Ad Code

Togog, Sang Profesor dan Kekalahan Neokorteks Seorang Sengkuni

Entah karena iseng atau apa Sengkuni menemukan informasi jabatan fungsional akademik Togog ternyata Guru Besar Ilmu Politik. Sengkuni sendiri mendadak iri dan bernafsu untuk mengalahkan jenjang pendidikan Togog yaitu dengan mengambil studi magister Ilmu Politik di Padepokan Tinggi Kaling. Namun, apa yang terjadi kemudian jauh sekali dari harapan Sengkuni.

Bagian 1:
Sebelum Badai Ada Iri, Sebuah Studi tentang Ego, Gen, dan Ijazah yang Hilang


Matahari di Keraton yang Berbau Intrik

Di Keraton Astina, di antara bau dupa cendana yang dibakar setiap pagi untuk mengusir aura negatif, atau mungkin justru untuk menyamarkan bau busuk korupsi, Sengkuni adalah sebuah matahari. Semua planet berputar mengelilinginya. Ia bukanlah raja. Raja adalah Duryudana, seorang pria dengan nafsu besar dan otak kecil yang mudah terbakar amarah. Namun, Sengkuni adalah gravitasi. Kata-katanya, yang diucapkan dengan bisikan halus namun penuh bisa, adalah sebuah undang-undang yang bahkan Duryudana sendiri tidak sadar telah ditandatanganinya. Seringainya yang khas, di mana sudut bibir kanan naik lebih tinggi dari yang kiri, adalah sebuah pedoman moral bagi seluruh kabinet. Jika Sengkuni tersenyum, proyek itu aman. Jika ia mengerutkan kening, seluruh kementerian akan panik dan segera mencari siapa yang bisa dikorbankan.

Kisah Sengkuni iri pada gelar profesor Togog, lalu kuliah S2 Ilmu Politik dengan cara curang. Berakhir tragis di sidang tesis: neokorteks kalah.


Dan kemauannya? Kemauan Sengkuni adalah proyek strategis nasional. Jika ia menginginkan sebuah bendungan dibangun di atas lahan yang tidak subur, itu akan dibangun, meskipun tidak ada air yang bisa dibendung. Jika ia menginginkan sebuah jembatan dibangun menuju pulau yang tidak berpenghuni, para insinyur akan dipaksa mencari cara, dan laporan kelayakannya akan "disesuaikan". Semua ini ia lakukan dengan bermodalkan satu-satunya ijazah yang ia miliki: Sarjana Strata Satu Bahasa Sansekerta dari sebuah padepokan tinggi yang sekarang sudah tutup dan berubah menjadi toko material bangunan bernama "UD. Jaya Abadi: Menjual Semen, Pasir, dan Batu Bata". Sungguh, ironi yang begitu kentara. Seorang arsitek utama kebijakan negara hanya berbekal gelar yang relevansinya setara dengan menjual semen eceran.

Namun, justru di situlah letak kejeniusan Sengkuni yang sesat. Ia adalah seorang alkemis politik. Di tangannya, laporan yang jelas-jelas benar bisa berubah menjadi salah di mata presiden. Caranya? Mudah. Jika laporan itu datang dari seorang bawahan yang tidak disukainya, atau lebih tepatnya, yang tidak memberinya "biaya administrasi" bulanan, Sengkuni hanya perlu mendekati Duryudana dan berbisik, "Paduka, laporan ini secara teknis benar. Tapi... niat di baliknya... hamba meragukan loyalitas sang pelapor. Apakah ia ingin menjatuhkan Paduka?" Maka, laporan yang benar itu pun terbakar.

Sebaliknya, laporan yang jelas-jelas merupakan fiksi belaka, karangan yang lebih cocok menjadi naskah drama kolosal, bisa ia ubah menjadi kebenaran mutlak. Cukup dengan mengatakan, "Paduka, data ini mungkin terlihat fantastis, tapi inilah bukti keberhasilan pemerintahan Paduka. Musuh-musuh kita akan iri. Rakyat akan bangga. Jangan biarkan detail-detail kecil menghalangi narasi besar kejayaan Paduka." Maka, fiksi itu pun diukir di prasasti. Semua bergantung pada siapa subyeknya dan, yang terpenting, pada nawaitu di dalam diri Sengkuni sendiri. Sebuah nawaitu yang murni, suci, dan tidak pernah berubah: SELF-INTEREST. Kepentingan diri sendiri. Itu adalah poros di mana seluruh moralitas Sengkuni berputar.


Kitab Suci yang Dibajak: The Selfish Gene

Pertanyaannya, dari mana Sengkuni mendapatkan fondasi filosofis untuk cara hidupnya yang sedemikian mulusnya? Apakah ia menemukannya dalam kitab-kitab kuno? Dalam wejangan para resi? Tidak. Ia menemukannya di sebuah toko buku bekas, di tumpukan buku obral seharga 5.000 keping emas per tiga buku. Di sanalah ia menemukan "The Selfish Gene" karya Richard Dawkins. Sampulnya sudah lusuh, halamannya sudah menguning, ada bekas kopi di Bab 3, dan bekas coretan bolpoin di Bab 9. Namun, bagi Sengkuni, buku itu adalah sebuah wahyu.

Ia tidak membacanya sebagai seorang ilmuwan. Ia membacanya sebagai seorang bajingan yang sedang mencari-cari pembenaran. Sengkuni tidak pernah membaca buku untuk memahami, melainkan untuk mengambil. Prosesnya selalu sama: ia akan membaca satu kalimat yang tampaknya cocok, lalu otaknya akan mematikan seluruh fungsi kritisnya, dan ia akan berteriak dalam hati, "Nah, kan! Aku benar!" Inilah proses pembajakan intelektual yang paling rapi dalam sejarah pewayangan. Mari kita bedah satu per satu bagaimana Sengkuni memperkosa gagasan-gagasan brilian Richard Dawkins.


Pembajakan Pertama: Gen Egois sebagai Surat Izin Menjadi Bajingan

Richard Dawkins, dalam The Selfish Gene, menulis bahwa unit dasar dari seleksi alam bukanlah spesies, bukan pula individu, melainkan gen. Ia berargumen bahwa kita, sebagai makhluk hidup, hanyalah "mesin bertahan hidup" yang diciptakan oleh gen untuk melestarikan salinan dirinya sendiri. Gen yang berhasil membangun mesin yang kuat, pintar, dan adaptif akan bertahan. Gen yang gagal akan punah. Dawkins menggunakan kata "egois" untuk menggambarkan perilaku gen ini, karena secara metaforis, gen "bertindak" seolah-olah mereka memiliki kepentingan tunggal: memperbanyak diri.

Ini adalah sebuah penjelasan biologis yang sangat elegan. Dawkins dengan susah payah menjelaskan bahwa "egois" di sini bukanlah dalam arti moral. Ini adalah definisi perilaku, bukan definisi etika. Gen tidak memiliki kesadaran, ia tidak bisa jahat atau baik. Ia hanya ada. Dan dari "keegoisan" gen ini, justru bisa muncul perilaku altruisme pada tingkat organisme. Induk yang rela mati demi anaknya, pada dasarnya, sedang melindungi salinan gennya yang ada di dalam tubuh sang anak. Itu adalah penjelasan yang indah tentang cinta dan pengorbanan.

Namun, Sengkuni membacanya dengan mata seorang bajingan yang baru saja menemukan kunci. Di ruang kerjanya yang remang-remang, dengan satu lampu meja yang menyinari halaman buku, ia membaca bab itu dan matanya berbinar-binar penuh kemenangan. "Nah, lihat! Lihat ini!" serunya pada Kucrit yang saat itu sedang mengipasinya. "Bahkan Dawkins, ilmuwan agung dari Barat yang katanya brilian itu, membenarkan bahwa egoisme adalah fitrah manusia! Gen kita sendiri, unit terkecil pembentuk kita, adalah makhluk yang egois! Ini adalah pembuktian ilmiah! Ini bukan lagi soal moral, ini soal biologi! Sains telah berbicara!"

Ia menutup buku itu dengan keras, lalu melanjutkan monolognya yang semakin menjadi-jadi. "Jadi, jika aku egois, aku hanya bertindak sesuai dengan kodrat alamiahku sebagai manusia! Aku tidak bisa dihakimi! Aku hanyalah sebuah mesin daging yang diprogram oleh gen-gen egoisku untuk bertahan hidup dan berkembang biak! Jika aku harus menipu, memanipulasi, bahkan... menghilangkan orang lain, itu hanyalah ekspresi dari perjuangan gen egoisku melawan gen egois orang lain! Aku tidak berdosa. Aku hanyalah produk evolusi yang sukses!"

Tentu saja, Sengkuni mengabaikan sepenuhnya bab-bab selanjutnya. Ia mengabaikan penjelasan Dawkins tentang bagaimana manusia, dengan otak besar dan kesadaran mereka, memiliki kemampuan unik untuk melawan perintah gen egois. Dawkins menulis dengan sangat jelas, "Kita, sendirian di bumi, bisa melawan tirani dari replikator egois kita." Kita memiliki kapasitas untuk altruisme sejati, untuk kebaikan yang tidak mengharapkan balasan. Sengkuni melewatkan bagian itu. Mungkin ia membacanya, tapi otaknya langsung melakukan sensor internal dan menggantinya dengan tulisan "TIDAK BERLAKU UNTUK SAYA". Bagi Sengkuni, bab tentang manusia yang bisa melawan gen egois itu hanyalah catatan kaki yang tidak penting, sebuah basa-basi moral dari seorang ilmuwan yang terlalu takut untuk konsisten dengan teorinya sendiri.


Pembajakan Kedua: Strategi Stabil Evolusioner sebagai Pembenaran Kelicikan

Konsep kedua yang membuat Sengkuni hampir menangis kebahagiaan adalah Strategi Stabil Evolusioner (ESS) . Dawkins, yang meminjam konsep ini dari John Maynard Smith, menjelaskannya dengan sangat cemerlang. ESS adalah sebuah strategi yang, jika diadopsi oleh sebagian besar anggota populasi, tidak dapat dikalahkan oleh strategi alternatif manapun. Ini adalah semacam keseimbangan dalam permainan evolusi.

