Negeri Liliput adalah negeri yang aneh. Di atas kertas, ia adalah negara demokrasi dengan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Dalam kenyataannya, ia adalah negeri yang penuh teka-teki. Kabinetnya gemuk, sangat gemuk, dengan puluhan menteri, wakil menteri, wakil wakil menteri, dan seterusnya hingga ke anak cucu. Tapi dari semua itu, hanya segelintir yang benar-benar bekerja. Sisanya? Hiasan. Kosmetik. Bunga-bunga di taman istana.
Rakyat Negeri Liliput, yang sebenarnya cerdas dan kritis, mulai menggerutu. Di warung-warung kopi, di pasar-pasar, di grup-grup percakapan digital, mereka berbisik-bisik: "Apa sih fokus pemerintah kita? Kok kayaknya sibuk sendiri-sendiri? Kok harga-harga naik terus? Kok Koperasi Unit Desa disuruh latihan militer? Emangnya mau perang sama siapa?"
Togog mendengar semua gerutuan ini. Setiap hari, ia nongkrong di warung kopi "Pahit Manis" di pinggiran Kota Liliput. Setiap hari, ia mendengarkan keluhan-keluhan itu. Dan setiap hari, kepalanya semakin pusing. Bukan karena kopinya, kopi di warung itu enak. Tapi karena ia tidak tahan melihat negerinya berjalan tanpa arah.
"Aku harus ketemu Owobarp," gumam Togog suatu sore, sambil menyeruput kopi pahitnya. "Aku harus tanya langsung. Tapi gimana caranya? Ada Iddet Ardni Ayajiw yang jagain dia kayak emak-emak ngejagain anaknya. Iddet itu protektif banget. Posesif. Siapa pun yang mau ketemu Owobarp harus lewat dia dulu. Dan dia pasti nggak bakal ngizinin badut kayak aku masuk istana."
Tapi Togog bukan badut biasa. Togog punya koneksi. Koneksi ke atas. Jauh ke atas. Ke alam yang lebih tinggi.
"Mbah Ismaya," bisik Togog suatu malam, sambil duduk bersila di bawah pohon beringin tua. "Mbah Batara Ismaya. Saya butuh bantuan."
Dan Batara Ismaya, sang dewa tua yang bijaksana, yang dalam mitologi Jawa dikenal sebagai Semar, mendengarkan permohonan Togog. Dengan kekuatan yang melampaui akal manusia, ia membukakan jalan. Togog bisa masuk ke Istana Negeri Liliput tanpa terdeteksi oleh Iddet Ardni Ayajiw. Tanpa melewati pos-pos penjagaan. Tanpa mengisi formulir kunjungan. Tanpa lapor RT, RW, kelurahan, kecamatan, hingga kementerian.
Begitu saja. Tiba-tiba. Seperti hantu.
Saya, mencoba merekonstruksi dialog yang terjadi malam itu. Semua data tentang harga, kebijakan, dan struktur kabinet diambil dari realitas yang bisa diverifikasi. Togog adalah suara rakyat yang tidak pernah didengar oleh kekuasaan. Ia adalah pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Ia adalah cermin yang tidak suka dilihat. Tapi justru karena itulah ia penting. Karena tanpa Togog, kekuasaan hanyalah monolog yang membosankan. Dengan Togog, kekuasaan menjadi dialog, penuh ironi, penuh kontradiksi, penuh pertanyaan yang membuat kita terus mencari.
Daftar Tokoh
- Togog: Ahli filsafat misterius, badut rakyat, pengunyah kacang goreng profesional. Menguasai semua cabang filsafat yang bisa dibayangkan. Humornya ironis, satir, sarkastis, dan seringkali bikin orang tertawa sekaligus menangis.
- Owobarp Otnaibus: Presiden Negeri Liliput. Dipilih oleh rakyat. Dicintai oleh sebagian, dikritik oleh sebagian lain. Dikelilingi oleh kabinet gemuk yang entah kenapa jumlahnya terus bertambah setiap tahun.
- Iddet Ardni Ayajiw: Kepala penjaga keamanan dan kenyamanan Presiden Owobarp. Protektif, posesif, seperti induk ayam yang menjaga anaknya. Tidak ada yang bisa mendekati Owobarp tanpa seizinnya. Tapi malam ini, ia tidak tahu bahwa Togog sudah di dalam istana.
- Batara Ismaya: Dewa tua yang bijaksana, pelindung para badut dan rakyat kecil. Hanya muncul sebentar di awal cerita, tapi jasanya tak terlupakan.
Warung Kopi "Pahit Manis"
Latar: Warung kopi "Pahit Manis" di pinggiran Kota Liliput. Sore hari. Togog duduk di bangku kayu favoritnya, menyeruput kopi tubruk dengan gula aren. Di sekelilingnya, para pelanggan tetap, Pak RT, Bu Lurah, Kang Ujang si tukang ojek, Mpok Ida si penjual gorengan, dan Bang Joni si mahasiswa, sedang ramai berdiskusi.
Pak RT: Aduh, Togog, lu nggak pusing? Saya sih pusing. Harga beras naik. Harga minyak naik. Harga telur naik. Semua naik! Padahal katanya ekonomi kita baik-baik aja. Pertumbuhan ekonomi 5 persen. Tapi kok di dapur saya nggak kerasa?
Kang Ujang: Bener, Pak RT! Kemarin saya isi Pertamax, harganya 16.000 perak! Gila! Dulu waktu zaman Owobarp belum jadi presiden, harganya masih di bawah 10.000. Sekarang? Mau pake Pertalite? Antrinya panjang kayak ular naga. Padahal Pertalite kan buat rakyat kecil. Tapi sekarang mobil-mobil gede pada ngantri Pertalite juga. Gimana sih?
Mpok Ida: Udah gitu, denger-denger KUD pada disuruh latihan militer. Latihan militer! Buat apa coba? Emangnya Koperasi Unit Desa mau perang? Mau lawan siapa? Lawan Indomaret? Lawan Alfamart?
Bang Joni (mahasiswa yang lagi skripsi): Ini semua karena manajemen pemerintahan yang kacau, Pak, Bu. Saya lagi nulis skripsi tentang struktur kabinet. Tau nggak sih, kabinet kita itu gemuk banget! Ada menteri, wakil menteri 1, wakil menteri 2, wakil menteri 3, sampe wakil menteri 10! Itu belom termasuk staf ahli, staf khusus, penasihat, dan entah apa lagi. Totalnya bisa ratusan orang! Tapi yang bener-bener kerja cuma sedikit. Sisanya? Kosmetik! Pemanis! Biar kelihatan banyak pendukung!
Togog (mengaduk kopinya, tersenyum pahit): Hehehe. Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari Plato yang saya temui di perpustakaan yang bocor, negara yang sehat adalah negara yang dipimpin oleh sedikit orang bijak, bukan oleh banyak orang yang lapar jabatan. Pertanyaan saya: kenapa kabinet kita gemuk? Apakah karena banyak yang kompeten, atau karena banyak yang harus dibayar balas budi?
Bang Joni: Nah, itu dia, Kang Togog! Itu yang saya tanyain juga! Dalam ilmu politik, ini namanya cabinet bloating, penggemukan kabinet untuk mengakomodasi kepentingan politik. Jadi, presiden ngangkat banyak menteri dan wakil menteri bukan karena butuh, tapi karena harus bagi-bagi kursi ke partai-partai pendukung. Akibatnya, kabinet jadi gemuk, lambat, dan nggak efektif.
Togog: "Bagi-bagi kursi." Dalam filsafat etika, saya belajar ini dari Aristoteles yang saya temui di mimpi, keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, bukan apa yang diinginkannya. Pertanyaan saya: apakah para menteri dan wakil menteri itu diangkat karena hak mereka untuk memimpin, atau karena keinginan mereka untuk berkuasa?
