Ad Code

Relevansi Teori Dependensi Andre Gunder Frank dan Situasi Global Kini

Di tengah riuh-rendah perbincangan global tentang kebangkitan ekonomi Asia, perang dagang, ketimpangan Utara-Selatan yang tak kunjung surut, serta krisis ekologis yang melilit negara-negara Dunia Ketiga, nama Andre Gunder Frank (1929–2005) kembali menemukan gaungnya. Sosiolog dan sejarawan ekonomi Jerman-Amerika ini bukan sekadar perintis teori dependensi klasik; ia adalah pengail gagasan besar yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan menyusahkan: Mengapa negara-negara miskin tetap miskin meskipun sudah berdekade-dekade “membangun”? Benarkah “keterbelakangan” adalah kondisi asli yang bisa disembuhkan dengan mengimpor modal dan teknologi dari negara maju? Atau jangan-jangan kemiskinan Dunia Ketiga justru merupakan produk dari relasi kuasa global yang tidak setara sejak awal?
 
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa mencekam relevan hari ini. Ketika Indonesia dan banyak negara berkembang lain bergantung pada ekspor komoditas, terjerat utang luar negeri, dan menyaksikan pusat-pusat kapitalisme global (Amerika Serikat, Eropa, kini juga Cina) terus memusatkan keuntungan, argumen-argumen Frank seolah-olah ditulis kemarin sore. Esai ini hendak menelusuri kembali lintasan pemikiran Frank, dari teori dependensi, analisis sistem-dunia, hingga seruannya untuk “ReOrient” dan menunjukkan mengapa ide-idenya masih menawarkan lensa kritis untuk membaca dunia kontemporer.
 

Biografi Singkat

Andre Gunder Frank lahir di Berlin pada 24 Februari 1929. Keluarganya melarikan diri dari rezim Nazi dan akhirnya menetap di Amerika Serikat. Frank menempuh pendidikan doktoral di bidang ekonomi di University of Chicago pada tahun 1957, di bawah bimbingan para profesor aliran monetaris (Kay, 2011, hlm. 524). Akan tetapi, Chicago School bukanlah pelabuhan intelektualnya. Perjalanan akademiknya berbelok tajam ketika ia berkunjung ke Amerika Latin pada awal 1960-an. Ia mengajar di Universitas Brasília, bekerja di Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC/CEPAL) di Santiago, Cile, lalu terlibat erat dengan lingkaran intelektual kiri di Meksiko (Kay, 2011, hlm. 525). Di benua itulah ia menyaksikan langsung kontradiksi kapitalisme: pertumbuhan ekonomi yang dipuji-puji oleh para teknokrat ternyata tidak mengurangi kemiskinan massal; malah ketimpangan internal kian melebar.

Jelajahi pemikiran kritis Andre Gunder Frank: Teori dependensi, 'pembangunan keterbelakangan', ReOrient, dan relevansinya dengan ketimpangan global er


Pengalaman lapangan itu menumbuhkan keyakinan yang kelak menjadi inti teori dependensi Frank: Bahwa “keterbelakangan” (underdevelopment) bukanlah tahap awal yang dilalui semua negara menuju “pembangunan” (development), melainkan produk historis dari ekspansi kapitalisme global. Gagasan ini ia rumuskan secara tajam dalam esai The Development of Underdevelopment yang dimuat Monthly Review pada September 1966, dan kemudian diperluas dalam buku Capitalism and Underdevelopment in Latin America (1967).

Untuk memahami mengapa pemikiran Frank begitu menohok, kita perlu mengingat panggung intelektual era 1950–1960-an. Arus utama (mainstream) teori pembangunan waktu itu didominasi oleh teori modernisasi, yang puncaknya terwujud dalam buku Walt Whitman Rostow, The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto (1960). Rostow membayangkan pembangunan sebagai tangga linear yang harus dinaiki setiap masyarakat: Dari “masyarakat tradisional” menuju “pra-kondisi lepas landas”, lalu “lepas landas” (take-off), menuju “kedewasaan”, dan akhirnya “era konsumsi massa tinggi”. Dengan kata lain, keterbelakangan dilihat sebagai kondisi asli yang disebabkan oleh faktor internal yakni budaya feodal, kurangnya etos kewirausahaan, rendahnya tabungan, dan obatnya adalah mengikuti resep negara maju: Investasi asing, transfer teknologi, dan integrasi ke pasar dunia.
Frank membalik logika ini. Bagi dia, keterbelakangan bukanlah “tahap awal”, melainkan hasil dari hubungan eksploitatif antara pusat (metropole) dan pinggiran (satellite) kapitalisme dunia. Ia menulis:
“We cannot hope to formulate adequate development theory and policy for the majority of the world’s population who suffer from underdevelopment without first learning how their past economic and social history gave rise to their present underdevelopment” (Frank, 1966, hlm. 4).

