Kisah perdebatan antara Semar, Togog, dan Sengkuni di Negeri Mahjong.
Matahari sore di Kahyangan versi dunia wayang sedang malas-malasan turun. Cuaca di Linimasa Kahyangan, platform media sosial para dewa dan makhluk suci, sedang riuh dengan status-status galau Batara Kala dan foto-foto selfie Apsara. Di tengah hingar-bingar itu, sebuah Direct Message (DM) masuk ke akun Semar, @badranaya_petrukdll.
Bagian 1:
DM di Antara Dua Pamong
Akun itu bernama @togog_bilung_tejomantri. Foto profilnya adalah wajah khas Togog dengan gigi tonggosnya yang ikonik, sedang memegang buku dengan judul samar. Semar, yang sedang menyeruput wedang jahe di beranda depan Karang Kedempel, rumah dinasnya yang asri di Amarta, agak terkejut. Matanya yang sipit melek sedikit lebih lebar. Hatinya bergumam, "Ada apa gerangan Kangmas Togog mengirim pesan pribadi? Tumben. Biasanya dia paling rajin bikin status curhat yang dikiranya dibaca seluruh dunia, padahal yang like cuma Bilung, Tejomantri, dan satu akun bot dari Negeri Mahjong."
DM itu singkat dan padat, khas orang depresi yang sudah kehabisan energi untuk basa-basi:
"Dimas Semar, Kangmas ingin bertemu. Ada uneg-uneg penting. Jangan ajak anak-anakmu dulu."
Semar membalas dengan jempol dan emoji wajah ramah. Ia mengusulkan tempat. Bukan warung kopi biasa, tapi sebuah kafe waralaba raksasa dari Negara Biang Serikat yang baru saja membuka cabang di perempatan Pasar Setan Gundul, daerah netral antara Astina dan Amarta. Nama kafenya: StarTing. Alasannya sederhana, tempat ini dinginnya minta ampun, cocok untuk mendinginkan kepala Togog yang mungkin sedang panas. Tapi sekaligus, Semar penasaran, bagaimana Kangmasnya yang kurus ringkih itu berhadapan dengan monster bernama Air Conditioner.
Hari yang disepakati tiba. Semar datang lebih dulu. Penampilannya santai: kaus oblong putih bersih, sarung motif kotak-kotak, dan sandal jepit swallow merek bebek. Kulitnya yang bersih dan badan gemuknya yang padat berisi sudah seperti insulasi alami. Ia duduk di sofa empuk dekat jendela, tangannya mencomot kentang goreng dari piring kecil. Suhu di dalam StarTing adalah 4 derajat Celcius, menyamai suhu di negara asal kafe itu. Saking dinginnya, napas Semar sedikit beruap, tapi tubuhnya tetap rileks. Ia sudah terbiasa diajak para Pandawa makan di aneka resto mulai dari kaki lima ala Babinsa (Barisan Bintang Sastra) hingga restoran molekuler di Negeri Mantra. Kulitnya sudah mampu adaptasi secara otomatis, dari sangat dingin hingga sangat gerah.
Lalu, pintu kaca StarTing terbuka. Sosok tinggi kurus dengan tulang pipi menonjol dan gigi tonggosnya yang legendaris masuk. Itulah Togog. Pemandangannya sontak membuat Semar terperangah dan beberapa pengunjung lain menahan tawa. Togog memakai tiga lapis baju sekaligus: kaus wol tebal, sweter wol rajut tangan, dan jaket wol model parka. Ketiganya berwarna hijau lumut yang sama, sehingga ia terlihat seperti gundukan jerami berjalan yang baru saja diseret dari gurun es.
"Kangmas Togog..." sapa Semar, setengah iba, setengah geli. "Apa kau baru saja mendaki Gunung Jayawijaya?"
Togog tidak menjawab. Ia masih sibuk menyesuaikan diri. Ia duduk dengan kaku di hadapan Semar, tubuhnya masih menggigil meski sudah memakai tiga lapis wol. Seorang pelayan dengan senyum terlalu lebar dan topi bertuliskan "StarTing Partner" menghampiri. "Selamat sore, Bapak-Bapak. Ada yang bisa saya bantu untuk menu hari ini? Mungkin mau mencoba Grande Caramel Frappuccino with Extra Whip Cream?"
"Kopi pahit saja untuk saya, Ngger," kata Semar kalem.
"Ehm... saya... apa ya... mungkin... kopi susu hangat?" ujar Togog ragu.
"Baik, Bapak. Satu Americano dan satu Grande Latte Hot. Akan segera kami antar," jawab pelayan itu dengan ceria, mengabaikan penyederhanaan istilah dari kedua kakek-kakek sakti itu. Semar hanya nyengir.
Tak lama, kopi datang. Semar menyesap kopi hitamnya dengan nikmat, sesekali mencolek kentang goreng. Togog, di sisi lain, memandangi cangkir kertas raksasa di depannya dengan perasaan asing. Ia menyesap sekali, lalu wajahnya berkerut. "Aneh rasanya, Dimas. Pahit, tapi ada susunya. Tapi bukan susu sapi lokal, ini susu entah dari mana. Aku... aku tidak doyan."
Togog lantas merogoh saku jaket wolnya. Tangannya yang kurus mengeluarkan sebungkus rokok kretek. Belum sempat menyulut, Semar dengan cepat memotong, "Kangmas, di sini tidak boleh merokok. Lagipula, kau tahu aku anti rokok. Asapmu bisa bikin badan serbagunaku ikut berasap."
