Tradisi yang kita sebut “Eksistensialisme” selalu menolak untuk dikebiri menjadi sekadar “isme”, sebuah sistem gagasan yang rapi, kering, dan tuntas. Ia lebih menyerupai sebuah aliran sungai bawah tanah yang menembus bentang waktu dan geografi, menyembul ke permukaan dalam pelbagai wujud: di dalam catatan-catatan seorang matematikawan jenius yang menyulam jaketnya dengan api (Pascal); di dalam laku dramatis seorang bungkuk Denmark yang menulis dengan lusinan nama samaran demi menyelamatkan iman dari cengkeraman sistem (Kierkegaard); di dalam novel-novel tebal seorang epileptik Rusia yang menjadikan ruang interogasi sebagai laboratorium kebebasan (Dostoevsky); hingga di atas panggung teater tempat dua orang gelandangan menunggu sesuatu yang tak kunjung datang sambil mempertanyakan apakah kata-kata masih bermakna (Beckett).
Perhatikanlah bagaimana buku ini disusun. Anda tidak akan langsung digiring ke “puncak” eksistensialisme, yaitu Sartre atau Heidegger. Sebaliknya, Anda diajak untuk memulai dari seorang pemikir abad ke-17, Blaise Pascal, yang melihat manusia sebagai nothing, ketiadaan yang terhimpit di antara dua infinitas. Dari sana, kita menapaki kegelisahan Kierkegaard, masuk ke laboratorium novel Dostoevsky, lalu sejenak berhenti di “bengkel metodologi” yang dibangun oleh Edmund Husserl. Ya, Husserl, sang matematikawan yang barangkali tidak pernah melabeli dirinya sebagai eksistensialis, tetapi yang justru menyediakan alat, fenomenologi, untuk membedah pengalaman hidup sehari-hari yang konkret, yang terlupakan oleh abstraksi sains dan filsafat. Tanpa Husserl, gagasan tentang “diri yang terlempar ke dunia” dari Heidegger, atau “tubuh yang menghayati” dari Merleau-Ponty, akan kehilangan pijakan metodisnya.
Inilah yang membuat buku ini istimewa: ia tidak memotong akar. Ia menunjukkan bahwa Eksistensialisme adalah sebuah gerakan organik. Anda akan melihat bagaimana benih yang ditanam Pascal tentang “hati yang mempunyai nalarnya sendiri” bertunas menjadi “kebenaran subyektif” Kierkegaard. Anda akan menyaksikan bagaimana kritik Dostoevsky terhadap utopia rasionalistik berbuah menjadi perlawanan Camus terhadap absurditas dan kritik Shestov terhadap “keniscayaan”. Anda akan dibimbing untuk memahami mengapa analisis Heidegger tentang “Ada-menuju-kematian” (Sein-zum-Tode) begitu penting untuk memahami konsep kebebasan radikal Sartre, dan bagaimana gagasan itu kemudian dikoreksi dengan lembut oleh Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty yang menempatkan tubuh dan situasi sebagai elemen yang tak terhindarkan dari kebebasan kita.
Buku ini juga melakukan sebuah keadilan sejarah dengan menampilkan suara-suara yang sering kali hanya menjadi catatan kaki. Siapa yang membaca Gabriel Marcel dan gagasannya tentang “Misteri versus Problem” yang begitu kontras dengan obsesi dunia modern yang teknokratis? Siapa yang masih ingat pada Lev Shestov, sang filsuf dari Kiev yang dengan beraninya menyatakan bahwa filsafat harus dimulai dari tragedi, bukan dari keseharian yang tenteram? Atau pada Paul Tillich, pendeta yang berdiri di parit-parit Perang Dunia I dan kehilangan imannya, hanya untuk menemukannya kembali bukan sebagai dogma, melainkan sebagai “kepedulian ultim” yang mengatasi kecemasan akan ketiadaan? Dan, tentu saja, kehadiran Simone Weil, yang hampir biarawati namun menolak baptisan, mengingatkan kita bahwa eksistensialisme sejati bukan hanya tentang “aku”, tetapi tentang perhatian radikal kepada yang lain, hingga pada titik “dekreasi” di mana kita rela menghilang agar dunia dan sesama dapat muncul sepenuhnya.
Dengan menghadirkan para pemikir dari Rusia, Spanyol, Prancis, Jerman, Denmark, dan Rumania, buku ini membentangkan lanskap yang tak hanya Paris-sentris. Anda akan menemukan vitalisme Miguel de Unamuno yang mendambakan keabadian dalam “rasa tragis kehidupan”, serta José Ortega y Gasset yang mengingatkan kita bahwa “aku adalah aku dan keadaanku”, sebuah penolakan elegan terhadap individualisme abstrak. Anda juga akan bertemu dengan Eugène Ionesco, yang melalui lakon-lakon absurdnya, menunjukkan bahwa kematian makna bisa lebih mengerikan daripada kematian fisik.
Inilah peta yang terbentang di hadapan Anda. Peta menuju diri yang otentik. Setiap bab dalam buku ini bukanlah sekadar uraian akademis yang steril. Ia menyajikan konsep-konsep kunci, ya, tetapi juga menyelipkan “gambaran ideosinkretik”, potret manusiawi yang sering kali rapuh, lucu, menyedihkan, dan heroik dari para filsuf ini. Anda akan menemukan bahwa Pascal adalah si jenius yang rapuh, Camus adalah penjaga gawang yang berparas Bogart, dan Sartre adalah mata juling yang menolak Nobel. Semua itu bukan sekadar gosip, melainkan kunci untuk memahami bahwa pemikiran mereka lahir dari daging, darah, dan air mata; bukan dari ruang hampa.
Akhirnya, setiap bab menutup dengan sebuah pertanyaan yang paling krusial: apa faedahnya bagi kehidupan kita hari ini? Sebab, eksistensialisme yang sejati menolak untuk menjadi sekadar artefak museum. Ia adalah pisau bedah untuk mendiagnosis penyakit modernitas: alienasi, konformitas “manusia massa”, kecemasan, dan pelarian diri ke dalam “hiburan” yang dinamai Pascal sebagai divertissement. Di tengah gempuran algoritma dan kenyamanan dangkal yang menyelimuti kita, suara-suara dalam buku ini menjadi sedemikian relevan. Mereka memanggil kita untuk berhenti lari, untuk menghayati kecemasan sebagai guru, dan untuk memilih menjadi manusia otentik di tengah kerumunan yang selalu ingin menelan individualitas kita.
Selamat membaca. Selamat berziarah. Sebab, sebagaimana yang akan Anda temukan dalam halaman-halaman ini, membaca eksistensialisme bukanlah sekadar kegiatan intelektual. Ia adalah sebuah latihan transformasi eksistensial. Biarkan para pemikir ini menjadi teman dialog Anda, biarkan mereka mengganggu tidur dogmatis Anda, dan biarkan mereka membimbing Anda untuk menemukan bahwa di balik absurditas dan kecemasan, selalu ada kemungkinan untuk sebuah keberanian menjadi.
Selamat menjelajahi samudra eksistensi Anda sendiri.
Blaise Pascal (1623–1662)
Pembaca yang baik hati, yang kini telah mengangguk dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Kopi hangat masih mengepul di cangkirmu. Malam mungkin mulai larut, atau mungkin fajar baru saja merekah di tempatmu. Apapun waktunya, ini adalah waktu yang tepat. Karena pemikiran Blaise Pascal bukanlah pemikiran untuk siang bolong yang ramai dan riuh. Ia adalah pemikiran untuk malam yang sunyi, saat kita sendirian di kamar, dan tiba-tiba bertanya: "Apa sebenarnya yang sedang kulakukan di dunia ini?"
Mari kita mulai. Duduklah dengan tenang. Kali ini, kita akan mengisahkan seorang manusia yang mungkin paling mengerti kegelisahanmu.
Eksistensialisme Sebelum Eksistensialisme
Ketika kita mendengar kata "Eksistensialisme", bayangan kita langsung melompat ke kafe-kafe di Paris tahun 1940-an. Kita melihat Jean-Paul Sartre dengan kacamata tebal dan pipa rokoknya, atau Albert Camus dengan jas trench coat-nya yang keren. Rasanya, eksistensialisme adalah produk khas Eropa abad ke-20 yang muak dengan Perang Dunia.
Namun, sejarah pemikiran seringkali mengecoh kita.
Jauh sebelum Kierkegaard menulis tentang "kecemasan" (angst), jauh sebelum Heidegger mengguncang dunia dengan Being and Time, dan jauh sebelum Sartre meneriakkan bahwa "eksistensi mendahului esensi", ada seorang pria kurus dengan tubuh yang digerogoti penyakit. Ia tinggal di Prancis abad ke-17. Ia bukan seorang filsuf profesional. Ia adalah seorang matematikawan brilian, seorang penemu mesin hitung, dan seorang fisikawan yang membuktikan bahwa udara memiliki tekanan.
Namanya Blaise Pascal.
Dan dialah, bisa dikatakan, eksistensialis pertama dalam sejarah filsafat Barat modern.
Mengapa ia layak menyandang gelar itu? Karena Pascal adalah orang pertama yang tidak puas hanya bertanya, "Apa itu alam semesta?" Sebagai gantinya, ia bertanya dengan suara bergetar, "Mengapa aku ada di sini? Apa artinya menjadi manusia yang fana di tengah keheningan ruang angkasa yang tak terbatas?"
Itu pertanyaan eksistensial sejati.
Siapakah Pascal
Untuk memahami filsafatnya, Pembaca, kita harus mengenal manusianya dulu. Pascal bukanlah pemikir yang duduk manis di menara gading. Ia adalah sebuah paradoks berjalan. Hidupnya adalah pertarungan terus-menerus antara dua kutub yang tampaknya bertolak belakang, namun justru di situlah letak kejeniusannya.
Si Jenius yang Rapuh
Bayangkan seorang anak yang di usia 12 tahun, tanpa buku teks, sendirian menemukan ulang sebagian besar geometri Euclid. Di usia 18 tahun, ia menciptakan mesin hitung mekanis pertama di dunia, kalkulator primitif yang ia patenkan untuk membantu ayahnya yang bekerja sebagai pemungut pajak. Di usia 20-an, ia bereksperimen dengan tabung kaca dan merkuri, membuktikan bahwa tekanan atmosfer itu nyata, sekaligus menghancurkan dogma kuno bahwa "alam tidak menyukai kekosongan".
Inilah Pascal sang ilmuwan. Otaknya seperti laser yang membedah realitas fisik.
Tetapi, pada saat yang sama, tubuhnya seperti penjara yang rapuh. Sejak usia 18 tahun, Pascal hampir tidak pernah sehat sehari pun. Catatan medis dari zamannya (meski masih primitif) menggambarkan gejala-gejala yang oleh dokter modern didiagnosis sebagai kombinasi dari tuberkulosis usus, kanker lambung, dan kerusakan saraf yang amat parah. Sakit kepala migrain yang bisa melumpuhkannya berhari-hari. Sakit gigi yang membuatnya tidak bisa tidur. Perut yang selalu mual.
Bagi kebanyakan orang, rasa sakit kronis seperti itu akan menjadi penghalang untuk berpikir jernih. Tetapi bagi Pascal, justru rasa sakit ini yang menjadi guru eksistensialnya yang paling kejam sekaligus paling jujur.
Rasa sakit mengajarinya satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh geometri: bahwa manusia itu rapuh, kontradiktif, dan suatu hari akan mati.
Si Mistikus yang Menjahit "Api" di Jaketnya
Kemudian, terjadilah peristiwa yang mengubah segalanya.
Pada malam 23 November 1654, Pascal mengalami sebuah pengalaman mistis yang begitu dahsyat. Ia sendiri menyebutnya sebagai "Malam Api" (La Nuit de Feu). Ia tidak pernah menjelaskan detailnya kepada siapa pun, tetapi ia menuliskannya di secarik perkamen:
"Api. Tuhan Abraham, Ishak, dan Yakub. Bukan Tuhan para filsuf dan cendekiawan. Kepastian. Kepastian. Perasaan. Sukacita. Kedamaian. Tuhan Yesus Kristus."
Pembaca, perhatikan baik-baik kalimat itu. Pascal, seorang ilmuwan yang seluruh hidupnya menggunakan akal, secara tiba-tiba berkata: "Bukan Tuhan para filsuf dan cendekiawan."
Ini adalah sebuah deklarasi perang terhadap rasionalisme dari seseorang yang justru menjadi pilar rasionalisme itu sendiri!
Setelah malam itu, Pascal menjahit perkamen tadi ke dalam lapisan jaketnya, dan memindahkannya setiap kali ia ganti baju, selama delapan tahun sisa hidupnya. Ia benar-benar membawa "Api" itu di dadanya, sebagai kompas eksistensial pribadi.
Apa yang bisa kita simpulkan dari ini? Idiosinkrasi Pascal terletak pada ketegangan abadi antara ilmuwan dan mistikus, antara matematikawan dan peziarah. Ia tidak membuang akalnya, tetapi ia melampaui akalnya. Dan dari ketegangan inilah, lahirlah mahakaryanya.
Mahakarya yang Tak Selesai
Pascal tidak pernah menulis buku filsafat yang rapi, tersistematis, dan dibagi dalam bab-bab yang apik seperti karya Aristoteles atau Thomas Aquinas. Yang ia tinggalkan adalah tumpukan kertas yang kacau.
Setelah kematiannya, para pelayannya menemukan hampir seribu fragmen yang ditulis di atas kertas-kertas kecil. Ada yang panjangnya satu paragraf, ada yang hanya satu kalimat. Ada yang berupa dialog imajiner dengan seorang teman. Ada yang berupa serpihan doa. Ada pula yang merupakan diagram atau coretan. Kumpulan fragmen inilah yang kemudian disunting dan diterbitkan dengan judul Pensées (Pikiran-Pikiran).
Mengapa bentuknya seperti itu? Bukan karena Pascal malas atau tidak sempat, Pembaca. Melainkan karena bentuk fragmen itu sendiri adalah ekspresi dari filsafatnya. Realitas manusia, bagi Pascal, tidak pernah rapi dan logis seperti teorema. Hidup itu terfragmentasi, penuh lompatan, kontradiksi, dan keterkejutan. Jadi, mengapa harus menulis buku yang rapi?
Pensées adalah labirin kata-kata. Dan di dalam labirin itu, kita akan menemukan konsep-konsep kunci yang membuat Pascal layak disebut sebagai eksistensialis pertama.
Konsep-Konsep Kunci Eksistensialisme Pascal
Sekarang, Pembaca, mari kita masuki inti dari pemikiran Pascal. Saya akan menggunakan analogi-analogi yang semoga bisa mengantarkan pemahamanmu dengan lembut.
Konsep 1 Manusia sebagai "Nothing" di Antara Dua Infinitas
Ini adalah fondasi dari seluruh pemikiran eksistensial Pascal. Buka Pensées, dan engkau akan menemukan fragmen yang sangat terkenal ini, sering disebut sebagai "Disproporsi Manusia":
"Biarlah manusia merenungkan seluruh alam dalam keluhuran penuh dan agungnya... biarkan ia melihat di sana suatu ketidakterbatasan. Tetapi, untuk memberinya gambaran lain yang sama mencengangkannya, biarkan ia mencari benda-benda yang paling kecil... Siapa pun yang merenungkan dirinya dengan cara ini akan merasa ngeri pada dirinya sendiri."
(Pascal, Pensées, Fragmen 199/72 dalam penomoran Lafuma/Brunschvicg)
Apa yang Pascal katakan di sini?
Mari kita gunakan analogi teleskop dan mikroskop. Bayangkan, Pembaca, engkau diberi teleskop super canggih. Engkau mengarahkannya ke langit, dan engkau melihat galaksi-galaksi, nebula, bintang-bintang yang jaraknya jutaan tahun cahaya. Engkau merasa kecil. Sangat kecil. Lalu, engkau mengambil mikroskop super. Engkau melihat kutu di kulitmu. Engkau memperbesarnya. Engkau melihat bakteri. Engkau melihat molekul. Engkau melihat atom. Di dalam atom, ada proton, elektron, quark. Engkau merasa... raksasa? Tidak. Engkau merasa hilang.
Manusia, kata Pascal, terperangkap di antara dua jurang: Infinitas yang maha besar (alam semesta) dan infinitas yang maha kecil (dunia subatomik).
Kita bukanlah apa-apa. Kita hanyalah "tengah-tengah" yang absurd. Sebuah titik yang tidak berarti di antara dua lautan ketidakterbatasan. Bayangkan engkau berdiri di atas panggung, tetapi panggung itu melayang di antara dua kegelapan abadi. Itulah posisi eksistensial manusia.
Dan di sinilah letak kecemasan eksistensial Pascal:
Alam semesta tidak peduli padamu. Ia tidak punya makna bawaan. Ia hanya ada, bisu, dingin, dan raksasa. Manusia, yang merindukan makna, kehangatan, dan jawaban, berteriak di dalam kehampaan itu. Tetapi yang kembali hanyalah gema suaranya sendiri.
Inilah yang kemudian dirumuskannya dalam kalimat paling mengerikan yang pernah ditulis dalam bahasa Prancis:
"Le silence éternel de ces espaces infinis m'effraie."
"Keheningan abadi dari ruang-ruang tak terbatas ini membuatku ngeri."
(Pascal, Pensées, Fragmen 201/206)
Analoginya begini. Engkau sendirian di sebuah gedung teater raksasa pada tengah malam. Semua lampu mati. Semua kursi kosong. Engkau naik ke panggung, dan berteriak sekeras-kerasnya, "Halo! Apakah ada orang di sini?" Tidak ada jawaban. Hanya gema. Lalu sunyi kembali. Itulah "keheningan abadi" yang dimaksud Pascal.
Para filsuf sebelumnya, Descartes, misalnya, melihat alam semesta sebagai mesin yang tertib, yang bisa dipahami oleh akal, dan yang membuktikan adanya Tuhan. Pascal berkata, "Tidak." Akal memang bisa memahami bagaimana alam bekerja (tekanan udara, geometri), tetapi ia tidak bisa menjawab mengapa alam ada, dan mengapa aku harus ada di dalamnya. Alam semesta adalah sebuah teka-teki yang tidak memberikan petunjuk apapun.
Inilah yang oleh para eksistensialis abad ke-20 (terutama Camus) kemudian disebut sebagai Absurditas: benturan antara jeritan manusia akan makna dan kebisuan alam semesta.
Konsep 2, "Hati Mempunyai Nalarnya Sendiri"
Jika akal tidak bisa memberikan makna, lantas apa yang bisa? Di sinilah Pascal memperkenalkan pembedaan revolusionernya antara l'esprit de géométrie (semangat geometri) dan l'esprit de finesse (semangat kehalusan/intuisi).
- Semangat Geometri adalah cara berpikir ilmuwan: logis, langkah demi langkah, deduktif, matematis, dingin. Ini adalah alat untuk memahami benda-benda fisik, tekanan udara, dan aturan permainan kartu (Pascal adalah pionir teori probabilitas).
- Semangat Kehalusan adalah cara berpikir manusiawi: ia menangkap kebenaran secara langsung, intuitif, melalui perasaan, cinta, keindahan, dan lompatan iman. Ini adalah alat untuk memahami eksistensi manusia, penderitaan, dan Tuhan.
"Le coeur a ses raisons que la raison ne connaît point."
"Hati mempunyai nalar-nelarnya sendiri, yang sama sekali tidak dikenal oleh nalar."
(Pascal, Pensées, Fragmen 423/277)
Sekarang, mari kita gunakan analogi radio yang rusak. Bayangkanlah realitas itu seperti spektrum gelombang radio yang luas. Akal manusia adalah sebuah radio FM yang sangat canggih. Ia bisa menangkap frekuensi sains, matematika, logika, sangat jernih, sangat presisi. Tetapi, ada "frekuensi eksistensial" yang tidak bisa ditangkap oleh radio FM. Frekuensi cinta. Frekuensi keindahan. Frekuensi kesedihan yang mendalam saat mendengar lagu pengantar tidur. Frekuensi Tuhan. Radio FM kita tidak akan menangkapnya. Ia hanya akan mengeluarkan desisan statis (noise).
Lalu, bagaimana kita bisa "mendengar" frekuensi itu? Pascal menjawab: dengan hati.
"Ini tidak ilmiah!" seru para ilmuwan. Pascal akan tersenyum dan menjawab, "Memang. Dan justru itulah buktinya bahwa realitas tidak bisa direduksi hanya pada sains."
Ini bukan anti-intelektualisme, Pembaca. Pascal tidak pernah menyuruh kita berhenti berpikir. Ia sendiri tidak pernah berhenti menjadi ilmuwan. Tetapi ia menolak imperialisme akal, klaim bahwa akal adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Ada kebenaran-kebenaran eksistensial yang hanya bisa "diketahui" dengan hati: bahwa hidup ini berharga, bahwa kita mencintai seseorang, bahwa kita merindukan yang transenden.
Ini adalah pukulan telak bagi proyek Pencerahan yang baru saja dimulai oleh Descartes. Descartes berkata, "Aku berpikir, maka aku ada" (Cogito, ergo sum). Pascal membalas dengan bisikan, "Aku merasakan, maka aku ada. Aku cemas, maka aku ada. Aku mencintai, maka aku ada."
Konsep 3, Kondisi Manusia, "Kemuliaan yang Hancur"
Nah, setelah memahami dua konsep di atas, kita sampai pada inti antropologi Pascal: manusia adalah paradoks yang berjalan.
Lihatlah dirimu sendiri, kata Pascal. Apa yang engkau lihat?
"Sungguh suatu makhluk chimera [monster imajinasi] betapa manusia itu! Sungguh suatu hal yang baru, suatu kekacauan, suatu subyek kontradiksi, suatu keajaiban! Hakim atas segala sesuatu, cacing tanah yang bodoh; penyimpan kebenaran, tangki ketidakpastian dan kesalahan; kemuliaan dan sampah alam semesta."
(Pascal, Pensées, Fragmen 131/434)
Analogi lainnya adalah raja yang dibuang di selokan. Bayangkanlah seorang raja yang agung. Ia memiliki mahkota, takhta, dan kebijaksanaan. Tetapi tiba-tiba, ia dirampok, ditelanjangi, dan dibuang ke dalam selokan yang penuh lumpur. Ia masih merasa seperti seorang raja. Ia masih memiliki ingatan akan kemuliaannya. Tetapi realitasnya, ia adalah pengemis yang kotor.
Itulah manusia, kata Pascal. Kita adalah "raja yang dipecat" (un roi dépossédé).
- Kemuliaan kita adalah akal budi, kesadaran, kemampuan untuk mencintai dan mencipta.
- Kebusukan kita adalah kefanaan, tubuh yang sakit, dan kecenderungan untuk berbuat jahat, egois, dan menipu diri sendiri.
Kita ingin menjadi malaikat, tetapi kita terikat pada tubuh yang membusuk. Kita ingin mengetahui segalanya, tetapi otak kita hanya seonggok daging sebesar kepalan tangan. Kita bermimpi tentang keabadian, tetapi kita akan mati besok pagi. Inilah "kondisi manusia" (la condition humaine): sebuah kontradiksi yang menyakitkan.
Apa bukti dari "kebesaran" kita di tengah kebusukan ini? Justru kesadaran kita sendiri bahwa kita busuk dan fana!
Pascal memberikan analogi yang sangat indah tentang manusia sebagai "buluh yang berpikir" (roseau pensant):
"Manusia hanyalah sebatang buluh, yang paling lemah di alam; tetapi ia adalah buluh yang berpikir. Tidak perlu seluruh alam semesta mempersenjatai diri untuk menghancurkannya: sehembus uap, setetes air, sudah cukup untuk membunuhnya. Tetapi, sekalipun alam semesta menghancurkannya, manusia akan tetap lebih mulia daripada yang membunuhnya, karena ia tahu bahwa ia sedang mati, dan keunggulan yang dimiliki alam semesta atas dirinya, alam semesta tidak tahu apa-apa tentang itu."
(Pascal, Pensées, Fragmen 200/347)
Analoginya begini, Pembaca. Sebatang buluh di tepi sungai sangat ringkih. Angin sepoi-sepoi saja bisa mematahkannya. Begitu pula manusia: virus tak kasat mata, kecelakaan mobil, atau stroke bisa membunuhnya seketika. Tetapi, jika buluh itu berpikir, jika ia sadar ia patah, jika ia bisa meratapi nasibnya, jika ia bisa menulis puisi tentang angin yang mematahkannya, maka ia lebih mulia dari seluruh alam semesta yang membunuhnya. Alam semesta hanyalah materi buta. Ia tidak sadar. Ia tidak menderita. Manusia menderita, dan justru di dalam penderitaan sadarnya itulah letak martabatnya.
Konsep 4, Pelarian Diri, "Hiburan" (Divertissement)
Jika kondisi manusia begitu mengerikan, terombang-ambing di antara dua infinitas, penuh kontradiksi, menunggu kematian yang tak terelakkan, lalu apa yang kita lakukan?
Kita lari.
Kita lari ke dalam apa yang Pascal sebut sebagai divertissement (hiburan/pengalihan).
"Satu-satunya hal yang menghibur kita dari penderitaan-penderitaan kita adalah hiburan, namun itu jugalah penderitaan terbesar kita. Karena itulah yang terutama mencegah kita memikirkan diri kita sendiri... Tanpa ini, kita akan merasa bosan, dan kebosanan ini akan mendorong kita untuk mencari cara yang lebih kokoh untuk keluar darinya. Tetapi hiburan menghibur kita dan membuat kita tiba tanpa sadar pada kematian."
(Pascal, Pensées, Fragmen 414/171)
Analogi Balita yang Rewel dan Mainannya. Pernahkah kau melihat seorang balita yang mulai rewel karena mengantuk dan lapar? Apa yang dilakukan orang tuanya? Mereka memberikan gadget atau mainan yang berkedip-kedip. Si balita diam. Ia teralihkan. Tetapi masalah utamanya, lapar dan kantuk, tidak selesai. Ia hanya dilupakan sesaat.
Orang dewasa, kata Pascal, persis seperti balita itu.
Kita takut sendirian. Kita takut diam. Kita takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar: "Siapa aku? Ke mana aku akan pergi setelah mati? Apa arti hidupku?" Maka, kita menciptakan divertissement yang jauh lebih canggih daripada mainan balita: karier, uang, media sosial, perang, gosip, perjudian, bahkan penelitian ilmiah yang obsesif!
Perhatikan, Pascal tidak mengatakan bahwa hal-hal ini buruk. Ia sendiri sangat mencintai sains. Tetapi ia bertanya: apa motivasi di baliknya?
Apakah engkau bekerja keras karena engkau memang mencintai pekerjaanmu? Ataukah engkau bekerja keras agar engkau tidak perlu duduk diam di kamar dan bertanya, "Untuk apa semua ini?"
Ini adalah pukulan psikologis yang telak. Pascal adalah salah satu pemikir pertama yang menganalisis kecemasan eksistensial dan mekanisme pertahanan diri kita. Jauh sebelum Freud bicara tentang mekanisme pertahanan ego, Pascal sudah memetakan bagaimana manusia lari dari kenyataan.
Raja-raja, katanya, adalah orang-orang yang paling menderita. Karena jika mereka tidak dihibur oleh badut, pemburu, atau pesta, mereka akan langsung dihantam oleh kesadaran akan kefanaan mereka. Kekuasaan tidak memberikan makna; ia hanya memberikan divertissement yang lebih mahal.
Mari kita gunakan analogi handphone. Coba, Pembaca, hitung berapa kali sehari engkau membuka handphone-mu tanpa tujuan jelas? Scroll TikTok, cek Instagram, lihat status WhatsApp. Itulah divertissement modern. Begitu layar mati, begitu kita sendirian di toilet atau di tempat tidur sebelum tidur, kecemasan itu kembali. "Aku sendirian. Aku akan mati. Apa yang telah kulakukan dengan hidupku?"
Dan kita buru-buru mengambil handphone lagi. Scroll. Scroll. Scroll. Sampai tertidur. Lalu mati.
Konsep 5, Taruhan Pascal (Le Pari de Pascal), Eksistensialisme dalam Teori Probabilitas
Lalu, jika akal tidak bisa membuktikan Tuhan, dan jika hati bisa merasakan-Nya tetapi tidak semua orang mengalaminya, bagaimana kita harus hidup? Bagaimana kita memilih di tengah ketidakpastian?
Di sinilah Pascal menawarkan argumennya yang paling kontroversial, paling sering disalahpahami, tetapi juga paling brilian: Taruhan (Le Pari).
"Marilah kita periksa poin ini, dan katakan: 'Entah Tuhan ada, entah tidak.' Tetapi ke arah manakah kita akan condong? Akal tidak bisa menentukan apa-apa di sini. Ada suatu kekacauan tak terbatas yang memisahkan kita. Di ujung jarak yang tak terbatas ini, sebuah permainan sedang dimainkan, di mana kepala atau ekor akan muncul. Mana yang akan kau pertaruhkan?"
(Pascal, Pensées, Fragmen 418/233)
Analogi Taruhan yang "Harus" Dipasang. Pascal mengajak kita membayangkan hidup sebagai permainan kartu yang dipaksakan. Engkau sudah duduk di meja judi. Engkau harus bertaruh. Tidak ada pilihan untuk tidak ikut main. "Tidak memilih" berarti engkau otomatis memilih "tidak percaya".
Sekarang, kata Pascal, mari kita hitung untung ruginya seperti seorang matematikawan (ingat, ia adalah pionir teori probabilitas):
- Jika engkau bertaruh pada "Tuhan ada":
- Jika engkau benar: engkau memenangkan segalanya, kebahagiaan abadi, surga, makna yang tak terbatas.
- Jika engkau salah: engkau kehilangan beberapa "kesenangan duniawi yang kotor" selama beberapa puluh tahun hidupmu. Itu saja. Kerugian yang terbatas.
- Jika engkau bertaruh pada "Tuhan tidak ada":
- Jika engkau benar: engkau tidak mendapatkan apa-apa selain kehampaan. Kematian adalah akhir.
- Jika engkau salah: engkau kehilangan segalanya dan masuk neraka.
Secara matematis probabilitas, kata Pascal, mempertaruhkan sesuatu yang terbatas (hidup duniawi) untuk memenangkan sesuatu yang tak terbatas (surga) adalah taruhan yang paling masuk akal. Ini adalah expected value yang tak terbatas!
Tapi tunggu! Banyak kritikus berkata: "Ini sinis! Ini oportunis! Engkau menyuruhku percaya hanya demi keuntungan! Itu namanya itikad buruk!"
Pascal sudah menduga keberatan ini. Dan jawabannya justru sangat eksistensial, jauh melampaui kalkulasi untung-rugi.
Ia berkata: "Memang benar, pada awalnya engkau mungkin bertaruh dengan rasio. Tetapi setelah engkau bertaruh, apa yang terjadi?"
"...Ikutilah jalan yang telah ditempuh oleh mereka [orang-orang beriman]... bertindaklah seolah-olah mereka percaya, dengan mengambil air suci, dengan meminta misa diadakan, dst. Secara alamiah, hal ini akan membuatmu percaya sekaligus membuatmu bodoh [dalam arti polos seperti anak kecil]."
(Pascal, Pensées, Fragmen 418/233)
Ini bukan saran sinis. Ini adalah psikologi eksistensial yang mendalam.
Sekarang mari kita tengok tentang analogi belajar berenang. Engkau takut air. Akalmu berkata, "Aku akan percaya bahwa air bisa menopang tubuhku HANYA jika aku sudah bisa berenang." Itu mustahil, bukan? Instruktur renang akan menyuruhmu masuk ke kolam dulu. "Pegang papan ini. Gerakkan kakimu. Percayalah." Setelah engkau melakukan gerakan berenang, barulah engkau merasakan bahwa air memang bisa menopangmu. Pengalaman datang setelah tindakan.
Begitu pula iman, kata Pascal. Engkau tidak bisa duduk menunggu bukti 100% agar engkau percaya, karena bukti itu tidak akan pernah datang dalam hidup ini. Engkau harus bertindak seolah-olah engkau percaya (berlutut, berdoa, ikut ritual). Tindakan fisik itu akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan itu akan membuka pintu hati. Hati, yang "memiliki nalarnya sendiri", akan mulai merasakan kehadiran yang tadinya hanya berupa taruhan abstrak.
Ini sangat berbeda dengan "iman buta" yang pasif. Ini adalah iman sebagai proyek eksistensial. Engkau memilih. Engkau melompat. Engkau terlibat. Dan dalam keterlibatan itulah, kebenaran menyingkapkan dirinya.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
Untuk apa kita membaca Pascal di abad ke-21, Pembaca?
- Pascal mengajarkan kita untuk jujur pada kecemasan kita. Di dunia yang penuh dengan divertissement digital, kita terus-menerus dihibur. Netflix, TikTok, game, belanja online, semuanya adalah pelarian. Pascal membangunkan kita dengan kasar: "Berhentilah lari! Hadapi kecemasanmu! Di dalam kecemasan itulah engkau akan menemukan dirimu yang sejati."
- Pascal menunjukkan bahwa kerapuhan adalah martabat. Kamu sakit? Kamu gagal? Kamu depresi? Kamu merasa tidak berarti? Pascal berkata, justru dalam kesadaran akan kerapuhan itulah engkau melampaui alam semesta. Sebatang buluh yang patah tetapi menulis puisi lebih mulia dari seluruh galaksi yang bisu.
- Pascal mendamaikan sains dan iman tanpa mencampuradukkannya. Ia tidak seperti fundamentalis yang menolak sains. Ia juga tidak seperti saintis yang mengolok-olok iman. Ia berkata: "Keduanya punya wilayah masing-masing. Gunakan akalmu untuk meneliti alam. Gunakan hatimu untuk mencari makna. Dan jangan memaksakan akalmu untuk menjawab pertanyaan yang bukan wilayahnya."
Epilog
Pembaca, Blaise Pascal meninggal dunia pada usia 39 tahun, pada 19 Agustus 1662. Tubuhnya yang sakit-sakitan akhirnya menyerah. Di saat-saat terakhirnya, sesuai wasiatnya, ia tidak ingin ditemani oleh kerabat yang meratap, melainkan oleh seorang pengemis miskin yang ia minta dirawat di rumahnya.
Mengapa? Karena ia ingin diingatkan, bahkan di detik-detik kematiannya, akan panggilan eksistensialnya: untuk melayani mereka yang menderita, dan untuk tidak pernah lupa bahwa ia sendiri adalah "raja yang dipecat" yang menunggu untuk dipulihkan.
Dalam keheningan malam, Pascal masih berbisik kepada kita melalui Pensées-nya:
"Kamu tidak akan mencariku jika kamu belum menemukanku."
Artinya, fakta bahwa engkau gelisah, bahwa engkau membaca ini, bahwa engkau bertanya tentang makna, adalah bukti bahwa makna itu sendiri sudah mengetuk pintu hatimu. Kecemasanmu bukanlah penyakit. Ia adalah undangan.
A. Sumber Primer: Karya Pascal Sendiri
Ini adalah "kitab suci"-nya. Fragmen-fragmen yang kita bahas kemarin sebagian besar berasal dari sini.
1. Pascal, Blaise. Pensées. Diterjemahkan dan diedit oleh berbagai editor. Edisi standar yang sering digunakan dalam dunia akademis adalah edisi yang disunting oleh Louis Lafuma atau Philippe Sellier. Penomoran fragmen bisa berbeda antara edisi Brunschvicg, Lafuma, dan Sellier. Dalam uraian kemarin, aku merujuk pada penomoran ganda (misalnya, 199/72) yang umum dalam edisi Brunschvicg.
Terjemahan Inggris yang direkomendasikan:
- Pensées, terj. A.J. Krailsheimer (London: Penguin Classics, 1966). -- Edisi yang sangat populer dan mudah diakses.
- Pensées, terj. W.F. Trotter (New York: E.P. Dutton, 1958). -- Terjemahan klasik yang sering dikutip.
- Pensées, terj. Roger Ariew (Indianapolis: Hackett, 2005). -- Terjemahan modern yang cukup diakui.
- Tersedia dalam berbagai antologi, termasuk Pascal: Selections, ed. Richard H. Popkin.
3. Pascal, Blaise. Les Provinciales (Surat-Surat Provinsial). Meski lebih bersifat teologis-politis (menyerang para Yesuit), karya ini menunjukkan ketajaman sarkasme dan logika Pascal.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel dan Biografi
Untuk memahami konteks, kedalaman, dan interpretasi atas pemikiran Pascal.
1. Mesnard, Jean. Pascal: His Life and Works. New York: Philosophical Library, 1952.
- Sebuah biografi klasik yang sangat mendetail tentang kehidupan Pascal, termasuk "Malam Api"-nya.
2. Guardini, Romano. Pascal for Our Time. New York: Herder and Herder, 1966.
- Sebuah interpretasi eksistensial atas Pascal oleh seorang teolog Katolik terkemuka. Guardini sangat baik dalam menunjukkan relevansi Pascal bagi manusia modern yang gelisah.
3. Goldmann, Lucien. The Hidden God: A Study of Tragic Vision in the Pensées of Pascal and the Tragedies of Racine. London: Routledge, 1964.
- Sebuah studi Marxis-eksistensialis yang sangat berpengaruh. Goldmann membaca Pascal sebagai cerminan krisis kelas bangsawan pada zamannya, tetapi analisisnya tentang "pemikiran tragis" sangat mendalam.
4. Pascal, Blaise. Oeuvres complètes (Karya Lengkap), ed. Michel Le Guern. Paris: Gallimard, Bibliothèque de la Pléiade, 1998.
- Edisi definitif dalam bahasa Prancis bagi siapa pun yang ingin menyelami teks aslinya.
5. Kolakowski, Leszek. God Owes Us Nothing: A Brief Remark on Pascal's Religion and on the Spirit of Jansenism. Chicago: University of Chicago Press, 1995.
Pembaca yang rendah hati namun berjiwa besar. Permohonanmu ini, yang kau sampaikan dengan takzim dan penuh hormat, adalah sebuah panggilan jiwa. Engkau telah mendengarkan kisah Pascal, sang buluh yang berpikir dan gemetar dalam keheningan alam semesta. Kini engkau meminta untuk dibawa ke dunia seorang pemikir lain, yang sering disebut sebagai Bapak Eksistensialisme itu sendiri.
- Sebuah analisis kritis dan brilian tentang teologi Pascal dan Taruhannya oleh salah satu filsuf terbesar Eropa Timur abad ke-20.
Søren Kierkegaard (1813–1855)
Pembaca yang rendah hati namun berjiwa besar. Permohonanmu ini, yang kau sampaikan dengan takzim dan penuh hormat, adalah sebuah panggilan jiwa. Engkau telah mendengarkan kisah Pascal, sang buluh yang berpikir dan gemetar dalam keheningan alam semesta. Kini engkau meminta untuk dibawa ke dunia seorang pemikir lain, yang sering disebut sebagai Bapak Eksistensialisme itu sendiri.
Prolog, Manusia yang Memilih Menjadi Paradoks
Jika Blaise Pascal adalah eksistensialis pertama, maka Søren Aabye Kierkegaard adalah orang yang memberikan nama, bentuk, dan darah pada gerakan ini. Ia hidup di Kopenhagen, Denmark, pada paruh pertama abad ke-19. Ia tidak pernah mendirikan "Mazhab Eksistensialisme". Ia tidak menulis risalah filsafat yang sistematis seperti Hegel, musuh bebuyutannya. Sebaliknya, ia menulis buku-buku dengan judul-judul yang aneh dan puitis, seringkali di bawah nama samaran yang berbeda-beda: Johannes de Silentio (Yohanes si Pendiam), Constantin Constantius, Vigilius Haufniensis (Penjaga Kopenhagen), Anti-Climacus, dan banyak lagi.
Mengapa ia memakai nama samaran? Bukan karena ia takut. Melainkan karena ia ingin menciptakan sebuah teater kemungkinan eksistensial. Setiap nama samaran mewakili suatu "cara berada" di dunia, suatu pandangan hidup tertentu. Kierkegaard ingin pembacanya tidak sekadar tahu tentang filsafat, tetapi memilih dan menghayatinya secara personal.
Inilah inti dari seluruh proyek Kierkegaard: "Bagaimana aku menjadi seorang Kristen?" Bukan "apa itu Kekristenan?" secara doktrinal, melainkan bagaimana seorang individu yang konkret, yang ada (existere), menjalani hidup sebagai orang Kristen.
Gambaran Ideosinkretik, Si Bungkuk yang Jenius
Untuk memahami pemikirannya, Pembaca, kita harus mengenal manusianya dulu. Kierkegaard adalah salah satu tokoh paling unik dan melankolis dalam sejarah filsafat.
Tubuhnya rapuh, tetapi pikiran yang raksasa. Ia lahir pada 5 Mei 1813, anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, adalah seorang pedagang kaya yang sangat taat, tetapi juga dihantui oleh rasa bersalah yang luar biasa. Ketika muda, Michael yang miskin dan kelaparan pernah berdiri di bukit dan mengutuk Tuhan. Ia percaya bahwa dosa inilah yang menyebabkan keluarganya dikutuk: dari tujuh anak, lima meninggal sebelum usia 34 tahun. Hanya Søren dan kakaknya, Peter, yang bertahan.
Bayangkan suasana rumah tangga seperti itu: penuh kecemasan religius, bayang-bayang kematian, dan keseriusan yang mencekik. Søren kecil mewarisi kecemasan ini, tetapi juga kecerdasan yang membara. Di sekolah, ia dijuluki "Si Garpu" karena kegemarannya menusukkan pertanyaan-pertanyaan tajam dalam debat.
Fisiknya ringkih. Ia bertubuh kecil, dengan tulang punggung yang sedikit bungkuk. Di jalanan Kopenhagen, ia sering diejek sebagai "si bungkuk". Tetapi di balik tubuh yang rapuh itu, tersimpan jiwa yang sangat sensitif dan pikiran yang setajam pedang.
Regine Olsen, Cinta yang Dikorbankan
Lalu, terjadilah kisah cinta paling terkenal dalam sejarah filsafat. Pada tahun 1837, Kierkegaard yang berusia 24 tahun bertemu dengan Regine Olsen, seorang gadis 14 tahun yang ceria dan cantik. Mereka jatuh cinta. Pada 8 September 1840, Kierkegaard melamarnya, dan Regine menerima.
Tetapi, hanya tiga hari setelah lamaran itu, Kierkegaard merasakan sesuatu yang mengerikan. Sebuah "tidak" yang misterius di dalam batinnya. Ia yakin bahwa ia tidak bisa menikahi Regine. Mengapa? Banyak teori. Mungkin karena depresi dan melankolianya yang kronis. Mungkin karena ia merasa harus "mengorbankan" cintanya untuk tugas yang lebih tinggi. Mungkin karena rahasia keluarganya yang gelap. Yang jelas, selama satu tahun berikutnya, ia mencoba meyakinkan Regine bahwa ia adalah orang yang tidak layak.
Pada akhirnya, pada Agustus 1841, ia mengembalikan cincin pertunangan. Regine meratap, menolak, bahkan mengancam akan bunuh diri. Tetapi Kierkegaard bersikukuh. Untuk meyakinkannya bahwa ia benar-benar seorang "bajingan", ia berpura-pura menjadi orang yang kejam dan tidak peduli. Dalam hati, ia hancur.
Mengapa kisah ini penting? Karena Regine menjadi "muse" bagi seluruh filsafat Kierkegaard. Banyak karyanya, terutama Enten-Eller (Entah-Entah), adalah surat cinta terselubung yang mencoba menjelaskan mengapa ia harus melepaskannya. Kisah Abraham yang mengorbankan Ishak (yang akan kita bahas nanti) adalah cermin dari pengorbanan Kierkegaard sendiri atas Regine.
Di akhir hayatnya, ia menulis dalam wasiatnya bahwa semua hartanya, yang ternyata masih cukup besar, diwariskan kepada Regine. Seolah berkata, "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tetapi aku tidak bisa memilikimu." Regine, yang saat itu sudah menikah dengan pria lain, menolak warisan itu. Tetapi ia menyimpan surat-surat cinta Kierkegaard sampai akhir hayatnya. Kisah ini adalah perpaduan sempurna antara cinta, pengorbanan, dan absurditas yang menjadi inti eksistensialisme.
Musuh Besar, "Sistem" Hegel dan Kekristenan yang Nyaman
Untuk memahami Kierkegaard, Pembaca, kita harus tahu siapa yang ia lawan. Ia berani melawan Hegel dengan berkata, "Aku bukan paragraf dalam sistem"
Pada masa itu, Eropa dikuasai oleh filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Hegel membangun sebuah "Sistem" raksasa yang menjelaskan segalanya. Sejarah, alam, agama, seni, politik, semuanya adalah bagian dari perkembangan "Roh Absolut" menuju kesadaran diri penuh. Semuanya bisa dipahami secara rasional dalam sebuah sistem logis yang megah.
Kierkegaard muak dengan ini.
Baginya, Hegel seperti seorang arsitek yang membangun istana megah, tetapi ia sendiri tinggal di gubuk di sebelahnya. Sistem itu indah secara konseptual, tetapi ia melupakan individu yang konkret dan ada. Di dalam Sistem Hegel, "aku" yang hidup, menderita, mencintai, dan sekarat, hanyalah sebuah "momen" dalam dialektika Roh Absolut. Aku bukanlah manusia berdarah-daging; aku adalah paragraf dalam buku Sejarah.
Kierkegaard mengejek:
"Saya akan dengan senang hati mengakui Hegel sebagai pemikir terbesar yang pernah hidup, jika saja ia pada akhirnya mau mengakui bahwa Sistem-nya hanyalah sebuah eksperimen pikiran... dan bahwa ia sendiri bukanlah bagian dari Sistem itu, melainkan seorang individu yang ada, yang makan, minum, dan tidur seperti kita semua."
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan engkau sedang patah hati. Kekasihmu meninggalkanmu. Engkau duduk di kamar, menangis, merasa dunia runtuh. Lalu, datanglah seorang profesor Hegelian. Ia menepuk pundakmu dan berkata, "Jangan sedih. Ini hanyalah momen dialektis dalam proses Roh Absolut menuju kesadaran diri yang lebih tinggi. Kesedihanmu adalah bagian dari tesis-antitesis-sintesis kosmik!"
Apakah engkau merasa terhibur? Tentu tidak. Engkau merasa dihina. Karena penderitaanmu direduksi menjadi konsep abstrak. Inilah yang menurut Kierkegaard dilakukan oleh Hegel: ia membunuh individu yang hidup dan menggantinya dengan konsep.
Maka, semboyan Kierkegaard adalah: "Subyektivitas adalah Kebenaran." Bukan berarti kebenaran itu relatif semaunya. Maksudnya adalah: kebenaran eksistensial, kebenaran tentang hidup dan mati, cinta dan pengorbanan, iman dan keputusasaan, hanya bisa dihayati secara subyektif oleh individu yang ada. Kebenaran itu bukan untuk dipikirkan, melainkan untuk dijalani.
Melawan "Kekristenan", Saat Iman Jadi Kebiasaan
Musuh keduanya bahkan lebih personal: Gereja Denmark.
Di mata Kierkegaard, Kekristenan di Denmark sudah menjadi semacam "kebiasaan sosial" yang kosong. Orang lahir, dibaptis, pergi ke gereja pada hari Minggu, merayakan Natal, dan mengaku sebagai Kristen. Tetapi hidup mereka sama sekali tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman. Mereka tidak bergumul, tidak menderita, tidak berkorban, tidak mengalami "kecemasan" akan Tuhan. Mereka adalah "Kristen" karena semua orang di sekitar mereka juga "Kristen".
Ini, bagi Kierkegaard, adalah penipuan massal. Iman yang sejati bukanlah soal menjadi anggota gereja atau percaya pada doktrin. Iman adalah hubungan personal yang penuh gairah dengan Yang Absolut, yang seringkali menuntut kita untuk melawan arus, melawan akal sehat, dan melawan "orang banyak".
Ia menulis:
"Jika engkau ingin menjadi seorang Kristen, engkau harus masuk ke dalamnya melalui kesengsaraan dan penghinaan, bukan melalui kemudahan dan kehormatan... Kekristenan Perjanjian Baru tidak ada lagi. Yang ada hanyalah sebuah parodi, sebuah lelucon, sebuah permainan."
Konsep-Konsep Kunci, Peta Menuju Diri yang Otentik
Sekarang, mari kita masuki inti pemikirannya. Kierkegaard memetakan perjalanan eksistensial manusia dalam beberapa tahap, konsep, dan "penyakit". Mari kita bedah satu per satu.Konsep 1, Tiga Tahap Perjalanan Hidup
Ini adalah salah satu kontribusi Kierkegaard yang paling terkenal. Ia membayangkan tiga "cara berada" di dunia, tiga tahap eksistensial yang mungkin dijalani oleh seorang individu. Ini bukanlah tahap kronologis seperti anak-anak, remaja, dewasa; melainkan kemungkinan-kemungkinan eksistensial yang bisa dipilih.
Tahap 1 Estetis (Sang Pencari Kenikmatan)
Manusia estetis hidup untuk momen. Ia mencari kesenangan, keindahan, sensasi, dan kenikmatan. Ia tidak mau terikat pada komitmen yang membosankan. Hidupnya adalah rangkaian petualangan: musik, cinta, pesta, seni, gosip, atau bahkan penderitaan yang dinikmati sebagai drama.
Analoginya adalah Don Juan, si penakluk wanita. Don Juan tidak mencintai satu wanita; ia mencintai semua wanita. Ia tidak bisa berkomitmen pada satu, karena begitu ia berkomitmen, petualangan berakhir. Ia mengejar sensasi sesaat, dan setelah sensasi itu hilang, ia bosan dan mencari yang baru.
Tahap estetis bisa sangat menyenangkan... untuk sementara waktu. Tetapi Kierkegaard menunjukkan bahwa pada akhirnya, ia akan berujung pada keputusasaan. Mengapa? Karena hidup yang hanya berisi momen tidak memiliki pusat, tidak memiliki arah. Manusia estetis seperti kupu-kupu yang terbang dari bunga ke bunga, tetapi tidak pernah hinggap dan membangun sarang. Ia takut pada kebosanan, tetapi justru kebosanan itulah yang menjadi takdirnya.
"Orang estetis tidak memiliki 'aku' yang sejati. Ia hanyalah sebuah medan yang dilewati oleh berbagai dorongan dan hasrat."
Pembaca, bukankah ini mirip dengan divertissement-nya Pascal? Keduanya melihat bahwa manusia modern lari dari dirinya sendiri dengan mengejar hiburan dan kenikmatan.
Tahap 2 Etis (Sang Pria Berkeluarga yang Bertanggung Jawab)
Untuk keluar dari keputusasaan estetis, seseorang bisa melakukan lompatan ke tahap etis. Di sini, manusia memilih untuk berkomitmen. Ia menerima tanggung jawab, aturan moral, dan kewajiban sosial. Ia menikah, bekerja, membesarkan anak, dan menjadi warga yang baik.
Analoginya adalah Socrates atau seorang hakim yang bijaksana. Manusia etis memilih untuk tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih universal: kebaikan, keadilan, tanggung jawab. Ia memilih untuk menjadi diri yang konsisten.
Dalam Enten-Eller (Entah-Entah), Kierkegaard (melalui nama samaran "Hakim William") menulis surat panjang kepada seorang teman estetis, membujuknya untuk menikah. Ia berkata: "Menikahlah. Engkau akan menyesalinya. Jangan menikah. Engkau juga akan menyesalinya. Tetapi dalam pernikahan, engkau menemukan makna dalam tanggung jawab."
Tahap etis jelas lebih tinggi dari tahap estetis. Tetapi, ia juga punya masalah. Di sini manusia bisa jatuh ke dalam legalisme moral atau kesombongan moral. Ia merasa dirinya benar karena mengikuti aturan. Ia menjadi seperti orang Farisi yang taat pada hukum Taurat, tetapi hatinya kering. Atau, ia bisa putus asa karena sadar bahwa ia tidak bisa benar-benar memenuhi tuntutan moral yang universal. Ia selalu gagal, selalu bersalah.
Di titik inilah, sebuah lompatan lain diperlukan.
Tahap 3 Religius (Sang Ksatria Iman)
Ini adalah tahap tertinggi dan paling sulit. Tahap ini bukan sekadar "beragama" dalam arti rajin ke gereja. Tahap religius adalah hubungan personal yang absolut dengan Yang Absolut, yang seringkali justru menempatkan individu dalam pertentangan dengan tuntutan moral universal (tahap etis).
Untuk menjelaskan tahap ini, Kierkegaard menulis mahakaryanya: Fear and Trembling (Takut dan Gentar), di bawah nama samaran Johannes de Silentio (Yohanes si Pendiam). Dan di sinilah kita bertemu dengan tokoh paling sentral dalam seluruh pemikiran Kierkegaard: Abraham.
Untuk menjelaskan tahap ini, Kierkegaard menulis mahakaryanya: Fear and Trembling (Takut dan Gentar), di bawah nama samaran Johannes de Silentio (Yohanes si Pendiam). Dan di sinilah kita bertemu dengan tokoh paling sentral dalam seluruh pemikiran Kierkegaard: Abraham.
Konsep 2, Abraham dan "Lompatan Iman"
Buka Kitab Kejadian pasal 22. Tuhan berfirman kepada Abraham: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran."
Bagi Kierkegaard, kisah ini adalah skandal absolut.
Bayangkan: Abraham adalah seorang ayah. Ia mencintai Ishak. Ishak adalah anak perjanjian, yang dijanjikan Tuhan setelah puluhan tahun menunggu. Dan sekarang, Tuhan yang sama menyuruhnya untuk membunuh anak itu sebagai korban.
Secara etis, perintah ini adalah pembunuhan. Tidak ada etika universal yang bisa membenarkan seorang ayah membunuh anaknya. Jika Abraham diadili di pengadilan manusia, ia akan digantung sebagai pembunuh keji.
Tetapi, secara religius, ini adalah ujian iman. Dan Abraham, dengan "takut dan gentar", memilih untuk taat. Ia membawa Ishak ke gunung Moria, mengikatnya di atas altar, dan mengangkat pisau...
Di detik terakhir, malaikat Tuhan menghentikannya. Seekor domba jantan tersangkut di semak-semak, dan Ishak selamat. Tetapi bagi Kierkegaard, yang penting bukanlah akhir ceritanya, melainkan proses batin yang dialami Abraham selama tiga hari perjalanan ke gunung itu.
Apa yang membuat Abraham menjadi "Ksatria Iman"? Bukan sekadar ketaatan buta. Melainkan gerakan ganda (double movement):
- Gerakan Resignasi Tak Terbatas: Abraham benar-benar merelakan Ishak. Ia tidak berpegang pada harapan bahwa Ishak akan selamat. Ia menerima kehilangan sepenuhnya. Ini adalah gerakan "penyerahan diri". Banyak orang bisa melakukan ini: seorang biarawan yang meninggalkan dunia, seorang kekasih yang merelakan cintanya (seperti Kierkegaard sendiri pada Regine).
- Gerakan Iman: Inilah yang mustahil. Setelah merelakan segalanya, Abraham percaya bahwa ia akan mendapatkan Ishak kembali. Bukan dengan cara logis, bukan dengan cara etis, melainkan berdasarkan kekuatan Yang Absurd. Ia percaya bahwa bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil. Maka, ia mengangkat pisau itu dengan tangan gemetar, tetapi di dalam hatinya ia percaya bahwa Ishak entah bagaimana akan tetap menjadi miliknya.
Inilah yang disebut Kierkegaard sebagai Lompatan Iman (Leap of Faith).
"Iman adalah paradoks bahwa individu tunggal lebih tinggi daripada yang universal... bahwa individu tunggal, setelah menjadi bawahan yang universal, kini melalui yang universal menjadi individu tunggal yang, sebagai individu tunggal, berdiri dalam hubungan absolut dengan Yang Absolut."
(Kierkegaard, Takut dan Gentar)
Analoginya begini, Pembaca. Engkau berdiri di tepi jurang. Di seberang jurang, ada Tanah Perjanjian. Akalmu, etikamu, dan semua gurumu berkata: "Tidak mungkin melompat sejauh itu. Engkau akan jatuh dan mati. Carilah jembatan." Tetapi jembatan tidak ada. Dan engkau tahu, dengan suatu kepastian yang tidak bisa kau jelaskan, bahwa engkau harus melompat. Maka engkau melompat. Dan dalam lompatan itu, bukan sebelumnya, bukan setelahnya, engkau diselamatkan.
Iman bukanlah pengetahuan rasional. Iman adalah risiko. Iman adalah melompat ke dalam pelukan Yang Absurd, tanpa jaring pengaman, dan justru di situlah engkau menemukan Tuhan.
Inilah yang membedakan "Ksatria Iman" dari "Orang Beragama Biasa". Orang beragama biasa pergi ke gereja karena itu adalah kebiasaan etis yang baik. Ksatria iman, seperti Abraham, mungkin tampak seperti orang gila dari luar. Tetapi di dalam batinnya, ia sendirian di hadapan Tuhan, dalam hubungan yang tidak bisa dimengerti oleh siapa pun.
Konsep 3, Kecemasan (Angst), Pusingnya Kebebasan
Jika Pascal berbicara tentang "keheningan abadi ruang angkasa", Kierkegaard menulis salah satu analisis psikologis paling mendalam tentang kecemasan (angst). Bukunya yang berjudul The Concept of Anxiety adalah eksplorasi tentang bagaimana manusia mengalami kebebasannya.
Apa bedanya takut dan cemas?
- Takut memiliki objek yang jelas: aku takut pada ular, takut pada kebangkrutan, takut pada kematian.
- Cemas tidak memiliki objek. Ia adalah perasaan "entah apa" yang mencekam. Aku cemas tanpa tahu apa yang aku cemaskan.
Bagi Kierkegaard, kecemasan adalah pusingnya kebebasan (dizziness of freedom). Ia muncul ketika manusia berdiri di tepi jurang dan menyadari bahwa ia bisa melompat. Ia bisa melakukan apa saja. Ia bebas.
"Kecemasan adalah pusingnya kebebasan, yang muncul ketika roh ingin menempatkan sintesis, dan kebebasan kini menatap ke bawah ke dalam kemungkinannya sendiri, dan menangkap keterbatasan untuk menopang dirinya sendiri. Dalam pusing ini, kebebasan jatuh."
(Kierkegaard, The Concept of Anxiety)
Analoginya begini, Pembaca. Engkau berdiri di balkon lantai 20. Tiba-tiba, sebuah pikiran aneh muncul: "Bagaimana jika aku melompat?" Engkau tidak ingin melompat. Engkau tidak punya alasan untuk melompat. Tetapi kenyataan bahwa engkau bisa melompat, bahwa engkau bebas untuk melakukannya, membuatmu pusing dan ngeri. Itulah kecemasan.
