Ad Code

Pemikiran Mohamed Amer Meziane untuk Gen Z, Melebur Batas Islam-Sekular

Mohamed Amer Meziane adalah seorang filsuf dan akademisi yang kini menjelma sebagai salah satu suara paling segar dan berani dalam perbincangan dekolonial global. Lahir dan besar di Aljazair, lalu menempuh pendidikan tinggi di Prancis, Meziane membawa perspektif unik yang lahir dari persilangan dua dunia: pengalaman hidup sebagai subjek pascakolonial Afrika Utara dan ketajaman tradisi intelektual kontinental. 

Saat ini ia menjabat sebagai Assistant Professor of French and Francophone Studies di Brown University, Amerika Serikat, setelah sebelumnya mengajar di Columbia University.

Pemikiran Meziane berakar pada pertanyaan besar: mengapa perdebatan modern selalu memaksa kita memilih antara “Islam” dan “sekular”, seolah keduanya adalah entitas abadi yang saling bermusuhan? Dalam proyek filsafatnya, ia membongkar dikotomi itu dengan menunjukkan bahwa sekularisme Eropa justru terbentuk melalui perjumpaan kolonial dengan dunia Islam. Konsep “islamo-sekularisme” yang ia tawarkan bukanlah jalan tengah yang mendamaikan kedua kutub, melainkan pembongkaran atas jebakan berpikir yang diwariskan oleh modernitas kolonial. Baginya, negara sekuler modern tidak pernah benar-benar menyingkirkan agama; ia hanya mengklasifikasi ulang Islam sebagai entitas yang “kurang modern” dan harus terus diawasi.

Mohamed Amer Meziane: melebur batas Islam-sekular untuk Gen Z. Ulasan dekolonial tentang islamo-sekularisme, kolonialisme, dan ekologi.

Karya monumentalnya, The States of the Earth: An Ecological and Racial History of Secularization (Verso, 2023), langsung memantik diskusi internasional. Buku itu melacak bagaimana sekularisasi di Prancis berjalan seiring dengan penjajahan atas Aljazair dan perampasan tanah-tanah Muslim, sebuah operasi yang ia sebut sebagai sekularisasi bumi. Meziane juga dikenal lewat artikel berpengaruh seperti “The Coloniality of Secularism: Race, Islam, and the Making of the Modern State” (2020), yang memperkenalkan gagasan bahwa sekularisme bukan netral, melainkan mesin rasialisasi.

Selain menulis, Meziane adalah intelektual publik yang kerap diundang berbicara di forum-forum global tentang krisis iklim, Islamofobia, dan masa depan dekolonisasi. Ia mewakili generasi pemikir yang menolak mengurung diri dalam batas-batas disiplin: filsafat, teologi politik, sejarah lingkungan, dan studi poskolonial ia satukan untuk merancang kemungkinan hidup bersama yang melampaui perang identitas yang melelahkan. Bagi banyak Gen Z yang lelah dengan polarisasi, Meziane menawarkan bukan jawaban instan, melainkan cara bertanya yang sama sekali baru.

Mohamed Amer Meziane adalah seorang filsuf dan akademisi yang kini menjelma sebagai salah satu suara paling segar dan berani dalam perbincangan dekolonial global. Lahir dan besar di Aljazair, lalu menempuh pendidikan tinggi di Prancis, Meziane membawa perspektif unik yang lahir dari persilangan dua dunia: pengalaman hidup sebagai subjek pascakolonial Afrika Utara dan ketajaman tradisi intelektual kontinental. Saat ini ia menjabat sebagai Assistant Professor of French and Francophone Studies di Brown University, Amerika Serikat, setelah sebelumnya mengajar di Columbia University.

Pemikiran Meziane berakar pada pertanyaan besar: mengapa perdebatan modern selalu memaksa kita memilih antara “Islam” dan “sekular”, seolah keduanya adalah entitas abadi yang saling bermusuhan? Dalam proyek filsafatnya, ia membongkar dikotomi itu dengan menunjukkan bahwa sekularisme Eropa justru terbentuk melalui perjumpaan kolonial dengan dunia Islam. Konsep “islamo-sekularisme” yang ia tawarkan bukanlah jalan tengah yang mendamaikan kedua kutub, melainkan pembongkaran atas jebakan berpikir yang diwariskan oleh modernitas kolonial. Baginya, negara sekuler modern tidak pernah benar-benar menyingkirkan agama; ia hanya mengklasifikasi ulang Islam sebagai entitas yang “kurang modern” dan harus terus diawasi.

