Namun, bayangkan apa yang terjadi selanjutnya: Pelanggan setia Anda yang selama ini menyukai kopi murni akan merasa asing dan pergi. Sementara itu, para pencinta kopi-cuka tidak akan kembali kepada Anda, karena mengapa mereka harus memilih tiruan ketika mereka bisa mendapatkan "asli"-nya langsung dari sumbernya? Dan yang paling mengerikan, dengan menambahkan cuka ke kopi Anda, Anda secara tidak langsung mengatakan kepada publik: "Lihat, cuka dalam kopi itu normal. Ini adalah bagian dari menu yang sah."
Inilah, dalam metafora yang sangat disederhanakan, argumen inti yang diajukan oleh Tarik Abou-Chadi, seorang ilmuwan politik yang kini menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam studi partai politik kontemporer. Lahir pada tahun 1985, Abou-Chadi meraih gelar doktor dari Humboldt University Berlin pada 2015, kemudian bekerja di University of Zurich sebelum akhirnya bergabung dengan University of Oxford sebagai Profesor Politik Eropa di Department of Politics and International Relations (DPIR) dan Professorial Fellow di Nuffield College. Pada Januari 2027, ia akan menjadi direktur baru di WZB Berlin Social Science Center, membangun dan memimpin sebuah departemen riset demokrasi, kepulangan simbolis ke kota tempat ia meraih gelar doktornya.
Abou-Chadi secara luas diakui sebagai "ahli terkemuka tentang kebangkitan kanan jauh dan krisis partai arus utama di Eropa". Risetnya, yang telah muncul di jurnal-jurnal paling prestisius dalam ilmu politik seperti American Political Science Review, World Politics, dan British Journal of Political Science, berfokus pada "pemilu, partai politik, dan transformasi kompetisi politik serta representasi demokratis di masyarakat pasca-industri". Ia adalah salah satu penerima pertama Henrik Enderlein Prize untuk keunggulan riset dalam ilmu sosial yang dianugerahkan oleh pemerintah Jerman dan Prancis. Ia juga mendirikan Progressive Politics Research Network, sebuah inisiatif untuk membuat riset ilmu politik lebih mudah diakses oleh praktisi politik dan publik yang lebih luas.
Karya Abou-Chadi, baik artikel jurnal, bab buku, maupun tulisan untuk audiens yang lebih luas di The Guardian, Der Spiegel, dan berbagai podcast, secara konsisten menyuarakan satu pesan yang kontra-intuitif: Strategi yang paling sering digunakan partai arus utama untuk menghadapi kebangkitan kanan jauh justru merupakan strategi yang paling kontra-produktif. Dalam salah satu wawancaranya dengan The Oxford Blue, ia menyatakan dengan tegas: "Risetnya cukup jelas: Mengintegrasikan kanan jauh tidak melemahkan mereka".
Akar Intelektual
Untuk memahami kontribusi Abou-Chadi, kita perlu menempatkannya dalam lanskap intelektual yang lebih luas. Riset Abou-Chadi dibangun di atas fondasi yang diletakkan oleh beberapa tradisi teoretis dalam ilmu politik kontemporer.Pertama adalah Teori Niche Party. Fondasi pertama adalah literatur tentang niche party, partai-partai yang bersaing terutama pada isu-isu spesifik yang tidak menjadi fokus utama partai-partai arus utama. Bonnie Meguid, dalam karya klasiknya Party Competition between Unequals (2005, 2008), mengembangkan kerangka teoretis yang berpengaruh tentang bagaimana niche party mempengaruhi partai-partai mapan. Meguid berargumen bahwa niche party kurang berhasil ketika partai-partai mapan memilih strategi akomodatif (accommodative), yaitu, ketika mereka menekankan isu terpenting niche party dan mengkooptasi posisinya. Inilah asumsi inti yang mendasari sebagian besar literatur dan yang akan diuji serta ditantang oleh Abou-Chadi.
Kedua adalah Teori Kompetisi Spasial. Fondasi kedua adalah model kompetisi spasial Downsian, yang mengasumsikan bahwa partai memilih posisi kebijakan untuk memaksimalkan perolehan suara. Namun, Abou-Chadi melampaui model Downsian sederhana dengan mengakui, sebagaimana dicatat dalam salah satu artikel awal utamanya, bahwa "isu-isu memiliki efek elektoral yang berbeda," dan bahwa "partai-partai mapan mungkin ingin menekankan beberapa isu dan mengecilkan yang lain". Ini adalah pengakuan penting bahwa kompetisi politik bukanlah permainan satu dimensi.
Ketiga adalah Teori Kompetisi Multidimensi. Fondasi ketiga adalah pengakuan bahwa kompetisi politik kontemporer berlangsung pada setidaknya dua dimensi: Dimensi ekonomi (intervensi negara vs. pasar bebas) dan dimensi kultural (liberal vs. konservatif, kosmopolitan vs. nasionalis). Kerangka ini, yang dikembangkan oleh ilmuwan seperti Herbert Kitschelt, menjadi sangat penting untuk memahami mengapa strategi partai arus utama sering gagal: Mereka mencoba memenangkan pemilih pada satu dimensi (kultural) dengan mengorbankan dimensi lainnya (ekonomi), tanpa menyadari bahwa pemilih mengevaluasi partai pada kedua dimensi secara bersamaan.
Mengapa kompetisi politik menjadi semakin multidimensi? Jawabannya terletak pada transformasi fundamental dari masyarakat industri ke masyarakat pasca-industri. Dalam masyarakat industri, politik terutama terstruktur di sekitar konflik kelas: Partai kiri mewakili kelas pekerja dan mendukung redistribusi; partai kanan mewakili kelas menengah dan bisnis serta mendukung pasar bebas.
Namun, di masyarakat pasca-industri, lanskap sosial telah bertransformasi secara fundamental. Sebagaimana dicatat oleh Abou-Chadi sendiri dalam wawancara dengan The Guardian: "Struktur sosial telah sepenuhnya bertransformasi sejak masa kejayaan demokrasi sosial. Pemilih demokrat sosial rata-rata saat ini sangat, sangat berbeda dari 50, bahkan 20 tahun yang lalu, dan tidak mungkin seorang pekerja industri". Transformasi ini memiliki beberapa dimensi:
- Menyusutnya kelas pekerja industri. Proporsi pekerja manufaktur dalam angkatan kerja telah menurun secara drastis di semua demokrasi maju.
- Ekspansi pendidikan tinggi. Semakin banyak warga negara menyelesaikan pendidikan universitas, menciptakan kelas menengah baru dengan preferensi kultural yang lebih liberal.
- Meningkatnya imigrasi dan keragaman etnis. Ini telah menjadikan isu-isu identitas, imigrasi, dan multikulturalisme sebagai poros utama kompetisi politik.
- Meningkatnya ketimpangan ekonomi dan ketidakamanan. Globalisasi dan perubahan teknologi telah menciptakan kelompok "pemenang" dan "pecundang," dengan pemilih yang merasa tertinggal secara ekonomi semakin rentan terhadap seruan kanan jauh.
