Ad Code

Perumahan-Pendidikan AS Terpuruk Tak Perlu Bermain dengan Peshmerga dan Azeri

Di tengah gempita pemberitaan tentang serangan udara yang mengguncang Iran, sebuah pertanyaan sederhana namun menggelitik mengemuka: untuk apa sebenarnya perang ini? Ketika pemerintahan Trump dan sekutu dekatnya, Benjamin Netanyahu, mengerahkan kekuatan militer untuk menggempur Iran, ada ironi yang tak terbantahkan, bahwa biaya yang dikeluarkan justru menggerogoti fondasi sosial negeri mereka sendiri. 

Tulisan ini hendak mengupas kontradiksi tersebut dengan kacamata yang lebih jernih, menjauh dari narasi-narasi yang biasa digaungkan oleh lobi-lobi berkepentingan, dan mendekat pada suara-suara yang lebih objektif.

Fantastisnya Biaya Perang Amerika

Mari kita mulai dengan angka yang mencengangkan. Operasi militer koalisi AS-Israel di Iran diperkirakan menelan biaya yang sangat fantastis. Center for Strategic and International Studies (CSIS) merilis laporan bahwa 100 jam pertama kampanye militer AS menelan biaya sekitar 3,7 miliar dolar AS, atau sekitar 890 juta dolar AS per hari (NHK World-Japan, 2026). Dari jumlah tersebut, sekitar 1,5 miliar dolar AS dihabiskan untuk rudal dan senjata ofensif lainnya (NHK World-Japan, 2026). Lembaga lain, National Priorities Project, juga mencatat bahwa operasi harian untuk aset-aset militer utama di sekitar Iran merugikan pembayar pajak AS sekitar 59,39 juta dolar AS per hari (National Priorities Project, 2026).

Angka ini menjadi sangat ironis jika kita bandingkan dengan krisis sosial yang tengah berlangsung di dalam negeri Amerika Serikat. National Priorities Project (2026) menyoroti bahwa dana sebesar 59,39 juta dolar AS per hari itu sebenarnya dapat menutupi biaya Medicaid harian untuk lebih dari empat juta warga Amerika, atau biaya program bantuan pangan SNAP untuk lebih dari 9,5 juta warga Amerika. Data dari U.S. News (2025) menunjukkan bahwa pemotongan dana hibah federal oleh pemerintahan Trump telah memukul sekolah-sekolah di pedesaan, yang mana dana federal bisa mencapai 10% dari total anggaran pendidikan mereka.

Ironi biaya perang AS-Israel di Iran: 31 juta dolar per serangan kontra tunawisma dan pendidikan yang terpuruk. Analisis strategi Peshmerga dan Azerba

Krisis tunawisma di Amerika Serikat juga terus merayap seperti api dalam sekam. Data sensus tunawisma nasional untuk tahun 2025 bahkan tidak kunjung dirilis oleh Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan (HUD) AS di bawah pemerintahan Trump (NBC News, 2026). Seorang advokat tunawisma, Donald Whitehead, mengkritik tajam penundaan ini, dengan menyatakan, "Ini lebih dari sekadar kurangnya transparansi; ini adalah malapraktik" (NBC News, 2026, para. 27-28). Ironisnya, sementara pemerintah federal sibuk menggelontorkan dana untuk perang, data resmi tentang skala masalah tunawisma di negeri sendiri justru ditutup-tutupi.

Pendidikan Rakyat AS Terluka

Krisis di dalam negeri AS bukan hanya soal tunawisma. Paul E. Peterson, seorang pakar pendidikan dari Harvard University, telah lama mendokumentasikan kemerosotan sistem pendidikan Amerika. Dalam bukunya, Peterson (2010) secara komprehensif memaparkan tentang "kebangkitan, kemerosotan, dan potensi kebangkitan kembali sistem pendidikan AS".

Analisis ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bahwa pemerintahan Trump justru memangkas anggaran pendidikan. National Education Association (2025) melaporkan bahwa pemerintahan Trump menahan hampir 6,9 miliar dolar AS pendanaan pendidikan K-12 federal yang seharusnya sudah disalurkan ke negara-negara bagian. Ini adalah potret buram: di satu sisi, pemerintah mengeluarkan dana fantastis untuk menghancurkan infrastruktur di negeri orang; di sisi lain, infrastruktur pendidikan di negeri sendiri justru terlantar. Sebuah ironi yang sulit dicerna nalar sehat.