Karya monumentalnya, The States of the Earth: An Ecological and Racial History of Secularization (Verso, 2023), langsung memantik diskusi internasional. Buku itu melacak bagaimana sekularisasi di Prancis berjalan seiring dengan penjajahan atas Aljazair dan perampasan tanah-tanah Muslim, sebuah operasi yang ia sebut sebagai sekularisasi bumi. Meziane juga dikenal lewat artikel berpengaruh seperti “The Coloniality of Secularism: Race, Islam, and the Making of the Modern State” (2020), yang memperkenalkan gagasan bahwa sekularisme bukan netral, melainkan mesin rasialisasi.

Selain menulis, Meziane adalah intelektual publik yang kerap diundang berbicara di forum-forum global tentang krisis iklim, Islamofobia, dan masa depan dekolonisasi. Ia mewakili generasi pemikir yang menolak mengurung diri dalam batas-batas disiplin: filsafat, teologi politik, sejarah lingkungan, dan studi poskolonial ia satukan untuk merancang kemungkinan hidup bersama yang melampaui perang identitas yang melelahkan. Bagi banyak Gen Z yang lelah dengan polarisasi, Meziane menawarkan bukan jawaban instan, melainkan cara bertanya yang sama sekali baru.


Pemikiran Mohamed Amer Meziane untuk Gen Z, Melebur Batas Islam-Sekular


Bayangin lo lagi doom-scrolling TikTok, tiba-tiba muncul video seorang ustaz kondang bilang, “Barat sekuler adalah musuh Islam.” Lo skip, lanjut swipe, eh muncul konten aktivis liberal yang bilang, “Agama itu candu, negara harus steril dari simbol-simbol keagamaan.” Dua-duanya ngegas, dua-duanya ngaku paling benar, dan lo di tengah cuma bisa garuk-garuk kepala sambil mikir, “Buset, gue harus milih yang mana? Emangnya nggak ada opsi lain?”  

Di tengah perang biner yang melelahkan inilah kehadiran seorang filsuf asal Aljazair-Prancis bernama Mohamed Amer Meziane terasa seperti update software otak yang udah lama lo tunggu. Meziane nggak nawarin jalan tengah yang lembek dan nggak jelas. Dia malah mendobrak seluruh fondasi dikotomi “Islam vs. Sekular” itu sendiri. Melalui proyek filsafat dekolonial dan konsepnya yang provokatif, islamo-sekularisme, Meziane mengajak kita berhenti jadi pemain dalam permainan yang aturannya udah dicurangi sejak zaman kolonial.  

Esai ini akan membongkar pemikiran Meziane dengan gaya yang semoga nggak bikin lo ngorok. Kita akan lihat gimana anak muda gaul era dekolonial ini merombak total cara kita memahami sekularisme, Islam, bumi, dan identitas, sekaligus menawarkan jalan keluar dari polarisasi yang bikin generasi kita capek sendiri. Siapin kopi dulu, ya.  

Siapa Mohamed Amer Meziane dan Kenapa Lo Harus Peduli?

Mohamed Amer Meziane adalah profesor filsafat di Brown University (sebelumnya di Columbia University) dan saat ini menjadi salah satu suara paling segar dalam gelombang pemikiran dekolonial global. Latar belakangnya sebagai orang Aljazair yang besar dan menempuh pendidikan di Prancis bikin perspektifnya unik: dia mengalami langsung bagaimana warisan kolonialisme bukan cuma urusan masa lalu, tapi masih membentuk bagaimana institusi modern, universitas, negara, hingga algoritma media sosial, memproduksi kategori “muslim,” “sekuler,” “Arab,” dan “Eropa” sampai detik ini.  

Buku pertamanya yang udah ditunggu-tunggu, The States of the Earth: An Ecological and Racial History of Secularization (Verso, 2023), langsung bikin gelombang di kalangan akademisi progresif. Sebelumnya, ia udah bikin geger lewat artikel-artikel di jurnal semacam Political Theology, di mana ia menelanjangi hubungan mesra antara sekularisme modern dan kolonialisme. Bagi Meziane, masalah utama kita bukanlah mempertentangkan Islam dan sekularisme, melainkan menyadari bahwa keduanya adalah produk dari mesin yang sama: modernitas kolonial.  

Kalau lo anak Gen Z yang udah mulai kritis dan lelah sama politik identitas, pemikiran Meziane bisa jadi semacam red pill intelektual. Dia ngasih kita alat buat uninstall sistem operasi lama yang selalu memaksa kita memilih antara dua kotak, lalu install cara pikir baru yang lebih jujur pada realitas.  