Di mana posisi Abou-Chadi dalam lanskap intelektual ini? Beberapa ciri khas yang membedakan karyanya dapat diidentifikasi.
Pertama, Abou-Chadi adalah seorang empiris yang ketat. Tidak seperti banyak analis yang mengandalkan anekdot atau studi kasus tunggal, Abou-Chadi membangun argumennya di atas analisis data kuantitatif berskala besar yang mencakup puluhan negara dan rentang waktu puluhan tahun. Karyanya bersama Werner Krause yang menggunakan regression discontinuity design untuk mengidentifikasi efek kausal, bukan sekadar korelasi, adalah contoh sempurna dari pendekatan ini.
Kedua, Abou-Chadi adalah seorang pembantah mitos (myth-buster). Banyak dari karyanya yang paling berpengaruh secara eksplisit menantang apa yang ia anggap sebagai "teori zombie", keyakinan yang terus hidup meskipun bukti empiris telah membantahnya. Salah satu contohnya adalah keyakinan bahwa pemilih kelas pekerja telah bermigrasi dari partai sosial demokrat ke partai kanan jauh, sebuah narasi yang, menurut Abou-Chadi, "sebagian besar adalah mitos".
Ketiga, Abou-Chadi adalah seorang public-facing scholar. Ia tidak hanya menulis untuk jurnal akademik, tetapi juga aktif berkomunikasi dengan publik yang lebih luas melalui artikel opini di media internasional, podcast, dan policy brief untuk yayasan seperti Friedrich-Ebert-Stiftung. Pada tahun 2022, ia dinobatkan dalam daftar "Top 40 under 40" oleh majalah Capital Jerman sebagai salah satu pakar terpercaya di bawah usia 40 tahun. Progressive Politics Research Network yang ia dirikan bersama secara eksplisit bertujuan untuk "membuat riset ilmu politik lebih mudah diakses oleh praktisi politik dan publik yang lebih luas".
Abou-Chadi berargumen, dan secara empiris mendemonstrasikan, bahwa partai-partai arus utama merespons secara berbeda terhadap kesuksesan partai hijau versus partai kanan jauh. Analisisnya didasarkan pada teori issue competition dan issue ownership
Partai Hijau memiliki kepemilikan isu (issue ownership) yang kuat atas isu lingkungan. Ketika partai hijau berhasil, ini menyampaikan sinyal kepada partai arus utama bahwa ada permintaan elektoral untuk kebijakan lingkungan yang lebih kuat. Namun, Abou-Chadi menemukan bahwa partai arus utama justru cenderung mengurangi penekanan pada isu lingkungan sebagai respons terhadap kesuksesan partai hijau, sebuah strategi yang berlawanan dengan intuisi. Mengapa? Karena partai arus utama menghitung bahwa jika mereka menekankan isu lingkungan, mereka hanya akan memperkuat kepemilikan isu partai hijau dan mendorong lebih banyak pemilih ke arah partai hijau. Karena itu, strategi yang lebih rasional adalah mengaburkan isu tersebut.
Partai Kanan Jauh memiliki kepemilikan isu atas imigrasi. Ketika partai kanan jauh berhasil, partai arus utama merespons dengan cara yang sangat berbeda: Alih-alih mengaburkan isu imigrasi, mereka justru meningkatkan penekanan pada posisi anti-imigran. Mengapa? Karena, tidak seperti isu lingkungan di mana partai hijau memiliki kepemilikan yang tidak tertandingi, isu imigrasi adalah isu di mana partai arus utama, terutama partai kanan-tengah, merasa bahwa mereka bisa bersaing secara kredibel. Mereka menghitung bahwa dengan mengadopsi posisi yang lebih ketat terhadap imigrasi, mereka bisa merebut kembali pemilih yang telah berpindah ke kanan jauh.
Kedua, adanya efek kausal kanan jauh sebagai bukti dari regression discontinuity design. Kontribusi paling penting Abou-Chadi secara metodologis adalah artikelnya bersama Werner Krause di British Journal of Political Science (2020), "The Causal Effect of Radical Right Success on Mainstream Parties' Policy Positions: A Regression Discontinuity Approach".
Mengapa artikel ini sangat penting? Karena pertanyaan tentang hubungan antara kesuksesan kanan jauh dan pergeseran kebijakan partai arus utama seringkali menghadapi masalah kausalitas terbalik (reverse causality): Apakah partai arus utama bergeser ke kanan karena kanan jauh berhasil, atau apakah kanan jauh berhasil karena partai arus utama memang sudah bergeser ke kanan? Untuk mengatasi masalah ini, Abou-Chadi dan Krause menggunakan regression discontinuity design (RDD), sebuah metode yang mengeksploitasi variasi eksogen yang diciptakan oleh ambang batas elektoral.
Logika RDD-nya adalah sebagai berikut: Partai-partai kanan jauh yang memperoleh suara tepat di atas ambang batas parlemen (dan karenanya memperoleh kursi) pada dasarnya identik dengan partai-partai yang memperoleh suara tepat di bawah ambang batas (dan karenanya tidak memperoleh kursi), kecuali bahwa yang pertama "berhasil" mendapatkan representasi sementara yang kedua tidak. Dengan membandingkan respons partai arus utama terhadap kedua kelompok ini, Abou-Chadi dan Krause dapat mengidentifikasi efek kausal dari kesuksesan kanan jauh terhadap kebijakan partai arus utama, terlepas dari pergeseran opini publik.
Temuannya sangat jelas: "Kesuksesan kanan jauh secara kausal mempengaruhi posisi partai arus utama. Ini berlaku untuk partai arus utama kiri maupun partai arus utama kanan". Dengan kata lain, partai arus utama, baik kiri maupun kanan, bergeser ke kanan pada isu imigrasi sebagai respons langsung terhadap kesuksesan kanan jauh, bukan hanya sebagai respons terhadap perubahan opini publik.
Ini adalah temuan yang sangat penting. Ia menunjukkan bahwa pergeseran ke kanan yang diamati di banyak demokrasi Eropa bukanlah sekadar respons terhadap permintaan pemilih, melainkan juga merupakan efek dari pasokan politik, pilihan strategis partai arus utama yang terpengaruh oleh keberhasilan kanan jauh.
Ketiga adalah fenomena lingkaran setan kesuksesan kanan jauh. Mungkin kontribusi Abou-Chadi yang paling mudah diakses oleh publik non-akademik adalah konsepnya tentang lingkaran setan (vicious cycle) kesuksesan kanan jauh. Dalam policy brief yang diterbitkan untuk Friedrich-Ebert-Stiftung pada Desember 2025, Abou-Chadi menjelaskan mekanisme ini dengan sangat jelas:
Pertama, Abou-Chadi adalah seorang empiris yang ketat. Tidak seperti banyak analis yang mengandalkan anekdot atau studi kasus tunggal, Abou-Chadi membangun argumennya di atas analisis data kuantitatif berskala besar yang mencakup puluhan negara dan rentang waktu puluhan tahun. Karyanya bersama Werner Krause yang menggunakan regression discontinuity design untuk mengidentifikasi efek kausal, bukan sekadar korelasi, adalah contoh sempurna dari pendekatan ini.