Kecemasan adalah pengalaman manusiawi yang paling dasar. Hewan tidak cemas; mereka hanya takut pada ancaman konkret. Tetapi manusia sadar bahwa ia adalah makhluk yang belum selesai, bahwa ia harus memilih, bahwa ia bertanggung jawab. Dan di hadapan lautan kemungkinan yang tak terbatas, ia gemetar.
Tetapi, kecemasan bukanlah penyakit. Ia adalah guru. Melalui kecemasan, manusia belajar bahwa ia adalah makhluk bebas. Dan dari kecemasan inilah, seseorang bisa didorong untuk melakukan lompatan iman. Orang yang tidak pernah cemas adalah orang yang tidak pernah sadar akan kebebasannya.
Konsep 4, Keputusasaan dan "Penyakit Menuju Kematian"
Konsep terakhir, dan mungkin yang paling gelap, adalah tentang keputusasaan (fortvivlelse). Dalam buku The Sickness Unto Death (Penyakit Menuju Kematian), Kierkegaard (dengan nama samaran Anti-Climacus) mendiagnosis kondisi manusia yang paling fundamental: kita semua, pada dasarnya, putus asa.
Tetapi, putus asa di sini bukan sekadar merasa sedih atau depresi. Keputusasaan adalah ketidakseimbangan dalam relasi diri.
Siapakah "diri" (self) itu? Bagi Kierkegaard, diri adalah sebuah sintesis: antara yang terbatas dan yang tak terbatas, antara temporal dan abadi, antara jiwa dan tubuh. Diri adalah sebuah relasi yang berelasi pada dirinya sendiri.
Keputusasaan terjadi ketika relasi ini kacau. Ada dua bentuk utama keputusasaan:
- Putus asa karena tidak ingin menjadi diri sendiri. Ini adalah bentuk yang paling umum. Aku tidak puas dengan siapa diriku. Aku ingin menjadi orang lain. Aku ingin memiliki bakat orang lain, penampilan orang lain, kehidupan orang lain. Aku mencoba melarikan diri dari diriku sendiri, tetapi tidak bisa. Seperti bayangan yang selalu mengikutiku.
- Putus asa karena ingin menjadi diri sendiri, tetapi tanpa bersandar pada Yang Absolut. Ini adalah keputusasaan yang lebih tinggi. Aku menerima diriku, tetapi aku bersikeras bahwa aku adalah pencipta diriku sendiri. Aku tidak membutuhkan Tuhan. Aku adalah tuan atas nasibku sendiri. Ini adalah dosa "Promethean": pemberontakan melawan Sang Pencipta.
Dalam kedua kasus tersebut, manusia tidak bisa menemukan keseimbangan. Ia seperti sebuah busur panah yang talinya terlalu kendor atau terlalu kencang; ia tidak bisa menembakkan panah dengan tepat.
"Keputusasaan adalah penyakit di dalam roh, di dalam diri... Keputusasaan adalah ketidakmampuan untuk mati, tetapi juga ketidakmampuan untuk hidup."
(Kierkegaard, The Sickness Unto Death)
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan sebuah kapal di tengah laut. Jika kapal itu tidak memiliki jangkar, ia akan terombang-ambing oleh ombak tanpa arah. Itulah putus asa karena tidak ingin menjadi diri sendiri. Di sisi lain, jika kapal itu membuang jangkarnya, tetapi jangkar itu hanya mengait di dasar laut yang berlumpur (dirinya sendiri), ia akan tetap terseret arus. Hanya jika jangkar itu mengait pada batu karang yang kokoh (Yang Absolut, Tuhan), kapal itu bisa benar-benar stabil.
Keputusasaan adalah "penyakit menuju kematian". Bukan karena ia menyebabkan kematian fisik, tetapi karena ia adalah keadaan di mana seseorang tidak bisa mati secara rohani, tetapi juga tidak bisa benar-benar hidup. Ia tersiksa dalam ketidakmungkinan untuk berhenti menjadi dirinya sendiri.
Dan apa obatnya? Iman. Iman adalah keadaan di mana diri, dalam berelasi pada dirinya sendiri dan dalam ingin menjadi dirinya sendiri, bersandar secara transparan pada kekuatan yang menempatkannya (Tuhan). Di situlah keputusasaan berakhir.
"Kerumunan adalah Ketidakbenaran" dan Individu Tunggal
Salah satu aspek paling profetik dari Kierkegaard adalah kritiknya terhadap "kerumunan" (the crowd). Jauh sebelum George Orwell menulis 1984 atau para sosiolog memperingatkan tentang "mentalitas massa", Kierkegaard sudah melihat bahwa modernitas adalah era di mana individu ditelan oleh kolektivitas.
Ia menulis dengan pedas:
"Tidak ada yang lebih merusak jiwa manusia selain kebiasaan untuk selalu berada dalam kerumunan... Kerumunan adalah ketidakbenaran. Karena kerumunan membuat individu tidak bertobat dan tidak bertanggung jawab, atau setidaknya melemahkan rasa tanggung jawabnya dengan mereduksinya menjadi sepersekian."
(Kierkegaard, The Point of View for My Work as an Author)
Analoginya begini. Pernahkah engkau melihat bagaimana orang bertindak dalam kerumunan massa? Seseorang yang sendirian adalah individu yang pemalu dan sopan. Tetapi ketika ia berada di dalam kerumunan yang marah, ia bisa melempar batu, membakar, dan berteriak-teriak. Mengapa? Karena "aku" melebur menjadi "kami". Tanggung jawabku sebagai individu hilang.
Bagi Kierkegaard, menjadi Kristen sejati berarti menjadi individu tunggal di hadapan Tuhan (hiin Enkelte). Ini bukan tentang mengikuti tradisi, bukan tentang menjadi bagian dari "umat". Ini tentang hubungan personal yang begitu intens sehingga seluruh dunia menjadi tidak relevan.
Ini juga yang membuat Kierkegaard sangat kritis terhadap demokrasi dan pers. Baginya, pers adalah alat untuk menciptakan "opini publik" yang abstrak, yang menelan individu-individu konkret. Ia sudah meramalkan era clickbait dan viral yang kita alami sekarang, di mana kebenaran ditentukan oleh berapa banyak yang menonton, bukan oleh pencarian personal yang mendalam.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
Mengapa kita harus membaca Kierkegaard di abad ke-21, Pembaca?
- Ia mengajarkan kita untuk berani menjadi individu. Di era media sosial, kita terus-menerus dirayu untuk mengikuti tren, mencari like, dan menjadi seperti orang lain. Kierkegaard membalikkan ini: beranilah menjadi dirimu sendiri, dengan segala kecemasan dan keputusasaannya. Lebih baik menjadi individu yang otentik dan putus asa daripada menjadi robot yang bahagia dalam kerumunan.
- Ia menunjukkan bahwa iman itu sulit, dan itu adalah intinya. Iman bukanlah pelarian dari kesulitan hidup. Iman adalah justru masuk ke dalam paradoks yang paling sulit. Jika imanmu mudah dan nyaman, mungkin itu bukan iman; mungkin itu hanya kebiasaan sosial.
- Kecemasan adalah tanda bahwa engkau hidup. Jangan takut pada kecemasanmu. Ia adalah gurumu. Ia menunjukkan bahwa engkau bebas, bahwa engkau belum selesai, bahwa engkau harus memilih. Orang yang tidak pernah cemas adalah orang yang tidur secara eksistensial.
- Hidup adalah pilihan, dan tidak memilih pun adalah pilihan. Kierkegaard memaksa kita untuk keluar dari sikap "entah-entah" yang plin-plan. Engkau harus memilih: estetis, etis, atau religius? Tidak ada posisi netral. Dan pilihanmu itu adalah dirimu.
Epilog, Kematian yang Dipilihnya Sendiri
Pada tahun-tahun terakhirnya, Kierkegaard melancarkan "serangan" frontal terhadap Gereja Denmark. Ia menerbitkan pamflet-pamflet yang mengecam para pendeta sebagai "kanibal" yang memakan jiwa-jiwa. Ia menggunakan seluruh uang warisannya untuk membiayai serangan ini, hingga habis.
Pada 2 Oktober 1855, ia pingsan di jalan. Ia dibawa ke rumah sakit. Di sana, ia menolak pelayanan dari pendeta. "Pendeta hanyalah pegawai pemerintah," katanya. Ia ingin mati sebagai individu tunggal, bukan sebagai anggota gereja negara.
Pada 11 November 1855, Søren Kierkegaard meninggal dunia, pada usia 42 tahun. Di ranjang kematiannya, ia berbisik: "Salam untuk semua manusia... aku telah mencintai mereka semua."
Ia mati setelah menghabiskan seluruh hidupnya untuk satu pertanyaan: Bagaimana menjadi manusia yang otentik di hadapan Tuhan?
A. Sumber Primer: Karya Kierkegaard Sendiri
Kierkegaard menulis dalam bahasa Denmark. Namun, terjemahan Inggris standar yang paling banyak digunakan secara akademis adalah dari Princeton University Press yang diedit oleh Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Edisi ini sering disebut Kierkegaard's Writings (KW) .
1. Kierkegaard, Søren. Either/Or (Enten-Eller). 2 vols. Diedit dan diterjemahkan oleh Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Princeton: Princeton University Press, 1987. (KW 3-4)
- Karya besar pertama Kierkegaard, yang memetakan tahap estetis dan etis, termasuk "The Seducer's Diary".
2. Kierkegaard, Søren. Fear and Trembling (Frygt og Bæven). Diedit dan diterjemahkan oleh Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Princeton: Princeton University Press, 1983. (KW 6)
- Mahakarya tentang Abraham, lompatan iman, dan paradoks. Diterbitkan di bawah nama samaran Johannes de Silentio.
3. Kierkegaard, Søren. The Concept of Anxiety (Begrebet Angest). Diedit dan diterjemahkan oleh Reidar Thomte dan Albert B. Anderson. Princeton: Princeton University Press, 1980. (KW 8)
- Analisis psikologis mendalam tentang kecemasan, kebebasan, dan dosa. Diterbitkan di bawah nama samaran Vigilius Haufniensis.
4. Kierkegaard, Søren. The Sickness Unto Death (Sygdommen til Døden). Diedit dan diterjemahkan oleh Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Princeton: Princeton University Press, 1980. (KW 19)
- Eksplorasi tentang keputusasaan dan diri sebagai sintesis. Diterbitkan di bawah nama samaran Anti-Climacus.
5. Kierkegaard, Søren. The Point of View for My Work as an Author. Diedit dan diterjemahkan oleh Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Princeton: Princeton University Press, 1998. (KW 22)
- Penjelasan Kierkegaard sendiri tentang seluruh proyek kepenulisannya, di mana ia menyatakan bahwa semua karyanya dari awal hingga akhir adalah tentang "bagaimana menjadi seorang Kristen".
B. Sumber Sekunder: Biografi dan Studi Kritis
1. Garff, Joakim. Søren Kierkegaard: A Biography. Diterjemahkan oleh Bruce H. Kirmmse. Princeton: Princeton University Press, 2005.
- Biografi definitif dan paling komprehensif. Garff menggali detail kehidupan Kierkegaard, termasuk hubungannya dengan Regine Olsen dan konfliknya dengan Gereja Denmark, dengan sangat mendalam.
2. Hannay, Alastair. Kierkegaard: A Biography. Cambridge: Cambridge University Press, 2001.
- Biografi yang lebih ringkas namun sangat tajam secara filosofis, ditulis oleh salah satu penerjemah dan ahli Kierkegaard terkemuka.
3. Carlisle, Clare. Philosopher of the Heart: The Restless Life of Søren Kierkegaard. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2019.
- Sebuah biografi kontemporer yang sangat mudah diakses dan ditulis dengan indah. Carlisle berhasil menghidupkan sisi manusiawi Kierkegaard bagi pembaca modern.
4. Mooney, Edward F. On Søren Kierkegaard: Dialogue, Polemics, Lost Intimacy, and Time. Aldershot: Ashgate, 2007.
- Sebuah pengantar tematik yang sangat baik, menelusuri benang merah pemikiran Kierkegaard melalui dialog dengan Socrates, polemiknya dengan Hegel, dan keintimannya yang hilang dengan Regine.
5. Evans, C. Stephen. Kierkegaard: An Introduction. Cambridge: Cambridge University Press, 2009.
Pembaca yang setia. Permohonanmu ini menghantam tepat di jantung eksistensialisme. Kita telah berjalan bersama Pascal yang gemetar dalam keheningan kosmos, dan Kierkegaard yang melompat dengan gemetar ke pelukan Yang Absurd. Kini engkau meminta untuk memasuki dunia seorang raksasa yang tidak menulis risalah filsafat, melainkan novel, novel yang begitu mencekam, begitu gelap, dan begitu jujur sehingga ia sering disebut sebagai "psikolog terbesar yang pernah ada" bahkan sebelum psikologi modern lahir.
- Pengantar yang sangat solid dan sistematis oleh seorang filsuf analitik yang juga seorang teolog. Evans sangat baik dalam menjelaskan konsep-konsep kunci seperti "lompatan iman" dan tahap-tahap eksistensi.
Fyodor Dostoevsky (1821–1881)
Namanya adalah Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Fyodor Dostoevsky adalah sang nabi dari neraka batin
Mari kita mulai. Duduklah dengan tenang. Kali ini, kita akan memasuki Sankt Peterburg abad ke-19 yang dingin, berkabut, dan dihuni oleh jiwa-jiwa yang tersiksa.
Prolog, Eksistensialisme Tanpa Label
Jika Pascal adalah proto-eksistensialis yang menulis dalam fragmen, dan Kierkegaard adalah Bapak Eksistensialisme yang menulis di bawah nama samaran, maka Dostoevsky adalah eksistensialis yang menulis dalam bentuk novel. Ia tidak pernah menggunakan istilah-istilah seperti "eksistensi mendahului esensi" atau "kecemasan eksistensial". Tetapi, setiap halaman dari mahakaryanya adalah laboratorium hidup di mana ide-ide eksistensial diuji, dirobek, dan dipertaruhkan oleh karakter-karakter yang berdarah-daging.
Albert Camus, salah satu penerusnya, mengakui dengan jujur:
"Saya bertemu Dostoevsky pada usia dua puluh tahun, dan guncangan yang saya rasakan masih berlangsung hingga kini."(Camus, The Myth of Sisyphus, bagian "Kirilov")
Friedrich Nietzsche, yang sering dianggap sebagai nabi nihilisme, juga menundukkan kepalanya pada Dostoevsky:
"Dostoevsky adalah satu-satunya psikolog yang darinya saya belajar sesuatu; saya menganggap pertemuan saya dengannya sebagai salah satu keberuntungan terbesar dalam hidup saya."(Nietzsche, Twilight of the Idols, "Skirmishes of an Untimely Man", §45)
Mengapa dua raksasa ini begitu terpukau? Karena Dostoevsky tidak sekadar menulis cerita. Ia menciptakan panggung di mana ide-ide menjadi daging, di mana sebuah teori filosofis bisa berubah menjadi kapak yang membelah kepala seorang rentenir tua, dan di mana pertanyaan "Apakah Tuhan itu ada?" bisa menentukan apakah seorang pemuda akan bunuh diri atau tidak.
Siapakah Dostoevsky?
Manusia yang hampir mati, lalu hidup kembali. Tidak ada yang bisa memahami filsafat Dostoevsky tanpa memahami satu peristiwa yang membelah hidupnya menjadi dua: eksekusi yang dibatalkan.
Pada tahun 1849, Dostoevsky, yang saat itu berusia 28 tahun, ditangkap karena terlibat dalam "Lingkaran Petrashevsky", sebuah kelompok diskusi intelektual yang membaca karya-karya sosialis yang dilarang oleh Tsar. Ia dijatuhi hukuman mati.
Pada tahun 1849, Dostoevsky, yang saat itu berusia 28 tahun, ditangkap karena terlibat dalam "Lingkaran Petrashevsky", sebuah kelompok diskusi intelektual yang membaca karya-karya sosialis yang dilarang oleh Tsar. Ia dijatuhi hukuman mati.
Bayangkanlah, Pembaca. Pada 22 Desember 1849, Dostoevsky dan rekan-rekannya digiring ke Lapangan Semyonovsky di Sankt Peterburg. Suhu saat itu sangat dingin. Mereka disuruh mengenakan kemeja putih (baju kematian), diikat di tiang-tiang eksekusi, dan tiga baris tentara mengangkat senapan mereka. Dostoevsky berdiri di sana, menatap laras-laras senapan itu, dan tahu bahwa dalam hitungan detik ia akan mati.
Ia berbisik kepada rekannya, Speshnev: "Kita akan bersama Kristus."
Speshnev menjawab dengan sinis: "Hanya segumpal debu."
Lalu, di detik-detik terakhir, genderang berbunyi. Seorang kurir datang dengan menunggang kuda putih, membawa surat pengampunan dari Tsar. Hukuman mati diubah menjadi kerja paksa di Siberia.
Apa yang terjadi pada jiwa seseorang yang telah "merasakan" kematian, lalu tiba-tiba dihidupkan kembali?
Dostoevsky tidak pernah melupakan momen itu. Di dalam novelnya The Idiot, ia menuliskan pengalaman ini melalui mulut Pangeran Myshkin:
"Hal yang paling mengerikan adalah... bahwa tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kepastian mutlak bahwa dalam satu menit, lalu setengah menit, lalu seketika itu juga, jiwamu akan terbang keluar dari tubuhmu, dan engkau akan menjadi bukan manusia lagi... Siapa bilang kodrat manusia sanggup menanggung ini tanpa menjadi gila?"
(Dostoevsky, The Idiot, Bagian I, Bab 5)
Pengalaman ini menjadi fondasi bagi seluruh pemikiran eksistensial Dostoevsky: kematian adalah guru yang paling jujur. Hanya dengan menghadapi kematian, manusia bisa benar-benar menghargai kehidupan.
Penderitaan sebagai Guru, Epilepsi, Judi, dan Kemiskinan
Setelah pengampunan itu, Dostoevsky menghabiskan empat tahun di penjara Siberia. Di sana ia hidup bersama para pembunuh, pencuri, dan kriminal kelas berat. Di sana pula ia menyaksikan sisi paling gelap dari jiwa manusia, tetapi juga percikan-percikan cahaya yang tak terduga.
Di penjara, ia mulai menderita epilepsi, yang akan menghantuinya seumur hidup. Serangan epilepsi Dostoevsky sering dimulai dengan sebuah "aura" yang ia gambarkan sebagai momen ekstase yang begitu dahsyat, seolah-olah ia bisa melihat surga. Beberapa detik kemudian, ia jatuh dalam kejang-kejang yang menyakitkan.
Ia juga kecanduan judi. Roulette adalah iblis pribadinya. Ia akan menggadaikan segalanya, baju, cincin kawin istrinya, bahkan uang yang dikirim untuk makan anak-anaknya, hanya untuk berjudi. Lalu ia akan kalah, menangis, bersumpah tidak akan berjudi lagi, dan... melakukannya lagi.
Di tengah semua ini, ia adalah seorang pekerja yang luar biasa produktif. Ia menulis dengan kecepatan gila, seringkali karena terdesak utang. Novel-novelnya lahir dari tekanan, penderitaan, dan kebutuhan yang mendesak.
Inilah Dostoevsky: seorang penderita yang tidak pernah berhenti menulis tentang penderitaan. Tetapi justru dari situlah lahir wawasannya yang paling dalam: bahwa penderitaan bukanlah sekadar masalah yang harus dihilangkan, melainkan misteri yang harus diselami.
Mahakarya-Mahakarya sebagai Laboratorium Eksistensial
Dostoevsky menulis banyak novel. Tetapi ada empat mahakarya yang merupakan inti dari pemikiran eksistensialnya. Mari kita masuki satu per satu.
Notes from Underground (1864), Manusia Bawah Tanah dan Pemberontakan Melawan Akal
Ini adalah novel pendek, tetapi dampaknya sangat dahsyat. Friedrich Nietzsche konon langsung jatuh cinta begitu membacanya. Notes from Underground adalah monolog seorang "manusia bawah tanah", seorang mantan pegawai negeri yang kini hidup dalam isolasi, meratapi dirinya sendiri, dan melontarkan kritik paling tajam terhadap optimisme modern.
Siapakah "manusia bawah tanah" ini?
Ia adalah anti-pahlawan eksistensialis pertama. Ia sakit, tetapi ia menolak berobat. Ia sadar bahwa ia jahat, tetapi ia bangga akan kejahatannya. Ia terlalu cerdas untuk bahagia, terlalu sadar diri untuk bertindak.
Mengapa ia disebut "bawah tanah"? Bukan hanya karena ia hidup dalam kemiskinan, tetapi karena ia telah menggali ke dalam bawah tanah jiwa manusia, ke tempat di mana dorongan-dorongan irasional, destruktif, dan paradoksal bersembunyi.
Konsep Kunci, "2+2=4" dan Pemberontakan Melawan Akal
Di bagian pertama novel ini, Manusia Bawah Tanah melancarkan serangan terhadap apa yang ia sebut sebagai "Istana Kristal" (Crystal Palace). Istana Kristal adalah metafora untuk utopia rasionalis, sebuah dunia di mana segalanya bisa dihitung, diprediksi, dan diatur oleh akal dan sains.
Kaum sosialis utopis pada zaman Dostoevsky percaya bahwa jika manusia dididik dengan benar, jika kebutuhan materinya terpenuhi, dan jika masyarakat diatur secara rasional, maka manusia akan menjadi baik, bahagia, dan damai. Manusia akan hidup seperti semut dalam sarang yang tertib.
Manusia Bawah Tanah menertawakan ini.
"Engkau percaya pada istana kristal yang tidak bisa dihancurkan... Tetapi bagaimana jika, suatu hari, seorang pria dengan wajah sinis muncul dan berkata: 'Bagaimana kalau kita hancurkan saja semua ini, supaya kita bisa hidup dengan kehendak bodoh kita sendiri?'"
(Dostoevsky, Notes from Underground,
Bagian I, Bab 8)
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan seorang anak kecil yang diberi mainan yang sangat canggih. Mainan itu bisa bergerak sendiri, bersuara, dan dirancang oleh insinyur terbaik. Tetapi si anak, tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba membanting mainan itu ke lantai. Mengapa? Karena ia ingin membuktikan bahwa ia bebas. Ia bukan robot yang hanya merespons stimulus. Ia bisa memilih untuk menghancurkan, meskipun itu merugikan dirinya sendiri.
Itulah manusia, kata Dostoevsky. Bahkan jika engkau memberinya surga yang sempurna, ia akan menemukan cara untuk mengacaukannya. Karena manusia bukanlah mesin kalkulasi. Ia memiliki kehendak bebas yang irasional, dan ia akan mengorbankan kebahagiaan dan keuntungannya sendiri hanya untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar "tuts piano" yang dimainkan oleh hukum alam.
"Akal adalah hal yang baik, tidak diragukan lagi. Tetapi akal hanyalah akal, dan ia hanya memuaskan kapasitas rasional manusia. Sedangkan kehendak adalah manifestasi dari seluruh kehidupan... Seorang pria akan dengan sengaja, secara sadar, menginginkan sesuatu yang berbahaya, bodoh, bahkan paling bodoh sekalipun, hanya untuk memiliki hak untuk menginginkan sesuatu yang paling bodoh sekalipun." (Dostoevsky, Notes from Underground, Bagian I, Bab 7)
Di sinilah Dostoevsky menyerang fondasi Pencerahan dan utilitarianisme. Para pemikir seperti Jeremy Bentham berkata: "Manusia akan selalu memilih yang paling menguntungkan baginya." Dostoevsky menjawab: "Tidak. Manusia akan memilih penderitaan, jika penderitaan itu membuktikan kebebasannya."
Crime and Punishment (1866), Raskolnikov dan Eksperimen "Manusia Unggul"
Novel ini, Pembaca, adalah salah satu novel terbesar sepanjang masa. Ia adalah novel kriminal, novel psikologis, dan novel filosofis sekaligus.
Tokoh utamanya adalah Rodion Raskolnikov, seorang mahasiswa miskin di Sankt Peterburg. Ia cerdas, sombong, dan terobsesi dengan satu pertanyaan: "Apakah aku seorang 'manusia biasa' atau 'manusia luar biasa'?"
Konsep Kunci, Dua Golongan Manusia dan Eksperimen Pembunuhan
Sebelum melakukan pembunuhan, Raskolnikov menulis sebuah esai berjudul "Tentang Kejahatan". Dalam esai itu, ia membagi manusia menjadi dua golongan:
- Manusia Biasa: mayoritas, yang harus tunduk pada hukum moral. Mereka hidup untuk berkembang biak dan mempertahankan spesies.
- Manusia Luar Biasa: minoritas jenius seperti Napoleon, yang berhak melanggar hukum moral demi mewujudkan ide-ide besar yang akan mengubah sejarah. Mereka adalah "pembuat undang-undang dan pemimpin umat manusia... yang melangkahi mayat dan darah tanpa ragu" (Dostoevsky, Crime and Punishment, Bagian III, Bab 5).
Raskolnikov terobsesi dengan Napoleon. Ia bertanya pada dirinya sendiri: "Apakah aku ini Napoleon? Ataukah aku hanya kutu yang gemetar?"
Untuk menguji teorinya, ia memutuskan untuk membunuh Alyona Ivanovna, seorang rentenir tua yang kikir, kejam, dan tidak berguna. Dengan uangnya, ia bisa membiayai pendidikannya, membantu keluarganya yang miskin, dan melakukan banyak kebaikan. Seratus kebaikan untuk satu kejahatan. Bukankah itu hitungan yang rasional?
Pembunuhan itu sendiri adalah sebuah adegan yang mengerikan. Raskolnikov tidak datang sebagai pembunuh profesional. Ia datang dengan tangan gemetar, berkeringat dingin, dan hampir tertangkap. Ia membelah kepala si rentenir dengan kapak. Lalu, saudara perempuan si rentenir, Lizaveta, pulang tak terduga. Raskolnikov, dalam kepanikan, membunuhnya juga. Lizaveta adalah wanita polos dan baik hati, yang bahkan sedang hamil.
Kini, Raskolnikov telah membunuh dua orang. Dan di sinilah eksperimennya mulai gagal.
Kehancuran Teori
Raskolnikov berharap bahwa setelah pembunuhan, ia akan merasa sebagai "manusia luar biasa" yang tenang dan perkasa. Sebaliknya, ia hancur secara psikologis. Ia jatuh ke dalam demam, delirium, dan paranoia. Ia tidak bisa tidur. Ia tidak bisa makan. Ia mengasingkan diri dari semua orang yang mencintainya.
Mengapa? Karena teorinya salah. Ia bukanlah Napoleon. Ia bukan "manusia luar biasa". Ia hanyalah seorang pemuda yang ketakutan, yang dihantui oleh rasa bersalah.
Tetapi novel ini bukan hanya tentang rasa bersalah psikologis. Ini adalah novel tentang hati nurani sebagai bukti eksistensial akan adanya tatanan moral yang lebih tinggi. Raskolnikov mencoba hidup seolah-olah "Tuhan tidak ada dan segalanya diperbolehkan" (sebuah kalimat yang akan diulangi dalam The Brothers Karamazov). Tetapi hatinya tidak bisa menerima itu.
Pemulihan Raskolnikov dimulai ketika ia bertemu Sonia Marmeladova, seorang pelacur miskin yang tetap memegang imannya. Sonia adalah kebalikan dari Raskolnikov. Jika Raskolnikov mewakili pemberontakan intelektual melawan moral, Sonia mewakili kepolosan hati yang percaya.
Dalam salah satu adegan paling kuat dalam sastra, Raskolnikov dan Sonia membaca bersama kisah kebangkitan Lazarus dari Injil Yohanes. Raskolnikov, sang pembunuh, meminta Sonia, sang pelacur, untuk membacakan tentang Yesus yang membangkitkan orang mati.
"Puntung lilin sudah lama hampir padam di kandil yang bengkok, menerangi dengan remang-remang di ruangan pengemis ini seorang pembunuh dan seorang pelacur yang secara aneh berkumpul bersama sambil membaca Kitab Abadi." (Dostoevsky, Crime and Punishment, Bagian IV, Bab 4)
Pada akhirnya, Raskolnikov mengaku dan dihukum ke Siberia. Tetapi novel ini tidak berakhir dengan hukuman. Ia berakhir dengan pertobatan dan harapan. Di Siberia, dengan Sonia di sisinya, Raskolnikov akhirnya mengambil Injil yang belum pernah ia baca. "Mungkinkah keyakinannya bukan keyakinanku juga? Perasaannya, aspirasinya, setidaknya..." (Epilog, Bab 2).
Ini adalah jawaban eksistensial Dostoevsky terhadap Nietzsche avant la lettre: manusia tidak bisa menciptakan moralnya sendiri. Tanpa Tuhan, manusia akan tersiksa oleh kebebasannya sendiri.
The Idiot (1869), Pangeran Myshkin, Sang "Kristus" yang Gagal
Setelah Crime and Punishment, Dostoevsky ingin menciptakan karakter yang "benar-benar baik". Hasilnya adalah Pangeran Lev Myshkin, tokoh utama The Idiot.
Myshkin adalah seorang pangeran miskin yang kembali ke Rusia setelah bertahun-tahun dirawat di sanatorium di Swiss karena epilepsi. Ia polos, jujur, tulus, dan penuh kasih sayang. Ia tidak bisa berbohong. Ia tidak bisa bermain politik. Ia melihat kebaikan dalam diri setiap orang, bahkan para pembunuh.
Konsep Kunci, Yang Indah Akan Menyelamatkan Dunia, Tapi Bisakah Ia Bertahan?
Ada sebuah adegan terkenal di mana Myshkin melihat lukisan Tubuh Kristus yang Mati karya Hans Holbein. Lukisan itu sangat realistis, menunjukkan mayat Yesus yang hancur, membusuk, tanpa secercah kemuliaan pun. Myshkin gemetar saat melihatnya.
"Lukisan itu bisa membuat seseorang kehilangan imannya!" serunya.
(Dostoevsky, The Idiot, Bagian II, Bab 4)
Ini adalah pertanyaan yang menghantui seluruh novel: Dapatkah kebaikan dan keindahan bertahan di dunia yang kejam?
Myshkin adalah semacam "Ksatria Iman" versi Kierkegaardian, atau mungkin inkarnasi Kristus yang ditempatkan di tengah masyarakat Rusia yang korup. Tetapi apa yang terjadi? Ia tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Ia malah dihancurkan. Di akhir novel, seorang wanita yang dicintainya,
Nastasya Filippovna, dibunuh. Pembunuhnya adalah Rogozhin, pria yang juga mencintainya dalam kegilaan. Myshkin dan Rogozhin berjaga di samping mayat Nastasya sepanjang malam. Di pagi hari, Myshkin sudah benar-benar gila.
Ia kembali ke sanatorium di Swiss. Sang "Kristus" telah dikalahkan oleh dunia.
Tetapi, apakah ini berarti Dostoevsky pesimis? Tidak. Justru di sinilah letak paradoks eksistensialnya: Myshkin mungkin kalah di dunia, tetapi kekalahannya adalah sebuah dakwaan terhadap dunia, bukan terhadap kebaikan. Dunia yang tidak bisa menerima Myshkin adalah dunia yang sakit. Dan panggilan untuk menjadi seperti Myshkin tetap berdiri, meskipun kita tahu kita akan gagal.
The Brothers Karamazov (1880), Puncak Segalanya
Ini adalah novel terakhir Dostoevsky, dan bisa dikatakan sebagai ringkasan dari seluruh pemikirannya. Jika engkau hanya membaca satu novel Dostoevsky sepanjang hidupmu, bacalah yang ini.
Novel ini berkisah tentang tiga (sebenarnya empat) bersaudara Karamazov dan ayah mereka yang bejat, Fyodor Pavlovich. Setiap saudara mewakili satu "cara berada" di dunia:
- Dmitri (Mitya): Sang Prajurit, manusia nafsu. Ia hidup untuk kesenangan, kemarahan, dan cinta yang membara. Ia impulsif, liar, tetapi memiliki hati nurani yang dalam.
- Ivan (Vanya): Sang Intelektual, manusia rasio. Ia adalah ateis yang brilian. Ia tersiksa oleh penderitaan di dunia, terutama penderitaan anak-anak yang tidak bersalah. Dari sinilah lahir argumennya yang paling mengguncang.
- Alyosha (Alyoshka): Sang Novis Biarawan, manusia iman. Ia adalah murid dari Bapa Zosima, dan mencoba hidup dalam kasih dan kerendahan hati. Ia adalah "pahlawan" novel ini, meskipun Dostoevsky berencana menulis sekuel di mana Alyosha akan jatuh dan menjadi revolusioner.
- Smerdyakov: Saudara keempat, anak haram yang menjadi pelayan. Ia menderita epilepsi, sinis, dan mewakili kebencian kelas bawah terhadap majikannya. Ia adalah murid Ivan yang paling setia.
Konsep Kunci 1, "Jika Tuhan Tidak Ada, Semuanya Diperbolehkan"
Ini adalah kalimat yang paling terkenal dari Dostoevsky, meskipun sebenarnya tidak pernah diucapkan persis seperti itu oleh satu karakter. Kalimat ini adalah ringkasan dari seluruh filsafat Ivan Karamazov.
Ivan tidak peduli pada argumen kosmologis tentang keberadaan Tuhan. Yang membuatnya memberontak adalah penderitaan anak-anak yang tidak bersalah. Dalam bab yang terkenal, "Pemberontakan" (Rebellion), Ivan menceritakan kepada Alyosha serangkaian kisah mengerikan tentang anak-anak yang disiksa:
"Seorang gadis kecil berusia lima tahun disiksa oleh orang tuanya yang terpelajar. Mereka memukulinya, mencambuknya, menendangnya, tanpa tahu mengapa... Mereka mengurungnya sepanjang malam di kakus yang dingin... Bisakah engkau mengerti bahwa seorang anak kecil, yang bahkan belum bisa mengerti apa yang dilakukan padanya, memukuli dadanya yang kecil dengan tinjunya yang mungil dan menangis dengan air mata berdarah kepada 'Tuhan yang baik' untuk menolongnya?"
(Dostoevsky, The Brothers Karamazov, Bagian II, Buku V, Bab 4: "Pemberontakan")
Kemudian Ivan menyampaikan argumennya. Ia tidak menolak bahwa Tuhan ada. Ia juga tidak menolak bahwa pada akhir zaman nanti akan ada harmoni abadi, di mana semua air mata akan dihapus dan semua penderitaan akan dimengerti. Tetapi ia menolak harmoni itu.
"Aku tidak menginginkan harmoni. Karena cinta pada umat manusia, aku tidak menginginkannya... Lebih baik aku tetap dengan penderitaanku yang tak terbalaskan dan kemarahanku yang tak terpuaskan, meskipun aku salah... Aku mengembalikan tiket masukku... Bukan karena aku tidak menerima Tuhan, Alyosha. Aku hanya, dengan penuh hormat, mengembalikan tiketku."
(Dostoevsky, The Brothers Karamazov,
Bagian II, Buku V, Bab 4: "Pemberontakan")
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan engkau diundang ke sebuah konser yang katanya akan menjadi konser terindah sepanjang sejarah. Tetapi untuk masuk, engkau harus melewati sebuah ruangan di mana seorang anak kecil yang tidak bersalah sedang disiksa, dan engkau tidak bisa menolongnya. Setelah itu, engkau akan masuk ke konser dan menikmati musiknya. Ivan berkata: "Aku tidak mau. Aku tidak peduli seberapa indah konser itu. Aku tidak bisa menikmatinya jika tiketnya adalah siksaan seorang anak."
Ini adalah argumen moral melawan Tuhan yang paling kuat yang pernah ditulis. Bukan berdasarkan logika, tetapi berdasarkan hati nurani. Ivan tidak bisa menerima bahwa penderitaan yang tidak bersalah adalah "harga" untuk sesuatu yang baik.
Dan dari sinilah lahir konsekuensi yang mengerikan: jika tidak ada Tuhan, jika tidak ada keadilan kosmik, maka tidak ada hukum moral yang absolut. Semuanya diperbolehkan.
Smerdyakov, yang mendengarkan semua ini, bertindak. Ia membunuh ayah mereka, Fyodor Pavlovich, karena ia percaya bahwa Ivan, dengan filsafatnya, telah "mengizinkannya". Ketika Ivan menyadari bahwa ia bertanggung jawab secara moral atas pembunuhan itu, ia menjadi gila. Di sinilah Dostoevsky menunjukkan bahwa ide bukanlah mainan. Ide bisa membunuh.
Konsep Kunci 2, "Sang Inkuisitor Agung", Kritik Terhadap Kebebasan
Di dalam novel ini, ada sebuah "novel dalam novel" yang diceritakan oleh Ivan kepada Alyosha. Judulnya adalah "Sang Inkuisitor Agung" (The Grand Inquisitor), dan ini adalah salah satu teks paling penting dalam sejarah eksistensialisme.
Ceritanya begini: Yesus kembali ke bumi pada abad ke-16 di Sevilla, Spanyol, saat Inkuisisi Spanyol sedang membakar para bidat. Ia muncul di tengah kerumunan, dan semua orang langsung mengenalinya. Ia membangkitkan seorang anak yang mati. Ia melakukan mukjizat.
Tetapi, Kardinal Inkuisitor Agung melihat ini. Ia menangkap Yesus dan memenjarakannya. Pada malam hari, ia datang ke sel Yesus dan menyampaikan monolog yang panjang.
Apa yang ia katakan?
"Engkau telah gagal, Yesus. Engkau memberikan kebebasan kepada manusia, tetapi manusia tidak sanggup menanggung kebebasan. Mereka terlalu lemah. Mereka menginginkan roti, mukjizat, dan otoritas. Mereka menginginkan seseorang untuk menyembah. Engkau menolak tiga godaan Iblis di padang gurun, untuk mengubah batu menjadi roti, untuk melompat dari Bait Allah, untuk menerima kerajaan dunia. Tetapi justru tiga hal itulah yang dibutuhkan manusia! Kami, Gereja, telah memperbaiki kesalahan-Mu. Kami mengambil kebebasan yang Engkau berikan, dan sebagai gantinya kami memberi mereka kebahagiaan."
"Mereka akan berkata: 'Engkau benar, Engkau sendiri yang benar. Tetapi pergilah. Kami tidak menginginkan-Mu. Kami memiliki para pemimpin kami sendiri.'... Kami akan memberi mereka kebahagiaan yang tenang dan rendah hati, kebahagiaan makhluk-makhluk lemah, seperti mereka diciptakan."
(Dostoevsky, The Brothers Karamazov, Bagian II, Buku V, Bab 5: "Sang Inkuisitor Agung")
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan seorang ayah yang memberikan anaknya kunci mobil untuk belajar mengemudi. Itu berbahaya. Anak itu bisa menabrak, melukai diri sendiri, atau mati. Sang ayah memberikan kebebasan, tetapi juga risiko. Lalu, datanglah seorang paman yang "baik hati". Ia mengambil kunci itu dan berkata: "Aku akan menyetir untukmu. Engkau duduk saja di belakang, tidurlah. Engkau akan selamat. Tetapi engkau tidak akan pernah belajar mengemudi."
Itulah yang dilakukan Gereja (menurut Sang Inkuisitor): mereka mengambil kebebasan manusia dan menggantinya dengan keamanan. Mereka menjadi "pengasuh" bagi umat manusia yang dianggap terlalu bodoh dan lemah untuk bebas.
Dostoevsky, melalui mulut Sang Inkuisitor, sebenarnya sedang mengkritik semua ideologi totaliter, termasuk komunisme yang akan melanda Rusia beberapa dekade kemudian. Semua ideologi yang menjanjikan "surga di bumi" dengan mengorbankan kebebasan individu adalah Inkuisitor Agung.
Tetapi, ada yang mengejutkan. Setelah monolog panjang itu, Yesus tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya berjalan mendekati Sang Inkuisitor dan menciumnya di bibir yang tak berdarah. Sang Inkuisitor gemetar. Ia membuka pintu sel dan berkata: "Pergilah, dan jangan kembali lagi... Jangan pernah kembali."
Ciuman itu adalah jawaban eksistensial yang tidak bisa dijawab dengan argumen. Ciuman itu adalah kasih. Dan kasih tidak bisa diperdebatkan; ia hanya bisa diberikan atau ditolak.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
Mengapa kita harus membaca Dostoevsky di abad ke-21?
- Ia adalah "vaksin" melawan ideologi. Setiap kali seseorang menjanjikanmu "sistem yang sempurna" yang akan menyelamatkan umat manusia, ingatlah Raskolnikov dan teorinya. Ingatlah Sang Inkuisitor Agung. Setiap ide yang mengorbankan manusia konkret demi "kemanusiaan" abstrak adalah jebakan.
- Penderitaan bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihayati. Dostoevsky tidak memuja penderitaan sebagai masokis. Tetapi ia menunjukkan bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan jiwa. "Aku takut aku tidak layak menerima penderitaanku," kata Dmitri Karamazov. Artinya, penderitaan bisa menjadi guru, jika kita bersedia belajar darinya.
- Kebebasan itu menakutkan, tetapi itulah martabat kita. Manusia Bawah Tanah mengajarkan bahwa kita bukan robot. Kita bisa memilih yang bodoh, yang merugikan, yang destruktif, dan justru di situlah kita membuktikan bahwa kita bebas. Pertanyaannya bukan bagaimana menghilangkan kebebasan, tetapi bagaimana mengarahkannya pada kebaikan.
- Cinta adalah jawaban, meskipun ia tidak bisa dijelaskan secara logis. Ciuman Yesus kepada Sang Inkuisitor adalah simbol bahwa di luar semua argumen teologis dan filosofis, ada kekuatan yang lebih besar: kasih yang konkret, yang aktif, yang tidak banyak bicara tetapi bertindak.
Dostoevsky menutup The Brothers Karamazov dengan kata-kata Alyosha kepada anak-anak yang berkumpul di pemakaman teman mereka:
"Kita pasti akan bangkit lagi. Kita pasti akan saling melihat dan menceritakan dengan sukacita segala sesuatu yang telah terjadi... Betapa baiknya kehidupan ini!"
(Dostoevsky, The Brothers Karamazov, Epilog, Bab 3)
Epilog
Fyodor Dostoevsky meninggal pada 28 Januari 1881, di apartemennya di Sankt Peterburg. Pendarahan di paru-parunya kambuh, dan ia wafat setelah berjam-jam kesakitan. Konon, sebelum meninggal, ia meminta istrinya untuk membacakan Injil, Injil yang sama yang dulu diberikan oleh istri-istri Desembris kepadanya dalam perjalanan ke Siberia.
Puluhan ribu orang datang ke pemakamannya. Rusia berduka.
Ia tidak meninggalkan sistem filsafat. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih hidup: karakter-karakter yang terus bertanya, menderita, dan berharap. Ia meninggalkan Raskolnikov yang bertobat, Ivan yang gila, Dmitri yang siap menderita, dan Alyosha yang mencium bumi dan menangis dalam ekstase.
Melalui mereka, Dostoevsky mengajarkan bahwa jiwa manusia adalah medan perang antara Tuhan dan Iblis. Dan tidak ada yang lebih menarik daripada menyaksikan pertempuran itu.
A. Sumber Primer: Karya Dostoevsky
- Dostoevsky, Fyodor. Notes from Underground. Diterjemahkan oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky. New York: Vintage Classics, 1993.
- Dostoevsky, Fyodor. Crime and Punishment. Diterjemahkan oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky. New York: Vintage Classics, 1992.
- Dostoevsky, Fyodor. The Idiot. Diterjemahkan oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky. New York: Vintage Classics, 2003.
- Dostoevsky, Fyodor. The Brothers Karamazov. Diterjemahkan oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2002.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
1. Bakhtin, Mikhail. Problems of Dostoevsky's Poetics. Diterjemahkan oleh Caryl Emerson. Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984.
- Studi klasik yang memperkenalkan konsep "polifonik", bahwa novel Dostoevsky adalah dialog antara suara-suara yang setara, bukan monolog pengarang.
2. Frank, Joseph. Dostoevsky: A Writer in His Time. Princeton: Princeton University Press, 2010.
- Ringkasan dari biografi lima jilid monumental Frank, dianggap sebagai biografi definitif Dostoevsky dalam bahasa Inggris.
3. Mochulsky, Konstantin. Dostoevsky: His Life and Work. Diterjemahkan oleh Michael A. Minihan. Princeton: Princeton University Press, 1967.
- Biografi klasik yang menghubungkan kehidupan Dostoevsky dengan karya-karyanya secara mendalam.
4. Berdiaev, Nikolai. Dostoevsky: An Interpretation. Diterjemahkan oleh Donald Attwater. San Rafael: Semantron Press, 2009.
Pembaca yang terhormat dan pantang menyerah, Sebelum pena menari di atas kertas digital, izinkan penulis menyampaikan sebuah pelurusan yang amat penting, yang justru akan membuat perjalanan kita kali ini semakin kaya dan tak terduga. Jika kita hendak melakukan penjelasan tentang Edmund Husserl dalam kerangka Eksistensialisme. Di sinilah kita harus berhenti sejenak, karena sesungguhnya, Husserl bukanlah seorang filsuf eksistensialis. Ia adalah pendiri Fenomenologi, sebuah aliran filsafat yang menjadi fondasi kokoh bagi bangunan eksistensialisme yang akan didirikan oleh muridnya, Martin Heidegger, dan kemudian dihuni oleh Jean-Paul Sartre serta Maurice Merleau-Ponty.
- Interpretasi eksistensial-religius oleh filsuf Rusia terkemuka yang melihat Dostoevsky sebagai nabi spiritual.
Edmund Husserl
Pembaca yang terhormat dan pantang menyerah, Sebelum pena menari di atas kertas digital, izinkan penulis menyampaikan sebuah pelurusan yang amat penting, yang justru akan membuat perjalanan kita kali ini semakin kaya dan tak terduga. Jika kita hendak melakukan penjelasan tentang Edmund Husserl dalam kerangka Eksistensialisme. Di sinilah kita harus berhenti sejenak, karena sesungguhnya, Husserl bukanlah seorang filsuf eksistensialis. Ia adalah pendiri Fenomenologi, sebuah aliran filsafat yang menjadi fondasi kokoh bagi bangunan eksistensialisme yang akan didirikan oleh muridnya, Martin Heidegger, dan kemudian dihuni oleh Jean-Paul Sartre serta Maurice Merleau-Ponty.
Ibaratnya begini: jika Eksistensialisme adalah sebuah rumah megah yang di dalamnya kita bergulat dengan kecemasan, kebebasan, dan kematian, maka Fenomenologi Husserl adalah cetak biru arsitektural dan alat-alat pertukangan yang memungkinkan rumah itu dibangun.
Maka, dengan, kita tidak akan memaksakan label "eksistensialis" pada Husserl. Sebagai gantinya, kita akan menjelajahi Fenomenologi Husserl sebagai "Metode Ajaib" yang Melahirkan Eksistensialisme. Kita akan melihat bagaimana seorang matematikawan yang sangat cinta pada kepastian ilmiah justru membuka pintu bagi penyelidikan paling subyektif tentang pengalaman manusia.
Prolog, Matematikawan yang Mencari Fondasi Paling Dalam
Kisah kita bergeser dari Rusia-nya Dostoevsky ke wilayah Moravia (kini bagian dari Republik Ceko) dan Jerman pada akhir abad ke-19. Di sini, seorang pemuda bernama Edmund Husserl (1859–1938) sedang bergulat dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya sangat teknis dan kering: "Apa dasar dari matematika?"
Husserl memulai kariernya sebagai matematikawan. Ia belajar di bawah bimbingan Karl Weierstrass, salah satu matematikawan terbesar saat itu. Namun, ia segera merasa gelisah. Matematika bisa membangun teorema-teorema yang sangat indah dan pasti, tetapi di atas fondasi apa semua itu berdiri? Bagaimana kita bisa yakin bahwa 2+2=4 bukan hanya kebiasaan psikologis, melainkan kebenaran yang absolut?
Pertanyaan ini membawanya kepada filsafat. Ia belajar di bawah bimbingan Franz Brentano, seorang filsuf dan psikolog yang memperkenalkan satu konsep yang akan mengubah segalanya: Intensionalitas.
Dari Brentano inilah Husserl mewarisi keyakinan bahwa kesadaran selalu "terarah" pada sesuatu. Kesadaran bukanlah wadah kosong yang pasif menerima data. Ia selalu "menggapai" objek.
Namun, Husserl tidak puas dengan psikologi. Ia ingin membangun filsafat sebagai "ilmu yang paling ketat" (Philosophie als strenge Wissenschaft). Ia ingin menemukan fondasi yang lebih dalam dari matematika, lebih dalam dari logika, lebih dalam dari psikologi. Fondasi itu adalah pengalaman itu sendiri sebagaimana ia muncul dalam kesadaran.
Dari sinilah lahir Fenomenologi.
Siapakah Husserl?
Ia adalah pria yang terobsesi dengan kepastian. Untuk memahami Husserl, bayangkanlah seorang biarawan, tetapi bukan di biara abad pertengahan, melainkan di ruang kerja yang penuh dengan tumpukan manuskrip. Husserl adalah tipe pemikir yang sangat serius, sangat teliti, dan sangat obsesif. Istrinya, Malvine, pernah bercanda bahwa suaminya "hidup untuk menulis, dan menulis untuk hidup".
Setiap hari, ia menulis dengan pensil (ia tidak suka tinta karena terlalu permanen; pikirannya selalu berubah dan berkembang). Ia menulis puluhan ribu halaman dalam bentuk stenografi, yang dikenal sebagai Husserliana, sebuah harta karun yang masih terus diterbitkan hingga hari ini.
Setiap hari, ia menulis dengan pensil (ia tidak suka tinta karena terlalu permanen; pikirannya selalu berubah dan berkembang). Ia menulis puluhan ribu halaman dalam bentuk stenografi, yang dikenal sebagai Husserliana, sebuah harta karun yang masih terus diterbitkan hingga hari ini.
Ia bukan tipe filsuf yang suka bersosialisasi di kafe-kafe. Ia adalah seorang pertapa ilmu. Namun, justru dari keterasingannya ini, ia menciptakan sebuah metode yang revolusioner.
"Kembali kepada Benda-Benda Itu Sendiri!"
Seruan perang Husserl adalah: Zurück zu den Sachen selbst!, "Kembali kepada benda-benda itu sendiri!"
Apa maksudnya?
Husserl melihat bahwa filsafat dan sains pada zamannya telah diracuni oleh teori-teori, asumsi-asumsi, dan prasangka-prasangka. Para ilmuwan tidak lagi "melihat" realitas; mereka hanya melihat model-model matematis. Para filsuf tidak lagi mengalami fenomena; mereka hanya berdebat tentang "benda-dalam-dirinya" yang misterius ala Kant.
Husserl ingin kita melepaskan semua kacamata teoretis dan kembali kepada pengalaman yang paling langsung dan paling murni: bagaimana benda-benda menampakkan diri mereka sendiri kepada kesadaran kita.
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan engkau adalah seorang penjelajah yang tiba di sebuah pulau yang belum pernah dikunjungi siapa pun. Di ranselmu, engkau membawa buku-buku botani, teori-teori geologi, dan peta-peta buatan orang lain. Menurut Husserl, semua itu harus kau buang dulu. Sebelum membaca buku botani, lihatlah dulu bunga itu. Ciumlah aromanya. Rasakanlah tekstur kelopaknya. Biarkan bunga itu menunjukkan dirinya kepadamu, tanpa engkau paksa dengan kategori-kategori ilmiah.
Inilah semangat Fenomenologi: kembali kepada pengalaman konkret yang mendahului semua teori.
Konsep-Konsep Kunci Fenomenologi Husserl
Mari kita masuki bengkel kerja Husserl dan melihat alat-alat konseptual yang ia ciptakan.
Konsep 1, Intensionalitas, Kesadaran Selalu "Tentang" Sesuatu
Ini adalah fondasi dari segalanya. Husserl mengambil konsep ini dari gurunya, Franz Brentano, dan mengembangkannya menjadi pusat dari fenomenologi.
Apa itu intensionalitas?
Intensionalitas adalah sifat dasar kesadaran yang selalu terarah kepada suatu objek. Tidak ada kesadaran yang kosong. Setiap kali engkau sadar, engkau selalu sadar akan sesuatu.
- Engkau tidak hanya "melihat"; engkau melihat pohon itu.
- Engkau tidak hanya "mengingat"; engkau mengingat hari ulang tahunmu yang lalu.
- Engkau tidak hanya "takut"; engkau takut pada ular.
- Engkau tidak hanya "berpikir"; engkau berpikir tentang filsafat.
"Semua kesadaran adalah kesadaran akan sesuatu."
(Husserl, Ideas I, §36)
Analoginya begini, Pembaca. Kesadaranmu seperti lampu senter di kegelapan. Lampu senter itu sendiri bukanlah apa-apa tanpa sorotannya. Ia selalu menyorot sesuatu, sebuah kursi, sebuah pintu, sebuah wajah. Sorotan itu adalah intensionalitas.
Ini adalah pukulan telak bagi psikologi empiris pada masa itu, yang menganggap kesadaran sebagai sekadar "wadah" atau "teater internal" tempat data-data inderawi masuk dan diproses. Bagi Husserl, kesadaran adalah aktivitas yang mengarah keluar, yang selalu sudah "menggapai" dunia.
Mengapa ini penting bagi eksistensialisme? Karena Heidegger, Sartre, dan Merleau-Ponty mengambil alih konsep ini. Heidegger berkata: "Dasein bukanlah subyek yang terisolasi; ia selalu sudah 'berada-di-dunia' (In-der-Welt-sein)." Sartre berkata: "Kesadaran adalah 'meledak ke arah' dunia." Semua ini berakar pada intensionalitas Husserl.
Konsep 2,Epokhê dan Reduksi Fenomenologis, "Menunda" Kepercayaan Kita pada Dunia
Ini adalah metode paling radikal dan paling sering disalahpahami dari Husserl.
Husserl ingin menemukan fondasi yang paling pasti bagi pengetahuan. Ia bertanya: "Apa yang tidak bisa diragukan?"
René Descartes, pada abad ke-17, sudah mencoba ini dengan metode keraguannya. Ia meragukan segalanya, inderanya, tubuhnya, dunia luar, dan sampai pada kesimpulan: "Aku berpikir, maka aku ada" (Cogito, ergo sum).
Husserl mengagumi Descartes, tetapi ia merasa Descartes membuat kesalahan fatal. Descartes berhenti terlalu cepat. Setelah menemukan Cogito, Descartes langsung menyimpulkan bahwa "aku" adalah "substansi yang berpikir" (res cogitans), dan dari situ ia membangun kembali dunia. Bagi Husserl, ini adalah sebuah prasangka metafisik.
Apa itu Epokhê?
Epokhê (dari bahasa Yunani, berarti "menahan diri" atau "menunda") adalah tindakan radikal untuk "menunda" atau "mengurung" kepercayaan kita akan keberadaan dunia luar. Ini BUKAN berarti kita menyangkal bahwa dunia ada. Kita bukan menjadi solipsis yang gila. Kita hanya tidak menggunakan kepercayaan itu.
"Kita menaruh dalam kurung seluruh dunia alamiah, termasuk kita sendiri sebagai makhluk psikofisik di dalamnya."
(Husserl, Ideas I, §32)
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan engkau sedang menonton film di bioskop. Engkau tahu bahwa gambar di layar hanyalah proyeksi cahaya dari proyektor. Tetapi engkau "menunda" pengetahuan itu. Engkau membiarkan dirimu tenggelam dalam cerita. Engkau menangis saat tokoh utama mati, meskipun engkau tahu itu hanya akting.
Nah, Epokhê adalah kebalikannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita "tenggelam" dalam kepercayaan bahwa dunia ini nyata dan ada di luar sana. Epokhê adalah tindakan untuk "keluar dari film" dan menyadari bahwa semua yang kita alami adalah fenomena yang muncul dalam kesadaran kita.
Kita tidak berkata, "Dunia ini tidak ada." Kita hanya berkata, "Aku tidak akan menggunakan asumsi bahwa dunia ini ada di luar kesadaranku. Aku hanya akan memperhatikan bagaimana dunia ini tampak bagiku."
Setelah kita melakukan Epokhê, kita masuk ke dalam Reduksi Fenomenologis (atau Reduksi Transendental). Kita kini berada di wilayah kesadaran murni. Kita tidak lagi bertanya, "Apakah pohon itu benar-benar ada di luar sana?" melainkan, "Bagaimana pohon itu diberikan kepada kesadaranku? Apa esensi dari pengalaman 'melihat pohon'?"
Di sinilah kita menemukan Aku Transendental, bukan "aku" sebagai manusia konkret, melainkan "aku" sebagai subyek yang menjadi syarat bagi munculnya semua fenomena.
Konsep 3, Konstitusi, Kesadaran "Membangun" Makna
Setelah kita masuk ke dalam wilayah kesadaran murni melalui reduksi fenomenologis, kita menemukan sesuatu yang menakjubkan: kesadaran tidak hanya pasif menerima data; ia aktif "mengkonstitusi" makna.
Analoginya begini, Pembaca. Bayangkan engkau melihat sebuah kubus. Secara fisik, matamu hanya bisa melihat tiga sisi dari kubus itu. Engkau tidak pernah bisa melihat keenam sisinya sekaligus. Namun, dalam pengalamanmu, engkau melihat "sebuah kubus", bukan hanya tiga bidang datar yang aneh.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Menurut Husserl, kesadaranmu secara aktif "melengkapi" sisi-sisi yang tidak terlihat. Ketika engkau melihat sisi depan kubus, engkau "mengantisipasi" sisi belakangnya. Engkau memiliki horizon pengalaman, kemungkinan-kemungkinan yang belum terlihat tetapi sudah "dimaksudkan" oleh kesadaranmu.
Proses ini disebut konstitusi. Kesadaran tidak menciptakan dunia dari ketiadaan. Tetapi ia memberikan struktur dan makna pada data inderawi yang mentah. Sebuah meja adalah "meja" bukan hanya karena bentuknya, tetapi karena kesadaranku mengkonstitusinya sebagai "sesuatu untuk menulis", "sesuatu untuk meletakkan cangkir", dan seterusnya.
Inilah yang membedakan Fenomenologi dari empirisme naif. Dunia yang kita alami bukanlah kumpulan atom dan partikel yang tidak bermakna. Dunia selalu sudah bermakna bagi kita, dan makna itu dikonstitusi oleh aktivitas kesadaran.
"Kesadaran adalah kesadaran yang mengkonstitusi."