Sergey Poletaev, seorang analis informasi dan editor proyek Vatfor, memberikan perspektif yang menyegarkan sekaligus mengkhawatirkan. Menurutnya, kampanye udara semata tidak akan pernah mampu menundukkan Iran, dan bahwa Washington telah meremehkan tekad Tehran (Poletaev, 2026).

Analisisnya ini menemukan pembenaran dalam laporan Institute for the Study of War (ISW, 2025) yang mengutip pernyataan mantan Komandan IRGC Mohammad Ali Jafari. Jafari menjelaskan bahwa Iran secara sadar memprioritaskan pengembangan program rudal dan drone justru untuk mengompensasi kelemahan angkatan udara konvensional mereka dan untuk menghadang musuh yang secara teknologi lebih unggul dengan senjata-senjata yang murah namun mematikan (ISW, 2025).

Dengan kata lain, apa yang dihancurkan oleh koalisi AS-Israel hari ini, akan dengan mudah diganti oleh Iran besok. Rudal-rudal murah Iran akan terus menjadi hujan sehari-hari bagi siapa pun yang nekat menginjakkan kaki di tanah Persia.

Peshmerga dan Jebakan Sejarah

Ketika pasukan organik AS mulai "ogah" dan tentara Israel (IDF) yang didominasi generasi milenial dan Gen-Z lebih memilih menikmati hidup ketimbang berperang di padang pasir, Trump dan Netanyahu mulai melirik "legiun asing." Peshmerga, milisi Kurdi di Irak utara, menjadi kandidat utama. Euractiv (2026) melaporkan bahwa dengan kampanye udara AS-Israel yang terus berlanjut, perhatian kini beralih ke Iran bagian barat yang dihuni oleh mayoritas Kurdi, di mana faksi-faksi Kurdi dapat bergerak cepat jika keamanan rezim Iran melemah.

Namun, menggunakan Peshmerga sebagai ujung tombak serangan darat ke Iran adalah resep bencana yang sudah teruji dalam sejarah. The Atlantic (2026) dalam laporan investigasinya menyoroti dilema ini: "Upaya Amerika-Israel untuk menjatuhkan rezim Iran tidak mungkin berhasil tanpa bantuan PJAK dan kelompok bersenjata Kurdi lainnya... [Namun] prospek invasi Kurdi penuh dengan bahaya, terutama bagi Kurdi itu sendiri" (para. 17, 30-31).

Secara persenjataan, Euractiv (2026) mencatat bahwa PDKI (Partai Demokrat Kurdistan Iran) memang memiliki faksi bersenjata di dalam Iran yang disebut Peshmerga, namun sebagian besar hanya dipersenjatai dengan senjata ringan. Hal yang paling krusial adalah trauma sejarah. Thomas von der Osten-Sacken, direktur eksekutif organisasi bantuan Wadi, memperingatkan bahwa "Kurdi di Kurdistan Iran tidak boleh dikorbankan dan kemudian ditinggalkan... Mereka harus diperlakukan sebagai mitra sejati... bukan sebagai pasukan darat jangka pendek yang dapat dibuang" (Euractiv, 2026, para. 41-43). Peringatan ini sangat relevan mengingat bagaimana AS meninggalkan sekutu Kurdi mereka pasca-invasi Irak 2003.

Skema di Azerbaijan

Skema serupa juga coba dimainkan di Azerbaijan. Pada awal Maret 2026, sebuah drone menyerang bandara di Nakhchivan, wilayah eksklave Azerbaijan yang berbatasan langsung dengan Iran. Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev langsung menuduh Iran melakukan "aksi teroris" (Anadolu Agency, 2026). Namun, Tehran dengan tegas membantahnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menyatakan kecurigaan bahwa Israel mungkin berada di balik serangan tersebut untuk merusak hubungan regional (Dunya News, 2026). Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam panggilan telepon dengan Aliyev menegaskan bahwa insiden itu tidak terkait dengan Iran dan akan diselidiki (Anadolu Agency, 2026).

Mengapa Israel, yang diduga kuat berada di balik serangan false flag ini, begitu berkepentingan memecah belah Iran dan Azerbaijan? Jawabannya terletak pada geografi dan demografi. Wilayah utara Iran dihuni oleh populasi Azerbaijan yang signifikan, menciptakan potensi kerentanan primordial yang bisa dieksploitasi. Namun, kalkulasi ekonomi tampaknya lebih berbicara. Sebagian besar produksi minyak Azerbaijan bertumpu di Laut Kaspia, dalam jangkauan mudah drone-drone Iran. Nalar ekonomi yang dingin tampaknya lebih kuat daripada hasutan perang.