Kedua, Abou-Chadi adalah seorang pembantah mitos (myth-buster). Banyak dari karyanya yang paling berpengaruh secara eksplisit menantang apa yang ia anggap sebagai "teori zombie", keyakinan yang terus hidup meskipun bukti empiris telah membantahnya. Salah satu contohnya adalah keyakinan bahwa pemilih kelas pekerja telah bermigrasi dari partai sosial demokrat ke partai kanan jauh, sebuah narasi yang, menurut Abou-Chadi, "sebagian besar adalah mitos".
Ketiga, Abou-Chadi adalah seorang public-facing scholar. Ia tidak hanya menulis untuk jurnal akademik, tetapi juga aktif berkomunikasi dengan publik yang lebih luas melalui artikel opini di media internasional, podcast, dan policy brief untuk yayasan seperti Friedrich-Ebert-Stiftung. Pada tahun 2022, ia dinobatkan dalam daftar "Top 40 under 40" oleh majalah Capital Jerman sebagai salah satu pakar terpercaya di bawah usia 40 tahun. Progressive Politics Research Network yang ia dirikan bersama secara eksplisit bertujuan untuk "membuat riset ilmu politik lebih mudah diakses oleh praktisi politik dan publik yang lebih luas".
Kerangka Teoretis Tarik Abou-Chadi
Pertama adalah Niche Party Success dan respons asimetris partai arus utama. Salah satu kontribusi awal Abou-Chadi yang paling berpengaruh adalah artikelnya di British Journal of Political Science (2016) berjudul "Niche Party Success and Mainstream Party Policy Shifts, How Green and Radical Right Parties Differ in Their Impact". Artikel ini mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi fundamental: Bagaimana kesuksesan partai-partai niche mempengaruhi kebijakan partai-partai arus utama?Abou-Chadi berargumen, dan secara empiris mendemonstrasikan, bahwa partai-partai arus utama merespons secara berbeda terhadap kesuksesan partai hijau versus partai kanan jauh. Analisisnya didasarkan pada teori issue competition dan issue ownership
Partai Hijau memiliki kepemilikan isu (issue ownership) yang kuat atas isu lingkungan. Ketika partai hijau berhasil, ini menyampaikan sinyal kepada partai arus utama bahwa ada permintaan elektoral untuk kebijakan lingkungan yang lebih kuat. Namun, Abou-Chadi menemukan bahwa partai arus utama justru cenderung mengurangi penekanan pada isu lingkungan sebagai respons terhadap kesuksesan partai hijau, sebuah strategi yang berlawanan dengan intuisi. Mengapa? Karena partai arus utama menghitung bahwa jika mereka menekankan isu lingkungan, mereka hanya akan memperkuat kepemilikan isu partai hijau dan mendorong lebih banyak pemilih ke arah partai hijau. Karena itu, strategi yang lebih rasional adalah mengaburkan isu tersebut.
Partai Kanan Jauh memiliki kepemilikan isu atas imigrasi. Ketika partai kanan jauh berhasil, partai arus utama merespons dengan cara yang sangat berbeda: Alih-alih mengaburkan isu imigrasi, mereka justru meningkatkan penekanan pada posisi anti-imigran. Mengapa? Karena, tidak seperti isu lingkungan di mana partai hijau memiliki kepemilikan yang tidak tertandingi, isu imigrasi adalah isu di mana partai arus utama, terutama partai kanan-tengah, merasa bahwa mereka bisa bersaing secara kredibel. Mereka menghitung bahwa dengan mengadopsi posisi yang lebih ketat terhadap imigrasi, mereka bisa merebut kembali pemilih yang telah berpindah ke kanan jauh.
Kedua, adanya efek kausal kanan jauh sebagai bukti dari regression discontinuity design. Kontribusi paling penting Abou-Chadi secara metodologis adalah artikelnya bersama Werner Krause di British Journal of Political Science (2020), "The Causal Effect of Radical Right Success on Mainstream Parties' Policy Positions: A Regression Discontinuity Approach".
Mengapa artikel ini sangat penting? Karena pertanyaan tentang hubungan antara kesuksesan kanan jauh dan pergeseran kebijakan partai arus utama seringkali menghadapi masalah kausalitas terbalik (reverse causality): Apakah partai arus utama bergeser ke kanan karena kanan jauh berhasil, atau apakah kanan jauh berhasil karena partai arus utama memang sudah bergeser ke kanan? Untuk mengatasi masalah ini, Abou-Chadi dan Krause menggunakan regression discontinuity design (RDD), sebuah metode yang mengeksploitasi variasi eksogen yang diciptakan oleh ambang batas elektoral.
Logika RDD-nya adalah sebagai berikut: Partai-partai kanan jauh yang memperoleh suara tepat di atas ambang batas parlemen (dan karenanya memperoleh kursi) pada dasarnya identik dengan partai-partai yang memperoleh suara tepat di bawah ambang batas (dan karenanya tidak memperoleh kursi), kecuali bahwa yang pertama "berhasil" mendapatkan representasi sementara yang kedua tidak. Dengan membandingkan respons partai arus utama terhadap kedua kelompok ini, Abou-Chadi dan Krause dapat mengidentifikasi efek kausal dari kesuksesan kanan jauh terhadap kebijakan partai arus utama, terlepas dari pergeseran opini publik.
Temuannya sangat jelas: "Kesuksesan kanan jauh secara kausal mempengaruhi posisi partai arus utama. Ini berlaku untuk partai arus utama kiri maupun partai arus utama kanan". Dengan kata lain, partai arus utama, baik kiri maupun kanan, bergeser ke kanan pada isu imigrasi sebagai respons langsung terhadap kesuksesan kanan jauh, bukan hanya sebagai respons terhadap perubahan opini publik.
Ini adalah temuan yang sangat penting. Ia menunjukkan bahwa pergeseran ke kanan yang diamati di banyak demokrasi Eropa bukanlah sekadar respons terhadap permintaan pemilih, melainkan juga merupakan efek dari pasokan politik, pilihan strategis partai arus utama yang terpengaruh oleh keberhasilan kanan jauh.
Ketiga adalah fenomena lingkaran setan kesuksesan kanan jauh. Mungkin kontribusi Abou-Chadi yang paling mudah diakses oleh publik non-akademik adalah konsepnya tentang lingkaran setan (vicious cycle) kesuksesan kanan jauh. Dalam policy brief yang diterbitkan untuk Friedrich-Ebert-Stiftung pada Desember 2025, Abou-Chadi menjelaskan mekanisme ini dengan sangat jelas:
- Partai arus utama bereaksi terhadap kesuksesan kanan jauh dengan bergeser ke kanan pada isu imigrasi.
- Pergeseran strategis ini gagal memenangkan kembali pemilih secara berarti.