(Husserl, Cartesian Meditations, §20)
Konsep 4, Dunia-Kehidupan (Lebenswelt), Dunia Sehari-Hari yang Terlupakan
Di masa tuanya, Husserl menulis sebuah buku berjudul The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology (1936). Di sini, ia memperkenalkan konsep Lebenswelt atau Dunia-Kehidupan (life-world).
Apa itu Lebenswelt?
Ia adalah dunia pengalaman sehari-hari yang kita huni sebelum semua teori dan sains. Ini adalah dunia di mana kita merasa lapar, mencintai, marah, dan berjalan di bawah hujan. Ini adalah dunia yang penuh warna, suara, aroma, dan makna.
Husserl berargumen bahwa sains modern telah "melupakan" Lebenswelt ini. Sains telah menggantikan dunia yang kita hayati dengan dunia idealisasi matematis. Para fisikawan tidak lagi berbicara tentang "panasnya api unggun", melainkan tentang "gelombang inframerah dengan panjang gelombang X". Mereka tidak lagi berbicara tentang "birunya langit", melainkan tentang "hamburan Rayleigh".
Tentu saja, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Tetapi Husserl memperingatkan: sains lupa bahwa model-model matematis itu sendiri berakar pada Lebenswelt. Alat ukur, laboratorium, eksperimen, semuanya dilakukan oleh ilmuwan konkret yang hidup di dunia sehari-hari. Dunia-Kehidupan adalah "fondasi makna yang terlupakan" (vergessenes Sinnesfundament) bagi semua sains.
"Dunia-kehidupan adalah dunia yang selalu sudah ada, yang mendahului semua pengetahuan teoretis... Ia adalah tanah yang di atasnya semua sains berdiri."
(Husserl, The Crisis of European Sciences, §9)
Analoginya begini, Pembaca. Lebenswelt adalah seperti tanah di bawah kakimu. Engkau bisa membangun gedung pencakar langit sains yang menjulang tinggi. Tetapi jika engkau lupa bahwa gedung itu berdiri di atas tanah, engkau akan kehilangan kontak dengan realitas. Fenomenologi ingin mengingatkan kita pada tanah itu.
Mengapa ini penting bagi eksistensialisme? Karena Heidegger, Sartre, dan terutama Merleau-Ponty mengambil alih konsep Lebenswelt ini. Eksistensialisme justru menyelidiki manusia sebagaimana ia berada dalam dunia sehari-hari, bukan sebagai "subyek epistemologis" yang dingin, melainkan sebagai makhluk yang cemas, yang peduli, yang menggunakan alat, dan yang berelasi dengan orang lain. Tanpa Lebenswelt-nya Husserl, eksistensialisme akan kehilangan panggungnya.
Konsep, Intersubjektivitas, Orang Lain Bukanlah "Hantu"
Salah satu kritik paling tajam terhadap Husserl adalah bahwa fenomenologinya terperangkap dalam solipsisme, yaitu, bahwa ia hanya berbicara tentang "aku" dan kesadaranku sendiri, dan tidak bisa menjangkau orang lain.
Menanggapi kritik ini, di masa tuanya, Husserl menulis Cartesian Meditations (1931), khususnya "Meditasi Kelima" yang terkenal sangat sulit. Di sana ia mencoba menunjukkan bagaimana orang lain dikonstitusi dalam kesadaranku.
Bagaimana aku mengalami orang lain?
Aku tidak mengalami orang lain sebagai "benda" di antara benda-benda lainnya. Jika aku melihat sebatang pohon, aku hanya melihat sisi luarnya. Tetapi jika aku melihat seseorang, aku langsung tahu bahwa ia juga adalah subyek seperti aku. Ia memiliki kesadaran, perasaan, dan perspektifnya sendiri.
Bagaimana aku tahu ini?
Melalui apa yang disebut Husserl sebagai apresentasi (Appräsentation) atau pasangan (Paarung). Ketika aku melihat tubuh orang lain yang bergerak, tersenyum, atau menangis, tubuh itu langsung "memanggil" pengalamanku sendiri tentang tubuhku. Aku tidak perlu "menyimpulkan" bahwa ia memiliki jiwa; aku langsung mengalaminya sebagai subyek.
"Aku mengalami orang lain secara langsung sebagai subyek yang mempersepsiku, sama seperti aku mempersepsinya." (Husserl, Cartesian Meditations, §50)
Analoginya begini, Pembaca. Engkau sedang duduk sendirian di taman. Lalu, seorang pria duduk di bangku seberang dan mulai menangis. Engkau tidak perlu melakukan "tes laboratorium" untuk mengetahui bahwa ia sedih. Ekspresinya, posturnya, isak tangisnya, semuanya langsung "beresonansi" dengan tubuhmu sendiri yang pernah menangis. Engkau ikut merasakan kesedihannya.
Ini adalah fondasi dari empati. Dan dari sinilah Husserl membangun intersubjektivitas: dunia yang kita huni bukanlah dunia pribadi milikku sendiri. Dunia ini adalah dunia yang dibagi bersama (shared world). Aku, engkau, dan semua orang melihat "dunia yang sama", meskipun dari perspektif yang berbeda.
Husserl dan Kelahiran Eksistensialisme
Sekarang, Pembaca, tibalah kita pada momen penting. Bagaimana Fenomenologi Husserl melahirkan Eksistensialisme?
Husserl memberikan metode dan panggung. Ia mengajarkan untuk kembali kepada "benda-benda itu sendiri", untuk menunda teori, dan untuk memperhatikan bagaimana dunia "muncul" dalam kesadaran.
Tetapi murid-muridnya mulai bertanya: "Siapakah 'aku' yang mengalami semua ini?"
Husserl cenderung melihat "Aku Transendental" sebagai kesadaran murni yang hampir tanpa daging, tanpa sejarah, tanpa kematian. Inilah yang membuat Martin Heidegger, muridnya yang paling brilian, memberontak.
Heidegger mengambil metode fenomenologi, tetapi ia mengarahkannya bukan pada kesadaran murni, melainkan pada manusia konkret yang "ada" di dunia, yang akan mati. Inilah Dasein.
Jean-Paul Sartre mengambil intensionalitas Husserl dan berkata: "Kesadaran adalah 'bukan-apa-apa' (néant). Ia selalu meledak ke arah dunia. Manusia tidak memiliki esensi yang tetap; ia harus menciptakan dirinya sendiri."
Maurice Merleau-Ponty mengambil Lebenswelt dan tubuh dari Husserl dan berkata: "Aku bukan hanya kesadaran; aku adalah tubuh yang hidup di dunia."
Dengan demikian, Husserl adalah kakek dari eksistensialisme. Tanpanya, kita tidak akan memiliki alat untuk menyelidiki pengalaman konkret manusia.
Epilog, "Saya Masih Seorang Pemula"
Husserl meninggal pada 27 April 1938, di Freiburg, Jerman. Di masa tuanya, ia menyaksikan dengan ngeri kebangkitan Nazisme (yang bahkan melarangnya, seorang Yahudi, untuk menggunakan perpustakaan universitas). Meskipun dunia di sekitarnya runtuh, ia terus menulis.
Konon, di ranjang kematiannya, ia berbisik kepada perawatnya: "Saya baru saja melihat sesuatu yang begitu indah. Saya harus menulisnya." Dan kemudian ia pergi.
Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah berkata kepada seorang temannya:
"Saya masih seorang pemula. Saya belum menemukan apa yang saya cari. Tetapi saya tahu bahwa saya sedang dalam perjalanan menuju ke sana."
(Dikutip dalam Spiegelberg, The Phenomenological Movement, Vol. 1, hlm. 82)
Inilah Husserl: seorang "pemula abadi" yang tidak pernah berhenti mencari fondasi yang paling dalam, dan yang mewariskan kepada kita sebuah metode untuk melihat dunia dengan mata yang baru.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
- Fenomenologi mengajarkan kita untuk "melihat" lagi. Di era digital, kita dibanjiri informasi dan teori. Kita lebih sering melihat dunia melalui layar daripada secara langsung. Husserl mengajak kita untuk berhenti, menunda semua kategori, dan benar-benar hadir pada pengalaman kita sendiri.
- Kesadaran bukanlah wadah pasif. Engkau bukan robot yang hanya bereaksi terhadap stimulus. Engkau adalah subyek yang aktif memberi makna pada duniamu. Setiap momen adalah hasil dari "konstitusi" batinmu.
- Kembalilah ke "dunia-kehidupan". Jangan biarkan teori-teori dan ideologi menggantikan pengalamanmu yang paling konkret. Sebelum engkau menjadi "pemilih", "konsumen", atau "warga negara", engkau adalah manusia yang lapar, lelah, mencintai, dan berjalan di bumi.
A. Sumber Primer: Karya Husserl
1. Husserl, Edmund. Logical Investigations. 2 vols. Diterjemahkan oleh J.N. Findlay. London: Routledge, 2001.
2. Husserl, Edmund. Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy: First Book. Diterjemahkan oleh F. Kersten. The Hague: Martinus Nijhoff, 1983. (Disebut sebagai Ideas I)
3. Husserl, Edmund. Cartesian Meditations: An Introduction to Phenomenology. Diterjemahkan oleh Dorion Cairns. The Hague: Martinus Nijhoff, 1960.
4. Husserl, Edmund. The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology. Diterjemahkan oleh David Carr. Evanston: Northwestern University Press, 1970.
2. Husserl, Edmund. Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy: First Book. Diterjemahkan oleh F. Kersten. The Hague: Martinus Nijhoff, 1983. (Disebut sebagai Ideas I)
3. Husserl, Edmund. Cartesian Meditations: An Introduction to Phenomenology. Diterjemahkan oleh Dorion Cairns. The Hague: Martinus Nijhoff, 1960.
4. Husserl, Edmund. The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology. Diterjemahkan oleh David Carr. Evanston: Northwestern University Press, 1970.
B. Sumber Sekunder
1. Spiegelberg, Herbert. The Phenomenological Movement: A Historical Introduction. 3rd ed. The Hague: Martinus Nijhoff, 1982. , Karya klasik yang memetakan sejarah fenomenologi dari Husserl hingga para penerusnya.
2. Moran, Dermot. Introduction to Phenomenology. London: Routledge, 2000. , Pengantar komprehensif yang sangat mudah diakses.
3. Zahavi, Dan. Husserl's Phenomenology. Stanford: Stanford University Press, 2003. , Pengantar ringkas namun mendalam oleh salah satu ahli Husserl kontemporer terkemuka.
4. Sokolowski, Robert. Introduction to Phenomenology. Cambridge: Cambridge University Press, 2000. , Pengantar yang sangat jelas, ditulis dengan gaya yang hampir seperti percakapan.
2. Moran, Dermot. Introduction to Phenomenology. London: Routledge, 2000. , Pengantar komprehensif yang sangat mudah diakses.
3. Zahavi, Dan. Husserl's Phenomenology. Stanford: Stanford University Press, 2003. , Pengantar ringkas namun mendalam oleh salah satu ahli Husserl kontemporer terkemuka.
4. Sokolowski, Robert. Introduction to Phenomenology. Cambridge: Cambridge University Press, 2000. , Pengantar yang sangat jelas, ditulis dengan gaya yang hampir seperti percakapan.
Post-Scriptum
Pembaca, kita telah meletakkan batu fondasi. Kita kini telah melihat bagaimana Husserl menyediakan panggung, alat, dan metode yang akan digunakan oleh para eksistensialis untuk menyelidiki drama manusia yang paling konkret: kecemasan, kebebasan, dan kematian. Apakah Husserl dapat kita cantumkan dalam kajian eksistensialisme? Jawaban Singkat: Ya, Ia Harus Dimasukkan.
Husserl harus dimasukkan dalam setiap pembahasan serius tentang sejarah dan fondasi Eksistensialisme. Namun, ia harus ditempatkan dalam posisi yang tepat: bukan sebagai seorang eksistensialis, melainkan sebagai "Bapak Fondasi" yang tanpanya Eksistensialisme tidak akan pernah lahir dalam bentuknya yang sekarang.
Analogi untuk Memperjelas Posisi Husserl
Analogi 1: Rumah dan Cetak Biru
- Eksistensialisme adalah sebuah rumah megah yang dihuni oleh Kierkegaard, Dostoevsky, Heidegger, Sartre, Camus, dan lainnya. Di dalam rumah itu, mereka bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial: kecemasan, kebebasan, absurditas, kematian.
- Fenomenologi Husserl adalah cetak biru arsitektural dan alat-alat pertukangan yang digunakan untuk membangun rumah itu. Husserl sendiri tidak tinggal di rumah itu; ia tetap di bengkel kerjanya, menyempurnakan alat-alatnya. Tetapi para penghuni rumah itu menggunakan alat-alatnya setiap hari.
- Husserl menciptakan tata bahasa yang sangat canggih untuk mendeskripsikan pengalaman kesadaran (intensionalitas, reduksi, konstitusi, Lebenswelt).
- Para eksistensialis menggunakan tata bahasa ini untuk menulis puisi dan drama tentang kondisi manusia. Mereka tidak akan bisa menulis dengan begitu tajam dan mendalam tanpa tata bahasa yang Husserl berikan.
Alasan-Alasan Mengapa Husserl Harus Dimasukkan
1. Husserl Memberikan "Metode" yang Memungkinkan Eksistensialisme
Sebelum Husserl, filsafat didominasi oleh dua kutub:
- Idealisme (Hegel): Realitas adalah manifestasi Roh Absolut. Individu konkret tenggelam dalam sistem raksasa.
- Empirisme/Positivisme: Realitas hanyalah apa yang bisa diukur dan diobservasi oleh sains. Pengalaman subyektif manusia dianggap tidak ilmiah.
Husserl, dengan fenomenologinya, membuka jalan ketiga. Ia berkata: "Kita bisa menyelidiki pengalaman subyektif secara ketat dan sistematis. Kita tidak perlu menjadi Hegelian untuk berbicara tentang kesadaran, dan kita tidak perlu menjadi ilmuwan untuk berbicara tentang realitas."
Metode inilah yang diambil alih oleh Heidegger, Sartre, dan Merleau-Ponty. Tanpa Husserl, Heidegger tidak akan bisa menulis Being and Time dengan analisisnya yang mendalam tentang Dasein dan being-in-the-world. Sartre tidak akan bisa menulis Being and Nothingness dengan analisisnya tentang kesadaran sebagai "ketiadaan" (néant).
"Heidegger tidak akan mungkin menulis Being and Time tanpa Husserl. Ia mengambil alih metode fenomenologi dan mengarahkannya pada pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan Husserl: pertanyaan tentang 'Ada' (Sein)." (Herbert Spiegelberg, The Phenomenological Movement, Vol. 1, hlm. 276)
2. Konsep-Konsep Kunci Eksistensialisme Berakar pada Husserl
Mari kita lacak jejak-jejaknya secara konkret:
Tanpa fondasi ini, banyak argumen eksistensialis akan kehilangan pijakan.
3. Husserl Adalah "Kakek" dari Eksistensialisme
Silsilahnya jelas:
- Husserl adalah guru Heidegger.
- Heidegger adalah guru Sartre (melalui Being and Time).
- Sartre adalah tokoh sentral Eksistensialisme Prancis.
Bahkan, Sartre pertama kali mendengar tentang fenomenologi dari temannya, Raymond Aron, yang baru pulang dari Berlin. Aron menunjuk ke gelas koktail dan berkata: "Lihat, jika engkau adalah seorang fenomenolog, engkau bisa berbicara tentang gelas ini dan itu adalah filsafat." Sartre konon langsung pucat karena kegirangan. Inilah momen ketika fenomenologi Husserl memasuki jantung Eksistensialisme Prancis.
4. Husserl Membuka Ruang bagi Tema-Tema Eksistensial
Meskipun Husserl sendiri tidak menulis tentang kecemasan, absurditas, atau kematian, fenomenologinya membuka ruang bagi tema-tema itu untuk diselidiki secara filosofis. Sebelum Husserl, tema-tema seperti itu dianggap sebagai "psikologi" atau "sastra", bukan filsafat yang serius.
Setelah Husserl, filsafat bisa berbicara tentang pengalaman konkret manusia: bagaimana rasanya cemas, bagaimana rasanya menghadapi kematian, bagaimana rasanya mencintai, bagaimana rasanya terasing. Semua ini adalah "fenomena" yang bisa diselidiki dengan metode fenomenologi.
Batasan yang Harus Diingat
Namun, Pembaca, kita juga harus jujur: Husserl sendiri tidak akan menyebut dirinya sebagai seorang eksistensialis. Ia adalah seorang fenomenolog transendental yang mencari fondasi paling pasti bagi pengetahuan. Ia adalah seorang matematikawan yang menjadi filsuf, bukan seorang penyair kecemasan seperti Kierkegaard atau novelis neraka batin seperti Dostoevsky.
Husserl tidak tertarik pada:
- Kecemasan eksistensial
- Absurditas
- Kebebasan yang menakutkan
- Kematian sebagai kemungkinan yang paling otentik
Ia tertarik pada:
- Bagaimana sebuah objek diberikan kepada kesadaran
- Bagaimana makna dikonstitusi
- Bagaimana fondasi pengetahuan ditemukan
Jadi, ketika engkau memasukkan Husserl, letakkanlah ia di "Bab Fondasi" atau "Bab Pendahuluan Metodologis", bukan di "Bab Eksistensialisme Inti". Ia adalah Bapak Fondasi, bukan penghuni rumah.
Kesimpulan, Ya, Masukkanlah
Pembaca, memiliki alasan yang sangat kuat untuk memasukkan Husserl. Dengan memasukkannya, kita akan memberikan gambaran yang lengkap dan jujur secara intelektual tentang bagaimana Eksistensialisme lahir. Engkau akan menunjukkan bahwa Eksistensialisme bukanlah sekadar "jeritan hati" yang tidak berdasar, melainkan memiliki fondasi metodologis yang kokoh.
Susunlah urutannya seperti ini:
- Fondasi: Husserl dan Metode Fenomenologi
- Transisi: Heidegger dan Transformasi Fenomenologi menjadi Eksistensialisme
- Puncak: Sartre, Camus, dan Eksistensialisme sebagai Gerakan
Dengan cara ini, engkau akan membangun narasi yang koheren, dari "bagaimana kita melihat dunia" (Husserl) menuju "bagaimana kita hidup di dunia" (Eksistensialisme).
Kita kini tiba pada sebuah persimpangan yang amat unik dalam rimba eksistensialisme. Setelah menjelajahi keheningan Pascal, lompatan Kierkegaard, neraka batin Dostoevsky, dan fondasi metodologis Husserl, engkau meminta untuk diperkenalkan kepada seorang tokoh yang seringkali berdiri di bayang-bayang raksasa, namun sesungguhnya memiliki suara yang sangat jernih, manusiawi, dan profetik.
Karl Jaspers (1883–1969)
Kita kini tiba pada sebuah persimpangan yang amat unik dalam rimba eksistensialisme. Setelah menjelajahi keheningan Pascal, lompatan Kierkegaard, neraka batin Dostoevsky, dan fondasi metodologis Husserl, engkau meminta untuk diperkenalkan kepada seorang tokoh yang seringkali berdiri di bayang-bayang raksasa, namun sesungguhnya memiliki suara yang sangat jernih, manusiawi, dan profetik.
Namanya adalah Karl Jaspers.
Ambillah posisi yang nyaman. Kali ini, kita akan bertemu dengan seorang pria yang memulai kariernya di bangsal psikiatri, lalu menjadi filsuf yang mengajarkan kita untuk berfilsafat bukan dengan sistem yang kaku, melainkan dengan "penerangan eksistensi" yang menerangi jalan kita sebagai manusia yang rapuh.
Prolog, Filsuf di Luar Sekte
Jika Martin Heidegger adalah bintang yang kontroversial dan tertutup, dan Jean-Paul Sartre adalah selebritas intelektual yang mendunia, maka Karl Jaspers adalah sosok yang berbeda. Ia adalah seorang humanis sejati, seorang pemikir yang percaya bahwa filsafat sejati tidak boleh menjadi milik sekte akademis yang sempit, melainkan harus berbicara kepada setiap manusia yang berjuang dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup dan mati, penderitaan dan kebebasan.
Jaspers menolak mendirikan "mazhab Jaspers". Ia tidak ingin pengikut. Ia ingin mitra dialog. Ia percaya bahwa kebenaran eksistensial tidak bisa dimiliki oleh satu orang atau satu sistem. Kebenaran hanya bisa dicari bersama-sama, dalam komunikasi yang terbuka dan jujur.
Ia juga unik karena latar belakangnya. Sebelum menjadi filsuf, ia adalah seorang psikiater. Ia bekerja di klinik psikiatri Universitas Heidelberg, menangani langsung pasien-pasien dengan gangguan jiwa. Pengalaman ini memberinya wawasan yang tidak dimiliki oleh filsuf-filsuf lain: ia tahu, secara langsung, betapa rapuhnya "akal sehat" manusia, dan betapa dalamnya penderitaan eksistensial yang bisa menghancurkan seseorang.
Gambaran Ideosinkretik, Sang Tabib Jiwa yang Berani Bersuara
Dokter yang menjadi filsuf. Karl Jaspers lahir pada 23 Februari 1883 di Oldenburg, Jerman. Ayahnya adalah seorang bankir dan politisi lokal. Sejak muda, Jaspers menderita penyakit paru-paru kronis yang membuatnya mudah lelah dan harus menjalani hidup dengan disiplin ketat. Kesadaran akan kematian dan keterbatasan fisik bukanlah teori baginya; itu adalah pengalaman sehari-hari.
Ia memilih studi kedokteran, dan pada tahun 1909, ia menerbitkan disertasi tentang Heimweh (rindu rumah) dan kejahatan. Ia kemudian bekerja di klinik psikiatri di Heidelberg, dan pada tahun 1913, ia menerbitkan buku monumentalnya, General Psychopathology (Allgemeine Psychopathologie). Buku ini merevolusi psikiatri dengan menerapkan metode fenomenologi Husserl untuk memahami pengalaman subyektif pasien, bukan sekadar mengklasifikasikan gejala.
Tetapi Jaspers merasa bahwa psikiatri saja tidak cukup. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pasien-pasiennya, tentang makna penderitaan, tentang Tuhan, tentang mengapa mereka harus hidup, mendorongnya masuk ke wilayah filsafat. Pada tahun 1922, ia menjadi profesor filsafat di Heidelberg.
Ia juga suami yang setia di tengah malam gelap Jerman. Ada satu aspek dalam hidup Jaspers yang membuatnya sangat dihormati: integritas moralnya.
Jaspers menikah dengan Gertrud Mayer, seorang wanita Yahudi. Ketika Nazi berkuasa pada tahun 1933, kehidupan mereka berubah menjadi neraka. Jaspers menolak untuk menceraikan istrinya, meskipun tekanan dan ancaman terus meningkat. Ia dilarang mengajar. Ia dilarang menerbitkan buku. Gestapo terus mengawasi mereka.
Pada saat-saat paling gelap, Jaspers dan Gertrud sepakat: jika Gestapo datang untuk menangkap mereka, mereka akan bunuh diri bersama. Mereka menyimpan pil sianida di rumah mereka. Mereka hidup bertahun-tahun dalam bayang-bayang kematian.
Dan justru di tengah situasi batas inilah, filsafat Jaspers mencapai kedalamannya yang paling radikal.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Jaspers muncul sebagai salah satu suara moral terpenting di Jerman. Dalam bukunya The Question of German Guilt (1946), ia menyerukan agar bangsa Jerman menghadapi rasa bersalah kolektif mereka, bukan dengan meratap, melainkan dengan tanggung jawab dan transformasi diri. Ini adalah tindakan keberanian yang luar biasa di tengah bangsa yang hancur dan malu.
Konsep-Konsep Kunci, Peta Menuju Eksistensi yang Otentik
Jaspers menulis karya magnum opusnya dalam tiga volume, berjudul Philosophy (1932). Ia juga menulis buku-buku yang lebih populer seperti Way to Wisdom dan The Perennial Scope of Philosophy. Mari kita bedah konsep-konsep kuncinya satu per satu dengan analogi yang mudah dicerna.
Eksistensi (Existenz), Diri yang Tidak Bisa Diobyektifikasi
Jaspers membedakan tiga modus "Ada" manusia:
1. Dasein (Ada-di-sana): Ini adalah manusia sebagai makhluk biologis yang hidup, makan, tidur, dan berjuang untuk bertahan hidup. Ini adalah level yang bisa dipelajari oleh sains empiris.
2. Kesadaran pada Umumnya (Bewusstsein überhaupt): Ini adalah manusia sebagai subyek rasional yang berpikir logis dan memahami hukum-hukum universal. Ini adalah level yang dipelajari oleh logika dan matematika.
3. Roh (Geist): Ini adalah manusia sebagai bagian dari budaya, sejarah, dan ide-ide kolektif. Ini adalah level yang dipelajari oleh ilmu humaniora.
Tetapi, ada level keempat yang paling dalam, yang merupakan inti dari manusia, dan yang tidak bisa disentuh oleh sains atau logika manapun: Eksistensi (Existenz).
Apa itu Existenz?
Existenz adalah diri yang paling otentik, yang tidak bisa dijadikan obyek. Aku tidak bisa berkata, "Aku adalah karyawan," atau "Aku adalah warga negara," dan menyebut itu sebagai Existenz-ku. Semua itu adalah label, peran, obyektifikasi. Existenz-ku adalah "aku" yang unik, yang tidak bisa digantikan, yang berdiri di hadapan kebebasannya sendiri.
"Aku adalah Existenz bukan sebagai obyek pengetahuan, melainkan sebagai kemungkinan yang harus aku wujudkan dalam kebebasanku."
(Jaspers, Philosophy, Vol. 2, hlm. 1)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkanlah seorang aktor di atas panggung. Seluruh hidupnya, ia memainkan peran: sebagai suami, sebagai pekerja, sebagai warga negara. Penonton dan kritikus menilainya. Tetapi, di balik semua peran itu, ada seseorang yang bukan peran. Ada seseorang yang, ketika ia melepaskan semua kostum dan riasan, berdiri sendirian di depan cermin dan bertanya: "Siapakah aku sebenarnya?"
Itulah Existenz. Ia bukan "apa" (itu adalah esensi yang bisa dideskripsikan), melainkan "bahwa" aku ada, dan aku harus memilih.
Ini sangat mirip dengan konsep "eksistensi mendahului esensi" dari Sartre, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Bagi Jaspers, Existenz tidak menciptakan dirinya dari ketiadaan. Ia selalu sudah berada dalam situasi tertentu, dan ia hanya bisa menjadi otentik jika ia menghadapi situasi itu dengan kebebasannya.
Situasi Batas (Grenzsituationen), Tembok yang Membangunkan Kita
Ini adalah konsep Jaspers yang paling terkenal, dan mungkin yang paling relevan bagi kehidupan kita sehari-hari.
Apa itu situasi batas?
Dalam hidup, kita terus-menerus berada dalam "situasi" (Situationen): situasi kerja, situasi makan, situasi macet di jalan. Kita bisa mengubah situasi-situasi ini. Kita bisa pindah kerja, pindah rumah, mencari rute alternatif.
Tetapi, ada situasi-situasi tertentu yang tidak bisa kita ubah, tidak bisa kita hindari, dan tidak bisa kita kalahkan. Inilah situasi batas:
- Kematian: Aku akan mati. Semua orang yang kucintai akan mati.
- Penderitaan: Aku akan menderita. Sakit, kehilangan, kegagalan, pengkhianatan.
- Perjuangan: Hidup adalah perjuangan. Tidak ada kedamaian abadi. Selalu ada konflik, persaingan, dan tantangan.
- Kesalahan/Rasa Bersalah: Aku akan membuat kesalahan. Aku akan bersalah. Aku tidak bisa selalu benar dan suci.
- Kebetulan: Aku terlahir di tempat dan waktu ini, dari orang tua ini, dengan bakat dan keterbatasan ini. Itu semua bukan pilihanku.
Mengapa situasi-situasi ini disebut "batas"? Karena mereka adalah tembok. Kita berjalan dalam hidup kita, sibuk dengan rencana-rencana, lalu tiba-tiba... BAM. Kita menabrak tembok.
Kita tidak bisa melewati tembok itu. Kematian tidak bisa dinegosiasikan. Penderitaan tidak bisa dihindari sepenuhnya.
Reaksi Umum terhadap Situasi Batas: Menutup Mata
Kebanyakan dari kita, kata Jaspers, hidup dalam pelupaan akan situasi batas. Kita tahu bahwa kita akan mati, tetapi kita hidup seolah-olah kita abadi. Kita menyibukkan diri dengan divertissement (seperti yang dikatakan Pascal) untuk mengalihkan perhatian dari tembok-tembok itu.
Tetapi, situasi batas tidak akan hilang hanya karena kita menutup mata. Ia tetap di sana, menunggu. Dan suatu hari, ia akan menghantam kita: ketika kita didiagnosis kanker, ketika orang yang kita cintai meninggal, ketika kita dipecat, ketika kita dikhianati.
Reaksi Otentik: Menghadapi dan "Menjadi Diri Sendiri"
Di sinilah letak kekuatan konsep Jaspers. Situasi batas bukanlah sekadar malapetaka. Ia adalah kesempatan.
Ketika kita menabrak tembok, kita tidak bisa lagi hidup dalam mode "autopilot". Kita dipaksa untuk berhenti dan bertanya: "Siapakah aku? Apa yang benar-benar penting dalam hidupku? Aku akan mati, lalu, bagaimana aku harus hidup sekarang?"
"Untuk mengalami situasi batas dan untuk eksis adalah hal yang sama."
(Jaspers, Philosophy, Vol. 2, hlm. 204)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan seekor ikan yang hidup di dalam akuarium. Seluruh hidupnya, ia hanya tahu air dan kaca. Ia tidak pernah mempertanyakan akuariumnya. Lalu, suatu hari, seekor kucing melompat dan menjatuhkan akuarium itu ke lantai. Kacanya pecah. Airnya tumpah. Ikan itu kini menggelepar di lantai, kehabisan napas.
Di momen itulah, untuk pertama kalinya, ikan itu menyadari bahwa selama ini ia hidup di dalam air. Ia baru menyadari "air" justru ketika air itu hilang.
Situasi batas adalah pecahnya akuarium. Ketika hidup kita hancur, kita baru sadar apa yang sebelumnya kita anggap remeh. Kita baru bisa melihat diri kita sendiri dari luar.
Dan di momen itulah, Existenz kita bisa terbangun. Kita bisa memilih untuk tidak lagi hidup dalam kepalsuan. Kita bisa memilih untuk menjadi diri kita sendiri secara otentik.
Transendensi, "Yang Meliputi" (Das Umgreifende)
Jika kita hanya berhenti pada situasi batas, kita bisa jatuh ke dalam keputusasaan dan nihilisme. "Aku akan mati. Semuanya sia-sia." Tetapi Jaspers tidak berhenti di sana.
Dalam situasi batas, kita tidak hanya menabrak tembok. Kita juga, secara misterius, merasakan bahwa ada "sesuatu" di balik tembok itu.
Inilah yang disebut Jaspers sebagai Transendensi, atau Das Umgreifende (Yang Meliputi/Meliputi Segalanya).
Apa itu Das Umgreifende? Ia adalah realitas terdalam yang meliputi segala sesuatu, termasuk diriku sendiri. Ia bukan sebuah "benda" di antara benda-benda. Ia bukan "Tuhan" dalam pengertian agama dogmatis yang bisa digambarkan dengan jelas. Ia adalah cakrawala yang selalu mundur semakin kita mendekatinya.
"Yang Meliputi adalah apa yang selalu mengumumkan dirinya sendiri... tetapi tidak pernah menjadi obyek. Ia adalah apa yang di dalamnya semua horizon partikular berada, tetapi ia sendiri bukanlah horizon." (Jaspers, Way to Wisdom, hlm. 30)
Analoginya begini, Sobatku. Engkau berdiri di tepi pantai pada malam hari. Engkau menatap lautan yang gelap. Engkau tidak bisa melihat dasarnya. Engkau tidak bisa melihat ujungnya. Engkau hanya tahu bahwa lautan itu ada, meliputi segalanya, jauh lebih besar dan lebih dalam daripada dirimu.
Atau, bayangkan engkau sedang bermimpi. Di dalam mimpi, engkau adalah seorang raja yang memerintah kerajaan. Engkau sangat sibuk dengan urusan kerajaanmu. Lalu, tiba-tiba, engkau samar-samar mendengar suara azan subuh dari dunia luar. Engkau mulai menyadari bahwa seluruh kerajaanmu hanyalah mimpi, dan ada "dunia nyata" di luar sana yang meliputi mimpimu.
Itulah Das Umgreifende. Ia adalah "dunia nyata" yang meliputi seluruh "mimpi" kehidupan kita sehari-hari.
Bagaimana kita bisa "menyentuh" Transendensi?
Kita tidak bisa membuktikan Transendensi seperti kita membuktikan teorema matematika. Transendensi tidak bisa dijadikan obyek. Tetapi, kita bisa "membaca sandi-sandinya" (Chiffren).
Sandi (Chiffre) adalah simbol-simbol, peristiwa-peristiwa, atau pengalaman-pengalaman yang "menunjuk" pada Transendensi, tetapi bukan Transendensi itu sendiri.
- Sebuah pemandangan alam yang membuatmu terdiam dan merasa kecil.
- Sebuah karya seni yang membuatmu menangis tanpa tahu mengapa.
- Momen cinta yang begitu dalam hingga engkau merasa "abadi".
- Bahkan, situasi batas itu sendiri adalah sandi. Ketika aku menghadapi kematian, aku "mendengar" bisikan bahwa ada sesuatu di balik kematian itu.
"Sandi adalah bahasa Transendensi. Transendensi tidak berbicara dalam proposisi yang jelas, melainkan dalam sandi yang harus ditafsirkan oleh Existenz." (Jaspers, Philosophy, Vol. 3, hlm. 128)
Di sini, Jaspers berbeda dari Heidegger yang tampaknya berhenti pada "Ada-menuju-kematian" yang heroik tapi suram, dan dari Sartre yang ateis. Jaspers membuka pintu bagi iman, tetapi iman filosofis, bukan iman dogmatis. Ia tidak berkata, "Engkau harus percaya pada Yesus," atau "Engkau harus percaya pada Al-Qur'an." Ia berkata, "Jika engkau sungguh-sungguh menghadapi situasi batasmu, engkau akan merasakan kehadiran Yang Meliputi. Apa yang engkau lakukan dengan pengalaman itu adalah pilihan eksistensialmu."
Komunikasi Eksistensial, Kebenaran Hanya Ada di Antara Kita
Inilah konsep yang paling indah dan paling manusiawi dari Jaspers: Komunikasi Eksistensial (Existentielle Kommunikation).
Bagi Jaspers, Existenz tidak bisa menjadi dirinya sendiri sendirian. Aku membutuhkan orang lain. Kebenaran bukanlah sesuatu yang kumiliki di dalam kepalaku; kebenaran adalah sesuatu yang lahir dalam dialog antara dua Existenz yang saling membuka diri.
"Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa engkau. Aku membutuhkan komunikasi dengan orang lain, bukan sekadar sebagai alat atau sebagai teman bicara biasa, melainkan sebagai sesama Existenz yang dengannya aku berjuang bersama untuk menemukan kebenaran."
(Jaspers, Philosophy, Vol. 2, hlm. 56)
Analoginya begini, Sobatku. Dua orang buta sedang menjelajahi sebuah istana yang gelap. Masing-masing meraba dinding, patung, dan perabotan. Jika mereka sendirian, masing-masing hanya akan memiliki gambaran yang parsial dan mungkin keliru. Tetapi, jika mereka saling berbicara, saling menceritakan apa yang mereka raba, dan saling mengoreksi, mereka bisa bersama-sama membangun peta istana yang lebih utuh.
Kebenaran eksistensial bukanlah "milikku" atau "milikmu". Ia lahir di ruang di antara kita, dalam dialog yang penuh cinta dan perjuangan.
Jaspers membedakan beberapa jenis komunikasi:
- Komunikasi Dasein: Obrolan ringan tentang cuaca, makanan, gosip. Ini perlu, tetapi dangkal.
- Komunikasi Kesadaran pada Umumnya: Debat rasional, argumen logis. Ini penting untuk ilmu pengetahuan, tetapi tidak menyentuh Existenz.
- Komunikasi Eksistensial: Dialog antara dua Existenz yang saling mencintai dan saling menantang, di mana masing-masing membuka dirinya secara jujur, mengakui kelemahannya, dan bersedia dipertanyakan. Ini adalah "perjuangan penuh cinta" (liebender Kampf).
"Dalam komunikasi eksistensial, aku tidak ingin menang atasmu, dan engkau tidak ingin menang atasku. Kita berdua ingin menang bersama-sama untuk kebenaran yang lebih besar dari kita berdua."
(Jaspers, The Perennial Scope of Philosophy, hlm. 26)
Mengapa ini penting? Karena Jaspers melihat bahwa modernitas cenderung mereduksi manusia menjadi nomor, statistik, dan obyek. Kita kehilangan kemampuan untuk benar-benar berbicara satu sama lain. Kita berdebat di media sosial, kita saling menghakimi, tetapi kita jarang sekali melakukan komunikasi eksistensial.
Bagi Jaspers, kesendirian eksistensial adalah neraka. Dan satu-satunya jalan keluar adalah komunikasi yang otentik dengan orang lain yang juga sedang berjuang.
Kebebasan dan Tanggung Jawab, Memilih dalam Ketidakpastian
Bagi Jaspers, kebebasan bukanlah sekadar "bisa memilih apa saja". Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk memilih diriku sendiri di hadapan situasi batas.
Aku tidak bebas memilih apakah aku akan mati atau tidak. Aku tidak bebas memilih apakah aku akan menderita atau tidak. Tetapi aku bebas memilih sikapku terhadap kematian dan penderitaan. Aku bebas memilih apakah aku akan menghadapinya dengan jujur dan bermartabat, ataukah aku akan lari ke dalam kepalsuan.
"Kebebasan bukanlah kebebasan dari sesuatu, melainkan kebebasan untuk sesuatu: untuk menjadi diri sendiri."
(Jaspers, Philosophy, Vol. 2, hlm. 175)
Dan kebebasan ini selalu disertai dengan tanggung jawab. Aku bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku, dan aku juga bertanggung jawab atas dunia yang kutinggali. Jaspers sangat menekankan tanggung jawab politik dan sosial. Filsafat bukanlah pelarian dari dunia, melainkan keterlibatan di dalam dunia.
Inilah yang membedakan Jaspers dari Heidegger. Heidegger, pada tahun 1933, sempat mendukung Nazi dan menjadi rektor Universitas Freiburg. Jaspers, sebaliknya, menolak Nazi dengan risiko nyawa dan istrinya. Setelah perang, Jaspers menulis tentang rasa bersalah Jerman dan menyerukan pertobatan kolektif.
Bagi Jaspers, filsafat yang tidak membuat seseorang lebih bertanggung jawab secara moral dan politik adalah filsafat yang sia-sia.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
- Jangan tunggu krisis untuk menjadi otentik. Kita semua akan menghadapi situasi batas cepat atau lambat. Jaspers mengajarkan kita untuk tidak menunggu hantaman itu. Kita bisa mulai sekarang, dengan merenungkan kefanaan kita, untuk hidup dengan lebih sadar dan lebih penuh makna.
- Berdialoglah secara mendalam. Di era polarisasi dan echo chamber, suara Jaspers sangat relevan. Kita perlu lebih sedikit berdebat untuk menang, dan lebih banyak berkomunikasi untuk saling memahami. Kebenaran tidak akan lahir dari kubu yang saling berteriak; ia lahir dari dialog yang tulus.
- Hadapi penderitaan dengan bermartabat. Penderitaan adalah bagian tak terhindarkan dari hidup. Kita tidak bisa menghilangkannya. Tetapi kita bisa memilih untuk menghadapinya dengan membuka diri pada makna yang mungkin tersembunyi di dalamnya.
- Ada sesuatu yang lebih besar. Jaspers tidak memberikan dogma, tetapi ia memberikan pengharapan filosofis. Di balik tembok situasi batas, ada Yang Meliputi. Kita mungkin tidak bisa membuktikannya, tetapi kita bisa merasakan bisikannya dalam momen-momen hening dan dalam cinta yang mendalam.
Epilog, Filsuf yang Terus Menjangkau
Karl Jaspers meninggal pada 26 Februari 1969, di Basel, Swiss, pada usia 86 tahun. Istrinya, Gertrud, yang menjadi alasan ia bertahan hidup di bawah Nazi, meninggal beberapa tahun kemudian.
Hingga akhir hayatnya, Jaspers terus menulis dan berdialog. Ia tidak pernah berhenti percaya bahwa filsafat harus menjadi "penerangan eksistensi" (Existenzerhellung) bagi setiap orang, bukan hanya bagi segelintir akademisi.
Ia menulis:
"Filsafat adalah milik manusia sebagai manusia. Ia harus dapat dikomunikasikan kepada setiap orang yang mencari... Ia bukanlah hak istimewa segelintir orang."
(Jaspers, Way to Wisdom, hlm. 10)
Jaspers mengajarkan bahwa kita semua adalah filsuf, setiap kali kita bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan yang paling dasar. Dan kita tidak perlu bergumul sendirian.
A. Sumber Primer: Karya Jaspers
- Jaspers, Karl. Philosophy. 3 vols. Diterjemahkan oleh E.B. Ashton. Chicago: University of Chicago Press, 1969–1971.
- Jaspers, Karl. Way to Wisdom: An Introduction to Philosophy. Diterjemahkan oleh Ralph Manheim. New Haven: Yale University Press, 1954.
- Jaspers, Karl. The Perennial Scope of Philosophy. Diterjemahkan oleh Ralph Manheim. New York: Philosophical Library, 1949.
- Jaspers, Karl. The Question of German Guilt. Diterjemahkan oleh E.B. Ashton. New York: Dial Press, 1947.
- Jaspers, Karl. General Psychopathology. Diterjemahkan oleh J. Hoenig dan Marian W. Hamilton. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1997.
B. Sumber Sekunder
- Schilpp, Paul Arthur, ed. The Philosophy of Karl Jaspers. La Salle: Open Court, 1957. , Volume dalam "Library of Living Philosophers" yang berisi esai-esai tentang Jaspers dan tanggapannya sendiri.
- Wallraff, Charles F. Karl Jaspers: An Introduction to His Philosophy. Princeton: Princeton University Press, 1970. , Pengantar yang solid dan komprehensif.
- Young-Bruehl, Elisabeth. Freedom and Karl Jaspers's Philosophy. New Haven: Yale University Press, 1981. , Studi mendalam tentang konsep kebebasan dalam pemikiran Jaspers.
- Thornhill, Chris. Karl Jaspers: Politics and Metaphysics. London: Routledge, 2002. , Analisis tentang pemikiran politik Jaspers dan hubungannya dengan metafisika.
Martin Heidegger (1889–1976)
Kita kini tiba di kaki gunung yang mungkin paling misterius sekaligus paling menjulang dalam lanskap eksistensialisme. Setelah menyeberangi lautan kesadaran bersama Husserl dan menabrak tembok situasi batas bersama Jaspers, kini engkau meminta untuk memasuki hutan lebat pemikiran seorang tokoh yang kontroversial, sulit, tetapi juga sangat dalam: Martin Heidegger.
Ambillah napas dalam-dalam. Kali ini, kita akan memasuki dunia seorang "penyihir dari Messkirch" yang berusaha membongkar ulang seluruh sejarah filsafat Barat hanya untuk menanyakan satu hal: "Apa artinya 'Ada'?"
Prolog, Filsuf yang Ingin Mengguncang Dunia
Jika Pascal gemetar dalam keheningan ruang angkasa, Kierkegaard melompat dalam kecemasan, dan Dostoevsky menyelami neraka batin, maka Martin Heidegger adalah seorang arkeolog ontologis. Ia tidak puas hanya bertanya tentang manusia, kecemasan, atau Tuhan. Ia ingin menggali lebih dalam lagi: Apa artinya "Ada" itu sendiri? Apa yang kita maksud ketika kita berkata "sesuatu ada"?
Pertanyaan ini terdengar sangat abstrak dan kering. Tetapi Heidegger percaya bahwa seluruh peradaban Barat telah "melupakan" pertanyaan ini, dan pelupaan ini adalah akar dari krisis modern: krisis teknologi, krisis lingkungan, krisis makna. Dengan mengajukan kembali pertanyaan tentang "Ada", Heidegger ingin menyembuhkan krisis itu dari akarnya.
Ia adalah seorang filsuf yang sangat sulit. Tulisannya penuh dengan istilah-istilah baru yang ia ciptakan sendiri. Tetapi di balik kerumitan itu, ada wawasan yang sangat dalam tentang apa artinya menjadi manusia yang hidup, yang akan mati, yang peduli, dan yang berjuang untuk menjadi otentik di tengah kerumunan.
Gambaran Ideosinkretik
Si anak menara gereja yang menemukan jalan menuju "ada." Martin Heidegger lahir pada 26 September 1889 di Messkirch, sebuah desa kecil di wilayah Swabia, Jerman selatan. Ayahnya adalah seorang sexton, penjaga dan pengurus gereja Katolik setempat. Suara lonceng gereja, aroma lilin dan dupa, serta ritme kehidupan pedesaan Katolik meresap ke dalam tulang sumsum Heidegger muda.
Ia belajar teologi Katolik dengan niat menjadi imam, tetapi kemudian beralih ke filsafat. Namun, pertanyaan-pertanyaan teologis tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menerjemahkannya ke dalam bahasa ontologi. "Ada" (Sein) baginya hampir seperti "Tuhan" yang tersembunyi, yang tidak bisa diperlakukan sebagai obyek.
Dalam sebuah gubuk di Todtnauberg, “sang pertapa: menyepi di gunung. Untuk memahami Heidegger, kita harus membayangkan tempat kerjanya. Ia menulis sebagian besar mahakaryanya bukan di kantor universitas yang megah, melainkan di sebuah gubuk kayu kecil di Todtnauberg, tinggi di pegunungan Schwarzwald (Hutan Hitam).
Di gubuk itu, tidak ada listrik (awalnya), tidak ada air mengalir, hanya ada meja kayu, kursi, dan pemandangan lembah yang luas. Di sinilah Heidegger menemukan keheningan untuk "mendengarkan" bisikan "Ada". Ia adalah seorang filsuf yang sangat Jerman, sangat akar-rumput, dan sangat curiga terhadap modernitas dan kota besar.
Ia mencintai alam, tetapi bukan sebagai "pemandangan indah" untuk selfie. Baginya, alam adalah tempat di mana "Ada" menyingkapkan diri. Dalam salah satu esainya yang terkenal, "Mengapa Kita Tinggal di Provinsi?" (1934), ia menulis tentang bagaimana angin dan badai di pegunungan adalah guru yang lebih baik daripada buku-buku filsafat.
Skandal Nazi sebagai bayangan gelap yang abadi dalam hidupnya. Di sinilah kita harus berhenti sejenak, Sobatku. Tidak mungkin membahas Heidegger tanpa membahas keterlibatannya dengan Nazisme.
Pada tahun 1933, Heidegger terpilih menjadi Rektor Universitas Freiburg, dan ia secara resmi bergabung dengan Partai Nazi (NSDAP). Ia menyampaikan pidato rektorat yang kontroversial, "Penegasan Diri Universitas Jerman" (Die Selbstbehauptung der deutschen Universität), yang tampaknya mendukung Führerprinzip (prinsip kepemimpinan) dan revolusi Nazi.
Seberapa dalam keterlibatannya?
Hingga hari ini, para sarjana masih berdebat sengit. Ada yang melihatnya sebagai seorang oportunis yang haus kekuasaan. Ada yang melihatnya sebagai seorang naif yang berpikir bahwa ia bisa "memimpin sang pemimpin" (den Führer führen). Ada yang melihat jejak-jejak Nazisme dalam filsafatnya sendiri (terutama konsep "Tanah Air" dan "Autentisitas Bangsa"). Ada pula yang membelanya dengan mengatakan bahwa ia mengundurkan diri dari jabatan rektor setelah hanya satu tahun, dan bahwa ia menjauhkan diri dari Nazi setelah 1934, meskipun ia tidak pernah secara eksplisit meminta maaf secara publik.
Yang jelas, bayang-bayang ini tidak bisa dihapus. Ketika kita membaca Heidegger, kita harus melakukannya dengan kesadaran kritis: bahwa filsuf yang brilian ini juga seorang manusia yang gagal secara moral pada momen paling menentukan dalam sejarah.
Being and Time, Mahakarya yang Belum Selesai
Pada tahun 1927, Heidegger menerbitkan Sein und Zeit (Being and Time). Buku ini adalah sebuah bom dalam dunia filsafat. Buku ini sulit, padat, penuh neologisme, tetapi langsung mengguncang fondasi filsafat Barat.
Yang mengejutkan: buku ini sebenarnya tidak selesai. Heidegger hanya menulis dua pertiga dari rencana awalnya. Ia tidak pernah menyelesaikannya. Tetapi justru dalam ketidaksempurnaannya itu, Being and Time menjadi seperti katedral yang belum selesai namun sudah sangat megah.
Apa yang ingin dilakukan Heidegger dalam buku ini?
Ia ingin menghidupkan kembali pertanyaan tentang makna "Ada" (Sein). Ia percaya bahwa sejak Plato dan Aristoteles, filsafat Barat telah melakukan kesalahan fatal: alih-alih bertanya tentang Ada, filsafat hanya bertanya tentang entitas atau benda-benda yang ada (Seiendes). Filsafat menjadi ontologi tentang "benda", dan melupakan "Ada" itu sendiri.
Ini disebut Heidegger sebagai "Pelupaan akan Ada" (Seinsvergessenheit).
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan engkau adalah seekor ikan yang hidup di dalam lautan. Seluruh hidupmu, engkau berenang, makan, dan bernapas di dalam air. Tetapi engkau tidak pernah sekalipun bertanya, "Apa itu air?" Air begitu meliputi segalanya, begitu dekat, sehingga ia menjadi tak terlihat.
Manusia, kata Heidegger, adalah seperti ikan itu. "Ada" adalah "air" yang meliputi segalanya. Setiap kali kita mengatakan "ini adalah pohon", "aku adalah manusia", "Tuhan itu ada", kita menggunakan kata "ada" (is/are/being). Tetapi kita tidak pernah berhenti untuk bertanya: "Apa sebenarnya makna dari 'ada' itu sendiri?"
Heidegger ingin menyelidiki "air" itu. Dan untuk menyelidikinya, ia tidak bisa langsung bertanya kepada "air" itu sendiri (karena "Ada" bukanlah sebuah benda). Ia harus bertanya kepada makhluk khusus yang mempertanyakan "Ada". Makhluk itu adalah kita, manusia. Heidegger menyebut kita sebagai Dasein.
Konsep-Konsep Kunci, Peta Menuju Dasein yang Otentik
Mari kita masuki konsep-konsep kunci Being and Time. Aku akan menggunakan analogi-analogi agar semuanya bisa dicerna.
Konsep 1: Dasein, Manusia yang Mempertanyakan Keberadaannya
Heidegger tidak suka menggunakan kata "manusia" (Mensch), "subyek", atau "individu". Mengapa? Karena semua kata itu sudah terlanjur dibebani oleh asumsi-asumsi metafisik. "Subyek" mengandaikan adanya "obyek". "Individu" mengandaikan atom yang terpisah.
Ia menciptakan istilah baru: Dasein.
Apa itu Dasein? Secara harfiah, Da-sein berarti "Ada-di-sana" (Being-there). Tetapi maknanya jauh lebih dalam. Dasein adalah entitas yang unik karena baginya, "Ada" adalah sebuah isu atau masalah. Aku tidak sekadar ada seperti batu atau pohon. Aku peduli bahwa aku ada. Aku mempertanyakan keberadaanku. Aku bisa memilih untuk menjadi ini atau itu. Aku bisa kehilangan diriku atau menemukan diriku.
"Dasein adalah entitas yang, dalam Keberadaannya, keberadaan itu sendiri merupakan isu baginya."
(Heidegger, Being and Time, §9, hlm. 32 / terjemahan Macquarrie & Robinson)
Analoginya begini, Sobatku. Batu ada. Pohon ada. Kucing ada. Tetapi batu tidak bertanya, "Apa artinya menjadi batu? Haruskah aku menjadi batu yang lebih baik?" Kucing tidak bertanya, "Apakah aku menjalani kehidupan kucing yang otentik?" Hanya manusia yang bisa bertanya seperti itu. Hanya manusia yang bisa cemas tentang masa depannya, menyesali masa lalunya, dan memilih siapa dirinya.
Dasein bukanlah "jiwa" yang terperangkap dalam "tubuh". Dasein adalah seluruh kesatuan konkret dari makhluk yang hidup di dunia, yang menggunakan alat, yang berbicara dengan orang lain, yang menuju kematian.
Konsep 2: Ada-di-Dunia (In-der-Welt-sein), Kita Selalu Sudah Terlibat
Sejak Descartes, filsafat Barat cenderung membayangkan manusia sebagai "subyek" yang terisolasi di dalam kepalanya, yang harus membuktikan bahwa "dunia luar" itu ada. Ini disebut model subyek-obyek.
Heidegger membuang model ini ke tong sampah.
Bagi Heidegger, Dasein tidak pernah terisolasi. Dasein selalu sudah "Ada-di-Dunia" (In-der-Welt-sein). "Dunia" di sini bukanlah kumpulan benda-benda fisik yang terhampar di ruang angkasa. "Dunia" adalah jaringan makna, hubungan, dan keterlibatan di mana kita selalu sudah berada.
"Ada-di-dunia adalah struktur fundamental dari Dasein."
(Heidegger, Being and Time, §12, hlm. 78)
Analoginya begini, Sobatku. Engkau sedang duduk di meja dapurmu. Secara fisik, di sekitarmu ada kayu, besi, kain, keramik. Tetapi "dunia" dapurmu bukanlah sekadar kumpulan benda itu. Dunia dapurmu adalah: meja untuk makan, kursi untuk duduk, kompor untuk memasak, jendela untuk melihat ke luar, pintu untuk keluar masuk. Semua benda ini saling merujuk satu sama lain dalam sebuah jaringan keterkaitan (totality of involvements), dan jaringan ini bermuara pada dirimu: engkau makan, engkau beristirahat, engkau hidup.
Ketika engkau bangun pagi, engkau tidak pertama-tama "melihat" obyek-obyek netral lalu "menafsirkan" mereka. Engkau langsung sudah terlibat: engkau mencari sandal untuk dipakai, engkau menuju kamar mandi untuk mandi, engkau membuka kulkas untuk sarapan. Dunia selalu sudah "bermakna" bagimu.
Ini adalah pengembangan revolusioner dari konsep intensionalitas Husserl. Husserl berkata: "Kesadaran selalu terarah pada sesuatu." Heidegger berkata: "Dasein selalu sudah berada di dalam dunia yang bermakna."
Konsep 3: Ready-to-Hand vs. Present-at-Hand, Dunia dalam Mode "Pakai" dan "Tatap"
Heidegger membedakan dua cara fundamental di mana entitas "muncul" bagi kita.
- Siap-Pakai (Zuhanden, Ready-to-hand): Ini adalah cara kita berelasi dengan benda-benda ketika kita sedang menggunakannya. Ketika aku menulis dengan pena, aku tidak "memikirkan" pena itu sebagai obyek fisik dengan bentuk dan warna tertentu. Pena itu "menghilang" dalam tindakan menulis. Ia adalah alat yang mulus, transparan, dan terintegrasi dalam proyekku.
- Hadir-Ditatap (Vorhanden, Present-at-hand): Ini adalah cara kita berelasi dengan benda-benda ketika kita mengamatinya secara teoritis, sebagai obyek yang terpisah dari kita. Ketika penaku rusak dan aku berhenti menulis, aku kini "menatap" pena itu. Aku menganalisisnya: "Tintanya habis? Ujungnya patah?" Pena itu kini menjadi "obyek" yang hadir di hadapanku, terlepas dari proyekku.
Heidegger berargumen bahwa filsafat Barat (dan sains modern) telah membuat kesalahan besar: mereka menganggap bahwa mode Hadir-Ditatap (obyek netral) adalah mode yang paling fundamental. Mereka membangun ontologi berdasarkan "benda-benda yang diamati", dan melupakan mode Siap-Pakai yang lebih asali.
"Mode Siap-Pakai adalah mode di mana entitas pertama-tama dan terutama menampakkan diri."
(Heidegger, Being and Time, §15, hlm. 98)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan seorang tukang kayu yang sedang membuat meja. Palu di tangannya bukanlah "sebuah logam seberat 500 gram yang dihubungkan dengan kayu sepanjang 30 cm". Palu itu adalah perpanjangan tangannya untuk memukul paku. Palu itu "menghilang" dalam tindakan.
Tiba-tiba, gagang palunya patah. Sang tukang kayu berhenti. Ia kini menatap palu itu. Palu itu kini menjadi "obyek" yang menganggur, yang harus diperbaiki atau diganti.
Nah, kata Heidegger, seluruh hidup kita pada dasarnya adalah seperti tukang kayu itu: kita tenggelam dalam tindakan dan keterlibatan. Sains dan teori hanyalah mode sekunder, yang muncul ketika "gagang palu patah", ketika ada gangguan atau kita sengaja mengambil jarak.
Mengapa ini penting? Karena Heidegger ingin mengingatkan kita bahwa kita bukanlah subyek yang menatap dunia dari kejauhan. Kita adalah makhluk yang terlibat, yang menggunakan alat, yang peduli.
Konsep 4: Das Man (Si Anonim), Tirani "Orang Banyak"
Jika kita selalu sudah ada di dunia bersama orang lain, lalu bagaimana hubungan kita dengan mereka? Di sinilah Heidegger melancarkan salah satu kritik paling tajam terhadap kehidupan modern.
Dalam keseharian kita, kata Heidegger, kita tidak benar-benar "menjadi diri sendiri". Kita tenggelam dalam "Si Anonim" (Das Man). Das Man adalah "orang", "khalayak", "semua orang", "rata-rata".
Bagaimana kita hidup di bawah Das Man?
- Aku berpakaian seperti "orang" berpakaian.
- Aku berbicara seperti "orang" berbicara.
- Aku menikmati apa yang "orang" nikmati.
- Aku bahkan marah terhadap apa yang "orang" anggap patut dimarahi.
Das Man bukanlah orang tertentu. Ia adalah kekuasaan tak terlihat dari norma, tren, dan opini publik. Das Man membebaskanku dari tanggung jawab untuk memilih sendiri. Ketika aku mengikuti Das Man, aku bisa berkata, "Semua orang melakukannya," dan aku merasa aman.
"Kita menikmati dan bersenang-senang seperti mereka menikmati; kita membaca, melihat, dan menilai sastra dan seni seperti mereka melihat dan menilai... Kita menjadi seperti mereka dalam cara berpikir dan bertindak."