Kutipan pembuka esainya yang terkenal itu bukan sekadar retorika; ia adalah deklarasi metodologis bahwa sejarah Dunia Ketiga hanya bisa dimengerti dalam kerangka relasi kuasa global, bukan dalam laboratorium pertumbuhan ala Rostow.

Teori Dependensi

Teori dependensi Frank dapat diringkas dalam metafora “pusat-satelit” (metropole-satellite). Pusat adalah negara-negara industri maju yang mengendalikan akumulasi kapital dan menentukan corak pembagian kerja internasional. Satelit adalah negara-negara pinggiran yang fungsi utamanya memasok bahan mentah, tenaga kerja murah, dan pasar bagi produk pusat. Namun hubungan ini bukan sekadar “pembagian kerja” yang saling menguntungkan; ia bersifat “eksploitatif” karena surplus ekonomi yang dihasilkan di wilayah satelit terus-menerus disedot ke pusat melalui mekanisme perdagangan yang timpang, repatriasi keuntungan perusahaan multinasional, dan bunga utang (Ugwu et al., 2012, hlm. 78).

Frank menegaskan bahwa hubungan pusat-satelit tidak hanya bekerja di level antarnegara, melainkan juga di dalam negara satelit itu sendiri. Kota-kota besar di Dunia Ketiga menjadi “pusat domestik” yang menghisap surplus dari desa-desa, lalu meneruskannya ke pusat global. Struktur berlapis-lapis ini ia sebut sebagai “rantai satelit” (chain of satellites), dan ia menjamin bahwa semakin dekat sebuah wilayah ke pusat kapitalisme dunia, semakin besar kemungkinannya untuk “berkembang”; sebaliknya, wilayah yang paling terpencil sekalipun tidak bebas dari penetrasi kapitalisme global (Frank, 1967, hlm. 10-15).
Salah satu argumen Frank yang paling provokatif dan sekaligus paling banyak disalahpahami adalah tesisnya bahwa “kapitalisme, termasuk pada tahap awal komersialnya, tidak menghancurkan feodalisme di Amerika Latin, melainkan justru menciptakan dan mempertahankannya”. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat pribumi di Amerika tidaklah “feodal” dalam pengertian Eropa; feodalisme baru dikenalkan oleh penjajah Spanyol dan Portugis sebagai cara untuk mengekstrak surplus. Dengan demikian, keterbelakangan bukanlah warisan pra-kapitalis, melainkan produk dari pembangunan kapitalis dunia (Frank, 1967, hlm. 23). Tesis ini mengguncang ortodoksi Marxis-Leninis yang memandang feodalisme sebagai tahap yang harus dilalui sebelum kapitalisme, dan sekaligus membongkar mitos bahwa imperialisme hanya fase lanjut kapitalisme; bagi Frank, imperialisme adalah “bentuk kapitalisme itu sendiri” sejak abad ke-16.

Teori dependensi Frank menuai kritik dari kanan dan kiri. Dari sisi liberal, para ekonom arus utama mencibirnya karena dianggap deterministik dan mengabaikan peran kebijakan domestik. Dari sisi Marxis ortodoks, Frank dituduh “vulgar” karena terlalu menekankan sirkulasi dan mengabaikan hubungan produksi kelas. Kritik paling tajam datang dari Fernando Henrique Cardoso (kelak menjadi presiden Brasil). Dalam buku Dependencia y desarrollo en América Latina (1969) yang ditulis bersama Enzo Faletto, Cardoso mengajukan gagasan dependent development: “Pembangunan masih mungkin terjadi di pinggiran, meskipun dalam bentuk yang terdistorsi dan terikat kepentingan asing” (Love, 1990, hlm. 27). Bagi Cardoso, Frank terlalu pesimistis dan kurang sensitif terhadap dinamika kelas internal.