- Posisi baru mempengaruhi opini publik dan menormalisasi pandangan kanan jauh.
- Mengamati pergeseran opini publik ini, partai bergerak lebih ke kanan lagi.
Lingkaran setan ini memiliki implikasi yang mendalam. Apa yang digambarkan Abou-Chadi bukanlah sekadar kompetisi di mana partai arus utama "kalah" dari kanan jauh. Lebih buruk dari itu: Partai arus utama, melalui respons strategis mereka sendiri, secara tidak sengaja memperkuat kanan jauh. Setiap kali mereka mengadopsi posisi yang lebih ketat terhadap imigrasi, mereka mengirimkan sinyal kepada publik bahwa kanan jauh "benar" tentang imigrasi, bahwa imigrasi memang adalah masalah yang memerlukan respons ketat. Ini pada gilirannya membuat pemilih lebih mungkin untuk mendukung kanan jauh, dan mendorong partai arus utama untuk bergeser lebih jauh lagi.
Dalam kata-kata Abou-Chadi sendiri: "Partai bergerak ke kanan untuk menyelaraskan diri dengan opini publik, yang kemudian bergeser lebih ke kanan sebagai akibat dari diskursus politik. Bahkan partai progresif seperti Partai Hijau, sampai batas tertentu, telah terseret ke dalam dinamika ini".
Keempat adalah pertanyaan apakah strategi akomodasi berhasil? Dalam artikel "Does Accommodation Work? Mainstream Party Strategies and the Success of Radical Right Parties" (2022) yang ditulis bersama Werner Krause dan Denis Cohen, Abou-Chadi secara langsung menguji efektivitas strategi akomodasi. Temuannya provokatif: "Kami tidak menemukan bukti bahwa strategi akomodatif mengurangi dukungan untuk kanan jauh. Justru sebaliknya, hasil kami menunjukkan bahwa strategi tersebut menyebabkan lebih banyak pemilih berpindah ke kanan jauh".
Apa artinya ini? Bahwa strategi yang paling sering direkomendasikan, dan paling sering digunakan, oleh partai arus utama untuk menghadapi kanan jauh tidak berhasil. Mengadopsi posisi anti-imigran yang lebih ketat tidak merebut kembali pemilih dari kanan jauh. Dalam kasus terbaik, ia tidak berguna; dalam kasus terburuk, ia kontraproduktif, mengirimkan lebih banyak pemilih ke arah kanan jauh.
Temuan ini menantang asumsi inti yang mendasari sebagian besar literatur tentang kompetisi partai, termasuk karya Meguid yang berpengaruh. Jika strategi akomodatif tidak mengurangi kesuksesan niche party, maka seluruh kerangka teoretis tentang bagaimana partai mapan seharusnya merespons penantang perlu dipikirkan ulang.
Kelima adalah pertanyaan seputar norma resiprokal atau infeksi ideologis? Salah satu aspek yang paling menarik dari kerangka Abou-Chadi adalah perhatiannya pada mekanisme di mana partai arus utama mempengaruhi wacana publik. Dalam wawancara dengan Oxford Blue, ia menjelaskan bahwa "media memainkan peran krusial dalam menormalisasi kanan jauh." Salah satu caranya adalah melalui "fokus yang sangat besar pada isu-isu tertentu, seperti imigrasi, kriminalitas, yang menciptakan persepsi bahwa ini adalah masalah yang paling mendesak, meskipun data mungkin menunjukkan sebaliknya".
Ini adalah wawasan yang sangat penting: Normalisasi kanan jauh tidak hanya terjadi melalui adopsi kebijakan secara langsung, tetapi juga melalui pergeseran diskursus. Ketika partai arus utama dan media terus-menerus membicarakan imigrasi sebagai krisis, mereka secara implisit memvalidasi kerangka kanan jauh, bahkan jika mereka tidak setuju dengan solusi yang ditawarkan kanan jauh.
Apa yang menyebabkan penurunan ini? Abou-Chadi menolak penjelasan sederhana bahwa partai sosial demokrat kehilangan pemilih kelas pekerja ke kanan jauh. Dalam beberapa kesempatan, ia secara eksplisit menyebut narasi ini sebagai "mitos" atau "teori zombie." Dalam wawancara dengan De Facto, ia menjelaskan bahwa "partai-partai sosial demokrat di Eropa Barat telah menyaksikan penurunan elektoral yang kuat dalam dua dekade terakhir. Pada saat yang sama, partai-partai kanan jauh telah melihat peningkatan signifikan dalam pemilu. Sekilas tampak jelas bahwa kanan jauh mendapatkan pemilih dari partai sosial demokrat. Tapi ini tidak benar".
Jika pemilih kelas pekerja tidak bermigrasi ke kanan jauh, lalu apa yang terjadi? Abou-Chadi dan Wagner, dalam "The Electoral Appeal of Party Strategies in Postindustrial Societies" (2019), menawarkan penjelasan yang lebih nuansa. Mereka berargumen bahwa "untuk menjelaskan perubahan dalam nasib partai-partai ini, para peneliti perlu menganalisis preferensi kelompok-kelompok elektoral kunci pada sumbu-sumbu utama kompetisi politik dan peran perantara yang mentransmisikan informasi dalam membentuk pilihan pemilih".
Dengan kata lain, partai sosial demokrat menghadapi dilema struktural: Basis elektoral tradisional mereka telah terkikis oleh transformasi masyarakat pasca-industri. Untuk bertahan, mereka perlu membangun koalisi pemilih baru, tetapi ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang preferensi multidimensional pemilih kontemporer.
Dalam bab yang ditulis bersama Silja Häusermann, Reto Mitteregger, dan Nadja Mosimann, Abou-Chadi mengidentifikasi empat strategi programatik yang dapat ditempuh oleh partai sosial demokrat kontemporer:
Dalam kata-kata Abou-Chadi sendiri: "Partai bergerak ke kanan untuk menyelaraskan diri dengan opini publik, yang kemudian bergeser lebih ke kanan sebagai akibat dari diskursus politik. Bahkan partai progresif seperti Partai Hijau, sampai batas tertentu, telah terseret ke dalam dinamika ini".
Keempat adalah pertanyaan apakah strategi akomodasi berhasil? Dalam artikel "Does Accommodation Work? Mainstream Party Strategies and the Success of Radical Right Parties" (2022) yang ditulis bersama Werner Krause dan Denis Cohen, Abou-Chadi secara langsung menguji efektivitas strategi akomodasi. Temuannya provokatif: "Kami tidak menemukan bukti bahwa strategi akomodatif mengurangi dukungan untuk kanan jauh. Justru sebaliknya, hasil kami menunjukkan bahwa strategi tersebut menyebabkan lebih banyak pemilih berpindah ke kanan jauh".
Apa artinya ini? Bahwa strategi yang paling sering direkomendasikan, dan paling sering digunakan, oleh partai arus utama untuk menghadapi kanan jauh tidak berhasil. Mengadopsi posisi anti-imigran yang lebih ketat tidak merebut kembali pemilih dari kanan jauh. Dalam kasus terbaik, ia tidak berguna; dalam kasus terburuk, ia kontraproduktif, mengirimkan lebih banyak pemilih ke arah kanan jauh.