Pak RT: Udahlah, Togog, jangan pake bahasa filsafat segala. Pusing saya! Yang penting, kenapa sih Owobarp nggak bisa bikin kabinet yang ramping? Kenapa harus gemuk? Apa nggak mikirin biaya? Gaji menteri, wakil menteri, staf ahli, itu semua kan pakai uang rakyat!
Togog (menyeruput kopinya, mengangguk-angguk): Pak RT, dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari Adam Smith yang saya temui di pasar, biaya transaksi yang tinggi akan mengurangi efisiensi. Semakin banyak lapisan birokrasi, semakin lama keputusan dibuat, semakin banyak uang yang habis. Pertanyaan saya: apakah Owobarp sadar bahwa kabinet gemuk itu boros? Atau dia pikir itu investasi politik yang menguntungkan?
Kang Ujang: Udah ah, Togog. Lu kan pinter. Lu bisa ngomong sama filsuf-filsuf gitu. Kenapa lu nggak ketemu aja sama Owobarp? Tanyain langsung semua pertanyaan ini! Biar dia nggak cuma denger dari menteri-menterinya yang pada jilat semua!
Togog (terdiam sejenak, menatap kopinya yang mulai dingin): Ketemu Owobarp? Hehehe. Kang Ujang, dalam filsafat realitas politik, saya belajar ini dari Machiavelli yang saya temui di penjara, pemimpin selalu dikelilingi oleh tembok. Bukan tembok batu, tapi tembok manusia. Iddet Ardni Ayajiw itu temboknya. Protektif. Posesif. Kayak emak-emak yang ngejagain anaknya. Siapa pun yang mau ketemu Owobarp harus lewat dia dulu. Dan dia pasti nggak bakal ngizinin badut kayak saya masuk.
Bang Joni: Tapi Kang Togog kan bukan badut biasa. Kang Togog kan bisa... ya, hal-hal yang nggak biasa.
Togog (tersenyum misterius): Hehehe. Mungkin. Mungkin saya bisa minta tolong sama Mbah Ismaya. Beliau kan dewa. Beliau bisa bikin saya tembus tembok. Tapi nanti dulu. Saya harus mikir dulu apa yang mau saya tanyakan ke Owobarp. Nggak lucu kalau saya udah susah-susah masuk istana, eh malah cuma ngobrolin cuaca.
Mpok Ida: Udah, Togog! Tanyain aja semuanya! Kenapa harga-harga naik! Kenapa KUD dilatih militer! Kenapa kabinet gemuk! Kenapa...
Togog (mengangkat tangan, menghentikan Mpok Ida): Pelan-pelan, Mpok. Satu-satu. Nanti saya catat semua pertanyaannya. Malam ini, saya akan bertemu dengan Mbah Ismaya. Dan besok, kalau beruntung, saya akan duduk di hadapan Owobarp Otnaibus sendiri. Hehehe.
Pertemuan dengan Batara Ismaya
Latar: Malam hari. Di bawah pohon beringin tua di pinggir hutan. Togog duduk bersila, membakar kemenyan, dan bersenandung lagu Jawa kuno. Bulan purnama bersinar terang. Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Cahaya aneh muncul dari balik pohon. Dan muncullah Batara Ismaya, sosok tua berjubah putih, dengan wajah yang anehnya mirip Togog. Bibirnya juga tebal.
Batara Ismaya (duduk di hadapan Togog, tersenyum): Togog, cucuku. Kau memanggilku. Ada apa?
Togog (membungkuk hormat, tapi tetap dengan gaya khasnya yang setengah mengejek): Mbah, saya pusing. Kepala saya mau pecah. Setiap hari di warung kopi, saya denger keluhan rakyat. Harga-harga naik. Kabinet gemuk. KUD dilatih militer. Saya nggak tahan, Mbah. Saya pengen ketemu Owobarp. Tapi ada Iddet yang jagain dia kayak kerak nasi di panci, susah banget dilepasnya.
Batara Ismaya (tertawa kecil): Iddet Ardni Ayajiw. Aku kenal dia. Dia memang setia. Tapi kesetiaan yang berlebihan bisa berubah menjadi perisai yang menghalangi kebenaran. Kau benar, Togog. Owobarp butuh mendengar suara rakyat langsung. Bukan dari laporan menteri. Bukan dari pidato yang ditulis staf. Tapi dari mulut rakyat yang jujur.
Togog: Nah, itu dia, Mbah. Makanya saya minta tolong. Bisa nggak Mbah bantu saya masuk istana tanpa ketahuan Iddet? Saya nggak mau bikin keributan. Saya cuma mau ngobrol. Santai. Sambil ngemil kacang.
Batara Ismaya: Aku bisa membantumu, Togog. Tapi ingat: begitu kau masuk ke istana, kau tidak bisa keluar sebelum Owobarp menjawab semua pertanyaanmu. Kau siap?
Togog: Siap, Mbah. Saya sudah bawa stok kacang goreng cukup buat seminggu.
Batara Ismaya (menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum): Dasar badut. Baiklah. Aku akan memberimu kekuatan untuk menembus tembok. Tapi ingat: kekuatan ini hanya berlaku malam ini. Begitu matahari terbit, kau akan kembali menjadi badut biasa.
Togog: Cukup, Mbah. Satu malam sudah cukup untuk bikin Owobarp pusing. Hehehe.
(Batara Ismaya mengangkat tangannya. Cahaya aneh muncul dari telapak tangannya, menyelimuti Togog. Togog merasakan tubuhnya menjadi ringan, seperti kapas. Ia bisa merasakan setiap partikel udara di sekitarnya. Ia bisa mendengar detak jantung semut di tanah. Ia... bisa menembus tembok.)
Togog (berdiri, meregangkan tubuhnya): Wah, enak juga jadi dewa. Terima kasih, Mbah. Saya pamit dulu. Doakan saya.
Batara Ismaya: Selamat berjuang, Togog. Dan ingat: jangan lupa bawa oleh-oleh dari istana. Aku suka kue lapis.
Togog: Hehehe. Siap, Mbah. Kue lapis satu loyang. Saya catat.
(Togog berjalan menembus pohon beringin, benar-benar menembus, seperti hantu. Ia menghilang dalam kegelapan, menuju Istana Negeri Liliput.)
Menembus Tembok Istana
Latar: Istana Kepresidenan Negeri Liliput, pukul 22.00. Para pengawal berpatroli. Iddet Ardni Ayajiw duduk di ruang kerjanya, memantau layar CCTV yang menunjukkan setiap sudut istana. Tidak ada yang bisa masuk tanpa sepengetahuannya. Tapi malam ini, ada sesuatu yang aneh. Sebuah bayangan melintas di depan kamera nomor 7. Tapi ketika Iddet melihat lebih dekat, bayangan itu sudah hilang.
Iddet Ardni Ayajiw (berkata kepada dirinya sendiri): Hmm. Mungkin tikus. Atau mungkin aku terlalu lelah. Sudah tiga hari aku nggak tidur, njagain Bapak Owobarp. Tapi demi keamanan, aku rela. Aku nggak akan biarkan siapa pun mengganggu Bapak. Bapak adalah segalanya. Bapak adalah...
(Sementara Iddet bergumam sendiri, Togog sudah berada di dalam istana. Ia berjalan menembus dinding-dinding tebal seperti berjalan di udara. Ia melewati ruang-ruang kosong, koridor-koridor panjang, dan akhirnya tiba di sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati.)
