Mengapa harga BBM di Indonesia mahal? Jawaban pendeknya: ini bukan semata soal bodoh atau pintar, ini soal siapa yang diuntungkan dari mahalnya BBM itu sendiri. Mari kita bongkar satu per satu permasalahan lingkaran setan dan tak seorang presiden pun berani membasmi. Lestarikanlah kekayaan Anda, karena negara ini milik Anda, bukan milik kita.
1. Apakah Pemerintahnya Bodoh?
Tidak bodoh. Justru banyak orang pintar di sana. Menteri ESDM, jajaran SKK Migas, Dewan Energi Nasional, hingga Pertamina diisi oleh insinyur dan doktor lulusan universitas terbaik dunia. Masalahnya, kepintaran mereka seringkali dipakai untuk merasionalisasi kebijakan yang menguntungkan lingkaran tertentu, bukan untuk membela kepentingan publik secara maksimal.
Mereka tahu persis bahwa membangun kilang di dalam negeri akan memutus rantai impor yang selama ini jadi bancakan. Mereka tahu bahwa kontrak-kontrak Cost Recovery era Soeharto menggerogoti penerimaan negara. Mereka tahu bahwa mekanisme ICP menjual minyak kita dengan harga pasar. Semua data itu lengkap di meja mereka. Tapi ada kekuatan yang lebih besar dari sekadar pengetahuan: kepentingan politik dan bisnis.
2. Tidak Ada Ahli Perminyakan di Indonesia?
Ada, dan mereka sangat kompeten. Insinyur Indonesia mengelola kilang di dalam dan luar negeri. Namun, suara ahli sering tenggelam oleh "sinyal dari atas" yang lebih memilih jalan pintas impor daripada investasi jangka panjang yang butuh keberanian politik.
Mengapa? Karena membangun kilang itu mahal, lambat, dan tidak menghasilkan "keuntungan instan" bagi para pemburu rente, sementara mengimpor BBM jadi itu cepat, bisa langsung diperdagangkan, dan celah-celah markup harganya lebih longgar. Ahli kita tahu semua itu, tapi keputusan akhir bukan di tangan mereka.
3. Pemerintah Doyan Makan Rente (Riba)?
Ini yang paling dekat dengan realitas lapangan. Bukan seluruh pemerintah, tapi ada jaringan oligarki dan mafia energi yang sudah lama bersarang di rantai pasok migas Indonesia. Istilah "mafia migas" bukan isapan jempol; ia punya wajah dan telah terkonfirmasi dalam berbagai kasus.
Rentenya bukan dalam bentuk riba bank, tetapi rente kebijakan dan rente perdagangan. Celahnya antara lain:
Impor BBM oleh trader swasta. Pertamina tidak sendirian. Ada perusahaan-perusahaan "platinum" yang diberi kuota impor BBM dan minyak mentah. Margin dari selisih harga itu dinikmati oleh segelintir orang.
Mark-up dalam pengadaan. Kasus-kasus seperti kondensat dijual murah lalu dibeli kembali sebagai BBM dengan harga tinggi, atau praktik blending yang melanggar spesifikasi, menunjukkan adanya "uang main" yang mengalir ke saku pejabat dan pengusaha.
Penyelundupan dan "minyak ilegal legal". Minyak mentah Indonesia sering hilang di tengah laut, dijual ke kapal asing tanpa izin. Yang ironis, negara lalu mengimpor BBM yang mungkin berasal dari minyak kita sendiri.
Jadi, "makan rente" itu bukan sekadar tuduhan, tapi model bisnis yang terstruktur. Harga BBM mahal karena sebagian komponen harganya adalah "uang siluman" yang harus dibayar oleh rakyat.
Simpulan tanpa bungkus:
Harga BBM di Indonesia mahal bukan karena pemerintah tidak punya orang pintar, melainkan karena keputusan strategis sengaja diarahkan untuk mempertahankan ketergantungan pada impor yang sangat menguntungkan bagi para pemburu rente. Ini adalah simbiosis antara politisi, birokrat, pengusaha hitam-putih, dan jaringan internasional. Mereka tidak akan membiarkan Indonesia punya kilang besar yang membuat kita swasembada, karena swasembada berarti berakhirnya bancakan.
Ahli kita tahu itu. Media sosial tahu itu. Anda tahu itu. Sekarang, yang lebih penting: setelah tahu, apa yang bisa dilakukan?

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.