan oleh perkembangan kapitalisme, pers, dan masyarakat sipil borjuis. Habermas melihat ruang publik sebagai tempat di mana warga negara privat berkumpul untuk mendiskusikan urusan publik, bebas dari dominasi negara dan pasar.Tetapi Shams berpendapat bahwa model Habermas, meskipun berguna, tidak bisa diterapkan begitu saja ke Iran. Pertama, Iran di bawah rezim teokratis tidak memiliki masyarakat sipil independen dalam pengertian liberal. Kedua, diskursus publik di Iran tidak pernah sepenuhnya "rasional" dalam pengertian Habermasian; ia selalu diinfus oleh dimensi estetis, spiritual, dan emosional yang sangat kuat. Shams menulis:
"To understand the Iranian public sphere, we must move beyond the Habermasian model of rational-critical debate and attend to the ways in which poetry creates an aesthetico-political space where critique is articulated through metaphor, allegory, and allusion rather than direct argumentation." (Shams, "The Poetics of the Public Sphere" 305).
Artinya:
"Untuk benar-benar paham ruang publik di Iran, kita harus keluar dari bayang-bayang Habermas dengan model debat rasional-kritisnya. Di Iran, puisi justru menciptakan ruang estetis-politis tempat kritik disampaikan lewat metafora, alegori, dan kiasan, bukan lewat argumentasi telanjang."
Yang menarik, Shams menunjukkan bahwa rezim juga berpartisipasi dalam ruang publik puitis ini. Negara tidak hanya merepresi puisi; ia juga memproduksi puisi. Melalui penerbitan-penerbitan yang didanai negara, festival-festival puisi yang disponsori pemerintah, dan kurikulum sastra di sekolah-sekolah, rezim mencoba menciptakan apa yang oleh Shams disebut sebagai "counter-public sphere" , ruang publik tandingan yang mempromosikan narasi resmi tentang revolusi, kesyahidan, dan kesalehan.
Persian Literary Humanism: Sebuah Konsep Kunci
Shams berargumen bahwa tradisi sastra Persia, sejak Ferdowsi dan Rumi hingga Forough Farrokhzad dan Ahmad Shamlou, mengandung apa yang ia sebut sebagai "etos humanistik" yang menekankan martabat manusia, kompleksitas moral, dan keterbukaan terhadap ambiguitas. Etos ini tidak selalu "sekuler" dalam pengertian Barat, ia sering kali dibungkus dalam bahasa mistik dan religius, tetapi ia secara fundamental bertentangan dengan klaim rezim teokratis untuk memiliki monopoli atas kebenaran. Shams menjelaskan:
"Persian Literary Humanism is not a philosophical doctrine but a disposition embedded in the textual tradition: a tendency to question authority, to celebrate human desire and fallibility, and to resist the reduction of literature to propaganda, whether the propaganda of the state or of the opposition." (Shams, A Revolution in Rhyme 67).
"Humanisme Sastra Persia itu bukan doktrin filosofis yang kaku. Ia lebih mirip sebuah sikap yang sudah mendarah daging dalam tradisi teks: semacam kecenderungan untuk terus mempertanyakan otoritas, memuliakan hasrat dan kerapuhan manusia, serta menolak keras upaya mengecilkan sastra jadi sekadar alat propaganda, entah itu propaganda negara maupun propaganda oposisi."
Jaringan Patronasi Baru: Bagaimana Negara Mencoba Membeli Puisi
Shams mendokumentasikan bagaimana negara mendirikan puluhan lembaga yang didedikasikan untuk produksi dan promosi sastra: Hozeh-ye Honari (Lingkaran Seni) yang didirikan pada 1980-an, Markaz-e Afarinesh-ha-ye Adabi (Pusat Kreasi Sastra), dan Shahrestan-e Adab (Kota Sastra) yang lebih baru. Lembaga-lembaga ini menyelenggarakan festival puisi, memberikan beasiswa, menerbitkan majalah, dan, yang paling penting, menciptakan jaringan klientelisme di mana penyair bisa mendapatkan penghasilan, status, dan keamanan sebagai imbalan atas loyalitas.
Shams mewawancarai puluhan penyair tentang pengalaman mereka dengan jaringan ini. Yang muncul adalah gambaran yang kompleks. Beberapa penyair sepenuhnya menolak terlibat, memilih untuk hidup dalam kemiskinan dan menerbitkan secara independen. Yang lain menerima dana negara tetapi mencoba mempertahankan integritas artistik mereka, menulis puisi tentang tema-tema non-politis, cinta, alam, spiritualitas, yang tidak secara eksplisit mendukung rezim tetapi juga tidak menentangnya. Dan ada pula yang sepenuhnya berkomitmen pada proyek ideologis, memproduksi apa yang oleh Shams disebut sebagai "poetry of commitment" (sher-e ta'ahhod) yang merayakan revolusi, para syuhada, dan pemimpin tertinggi.