Negara-Negara Arab

Bagaimana dengan negara-negara Arab Teluk? BBC (2026) melaporkan bahwa negara-negara Teluk "marah" karena berada di garis depan perang yang tidak mereka inginkan. Financial Times (seperti dikutip dalam BBC, 2026) melaporkan bahwa Iran diyakini telah menembakkan hampir sebanyak drone dan rudal ke Uni Emirat Arab seperti halnya ke Israel. Ini menjadi strategi Iran untuk "menaikkan taruhan" bagi negara-negara Arab agar menekan AS mengakhiri perang (BBC, 2026).

Meski demikian, sikap negara-negara Teluk tidak monolitik. Di satu sisi, ada kemarahan atas serangan Iran. Di sisi lain, seperti dilaporkan AP (2026), sekutu Teluk AS seperti Arab Saudi dan UEA secara pribadi mendesak Trump untuk terus melanjutkan perang hingga Iran benar-benar dikalahkan. Namun, analisis dari Clingendael Institute (2025) menunjukkan bahwa perang Juni 2025 telah memberikan "peringatan yang menyakitkan"—ketika wilayah udara Teluk ditutup, pasar saham regional langsung anjlok. Ini menunjukkan betapa rentannya kawasan ini terhadap eskalasi konflik.

Kekuatan Udara vs. Ketahanan Darat

Lalu, apa yang sebenarnya bisa dicapai oleh kampanye udara masif ini? United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA, 2026) melaporkan bahwa serangan udara yang sedang berlangsung telah menyebabkan "jumlah korban sipil yang tinggi, kerusakan, dan pengungsian". Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan bahwa sedikitnya 1.332 warga sipil Iran, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dalam serangan AS-Israel (China.org.cn, 2026). Ini adalah tragedi kemanusiaan yang sulit dibenarkan dengan dalih apa pun.

Namun, apakah semua ini menggoyahkan fondasi kekuasaan di Iran? Sejarah mencatat, justru sebaliknya. Serangan terhadap infrastruktur sipil cenderung menyatukan rakyat di belakang pemerintah, alih-alih memicu pemberontakan. Iran memiliki pengalaman panjang menghadapi perang—delapan tahun perang dengan Irak di bawah Saddam Hussein menempa mentalitas ketahanan yang sulit ditembus oleh bom semata. ISW (2025) melaporkan bahwa Iran secara sadar memprioritaskan pengembangan rudal dan drone justru karena mereka tahu tidak akan pernah bisa menandingi keunggulan udara AS dan Israel.

Strategi asimetris ini terbukti efektif: rudal-rudal murah Iran mampu menjangkau pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan, menciptakan efek gentar (deterrence) yang signifikan. Marine Corps University (2025) bahkan menegaskan bahwa "proliferasi drone murah telah menciptakan asimetri yang berbahaya dalam peperangan modern, di mana biaya pertahanan jauh lebih besar daripada biaya serangan".

Perang yang Tak Akan Pernah Dimengerti Rakyat

Pada akhirnya, perang ini adalah cermin dari keterputusan antara elit politik dan rakyat yang mereka wakili. Di Amerika Serikat, tunawisma merajalela sementara miliaran dolar dihamburkan untuk menghancurkan negeri orang. Sistem pendidikan terpuruk, namun tak ada tanda-tanda perbaikan berarti. Di Israel, generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung militer justru lebih memilih menikmati hidup ketimbang mati sia-sia di padang pasir.

Sergey Poletaev benar: perang udara tidak akan pernah bisa menundukkan Iran. Kemenangan sejati hanya bisa diraih dengan berhadapan langsung dengan rakyat Iran, dan di sanalah "neraka" sesungguhnya menanti. Namun, tampaknya baik Trump maupun Netanyahu sudah terlalu jauh terperangkap dalam "rabies otak" mereka sendiri untuk bisa melihat realitas ini dengan jernih.

Bagi rakyat Amerika dan Israel, pertanyaan yang tersisa hanyalah: sampai kapan mereka akan terus membiarkan pemimpin mereka bermain api di negeri orang, sementara rumah mereka sendiri terbakar perlahan? Jawabannya mungkin akan menentukan tidak hanya nasib Timur Tengah, tetapi juga masa depan demokrasi di kedua negara tersebut.