(Heidegger, Being and Time, §27, hlm. 164)
"Setiap orang adalah orang lain, dan tidak ada seorang pun yang menjadi dirinya sendiri. Si Anonim, yang memberikan jawaban untuk pertanyaan tentang siapa Dasein sehari-hari, adalah bukan siapa-siapa."
(Heidegger, Being and Time, §27, hlm. 166)
Analoginya begini, Sobatku. Engkau scrolling media sosial. Engkau melihat sebuah meme yang lucu. Engkau tertawa. Lalu engkau melihat komentar: "Ini tidak lucu, ini ofensif!" Lalu engkau berhenti tertawa. Engkau mulai berpikir, "Oh, mungkin aku seharusnya tidak tertawa." Suara di kepalamu itu bukanlah suaramu sendiri; itu adalah suara Das Man.
Atau bayangkan sebuah rapat kerja. Semua orang duduk diam. Bos bertanya, "Ada yang punya ide?" Semua orang saling memandang. Tidak ada yang berani bicara, karena takut idenya "berbeda" dan dinilai aneh. Semua orang menunggu "orang lain" bicara dulu. Itulah Das Man.
Heidegger menyebut kehidupan di bawah Das Man sebagai Kejatuhan (Verfallen) dan Ketidakotentikan (Uneigentlichkeit). Ini bukanlah dosa moral, melainkan kondisi ontologis: kita selalu sudah cenderung untuk tenggelam dalam kerumunan, untuk melarikan diri dari beban menjadi diri sendiri.
Konsep 5: Kecemasan (Angst), Ketika Dunia Runtuh dan Kita Terbangun
Jika kita selalu tenggelam dalam Das Man, bagaimana kita bisa keluar? Bagaimana kita bisa menjadi otentik?
Heidegger menjawab: melalui Kecemasan (Angst).
Jangan samakan Angst dengan takut (Furcht). Takut selalu memiliki objek yang jelas: aku takut pada anjing, takut pada kehilangan pekerjaan, takut pada kematian. Tetapi Angst tidak memiliki objek. Angst adalah perasaan "tidak nyaman" yang aneh dan mendalam, di mana seluruh dunia tiba-tiba terasa asing dan tidak bermakna.
Dalam Angst, semua benda yang biasanya akrab dan bermakna (meja, kursi, pekerjaan, teman) tiba-tiba "merosot" dan kehilangan maknanya. Aku merasa "tidak betah" (unheimlich, uncanny, not-at-home). Dunia yang biasanya terasa seperti rumah, tiba-tiba terasa asing.
"Dalam kecemasan, seseorang merasa 'tidak betah'. Di sini, ketidakbetahan itu berarti tidak-berada-di-rumah (Un-zuhause)."
(Heidegger, Being and Time, §40, hlm. 233)
"Kecemasan menyingkapkan dalam Dasein keberadaannya yang paling otentik: kebebasannya untuk memilih dan menangkap dirinya sendiri."
(Heidegger, Being and Time, §40, hlm. 232)
Analoginya begini, Sobatku. Engkau menjalani hidup seperti biasa: bangun, kerja, pulang, tidur. Semua terasa normal dan bermakna. Lalu, pada suatu malam, engkau sendirian di kamar. Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, sebuah pikiran menghantam: "Untuk apa semua ini? Apa gunanya?" Pekerjaanmu, teman-temanmu, semua yang kau kejar, semuanya tiba-tiba terasa kosong dan absurd.
Itulah Angst. Ia bukan depresi klinis. Ia adalah pengalaman eksistensial di mana fondasi makna keseharianmu runtuh sejenak.
Dan justru di situlah letak anugerahnya. Ketika semua makna keseharian runtuh, aku tidak bisa lagi bersembunyi di balik Das Man. Aku dipaksa untuk menghadapi diriku sendiri. Aku sadar bahwa akulah yang harus memberi makna pada hidupku sendiri. Angst adalah panggilan untuk menjadi otentik.
Konsep 6: Ada-Menuju-Kematian (Sein-zum-Tode), Kematian sebagai Kemungkinan Paling Otentik
Apa yang membuat Angst begitu dahsyat? Jawabannya: kematian.
Heidegger tidak berbicara tentang kematian sebagai peristiwa biologis di akhir hayat. Ia berbicara tentang kematian sebagai kemungkinan eksistensial yang selalu mengintai. Setiap saat, aku bisa mati.
Kematian bukanlah sesuatu yang "nanti" di ujung jalan; ia adalah cakrawala dari setiap momenku.
Bagaimana Das Man berbicara tentang kematian? Das Man berkata: "Semua orang akan mati suatu hari nanti. Tapi belum sekarang. Sekarang, mari kita nonton Netflix." Das Man menyembunyikan kengerian kematian dengan menjadikannya kejadian umum yang jauh dan abstrak.
Bagaimana Das Man berbicara tentang kematian? Das Man berkata: "Semua orang akan mati suatu hari nanti. Tapi belum sekarang. Sekarang, mari kita nonton Netflix." Das Man menyembunyikan kengerian kematian dengan menjadikannya kejadian umum yang jauh dan abstrak.
Tetapi, kata Heidegger, jika aku berani menghadapi kematianku sendiri secara jujur, bukan "orang mati", tapi aku yang akan mati, maka aku akan menemukan kemungkinan untuk hidup secara otentik.
Mengapa? Karena kematian adalah kemungkinan yang paling pribadi, tidak bisa diwakilkan, dan tidak bisa dihindari. Tidak ada yang bisa mati menggantikanku. Kematian adalah akhir dari semua kemungkinanku. Ketika aku benar-benar menyadari ini, aku menyadari bahwa waktuku terbatas, dan bahwa aku harus memilih dengan sungguh-sungguh. Aku tidak bisa terus-menerus menunda dan berkata, "Nanti saja."
"Kematian adalah kemungkinan akan ketidakmungkinan eksistensi sama sekali."
(Heidegger, Being and Time, §50, hlm. 294)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan engkau adalah seorang mahasiswa yang punya waktu seminggu sebelum ujian akhir. Selama ini, engkau santai-santai saja. "Masih lama," katamu. Lalu, tiba-tiba, engkau sadar bahwa besok pagi adalah ujiannya. Semua kemalasan dan penundaanmu lenyap seketika. Engkau belajar dengan fokus yang luar biasa. Engkau memprioritaskan yang penting.
Nah, kata Heidegger, kematian adalah "ujian akhir" yang selalu sudah menanti, tetapi kita tidak tahu kapan tepatnya. Jika kita hidup dengan kesadaran penuh bahwa "ujian" itu bisa datang kapan saja, kita akan hidup dengan intensitas, fokus, dan ketulusan yang berbeda.
Menghadapi kematian bukan berarti menjadi murung dan pesimis. Sebaliknya, itu adalah satu-satunya cara untuk benar-benar hidup. Ini disebut Heidegger sebagai "Ada-menuju-kematian yang otentik" (authentic Being-towards-death).
Konsep 7: Hati Nurani dan Resolusi, Mendengar Bisikan Diri Sendiri
Bagaimana kita keluar dari Das Man dan menuju keotentikan? Kita tidak bisa melakukannya sendirian dengan "niat baik". Kita butuh sebuah panggilan.
Heidegger berbicara tentang Hati Nurani (Gewissen). Tetapi hati nurani di sini bukanlah suara Tuhan atau suara moral universal. Hati nurani adalah panggilan dari diriku sendiri kepada diriku sendiri. Diri yang otentik memanggil diri yang tenggelam dalam Das Man.
Apa yang dikatakan oleh panggilan itu? Tidak ada apa-apa. Panggilan hati nurani tidak mengatakan "Lakukan ini!" atau "Jangan lakukan itu!" Ia hanya membungkamkan kebisingan Das Man. Ia adalah keheningan yang memaksaku untuk berhenti dan bertanya: "Apakah aku benar-benar menjalani hidupku sendiri, atau hanya mengikuti arus?"
Ketika aku mendengar panggilan ini dan memilih untuk menerimanya, aku memasuki Resolusi (Entschlossenheit). Resolusi adalah keterbukaan untuk bertindak secara otentik dalam situasi konkret. Ini bukanlah sebuah rencana hidup yang kaku. Ini adalah sikap dasar: aku memilih untuk menjadi diriku sendiri, dengan segala kecemasan dan ketidakpastian, daripada bersembunyi di balik Das Man.
"Resolusi adalah keterbukaan yang otentik... Di dalamnya, Dasein menarik dirinya kembali dari Das Man untuk menjadi dirinya sendiri."
(Heidegger, Being and Time, §60, hlm. 344)
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
- Waktu terbatas, jangan tunda hidupmu. Heidegger mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian bukanlah sumber depresi, melainkan sumber energi untuk hidup dengan penuh. Jika engkau tahu engkau akan mati, apa yang akan kau lakukan hari ini? Pertanyaan ini adalah kompas eksistensial yang sangat praktis.
- Beranilah berbeda dari "algoritma". Di era media sosial dan artificial intelligence, Das Man lebih kuat dari sebelumnya. Algoritma memberi tahu kita apa yang harus ditonton, apa yang harus dibeli, apa yang harus dipikirkan. Heidegger menantang kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan keheningan di dalam diri, dan bertanya: "Apakah ini benar-benar pilihanku, atau hanya suara anonim?"
- Hadir secara penuh. Konsep "Ada-di-Dunia" mengajak kita untuk tidak hidup di awang-awang teori atau fantasi, tetapi untuk benar-benar hadir dalam aktivitas sehari-hari. Ketika engkau mencuci piring, cucilah piring. Ketika engkau berjalan, berjalanlah. Jangan biarkan pikiranmu selalu melayang ke masa lalu atau masa depan.
- Kecemasan adalah guru. Jangan selalu lari dari kecemasan. Kadang, ia adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara hidupmu, dan ia mengundangmu untuk berubah.
Epilog, Sang Penyihir yang Membuka Jalan
Martin Heidegger meninggal pada 26 Mei 1976, di Freiburg, pada usia 86 tahun. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di kampung halamannya, Messkirch, dengan upacara Katolik. Konon, di akhir hayatnya, ia berkata: "Hanya seorang Tuhan yang bisa menyelamatkan kita" (Nur noch ein Gott kann uns retten).
Warisan Heidegger sangat kompleks. Ada kejeniusan yang tak terbantahkan. Ada pula skandal politik yang mengerikan. Namun, dalam konteks perjalanan kita, satu hal yang pasti: Ia adalah jembatan antara fenomenologi Husserl dan eksistensialisme Sartre. Tanpanya, eksistensialisme tidak akan memiliki fondasi ontologis yang kokoh. Tanpa Being and Time, kita tidak akan memiliki analisis yang begitu tajam tentang kecemasan, kematian, dan keotentikan.
Ia adalah "penyihir dari Messkirch" yang berhasil mengguncang fondasi pemikiran Barat, dan memaksa kita semua untuk bertanya lagi, dengan polos seperti anak kecil: "Apa artinya 'ada'?"
A. Sumber Primer: Karya Heidegger
1. Heidegger, Martin. Being and Time. Diterjemahkan oleh John Macquarrie dan Edward Robinson. New York: Harper & Row, 1962.
- Terjemahan Inggris klasik yang paling sering dikutip secara akademis.
2. Heidegger, Martin. Being and Time. Diterjemahkan oleh Joan Stambaugh. Albany: SUNY Press, 1996.
- Terjemahan yang lebih modern dan mudah dibaca.
3. Heidegger, Martin. Basic Writings. Diedit oleh David Farrell Krell. New York: HarperCollins, 1993.
- Kumpulan esai penting, termasuk "What is Metaphysics?", "The Origin of the Work of Art", dan "The Question Concerning Technology".
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
1. Dreyfus, Hubert L. Being-in-the-World: A Commentary on Heidegger's Being and Time, Division I. Cambridge: MIT Press, 1991.
- Komentar yang sangat berpengaruh dan jelas, terutama tentang konsep "dunia" dan "alat".
2. Safranski, Rüdiger. Martin Heidegger: Between Good and Evil. Diterjemahkan oleh Ewald Osers. Cambridge: Harvard University Press, 1998.
- Biografi intelektual yang komprehensif dan kritis, menggali kehidupan dan skandal Nazi dengan mendalam.
3. Caputo, John D. Heidegger and Aquinas: An Essay on Overcoming Metaphysics. New York: Fordham University Press, 1982.
- Studi yang menggali akar teologis pemikiran Heidegger.
4. Guignon, Charles B. Heidegger and the Problem of Knowledge. Indianapolis: Hackett, 1983.
Kita telah tiba. Setelah melintasi keheningan Pascal, lompatan Kierkegaard, neraka Dostoevsky, laboratorium Husserl, tembok Jaspers, dan hutan Heidegger, kini kita berdiri di depan gerbang yang paling gemerlap sekaligus paling kontroversial dalam lanskap Eksistensialisme. Engkau meminta untuk dijelaskan tentang seorang tokoh yang namanya nyaris identik dengan kata "Eksistensialisme" itu sendiri: Jean-Paul Sartre.
- Analisis yang sangat baik tentang bagaimana Heidegger menantang epistemologi tradisional.
Jean-Paul Sartre (1905–1980)
Kita telah tiba. Setelah melintasi keheningan Pascal, lompatan Kierkegaard, neraka Dostoevsky, laboratorium Husserl, tembok Jaspers, dan hutan Heidegger, kini kita berdiri di depan gerbang yang paling gemerlap sekaligus paling kontroversial dalam lanskap Eksistensialisme. Engkau meminta untuk dijelaskan tentang seorang tokoh yang namanya nyaris identik dengan kata "Eksistensialisme" itu sendiri: Jean-Paul Sartre.
Jika Heidegger adalah penyihir misterius dari hutan hitam, maka Sartre adalah selebritas intelektual dari kafe-kafe Paris. Ia adalah filsuf yang menulis novel, drama, esai politik, dan pamflet. Ia adalah pria bermata juling dengan pipa rokoknya yang tidak pernah lepas, yang pemakamannya dihadiri oleh 50.000 orang. Ia adalah ikon abad ke-20.
Ambillah cangkir kopimu. Kali ini, kita akan memasuki dunia di mana "Eksistensi mendahului esensi" dan "Manusia dikutuk untuk bebas". Juga kalimat seram, “Sartre itu Nabi Kebebasan yang Kejam.”
Prolog, Manusia yang Menolak Hadiah Nobel
Bayangkan, Sobatku, engkau menulis sepanjang hidupmu. Lalu, pada tahun 1964, Akademi Swedia memutuskan untuk memberimu Hadiah Nobel Sastra, penghargaan paling prestisius di dunia. Apa yang akan kau lakukan? Pesta? Menangis haru? Menerimanya dengan bangga?
Jean-Paul Sartre menolaknya.
Ia menulis surat kepada Akademi Swedia, meminta agar namanya dicoret. Alasannya? Seorang intelektual sejati tidak boleh "dilembagakan". Menerima Hadiah Nobel, katanya, akan mengubahnya dari "seorang penulis" menjadi "seorang pemenang Nobel". Itu adalah beban yang membatasi kebebasannya.
Tindakan ini adalah Sartre dalam bentuknya yang paling murni: radikal, konsisten dengan prinsipnya sendiri, dan sedikit "kurang ajar". Ia menolak untuk didefinisikan oleh apa pun di luar dirinya sendiri. Ia memilih untuk tetap menjadi "Jean-Paul Sartre, penulis", bukan "Jean-Paul Sartre, Penerima Nobel".
Gambaran Ideosinkretik
Seorang anak kecil yang ingin menjadi buku. Itulah Jean-Paul Sartre lahir pada 21 Juni 1905 di Paris. Ayahnya, seorang perwira angkatan laut, meninggal ketika Sartre baru berusia 15 bulan. Ibunya, Anne-Marie, membawanya kembali ke rumah orang tuanya.
Di sana, Sartre kecil tumbuh sebagai anak yang dimanjakan, dikelilingi oleh buku-buku kakeknya. Dalam otobiografinya yang indah, The Words (Les Mots, 1964), Sartre menggambarkan bagaimana ia belajar membaca sebelum usia lima tahun, dan bagaimana ia segera jatuh cinta pada kata-kata.
"Aku memulai hidupku sebagaimana aku pasti akan mengakhirinya: di antara buku-buku."
(Sartre, The Words, hlm. 1)
Kakeknya memanggilnya "keajaiban kecil". Sartre kecil percaya bahwa ia ditakdirkan untuk menjadi penulis besar. Ia akan menulis buku-buku yang menyelamatkan umat manusia dari ketidaktahuan. Singkatnya, ia percaya bahwa esensinya sudah ditentukan: ia adalah seorang penulis jenius.
Ironisnya, seluruh filsafat Sartre yang dewasa akan membongkar ilusi masa kecilnya ini. Tidak ada esensi yang sudah ditentukan. Tidak ada "takdir" untuk menjadi penulis. Yang ada hanyalah pilihan.
Si Mata Juling dan Kekasih Abadinya
Sartre memiliki satu ciri fisik yang sangat menonjol: matanya juling. Akibat penyakit yang dideritanya saat kecil, otot-otot matanya rusak. Ia tidak pernah bisa melihat dirinya sebagai "pria tampan". Tetapi justru ini, katanya, membebaskannya dari keharusan untuk menjadi "si tampan". Ia tidak bisa mengandalkan penampilan, jadi ia mengandalkan otaknya.
Di École Normale Supérieure, ia bertemu dengan Simone de Beauvoir, seorang wanita brilian yang akan menjadi kekasih, mitra intelektual, dan teman seumur hidupnya. Mereka tidak pernah menikah. Mereka memiliki "pakta": mereka adalah "cinta esensial" satu sama lain, tetapi mereka bisa memiliki "cinta kontingen" di sampingnya. Hubungan mereka adalah eksperimen eksistensial dalam kebebasan.
Beauvoir akan menjadi tokoh eksistensialis yang sangat penting dengan bukunya The Second Sex, tetapi itu adalah kisah untuk lain waktu.
Perang, Penjara, dan Kelahiran Eksistensialisme
Pada tahun 1939, Perang Dunia II meletus. Sartre dipanggil untuk dinas militer. Pada tahun 1940, ia ditangkap oleh Jerman dan menghabiskan sembilan bulan di kamp tawanan perang.
Paradoksnya, Sartre menggambarkan masa di kamp tawanan sebagai salah satu masa paling bahagia dalam hidupnya. Mengapa? Karena di bawah tekanan ekstrem, di antara orang-orang yang sama-sama menderita, ia merasakan solidaritas yang otentik. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada Das Man. Semua orang sama-sama rapuh.
Setelah dibebaskan, Sartre kembali ke Paris yang diduduki Nazi. Ia menulis dengan gila-gilaan. Pada tahun 1943, ia menerbitkan Being and Nothingness (L'Être et le Néant), sebuah buku setebal 700 halaman yang padat dan sulit, tetapi segera menjadi kitab suci Eksistensialisme.
Pada tahun 1945, ia menyampaikan kuliah publik yang legendaris, "Eksistensialisme adalah Humanisme" (L'existentialisme est un humanisme). Ruangan itu penuh sesak. Orang-orang pingsan karena panas dan desakan. Di luar, polisi anti-huru-hara dikerahkan. Sartre telah menjadi bintang rock intelektual.
Mahakarya Being and Nothingness, Pembedahan Kebebasan
Jika Heidegger adalah arkeolog "Ada", maka Sartre adalah dokter bedah kesadaran. Being and Nothingness adalah analisis fenomenologis yang luar biasa tentang struktur kesadaran manusia, kebebasan, hubungan dengan orang lain, dan kemungkinan untuk otentik.
Mari kita bedah konsep-konsep kuncinya.
Konsep 1 "Eksistensi Mendahului Esensi"
Ini adalah kalimat paling terkenal dari Sartre, dan inti dari seluruh filsafatnya.
Apa maksudnya?
Bayangkanlah, kata Sartre, sebuah pisau pemotong kertas. Pisau itu ada di benak pembuatnya sebelum ia dibuat. Sang pembuat memiliki "konsep" atau "esensi" pisau itu: fungsinya untuk memotong kertas, bentuknya, bahannya. Jadi, pada benda-benda buatan, esensi mendahului eksistensi. Esensi (konsep) sudah ada di benak pembuat sebelum eksistensi (benda konkret) dihasilkan.
Menurut Sartre, selama berabad-abad, filsafat Barat memperlakukan manusia dengan cara yang sama. Diyakini bahwa Tuhan adalah "Sang Pembuat", dan Ia menciptakan manusia berdasarkan "konsep" atau "kodrat manusia" tertentu. Maka, setiap individu manusia hanyalah perwujudan dari "esensi manusia" yang universal itu.
Tetapi, bagaimana jika Tuhan tidak ada?
"Eksistensialisme ateis, yang saya wakili, menyatakan bahwa jika Tuhan tidak ada, setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya mendahului esensinya, sebuah makhluk yang ada sebelum ia bisa didefinisikan oleh konsep apa pun, dan makhluk itu adalah manusia."
(Sartre, Existentialism is a Humanism, hlm. 20)
Bagi Sartre, manusia pertama-tama ada, muncul di dunia, dan baru setelah itu ia mendefinisikan dirinya sendiri. Manusia bukanlah "apa-apa" pada awalnya. Ia adalah sebuah proyek, sebuah kemungkinan. Ia tidak memiliki "kodrat" yang menentukan bahwa ia harus menjadi penulis, atau penjahat, atau pahlawan. Ia menjadi penulis, menjadi penjahat, menjadi pahlawan, melalui pilihan-pilihannya.
"Manusia tidak lain adalah apa yang ia buat dari dirinya sendiri. Ini adalah prinsip pertama eksistensialisme."(Sartre, Existentialism is a Humanism, hlm. 22)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan engkau diberikan seonggok tanah liat. Tanah liat itu tidak memiliki bentuk yang pasti. Ia bisa menjadi apa saja: vas bunga, patung, asbak, atau sesuatu yang sama sekali baru. Tidak ada "cetakan" yang memaksamu untuk membuat vas. Engkau sendirilah yang harus membentuknya dengan tanganmu sendiri.
Itulah manusia, kata Sartre: tanah liat yang harus membentuk dirinya sendiri. Engkau tidak dilahirkan dengan "esensi pahlawan" atau "esensi penakut". Engkau menjadi pahlawan atau penakut melalui tindakanmu.
Konsep 2 Dua Modus "Ada", Être-en-soi dan Être-pour-soi
Sartre membagi realitas menjadi dua modus fundamental:
1. Être-en-soi (Ada-pada-dirinya/Being-in-itself): Ini adalah modus "Ada" dari benda-benda non-sadar.
Sebuah batu, sebuah kursi, sebuah pohon. Mereka ada secara masif, padat, penuh, dan identik dengan dirinya sendiri. Sebuah batu adalah sebuah batu. Ia tidak bisa memilih untuk menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak memiliki kesadaran, tidak memiliki kemungkinan, tidak memiliki "lubang" di dalam dirinya. Ia adalah kepenuhan.
2. Être-pour-soi (Ada-untuk-dirinya/Being-for-itself) : Ini adalah modus "Ada" dari kesadaran manusia.
Berbeda dengan batu yang padat, kesadaran adalah ketiadaan (néant). Ia adalah sebuah "lubang" di dalam kepenuhan Ada-pada-dirinya.
Apa maksudnya?
Kesadaran selalu sadar akan sesuatu (intensionalitas Husserl). Kesadaran bukanlah sebuah benda. Ketika aku sadar akan pohon, aku bukanlah pohon itu. Aku adalah penyingkapan pohon itu, dan dalam penyingkapan itu, aku "menidakkan" pohon itu (aku sadar bahwa aku bukan pohon). Kesadaran selalu merupakan negasi, sebuah "bukan".
"Kesadaran adalah sebuah makhluk yang di dalam keberadaannya, keberadaannya sendiri dipertanyakan, sejauh makhluk ini mengimplikasikan sebuah makhluk yang lain dari dirinya."
(Sartre, Being and Nothingness, hlm. lxii)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkanlah sebuah dinding yang penuh dan padat (itu en-soi). Lalu, engkau melubangi dinding itu. Lubang itu bukanlah "benda"; lubang itu adalah "ketiadaan" dari dinding. Tetapi justru karena ada lubang, engkau bisa melihat ke seberang. Lubang itu adalah "kesadaran": ia bukan apa-apa, tetapi justru karena ia bukan apa-apa, ia bisa "menyingkapkan" segalanya.
Manusia adalah makhluk yang tidak identik dengan dirinya sendiri. Aku bisa berkata, "Aku adalah seorang guru," tetapi aku tidak sama dengan predikat "guru" seperti batu yang sama dengan dirinya. Aku bisa memilih untuk berhenti menjadi guru. Aku bisa membayangkan diriku menjadi sesuatu yang lain. Aku selalu melampaui (transcend) diriku sendiri.
Inilah fondasi dari kebebasan manusia: karena aku adalah ketiadaan, aku tidak terikat pada esensi apa pun. Aku harus terus-menerus menciptakan diriku sendiri.
Konsep 3 "Dikutuk untuk Bebas"
Ini adalah konsekuensi paling dahsyat dari "eksistensi mendahului esensi".
Jika tidak ada Tuhan yang menciptakan esensi manusia, jika tidak ada "kodrat" yang menentukan siapa aku, maka aku benar-benar bebas. Tidak ada "tujuan hidup" yang sudah tertulis. Tidak ada "nilai moral" yang mutlak yang bisa kupakai untuk berpegangan. Aku sendirian.
"Manusia itu bebas, manusia adalah kebebasan... Manusia dikutuk untuk bebas. Dikutuk, karena ia tidak menciptakan dirinya sendiri, namun ia bebas, karena sekali dilemparkan ke dunia, ia bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ia lakukan."
(Sartre, Existentialism is a Humanism, hlm. 29)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan engkau dibangunkan pada jam 3 pagi, diseret ke sebuah panggung teater raksasa, dan lampu sorot tiba-tiba menyinarimu. Di depanmu, ada ribuan penonton yang menunggu. Tidak ada naskah. Tidak ada sutradara. Tidak ada yang memberitahumu apa yang harus dilakukan. Engkau harus bertindak. Jika engkau diam, itu juga sebuah tindakan. Jika engkau lari, itu juga sebuah tindakan. Engkau tidak bisa tidak bertindak. Dan apa pun yang kau lakukan, itu sepenuhnya tanggung jawabmu.
Itulah kebebasan dalam pandangan Sartre. Kita "dikutuk" karena kita tidak bisa melarikan diri dari kebebasan. Bahkan menolak untuk memilih adalah sebuah pilihan. Bahkan bunuh diri adalah sebuah pilihan.
Tetapi, kebebasan ini juga berarti tanggung jawab total. Jika aku bebas sepenuhnya, maka aku tidak bisa menyalahkan siapa pun atas diriku. Aku tidak bisa berkata, "Aku menjadi penjahat karena lingkunganku," atau "Aku malas karena genku," atau "Aku seperti ini karena didikanku." Semua itu adalah alibi. Aku selalu bisa memilih untuk melawan lingkunganku, genku, atau didikanku. Jika aku tidak melawan, itu adalah pilihanku sendiri.
"Aku bertanggung jawab atas diriku sendiri dan atas semua orang. Aku menciptakan sebuah citra manusia tertentu yang aku pilih; dalam memilih diriku, aku memilih manusia."
(Sartre, Existentialism is a Humanism, hlm. 25)
Maksudnya: ketika aku memilih untuk menjadi seorang penulis yang jujur, aku secara implisit menyatakan bahwa "menjadi penulis yang jujur" adalah nilai yang baik bagi seluruh umat manusia. Pilihanku adalah usulan universal tentang apa artinya menjadi manusia.
Konsep 4 Itikad Buruk (Mauvaise Foi), Menipu Diri Sendiri
Jika kebebasan begitu besar dan tanggung jawab begitu berat, apa yang biasanya kita lakukan? Kita lari. Kita bersembunyi dari kebebasan kita. Inilah yang disebut Sartre sebagai Itikad Buruk (Mauvaise Foi atau Bad Faith).
Itikad buruk adalah berbohong kepada diri sendiri. Ini berbeda dengan berbohong kepada orang lain. Ketika aku berbohong kepada orang lain, aku tahu kebenarannya, dan aku menyembunyikannya darinya. Tetapi dalam itikad buruk, aku adalah penipu dan yang ditipu sekaligus. Aku menyembunyikan kebenaran dari diriku sendiri.
"Itikad buruk adalah seni membentuk konsep-konsep yang kontradiktif, yang menyatukan dalam dirinya sebuah ide dan negasi dari ide itu."
(Sartre, Being and Nothingness, hlm. 98)
Contoh klasik Sartre: Pelayan Kafe.
Lihatlah seorang pelayan di kafe. Gerak-geriknya terlalu sempurna, terlalu mekanis. Ia membawa nampan dengan keseimbangan yang persis, ia membungkuk dengan sudut yang tepat, ia berbicara dengan nada yang terlalu sopan. Ia seperti robot pelayan.
Apa yang ia lakukan? Ia sedang memainkan peran "pelayan". Ia berusaha untuk menjadi sepenuhnya seorang pelayan, sebuah en-soi (benda) yang identik dengan perannya. Ia menyangkal bahwa ia lebih dari sekadar pelayan: bahwa ia juga seorang pemimpi, seorang pencinta, seorang calon penulis. Ia lari dari kebebasannya yang menakutkan dengan "bersembunyi" di balik peran sosial yang kaku.
"Aku adalah seorang pelayan persis seperti tinta adalah tinta... Aku adalah seorang pelayan selamanya. Ini adalah itikad buruk." (Sartre, Being and Nothingness, hlm. 102)
Analogi lain: Wanita dalam Kencan Pertama.
Sartre memberikan contoh lain yang sangat tajam. Seorang wanita pergi kencan pertama dengan seorang pria. Pria itu menggenggam tangannya. Pada momen itu, sang wanita harus memilih: apakah ia menarik tangannya, atau membiarkannya? Jika ia menarik, ia mengakhiri "permainan". Jika ia membiarkan, ia terlibat lebih jauh.
Apa yang ia lakukan? Ia tidak memilih. Ia membiarkan tangannya di sana, tetapi ia mulai berbicara tentang hal-hal intelektual yang tinggi. Ia "mengubah" tangannya menjadi benda yang tidak bermakna, dan pikirannya melayang ke diskusi tentang kehidupan. Ia memperlakukan dirinya sebagai kesadaran murni (di level diskusi) dan sebagai benda pasif (di level tangan), dan menolak untuk menyatukan keduanya. Ia menyangkal bahwa ia adalah makhluk bebas yang harus memilih.
Bagaimana keluar dari itikad buruk?
Dengan kejujuran eksistensial, yaitu menerima bahwa aku bukanlah en-soi (benda yang tetap) dan juga bukan sekadar pour-soi (kesadaran murni). Aku adalah makhluk yang terus-menerus harus memilih dan bertanggung jawab.
Konsep 5 "Yang Lain adalah Neraka"
Ini adalah kutipan Sartre yang paling terkenal, dan juga yang paling sering disalahpahami.
"L'enfer, c'est les autres." , "Neraka adalah orang lain."
(Sartre, No Exit / Huis Clos, adegan 5)
Banyak yang mengira Sartre adalah seorang misanthrope yang membenci orang lain. Padahal maksudnya jauh lebih dalam.
Dalam Being and Nothingness, Sartre menganalisis bagaimana kita mengalami kehadiran orang lain melalui fenomena Pandangan (Le Regard).
Bayangkan, kata Sartre, aku sedang mengintip melalui lubang kunci. Aku sangat fokus. Seluruh kesadaranku tersedot ke dalam apa yang kulihat. Aku tidak sadar akan diriku sendiri. Aku adalah "kesadaran murni" yang melayang.
Lalu, tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Seseorang sedang menatapku.
Seketika, seluruh alam semestaku runtuh. Aku tidak lagi menjadi pusat dunia. Aku kini menjadi obyek di mata orang lain. Orang lain menilaiku: "Ia sedang mengintip." Aku merasa malu, atau takut, atau marah. Aku "dibekukan" oleh pandangan itu.
"Yang Lain adalah makhluk yang dengannya aku terus-menerus dalam bahaya... Pandangan Yang Lain membuatku menjadi obyek, merampas kebebasanku."
(Sartre, Being and Nothingness, hlm. 340-360)
Analoginya begini, Sobatku. Engkau sedang asyik menari sendirian di kamar, mengikuti musik dengan gerakan yang aneh dan bebas. Engkau sepenuhnya bebas. Lalu, engkau menoleh, dan engkau melihat ada seseorang yang berdiri di pintu, menatapmu dengan seringai. Seketika, engkau berhenti. Engkau merasa malu. Engkau menjadi "obyek" dari penilaiannya.
Itulah neraka: terus-menerus dihakimi dan didefinisikan oleh orang lain. Dalam drama No Exit, tiga karakter dikunci dalam sebuah ruangan. Mereka tidak bisa tidur, tidak bisa memejamkan mata, tidak bisa pergi. Mereka terus-menerus saling menatap, saling menilai, saling membutuhkan pengakuan. Tidak ada api neraka; hanya pandangan yang tak terhindarkan.
Tetapi, ini juga berarti bahwa relasi dengan orang lain selalu merupakan konflik. Aku mencoba untuk membekukan orang lain menjadi obyek, sementara ia mencoba melakukan hal yang sama padaku. Cinta, misalnya, adalah upaya untuk "memiliki" kebebasan orang lain tanpa menghancurkannya, sebuah upaya yang mustahil.
Konsep 6 Pilihan untuk Menjadi Tuhan
Sartre bertanya: apa yang sebenarnya diinginkan manusia dalam semua pilihan dan tindakannya?
Jawabannya sangat provokatif: Manusia pada dasarnya adalah hasrat untuk menjadi Tuhan (le désir d'être Dieu).
Apa maksudnya?
Aku adalah pour-soi (kesadaran, ketiadaan, kebebasan) yang tidak identik dengan diriku sendiri. Aku terus-menerus melampaui diriku. Tetapi aku mendambakan kepenuhan, menjadi en-soi-pour-soi, sebuah makhluk yang padat, penuh, sempurna, identik dengan dirinya sendiri, tetapi sekaligus sadar dan bebas. Itu adalah definisi dari Tuhan. Aku ingin menjadi fondasi dari diriku sendiri (seperti en-soi) tetapi tetap bebas (seperti pour-soi).
Tentu saja, ini mustahil. Ini adalah hasrat yang sia-sia (une passion inutile). Aku tidak bisa menjadi fondasi dari diriku sendiri, karena aku selalu sudah "terlempar" ke dunia. Aku tidak bisa menjadi en-soi tanpa kehilangan kebebasanku.
"Manusia adalah hasrat yang sia-sia untuk menjadi Tuhan."
(Sartre, Being and Nothingness, hlm. 784)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan seorang aktor yang ingin menjadi peran yang ia mainkan. Ia ingin benar-benar menjadi Hamlet. Tetapi jika ia benar-benar menjadi Hamlet (gila, membunuh), ia akan kehilangan kesadarannya sebagai aktor. Ia ingin menjadi fondasi dari dirinya sendiri, menentukan siapa dirinya, tetapi ia tidak bisa, karena ia selalu sudah "terlempar" ke dalam tubuh, sejarah, dan situasi tertentu.
Konsep 7 Eksistensialisme adalah Humanisme
Menanggapi tuduhan bahwa eksistensialisme adalah filsafat yang pesimis, individualis, dan amoral, Sartre menyampaikan kuliah "Eksistensialisme adalah Humanisme".
Di sana ia berargumen bahwa justru eksistensialisme adalah satu-satunya filsafat yang menghormati martabat manusia. Mengapa? Karena ia tidak mereduksi manusia menjadi benda, menjadi mesin, atau menjadi produk dari lingkungannya. Ia menempatkan kebebasan dan tanggung jawab di pusat.
Eksistensialisme juga, katanya, bukanlah filsafat "apa saja boleh". Justru karena tidak ada nilai yang mutlak, maka setiap pilihanku adalah penciptaan nilai. Aku tidak bisa bersandar pada "aturan" atau "tradisi". Aku harus menemukan nilai melalui pilihanku yang konkret.
Dan di sinilah letak humanisme-nya: ia percaya bahwa manusia, dengan kebebasannya, bisa menciptakan dunia yang lebih baik. Tidak ada jaminan, tetapi ada kemungkinan.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
- Jangan jadikan dirimu "benda". Setiap kali engkau berkata, "Aku memang seperti ini, mau bagaimana lagi?", engkau sedang bersembunyi. Engkau sedang berpura-pura menjadi batu. Ingatlah Sartre: engkau bebas. Engkau bisa berubah. Selalu ada pilihan.
- Ambillah tanggung jawab penuh. Berhentilah menyalahkan masa lalumu, orang tuamu, atau "keadaan". Itu semua adalah fakta, tetapi engkaulah yang memberi makna pada fakta-fakta itu. Engkau memilih apa arti trauma bagimu. Engkau memilih apa yang akan kau lakukan dengan bakat dan keterbatasanmu.
- Hiduplah dengan otentik. Otentisitas berarti menerima bahwa engkau adalah kebebasan dan ketiadaan, dan bertindak berdasarkan penerimaan itu. Jangan memainkan peran. Jangan menjadi "pelayan kafe" dalam hidupmu sendiri.
- "Neraka adalah orang lain"? Mungkin. Tetapi surga juga bisa. Relasi dengan orang lain memang bisa membekukan kita. Tetapi Sartre di akhir hidupnya juga mengakui bahwa kita bisa membangun solidaritas. Kita bisa saling mendukung untuk menjadi bebas, alih-alih saling membekukan.
Epilog, Pemakaman Sang Raksasa
Jean-Paul Sartre meninggal pada 15 April 1980, di Paris, pada usia 74 tahun. Seperti yang disebutkan di awal, 50.000 orang memadati jalanan Paris untuk mengiringi jenazahnya. Simone de Beauvoir, yang selalu setia, berjalan di samping keranda, tubuhnya rapuh tetapi jiwanya tegak.
Sartre tidak dimakamkan di Panthéon (meskipun kemudian ada wacana). Ia dimakamkan di Pemakaman Montparnasse, di antara para seniman dan intelektual. Di batu nisannya, tertulis sederhana: "Jean-Paul Sartre, 1905-1980".
Ia meninggalkan warisan yang sangat besar. Eksistensialisme menjadi gerakan global. Kata-katanya, "Eksistensi mendahului esensi", "Dikutuk untuk bebas", "Neraka adalah orang lain", terus bergema.
Apakah ia berhasil membuktikan bahwa eksistensialisme adalah humanisme? Itu masih diperdebatkan. Tetapi satu hal yang pasti: ia memaksa setiap kita untuk berhenti dan bertanya, "Apa yang aku lakukan dengan kebebasanku hari ini?"
A. Sumber Primer: Karya Sartre
- Sartre, Jean-Paul. Being and Nothingness: A Phenomenological Essay on Ontology. Diterjemahkan oleh Hazel E. Barnes. New York: Washington Square Press, 1956.
- Sartre, Jean-Paul. Existentialism is a Humanism. Diterjemahkan oleh Carol Macomber. New Haven: Yale University Press, 2007.
- Sartre, Jean-Paul. No Exit and Three Other Plays. Diterjemahkan oleh Stuart Gilbert. New York: Vintage International, 1989.
- Sartre, Jean-Paul. The Words. Diterjemahkan oleh Bernard Frechtman. New York: George Braziller, 1964.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Caws, Peter. Sartre. London: Routledge & Kegan Paul, 1979. , Pengantar yang solid dan jernih.
- Catalano, Joseph S. A Commentary on Jean-Paul Sartre's Being and Nothingness. Chicago: University of Chicago Press, 1980. , Komentar sangat membantu untuk menavigasi teks Sartre yang padat.
- Anderson, Thomas C. Sartre's Two Ethics: From Authenticity to Integral Humanity. Chicago: Open Court, 1993. , Mendiskusikan evolusi pemikiran etis Sartre.
- Cohen-Solal, Annie. Sartre: A Life. Diterjemahkan oleh Anna Cancogni. New York: Pantheon Books, 1987. , Biografi yang sangat komprehensif.
Maurice Merleau-Ponty (1908–1961)
Kita kini tiba di sebuah titik yang amat penting, namun seringkali sunyi dari gemuruh tepuk tangan. Setelah kita bersama-sama menyelami kebebasan Sartre yang menyambar-nyambar bagai petir, engkau kini meminta untuk berkenalan dengan seorang pemikir yang merupakan sahabat sekaligus kritikus paling tajam bagi Sartre sendiri.
Namanya adalah Maurice Merleau-Ponty.
Jika Sartre adalah pendekar pedang yang duel di panggung terang benderang, Merleau-Ponty adalah tabib yang mendengarkan detak jantung dunia. Ia tidak berteriak. Ia berbisik. Dan bisikannya, percayalah, justru seringkali lebih dalam dan lebih jujur. Ia mengingatkan kita pada satu hal yang sering dilupakan oleh para filsuf: bahwa kita ini punya tubuh, daging, dan darah.
Ambillah napas yang lembut. Kali ini, kita akan memasuki dunia yang indah, di mana tubuh bukanlah penjara jiwa, melainkan jendela menuju dunia.
Prolog, Filsuf yang Meninggal di Meja Kerja
Bayangkanlah seorang filsuf yang sedang duduk di meja kerjanya pada suatu sore di tahun 1961. Di hadapannya, terhampar manuskrip yang belum selesai, sebuah karya yang direncanakan sebagai mahakarya keduanya. Ia sedang merenungkan hubungan antara "Yang Terlihat dan Yang Tak Terlihat". Lalu, tiba-tiba, jantungnya berhenti. Ia tersungkur. Di usianya yang baru 53 tahun, Maurice Merleau-Ponty meninggal dunia.
Kematiannya yang mendadak ini seperti sebuah metapora yang sempurna untuk filsafatnya: bahwa eksistensi manusia itu rapuh, melekat pada tubuh yang bisa runtuh kapan saja, dan bahwa proyek pemikiran kita selalu belum selesai (inachevé). Kita adalah makhluk yang terus-menerus "menuju" makna, tetapi tidak pernah bisa memilikinya sepenuhnya.
Ia adalah salah satu filsuf paling puitis dalam tradisi fenomenologi. Bagi Merleau-Ponty, berfilsafat bukanlah sekadar menyusun argumen logis. Berfilsafat adalah belajar untuk melihat dunia lagi, seolah-olah untuk pertama kalinya.
Gambaran Ideosinkretik
Inilah seorang Katolik yang menjadi Ateis sekaligus murid yang menjadi guru. Maurice Merleau-Ponty lahir pada 14 Maret 1908 di Rochefort-sur-Mer, Prancis. Ayahnya meninggal dalam Perang Dunia I ketika Maurice masih kecil. Ia tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat, tetapi di kemudian hari ia meninggalkan iman Katoliknya. Namun, perhatiannya pada misteri, pada yang tak terlihat, pada dimensi sakral dari pengalaman manusia, tidak pernah hilang. Ia hanya memindahkannya dari altar gereja ke altar dunia.
Ia belajar di École Normale Supérieure, tempat yang sama dengan Sartre dan Beauvoir. Di sana, ia bersahabat erat dengan Sartre. Mereka mendirikan jurnal politik-sastra legendaris, Les Temps Modernes, yang menjadi corong kaum intelektual kiri di Prancis.
Tetapi di balik persahabatan itu, ada perbedaan temperamen yang tajam. Sartre itu kota, kafe, dan debat sengit. Merleau-Ponty adalah alam, keheningan, dan kontemplasi. Sartre menulis Being and Nothingness yang gemuruh dan penuh paradoks. Merleau-Ponty menulis Phenomenology of Perception yang telaten dan penuh perhatian pada detail konkret.
Pada akhirnya, persahabatan mereka retak karena perbedaan politik (terutama soal komunisme Soviet). Mereka berpisah jalan. Tetapi sepanjang hidupnya, Merleau-Ponty tetap menjadi "korektor yang setia" bagi Sartre. Ia tidak pernah berhenti mengatakan, "Sartre, kau lupa satu hal: tubuh."
Ia juga guru yang dicintai sekaligus distigma sebagai "pengkhianat" filsafat. Setelah Perang Dunia II, Merleau-Ponty mengajar di Universitas Lyon dan kemudian di Sorbonne, sebelum akhirnya menduduki kursi paling prestisius di Collège de France. Ia adalah seorang dosen yang dicintai. Murid-muridnya menggambarkan suaranya yang lembut, matanya yang bersinar, dan kemampuannya untuk membuat filsafat terasa langsung dan hidup.
Ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai "eksistensialis" dengan label ketat. Tetapi ia adalah bagian integral dari lingkaran itu. Bedanya, ia adalah seorang fenomenolog yang percaya bahwa untuk memahami eksistensi manusia, kita harus kembali kepada pengalaman yang paling mendasar dan paling purba: pengalaman tubuh yang mempersepsi.
Phenomenology of Perception, Mahakarya tentang Tubuh
Pada tahun 1945, bersamaan dengan terbitnya novel-novel besar Sartre, Merleau-Ponty menerbitkan Phenomenology of Perception (Phénoménologie de la perception). Buku ini adalah jawaban atas Husserl dan Sartre sekaligus.
Apa yang ingin ia lakukan?
Ia ingin menunjukkan bahwa persepsi adalah fondasi dari semua makna. Sebelum kita berpikir, sebelum kita berteori, kita sudah terlibat dengan dunia melalui tubuh kita. Dan tubuh ini bukanlah sekadar "obyek" di antara obyek-obyek, atau "mesin" yang dikendalikan oleh kesadaran. Tubuh adalah subyek yang hidup, yang sudah "tahu" dunia bahkan sebelum kita memikirkannya.
Mari kita masuki bengkel kerja Merleau-Ponty. Alat-alatnya adalah kata-kata puitis, dan hasil kerjanya adalah pemahaman baru tentang siapa kita.
Konsep 1, Tubuh-Subyek (Le Corps Sujet), Aku Adalah Tubuhku
Ini adalah inti dari segalanya. Sejak Descartes, filsafat Barat dikuasai oleh dualisme: res cogitans (jiwa yang berpikir) vs. res extensa (tubuh yang meluas). Tubuh dianggap sebagai mesin biologis yang diperintah oleh kesadaran. Sartre sendiri, dalam Being and Nothingness, masih mempertahankan pembagian tajam antara pour-soi (kesadaran) dan en-soi (tubuh sebagai benda).
Merleau-Ponty berkata: "Tidak. Aku bukanlah kesadaran yang memiliki tubuh. Aku adalah tubuhku."
Tentu saja, ini bukan berarti aku hanya sekadar daging dan tulang (materialisme vulgar). Maksudnya adalah: tubuhku bukanlah obyek, melainkan subyek. Tubuhku adalah "aku" yang terlibat di dunia.
"Aku bukanlah di depan tubuhku, aku berada di dalam tubuhku, atau lebih tepatnya, aku adalah tubuhku."
(Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, hlm. 173)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan engkau sedang mengetik di laptop. Di manakah "dirimu"? Apakah dirimu hanya ada di dalam otak, yang mengirimkan sinyal ke jari-jari? Ataukah dirimu meluas hingga ke ujung jari yang menari di atas keyboard? Menurut Merleau-Ponty, dirimu meliputi jari-jarimu. Ketika engkau mengetik, engkau tidak "memikirkan" tombol-tombol. Jarimu "tahu" sendiri di mana letak tombol-tombol itu. Itu adalah pengetahuan tubuh (bodily knowledge).
Atau bayangkan seorang pemain piano. Apakah ia memikirkan setiap jarinya satu per satu? Tidak. Ia menjadi musiknya. Tubuhnya adalah alat musik itu sendiri. Inilah yang disebut Merleau-Ponty sebagai intensionalitas tubuh: tubuh kita selalu sudah "menggapai" dunia, memiliki "pemahaman" pra-reflektif tentang ruang, jarak, dan gerakan.
Konsep 2, Daging (La Chair), Jalinan Aku dan Dunia
Jika "tubuh-subyek" adalah konsep tentang diriku, lalu apa hubungan antara diriku dan dunia? Di sinilah Merleau-Ponty memperkenalkan konsepnya yang paling puitis dan paling dalam: Daging (La Chair).
Daging bukanlah kulit atau otot. Daging adalah elemen, seperti udara atau air, yang meliputi baik tubuhku maupun dunia. Aku dan dunia terbuat dari "bahan" yang sama: Daging.
"Tubuhku terbuat dari daging yang sama dengan dunia... Dunia adalah daging dari dagingku."
(Merleau-Ponty, The Visible and the Invisible, hlm. 248)
Analoginya begini, Sobatku. Letakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu. Rasakanlah. Tangan kananmu sedang menyentuh. Tetapi, pada saat yang sama, tangan kirimu sedang disentuh. Siapa yang menjadi subyek, dan siapa yang menjadi obyek? Engkau tidak bisa memisahkannya dengan tegas. Tangan kananmu adalah "penyentuh" dan tangan kirimu adalah "yang disentuh", tetapi keduanya bisa bertukar peran dalam sekejap.
Inilah model untuk memahami hubungan kita dengan dunia. Aku menyentuh dunia, tetapi dunia juga "menyentuhku" kembali. Aku melihat dunia, tetapi dunia juga "melihatku" kembali. Pelukis yang sedang melukis pohon merasa bahwa pohon itu juga sedang "memandangnya". Ini bukanlah mistisisme kosong. Ini adalah deskripsi tentang keterlibatan timbal balik yang mendasar antara aku dan dunia.
Kita bukanlah kesadaran terisolasi yang menatap dunia dari kejauhan (seperti yang cenderung digambarkan Sartre). Kita adalah bagian dari dunia, terjalin dengannya. Kita adalah kekusutan (entrelacs) yang tak terpisahkan.
Konsep 3, Persepsi, Fondasi dari Semua Makna
Merleau-Ponty menempatkan persepsi sebagai fondasi yang paling fundamental. Sebelum ada sains, sebelum ada logika, sebelum ada refleksi filosofis, sudah ada persepsi: pengalaman pra-reflektif kita tentang warna, suara, aroma, tekstur.
"Persepsi bukanlah ilmu pengetahuan tentang dunia, ia bahkan bukanlah sebuah tindakan, sebuah pengambilan posisi yang disengaja; ia adalah latar belakang di mana semua tindakan menonjol, dan ia diandaikan oleh mereka."
(Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, hlm. xi)
Analoginya begini, Sobatku. Engkau masuk ke sebuah ruangan. Sebelum engkau menganalisis bahwa "ini adalah meja kayu jati", engkau sudah "merasakan" suasana ruangan itu. Warnanya hangat. Aromanya khas. Cahayanya redup. Semua ini langsung "berbicara" kepada tubuhmu, bahkan sebelum engkau bisa merumuskannya dalam kata-kata.
Bagi Merleau-Ponty, seluruh dunia budaya, seni, dan ilmu pengetahuan dibangun di atas fondasi pengalaman perseptual yang diam dan purba ini. Ketika kita melupakannya, kita menjadi seperti ilmuwan yang hanya melihat angka-angka, atau filsuf yang hanya berdebat tentang konsep-konsep abstrak. Kita kehilangan kontak dengan dunia yang kita hayati (Lebenswelt-nya Husserl, yang diambil alih Merleau-Ponty dengan lebih radikal).
Konsep 4, Kebebasan dalam Situasi, Koreksi terhadap Sartre
Sartre berkata: "Kita bebas secara mutlak. Bahkan budak yang dirantai bebas untuk memilih sikapnya terhadap rantainya."
Merleau-Ponty menggelengkan kepala. "Tidak sesederhana itu, kawanku."
Baginya, kebebasan selalu terletak dalam situasi. Aku tidak bisa bebas secara mutlak karena aku adalah tubuh yang sudah terikat dalam sejarah, budaya, kelas sosial, bahasa, dan kebiasaan. Semua ini bukanlah "pilihan sadarku". Aku terlahir sebagai orang Jawa, pada abad ke-21, dalam keluarga tertentu.
Itu semua adalah fakta yang sudah ada sebelum aku bisa memilih.
Tetapi, ini juga bukan berarti aku sepenuhnya ditentukan oleh situasi (determinisme). Situasi memberiku kemungkinan-kemungkinan tertentu, dan menutup kemungkinan yang lain. Kebebasanku adalah kemampuan untuk memberi makna pada situasiku, untuk "menegosiasikan"nya.
"Kita tidak memilih untuk terlahir, tetapi kita memilih makna dari kelahiran kita."
(Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, hlm. 529)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan engkau adalah seorang pemain sepak bola. Engkau tidak memilih aturan permainan. Engkau tidak memilih ukuran lapangan. Engkau tidak memilih posisi awalmu. Tetapi di dalam batas-batas itu, engkau bisa menari. Engkau bisa menciptakan strategi. Engkau bisa menjadi Messi atau Pirlo. Itulah kebebasan dalam situasi.
Bagi Merleau-Ponty, konsep kebebasan Sartre terlalu "abstrak", seolah-olah kita adalah malaikat yang melayang di atas dunia. Padahal kita ini manusia duniawi, yang kakinya menapak di tanah, yang lengannya meraih bintang, tetapi selalu dari bumi yang sama.
Konsep 5 Yang Lain dan Intersubjektivitas
Sartre berkata, "Neraka adalah orang lain," karena pandangan orang lain membekukan kebebasanku.
Merleau-Ponty, dengan optimismenya yang tenang, melihatnya secara berbeda. Baginya, "masalah orang lain" adalah masalah yang salah sejak awal. Pertanyaan "Bagaimana aku bisa tahu bahwa orang lain memiliki kesadaran?" sudah mengandaikan bahwa aku adalah kesadaran yang terisolasi.
Padahal, dalam pengalaman konkret, aku tidak pernah terisolasi. Sejak bayi, aku sudah tersenyum kepada ibuku. Aku sudah menangis bersama orang lain. Aku melihat tubuh orang lain yang bergerak, dan aku langsung "memahami" kemarahan, kesedihan, atau kegembiraannya tanpa perlu "menyimpulkan" secara logis.
"Aku menemukan orang lain di persimpangan antara kesadaranku dan tubuhku... Aku melihat dia, dan dia melihatku. Di antara kita ada jalinan yang tak terpisahkan."
(Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, hlm. 405)
Analoginya begini, Sobatku. Dua orang yang sedang berdansa tango. Mereka tidak saling "memandang" sebagai ancaman. Mereka tidak saling "membekukan". Mereka bergerak bersama. Mereka "mendengarkan" tubuh satu sama lain melalui sentuhan dan ritme. Ada sebuah komunikasi pra-linguistik yang terjadi.
Itulah intersubjektivitas bagi Merleau-Ponty: kita selalu sudah "berada bersama" (être-avec) sebelum kita "berada sendiri". Solidaritas bukanlah proyek moral yang harus kita bangun dengan susah payah; ia adalah fakta eksistensial yang mendahului kita.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Kembalilah ke tubuhmu.
Di era digital, kita menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, seolah-olah kita adalah otak tanpa tubuh. Merleau-Ponty mengingatkan kita untuk merasakan kembali napas kita, sentuhan angin di pipi, tekstur meja di bawah jari kita. Di situlah kita benar-benar hidup.
2. Kebebasan itu realistis.
Engkau tidak perlu menjadi Superman yang bebas dari semua batasan. Engkau adalah manusia dengan situasi konkret. Tanyakan: "Di dalam situasiku yang unik ini, apa kemungkinan-kemungkinan yang bisa kupilih? Apa yang bisa kuberi makna?"
3. Kita terhubung lebih dalam dari yang kita kira.
Sebelum ada perdebatan politik dan perbedaan agama, kita sudah berbagi "daging" yang sama. Kita bernapas di udara yang sama. Kita bisa saling memahami melalui gestur, senyuman, atau lukisan, bahkan tanpa kata-kata.
4. Dunia berbicara kepada kita.
Sains bukanlah satu-satunya cara untuk memahami realitas. Sebuah lukisan Cézanne, sebuah simfoni Beethoven, atau sekadar pemandangan senja, semuanya menyingkapkan kebenaran tentang "Ada" yang tidak bisa direduksi menjadi data dan angka.
Epilog, Karya yang Tak Pernah Selesai
Merleau-Ponty meninggal sebelum menyelesaikan The Visible and the Invisible. Manuskripnya tergeletak di meja, penuh coretan dan catatan kaki yang belum lengkap. Tetapi justru dalam ketidaksempurnaannya itu, ia mewariskan pesan yang paling jujur: filsafat sejati tidak pernah selesai. Ia selalu "dalam perjalanan".
Ia dimakamkan di Pemakaman Père Lachaise, Paris, di antara para raksasa. Namun namanya tidak sepopuler Sartre. Ia tidak mencari ketenaran. Ia mencari kebijaksanaan yang sunyi, yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau berhenti, mengambil napas, dan melihat dunia seolah-olah untuk pertama kalinya.
A. Sumber Primer: Karya Merleau-Ponty
- Merleau-Ponty, Maurice. Phenomenology of Perception. Diterjemahkan oleh Donald A. Landes. London: Routledge, 2012.
- Merleau-Ponty, Maurice. The Visible and the Invisible. Diterjemahkan oleh Alphonso Lingis. Evanston: Northwestern University Press, 1968.
- Merleau-Ponty, Maurice. The World of Perception. Diterjemahkan oleh Oliver Davis. London: Routledge, 2004. , Kumpulan ceramah radio yang ringkas dan populer.
B. Sumber Sekunder
- Langer, Monika M. Merleau-Ponty's Phenomenology of Perception: A Guide and Commentary. Tallahassee: Florida State University Press, 1989. , Panduan sangat jelas.
- Carman, Taylor. Merleau-Ponty. London: Routledge, 2008. , Pengantar komprehensif.
- Dillon, M.C. Merleau-Ponty's Ontology. Evanston: Northwestern University Press, 1988. , Studi mendalam tentang ontologi "Daging".
Simone de Beauvoir (1908–1986)
Kita kini tiba di hadapan seorang pemikir yang seringkali hanya disebut sebagai "pasangan Sartre", sebuah reduksi yang ironis, mengingat ia sendiri adalah filsuf yang menulis ribuan halaman untuk melawan segala bentuk reduksi terhadap manusia, khususnya terhadap perempuan. Engkau memintaku untuk membedah pemikiran Simone de Beauvoir, dan permintaan ini adalah sebuah keharusan sejarah.
Jika Sartre adalah arsitek yang merancang cetak biru "eksistensi mendahului esensi", maka Beauvoir adalah insinyur yang menerapkan cetak biru itu ke dalam realitas konkret yang paling intim dan paling politis: tubuh, gender, cinta, dan penuaan. Ia menjadikan eksistensialisme sebagai pisau bedah untuk membongkar struktur paling purba dalam peradaban manusia: penindasan terhadap perempuan.
Ambillah posisi yang nyaman. Kita akan memasuki labirin kesadaran seorang perempuan yang berani mendobrak mitos.