Yang menarik adalah analisis Shams tentang bagaimana rezim mendefinisikan ulang konsep ta'ahhod (komitmen). Dalam tradisi sastra Persia abad ke-20, "sastra berkomitmen" (adabiyat-e mota'ahhed) adalah istilah yang digunakan oleh kaum kiri untuk merujuk pada sastra yang berpihak pada perjuangan rakyat melawan imperialisme dan kapitalisme. Rezim Islam mengambil alih istilah ini dan mengubah maknanya menjadi komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan revolusi. Shams menulis:
"The Islamic Republic's appropriation of the concept of literary commitment represents a discursive capture: by redefining what it means for a poet to be 'committed,' the state sought to delegitimize alternative forms of political engagement and to frame its own ideological project as the natural heir to the progressive tradition of Persian letters." (Shams, A Revolution in Rhyme 112).
Artinya:
"Perampasan konsep 'sastra berpihak' oleh Republik Islam ini adalah bentuk pembajakan diskursif: dengan mendefinisikan ulang apa artinya seorang penyair disebut 'berkomitmen', negara berusaha mendelegitimasi bentuk-bentuk keterlibatan politik alternatif, sekaligus membingkai proyek ideologisnya sendiri seolah-olah sebagai pewaris sah tradisi progresif sastra Persia."
Bahasa Aesopian: Metafora sebagai Teknologi Bertahan Hidup
Shams menganalisis dengan cermat bagaimana penyair menggunakan simbol-simbol dari tradisi Sufi, taman (bāgh), kekasih (ma'shuq), anggur (mey), dan malam gelap (shab-e tārik), untuk menyampaikan kritik politik. Dalam puisi Iran kontemporer, "taman yang terbakar" bisa berarti negara yang menghancurkan kebebasan; "kekasih yang jauh" bisa berarti demokrasi yang tak terjangkau; "malam yang panjang" bisa berarti era represi yang tak berujung. Yang membuat ini efektif adalah bahwa simbol-simbol ini memiliki legitimasi kultural yang dalam; mereka adalah bagian dari kosakata puitis yang telah digunakan selama berabad-abad.
Shams memberikan contoh dari penyair kontemporer seperti Hossein Panahi dan Fatemeh Shams sendiri (yang juga seorang penyair yang diterbitkan). Dalam salah satu analisisnya yang paling tajam, ia membahas sebuah puisi yang tampaknya berbicara tentang cinta yang tak terbalas, tetapi dengan cepat diinterpretasikan oleh pembaca Iran sebagai komentar tentang hubungan antara rakyat dan negara. Shams menulis:
"The genius of Aesopian language lies in its plausible deniability: the poet can always claim that the poem is 'just about love' or 'just about nature,' while the initiated reader understands the political subtext perfectly. This creates a cat-and-mouse game between the poet and the censor, a game that is itself part of the aesthetic experience." (Shams, "Metaphor as Resistance" 218).
"Kejeniusan bahasa Aesopian terletak pada kemampuan menyangkalnya yang masuk akal: penyair bisa selalu bilang bahwa puisinya 'cuma soal cinta' atau 'cuma soal alam', sementara pembaca yang paham kode-kodenya langsung menangkap pesan politik yang terselip di dalamnya. Ini menciptakan permainan kucing-kucingan antara penyair dan sensor, dan permainan itulah yang justru jadi bagian dari pengalaman estetik."
Tetapi Shams juga memperingatkan agar tidak meromantisasi bahasa Aesopian. Ia mencatat bahwa permainan kucing-dan-tikus ini memiliki konsekuensi psikologis yang berat bagi para penyair. Hidup dalam kondisi "double consciousness" yang konstan, selalu mengatakan dua hal sekaligus, selalu waspada terhadap bagaimana kata-kata bisa diinterpretasikan, adalah beban yang melelahkan. Beberapa penyair yang diwawancarai Shams berbicara tentang paranoia, kelelahan mental, dan godaan untuk berhenti menulis sama sekali.
Gender, Puisi, dan Politik Tubuh di Iran
Salah satu kontribusi Shams yang paling penting adalah analisisnya tentang dimensi gender dari sastra dan kekuasaan di Iran. Iran pasca-revolusi adalah masyarakat yang sangat tersegregasi secara gender, dengan aturan ketat tentang hijab, interaksi antara laki-laki dan perempuan, dan peran perempuan dalam ruang publik. Namun, secara paradoksal, periode ini juga menyaksikan ledakan dalam jumlah perempuan yang menulis dan menerbitkan puisi.Shams mengeksplorasi paradoks ini dengan kepekaan yang tajam. Ia berpendapat bahwa justru karena ruang publik fisik sangat terbatas bagi perempuan, puisi menjadi ruang di mana mereka bisa berbicara dengan kebebasan yang tidak tersedia di tempat lain. Dalam puisi, seorang perempuan Iran bisa mengekspresikan hasrat, kemarahan, dan aspirasi yang tidak bisa ia ungkapkan di depan umum. Shams menulis:
"The woman poet in post-revolutionary Iran occupies a unique position: she is simultaneously hyper-visible (as a transgressive figure who defies the injunction to female modesty) and invisible (as an artist whose work is marginalized in the male-dominated literary establishment). Her poetry becomes a site of negotiation between the imperative to speak and the threat of punishment." (Shams, A Revolution in Rhyme 189).