Dawkins memberikan contoh yang terkenal tentang populasi merpati dan elang. Dalam dunia fiktif, jika semua burung adalah "merpati" (yang selalu menghindari konflik), maka akan muncul mutan "elang" (yang selalu bertarung). Elang akan menang melawan merpati, dan populasinya akan meningkat. Namun, jika semua burung adalah elang, mereka akan terus bertarung satu sama lain, menghabiskan energi dan terluka. Pada titik tertentu, strategi "merpati" kembali menguntungkan. Maka, ESS seringkali adalah campuran stabil antara keduanya, di mana setiap strategi memiliki keuntungan dan kerugiannya.

Sengkuni membaca ini dengan otak yang sudah terkontaminasi oleh nafsu kekuasaan. Ia tidak melihatnya sebagai model matematis yang dingin. Ia melihatnya sebagai cermin dari politik Astina. "Lihat! Lihatlah politik kita! Ini adalah bukti bahwa apa yang saya lakukan adalah benar! Di Astina, saya adalah elang. Para Pandawa yang sok suci itu adalah merpati. Dan apa yang terjadi? Saya menang! Saya memenangkan setiap pertempuran politik! Strategi saya, strategi menipu, memanipulasi, menjilat Duryudana, tidak pernah gagal. Itu adalah Strategi Stabil Evolusioner-ku! "

Ia mulai berjalan mondar-mandir di ruangannya, tangannya di belakang punggung, gaya seorang profesor yang baru saja menemukan teori besar. "Mengapa strategi saya stabil? Karena tidak ada strategi alternatif yang bisa menyerbu saya. Coba lihat Togog, dengan strategi 'jujur'-nya. Setiap kali ia mencoba menasihati Duryudana dengan kebenaran, ia dihina, diabaikan, dan diusir. Strategi 'jujur' adalah strategi yang inferior secara evolusioner! Ia akan punah! Sementara saya, Sengkuni, adalah puncak dari seleksi alam politik! Saya adalah Homo Politicus Superior! Saya bukan sekadar politisi; saya adalah hasil dari penyempurnaan genetik miliaran tahun, dipoles oleh lingkungan Istana Astina yang kejam. Saya adalah jawaban alam semesta terhadap pertanyaan, 'Bagaimana caranya bertahan dalam dunia yang penuh dengan orang-orang tolol?'."

Ia benar-benar mengabaikan bahwa Dawkins sama sekali tidak merayakan kekejaman alam. ESS adalah deskripsi tentang apa yang terjadi, bukan resep tentang apa yang seharusnya. Sengkuni, dalam kebodohan arogannya, mencampuradukkan "deskripsi" dengan "preskripsi". Ia mengira bahwa hanya karena sesuatu itu alamiah, maka sesuatu itu baik. Ini adalah sebuah kesesatan berpikir yang sangat elementer, sebuah naturalistic fallacy yang bahkan mahamurid semester satu filsafat bisa menjelaskannya. Tapi bagi Sengkuni, itu adalah tiket emas menuju Surga Pembenaran Diri.


Pembajakan Ketiga: Meme sebagai Senjata Propaganda Massal

Lalu, sampailah Sengkuni pada bab yang paling terkenal dari buku itu: Meme. Dawkins, di akhir bukunya, memperkenalkan sebuah ide revolusioner. Ia berargumen bahwa evolusi tidak hanya terjadi pada gen biologis, tetapi juga pada unit-unit transmisi budaya yang ia sebut "meme". Sebuah meme bisa berupa ide, lagu, mode, cara membangun rumah, atau apa pun yang bisa ditiru dan disebarkan dari satu otak ke otak lain. Seperti gen, meme bereplikasi, bermutasi, dan bersaing untuk mendapatkan tempat di dalam ruang terbatas: otak manusia.

Dawkins menggambarkannya sebagai "virus pikiran". Ide-ide yang bagus dalam mereplikasi diri, entah itu ide yang benar dan bermanfaat, atau ide yang salah dan berbahaya, akan menyebar seperti virus. Ini adalah sebuah analisis yang brilian tentang bagaimana budaya bekerja.

Mata Sengkuni, yang sudah berbinar-binar, kini menyala seperti lampu sorot. "Viralitas! Inilah dia! Inilah kuncinya!" teriaknya, menggebrak meja hingga Kucrit yang sedang mengantuk hampir jatuh dari kursinya. "Aku selalu bertanya-tanya, mengapa rakyat jelata itu begitu mudahnya percaya pada omong kosong? Ternyata ini jawabannya! Mereka tidak peduli dengan kebenaran! Yang penting adalah meme saya menyebar! Kebenaran obyektif itu tidak penting dalam politik, yang penting adalah meme-ku lebih kuat dan lebih menular daripada meme lawanku!"

Ia mengambil kertas dan mulai menulis dengan tergesa-gesa, merancang proyek propaganda raksasa. "Aku bisa menciptakan meme. Meme tidak perlu rumit. Meme harus sederhana, bodoh, dan bisa diulang-ulang. 'Togog Itu Badut'. Itu meme yang bagus! Singkat, padat, dan merendahkan. Setiap kali seseorang mendengar Togog berbicara, mereka akan langsung teringat meme itu dan tidak akan menganggapnya serius. 'Pandawa Itu Ancaman'. Itu meme yang lain! Tidak perlu bukti, tidak perlu penjelasan. Cukup ulangi terus-menerus, dan itu akan menjadi kebenaran di otak para pemilih. Dan yang paling penting, 'Duryudana Adalah Penyelamat'. Sebuah meme yang akan melindungi seluruh kekuasaan kita!"

Ia menatap kertas itu dengan perasaan kagum pada dirinya sendiri. "Dawkins, kau benar-benar jenius! Terima kasih! Dari lubuk hatiku yang paling egois, aku berterima kasih padamu! Kau telah memberiku teori yang sempurna untuk mengendalikan massa bodoh ini! Kau telah memberiku alat untuk menularkan kebohongan sebagai sebuah kebenaran! Ini bukan lagi politik, ini adalah rekayasa genetika sosial! Ini adalah seni menyebarkan virus mental!"

Dan lagi-lagi, Sengkuni lupa. Ia lupa bahwa Richard Dawkins adalah salah satu pembela rasionalisme paling gigih. Dawkins membenci ketidakjujuran intelektual, membenci pseudosains, dan membenci dogma. Dalam semua bukunya yang lain, Dawkins berjuang mati-matian melawan "meme" berbahaya seperti agama dogmatis dan takhayul. Dawkins tidak pernah bermaksud memberikan manual untuk menjadi propagandis fasis. Ia hanya mencoba menjelaskan mengapa kebodohan bisa begitu menular. Sengkuni, dengan cemerlang, mengubah sebuah karya brilian tentang sains menjadi sebuah buku panduan untuk kejahatan.


Api Iri di dalam Otak Limbik

Dengan "kitab suci" barunya yang telah dibajak habis-habisan, Sengkuni berkuasa dengan lebih percaya diri dari sebelumnya. Setiap tindakannya kini memiliki landasan "ilmiah". Setiap kelicikannya kini adalah "strategi evolusioner". Setiap propagandanya kini adalah "penyebaran meme". Ia adalah sebuah mesin politik yang disetel dengan sempurna untuk kejahatan.

Namun, ada satu tempat di mana kuasanya tidak berlaku. Sebuah tempat yang suci, yang belum bisa dijangkau oleh jari-jari lentiknya. Sebuah tempat yang dihuni oleh makhluk-makhluk aneh yang tidak peduli pada meme, tidak tunduk pada strategi elang, dan tidak peduli pada gen egois: website Jaringan Padepokan Tinggi Internasional (JAPTI) .

Suatu malam, di sela-sela waktu luangnya yang biasanya ia gunakan untuk memikirkan cara baru menaikkan pajak tanpa membuat rakyat protes, Sengkuni merasa sedikit bosan. Ia sudah selesai membaca laporan intelijen tentang siapa saja yang berani mengkritiknya (daftarnya semakin pendek, itu membosankan), dan tidak ada musuh baru yang bisa dihancurkan. Tiba-tiba, sebuah pikiran iseng melintas di otaknya. "Ah, sudah lama aku tidak mengecek profil si Togog. Paling-paling tidak ada yang baru. Biar kulihat saja."

Ia membuka browser di laptopnya. Bukan LibreOffice yang biasa ia gunakan untuk membaca laporan palsu, tapi browser yang benar-benar terhubung ke internet. Ia mengetikkan alamat website JAPTI. JAPTI adalah website yang sangat sakral dan tidak bisa dikorupsi. Ia dioperasikan oleh sebuah konsorsium netral yang tidak bisa disuap (atau, setidaknya, biaya suapnya terlalu mahal bahkan untuk standar Astina). Di situs inilah semua rekam jejak akademik para intelektual interpewayangan tersimpan dengan rapi. Ini adalah sebuah monumen kebenaran yang menjengkelkan.

Dengan jari yang sedikit gemetar, entah karena kopi atau karena firasat buruk, Sengkuni mengetikkan nama "TOGOG" di kolom pencarian. Dan apa yang ia temukan, dalam sekejap, membuat seluruh "kitab suci" Dawkins di kepalanya terbakar menjadi abu. Semua pembenaran dirinya, semua teori ESS-nya, semua meme-nya, lenyap ditelan oleh satu emosi yang paling purba dan paling tidak bisa dikendalikan oleh neokorteks manapun: iri hati.

Profil Togog terpampang di layar dengan rapi, elegan, dan sangat, sangat, sangat menghina.


Profil yang Menghancurkan Ego

Layar laptop itu seolah-olah memancarkan cahaya yang menyilaukan mata Sengkuni. Ia melihatnya, dan setiap barisnya terasa seperti sebuah tamparan keras di pipinya yang licin.

- Pendidikan Strata Satu: Ilmu Politik, Padepokan Tinggi Dwaraka.

- Di belakang nama padepokan itu, ada sebuah ikon bintang emas kecil dengan tulisan di sampingnya: (Rangking 1 Dunia Pewayangan) . Dwaraka. Padepokan impian semua orang. Padepokan yang bahkan para dewa pun segan. Dan Togog, si badut tonggos itu, adalah alumninya.