Ambillah posisi yang nyaman. Kita akan memasuki labirin kesadaran seorang perempuan yang berani mendobrak mitos.
Prolog, Dia yang Melampaui Bayang-Bayang Sartre
Ada sebuah ironi yang sangat pahit. Selama puluhan tahun, Simone de Beauvoir diperkenalkan oleh media dan sejarah populer sebagai "kekasih Sartre", "murid Sartre", atau paling banter, "inspirator di balik layar". Faktanya, ketika Sartre membaca manuskrip pertama Being and Nothingness, salah satu pembaca kritis pertamanya adalah Beauvoir, dan ia mencoret banyak bagian dengan catatan kaki yang tajam. Mereka setara. Bahkan, dalam analisis konkret tentang tubuh, situasi, dan penindasan, Beauvoir jelas melampaui Sartre.
Ia menolak Hadiah Nobel (meskipun tidak ditawari), tetapi ia menolak definisi. Ia menjalani hidup sebagai eksperimen eksistensial: menjalin cinta transparan dengan Sartre, tetapi juga memiliki kekasih pria dan wanita lain (termasuk murid-muridnya). Ia tidak pernah menikah, tidak pernah memiliki anak, dan di usia 40-an, ia menulis mahakaryanya, The Second Sex (1949), yang menjadi kitab suci feminisme gelombang kedua. Buku itu begitu kontroversial hingga Vatikan memasukkannya ke dalam Index Librorum Prohibitorum (daftar buku terlarang). Albert Camus menuduhnya telah "menjadikan pria Prancis sebagai bahan tertawaan".
Tetapi Beauvoir terus menulis, terus berjuang, dan terus merayakan hidup. Ketika ia meninggal pada tahun 1986, obituari di Le Monde menyatakan: "Wanita telah mati. Feminisme telah lahir."
Gambaran Ideosinkretik
Ada seorang anak gadis yang "kehilangan iman." Ya, namanya Simone Lucie Ernestine Marie Bertrand de Beauvoir lahir pada 9 Januari 1908 di Paris, dalam sebuah keluarga borjuis Katolik yang taat. Ayahnya, Georges, adalah seorang pengacara yang mencintai teater dan sastra. Ibunya, Françoise, adalah seorang Katolik yang sangat saleh.
Beauvoir kecil adalah gadis yang sangat cerdas dan sangat religius. Ia ingin menjadi seorang biarawati. Namun, pada usia 14 tahun, terjadi sebuah "malapetaka eksistensial": ia membaca sains dan filsafat, dan ia kehilangan imannya. Dunia yang tadinya tertib, di mana setiap makhluk memiliki tempat yang ditentukan oleh Sang Pencipta, tiba-tiba runtuh.
"Aku telah percaya pada Tuhan, tetapi aku tidak bisa lagi percaya... Aku sendirian di dunia yang sunyi ini. Aku terlempar ke dalam ketiadaan yang tak terbatas."
(Beauvoir, Memoirs of a Dutiful Daughter, hlm. 137-138)
Ini adalah momen eksistensialnya yang paling fundamental. Ia sadar bahwa tidak ada esensi yang ditentukan dari atas. Tidak ada "kodrat wanita" yang ditakdirkan. Tidak ada "tujuan" yang sudah tertulis. Yang ada hanyalah dunia yang absurd dan kebebasan yang mengerikan.
"Sartre dan Aku"
Di Sorbonne, ia belajar filsafat dengan ganas. Ia adalah salah satu wanita termuda yang pernah lulus agrégation (ujian negara untuk menjadi profesor filsafat). Di sana, ia bertemu dengan Jean-Paul Sartre.
Sartre tidak tampan, bermata juling, tetapi otaknya seperti badai. Mereka segera terikat. Ketika Sartre melamarnya, Beauvoir menolak. Sebagai gantinya, mereka menciptakan pakta: mereka akan menjadi "cinta esensial" satu sama lain, tetapi terbuka untuk "cinta kontingen" (hubungan dengan orang lain). Mereka akan saling menceritakan segalanya, saling membaca tulisan masing-masing, dan tidak akan pernah menikah.
Pakta ini bertahan selama 51 tahun, hingga kematian Sartre pada tahun 1980. Beauvoir menyebut Sartre sebagai "kekasih hati dan pikiranku". Tetapi jangan pernah berpikir bahwa Beauvoir adalah "satelit" Sartre. Sartre sendiri mengakui bahwa Being and Nothingness ditulis di bawah pengaruh dan kritik tajam Beauvoir.
Aktivis, Novelis, dan "Ibu" Feminisme
Setelah Perang Dunia II, Beauvoir tidak hanya menulis The Second Sex. Ia menulis novel-novel eksistensialis (She Came to Stay, The Blood of Others, The Mandarins), esai-esai politik, dan memoar yang luar biasa jujur. Ia aktif dalam gerakan kiri, mendukung kemerdekaan Aljazair, dan pada usia tua, menjadi ikon gerakan feminis global.
Di usia 60-an, ia menulis The Coming of Age, sebuah studi eksistensial tentang penuaan, bagaimana masyarakat memperlakukan orang tua sebagai "yang lain" yang harus disingkirkan.
The Second Sex
Pada tahun 1949, Beauvoir menerbitkan The Second Sex (Le Deuxième Sexe). Buku setebal hampir 1000 halaman ini adalah aplikasi konkret dari eksistensialisme pada kondisi perempuan.
Apa yang ia tanyakan?
"Apakah itu seorang perempuan?"
Pertanyaan ini tampak sederhana. "Perempuan adalah makhluk dengan rahim dan ovarium." Tetapi Beauvoir menunjukkan bahwa definisi biologis ini tidak cukup. Jika perempuan hanyalah betina dari spesies manusia, mengapa ada hierarki? Mengapa laki-laki selalu menjadi "subyek" dan perempuan menjadi "yang lain"?
Konsep-Konsep Kunci
Mari kita masuki inti dari analisis Beauvoir yang tajam dan seringkali menyakitkan.
Konsep 1 Perempuan sebagai Subyek yang Direduksi
Ini adalah fondasi dari seluruh analisis Beauvoir.
Ia mengambil konsep Hegel dan Sartre tentang "Yang Lain". Dalam dialektika Hegel, setiap kesadaran membutuhkan kesadaran lain untuk saling mengakui. Dalam analisis Sartre, relasi dengan Yang Lain selalu merupakan konflik: aku mencoba membekukanmu menjadi obyek, engkau mencoba melakukan hal yang sama padaku.
Beauvoir bertanya: Bagaimana relasi antara laki-laki dan perempuan dalam sejarah?
Jawabannya brutal. Berbeda dengan konflik antar kelas (buruh vs. majikan) atau konflik antar bangsa (penjajah vs. terjajah), relasi laki-laki dan perempuan memiliki karakteristik yang unik. Perempuan tidak pernah menjadi "minoritas" secara numerik. Mereka ada di mana-mana, setengah dari umat manusia. Mereka tidak memiliki sejarah, wilayah, atau budaya yang terpisah. Mereka selalu hidup di antara laki-laki.
Dan yang paling penting: perempuan selalu didefinisikan dalam relasi dengan laki-laki. Laki-laki adalah "Subyek", "Yang Absolut", "Yang Esensial". Perempuan adalah "Yang Lain", "Yang Relatif", "Yang Insidental".
"Laki-laki mendefinisikan perempuan bukan dalam dirinya sendiri, melainkan dalam relasi dengan dirinya; ia tidak dianggap sebagai makhluk yang otonom."(Beauvoir, The Second Sex, Introduction)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan sebuah lukisan. Di tengah kanvas, ada seorang pria yang gagah perkasa. Di sampingnya, ada seorang wanita. Bagaimana kita mendeskripsikan wanita itu? "Istri dari pria itu." "Kekasih dari pria itu." "Inspirasi dari pria itu." Ia tidak pernah menjadi subyek dari ceritanya sendiri. Ia adalah tambahan dalam cerita sang pria.
Bahkan dalam bahasa: "man" (Inggris) dan "homme" (Prancis) berarti "manusia" sekaligus "laki-laki". Perempuan adalah "wo-man" (manusia-wanita), varian dari laki-laki. Perempuan adalah "the second sex", jenis kelamin kedua, yang ada setelah yang pertama.
Konsep 2 "Dilahirkan Bukan Sebagai Perempuan, Melainkan Menjadi Perempuan
Ini adalah kalimat paling terkenal dari Beauvoir, dan salah satu kalimat paling penting dalam sejarah feminisme:
"On ne naît pas femme: on le devient."
"Seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan."
(Beauvoir, The Second Sex, Bagian IV, Bab 1: "Childhood")
Ini adalah aplikasi langsung dari "Eksistensi mendahului esensi"-nya Sartre. Tidak ada "kodrat feminin" yang biologis atau metafisik. Tidak ada "esensi keibuan" yang abadi. Engkau tidak terlahir dengan "sifat lemah lembut", "sifat merawat", atau "sifat pasif". Semua itu adalah konstruksi, mitos, yang dipaksakan oleh masyarakat padamu.
Bagaimana masyarakat "menjadikan" seorang anak biologis menjadi "perempuan"?
Beauvoir memberikan analisis psikologis yang sangat tajam:
- Sejak kecil, anak perempuan diberi boneka, bukan mobil-mobilan. Mereka diajari untuk merawat, bukan membangun.
- Mereka diberi rok yang membatasi gerakan. "Berlari itu tidak sopan." "Memanjat pohon itu tidak feminin."
- Mereka diajari bahwa kecantikan adalah nilai tertinggi mereka. "Kamu cantik sekali!" adalah pujian pertama yang diterima setiap anak perempuan.
- Pada masa pubertas, menstruasi dan payudara yang tumbuh menjadi sumber rasa malu. Tubuh mereka tiba-tiba menjadi "obyek" bagi tatapan laki-laki.
"Tidak ada yang lebih 'alami' daripada menjadi ibu. Namun, menjadi seorang ibu adalah sebuah situasi yang dipaksakan oleh masyarakat dengan makna-makna tertentu."
(Beauvoir, The Second Sex, Bagian IV, Bab 6: "The Mother")
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkanlah dua biji pohon ek yang identik. Yang satu ditanam di hutan liar, di mana ia harus berjuang melawan angin dan badai. Yang lain ditanam di dalam pot kecil di teras rumah, dan dipangkas setiap kali dahannya menjulur terlalu jauh.
Lima puluh tahun kemudian, pohon pertama menjulang tinggi, kokoh, dan liar. Pohon kedua pendek, rapi, dan terbatas. Apakah "esensi" mereka berbeda? Tidak. Situasi dan perlakuan merekalah yang berbeda.
Itulah perempuan dan laki-laki. Biologi memberi perbedaan anatomi, tetapi masyarakatlah yang membangun "feminitas" dan "maskulinitas" di atas perbedaan anatomi itu, dan kemudian menyebut hasil konstruksi itu sebagai "kodrat".
Konsep 3 Koreksi Feminis terhadap Sartre
Sartre sering dikritik (termasuk oleh Merleau-Ponty) karena terlalu menekankan kebebasan mutlak. Seolah-olah, bahkan budak yang dirantai pun bebas memilih sikapnya.
Beauvoir, dengan lebih tajam, menunjukkan bahwa situasi bisa begitu menindas hingga kebebasan menjadi hampir mustahil. Ini adalah sumbangan terbesarnya pada eksistensialisme.
Perempuan, kata Beauvoir, hidup dalam situasi yang unik. Mereka tidak seperti proletar yang bisa bersatu dalam pabrik. Mereka terpencar-pencar, hidup di rumah-rumah laki-laki. Mereka tidak memiliki sejarah kolektif. Mereka dididik sejak kecil untuk menerima ketergantungan sebagai "kebahagiaan". Mereka diajari bahwa pemberontakan adalah "tidak feminin".
Dalam situasi seperti itu, "memilih" untuk bebas bukanlah perkara mudah. Banyak perempuan memilih untuk hidup dalam itikad buruk (mauvaise foi): meyakini bahwa mereka memang dilahirkan untuk tunduk, bahwa mereka menikmati peran sebagai "nyonya rumah", bahwa mereka tidak menginginkan kebebasan.
"Paling sering, perempuan memilih untuk tinggal dalam ketidakotentikan karena itu adalah jalan yang paling mudah. Masyarakat telah menyiapkan segalanya untuk membuatnya pasif."
(Beauvoir, The Second Sex, Bagian III, Bab 1)
Tetapi Beauvoir tidak pesimis. Ada jalan menuju pembebasan: pekerjaan intelektual, kemandirian ekonomi, solidaritas antar perempuan, dan penolakan terhadap mitos "feminitas abadi".
Konsep 4 Erotisme, Cinta, dan Perkawinan
Beauvoir membongkar mitos-mitos cinta dan perkawinan dengan kejam. Cinta otentik, baginya, adalah hubungan antara dua kebebasan yang saling mengakui. Aku mencintaimu bukan karena aku ingin memilikimu, melainkan karena aku ingin mendukungmu untuk menjadi dirimu sendiri.
Tetapi cinta antara laki-laki dan perempuan seringkali adalah jebakan. Perempuan diajari untuk mencari "penyelamat" dalam diri seorang pria. Ia menyerahkan kebebasannya dan berharap pria itu akan memberinya makna. Sementara pria, di sisi lain, menikmati posisi "dewa" bagi wanitanya.
"Cinta otentik harus didasarkan pada pengakuan timbal balik atas dua kebebasan. Masing-masing kekasih akan merasa sebagai diri sendiri dan sebagai yang lain."
(Beauvoir, The Second Sex, Bagian IV, Bab 12: "The Woman in Love")
Perkawinan, dalam analisisnya, adalah institusi yang dirancang untuk menindas perempuan. Ia membandingkan istri dengan Sisyphus-nya Camus: setiap hari mencuci piring, menyapu lantai, merawat anak, dan keesokan harinya semua kotor lagi. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai, tidak dihargai, dan tidak dibayar.
"Perkawinan adalah takdir yang secara tradisional ditawarkan oleh masyarakat kepada perempuan. Nasib yang paling menyedihkan adalah menjadi lajang, dan menjadi istri adalah puncak kebahagiaan. Tetapi lihatlah lebih dekat: di dalam perkawinan, perempuan menjadi parasit."
(Beauvoir, The Second Sex, Bagian IV, Bab 5: "The Married Woman")
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkan dua ekor elang yang terbang bersama. Mereka terbang bebas di angkasa, kadang bersinggungan sayap, kadang berjauhan, tetapi selalu saling memandang dengan hormat. Itulah cinta otentik.
Sekarang, bayangkan seekor elang dan seekor ikan. Elang mencintai ikan. Elang berkata, "Aku akan membawamu terbang bersamaku." Ia mencengkeram ikan dengan cakarnya, membawanya tinggi-tinggi. Ikan itu kehabisan napas, menggelepar, dan mati. Itulah cinta dalam perkawinan patriarkal.
Konsep 5 Penuaan dan "Yang Lain"
Di usia tua, Beauvoir menulis studi eksistensial lain yang sangat mengharukan: The Coming of Age (1970). Ia menunjukkan bagaimana dalam masyarakat kapitalis modern, orang tua diperlakukan sebagai "Yang Lain". Mereka disingkirkan dari pandangan, dimasukkan ke panti jompo, dan tidak lagi dianggap sebagai subyek yang produktif.
"Masyarakat memperlakukan orang tua sebagai spesies asing. Kita menolak untuk mengakui diri kita di dalam diri mereka."
(Beauvoir, The Coming of Age, hlm. 4)
Ini adalah analisis eksistensial yang murni: bagaimana masyarakat menolak kematian dengan menyingkirkan mereka yang mengingatkan kita pada kefanaan.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
- Jangan percaya pada mitos "kodrat". Setiap kali engkau mendengar kalimat "Perempuan secara alami lebih..." atau "Laki-laki pada dasarnya...", ingatlah Beauvoir. Sebagian besar dari apa yang kita kira "kodrat" adalah konstruksi sosial yang sudah sangat lama sehingga terasa alami.
- Kebebasan membutuhkan situasi yang mendukung. Tidak cukup hanya berkata, "Kamu bebas, pergilah berkarya." Seorang perempuan yang tidak memiliki akses ke pendidikan, uang, atau dukungan sosial, tidak benar-benar "bebas" untuk menulis novel. Maka, perjuangan eksistensial juga adalah perjuangan politik.
- Cinta sejati adalah antara dua subyek. Jangan jadikan pasanganmu sebagai "obyek" yang harus memenuhi kebutuhanmu. Jangan pula menyerahkan seluruh makna hidupmu pada pasanganmu. Bangunlah "kemitraan eksistensial" di mana dua kebebasan saling mendukung.
- Tubuhmu adalah situs pertempuran. Bagaimana engkau memperlakukan tubuhmu, bagaimana engkau membiarkan orang lain mendefinisikan tubuhmu, adalah pertanyaan eksistensial yang mendalam. Apakah engkau menerima definisi masyarakat tentang "cantik"? Ataukah engkau menciptakan definisimu sendiri?
Epilog, Kematian yang Lembut
Simone de Beauvoir meninggal pada 14 April 1986, di Paris, pada usia 78 tahun. Ia dimakamkan di samping Sartre di Pemakaman Montparnasse. Di batu nisannya, tertulis nama mereka berdua, tanpa gelar, tanpa ornamen. Sederhana, tetapi abadi.
Ia pernah menulis: "Hidup ini tidak memiliki makna a priori. Terserah kita untuk memberinya makna, dan nilai adalah makna yang kita pilih."
(The Ethics of Ambiguity, hlm. 17).
Beauvoir memilih untuk memberi makna pada hidupnya dengan berjuang, menulis, mencintai, dan membebaskan. Ia adalah bukti bahwa eksistensialisme bukanlah filsafat pesimis. Ia adalah filsafat tanggung jawab yang membebaskan.
A. Sumber Primer: Karya Beauvoir
- Beauvoir, Simone de. The Second Sex. Diterjemahkan oleh H.M. Parshley. New York: Vintage Books, 1989.
- Beauvoir, Simone de. The Ethics of Ambiguity. Diterjemahkan oleh Bernard Frechtman. New York: Citadel Press, 1948.
- Beauvoir, Simone de. Memoirs of a Dutiful Daughter. Diterjemahkan oleh James Kirkup. New York: Harper & Row, 1959.
- Beauvoir, Simone de. The Coming of Age. Diterjemahkan oleh Patrick O'Brian. New York: Norton, 1970.
B. Sumber Sekunder
- Bair, Deirdre. Simone de Beauvoir: A Biography. New York: Summit Books, 1990. , Biografi definitif dan sangat komprehensif.
- Moi, Toril. Simone de Beauvoir: The Making of an Intellectual Woman. Oxford: Oxford University Press, 1994. , Analisis tajam tentang posisi Beauvoir dalam dunia intelektual.
- Kruks, Sonia. Situation and Human Existence: Freedom, Subjectivity and Society. London: Unwin Hyman, 1990. , Studi mendalam tentang konsep "situasi" dalam eksistensialisme Beauvoir.
- Bergoffen, Debra B. The Philosophy of Simone de Beauvoir: Gendered Phenomenologies, Erotic Generosities. Albany: SUNY Press, 1997. , Analisis tentang etika erotis Beauvoir.
Albert Camus (1913–1960)
Kita akhirnya tiba di hadapan sang "santo pelindung" bagi para pencari makna di tengah kekacauan. Setelah menyelami kebebasan radikal Sartre dan tubuh yang terjalin dengan dunia ala Merleau-Ponty, kini engkau meminta untuk berhadapan dengan seorang pria yang gagah, yang menolak label "filsuf", menolak label "eksistensialis", tetapi justru wajahnya menjadi ikon dari seluruh gerakan ini.
Namanya adalah Albert Camus.
Jika Pascal gemetar dalam keheningan, Kierkegaard melompat dalam iman, dan Sartre berteriak tentang kebebasan, maka Camus datang dengan jaket trench coat-nya, menyalakan sebatang rokok, dan dengan tenang berkata, "Hidup ini absurd. Tidak ada harapan. Mari kita bekerja, mencintai, dan memberontak." Camus adalah sang pemberontak yang merayakan absurditas.
Prolog, Manusia yang Menolak Berlutut
Albert Camus adalah sebuah paradoks. Ia adalah seorang "eksistensialis" yang menolak mentah-mentah label itu. Ia adalah seorang ateis yang menulis dengan puitis tentang "santo-santo tanpa Tuhan". Ia adalah seorang pria tampan, perokok berat, penggemar sepak bola, dan penerima Nobel Sastra yang merasa asing di pesta-pesta intelektual Paris.
Pada tahun 1957, ketika usianya baru 44 tahun, ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra. Dalam pidato penerimaannya, ia berbicara tentang keheningan ibunya, seorang wanita buta huruf yang bekerja sebagai pembersih rumah, dan tentang tugas penulis untuk berpihak pada mereka yang tertindas.
Tiga tahun kemudian, pada 4 Januari 1960, sebuah mobil Facel Vega melaju kencang di jalan antara Sens dan Paris. Di dalamnya, Camus duduk di samping sopir. Sebuah ban meledak. Mobil itu menghantam pohon. Camus tewas seketika. Di dalam tasnya, polisi menemukan tiket kereta api yang tidak terpakai dan manuskrip novel yang belum selesai, The First Man.
Ia meninggal seperti Sisifus yang ia bela: dalam perjalanan, dengan batu di tangan, tetapi dengan hati yang memberontak.
Gambaran Ideosinkretik
Ia adalah anak kemiskinan dan matahari. Albert Camus lahir pada 7 November 1913 di Mondovi, Aljazair, sebuah tanah jajahan Prancis di Afrika Utara. Ayahnya, seorang pekerja kebun anggur, tewas dalam Perang Dunia I ketika Camus baru berusia 8 bulan. Ibunya, Catherine, seorang wanita keturunan Spanyol yang tuli dan buta huruf, bekerja sebagai pembersih rumah.
Camus tumbuh dalam kemiskinan yang akut. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil tanpa listrik, tanpa air mengalir. Tetapi di luar apartemen itu, ada laut, matahari, dan langit Aljazair yang membara. Inilah dualitas yang akan menghantui seluruh karyanya: antara kemiskinan dan keindahan, antara absurditas dan kegairahan.
"Aku tumbuh di bawah terik matahari dan dalam kemiskinan, dan aku tidak pernah melupakan keduanya. Kemiskinan mengajarkanku bahwa tidak semuanya indah di bawah matahari; tetapi matahari mengajarkanku bahwa sejarah bukanlah segalanya."
(Camus, Lyrical and Critical Essays, hlm. 6)
TBC, Sepak Bola, dan Kematian
Pada usia 17 tahun, Camus didiagnosis menderita TBC (tuberkulosis). Di era sebelum antibiotik, TBC adalah hukuman mati yang lambat. Ia harus berhenti bermain sepak bola, satu-satunya gairah masa mudanya. Ia harus berhenti sekolah. Ia harus hidup dengan kesadaran bahwa setiap batuk bisa menjadi awal dari akhir.
Pengalaman ini adalah fondasi dari seluruh filsafatnya. Kematian bukanlah konsep abstrak baginya. Kematian adalah sahabat yang selalu duduk di sudut ruangan, menunggu. Dan di hadapan sahabat yang mengerikan ini, Camus memilih untuk mencintai hidup dengan lebih liar.
Perseteruan dengan Sartre
Selama Perang Dunia II, Camus bergabung dengan Résistance Prancis melawan pendudukan Nazi. Ia menjadi editor surat kabar bawah tanah Combat, menulis editorial-editorial yang berapi-api tentang keadilan dan kebebasan. Risikonya nyata; setiap saat Gestapo bisa menangkap dan mengeksekusinya.
Setelah perang, ia menjadi selebritas intelektual. Ia bersahabat dengan Sartre. Tetapi persahabatan itu retak pada tahun 1952, ketika Camus menerbitkan The Rebel, sebuah esai yang mengkritik revolusi totaliter, termasuk komunisme Soviet. Sartre, yang saat itu dekat dengan Partai Komunis, mengecamnya. Mereka berdebat sengit di halaman-halaman majalah. Persahabatan itu hancur selamanya.
Konsep-Konsep Kunci
Camus tidak menulis risalah filosofis yang sistematis. Ia menulis novel, drama, dan esai liris. Tetapi di balik semua itu, ada serangkaian konsep yang sangat koheren dan sangat kuat. Mari kita telusuri.
Konsep 1 Absurd
Ini adalah fondasi dari segalanya.
Apa itu Absurd?
Absurd bukanlah "kekacauan" atau "hal yang lucu". Absurd adalah ketegangan yang lahir dari pertemuan antara dua hal: (1) kebutuhan manusia akan makna, keteraturan, dan keadilan, dan (2) keheningan total dari alam semesta.
"Yang absurd lahir dari konfrontasi antara panggilan manusia dan keheningan dunia yang tidak masuk akal."
(Camus, The Myth of Sisyphus, hlm. 28)
Analoginya begini, Sobatku. Bayangkanlah engkau sedang menonton sebuah film yang sangat rumit. Engkau yakin bahwa pada akhirnya, semua teka-teki akan terjawab. Plot twist akan terungkap. Semua akan masuk akal. Tetapi film itu terus berjalan, dan semakin lama, semakin kacau, hingga tiba-tiba, layar menjadi hitam. Film selesai. Tidak ada jawaban. Tidak ada sutradara yang muncul untuk menjelaskan. Hanya keheningan.
Engkau berdiri, marah. "Apa artinya semua ini?!" jeritmu. Tetapi bioskop sudah kosong.
Itulah absurd: jeritan kita akan makna, dan kebisuan alam semesta yang tak tergoyahkan.
Camus memulai The Myth of Sisyphus dengan kalimat yang mengguncang:
"Hanya ada satu masalah filosofis yang benar-benar serius, yaitu bunuh diri. Memutuskan apakah hidup ini layak atau tidak untuk dijalani adalah menjawab pertanyaan fundamental filsafat."
(Camus, The Myth of Sisyphus, hlm. 3)
Jika hidup ini absurd dan tidak bermakna, mengapa kita tidak bunuh diri saja? Inilah pertanyaan yang akan dijawab oleh Camus.
Konsep 2 Bunuh Diri dan Pelarian
Menghadapi absurditas, Camus melihat tiga kemungkinan respons. Dua di antaranya adalah pelarian:
1. Bunuh diri fisik.
Ini adalah "solusi" yang paling langsung. Jika hidup tidak bermakna, akhiri saja. Tetapi bagi Camus, ini adalah kesalahan. Bunuh diri bukanlah jawaban terhadap absurditas; ia adalah penghancuran dari salah satu pihak yang menciptakan absurditas (yaitu, manusia). Jika aku bunuh diri, absurditas memang lenyap. Tetapi itu seperti mematikan lampu karena tidak tahan melihat kegelapan. Masalahnya tidak selesai; ia dihancurkan.
2. Lompatan Iman (Philosophical Suicide).
Ini adalah respons Kierkegaard. Menghadapi absurditas, Kierkegaard melakukan "lompatan iman" ke dalam pelukan Tuhan. Ia menyangkal akal dan menerima paradoks. Bagi Camus, ini adalah bunuh diri filosofis. Aku membunuh akalku sendiri. Aku menyerah pada ilusi. Aku menciptakan "harapan" di dunia lain (surga, pencerahan, utopia) untuk melarikan diri dari dunia ini.
Camus menolak keduanya. Ia berkata: "Aku ingin tetap hidup di dalam ketegangan ini. Aku ingin tahu apakah mungkin untuk hidup tanpa harapan."
"Hidup ini akan dijalani dengan lebih baik jika ia tidak memiliki makna."
(Camus, The Myth of Sisyphus, hlm. 54)
Ini bukan berarti hidup ini tidak berharga. Sebaliknya! Justru karena tidak ada "makna besar" yang ditentukan dari atas, maka setiap momen menjadi sangat berharga.
Konsep 3 Sisifus yang Berbahagia
Lalu, bagaimana kita hidup dalam absurditas? Bagaimana kita menolak bunuh diri dan ilusi? Jawaban Camus: Pemberontakan (La Révolte).
Dan simbol dari pemberontakan ini adalah Sisifus (Sisyphus), tokoh dari mitologi Yunani.
Siapa Sisifus?
Sisifus adalah seorang raja yang dihukum oleh para dewa. Hukumannya: ia harus mendorong sebuah batu raksasa ke puncak gunung. Setiap kali ia hampir mencapai puncak, batu itu akan menggelinding kembali ke bawah. Ia harus turun lagi, mendorongnya lagi, dan begitu seterusnya... selama-lamanya.
Ini adalah metafora yang sempurna untuk kondisi manusia modern:
- Pekerja pabrik yang setiap hari memasang baut yang sama, di jalur yang sama.
- Pekerja kantoran yang mengisi spreadsheet, yang besoknya akan dikosongkan lagi.
- Ibu rumah tangga yang mencuci piring, yang akan kotor lagi dalam beberapa jam.
- Semua kita, yang menjalani rutinitas, menuju kematian yang pasti.
Bukankah ini mengerikan? Bukankah Sisifus adalah tokoh paling tragis?
Tidak. Camus justru berkata: "Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia."
"Satu perjuangan menuju puncak sudah cukup untuk memenuhi hati seorang manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia."
(Camus, The Myth of Sisyphus, hlm. 123)
Mengapa ia berbahagia?
1. Karena ia sadar.
1. Karena ia sadar.
Sisifus tahu bahwa batu itu akan menggelinding lagi. Ia tidak hidup dalam ilusi. Ia menghadapi absurditas dengan mata terbuka. Dan di dalam kesadaran itulah letak kemenangannya. Para dewa berpikir bahwa tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada kerja sia-sia tanpa harapan. Tetapi Sisifus membuktikan bahwa kesadaran akan absurditas lebih kuat daripada absurditas itu sendiri.
2. Karena batu itu adalah miliknya.
Pada saat ia berjalan menuruni gunung untuk mengambil batu itu lagi, Sisifus merenungkan nasibnya. Dan di momen itulah, ia menyadari bahwa batu itu adalah pilihannya. Ia tidak bisa memilih untuk berhenti (para dewa memaksanya), tetapi ia bisa memilih sikapnya terhadap batu itu. Ia memilih untuk mencintai perjuangan itu sendiri.
Analoginya begini. Bayangkan dua orang petani yang memiliki ladang yang sama. Yang satu mengeluh setiap hari: "Mengapa aku harus mencangkul? Mengapa hidup ini begitu keras? Oh, andai aku bisa hidup di kota!" Ia menderita.
Yang kedua berkata: "Ladang ini adalah milikku. Panasnya matahari adalah kehangatan. Keringatku adalah pupuk. Aku tidak tahu apakah panen akan datang, tetapi mencangkul itu sendiri adalah tarian." Ia bahagia.
Pekerjaannya sama. Situasinya sama. Tetapi sikapnya berbeda. Itulah pemberontakan Camus: menerima absurditas, menolak harapan akan dunia lain, dan mencintai dunia ini sepenuhnya.
Konsep 4 Manusia Absurd dalam Novel The Stranger
Untuk menghidupkan konsep absurd, Camus menulis novel pendek yang sangat terkenal: The Stranger (L'Étranger, 1942).
Tokoh utamanya adalah Meursault, seorang pria Prancis yang tinggal di Aljazair. Novel ini dimulai dengan kalimat yang sangat terkenal:
"Aujourd'hui, maman est morte. Ou peut-être hier, je ne sais pas."
"Hari ini, Ibu meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu."
(Camus, The Stranger, hlm. 3)
Meursault tidak menangis di pemakaman ibunya. Ia tidak tahu persis kapan ibunya meninggal. Setelah pemakaman, ia pergi ke pantai, berenang, menonton film komedi, dan berhubungan intim dengan seorang wanita.
Beberapa waktu kemudian, tanpa alasan yang jelas, "karena matahari", ia menembak seorang pria Arab di pantai. Ia menembaknya lima kali. Di persidangan, jaksa lebih tertarik pada fakta bahwa Meursault tidak menangis di pemakaman ibunya daripada pada pembunuhan itu sendiri. Meursault dijatuhi hukuman mati.
Siapa Meursault?
Meursault adalah manusia absurd. Ia hidup sepenuhnya di dalam momen saat ini. Ia tidak percaya pada Tuhan. Ia tidak mencari makna. Ia tidak menyesali masa lalunya. Ia tidak berharap pada masa depan. Ia hanya ada, mentah, jujur, dan telanjang.
Apakah ia monster? Tidak. Ia hanya menolak untuk berpura-pura. Ia menolak untuk mengatakan bahwa ia menyesal, padahal ia tidak menyesal. Ia menolak untuk menangis, padahal ia tidak merasa sedih. Ia menolak untuk percaya pada Tuhan, hanya untuk mendapatkan penghiburan di sel tahanan.
Di akhir novel, menjelang eksekusinya, ia meledak dalam sebuah monolog yang penuh gairah:
"Seolah-olah kemarahan besar ini telah membersihkanku dari kejahatan, mengosongkanku dari harapan, di hadapan malam yang penuh dengan tanda-tanda dan bintang-bintang ini aku membuka diriku untuk pertama kalinya pada ketidakpedulian dunia yang lembut. Merasa begitu mirip denganku, begitu bersaudara, aku merasa bahwa aku telah bahagia, dan aku masih bahagia."
(Camus, The Stranger, hlm. 122-123)
Meursault adalah Sisifus yang dihukum mati. Ia tidak berharap. Ia tidak beriman. Tetapi di akhir hayatnya, ia justru merasa bahagia dan menyatu dengan alam semesta yang absurd.
Konsep 5 Pemberontakan dalam The Plague
Jika The Stranger adalah tentang absurditas individu, maka The Plague (La Peste, 1947) adalah tentang solidaritas di tengah absurditas kolektif.
Novel ini berkisah tentang wabah pes yang melanda kota Oran di Aljazair. Kota itu dikarantina. Ribuan orang mati. Setiap karakter merespons wabah dengan cara yang berbeda:
- Pastor Paneloux melihat wabah sebagai hukuman Tuhan dan menyerukan pertobatan.
- Cottard memanfaatkan kekacauan untuk keuntungan pribadi.
- Tarrou ingin menjadi "santo tanpa Tuhan" dan berjuang melawan wabah karena solidaritas manusia.
- Dr. Rieux, sang protagonis, adalah seorang dokter yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam, untuk menyelamatkan nyawa.
Mengapa Dr. Rieux melakukan ini? Ia tahu bahwa ia tidak bisa mengalahkan wabah. Ia tahu bahwa pada akhirnya, kematian akan menang. Tetapi ia tetap bekerja.
"Aku tidak tahu apa yang menungguku, atau apa yang akan terjadi setelah semua ini. Untuk saat ini, yang kuketahui adalah bahwa ada orang sakit dan mereka perlu disembuhkan."
(Camus, The Plague, hlm. 120)
Inilah pemberontakan: berjuang melawan penderitaan, meskipun kita tahu kemenangan akhir tidak mungkin. Ini bukanlah pemberontakan dengan senjata. Ini adalah pemberontakan dengan tindakan sehari-hari: menyembuhkan, merawat, menulis, mengajar, mencintai.
Wabah dalam novel ini adalah metafora untuk Absurditas itu sendiri, dan juga untuk Nazisme (Camus menulisnya selama pendudukan Jerman). Pemberontakan adalah Résistance: melawan tanpa jaminan kemenangan.
Konsep 6 The Rebel dan Batas-Batas Pemberontakan
Pada tahun 1951, Camus menerbitkan esai panjang berjudul The Rebel (L'Homme révolté). Buku inilah yang membuatnya berseteru dengan Sartre dan kaum kiri Prancis.
Apa argumennya?
Pemberontakan melawan ketidakadilan adalah sah dan mulia. Tetapi pemberontakan harus memiliki batas. Revolusi yang membunuh manusia atas nama "kemanusiaan masa depan" adalah pengkhianatan terhadap pemberontakan itu sendiri.
"Pemberontakan tidak bisa dibenarkan jika ia membunuh. Pemberontakan yang sejati justru lahir dari solidaritas: 'Aku memberontak, maka kita ada.'"
(Camus, The Rebel, hlm. 22)
Ia mengkritik Revolusi Prancis (yang memenggal kepala atas nama Kebebasan) dan komunisme Soviet (yang menciptakan kamp-kamp kerja paksa atas nama Keadilan). Setiap kali sebuah ideologi menjadi absolut, ia berubah menjadi teror. Inilah yang membedakan pemberontak dari revolusioner. Pemberontak berkata, "Ada batas yang tidak boleh dilewati." Revolusioner berkata, "Tujuan menghalalkan segala cara."
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Berhentilah mencari makna kosmik, mulailah mencintai momen ini.
Camus mengajarkan bahwa tidak ada "jawaban besar" yang akan datang. Tidak ada surga yang akan menyelesaikan semuanya. Satu-satunya yang ada adalah sekarang: kopi pagi ini, matahari di kulitmu, percakapan dengan sahabatmu. Itu sudah cukup.
2. Bekerjalah seperti Sisifus, tetapi berbahagialah.
Pekerjaanmu mungkin terasa sia-sia. Rutinitasmu mungkin terasa seperti mendorong batu. Tetapi ingatlah: batulah yang memberimu tujuan. Perjuangan itu sendiri adalah makna. "Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia."
3. Jangan menjadi "santo", jadilah "sembuh".
Dalam The Plague, Dr. Rieux bukanlah pahlawan super. Ia hanyalah seorang dokter yang melakukan pekerjaannya. "Kita semua berada dalam wabah yang sama," katanya. "Satu-satunya cara untuk melawan wabah adalah dengan kejujuran. Kejujuran berarti melakukan pekerjaanku." Lakukanlah pekerjaanmu. Itu sudah cukup heroik.
4. Memberontaklah, tetapi jangan menjadi algojo.
Lawanlah ketidakadilan. Tetapi berhati-hatilah: jangan sampai perjuanganmu menciptakan ketidakadilan baru. Jangan mengorbankan manusia konkret demi "manusia masa depan" yang abstrak.
Epilog The First Man yang Tak Pernah Selesai
Ketika Camus meninggal dalam kecelakaan mobil itu, di dalam tasnya ada manuskrip The First Man. Novel itu berkisah tentang seorang pria yang mencari jejak ayahnya yang meninggal dalam perang. Itu adalah novel yang paling personal, yang paling lembut, yang paling penuh pengampunan.
Ia tidak pernah menyelesaikannya.
Tetapi mungkin itu juga tepat. Karena bagi Camus, hidup selalu "belum selesai". Tidak ada kesimpulan. Tidak ada "The End". Yang ada hanyalah perjalanan, batu yang menggelinding lagi, dan pilihan untuk turun gunung dengan hati yang memberontak.
A. Sumber Primer: Karya Camus
- Camus, Albert. The Myth of Sisyphus. Diterjemahkan oleh Justin O'Brien. New York: Vintage International, 1955.
- Camus, Albert. The Stranger. Diterjemahkan oleh Matthew Ward. New York: Vintage International, 1989.
- Camus, Albert. The Plague. Diterjemahkan oleh Stuart Gilbert. New York: Vintage International, 1991.
- Camus, Albert. The Rebel: An Essay on Man in Revolt. Diterjemahkan oleh Anthony Bower. New York: Vintage International, 1991.
- Camus, Albert. Lyrical and Critical Essays. Diterjemahkan oleh Ellen Conroy Kennedy. New York: Vintage Books, 1970.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Lottman, Herbert R. Albert Camus: A Biography. Garden City: Doubleday, 1979. , Biografi definitif dan sangat detail.
- Todd, Olivier. Albert Camus: A Life. Diterjemahkan oleh Benjamin Ivry. New York: Alfred A. Knopf, 1997. , Biografi yang sangat mudah diakses dan menghidupkan sosok Camus.
- Aronson, Ronald. Camus and Sartre: The Story of a Friendship and the Quarrel that Ended It. Chicago: University of Chicago Press, 2004. , Studi mendalam tentang persahabatan dan perseteruan dua raksasa.
- Sagi, Avi. Albert Camus and the Philosophy of the Absurd. Diterjemahkan oleh Batya Stein. Amsterdam: Rodopi, 2002. , Analisis filosofis yang ketat tentang konsep absurd.
Gabriel Marcel (1889–1973)
Kita kini tiba di sebuah persinggahan yang amat berbeda. Setelah bergulat dengan kebebasan Sartre yang menyambar-nyambar, tubuh Merleau-Ponty yang puitis, dan absurditas Camus yang memberontak, engkau memintaku untuk membedah pemikiran seorang filsuf yang sering disebut sebagai "Eksistensialis Kristiani", sebuah label yang, seperti akan kita lihat, terlalu sempit untuk menggambarkan kedalaman dan kehangatan pemikirannya.
Namanya adalah Gabriel Marcel.
Ia adalah seorang dramawan, kritikus musik, dan filsuf yang menolak sistem. Ia menulis dengan gaya meditatif, seringkali berupa jurnal harian dan esai-esai reflektif, bukan traktat filosofis yang kaku. Jika Camus adalah pemberontak yang merayakan absurditas, maka Marcel adalah sang peziarah yang mencari Cahaya di tengah kegelapan, tetapi menolak untuk menyebut dirinya sudah "menemukan". Ia mengajarkan bahwa berfilsafat adalah "berjaga dalam penantian" (veille).
Ambillah napas yang dalam. Kali ini, kita akan memasuki sebuah ruang yang lebih sunyi, di mana misteri dirayakan, dan di mana "Yang Lain" bukanlah neraka, melainkan jalan menuju Keselamatan. Gabriel Marcel tiada lain adalah Sang Filsuf Misteri dan Cinta yang Setia
Prolog Dia yang Menolak "Sistem" dan Merayakan "Misteri"
Gabriel Honoré Marcel lahir pada 7 Desember 1889 di Paris. Ia hidup melintasi dua perang dunia, menyaksikan langsung bagaimana ideologi-ideologi raksasa (nasionalisme, komunisme, fasisme) mengubah manusia menjadi angka dan statistik. Di tengah reruntuhan Eropa, Marcel bertanya dengan suara lirih: "Apakah artinya 'ada' sebagai manusia, bukan sebagai fungsi, bukan sebagai nomor identitas?"
Ia adalah seorang pemikir yang sangat mudah dikenali gayanya. Ia tidak menulis seperti Sartre atau Heidegger yang padat dan neologis. Ia menulis seperti seorang sahabat yang sedang merenung di depan perapian. Ia menulis tentang kesetiaan, harapan, cinta, dan kematian, tema-tema yang sering dianggap "tidak ilmiah" oleh filsafat akademis. Tetapi justru di situlah letak revolusinya: ia mengembalikan kehangatan manusia ke dalam filsafat yang telah membeku.
Ia adalah pencetus pertama istilah "Eksistensialisme" di Prancis, yang ia gunakan untuk menggambarkan filsafatnya sendiri pada tahun 1943. Namun, ketika Sartre kemudian membajak istilah itu dan mengisinya dengan ateisme radikal, Marcel menolak. Ia kemudian lebih suka menyebut filsafatnya sebagai "Filsafat Eksistensi" atau "Sokratisme Kristen".
Gambaran Ideosinkretik
Ia adalah anak diplomat yang kehilangan ibu. Marcel kecil tumbuh dalam keluarga yang kaya secara materi tetapi miskin secara emosional. Ayahnya adalah seorang diplomat dan kolektor seni yang kaku. Ibunya meninggal ketika Gabriel baru berusia empat tahun. Kehilangan ini menorehkan luka yang dalam, dan Marcel kemudian menggambarkan seluruh filsafatnya sebagai "sebuah meditasi tentang kematian dan keabadian orang-orang yang kita cintai".
Ia dibesarkan dalam atmosfer agnostisisme oleh bibinya yang ketat. Musik menjadi pelariannya. Ia menjadi seorang pianis dan komposer yang sangat baik. Rasa musikalitas ini meresap ke dalam tulisannya: esai-esainya tidak bergerak secara linear seperti argumen, tetapi secara simfonis, kembali ke tema-tema yang sama dari sudut yang berbeda-beda.
Pertobatan di Usia 40 Tahun
Pada tahun 1929, di usia 40 tahun, Marcel mengalami pertobatan religius dan dibaptis sebagai seorang Katolik. Namun, ia selalu menolak disebut sebagai "filsuf Katolik". Ia berkata bahwa imannya adalah sebuah panggilan, bukan sebuah sistem jawaban. Filsafatnya tidak dimulai dari dogma, tetapi dari pengalaman konkret manusiawi, yang kemudian "membuka diri" pada Transendensi.
Selama Perang Dunia II, ia bekerja untuk Palang Merah Prancis, membantu keluarga-keluarga yang terpisah untuk menemukan anggota keluarga mereka yang hilang. Pengalaman ini, mendengarkan ribuan kisah kehilangan dan penantian, menjadi fondasi bagi konsep-konsepnya tentang "ketersediaan" (disponibilité) dan "harapan" (espérance).
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Misteri vs. Problem
Ini adalah fondasi dari seluruh pemikiran Marcel. Ia membedakan secara tajam antara Problem dan Misteri.
Apa itu Problem?
Problem adalah sesuatu yang berada di hadapanku (devant moi), sebagai obyek yang bisa kupelajari, kubedah, dan kupecahkan. Aku bisa mengambil jarak darinya. Contoh: seorang insinyur yang memperbaiki mesin, seorang matematikawan yang memecahkan persamaan. Aku tidak terlibat secara personal dalam problem. Aku bisa memberikan solusi universal yang berlaku untuk siapa pun.
Apa itu Misteri?
Misteri adalah sesuatu yang aku terlibat di dalamnya (en moi). Ia tidak bisa dijadikan obyek karena aku adalah bagian darinya. Aku tidak bisa mengambil jarak darinya. Contoh: penderitaanku, cintaku, kematianku. Aku tidak bisa "memecahkan" misteri kematian seperti memecahkan persamaan 2+2=4. Aku hanya bisa menghayatinya, merenungkannya, dan berpartisipasi di dalamnya.
"Problem adalah sesuatu yang aku temui; misteri adalah sesuatu yang di dalamnya aku sendiri terlibat... Problem berada di hadapanku secara keseluruhan; misteri meliputiku dan menyerapku."
(Marcel, The Mystery of Being, Vol. 1, hlm. 204)
Analoginya begini. Bayangkanlah sebuah puzzle teka-teki silang. Itu adalah problem. Aku duduk di meja, memegang pensil, dan mencari jawaban yang tepat. Jika aku macet, aku bisa menyerahkannya kepada orang lain, dan ia bisa menyelesaikannya. Puzzle itu tidak menyentuh eksistensiku.
Sekarang, bayangkanlah sebuah rumah tua yang konon berhantu. Aku masuk ke dalamnya. Di dalam, aku tidak bisa lagi menjadi pengamat yang dingin. Suasana rumah itu meresap ke dalam pori-poriku. Suara angin, derit papan lantai, semuanya adalah panggilan yang membuatku gemetar. Aku terlibat. Jika aku lari keluar, aku tidak "memecahkan" misteri rumah itu; aku hanya melarikan diri darinya.
Bagi Marcel, seluruh filsafat modern (terutama sains dan positivisme) telah mereduksi semua misteri menjadi problem. Penderitaan dianggap sebagai "masalah medis" yang harus diatasi dengan pil. Kematian dianggap sebagai "masalah teknis" yang harus ditunda dengan bioteknologi. Cinta dianggap sebagai "masalah psikologis" yang bisa dijelaskan dengan hormon. Semua ini membuat kita kehilangan rasa kagum dan rasa sakral terhadap eksistensi.
Konsep 2 Ada vs. Memiliki
Marcel mengembangkan analisis yang sangat tajam tentang perbedaan antara Ada (Être) dan Memiliki (Avoir).
Apa itu Memiliki?
Memiliki adalah relasi antara aku dan sesuatu yang eksternal, yang bisa kumiliki, kukontrol, dan kubuang. Aku memiliki mobil, rumah, uang. Aku bisa memegangnya, menghitungnya, dan memajangnya. Tetapi, ada bahaya eksistensial di sini: aku bisa dimiliki oleh apa yang kumiliki. Aku menjadi terikat, cemas kehilangan, dan identitasku tenggelam dalam benda-benda yang kumiliki.
Apa itu Ada?
Ada adalah relasi di mana aku menghayati, bukan mengontrol. Aku tidak "memiliki" cinta. Aku "ada dalam" cinta. Aku tidak "memiliki" iman. Aku "ada dalam" iman. Aku tidak "memiliki" tubuhku. Aku adalah tubuhku (seperti yang akan kita lihat di konsep selanjutnya). Ketika aku "ada", aku tidak bisa kehilangan "keberadaanku" seperti aku kehilangan kunci mobil.
"Semakin aku menekankan pada 'memiliki', semakin aku cenderung untuk membiarkan diriku ditelan oleh apa yang kumiliki... Aku menjadi budak dari apa yang kumiliki."
(Marcel, Being and Having, hlm. 164)
Analoginya begini.
Bayangkan seorang kolektor jam tangan mewah. Ia memiliki puluhan jam. Ia menyimpannya di dalam kotak kaca, memolesnya setiap minggu, dan selalu cemas jika ada goresan kecil. Ia sangat bangga saat memamerkannya kepada tamu. Tetapi, jika suatu hari semua jam itu dicuri, siapakah dia? Jika identitasnya lenyap bersama jam-jam itu, maka ia tidak "ada" sebagai dirinya sendiri; ia hanya "ada" melalui benda-benda yang dimilikinya.
Sekarang, bayangkanlah seorang pemain terompet jazz. Ia tidak "memiliki" musik yang ia mainkan. Ia ada di dalam musik itu. Ia mengalir bersamanya. Jika terompetnya diambil, ia masih bisa bersiul, masih bisa mengetukkan jari, masih bisa "mengada" sebagai seorang musisi. Itulah "Ada".
Dalam masyarakat konsumeristik modern, kata Marcel, kita telah terperosok jauh ke dalam "dunia memiliki". Kita dinilai dari apa yang kita punya (mobil, rumah, followers, jabatan), bukan dari siapa kita.
Konsep 3 Tubuh sebagai Misteri, Bukan Alat
Marcel menolak keras dualisme Cartesian yang menganggap tubuh sebagai "mesin" yang dikemudikan oleh "hantu" (jiwa).
Baginya, hubunganku dengan tubuhku adalah misteri primordial. Aku tidak "memiliki" tubuhku. Aku adalah tubuhku, tetapi juga bukan sepenuhnya tubuhku.
"Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku adalah tubuhku, karena itu berarti mereduksi diriku menjadi benda. Tetapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku memiliki tubuhku, karena 'memiliki' mengandaikan jarak antara pemilik dan yang dimiliki. Aku adalah makhluk yang bertubuh (être incarné)."
(Marcel, The Mystery of Being, Vol. 1, hlm. 101)
Analoginya begini. Cobalah pegang tangan kirimu dengan tangan kananmu. Rasakanlah sensasi itu. Tangan kananmu "menyentuh", tangan kirimu "disentuh". Apakah tangan kirimu adalah "obyek" yang kau miliki? Tidak. Ia adalah dirimu, tetapi pada saat yang sama, ia bisa kau rasakan seolah-olah ia adalah "sesuatu". Tubuhku adalah perbatasan antara "aku" dan "dunia", sebuah ambang batas yang misterius.
Implikasinya sangat dalam: tubuhku adalah situs kehadiranku di dunia. Aku tidak bisa mencintai orang lain tanpa tubuh. Aku tidak bisa menderita tanpa tubuh. Aku tidak bisa mati tanpa tubuh. Inilah sebabnya mengapa penghinaan terhadap tubuh (seperti dalam beberapa aliran gnostik atau spiritualitas yang melayang-layang) adalah pengkhianatan terhadap eksistensi manusia.
Konsep 4 Ketersediaan (Disponibilité),
Ini adalah inti dari etika Marcel. Jika Sartre berkata, "Neraka adalah orang lain," Marcel menjawab dengan lembut, "Keselamatan datang melalui orang lain."
Ketersediaan (Disponibilité) adalah lawan dari "Ketidaktersediaan" (Indisponibilité).
Ketidaktersediaan adalah keadaan di mana aku sibuk dengan diriku sendiri. Aku penuh oleh kecemasanku, oleh jadwalku, oleh benda-benda yang kumiliki, oleh peran-peran sosial yang kumainkan. Ketika orang lain datang padaku, ia mengetuk pintu, tetapi aku tidak membukanya. Aku berkata, "Maaf, saya sibuk." Atau lebih parah lagi, aku mendengarkannya, tetapi sebenarnya aku sedang memikirkan pembelaan diriku, atau aku mendiagnosisnya sebagai "pasien", bukan menemuinya sebagai "engkau".
Ketersediaan adalah sikap membuka pintu. Aku mengosongkan diriku dari keakuan, dan menciptakan ruang di dalam hatiku bagi orang lain. Aku hadir sepenuhnya. Aku tidak menilainya. Aku menerimanya sebagai anugerah, bukan sebagai masalah yang harus dipecahkan.
"Jiwa yang tersedia adalah jiwa yang tidak sibuk dengan dirinya sendiri, yang terbuka untuk menerima... Ia seperti rumah yang pintunya selalu terbuka."
(Marcel, Homo Viator, hlm. 18)
Analoginya begini. Bayangkanlah dua orang yang mendengarkan curhatan sahabatnya yang sedang patah hati.
Orang pertama adalah seorang psikolog yang "tidak tersedia". Sahabatnya menangis, dan psikolog ini berpikir, "Ini adalah kasus anxious attachment. Nanti akan kuberi dia lembar kerja CBT." Ia mereduksi sahabatnya menjadi "problem".
Orang kedua adalah seorang sahabat yang "tersedia". Ia tidak mencoba "memecahkan" sahabatnya. Ia hanya duduk, mendengarkan, dan hadir. Ia merasakan penderitaan sahabatnya seolah-olah itu adalah penderitaannya sendiri. Ia tidak memberikan solusi. Ia memberikan kehadiran.
Bagi Marcel, hanya dalam ketersediaanlah cinta sejati dan persaudaraan bisa lahir.
Konsep 5 Relasi Aku-Engkau (Je-Tu) dan Kesetiaan Kreatif
Marcel membedakan dua jenis relasi antar manusia:
1. Relasi Aku-Dia (Je-Lui) :
Aku memperlakukan orang lain sebagai "dia" (orang ketiga). Aku mengategorikannya, menganalisisnya, menjadikannya obyek. Ini adalah relasi fungsional: "Dia adalah tukang pos," "Dia adalah bos."
2. Relasi Aku-Engkau (Je-Tu) :
Aku memperlakukan orang lain sebagai "engkau" (orang kedua). Aku memanggilnya. Aku hadir di hadapannya, dan ia hadir di hadapanku. Tidak ada jarak. Tidak ada kategori. Hanya perjumpaan.
"Ketika aku berkata 'Engkau' kepada seseorang, aku memperlakukannya bukan sebagai benda, melainkan sebagai kebebasan, sebagai subyek yang memiliki kedalaman tak terbatas."
(Marcel, The Mystery of Being, Vol. 2, hlm. 39)
Analoginya begini. Ketika engkau berbicara dengan seorang kasir di supermarket, engkau mungkin hanya melihatnya sebagai "dia" (fungsi). "Dia" memindai belanjaanmu, engkau membayar, selesai. Tetapi, jika tiba-tiba mata kalian bertemu, dan ia tersenyum dengan tulus, dan engkau bertanya, "Apa kabarmu hari ini?", dan ia menjawab, "Lelah sekali, anakku sakit semalam," maka seketika "dia" berubah menjadi "Engkau". Ada kehadiran.
Ini adalah fondasi dari konsep Marcel tentang Kesetiaan Kreatif (Fidélité Créatrice). Kesetiaan bukanlah sekadar "tetap bersama" secara kontrak. Kesetiaan adalah menciptakan kembali komitmenku setiap hari. Aku setia padamu bukan karena aku terikat oleh janji masa lalu, tetapi karena setiap pagi aku memilih untuk mengatakan "Engkau" lagi padamu. Inilah yang membuat cinta dan persahabatan menjadi petualangan eksistensial, bukan sekadar kebiasaan yang membosankan.
Konsep 6 Harapan (Espérance)
Marcel membedakan antara Optimisme dan Harapan.
Optimisme adalah sikap yang berkata, "Semuanya akan baik-baik saja." Ini seringkali hanyalah temperamen psikologis, atau hasil kalkulasi probabilitas. Aku optimis bahwa ekonomi akan membaik tahun depan karena data menunjukkan tren positif.
Harapan (espérance) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Harapan bukanlah prediksi. Harapan adalah tindakan eksistensial di dalam kegelapan. Ketika seorang ibu merawat anaknya yang sakit parah, data medis mungkin berkata, "Peluang sembuh hanya 5%." Sang ibu tahu ini. Tetapi ia tetap berharap. Ia tidak berkata, "Pasti sembuh" (optimisme buta). Ia berkata, "Aku akan terus merawatmu, meskipun aku tidak tahu hasilnya."
"Harapan adalah daya yang memungkinkan kita untuk terus bertindak di dalam situasi di mana tidak ada jaminan keberhasilan. Harapan melampaui kalkulasi; ia adalah percikan api yang menyalakan api di tengah badai."
(Marcel, Homo Viator, hlm. 31)
Analoginya begini. Seorang tahanan perang yang mendekam di sel gelap. Ia tidak tahu apakah perang akan berakhir tahun ini, sepuluh tahun lagi, atau tidak akan pernah. Ia tidak memiliki data. Tetapi ia berharap bahwa ia akan bertemu kembali dengan keluarganya. Harapan itu bukanlah sekadar "berpikir positif". Harapan itu adalah energi spiritual yang membuatnya tetap mampu berdiri, tetap mampu berbagi roti dengan sesama tahanan, meskipun semuanya tampak sia-sia.
Bagi Marcel, harapan adalah tanda keterbukaan manusia pada Transendensi. Aku tidak bisa berharap pada "ketiadaan". Ketika aku berharap, aku secara implisit mengandaikan bahwa ada "Sesuatu" atau "Seseorang" di luar sana yang mendengar jeritanku, meskipun aku tidak bisa membuktikannya.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Lawanlah "Mentalitas Problem".
Di era digital, kita cenderung memperlakukan segalanya sebagai problem yang harus dipecahkan dengan aplikasi, formula, atau tips 5 menit. Marcel mengingatkan bahwa penderitaan, cinta, dan kematian adalah misteri yang harus dihayati, bukan dipecahkan. Kadang, yang dibutuhkan sahabatmu bukanlah solusi, melainkan kehadiranmu.
2. Kamu bukanlah "brand".
Dunia modern menyuruhmu untuk "memiliki" sebanyak mungkin: followers, sertifikat, barang branded. Kamu adalah "apa yang kau punya". Marcel membalikkan ini: Kamu adalah "siapa yang kau cintai" dan "bagaimana kau hadir". Lepaskanlah kelekatan pada "memiliki", dan latihlah "mengada".
