Ini adalah teori yang menjelaskan mekanisme psikologis yang memungkinkan kita untuk “melepaskan diri” dari kontrol moral internal kita, sehingga kita bisa melakukan tindakan yang tidak manusiawi tanpa merasa bersalah, malu, atau menyesal.
“Bagaimana Mereka Bisa Melakukannya?”
Setiap teori besar lahir dari sebuah pertanyaan yang mengganggu, sebuah kegelisahan yang tak tertahankan. Teori Pelepasan Moral lahir dari pertanyaan yang menghantui dunia setelah Perang Dunia II, dan terus menghantui kita hingga hari ini.1 Bayangan Holocaust
Bayangkan Anda adalah seorang warga Jerman biasa pada tahun 1940-an. Anda seorang ayah yang penyayang, suami yang setia, tetangga yang baik. Anda suka musik klasik dan berkebun di akhir pekan. Tetapi setiap pagi, Anda pergi bekerja sebagai insinyur di sebuah pabrik yang memproduksi gas Zyklon B, yang digunakan untuk membunuh jutaan orang Yahudi, Gipsi, dan tahanan lainnya di kamp konsentrasi. Atau Anda seorang pegawai administrasi yang dengan rapi mengetik daftar nama-nama yang akan “dideportasi ke Timur”.
Ini adalah pertanyaan yang menghantui dunia setelah Holocaust terungkap. Filsuf Hannah Arendt, yang meliput pengadilan Adolf Eichmann di Yerusalem pada tahun 1961, menciptakan frasa yang terkenal dan kontroversial: “the banality of evil” (kebanalan kejahatan). Eichmann bukanlah monster yang haus darah. Ia adalah seorang birokrat yang rapi, efisien, dan sangat membosankan. Ia hanya “menjalankan perintah” dan “melakukan tugasnya”. Arendt menulis:
“The trouble with Eichmann was precisely that so many were like him, and that the many were neither perverse nor sadistic, that they were, and still are, terribly and terrifyingly normal.” (Arendt 276)
[Masalah dengan Eichmann justru adalah bahwa begitu banyak orang yang seperti dia, dan bahwa orang-orang itu tidaklah perversi atau sadis, bahwa mereka, dan masih, sangat dan menakutkan normal.]
Tetapi Arendt, sebagai seorang filsuf, tidak menjelaskan mekanisme psikologis-nya. Bagaimana tepatnya proses “normalisasi” kejahatan itu terjadi di dalam otak manusia?
2 “Guru” yang Menyetrum “Murid”
Pada awal tahun 1960-an, seorang psikolog muda di Universitas Yale bernama Stanley Milgram melakukan serangkaian eksperimen yang kini menjadi legenda, dan kontroversi abadi. Milgram merekrut peserta biasa dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka diberi tahu bahwa mereka akan berpartisipasi dalam “studi tentang belajar dan memori”.
Peserta berperan sebagai “guru”, sementara seorang aktor (yang dianggap peserta lain) berperan sebagai “murid”. “Guru” diinstruksikan oleh seorang eksperimenter berjas putih untuk memberikan kejutan listrik kepada “murid” setiap kali ia membuat kesalahan dalam mengingat pasangan kata. Kejutan listrik itu dimulai dari 15 volt (ringan) hingga 450 volt (yang ditandai dengan label “XXX” dan “Danger: Severe Shock”). “Murid” akan meronta, menjerit, dan akhirnya diam seolah-olah pingsan atau mati.
Yang mengejutkan, 65% peserta terus menaikkan voltase hingga ke level tertinggi, meskipun mereka mendengar jeritan kesakitan dan kemudian keheningan yang mencekam. Mereka berkeringat, gemetar, menggigit bibir, tetapi mereka tetap melakukannya, karena eksperimenter terus berkata dengan kalimat sederhana: “The experiment requires that you continue.” [Eksperimen ini mengharuskan Anda untuk melanjutkan.]
Eksperimen Milgram adalah bom psikologis. Ia menunjukkan bahwa orang biasa, bukan psikopat, bisa melakukan tindakan yang sangat kejam di bawah tekanan otoritas. Tetapi sekali lagi, Milgram mendemonstrasikan bahwa itu terjadi, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana otak kita “mematikan” suara hati nurani.