- Pendidikan Strata Dua: Ilmu Politik, Padepokan Tinggi Dwaraka.

- Lagi. Lagi-lagi Dwaraka. Togog tidak hanya masuk, ia juga melanjutkan. Ini bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah bukti konsistensi intelektual yang menakutkan. Sengkuni membayangkan Togog muda, dengan gigi tonggosnya, duduk di perpustakaan megah Dwaraka, membaca buku-buku tebal sementara teman-temannya, atau lebih tepatnya, musuh-musuhnya, sibuk berpesta. "Dia pasti culun," batin Sengkuni, mencoba menghibur diri. Tapi hiburannya tidak mempan.

  • Pendidikan Strata Tiga: Ilmu Politik, Padepokan Tinggi Swargaloka.
  • Di sampingnya, tertulis: (Rangking 2 Dunia Pewayangan, karena Dwaraka belum membuka program S3) . Satu-satunya alasan Togog tidak mendapatkan S3 dari Dwaraka adalah karena Dwaraka belum menyediakan programnya. Jadi, ia pergi ke tempat terbaik kedua. Ini bukan sebuah kekalahan, melainkan sebuah afirmasi bahwa ia selalu mencari yang terbaik. Sengkuni, yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di kampus rangking 1000, merasa dadanya sesak.
  • Gelar Akademik: Guru Besar (Profesor) Ilmu Politik.
  • Dan kemudian, baris yang paling menyakitkan: Diraih pada usia 33 tahun. Tiga puluh tiga! Usia yang bahkan belum cukup tua untuk menjadi penasihat rendahan, dan Togog sudah menjadi Profesor. Sebuah pencapaian yang biasanya diraih oleh para ilmuwan di usia senja. Sementara Sengkuni, di usia 33 tahun, masih sibuk belajar cara menusuk teman sekantornya dari belakang tanpa ketahuan. Waktu yang dihabiskan untuk intrik, rupanya, tidak menghasilkan gelar.
  • Karya Ilmiah: 29 buku referensi dan ratusan artikel ilmiah.
  • Lalu, daftar panjang karya ilmiahnya terpampang. 29 buku. Buku! Bukan sekadar laporan intelijen yang penuh fitnah, bukan sekadar meme di Linimasa Kahyangan, tapi buku-buku tebal dengan ISBN yang terdaftar secara internasional. Ratusan artikel di jurnal bereputasi Sarkofagus 1 dan Sarkofagus 2. Tidak ada satu pun yang Sarkofagus 3, apalagi jurnal predator yang menerbitkan artikel apa saja asal bayar. Semua tulisannya berada di puncak piramida kualitas akademik.

Ini adalah sebuah pukulan kosmik. Sebuah tamparan dari alam semesta yang dingin dan tidak peduli. Sengkuni, yang mengendalikan anggaran negara, yang bisa membuat jenderal gemetar, yang bisa membuat Duryudana menari sesuai iramanya, mendadak merasa sangat, sangat kecil. Semua yang ia miliki, kekuasaan, uang, pengaruh, terasa seperti debu yang tertiup angin di hadapan daftar publikasi Togog. Itu adalah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sebuah inferioritas yang tidak bisa ia suap, ia manipulasi, atau ia hapus dengan sebuah meme.

Panas hati Sengkuni bagaikan lahar Gunung Mahameru yang siap meletus. Urat-urat di lehernya menegang. Tangannya yang kurus mengepal. Ia, sang arsitek Astina, sang dalang di balik takhta, intelektualnya hanya setara dengan seorang sarjana bahasa yang bisa dikuasai oleh seluruh penduduk global. Sebuah gelar yang tidak spesial, tidak langka, dan tidak berharga. Sementara Togog, si badut yang setiap rapat kabinet ia olok-olok, yang pakaiannya hanya kaus oblong dan sarung, yang nasihatnya selalu ia anggap sebagai lelucon, adalah seorang Profesor Ilmu Politik dengan reputasi interpewayangan. Seorang ahli sejati di bidangnya. Seorang akademisi yang dihormati oleh para pemikir global.


Pemberontakan Sistem Limbik dan Tekad yang Membara

Pada saat itulah, sebuah peristiwa biologis yang sangat penting terjadi di dalam tengkorak Sengkuni. Sistem limbiknya, bagian otak kuno yang bertanggung jawab atas emosi-emosi primitif seperti rasa takut, amarah, dan hasrat, secara tiba-tiba dan brutal mengambil alih kendali penuh. Sistem limbik adalah otak reptil yang tidak mengenal logika, tidak peduli pada nuansa, dan tidak mau berunding. Ia hanya mengenal satu bahasa: bahasa perasaan yang mentah dan meledak-ledak.

Neokorteks Sengkuni, bagian otak modern yang bertanggung jawab atas pemikiran rasional, perencanaan jangka panjang, dan analisis yang dingin, langsung dimatikan. Layar monitor di otaknya tiba-tiba menampilkan pesan error: "Neocortex.exe has stopped working. Reason: Overwhelming Emotional Tsunami."

Yang tersisa hanyalah amarah. Amarah yang membara. Amarah yang berubah menjadi sebuah tekad yang gilang-gemilang namun sepenuhnya irasional. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir dengan liar, menabrak tumpukan buku yang belum pernah ia baca.

"S2! Aku harus mengambil S2 Ilmu Politik!" teriaknya pada dinding. "Lanjut S3! Dan aku akan menjadi Guru Besar! Aku tidak akan kalah! Aku tidak akan kalah dari badut tonggos itu! Aku akan mengalahkan Togog di kandangnya sendiri! Aku akan membungkamnya dengan gelar yang sama! Aku akan menunjukkan pada dunia bahwa aku bukan hanya sekadar politisi licik, aku juga seorang intelektual!"

Itu adalah tekad yang lahir dari luka ego yang paling dalam. Ini bukan lagi tentang menjadi penasihat yang lebih baik. Ini tentang balas dendam. Ini tentang membuktikan bahwa dia, Sengkuni, lebih unggul dari Togog dalam segala hal, termasuk dalam hal yang paling tidak ia kuasai: dunia akademik.

Ia tidak sadar, dalam kemarahannya yang meluap-luap, bahwa ia baru saja menandatangani vonis untuk dirinya sendiri. Ia, yang seluruh hidupnya bersandar pada manipulasi dan permainan kata-kata di panggung politik, akan memasuki sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Sebuah dunia yang dingin, kejam, dan tidak bisa dikelabui dengan seringai. Ia harus memasuki dunia berbahaya yang selama ini mati suri di dalam dirinya: Dunia Neokorteks. Dunia logika yang ketat, metodologi yang disiplin, dan argumen yang harus dibangun di atas fondasi teori, bukan di atas ancaman. Dunia di mana "kata-kata" adalah objek yang harus dibedah dengan pisau analisis, bukan senjata untuk menjatuhkan lawan. Dunia di mana "kebenaran" ditentukan oleh bukti dan penalaran, bukan oleh siapa yang berteriak paling keras.

Dan di dunia itulah, nasibnya sebagai seorang mahamurid abal-abal yang malang telah menunggu. Perjalanan penuh bencana Sengkuni menuju gelar akademik, yang akan berujung pada sebuah ruang sidang tesis yang dingin, telah dimulai. Sebuah perjalanan yang akan membuktikan bahwa gelar profesor tidak bisa dicuri, dibeli, atau dimanipulasi. Sebuah perjalanan yang akan mempermalukannya di hadapan musuh bebuyutannya, Togog.



Bagian 2:

Mahamurid Abal-Abal di Padepokan Kaling , Sebuah Studi Kasus tentang Kegagalan Adaptasi Neokorteks di Habitat Asing


Misi Mustahil: Mencari Kampus yang Mau Menerima Sampah

Tekad Sengkuni sudah membara. Ia akan mengambil S2 Ilmu Politik. Titik. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Namun, tekad yang membara seringkali tidak cukup untuk melawan kenyataan yang dingin. Dan kenyataannya adalah ini: mencari padepokan tinggi yang mau menerima Sengkuni sebagai mahasiswa adalah seperti mencari lalat di gurun pasir. Mungkin ada, tetapi sangat, sangat langka.

Proses pendaftaran dimulai. Dengan bantuan Kucrit dan Ampang, Sengkuni mulai mengirimkan surel-surel lamaran ke berbagai padepokan tinggi terkemuka di dunia pewayangan. Template surelnya sama, hanya nama penerimanya yang diganti-ganti.

"Kepada Yth. Rektor Padepokan Tinggi [Nama Padepokan]. Saya, Sengkuni, Penasihat Utama Presiden Duryudana dari Kerajaan Astina, bermaksud untuk melanjutkan studi Strata Dua di bidang Ilmu Politik di padepokan yang Bapak/Ibu pimpin. Saya adalah seorang negarawan, pemikir, dan arsitek utama di balik stabilitas dan kemakmuran Astina. Saya yakin pengalaman saya akan menjadi aset berharga bagi program studi. Terlampir ijazah S1 saya. Hormat saya, Sengkuni."

Surel-surel itu melayang ke angkasa digital, dan jawaban-jawaban yang kembali adalah sebuah mahakarya penolakan yang seragam. Dari Padepokan Tinggi Dwaraka, balasannya sangat diplomatis namun mematikan: "Dengan hormat, kami menghargai minat Anda. Namun, setelah melakukan evaluasi mendalam terhadap rekam jejak Anda, yang mencakup, namun tidak terbatas pada, manipulasi sistem, penipuan massal, dan praktik korupsi yang sudah menjadi legenda, kami merasa bahwa profil Anda tidak sesuai dengan nilai-nilai integritas akademik yang kami junjung tinggi. Kami sarankan Anda mencari padepokan lain yang mungkin lebih sesuai dengan... keahlian Anda."

Dari Padepokan Tinggi Swargaloka, penolakannya lebih singkat dan lebih menyakitkan. Hanya dua kalimat: "Maaf, kami tidak membuka program studi untuk calon kriminal kelas kakap. Silakan coba lamar ke lembaga pemasyarakatan."