Frank tidak tinggal diam. Jawabannya tegas, “Dependence is dead, long live dependence and the class struggle” (Frank, 1977, hlm. 355). Ia mengakui bahwa kelas adalah aktor penting, tetapi struktur ekonomi dunia yang lebih besar membatasi pilihan kelas-kelas di pinggiran. Kaum borjuis lokal, menurut dia, bukanlah borjuis nasional yang revolusioner, melainkan lumpenbourgeoisie yakni borjuasi komprador yang bergantung pada kepentingan asing dan tidak akan pernah mendorong transformasi sejati (Frank, 1972, hlm. 11). Konsep lumpendevelopment yang ia ciptakan menggambarkan pembangunan semu yang hanya menguntungkan segelintir elit dan perusahaan multinasional, tanpa mengubah struktur eksploitasi.

Dalam perjalanannya, teori dependensi memang kehilangan pamor pada 1980-an ketika globalisasi neoliberal dipromosikan sebagai jalan baru. Namun, krisis utang Dunia Ketiga dan kegagalan Program Penyesuaian Struktural Bank Dunia justru membuat banyak pihak kembali melirik argumen Frank, “Integrasi ke pasar global tidak otomatis menghasilkan pembangunan; seringkali justru memperdalam ketergantungan”.

Pada pertengahan 1970-an, Frank meninggalkan fokus regionalnya di Amerika Latin dan mengerahkan perhatian pada proses “akumulasi kapital dalam skala dunia”. Dua bukunya, World Accumulation, 1492-1789 (1978) dan Dependent Accumulation and Underdevelopment (1979), menandai peralihan ini. Di dalam World Accumulation, Frank menelusuri gelombang panjang ekspansi dan kontraksi ekonomi dunia sejak penemuan kembali Amerika oleh Columbus hingga Revolusi Industri di Inggris. Ia berargumen bahwa “the world has experienced a single all-embracing, albeit unequal and uneven, process of capital accumulation” (Frank, 1978a, hlm. 7). Siklus akumulasi global ini menghubungkan daerah-daerah yang secara geografis berjauhan ke dalam satu sistem tunggal. Misalnya, depresi ekonomi Eropa pada abad ke-17 tak bisa dipisahkan dari penurunan produksi perak di Potosí, Bolivia, dan gangguan perdagangan budak di Atlantik. Periode ekspansi pada abad ke-18, sebaliknya, ditopang oleh integrasi ekonomi Atlantik dan Asia melalui komoditas seperti gula, kopi, dan tekstil.
Lewat World Accumulation, Frank ingin menunjukkan bahwa apa yang disebut “kapitalisme” bukanlah produk Revolusi Industri Inggris yang tiba-tiba muncul pada akhir abad ke-18, melainkan “proses yang berlangsung setidaknya sejak abad ke-16”, bahkan lebih awal. Ini menjadi pijakan untuk kritiknya kelak terhadap Immanuel Wallerstein, tokoh sentral teori sistem-dunia modern.

Pada awal 1980-an, Frank bergabung dengan percakapan yang lebih luas tentang world-systems theory yang dipelopori Wallerstein. Dalam magnum opus The Modern World-System (1974), Wallerstein berargumen bahwa sistem-dunia kapitalis muncul sekitar tahun 1500 Masehi, ketika Eropa membangun sebuah “ekonomi-dunia” yang menghubungkan core, semi-periphery, dan periphery melalui pembagian kerja yang fungsional. Frank, yang awalnya sejalan, lambat laun menganggap periodisasi Wallerstein terlalu Eropa-sentris.

Bersama Barry K. Gills, Frank mengedit buku The World System: Five Hundred Years or Five Thousand? (1993). Buku ini merupakan kumpulan esai yang menggugat klaim bahwa keterhubungan ekonomi global baru dimulai 500 tahun lalu. Sebaliknya, Frank dan Gills (1993, hlm. 3) mengajukan bahwa “sebuah sistem-dunia tunggal telah beroperasi di Afro-Eurasia setidaknya selama 5.000 tahun, sejak Zaman Perunggu. Bukti arkeologis dan sejarah menunjukkan adanya jaringan perdagangan jarak jauh yang menghubungkan Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, Mesir, dan Tiongkok purba. Pertukaran komoditas, teknologi, dan ide sudah membentuk suatu sistem yang terintegrasi secara fungsional, meskipun tanpa pusat politik tunggal.