3 Ketika Mahasiswa Menjadi Sadis
Hanya satu dekade kemudian, pada tahun 1971, seorang psikolog lainnya, Philip Zimbardo, melakukan eksperimen yang bahkan lebih kontroversial di Universitas Stanford. Zimbardo menciptakan sebuah “penjara” buatan di ruang bawah tanah kampus. Ia merekrut mahasiswa yang sehat secara mental dan secara acak membagi mereka menjadi “tahanan” dan “penjaga”. Rencananya dua minggu.
Eksperimen ini terpaksa dihentikan hanya setelah enam hari, karena situasi di luar kendali. Para “penjaga” mulai melakukan pelecehan dan penyiksaan psikologis yang semakin brutal terhadap “tahanan”. Mereka membangunkan tahanan di tengah malam, memaksa mereka melakukan push-up tanpa henti, mencabut hak buang air, dan mempermalukan mereka secara seksual. Para “tahanan” mulai menunjukkan gejala depresi berat dan gangguan emosional.
Bagaimana mungkin mahasiswa biasa, yang hanya beberapa hari sebelumnya adalah anak-anak muda yang baik dan ceria, berubah menjadi sadis?
Zimbardo menyimpulkan bahwa situasi dan peran memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk perilaku. Ini yang kemudian ia sebut sebagai “The Lucifer Effect” , bagaimana malaikat bisa berubah menjadi iblis. Zimbardo menulis:
“The line between good and evil is permeable and almost anyone can be induced to cross it when pressured by situational forces.” (Zimbardo 5)
[Garis antara yang baik dan yang jahat itu permeabel dan hampir semua orang bisa didorong untuk melewatinya ketika ditekan oleh kekuatan situasional.]
Zimbardo memberikan kerangka situasional. Tetapi pertanyaan tentang proses kognitif internal yang memungkinkan transformasi ini masih belum terjawab secara tuntas. Di sinilah seorang tokoh besar akan melangkah masuk.
Albert Bandura dan Revolusi Kognitif-Sosial
Jika ini adalah sebuah drama intelektual, maka panggung sudah siap, dan sang aktor utama akan segera muncul: Albert Bandura (1925–2021), seorang psikolog Kanada-Amerika yang diakui sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah psikologi.1 Dari Social Learning ke Social Cognition
Bandura bukanlah pendatang baru yang tiba-tiba menciptakan teori pelepasan moral. Ia sudah membangun reputasi raksasa sejak tahun 1960-an dengan Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial). Eksperimennya yang paling terkenal adalah “Bobo Doll Experiment” (1961). Bandura menunjukkan bahwa anak-anak belajar agresi hanya dengan menonton model agresif, tanpa perlu penguatan langsung. Ini adalah pukulan telak bagi teori behaviorisme radikal yang mendominasi saat itu.
Namun, Bandura tidak berhenti di situ. Ia terus mengembangkan teorinya menjadi Social Cognitive Theory (Teori Kognitif Sosial). Dalam teori ini, manusia bukanlah robot yang hanya dikendalikan oleh stimulus eksternal, atau boneka yang hanya digerakkan oleh dorongan internal. Manusia adalah agen yang aktif. Pikiran, perilaku, dan lingkungan saling mempengaruhi dalam sebuah hubungan yang ia sebut “triadic reciprocal causation” [Kausalitas timbal balik triadik] (Bandura, Social Foundations 18).
Di dalam diri manusia, ada sistem “self-regulatory” (pengaturan diri) yang sangat kuat. Kita memiliki standar moral internal. Kita mengamati diri kita sendiri, mengevaluasi tindakan kita berdasarkan standar itu, dan memberi diri kita hadiah (kebanggaan) atau hukuman (rasa bersalah, malu). Inilah yang biasanya mencegah kita melakukan tindakan tidak bermoral.
2 Lahirnya Teori Pelepasan Moral
Nah, di sinilah letak kejeniusan Bandura. Ia bertanya: jika manusia memiliki sistem pengaturan diri yang begitu kuat, bagaimana mungkin kita masih bisa melakukan kekejaman? Jawabannya adalah: karena sistem pengaturan diri itu bisa “dimatikan” atau “dilepaskan” .
Bandura mulai merumuskan gagasan ini pada pertengahan 1970-an. Namun, pernyataan paling lengkap dan paling berpengaruh muncul dalam sebuah makalah monumental pada tahun 1999, yang diterbitkan di jurnal Personality and Social Psychology Review, dengan judul “Moral Disengagement in the Perpetration of Inhumanities” . Kemudian, ia mengembangkannya menjadi sebuah buku besar pada tahun 2016, Moral Disengagement: How People Do Harm and Live with Themselves .