Temuan ini menantang asumsi inti yang mendasari sebagian besar literatur tentang kompetisi partai, termasuk karya Meguid yang berpengaruh. Jika strategi akomodatif tidak mengurangi kesuksesan niche party, maka seluruh kerangka teoretis tentang bagaimana partai mapan seharusnya merespons penantang perlu dipikirkan ulang.
Kelima adalah pertanyaan seputar norma resiprokal atau infeksi ideologis? Salah satu aspek yang paling menarik dari kerangka Abou-Chadi adalah perhatiannya pada mekanisme di mana partai arus utama mempengaruhi wacana publik. Dalam wawancara dengan Oxford Blue, ia menjelaskan bahwa "media memainkan peran krusial dalam menormalisasi kanan jauh." Salah satu caranya adalah melalui "fokus yang sangat besar pada isu-isu tertentu, seperti imigrasi, kriminalitas, yang menciptakan persepsi bahwa ini adalah masalah yang paling mendesak, meskipun data mungkin menunjukkan sebaliknya".
Ini adalah wawasan yang sangat penting: Normalisasi kanan jauh tidak hanya terjadi melalui adopsi kebijakan secara langsung, tetapi juga melalui pergeseran diskursus. Ketika partai arus utama dan media terus-menerus membicarakan imigrasi sebagai krisis, mereka secara implisit memvalidasi kerangka kanan jauh, bahkan jika mereka tidak setuju dengan solusi yang ditawarkan kanan jauh.
Krisis Partai Arus Utama
Salah satu fokus utama riset Abou-Chadi adalah krisis elektoral partai-partai sosial demokrat di Eropa Barat. Dalam bab "Losing the middle ground: the electoral decline of social democratic parties since 2000" yang ditulis bersama Markus Wagner dalam volume Beyond Social Democracy (2024), Abou-Chadi mendokumentasikan besarnya penurunan elektoral yang dialami partai-partai ini.Apa yang menyebabkan penurunan ini? Abou-Chadi menolak penjelasan sederhana bahwa partai sosial demokrat kehilangan pemilih kelas pekerja ke kanan jauh. Dalam beberapa kesempatan, ia secara eksplisit menyebut narasi ini sebagai "mitos" atau "teori zombie." Dalam wawancara dengan De Facto, ia menjelaskan bahwa "partai-partai sosial demokrat di Eropa Barat telah menyaksikan penurunan elektoral yang kuat dalam dua dekade terakhir. Pada saat yang sama, partai-partai kanan jauh telah melihat peningkatan signifikan dalam pemilu. Sekilas tampak jelas bahwa kanan jauh mendapatkan pemilih dari partai sosial demokrat. Tapi ini tidak benar".
Jika pemilih kelas pekerja tidak bermigrasi ke kanan jauh, lalu apa yang terjadi? Abou-Chadi dan Wagner, dalam "The Electoral Appeal of Party Strategies in Postindustrial Societies" (2019), menawarkan penjelasan yang lebih nuansa. Mereka berargumen bahwa "untuk menjelaskan perubahan dalam nasib partai-partai ini, para peneliti perlu menganalisis preferensi kelompok-kelompok elektoral kunci pada sumbu-sumbu utama kompetisi politik dan peran perantara yang mentransmisikan informasi dalam membentuk pilihan pemilih".
Dengan kata lain, partai sosial demokrat menghadapi dilema struktural: Basis elektoral tradisional mereka telah terkikis oleh transformasi masyarakat pasca-industri. Untuk bertahan, mereka perlu membangun koalisi pemilih baru, tetapi ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang preferensi multidimensional pemilih kontemporer.
Dalam bab yang ditulis bersama Silja Häusermann, Reto Mitteregger, dan Nadja Mosimann, Abou-Chadi mengidentifikasi empat strategi programatik yang dapat ditempuh oleh partai sosial demokrat kontemporer:
- Old Left: Fokus pada isu-isu ekonomi tradisional, redistribusi, perlindungan pekerja, negara kesejahteraan.
- New Left: Menggabungkan kebijakan ekonomi progresif dengan posisi liberal pada isu-isu kultural.
- Centrist: Mengadopsi posisi sentris pada kedua dimensi, ekonomi dan kultural.
- Left National: Menggabungkan kebijakan ekonomi kiri dengan posisi konservatif pada isu-isu kultural, terutama imigrasi.
Tidak ada strategi yang secara jelas superior untuk semua konteks. Setiap strategi memiliki trade-offs: Ia mungkin menarik segmen pemilih tertentu sambil mengalienasi segmen lainnya. Hal yang penting, Abou-Chadi menolak gagasan bahwa ada satu "resep ajaib" yang bisa menyelamatkan demokrasi sosial. Sebaliknya, ia menekankan bahwa partai harus memahami struktur preferensi spesifik dari elektorat mereka.
Abou-Chadi tidak hanya fokus pada krisis partai kiri. Dalam karyanya bersama Denis Cohen dan Markus Wagner, "The centre-right versus the radical right: the role of migration issues and economic grievances" (2022), ia menganalisis bagaimana partai-partai kanan-tengah, Kristen demokrat, konservatif, liberal, menghadapi tantangan dari kanan jauh.
Temuan mereka penting: "Stabilitas keseluruhan kanan-tengah dalam hal pangsa suara menutupi pola kompetisi yang jelas antara kedua kelompok partai ini". Dengan menggunakan data European Social Survey dari tahun 2002, mereka menunjukkan bahwa "peran pandangan anti-migrasi dan keluhan ekonomi sebagai prediktor pilihan untuk kanan jauh versus partai kanan-tengah telah menguat seiring waktu".
Dalam podcast Stuk Rood Vlees, Abou-Chadi dengan blak-blakan menyebut situasi ini sebagai "clusterfk of the mainstream right", sebuah gambaran tentang bagaimana partai-partai kanan-tengah di banyak negara telah mengadopsi posisi kanan jauh dengan harapan merebut kembali pemilih, tetapi hanya berhasil memperkuat kanan jauh. Dalam kata-kata Abou-Chadi, seperti dikutip oleh The New Daily: "Mengapa pemilih akan memilih salinan jika mereka bisa mendapatkan yang asli?".
Salah satu kontribusi penting Abou-Chadi adalah analisisnya tentang hubungan antara ketidakamanan ekonomi dan dukungan untuk kanan jauh. Dalam artikel "Economic Risk within the Household and Voting for the Radical Right" (2021) yang ditulis bersama Thomas Kurer di World Politics, Abou-Chadi menyelidiki "bagaimana risiko pengangguran dalam rumah tangga mempengaruhi pemungutan suara untuk kanan jauh".