Perluasan skala waktu ini bukan sekadar gimmick kronologis. Ia memiliki implikasi teoretis yang dalam. Jika sistem-dunia sudah berusia 5.000 tahun, maka “munculnya Eropa sebagai pusat dominan hanyalah episode singkat dalam sejarah panjang Asia”. Inilah benih dari tesis ReOrient yang muncul kemudian. Frank juga menolak istilah “kapitalisme” sebagai kategori yang terlalu terikat pengalaman Eropa; ia lebih suka berbicara tentang “sistem akumulasi” yang lebih netral secara historis (Frank, 1998, hlm. xiv-xv).

“ReOrient” dan Kritik Eurosentrisme

Puncak dari upaya intelektual Frank untuk membalikkan cara pandang konvensional adalah ReOrient: Global Economy in the Asian Age (1998). Judulnya sendiri adalah permainan kata: ReOrient berarti “mengorientasikan kembali”, tetapi juga “Re-Orient”, “Timur lagi”. Buku setebal 416 halaman ini berargumen dengan berani bahwa “sebelum tahun 1800, Asia, khususnya Cina dan India adalah pusat gravitasi ekonomi dunia”, sementara Eropa hanyalah daerah pinggiran yang miskin dan terbelakang (Frank, 1998, hlm. 5).

Frank mengajukan bukti kuantitatif maupun kualitatif. Pada abad ke-15 hingga ke-18, Asia menghasilkan sekitar 70-80% produk domestik bruto (PDB) dunia, dengan Cina saja menyumbang sekitar 30-35% (Frank, 1998, hlm. 126). Produktivitas pertanian di delta Sungai Yangtze jauh melampaui Eropa. Industri tekstil India, sutra Cina, dan porselen Cina mendominasi pasar dunia. Hal yang lebih mengejutkan, Asia juga menjadi pusat akumulasi logam mulia: Perak yang ditambang di Amerika Latin oleh Spanyol pada akhirnya mengalir ke Cina melalui Manila dan jaringan pedagang lainnya, karena Cina memiliki daya tarik komoditas yang tak tertandingi (Frank, 1998, hlm. 143).
Di mata Frank, Eropa tidak “bangkit” berkat superioritas budaya, institusi, atau teknologinya sendiri, melainkan karena “keberuntungan posisi” (letaknya di tepi Asia yang kuat), “eksploitasi sumber daya Dunia Baru” (emas, perak, tanah, dan tenaga kerja budak), dan “substitusi impor” yang terpaksa dilakukan ketika akses ke pasar Asia terganggu. Revolusi Industri, yang biasanya dipuja sebagai prestasi Eropa, sebenarnya adalah upaya Inggris untuk meniru dan mengalahkan tekstil India yang selama ini membanjiri pasaran dunia (Frank, 1998, hlm. 277).

Buku ReOrient bukan hanya kritik terhadap sejarah ekonomi, melainkan juga serangan epistemologis terhadap eurosentrisme yang merasuki ilmu sosial Barat. Menurut Frank, sosiologi klasik (Marx, Weber, Durkheim) hingga teori modernisasi dan teori sistem-dunia Wallerstein semuanya berangkat dari asumsi bahwa Eropa adalah lokomotif sejarah global. Perbedaan antara Barat dan Timur dijelaskan dengan mencari “keunikan” Eropa (etika Protestan, kota otonom, negara rasional), sedangkan Asia dianggap “stagnan” atau “despotik”.

Frank membantah semua itu. Ia memilih bertolak dari “kesatuan sistem global”. Jika kita memandang dunia sebagai satu sistem, maka pertanyaan yang relevan bukanlah “Mengapa Eropa bangkit?”, melainkan “Mengapa Asia sementara mundur pada abad ke-19, dan mengapa Eropa mengambil alih posisi sentral untuk jangka pendek?” (Frank, 1998, hlm. xxv). Dengan demikian, kebangkitan Barat adalah “sebuah penyimpangan sementara” dalam siklus panjang hegemoni Asia.

ReOrient menuai reaksi beragam. Para sejarawan ekonomi seperti Kenneth Pomeranz (dalam The Great Divergence, 2000) mengakui jasa Frank dalam menggeser perspektif, tetapi mengkritiknya karena terlalu melebih-lebihkan integrasi sistem-dunia sebelum 1800 dan mengabaikan dinamika internal masyarakat. Pihak yang lain menyebut buku Frank sebagai “a stimulating and thoughtful book that should be read by all serious students of the modern world system” (American Journal of Sociology, dikutip dalam Frank, 1998, sampul belakang). Terlepas dari perdebatan metodologis, dampak kultural dari ReOrient sangat besar. Buku ini menyeruak tepat ketika Asia mulai bangkit kembali secara ekonomi, dan ia memberikan narasi alternatif: Globalisasi bukanlah program “Barat untuk Seluruh Dunia”, melainkan “kembalinya Asia ke posisi sentral yang pernah dipegangnya ribuan tahun”.