Togog (berbisik pada dirinya sendiri): Ini pasti ruang kerjanya. Mewah banget. Ada ukiran naga di pintunya. Naga? Emangnya dia kaisar Tiongkok? Hehehe. Dalam filsafat budaya, saya belajar ini dari seorang dalang wayang, naga adalah simbol kekuasaan, tapi juga simbol keserakahan. Naga suka menimbun harta. Pertanyaan saya: apakah Owobarp juga suka menimbun?
(Togog menembus pintu. Ia masuk ke ruang kerja yang megah. Di dalam, Owobarp Otnaibus sedang duduk di kursi kebesarannya, membaca setumpuk laporan. Wajahnya lelah. Matanya sayu. Di sampingnya, beberapa cangkir kopi kosong berserakan.)
Owobarp Otnaibus (melihat ke arah pintu, terkejut): Siapa?! Siapa di sana?! Iddet! Iddet!
Togog (muncul dari balik tirai, tersenyum lebar): Tenang, Bapak. Saya bukan hantu. Saya bukan pencuri. Saya cuma badut. Nama saya Togog. Bapak mungkin pernah dengar nama saya dari... entahlah, mungkin dari mimpi Bapak. Hehehe.
Owobarp: Togog? Siapa Togog? Dan bagaimana kau bisa masuk?! Iddet! Iddet!
Togog (duduk di sofa tanpa diundang, menuangkan kacang goreng ke atas meja rapat yang mahal): Bapak nggak usah manggil Iddet. Dia nggak akan denger. Malam ini, Mbah Ismaya bantu saya masuk tanpa terdeteksi. Jadi kita bisa ngobrol santai. Tanpa pengawal. Tanpa staf. Tanpa menteri-menteri yang suka jilat. Cuma kita berdua. Dan kacang goreng ini.
Owobarp (menatap Togog dengan campuran takut dan penasaran): Kau... kau bekerja untuk siapa? Partai oposisi? Intelijen asing? Antek asing?
Togog (tertawa terbahak-bahak): Hehehe... hahaha... Bapak, dalam filsafat politik, saya belajar ini dari Rousseau, kekuasaan selalu curiga pada rakyat. Setiap kali ada rakyat yang berani bicara, penguasa langsung berpikir: "Ini pasti konspirasi!" Pertanyaan saya: kenapa Bapak curiga? Apakah karena Bapak tahu bahwa banyak yang tidak puas dengan pemerintahan Bapak?
Owobarp (mencoba tenang, duduk kembali di kursinya): Baiklah, Togog. Aku akan dengarkan kau. Tapi ingat: aku Presiden. Aku sibuk. Jangan buang-buang waktuku.
Togog (mengedipkan mata): "Jangan buang-buang waktu." Dalam filsafat eksistensialisme, saya belajar ini dari Heidegger, waktu adalah esensi dari keberadaan manusia. Manusia ada dalam waktu. Jadi, "membuang waktu" sebenarnya adalah "membuang keberadaan." Pertanyaan saya: apakah Bapak merasa keberadaan Bapak terbuang jika berbicara dengan rakyat?
Owobarp: Aku... aku tidak bilang begitu. Tapi aku punya banyak urusan. Aku harus membaca laporan. Aku harus mengambil keputusan. Aku...
Togog (memotong): "Membaca laporan." Bapak, dalam filsafat administrasi, saya belajar ini dari seorang birokrat yang gila, laporan yang ditulis oleh bawahan seringkali sudah disaring. Disunting. Dipercantik. Yang sampai ke meja Bapak hanyalah apa yang bawahan Bapak ingin Bapak lihat. Pertanyaan saya: apakah Bapak yakin bahwa laporan-laporan itu mencerminkan realitas, atau hanya ilusi yang diciptakan oleh staf Bapak?
Owobarp (terdiam. Ia menatap laporan-laporan di mejanya. Tiba-tiba, ia merasa ragu. Apakah semua ini benar? Atau hanya dongeng yang ditulis oleh orang-orang yang ingin menyenangkan hatinya?)
Owobarp: Baiklah, Togog. Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku mendengarkan.
Togog (tersenyum lebar, bersiap untuk memulai interogasinya): Terima kasih, Bapak. Saya akan mulai dengan pertanyaan yang paling sederhana. Bapak, dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari Plato, negara yang ideal adalah negara yang dipimpin oleh para filsuf. Tapi di Negeri Liliput, negara dipimpin oleh... siapa sebenarnya? Bapak? Atau menteri-menteri Bapak? Atau Iddet? Atau... partai? Pertanyaan pertama saya: siapa sebenarnya yang memerintah Negeri Liliput?
90 Persen Kosmetik, 10 Persen Kerja
Owobarp (berdehem, mencoba menjawab dengan gaya kenegaraan): Tentu saja aku yang memerintah. Aku adalah Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Kabinetku hanyalah pembantu. Mereka menjalankan kebijakan yang aku tetapkan.
Togog (mengunyah kacang, mengangguk-angguk pura-pura setuju): "Pembantu." Kata yang menarik. Bapak, dalam ilmu politik, ada konsep "principal-agent problem", masalah antara pemilik dan pembantu. Pemilik ingin pembantunya bekerja dengan baik. Tapi pembantu seringkali malah bekerja untuk kepentingannya sendiri. Pertanyaan saya: berapa banyak "pembantu" Bapak yang benar-benar bekerja untuk rakyat, dan berapa yang bekerja untuk memperkaya diri sendiri?
Owobarp: Aku sudah memilih orang-orang terbaik. Mereka semua adalah profesional di bidangnya.
Togog (tertawa kecil): "Orang-orang terbaik." Bapak, dalam filsafat meritokrasi, saya belajar ini dari seorang guru yang dipecat karena mengkritik kepala sekolah, "terbaik" adalah kata yang subjektif. Terbaik menurut siapa? Menurut Bapak? Menurut partai? Menurut hasil pemilu? Atau menurut rakyat? Pertanyaan saya: apakah menteri-menteri Bapak adalah yang terbaik di bidangnya, atau yang terbaik dalam berpolitik?
Owobarp: Mereka... mereka dipilih melalui proses yang ketat.
Togog: "Proses yang ketat." Bapak, saya sudah mempelajari komposisi kabinet Bapak. Saya nggak mau sebut nama, saya bukan orang yang suka mempermalukan individu. Tapi saya bisa kasih data. Di kabinet Bapak, ada puluhan menteri. Setiap menteri punya wakil menteri 1, wakil menteri 2, bahkan ada yang sampai wakil menteri 3, 4, 5, hingga 10. Kalau ditotal, jumlah pejabat setingkat menteri di Negeri Liliput bisa mencapai lebih dari seratus orang. Pertanyaan saya: apa fungsi mereka semua? Apakah mereka semua bekerja? Atau cuma jadi pajangan?
Owobarp: Mereka semua penting! Setiap wakil menteri punya tugas spesifik!
Togog: "Tugas spesifik." Bapak, dalam filsafat manajemen, saya belajar ini dari Henry Fayol, setiap organisasi harus memiliki pembagian kerja yang jelas. Tapi terlalu banyak pembagian kerja justru menciptakan birokrasi yang lambat dan tidak efisien. Saya kasih contoh konkret. Ada satu kementerian di kabinet Bapak yang mengurusi masalah perdagangan. Kementerian ini punya satu menteri, tiga wakil menteri, dan entah berapa staf ahli. Tapi harga-harga kebutuhan pokok tetap naik. Pertanyaan saya: kalau mereka semua bekerja, kenapa harga-harga naik? Apakah mereka bekerja untuk menaikkan harga?
Owobarp (mulai berkeringat): Itu... itu karena faktor eksternal! Harga minyak dunia! Perang di Ukraina! Gangguan rantai pasok global!