Temuannya menunjukkan bahwa bukan hanya pengalaman pengangguran yang mendorong dukungan untuk kanan jauh, tetapi juga risiko pengangguran, ketidakpastian tentang masa depan ekonomi. "Kemajuan terbaru dalam literatur menunjukkan peran ancaman ekonomi laten untuk memahami dukungan untuk partai kanan jauh". Ini adalah wawasan penting: Dukungan untuk kanan jauh tidak hanya berasal dari mereka yang telah "tertinggal," tetapi juga dari mereka yang takut akan tertinggal.
Dalam karyanya yang lebih baru, Abou-Chadi mengeksplorasi bagaimana struktur kelas masyarakat pasca-industri membentuk perilaku elektoral. Presentasinya di University of Hamburg pada April 2025, "A Party for 'Someone like Me', Towards a Theory of Party Competition and Group Identities," menunjukkan arah baru dalam risetnya: Bagaimana identitas kelompok, bukan hanya posisi kebijakan, mempengaruhi kompetisi partai. Ini adalah pengakuan bahwa pemilih tidak hanya memilih berdasarkan isu, tetapi juga berdasarkan "siapa yang seperti saya", sebuah dimensi yang sering diabaikan dalam model kompetisi spasial tradisional.
Relevansi Global
Jerman adalah laboratorium utama bagi kerangka Abou-Chadi. Kebangkitan Alternative für Deutschland (AfD), yang pada pemilu 2025 memperoleh 20% suara, menjadikannya partai terbesar kedua setelah CDU/CSU, adalah contoh buku teks dari lingkaran setan yang ia gambarkan.Abou-Chadi secara eksplisit mengkritik strategi partai-partai arus utama Jerman. Dalam wawancara dengan Süddeutsche Zeitung, ia menyatakan bahwa "CDU dan SPD dengan retorika mereka telah mendorong kebangkitan AfD". Fokus yang berlebihan pada imigrasi, deportasi, dan hubungan yang dipersepsikan antara imigrasi dan kriminalitas, alih-alih menantang narasi ini, partai-partai arus utama "telah bergeser ke kanan pada isu imigrasi, secara efektif memperkuat gagasan bahwa imigrasi adalah masalah".
Namun, Abou-Chadi juga mencatat bahwa Jerman "saat ini masih agak merupakan pencilan dalam mempertahankan 'cordon sanitaire' yang kuat, konsensus politik yang mengisolasi kanan jauh dari pemerintahan". Apakah konsensus ini akan bertahan adalah pertanyaan terbuka; seperti yang ia peringatkan, "kita telah melihat penghalang serupa terkikis di negara-negara Eropa lainnya seiring waktu".
Belanda menyediakan studi kasus yang sangat instruktif. Ketika Geert Wilders dan Partai untuk Kebebasan (PVV) menjadi partai terbesar pada pemilu 2023, partai arus utama kanan-tengah (VVD) di bawah Mark Rutte telah menghabiskan bertahun-tahun mengadopsi posisi yang semakin ketat terhadap imigrasi, persis seperti strategi akomodasi yang diuji oleh Abou-Chadi. Hasilnya, seperti yang diprediksi oleh kerangka Abou-Chadi, bukanlah pelemahan PVV melainkan penguatannya.
Dalam artikel di The Guardian, Abou-Chadi dan rekan-rekannya memperingatkan bahwa "ketika imigrasi menonjol, partai kanan-tengah, khususnya, kehilangan lebih banyak pemilih ke kanan jauh. Selain itu, ketika partai arus utama menormalisasi kanan jauh, faktor-faktor lain menjadi lebih penting ketika memilih di antara mereka, seperti pemimpin partai". Wilders, dengan persona karismatiknya yang kontroversial, muncul sebagai "asli" yang lebih otentik daripada partai-partai arus utama yang mencoba menirunya.
Di Prancis, kebangkitan Rassemblement National (RN) Marine Le Pen dan penurunan elektoral Les Républicains (LR), partai kanan-tengah tradisional Prancis, adalah contoh lain dari dinamika yang digambarkan Abou-Chadi. LR telah mencoba berbagai strategi untuk menghadapi RN, termasuk mengadopsi retorika yang semakin ketat terhadap imigrasi di bawah kepemimpinan Éric Ciotti. Namun, alih-alih merebut kembali pemilih dari RN, LR justru semakin terpinggirkan, sementara RN terus menguat.
Kerangka Abou-Chadi akan memprediksi hasil ini: Ketika partai arus utama mengadopsi posisi kanan jauh, mereka menormalisasi posisi tersebut dan membuat pemilih lebih mungkin untuk memilih "asli" (RN) daripada "tiruan" (LR).
Di Britania Raya, kemunculan Reform UK (sebelumnya Partai Brexit) sebagai penantang signifikan di sebelah kanan Partai Konservatif adalah contoh terbaru dari dinamika Abou-Chadi. Pada pemilu lokal 2025, Reform UK membuat kemajuan besar, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya merupakan basis Konservatif. Dalam sebuah thread Bluesky, Abou-Chadi mengomentari hasil ini: "Berdasarkan banyak riset kami sendiri, tentang lingkaran setan dukungan kanan jauh yang telah kita lihat di banyak negara... Mereka bergerak lebih ke kanan dan lingkaran setan berlanjut".
Denmark sering dikutip sebagai contoh tandingan, negara di mana partai arus utama kiri (Sosialdemokratiet) berhasil memenangkan pemilu dengan mengadopsi kebijakan imigrasi yang ketat. Apakah ini menyangkal kerangka Abou-Chadi?
Tidak sepenuhnya. Seperti yang dicatat Abou-Chadi, "pertanyaan tentang bagaimana menghadapi kanan jauh tetap ada", dan kasus Denmark adalah kasus yang kompleks. Penting untuk dicatat bahwa Sosialdemokratiet Denmark tidak hanya mengadopsi kebijakan imigrasi yang ketat; mereka juga mempertahankan kebijakan ekonomi kiri yang kuat. Ini adalah konfigurasi kebijakan yang berbeda dari partai-partai yang hanya bergeser ke kanan pada imigrasi tanpa menawarkan alternatif ekonomi yang jelas.
Lebih jauh, pertanyaan tentang keberlanjutan strategi Denmark masih terbuka. Apakah keberhasilan Sosialdemokratiet bersifat sementara atau permanen? Apakah ia telah menciptakan dinamika normalisasi yang akan menguntungkan kanan jauh dalam jangka panjang? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan riset lebih lanjut.
Kerangka Abou-Chadi, meskipun dikembangkan terutama untuk konteks Eropa, memiliki resonansi yang kuat di Amerika Serikat. Transformasi Partai Republik di bawah Donald Trump, dari partai kanan-tengah konvensional menjadi kendaraan untuk gerakan populis kanan, dapat dibaca sebagai contoh ekstrem dari dinamika yang digambarkan Abou-Chadi.
Partai Republik tidak "mengadopsi" posisi kanan jauh sebagai strategi elektoral yang diperhitungkan; ia telah ditransformasi menjadi partai kanan jauh. Ini adalah peringatan tentang apa yang bisa terjadi ketika partai arus utama terus-menerus mengakomodasi kanan jauh: Pada akhirnya, "tiruan" menjadi tidak bisa dibedakan dari "asli", atau, dalam kasus Partai Republik, "asli" telah mengambil alih "tiruan."