Relevansi Frank dan Masa Kini

Setelah menelusuri gagasan-gagasan utama Frank, kini saatnya kita tilik relevansinya dengan dunia hari ini. Saya akan menyoroti tiga isu besar: (1) Ketimpangan global dalam era neoliberal, (2) Perdebatan tentang “delinking” dan degrowth, serta (3) Kebangkitan Cina dan tata dunia yang sedang bergeser.
Sejak 1980-an, globalisasi neoliberal menjanjikan bahwa liberalisasi perdagangan, privatisasi, dan deregulasi akan melipatgandakan kemakmuran negara berkembang. Realitasnya, ketimpangan global justru meningkat. Laporan UNDP (2022) menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan antara negara-negara Utara dan Selatan masih sangat lebar; hanya segelintir negara Asia Timur yang berhasil naik ke kelompok berpendapatan tinggi, sementara sebagian besar Afrika dan Amerika Latin tetap terjerat kemiskinan. Pola ini persis seperti deskripsi Frank tentang rantai satelit.

Mekanisme kontemporer eksploitasi memang tidak lagi kolonial formal, melainkan bekerja melalui “rantai nilai global” (global value chains). Perusahaan multinasional dari pusat masih mengendalikan desain, merek, dan pemasaran yang menyerap sebagian besar keuntungan, sementara negara pinggiran hanya mendapat bagian kecil dari upah buruh. Dengan kata lain, para pekerja di Bangladesh, Vietnam, atau Indonesia tetap berada dalam posisi satelit. Frank mungkin akan menyebut ini sebagai “lumpendevelopment” versi mutakhir.

Salah satu implikasi kebijakan dari teori dependensi Frank adalah delinking, yaitu pemutusan hubungan ekonomi dengan pusat kapitalis untuk memungkinkan pembangunan yang mandiri. Kritikus menilai resep ini naif dan terbukti gagal di negara-negara sosialis yang menerapkan autarki. Namun demikian, gagasan delinking menemukan napas baru dalam gerakan degrowth (Post-growth, Décroissance). Para pendukung degrowth berargumen bahwa negara-negara Selatan harus mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas dan utang luar negeri, serta membangun ekonomi yang berdaulat pangan dan energi. Frank sendiri, bersama Samir Amin, adalah pendukung setia “delinking” (Amin, 1990). Dalam konteks krisis iklim hari ini, pesan itu menjadi sangat relevan: negara miskin yang memaksakan diri mengejar pertumbuhan melalui ekstraksi sumber daya hanya akan memperparah kerusakan lingkungan dan tetap terperangkap dalam utang.

Artikel terbaru di blog ekonom Bill Mitchell (2024) menyebut bahwa pemikiran Frank kembali dikaji untuk mendukung gagasan “degrowth” dan transisi energi berkeadilan. Meskipun Frank bukan ahli ekologi, tesisnya bahwa hubungan pusat-satelit menghalangi pembangunan berkelanjutan dapat dijadikan pijakan untuk mengkritik “imperialisme karbon” yang dilakukan korporasi asing di hutan-hutan tropis.

Barangkali kemenangan terbesar argumen Frank adalah kebangkitan Cina yang ia prediksi jauh sebelum orang lain. Ketika Frank menulis ReOrient pada 1990-an, Cina masih dianggap sebagai raksasa tidur yang ekonominya baru saja direformasi. Kini, Cina adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan dalam banyak hal menjadi pusat manufaktur dan perdagangan global. Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas Cina adalah upaya sadar untuk membangun kembali jaringan infrastruktur dan perdagangan yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa, persis seperti jalur sutra kuno yang menjadi urat nadi sistem-dunia 5.000 tahun.