Dalam makalah 1999 itu, Bandura membuka dengan pernyataan yang langsung menusuk jantung persoalan:
“The moral disengagement may center on the cognitive restructuring of inhumane conduct into a benign or worthy one by moral justification, sanitizing language, and advantageous comparison; disavowal of a sense of personal agency by diffusion or displacement of responsibility; disregarding or minimizing the injurious effects of one's actions; and attribution of blame to, and dehumanization of, those who are victimized.” (Bandura, “Moral Disengagement” 193)
[Pelepasan moral dapat berpusat pada restrukturisasi kognitif dari perilaku tidak manusiawi menjadi sesuatu yang baik atau terpuji melalui pembenaran moral, bahasa yang disanitasi, dan perbandingan yang menguntungkan; penolakan terhadap rasa keagenan pribadi melalui difusi atau pengalihan tanggung jawab; mengabaikan atau meminimalkan efek merusak dari tindakan seseorang; dan atribusi kesalahan kepada, serta dehumanisasi terhadap, mereka yang menjadi korban.]
Inilah rumusan klasik dari delapan mekanisme pelepasan moral. Delapan mekanisme ini adalah “kunci-kunci” yang dapat membuka belenggu hati nurani, sehingga kita bisa melakukan kejahatan tanpa merasa bersalah.
3 Siapa Albert Bandura?
Untuk memahami teori ini, kita perlu sedikit mengenal orangnya. Bandura lahir dari keluarga imigran Polandia-Ukraina di sebuah kota kecil di Kanada. Ia bukan produk dari universitas elite; ia bahkan kuliah di universitas yang relatif kecil hanya karena faktor kebetulan, ia ikut temannya dan ternyata suka psikologi. Kariernya di Stanford University menjadikannya salah satu psikolog paling dikutip sepanjang masa.
Yang paling penting, Bandura bukanlah pemikir yang sinis atau pesimistis. Ia sangat percaya pada human agency, kemampuan manusia untuk menjadi agen perubahan bagi diri mereka sendiri. Teorinya tentang pelepasan moral justru lahir dari keyakinannya bahwa jika kita bisa memahami mekanisme yang membuat orang melakukan kejahatan, maka kita bisa merancang cara untuk mengaktifkan kembali (re-engage) kontrol moral mereka. Ini adalah teori yang optimistis di balik analisisnya yang gelap.
Titik-Titik Krusial Penjelasan Teori
Sekarang kita masuk ke jantung teori ini. Inilah “kitab suci” dari Teori Pelepasan Moral. Bandura mengidentifikasi delapan mekanisme yang terbagi ke dalam empat kategori besar. Saya akan menjelaskannya satu per satu, dengan contoh yang membumi.KATEGORI 1: Membingkai Ulang Kejahatan Menjadi Kebaikan
Tiga mekanisme pertama adalah tentang bagaimana kita “menyulap” tindakan buruk menjadi sesuatu yang baik, atau setidaknya bisa diterima.
1 Pembenaran Moral
Ini adalah mekanisme tertua dan paling sering digunakan. Tindakan yang salah dibenarkan dengan dalih bahwa ia melayani tujuan yang lebih tinggi dan mulia.
“People do not ordinarily engage in harmful conduct until they have justified to themselves the rightness of their actions.” (Bandura, “Moral Disengagement” 194)
[Orang-orang biasanya tidak melakukan perilaku yang merugikan sampai mereka membenarkan kepada diri mereka sendiri kebenaran dari tindakan mereka.]Sepanjang sejarah, kekerasan dan perang selalu dibenarkan dengan dalih agama (“Perang Suci”, “Tuhan menghendaki”), ideologi (“melindungi revolusi”), keamanan nasional (“melawan teroris”), atau kehormatan keluarga (“pembunuhan demi martabat”). Prajurit yang membunuh musuh di medan perang tidak merasa sebagai pembunuh, karena mereka percaya bahwa mereka sedang membela negara dan melindungi keluarga mereka. Ini adalah pembenaran moral.
2 Bahasa yang Disanitasi
Bahasa memiliki kekuatan untuk membentuk realitas. Dengan menggunakan bahasa yang “halus”, “teknis”, atau “ilmiah”, kita bisa membuat tindakan yang kejam menjadi terdengar steril dan tidak berbahaya.