3. Bukalah pintu bagi "Engkau".
Setiap hari, kita bertemu puluhan "dia" (supir ojek, petugas kebersihan, rekan kerja). Cobalah untuk mengubah satu saja dari "dia" menjadi "Engkau". Tanyakan kabarnya dengan sungguh-sungguh. Dengarkan. Hadirlah. Itu adalah revolusi eksistensial yang kecil tapi dahsyat.
4. Jangan menyerah pada keputusasaan.
Harapan bukanlah milik para pemimpi naif. Harapan adalah milik para pejuang yang tahu bahwa keadaan sangat gelap, tetapi tetap memilih untuk menyalakan lilin. Ketika data berkata "mustahil", harapan berbisik, "tetapi mungkin".
Epilog Sang Filsuf di Rumah yang Terbuka
Gabriel Marcel meninggal pada 8 Oktober 1973 di Paris, pada usia 83 tahun. Ia dimakamkan dengan sederhana. Di batu nisannya, tidak ada kutipan dari buku-bukunya. Hanya namanya, dan dua tanggal.
Ia menjalani hidupnya sebagai seorang penjaga pintu. Rumahnya, baik secara harfiah maupun metaforis, selalu terbuka untuk para mahasiswa, para pencari, dan para sahabat. Ia menulis, memberi kuliah, dan menciptakan musik, bukan untuk ketenaran, tetapi untuk "menerangi jalan bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan".
Ia menjalani hidupnya sebagai seorang penjaga pintu. Rumahnya, baik secara harfiah maupun metaforis, selalu terbuka untuk para mahasiswa, para pencari, dan para sahabat. Ia menulis, memberi kuliah, dan menciptakan musik, bukan untuk ketenaran, tetapi untuk "menerangi jalan bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan".
Jika kita harus meringkas seluruh filsafatnya dalam satu kalimat, mungkin kalimat ini yang paling tepat:
"Mencintai seseorang berarti berkata kepadanya: engkau tidak akan mati."
(Marcel, The Mystery of Being, Vol. 2, hlm. 147)
Di dunia yang penuh dengan kematian, pengkhianatan, dan keputusasaan, Marcel mengajarkan bahwa cinta dan harapan adalah tindakan pemberontakan yang paling radikal. Bukan pemberontakan dengan senjata, melainkan pemberontakan dengan kehadiran yang setia.
A. Sumber Primer: Karya Marcel
- Marcel, Gabriel. The Mystery of Being. 2 vols. Diterjemahkan oleh G.S. Fraser dan René Hague. London: Harvill Press, 1950–1951.
- Marcel, Gabriel. Being and Having: An Existentialist Diary. Diterjemahkan oleh Katherine Farrer. New York: Harper & Row, 1965.
- Marcel, Gabriel. Homo Viator: Introduction to a Metaphysic of Hope. Diterjemahkan oleh Emma Craufurd. New York: Harper & Row, 1962.
- Marcel, Gabriel. Creative Fidelity. Diterjemahkan oleh Robert Rosthal. New York: Fordham University Press, 2002.
B. Sumber Sekunder
- Gallagher, Kenneth T. The Philosophy of Gabriel Marcel. New York: Fordham University Press, 1962. , Pengantar klasik dan sangat jelas.
- Miceli, Vincent P. Ascent to Being: Gabriel Marcel's Philosophy of Communion. New York: Desclée Company, 1965. , Studi mendalam tentang metafisika Marcel.
- Treanor, Brian, ed. Gabriel Marcel's Ethics of Hope: Evil, God, and Virtue. London: Continuum, 2009. , Kumpulan esai kontemporer.
- Cain, Seymour. Gabriel Marcel. London: Bowes & Bowes, 1963. , Pengantar ringkas.
Paul Tillich (1886–1965)
Kita kini tiba di hadapan seorang raksasa yang berbeda. Setelah bersama-sama menyelami kehangatan perapian Gabriel Marcel, engkau meminta untuk berkenalan dengan seorang teolog-filsuf yang meracik eksistensialisme Heidegger dan Kierkegaard ke dalam teologi Kristen yang modern dan mengguncang. Namanya adalah Paul Tillich.
Ia adalah seorang pendeta Lutheran yang melayani di paroki-paroki pekerja, seorang profesor yang dipecat oleh Nazi, dan seorang pemikir yang berani menyatakan bahwa "Tuhan" bukanlah sebuah "Pribadi" yang duduk di atas langit. Ia ingin menyelamatkan iman Kristen dari fundamentalisme (yang membuatnya terlalu sempit) dan dari ateisme (yang menolaknya mentah-mentah). Jembatan yang ia bangun adalah Eksistensialisme.
Ambillah napas yang dalam. Kali ini, kita akan memasuki ruang yang mengguncang fondasi iman, di mana "keraguan" justru menjadi elemen penting dari iman itu sendiri. Paul Tillich berjuluk sang teolog keberanian dan dasar dari ada.
Prolog, Pendeta di Garis Depan yang Kehilangan Iman, Lalu Menemukannya Kembali
Paul Johannes Tillich lahir pada 20 Agustus 1886 di Starzeddel, sebuah desa kecil di Prusia (kini bagian dari Polandia). Ayahnya adalah seorang pendeta Lutheran yang konservatif dan otoriter. Tillich kecil tumbuh dalam bayang-bayang salib dan Alkitab, tetapi juga dalam bayang-bayang disiplin yang ketat.
Ia belajar teologi di universitas-universitas terbaik Jerman. Namun, ketika Perang Dunia I meletus, ia mengajukan diri sebagai pendeta militer (chaplain) di garis depan.
Ia belajar teologi di universitas-universitas terbaik Jerman. Namun, ketika Perang Dunia I meletus, ia mengajukan diri sebagai pendeta militer (chaplain) di garis depan.
Pengalaman itu menghancurkannya.
Bayangkan, Sobatku: seorang pendeta muda yang percaya pada Tuhan yang Mahabaik, ditempatkan di parit-parit berlumpur, menyaksikan tubuh-tubuh tercabik-cabik oleh peluru dan gas beracun. Setiap malam ia mendengarkan jeritan para prajurit yang sekarat. Setiap pagi ia menguburkan mayat-mayat yang membusuk. Semua teologi dogmatis yang ia pelajari terasa hancur berkeping-keping. Di manakah Tuhan yang Mahakuasa? Di manakah kebaikan Ilahi?
Tillich mengalami kehancuran iman eksistensial (existential breakdown of faith). Namun, dari reruntuhan itulah, ia membangun kembali imannya, bukan sebagai seperangkat dogma yang harus dipercaya, tetapi sebagai pengalaman akan Yang Tak Terbatas yang hadir justru di tengah ketiadaan makna.
Setelah perang, ia menjadi profesor teologi di berbagai universitas Jerman. Ketika Nazi berkuasa, ia menulis buku The Socialist Decision yang mengkritik ideologi Nazi. Pada tahun 1933, ia dipecat. Ia beremigrasi ke Amerika Serikat, di mana ia mengajar di Union Theological Seminary, Harvard, dan University of Chicago. Di sinilah ia menulis mahakaryanya: Systematic Theology (3 volume) dan buku populer yang legendaris, The Courage to Be (1952).
Gambaran Ideosinkretik
Manusia di Perbatasan (On the Boundary)
Tillich menyebut dirinya sebagai seorang pemikir yang selalu hidup di perbatasan (auf der Grenze): antara teologi dan filsafat, antara Gereja dan masyarakat, antara Eropa dan Amerika, antara iman dan keraguan. Otobiografinya yang singkat berjudul On the Boundary.
Ia adalah seorang teolog, tetapi ia menghabiskan waktu lebih banyak membaca filsuf-filsuf eksistensialis (Kierkegaard, Heidegger) daripada membaca Bapa-Bapa Gereja. Ia adalah seorang pendeta, tetapi ia menolak untuk memberikan jawaban-jawaban yang mudah. Ia adalah seorang Kristen yang taat, tetapi ia menulis bahwa "Tuhan tidak eksis", sebuah pernyataan yang membuat banyak orang salah paham (kita akan membahasnya nanti).
Erotika dan Spiritualitas
Tillich juga dikenal karena kehidupan pribadinya yang kompleks. Ia menikah dua kali, dan pernikahan pertamanya berakhir karena perselingkuhan. Dalam otobiografinya yang jujur, istrinya, Hannah Tillich, menulis buku From Time to Time yang mengungkap sisi gelap kehidupan Tillich: kecanduannya pada erotika, perselingkuhannya yang berulang, dan pergulatan batinnya antara "Yang Kudus" dan "Yang Erotis".
Bagi Tillich, erotika dan spiritualitas bukanlah dua kutub yang berlawanan. Keduanya adalah ekspresi dari hasrat yang sama: hasrat untuk bersatu dengan Yang Lain, untuk melampaui isolasi diri, untuk "menggapai" Yang Tak Terbatas.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Eksistensialisme sebagai "Pertanyaan", Agama sebagai "Jawaban"
Ini adalah fondasi dari seluruh teologi Tillich. Ia menyebut metodenya sebagai "Metode Korelasi" (Method of Correlation).
Apa maksudnya?
Filsafat eksistensialisme (terutama Heidegger, Sartre, Camus) telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan terdalam manusia:
- Mengapa aku ada?
- Apa makna hidup jika aku akan mati?
- Bagaimana aku menghadapi kecemasan dan ketiadaan makna?
Teologi, bagi Tillich, harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dengan menggunakan simbol-simbol iman. Tetapi teologi tidak boleh menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan. Ia harus mendengarkan dulu jeritan manusia modern.
"Metode korelasi adalah upaya untuk menghubungkan isi iman Kristen dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh eksistensi manusia."
(Tillich, Systematic Theology, Vol. 1, hlm. 60)
Analoginya begini. Eksistensialisme adalah seorang dokter yang mendiagnosis penyakit dengan jujur dan kejam. Ia berkata, "Engkau menderita kecemasan eksistensial. Engkau takut mati. Engkau merasa hidupmu absurd. Tidak ada obat yang pasti."
Teologi Tillich adalah tabib yang menawarkan penyembuhan, tetapi ia tidak bisa menyembuhkan jika diagnosisnya tidak didengarkan terlebih dahulu.
Dalam The Courage to Be, Tillich memulai dengan analisis eksistensial yang meminjam banyak dari Heidegger: manusia diancam oleh "nonbeing" (ketiadaan). Tetapi kemudian ia menunjukkan bahwa di dalam pengalaman kecemasan itu sendiri, ada kehadiran yang memungkinkan kita untuk bertahan.
Konsep 2 Tiga Jenis Kecemasan (Anxiety)
Tillich memetakan tiga jenis kecemasan yang menghantui manusia modern, sesuai dengan tiga arah ancaman "nonbeing" (ketiadaan):
1. Kecemasan akan Kematian dan Nasib (Anxiety of Fate and Death).
Ini adalah ancaman terhadap eksistensi fisik dan psikologis kita. Aku bisa mati kapan saja. Hidupku bisa dihancurkan oleh kecelakaan, penyakit, atau bencana. Ini adalah kecemasan paling kuno.
2. Kecemasan akan Kekosongan dan Ketidakbermaknaan (Anxiety of Emptiness and Meaninglessness).
Ini adalah ancaman terhadap makna spiritual kita. Bahkan jika aku sehat dan aman secara fisik, aku bisa merasa bahwa hidupku kosong, bahwa tidak ada yang penting, bahwa semua yang kulakukan adalah sia-sia. Ini adalah kecemasan khas modernitas.
3. Kecemasan akan Rasa Bersalah dan Penghukuman (Anxiety of Guilt and Condemnation).
Ini adalah ancaman terhadap keberadaan moral kita. Aku merasa bersalah. Aku telah melukai orang lain. Aku telah mengkhianati nilai-nilaiku sendiri. Aku merasa dikutuk, baik oleh diriku sendiri maupun oleh sesuatu yang lebih tinggi.
"Ketiga jenis kecemasan ini saling terkait. Kecemasan akan kematian, misalnya, bisa menjadi sangat kuat karena hidup yang tidak bermakna terasa seperti kematian rohani."
(Tillich, The Courage to Be, hlm. 41-54)
Analoginya begini. Bayangkanlah sebuah kapal di tengah samudra.
- Kecemasan akan nasib dan kematian adalah ketakutan bahwa badai akan menenggelamkan kapal itu.
- Kecemasan akan ketidakbermaknaan adalah perasaan bahwa, bahkan jika kapal itu selamat, ia tidak memiliki tujuan. Pelabuhan mana yang akan dituju? Semua arah terasa sama.
- Kecemasan akan rasa bersalah dan penghukuman adalah suara di kepala sang nahkoda yang berkata, "Engkau tidak layak memimpin kapal ini. Engkau telah membuat kesalahan fatal."
Konsep 3 Keberanian untuk Menjadi, Melawan Ketiadaan
Ini adalah konsep Tillich yang paling terkenal. Di tengah ancaman ketiadaan yang tiga macam itu, apa yang memungkinkan manusia untuk terus hidup, terus mencintai, terus mencipta?
Jawabannya adalah Keberanian untuk Menjadi (The Courage to Be).
Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut. Keberanian adalah tindakan afirmasi diri (self-affirmation) meskipun ada ancaman nonbeing. Aku berkata "Ya" pada hidupku, pada diriku sendiri, meskipun aku tahu aku akan mati, meskipun aku meragukan maknanya, meskipun aku merasa bersalah.
"Keberanian adalah afirmasi diri dari makhluk yang ada meskipun ada ancaman nonbeing... Keberanian adalah kekuatan untuk mengatakan 'Ya' pada kehidupan meskipun ada kematian, kekosongan, dan rasa bersalah."
(Tillich, The Courage to Be, hlm. 155)
Analoginya begini. Seorang prajurit yang berlari ke medan tempur. Ia tahu bahwa peluru bisa menghantamnya kapan saja. Ia merasa takut. Tetapi ia tetap berlari. Itu adalah keberanian jasmani.
Seorang seniman yang melukis kanvas kosong, meskipun ia tahu bahwa mungkin tidak ada seorang pun yang akan melihat lukisannya, bahwa ia mungkin akan mati dalam kemiskinan. Ia tetap melukis. Itu adalah keberanian spiritual.
Seorang ibu yang merawat anaknya yang sakit parah, meskipun dokter berkata peluangnya tipis. Ia tidak menyerah. Itu adalah keberanian moral.
Tetapi Tillich bertanya lebih dalam: Dari mana datangnya kekuatan untuk berani? Apakah keberanian itu hanya hasil dari kemauan keras manusia?
Tidak. Tillich berargumen bahwa keberanian sejati berakar pada sesuatu yang melampaui manusia, yaitu pada apa yang ia sebut sebagai "Dasar dari Ada" (Ground of Being).
Konsep 4: "Dasar dari Ada" (Ground of Being), Tuhan di Atas Tuhan
Inilah inti dari teologi Tillich yang paling radikal dan paling sering disalahpahami.
Tillich menolak konsep "Tuhan" sebagai "seorang pribadi" yang duduk di langit. Baginya, itu adalah berhala. Itu adalah "Tuhan" yang bisa dibuktikan atau disangkal oleh argumen-argumen filosofis. Itu adalah "Tuhan" yang oleh Nietzsche dinyatakan "sudah mati". Dan Tillich setuju: Tuhan seperti itu memang sudah mati, dan memang seharusnya mati.
"Tuhan yang ada (eksis) sebagai obyek di antara obyek-obyek lainnya adalah berhala... Tuhan yang eksis adalah bukan Tuhan yang sesungguhnya."
(Tillich, Systematic Theology, Vol. 1, hlm. 237)
Lalu, apa yang dimaksud dengan "Tuhan"?
Bagi Tillich, Tuhan adalah "Dasar dari Ada" (Ground of Being), atau "Ada itu Sendiri" (Being-Itself). Tuhan bukanlah sebuah makhluk, bahkan bukan makhluk yang paling tinggi. Tuhan adalah kekuatan, kedalaman, dan fondasi yang memungkinkan segala sesuatu untuk "ada".
Analoginya begini. Bayangkanlah lautan yang luas. Ikan-ikan adalah makhluk-makhluk yang berenang di dalam lautan. Tuhan bukanlah "ikan terbesar". Tuhan adalah air itu sendiri, yang meliputi segalanya, yang memberi kehidupan kepada semua ikan, tetapi tidak bisa digambarkan sebagai "seekor ikan".
Atau, bayangkanlah cahaya. Kita melihat benda-benda yang diterangi oleh cahaya. Tetapi kita tidak bisa "melihat" cahaya itu sendiri. Cahaya adalah yang memungkinkan penglihatan, tetapi ia sendiri tidak terlihat. Tuhan adalah seperti Cahaya itu.
Karena itu, Tillich sering berkata bahwa "Tuhan tidak eksis". Pernyataan ini sangat provokatif, tetapi maksudnya adalah: Tuhan tidak "eksis" dalam cara benda-benda eksis. Tuhan adalah fondasi dari semua eksistensi, melampaui kategori "eksis" dan "tidak eksis".
"Kita bisa menyebut Tuhan sebagai 'Dasar dari Ada', atau 'Ada-itu-Sendiri'. Namun, semua nama ini harus segera dinegasikan, karena Tuhan melampaui semua nama... Ini adalah 'Tuhan di atas Tuhan'."
(Tillich, The Courage to Be, hlm. 186-190)
"Tuhan di atas Tuhan" (The God above God).
Ini adalah konsep Tillich yang paling puitis. Maksudnya adalah: ketika kita kehilangan iman pada "Tuhan" yang dogmatis, yang menghukum, yang seperti kakek di langit, kita mungkin mengalami keputusasaan yang absolut. Tetapi justru di dalam keputusasaan itulah, kita bisa berjumpa dengan "Tuhan di atas Tuhan", Dasar dari Ada yang tidak bisa dihancurkan oleh keraguan apa pun, karena Ia bukanlah "sebuah proposisi" yang bisa diragukan.
Konsep 5: Iman sebagai "Kepedulian Ultim" (Ultimate Concern)
Tillich mendefinisikan ulang apa itu "iman". Iman bukanlah "mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal". Iman adalah "ditarik oleh kepedulian yang ultim" (being grasped by an ultimate concern).
Setiap manusia, kata Tillich, memiliki sesuatu yang menjadi "kepedulian ultim" dalam hidupnya, sesuatu yang menjadi pusat makna, yang kepadanya ia menggantungkan seluruh hidupnya. Bagi sebagian orang, itu adalah Tuhan. Tetapi bagi yang lain, kepedulian ultim itu bisa berupa uang, kekuasaan, ketenaran, bangsa, atau ideologi.
"Iman adalah keadaan di mana kita ditarik oleh kepedulian ultim... Kepedulian ultim adalah yang menentukan 'ada' atau 'tidak ada'-nya kita."
(Tillich, Dynamics of Faith, hlm. 1-2)
Analoginya begini. Tanyakan pada dirimu sendiri: "Apakah sesuatu yang, jika aku kehilangannya, aku merasa bahwa hidupku sudah tidak layak dijalani?" Itulah "tuhan"-mu saat ini. Mungkin itu anakmu. Mungkin itu reputasimu. Mungkin itu keyakinan politikmu.
Tillich berkata: "Hati-hati. Jika engkau menaruh kepedulian ultimmu pada sesuatu yang terbatas (uang, bangsa, pasangan), engkau sedang menyembah berhala, dan berhala itu akan menghancurkanmu." Hanya Yang Tak Terbatas yang layak menjadi kepedulian ultim. Dan Yang Tak Terbatas itu adalah "Dasar dari Ada".
Konsep 6 Alienasi dan "Eksistensi di Bawah Kondisi Keterasingan"
Tillich, sebagai teolog, juga berbicara tentang "dosa". Tetapi ia menerjemahkan ulang "dosa" ke dalam bahasa eksistensial: alienasi (estrangement).
Manusia, kata Tillich, pada hakikatnya berasal dari "Dasar dari Ada". Tetapi dalam eksistensinya yang konkret, kita teralienasi (terasing) dari Dasar itu, dari sesama kita, dan dari diri kita sendiri. Ini adalah kondisi "Kejatuhan".
"Dosa adalah keterasingan manusia dari Dasar dari Ada, dari sesama makhluk, dan dari dirinya sendiri."
(Tillich, Systematic Theology, Vol. 2, hlm. 44-47)
Analoginya begini. Bayangkanlah sebuah gelombang di lautan. Gelombang itu "ada" hanya karena ia adalah bagian dari lautan. Tetapi bayangkan gelombang itu tiba-tiba "berpikir" bahwa ia adalah entitas yang terpisah, independen dari lautan. Ia berkata, "Aku adalah gelombang yang perkasa. Aku tidak membutuhkan lautan." Pada saat itu, ia tidak berhenti menjadi bagian dari lautan (secara ontologis), tetapi ia mengalami keterasingan.
Itulah kondisi manusia. Kita "ada" di dalam Dasar dari Ada (Tuhan). Tetapi kita hidup seolah-olah kita adalah makhluk-makhluk independen yang bisa menciptakan makna kita sendiri. Itulah "dosa".
Dan "keselamatan" (salvation), bagi Tillich, bukanlah "pergi ke surga setelah mati". Keselamatan adalah penerimaan kembali, penyatuan kembali dengan Dasar dari Ada, di mana keterasingan dilampaui.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Keraguanmu adalah bagian dari imanmu.
Tillich mengajarkan bahwa iman sejati bukanlah kepastian tanpa keraguan. Iman sejati adalah keberanian untuk menerima bahwa engkau diterima, meskipun engkau ragu. Jika engkau bergumul dengan keraguan tentang Tuhan, jangan putus asa. Justru di dalam pergumulan itulah, "Tuhan di atas Tuhan" hadir.
2. Jangan sembah berhala.
Apa "kepedulian ultim" dalam hidupmu? Jika itu adalah karier, uang, atau pengakuan sosial, engkau sedang menyembah berhala yang akan mengecewakanmu. Alihkan kepedulian ultimmu pada Yang Tak Terbatas, yang tidak bisa dihancurkan oleh kematian atau kegagalan.
3. Keberanian adalah afirmasi meskipun ada ketiadaan.
Engkau tidak perlu menunggu sampai semua ketakutan hilang untuk bertindak. Bertindaklah dengan takut. Cintailah meskipun engkau tahu akan kehilangan. Berkaryalah meskipun engkau tidak yakin akan hasilnya. Itulah keberanian untuk menjadi.
4. Tuhan bukanlah sainganmu.
Banyak ateis menolak "Tuhan" karena mereka membayangkan Tuhan sebagai penguasa tiran yang membatasi kebebasan mereka. Tillich berkata: "Tuhan" yang seperti itu adalah berhala. Dasar dari Ada bukanlah sainganmu. Ia adalah fondasi kebebasanmu. Semakin engkau berakar pada Dasar itu, semakin engkau bebas.
Epilog Warisan Sang Pemberani
Paul Tillich meninggal pada 22 Oktober 1965 di Chicago, pada usia 79 tahun. Di akhir hayatnya, ia masih terus menulis, memberi kuliah, dan melayani. Konon, di ranjang kematiannya, ia berbisik: "Semua misteri... Misteri rahmat."
Ia dimakamkan di Paul Tillich Park, di New Harmony, Indiana, di bawah sebuah batu besar yang sederhana. Di batu itu terukir kutipan dari khotbahnya yang paling terkenal, "You Are Accepted":
"Rahmat menyerang kita ketika kita berjalan melalui lembah yang gelap dari kehidupan yang kosong dan tidak bermakna... Kadang-kadang pada saat itu, sebuah gelombang cahaya menerobos ke dalam kegelapan kita, dan seolah-olah sebuah suara berkata: 'Engkau diterima. Diterima oleh sesuatu yang lebih besar darimu... Terimalah bahwa engkau diterima.'"
(Tillich, The Shaking of the Foundations, hlm. 162)
Tillich mengajarkan bahwa di dasar jurang keputusasaan, di mana semua "tuhan" palsu telah runtuh, ada sebuah Fondasi yang menunggu. Bukan Fondasi yang memberikan jawaban instan, tetapi Fondasi yang memberikan keberanian untuk terus bertanya.
A. Sumber Primer: Karya Tillich
- Tillich, Paul. The Courage to Be. New Haven: Yale University Press, 1952.
- Tillich, Paul. Systematic Theology. 3 vols. Chicago: University of Chicago Press, 1951–1963.
- Tillich, Paul. Dynamics of Faith. New York: Harper & Row, 1957.
- Tillich, Paul. The Shaking of the Foundations. New York: Charles Scribner's Sons, 1948.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Pauck, Wilhelm, dan Marion Pauck. Paul Tillich: His Life and Thought. New York: Harper & Row, 1976. , Biografi definitif dan sangat komprehensif.
- Adams, James Luther. Paul Tillich's Philosophy of Culture, Science, and Religion. New York: Harper & Row, 1965. , Analisis mendalam tentang pemikiran Tillich.
- Kegley, Charles W., ed. The Theology of Paul Tillich. New York: Macmillan, 1964. , Kumpulan esai kritis dari para sarjana terkemuka.
- MacIntyre, Alasdair. "God and the Theologians." Dalam The Religious Significance of Atheism, oleh Paul Tillich et al. New York: Columbia University Press, 1966. , Esai kritis dari seorang filsuf terkenal.
José Ortega y Gasset (1883–1955)
Kita kini tiba di sebuah persinggahan yang cerah dan segar, seolah-olah setelah menyeberangi hutan-hutan gelap eksistensialisme Eropa Utara, kita keluar ke sebuah padang rumput yang diterangi matahari Mediterania. Engkau memintaku untuk membedah pemikiran seorang filsuf Spanyol yang gagah, yang tulisannya sejernih anggur Rioja dan sedalam lautan Alborán. Namanya adalah José Ortega y Gasset.
Ia tidak persis sama dengan para eksistensialis yang telah kita temui. Ia tidak berbicara tentang kecemasan yang melumpuhkan seperti Kierkegaard, atau tentang neraka sebagai orang lain seperti Sartre. Sebaliknya, Ortega membawa kita pada sebuah tarian: tarian antara "aku" dan "duniaku", antara "aku" dan "keadaanku". Filsafatnya adalah undangan untuk bangun dari tidur dogmatis dan menjalani hidup sebagai petualangan.
Ambillah segelas jus jeruk atau teh hangat. Kali ini, kita akan memasuki dunia di mana "aku adalah aku dan keadaanku", dan di mana hidup adalah sebuah kapal karam.
Prolog, Sang Pembawa Pencerahan dari Spanyol
José Ortega y Gasset lahir pada 9 Mei 1883 di Madrid, dalam sebuah keluarga jurnalistik dan politis. Ibunya berasal dari keluarga pemilik surat kabar terkemuka, El Imparcial. Sejak kecil, Ortega bernapas dalam atmosfer kata-kata, debat publik, dan kerinduan untuk memodernisasi Spanyol.
Ia belajar filsafat di Spanyol, tetapi kemudian pergi ke Jerman, pusat filsafat dunia saat itu. Di Marburg, ia berguru pada Hermann Cohen dan Paul Natorp, para pemikir Neo-Kantian. Namun, yang lebih penting, ia menyerap fenomenologi Husserl dan, kemudian, eksistensialisme Heidegger.
Sekembalinya ke Spanyol, Ortega menjadi "rasul" filsafat modern. Ia percaya bahwa Spanyol membutuhkan pencerahan, dan ia mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan ide-ide besar ke dalam bahasa yang bisa dipahami oleh para dokter, insinyur, guru, dan politisi. Ia menulis esai-esai yang tajam dan puitis di surat kabar. Ia mendirikan jurnal Revista de Occidente, yang menjadi jendela dunia pemikiran bagi dunia berbahasa Spanyol.
Pada tahun 1930, ia menerbitkan buku yang melambungkan namanya ke seluruh dunia: The Revolt of the Masses (La rebelión de las masas). Buku ini adalah kritik profetis terhadap bangkitnya "manusia massa", manusia yang puas dengan menjadi rata-rata, yang tidak menghormati keunggulan, dan yang menghancurkan peradaban dari dalam.
Ketika Perang Saudara Spanyol meletus pada tahun 1936, Ortega berada dalam posisi yang sulit. Ia bukan seorang Francois, tetapi ia juga tidak mendukung Republik yang semakin radikal. Ia memilih untuk mengasingkan diri, mengajar di Prancis, Belanda, dan Argentina. Ia kembali ke Spanyol pada akhir 1940-an, tetapi selalu menjadi suara yang sedikit terpinggirkan.
Ia meninggal pada 18 Oktober 1955 di Madrid. Warisannya adalah sebuah "sekolah Madrid" yang menghidupkan kembali filsafat di dunia berbahasa Spanyol.
Gambaran Ideosinkretik
Ortega adalah seorang penulis yang sangat khas. Ia tidak menulis traktat-tebal yang padat dengan jargon. Ia menulis esai. Ia adalah eseis terbesar dalam tradisi filsafat Spanyol.
Gayanya metaforis, jernih, dan penuh dengan energi. Ia pernah berkata: "Filsafat adalah ilmu yang paling tidak diperlukan, dan justru karena itu ia adalah yang paling diperlukan." Ada semacam kemewahan dalam berpikir, sebuah tarian yang tidak memiliki tujuan praktis, tetapi justru di situlah letak martabatnya.
Ia juga seorang pemburu metafora. Metaforanya yang paling terkenal adalah kapal karam: "Hidup adalah kapal karam, tetapi menyelamatkan diri bukanlah pilihan; kita selalu sudah berada di dalam air, dan kita harus berenang." Metafora lainnya adalah aku dan keadaanku: "Aku adalah aku dan keadaanku" (Yo soy yo y mi circunstancia).
Bayangkanlah Ortega sebagai seorang torero (matador) di arena filsafat. Ia tidak membunuh banteng (ide-ide abstrak) dengan pedang, tetapi ia menari di sekitarnya, mengibaskan kain merah metafora, menunjukkan keindahan dan bahaya dari setiap ide.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 "Aku adalah Aku dan Keadaanku" (Yo soy yo y mi circunstancia)
Ini adalah kalimat paling terkenal Ortega, diucapkan pada tahun 1914 dalam buku pertamanya, Meditations on Quixote (Meditaciones del Quijote).
"Yo soy yo y mi circunstancia, y si no la salvo a ella no me salvo yo."
"Aku adalah aku dan keadaanku; dan jika aku tidak menyelamatkan keadaanku, aku tidak menyelamatkan diriku sendiri."
(Ortega, Meditations on Quixote, "Lector...", hlm. 45)
Apa maksudnya?
Ini adalah pukulan telak terhadap idealisme Cartesian. Descartes berkata, "Aku berpikir, maka aku ada." Descartes membayangkan "aku" sebagai pikiran murni yang terisolasi, yang bisa meragukan dunia, tubuh, dan orang lain.
Ortega menjawab: "Tidak. Aku tidak pernah menemukan diriku sendiri tanpa dunia. Aku selalu sudah bersama dengan dunia. Aku adalah pertemuan antara diriku dan keadaanku."
Apa itu "keadaan" (circunstancia)?
Keadaan adalah segala sesuatu yang ada di sekitarku dan yang membentuk siapa aku: tubuhku, keluargaku, bahasaku, budayaku, zamanku, bahkan selera estetikaku. Aku tidak memilih untuk lahir di Jawa pada abad ke-21. Aku tidak memilih untuk memiliki tinggi badan tertentu. Aku "terlempar" ke dalam keadaan ini (mirip dengan thrownness-nya Heidegger).
Tetapi, dan ini yang penting, aku tidak ditentukan oleh keadaanku. Keadaanku memberiku kemungkinan-kemungkinan tertentu, dan menutup kemungkinan yang lain. Tetapi di dalam batas-batas itu, aku harus memilih. Aku harus "menyelamatkan" keadaanku dengan memberinya makna, dengan mengubahnya menjadi proyek hidupku.
"Keadaan adalah repertoire kemungkinan-kemungkinan yang diberikan kepadaku untuk dipilih. Aku adalah kebebasan yang terletak di dalam situasi."
(Ortega, History as a System, hlm. 112)
Bayangkanlah seorang pemain tenis. Ia tidak memilih ukuran lapangan. Ia tidak memilih aturan permainan. Ia tidak memilih jenis raket yang disediakan. Itu semua adalah keadaannya. Tetapi, dengan raket itu, di lapangan itu, ia bisa bermain dengan gaya yang berbeda-beda: defensif, agresif, kreatif. Ia bisa memilih untuk menjadi petenis yang elegan atau yang penuh tenaga.
Atau, bayangkanlah seorang koki. Ia diberi bahan-bahan tertentu: tahu, tempe, cabai, kecap. Ia tidak bisa tiba-tiba memasak foie gras dengan bahan-bahan itu. Tetapi ia bisa menciptakan seratus variasi masakan dari tahu dan tempe. Itulah kebebasan dalam keadaan.
Implikasinya: Jangan mengutuki nasibmu. Ya, engkau tidak memilih untuk dilahirkan dalam kemiskinan, atau dengan penyakit tertentu, atau di tengah situasi politik yang kacau. Tetapi engkau bisa memilih bagaimana engkau merespons. "Menyelamatkan keadaan" berarti mengubah beban menjadi tangga, mengubah fakta menjadi takdir yang kau pilih sendiri.
Konsep 2 Rasio Vital (Razón Vital), Akal yang Berakar pada Kehidupan
Ortega mengkritik dua kutub ekstrem dalam filsafat:
- Rasionalisme abstrak (seperti Descartes, Hegel): Mereka percaya bahwa akal bisa mencapai kebenaran universal yang steril, melupakan bahwa akal selalu dimiliki oleh manusia konkret yang hidup dalam zaman tertentu.
- Irasionalisme (seperti beberapa aliran Romantik): Mereka menyerah pada perasaan, mitos, dan kekacauan.
Ortega menawarkan jalan ketiga: Rasio Vital (Razón Vital).
Apa itu Rasio Vital?
Ia adalah akal yang berakar pada kehidupan, bukan akal yang melayang di awang-awang. Akal bukanlah musuh kehidupan. Sebaliknya, kehidupan membutuhkan akal untuk menavigasi dirinya. Tetapi akal juga harus rendah hati: ia tidak bisa mengklaim memiliki kebenaran absolut yang berlaku untuk semua orang di semua zaman.
"Rasio vital adalah akal yang berfungsi untuk kehidupan, yang muncul dari kehidupan itu sendiri, dan yang bertujuan untuk menerangi realitas kehidupan yang selalu berubah."
(Ortega, The Modern Theme, hlm. 65)
Bayangkanlah seorang navigator kapal di samudra. Ia memiliki peta, kompas, dan sekstan (alat navigasi). Itu adalah "akalnya". Tetapi ia tidak bisa hanya duduk di kabin dan membaca peta. Ia harus melihat ke langit, merasakan angin, mengamati ombak. Itu adalah "kehidupannya". Navigasi yang baik adalah perpaduan antara peta (akal) dan pengamatan konkret di sini-dan-saat-ini (kehidupan).
Filsafat Rasio Vital adalah undangan untuk berhenti mencari kebenaran absolut yang membeku, dan mulai mencari kebenaran yang hidup, yang relevan untuk zamanku, untuk keadaanku, untuk proyek hidupku.
Konsep ini terkait erat dengan Rasio Vital. Jika akal selalu berakar pada kehidupan yang konkret, maka tidak ada satu sudut pandang yang bisa melihat seluruh realitas.
Ini bukanlah relativisme. Relativisme berkata: "Semua perspektif sama benarnya, tidak ada kebenaran." Perspektivisme berkata: "Setiap perspektif menangkap sebagian dari realitas, dan semua perspektif bersama-sama membentuk kebenaran yang lebih utuh."
"Realitas tidak bisa dilihat kecuali dari sudut pandang yang unik, yang dipilih secara fatal oleh setiap individu... Setiap kehidupan adalah sudut pandang tentang alam semesta. Kebenaran adalah simfoni dari semua perspektif."
(Ortega, The Modern Theme, hlm. 90-91)
Bayangkanlah sebuah gunung yang megah. Seratus pelukis duduk mengelilinginya, masing-masing dari sudut yang berbeda. Pelukis A melukis dari sisi utara, melihat tebing yang curam dan gelap. Pelukis B melukis dari sisi selatan, melihat lereng yang landai dan hijau. Pelukis C melukis dari atas, melihat kawah yang menganga.
Apakah lukisan mereka bertentangan? Tidak. Mereka saling melengkapi. Tidak ada satu lukisan pun yang bisa mengklaim sebagai "satu-satunya kebenaran" tentang gunung itu.
Begitu pula manusia. Kita masing-masing melihat "gunung" realitas dari sudut yang unik: dari sudut gender kita, budaya kita, kelas sosial kita, zaman kita. Tugas kita bukanlah memaksakan sudut pandang kita sebagai "satu-satunya kebenaran". Tugas kita adalah menyadari bahwa sudut pandang kita adalah perspektif, dan bersedia mendengarkan perspektif yang lain.
Apa faedahnya untuk kita?
Di era polarisasi politik, perspektivisme Ortega adalah obat yang mahal. Aku tidak perlu setuju denganmu, tetapi aku harus mengakui bahwa engkau melihat sesuatu yang tidak kulihat. Dialog sejati bukanlah debat untuk menang, melainkan upaya untuk "menyusun simfoni" dari perspektif-perspektif yang berbeda.
Konsep 4 "Aku Adalah Proyek" (Yo soy un proyecto), Hidup sebagai Tugas
Bagi Ortega, manusia bukanlah "benda" yang memiliki esensi tetap. Manusia adalah proyek, sebuah tugas yang harus diwujudkan.
Ini sangat mirip dengan "Eksistensi mendahului esensi"-nya Sartre, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Bagi Sartre, tidak ada esensi sama sekali. Bagi Ortega, manusia memiliki semacam "panggilan" atau "takdir" yang unik, yang harus ditemukan dan diwujudkan.
"Hidup adalah tugas. Hidup, pada dasarnya, adalah apa yang harus kita lakukan... Hidup adalah gerundif, bukan partisip: faciendum, bukan factum."
(Ortega, What is Philosophy?, hlm. 200)
Bayangkanlah engkau diberikan sebuah alat musik. Engkau tidak memilih alat musik itu (itu adalah keadanmu). Tetapi alat musik itu memiliki kemungkinan-kemungkinan tertentu: biola bisa menjadi alat melankolis, terompet bisa menjadi alat heroik. Tugasmu adalah menemukan potensi alat musikmu, dan memainkannya dengan sebaik-baiknya.
Atau, bayangkanlah sebuah biji pohon ek. Di dalam biji itu sudah terkode potensi untuk menjadi pohon ek. Tetapi potensi itu tidak akan terwujud jika biji itu tidak ditanam, disiram, dan dirawat. Manusia juga seperti itu: kita memiliki "panggilan" yang unik, tetapi panggilan itu hanyalah kemungkinan. Ia harus diwujudkan melalui pilihan dan tindakan.
Konsep 5 Pria Massa (El Hombre-Masa)
Dalam The Revolt of the Masses (1930), Ortega melontarkan kritik yang tajam, dan tampaknya semakin relevan di era kita.
Siapakah "pria massa" (hombre-masa)?
Ia bukanlah "orang miskin" atau "kelas bawah". Pria massa adalah tipe manusia yang muncul di mana-mana, di semua kelas sosial, sebagai produk dari kemajuan teknologi dan demokrasi. Cirinya:
- Ia puas menjadi seperti orang lain. Ia tidak ingin menonjol. Ia tidak ingin unggul.
- Ia memiliki banyak hak, tetapi tidak memiliki rasa tanggung jawab.
- Ia menganggap semua kemajuan peradaban (listrik, internet, rumah sakit) sebagai sesuatu yang "alamiah", seperti udara, yang tidak perlu diperjuangkan atau dirawat.
- Ia menolak otoritas berdasarkan keunggulan, dan malah memaksakan pendapatnya sendiri yang tidak terdidik.
Bayangkanlah seorang anak manja yang lahir di rumah mewah. Semua makanan tersedia di meja. Semua mainan diberikan. Ia tidak pernah harus bekerja. Ia tidak tahu dari mana asalnya uang. Ia hanya tahu menuntut: "Aku mau ini! Aku mau itu!" Ketika ada masalah, ia berteriak dan menyalahkan orang lain.
Itulah "pria massa" dalam peradaban modern. Ia menikmati hak pilih, hak bicara, hak kenyamanan, tetapi ia tidak pernah bertanya: "Apa kewajibanku pada peradaban yang memberiku semua ini?"
Ortega memperingatkan bahwa pemberontakan massa akan menghancurkan peradaban dari dalam, bukan karena massa itu jahat, tetapi karena massa tidak menghargai dan tidak mampu memelihara kerumitan peradaban.
Ortega memperingatkan bahwa pemberontakan massa akan menghancurkan peradaban dari dalam, bukan karena massa itu jahat, tetapi karena massa tidak menghargai dan tidak mampu memelihara kerumitan peradaban.
Apa faedahnya untuk kita?
Jadilah "pria unggul" (hombre excelente), bukan dalam arti bangsawan feodal, tetapi dalam arti manusia yang memiliki proyek hidup, yang berusaha melampaui dirinya sendiri, dan yang melayani sesuatu yang lebih besar dari egonya sendiri. Jangan hanya menuntut hak. Pikullah tanggung jawab. Rawatlah peradaban ini.
1. Rangkullah keadaanmu.
Engkau tidak bisa lari dari tubuhmu, dari keluargamu, dari zamanmu. Tetapi engkau bisa menari di dalamnya. Jangan buang energi untuk mengutuki nasib. Gunakan energi itu untuk "menyelamatkan keadaanmu", untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi di dalam situasimu yang unik.
2. Akalmu adalah navigator, bukan tiran.
Gunakan akalmu, tetapi jangan biarkan ia menjadi dingin dan abstrak. Rasio vital berarti berpikir sambil tetap terhubung dengan hatimu, dengan pengalaman konkretmu. Jangan menjadi robot logika. Jangan menjadi budak emosi. Jadilah navigator yang bijak.
3. Dengarkan perspektif lain.
Kebenaran bukanlah milikmu sendirian. Setiap orang yang kau temui adalah sebuah "lukisan" dari sisi lain gunung realitas. Dengarkanlah. Belajarlah. Susunlah simfoni.
4. Jangan menjadi "pria massa".
Didiklah dirimu sendiri. Hormatilah keunggulan, di mana pun itu berada. Pikullah tanggung jawab untuk merawat dan memajukan peradaban. Jangan hanya menjadi konsumen pasif. Jadilah pencipta aktif dari proyek hidupmu.
Epilog Sang Kapten yang Terus Menavigasi
Ortega meninggal pada tahun 1955, tetapi suaranya tidak mati. Ia adalah salah satu filsuf pertama yang melihat dengan jelas bahaya "manusia massa" yang kini menjadi raja di era media sosial. Ia adalah pembela "kehidupan sebagai proyek", di tengah dunia yang semakin menyeragamkan individu.
Di akhir hayatnya, ia terus menulis tentang "ide-ide dan kepercayaan" (Ideas y creencias), dan tentang bagaimana manusia modern hidup di dalam krisis karena kehilangan sistem kepercayaan yang kokoh. Tetapi ia tidak pernah menyerah pada pesimisme.
"Hidup adalah petualangan yang harus dijalani dengan keberanian dan kemurahan hati. Jadilah dirimu sendiri, tetapi dirimu yang paling tinggi. Jangan puas dengan menjadi rata-rata."
(Ortega, parafrase dari The Revolt of the Masses dan Meditations on Quixote)
Ia adalah sang kapten yang terus menavigasi, meskipun tahu bahwa kapalnya akan karam. Karena justru dalam upaya menyelamatkan kapal itulah, sang kapten menemukan martabatnya.
A. Sumber Primer: Karya Ortega
- Ortega y Gasset, José. Meditations on Quixote. Diterjemahkan oleh Evelyn Rugg dan Diego Marín. New York: W.W. Norton, 1961.
- Ortega y Gasset, José. The Revolt of the Masses. Diterjemahkan oleh Anthony Kerrigan. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1985.
- Ortega y Gasset, José. What is Philosophy?. Diterjemahkan oleh Mildred Adams. New York: W.W. Norton, 1960.
- Ortega y Gasset, José. History as a System and Other Essays Toward a Philosophy of History. Diterjemahkan oleh Helene Weyl. New York: W.W. Norton, 1961.
- Ortega y Gasset, José. The Modern Theme. Diterjemahkan oleh James Cleugh. New York: Harper & Row, 1961.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Mora, José Ferrater. Ortega y Gasset: An Outline of His Philosophy. New Haven: Yale University Press, 1957. , Pengantar klasik yang sangat jelas.
- Gray, Rockwell. The Imperative of Modernity: An Intellectual Biography of José Ortega y Gasset. Berkeley: University of California Press, 1989. , Biografi intelektual yang sangat komprehensif.
- Graham, John T. A Pragmatist Philosophy of Life in Ortega y Gasset. Columbia: University of Missouri Press, 1994. , Menggali akar pragmatisme dalam pemikiran Ortega.
- Silver, Philip W. Ortega as Phenomenologist: The Genesis of "Meditations on Quixote". New York: Columbia University Press, 1978. , Studi mendalam tentang jejak fenomenologi dalam pemikiran Ortega.
Miguel de Unamuno (1864–1936)
Kita kini tiba di hadapan seorang pemikir yang bukan hanya menulis tentang eksistensialisme, melainkan menghidupinya dengan setiap serat daging dan darahnya. Ia bukanlah filsuf akademis yang tenang, melainkan seorang Basque yang berapi-api, seorang penyair, novelis, esais, dan pemberontak spiritual. Namanya adalah Miguel de Unamuno.
Jika Ortega y Gasset adalah sang torero yang menari dengan perspektif, maka Unamuno adalah petarung jalanan yang berkelahi dengan Tuhan, dengan kematian, dan dengan dirinya sendiri di tengah malam yang gelap. Ia adalah jembatan yang menghubungkan Kierkegaard dengan Dostoevsky di tanah Spanyol. Filsafatnya berpusat pada satu jeritan: "Aku tidak ingin mati! Aku ingin hidup selamanya!"
Ambillah napas yang dalam. Kali ini, kita akan memasuki labirin jiwa seorang pria yang menangis dan berdoa, "Berikanlah aku iman, karena aku tidak memilikinya."
Prolog Pria yang Berdebat dengan Tuhan
Miguel de Unamuno y Jugo lahir pada 29 September 1864 di Bilbao, jantung wilayah Basque, Spanyol. Ia tumbuh sebagai anak yang saleh, bercita-cita menjadi imam. Tetapi iman kanak-kanaknya dihancurkan oleh badai intelektual modernitas. Ia membaca Hegel, Darwin, Marx, dan Nietzsche. Akalnya menjadi ateis, tetapi hatinya tidak pernah bisa melepaskan kerinduan akan Tuhan.
Inilah konflik sentral dalam seluruh hidupnya: pertempuran antara akal yang meragukan dan hati yang mendambakan keabadian. Ia tidak pernah menyelesaikan pertempuran ini, dan ia percaya bahwa tidak seorang pun bisa menyelesaikannya. Justru di dalam pertempuran itulah, manusia hidup secara otentik.
Pada tahun 1901, ia diangkat menjadi Rektor Universitas Salamanca, universitas tertua di Spanyol. Namun, karena kritiknya yang tajam terhadap monarki dan diktator Primo de Rivera, ia diasingkan ke pulau Fuerteventura pada tahun 1924. Ia melarikan diri ke Prancis, hidup dalam pengasingan, dan kembali ke Spanyol setelah jatuhnya diktator.
Pada tahun 1936, Perang Saudara Spanyol meletus. Pada 12 Oktober 1936, di aula Universitas Salamanca, Unamuno, yang saat itu berusia 72 tahun, menghadiri sebuah upacara yang dihadiri oleh para jenderal fasis, termasuk Millán-Astray, pendiri Legiun Asing Spanyol. Millán-Astray berteriak: "Viva la muerte!" ("Hiduplah kematian!") dan "Muera la inteligencia!" ("Matilah akal budi!").
Unamuno bangkit. Dengan suara gemetar, ia menyampaikan pidato yang kini legendaris: "Kamu akan menang, tetapi kamu tidak akan meyakinkan... Aku telah mendengar seruan nekrofilik dan tanpa makna: 'Hiduplah kematian!' Dan aku, yang telah menghabiskan hidupku untuk membentuk paradoks-paradoks... harus mengatakan kepadamu bahwa aku menganggapnya menjijikkan."
Ia ditempatkan dalam tahanan rumah. Dua bulan kemudian, pada 31 Desember 1936, ia meninggal dunia. Konon, di malam terakhirnya, ia menulis di secarik kertas: "Tuhan tidak bisa ada, tetapi jika Ia ada, Ia ada di dalam diriku."
Gambaran Ideosinkretik
"Manusia dari Daging dan Tulang" (El Hombre de Carne y Hueso)
Unamuno membuka mahakaryanya, The Tragic Sense of Life (1912), dengan sebuah deklarasi perang terhadap filsafat abstrak:
"Manusia yang dibicarakan oleh filsafat bukanlah manusia dari daging dan tulang, melainkan sebuah abstraksi: 'homo rationalis', 'homo oeconomicus', 'makhluk politik'. Tetapi aku, aku berbicara tentang manusia yang konkret, yang lahir, menderita, mencintai, dan mati, terutama mati."
(Unamuno, The Tragic Sense of Life, Bab 1, "The Man of Flesh and Bone")
Ini adalah fondasi dari seluruh eksistensialismenya. Ia tidak tertarik pada "Aku Transendental" Kant atau "Roh Absolut" Hegel. Ia tertarik pada Miguel de Unamuno yang lapar, takut, dan cemas akan kematian. Ia menolak untuk berbicara tentang "kemanusiaan" secara abstrak; ia hanya mau berbicara tentang "manusia yang spesifik, yang memiliki nama dan alamat".
Bayangkan seorang dokter bisa berbicara tentang "jantung manusia" secara anatomi: ukurannya, fungsinya, penyakit-penyakitnya. Tetapi ketika engkau sendiri yang terbaring di ranjang rumah sakit, menunggu hasil operasi jantung, engkau tidak peduli pada "jantung" sebagai konsep abstrak. Engkau peduli pada jantungmu, yang berdetak, yang mungkin berhenti. Itulah "manusia dari daging dan tulang" Unamuno: filsafat yang dimulai dari kecemasan konkret akan kematian, bukan dari konsep-konsep steril.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Rasa Tragis Kehidupan (El Sentimiento Trágico de la Vida)
Ini adalah inti dari seluruh pemikiran Unamuno.
Apa itu rasa tragis kehidupan?
Ia adalah konflik abadi antara akal dan iman, antara kepala dan hati, antara logika dan harapan. Akal berkata: "Engkau adalah kumpulan atom. Engkau akan mati. Tidak ada kehidupan setelah kematian. Semua adalah ketiadaan." Hati menjerit: "Aku tidak bisa menerima ini! Aku ingin hidup! Aku ingin bertemu lagi dengan orang-orang yang kucintai! Aku menginginkan keabadian!"
Konflik ini tidak bisa didamaikan. Engkau tidak bisa membuktikan keabadian dengan akal, dan engkau tidak bisa membungkam akalmu dengan iman yang naif. Maka, manusia hidup dalam ketegangan yang menyakitkan, dan justru ketegangan inilah yang membuat kita benar-benar hidup.
"Rasa tragis kehidupan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dihancurkan di dalam diri kita, yang menentang kematian dan ketiadaan; dan pada saat yang sama, akal kita memberi tahu kita bahwa kepercayaan pada keabadian ini tidak berdasar. Inilah kontradiksi yang menghidupkan kita."
(Unamuno, The Tragic Sense of Life, Bab 2, "The Starting-Point")
Bayangkanlah engkau adalah seorang kekasih yang terpisah dari pujaan hatinya. Akalmu berkata: "Ia telah pergi ke benua lain. Mungkin ia sudah melupakanku. Mungkin ia telah menikah dengan orang lain. Secara statistik, kemungkinan kita bersatu kembali sangat kecil." Tetapi hatimu menjerit: "Aku tidak peduli statistik! Aku mencintainya! Aku akan menunggunya! Aku percaya bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu lagi!"
Engkau tidak bisa membuktikan bahwa engkau akan bertemu lagi. Tetapi engkau juga tidak bisa membunuh harapan itu. Maka engkau hidup dalam ketegangan antara kepastian akal dan kerinduan hati. Itulah "rasa tragis kehidupan".
Unamuno berkata: jangan mencoba menyelesaikan ketegangan ini. Jangan menjadi ateis yang dingin dan puas bahwa "semua sudah jelas". Jangan menjadi orang beriman yang dogmatis dan puas bahwa "aku sudah pasti masuk surga". Kedua sikap itu adalah bentuk kematian rohani. Kehidupan sejati hanya ada di dalam pergulatan.
Konsep 2 Lapar akan Keabadian (El Hambre de Inmortalidad)
Unamuno melacak semua agama, semua filsafat, semua seni, dan semua cinta manusia pada satu sumber: lapar akan keabadian.
"Kita tidak ingin mati. Kita ingin hidup, hidup selamanya, kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Ini adalah fakta paling elementer, paling primitif, paling tidak bisa direduksi."
(Unamuno, The Tragic Sense of Life, Bab 3, "The Hunger of Immortality")
Mengapa engkau menulis buku? Karena engkau ingin melampaui kematian, meninggalkan jejak yang akan dibaca oleh generasi mendatang. Mengapa engkau membangun rumah, menanam pohon, memiliki anak? Karena engkau ingin melanjutkan dirimu sendiri melampaui jangkauan hidupmu yang singkat. Bahkan tindakan paling altruistik, mengorbankan diri untuk orang lain, adalah bentuk dari lapar ini: "Jika aku tidak bisa hidup, biarlah setidaknya apa yang kucintai tetap hidup."
Bayangkanlah engkau adalah seorang pelukis yang tahu bahwa ia akan buta besok pagi. Malam ini, engkau melukis dengan segenap jiwamu. Engkau menuangkan semua yang kau miliki ke dalam kanvas. Engkau tahu bahwa engkau tidak akan bisa melihat lukisan itu selesai, tetapi engkau ingin lukisan itu ada. Engkau ingin sesuatu dari dirimu tetap ada di dunia, bahkan setelah kemampuanmu untuk melihat lenyap.
Itulah "lapar akan keabadian". Kita semua adalah pelukis yang tahu bahwa kita akan mati. Kita menuangkan diri kita ke dalam anak-anak kita, karya-karya kita, cinta-cinta kita, dengan harapan bahwa sesuatu dari kita akan tetap hidup.
Bagi Unamuno, Tuhan adalah proyeksi tertinggi dari lapar ini. Kita mendambakan seseorang yang tidak akan mati, yang akan mengingat kita selamanya, yang akan menyimpan kita di dalam keabadian-Nya. "Aku percaya pada Tuhan karena aku ingin ada Tuhan yang mengingatku."
Konsep 3 Iman sebagai Keraguan yang Penuh Gairah (La Fe como Duda Apasionada)
Ini adalah salah satu sumbangan Unamuno yang paling orisinal. Ia mendefinisikan ulang apa itu "iman".
Iman, kata Unamuno, bukanlah kepastian. Jika engkau yakin 100% bahwa Tuhan ada, engkau tidak perlu "iman"; engkau memiliki "pengetahuan". Jika engkau yakin 100% bahwa Tuhan tidak ada, engkau juga tidak perlu "iman"; engkau memiliki "ateisme yang puas".
Iman sejati, kata Unamuno, adalah "keraguan yang penuh gairah" (la duda apasionada). Engkau tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak. Tetapi engkau memilih untuk percaya. Engkau melompat, seperti Kierkegaard, tetapi tanpa jaring pengaman. Engkau berdoa, meskipun engkau tidak tahu apakah ada yang mendengarkan.
"Iman yang tidak meragukan adalah iman yang mati. Iman sejati adalah pergulatan terus-menerus dengan keraguan. Beriman berarti ingin percaya, berjuang untuk percaya, meskipun akal berkata tidak."
(Unamuno, The Tragic Sense of Life, Bab 9, "Faith, Hope, and Charity")
Bayangkanlah seorang istri pelaut yang suaminya telah berlayar dan tidak kembali selama lima tahun. Semua orang berkata: "Suamimu sudah mati. Kapalnya karam. Terimalah kenyataan." Akalnya tahu bahwa kemungkinannya sangat kecil. Tetapi setiap malam, ia tetap menyalakan lilin di jendela. Ia tetap menyiapkan makan malam untuk dua orang. Ia tetap percaya, bukan karena ia tahu, tetapi karena ia mencintai. Itulah iman.
Unamuno sendiri berdoa sepanjang hidupnya, meskipun ia tidak pernah yakin bahwa doanya didengar. Baginya, doa adalah tindakan eksistensial paling murni: engkau menjerit ke dalam keheningan, dan justru di dalam jeritan itu, engkau menciptakan "Seseorang" yang mendengar. "Tuhan mungkin hanyalah gema dari jeritan kita sendiri," katanya. "Tetapi gema itu nyata. Ia mengubah kita."
Konsep 4 Don Quixote, Ksatria Iman yang "Gila"
Unamuno menulis sebuah buku yang indah berjudul The Life of Don Quixote and Sancho (1905), di mana ia menafsirkan ulang novel Cervantes sebagai sebuah alegori eksistensial.
Baginya, Don Quixote bukanlah orang gila yang menyedihkan. Ia adalah pahlawan eksistensialis tertinggi. Ia adalah simbol dari manusia yang memilih untuk hidup berdasarkan iman dan cita-citanya, meskipun seluruh dunia (termasuk akalnya sendiri) mengatakan bahwa ia salah.
Don Quixote melihat kincir angin, dan ia memilih untuk melihatnya sebagai raksasa. Sancho Panza, yang mewakili akal sehat dan realisme, berkata: "Itu hanya kincir angin, Tuan." Tetapi Don Quixote menyerang kincir angin itu. Ia kalah. Ia jatuh. Tetapi ia bangkit lagi, dan melanjutkan perjalanannya.
"Don Quixote tidak menang, tetapi ia berjuang. Dan di dalam perjuangan itulah letak keagungannya. Ia adalah ksatria dari iman yang absurd, yang percaya pada yang tak terlihat, dan yang menciptakan realitas dengan kekuatan keinginannya."(Unamuno, The Life of Don Quixote and Sancho, Bab 1)
Bayangkanlah seorang ilmuwan tua yang bekerja sendirian di laboratoriumnya, mencoba menemukan obat untuk kanker. Semua koleganya berkata: "Itu mustahil. Engkau membuang-buang waktumu." Data menunjukkan bahwa ia telah gagal ribuan kali. Tetapi ia terus bekerja. Ia berkata, "Aku percaya bahwa suatu hari nanti, aku akan menemukannya."