Togog mendesah panjang. Tiga lapis baju wol, kopi yang tak enak, tidak bisa merokok, dan AC 4 derajat yang terasa seperti kutukan. Depresinya, yang sudah seperti sumur tanpa dasar, bertambah dalam satu meter kubik lagi. Wajahnya memucat. Semar memperhatikan semua ini dengan tatapan welas asih. "Ayo, ceritalah, Kangmas Togog. Legakan hati."
Togog menatap adiknya. Matanya yang sipit berkaca-kaca. Ia menghela napas seberat kapal karam. "Dimas Semar," pecah suaranya, parau. "Kau tahu, sudah menjadi nasibku menjadi pamong bagi para tokoh antagonis. Keluarga besar Kurawa, raja-rajanya para Asura, bahkan Rahwana sekalipun. Itu semua takdir. Tapi, Dimas... sesuatu itu benar-benar makan hati. Nasihat-nasihatku tak pernah digubris. Baik oleh Duryudana, Dursasana, Citraksa, Citraksi, bahkan oleh si bungsu Durmagati yang katanya paling 'berpendidikan' itu. Mereka semua lebih percaya pada Sengkuni!"
Togog menyeka peluh di dahinya, meski suhu 4 derajat. Itu peluh dingin frustrasi. "Sengkuni memberi mereka dunia, Dimas. Takhta, tipu daya, kemenangan semu. Sementara aku? Aku hanya menawarkan mereka akhirat, surga, neraka, karma, dan segala yang abstrak. Mereka menertawakanku. 'Togog, kau ini pamong apa pedagang jamu?' begitu kata Dursasana padaku. 'Akhirat itu tidak instagramable!' teriak Duryudana. Tobat... tobat biyuuung..." Suara Togog benar-benar putus asa.
Semar meletakkan cangkir kopinya. Ia menatap Kangmasnya dengan sorot mata yang lebih serius. Ia tahu, puncak dari depresi Togog bukan sekadar tidak didengarkan, tapi karena ia terjebak dalam pertanyaan eksistensial yang rumit. "Kangmas," kata Semar pelan, "aku mau bertanya serius. Tadi kau menyebut keluarga Kurawa dengan istilah 'Machiavellian'. Apa maksudmu Kangmas menstigma Niccolo Machiavelli sebagai representasi sikap para Kurawa itu?"
Togog tertegun, lalu matanya berbinar seolah menemukan pelampiasan. "Ya, tentu saja! Tentu saja mereka Machiavellian, Dimas! Kau tidak tahu? Di bawah bantal tidur semua Kurawa, OB yang kubayar selalu menemukan buku Il Principe! Buku-buku itu rata-rata lusuh, lecek, halamannya penuh coretan stabilo kuning. Dari situ kuasumsikan, semua Kurawa selalu membacanya sebagai kitab suci pengantar tidur. Dan siapa pemasoknya? Siapa lagi kalau bukan Sengkuni!" Suara Togog meninggi, penuh semangat tuduhan.
"Dan dengan demikian," Togog melanjutkan dengan nada seorang jaksa penuntut umum, "perilaku para Kurawa yang licik, kejam, haus kekuasaan, dan menghalalkan segala cara itu... pastilah akibat ajaran Machiavelli dalam buku itu! Pungkasnya, Machiavelli adalah biang keladi!"
Semar mendengarkan dengan saksama, lalu ia mengambil napas. Ia menggeleng pelan, tersenyum bijak. "Sabar, Kangmas Togog. Menurut penerawanganku sebagai Batara Ismaya, keburukan Kurawa bukan akibat mereka membaca Machiavelli. Justru sebaliknya, mereka membaca Machiavelli karena mereka sudah buruk."
Togog mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Begini, Kangmas," kata Semar, mencondongkan badan. "Dalam Il Principe, banyak sekali ajaran yang baik dan benar secara politik, namun terkesan buruk karena Machiavelli membedah watak politik manusia secara telanjang. Ia tidak munafik. Ia bicara realitas, bukan idealisme. Dan justru di situlah letak masalahnya: secara intelektual, para Kurawa, maaf, sangat kurang mampu mencerna Machiavelli secara utuh. Mereka terlalu bodoh untuk menjadi pengikut Machiavelli yang sejati. Terlebih Dursasana yang... maaf lagi... buta huruf."
Pernyataan Semar itu seperti petir di siang bolong bagi Togog. "Buta... huruf? Dursasana? Lalu, untuk apa buku Il Principe di bawah bantal mereka jika bukan untuk dibaca, Dimas? Untuk ganjal kepala? Untuk mengusir nyamuk?"
"Untuk dibaca, iya," jawab Semar tenang. "Tapi bukan mereka yang membaca dan mencerna sendiri. Sekali lagi, menurut penerawanganku, Sengkunilah dalangnya. Dialah yang memasok buku Il Principe terjemahan bahasa Sansekerta yang sudah sangat 'disesuaikan'. Oleh Sengkuni, buku itu sudah distabilo hanya pada bagian-bagian yang bisa ditafsirkan sebagai kelicikan, kekejaman, dan manipulasi. Hanya itu yang harus dibaca, diresapi, dan dijadikan dogma oleh para Kurawa. Sementara bab-bab lain yang bicara soal kebajikan pemimpin, pentingnya dicintai rakyat, bagaimana menjaga stabilitas negara melalui hukum yang baik... semua itu dilewatkan. Tidak distabilo. Bahkan, beberapa bagian yang bagus disobek dan dibuat pesawat kertas oleh Citraksa dan Citraksi."