Dari padepokan-padepokan lain, jawabannya hampir seragam. Ada yang langsung menolak tanpa alasan, ada yang menyertakan tautan ke artikel-artikel investigasi tentang kasus korupsi Sengkuni (sebuah tamparan digital yang sangat canggih), dan ada satu padepokan yang malah membalas dengan menawarkan jasa konsultasi untuk pembuatan tesis palsu, sebuah kesalahpahaman yang sangat menghina.

Sengkuni meradang. Harga dirinya, yang selama ini digelembungkan oleh sanjungan para penjilat di Istana Astina, tiba-tiba kempes total di dunia luar. Di Astina, ia adalah matahari. Di dunia padepokan tinggi, ia hanyalah sebuah lubang hitam yang ingin dihindari semua orang. Ini adalah sebuah pelajaran mahal dan pahit: pengaruh politik tidak bisa ditukar dengan kredibilitas akademik. Uang bisa membeli banyak hal, tetapi tidak bisa membeli reputasi di hadapan para akademisi yang masih punya prinsip.


Pelabuhan Terakhir: Padepokan Tinggi Kaling

Setelah puluhan penolakan, akhirnya sebuah titik terang muncul dari tempat yang paling tidak terduga. Sebuah surel sederhana, tanpa kop surat yang mewah, masuk ke kotak masuk Sengkuni. Isinya:

"Kepada Yth. Bapak Sengkuni. Kami dari Padepokan Tinggi Kaling (PTK) telah membaca lamaran Bapak. Kami adalah sebuah institusi kecil yang menjunjung tinggi semangat 'Pendidikan untuk Semua Orang, Tanpa Memandang Latar Belakang (Apalagi Latar Belakang Kriminal)'. Kami bersedia menerima Bapak sebagai mahamurid Program Magister Ilmu Politik. Namun, ada satu syarat mutlak yang harus Bapak penuhi. Terlampir surat pernyataan yang harus ditandatangani di atas materai yang berlaku di Negeri Kaling. Hormat kami, Rektorat PTK."

Sengkuni membaca surel itu dengan campuran rasa lega dan curiga. Padepokan Tinggi Kaling? Ia bahkan belum pernah mendengar namanya. Setelah mencari di internet, ia baru sadar bahwa PTK adalah sebuah padepokan tinggi kecil yang terletak di pelosok Negeri Kaling. Akreditasinya B, gedungnya bekas pabrik tahu, dan mahasiswanya lebih banyak yang berjualan online daripada yang membaca buku. Namun, di titik ini, Sengkuni tidak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya padepokan yang mau menerimanya. Ia seperti seorang pelaut yang kapalnya karam, dan PTK adalah satu-satunya rakit yang terlihat di lautan.

Ia membuka lampiran surat pernyataan itu. Isinya singkat, padat, dan jelas:


SURAT PERNYATAAN MAHAMURID

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: Sengkuni
Tempat/Tanggal Lahir: Astina, [Data tidak jelas karena silsilah Sengkuni selalu simpang siur]
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya, sebagai mahamurid Program Magister Ilmu Politik Padepokan Tinggi Kaling, dengan ini memberikan hak prerogatif penuh kepada pihak Padepokan untuk menentukan penguji internal dan penguji eksternal untuk tesis saya nanti. Saya menyatakan tidak akan mengajukan keberatan, protes, ancaman, atau segala bentuk intervensi politik dan ekonomi terhadap keputusan pihak Padepokan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sadar, tanpa paksaan, dan siap menanggung segala konsekuensi hukum yang berlaku di Negeri Kaling.

Sengkuni membaca surat itu dengan cepat. Terlalu cepat. Sistem limbiknya yang sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan gelar S2 langsung menyetujui tanpa mengirimkan sinyal ke neokorteksnya untuk menganalisis risiko. "Hak prerogatif? Apa sih artinya? Paling-paling cuma formalitas. Semua juga bisa diatur. Yang penting saya diterima dulu," gumamnya.

Ia mengambil bolpoin dan menandatangani surat itu dengan penuh keyakinan. Kemudian, ia menempelkan materai dari Negeri Kaling yang bergambar Presiden Prabu Gotama sedang tersenyum. Sebuah ironi yang sempurna: materai bergambar presiden demokratis yang otoriter, ditempelkan di atas pernyataan dari seorang otoriter yang ingin menjadi demokratis.

Apa yang tidak disadari oleh Sengkuni adalah bahwa ia baru saja menandatangani vonis akademiknya sendiri. Kalimat "hak prerogatif penuh" itu adalah bom waktu. Ia pikir itu hanya formalitas. Ia tidak tahu bahwa itu adalah senjata pamungkas yang akan digunakan oleh sistem akademik untuk menghancurkannya. Ia pikir semua bisa diatur. Ia lupa bahwa dunia padepokan tinggi, meskipun kecil dan terpencil, punya satu hal yang tidak bisa ditembus oleh kekuasaan politik: kebebasan akademik untuk menghakimi kebodohan.


Hari Pertama di Kelas: Sebuah Kejutan Budaya

Akhirnya, hari pertama kuliah tiba. Sengkuni memutuskan untuk hadir secara langsung di kelas, sebuah keputusan yang akan segera ia sesali seumur hidupnya. Ia datang dengan setelan jas hitam, dasi sutra, dan sepatu mengkilap, lengkap dengan dua ajudan yang membawakan tas dan termos kopinya. Ia memasuki gedung PTK yang baunya masih sedikit menyengat seperti tahu fermentasi, dan langsung disambut oleh tatapan bingung dari para mahasiswa lain. Mereka, yang kebanyakan memakai kaus oblong dan sendal jepit, mengira ada pejabat yang sedang inspeksi mendadak.

Sengkuni memasuki ruang kelas dengan langkah angkuh. Ia duduk di kursi paling depan, sebuah kebiasaan dari rapat-rapat kabinet di mana ia selalu menjadi pusat perhatian. Ia menatap sekeliling, lalu ke depan, menunggu dosen datang dengan ekspektasi bahwa ia akan disambut dengan hormat. Mungkin akan ada ucapan selamat datang. Mungkin sang dosen akan sedikit gugup karena harus mengajar seorang Penasihat Presiden.

Dosen itu masuk. Namanya Prof. Dr. Nyi Resi Werdaningtyas, seorang profesor senior yang terkenal sangat disiplin dan tidak pernah tersenyum. Wajahnya seperti batu granit, dan suaranya seperti mesin tik tua. Ia membawa setumpuk buku tebal dan meletakkannya di meja dengan suara gedebuk yang menggetarkan seluruh ruangan. Ia menatap ke arah Sengkuni tanpa ekspresi, lalu berkata, "Anda mahasiswa baru? Yang di depan itu? Jas Anda terlalu berlebihan untuk kelas saya. Anda akan kepanasan. Dan mengapa ada ajudan? Ini kelas, bukan konferensi pers. Suruh mereka keluar."

Itu adalah pukulan pertama. Sengkuni, yang terbiasa dihormati, langsung direndahkan. Para ajudannya dengan canggung keluar dari kelas, meninggalkan bos mereka sendirian di medan perang yang sama sekali asing. Sengkuni mulai merasa tidak nyaman. Jasnya tiba-tiba terasa sangat panas.

Prof. Nyi Resi memulai kuliah. "Hari ini, kita akan membahas fondasi ilmu politik: ontologi dan epistemologi. Sebelum kita bisa berdebat tentang negara, kekuasaan, atau kebijakan, kita harus bertanya: apa itu realitas politik? Dan bagaimana kita bisa mengetahuinya?"

Sengkuni mencoba untuk terlihat pintar. Ia mengangguk-angguk. Namun, saat Prof. Nyi Resi mulai berbicara tentang perdebatan antara positivisme, interpretivisme, dan realisme kritis, otak Sengkuni mulai mengeluarkan asap. Kata-kata seperti "hermeneutika", "fenomenologi", "strukturasi", dan "konstruktivisme sosial" beterbangan di udara, dan semuanya gagal ditangkap oleh antena neokorteksnya yang sudah lama tidak digunakan. Satu-satunya kata yang ia kenali adalah "realisme", yang dalam pikirannya selalu ia artikan sebagai "menghalalkan segala cara". Tapi Prof. Nyi Resi membahasnya dengan cara yang sangat berbeda dan sangat membingungkan.

Kemudian, sesi tanya jawab dibuka. Seorang mahasiswa berani bertanya, "Bu Prof, bagaimana kita mendamaikan pendekatan strukturalis dari Kenneth Waltz dengan agensi dalam politik luar negeri?"

Belum sempat Prof. Nyi Resi menjawab, Sengkuni, dalam upayanya untuk menunjukkan kapasitas intelektualnya, langsung menimpali. "Saudara, dalam politik itu tidak ada struktur atau agensi. Yang ada cuma menang atau kalah. Kenneth Waltz itu siapa? Apa dia pernah memenangkan pemilu? Teori-teori itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana Anda bisa mengendalikan situasi dan memenangkan permainan!"

Ruang kelas langsung hening. Sang mahasiswa yang bertanya menatap Sengkuni dengan tatapan aneh, campuran antara kasihan dan jijik. Prof. Nyi Resi melepas kacamatanya, menatap Sengkuni dengan tatapan yang bisa membekukan api. "Rekan Sengkuni. Kenneth Waltz adalah bapak dari neo-realisme, salah satu teori paling fundamental dalam Hubungan Internasional, yang merupakan bagian dari Ilmu Politik. Dan di kelas ini, kita tidak membahas cara 'memenangkan permainan'. Kita membahas cara memahami realitas. Dan pemahaman Anda tentang realitas, sepertinya, sangatlah dangkal. Saya sarankan Anda membaca buku sebelum berbicara."

Pukulan kedua. Lebih keras. Sengkuni merasa wajahnya panas. Ia, yang biasa membuat para menteri dan jenderal gemetar, baru saja dipermalukan di depan sekelompok mahasiswa yang lebih muda dan lebih pintar darinya. Ini adalah pengalaman yang sangat merendahkan. Ia mulai menyadari bahwa di dunia ini, kekuasaan tidak bisa menjawab pertanyaan. Ia tidak bisa mengancam Prof. Nyi Resi dengan pemindahan jabatan. Ia tidak bisa menyogoknya dengan proyek infrastruktur. Satu-satunya mata uang yang berlaku di sini adalah pengetahuan, dan Sengkuni, saat itu juga, sadar bahwa ia bangkrut total.