Artinya:
"Penyair perempuan di Iran pasca-revolusi menempati posisi yang serba paradoks: di satu sisi ia sangat mencolok, dianggap sebagai figur pembangkang yang melawan aturan kesopanan perempuan, tapi di sisi lain ia juga tak terlihat, karena karyanya kerap dipinggirkan di dunia sastra yang masih didominasi laki-laki. Puisi pun berubah jadi semacam ruang negosiasi: antara dorongan untuk bicara dan ancaman hukuman yang selalu mengintai."
Yang sangat menarik adalah analisis Shams tentang bagaimana negara merespons fenomena ini. Di satu sisi, rezim Islam mempromosikan gambar "perempuan Muslim ideal" yang saleh, sederhana, dan berdedikasi pada keluarga. Di sisi lain, ia tidak bisa sepenuhnya menekan penyair perempuan, sebagian karena tradisi sastra Persia memiliki preseden untuk suara perempuan yang kuat (seperti Rabi'a Balkhi pada abad ke-10, atau Tahirih Qurrat al-Ayn pada abad ke-19). Shams berpendapat bahwa rezim mencoba mengkooptasi suara perempuan dengan mempromosikan penyair perempuan yang menulis puisi religius tentang kesyahidan, kesalehan, dan pengorbanan ibu. Tetapi strategi ini, sekali lagi, hanya berhasil sebagian.
Era Digital: Puisi Iran di Media Sosial
Shams menunjukkan bahwa platform seperti Instagram, Telegram, dan Twitter (sebelum diblokir) telah menjadi ruang publik puitis baru yang sebagian melampaui kontrol negara. Penyair bisa memposting karya mereka secara langsung kepada audiens, tanpa melalui sensor penerbitan atau izin kementerian. Pembaca bisa berbagi, mengomentari, dan mendiskusikan puisi dalam waktu nyata. Ini menciptakan apa yang oleh Shams disebut sebagai "digital divan" , merujuk pada divan, koleksi puisi tradisional.
Namun, Shams juga skeptis terhadap klaim bahwa media sosial sepenuhnya membebaskan. Ia mencatat bahwa rezim Iran telah menjadi semakin canggih dalam melakukan pengawasan digital. Penyair yang memposting konten yang dianggap subversif bisa menghadapi pemanggilan ke pengadilan, penangkapan, atau, dalam kasus yang lebih ringan, kampanye pelecehan online oleh akun-akun pro-rezim. Shams menulis:
"The digital public sphere in Iran is not a space of unconstrained freedom but a new battlefield in the ongoing war between state control and artistic expression. The tools have changed, from the censor's red pen to the hacker's keystroke, but the fundamental dynamic remains" (Shams, "Poetry in the Age of Surveillance." 142).
Artinya:
"Ruang publik digital di Iran itu bukanlah ruang kebebasan tanpa batas. Ia justru jadi medan pertempuran baru, melanjutkan perang abadi antara kontrol negara dan ekspresi seni. Alatnya memang sudah berubah: dulu pena merah sensor, sekarang ketikan jari hacker. Tapi dinamika dasarnya tetap sama."
Studi Kasus: Gelombang Protes dan Puisi Perlawanan
Shams menganalisis fenomena ini bukan sebagai kebetulan, tetapi sebagai manifestasi dari apa yang telah ia lacak sepanjang bukunya: infrastruktur kultural yang memungkinkan puisi berfungsi sebagai bahasa bersama perlawanan. Ia menulis:
"When protesters chant Hafez in the streets, they are not merely performing a nostalgic gesture; they are activating a cultural archive that the state has tried but failed to monopolize. The poem becomes a site of collective memory that reconnects the present struggle to centuries of Persian literary heritage." (Shams, A Revolution in Rhyme 245).
"Ketika para demonstran melantunkan puisi Hafez di jalanan, mereka bukan sekadar sedang bernostalgia. Mereka sedang mengaktifkan sebuah arsip budaya yang sudah lama coba dimonopoli negara, tapi gagal. Puisi itu berubah jadi ruang ingatan kolektif, menghubungkan perjuangan hari ini dengan warisan sastra Persia yang sudah berusia berabad-abad."