Beberapa pengamat bahkan menggunakan kerangka Frank untuk membaca BRI. Sebuah artikel di jurnal Turki (2020) secara eksplisit menghubungkan tesis ReOrient dengan proyek Belt and Road, menyatakan bahwa “Frank’s thesis of an Asia-centered world economy is being revived by China’s massive infrastructure and trade networks” (Journal of Social Sciences, 2020, hlm. 315). Tentu saja, ada perdebatan apakah kebangkitan Cina sekarang ini akan mengulangi pola eksploitasi pusat-satelit versi baru, di mana Cina bertindak sebagai pusat yang mengekstrak sumber daya dari Afrika dan Asia Tenggara. Namun yang jelas, Frank membekali kita dengan alat analisis untuk melihat fenomena ini bukan sebagai “ancaman” ala Perang Dingin, melainkan sebagai “perpindahan pusat gravitasi dalam sebuah sistem-dunia yang sudah berusia sangat tua”.

Dalam ilmu Hubungan Internasional (HI), pemikiran Frank sempat diabaikan oleh arus utama liberal dan realis. Namun, tradisi Marxis dan kritis dalam HI terus menggunakannya. Sebuah artikel di Journal für Entwicklungspolitik (2011) mengkaji warisan Frank dalam HI kontemporer, menyimpulkan bahwa “Frank developed a theory of the entire capitalist system as a planetary wide system of exploitation replicating centre-peripheral satellite relationships” (JEP, 2011, abstrak). Meskipun banyak asumsi Frank perlu diperbarui, misalnya, tentang peran keuangan global dan *financialization* yang memperumit rantai satelit, kerangka dasarnya masih dipakai untuk menganalisis hubungan Utara-Selatan dan dinamika akumulasi kapital.

Studi Chase-Dunn (2015) tentang periodisasi pemikiran Frank menegaskan bahwa warisannya sangat dalam dan luas. Ia menulis, “Andre Gunder Frank’s legacy is wide and deep. He was one of the founders of dependency theory and the world-systems perspective. He took the idea of whole historical systems very seriously and his rereading of Adam Smith inspired Giovanni Arrighi’s (2007) reevaluation of the comparison of, and relations between, China and the West” (Chase-Dunn, 2015, hlm. 1). Dengan kata lain, Frank tidak hanya meninggalkan murid-murid setia, tetapi juga mempengaruhi generasi pemikir sistem-dunia berikutnya.

Keterbatasan Pemikiran Frank

Namun, tidak ada pemikiran yang tanpa cacat, termasuk karya Frank. Beberapa kelemahan yang sering dikemukakan antara lain:
  1. Reduksionisme ekonomis. Frank terlalu menekankan faktor ekonomi (arus surplus) dan kurang memperhatikan dimensi politik, ideologis, dan budaya. Relasi negara, kelas, dan gender di pinggiran tidak bisa direduksi menjadi fungsi mekanis dari posisi dalam sistem-dunia (Kay, 2011, hlm. 535).
  2. Kurangnya bukti empiris yang kuat. Terutama untuk tesis sistem-dunia 5.000 tahun, data arkeologis yang digunakan Frank kerap dianggap kurang meyakinkan untuk mendukung integrasi fungsional penuh. Banyak sejarawan meragukan bahwa jaringan perdagangan Zaman Perunggu sudah membentuk satu “sistem-dunia” (Pomeranz, 2000).
  3. Voluntarisme politik yang tidak konsisten. Di satu sisi Frank menyerukan pemutusan hubungan dengan pusat kapitalis (delinking), tetapi di sisi lain ia tidak pernah merinci strategi politik yang realistis untuk mencapainya. Kekuasaan negara di pinggiran, terutama yang represif, seringkali menjadi hambatan, bukan alat pembebasan.
  4. Pembaruan konsep kapitalisme. Frank menolak istilah “kapitalisme” untuk sistem-dunia pra-1800, tetapi tidak pernah memberikan konsep alternatif yang memuaskan. Ini menimbulkan kebingungan teoretis ketika ia berbicara tentang “akumulasi” tanpa menjelaskan relasi produksi yang khas (Wallerstein, 1999).

Meskipun demikian, kritik-kritik di atas tidak menafikan sumbangan besar Frank. Sebagaimana dikatakan oleh Cristóbal Kay (2011, hlm. 526), “Frank is one of the founders of contemporary world system theory. He coined some memorable expressions such as the ‘development of underdevelopment’ and ‘ReOrient’. … While some of Frank's analyses and assertions proved to be wrong, he provided much inspiration to a new generation of scholars and activists.