Kronik Ketidakhadiran dan Seni Membuat Alasan

Setelah insiden memalukan di kelas Prof. Nyi Resi, Sengkuni trauma. Ia tidak ingin lagi merasakan dinginnya tatapan merendahkan dari para akademisi. Ditambah lagi, ia benar-benar tidak mengerti apa pun. Setiap kali ia mencoba membaca buku teks Ilmu Politik, otaknya langsung menolak. Huruf-hurufnya seperti semut yang berbaris tidak jelas. Teori-teori itu seperti labirin tanpa pintu keluar. Ini adalah siksaan yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Lebih mudah memanipulasi laporan keuangan negara daripada memahami bab pertama buku "Pengantar Ilmu Politik".

Maka, Sengkuni kembali pada keahliannya yang sebenarnya: menghindar. Ia adalah seorang grandmaster dalam seni membuat alasan. Selama 2,5 tahun masa studinya, jadwal kuliah Sengkuni bisa dihitung dengan jari satu tangan, dan itu pun hanya karena ia salah membaca jadwal.

Setiap kali ada jadwal kuliah, Kucrit dan Ampang sudah menyiapkan daftar alasan yang kreatif, unik, dan kadang-kadang sangat konyol. Berikut adalah beberapa mahakarya alasan ketidakhadiran Sengkuni yang dikirimkan melalui surel resmi Istana kepada Rektorat PTK:

  • Alasan ke-1: "Menghadap Yang Mulia Presiden Duryudana untuk membahas revisi Undang-Undang Keamanan Nasional yang bersifat sangat rahasia dan sensitif. Maaf, tidak bisa ditinggalkan."
  • Alasan ke-7: "Mendampingi Presiden Duryudana dalam kunjungan kerja ke Kerajaan Alengka untuk membahas kerjasama strategis bilateral. Ini demi kepentingan negara."
  • Alasan ke-13: "Mendadak harus menjadi juru bicara Istana untuk mengklarifikasi isu bahwa Yang Mulia Presiden tidak suka makan sayur. Ini penting untuk stabilitas psikologis rakyat."
  • Alasan ke-20: "Harus memimpin rapat maraton 24 jam untuk menyelidiki siapa yang berani menaruh lukisan wajah Togog di toilet lantai 3."
  • Alasan ke-31: "Mewakili Presiden dalam acara 'Lomba Memasak Ibu-Ibu PKK tingkat Nasional'. Ini adalah bentuk kedekatan pemimpin dengan rakyat kecil."
  • Alasan ke-42: "Sedang melakukan meditasi politik di puncak gunung untuk mencari wangsit tentang cara menaikkan pajak tanpa membuat rakyat protes."

Alasan-alasan ini, tentu saja, omong kosong belaka. Duryudana tidak sedang membahas undang-undang rahasia setiap minggu. Kunjungan ke Alengka hanya terjadi sekali, dan itupun hanya selama dua hari, bukan sepanjang semester. Dan meditasi politik di puncak gunung? Itu adalah kode untuk tidur seharian di vila pribadinya.

Namun, alasan sesungguhnya jauh lebih memalukan dan lebih sederhana: Sengkuni tidak mengerti satu pun kata yang diucapkan para dosen. Ia takut. Ia takut dipermalukan lagi. Ia takut ketahuan bahwa otaknya benar-benar kosong. Ia lebih memilih untuk tidak hadir daripada harus duduk selama dua jam menjadi patung yang tidak paham apa-apa. Ini adalah sebuah ironi yang tragis: sang manipulator ulung, yang biasa mengendalikan orang lain dengan kata-kata, kini kalah oleh kata-kata.


Oase di Padang Pasir: Kelasnya Dr. Wangsa Kabeh

Di tengah lautan penderitaan akademiknya, Sengkuni akhirnya menemukan sebuah oase. Sebuah tempat yang aman. Sebuah ruang kelas di mana ia tidak merasa bodoh. Itu adalah kelas Dr. Wangsa Kabeh.

Dr. Wangsa Kabeh adalah dosen Ilmu Politik yang fenomenal di PTK. Ia berbeda dari Prof. Nyi Resi. Jika Prof. Nyi Resi adalah granit yang dingin dan keras, maka Dr. Wangsa Kabeh adalah selat Mobii, panjang, nyaman, dan isinya cuma hiburan. Metode pengajarannya sangat sederhana: 90% melawak, 10% mengajar. Ia adalah seorang stand-up comedian yang tersesat di jalur akademik.

Di kelasnya, tidak ada diskusi tentang ontologi atau epistemologi. Tidak ada pertanyaan menjebak tentang Kenneth Waltz. Yang ada hanyalah tawa. Ia bisa membuat seluruh kelas terpingkal-pingkal dengan anekdot-anekdot politik yang satir, menirukan gaya bicara para politisi, dan membuat lelucon tentang kebodohan birokrasi. Topik kuliah "Teori Demokrasi" bisa berubah menjadi sesi impersonasi anggota Dewan Wong selama dua jam penuh. Mahasiswa tidak pernah mencatat, tetapi mereka selalu tertawa.

Di kelas inilah Sengkuni merasa aman. Ia bisa tertawa-tawa, merasa pintar, tanpa perlu mengaktifkan satu neuron pun di neokorteksnya. Bagi Sengkuni, kelas ini adalah bukti bahwa ia masih bisa "berprestasi" di dunia akademik. Dr. Wangsa Kabeh tidak pernah memberikan pertanyaan sulit. Ia hanya memberikan pertanyaan seperti, "Menurut Anda, lucu atau tidak kalau ada menteri yang korupsi uang bansos?" Dan Sengkuni, dengan penuh percaya diri, bisa menjawab, "Lucu sekali, Doktor! Lucu sekali!" tanpa harus menjelaskan teori korupsi struktural.

Dr. Wangsa Kabeh, yang mungkin tidak sadar atau mungkin tidak peduli, telah menjadi pelindung sempurna bagi kemalasan intelektual Sengkuni. Sengkuni mengira bahwa dengan tertawa di kelas Dr. Wangsa Kabeh, ia sudah menjadi seorang intelektual. Ia tidak sadar bahwa ia sedang membangun istana di atas fondasi lawakan. Ia tidak sadar bahwa sidang tesis bukanlah panggung komedi. Ia tidak sadar bahwa badai bernama Prof. Dr. Togog sedang menunggunya di ujung jalan.

Dan di sinilah karir Sengkuni sebagai mahamurid abal-abal mencapai puncak kenyamanannya yang semu. Ia sibuk menghindari kelas yang serius dan bersenang-senang di kelas yang penuh canda, mengira gelar S2 akan jatuh ke pangkuannya seperti proyek tender. Ia sama sekali tidak siap untuk apa yang akan datang selanjutnya: kenyataan pahit bahwa untuk lulus, ia harus menulis tesis, dan tesis itu akan diuji oleh orang yang paling ia benci sekaligus paling ia takuti di seluruh dunia pewayangan. Babak yang sesungguhnya, pertarungan pamungkas antara Sistem Limbik dan Neokorteks, akan segera dimulai.


Bagian 3:
Tesis Buatan Agen Rahasia , Sebuah Mahakarya Plagiarisme yang Lahir dari Kepanikan


Detik-Detik Menuju Kepanikan

Waktu bergulir tanpa ampun. Kalender di ruang kerja Sengkuni, yang biasanya hanya ia gunakan untuk menandai jadwal rapat kabinet dan eksekusi politik, kini menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan: batas akhir pengumpulan tesis. Dua setengah tahun telah berlalu dalam kehampaan akademik. Sengkuni, yang selama ini bersembunyi di balik alasan-alasan konyol dan tertawa di kelas Dr. Wangsa Kabeh, kini harus menghadapi kenyataan yang tidak bisa dihindari. Ia harus menulis sebuah tesis.

Menulis tesis bukanlah seperti menulis perintah penangkapan atau memalsukan laporan keuangan. Ini adalah sebuah proses yang menuntut aktivasi penuh dari neokorteks. Ini adalah seni merangkai argumen, menyusun data, menganalisis teori, dan menarik kesimpulan yang valid. Ini adalah sebuah marathon intelektual yang bahkan bagi mahasiswa sejati pun sangat melelahkan. Bagi Sengkuni, yang neokorteksnya sudah bertahun-tahun hanya digunakan untuk menghafal nama-nama orang yang bisa disuap, ini adalah misi yang mustahil.

Ia duduk di ruang kerjanya yang megah, dikelilingi oleh lambang-lambang kerajaan dan tumpukan buku yang belum pernah ia sentuh. Matanya menatap layar laptop yang kosong. Kursor berkedip-kedip, seolah mengejeknya. Ketik sesuatu, dasar otak kosong. Sengkuni mencoba mengetik satu kalimat, "Pendahuluan: Politik adalah seni..." lalu ia berhenti. Apa seni politik? Bagaimana mendefinisikannya? Apa kata para ahli? Otaknya langsung mati. Ini lebih sulit daripada merancang kudeta.

Keringat dingin mulai membasahi dahinya yang botak. Ia sadar bahwa ia tidak bisa melakukan ini sendirian. Ia butuh bantuan. Ia butuh seseorang, atau lebih tepatnya, beberapa orang, yang bisa melakukan pekerjaan kotornya. Sama seperti ia menyuruh orang lain untuk melakukan intimidasi, menyebar fitnah, atau mengatur suap, ia akan menyuruh orang lain untuk menulis tesisnya. Inilah solusi ala Sengkuni: outsourcing. Prinsip manajemen modern yang ia pahami dengan sangat baik: delegasikan semua pekerjaan yang tidak ingin atau tidak bisa kau lakukan sendiri.

Maka, ia pun memanggil dua agennya yang paling "cerdas". Dua orang yang selama ini menjadi tulang punggung operasi-operasi rahasianya. Dua orang yang ia anggap sebagai pakar teknologi informasi, karena mereka bisa menyalakan komputer tanpa bertanya "di mana tombol ON-nya?".