Togog terbengong. Mulutnya yang tonggos terbuka lebar, membuatnya tampak lebih lucu dari biasanya. Roda-roda di kepalanya berputar kencang. Sebuah pencerahan pahit mulai merambat naik. "Lho, kalau begitu... aku kecolongan, Dimas Semar. Selama ini aku bodoh. Selama ini aku menyia-nyiakan waktuku menasihati mereka dengan ayat-ayat suci dan wejangan moral leluhur. Seharusnya... seharusnya aku belajar Machiavelli! Karena itulah sumber belajar mereka! Itulah kitab suci mereka!"
"Tepat sekali, Kangmas," sahut Semar.
Togog melanjutkan dengan suara parau, "Para Kurawa itu tidak akan mau belajar jika penulis bukunya orang Astina, atau Amarta, atau negeri-negeri wayang lain, apalagi dari Negeri Mahjong! Selera mereka luar dunia! Mereka 'luar dunia minded'! Buruk ataupun baik, yang penting bukan lokal! Kalau aku datang membawa ajaran moral dari Sunan Kalijaga atau Sabdo Palon, aku dicaci. Tapi begitu Sengkuni datang membawa ajaran dari seorang Italia abad ke-16 yang sudah mati, mereka bersimpuh! Oh, bodohnya aku!"
Semar menepuk bahu kurus Kangmasnya. "Sudahlah, Kangmas. Menyesali yang sudah terjadi itu hanya akan menambah dalam lubang depresimu. Sekarang, yang penting adalah apa yang akan kita lakukan selanjutnya."
Semar menghela napas, lalu dengan mata berbinar ia mengajukan sebuah usulan yang belum pernah terpikirkan oleh Togog. "Sudah begini saja, Kangmas Togog. Ayo kita temui Sengkuni. Kita ajak dia bicara, di negeri netral. Mungkin sebuah angkringan di Negeri Mahjong. Ajak Sengkuni, lalu kita bertiga, duduk bersama, bicara soal Machiavelli. Bukan untuk mendebatnya dan menang, tapi untuk menunjukkan pada Sengkuni bahwa kita tahu persis permainannya. Bahwa kau, pamong para Kurawa, juga paham 'kitab suci' mereka."
Togog terdiam. Gagasan itu berani, nekat, tapi menarik. Seperti menyelam ke dalam gua naga untuk mengambil kembali mutiaranya. "Baiklah, Dimas Semar. Aku setuju. Sebuah konfrontasi intelektual. Tapi... kau atau aku yang akan mengirim chat ke Sengkuni?"
Semar langsung menjawab, "Biar aku saja. Aku akan DM dia lewat Linimasa Kahyangan. Kalau Kangmas yang chat, aku khawatir dia akan menjawab dengan satu kata penuh kesombongan: 'Ogah!'. Lalu dia akan mengunggah tangkapan layar DM-mu ke statusnya dan menertawakanmu. Kau tahu sendiri, Kangmas, Sengkuni itu punya 1001 cara untuk mempermalukan lawannya. Biar aku yang hadapi. Akunku @badranaya_petrukdll cukup punya pengaruh. Aku akan pancing dia dengan bahasa yang membuat egonya tersentak."
Bagian 2:
Di Angkringan Tepi Jalan Multifungsi
Semar mengirim DM. Isinya pendek, tajam, dan provokatif:
"Mbah Sengkuni, apa kau hanya berani mengajarkan Machiavelli setengah-setengah pada bocah-bocah ingusan? Itu namanya pembajakan, Mbah. Ayo ketemu. Kita bicara. Aku, kamu, dan Kangmas Togog. Jangan takut, aku yang traktir."
Balasan dari Sengkuni datang dalam 7 menit. Persis seperti yang diduga Semar, nada sombong itu kental.
"Hah! Bicara Machiavelli? Dengan kalian? Kalian pikir kalian itu apa? Mahasiswa S2 Ilmu Politik? Tapi baiklah. Aku penasaran ingin melihat kalian bertekuk lutut di hadapan kecerdasanku. Jangan di tempat sembarangan. Aku tidak mau diracun. Pilih tempat yang ramai. Aku akan datang dengan pengawal."
Maka, ditunjuklah sebuah angkringan di Negeri Mahjong. Negeri yang katanya negeri tirai bambu, tapi kini sudah lebih terbuka daripada dompet pejabat saat kampanye. Angkringan itu terletak di tepi jalan berlubang yang multifungsi: sebagai jalan raya, selokan air, pengatur banjir, tempat parkir liar, dan arena balap liar tikus got. Angkringannya sendiri punya nama keren: Angkringan "Kopi Darurat". Gerobaknya warna-warni dengan lampu kelap-kelip.
Malam itu, Togog dan Semar tiba lebih dulu. Mereka memilih tempat duduk lesehan di atas tikar anyaman yang sudah tipis. Semar memesan dua bungkus nasi kucing, sate-satean, dan dua gelas kopi joss susu. Togog, kali ini, hanya memakai satu jaket tipis karena suhu di Negeri Mahjong sedang hangat. Tapi ekspresinya tetap tegang seperti kawat bas yang ditarik-tarik.