“By calling a destructive act by a benign name, the action is stripped of its repugnancy and the perpetrator is absolved of the need for self-censure.” (Bandura, Moral Disengagement 48)
[Dengan menyebut tindakan destruktif dengan nama yang jinak, tindakan itu dilucuti dari keburukannya dan pelaku dibebaskan dari kebutuhan untuk menyensor diri sendiri.]
Contohnya? Tentara tidak “membunuh warga sipil”; mereka menyebabkan “collateral damage” (kerusakan tambahan). Perusahaan tidak “memecat ribuan karyawan”; mereka melakukan “downsizing” atau “rightsizing”. Pemerintah tidak “membunuh lawan politik”; mereka melakukan “extrajudicial killings”. Istilah-istilah ini menciptakan jarak psikologis antara tindakan dan realitas moralnya.
3 Perbandingan yang Menguntungkan
Mekanisme ini sangat sederhana: bandingkan tindakan buruk Anda dengan tindakan yang jauh lebih buruk, sehingga tindakan Anda terlihat “tidak terlalu buruk” atau bahkan “baik”.
“By exploiting the contrast principle, reprehensible acts can be made righteous.” (Bandura, “Moral Disengagement” 195)
[Dengan mengeksploitasi prinsip kontras, tindakan yang tercela bisa dibuat menjadi benar.]
Contoh: “Saya memang mencuri uang negara, tapi lihatlah si A itu mencuri triliunan! Saya hanya mencuri miliaran.” Atau, “Memang benar rezim kami membatasi kebebasan pers, tapi lihatlah rezim sebelumnya yang membunuh ribuan orang. Kami jauh lebih baik.” Dengan membuat perbandingan yang mencolok, pelaku kejahatan merasa bahwa tindakan mereka adalah “the lesser evil” (kejahatan yang lebih kecil).
KATEGORI 2: Menyembunyikan “Saya” dari Tindakan
Dua mekanisme berikutnya berfokus pada bagaimana kita bisa merasa bahwa “bukan saya yang melakukannya”.
4 Pengalihan Tanggung Jawab
Ini adalah mekanisme yang ditemukan oleh Milgram: “Saya hanya menjalankan perintah.”
“People will behave in ways they normally repudiate if a legitimate authority accepts responsibility for the consequences of that behavior.” (Bandura, “Moral Disengagement” 196)
[Orang akan berperilaku dengan cara yang biasanya mereka tolak jika otoritas yang sah menerima tanggung jawab atas konsekuensi dari perilaku itu.]
Ketika seorang bawahan menerima perintah dari atasan, ia secara psikologis “menyerahkan” tanggung jawab moralnya kepada atasan itu. Ia bukan lagi pelaku yang otonom; ia hanyalah “alat” dari kehendak orang lain. Inilah yang terjadi pada Eichmann. Inilah yang terjadi pada banyak birokrat di rezim-rezim otoriter. Mereka hanya “mengeksekusi kebijakan”.
5. Diffusion of Responsibility
Jika pengalihan tanggung jawab adalah “bukan saya, tapi dia”, maka difusi tanggung jawab adalah “bukan hanya saya, kami semua melakukannya”.
“When everyone is responsible, no one really feels responsible.” (Bandura, Moral Disengagement 71)
[Ketika semua orang bertanggung jawab, tidak seorang pun benar-benar merasa bertanggung jawab.]
Ini adalah psikologi massa dan organisasi. Dalam sebuah regu tembak, setiap penembak bisa merasa bahwa bukan pelurunya yang membunuh, karena ada banyak penembak lain. Dalam sebuah tim yang membuat keputusan korup, setiap anggota merasa bahwa tanggung jawabnya terbagi-bagi, sehingga tidak ada yang merasa bersalah secara individu. Rapat-rapat di mana semua orang setuju dengan kebijakan yang tidak etis adalah contoh sempurna dari difusi tanggung jawab.
KATEGORI 3: Menyangkal Bahwa Itu Menyakitkan
Mekanisme ini sangat sederhana: “Apa yang saya lakukan tidak seburuk itu.”
6 Disregard or Distortion of Consequences
Ketika kita tidak melihat langsung penderitaan korban, lebih mudah untuk mengabaikannya.