Profil Singkat Dua "Agen Intelektual"

Nama mereka adalah Kucrit dan Ampang. Mereka adalah sepasang duo yang tak terpisahkan, seperti panci dan penggorengan, seperti kejahatan dan kebodohan. Secara resmi, jabatan mereka di Istana adalah "Staf Khusus Teknologi Informasi dan Intelijen". Tapi secara praktis, pekerjaan mereka adalah apa saja yang diperintahkan Sengkuni, mulai dari menyadap ponsel musuh politik, menyebarkan meme propaganda di Linimasa Kahyangan, hingga membelikan makan siang.

Kucrit adalah pria bertubuh mungil dengan kacamata setebal pantat botol. Ia selalu gugup, selalu berkeringat, dan selalu menjadi orang pertama yang panik dalam situasi apa pun. Keahliannya adalah mencari informasi, atau lebih tepatnya, menggali sampah, di internet. Ia bisa menemukan alamat rumah seseorang hanya dari foto kucing peliharaannya, sebuah keahlian yang sangat berguna untuk meneror lawan politik, namun sama sekali tidak berguna untuk menulis tesis.

Ampang adalah kebalikannya. Ia bertubuh gemuk, berambut gondrong yang selalu berminyak, dan memiliki sikap cuek yang legendaris. Keahliannya adalah mengetik dengan kecepatan tinggi menggunakan LibreOffice versi terbaru (sebuah fakta yang sangat ia banggakan, seolah-olah itu setara dengan menguasai astrofisika). Ia juga ahli dalam copy-paste, sebuah keterampilan dasar yang, di tangannya, menjadi sebuah seni yang mengerikan. Ia bisa menyalin satu halaman Wikipedia hanya dalam hitungan detik tanpa membaca satu kata pun.

Pendidikan tertinggi mereka berdua adalah Sekolah Menengah Atas Kejuruan (SMAK) jurusan Tata Boga. Ya, Anda tidak salah baca. Sebelum menjadi agen rahasia, Kucrit dan Ampang adalah calon juru masak. Kucrit ahli membuat kue bolu, dan Ampang jagonya membuat nasi goreng. Bagaimana mereka bisa berakhir di dunia intelijen? Itu adalah salah satu misteri terbesar di Astina, yang hanya bisa dijelaskan oleh satu hal: Sengkuni merekrut mereka bukan karena keahlian mereka, melainkan karena mereka terlalu bodoh untuk berkhianat.


Briefing yang Menakutkan

"Kucrit! Ampang!" bentakan Sengkuni menggelegar di ruang kerjanya yang penuh dengan lambang-lambang kerajaan. Suaranya begitu keras hingga Kucrit, yang sedang menguping di balik pintu, hampir terjungkal.

Mereka berdua masuk dengan langkah gemetar. Wajah Sengkuni yang biasanya penuh dengan seringai licik, kali ini terlihat seperti awan mendung yang siap menurunkan hujan badai. Mereka tahu, ekspresi seperti ini berarti ada masalah besar. Mungkin ada yang bocor tentang rekening rahasia di luar negeri. Mungkin ada skandal yang perlu ditutup-tutupi. Atau, yang lebih mengerikan, mungkin mereka berdua yang akan dijadikan kambing hitam.

"Saya punya tugas yang sangat penting untuk kalian berdua," kata Sengkuni dengan suara pelan namun penuh tekanan. "Sebuah tugas yang akan menentukan masa depan kalian di istana ini. Bahkan, bisa dibilang, ini adalah ujian loyalitas tertinggi."

Kucrit dan Ampang saling berpandangan dengan tatapan penuh ketakutan. Ujian loyalitas biasanya berarti melakukan sesuatu yang ilegal, berbahaya, atau keduanya.

"Apa... apa perintah Anda, Tuan?" tanya Kucrit dengan suara bergetar.

Sengkuni meletakkan tangannya di atas meja, mencondongkan badannya ke depan, dan berkata dengan mimik yang sangat serius, "Saya menugaskan kalian berdua untuk... membuat tesis ilmu politik."

Hening.

Kucrit dan Ampang terpaku. Otak mereka memproses kata-kata yang baru saja keluar dari mulut bos mereka. Tesis? Ilmu Politik? Apakah ini semacam kode untuk operasi rahasia baru? Apakah "tesis" adalah nama samaran untuk sebuah target? Apakah "ilmu politik" adalah istilah untuk senjata terbaru? Mereka menunggu Sengkuni tertawa dan mengatakan bahwa itu hanya lelucon. Tapi Sengkuni tidak tertawa. Ekspresinya tetap serius, bahkan semakin tegang.

"Tu... Tuan," Ampang akhirnya memberanikan diri, "maaf, Tuan. Apa yang Tuan maksud dengan... tesis?"

"Tesis! Tesis S2! Karya ilmiah! Kalian tahu, kan? Tulisan panjang sekitar 100 sampai 120 halaman, dengan bab pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi, analisis, dan kesimpulan!" bentak Sengkuni, frustasi karena harus menjelaskan sesuatu yang begitu asing bagi dirinya sendiri.

Kucrit dan Ampang kembali berpandangan. Mereka, lulusan SMAK Tata Boga, baru saja diminta untuk menulis sebuah karya ilmiah setingkat magister di bidang yang sama sekali tidak mereka kenali. Ini seperti menyuruh seorang nelayan untuk melakukan operasi jantung.

"Tuan, hamba... hamba hanya lulusan tata boga," kata Kucrit dengan suara hampir menangis. "Hamba bisa memasak rendang, membuat nastar, mengukus bolu... tapi tesis? Hamba bahkan tidak tahu apa itu 'metodologi'."

Sengkuni menggebrak meja. "Jangan banyak alasan! Kalian itu agen! Kalian bisa menyadap, bisa meretas, bisa mencari informasi! Anggap saja ini seperti mencari informasi, tapi informasi itu kalian susun menjadi sebuah dokumen! Gampang, kan?!"

Sama sekali tidak gampang. Tapi Sengkuni melanjutkan ancamannya. "Judulnya bebas, terserah kalian. Yang penting, kalian bisa kerjakan. Saya tidak peduli bagaimana caranya. Cari di internet, jiplak, contek, apalah! Yang penting jadinya 120 halaman! Dan ingat baik-baik..." Nada suara Sengkuni turun, menjadi dingin dan mengancam. "Kalau kalian gagal, saya akan pindahkan pos kalian. Dari Kantor Staf Presiden yang elit dan terhormat ini... ke Pos Keamanan Lingkungan RT sebelah! "


Kengerian Diposkamlingkan

Kata-kata "Poskamling RT sebelah" menghantam jiwa Kucrit dan Ampang seperti palu godam. Itu bukan sekadar ancaman. Itu adalah vonis kematian sosial. Itu adalah malapetaka kosmik. Di dunia astina, menjadi agen rahasia di Kantor Staf Presiden adalah puncak dari rantai makanan. Anda dekat dengan kekuasaan. Anda dihormati, atau setidaknya ditakuti. Tetangga-tetangga Anda akan iri, dan keluarga Anda akan bangga (meskipun mereka tidak tahu persis apa pekerjaan Anda). Tapi menjadi satpam di Poskamling RT? Itu adalah jurang terdalam. Itu artinya turun ribuan derajat, dari "elit istana" menjadi "penjaga portal komplek".

Kucrit membayangkan dirinya duduk di gardu kecil, memakai seragam biru tua yang sudah kusam, memegang pentungan kayu, dan bertugas mencatat tamu yang masuk. Setiap hari, ia harus menyapa tetangga yang dulunya tunduk padanya. "Selamat pagi, Bu RT... Jangan lupa lapor 1x24 jam ya..." Sungguh memalukan.

Ampang membayangkan hal yang lebih buruk. Tanpa akses ke jaringan internet cepat di Istana, ia akan kesulitan bermain gim online. Di Poskamling, sinyalnya paling cuma 2 bar, dan itu pun harus berebut dengan anak-anak muda yang nongkrong sambil main gitar. Ini adalah neraka modern.

Begitu keluar dari ruang kerja Sengkuni, Kucrit langsung meraih kerah baju Ampang. Matanya nanar, penuh dengan ketakutan eksistensial. "Pang! Pang! Kita harus berhasil! Harus! Entah bagaimana caranya! Kamu dengar sendiri ancaman Tuan Sengkuni! Aku tidak mau diposkamlingkan, Pang! Harkat dan martabat kita akan hancur! Masa depan kita akan gelap! Kita akan menjadi bahan tertawaan seluruh komplek! Keluarga kita akan malu! Ibu angkatku bisa terkena serangan jantung!"

"Iya, Crit, ana tahu. Ana juga tidak mau jadi satpam," jawab Ampang dengan nada datar, meskipun di dalam hatinya ia juga sama paniknya. "Diamlah, ana lagi mikir."

"Mikir apa, Pang?! Kita harus segera bertindak! Waktu kita terbatas! Perpustakaan mana yang harus kita datangi? Buku apa yang harus kita baca? Siapa yang bisa kita mintai bantuan?!" Kucrit merengek.

"Perpustakaan? Buku?" Ampang menatap Kucrit dengan tatapan jijik. "Lo kira kita ini mahasiswa beneran, Crit? Ini era digital, bego! Kita tidak butuh perpustakaan. Kita cuma butuh internet, kopi sachet, dan mi instan. Sekarang, diam. Ana lagi brosing-brosing. Jangan ganggu gue!"

Ampang menyalakan laptop tuanya yang sudah penuh dengan stiker-stiker aneh. Jarinya mulai menari-nari di atas keyboard. Maka, dimulailah proyek paling absurd dalam sejarah dunia akademik: "Tesis Sengkuni" , sebuah dokumen yang ditulis oleh dua orang juru masak, tanpa bimbingan, tanpa pengetahuan, dan tanpa rasa takut pada dewa-dewa intelektualitas.


Metodologi Ala Kucrit dan Ampang: Seni Copy-Paste yang Destruktif

Ruang kerja mereka adalah sebuah ruangan kecil di sudut paling tersembunyi di Istana. Dindingnya penuh dengan monitor dan kabel-kabel yang berantakan. Aroma kopi sachet dan mi instan langsung memenuhi ruangan. Di sini, di bawah lampu remang-remang, Kucrit dan Ampang memulai operasi intelektual mereka.