Tak lama kemudian, sebuah iring-iringan kecil tiba. Bukan iring-iringan mobil mewah, tapi tiga buah Bajaj modifikasi. Dari Bajaj pertama, turunlah Sengkuni. Penampilannya selalu spektakuler. Ia memakai jubah hitam dengan sulaman benang emas, kacamata hitam di malam hari, dan tongkat dengan gagang kepala naga. Yang lebih mencengangkan, dua ajudannya keluar dari Bajaj kedua dan ketiga, membawa sebuah kursi lipat besar berlapis emas 24 karat, dengan bantalan busa super empuk yang katanya "tak bisa kempes, garansi 25 tahun". Kursi itu diletakkan tepat di depan Togog dan Semar yang duduk di tikar.
Sengkuni duduk dengan angkuh, satu kaki menyilang di atas yang lain. Ia menatap sekeliling. Di belakangnya, dalam bayang-bayang, Togog dan Semar bisa merasakan kehadiran. Bukan satu, bukan dua, tapi sepuluh orang secret service bergerak dalam diam, mengambil 10 posisi berbeda. Ada yang menyamar jadi pemulung, ada yang pura-pura baca koran bekas, ada yang tiba-tiba jadi tukang parkir. Togog dalam hati menggerutu, "Orang jahat paling takut mati."
Pedagang angkringan, seorang pria ramah bernama Bao, datang menawarkan menu. "Selamat malam, Tuan-Tuan. Mau pesan apa? Ada nasi kucing, nasi macan, nasi kebo..."
"Aku tidak makan sembarangan," potong Sengkuni ketus, suaranya dibuat-buat berat seperti Darth Vader. "Aku tidak akan menyentuh makanan dari tempat seperti ini. Bisa jadi racun. Kalian saja yang makan."
Semar hanya tersenyum. Ia mencomot sepotong sate usus dan mengunyahnya dengan nikmat. "Monggo, Mbah. Silakan nikmati kursi emasmu itu. Aku dan Kangmas Togog akan nikmati bumi dengan duduk di tikar." Togog, di sampingnya, masih belum menyentuh kopinya, depresinya perlahan naik level karena kehadiran makhluk licik di depannya ini.
"Langsung saja," kata Semar, suaranya tiba-tiba dalam dan berwibawa. "Aku mengajakmu kemari, Mbah Sengkuni, bukan untuk berdebat kusir soal politik Astina. Tapi soal yang lebih serius. Soal Machiavelli."
Sengkuni terkekeh, suaranya seperti kerikil bergesekan. "Machiavelli? Hah! Apa yang kalian tahu tentang Machiavelli? Kalian hanyalah dua badut tua dari dunia pewayangan kolot. Machiavelli adalah milik para pemikir modern. Milikku. Aku yang memahami inti ajarannya. Bukan kalian!"
"Justru itu, Mbah," Semar menukas tajam. "Kau tidak memahami intinya. Yang kau pahami hanyalah kulit luarnya yang bisa kau gunakan untuk membenarkan kelicikanmu. Kau membajak Machiavelli, Mbah. Kau ajarkan tafsir sesat kepada para Kurawa yang tolol itu, dan kau banggakan itu sebagai sebuah pencapaian intelektual."
Wajah Sengkuni memerah. "Bajak? Aku tidak membajak! Aku melakukan interpretasi! Itu hak setiap pembaca!"
"Interpretasi yang cacat dan sengaja dicacatkan adalah sebuah pembajakan moral," kata Semar tegas. "Mari kita buktikan di sini. Kita akan bedah Machiavelli. Biar Kangmas Togog yang menjadi saksinya."
Togog menelan ludah. Perdebatan ini adalah pertarungan yang ingin ia saksikan sendiri.
Bagian 3:
Perdebatan Inti – Membongkar Pembajakan Machiavelli
Semar meletakkan gelas kopinya. Suasana di angkringan itu mendadak hening. Bahkan suara jangkrik pun seolah ikut diam, menunggu sang Batara Ismaya angkat bicara. Semar memulai dengan kutipan yang tenang namun menusuk, langsung mengarah ke fondasi pemikiran Machiavelli yang paling fundamental: Republik dan Kedaulatan Rakyat.
"Machiavelli, dalam Discourses on Livy, Buku I, Pasal 58, menulis dengan sangat gamblang: 'Orang banyak (rakyat) lebih bijaksana dan lebih konstan daripada seorang pangeran.' " Suara Semar berat dan penuh penekanan. "Bahkan, ia melanjutkan, 'Suara rakyat bagaikan suara Tuhan.' Ini bukan sekadar pujian kosong, Mbah Sengkuni. Ini adalah fondasi pemikiran republikan Machiavelli. Ia menempatkan rakyat, orang kebanyakan, di atas seorang pangeran dalam hal kebijaksanaan dan konsistensi."
Semar menatap lurus ke arah Sengkuni, matanya menyipit namun setajam belati. "Pertanyaanku sederhana: apa kau pernah menyampaikan kalimat ini pada Duryudana? Apa kau pernah membisikkan di telinganya bahwa seorang penjual nasi kucing di pinggir jalan ini, menurut gurumu Machiavelli, lebih bijaksana dan lebih stabil pikirannya daripada dirinya yang seorang raja? Bahwa kebijaksanaannya kalah dari rakyatnya sendiri yang kelaparan?"
Sengkuni terkesiap. Ia tidak menyangka serangan pembuka Semar langsung mengarah ke republikanisme Machiavelli, satu sisi yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat dari para Kurawa. Ia membalas dengan nada meremehkan, namun sedikit gugup. "Itu... itu hanya satu pasal dalam Discourses, Badranaya! Kitab itu membahas republik, bukan kerajaan! Astina adalah kerajaan! Konteksnya beda!"