Konteks Indonesia
Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah: Apakah Indonesia memiliki partai kanan jauh dalam pengertian yang digunakan Abou-Chadi? Jawabannya adalah: Tidak persis, tetapi ada kemiripan yang mencolok.Dalam konteks Eropa, kanan jauh didefinisikan oleh kombinasi dari: (a) Nasionalisme etnis atau kultural, (b) Pposisi terhadap imigrasi, (c) Skeptisisme terhadap integrasi supranasional (UE), dan (d) Sering kali, nostalgia untuk masa lalu otoriter. Di Indonesia, tidak ada partai yang secara sempurna memenuhi semua kriteria ini.
Namun, ada partai-partai dan gerakan-gerakan yang menunjukkan beberapa ciri ini. Partai Gerindra, yang didirikan pada tahun 2008 sebagai kendaraan politik Prabowo Subianto, telah digambarkan oleh beberapa pengamat sebagai "partai populis sayap kanan nasionalis". Meskipun Gerindra tidak mengusung platform anti-imigrasi seperti partai-partai kanan jauh Eropa, Indonesia bukanlah negara tujuan imigrasi massal, retorikanya tentang kedaulatan nasional, penolakan terhadap intervensi asing, dan nostalgia untuk masa lalu yang kuat memiliki kemiripan tertentu dengan retorika kanan jauh Eropa.
Selain itu, gerakan-gerakan Islamis, dari Front Pembela Islam (FPI) yang kini dilarang hingga elemen-elemen dalam partai-partai seperti PKS, telah memobilisasi sentimen anti-minoritas dan xenofobia yang memiliki kemiripan fungsional dengan mobilisasi anti-imigran di Eropa. Contoh paling nyata adalah manipulasi politik krisis pengungsi Rohingya di Aceh menjelang Pemilu 2024, di mana "elemen sayap kanan mengeksploitasi kerentanan sosial dan ketidakpuasan ekonomi untuk keuntungan politik".
Kerangka Abou-Chadi tentang lingkaran setan normalisasi memiliki implikasi yang menarik untuk Indonesia. Apakah partai-partai arus utama Indonesia, PDIP, Golkar, Gerindra, PKB, dan lainnya, terlibat dalam semacam "normalisasi" wacana atau aktor-aktor politik tertentu? Jawabannya adalah ya, meskipun melalui mekanisme yang berbeda dari yang diamati Abou-Chadi di Eropa.
Pertama, normalisasi aktor politik. Bergabungnya Prabowo Subianto, seorang figur dengan sejarah yang kontroversial, ke dalam pemerintahan Jokowi pada 2019, dan kemudian kemenangannya sebagai presiden pada 2024, dapat dibaca dalam kerangka normalisasi. Ketika PDIP, partai pemenang pemilu legislatif 2024, akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan koalisi pemerintahan Prabowo alih-alih menjadi oposisi, ini adalah contoh dari apa yang mungkin disebut sebagai "normalisasi melalui inklusi."
Kedua, kartelisasi sebagai bentuk normalisasi. Fenomena "kartel partai" di Indonesia, di mana hampir semua partai signifikan bergabung dengan koalisi pemerintahan, meninggalkan hampir tidak ada oposisi, dapat dibaca sebagai bentuk normalisasi pada tingkat sistem. Seperti yang dicatat oleh Kyoto Review of Southeast Asia, "koalisi politik yang telah bermetamorfosis menjadi kartel sedang menggiring Indonesia menuju demokrasi yang melemahkan oposisi menuju 'demokrasi tanpa oposisi'".
Dalam kerangka Abou-Chadi, "mengintegrasikan kanan jauh tidak melemahkan mereka". Diterapkan pada konteks Indonesia: mengintegrasikan semua partai ke dalam koalisi pemerintahan tidak menghilangkan konflik politik; ia hanya memindahkannya dari arena elektoral ke arena internal koalisi, di mana ia kurang terlihat, kurang akuntabel, dan kurang demokratis.
Salah satu temuan yang paling relevan dari kerangka Abou-Chadi untuk Indonesia adalah penekanannya pada volatilitas elektoral dan bagaimana partai beradaptasi terhadapnya. Meskipun volatilitas elektoral di Indonesia telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, volatilitas antar-blok partai masih signifikan.
Partai-partai Indonesia menghadapi dilema yang serupa dengan partai-partai Eropa dalam kerangka Abou-Chadi: Bagaimana beradaptasi terhadap perubahan preferensi pemilih tanpa mengalienasi basis tradisional? Bagaimana merespons kemunculan penantang baru tanpa secara tidak sengaja memperkuat mereka?
Kerangka Abou-Chadi memiliki beberapa implikasi penting untuk strategi partai di Indonesia:
- Meniru penantang bukanlah strategi yang efektif. Jika sebuah partai baru muncul dengan platform tertentu, mengadopsi platform yang sama mungkin tidak akan merebut kembali pemilih, ia mungkin hanya akan memperkuat partai baru tersebut dengan melegitimasi isu yang diusungnya.
- Normalisasi melalui inklusi berisiko. Membawa semua partai ke dalam koalisi pemerintahan mungkin tampak seperti strategi yang aman dalam jangka pendek, tetapi ia menciptakan dinamika yang berbahaya dalam jangka panjang: tanpa oposisi yang efektif, tidak ada mekanisme akuntabilitas, dan pemilih yang tidak puas mungkin beralih ke aktor-aktor non-partai yang lebih radikal.
- Partai harus memahami preferensi multidimensional pemilih. Seperti yang ditunjukkan oleh riset Abou-Chadi tentang Eropa, pemilih mengevaluasi partai pada setidaknya dua dimensi, ekonomi dan kultural. Partai-partai Indonesia yang hanya menawarkan koalisi transaksional tanpa substansi kebijakan yang jelas di kedua dimensi ini akan semakin kehilangan relevansi dengan pemilih yang semakin kritis dan terdidik.
Penting untuk mengakui keterbatasan dari menerapkan kerangka yang dikembangkan terutama untuk demokrasi Eropa Barat ke konteks Indonesia:
- Struktur pembelahan yang berbeda. Politik Indonesia tidak terstruktur di sekitar konflik kelas atau imigrasi seperti di Eropa. Aliran (abangan, santri, priyayi), agama, dan identitas etnis memainkan peran yang lebih besar.
- Tingkat pelembagaan partai yang lebih rendah. Partai-partai Indonesia umumnya kurang terlembaga dibandingkan partai-partai Eropa. Ini berarti bahwa dinamika internal partai, yang menjadi fokus analisis Abou-Chadi tentang respons strategis, mungkin bekerja secara berbeda di Indonesia.
- Peran personalisme. Politik Indonesia sangat personalistik. Popularitas figur individu sering kali lebih penting daripada label partai atau posisi kebijakan. Ini adalah dimensi yang tidak sepenuhnya tertangkap dalam kerangka Abou-Chadi yang berfokus pada partai sebagai aktor korporat.