Strategi mereka bisa diringkas dalam satu kata: jiplak. Tapi bukan sembarang jiplak. Ini adalah plagiarisme yang dilakukan dengan semangat amatirisme yang menggebu-gebu. Ini adalah pencurian intelektual tanpa metode, tanpa strategi, dan tanpa rasa bersalah. Karena, dalam otak mereka, jika ada di internet, maka itu milik umum dan bebas diambil.

Sumber-Sumber yang "Dihormati":

- Wikipedia Bahasa Sansekerta: Ini adalah sumber utama mereka. Setiap halaman tentang "Demokrasi", "Otoritarianisme", "Transisi Politik", dan "Ilmu Politik" mereka salin mentah-mentah. Mereka tidak tahu bahwa Wikipedia bisa disunting oleh siapa saja, termasuk oleh orang-orang yang sama bodohnya dengan mereka. Artikel tentang "Teori Demokrasi" yang mereka salin ternyata adalah hasil suntingan seorang mahasiswa yang sedang frustasi karena tidak lulus ujian, yang isinya sudah dicampuri dengan opini-opini pribadi.

- Blog Mahasiswa yang Tidak Lulus: Ini adalah sumber favorit kedua Ampang. "Crit, blog-blog ini isinya pas banget. Mereka udah putus asa, jadi tulisannya curhat semua. Kita tinggal ambil kata-kata kuncinya, sedikit diubah, terus kita pasang sebagai argumen." Salah satu kalimat yang mereka salin adalah: "Demokrasi adalah sistem yang membuat rakyat lapar karena mereka hanya bisa memilih, tapi tidak bisa makan pilihan." Kalimat ini, yang merupakan curhatan seorang mahasiswa kelaparan, mereka masukkan ke dalam Bab 2 sebagai definisi dari Amartya Sen.

- Utas Linimasa Kahyangan: Ampang adalah penggila media sosial. Ia menemukan sebuah utas viral yang membahas "Mengapa Negara Otoriter Bisa Sukses?" yang ditulis oleh seorang pengamat politik dadakan. Utas itu penuh dengan data-data palsu, grafik yang menyesatkan, dan kesimpulan-kesimpulan bombastis. Bagi Ampang, ini adalah tambang emas. Ia menyalin seluruh utas itu, mengubahnya menjadi paragraf, dan memasukkannya sebagai Bab 4.

- Selebaran Seminar di Tong Sampah: Ini adalah kontribusi dari Kucrit. Saat sedang mencari-cari, ia menemukan setumpuk selebaran di tong sampah dekat sebuah gedung seminar. Selebaran itu berisi ringkasan materi seminar berjudul "Masa Depan Demokrasi di Era Digital". Kucrit, tanpa berpikir panjang, mengambilnya, memindainya, dan menyalin isinya mentah-mentah. Ia tidak tahu bahwa seminar itu dibatalkan karena pembicaranya terbukti melakukan plagiarisme.


Teknik Penulisan yang "Canggih":

Proses penulisannya sangat sederhana namun menghancurkan. Ampang, sang ahli LibreOffice, akan membuka dua jendela: jendela sumber dan jendela dokumen tesis. Ia akan membaca satu kalimat dari sumber, lalu mengetiknya ulang dengan sedikit modifikasi. Modifikasinya biasanya hanya berupa penggantian sinonim. Misalnya, kalimat "Rezim otoriter cenderung stabil" diubah menjadi "Pemerintahan yang otoriter biasanya memiliki kestabilan." Ini adalah teknik parafrase ala Ampang yang ia yakini bisa menghindari deteksi plagiarisme. Ia tidak tahu bahwa perangkat lunak pendeteksi plagiarisme jauh lebih canggih dari otaknya.

Kucrit, di sisi lain, bertugas sebagai "pustakawan" dan "editor". Ia akan mencari sumber-sumber baru, membacakan kalimat-kalimat yang menurutnya keren kepada Ampang, dan memastikan bahwa tidak ada halaman yang kosong. Ia juga bertugas untuk membuat Daftar Pustaka. Ini adalah bagian favoritnya. Karena ia tidak tahu cara menulis daftar pustaka yang benar, ia hanya membuat daftar nama-nama yang terdengar keren dan intelek. Daftar pustaka tesis Sengkuni adalah sebuah karya seni absurd tersendiri.


Isi Daftar Pustaka Tesis Sengkuni (Versi Kucrit dan Ampang):

  1. "Wikipedia, Segala Hal tentang Ilmu Politik, diakses tanggal lupa."
  2. "Mas Bro, Utas di Linimasa Kahyangan, di-screenshot."
  3. "Blog Mahasiswa Galau, Curhatan Anak Politik, tahun tidak jelas."
  4. "Selebaran di Tong Sampah, Ringkasan Seminar Dibatalkan, diterbitkan oleh panitia yang tidak jelas."
  5. "Prof. Dr. Ismaya, Penerawangan Politik, (Sebenarnya ini nama Semar, tapi mereka kira ini profesor sungguhan)."
  6. "Machiavelli, Pokoknya tentang Pangeran, penerbit tidak dikenal."
  7. "Aristoteles, Katanya sih..., diterjemahkan oleh Google Translate."

Dialog-Dialog Konyol di Ruang Kerja

Selama berhari-hari, ruangan kecil itu dipenuhi dengan dialog-dialog absurd yang mencerminkan betapa kosongnya pemahaman mereka tentang apa yang mereka tulis.

Dialog #1: Soal "Landasan Teori"

Kucrit:
"Pang, Bab 2 ini harus diisi landasan teori. Landasan teori itu apa sih?"

Ampang:
(Tanpa menoleh dari layar) "Landasan teori ya... teori yang jadi landasan. Gampang. Cari aja teori yang bagus. Yang banyak dikutip orang."

Kucrit:
"Teori apa yang banyak dikutip?"

Ampang: "Biasanya sih, kalau di utas-utas, pada kutip 'Teori Konflik', 'Teori Fungsionalisme', sama 'Teori Ketergantungan'. Kita comot aja semuanya. Tiga-tiganya sekalian."

Kucrit:
"Tapi apa hubungannya tiga teori itu dengan transisi Astina?"

Ampang:
"Ya nggak tahu! Itu urusan pembaca! Tugas kita cuma nulis, bukan ngartiin."


Dialog #2: Soal "Metodologi Penelitian"

Kucrit:
"Pang, ini Bab 3, Metodologi. Gimana nih? Metode penelitian kita apa?"

Ampang:
"Metode penelitian itu kan macem-macem. Ada kualitatif, kuantitatif, ada yang wawancara, ada yang studi kasus. Kita pilih yang paling gampang aja."

Kucrit:
"Yang paling gampang apa?"

Ampang:
"Studi pustaka, Crit. Studi pustaka itu kan cuma baca-baca buku. Nah, kita kan udah baca-baca Wikipedia, baca-baca blog. Itu kan termasuk studi pustaka. Jadi, kita udah melakukan studi pustaka. Nggak bohong kita."

Kucrit:
"Oh iya, bener juga! Terus, data kita apa?"

Ampang:
"Data kita ya data-data dari internet tadi. Itu semua data sekunder. Semuanya sah. Kalau ada yang nanya, bilang aja kita pakai pendekatan campuran: kualitatif dan kuantitatif, dengan analisis isi dan studi kasus. Pokoknya semua metode kita sebutin, biar keliatan canggih dan susah dibantah."

Dialog #3: Soal "Kesimpulan"

Kucrit:
"Pang, akhirnya kita sampai di Bab 5, Kesimpulan! Kita harus menyimpulkan apa?"

Ampang:
"Ya gampang. Kesimpulan itu ringkasan dari semua yang udah kita tulis. Kita bilang aja bahwa transisi Astina dari otoriter ke demokrasi itu suatu keniscayaan sejarah yang didukung oleh banyak teori dan data. Pokoknya, kita harus optimis."

Kucrit:
"Tapi... emangnya beneran bakal transisi? Presiden Duryudana kan benci demokrasi."

Ampang:
"Ya itu urusan dia. Ini kan cuma tesis. Tesis itu khayalan. Nggak usah takut. Lagian, Siapa yang bakal baca? Paling cuma disimpen di rak. Udah, tulis aja, jangan banyak tanya."


Momen Iluminasi yang Menyesatkan: Penamaan Judul

Saat tiba waktunya memberi judul, mereka berdua sempat berdebat. Kucrit mengusulkan judul yang aman: "Analisis Kebijakan Publik di Astina". Tapi Ampang menolak dengan keras.

"Bego lu, Crit! Itu nggak keren! Masa kita kerja keras buat nulis, judulnya kayak laporan PKK! Lihat tuh jurnal-jurnal yang gue temukan. Judulnya selalu bombastis, provokatif, dan pakai kata-kata yang lagi tren. Sekarang tuh zamannya kata 'Transisi'. Semua orang nulis tentang transisi. Transisi energi, transisi digital, transisi gender. Kita harus ikut tren! Biar keliatan intelek! Biar dikira kita paham isu global!"

"Terus, apa usulmu?" tanya Kucrit kebingungan.

Ampang mengetikkan sesuatu di layar, lalu memutarnya untuk dilihat Kucrit. Di sana, dengan huruf tebal dan besar, tertulis:

"TRANSISI ASTINA DARI OTORITARIAN KE DEMOKRATIS: SEBUAH KENISCAYAAN SEJARAH?"

Kucrit membaca judul itu dengan mata terbelalak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Pang... Astina kan negara otoriter. Presiden Duryudana bangga dengan otoriter. Dia benci demokrasi. Judul ini... bukankah ini artinya kita mengusulkan agar Astina berubah jadi demokrasi? Bukankah ini... semacam makar?"

Ampang melambaikan tangannya dengan cuek. "Ah, lo terlalu serius, Crit! Ini cuma tesis. Nggak ada yang baca. Lagian, ini kan kata 'transisi', bukan 'revolusi'. Transisi itu kan perubahan yang alus, pelan-pelan. Siapa tahu Presiden Duryudana nanti juga lulus S3 dan jadi demokratis. Lagipula, kita bisa tambahin tanda tanya di akhir, 'Sebuah Keniscayaan Sejarah?'. Itu kan artinya kita cuma nanya. Nggak menyatakan. Jadi aman."