"Konteksnya beda?" Semar mencecar, tidak memberi ruang untuk kabur. "Baiklah, kita bicara Il Principe, kitab yang katanya panduan bagi para raja absolut. Di Pasal 9, saat membahas Kerajaan Sipil, Machiavelli secara eksplisit menyatakan bahwa seorang pangeran yang naik takhta dengan bantuan rakyat, 'harus mempertahankan persahabatan mereka, yang mudah dilakukan, karena mereka hanya meminta untuk tidak ditindas.' Mudah, Mbah! Hanya itu permintaan rakyat: jangan ditindas! Tapi apa yang kau dan Duryudana lakukan? Menarik upeti setinggi langit, merampas tanah, dan menindas siapa pun yang berani bersuara! Itu bukan ajaran Machiavelli! Itu ajaran raja gila!"
Togog, yang sedari tadi menyimak dengan mulut setengah terbuka, tiba-tiba menyela. Suaranya masih parau, tapi ada bara semangat baru di dalamnya. "Aku ingat sekarang, Dimas! Di bagian lain Discourses, Machiavelli memuji habis-habisan Republik Romawi. Ia menyebutnya sebagai negara paling sempurna karena melibatkan rakyat dalam pemerintahan! Ia bahkan mengkritik para bangsawan yang hanya ingin menindas! Machiavelli bukan pendukung tiran, Sengkuni! Dia justru pembenci tiran!"
Semar mengangguk mantap pada Kangmasnya. "Tepat sekali, Kangmas. Mari kita perdalam. Sengkuni selalu berdalih bahwa Machiavelli mengajarkan 'tujuan menghalalkan cara'. Itu senjata andalannya." Semar kembali menatap Sengkuni, kali ini dengan seringai tipis. "Sekarang, coba sebutkan satu kalimat, satu saja, di dalam Il Principe atau Discourses di mana Machiavelli menulis kalimat sakti itu: il fine giustifica i mezzi? Tidak ada, Mbah. Itu tidak pernah ditulisnya. Yang ia tulis adalah tentang bagaimana seorang pangeran harus bertindak, dan bahwa tindakannya akan selalu dinilai dari hasilnya. Tapi hasil yang dimaksud Machiavelli, dan ini yang selalu kau sembunyikan, adalah kemaslahatan dan stabilitas negara (mantenere lo stato), bukan kemaslahatan kantong pribadi Duryudana atau ambisimu menjadi penasihat abadi!"
"Kau tidak bisa memahami realisme politik!" bentak Sengkuni, mencoba mengambil alih kendali. "Machiavelli adalah seorang realis! Ia bilang dalam Il Principe Pasal 15, bahwa ia berbicara tentang 'kebenaran efektif dari segala sesuatu' (verità effettuale della cosa), bukan tentang republik atau kerajaan imajiner! Ia ingin para pangeran belajar bagaimana 'tidak menjadi baik', dan menggunakan kebaikan atau keburukan sesuai kebutuhan!"
"Nah, itu dia!" sahut Semar, menunjuk Sengkuni dengan jari telunjuknya. "Kau berhenti di situ. Kau potong di kalimat 'belajar bagaimana tidak menjadi baik'. Tapi kau lupakan konteksnya! Machiavelli tidak pernah menyuruh seorang pangeran untuk menjadi jahat sepanjang waktu. Di pasal yang sama, ia hanya berkata bahwa seorang pangeran harus 'cukup bijaksana untuk menghindari keburukan-keburukan yang akan membuatnya kehilangan negaranya'. Yang dilarang keras adalah keburukan yang menyebabkan kehilangan takhta dan negara. Penindasan, keserakahan, dan permusuhan dengan seluruh Pandawa, justru itulah yang akan membuat Duryudana kehilangan segalanya! Itu adalah keburukan fatal yang dilarang Machiavelli!"
Suasana memanas. Pedagang Bao hanya bisa melongo, tak mengerti apa-apa, tangannya masih menggenggam erat logam mulia pemberian Sengkuni. Sementara itu, para secret service Sengkuni mulai gelisah. Seorang di antaranya, yang menyamar jadi tukang parkir, sampai lupa menarik uang parkir dari seorang pengendara sepeda ontel yang lewat.
Sengkuni ganti strategi. "Baiklah, soal rakyat! Tapi kau lupa satu hal: Machiavelli dalam Il Principe Pasal 17 bertanya, 'Apakah lebih baik dicintai daripada ditakuti, atau sebaliknya?' Dan dia menjawab sendiri: 'Jauh lebih aman untuk ditakuti daripada dicintai, jika salah satu harus ditinggalkan.' Itulah yang kuajarkan pada Duryudana! Rasa takut adalah senjata utama seorang raja! Cinta itu rapuh, bisa dikhianati. Tapi rasa takut itu kekal, terikat oleh ancaman hukuman!"
Togog menggigil mendengar kalimat itu. Itu persis kalimat yang sering didengungkan Dursasana sebelum menghajar seseorang. Tapi Semar tetap tenang. Ia menyeruput kopinya sedikit, lalu menatap Sengkuni dengan pandangan kasihan. "Kau melakukan kesalahan yang sama lagi, Mbah. Kau memotong kalimatnya. Kau tidak pernah menyelesaikan paragraf itu."