Togog (mengedipkan mata): "Faktor eksternal." Dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari John Maynard Keynes, faktor eksternal memang mempengaruhi ekonomi. Tapi pemerintah yang kompeten bisa mengelola dampaknya. Pertanyaan saya: apakah pemerintah Bapak sudah mengelola dampak dengan baik? Atau hanya menjadikan "faktor eksternal" sebagai kambing hitam?
Kenapa Dolar 18.000 Perak?
Owobarp: Togog, kau tidak mengerti kompleksitas ekonomi global! Nilai tukar dolar terhadap perak kita memang sedang naik. Tapi itu terjadi di seluruh dunia! Semua mata uang melemah terhadap dolar!
Togog (menyeruput kopi yang entah dari mana munculnya, mungkin dari saku bajunya): "Semua mata uang melemah." Bapak, dalam filsafat logika, saya belajar ini dari Aristoteles, ada kesalahan berpikir yang disebut "bandwagon fallacy." Semua orang melompat dari jembatan, jadi kita juga harus lompat? Pertanyaan saya: kenapa perak kita harus ikut-ikutan melemah? Kenapa kita nggak punya strategi untuk memperkuat perak?
Owobarp: Kita sudah punya strategi! Bank sentral sudah melakukan intervensi! Kita...
Togog (memotong): "Intervensi." Bapak, saya nongkrong di warung kopi setiap hari. Saya denger para pedagang mengeluh. Mereka bilang, harga bahan baku impor naik karena perak melemah. Harga kedelai naik. Harga gandum naik. Harga daging sapi naik. Akibatnya, tempe jadi mahal. Roti jadi mahal. Bakso jadi mahal. Ini bukan cuma angka di layar komputer, Bapak. Ini adalah tempe yang nggak bisa dibeli oleh Mpok Ida. Ini adalah bakso yang nggak bisa dimakan oleh Kang Ujang. Pertanyaan saya: kapan terakhir kali Bapak makan tempe?
Owobarp (terdiam. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia makan tempe. Mungkin bertahun-tahun yang lalu. Di istana, semua makanan disiapkan oleh koki profesional. Tempe? Mungkin ada. Tapi ia tidak memperhatikan.)
Owobarp: Aku... aku akan menginstruksikan kementerian terkait untuk menangani ini.
Togog (tersenyum pahit): "Menginstruksikan kementerian terkait." Bapak, dalam filsafat birokrasi, saya belajar ini dari Max Weber, birokrasi yang terlalu besar akan menciptakan "lingkaran setan" di mana setiap masalah hanya menghasilkan instruksi, yang menghasilkan rapat, yang menghasilkan laporan, yang menghasilkan instruksi baru, dan seterusnya tanpa akhir. Pertanyaan saya: apakah instruksi Bapak akan benar-benar menyelesaikan masalah, atau hanya menambah tumpukan kertas di meja menteri?
Kenapa Pertamax 16.000 Perak?
Owobarp (mencoba beralih ke topik lain): Togog, kau banyak bertanya tentang harga. Tapi kau harus mengerti: subsidi energi itu membebani anggaran! Kita harus mengalihkan subsidi dari BBM ke sektor produktif!
Togog (mengambil segenggam kacang, mengunyahnya perlahan): "Subsidi membebani anggaran." Bapak, dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari Joseph Stiglitz, subsidi memang bisa membebani anggaran. Tapi pencabutan subsidi yang tidak tepat waktu juga bisa membebani rakyat. Pertanyaan saya: apakah rakyat sudah siap untuk harga BBM yang lebih tinggi? Apakah pendapatan mereka sudah naik sebanding dengan kenaikan harga?
Owobarp: Kita sudah menyiapkan program bantuan sosial! Bantuan langsung tunai! Sembako murah!
Togog (mengedipkan mata): "Bantuan sosial." Bapak, dalam filsafat kesejahteraan, saya belajar ini dari Amartya Sen, bantuan sosial adalah plester luka. Ia bisa menghentikan pendarahan sementara. Tapi ia tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Penyakitnya adalah kemiskinan struktural. Pertanyaan saya: berapa lama rakyat harus hidup dari plester? Sampai kapan? Sampai Bapak pensiun?
Owobarp: Kita juga mendorong penggunaan energi terbarukan! Kendaraan listrik! Biofuel!
Togog (tertawa kecil): "Kendaraan listrik." Bapak, saya suka ide itu. Tapi dalam filsafat realitas, saya belajar ini dari mengamati jalanan, kendaraan listrik itu mahal. Yang mampu beli cuma orang kaya. Rakyat kecil masih pakai motor butut yang boros bensin. Pertanyaan saya: apakah kebijakan energi Bapak memihak rakyat kecil, atau memihak pemilik modal?
Kelas Menengah Mengkanibal Pertalite
Togog (melanjutkan, tanpa memberi Owobarp waktu untuk bernapas): Oh ya, Bapak. Satu lagi soal BBM. Saya denger, banyak kelas menengah yang biasanya pake mobil dan isi Pertamax, sekarang pindah ke Pertalite. Karena Pertamax udah 16.000 perak. Pertalite masih disubsidi. Akibatnya, antrian Pertalite panjang banget. Rakyat kecil yang harusnya pakai Pertalite jadi kesulitan. Ini yang disebut "kanibalisme BBM." Pertanyaan saya: apa langkah Bapak untuk mencegah kelas menengah mengkanibal jatah rakyat kecil?
Owobarp: Kita... kita akan memperketat pengawasan! Hanya kendaraan tertentu yang boleh pakai Pertalite!
Togog (mengedipkan mata): "Memperketat pengawasan." Bapak, dalam filsafat penegakan hukum, saya belajar ini dari seorang polisi yang ditilang karena melanggar aturan, pengawasan hanya efektif jika ada sanksi yang tegas. Selama ini, banyak mobil mewah yang ngisi Pertalite. Apa mereka ditilang? Nggak. Kenapa? Karena mereka kenal sama petugas. Atau karena mereka berani bayar lebih. Pertanyaan saya: apakah Bapak yakin pengawasan bisa menyelesaikan masalah, atau hanya menciptakan peluang korupsi baru?
Owobarp: Itu... itu bukan wewenangku langsung! Itu wewenang pemerintah daerah!
Togog (tersenyum lebar): "Bukan wewenangku." Bapak, dalam filsafat tanggung jawab, saya belajar ini dari Harry Truman, presiden adalah orang yang paling bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di negaranya. Truman punya tulisan di mejanya: "The buck stops here", tanggung jawab berhenti di sini. Pertanyaan saya: apakah Bapak punya tulisan seperti itu di meja Bapak? Atau Bapak lebih suka melempar tanggung jawab ke bawah?
Kenapa KUD Dilatih Militer?
Togog (mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, catatan dari warung kopi): Bapak, saya punya pertanyaan yang bikin saya pusing sejak minggu lalu. Kenapa kepala Koperasi Unit Desa dilatih militer?
Owobarp (terkejut, tidak menyangka Togog tahu tentang ini): Itu... itu program Kementerian Koperasi! Bukan programku langsung!
Togog (mengedipkan mata): "Bukan programku langsung." Bapak, itu jawaban yang sama kayak tadi. Tapi saya penasaran: apa sih hubungannya KUD sama militer? Apakah KUD mau disuruh perang? Lawan siapa? Lawan Indomaret? Lawan Alfamart? Atau lawan Teramodni dan Tramafla?
Owobarp (mencoba menjelaskan): Itu... itu untuk meningkatkan kedisiplinan! Melatih jiwa kepemimpinan! Membangun karakter!