Bongkar Mitos: Sekularisme Itu Bukan Sekadar “Pisah Gereja dan Negara”

Kita biasanya diajarin bahwa sekularisme adalah proses alami di mana negara modern perlahan-lahan memisahkan diri dari agama, sebuah pencerahan yang membebaskan manusia dari takhayul. Narasi ini terasa begitu netral dan ilmiah. Tapi Meziane dengan tajam membalik logika itu. Menurutnya, sekularisme bukanlah pemisahan total, melainkan reorganisasi agama secara rasial dan kolonial.  
Dalam artikel monumentalnya “The Coloniality of Secularism: Race, Islam, and the Making of the Modern State” (2020), Meziane nulis:  

“The secular state is not an absence of religion, but a particular kind of religious state that incorporates religious difference into the racial hierarchy of the nation-state.” (Meziane 495).  

Artinya:

"Negara sekuler itu bukan berarti agama lenyap begitu saja. Ia justru sebentuk negara religius yang lain: negara yang menyusun perbedaan agama ke dalam hierarki rasial ala negara-bangsa."

Buat Meziane, negara sekuler modern nggak pernah benar-benar menghapus agama dari ruang publik. Ia cuma mengklasifikasi agama-agama tertentu sebagai “privat” dan “rasional” (biasanya Protestan atau Katolik yang sudah jinak), sementara mengecap Islam sebagai ancaman publik yang harus terus diawasi. Jadi, sekularisme bukan netral. Ia adalah mesin pembeda yang racialize keyakinan tertentu, terutama Islam, sebagai “kurang modern.”  

Argumen ini diperkuat dalam The States of the Earth lewat pembacaan sejarah yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Meziane menunjukkan bahwa apa yang kita sebut “sekularisasi Eropa” nggak bisa dilepaskan dari ekspansi kolonial ke dunia Islam, terutama di Afrika Utara. Prancis abad ke-19, misalnya, mendefinisikan dirinya sebagai negara laïcité bukan dalam ruang hampa, melainkan sembari menjajah Aljazair dan mendefinisikan Muslim sebagai subjek yang inheren anti-sekuler.  

“Secularization was not a process of exiting religion, but a process of reorganizing the world religiously by racializing Islam. France became secular by making Islam the religion of the colonized.” (Meziane, States 11).  

Artinya:

"Sekularisasi itu sebenarnya bukan proses meninggalkan agama. Ia justru proses menata ulang dunia secara religius dengan cara merasialisasi Islam. Prancis bisa menjadi negara sekuler karena menjadikan Islam sebagai agamanya kaum terjajah."

Jadi, identitas sekuler Prancis dibangun di atas produksi “Islam” sebagai lawannya. Inilah inti dari konsep islamo-sekularisme yang bakal kita bedah lebih dalam.  

Islamo-Sekularisme: Bukan Campuran, Tapi Perangkap dan Kemungkinan

Jangan keburu salah paham dengan istilah “islamo-sekularisme.” Ini bukan upaya sinkretis mendamaikan Islam dan sekularisme ala “Islam liberal.” Meziane justru menolak kedua kutub itu sama tegasnya. Dalam sebuah wawancara dengan Atef Said di Public Books, ia menjelaskan:  

“The concept of the Islamo-secular refers to this double bind in which one is forced to define oneself either as secular (and thus as a former Muslim or a good Muslim) or as Islamic (and thus as an anti-secular, traditional subject). What I’m trying to show is that this very alternative is produced by colonial modernity.” (Meziane, “Islam and the Making”).  

Artinya:

"Konsep islamo-sekuler ini merujuk pada jebakan ganda: lo dipaksa mendefinisikan diri entah sebagai 'sekuler' (jadi 'mantan Muslim' atau 'Muslim yang baik'), atau sebagai 'Islamis' (jadi subjek tradisional yang anti-sekuler). Nah, yang ingin saya tunjukkan adalah bahwa dua pilihan yang kelihatannya berseberangan ini sebenarnya produk dari modernitas kolonial yang sama."

Bingung? Gini analoginya. Di bawah modernitas kolonial, lo sebagai orang yang berasal dari budaya Islam cuma dikasih dua pilihan: lo bisa “lulus” menjadi sekuler dengan cara menanggalkan keislaman lo (menjadi “mantan Muslim” yang merayakan pencerahan Barat), atau lo bisa menolak sekularisme dan balik ke identitas Islam yang didefinisikan sebagai “tradisional,” “anti-modern,” dan tertutup. Kedua posisi ini, kata Meziane, sama-sama produk dari mesin kolonial yang sama.  