Semar mencondongkan badannya, suaranya lirih tapi tajam menusuk. "Setelah mengatakan lebih aman untuk ditakuti, Machiavelli segera menambahkan peringatan keras. Aku kutip tepatnya: 'Meskipun begitu, seorang pangeran harus membuat dirinya ditakuti sedemikian rupa sehingga, jika ia tidak mendapatkan cinta, ia setidaknya terhindar dari kebencian. Karena menjadi ditakuti dan tidak dibenci bisa berjalan bersama-sama.' "
Semar mengetuk-ketukkan jarinya di atas tikar. "Kau dengar itu, Mbah? Terhindar dari kebencian! Itu syarat mutlaknya! Menjadi ditakuti itu boleh, bahkan mungkin perlu, tapi selama tidak menimbulkan kebencian. Pertanyaannya: apa yang kau ajarkan pada Duryudana? Kau suruh dia menakuti rakyat dengan tangan besi. Kau suruh Dursasana menarik jambu Dewi Drupadi di depan umum. Kau suruh para Kurawa menipu Pandawa dalam permainan dadu. Itu semua bukan menimbulkan rasa takut yang sehat. Itu menabur benih kebencian terdalam! Dan Machiavelli, di akhir pasal yang sama, memperingatkan bahwa seorang pangeran tidak boleh 'merampas harta benda dan perempuan warganya'. Karena, katanya, 'orang lebih cepat melupakan kematian ayahnya daripada kehilangan warisan.' Duryudana merampas hak waris Pandawa! Itu bukan ajaran Machiavelli, Mbah. Itu bunuh diri politik dengan resep darimu!"
Sengkuni terpaku. Butir-butir keringat mulai muncul di dahinya yang botak. Argumennya satu per satu dirontokkan. Ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya: terpojok.
Dengan suara yang mulai kehilangan kesombongannya, Sengkuni mencoba serangan terakhir. "Dan bagaimana dengan virtù? Kejantanan, keberanian? Machiavelli menekankan virtù sebagai kekuatan utama untuk melawan fortuna, keberuntungan yang seperti wanita! Aku mengajarkan Duryudana virtù yang tak tergoyahkan! Keberanian untuk mengambil risiko!"
Semar tersenyum lebar. Inilah titik paling fundamental yang ingin ia sampaikan. "Di sinilah kebodohanmu dan kebodohan para muridmu mencapai puncaknya, Sengkuni." Nada bicara Semar berubah menjadi seperti seorang profesor yang sedang mengajar mahasiswa bebal.
"Virtù dalam konsep Machiavelli bukanlah sekadar 'keberanian' untuk bertindak sesuka hati. Virtù adalah kemampuan membaca situasi, beradaptasi dengan perubahan zaman, membuat keputusan yang tepat pada waktu yang tepat, dan membangun fondasi yang kuat untuk menghadapi hantaman fortuna. Virtù adalah kombinasi dari kebijaksanaan, ketegasan, dan fleksibilitas. Singa dan rubah, ingat?"
Semar melanjutkan, "Machiavelli bilang fortuna itu seperti sungai yang sedang banjir. Saat cuaca cerah, orang yang memiliki virtù akan membangun tanggul dan kanal. Sehingga, saat banjir datang, ia tidak hancur. Apa yang kau dan Kurawa lakukan? Saat cuaca cerah, kalian malah berpesta pora, menari di atas perahu, menghina buaya di tepian. Kalian tidak membangun satu pun tanggul! Lalu, ketika badai fortuna bernama Baratayudha datang, kalian panik, tenggelam, dan saling menyalahkan! Di situlah kau gagal paham soal virtù. Keberanian Duryudana untuk menantang Pandawa bukanlah virtù, melainkan hubris! Kesombongan buta yang akan dihajar habis oleh fortuna! Karena Machiavelli sendiri bilang, fortuna memang berpihak pada yang muda dan berani, tapi keberanian yang dimaksud adalah keberanian yang terukur dan penuh perhitungan, bukan nekat seperti kerbau!"
Togog menimpali lagi, kali ini dengan semangat yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. "Dan soal tentara, Dimas! Aku ingat! Machiavelli di Il Principe punya satu pasal khusus yang menghujat tentara bayaran! Pasal 12! Dia bilang tentara bayaran itu 'tidak berguna dan berbahaya'! Mereka hanya peduli pada gaji, tidak punya loyalitas, dan akan menjualmu pada saat genting! Lalu apa yang dilakukan Kurawa? Mereka menyewa pasukan raksasa, siluman, dan tentara dari kerajaan antah-berantah dengan biaya selangit! Sementara rakyat Astina sendiri diabaikan! Machiavelli dengan tegas menyatakan bahwa fondasi utama negara adalah 'tentara yang baik', dan tentara yang baik haruslah berasal dari rakyatnya sendiri! Kau bahkan mengingkari prinsip militernya, Sengkuni!"
Semar menambahkan, "Bukan hanya tentara, Kangmas. Di Discourses, Machiavelli memuji republik yang memberikan senjata kepada rakyatnya. Ia mengatakan, negara yang mempersenjatai rakyatnya akan melahirkan warga negara yang patriotik dan negara yang kuat. Sebaliknya, negara yang takut mempersenjatai rakyat, seperti yang kau lakukan di Astina, adalah negara yang didirikan di atas ketakutan penguasa pada rakyatnya sendiri. Itu negara yang busuk dari dalam!"