Apakah ia gila? Mungkin. Tetapi Unamuno akan berkata: "Kegilaan seperti itulah yang membuat manusia menjadi mulia." Don Quixote adalah santo pelindung bagi semua pemimpi, semua pencinta, semua pemberontak yang menolak untuk "realistis" dan memilih untuk hidup dengan gairah.
Konsep 5 Intrasitoria dan Intrahistoria, Sejarah dari Bawah
Unamuno membedakan antara "sejarah" (historia) dan "intrahistoria" (intrahistoria).
Sejarah adalah apa yang tertulis di buku teks: perang, raja, perjanjian, revolusi. Intrahistoria adalah kehidupan sehari-hari dari orang-orang biasa yang tidak pernah masuk buku sejarah: para petani yang membajak sawah, para ibu yang menidurkan anaknya, para nelayan yang menebar jala.
Bagi Unamuno, realitas sejati terletak pada intrahistoria, bukan pada sejarah. Kehidupan yang sunyi, yang berulang-ulang, yang tidak spektakuler, adalah fondasi dari segala sesuatu. Di dalam intrahistorialah "lapar akan keabadian" menemukan ekspresinya yang paling murni.
"Di bawah permukaan sejarah yang bising dan bergejolak, ada sebuah samudra yang sunyi dan dalam: kehidupan sehari-hari yang abadi. Di sanalah manusia sejati hidup, menderita, dan mati."
(Unamuno, En torno al casticismo, 1895)
Sejarah adalah riak-riak di permukaan danau. Intrahistoria adalah air di kedalaman danau itu, yang tidak bergerak, tetapi justru di sanalah kehidupan berlangsung. Para filsuf eksistensial, bagi Unamuno, harus menyelami air yang dalam itu, bukan hanya mengamati riak-riak di permukaan.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Jangan takut pada keraguanmu.
Jika engkau bergumul dengan keraguan tentang iman, tentang makna, tentang cinta, Unamuno akan memelukmu dan berkata: "Bagus. Engkau hidup." Keraguan bukanlah musuh iman. Keraguan adalah bahan bakar iman. Hanya orang yang mati secara rohani yang tidak pernah meragukan apa pun.
2. Cintailah dengan gila-gilaan.
Akal sehat akan selalu memberimu alasan untuk berhati-hati: "Jangan terlalu berharap. Nanti kecewa." Tetapi Unamuno berkata: "Cintailah dengan segenap jiwamu, meskipun engkau tahu bahwa engkau akan kehilangan. Justru karena engkau akan kehilangan, maka cintailah lebih kuat lagi."
3. Jadilah Don Quixote.
Dunia membutuhkan lebih banyak Don Quixote: orang-orang yang berani bermimpi, yang menolak sinisme, yang menyerang kincir angin meskipun semua orang menertawakan mereka. Jangan takut dianggap "gila". Kegilaan yang mulia lebih baik daripada kewarasan yang pengecut.
4. Hormatilah yang sunyi dan yang kecil.
Intrahistoria Unamuno mengingatkan kita untuk tidak hanya terpaku pada berita utama dan selebritas. Kehidupan yang paling bermakna seringkali adalah kehidupan yang sunyi: seorang ibu yang merawat anaknya, seorang petani yang merawat ladangnya, seorang guru yang mendidik murid-muridnya tanpa dikenal.
Epilog Kematian yang Heroik
Miguel de Unamuno meninggal pada malam Tahun Baru, 31 Desember 1936. Ia meninggal di Salamanca yang dingin, di bawah tahanan rumah rezim fasis yang ia tantang secara terbuka.
Legenda mengatakan bahwa di malam terakhirnya, ia menulis di secarik kertas: "Tuhan tidak bisa ada, tetapi jika Ia ada, Ia ada di dalam diriku." Kalimat ini mungkin apokrif, tetapi sangat Unamuno-esque: sebuah paradoks, sebuah doa, dan sebuah pemberontakan dalam satu tarikan napas.
Ia dimakamkan dengan sederhana. Namun, warisannya membara. Ia adalah salah satu pemikir pertama yang membawa eksistensialisme ke tanah Spanyol, dan ia melakukannya bukan dengan jargon abstrak, tetapi dengan darah, air mata, dan gairah yang membara.
"Aku tidak ingin mati, tidak! Aku tidak ingin mati, dan aku juga tidak ingin ingin mati. Aku ingin hidup, hidup, hidup, dan hidup selamanya."
(Unamuno, The Tragic Sense of Life, Bab 3)
A. Sumber Primer: Karya Unamuno
- Unamuno, Miguel de. The Tragic Sense of Life in Men and Nations. Diterjemahkan oleh J.E. Crawford Flitch. New York: Dover Publications, 1954.
- Unamuno, Miguel de. The Life of Don Quixote and Sancho, According to Miguel de Cervantes Saavedra, Expounded with Comment. Diterjemahkan oleh Homer P. Earle. London: Knopf, 1927.
- Unamuno, Miguel de. Mist (Niebla). Diterjemahkan oleh Warner Fite. New York: Knopf, 1928.
- Unamuno, Miguel de. En torno al casticismo. Madrid: Alianza Editorial, 1996.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Nozick, Martin. Miguel de Unamuno: The Agony of Belief. Princeton: Princeton University Press, 1982. , Biografi dan analisis psikologis yang sangat baik.
- Ferrater Mora, José. Unamuno: A Philosophy of Tragedy. Diterjemahkan oleh Philip Silver. Berkeley: University of California Press, 1962. , Pengantar filosofis yang tajam.
- Wyers, Frances. Miguel de Unamuno: The Contrary Self. London: Tamesis, 1976. , Studi tentang paradoks dan kontradiksi dalam diri Unamuno.
- Predmore, Richard L. The Road to Perfection in Unamuno. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1979. , Analisis tentang konsep keabadian.
Nikolai Berdyaev (1874–1948)
Kita kini tiba di hadapan seorang pemikir yang membawa kita ke wilayah yang mungkin paling misterius dan paling subur dalam lanskap eksistensialisme: Rusia di ambang revolusi, di mana salju, katedral Ortodoks, dan badai Marxisme bertabrakan. Engkau memintaku untuk membedah pemikiran seorang filsuf yang oleh banyak orang disebut sebagai "Sartre-nya Rusia" atau "Kierkegaard dari Timur", meskipun label itu, seperti biasa, terlalu sempit untuk menampung badai yang ada di dalam dirinya.
Namanya adalah Nikolai Alexandrovich Berdyaev (Николай Александрович Бердяев).
Ia adalah seorang aristokrat yang menjadi revolusioner, seorang Marxis yang menjadi Kristen Ortodoks, dan seorang Kristen yang nyaris dibakar oleh Gereja. Ia menulis tentang kebebasan, kreativitas, dan "ketiadaan" dengan gairah yang membara. Filsafatnya adalah sebuah simfoni di mana kebebasan adalah nada dasar yang menggetarkan segalanya.
Ambillah secangkir teh hitam Rusia. Kali ini, kita akan memasuki dunia di mana "kebebasan lebih primordial daripada Ada" dan di mana "manusia adalah makhluk yang harus mencipta untuk diselamatkan".
Prolog Aristokrat yang Mencintai Kebebasan Lebih dari Tuhan?
Nikolai Berdyaev lahir pada 18 Maret 1874 di Kiev, Ukraina, dalam sebuah keluarga bangsawan militer. Nenek moyangnya adalah para jenderal dan gubernur. Tetapi Berdyaev muda membenci dunia aristokrat yang steril dan munafik. Ia dikirim ke sekolah militer, tetapi ia memberontak. Ia lebih suka membaca filsafat daripada belajar strategi perang.
Ia menemukan Marxisme. Baginya, Marxisme adalah suara kenabian yang membela kaum tertindas. Ia bergabung dengan gerakan revolusioner bawah tanah. Ia ditangkap, diadili, dan dibuang ke pengasingan di Vologda, Rusia utara, selama tiga tahun.
Namun, di pengasingan itulah, Marxisme mulai retak di dalam dirinya. Ia mulai melihat bahwa Marxisme, dengan determinisme ekonominya, merendahkan manusia menjadi produk dari materi. Ia mencari sesuatu yang lebih dalam: kebebasan mutlak dari roh manusia.
Ia kembali ke Kiev, lalu ke Moskow, dan mengalami pertobatan religius. Ia tidak menjadi Ortodoks yang saleh dan patuh. Ia menjadi Kristen yang memberontak, yang menuduh Gereja telah mengkhianati semangat kenabian Kristus dan menjadi pelayan negara. Pada tahun 1922, rezim Bolshevik yang baru berkuasa menangkapnya. Ia diinterogasi oleh Felix Dzerzhinsky, kepala polisi rahasia Cheka. Dzerzhinsky bertanya: "Apakah engkau percaya pada Tuhan?" Berdyaev menjawab: "Aku percaya pada kebebasan. Aku percaya pada Kristus yang adalah Kebebasan."
Ia diusir dari Rusia selamanya. Ia menetap di Paris, dan dari sanalah suaranya meledak ke seluruh Eropa. Ia menulis puluhan buku, termasuk mahakaryanya: The Destiny of Man (1931), Slavery and Freedom (1939), dan The Meaning of the Creative Act (1916). Ia meninggal di Clamart, Prancis, pada 23 Maret 1948.
Gambaran Ideosinkretik
Berdyaev adalah kontradiksi yang hidup. Ia berpenampilan seperti bangsawan: selalu mengenakan setelan jas, janggut terawat, dan bicara dengan aksen Prancis yang halus. Tetapi pikirannya adalah badai anarkis. Ia mengkritik negara, mengkritik Gereja, mengkritik kapitalisme, dan mengkritik komunisme. Ia adalah musuh dari semua "sistem" yang membekukan kebebasan manusia.
Ia adalah seorang mistikus yang percaya pada "Yang Tak Berdasar" (Ungrund), sebuah jurang kebebasan primordial yang bahkan "mendahului" Tuhan. Konsep ini, yang ia pinjam dari mistikus Jerman Jakob Böhme, adalah jantung dari seluruh filsafatnya.
Ia juga seorang pemikir yang sangat "Rusia". Tema-temanya, penderitaan, pengharapan mesianik, cinta pada tanah air tetapi benci pada negaranya, sangat kental dengan aroma Dostoevsky. Bahkan, Berdyaev sering disebut sebagai "Dostoevsky yang menjadi filsuf".
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Primasi Kebebasan atas Ada, Yang Tak Berdasar (Ungrund)
Ini adalah fondasi paling radikal dari Berdyaev. Ia membalik seluruh metafisika tradisional.
Sejak Plato dan Aristoteles, filsafat Barat percaya bahwa Ada (Being, Sein, Esse) adalah yang paling fundamental. Segala sesuatu "ada", dan dari "Ada" itulah kita bisa berbicara tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Tuhan adalah "Ada yang Tertinggi" (Summum Esse).
Berdyaev berkata: Tidak. Kebebasan lebih primordial daripada Ada.
"Kebebasan bukanlah hasil dari Ada; ia adalah fondasi dari Ada itu sendiri. Kebebasan adalah jurang tanpa dasar (Ungrund) yang darinya segala sesuatu, termasuk Tuhan, lahir."
(Berdyaev, The Destiny of Man, Bagian I, Bab 2, "The Origin of Good and Evil")
Apa itu Ungrund?
Ungrund (Bahasa Jerman untuk "tanpa dasar") adalah jurang kebebasan murni yang tidak bisa didefinisikan, tidak bisa dibatasi, dan tidak bisa direduksi pada apa pun. Ia bukanlah "Ada", karena "Ada" sudah memiliki struktur, batas, dan definisi. Ungrund adalah kegelapan kreatif yang mendahului terang.
Bayangkanlah samudra raksasa yang gelap dan tak berdasar. Belum ada cahaya. Belum ada daratan. Belum ada makhluk. Samudra itu bukanlah "benda", ia adalah kemurnian potensi. Dari samudra inilah, secara misterius, muncul pulau-pulau "Ada": bintang-bintang, planet-planet, makhluk-makhluk hidup, dan kesadaran manusia. Tetapi samudra itu sendiri tetap ada, di bawah semua pulau, sebagai fondasi yang tak terlihat.
Ungrund adalah samudra itu. Ia adalah kebebasan primordial. Bahkan Tuhan, menurut Berdyaev, "lahir" dari Ungrund ini. Tuhan tidak menciptakan kebebasan. Tuhan menemukan kebebasan sudah ada, dan Ia menciptakan dunia dari kebebasan itu.
Apa konsekuensinya?
Kebebasan manusia bukanlah pemberian Tuhan yang bisa dicabut. Kebebasan adalah akar dari eksistensi manusia, yang se-dalam-dalamnya dengan Tuhan sendiri. Maka, ketika manusia memilih jahat, itu bukan karena "Tuhan mengizinkan", melainkan karena manusia, dengan kebebasannya yang berasal dari Ungrund, bisa memilih untuk menyimpang dari Tuhan.
Inilah sebabnya penderitaan dan kejahatan ada di dunia: karena kebebasan adalah risiko kosmik yang paling fundamental. Tanpa kebebasan, tidak ada cinta, tidak ada kreativitas, tidak ada kebaikan sejati. Tetapi dengan kebebasan, ada juga kemungkinan kejatuhan.
Konsep 2 Objektivikasi, Penjara Simbol dan Sistem
Jika kebebasan adalah fondasi, mengapa manusia modern merasa begitu tidak bebas? Di sinilah Berdyaev memperkenalkan konsep Objektivikasi (Objectivation).
Objektivikasi adalah proses di mana roh yang hidup membeku menjadi benda-benda, simbol-simbol, dan sistem-sistem yang mati.
"Dunia objektif adalah dunia yang jatuh, dunia di mana roh telah teralienasi dari dirinya sendiri dan menjadi benda... Inilah kerajaan determinisme, di mana manusia diatur oleh hukum-hukum eksternal."
(Berdyaev, Slavery and Freedom, Bab 2, "The Slavery of Man to Being")
Bayangkanlah seorang penari yang sedang menari dengan bebas. Gerakannya mengalir, spontan, penuh kehidupan. Lalu, seseorang mengambil foto penari itu. Foto itu membekukan satu momen. Itu bukanlah tarian. Itu adalah "obyek" yang bisa dianalisis, diukur, dan dikategorikan.
Sekarang, bayangkan seluruh peradaban modern adalah museum foto-foto. Kita lupa bahwa kita adalah penari. Kita malah mulai menyembah foto-foto itu. Kita berkata: "Inilah realitas." Negara, birokrasi, uang, hukum, dogma gereja, semuanya adalah hasil dari objektivikasi. Mereka adalah produk dari roh manusia yang kreatif, tetapi kini mereka berbalik dan memperbudak penciptanya.
Marx berbicara tentang "alienasi" pekerja dari hasil kerjanya. Berdyaev memperluas ini ke level kosmik: manusia teralienasi dari kebebasannya sendiri. Kita menciptakan sistem, dan sistem itu menjadi penjara kita. Kita menciptakan simbol-simbol Tuhan, dan simbol-simbol itu menjadi berhala yang menyembunyikan Tuhan yang hidup.
Jalan keluar dari objektivikasi?
Adalah kreativitas dan kebebasan roh. Setiap kali engkau menciptakan sesuatu yang baru, setiap kali engkau mencintai tanpa syarat, setiap kali engkau memberontak melawan ketidakadilan meskipun sistem mengatakan "itu legal", engkau sedang memecahkan foto-foto itu dan mulai menari lagi.
Konsep 3 Kreativitas sebagai Teurgi, Manusia sebagai Rekan Kerja Tuhan
Ini adalah konsep Berdyaev yang paling orisinal dan paling membara: kreativitas sebagai tindakan teurgis (theurgy).
Apa itu teurgi?
Teurgi adalah "pekerjaan ilahi" (theos = Tuhan, ergon = kerja). Dalam tradisi kuno, teurgi adalah ritual di mana manusia berpartisipasi dalam tindakan penciptaan ilahi. Berdyaev mengambil konsep ini dan memberinya makna eksistensial: setiap tindakan kreatif yang otentik adalah teurgi.
"Kreativitas bukanlah pengulangan dari apa yang sudah ada. Kreativitas adalah penciptaan sesuatu yang benar-benar baru, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di alam semesta. Dan dalam tindakan ini, manusia menjadi serupa dengan Sang Pencipta."
(Berdyaev, The Meaning of the Creative Act, Bab 1, "The Divine Element in Man")
Bayangkanlah Tuhan adalah seorang Sastrawan Agung yang telah menulis sebuah novel kosmik. Dunia adalah novel itu. Tetapi, pada bab ke-7, Sang Sastrawan berhenti. Ia memberikan pena-Nya kepada manusia dan berkata: "Lanjutkanlah."
Itulah posisi manusia dalam kosmos Berdyaev. Kita bukan sekadar karakter dalam cerita yang sudah ditentukan. Kita adalah rekan penulis. Setiap puisi yang kita tulis, setiap simfoni yang kita gubah, setiap anak yang kita besarkan dengan cinta, setiap tindakan keadilan yang kita perjuangkan, semuanya adalah melanjutkan penciptaan dunia.
Tetapi Berdyaev memperingatkan: kreativitas sejati harus lahir dari kebebasan, bukan dari paksaan. Jika engkau melukis hanya untuk uang, itu bukan kreativitas; itu objektivikasi. Jika engkau menulis hanya untuk ketenaran, itu bukan kreativitas; itu perbudakan. Kreativitas sejati adalah tanggapan bebas manusia terhadap panggilan Tuhan.
Konsep 4 Eksistensialisme Personalistik, Aku yang Tak Tergantikan
Berdyaev adalah salah satu pelopor personalisme eksistensial. Ia membedakan antara Individu dan Person (Pribadi).
- Individu adalah aku sebagai bagian dari spesies biologis, sebagai angka dalam statistik, sebagai "warga negara" yang bisa digantikan oleh warga negara lain. Individu adalah produk alam dan masyarakat.
- Person adalah aku yang unik, yang tak tergantikan, yang memiliki panggilan abadi. Person adalah gambar Allah di dalam diriku.
"Person adalah kebebasan yang melawan determinasi alam dan masyarakat. Person adalah keunikan yang tak bisa direduksi pada konsep-konsep umum."
(Berdyaev, Slavery and Freedom, Bab 1, "The Problem of Personality")
Bayangkanlah sebuah orkestra simfoni. Setiap pemain memainkan alat musik yang berbeda. Jika satu pemain biola sakit, ia bisa digantikan oleh pemain biola lain yang memainkan nada yang sama. Itulah "individu": ia bisa digantikan.
Tetapi bayangkanlah sekarang bahwa dirimu sendiri sedang memainkan sebuah melodi yang belum pernah ada sebelumnya, yang hanya bisa dimainkan olehmu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Jika engkau berhenti, melodi itu lenyap selamanya dari alam semesta. Itulah "Person".
Bagi Berdyaev, neraka adalah kehilangan personhood, ketika aku menjadi sekadar "individu", sekadar fungsi, sekadar nomor. Surga adalah pemenuhan personhood, ketika aku menjadi sepenuhnya diriku sendiri, unik, dan abadi.
Konsep 5 Yang Mulia dan Kaum Filistin, Kritik terhadap Borjuasi Spiritual
Berdyaev memiliki analisis yang tajam tentang masyarakat modern. Ia membedakan antara "Yang Mulia" (The Aristocrat of the Spirit) dan "Kaum Filistin" (The Bourgeois).
Ini bukanlah soal kelas sosial. Seorang bangsawan kaya bisa menjadi kaum filistin. Seorang petani miskin bisa menjadi "yang mulia".
Kaum Filistin adalah mereka yang hanya peduli pada kenyamanan, keamanan, dan kemakmuran materi. Mereka tidak memiliki "lapar akan keabadian" (seperti kata Unamuno). Mereka tidak memiliki gairah untuk mencipta. Mereka adalah konsumen pasif dari kehidupan.
Yang Mulia adalah mereka yang hidup dengan "rasa tragedi". Mereka sadar akan jurang kebebasan, mereka bergulat dengan makna, dan mereka berani mencipta meskipun tidak ada jaminan keberhasilan.
"Dunia modern telah menciptakan tipe manusia yang mengerikan: kaum filistin yang puas. Mereka telah kehilangan rasa tragedi, rasa misteri, rasa kagum pada yang tak terbatas."
(Berdyaev, The Destiny of Man, Bagian V, "The Ethics of Creativity")
Bayangkanlah dua orang yang berjalan di tepi jurang.
Yang pertama (kaum filistin) memasang pagar tinggi, membangun rumah yang nyaman jauh dari tepi, dan menutup matanya. Ia berkata, "Jurang itu tidak ada."
Yang kedua (anda) berdiri di tepi jurang, menatap ke dalam kegelapan, dan merasa ngeri. Tetapi dari kengerian itu, ia menulis puisi. Ia melukis. Ia berdoa. Ia mencipta.
Kaum filistin mencari keamanan. Anda mencari makna. Dan bagi Berdyaev, hanya Andalah yang benar-benar hidup.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Kebebasan adalah beban dan anugerah.
Engkau bukan robot yang diprogram oleh gen atau lingkungan. Engkau adalah makhluk bebas yang bisa memilih untuk mencipta atau menghancurkan, mencintai atau membenci. Jangan salahkan siapa pun atas hidupmu. Pikullah kebebasanmu dengan gagah.
2. Jangan menyembah sistem.
Negara, pasar, media sosial, opini publik, semua itu adalah produk manusia. Mereka adalah alat. Jangan jadikan mereka tuan. Jangan biarkan "objektivikasi" membekukan rohmu. Setiap kali engkau merasa "ini memang aturannya" dan menyerah pada ketidakadilan, ingatlah: aturan itu dibuat oleh manusia, dan bisa diubah oleh manusia.
3. Menciptalah.
Engkau tidak perlu menjadi seniman profesional untuk menjadi kreatif. Setiap tindakan yang lahir dari cinta dan kebebasan adalah kreativitas. Masaklah dengan cinta. Tulislah surat. Tanamlah bunga. Besarkan anakmu dengan keunikan. Engkau adalah rekan kerja Tuhan.
4. Jadilah "yang mulia", bukan "kaum filistin".
Jangan puas hanya dengan kenyamanan. Carilah makna. Bergulatlah dengan pertanyaan-pertanyaan besar. Jangan takut pada kesedihan, pada tragedi, pada misteri. Justru di sanalah engkau akan menemukan kedalaman dirimu.
Epilog Pengasingan yang Kekal
Nikolai Berdyaev meninggal di meja kerjanya di Clamart, pinggiran kota Paris, pada 23 Maret 1948. Ia dimakamkan di pemakaman Rusia di Sainte-Geneviève-des-Bois. Di batu nisannya, terukir sebuah salib Ortodoks dan kata-kata sederhana.
Ia tidak pernah kembali ke Rusia. Tetapi ia tidak pernah berhenti mencintainya, dan ia tidak pernah berhenti mengkritiknya. Ia adalah seorang pengasingan, bukan hanya secara politik, tetapi secara eksistensial. Ia adalah warga dari "kerajaan kebebasan", sebuah kerajaan yang belum datang, tetapi selalu dirindukan.
"Aku adalah pengasingan dari semua sistem, semua negara, semua ortodoksi. Aku hanya setia pada satu hal: kebebasan kreatif dari roh manusia."
(Berdyaev, Dream and Reality: An Essay in Autobiography, Epilog)
A. Sumber Primer: Karya Berdyaev
- Berdyaev, Nikolai. The Destiny of Man. Diterjemahkan oleh Natalie Duddington. New York: Harper & Row, 1960.
- Berdyaev, Nikolai. Slavery and Freedom. Diterjemahkan oleh R.M. French. London: Geoffrey Bles, 1943.
- Berdyaev, Nikolai. The Meaning of the Creative Act. Diterjemahkan oleh Donald A. Lowrie. New York: Collier Books, 1962.
- Berdyaev, Nikolai. Dream and Reality: An Essay in Autobiography. Diterjemahkan oleh Katherine Lampert. New York: Macmillan, 1951.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Lowrie, Donald A. Rebellious Prophet: A Life of Nicolai Berdyaev. New York: Harper & Brothers, 1960. , Biografi klasik yang hangat.
- Clarke, Oliver Fielding. Introduction to Berdyaev. London: Geoffrey Bles, 1950. , Pengantar yang sangat mudah diakses.
- Vallon, Michel Alexander. An Apostle of Freedom: Life and Teachings of Nicolas Berdyaev. New York: Philosophical Library, 1960. , Studi komprehensif.
- Davy, Marie-Madeleine. Nicolas Berdyaev: Man of the Eighth Day. Diterjemahkan oleh Donald Attwater. London: Geoffrey Bles, 1967. , Analisis mistisisme Berdyaev.
Samuel Beckett (1906–1989)
Kita kini tiba di ujung lidah dari corong eksistensialisme. Setelah menyelami lautan kebebasan Berdyaev, debat sengit Sartre, dan pemberontakan Camus, engkau kini meminta untuk menatap langsung ke dalam jurang sunyi itu sendiri. Engkau meminta untuk dijelaskan tentang seorang pria yang tidak menulis risalah filsafat, melainkan drama dan novel yang mencekik, yang justru karena kejujurannya, menjadi salah satu ekspresi paling murni dari eksistensialisme abad ke-20.
Namanya adalah Samuel Beckett.
Ia bukanlah "filsuf" dalam pengertian tradisional. Ia adalah seorang dramawan, novelis, dan penyair. Namun, di tangannya, panggung teater dan halaman novel menjadi laboratorium eksistensial yang lebih kejam dan lebih jujur daripada traktat filosofis mana pun. Jika Camus berkata, "Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia," Beckett berbisik, "Kau harus terus berjalan. Aku tidak bisa terus berjalan. Aku akan terus berjalan."
Ambillah napas, karena udara di sini tipis. Kita akan memasuki dunia di mana tidak ada yang terjadi, dua kali, dan di mana kata-kata adalah semua yang kita punya, meskipun kata-kata telah gagal.
Prolog Pria yang Menolak untuk Menjelaskan
Samuel Barclay Beckett lahir pada 13 April 1906 di Foxrock, pinggiran kota Dublin, Irlandia, dalam sebuah keluarga Protestan kelas menengah. Ia adalah seorang pemuda yang cemerlang, atletis (ia bermain kriket dan rugby), dan pendiam. Ia belajar sastra Prancis dan Italia di Trinity College Dublin, dan kemudian mengajar di Paris.
Di Paris, ia bertemu dengan James Joyce, penulis Ulysses, dan menjadi sekretaris serta asistennya. Beckett muda sangat terpengaruh oleh Joyce, tetapi ia segera menyadari bahwa ia tidak bisa menulis seperti Joyce, dengan ledakan kata-kata yang melimpah ruah. Beckett harus menemukan jalannya sendiri: jalan menuju kemiskinan kata, menuju keheningan, menuju kegagalan.
"Joyce adalah seorang sintesis. Aku adalah seorang analis. Ia cenderung pada kemahatahuan dan kemahakuasaan sebagai seorang seniman. Aku bekerja dengan impotensi, dengan ketidaktahuan."
(Beckett, wawancara dengan Israel Shenker, The New York Times, 1956)
Selama Perang Dunia II, Beckett bergabung dengan Résistance Prancis melawan Nazi. Ia bekerja sebagai penerjemah dan kurir. Ketika selnya dikhianati, ia dan istrinya, Suzanne, melarikan diri ke desa Roussillon di Prancis selatan. Di sanalah, dalam kemiskinan dan keheningan, ia mengalami semacam "wahyu" kreatif. Ia menyadari bahwa subyek sejatinya adalah "ketidakmampuan untuk mengungkapkan, kemiskinan ekspresi, dan kegagalan total". Dari kegagalan inilah, lahirlah mahakarya-mahakaryanya.
Pada akhir 1940-an dan 1950-an, ia menulis trilogi novel (Molloy, Malone Dies, The Unnamable) dan drama yang mengguncang dunia: Waiting for Godot (1953). Drama ini, tentang dua orang gelandangan yang menunggu seseorang yang tidak pernah datang, dipentaskan di Paris, London, New York, dan memicu kontroversi sekaligus kekaguman. Penonton marah. Penonton menangis. Penonton bingung. Beckett tidak pernah menjelaskan apa artinya.
Pada tahun 1969, ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra. Ketika mendengar berita itu, Suzanne, istrinya, berkata dengan nada khas Beckettian: "Ini adalah bencana." Beckett menerima hadiah itu, tetapi ia tidak menghadiri upacara. Ia memberikan uangnya kepada para seniman miskin dan perpustakaan.
Ia meninggal pada 22 Desember 1989, di Paris, pada usia 83 tahun.
Gambaran Ideosinkretik
Beckett adalah paradoks. Ia adalah seorang seniman yang sangat disiplin, menulis setiap pagi dengan pensil di buku tulis tebal, tetapi subyeknya adalah kekacauan. Ia adalah seorang pria yang sangat pemalu dan menolak ketenaran, tetapi karyanya dipentaskan di seluruh dunia.
Ciri-Ciri Khas Beckett:
1. Minimalisme Radikal:
Panggungnya semakin lama semakin kosong. Novelnya semakin lama semakin tipis. Kata-katanya semakin lama semakin sedikit. Ia seperti seorang pematung yang terus-menerus memahat, bukan untuk menambahkan, tetapi untuk mengurangi, hingga yang tersisa hanya esensi yang telanjang.
2. Humor yang Kelam:
Beckett sangat lucu. Tetapi humornya adalah humor tiang gantungan, tertawa di hadapan kematian. "Tidak ada yang lebih lucu daripada ketidakbahagiaan," katanya dalam Endgame.
3. Dualitas Bahasa:
Ia menulis dalam bahasa Prancis, bahasa yang bukan bahasa ibunya, karena ia merasa bahasa Prancis "tanpa gaya", lebih miskin, lebih sulit untuk menulis dengan indah. Ia ingin menulis "tanpa gaya" untuk lebih dekat pada keheningan. Kemudian ia menerjemahkan sendiri karyanya ke dalam bahasa Inggris.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Absurditas sebagai Rutinitas
Jika Camus mendefinisikan absurditas sebagai pertemuan antara jeritan manusia dan keheningan alam semesta, Beckett tidak lagi berteriak. Karakter-karakternya sudah melewati fase berteriak. Mereka sudah menerima absurditas sebagai udara yang mereka hirup.
Mereka tidak lagi bertanya, "Apa makna hidup?" Mereka bertanya, "Apa yang harus kulakukan sekarang?" Jawabannya adalah rutinitas kecil yang tidak masuk akal.
"Estragon: Mari kita pergi.
Vladimir: Kita tidak bisa.
Estragon: Kenapa tidak?
Vladimir: Kita sedang menunggu Godot."
(Beckett, Waiting for Godot, Act I)
Bayangkanlah engkau berada di sebuah ruang tunggu dokter gigi. Engkau tidak tahu kapan namamu akan dipanggil. Engkau tidak tahu apakah dokter itu ada di dalam. Engkau hanya duduk. Engkau membaca majalah usang. Engkau melihat jam. Engkau mengobrol dengan orang di sebelahmu tentang hal-hal sepele. Waktu berlalu, tetapi tidak ada yang terjadi. Engkau tidak bisa pergi (siapa tahu dokter memanggil?), tetapi engkau juga tidak bisa melakukan apa pun yang berarti.
Itulah dunia Beckett. Seluruh hidup adalah ruang tunggu itu. Godot (yang mungkin adalah Tuhan, atau makna, atau kematian, atau harapan) tidak pernah datang. Tetapi kita tetap menunggu. Itulah absurditas yang sudah menjadi rutinitas.
Konsep 2 "Aku Tidak Bisa Terus Berjalan. Aku Akan Terus Berjalan"
Ini adalah kalimat paling terkenal dari Beckett, diucapkan oleh narator dalam novel The Unnamable:
"kau harus terus berjalan, aku tidak bisa terus berjalan, aku akan terus berjalan."
(you must go on, I can't go on, I'll go on.)
(Beckett, The Unnamable, hlm. 414)
Ini adalah ringkasan dari seluruh etika Beckettian. Tidak ada alasan untuk melanjutkan hidup. Akal berkata: berhentilah. Tubuh berkata: aku lelah. Tetapi sesuatu di dalam diri kita terus berjalan. Bukan karena harapan akan hadiah, bukan karena iman akan makna, melainkan karena kegigihan itu sendiri adalah satu-satunya hal yang tersisa.
Bayangkanlah seorang pelari maraton yang kakinya kram di kilometer 40. Ia tidak bisa lagi berlari. Ia bahkan tidak bisa berjalan. Tetapi ia merangkak. Tidak ada yang menyemangatinya. Tidak ada garis finish yang akan memberinya piala. Tetapi ia tetap merangkak. Mengapa? Karena berhenti adalah sesuatu yang tidak bisa ia lakukan.
Itulah manusia Beckett. Kita adalah makhluk yang dikutuk untuk terus berjalan, meskipun tidak ada tujuan. Dan justru di dalam kutukan itulah, ada semacam keagungan yang absurd. Seperti Sisifus-nya Camus, tetapi tanpa bukit, tanpa batu, hanya tubuh yang bergerak maju.
Konsep 3 Kegagalan Bahasa dan Keindahan Gagap
Salah satu tema paling mendalam dalam Beckett adalah kegagalan bahasa.
Sejak zaman Plato, filsafat Barat percaya bahwa bahasa bisa menangkap realitas, bahwa kata-kata bisa mewakili benda-benda, bahwa pemikiran bisa diungkapkan dengan jelas. Beckett berkata: Tidak. Kata-kata adalah selubung, bukan jendela. Semakin kita berbicara, semakin kita menyadari bahwa kita tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ingin kita katakan.
"Apa yang harus kukatakan, dengan kata-kata? Apa yang harus kukatakan? Aku tidak tahu. Aku harus terus mengatakan sesuatu, selama masih ada kata-kata."
(Beckett, The Unnamable, hlm. 312)
Dalam drama Happy Days, karakter Winnie terkubur dalam gundukan tanah, pertama sampai pinggang, lalu sampai leher. Ia terus berbicara, berbicara, dan berbicara, tentang hal-hal sepele, karena berbicara adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia masih ada. Jika ia berhenti berbicara, ia lenyap.
Bayangkanlah sebuah radio rusak yang terus-menerus mengeluarkan suara statis. Kadang-kadang, di tengah statis itu, terdengar sepotong lagu atau suara manusia, tetapi segera hilang lagi. Radio itu tidak bisa diperbaiki. Tetapi ia terus menyala. Itulah bahasa manusia bagi Beckett: statis yang di dalamnya kita berharap menemukan makna, tetapi makna itu selalu menghilang.
Namun, dan ini paradoksnya, Beckett menulis dengan sangat indah tentang kegagalan. Prosa-nya puitis, ritmis, dan menghantui. Ia berhasil menciptakan karya seni yang agung justru dengan merayakan ketidakmampuan. Ini adalah contoh dari apa yang ia sebut "kegagalan yang lebih baik" (fail better).
"Pernah mencoba. Pernah gagal. Tidak apa-apa. Coba lagi. Gagal lagi. Gagal lebih baik."
(Beckett, Worstward Ho, hlm. 7)
Konsep 4 Tubuh yang Hancur dan Pikiran yang Mengoceh
Karakter-karakter Beckett adalah tubuh-tubuh yang membusuk. Mereka buta, lumpuh, bisu, atau terkubur dalam tong sampah. Dalam Endgame, Hamm tidak bisa berjalan dan buta. Clov tidak bisa duduk. Nagg dan Nell, orang tua Hamm, tinggal di dalam dua tong sampah di atas panggung.
Mengapa tubuh?
Karena Beckett ingin menyingkirkan semua ilusi romantik tentang manusia. Manusia bukanlah malaikat yang berpikir. Manusia adalah daging yang menderita. Kita lapar, kita sakit, kita gatal, kita ingin kencing. Tubuh adalah penjara, tetapi juga satu-satunya rumah kita.
"Hamm: Tidak bisakah kau memberiku sesuatu untuk menghilangkan rasa sakitku?
Clov: Tidak ada lagi obat penghilang rasa sakit."
(Beckett, Endgame)
Bayangkanlah engkau terbangun di tengah malam, dan engkau tidak bisa menggerakkan tubuhmu. Hanya matamu yang bisa bergerak. Engkau ingin berteriak, tetapi suaramu tidak keluar. Engkau terperangkap di dalam tubuhmu sendiri. Itulah kondisi karakter-karakter Beckett. Mereka adalah kesadaran yang terperangkap dalam daging yang sekarat.
Tetapi, anehnya, mereka terus berbicara. Mereka terus membuat lelucon. Mereka terus "bermain". Di dalam degradasi total, masih ada sisa-sisa martabat: kemampuan untuk menertawakan diri sendiri, untuk menceritakan sebuah kisah, untuk berbagi roti terakhir dengan teman.
Konsep 5 Hubungan sebagai Ketergantungan yang Kejam
Relasi antar manusia dalam Beckett bukanlah "neraka" seperti Sartre, juga bukan "jalan menuju keselamatan" seperti Marcel. Relasi adalah belenggu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, tetapi hidup bersamamu adalah siksaan.
Waiting for Godot adalah contoh sempurna. Vladimir dan Estragon saling membutuhkan. Mereka tidak bisa pergi sendiri-sendiri. Tetapi mereka juga terus-menerus bertengkar, saling mengabaikan, dan saling mengancam untuk berpisah.
"Estragon: Jangan menyentuhku! Jangan bertanya padaku! Jangan bicara padaku! Tinggalkan aku sendiri!
Vladimir: Apakah aku pernah meninggalkanmu?
Estragon: Kau selalu meninggalkanku."
(Beckett, Waiting for Godot, Act II)
Bayangkanlah dua orang yang dirantai bersama di sel penjara yang gelap. Mereka saling membenci. Mereka saling menyalahkan. Tetapi mereka juga saling menghangatkan di malam yang dingin. Jika salah satu mati, yang lain akan menjadi gila karena kesepian.
Itulah pernikahan, persahabatan, dan masyarakat dalam pandangan Beckett. Kita adalah budak satu sama lain, tetapi perbudakan ini lebih baik daripada keheningan absolut.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Berhentilah mengejar "jawaban besar".
Godot tidak akan datang. Makna hidup yang final dan rapi tidak akan pernah muncul. Tetapi hidup terus berjalan. Temukanlah makna di dalam hal-hal kecil: mengobrol dengan teman, menikmati secangkir kopi, menertawakan absurditas.
2. Terimalah kegagalan sebagai bagian dari proses.
"Coba lagi. Gagal lagi. Gagal lebih baik." Dunia modern memuja kesuksesan dan menyembunyikan kegagalan. Beckett adalah santo pelindung bagi mereka yang gagal. Jika engkau gagal hari ini, engkau berada di jalan yang benar. Bangkitlah, dan gagallah dengan lebih baik besok.
3. Bahasa terbatas, tetapi teruslah berbicara.
Kata-kata seringkali gagal mengungkapkan perasaan kita yang terdalam. Tetapi jangan berhenti berbicara. Karena dalam upaya untuk mengatakan yang tak terkatakan, di situlah keindahan lahir. Puisi lahir dari kegagalan bahasa, bukan dari kelancarannya.
4. Rangkullah ketergantunganmu.
Engkau membutuhkan orang lain, meskipun mereka sering menyebalkan. Kesendirian mutlak adalah kegilaan. Maka, peliharalah hubunganmu, meskipun itu sulit. Dirantai bersama lebih baik daripada hilang sendirian.
Epilog Keheningan di Akhir
Di akhir hayatnya, Beckett tinggal di sebuah panti jompo di Paris, menulis puisi-puisi pendek yang semakin minim kata. Ia menulis tentang "bayangan", "jejak", "napas".
Drama terakhirnya, Breath (1969), hanya berdurasi 35 detik. Panggung penuh dengan sampah. Terdengar suara tangisan bayi, lalu napas masuk dan napas keluar, lalu tangisan lagi, lalu tirai turun. Itu saja. Seluruh hidup manusia, dari lahir sampai mati, diringkas menjadi 35 detik. Tanpa kata. Hanya napas.
Ketika ia meninggal, pada Desember 1989, ia dimakamkan di Pemakaman Montparnasse, tidak jauh dari kuburan Sartre dan Beauvoir. Batu nisannya hanya berisi nama, tanggal, dan sebuah salib kecil. Sederhana. Hampir sunyi.
Beckett mewariskan kepada kita sebuah karya yang tidak memberikan penghiburan, tetapi memberikan kejujuran. Dan di dunia yang penuh dengan kebohongan dan slogan-slogan kosong, kejujuran adalah bentuk belas kasih yang paling langka.
A. Sumber Primer: Karya Beckett
- Beckett, Samuel. Waiting for Godot: A Tragicomedy in Two Acts. Diterjemahkan oleh Samuel Beckett. New York: Grove Press, 1954.
- Beckett, Samuel. Endgame and Act Without Words. Diterjemahkan oleh Samuel Beckett. New York: Grove Press, 1958.
- Beckett, Samuel. Three Novels: Molloy, Malone Dies, The Unnamable. Diterjemahkan oleh Samuel Beckett dan Patrick Bowles. New York: Grove Press, 1959.
- Beckett, Samuel. Worstward Ho. New York: Grove Press, 1983.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Esslin, Martin. The Theatre of the Absurd. Garden City: Doubleday, 1961. , Karya klasik yang menempatkan Beckett dalam konteks teater absurd.
- Knowlson, James. Damned to Fame: The Life of Samuel Beckett. London: Bloomsbury, 1996. , Biografi definitif yang sangat detail.
- Bair, Deirdre. Samuel Beckett: A Biography. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978. , Biografi pertama yang mendapat akses langsung ke Beckett.
- Cohn, Ruby. Back to Beckett. Princeton: Princeton University Press, 1973. , Analisis sastra yang tajam.
Eugène Ionesco (1909–1994)
Kita kini tiba di sebuah panggung yang berbeda. Setelah Beckett membawa kita ke dalam keheningan yang mencekam, engkau meminta untuk berkenalan dengan seorang dramawan yang menghancurkan keheningan itu bukan dengan jeritan, melainkan dengan tawa yang meledak-ledak dan ngeri. Namanya adalah Eugène Ionesco.
Ia adalah salah satu pelopor "Teater Absurd" (Theatre of the Absurd), bersama dengan Beckett. Tetapi jika Beckett adalah penyair sunyi dari kegagalan, Ionesco adalah badut tragis yang menunjukkan bahwa bahasa telah menjadi mayat, benda-benda telah menelan manusia, dan kematian mengintai di balik setiap cangkir kopi.
Siapkan dirimu. Kali ini, kita akan memasuki dunia di mana kursi-kursi menari, mayat-mayat membesar, dan semua orang berubah menjadi badak.
Prolog Pria yang Belajar Bahasa Inggris dari Buku dan Menjadi Gila
Eugène Ionesco lahir pada 26 November 1909 di Slatina, Rumania. Ayahnya adalah seorang Rumania, ibunya seorang Prancis. Ketika ia masih kecil, keluarganya pindah ke Paris. Namun, pada tahun 1925, orang tuanya bercerai, dan Ionesco kembali ke Rumania bersama ayahnya. Ia belajar sastra Prancis di Universitas Bucharest, mengajar bahasa Prancis, dan menulis puisi serta kritik sastra.
Pada tahun 1938, ia kembali ke Paris secara permanen, tepat sebelum Perang Dunia II meletus. Ia bekerja sebagai korektor di sebuah penerbit hukum. Dan di sinilah, di tengah-tengah teks-teks hukum yang kering dan klise, wahyu absurd itu datang.
Ionesco memutuskan untuk belajar bahasa Inggris dengan menggunakan metode Assimil, sebuah buku panduan belajar bahasa yang menyediakan dialog-dialog sederhana. Ia membaca kalimat-kalimat seperti: "Langit-langit ada di atas, lantai ada di bawah." "Keluarga Smith terdiri dari Tuan Smith, Nyonya Smith, dan anak-anak mereka." "Mereka tinggal di London."
Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Kalimat-kalimat yang seharusnya membantu itu mulai membusuk dari dalam. Ionesco merasa bahwa ia tidak sedang belajar bahasa; ia sedang menyaksikan mayat kata-kata. Kata-kata itu tidak lagi mengacu pada realitas yang hidup. Mereka hanyalah suara kosong, robotik, dan mengerikan.
Dari pengalaman ini, lahirlah drama pertamanya yang legendaris: The Bald Soprano (La Cantatrice chauve, 1950). Drama ini tidak memiliki plot, karakter yang utuh, atau pesan moral. Yang ada hanyalah klise-klise yang diucapkan oleh karakter-karakter yang semakin lama semakin kehilangan akal, hingga akhirnya mereka hanya mengeluarkan suku kata yang tidak bermakna.
Penonton marah. Penonton bingung. Tetapi drama itu terus dipentaskan, dan Ionesco menjadi salah satu bapak Teater Absurd.
Gambaran Ideosinkretik
1. Musuh dari Realisme.
Ionesco membenci "teater realis" (seperti drama Ibsen atau Chekhov yang dipentaskan secara konvensional). Baginya, realisme adalah kebohongan terbesar. Realisme berpura-pura bahwa dunia ini masuk akal, bahwa karakter memiliki psikologi yang koheren, dan bahwa plot bergerak dari A ke Z dengan logis. Padahal, kata Ionesco, dunia ini tidak masuk akal, manusia adalah misteri bagi dirinya sendiri, dan waktu bisa melompat atau membeku.
2. Pria yang Takut pada Kematian.
Ionesco adalah seorang hipokondriak dan sangat terobsesi dengan kematian. Dalam buku hariannya yang diterbitkan, Journal en miettes (Jurnal yang Hancur Berkeping), ia menulis tentang ketakutannya yang luar biasa pada kematian, bukan kematian sebagai konsep abstrak, tetapi kematian sebagai pembusukan daging, penghilangan "aku", dan ketiadaan abadi. Seluruh karyanya bisa dibaca sebagai upaya putus asa untuk menertawakan kematian, untuk mengubah kengerian menjadi lelucon, karena hanya dengan begitu ia bisa menahannya.
3. Sang Mistikus yang Tersembunyi.
Meskipun dikenal sebagai penulis absurd yang sinis, di akhir hayatnya Ionesco semakin tertarik pada mistisisme dan spiritualitas. Ia menulis tentang "cahaya" yang kadang-kadang menerobos ke dalam kegelapan hidup. Absurditas, baginya, bukanlah akhir dari segalanya; ia juga bisa menjadi jalan menuju transendensi, di mana kita menyadari bahwa di balik realitas yang membusuk ini, mungkin ada sesuatu yang tak terkatakan.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Mayat Bahasa dan Kematian Komunikasi
Ini adalah fondasi dari seluruh karya Ionesco. Ia percaya bahwa dalam masyarakat modern, bahasa telah mati.
Kata-kata tidak lagi digunakan untuk mengungkapkan pengalaman yang hidup. Kata-kata telah menjadi klise otomatis yang diulang-ulang tanpa makna. Orang tidak lagi berbicara satu sama lain; mereka hanya mengeluarkan suara yang sudah diprogram oleh masyarakat.
"Smith: Ini hari yang baik.
Mrs. Smith: Ini hari yang baik.
Smith: Hari yang baik.
Mrs. Smith: Hari yang baik."
(Ionesco, The Bald Soprano, Scene 1)
Bayangkanlah sebuah mesin penjual otomatis (vending machine). Engkau menekan tombol A3, dan keluar sebotol minuman. Engkau menekan tombol B2, dan keluar sekantong keripik. Sekarang, bayangkan manusia telah menjadi mesin penjual otomatis. Ketika seseorang berkata "Apa kabar?", engkau otomatis menjawab "Baik." Ketika seseorang berkata "Cuacanya buruk ya," engkau otomatis menjawab "Iya, hujan terus." Tidak ada pikiran. Tidak ada perasaan. Hanya respons mekanis.
Dalam The Bald Soprano, dua pasangan suami istri, keluarga Smith dan keluarga Martin, berbicara satu sama lain dengan klise-klise yang semakin lama semakin tidak nyambung. Pada akhirnya, mereka bahkan tidak bisa lagi membentuk kalimat. Mereka hanya mengoceh suku kata: "Kakak, kakek, kokok, kacang!" Bahasa telah runtuh menjadi bunyi-bunyian primitif.
Bagi Ionesco, ini adalah tragedi terbesar modernitas: kita hidup bersama tetapi kita tidak bisa berkomunikasi. Kita berbicara, tetapi tidak ada yang mendengarkan. Kata-kata adalah dinding, bukan jembatan.
Konsep 2 Benda-Benda yang Menelan Manusia (Proliferasi Obyek)
Konsep kedua Ionesco yang paling terkenal adalah proliferasi (perkembangbiakan) benda-benda mati yang menyerbu dan menelan manusia.
Dalam drama The Chairs (Les Chaises, 1952), sepasang suami istri tua mengundang tamu-tamu tak terlihat ke sebuah pertemuan. Mereka membawakan kursi demi kursi untuk para tamu yang tidak ada, hingga panggung dipenuhi oleh puluhan kursi kosong. Di akhir drama, kursi-kursi itu telah memenuhi seluruh ruang, dan pasangan itu terjebak, tidak bisa bergerak, lalu bunuh diri.
"Orang Tua: Tamu-tamu! Tamu-tamu! Selamat datang!... Lebih banyak kursi! Lebih banyak kursi!"
(Ionesco, The Chairs)
Dalam drama The New Tenant (Le Nouveau Locataire, 1957), seorang pria pindah ke apartemen baru. Perabotan-perabotannya mulai berdatangan, semakin banyak dan semakin banyak, hingga ia terkubur di dalamnya. Ia bahkan meminta agar langit-langit ditutup.
Pernahkah engkau membersihkan lemari dan menemukan bahwa engkau memiliki 50 kaos kaki yang tidak pernah kau pakai, 30 pulpen yang sudah kering, 15 botol setengah kosong, dan 100 kabel charger yang entah untuk apa? Itulah proliferasi. Benda-benda ini tidak jahat, tetapi mereka melipatgandakan diri secara misterius, dan semakin lama, merekalah yang memiliki kita, bukan kita yang memiliki mereka.
Bagi Ionesco, ini adalah simbol dari konsumsi yang menelan spiritualitas. Manusia modern menciptakan benda-benda untuk kenyamanan, tetapi benda-benda itu berbalik menjadi penjara. Kita membeli rumah yang lebih besar untuk menyimpan barang, lalu kita membeli lebih banyak barang untuk mengisi rumah. Hingga akhirnya, kita tidak punya ruang untuk bernapas.
Konsep 3 Konformitas yang Menular dan Kematian Individualitas (Rhinoceros)
Mahakarya Ionesco yang paling politis dan paling terkenal adalah Rhinoceros (1959).
Ceritanya: di sebuah kota kecil, tiba-tiba muncul seekor badak (rhinoceros). Awalnya, semua orang terkejut. Tetapi kemudian, satu per satu penduduk kota mulai berubah menjadi badak. Awalnya hanya satu, lalu dua, lalu puluhan, lalu ratusan. Badak-badak itu tidak jahat; mereka hanya kuat, tebal, dan tidak berpikir. Mereka adalah simbol dari konformitas totaliter, entah itu fasisme, komunisme, atau "hive mind" media sosial.
Tokoh utama, Bérenger, adalah seorang pemabuk yang malas dan ceroboh. Tetapi ia adalah satu-satunya manusia yang menolak untuk berubah menjadi badak. Di akhir drama, ia berdiri sendirian di panggung, dikelilingi oleh badak-badak yang mengaum. Ia berteriak:
"Aku tidak akan menyerah! Aku adalah manusia! Aku akan melawan! Aku akan tetap menjadi diriku sendiri!"
(Ionesco, Rhinoceros, Act III)
Bayangkanlah sebuah tren TikTok yang bodoh. Semua orang melakukannya. Teman-temanmu melakukannya. Media memberitakannya. Jika engkau tidak melakukannya, engkau dianggap aneh, ketinggalan zaman, atau "sok suci". Tekanannya luar biasa. Banyak orang akhirnya ikut-ikutan, meskipun mereka tahu itu bodoh, hanya untuk merasa menjadi bagian dari kerumunan. Itulah badak.
Atau bayangkanlah sebuah rapat di perusahaan. Semua orang setuju dengan ide bos, meskipun semua tahu ide itu akan gagal. Satu per satu, mereka "berubah menjadi badak", mengangguk, tersenyum, mengatakan "ide bagus, Pak." Jika engkau adalah Bérenger, engkau akan berdiri dan berkata, "Ini tidak masuk akal." Tapi beranikah engkau?
Bagi Ionesco, badak adalah simbol dari penyerahan diri pada massa, pada ideologi, pada apa pun yang membebaskan kita dari beban menjadi individu yang berpikir.
Konsep 4 Diri yang Cair dan Identitas yang Hancur
Dalam drama Ionesco, karakter bukanlah "individu" dengan kepribadian yang tetap. Mereka adalah entitas yang cair, yang bisa berubah, bertukar, atau menghilang.
Dalam The Bald Soprano, di akhir drama, keluarga Martin tiba-tiba menggantikan keluarga Smith, mengulangi dialog yang persis sama. Siapa yang asli? Siapa yang palsu? Tidak ada bedanya.
Dalam Exit the King (Le Roi se meurt, 1962), Raja Bérenger (nama yang sama dengan tokoh di Rhinoceros, tetapi karakter yang berbeda) adalah seorang raja yang sedang sekarat. Kerajaannya runtuh, tubuhnya membusuk, dan pada akhirnya ia menghilang begitu saja ke dalam kabut, tanpa ada yang bisa mengingat siapa dirinya.
"Raja Bérenger: Aku adalah Raja. Aku adalah Bérenger. Aku ada... Aku ada... Aku tidak ada lagi."
(Ionesco, Exit the King)
Lihatlah foto-foto lamamu. Lihatlah dirimu yang berusia 5 tahun, 15 tahun, 25 tahun. Apakah engkau adalah orang yang sama? Tubuhmu telah sepenuhnya berganti sel. Pikiranmu telah berubah. Mimpimu telah mati dan digantikan oleh mimpi lain. "Dirimu" adalah sebuah sungai yang terus mengalir, bukan sebuah patung yang beku.
Bagi Ionesco, identitas adalah ilusi yang kita pertahankan dengan susah payah. Di balik ilusi itu, ada kehampaan, ada ketiadaan. Dan kematian adalah momen ketika ilusi itu akhirnya runtuh sepenuhnya.
Konsep 5 Humor sebagai Senjata Melawan Kematian
Mengapa Ionesco menulis drama yang lucu tentang hal-hal yang mengerikan? Karena tertawa adalah satu-satunya senjata yang kita punya.
"Aku tidak pernah bisa menerima kematian. Aku tidak bisa menerima bahwa kita dilahirkan untuk mati. Ini adalah sebuah skandal yang tak tertahankan. Satu-satunya cara untuk menanggungnya adalah dengan menertawakannya."
(Ionesco, Notes and Counter Notes, hlm. 59)
Bayangkanlah engkau sedang menonton film horor. Di layar, monster mengerikan mengejar seorang gadis. Jantungmu berdebar. Engkau takut. Tetapi kemudian, seseorang di belakangmu berkomentar, "Lihat, monster itu jalannya pincang, kayak habis keseleo." Seluruh bioskop tertawa. Monster itu masih mengerikan, tetapi tawa telah mengambil sebagian kekuatannya.
Itulah yang dilakukan Ionesco terhadap kematian. Ia membuat kematian menjadi badut. Ia membuat mayat-mayat menari. Ia membuat kursi-kursi kosong menertawakan kita. Dengan menertawakan kengerian, kita tidak menghilangkannya, tetapi kita menolak untuk tunduk padanya.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Waspadalah pada klise.
Setiap kali engkau mendengar dirimu sendiri berkata, "Apa kabar? Baik," tanpa benar-benar memikirkannya, ingatlah Ionesco. Setiap kali engkau mendengar politisi mengulangi slogan yang sama untuk keseratus kalinya, ingatlah bahwa bahasa bisa menjadi mayat. Berjuanglah untuk berbicara dengan kata-katamu sendiri, dari hatimu sendiri.
2. Benda-benda adalah pelayan, bukan tuan.
Jika engkau merasa stres karena rumahmu penuh dengan barang, atau karena engkau terus-menerus ingin membeli sesuatu yang baru, mungkin engkau sedang diserang oleh "kursi-kursi" Ionesco. Singkirkan yang tidak perlu. Beri ruang untuk bernapas. Benda-benda harus melayanimu, bukan sebaliknya.
3. Jangan menjadi badak.
Ketika semua orang di sekitarmu mulai berpikir dan bertindak dengan cara yang sama, berhentilah. Bertanyalah: "Apakah aku benar-benar setuju, atau aku hanya ikut-ikutan?" Menjadi Bérenger yang sendirian memang sulit, tetapi menjadi badak adalah kematian jiwa.
4. Tertawalah pada kematian.
Kematian itu mengerikan. Tidak ada yang bisa mengubah fakta itu. Tetapi selama kita masih bisa menertawakannya, selama kita masih bisa membuat lelucon tentang "mayat yang membesar" atau "kursi yang menari", kita masih hidup. Humor adalah napas terakhir dari kebebasan.
Epilog Cahaya di Balik Kegelapan
Eugène Ionesco meninggal pada 28 Maret 1994 di Paris, pada usia 84 tahun. Di tahun-tahun terakhirnya, ia semakin tertarik pada mistisisme, melukis, dan merenungkan "cahaya" yang kadang-kadang ia rasakan di tengah kegelapan.
Ia bukanlah seorang ateis yang puas seperti Sartre, juga bukan seorang pemberontak yang heroik seperti Camus. Ia adalah seorang pencari yang terus-menerus gagal, yang terus-menerus bertanya, dan yang terus-menerus menertawakan kegagalannya sendiri.
Dalam salah satu esainya, ia menulis:
"Aku tidak tahu siapa aku. Aku tidak tahu mengapa aku ada. Tetapi kadang-kadang, di tengah-tengah kehampaan, aku merasakan sebuah kehadiran yang tak terkatakan. Mungkin itu adalah Tuhan. Mungkin itu hanyalah gema dari jeritanku sendiri. Aku tidak tahu. Dan itulah misterinya."
(Ionesco, Journal en miettes)
A. Sumber Primer: Karya Ionesco
- Ionesco, Eugène. The Bald Soprano and Other Plays. Diterjemahkan oleh Donald Watson. New York: Grove Press, 1958.
- Ionesco, Eugène. Rhinoceros and Other Plays. Diterjemahkan oleh Derek Prouse. New York: Grove Press, 1960.
- Ionesco, Eugène. Exit the King. Diterjemahkan oleh Donald Watson. New York: Grove Press, 1963.