Togog (tertawa terbahak-bahak): "Meningkatkan kedisiplinan!" Bapak, dalam filsafat bisnis, saya belajar ini dari Peter Drucker, koperasi adalah organisasi ekonomi, bukan organisasi militer. Yang dibutuhkan oleh kepala KUD adalah ilmu manajemen bisnis, ilmu pemasaran, ilmu keuangan, ilmu negosiasi. Bukan ilmu baris-berbaris. Bukan ilmu menembak. Bukan ilmu perang gerilya. Pertanyaan saya: apakah dengan latihan militer, KUD bisa bersaing dengan Indomaret dan Alfamart yang punya sistem manajemen modern, jaringan distribusi canggih, dan modal besar?
Owobarp: Tapi kan... KUD harus punya mental baja! Pantang menyerah!
Togog: "Mental baja." Bapak, dalam filsafat persaingan, saya belajar ini dari Michael Porter, mental baja penting. Tapi mental baja tanpa strategi bisnis yang tepat hanya akan menghasilkan kebangkrutan dengan gaya yang gagah. Saya kasih contoh. Teramodni dan Tramafla itu ritel modern. Manajer mereka dilatih ilmu manajemen. Mereka belajar tentang supply chain, tentang customer service, tentang digital marketing. Sementara kepala KUD dilatih baris-berbaris. Pertanyaan saya: siapa yang akan menang dalam persaingan? Yang punya strategi bisnis, atau yang bisa baris-berbaris dengan rapi?
Owobarp (mulai panik, tapi masih berusaha bertahan): Itu... itu cuma salah satu program! Ada juga program lain! Program wirausaha! Program digitalisasi!
Togog (mengedipkan mata): "Program wirausaha." Bapak, saya denger program itu. Tapi anggarannya kecil. Sangat kecil. Dibandingkan dengan anggaran latihan militer. Pertanyaan saya: mana yang lebih penting untuk KUD? Belajar bisnis atau belajar perang? Apakah KUD akan berperang melawan Indomaret dengan senjata? Atau dengan strategi pemasaran yang cerdas?
Pertanyaan tentang Sosialisme ala Partai Sosialis Indonesia
Togog (berdiri, berjalan mengelilingi ruangan, melihat-lihat foto-foto Owobarp dengan berbagai tokoh): Bapak, saya sering dengar Bapak bicara tentang sosialisme. Bapak bilang, Bapak terinspirasi oleh Partai Sosialis Indonesia. Bapak ingin membangun negara yang adil, makmur, dan merata. Pertanyaan saya: apa itu sosialisme menurut Bapak?
Owobarp (merasa mendapatkan angin segar, akhirnya, topik yang ia kuasai!): Sosialisme adalah sistem ekonomi di mana negara menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi hajat hidup orang banyak! Sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar! Negara harus hadir untuk melindungi rakyat kecil! Untuk menciptakan keadilan sosial!
Togog (bertepuk tangan pelan): Bagus! Pidato yang indah. Bapak, dalam filsafat politik, saya belajar ini dari Marx, sosialisme bukan hanya tentang retorika. Ia tentang siapa yang menguasai alat-alat produksi. Pertanyaan saya: siapa yang menguasai alat-alat produksi di Negeri Liliput? Negara? Atau segelintir konglomerat?
Owobarp: Negara menguasai! Tentu saja negara! Pertamina, PLN, Telkom, semua milik negara!
Togog (tersenyum): "Pertamina, PLN, Telkom." Bapak, dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari membaca laporan keuangan, perusahaan-perusahaan itu memang milik negara. Tapi siapa yang menikmati keuntungannya? Apakah rakyat kecil? Atau para direktur dan komisaris yang gajinya miliaran? Pertanyaan saya: apakah BUMN di Negeri Liliput benar-benar melayani rakyat, atau melayani elite?
Kabinet Sosialis, Isinya Kapitalis?
Togog (melanjutkan, tanpa ampun): Bapak, saya sudah mempelajari komposisi kabinet Bapak. Saya nggak mau sebut nama, sekali lagi, saya nggak suka mempermalukan individu. Tapi saya bisa kasih gambaran umum. Di kabinet Bapak, banyak menteri yang berasal dari partai-partai yang mengaku sosialis. Tapi kalau kita lihat latar belakang mereka... ada yang punya perusahaan tambang. Ada yang keluarganya menguasai perkebunan sawit. Ada yang dekat dengan para pengusaha hutan. Ada yang menjadi pengacara perusahaan-perusahaan asing. Pertanyaan saya: apakah mereka sosialis? Atau kapitalis yang memakai baju sosialis?
Owobarp (wajahnya mulai pucat): Mereka... mereka adalah orang-orang yang kompeten! Mereka sudah sukses di dunia bisnis, jadi mereka tahu bagaimana mengelola ekonomi!
Togog (tertawa kecil): "Mereka sudah sukses di dunia bisnis." Bapak, dalam filsafat etika, saya belajar ini dari Adam Smith, pengusaha yang sukses adalah orang yang mampu memaksimalkan keuntungan. Itu naluri kapitalis. Tapi sosialisme justru bertujuan membatasi keuntungan demi keadilan. Pertanyaan saya: bagaimana orang yang terbiasa memaksimalkan keuntungan bisa tiba-tiba berubah menjadi pembela keadilan sosial? Apakah ada tombol "sosialis" di otak mereka yang bisa ditekan begitu dilantik jadi menteri?
Owobarp: Mereka... mereka bisa belajar! Mereka bisa beradaptasi!
Togog (mengedipkan mata): "Belajar." Bapak, dalam filsafat pendidikan, saya belajar ini dari Paulo Freire, belajar adalah proses transformasi. Tapi transformasi membutuhkan waktu. Sementara itu, kebijakan harus dibuat setiap hari. Pertanyaan saya: selagi mereka "belajar" menjadi sosialis, apakah kebijakan yang mereka buat akan pro-rakyat, atau pro-pemilik modal?
Perusak Hutan di Kabinet
Togog (melanjutkan, semakin tajam): Bapak, saya mau tanya lebih spesifik. Di kabinet Bapak, ada beberapa menteri yang, menurut laporan organisasi lingkungan, dekat dengan perusahaan-perusahaan yang merusak hutan. Hutan di Negeri Liliput semakin menyusut. Setiap tahun, ratusan ribu hektar hilang. Pertanyaan saya: apakah menteri-menteri itu akan membuat kebijakan yang melindungi hutan, atau yang melindungi keuntungan perusahaan?
Owobarp: Kita... kita sudah punya moratorium! Kita sudah hentikan izin baru untuk perkebunan sawit!
Togog (mengedipkan mata): "Moratorium." Bapak, dalam filsafat hukum, saya belajar ini dari seorang hakim yang dipecat karena terlalu jujur, moratorium adalah larangan sementara. Tapi penegakan hukum adalah soal permanen. Pertanyaan saya: berapa banyak perusahaan yang melanggar moratorium? Berapa banyak yang dihukum? Atau mereka semua bebas karena "kedekatan" dengan pejabat?
Owobarp: Itu... itu sedang ditangani oleh Kementerian Lingkungan Hidup!
Togog: "Sedang ditangani." Bapak, dalam filsafat birokrasi, saya belajar ini dari Parkinson, pekerjaan akan mengembang sesuai waktu yang tersedia. "Sedang ditangani" bisa berarti seminggu, sebulan, setahun, atau selamanya. Pertanyaan saya: kapan "sedang ditangani" itu selesai? Kapan hutannya kembali? Kapan masyarakat adat yang terusir bisa pulang?
Pengekspor Sumber Daya Alam Mentah
Togog (berjalan ke arah jendela, menatap ke luar ke arah kota yang berkelap-kelip): Bapak, satu lagi. Saya sering mendengar Bapak bicara tentang "hilirisasi." Tentang bagaimana Negeri Liliput harus berhenti mengekspor bahan mentah dan mulai memproduksi barang jadi. Itu ide yang bagus. Sangat bagus. Tapi kenyataannya, ekspor bahan mentah masih dominan. Nikel diekspor mentah. Bauksit diekspor mentah. Kelapa sawit diekspor mentah. Pertanyaan saya: kenapa? Kenapa hilirisasi cuma wacana?