Sengkuni sekarang benar-benar terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya yang sipit berkedip-kedip cepat, mencari-cari celah untuk menyelamatkan diri dari sudut intelektual yang terus menyempit. Ia sadar, berdebat dengan Semar soal Machiavelli adalah kesalahan besar. Semar tahu isi Il Principe dan Discourses luar dalam, sementara ia hanya hafal potongan-potongan yang bisa dipelintir.
Akhirnya, dengan suara yang berat dan penuh kemarahan yang ditahan, Sengkuni angkat bicara. "Kalian... kalian terlalu tekstual! Kalian tidak mengerti geopolitik Eropa abad ke-16! Interpretasi itu dinamis! Aku menerapkan Machiavelli sesuai konteks ke-Astina-an kita! Ini soal realpolitik, bukan debat kitab suci!"
Semar tertawa kecil. Tawanya bukan tawa mengejek, melainkan tawa penuh iba. "Konteks? Realpolitik? Mbah, justru konteks Machiavelli adalah menyelamatkan Italia yang saat itu tercabik-cabik oleh perang saudara dan invasi asing. Ia menulis Il Principe sebagai seruan untuk persatuan dan pembebasan. Di pasal terakhir, Pasal 26, ia mengutip Petrarch, menyerukan agar 'keberanian mengangkat senjata melawan amukan', untuk membebaskan Italia dari para barbar! Nada tulisannya penuh amarah dan patriotisme! Lalu apa yang kau lakukan di Astina? Kau justru memecah belah! Kau adu domba Pandawa dan Kurawa, kau lemahkan negara dari dalam, kau buat rakyat saling curiga! Kalau ada barbar yang harus kau usir, barbar itu adalah dirimu sendiri dan kebijakan-kebijakan Duryudana yang korup! Kau bukan penerjemah Machiavelli, Mbah. Kau adalah penyakit yang ingin disembuhkan Machiavelli!"
Malam semakin larut. Nasi kucing dan sate usus di hadapan Togog dan Semar sudah habis tak bersisa. Gelas kopi joss susu pun sudah kosong. Perdebatan yang berlangsung berjam-jam itu mencapai ujungnya. Tidak ada pemenang dan pecundang yang dideklarasikan. Sengkuni, dengan seluruh kelicikannya, tidak akan pernah mengaku kalah. Baginya, perdebatan ini hanyalah satu ronde dalam permainan catur yang panjang.
Ia bangkit dari kursi emasnya. Wajahnya kembali tenang, topeng kesombongan terpasang sempurna. "Percakapan yang... menarik," katanya, nadanya kembali merendahkan. "Aku akan mengingatnya sebagai hiburan malam yang lumayan." Ia menatap ke arah pedagang angkringan, Bao.
"Aku akan membayar sewaku duduk di sini, karena aku tahu kaisar tua tak diundang ini (melirik Togog) tidak akan mampu membayar minumannya sendiri." Ia memberi isyarat pada salah satu secret service-nya. Seorang pria berpakaian serba hitam maju dan menyerahkan sekeping logam mulia seberat 100 gram, 99,99% murni, produk dari Negeri Maospati. Sengkuni melemparkannya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya ke arah Bao.
"Ini buat bayar sewa tempatku duduk. Sisanya buat kalian bagi-bagi." Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam.
Bao menangkap logam mulia itu dengan kedua tangannya. Matanya membelalak. Ia lalu membungkuk-bungkuk dalam, mengucapkan terima kasih dalam 11 bahasa berbeda: "Xie xie! Thank you! Arigato! Terima kasih! Matur nuwun! Gracias! Merci! Danke! Syukran! Spasiba! Obrigado!" Suaranya penuh suka cita. Mungkin ini rezeki terbesar dalam hidupnya.
Sengkuni melengos pergi menuju Bajajnya. Sepuluh secret service-nya ikut bergerak dalam formasi tak terlihat, melebur ke dalam bayang-bayang. Togog dan Semar masih duduk di tikar. Hening melingkupi mereka berdua.
Lalu Togog berbisik lirih, nyaris seperti orang menangis, "Percuma, Dimas. Percuma. Ia tetap akan membajak Machiavelli. Ia tetap akan memanipulasi Kurawa. Dan aku... aku tetap akan pulang bersamanya."
Semar menatap iba. "Pulang bersama?"
Togog mengangguk lesu, menatap langit malam Negeri Mahjong yang dipenuhi bintang-bintang yang baginya tak berarti apa-apa. "Duryudana sudah memesankan tiket pesawat untukku dan Sengkuni. Penerbangan malam ini. Dari bandara Negeri Mahjong langsung non-stop ke Astina. 12 jam perjalanan."
"Maskapai apa, Kangmas?"
"Etanol Tebu Airways," jawab Togog, suaranya semakin parau, hampir seperti lolongan anjing yang ditinggal majikannya. "Pesawatnya... kau tahu sendiri, Dimas. Kursinya sempit, aromanya campuran tebu fermentasi dan keringat penumpang. Aku sudah punya penyakit punggung sejak lahir, dan kursi ekonomi Etanol Tebu itu adalah definisi siksaan modern. Tapi yang paling membuatku ingin terjun dari ketinggian 30.000 kaki tanpa parasut..."
Semar menunggu, wajahnya penuh prihatin.