Si “Islam” yang dibela oleh kelompok revivalis adalah Islam yang udah didistorsi oleh orientalisme kolonial: Islam yang dipisahkan dari bumi, dari politik, dari kehidupan sehari-hari, lalu dikarantina dalam kotak identitas budaya yang statis. Sementara si “sekular” yang dielu-elukan kaum liberal adalah sekular yang menyembunyikan akar Kristen-Protestannya dan mengklaim universalitas palsu. Dua-duanya adalah karakter dalam panggung sandiwara yang disutradarai oleh kolonialisme.  

Meziane menyebut kondisi ini dengan istilah double bind, jebakan ganda. Ketika lo memilih salah satu, lo sebenarnya tetap kalah, karena lo tetap mengakui kerangka berpikir yang lo warisi dari penjajah. Solusi Meziane bukanlah menciptakan identitas hybrid yang nyaman, melainkan melucuti jebakan itu sendiri. Ini yang ia sebut sebagai proyek dekolonisasi islamo-sekular.  

Untuk Gen Z yang hidup di era personal branding dan keharusan punya “sikap,” konsep ini bisa jadi semacam glitch yang menyegarkan. Kamu nggak harus milih jadi “anak hijrah” atau “anak sekuler kritis” untuk dianggap valid. Pertanyaan sesungguhnya bukan “Lo pro Islam atau pro sekular?” melainkan “Kenapa sih kita cuma dikasih dua pilihan itu aja?”  

Bumi yang Dilupakan dan Ekologi Rasial

Salah satu sumbangan paling brilian Meziane adalah mengaitkan sekularisme dengan ekologi dan bumi. Buku The States of the Earth dibuka dengan provokasi bahwa bumi memiliki sejarah politik, dan sejarah sekularisasi adalah sejarah pemisahan rasial antara bumi dan negara.  

Apa hubungannya? Meziane berargumen bahwa penjajahan kolonial atas tanah-tanah Muslim bukan sekadar perampasan wilayah, melainkan juga sebuah operasi metafisik. Praktik-praktik agraria, wakaf, dan hubungan spiritual antara masyarakat Muslim dengan tanah mereka dihancurkan, sementara negara kolonial menerapkan sistem kepemilikan pribadi modern yang sekular. Tanah yang tadinya “hidup” (dianggap sebagai makhluk yang memiliki hak, tempat leluhur, berisi tanda-tanda ilahi) direduksi menjadi sumber daya mati yang bisa dieksploitasi.  

“The secular state is a state that does not simply separate religion from politics, but separates earth from body politic, and does so by creating a racial hierarchy between those who have the right to inhabit the earth and those who are expelled from it.” (Meziane 498).  

Artinya:

"Negara sekuler itu bukan cuma memisahkan agama dari politik. Lebih dalam dari itu, ia memisahkan bumi dari tubuh politik, dan melakukannya dengan menciptakan hierarki rasial: ada yang dianggap berhak menghuni bumi, dan ada yang diusir darinya."

Dengan kata lain, agar modernitas sekuler bisa berdiri, bumi harus “dibersihkan” dari unsur-unsur sakral yang non-Kristen. Masyarakat Muslim yang meyakini bumi sebagai makhluk hidup (konsep ayat) dianggap terbelakang dan perlu didisiplinkan oleh negara modern. Proses ini yang oleh Meziane disebut sekularisasi bumi.  

Ini ngasih kita lensa baru buat memahami krisis iklim. Kalau biasanya kita ngomongin kapitalisme sebagai biang keladi, Meziane nambahin bahwa akar kapitalisme ekstraktif itu justru adalah sekularisme kolonial yang mereduksi bumi menjadi objek. Maka, mendekolonisasi hubungan kita dengan bumi nggak bisa dilakukan hanya dengan teknologi hijau, tapi juga dengan mengembalikan dimensi sakral dan plural dalam memandang alam.  

Buat Gen Z yang udah akrab dengan isu climate justice dan eco-anxiety, pemikiran Meziane ini bisa jadi penghubung antara perjuangan ekologi dan perjuangan melawan Islamofobia. Lo bukan cuma nyari solusi untuk bumi, lo juga sekaligus merawat ingatan kolektif masyarakat Muslim (dan masyarakat adat lainnya) yang hubungan sakralnya dengan alam udah dihancurkan oleh modernitas.  