Owobarp: Kita sedang membangun smelter! Butuh waktu! Butuh investasi!
Togog (mengedipkan mata): "Butuh waktu." Bapak, dalam filsafat pembangunan, saya belajar ini dari Ha-Joon Chang, negara-negara maju tidak mengekspor bahan mentah. Mereka mengekspor produk jadi. Mereka menguasai teknologi. Mereka menguasai merek. Mereka menguasai jaringan distribusi. Sementara kita? Kita mengekspor tanah dan air kita dalam bentuk mentah, lalu membeli kembali dalam bentuk barang jadi dengan harga berkali-kali lipat. Pertanyaan saya: sampai kapan kita akan terus seperti ini? Sampai sumber daya alam kita habis?
Utang Luar Negeri
Togog (kembali duduk di sofa, mengambil kacang lagi): Bapak, saya denger utang luar negeri Negeri Liliput semakin besar. Sekarang sudah ribuan triliun. Pertanyaan saya: untuk apa saja utang itu? Apakah untuk membangun infrastruktur yang produktif, atau untuk membayar gaji pegawai dan bunga utang lama?
Owobarp: Utang itu untuk pembangunan! Jalan tol! Pelabuhan! Bandara! Semua itu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi!
Togog (mengedipkan mata): "Meningkatkan pertumbuhan ekonomi." Bapak, dalam filsafat utang, saya belajar ini dari David Graeber, utang adalah janji masa depan yang dijaminkan dengan masa kini. Pertanyaan saya: apakah pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan itu benar-benar terjadi? Atau hanya ilusi statistik yang dinikmati oleh segelintir orang?
Owobarp: Pertumbuhan kita 5 persen! Itu fakta!
Togog: "5 persen." Bapak, dalam filsafat statistik, saya belajar ini dari seorang ahli matematika yang miskin, angka rata-rata bisa menyesatkan. Kalau Bapak makan dua ekor ayam, dan saya tidak makan sama sekali, secara statistik kita masing-masing makan satu ekor ayam. Tapi apakah saya kenyang? Tidak. Pertanyaan saya: apakah pertumbuhan 5 persen itu dinikmati oleh semua rakyat, atau hanya oleh segelintir orang di Jakarta?
Proyek-Proyek Mangkrak
Togog (melanjutkan): Ngomong-ngomong soal infrastruktur, Bapak. Saya denger banyak proyek yang mangkrak. Jalan tol yang belum selesai. Bendungan yang bocor. Kereta api yang terlambat. Pertanyaan saya: siapa yang bertanggung jawab? Apakah kontraktornya yang tidak kompeten? Atau pengawasannya yang lemah? Atau ada yang sengaja memperlambat proyek agar anggarannya terus mengalir?
Owobarp: Itu... itu karena faktor cuaca! Dan pembebasan lahan yang rumit!
Togog (mengedipkan mata): "Faktor cuaca." Bapak, dalam filsafat manajemen proyek, saya belajar ini dari seorang kontraktor yang bangkrut, cuaca adalah kambing hitam favorit para kontraktor. Seharusnya, sebelum proyek dimulai, faktor cuaca sudah diperhitungkan. Pertanyaan saya: apakah Bapak percaya bahwa semua proyek mangkrak karena cuaca? Atau ada yang mangkrak karena korupsi?
Owobarp (mulai gelagapan): Korupsi... korupsi sedang kita berantas! KPK sudah bekerja!
Togog (tersenyum pahit): "KPK sudah bekerja." Bapak, dalam filsafat penegakan hukum, saya belajar ini dari seorang jaksa yang dipecat, memberantas korupsi di negeri ini seperti mengeringkan lautan dengan sendok. Selalu ada air yang tersisa. Selalu ada koruptor yang lolos. Pertanyaan saya: apakah Bapak yakin bahwa pemberantasan korupsi sudah berjalan efektif? Atau hanya tebang pilih?
Oligarki yang Mengendalikan
Togog (berdiri, berjalan ke arah Owobarp, menatapnya langsung): Bapak, saya akan bertanya sesuatu yang mungkin menyinggung. Tapi saya harus tanya. Siapa sebenarnya yang berkuasa di Negeri Liliput? Bapak? Atau segelintir keluarga kaya yang menguasai tambang, perkebunan, media, dan partai politik?
Owobarp (terdiam. Ia tahu jawabannya. Tapi ia tidak berani mengatakannya.)
Owobarp: Rakyat yang berkuasa! Rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi!
Togog (tersenyum sedih): "Rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi." Bapak, dalam filsafat demokrasi, saya belajar ini dari Rousseau, kedaulatan rakyat adalah konsep yang indah. Tapi dalam praktiknya, rakyat hanya berkuasa lima tahun sekali, di bilik suara. Setelah itu, kekuasaan kembali ke tangan oligarki. Pertanyaan saya: apa yang bisa dilakukan rakyat setelah pemilu? Demonstrasi? Dilarang. Kritik di media? Dibungkam. Gugatan hukum? Mahal. Jadi, di mana sebenarnya kedaulatan rakyat?
Kebebasan Berpendapat
Togog (melanjutkan, tanpa memberi Owobarp kesempatan untuk pulih): Bapak, soal kebebasan berpendapat. Saya denger, banyak aktivis yang ditangkap karena mengkritik pemerintah. Mahasiswa yang demonstrasi diintimidasi. Jurnalis yang menulis berita kritis dibungkam. Pertanyaan saya: apakah ini namanya demokrasi? Atau otoritarianisme yang dibungkus pemilu?
Owobarp: Itu... itu karena mereka menyebarkan berita bohong! Hoaks! Memecah belah persatuan!
Togog (mengedipkan mata): "Hoaks." Bapak, dalam filsafat kebenaran, saya belajar ini dari Plato, setiap penguasa selalu mengklaim bahwa kritik adalah kebohongan. Tapi siapa yang menentukan mana yang benar dan mana yang bohong? Pemerintah? Kalau pemerintah yang menentukan, bukankah itu artinya pemerintah tidak bisa dikritik? Dan kalau pemerintah tidak bisa dikritik, bukankah itu definisi dari kediktatoran?
Janji-Janji Kampanye
Togog (mengeluarkan secarik kertas lain, catatan dari pemilu lalu): Bapak, saya ingat waktu kampanye dulu. Bapak banyak berjanji. Harga sembako akan turun. Lapangan kerja akan bertambah. Kemiskinan akan dihapuskan. Tapi sekarang, setelah beberapa tahun Bapak memerintah, banyak yang belum terwujud. Pertanyaan saya: apakah janji-janji itu dulu dibuat dengan perhitungan matang, atau hanya untuk memenangkan suara?
Owobarp: Kita sudah bekerja keras! Banyak yang sudah tercapai! Tapi memang ada kendala!
Togog: "Ada kendala." Bapak, dalam filsafat tanggung jawab, saya belajar ini dari Kant, setiap janji adalah utang moral. Orang yang berjanji harus menepati, atau mengakui bahwa ia tidak mampu. Pertanyaan saya: apakah Bapak siap mengakui kepada rakyat bahwa banyak janji yang belum terpenuhi? Atau Bapak lebih suka menyalahkan "kendala"?
Kesenjangan Digital
Togog (berubah topik dengan cepat, seperti biasa): Bapak, saya denger pemerintah lagi gencar-gencarnya digitalisasi. Semua urusan sekarang online. KTP online. Pajak online. Izin usaha online. Tapi di desa-desa, masih banyak yang nggak punya internet. Masih banyak yang nggak bisa pakai aplikasi. Pertanyaan saya: apakah digitalisasi ini mempermudah rakyat, atau malah mempersulit?