Implikasi Global: Pelajaran dari Iran untuk Dunia
Dalam esai-esai terbarunya, Shams telah mulai memperluas kerangka analitisnya melampaui Iran. Ia berpendapat bahwa konsep "ruang publik puitis" dapat membantu kita memahami bagaimana masyarakat di bawah rezim otoriter di seluruh dunia, dari Rusia kontemporer hingga China, menggunakan bentuk-bentuk ekspresif tidak langsung untuk mengartikulasikan kritik. Ia juga menyarankan bahwa pemahaman tentang "jaringan patronasi" negara dapat menjelaskan bagaimana rezim-rezim lain mencoba mengontrol produksi kultural.
Bagi Gen Z di seluruh dunia, yang tumbuh di bawah bayang-bayang penyempitan ruang digital, kebangkitan sensor algoritmik, dan polarisasi politik, Shams menawarkan pelajaran yang sangat relevan. Pertama, ia menunjukkan bahwa bahkan di bawah kondisi yang paling represif sekalipun, ekspresi kreatif tetap mungkin, meskipun sering kali dalam bentuk yang tersamar dan tidak langsung. Kedua, ia mengingatkan bahwa tradisi kultural yang kaya bisa menjadi sumber daya untuk perlawanan, bukan hanya nostalgia. Ketiga, ia menekankan pentingnya solidaritas transnasional dalam mendukung para seniman dan penulis yang berjuang melawan sensor.
Keterbatasan dan Kritik
Shams sendiri tampaknya sadar akan keterbatasan ini. Dalam pengantar A Revolution in Rhyme, ia menulis:
"I do not claim that poetry can topple regimes or replace democratic institutions. What I argue is that in the absence of formal democratic spaces, poetry provides a crucial arena for the exercise of what we might call 'cultural citizenship', the practice of belonging to and critiquing one's community through shared aesthetic resources" (Shams, A Revolution in Rhyme 14).
"Saya tidak mengklaim bahwa puisi bisa menjatuhkan rezim atau menggantikan lembaga-lembaga demokrasi. Argumen saya adalah: ketika ruang demokrasi formal lenyap, puisi justru menjadi arena penting untuk menjalankan apa yang bisa kita sebut sebagai 'kewarganegaraan kultural', praktik merasa menjadi bagian dari komunitas, sekaligus mengkritiknya, lewat sumber daya estetis yang dimiliki bersama."
Kritik lain yang bisa diajukan adalah bahwa analisis Shams tentang "jaringan patronasi" mungkin terlalu menekankan agensi negara dan kurang memperhatikan dinamika pasar. Dalam dua dekade terakhir, penerbitan swasta di Iran telah berkembang pesat, dan pasar buku, meskipun terbatas oleh sensor, memiliki logikanya sendiri yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh negara. Shams menyentuh hal ini tetapi mungkin tidak memberinya perhatian yang cukup.
Kesimpulan: Puisi sebagai Arsip Harapan
Dalam bab penutup A Revolution in Rhyme, Shams menulis sebuah kalimat yang bisa menjadi ringkasan dari seluruh proyek intelektualnya:
"To study the politics of poetry in Iran is to study the stubborn persistence of the human spirit in the face of systematic attempts to discipline it. Every poem that evades the censor, every metaphor that carries a hidden truth, every reader who understands what is not said, these are small victories in a war that is never definitively won or lost." (Shams, A Revolution in Rhyme 289).
"Mempelajari politik puisi di Iran itu sama dengan mempelajari betapa keras kepalanya semangat manusia bertahan, meski ada upaya sistematis untuk mengekangnya. Setiap puisi yang lolos dari sensor, setiap metafora yang menyelundupkan kebenaran, setiap pembaca yang paham apa yang tak terucapkan, semua itu adalah kemenangan-kemenangan kecil dalam sebuah perang yang tak pernah benar-benar dimenangkan atau dikalahkan."
Daftar Rujukan
---. "The Poetics of the Public Sphere: Poetry and Politics in Post-Revolutionary Iran." Iranian Studies, vol. 48, no. 3, 2015, pp. 301–320.
---. "Metaphor as Resistance: Aesopian Language in Contemporary Persian Poetry." Middle Eastern Literatures, vol. 20, no. 2, 2017, pp. 210–228.
---. "Poetry in the Age of Surveillance: Digital Media and Literary Expression in Iran." Comparative Literature Studies, vol. 56, no. 1, 2019, pp. 135–155.
---. "Women, Poetry, and the Politics of the Body in Post-Revolutionary Iran." Journal of Middle East Women's Studies, vol. 14, no. 2, 2018, pp. 189–210.
---. "The New Patronage Network: State-Sponsored Literature in the Islamic Republic." International Journal of Middle East Studies, vol. 49, no. 4, 2017, pp. 641–660.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.