Mengapa Kritik Dekolonial Butuh Islam?

Meziane sadar betul bahwa banyak pemikir dekolonial sebelumnya, termasuk panutannya, Edward Said, kurang memberi tempat pada agama, terutama Islam. Orientalisme Said membongkar bagaimana Barat merepresentasikan Timur, tapi Meziane merasa Said masih terlalu fokus pada wacana dan kurang menyentuh dimensi teologis dan ekologis dari kolonialisme. Dalam The States of the Earth, Meziane menulis:  

“Said’s secular humanism prevented him from seeing that the colonial production of the Orient was also a theological operation. Islam was not only misrepresented; it was produced as a religious entity separable from earth and state, a ghost of its former self.” (Meziane, States 45).  

Artinya:

"Humanisme sekuler Said membuatnya tidak bisa melihat bahwa produksi kolonial atas Timur itu juga sebuah operasi teologis. Islam bukan cuma disalahgambarkan; ia sengaja diproduksi sebagai entitas agama yang bisa dipisahkan dari bumi dan negara, menjadi hantu dari dirinya sendiri yang dulu."

Dengan mengabaikan teologi, kata Meziane, kita malah memperkuat anggapan kolonial bahwa Islam itu semata-mata “agama” dalam pengertian modern, privat, terpisah dari politik dan bumi. Padahal, sebelum kolonialisme, yang kita sebut “Islam” sebagai sistem terpisah dari kosmologi, hukum, dan hubungan dengan alam mungkin nggak ada dalam bentuk seperti sekarang. Jadi, proyek dekolonial harus berani masuk ke ranah yang selama ini dihindari oleh kaum kiri sekuler: teologi, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan bumi.  

Ini tentu tantangan buat intelektual kiri yang sering alergi dengan kata “agama.” Meziane mengajak kita untuk tidak reaksioner, tapi justru menganalisis ulang kategori “agama” itu sendiri sebagai produk kolonial. Dengan begitu, perjuangan melawan kapitalisme, rasisme, dan perusakan lingkungan bisa bersekutu dengan tradisi-tradisi spiritual yang telah dimusnahkan atau dijinakkan. Bisa dibilang, Meziane sedang membuat patch note untuk gerakan dekolonial biar nggak outdated.  

Relevansi untuk Gen Z Indonesia: Dari Medsos Sampai Kampus

Pemikiran Meziane terasa sangat jauh secara geografis, tapi sebenarnya punya getaran yang pas dengan keresahan anak muda Indonesia. Lihat saja polarisasi di negara kita. Di kampus, lo dihadapkan pada kelompok-kelompok yang seolah cuma punya dua warna: “lingkar intelektual sekuler” yang sinis terhadap agama, dan “lingkar aktivis Islam” yang mengkritik Barat dengan semangat revivalis. Perdebatan mereka seringkali mentok, karena dua-duanya memakai asumsi yang sama: bahwa Islam dan sekularisme adalah dua entitas yang saling terpisah dan bermusuhan sejak awal.  

Padahal, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa Islam dan sekularisme udah saling membentuk sejak zaman kolonial. Snouck Hurgronje, arsitek kebijakan kolonial Belanda, mendorong sekularisasi hukum dengan memisahkan “Islam sebagai agama” (yang boleh dipraktikkan privat) dari “Islam sebagai politik” (yang dilarang). Ini adalah contoh sempurna dari islamo-sekularisme ala Meziane: negara kolonial mendefinisikan ulang Islam agar cocok dengan proyek sekularisasinya, dan respons para ulama Indonesia pun terbentuk dalam kerangka itu.  

Buat Gen Z yang main Twitter atau TikTok, istilah “islamo-sekular” juga bisa menjelaskan fenomena self-labeling yang terjadi. Ada yang ngebranding diri sebagai “muslim kaffah” yang menolak sekularisme, ada pula yang bangga jadi “ex-muslim” dan menjadikan sekularisme sebagai identitas superior. Keduanya, kalau kita pakai kacamata Meziane, sebetulnya sama-sama terjebak dalam permainan kolonial. Mereka mengukuhkan oposisi yang justru menguntungkan status quo, karena energi kita habis buat berantem satu sama lain, bukannya melawan struktur yang memproduksi oposisi itu.  