Terlepas dari keterbatasan tersebut, kerangka Abou-Chadi menawarkan beberapa pelajaran penting bagi demokrasi Indonesia:
- Oposisi yang efektif adalah esensial untuk demokrasi yang sehat. Kartelisasi, di mana semua partai bergabung dengan koalisi pemerintahan, menghilangkan mekanisme akuntabilitas yang vital. Indonesia memerlukan setidaknya satu partai signifikan yang bersedia menjadi oposisi yang loyal dan konstruktif, mengkritik pemerintah ketika diperlukan tetapi tanpa mendelegitimasi sistem demokrasi itu sendiri.
- Strategi elektoral harus berbasis bukti, bukan asumsi. Terlalu sering, partai-partai politik mengadopsi strategi berdasarkan intuisi atau konvensi yang tidak teruji. Kerangka Abou-Chadi mengingatkan kita bahwa asumsi-asumsi ini, seperti "mengadopsi posisi kanan jauh akan merebut kembali pemilih", harus diuji secara empiris.
- Normalisasi adalah proses, bukan peristiwa. Peringatan Abou-Chadi tentang lingkaran setan normalisasi sangat relevan: setiap langkah kecil menuju normalisasi membuat langkah berikutnya lebih mudah. Partai-partai demokratis harus waspada terhadap godaan untuk mengambil "jalan pintas" yang tampaknya menguntungkan dalam jangka pendek tetapi merusak dalam jangka panjang.
Penutup
Sampailah kita di penghujung diktat ini. Mari kita rengkuh kembali benang merah dari seluruh perjalanan intelektual kita. Tarik Abou-Chadi telah memberikan kepada kita sebuah kerangka yang sangat berharga, dan, jujur saja, sedikit menggelisahkan, untuk memahami dinamika elektoral kontemporer. Melalui risetnya yang ketat secara metodologis dan berani secara intelektual, ia telah menunjukkan bahwa:- Partai arus utama merespons secara berbeda terhadap berbagai jenis penantang niche. Kesuksesan partai kanan jauh mendorong partai arus utama untuk bergeser ke kanan pada isu imigrasi, sementara kesuksesan partai hijau mendorong mereka untuk mengurangi penekanan pada isu lingkungan.
- Efek ini bersifat kausal, bukan sekadar korelasional. Dengan menggunakan regression discontinuity design, Abou-Chadi dan Krause mendemonstrasikan bahwa pergeseran kebijakan partai arus utama dapat diatribusikan secara kausal kepada kesuksesan kanan jauh, bukan hanya kepada perubahan opini publik.
- Strategi akomodasi, mengadopsi posisi kanan jauh untuk merebut kembali pemilih, tidak berhasil. Justru sebaliknya: strategi ini cenderung memperkuat kanan jauh dengan melegitimasi isu-isu dan posisi mereka.
- Lingkaran setan normalisasi adalah proses di mana partai arus utama, melalui respons strategis mereka sendiri, secara tidak sengaja memperkuat kanan jauh dan mengikis norma-norma demokratis.
- Krisis partai arus utama, baik kiri maupun kanan, adalah hasil dari perubahan struktural dalam masyarakat pasca-industri yang menciptakan dilema elektoral yang sulit, bukan sekadar dari kegagalan strategi.
Untuk Indonesia, kerangka Abou-Chadi menawarkan wawasan yang berharga meskipun konteksnya sangat berbeda. Ancaman normalisasi, bahaya kartelisasi, dan perlunya oposisi yang efektif adalah pelajaran-pelajaran yang sangat relevan bagi demokrasi Indonesia kontemporer.
Pada akhirnya, mempelajari Tarik Abou-Chadi adalah mempelajari bahwa dalam politik, seperti dalam kedokteran, diagnosis yang tepat adalah prasyarat untuk pengobatan yang efektif. Terlalu sering, partai-partai politik mendiagnosis tantangan yang mereka hadapi secara keliru, dan karenanya meresepkan obat yang justru memperburuk penyakit. Abou-Chadi menawarkan diagnosis yang lebih baik, berdasarkan bukti dan analisis yang ketat. Terserah kepada para praktisi politik, dan kepada kita sebagai warga negara, untuk menggunakan diagnosis ini untuk merumuskan respons yang lebih efektif terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi demokrasi kontemporer.
Referensi
Abou-Chadi, T. (2016). Niche party success and mainstream party policy shifts, how green and radical right parties differ in their impact. British Journal of Political Science, 46(2), 417–436.Abou-Chadi, T. (2025, Desember). The vicious cycle of far-right success in Europe. Brussels Democracy Papers. Friedrich-Ebert-Stiftung.
Abou-Chadi, T., & Krause, W. (2020). The causal effect of radical right success on mainstream parties' policy positions: A regression discontinuity approach. British Journal of Political Science, 50(3), 829–847.
Abou-Chadi, T., & Kurer, T. (2021). Economic risk within the household and voting for the radical right. World Politics, 73(3), 482–511.
Abou-Chadi, T., & van Teutem, S. (2024, April 15). Reform UK's rise may tempt Sunak into moving further right. Let the Netherlands be a cautionary tale. The Guardian.
Abou-Chadi, T., & Wagner, M. (2019). The electoral appeal of party strategies in postindustrial societies: When can the mainstream left succeed? The Journal of Politics, 81(4), 1405–1419.
Abou-Chadi, T., & Wagner, M. (2024). Losing the middle ground: The electoral decline of social democratic parties since 2000. Dalam S. Häusermann & H. Kitschelt (Eds.), Beyond social democracy: The transformation of the left in emerging knowledge societies (pp. xx–xx). Cambridge University Press.
Abou-Chadi, T., Cohen, D., & Wagner, M. (2022). The centre-right versus the radical right: The role of migration issues and economic grievances. Journal of Ethnic and Migration Studies, 48(2), 366–384.
Abou-Chadi, T., Häusermann, S., Mitteregger, R., & Mosimann, N. (2024). Old left, new left, centrist, or left national? Determinants of support for different social democratic programmatic strategies. Dalam S. Häusermann & H. Kitschelt (Eds.), Beyond social democracy: The transformation of the left in emerging knowledge societies (pp. xx–xx). Cambridge University Press.
Häusermann, S., & Kitschelt, H. (Eds.). (2024). Beyond social democracy: The transformation of the left in emerging knowledge societies. Cambridge University Press.
Kitschelt, H. (1994). The transformation of European social democracy. Cambridge University Press.
Krause, W., Cohen, D., & Abou-Chadi, T. (2022). Does accommodation work? Mainstream party strategies and the success of radical right parties. Political Science Research and Methods, 11(1), 172–179.
Meguid, B. M. (2005). Competition between unequals: The role of mainstream party strategy in niche party success. American Political Science Review, 99(3), 347–359.
Meguid, B. M. (2008). Party competition between unequals: Strategies and electoral fortunes in Western Europe. Cambridge University Press.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.