Owobarp: Itu untuk efisiensi! Untuk mengurangi birokrasi!
Togog: "Efisiensi." Bapak, dalam filsafat teknologi, saya belajar ini dari Neil Postman, teknologi selalu punya dua sisi. Ia bisa membebaskan, tapi juga bisa menindas. Bagi yang punya akses dan kemampuan, teknologi memang mempermudah. Tapi bagi yang tidak punya, teknologi justru menjadi tembok baru. Pertanyaan saya: apa yang dilakukan pemerintah untuk memastikan bahwa rakyat kecil tidak tertinggal dalam revolusi digital ini?
Pendidikan yang Mahal
Togog (melanjutkan, semakin bersemangat): Bapak, saya denger biaya pendidikan semakin mahal. Universitas negeri yang dulu murah, sekarang tarik uang kuliah tunggal yang tinggi. Sekolah favorit masih penuh dengan praktik "sumbangan sukarela" yang tidak sukarela. Pertanyaan saya: apakah pendidikan di negeri ini benar-benar untuk semua, atau hanya untuk yang mampu?
Owobarp: Kita sudah ada beasiswa! Kartu Indonesia Pintar! Bantuan operasional sekolah!
Togog (mengedipkan mata): "Beasiswa." Bapak, dalam filsafat keadilan, saya belajar ini dari John Rawls, beasiswa adalah kompensasi. Ia mengakui bahwa sistemnya tidak adil, lalu mencoba menambal ketidakadilan itu dengan bantuan. Pertanyaan saya: kenapa sistemnya yang tidak diubah? Kenapa pendidikan tidak dibuat gratis dan berkualitas untuk semua?
Owobarp: Gratis? Itu... itu akan membebani anggaran!
Togog (tertawa kecil): "Membebani anggaran." Bapak, dalam filsafat prioritas, saya belajar ini dari anggaran negara yang saya baca diam-diam, anggaran pendidikan sebenarnya sudah diamanatkan 20 persen oleh konstitusi. Tapi anggaran untuk pembangunan infrastruktur jauh lebih besar. Pertanyaan saya: mana yang lebih penting? Jalan tol yang mulus, atau otak rakyat yang cerdas?
Kesehatan yang Dijual
Togog: Bapak, saya denger BPJS Kesehatan sering bermasalah. Rumah sakit menolak pasien BPJS. Obat-obatan mahal. Alat kesehatan langka. Pertanyaan saya: apakah kesehatan di negeri ini adalah hak warga negara, atau komoditas yang dijual?
Owobarp: Kita sudah memperbaiki sistem! BPJS sekarang lebih baik!
Togog: "Lebih baik." Bapak, dalam filsafat perbandingan, saya belajar ini dari seorang pasien yang antri berjam-jam, "lebih baik" adalah istilah yang relatif. Lebih baik dari apa? Dari zaman penjajahan? Tentu. Tapi lebih baik dari standar internasional? Belum tentu. Pertanyaan saya: kenapa warga negara harus antri berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mereka bayar sendiri melalui iuran?
Ekonomi yang Tumbuh Tapi...
Togog (kembali ke kursinya, mengambil napas sejenak): Bapak, saya capek. Tapi saya masih punya beberapa pertanyaan lagi. Yang pertama: Bapak sering bangga dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen. Tapi kenapa kemiskinan masih tinggi? Kenapa ketimpangan semakin lebar? Kenapa orang kaya semakin kaya, dan orang miskin tetap miskin?
Owobarp: Itu karena efek penetesan ke bawah belum merata! Sabar! Pembangunan itu proses!
Togog (mengedipkan mata): "Efek penetesan ke bawah." Bapak, dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari Thomas Piketty, efek penetesan ke bawah adalah mitos. Yang terjadi justru sebaliknya: kekayaan naik ke atas. Orang kaya menimbun modal, sementara orang miskin menanggung biaya. Pertanyaan saya: sampai kapan kita harus percaya pada mitos ini?
Konflik Agraria
Togog: Bapak, saya denger banyak konflik agraria di daerah. Petani diusir dari tanahnya. Masyarakat adat digusur. Pertanyaan saya: di manakah keadilan untuk mereka? Apakah pembangunan harus mengorbankan rakyat kecil?
Owobarp: Kita sudah punya program reforma agraria! Tanah untuk rakyat!
Togog (tersenyum pahit): "Reforma agraria." Bapak, dalam filsafat tanah, saya belajar ini dari para petani yang saya temui, tanah adalah kehidupan. Bukan sekadar aset. Bukan sekadar komoditas. Ketika petani kehilangan tanah, mereka kehilangan segalanya. Pertanyaan saya: berapa hektar tanah yang sudah dibagikan oleh program reforma agraria Bapak? Dan berapa hektar yang sudah diambil oleh perusahaan-perusahaan besar?
Perubahan Iklim
Togog: Bapak, satu lagi. Soal perubahan iklim. Negeri Liliput adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap bencana iklim. Banjir. Kekeringan. Kebakaran hutan. Tapi saya lihat, kebijakan lingkungan Bapak masih setengah hati. Pertanyaan saya: apakah Bapak peduli pada masa depan anak cucu, atau hanya peduli pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek?
Owobarp: Kita sudah ikut Perjanjian Paris! Kita sudah punya target pengurangan emisi!
Togog: "Target." Bapak, dalam filsafat lingkungan, saya belajar ini dari Greta Thunberg, target adalah janji. Tapi janji tanpa tindakan adalah omong kosong. Pertanyaan saya: apa tindakan konkret Bapak untuk mengurangi emisi? Apakah Bapak berani menutup pembangkit listrik tenaga batu bara? Apakah Bapak berani menghentikan deforestasi? Atau Bapak hanya menandatangani perjanjian internasional tanpa pernah melaksanakannya?
Owobarp Mulai Menangis
Owobarp (terdiam lama. Ia menatap Togog dengan mata yang mulai berkaca-kaca): Togog... aku... aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu. Aku tahu banyak yang salah. Tapi aku hanya seorang manusia. Aku tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang punya kepentingan sendiri. Aku...
Togog (berdiri, mendekati Owobarp, meletakkan tangannya di bahu sang Presiden, sebuah gestur yang anehnya penuh kasih sayang): Bapak, dalam filsafat kepemimpinan, saya belajar ini dari Lao Tzu, pemimpin sejati adalah orang yang melayani, bukan yang dilayani. Pemimpin sejati adalah orang yang mendengarkan, bukan yang hanya didengar. Pertanyaan terakhir saya: apakah Bapak masih mau mendengarkan? Apakah Bapak masih mau berubah? Atau Bapak sudah terlalu nyaman di singgasana sehingga lupa bahwa singgasana itu dibangun di atas pundak rakyat?
Owobarp (air mata menetes di pipinya): Aku... aku akan berusaha, Togog. Aku akan berusaha lebih keras. Aku akan evaluasi kabinetku. Aku akan dengarkan rakyat. Aku...
Togog (tersenyum, bibir tebalnya membuat senyum itu terlihat aneh sekaligus menawan): "Akan." Bapak, dalam filsafat bahasa, saya belajar ini dari Austin, "akan" adalah kata kerja bantu yang menunjukkan niat, bukan tindakan. Pertanyaan saya: kapan "akan" itu menjadi "sudah"? Kapan janji menjadi kenyataan?
(Owobarp tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap lantai istananya yang berkilat. Togog mengumpulkan kacang gorengnya, berdiri, dan berjalan ke arah pintu.)