“When people choose to pursue activities harmful to others for personal gain, or because of social inducements, they avoid facing the harm they cause, or they minimize it.” (Bandura, “Moral Disengagement” 199)
[Ketika orang memilih untuk melakukan aktivitas yang merugikan orang lain demi keuntungan pribadi, atau karena bujukan sosial, mereka menghindari menghadapi kerugian yang mereka sebabkan, atau mereka meminimalkannya.]
Seorang pilot pesawat tempur yang menjatuhkan bom dari ketinggian 30.000 kaki tidak melihat wajah anak-anak yang terbunuh di bawah sana. Yang ia lihat hanyalah titik di layar radar. Seorang pejabat yang menandatangani kebijakan penggusuran tidak melihat tangisan keluarga yang kehilangan rumah. Ia hanya melihat “data” dan “rencana tata kota”. Jarak fisik dan psikologis mematikan empati.
KATEGORI 4: Menyalahkan Korban
Dua mekanisme terakhir adalah yang paling kejam: korbanlah yang disalahkan.
7 Dehumanization
Ini adalah mekanisme yang paling sering digunakan untuk membenarkan genosida dan kekejaman massal. Korban dilucuti dari kemanusiaannya. Mereka bukan lagi “manusia”, melainkan “binatang”, “hama”, “kecoak”, “sampah masyarakat”, atau “agen asing”.
“The strength of moral self-sanctions depends partly on how the perpetrators view the people they mistreat. To perceive another as human activates empathetic and vicarious emotional reactions through perceived similarity.” (Bandura, “Moral Disengagement” 200)
[Kekuatan sanksi moral terhadap diri sendiri sebagian bergantung pada bagaimana pelaku memandang orang yang mereka perlakukan dengan buruk. Mempersepsikan orang lain sebagai manusia mengaktifkan reaksi emosional empatik dan perwakilan melalui kesamaan yang dipersepsikan.]
Begitu korban dilabeli sebagai “bukan manusia”, maka aturan moral yang berlaku antar-manusia tidak lagi berlaku. Anda tidak merasa bersalah membunuh “kecoak”. Inilah yang terjadi pada orang Yahudi di Jerman Nazi (disebut “tikus” dan “parasit”), pada orang Tutsi di Rwanda (disebut “kecoak” oleh radio kebencian Hutu), dan pada banyak kelompok yang menjadi sasaran kekerasan massal.
8 Attribution of Blame
Ini adalah mekanisme “victim-blaming”: “Mereka pantas mendapatkannya!”
“In this process, people view themselves as faultless victims driven to injurious conduct by forcible provocation.” (Bandura, “Moral Disengagement” 203)
[Dalam proses ini, orang memandang diri mereka sendiri sebagai korban tanpa cela yang didorong untuk melakukan tindakan yang merugikan oleh provokasi yang memaksa.]
Pemerkosa yang berkata bahwa korbannya “berpakaian terlalu seksi” dan “mengundang”. Polisi yang menembak demonstran dan berkata bahwa “mereka yang mulai, kami hanya membela diri”. Negara yang menginvasi negara lain dengan dalih “mereka menyembunyikan senjata pemusnah massal”. Dalam semua kasus ini, pelaku menempatkan diri sebagai korban, dan korbannya sebagai provokator. Ini adalah inversi moral yang sempurna.
Dari Psikologi ke Politik Global
Kekuatan dari Teori Pelepasan Moral adalah fleksibilitasnya. Ia bisa diterapkan di hampir semua bidang kehidupan. Bandura sendiri dan para peneliti lain terus mengembangkannya.1 Pelepasan Moral dalam Dunia Korporasi
Bandura, dalam buku 2016-nya, mencurahkan banyak perhatian pada bagaimana mekanisme ini bekerja di dunia bisnis. Para eksekutif yang menjual produk berbahaya, mencemari lingkungan, atau melakukan penipuan akuntansi massal menggunakan semua delapan mekanisme.
- Pembenaran Moral: “Kami menciptakan lapangan kerja dan memajukan ekonomi.”
- Bahasa Sanitasi: “Creative accounting” untuk penipuan laporan keuangan.
- Difusi Tanggung Jawab: Keputusan dibuat oleh “komite” atau “rapat direksi”.
- Mengabaikan Konsekuensi: Limbah pabrik dibuang ke sungai, tetapi eksekutif tidak melihat ikan-ikan mati dan anak-anak yang sakit.