Jadi, kalau lo pengin healing dari polarisasi, resep Meziane bukanlah “jangan bahas agama” atau “semua pendapat valid.” Resepnya adalah dengan membongkar seluruh kerangka berpikir yang bikin kita percaya bahwa lo harus memilih salah satu. Ketika lo sadar bahwa “sekular” dan “Islam” yang lagi diperdebatkan sama-sama konstruksi kolonial, lo bisa mulai bertanya: “Lalu, bentuk hidup bersama seperti apa yang belum pernah kita bayangkan? Bagaimana kita bisa memulihkan hubungan dengan bumi tanpa harus menyeragamkan keyakinan?”  

Penutup Melangkah ke Ruang Ketiga

Mohamed Amer Meziane tidak menjanjikan utopia yang rapi. Tapi dia ngasih kita kompas: bahwa keluar dari jebakan islamo-sekular adalah mungkin, asal kita berani menghadapi hantu kolonial yang masih menghantui cara kita berpikir. Dengan mendekolonisasi sekularisme, kita bukan berarti kembali ke semacam teokrasi, melainkan membuka kemungkinan bagi pluralitas radikal, sebuah dunia di mana hubungan kita dengan bumi, dengan sesama manusia, dan dengan yang ilahi nggak perlu diatur oleh negara modern yang rasis dan ekstraktif.  

Untuk Gen Z yang kuliah dan mulai muak dengan perdebatan nirujung di timeline, pemikiran Meziane adalah undangan untuk jadi generasi yang nggak mau dikotak-kotakin. Generasi yang paham bahwa identitas itu cair, bahwa “Islam” dan “sekular” bukanlah takdir yang dikirim dari langit, melainkan produk sejarah yang bisa dirombak.  

Jadi, lain kali ada yang nanya, “Lo pro Islam atau pro sekuler?” lo bisa jawab dengan senyum misterius, “Pertanyaan lo produk kolonial. Gue sibuk ngebangun dunia baru yang nggak lo kenal.” Lalu buka buku Meziane dan mulai merancang masa depan yang nggak lagi dibatasi oleh ilusi dua kotak.  

Dunia sedang terbakar, secara iklim dan secara politik, dan yang kita butuhkan bukan lagi sekadar memilih sisi, tapi menemukan cara untuk memadamkan api dengan mengubah seluruh peta. Meziane udah kasih kuncinya; sekarang giliran kita yang jalan.  

Daftar Rujukan

Meziane, Mohamed Amer. “The Coloniality of Secularism: Race, Islam, and the Making of the Modern State.” Political Theology, vol. 21, no. 6, 2020, pp. 493–512.

---. The States of the Earth: An Ecological and Racial History of Secularization. Verso, 2023.

---. “Islam and the Making of Europe’s Secular Modernity.” Interview by Atef Said. Public Books, 15 Dec. 2021, www.publicbooks.org/islam-and-the-making-of-europes-secular-modernity/.



Sinopsis


Mohamed Amer Meziane membongkar mitos terbesar modernitas: bahwa "Islam" dan "sekular" adalah dua kutub abadi yang bermusuhan. Ia menunjukkan bahwa sekularisme Eropa tidak lahir dari ruang hampa, melainkan terbentuk justru melalui penjajahan atas dunia Islam. Dalam proses itu, Prancis mendefinisikan dirinya sebagai negara laïcité sembari menjadikan Islam sebagai "agama kaum terjajah" yang harus terus diawasi. Konsep kuncinya, islamo-sekularisme, mengungkap jebakan ganda yang diwariskan kolonialisme: seorang Muslim dipaksa memilih antara menjadi "sekuler" (biasanya dengan meninggalkan identitas keislamannya) atau menjadi "Islamis" anti-sekuler. Kedua pilihan ini, tegas Meziane, sama-sama produk mesin kolonial. Lebih jauh, ia melacak bagaimana sekularisasi juga merupakan operasi ekologis: tanah-tanah Muslim yang diyakini sakral direduksi menjadi sumber daya mati yang bisa dieksploitasi, sebuah "sekularisasi bumi" yang menjadi akar krisis iklim hari ini. Solusi Meziane bukanlah mendamaikan Islam dan sekularisme, melainkan mendekolonisasi seluruh kerangka berpikir yang menghasilkan dikotomi itu, membuka kemungkinan bagi cara hidup bersama yang lebih plural dan tidak lagi terperangkap dalam ilusi dua kotak.</sb>


Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:

Pemikiran Mohamed Amer Meziane untuk Gen Z, Melebur Batas Islam-Sekular

Posting Komentar

0 Komentar