"...adalah nomor tempat dudukku dan Sengkuni... bersebelahan!" Togog menutup wajahnya dengan tangan kurusnya. Ia mulai terisak. "Kursi dua-seat. Aku di nomor 101, dekat lorong. Dan Sengkuni... di nomor 100, dekat jendela. Aku akan terjebak di sampingnya selama 12 jam, Dimas! 12 jam! Bersama monster yang baru saja kau ajak berdebat itu! Dan kau tahu, Sengkuni itu punya prostat yang buruk! Dia akan bolak-balik ke toilet, menyuruhku berdiri setiap 45 menit! 'Togog, berdiri! Aku mau pipis!' begitu katanya, dengan nada menghina! Itu belum termasuk kalau dia tiba-tiba ingin melanjutkan ceramah soal kehebatannya, atau merekrutku menjadi mata-matanya, atau menyuruhku mengambilkan makanan ringan dari pramugari! Oh, Dimas, nasibku! Tobat... tobat biyuuuuuung!"
Semar hanya bisa mengelus dada. Ia membayangkan Kangmasnya yang kurus kedinginan di pesawat Etanol Tebu, terjepit di samping Sengkuni yang berisik, sombong, dan sering kencing. Depresi Togog memang sebuah lingkaran tak berujung. Di satu sisi, ia adalah pamong para tokoh jahat yang 99% nasihatnya berakhir di tong sampah. Di sisi lain, ketika ia baru saja mendapatkan pencerahan intelektual dan semangat baru, ia harus pulang berdampingan dengan si sumber kejahatan itu sendiri dalam penerbangan ekonomi yang menyiksa.
Semar memandang langit, lalu pada Togog. Ia meletakkan tangannya yang hangat dan gemuk di bahu kurus Kangmasnya. "Kangmas, dengarkan aku. Malam ini, kau telah memenangkan sesuatu yang tidak bisa direbut oleh Sengkuni. Kau tahu kebenaran. Kau tahu bahwa seluruh fondasi yang digunakan Sengkuni untuk memanipulasi Kurawa adalah fondasi yang palsu, dibangun dari potongan-potongan ayat yang dia sendiri tidak pahami. Tugasmu, meski berat, tetap mulia. Teruslah menasihati mereka. Karena di antara 99 kegagalanmu, akan ada 1 keberhasilan. Dan 1 keberhasilan itu, sekecil apa pun, bisa jadi adalah satu-satunya celah bagi para Kurawa untuk melihat cahaya. Dan celah itu, hanya bisa kau buat karena kau ada di sana, di sisi gelap itu."
Togog mengangkat wajahnya. Matanya yang sembab menatap adiknya. "Dan kau, Dimas? Kau yang memomong para protagonis, Pandawa yang baik-baik, Yudistira yang menjunjung dharma. Tingkat keberhasilanmu pasti 99 banding 1 kan? 99 sukses, 1 gagal?"
Semar terdiam. Senyumnya yang bijak memudar, digantikan oleh bayang-bayang kesedihan yang mendalam. Ia teringat satu-satunya kegagalannya sebagai pamong. Kegagalan yang membuatnya, sebagai Batara Ismaya, menyadari bahwa ia bukanlah pamong yang sempurna. "Ya, Kangmas. Hanya satu kegagalanku. Tapi itu kegagalan yang sangat besar. Sebesar gunung."
"Kegagalan apa?" tanya Togog.
"Di padang Kuruksetra, saat perang besar berkecamuk," kata Semar lirih, nyaris berbisik. "Untuk mengalahkan Resi Drona yang tak terkalahkan, para Pandawa harus membuatnya percaya bahwa Aswatama, putra kesayangannya, telah gugur. Siasat itu membutuhkan sebuah kebohongan yang diucapkan oleh orang yang paling tidak mungkin berbohong seantero Bharata: Yudistira. Aku... aku tak kuasa mencegahnya, Kangmas. Dharma Yudistira runtuh di hadapanku. Ia mengucapkan kebohongan itu. 'Aswatama mati,' katanya lantang. Lalu dengan lirih, ia berbisik, 'Yang tewas Asotama, sang gajah tempur, bukan Aswatama.' Tapi kebohongan tetaplah kebohongan. Itulah noda. Satu-satunya noda hitam dalam didikanku. 1 dari 99."
Kedua pamong itu terdiam. Togog dengan 99 kegagalannya dalam membimbing kejahatan. Semar dengan 1 kegagalannya dalam membimbing kebaikan. Malam di Negeri Mahjong itu terasa begitu berat. Angin malam berembus membawa aroma kopi dan asap bajaj. Di kejauhan, Bao, si pedagang angkringan, masih tersenyum-senyum sambil memandangi logam mulia 100 gram di tangannya, mungkin sedang menghitung-hitung berapa angkringan lagi yang bisa dia beli.
Hidup memang penuh ironi. Dalam perdebatan besar tentang filsafat politik, moralitas, dan kekuasaan, sang pemenang sesungguhnya adalah pedagang angkringan yang sama sekali tidak paham apa yang baru saja terjadi. Ia hanya tahu, malam ini, keberuntungan (fortuna) sedang memihaknya.
Sementara Togog, dengan langkah gontai dan hati yang dipenuhi campuran pencerahan dan depresi, melangkah menuju bandara. Menuju pesawat Etanol Tebu. Menuju kursi nomor 101. Dekat lorong. Menuju 12 jam di samping Sengkuni yang sering beser.
"Oh, Machiavelli," batinnya dalam hati, "alangkah baiknya jika kau juga menulis bab tentang bagaimana caranya bertahan dalam penerbangan panjang di samping seorang bajingan."
TAMAT.
Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi. Kalau ada kesamaan dengan realitas, itu cuma kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, karena realitas kadang lebih absurd daripada fiksi.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.