2 Pelepasan Moral dan Terorisme
Bandura menerapkan teorinya untuk memahami psikologi teroris. Bagaimana seorang pemuda yang dulunya baik bisa meledakkan diri di tengah kerumunan warga sipil? Mekanismenya:
- Pembenaran Moral: Ini adalah “jihad” untuk membela agama.
- Dehumanisasi: Korban adalah “kafir” atau “musuh Tuhan”.
- Perbandingan Menguntungkan: “Apa yang kami lakukan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan tentara mereka kepada anak-anak kami.”
3 Pelepasan Moral dalam Militer dan Industri Senjata
Ini adalah area di mana mekanisme ini sangat menonjol. Operasi militer selalu dibenarkan dengan “keamanan nasional” dan “membela kebebasan”. Korban sipil adalah “collateral damage”. Pilot drone tidak melihat penderitaan di bawah; mereka hanya melihat piksel di layar. Pembuat senjata menggunakan bahasa yang sangat steril untuk mendeskripsikan produk mereka: “precision-guided munitions”, “smart bombs”, “surgical strikes”.
4 Pelepasan Moral dan Penghancuran Lingkungan
Ini adalah aplikasi yang lebih baru. Mengapa manusia terus merusak lingkungan meskipun kita tahu konsekuensinya? Bandura menunjukkan bahwa kita menggunakan mekanisme yang sama:
- Mengabaikan Konsekuensi: Perubahan iklim adalah sesuatu yang abstrak, terjadi di tempat lain, atau di masa depan. Kita tidak melihatnya secara langsung.
- Difusi Tanggung Jawab: “Saya hanya satu orang, emisi saya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan perusahaan besar.”
- Perbandingan Menguntungkan: “Negara Cina dan India jauh lebih buruk!”
Kritik atas Teori
Seperti semua teori besar, Teori Pelepasan Moral juga menerima kritik.1 Kritik dari Psikologi Moral
Beberapa psikolog moral, seperti Jonathan Haidt, berpendapat bahwa model Bandura terlalu kognitif. Bagi Haidt, penilaian moral bukanlah hasil dari penalaran kognitif yang kemudian “dilepaskan”. Sebaliknya, penilaian moral adalah intuisi emosional yang cepat dan otomatis. Penalaran kognitif adalah post-hoc justification (pembenaran setelah kejadian). Orang tidak perlu “melepaskan” moralitasnya; mereka hanya perlu merasakan emosi yang berbeda (misalnya, jijik terhadap kelompok luar) untuk melakukan kejahatan. Model Haidt lebih menekankan pada intuisi, bukan kalkulasi kognitif.
2 Kritik dari Perspektif Budaya
Bandura mengklaim bahwa delapan mekanisme ini bersifat universal. Tetapi para psikolog lintas-budaya bertanya: apakah semua budaya mempraktikkan pelepasan moral dengan cara yang sama? Mungkin di budaya kolektivis, difusi tanggung jawab lebih mudah terjadi karena identitas diri lebih terkait dengan kelompok. Mungkin di budaya individualis, atribusi kesalahan kepada korban lebih menonjol. Ada banyak nuansa yang perlu diteliti lebih lanjut.
3 Kritik dari Sosiologi
Kritik yang paling tajam datang dari sosiologi. Teori Bandura fokus pada individu dan proses kognitifnya. Ia kurang memperhatikan struktur kekuasaan yang menciptakan kondisi untuk pelepasan moral. Siapa yang memiliki kekuasaan untuk mendefinisikan “pembenaran moral”? Siapa yang mengontrol “bahasa yang disanitasi”? Bukankah negara dan korporasi memiliki sumber daya yang jauh lebih besar untuk memproduksi dan menyebarkan narasi pelepasan moral?
Seorang sosiolog akan berkata: pelepasan moral bukan hanya proses di dalam kepala individu; ia adalah proses yang diproduksi secara sosial oleh institusi-institusi yang kuat. Media massa, sistem pendidikan, dan propaganda negara adalah “pabrik” pelepasan moral. Ini adalah kritik yang valid, dan Bandura sendiri mengakui pentingnya faktor sosial, meskipun fokus utamanya tetap pada agen individu.