Penutup

Andre Gunder Frank meninggal dunia pada 25 April 2005, tetapi ide-idenya tetap hidup dan terus memprovokasi. Ia mungkin bukan seorang pembangun teori yang rapi, tetapi ia seorang “pendobrak paradigma” (paradigm breaker). Dari teori dependensi, ia memaksa kita mencurigai narasi “pembangunan” yang disajikan oleh negara maju. Dari analisis sistem-dunia, ia mengingatkan bahwa sejarah umat manusia selalu terhubung secara global jauh sebelum era internet. Dan dari ReOrient, ia menantang superioritas intelektual Barat yang diam-diam menghegemoni kurikulum sekolah dan berita harian.

Di era kontemporer, ketika ketimpangan global naik ke tingkat yang mengerikan, ketika Cina dan India kembali menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia, dan ketika planet bumi menjerit akibat model ekstraksi tanpa henti, pemikiran Frank menawarkan semacam “kompas alternatif”. Kompas itu tidak memberi peta rinci, tetapi menunjukkan arah: Bahwa masalah kemiskinan, ketidakadilan, dan krisis iklim tidak akan terpecahkan dalam kerangka yang sama yang selama ini menciptakannya. Kita perlu “ReOrient” perspektif kita, baik secara geografis maupun epistemologis.

Tentu saja, jawaban Frank bukanlah resep siap saji. Delinking bukan berarti isolasi; lebih tepat ia adalah “otonomi strategis” untuk menentukan prioritas pembangunan sendiri. Sistem-dunia 5.000 tahun bukanlah takdir yang beku, melainkan arena kontestasi di mana gerakan sosial, negara, dan kelas pekerja dapat memperjuangkan bentuk integrasi yang lebih adil. Frank mungkin tidak menyelesaikan perdebatan, tetapi ia memulainya dengan baik, dan itu adalah tanda seorang intelektual sejati.

Referensi

Chase-Dunn, C. (2015). Periodizing the thought of Andre Gunder Frank: From underdevelopment to the 19th century Asian age (IROWS Working Paper No. 88). Institute for Research on World-Systems, University of California-Riverside. https://irows.ucr.edu/papers/irows88/irows88.htm

Frank, A. G. (1966). The development of underdevelopment. Monthly Review, 18(4), 17–30. (Reprinted in Latin America: Underdevelopment or revolution, 1969, hal. 3–17).

Frank, A. G. (1967). Capitalism and underdevelopment in Latin America: Historical studies of Chile and Brazil. Monthly Review Press.

Frank, A. G. (1969). Latin America: Underdevelopment or revolution: Essays on the development of underdevelopment and the immediate enemy. Monthly Review Press.

Frank, A. G. (1972). Lumpenbourgeoisie, lumpendevelopment: Dependence, class, and politics in Latin America. Monthly Review Press.

Frank, A. G. (1977). Dependence is dead, long live dependence and the class struggle: An answer to critics. World Development, 5(4), 355–370. https://doi.org/10.1016/0305-750X(77)90041-9

Frank, A. G. (1978a). World accumulation, 1492-1789. Monthly Review Press.

Frank, A. G. (1978b). Dependent accumulation and underdevelopment. Macmillan.

Frank, A. G. (1998). ReOrient: Global economy in the Asian age. University of California Press.

Frank, A. G., & Gills, B. K. (Eds.). (1993). The world system: Five hundred years or five thousand? Routledge.

Kay, C. (2011). Andre Gunder Frank: ‘Unity in diversity’ from the development of underdevelopment to the world system. New Political Economy, 16(4), 523–538. https://doi.org/10.1080/13563467.2011.597501

Love, J. L. (1990). The origins of dependency analysis. Journal of Latin American Studies, *22*(1), 143–168. https://doi.org/10.1017/S0022216X00015253

Oliverio, A., & Lauderdale, P. (2015). The world system according to Andre Gunder Frank: Hegemony and domination. Journal of World-Systems Research, 21(1), 184–192. https://doi.org/10.5195/jwsr.2015.527

Pomeranz, K. (2000). The great divergence: China, Europe, and the making of the modern world economy. Princeton University Press.

Ugwu, S. C., Eme, I. O., & Emeh, I. E. J. (2012). A discourse on Andre Gunder Frank’s contribution to the theory and study of development and underdevelopment and its implication on Nigeria’s development situation. Nnamdi Azikiwe Journal of Political Science, 3(2), 74–94.

Wallerstein, I. (1999). The end of the world as we know it: Social science for the twenty-first century. University of Minnesota Press.

Posting Komentar

0 Komentar