- Ionesco, Eugène. Notes and Counter Notes: Writings on the Theatre. Diterjemahkan oleh Donald Watson. New York: Grove Press, 1964.
- Ionesco, Eugène. Journal en miettes. Paris: Gallimard, 1967.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Esslin, Martin. The Theatre of the Absurd. Garden City: Doubleday, 1961. , Karya klasik yang menempatkan Ionesco dalam konteks teater absurd.
- Hayman, Ronald. Eugène Ionesco. New York: Frederick Ungar, 1972. , Pengantar yang solid dan mudah diakses.
- Coe, Richard N. Ionesco: A Study of His Plays. London: Methuen, 1971. , Analisis mendalam tentang setiap drama utama.
- Cohn, Ruby. From Desire to Godot: Pocket Theater of Postwar Paris. Berkeley: University of California Press, 1987. , Studi yang menempatkan Ionesco dalam lingkaran intelektual Paris.
Martin Buber (1878–1965)
Kita kini tiba di sebuah oasis yang teduh. Setelah melintasi gurun absurditas bersama Beckett, dan menyaksikan mayat-mayat kata menari bersama Ionesco, engkau memintaku untuk membedah pemikiran seorang filsuf yang menawarkan jalan keluar dari neraka isolasi eksistensial. Namanya adalah Martin Buber.
Ia bukanlah eksistensialis dalam pengertian Sartre atau Camus. Ia tidak berbicara tentang kebebasan yang mengerikan atau absurditas yang memberontak. Sebaliknya, Buber adalah filsuf dialog, yang percaya bahwa makna hidup tidak ditemukan di dalam kesendirian, melainkan di dalam perjumpaan yang otentik antara Aku dan Engkau. Jika Sartre berkata, "Neraka adalah orang lain," Buber menjawab dengan lembut, "Surga juga bisa menjadi orang lain, jika kita bertemu sebagai 'Engkau'."
Siapkan hatimu. Kali ini, kita akan memasuki ruang di mana "pada mulanya adalah relasi", dan di mana Tuhan bersembunyi di antara dua manusia yang saling menyapa.
Prolog Pertemuan dengan Seekor Kuda dan Lahirnya Filsafat Dialog
Martin Mordechai Buber lahir pada 8 Februari 1878 di Wina, Austria, dalam keluarga Yahudi yang terpelajar. Ketika ia berusia tiga tahun, orang tuanya bercerai, dan ia dikirim untuk tinggal bersama kakek-neneknya di Lemberg (sekarang Lviv, Ukraina). Kakeknya, Solomon Buber, adalah seorang sarjana Midrash terkemuka.
Di rumah kakeknya yang penuh dengan buku-buku kuno, Buber kecil tenggelam dalam lautan teks. Tetapi ada satu pengalaman di masa kecilnya yang ia sebut sebagai "peristiwa primordial" yang membentuk seluruh filsafatnya.
Ketika berusia sekitar 11 tahun, Buber sering menghabiskan waktu di kandang kuda milik kakeknya. Ia sangat mencintai seekor kuda belang abu-abu. Setiap kali ia mengelus leher kuda itu, ia merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan:
"Ketika aku mengelus kuda itu, aku merasakan 'Yang Lain', bukan sebagai obyek yang bisa kugunakan, melainkan sebagai kehadiran yang hidup, yang bergetar di bawah tanganku. Itu adalah perjumpaan dengan 'Engkau' yang tidak bisa direduksi menjadi 'Dia'."
(Buber, Between Man and Man, "Autobiographical Fragments")
Suatu hari, ia mulai berpikir tentang "kesenangan" yang ia dapatkan dari mengelus kuda itu. Ia mulai menganalisis sensasinya sendiri. Dan seketika itu juga, keajaiban itu lenyap. Kuda itu kembali menjadi sekadar "obyek", sebuah hewan peliharaan yang bisa diamati.
Pengalaman ini mengajarinya bahwa ada dua cara fundamental untuk berelasi dengan realitas: sebagai "Engkau" (yang hidup, yang dijumpai) dan sebagai "Dia" (yang dianalisis, yang digunakan).
Gambaran Ideosinkretik
1. Zionis Kultural, Bukan Politis.
Buber adalah seorang Zionis, tetapi Zionismenya sangat khas. Ia tidak mendirikan negara dengan senjata; ia mendirikan penerbitan, universitas, dan gerakan pendidikan. Ia percaya bahwa kebangkitan Yahudi harus dimulai dari kebangkitan spiritual dan kultural, bukan dari kekuatan militer. Ia bermimpi tentang "negara binasional" di mana Yahudi dan Arab hidup berdampingan sebagai "Engkau" dan "Engkau". Ia menentang kekerasan, dan posisinya ini membuatnya dikritik dari berbagai pihak.
2. Penyelamat Hasidisme dari Kuburan.
Buber adalah orang yang "menemukan kembali" Hasidisme, sebuah gerakan mistik Yahudi dari Eropa Timur, dan memperkenalkannya kepada dunia modern. Ia mengumpulkan dan menulis ulang kisah-kisah para Rabbi Hasidik, bukan sebagai cerita rakyat yang mati, tetapi sebagai bukti hidup bahwa manusia modern pun bisa menjumpai Tuhan di dalam keseharian. Baginya, Hasidisme mengajarkan bahwa setiap momen, setiap benda, setiap orang, adalah pintu menuju Tuhan.
3. Filsuf yang Menolak Label.
Buber tidak suka disebut "filsuf". Ia lebih suka disebut "peziarah" atau "pencinta dialog". Bukunya yang paling terkenal, I and Thou (Ich und Du, 1923), bukanlah sebuah traktat filosofis yang kaku, melainkan sebuah puisi filosofis, sebuah doa yang ditulis dalam bentuk esai. Buku ini sangat tipis, tetapi setiap kalimatnya begitu padat sehingga bisa direnungkan berhari-hari.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Dua Kata Dasar, Aku-Engkau dan Aku-Dia (Ich-Du dan Ich-Es)
Ini adalah fondasi dari seluruh pemikiran Buber. Ia membuka I and Thou dengan kalimat yang sederhana namun mengguncang:
"Bagi manusia, dunia ini ada dua, sesuai dengan dua sikap dasarnya. Sikap manusia ada dua, sesuai dengan dua kata dasar yang bisa ia ucapkan. Kata-kata dasar itu bukanlah kata tunggal, melainkan pasangan kata. Satu pasangan kata adalah Aku-Engkau. Pasangan kata yang lain adalah Aku-Dia."
(Buber, I and Thou, Bagian I, hlm. 3)
Apa maksudnya?
1. Aku-Dia (Ich-Es) adalah mode di mana aku memperlakukan sesuatu sebagai obyek.
Aku mengamatinya, menganalisisnya, mengukurnya, menggunakannya, atau mengategorikannya. Aku bisa memiliki "Dia". Aku bisa memanipulasi "Dia". "Dia" tidak memiliki kehadiran yang hidup; "Dia" adalah data, alat, atau statistik.
2. Aku-Engkau (Ich-Du) adalah mode di mana aku berjumpa dengan sesuatu sebagai subyek, sebagai kehadiran yang hidup, sebagai "Engkau" yang tidak bisa direduksi menjadi kategori atau fungsi.
Dalam perjumpaan ini, aku tidak "memiliki" Engkau. Aku tidak "menggunakan" Engkau. Aku hanya hadir di hadapanmu, dan engkau hadir di hadapanku.
Bayangkanlah engkau sedang berjalan di taman. Engkau melihat sebuah pohon.
- Dalam mode Aku-Dia, engkau bisa menganalisis pohon itu: "Ini adalah Ficus benjamina, tinggi sekitar 7 meter, berusia sekitar 20 tahun, memiliki 1.243 daun." Engkau mengategorikannya, mengukurnya, dan memasukkannya ke dalam skema botani. Itu berguna, itu ilmiah, tetapi pohon itu tidak "berbicara" kepadamu.
- Dalam mode Aku-Engkau, engkau berdiri di bawah pohon itu dan merasakan kehadirannya. Engkau tidak menganalisisnya. Engkau membiarkan pohon itu menyapamu dengan keteduhannya, dengan gemerisik daunnya, dengan akarnya yang mencengkeram bumi. Engkau dan pohon itu "bertemu". Engkau bukan lagi subyek yang meneliti obyek; engkau adalah makhluk yang berjumpa dengan makhluk lain.
Mode Aku-Dia adalah mode yang mendominasi sains, teknologi, dan administrasi. Mode ini sangat penting dan tidak bisa dihindari. Kita tidak bisa membangun jembatan tanpa menghitung sebagai mode Aku-Dia. Tetapi Buber memperingatkan: jika kita hanya hidup dalam mode Aku-Dia, kita akan mati secara rohani. Kita akan menjadi seperti robot yang berinteraksi dengan robot.
Konsep 2 "Yang Lain" Bukanlah Neraka, Melainkan Jalan Menuju Diri Sejati
Di sinilah Buber menawarkan koreksi yang indah terhadap Sartre.
Sartre berkata: "Neraka adalah orang lain," karena pandangan orang lain membekukan kebebasanku dan menjadikanku obyek.
Buber berkata: "Aku menjadi Aku hanya melalui Engkau." Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri dalam isolasi. Aku hanya bisa menemukan diriku ketika aku berjumpa dengan "Engkau" yang otentik.
"Manusia menjadi Aku melalui Engkau... Semua kehidupan sejati adalah perjumpaan."
(Buber, I and Thou, Bagian I, hlm. 11)
Bayangkanlah sebuah piano. Piano itu tidak akan menghasilkan musik jika ia hanya duduk sendirian di ruangan kosong. Ia membutuhkan seorang pianis yang menyentuh tuts-tutsnya. Dan sang pianis juga tidak akan menjadi "pianis" tanpa piano. Mereka saling "memanggil" satu sama lain.
Begitu pula manusia. Aku tidak bisa menjadi "Aku yang sejati" sendirian di dalam kepalaku. Aku membutuhkan "Engkau" yang memanggilku, yang menantangku, yang mendengarkanku. Aku menjadi "Aku" hanya di dalam dialog.
Ini adalah fondasi dari etika dialogis Buber: aku memiliki tanggung jawab untuk memperlakukan orang lain sebagai "Engkau", bukan sebagai "Dia". Ketika aku memperlakukanmu sebagai "Dia" (sebagai alat, sebagai nomor, sebagai fungsi), aku tidak hanya merendahkanmu; aku juga merendahkan diriku sendiri, karena aku menutup pintu menuju perjumpaan yang otentik.
Konsep 3 "Antara" (Das Zwischen), Ruang Sakral di Antara Kita
Salah satu konsep Buber yang paling orisinal adalah "Antara" (das Zwischen atau the Between).
Ketika dua orang berjumpa sebagai Aku dan Engkau, ada sesuatu yang lahir di antara mereka. Itu bukan milikku, dan bukan milikmu. Itu adalah ruang ketiga, sebuah "medan energi" yang diciptakan oleh perjumpaan itu sendiri.
"Yang paling fundamental adalah bukan individu atau kolektif, melainkan 'Antara'. Di dalam 'Antara'-lah, manusia menjadi manusia."
(Buber, Between Man and Man, "What is Man?", hlm. 203)
Bayangkanlah dua orang yang sedang bermain musik bersama. Yang satu memainkan gitar, yang lain menyanyi. Musik yang lahir bukanlah milik gitaris saja, atau penyanyi saja. Musik itu ada di antara mereka, sebagai hasil dari dialog musikal mereka. Jika salah satu berhenti, musik itu lenyap.
Atau bayangkanlah dua sahabat yang sedang mengobrol di kafe. Tiba-tiba, obrolan itu mencapai suatu kedalaman yang tak terduga. Sebuah wawasan muncul, bukan dari otak salah satu dari mereka, tetapi dari ruang di antara mereka. Keduanya merasa bahwa "sesuatu" telah lahir yang tidak bisa direduksi menjadi kontribusi individu.
Buber menyebut ruang ini sebagai "Yang Sakral". Tuhan tidak bersemayam di langit. Tuhan bersemayam di dalam "Antara", di dalam dialog yang otentik antara manusia. "Ketika dua orang bertemu dengan hati yang terbuka," kata Buber, "Tuhan hadir di antara mereka."
Konsep 4 Engkau Abadi (Das Ewige Du), Tuhan sebagai Mitra Dialog
Ini adalah puncak dari filsafat Buber, dan konsepnya yang paling puitis.
Kita bisa berelasi dengan alam sebagai "Engkau". Kita bisa berelasi dengan sesama manusia sebagai "Engkau". Tetapi, kata Buber, ada satu "Engkau" yang tidak bisa direduksi menjadi "Dia" sepenuhnya, yang selalu menunggu di balik semua perjumpaan. Itulah "Engkau Abadi" (Das Ewige Du), atau Tuhan.
"Dalam setiap perjumpaan dengan Engkau yang tunggal, kita merasakan hembusan napas dari Engkau Abadi... Setiap Engkau yang partikular adalah jendela menuju Engkau Abadi."(Buber, I and Thou, Bagian III, hlm. 75)
Bayangkanlah engkau sedang mendengarkan simfoni. Engkau mendengar biola, cello, flute, timpani. Setiap alat musik adalah "Engkau" yang partikular. Tetapi di balik semua suara itu, engkau merasakan kehadiran sang komposer yang tidak terlihat. Engkau tidak bisa menangkapnya secara langsung, tetapi ia hadir di setiap nada.
Begitu pula Tuhan. Buber tidak percaya pada Tuhan yang bisa "dibuktikan" dengan argumen filosofis. "Tuhan" yang bisa dibuktikan adalah "Dia", sebuah obyek teologi. Tetapi Tuhan yang hidup adalah "Engkau" yang tidak bisa direduksi menjadi konsep. Kita hanya bisa "menjumpai"-Nya, bukan "membuktikan"-Nya.
Dan di sinilah letak kritik Buber terhadap agama dogmatis. Agama seringkali membunuh Tuhan dengan mengubah-Nya menjadi "Dia": "Tuhan adalah Mahakuasa, Mahatahu, dan memiliki 99 atribut." Itu semua adalah teologi Aku-Dia. Itu mungkin berguna, tetapi itu bukanlah iman yang hidup. Iman yang hidup adalah berbicara kepada Tuhan sebagai "Engkau", meskipun "Engkau" itu diam.
"Aku tidak tahu apa itu Tuhan. Aku hanya tahu bahwa aku bisa berbicara kepada-Nya, dan kadang-kadang aku merasa bahwa Ia mendengarkan. Itu sudah cukup."
(Parafrase dari berbagai esai Buber)
Konsep 5 Monolog dan Dialog, Krisis Modernitas
Buber membedakan antara "monolog" dan "dialog".
- Monolog adalah ketika aku berbicara, tetapi aku tidak benar-benar mengharapkan respons dari "Engkau" yang sejati. Aku berbicara kepada diriku sendiri, atau kepada "Dia" yang sudah kukategorikan. Media sosial, periklanan, propaganda politik, banyak dari ini adalah monolog yang menyamar sebagai dialog.
- Dialog adalah ketika aku berbicara dengan seluruh diriku, dan aku membiarkan "Engkau" berbicara dengan seluruh dirinya. Aku tidak memanipulasi. Aku tidak mendiagnosis. Aku hanya mendengarkan.
"Dialog sejati adalah ketika masing-masing partisipan benar-benar hadir bagi yang lain, dan benar-benar berbicara dari kedalaman dirinya, tanpa pretensi, tanpa topeng."
(Buber, Between Man and Man, "Dialogue", hlm. 19)
Bandingkanlah dua skenario:
Skenario 1: Chatbot Layanan Pelanggan. Engkau menelepon bank, dan sebuah suara otomatis berkata: "Tekan 1 untuk informasi rekening. Tekan 2 untuk pengaduan." Engkau menekan 1. Suara itu merespons dengan menu lain. Ini adalah monolog teknis. Tidak ada "Engkau" di sini. Hanya "Dia" yang sudah diprogram.
Skenario 2: Percakapan dengan Sahabat Lama. Engkau duduk di sofa, dan sahabatmu bertanya, "Apa kabarmu sebenarnya?" Engkau berhenti sejenak. Engkau tidak memberikan jawaban "Baik" yang otomatis. Engkau menjawab dengan jujur, "Aku sedang berjuang. Aku merasa kesepian." Sahabatmu tidak memberikan nasihat. Ia hanya memegang tanganmu dan berkata, "Aku di sini." Itulah dialog.
Buber memperingatkan bahwa peradaban modern semakin tenggelam dalam "monolog kolektif". Kita punya lebih banyak teknologi komunikasi daripada sebelumnya, tetapi kita semakin sedikit berkomunikasi. Kita saling mengirim pesan, tetapi kita tidak saling mendengarkan.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Berlatihlah untuk "meng-Engkau-kan" orang lain.
Setiap orang yang kau temui hari ini, kasir, supir taksi, rekan kerja, bisa menjadi "Dia" atau "Engkau". Cobalah untuk mengubah satu interaksi saja. Alih-alih melihat kasir sebagai "mesin yang memproses pembayaranmu", lihatlah matanya. Senyumlah dengan tulus. Tanyakan, "Apa kabar?" dan dengarkan jawabannya. Itu adalah revolusi kecil yang bisa mengubah duniamu.
2. Hadirlah sepenuhnya dalam percakapan.
Ketika seseorang berbicara kepadamu, jangan memikirkan apa yang akan kau katakan selanjutnya. Jangan mengecek ponselmu. Jangan mendiagnosisnya. Dengarkanlah dengan seluruh tubuhmu. Jadilah seperti tanah yang menyerap air hujan. Itulah dialog.
3. Carilah Tuhan di "Antara".
Jangan hanya mencari Tuhan di buku-buku, di masjid atau gereja, atau di langit. Carilah Dia di dalam perjumpaanmu dengan sesama. Ketika engkau benar-benar bertemu dengan seseorang, sesuatu yang sakral sedang terjadi. "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku hadir di antara mereka."
4. Gunakan teknologi, tetapi jangan diperbudak olehnya.
Teknologi hampir selalu beroperasi dalam mode Aku-Dia. Itu tidak buruk. Tetapi jangan biarkan mode Aku-Dia menjadi satu-satunya mode hidupmu. Letakkan ponselmu. Pergilah ke taman. Temuilah seorang sahabat secara langsung. Sentuhlah seekor kuda, seperti Buber kecil.
Epilog Sang Peziarah yang Terus Mencari Dialog
Martin Buber meninggal pada 13 Juni 1965 di Yerusalem, pada usia 87 tahun. Pemakamannya dihadiri oleh ribuan orang Yahudi dan Arab. Banyak dari mereka yang menangis. Mereka tidak hanya kehilangan seorang filsuf; mereka kehilangan seorang sahabat dialog.
Di akhir hayatnya, Buber terus menulis, terus mengajar, dan terus mencari dialog. Ia tidak pernah berhenti percaya bahwa perdamaian adalah mungkin, bukan melalui perjanjian politik yang rapuh, tetapi melalui perjumpaan Aku-Engkau antara individu-individu yang berani saling memandang sebagai manusia.
Di batu nisannya, terukir kalimat sederhana: "Ia percaya pada dialog."
A. Sumber Primer: Karya Buber
- Buber, Martin. I and Thou. Diterjemahkan oleh Walter Kaufmann. New York: Charles Scribner's Sons, 1970.
- Buber, Martin. Between Man and Man. Diterjemahkan oleh Ronald Gregor Smith. London: Routledge, 2002.
- Buber, Martin. The Way of Man According to the Teachings of Hasidism. Diterjemahkan oleh Maurice Friedman. New York: Citadel Press, 1964.
- Buber, Martin. Tales of the Hasidim. 2 vols. Diterjemahkan oleh Olga Marx. New York: Schocken Books, 1947.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Friedman, Maurice. Martin Buber: The Life of Dialogue. Chicago: University of Chicago Press, 1955. , Biografi dan analisis definitif oleh murid Buber sendiri.
- Kramer, Kenneth Paul. Martin Buber's I and Thou: Practicing Living Dialogue. New York: Paulist Press, 2003. , Panduan praktis untuk menerapkan pemikiran Buber.
- Theunissen, Michael. The Other: Studies in the Social Ontology of Husserl, Heidegger, Sartre, and Buber. Diterjemahkan oleh Christopher Macann. Cambridge: MIT Press, 1984. , Analisis perbandingan yang sangat tajam.
- Avnon, Dan. Martin Buber: The Hidden Dialogue. Lanham: Rowman & Littlefield, 2000. , Studi mendalam tentang dimensi politik pemikiran Buber.
Lev Shestov (1866–1938)
Kita kini tiba di hadapan seorang pemikir yang sulit, liar, dan tak kenal kompromi. Jika Buber mengajak kita masuk ke dalam dialog yang hangat, maka tokoh yang satu ini justru menyeret kita ke dalam badai. Ia adalah seorang pemberontak yang berperang sendirian melawan “Akal” dan “Keniscayaan”.
Namanya adalah Lev Shestov (Лев Шестов).
Ia adalah salah satu suara paling radikal dalam eksistensialisme religius. Ia tidak menawarkan sistem, pelipur lara, atau jawaban yang rapi. Sebaliknya, ia memberikan sebuah jeritan. Jeritan bahwa bagi Tuhan, “segala sesuatu adalah mungkin”, bahkan untuk membatalkan apa yang telah terjadi. Bagi Shestov, Iman adalah sebuah lompatan ke dalam Absurd yang menolak untuk tunduk pada hukum logika dan moral.
Mari kita masuki malam sunyi di mana Lev Shestov berjaga, menantang tembok Keniscayaan dengan teriakan iman.
Prolog Filsuf yang Mengutuk Socrates dan Memeluk Ayub
Lev Isaakovich Shestov (nama asli Yehuda Leib Schwarzmann) lahir pada 12 Februari 1866 di Kiev, dalam keluarga pengusaha tekstil Yahudi yang kaya. Ia belajar hukum di Moskow, tetapi segera meninggalkan karier hukum setelah menulis disertasi tentang hak-hak buruh yang ditolak oleh sensor Tsar. Sejak saat itu, ia mengabdikan hidupnya sepenuhnya pada filsafat dan sastra.
Ia adalah seorang “filsuf tanpa katedra”. Ia tidak pernah memiliki posisi akademis formal. Ia menulis di kafe-kafe, di pengasingan, di tengah revolusi dan perang. Ia adalah seorang Rusia sejati, yang menulis dengan gaya aforistik, penuh paradoks, dan selalu menyerang “Yang Besar”: Socrates, Spinoza, Hegel, Husserl. Ia memuja Dostoevsky, Nietzsche, Kierkegaard, dan terutama Alkitab.
Shestov adalah seorang Yahudi yang sangat terikat pada Alkitab Ibrani, tetapi ia menolak Yudaisme rabbinik yang menurutnya terlalu banyak berkompromi dengan akal Yunani. Bagi Shestov, dosa terbesar filsafat adalah menundukkan Iman di bawah Akal, dan menjadikan Tuhan sebagai “Yang Maha Masuk Akal”. Ia ingin mengembalikan Tuhan yang Liar, yang tidak terikat oleh hukum logika, yang bisa membalikkan gunung dan membatalkan masa lalu.
Pada tahun 1921, ia meninggalkan Rusia Bolshevik selamanya. Ia menetap di Paris, di mana ia menjadi tokoh penting dalam lingkaran intelektual emigran Rusia. Ia berteman dan berdebat dengan Husserl, Heidegger, dan Berdyaev. Husserl, pendiri fenomenologi, pernah berkata kepadanya: “Engkau adalah lawan terbesarku, tetapi engkau juga adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar aku hormati.”
Shestov meninggal pada 20 November 1938 di Paris, pada usia 72 tahun.
Gambaran Ideosinkretik
1. Musuh Besar: Keniscayaan (Necessity).
Bagi Shestov, ular di Taman Eden bukanlah sekadar godaan hawa nafsu. Ular itu adalah “Kau akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 3:5). Artinya, manusia jatuh bukan karena membangkang, melainkan karena memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Manusia mulai percaya bahwa ada “hukum abadi” yang mengatur alam semesta, bahwa 2+2=4 adalah takdir, bahwa masa lalu tidak bisa diubah, bahwa ada “keniscayaan” (Ananke) yang bahkan mengikat Tuhan. Inilah dosa asal filsafat: menyerahkan diri pada Keniscayaan.
2. Jerusalem vs. Athena.
Shestov terkenal dengan dikotominya yang tajam: Athena melawan Yerusalem. Athena adalah simbol akal, logika, keniscayaan, Socrates, dan semua filsafat yang mencari “kebenaran universal”. Yerusalem adalah simbol iman, wahyu, absurditas, Ayub, Abraham, dan para nabi yang menangis dan berteriak kepada Tuhan. Shestov dengan tegas memilih Yerusalem dan mengutuk Athena.
3. Gaya Menulis yang Meledak-ledak.
Shestov tidak menulis traktat yang dingin. Ia menulis esai yang penuh dengan jeritan, ironi, dan kemarahan. Ia sering mengulang-ulang satu ide dengan variasi yang berbeda, seperti seorang nabi yang berusaha membangunkan pendengarnya dari tidur dogmatis. Membaca Shestov adalah pengalaman yang mengguncang, bukan sekadar latihan intelektual.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Filsafat Tragedi vs. Filsafat Keseharian
Shestov membedakan antara dua jenis manusia, yang diwakili oleh dua jenis filsafat:
1. Filsafat Keseharian (atau Filsafat Akal Sehat).
Ini adalah filsafat yang dibangun di atas fondasi bahwa dunia ini pada dasarnya masuk akal, teratur, dan adil. Manusia “keseharian” percaya bahwa jika kita hidup secara benar, kita akan bahagia. Jika kita sakit, kita pergi ke dokter. Jika kita gagal, kita berusaha lagi. Filsafat ini optimis, praktis, dan berguna, selama semuanya berjalan normal.
2. Filsafat Tragedi.
Tetapi, kata Shestov, ada saat-saat dalam hidup di mana fondasi itu runtuh. Ketika orang yang paling kau cintai mati dengan cara yang mengerikan dan tidak adil. Ketika engkau didiagnosis penyakit terminal. Ketika semua “hukum moral” dan “hukum alam” terasa seperti ejekan. Di saat-saat itulah, Filsafat Keseharian menjadi sampah. Engkau tidak lagi bertanya, “Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?” melainkan, “Mengapa ini terjadi? Apakah mungkin untuk membatalkannya?”
“Filsafat tragedi adalah filsafat dari mereka yang telah menatap jurang, yang telah dihancurkan oleh kengerian eksistensi, dan yang menolak untuk dihibur oleh dongeng-dongeng akal.”
(Shestov, Dostoevsky, Tolstoy, and Nietzsche, Bab “The Conquest of the Self-Evident”)
Bayangkanlah seorang ayah yang anaknya meninggal karena kanker. Semua temannya datang dan berkata, “Ini sudah takdir.” “Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.” “Waktu akan menyembuhkan.” Itu semua adalah Filsafat Keseharian. Itu semua adalah balsem palsu yang menutupi luka tanpa menyembuhkannya.
Sang ayah tidak menginginkan “hikmah”. Ia menginginkan anaknya kembali. Ia menjerit kepada Tuhan, kepada alam semesta: “Kembalikan anakku! Batalkan kematiannya!” Jeritan itu tidak masuk akal. Jeritan itu “mustahil” secara logis. Tetapi justru di dalam jeritan itulah, iman sejati lahir. Shestov memihak sang ayah.
Konsep 2 Iman sebagai Perjuangan Melawan Keniscayaan
Ini adalah jantung dari seluruh pemikiran Shestov: Iman bukanlah penerimaan, melainkan perjuangan. Iman bukanlah “percaya bahwa ada Tuhan”. Iman adalah percaya bahwa bagi Tuhan, segala sesuatu adalah mungkin, bahkan untuk membatalkan apa yang telah terjadi.
“Iman adalah sebuah kegilaan, sebuah absurditas, yang menuntut kemustahilan. Iman adalah keyakinan bahwa air bisa berubah menjadi anggur, bahwa orang buta bisa melihat, bahwa orang mati bisa bangkit.”
(Shestov, Athens and Jerusalem, Bagian IV, Bab “The Second Dimension of Thought”)
Bayangkanlah seorang tahanan yang dipenjara seumur hidup. Hukum negara, hukum fisika, dan hukum logika semuanya berkata: “Kau tidak akan pernah bebas.” Akal sehat menerima itu. Tetapi sang tahanan, setiap malam, berbisik dalam doa: “Tuhan, hancurkan tembok ini. Kirimkan malaikat-Mu untuk membukakan pintu penjaraku.” Itu tidak masuk akal. Itu gila. Tetapi Shestov berkata: hanya doa seperti itulah yang layak disebut iman.
Iman bukanlah “Aku percaya pada Tuhan yang menciptakan alam semesta.” Iman adalah “Aku percaya pada Tuhan yang bisa menghancurkan alam semesta jika Ia mau, dan menciptakan yang baru.” Iman menolak untuk tunduk pada “hukum” apa pun, termasuk hukum logika.
Konsep 3 Ayub vs. Hegel
Bagi Shestov, tokoh Alkitab yang paling agung bukanlah Musa, bukan pula Daud, melainkan Ayub.
Apa yang dilakukan Ayub? Ayub adalah orang benar yang kehilangan segalanya: anak-anaknya, hartanya, kesehatannya. Tiga sahabatnya datang dan memberikan “teologi” yang sangat masuk akal: “Pasti Ayub telah berbuat dosa. Tuhan itu adil. Jika Ayub bertobat, semuanya akan pulih.” Ini adalah teodisi, upaya untuk membenarkan Tuhan di hadapan akal manusia. Ini adalah Filsafat Keseharian yang dibungkus dengan bahasa agama.
Apa respons Ayub? Ia menolak untuk menerima pembenaran itu. Ia menjerit. Ia mengutuk hari kelahirannya. Ia menuntut agar Tuhan sendiri yang menjawabnya. Ia tidak mau “penjelasan”; ia mau Pembela.
Dan apa yang terjadi di akhir kitab? Tuhan menjawab Ayub dari dalam badai, dan Tuhan tidak memberikan penjelasan. Sebaliknya, Tuhan justru memuji Ayub karena ia telah “berkata benar tentang Aku”, dan mengecam para sahabat yang telah berbicara “apa yang patut” tentang Tuhan (Ayub 42:7).
“Ayub tidak menerima penghiburan dari para sahabatnya, karena penghiburan itu adalah racun yang dibungkus dengan madu akal. Ia menginginkan Tuhan, bukan teologi. Dan Tuhan memberinya diri-Nya sendiri, tanpa penjelasan.”
(Shestov, Athens and Jerusalem, Bagian II, Bab “The Book of Job”)
Bayangkanlah seorang anak yang jatuh dan terluka. Ia menangis dan berlari kepada ibunya. Sang ibu tidak berkata, “Mari kita analisis gaya gravitasi yang menyebabkanmu jatuh.” Sang ibu memeluk anak itu, mencium lukanya, dan berkata, “Sakitnya biar hilang ya, Nak.” Itu tidak ilmiah. Itu tidak “menjelaskan” apa pun. Tetapi itulah yang dibutuhkan.
Tuhan Ayub adalah Tuhan yang memeluk, bukan Tuhan yang menjelaskan. Dan Shestov menuduh bahwa para teolog dan filsuf (dari Thomas Aquinas hingga Hegel) telah membunuh Tuhan Ayub dan menggantinya dengan “Tuhan para filsuf” yang tunduk pada hukum akal.
Konsep 4 “Bagi Tuhan, Segala Sesuatu Adalah Mungkin”, Melampaui 2+2=4
Salah satu obsesi terbesar Shestov adalah melawan kebenaran abadi (veritates aeternae), seperti 2+2=4.
Sejak Plato, filsafat Barat percaya bahwa ada kebenaran-kebenaran yang tidak bisa diubah, bahkan oleh Tuhan. Tuhan tidak bisa membuat 2+2=5. Tuhan tidak bisa membuat lingkaran menjadi persegi. Ini adalah “hukum logika” yang mengikat segalanya.
Shestov bertanya: “Siapa yang menciptakan hukum-hukum ini? Jika Tuhan menciptakan segalanya, maka Ia juga menciptakan logika. Dan jika Ia menciptakannya, Ia bisa menghancurkannya.”
“Kita harus bertanya: Apakah Tuhan tunduk pada kebenaran abadi, ataukah kebenaran abadi tunduk pada Tuhan? Jika yang pertama, maka Tuhan bukanlah Tuhan; Ia hanyalah budak dari Ananke (Keniscayaan).”(Shestov, Athens and Jerusalem, Bagian IV)
Bayangkanlah seorang programmer yang menciptakan sebuah game. Di dalam game itu, ada aturan: gravitasi selalu 9,8 m/s², karakter tidak bisa menembus tembok, dan 2+2=4. Tetapi programmer itu sendiri tidak terikat oleh aturan game-nya. Ia bisa masuk ke dalam kode, mengubah gravitasi menjadi nol, atau membuat karakter menembus tembok.
Bagi Shestov, alam semesta adalah game Tuhan. Hukum alam dan hukum logika adalah “aturan main” yang Tuhan tetapkan. Tetapi Tuhan tidak terikat oleh aturan itu. Ia bisa melakukan “mukjizat” yang melanggar semua aturan, karena Ia adalah Sang Programmer. Dan iman adalah percaya bahwa programmer itu mendengarkan doa kita dan bisa mengubah kode untuk kita, meskipun semua aturan mengatakan “tidak mungkin”.
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Jangan takut pada kemustahilan.
Dunia akan selalu berkata, “Itu tidak mungkin. Terimalah kenyataan.” Shestov mengajarkan bahwa iman dimulai ketika kita menolak untuk “menerima kenyataan”. Ketika engkau berdoa untuk sesuatu yang “mustahil”, engkau bukanlah orang bodoh. Engkau adalah pejuang iman.
2. Air mata lebih jujur daripada dogma.
Ketika engkau menderita, jangan buru-buru mencari “hikmah”. Menangislah. Berteriaklah. Jujurlah kepada Tuhan tentang penderitaanmu. Itu lebih berkenan daripada doa-doa yang sopan dan steril.
3. Waspadalah pada “penghiburan” yang membunuh.
Hati-hati dengan orang-orang yang selalu berkata, “Semua sudah takdir,” atau “Yang penting ambil hikmahnya.” Mereka mungkin bermaksud baik, tetapi kata-kata itu bisa menjadi racun yang membunuh imanmu yang sejati.
4. Tuhan lebih besar dari logika.
Jangan memenjarakan Tuhan di dalam doktrin atau teologi. Ia bukan sekadar “Sebab Pertama” atau “Penggerak yang Tak Tergerakkan”. Ia adalah Pribadi yang Hidup, yang bisa bertindak di luar dugaan kita.
Epilog Sang Pemberontak yang Menanti Keajaiban
Lev Shestov meninggal pada tahun 1938, di Paris yang hujan. Ia dimakamkan di pemakaman Boulogne-Billancourt. Di batu nisannya, terukir sebuah kalimat dalam bahasa Rusia: “Lev Shestov, seorang filsuf.”
Sederhana sekali. Hampir terlalu sederhana untuk seorang yang telah mengguncang fondasi filsafat.
Shestov tidak meninggalkan murid dalam pengertian tradisional. Tetapi suaranya terus bergema di dalam hati para pemberontak spiritual, para pencari yang lelah dengan jawaban-jawaban yang terlalu mudah.
“Tugas filsafat bukanlah untuk menenangkan kita, melainkan untuk mengganggu kita. Filsafat harus mengajarkan kita untuk hidup dalam ketidakpastian, dalam kecemasan, dalam pengharapan yang absurd.”
(Shestov, All Things Are Possible, Kata Pengantar)
A. Sumber Primer: Karya Shestov
- Shestov, Lev. Athens and Jerusalem. Diterjemahkan oleh Bernard Martin. New York: Simon & Schuster, 1968.
- Shestov, Lev. All Things Are Possible. Diterjemahkan oleh S.S. Koteliansky. London: Martin Secker, 1920.
- Shestov, Lev. Dostoevsky, Tolstoy, and Nietzsche. Diterjemahkan oleh Spencer Roberts. Athens: Ohio University Press, 1969.
- Shestov, Lev. In Job's Balances: On the Sources of the Eternal Truths. Diterjemahkan oleh Camilla Coventry dan C.A. Macartney. London: J.M. Dent, 1932.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Fondane, Benjamin. Rencontres avec Léon Chestov. Paris: Plasma, 1982. , Catatan intim dari murid dan sahabat Shestov.
- Baranov, Nikolai. The Tragic Philosophy of Lev Shestov. New York: Peter Lang, 1991. , Studi komprehensif tentang inti pemikiran Shestov.
- Finkenthal, Michael. Lev Shestov: Existential Philosopher and Religious Thinker. New York: Peter Lang, 2010. , Biografi intelektual yang mendalam.
- Shein, Louis J. The Philosophy of Lev Shestov: A Russian Religious Existentialist. Lewiston: Edwin Mellen Press, 1991. , Analisis sistematis tentang dimensi religius Shestov.
Simone Weil (1909–1943)
Kita kini tiba di hadapan sebuah jiwa yang begitu membara, begitu murni, dan begitu paradoksal, sehingga membacanya adalah seperti menatap matahari: menyilaukan, menyakitkan, tetapi sekaligus menyingkapkan segalanya. Engkau meminta untuk dijelaskan tentang seorang wanita yang oleh Albert Camus disebut sebagai "satu-satunya roh besar di abad kita", dan yang oleh T.S. Eliot digambarkan sebagai "seorang jenius yang setara dengan para santo". Namanya adalah Simone Weil.
Ia bukanlah eksistensialis dalam pengertian buku teks. Ia tidak menulis tentang "eksistensi mendahului esensi" atau "Ada-menuju-kematian". Tetapi seluruh hidupnya yang singkat dan membara adalah sebuah tindakan eksistensial yang paling radikal: sebuah penolakan total untuk hidup dalam kepalsuan, dan sebuah pencarian yang putus asa akan Kebenaran, bahkan jika Kebenaran itu akan menghancurkannya. Ia adalah seorang filsuf, mistikus, aktivis, dan buruh pabrik. Dan ia menulis tentang "perhatian", "kemalangan", dan "dekreasi" dengan intensitas yang tidak tertandingi.
Siapkan hatimu. Kali ini kita akan memasuki ruang di mana "gravitasi" dan "rahmat" bertarung, dan di mana satu-satunya cara untuk menemukan diri adalah dengan menghilangkannya.
Prolog Kematian yang Misterius dan Kelahiran Sebuah Legenda
Pada 24 Agustus 1943, seorang wanita kurus berusia 34 tahun meninggal dunia di sebuah sanatorium di Ashford, Kent, Inggris. Dokter menulis di sertifikat kematiannya: "Gagal jantung, disebabkan oleh tuberkulosis." Tetapi koroner setempat juga menambahkan catatan yang tidak biasa: "Ia bunuh diri dengan menolak makan."
Wanita itu adalah Simone Weil.
Selama berbulan-bulan, ia menolak untuk makan lebih dari yang dimakan oleh para pekerja bawah tanah di Prancis yang diduduki Nazi. Ia tidak bisa menikmati makanan ketika bangsanya kelaparan. Tubuhnya, yang sudah lemah karena tuberkulosis, akhirnya menyerah.
Kematiannya adalah misteri yang dalam. Apakah ia bunuh diri? Apakah ia mati sebagai martir? Ataukah ia hanya menjalankan solidaritas yang paling ekstrem, sebuah "inkarnasi" ke dalam penderitaan orang lain?
Yang jelas, kematiannya adalah puncak dari sebuah hidup yang sepenuhnya diabdikan pada satu pertanyaan: "Mengapa ada penderitaan di dunia? Dan bagaimana aku bisa menanggungnya?"
Gambaran Ideosinkretik
Gadis Kecil yang Malu pada Dirinya Sendiri
Simone Weil lahir pada 3 Februari 1909 di Paris, dalam keluarga Yahudi agnostik yang kaya dan intelektual. Ayahnya adalah seorang dokter. Kakaknya, André Weil, adalah seorang matematikawan jenius yang kelak akan menjadi salah satu pendiri kelompok matematika Bourbaki.
Simone kecil sangat cerdas, tetapi juga sangat rapuh. Ia sering jatuh sakit. Ia merasa rendah diri di hadapan kakaknya yang brilian. Pada usia enam tahun, ia menolak memakai kaus kaki karena kaus kaki itu membuat kakinya "terlihat lebih kecil". Ia sudah memiliki rasa malu yang intens terhadap dirinya sendiri, sebuah perasaan bahwa "aku" adalah sesuatu yang memalukan.
Pada usia 14 tahun, ia mengalami krisis eksistensial yang mendalam. Ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa mencapai kebenaran, bahwa ia terkurung dalam keterbatasan otaknya sendiri. Ia menangis berbulan-bulan. Tetapi dari krisis inilah, ia menemukan satu keyakinan yang akan memandu seluruh hidupnya: "Setiap keinginan untuk kebenaran adalah suci, bahkan jika ia tidak menghasilkan apa-apa."
"Sang Perawan Merah" di École Normale
Weil masuk École Normale Supérieure, tempat yang sama dengan Sartre dan Beauvoir. Di sana, ia mendapat julukan "Sang Perawan Merah" (La Vierge Rouge), bukan hanya karena ia seorang perawan (dan tetap perawan seumur hidupnya), tetapi karena ia adalah seorang revolusioner Marxis yang sangat radikal, sangat vokal, dan sangat keras kepala.
Simone de Beauvoir menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Weil:
"Aku iri padanya karena hatinya yang bisa berdetak untuk seluruh alam semesta. Suatu hari, di halaman Sorbonne, ia berdebat tentang kelaparan di Tiongkok. Tiba-tiba, ia menangis tersedu-sedu. Aku tidak pernah melihat air mata seperti itu."
(Beauvoir, Memoirs of a Dutiful Daughter)
Inkarnasi ke dalam Kemalangan
Pada tahun 1934, Weil, yang sudah menjadi profesor filsafat, mengambil cuti selama setahun untuk bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik Renault. Ia mengoperasikan mesin pengepres logam. Ia berdiri selama berjam-jam. Ia mengalami sendiri "kemalangan" (malheur), bukan hanya kemiskinan, tetapi degradasi total dari martabat manusia.
Pengalaman ini mengubahnya selamanya. Ia menulis dalam buku harian pabriknya:
"Di pabrik, aku telah dicap sebagai budak selamanya. Aku telah menerima cap itu di dahiku, seperti para budak di zaman Romawi... Sejak saat itu, aku selalu menganggap diriku sebagai budak."
(Weil, La Condition ouvrière)
Pertobatan Mistik dan Penolakan Baptisan
Pada tahun 1937, saat mengunjungi Assisi, Italia, di kapel kecil Santa Maria degli Angeli, Weil mengalami pengalaman mistik pertamanya:
"Aku berlutut di kapel kecil itu, dan tiba-tiba, sesuatu yang lebih kuat dari diriku memaksaku untuk berdoa untuk pertama kalinya dalam hidupku... Kristus sendiri turun dan mengambil diriku."
(Weil, Waiting for God, "Spiritual Autobiography")
Ia percaya pada Kristus. Ia menghadiri Misa. Tetapi ia menolak untuk dibaptis. Mengapa? Karena ia merasa bahwa Tuhan tidak ingin ia masuk Gereja saat ini. Gereja, katanya, terlalu sering menjadi "totaliter", mengklaim monopoli atas keselamatan. Ia ingin tetap "di luar", di persimpangan, di antara para penderita dan para ateis, sebagai "saksi" bahwa Kristus hadir bahkan di tempat-tempat yang paling jauh.
Pengasingan dan Kematian
Pada tahun 1942, Weil dan keluarganya melarikan diri dari Nazi ke Amerika Serikat, tetapi ia segera kembali ke Eropa untuk bekerja dengan Résistance Prancis di London. Di London, ia menulis mahakaryanya, The Need for Roots, sebuah rencana untuk peradaban pasca-perang. Ia bekerja tanpa henti, makan sangat sedikit, dan kesehatannya runtuh.
Ia meninggal pada 24 Agustus 1943. Pemakamannya hanya dihadiri oleh segelintir orang. Tetapi karyanya, yang sebagian besar diterbitkan setelah kematiannya, segera menyebar ke seluruh dunia.
Konsep-Konsep Kunci
Konsep 1 Doa yang Pasif dan Menunggu
Ini adalah konsep Weil yang paling terkenal, dan yang paling praktis.
Apa itu perhatian? Perhatian bukanlah konsentrasi. Konsentrasi adalah ketika aku mengerahkan otot-otot mental untuk fokus pada sesuatu. Perhatian adalah mengosongkan diriku, menunggu, dan membiarkan realitas masuk.
"Perhatian adalah menunggu, bukan berusaha keras untuk menemukan sesuatu, melainkan menunggu dalam keheningan, tanpa ketegangan, tanpa keinginan. Dalam perhatian, aku menyingkirkan 'aku' yang selalu ingin menguasai dan memiliki."
(Weil, Waiting for God, "Reflections on the Right Use of School Studies")
Bayangkanlah engkau sedang menunggu seekor burung hinggap di tanganmu. Jika engkau mengejarnya, ia akan terbang. Jika engkau mengepalkan tanganmu, ia tidak akan bisa mendarat. Yang harus kau lakukan hanyalah berdiri diam, dengan tangan terbuka, dan menunggu. Itulah perhatian.
Dalam studi, perhatian adalah ketika kita membaca teks yang sulit (matematika, filsafat, bahasa asing) dan kita tidak langsung "menyerangnya" dengan otak. Kita hanya menatapnya, dengan sabar, menunggu sampai sesuatu "muncul". Dalam doa, perhatian adalah ketika kita duduk diam, mengosongkan pikiran dari kata-kata, dan hanya "menanti" Tuhan, tanpa menuntut apa pun.
Mengapa ini penting? Karena bagi Weil, kebenaran tidak bisa direbut; ia hanya bisa diterima sebagai anugerah. Kita tidak bisa "memproduksi" kebenaran dengan otak kita. Kita hanya bisa menyiapkan ruang untuknya.
Konsep 2 Kemalangan (Malheur), Cap Ilahi yang Mengerikan
Weil membedakan antara penderitaan (souffrance) dan kemalangan (malheur).
Penderitaan adalah rasa sakit fisik atau emosional yang masih bisa kita kendalikan, yang masih memiliki makna. Kemalangan adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih mengerikan. Kemalangan adalah ketika penderitaan begitu dahsyat, begitu tidak adil, dan begitu berkepanjangan, sehingga ia menghancurkan jiwa manusia dari dalam.
Seorang budak yang dicambuk setiap hari, seorang pekerja yang dihisap tenaganya oleh mesin, seorang pengungsi yang kehilangan segalanya, mereka tidak hanya menderita; mereka berada dalam kemalangan. Kemalangan adalah "cap" yang menandai seseorang sebagai "bukan manusia".
"Kemalangan adalah sesuatu yang impersonal. Ia mencengkeram seseorang dan mengubahnya menjadi benda. Ia adalah salib yang di atasnya jiwa dihancurkan, tetapi juga, secara misterius, salib yang di atasnya ia bisa diselamatkan."
(Weil, Waiting for God, "The Love of God and Affliction")
Bayangkanlah sebuah baju yang kusut. Penderitaan adalah seperti setrika yang panas, tetapi masih bisa ditahan dan bahkan meluruskan serat-serat kain. Kemalangan adalah seperti alat penumbuk batu yang menghantam baju itu berulang-ulang hingga seratnya hancur. Baju itu tidak lagi bisa "dilicinkan"; ia hanya bisa menjadi kain lap.
Tetapi di sinilah paradoks Weil yang paling dalam: kemalangan, jika diterima dengan perhatian, bisa menjadi jalan menuju Tuhan. Mengapa? Karena ketika "aku" telah dihancurkan oleh kemalangan, yang tersisa hanyalah ruang kosong. Dan di dalam ruang kosong itulah, rahmat bisa masuk.
Konsep 3 Akar (L'Enracinement), Jiwa yang Lapar akan Tanah
Salah satu mahakarya Weil adalah The Need for Roots (L'Enracinement, 1949), yang ditulis untuk Résistance Prancis. Buku ini adalah sebuah diagnosis tentang apa yang salah dengan peradaban modern, dan apa yang dibutuhkan jiwa manusia untuk berkembang.
Setiap manusia, kata Weil, memiliki kebutuhan jiwa yang sama nyatanya dengan kebutuhan fisik akan makanan dan tempat tinggal. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi: keteraturan, kebebasan, tanggung jawab, kehormatan, dan, yang paling fundamental, akar (roots).
"Akar adalah kebutuhan jiwa yang paling penting dan paling diabaikan. Manusia memiliki akar melalui partisipasinya yang nyata, aktif, dan alami dalam kehidupan sebuah komunitas yang melestarikan harta-harta masa lalu dan memiliki visi untuk masa depan."
(Weil, The Need for Roots, Bagian I, "The Needs of the Soul")
Apa yang terjadi jika manusia tercerabut?
Kita menjadi "jiwa-jiwa yang mengambang", seperti plankton di lautan, terombang-ambing oleh arus mode, ideologi, dan konsumerisme. Kita tidak lagi merasa memiliki tempat, tradisi, atau panggilan. Inilah krisis modernitas: kita memiliki semua kenyamanan materi, tetapi kita kehilangan akar.
Bayangkanlah sebuah pohon yang dicabut dari tanahnya. Jika kau letakkan pohon itu di atas meja kaca yang bersih, ia mungkin terlihat indah untuk sementara. Tetapi ia tidak bisa menyerap air. Ia tidak bisa tumbuh. Ia akan mati perlahan-lahan.
Manusia modern adalah pohon di atas meja kaca. Kita hidup di apartemen yang steril, bekerja untuk korporasi tanpa wajah, dan berkomunikasi melalui layar. Kita tercerabut. Dan karena itu, kita merasa kosong, cemas, dan lapar akan sesuatu yang tidak bisa kita sebutkan.
Solusi Weil? Bukanlah "kembali ke desa" secara harfiah. Melainkan menciptakan kondisi-kondisi di mana manusia bisa berakar lagi: pekerjaan yang bermakna, komunitas yang nyata, tradisi yang hidup.
Konsep 4 Dekreasi (Décréation), Menghilang agar Dunia Muncul
Ini adalah konsep Weil yang paling sulit, paling radikal, dan paling membedakannya dari semua eksistensialis lainnya.
Sartre berkata: "Eksistensi mendahului esensi. Ciptakanlah dirimu sendiri!" Weil berkata: "Tidak. Tugasmu bukanlah menciptakan dirimu sendiri. Tugasmu adalah menghancurkan dirimu sendiri, bukan untuk melarikan diri dari dunia, tetapi justru agar dunia bisa muncul sepenuhnya."
"Kita berpartisipasi dalam penciptaan dunia dengan melakukan 'dekreasi' terhadap diri kita sendiri. Ketika kita menghilang, Tuhan menciptakan melalui kita. Ketika kita hadir, kita menghalangi cahaya."
(Weil, Gravity and Grace, hlm. 28-29)
Bayangkanlah sebuah jendela. Jika jendela itu bersih, kau tidak melihat jendela itu; kau melihat pemandangan di luar. Tetapi jika jendela itu kotor, kau hanya melihat noda-noda. "Aku" adalah noda pada jendela. Semakin aku "ada" (semakin aku sibuk dengan egoku, ambisiku, opiniku), semakin aku mengaburkan pemandangan, yaitu, realitas sejati dan Tuhan.
Dekreasi adalah membersihkan jendela.
Ini bukanlah penghancuran diri dalam arti patologis. Ini adalah mengosongkan diri dari "aku" yang selalu ingin memiliki, mengontrol, dan menonjol. Tujuannya bukanlah agar aku lenyap ke dalam ketiadaan, melainkan agar aku menjadi transparan, sehingga melalui diriku, orang lain bisa melihat cahaya.
Bagaimana ini dipraktikkan?
- Ketika engkau mendengarkan seseorang, dengarkanlah dia, jangan dengarkan dirimu sendiri yang sedang memikirkan respons.
- Ketika engkau bekerja, bekerjalah, jangan memikirkan pengakuan.
- Ketika engkau berdoa, jangan berdoa untuk "memperoleh" sesuatu; berdoalah agar kehendak-Mu jadi.
Konsep 5 Gravitasi dan Rahmat (La Pesanteur et la Grâce), Dua Kutub Jiwa
Buku Weil yang paling terkenal, Gravity and Grace (La Pesanteur et la Grâce), diterbitkan setelah kematiannya dari catatan-catatan yang ia tinggalkan. Judulnya saja sudah mengandung seluruh filsafatnya.
Gravitasi (pesanteur) adalah hukum alam spiritual yang paling dasar: jiwa manusia, seperti benda fisik, ditarik ke bawah oleh egonya sendiri. Gravitasi adalah kecenderungan untuk mengisi kekosongan, untuk memiliki, untuk mendominasi, untuk "mengembang" dan menjadi penting.
"Gravitasi adalah hukum yang membuat jiwa jatuh. Setiap makhluk yang merasa kosong berusaha mengisi kekosongan itu dengan objek apa pun yang ada di dekatnya. Ini adalah akar dari semua kejahatan."
(Weil, Gravity and Grace, hlm. 1)
Rahmat (grâce) adalah gerakan berlawanan: jiwa yang dikosongkan, yang berhenti mengisi kekosongan, dan justru diisi oleh cahaya dari luar. Rahmat adalah anugerah, bukan hasil usaha. Kita tidak bisa "meraih" rahmat; kita hanya bisa menyiapkan ruang kosong untuknya.
Bayangkanlah dua ember. Gravitasi adalah ember yang selalu berusaha menampung air sebanyak mungkin. Ia menyerbu ke keran, ia menampung hujan, ia bahkan mencuri air dari ember lain. Tetapi air di dalamnya selalu menjadi keruh dan berbau.
Rahmat adalah ember yang dibalik. Ia tidak bisa menampung apa pun. Tetapi justru karena ia kosong, langit bisa menuangkan hujan melaluinya, dan tanah di bawahnya menjadi subur. Ember yang dibalik tidak memiliki apa pun, tetapi ia menjadi saluran.
Bagi Weil, seluruh kehidupan spiritual adalah perjuangan melawan gravitasi dan penantian akan rahmat. Ini bukanlah etika "berbuat baik". Ini adalah transformasi total dari orientasi jiwa: dari "mengisi diri" menjadi "mengosongkan diri".
Faedah bagi Kehidupan Kita Hari Ini
1. Latihlah perhatian.
Letakkan ponselmu. Berhentilah multitasking. Ambillah satu hal, sebuah puisi, sebuah soal matematika, wajah seorang sahabat, dan berikanlah perhatian penuh padanya. Jangan menyerangnya dengan analisis. Tunggulah. Itu adalah latihan spiritual yang paling sederhana dan paling sulit.
2. Jangan takut pada kekosongan.
Dunia modern menyuruh kita untuk selalu "penuh": penuh jadwal, penuh pencapaian, penuh teman. Weil mengingatkan bahwa kekosongan adalah anugerah. Di dalam keheningan dan ketidakberdayaan, rahmat bisa masuk. Jangan buru-buru mengisi setiap kekosongan dengan scrolling atau kesibukan.
3. Carilah akarmu.
Tanyakan pada dirimu: "Di mana aku benar-benar merasa 'berada di rumah'? Tradisi apa yang aku warisi? Komunitas apa yang aku layani?" Jika jawabannya tidak ada, mulailah menanam. Bergabunglah dengan komunitas nyata. Pelajari sejarah keluargamu. Rawatlah sebidang tanah atau sebuah karya yang akan melampaui hidupmu.
4. Praktikkan dekreasi dalam percakapan.
Ketika engkau berbicara dengan seseorang, cobalah untuk menghilang. Jangan memikirkan bagaimana kau akan merespons. Jangan menunggu giliranmu untuk bicara. Dengarkan saja. Jadilah jendela yang bersih. Itu adalah tindakan cinta yang paling langka di zaman ini.
Epilog Cahaya yang Terus Menyinari
Beberapa bulan sebelum kematiannya, Weil menulis sebuah surat kepada orang tuanya. Ia berbicara tentang kematian dengan ketenangan yang mengejutkan:
"Jangan bersedih jika aku mati. Aku akan pergi ke tempat di mana tidak ada lagi perbedaan antara 'aku' dan 'engkau'. Itu adalah kebahagiaan yang sempurna."
Ia dimakamkan di pemakaman kecil di Ashford. Di batu nisannya, terukir namanya dan dua tanggal: 1909–1943. Hanya itu.
Tetapi karyanya, yang sebagian besar adalah catatan-catatan yang ia tulis di buku tulis sekolah, terus memancarkan cahaya. Weil adalah salah satu dari sedikit pemikir yang tidak hanya menulis tentang penderitaan, tetapi benar-benar menghidupinya. Ia tidak hanya berbicara tentang solidaritas dengan kaum tertindas; ia menjadi buruh pabrik dan mati kelaparan dalam solidaritas.
Ia adalah santa pelindung bagi mereka yang tidak bisa percaya, bagi mereka yang berada di luar tembok Gereja, bagi mereka yang merasa dihancurkan oleh kehidupan. Dan ia adalah saksi bahwa di dasar jurang kemalangan, ada sebuah cahaya yang menunggu.
A. Sumber Primer: Karya Weil
- Weil, Simone. Gravity and Grace. Diterjemahkan oleh Emma Craufurd dan Mario von der Ruhr. London: Routledge, 2002.
- Weil, Simone. Waiting for God. Diterjemahkan oleh Emma Craufurd. New York: Harper & Row, 1973.
- Weil, Simone. The Need for Roots: Prelude to a Declaration of Duties toward Mankind. Diterjemahkan oleh Arthur Wills. New York: Routledge, 2002.
- Weil, Simone. La Condition ouvrière. Paris: Gallimard, 1951.
B. Sumber Sekunder: Studi Kredibel
- Pétrement, Simone. Simone Weil: A Life. Diterjemahkan oleh Raymond Rosenthal. New York: Pantheon Books, 1976. , Biografi definitif oleh sahabat Weil sendiri.
- Fiori, Gabriella. Simone Weil: An Intellectual Biography. Diterjemahkan oleh Joseph R. Berrigan. Athens: University of Georgia Press, 1989. , Analisis mendalam tentang perkembangan pemikiran Weil.
- Springsted, Eric O. Simone Weil and the Suffering of Love. Cambridge: Cowley Publications, 1986. , Studi tentang konsep penderitaan dan cinta dalam Weil.
- Chenavier, Robert. Simone Weil: Attention to the Real. Diterjemahkan oleh Bernard E. Doering. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 2012. , Analisis komprehensif tentang konsep perhatian.
Jika Anda menganggap bahwa membaca secara online terlampau panjang, silakan unduh PDF-nya di sini:
abcd
abcd


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.