Implementasi di Indonesia
Sekarang kita sampai di bagian yang paling “mengenaskan” dan paling “kita”. Indonesia, dengan segala kompleksitasnya, adalah lahan yang sangat subur untuk mengamati delapan mekanisme ini bekerja. Mari kita bedah.1 “Uang Saku” dan “Ongkos Politik”
Ini adalah contoh paling sehari-hari. Seorang politisi yang tertangkap korupsi jarang berkata, “Ya, saya mencuri uang rakyat.” Mereka akan berkata:
- Pembenaran Moral: “Ini adalah uang untuk biaya politik yang sangat mahal. Kalau saya tidak lakukan ini, saya tidak akan terpilih, dan saya ingin membantu rakyat.”
- Bahasa Sanitasi: Suap disebut “uang pelicin”, “uang administrasi”, “tanda terima kasih”, “commitment fee”, atau “dana aspirasi”. Korupsi besar-besaran disebut “mark-up” atau “penyimpangan prosedur”.
- Perbandingan Menguntungkan: “Saya hanya mengambil Rp10 miliar, itu kecil sekali dibandingkan yang diambil oleh pejabat di era Orde Baru yang triliunan!”
- Dengan bingkai ini, seorang koruptor bisa merasa bahwa dirinya adalah “pejuang rakyat yang terpaksa melakukan kesalahan kecil” atau “korban dari sistem yang mahal”.
2 “PKI”, “Kafir”, “Cina Kafir”, “Orang Asing”
Sejarah Indonesia berlumuran darah dalam peristiwa 1965-66. Pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI bisa terjadi karena mekanisme dehumanisasi yang luar biasa efektif.
- Dehumanisasi: Anggota PKI digambarkan sebagai “setan”, “iblis”, “biadab”, dan “tidak ber-Tuhan”. Mereka bukan manusia biasa; mereka adalah ancaman eksistensial yang harus dimusnahkan. Film-film propaganda Orde Baru terus-menerus memutar narasi ini.
- Atribusi Kesalahan: Mereka “pantas dibunuh” karena mereka sendiri yang “memulai” dengan menculik dan membunuh para jenderal (Gerakan 30 September). Mereka adalah “provokator”. Ini adalah narasi yang tertanam hingga kini.
Di era modern, dehumanisasi dan atribusi kesalahan terjadi pada kelompok-kelompok yang berbeda. Dalam konflik agama, lawan disebut “kafir” yang “halal darahnya”. Dalam konflik etnis, kelompok lain disebut “pendatang” yang “merebut tanah kita”. Dalam politik, lawan politik disebut “cebong” atau “kampret”, bukan manusia, melainkan binatang. Ini adalah dehumanisasi ringan yang membuka pintu untuk kekerasan verbal dan fisik.
3 “Kami Hanya Menjalankan Perintah”
Ketika kasus pelanggaran HAM masa lalu (seperti Tragedi 1965, Penembakan Misterius 1982-85, Trisakti 1998) diangkat, jawaban standar dari para pelaku atau pendukung rezim adalah:
- Pengalihan Tanggung Jawab: “Kami hanya menjalankan perintah atasan.” / “Saat itu, negara dalam keadaan darurat, presiden memerintahkan kami untuk memberantas PKI.”
- Difusi Tanggung Jawab: “Itu adalah operasi gabungan yang melibatkan banyak pihak. Tidak bisa disalahkan pada satu orang atau satu kesatuan saja.” / “Itu adalah keputusan kolektif pada masa itu.”
Dengan cara ini, tanggung jawab moral “diencerkan” hingga hilang. Tidak ada yang merasa bersalah secara pribadi, karena semua orang “hanya melakukan tugasnya”.
4 “Demi Kemajuan, Harus Ada Pengorbanan”
Dalam kasus penggusuran paksa untuk proyek-proyek infrastruktur besar, mekanisme ini sangat jelas.
- Mengabaikan/Mendistorsi Konsekuensi: Para pejabat tidak melihat tangisan warga yang rumahnya dihancurkan. Mereka hanya melihat “proyek strategis nasional” dan “data statistik”. Penderitaan warga diminimalkan: “Mereka hanya pindah sementara, nanti dapat ganti rugi.” (Padahal kenyataannya jauh lebih rumit).
- Pembenaran Moral: “Ini demi kepentingan yang lebih besar: pembangunan nasional, menciptakan lapangan kerja, memajukan bangsa. Beberapa orang harus berkorban untuk kemajuan.”
5 Pelepasan Moral di Media Sosial
Indonesia adalah salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia. Media sosial telah menjadi “pabrik” pelepasan moral yang sangat efisien. Algoritma mendorong konten yang memancing emosi. Anonimitas membuat orang merasa aman untuk melontarkan ujaran kebencian.