Togog: Baiklah, Bapak. Saya sudah terlalu lama di sini. Matahari hampir terbit. Saya harus pergi sebelum kekuatan Mbah Ismaya hilang. Tapi sebelum saya pergi, saya mau titip pesan. Bapak, dalam filsafat perang saudara, saya belajar ini dari membaca sejarah semua revolusi, kekuasaan yang tidak mendengarkan rakyat akan dihancurkan oleh rakyat. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti. Jangan tunggu sampai terlambat, Bapak. Jangan tunggu sampai rakyat turun ke jalan dengan kemarahan yang tidak bisa dibendung lagi. Dengarkan mereka sekarang, selagi masih ada waktu.
Selamat pagi, Bapak Presiden. Hehehe.
(Togog menembus pintu, benar-benar menembus, seperti hantu. Ia menghilang, meninggalkan Owobarp sendirian di ruang kerjanya yang megah, dengan air mata di pipi dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab.)
Kembali ke Warung Kopi
Latar: Warung kopi "Pahit Manis", pagi hari. Para pelanggan tetap sudah berkumpul. Togog muncul dengan wajah lelah tapi puas. Ia duduk di bangku favoritnya, memesan kopi tubruk, dan menuangkan sisa kacang gorengnya ke atas meja.
Pak RT: Eh, Togog! Dari mana aja lu? Semalaman ilang! Kita tungguin!
Togog (menyeruput kopinya, tersenyum misterius): Dari istana, Pak RT.
Kang Ujang: Istana?! Istana mana?! Istana Merdeka?!
Togog: Hehehe. Iya. Saya ketemu Owobarp. Ngobrol panjang lebar. Soal kabinet gemuk. Soal harga Pertamax. Soal KUD yang dilatih militer. Soal perusak hutan di kabinet. Soal utang luar negeri. Soal pendidikan mahal. Soal kesehatan yang dijual. Soal... ah, banyak pokoknya.
Mpok Ida: Terus?! Apa kata Owobarp?!
Togog (mengedipkan mata): Dia nangis, Mpok.
Bang Joni: Nangis?! Presiden nangis?!
Togog: Hehehe. Dalam filsafat psikologi, saya belajar ini dari Freud, air mata adalah tanda bahwa seseorang sedang berjuang antara kesadaran dan ketidaksadaran. Owobarp sadar bahwa banyak yang salah. Tapi dia juga tidak sadar bagaimana cara memperbaikinya. Dia terjebak. Dikelilingi oleh orang-orang yang punya kepentingan sendiri. Dia... dia manusia, seperti kita.
Pak RT: Tapi apa dia akan berubah?
Togog (menatap kopinya, suaranya tiba-tiba serius): Itu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, Pak RT. Dalam filsafat eksistensialisme, manusia adalah makhluk yang bebas. Setiap orang punya pilihan. Owobarp bisa memilih untuk berubah, atau tetap seperti sekarang. Yang pasti, saya sudah menyampaikan semua pertanyaan. Sekarang, bola ada di tangannya.
Kang Ujang: Tapi apa gunanya ngobrol satu malam doang? Apa dia bakal ingat?
Togog (tersenyum): Dalam filsafat memori, saya belajar ini dari seorang psikolog yang pikun, orang cenderung melupakan apa yang tidak ingin mereka ingat. Tapi saya sudah menitipkan pesan. Dan pesan itu, saya yakin, akan terus mengganggu tidurnya. Setiap malam, dia akan teringat pada badut aneh yang bertanya tentang tempe. Hehehe.
Pesan Terakhir Togog
Bang Joni: Kang Togog, apa kesimpulan dari semua ini? Apa yang harus kita lakukan sebagai rakyat?
Togog (berdiri, menghabiskan kopinya, menatap para pelanggan warung kopi satu per satu): Dalam filsafat perjuangan, saya belajar ini dari para petani, buruh, mahasiswa, dan semua rakyat kecil yang tidak pernah menyerah, kekuasaan bukanlah sesuatu yang diberikan. Kekuasaan adalah sesuatu yang direbut. Setiap hari. Setiap saat. Dengan pertanyaan. Dengan kritik. Dengan perlawanan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan satu orang, entah itu Owobarp, entah itu siapa pun, untuk mengubah segalanya. Kita sendiri yang harus menjadi perubahan.
Jadi, pertanyaan saya bukan lagi untuk Owobarp. Pertanyaan saya adalah untuk kalian semua: apa yang sudah kalian lakukan untuk negeri ini? Apakah kalian hanya mengeluh di warung kopi? Atau kalian berani bertanya, berani mengkritik, berani melawan ketidakadilan?
Pak RT (terdiam. Lalu tersenyum): Togog, lu bener. Kita nggak bisa cuma ngandelin satu orang. Kita harus bergerak sendiri. Mulai dari RT. Mulai dari kelurahan. Mulai dari hal-hal kecil.
Togog (tertawa kecil): Hehehe. Itu baru semangat! Dalam filsafat perubahan sosial, saya belajar ini dari Mao, revolusi dimulai dari desa. Dari pinggiran. Dari tempat-tempat yang diabaikan oleh kekuasaan. Jadi, mari kita mulai. Dari warung kopi ini. Dari RT ini. Dari kelurahan ini. Siapa tahu, suatu hari nanti, Negeri Liliput benar-benar menjadi negeri yang adil, makmur, dan merata. Bukan hanya di pidato, tapi di kenyataan.
Togog dan Kue Lapis
Latar: Malam harinya. Di bawah pohon beringin tua. Togog duduk bersila, membawa satu loyang kue lapis. Batara Ismaya muncul dari balik pohon.
Batara Ismaya: Togog! Kau berhasil! Bagaimana hasilnya?
Togog (menyerahkan kue lapis): Ini oleh-olehnya, Mbah. Kue lapis satu loyang, sesuai pesanan.
Batara Ismaya (menerima kue lapis dengan gembira): Bagus! Bagus! Lalu, bagaimana dengan Owobarp?
(tersenyum pahit): Dia nangis, Mbah. Saya nggak tahu apakah dia akan berubah. Tapi setidaknya, dia sudah mendengar suara rakyat. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Batara Ismaya: Kau sudah melakukan tugasmu, Togog. Sekarang, biarkan sejarah yang bekerja. Ingatlah: dalam filsafat waktu, aku belajar ini dari pengalaman ribuan tahun, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ia terjadi perlahan, seperti air yang mengikis batu. Sabar. Teruslah bertanya. Teruslah mengkritik. Suatu hari nanti, batu itu akan hancur juga.
Togog (mengangguk): Hehehe. Siap, Mbah. Saya akan terus bertanya. Sampai kapan? Sampai semua pertanyaan terjawab. Dan karena pertanyaan tidak pernah habis... saya tidak akan pernah berhenti. Selamat malam, Mbah. Nikmati kue lapisnya.
Batara Ismaya (tertawa): Selamat malam, Togog. Sampai jumpa lagi.
(Togog berjalan pulang, menyusuri jalan setapak di bawah sinar bulan. Di langit, bintang-bintang berkelap-kelip, seolah-olah ikut tersenyum.)
DAFTAR PUSTAKA
Chang, Ha-Joon. Kicking Away the Ladder: Development Strategy in Historical Perspective. London: Anthem Press, 2002.
Graeber, David. Debt: The First 5,000 Years. Brooklyn: Melville House, 2011.
Piketty, Thomas. Capital in the Twenty-First Century. Cambridge: Harvard University Press, 2014.
Postman, Neil. Technopoly: The Surrender of Culture to Technology. New York: Vintage Books, 1993.
Rawls, John. A Theory of Justice. Cambridge: Harvard University Press, 1971.
Sen, Amartya. Development as Freedom. Oxford: Oxford University Press, 1999.
Stiglitz, Joseph. The Price of Inequality. New York: W.W. Norton, 2012.
Weber, Max. Economy and Society. Berkeley: University of California Press, 1978.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.