Daftar Pustaka

Anadolu Agency. (2026, Maret 5). Azerbaijan’s president accuses Iran of ‘terrorist act’ amid drone strike in Nakhchivan. https://www.aa.com.tr/en/asia-pacific/azerbaijan-s-president-accuses-iran-of-terrorist-act-amid-drone-strike-in-nakhchivan/3851487

Anadolu Agency. (2026, Maret 8). Nakhchivan drone attack not linked to Iran, will be investigated, Tehran tells Baku. https://www.aa.com.tr/en/asia-pacific/nakhchivan-drone-attack-not-linked-to-iran-will-be-investigated-tehran-tells-baku/3855544

AP. (2026, Maret 30). Gulf allies privately make the case to Trump to keep fighting until Iran is decisively defeated. https://ajc-ajc-prod.cdn.arcpublishing.com/news/2026/03/gulf-allies-privately-make-the-case-to-trump-to-keep-fighting-until-iran-is-decisively-defeated/

BBC. (2026). 'Red lines have been crossed': Gulf states weigh response to Iranian strikes. https://d1blvk3s7728x3.cloudfront.net/news/articles/cjrqqd8lw2wo

China.org.cn. (2026, Maret 7). At least 1,332 Iranian civilians killed in US-Israeli airstrikes: Iran's UN envoy. https://www.china.org.cn/world/2026-03/07/content_1181310.shtml

Clingendael Institute. (2025, Desember 1). A view from Tehran: GCC-Iran relations after the bombing of Qatar and the Gaza cease-fire. https://www.clingendael.org/publication/view-tehran-gcc-iran-relations-after-bombing-qatar-and-gaza-cease-fire

Dunya News. (2026, Maret 5). Iran denies involvement in drone attack in Azerbaijan. https://www.dunyanews.tv/en/World/882536-iran-denies-involvement-in-drone-attack-in-azerbaijan

Euractiv. (2026, Maret 5). As US-Israeli airstrikes hit Iran, Kurdish forces eye a ground offensive. https://www.euractiv.com/news/as-us-israeli-airstrikes-hit-iran-kurdish-forces-eye-a-ground-offensive/

Institute for the Study of War (ISW). (2025, Oktober 28). Iran Update, October 28, 2025. https://understandingwar.org/research/middle-east/iran-update-october-28-2025/

Marine Corps University. (2025, Desember). MCU Insights Vol. 16, Issue 6. https://www.usmcu.edu/Outreach/Marine-Corps-University-Press/MES-Publications/MES-Insights/MCU-Insights-vol-16-no-6/

National Education Association. (2025, Juli 1). U.S. Department of Education Withholds School Funding for FY25. https://www.nea.org/advocating-for-change/action-center/our-issues/education-funding/us-department-education-withholds-school-funding-fy25

National Priorities Project. (2026, Maret 3). FACT SHEET: How much is the war in Iran costing taxpayers?. https://www.nationalpriorities.org/analysis/2026/factsheet-how-much-war-iran-costing-taxpayers/

NBC News. (2026, Januari 29). Trump administration still hasn't released data from 2025's homelessness census. https://ppe.nbcnews.com/politics/trump-administration/trump-administration-2025-homelessness-data-hud-census-rcna256322

NHK World-Japan. (2026, Maret 6). US operation against Iran costs nearly $900 million a day, think tank estimates. https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/20260306_12/

Peterson, P. E. (2010). Saving schools: From Horace Mann to virtual learning. Harvard University Press.

Poletaev, S. (2026, Maret 13). The Iran War: Why the U.S. May Neither Win nor End the Middle East Conflict, Reshaping Global Geopolitics. Newswriters. https://newswriters.in/2026/03/13/the-iran-war-why-the-u-s-may-neither-win-nor-end-the-middle-east-conflict-reshaping-global-geopolitics/

The Atlantic. (2026, Maret 29). The Kurdish Ground Force Preparing to Fight in Iran. https://www.theatlantic.com/international/2026/03/kurdish-troops-us-iran-war/686572/

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA). (2026, Maret 17). Islamic Republic of Iran: Humanitarian Update No. 01. https://www.unocha.org/publications/report/iran-islamic-republic/iran-islamic-republic-humanitarian-update-no-01-17-march-2026

U.S. News. (2025, Desember 18). Rural Schools Hit by Trump's Grant Cuts Have Few Options for Making up for the Lost Money. https://www.usnews.com/news/education-news/articles/2025-12-18/rural-schools-hit-by-trumps-grant-cuts-have-few-options-for-making-up-for-the-lost-money

Posting Komentar

0 Komentar