Di Twitter, Instagram, TikTok, dan Facebook, kita bisa melihat setiap hari bagaimana delapan mekanisme ini bekerja:
- Dehumanisasi: Lawan disebut dengan istilah binatang atau ejekan fisik.
- Atribusi Kesalahan: “Mereka yang memulai duluan. Kami hanya membela diri.”
- Difusi Tanggung Jawab: “Semua orang juga melakukannya.”
Orang yang di dunia nyata adalah tetangga yang baik, di media sosial bisa berubah menjadi “monster” yang menyerukan pembunuhan terhadap kelompok lain. Mengapa? Karena mereka tidak melihat wajah korbannya. Yang mereka lihat hanyalah layar dan teks.
Mengaktifkan Kembali Hati Nurani
Teori Pelepasan Moral dari Albert Bandura adalah salah satu teori yang paling penting, bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi untuk memahami diri kita sendiri. Ia adalah cermin yang sangat jujur. Ia menunjukkan kepada kita bahwa kapasitas untuk melakukan kejahatan bukanlah milik “monster” atau “orang jahat” di luar sana. Kapasitas itu ada di dalam diri kita semua. Setiap kali kita membenarkan kebohongan kecil, setiap kali kita menggunakan istilah halus untuk menutupi kesalahan, setiap kali kita menyalahkan korban, setiap kali kita mengabaikan penderitaan orang lain, kita sedang melatih “otot” pelepasan moral kita.Tetapi, seperti yang saya katakan di awal, Bandura adalah seorang optimistis. Ia percaya pada “moral re-engagement” , mengaktifkan kembali hati nurani. Caranya?
- Mengenali Mekanisme: Langkah pertama adalah menyadari ketika kita sendiri atau orang lain menggunakan salah satu dari delapan mekanisme ini. “Oh, saya sedang melakukan pembenaran moral.”
- Menghidupkan Empati: Melihat korban sebagai manusia seutuhnya, dengan wajah, keluarga, dan cerita hidup.
- Mengambil Tanggung Jawab Pribadi: “Ini adalah tindakan saya, dan saya bertanggung jawab.” Menolak untuk bersembunyi di balik “perintah atasan” atau “keputusan bersama”.
- Membangun Budaya Akuntabilitas: Menciptakan lingkungan di mana kejujuran dan tanggung jawab dihargai, dan di mana pelepasan moral ditantang, bukan didiamkan.
Dengan memahami delapan mekanisme ini, kita bukan hanya menjadi pengamat yang lebih tajam, tetapi juga manusia yang lebih bertanggung jawab. Kita bisa menangkap diri kita sendiri ketika mulai “melepaskan diri”, dan kita bisa dengan lembut namun tegas menantang orang lain ketika mereka melakukannya.
Ini bukan teori untuk orang lain. Ini adalah teori untuk kita semua. Karena, seperti kata Bandura, “It requires a great deal of self-regulatory capability to refrain from inhumane conduct when one has the power to carry it out with impunity” (Bandura, Moral Disengagement 3). [Diperlukan kapasitas pengaturan diri yang sangat besar untuk menahan diri dari perilaku tidak manusiawi ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk melakukannya tanpa hukuman.]
Sumber Primer:
Bandura, Albert. “Moral Disengagement in the Perpetration of Inhumanities.” Personality and Social Psychology Review, vol. 3, no. 3, 1999, hlm. 193-209.Bandura, Albert. Moral Disengagement: How People Do Harm and Live with Themselves. Worth Publishers, 2016.
Bandura, Albert. Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Prentice-Hall, 1986.
Sumber Sekunder:
Arendt, Hannah. Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Penguin Books, 1963.Haidt, Jonathan. The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion. Vintage Books, 2012.
Milgram, Stanley. Obedience to Authority: An Experimental View. Harper & Row, 1974.
Zimbardo, Philip. The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil. Random House, 2007.
Sumber Konteks Indonesia dan Aplikasi:
McGregor, Katharine E., et al., editor. The Indonesian Genocide of 1965: Causes, Dynamics and Legacies. Palgrave Macmillan, 2018.Robinson, Geoffrey. The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965-66. Princeton University Press, 2018.
Sidel, John Thayer. Riots, Pogroms, Jihad: Religious Violence in Indonesia. Cornell University Press, 2006.

.webp)
https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.