Kucrit, meskipun ragu, akhirnya mengangguk. "Oh iya juga ya. Tanda tanya. Jadi ini bukan pernyataan, tapi pertanyaan. Cerdik juga lo, Pang."

Mereka sama sekali tidak paham bahwa mereka baru saja menanam bom waktu di dalam tesis itu. Judul yang mereka pilih, yang mereka anggap keren dan modern, adalah sebuah penghinaan langsung terhadap ideologi bos dari bos mereka. Judul itu adalah sebuah kontradiksi performatif. Dan yang paling ironis, mereka memilihnya bukan karena keyakinan politik, melainkan karena kata "transisi" sedang tren.


Sentuhan Akhir dan Penyerahan

Setelah berhari-hari begadang yang hanya ditopang oleh kopi sachet, mi instan, dan ketakutan akan diposkamlingkan, akhirnya tesis itu selesai. Ampang mengetikkan halaman terakhir, lalu menekan tombol "Print" dengan penuh kelegaan. Printer tua di sudut ruangan mulai berdengung, mengeluarkan lembar demi lembar kertas dengan suara yang bagi mereka terdengar seperti orkestra kemenangan.

Mereka mengumpulkan 120 halaman yang masih hangat itu. Mereka menjilidnya dengan karton tebal berwarna merah marun, lengkap dengan tulisan judul berwarna emas. Hasil akhirnya terlihat sangat meyakinkan. Dari luar, tampak seperti tesis sungguhan. Tebal, berat, dan penuh dengan kata-kata asing. Sebuah mahakarya plagiarisme yang lahir dari kepanikan.

Dengan langkah penuh percaya diri yang baru mereka dapatkan, Kucrit dan Ampang menyerahkan tesis itu kepada Sengkuni. Sengkuni menerimanya dengan penuh drama. Ia menatap sampulnya. Ia membaca judulnya. Ia mengangkat alisnya. Ada jeda beberapa detik yang menegangkan. Kucrit dan Ampang menahan napas, siap untuk menerima vonis.

Lalu, Sengkuni tersenyum. Sebuah senyuman lebar yang penuh dengan kebanggaan dan kelegaan. "TRANSISI ASTINA DARI OTORITARIAN KE DEMOKRATIS..." ia membaca keras-keras. "Judul yang bagus! Sangat provokatif! Sangat berani! Ini akan membuat para penguji terkesan! Kerja bagus, kalian berdua!"

Kucrit dan Ampang saling berpandangan, hampir tidak percaya. Mereka selamat! Mereka tidak diposkamlingkan! Bahkan, mereka mendapat pujian! Sebuah pujian dari Sengkuni, orang yang paling mereka takuti! Perasaan lega dan bangga membanjiri mereka.

Sengkuni menepuk bahu mereka berdua. "Kalian memang agen-agen terbaikku! Kalian telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini! Mulai besok, naik gaji 5 persen!"

Dan begitulah, tesis hasil copy-paste dari dua mantan juru masak itu secara resmi menjadi milik Sengkuni. Bom waktu telah terpasang. Sengkuni, dalam kebodohannya, tidak menyadari bahwa judul yang ia puji-puji itu akan menjadi bumerang yang paling memalukan dalam karir politiknya. Ia tidak menyadari bahwa "mahakarya" ini akan segera dirobek-robek oleh logika dan pengetahuan dari musuh bebuyutannya.

Ia melangkah dengan angkuh, menuju kehancurannya sendiri. Sidang tesis, pertarungan pamungkas antara Sistem Limbik dan Neokorteks, sudah menunggu di depan mata.



Bagian 4:
Panggung Penyiksaan Bernama Sidang Tesis , Sebuah Studi Kasus tentang Kematian Intelektual di Ruang Sidang



Atmosfer Sebelum Eksekusi

Hari itu, langit di atas Padepokan Tinggi Kaling tidak lebih cerah dari biasanya. Namun, bagi Sengkuni, langit apa pun akan terasa seperti mau runtuh. Hari yang selama ini ia hindari, hari yang selama 2,5 tahun ia coba lupakan dengan tawa di kelas Dr. Wangsa Kabeh dan alasan-alasan konyol, akhirnya tiba juga. Sidang Tesis Tertutup. Empat kata yang terdengar lebih mengerikan daripada "audiensi dengan Duryudana saat mengamuk".

Ia tiba di PTK dengan iring-iringan yang tidak lagi megah. Tidak ada ajudan yang membawakan tas. Kucrit dan Ampang, dua penulis bayangan yang harusnya bertanggung jawab, dilarang keras mendekati area kampus. Sengkuni berjalan sendirian, menggenggam kopi tesisnya yang berwarna merah marun. Langkahnya gontai, tidak lagi penuh percaya diri. Jas hitamnya yang biasanya menjadi simbol kekuasaan, kini terasa seperti baju besi yang terlalu berat, membuatnya gerah dan sesak napas. Ia merasa seperti seorang gladiator yang dihukum mati, berjalan menuju arena di mana singa-singa kelaparan sudah menunggu.

Ia memasuki gedung Rektorat, lalu berbelok ke sebuah koridor yang sepi dan dingin. Di ujung koridor itu, ada sebuah pintu kayu dengan plakat kecil bertuliskan "Ruang Sidang". Bagi Sengkuni, pintu itu seperti gerbang menuju neraka. Tangannya gemetar saat memegang kenop pintu. Ia menarik napas panjang, mencoba mengaktifkan seluruh cadangan kelicikannya. "Ini hanya pertunjukan," bisiknya pada diri sendiri. "Ini hanya soal kata-kata. Aku adalah ahlinya kata-kata. Aku pasti bisa."

Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan, ia membuka pintu.


Deskripsi Ruang Sidang: Teater Kematian Intelektual

Ruangan itu tidak besar, tapi entah kenapa terasa sangat luas dan sangat kosong. Di tengahnya, ada sebuah meja panjang yang dilapisi taplak hijau. Taplak itu sudah sedikit pudar, penuh dengan bekas tinta dan noda kopi dari puluhan sidang tesis sebelumnya. Di atas meja, hanya ada tiga botol air mineral dan sebuah mikrofon kecil yang mengarah ke kursi kosong.

Ada tiga kursi di ruangan itu. Dua kursi berada di belakang meja panjang, menghadap ke satu kursi yang berdiri sendirian di tengah ruangan. Kursi tunggal itulah yang akan menjadi tempat duduk Sengkuni. Itu adalah kursi pesakitan. Kursi yang tidak memiliki meja untuk bersembunyi, tidak memiliki sandaran tangan yang kokoh untuk menunjukkan kekuasaan. Hanya sebuah kursi kayu sederhana, dengan bantalan yang sudah tipis. Di kursi itulah, semua kepalsuan akan dihakimi.

Cahaya di ruangan itu aneh. Lampu neon di atas meja penguji bersinar sangat terang, hampir menyilaukan. Sementara di kursi Sengkuni, cahayanya lebih redup. Ini menciptakan efek psikologis yang luar biasa: para penguji terlihat seperti dewa-dewa yang bersemayam di tempat terang, sementara yang diuji adalah pesakitan yang terperangkap dalam bayang-bayang. Sebuah desain interogasi yang sempurna, mungkin tidak disengaja, tapi sangat efektif. Di dinding, ada sebuah jam dinding tua yang berdetak sangat keras. Tok... tok... tok... Setiap detaknya terasa seperti genderang kematian, menghitung mundur sisa-sisa kredibilitas Sengkuni.


Dua Sosok yang Kontras: Sang Pelawak dan Sang Profesor

Di belakang meja hijau, duduklah dua orang yang nasibnya berkonspirasi untuk menjadi algojo-algojo Sengkuni. Dua sosok yang sangat kontras, bagaikan air dan minyak, bagaikan komedi dan tragedi.

Di sebelah kiri, duduk Dr. Wangsa Kabeh, penguji internal. Ia datang dengan setelan batik yang sedikit berantakan, rambutnya agak acak-acakan, dan yang paling mencolok, ia membawa sebuah termos besar berisi kopi. Senyumnya masih terkembang, senyum khas seorang pelawak yang sedang menunggu materi baru untuk dijadikan bahan lelucon. Ia duduk dengan santai, menyandarkan punggungnya, matanya berbinar-binar menatap Sengkuni. Bagi Dr. Wangsa Kabeh, ini bukanlah sidang tesis yang menegangkan. Ini adalah sebuah pertunjukan komedi yang menjanjikan, di mana ia akan menjadi salah satu penonton terdepan.

Namun, di sebelah kanannya, duduklah sosok yang membuat seluruh suasana menjadi berbeda. Prof. Dr. Togog, penguji eksternal. Kontrasnya sangat mencolok. Jika Dr. Wangsa Kabeh penuh dengan warna dan gerakan, Togog adalah monokrom dan ketenangan.

Togog datang dengan penampilan khasnya yang tidak pernah berubah, seolah-olah ia ingin mengejek formalitas ruang sidang dengan kesederhanaannya: kaus oblong putih bersih yang disetrika rapi, dan sarung kotak-kotak yang melilit di pinggangnya. Di bahunya, tersampir sebuah tas selempang lusuh yang terlihat sangat berat, penuh dengan buku-buku tebal dan laptop tuanya. Tidak ada jas, tidak ada dasi, tidak ada sepatu mengkilap. Hanya sandal jepit swallow merek bebek.

Namun, justru dalam kesederhanaan itulah letak kewibawaannya yang mengerikan. Ia tidak butuh pakaian untuk menunjukkan otoritas. Otoritasnya terpancar dari matanya yang tenang, dari gerak-geriknya yang lambat dan pasti, dan dari tumpukan buku yang ia bawa, buku-buku yang tidak diragukan lagi telah ia baca, ia pahami, dan bisa ia kutip kapan saja. Ia meletakkan tasnya, mengeluarkan laptop, buku-buku, dan sebuah kotak kacamata tuanya. Ia membersihkan lensanya dengan hati-hati, lalu memakainya. Kemudian, ia menatap Sengkuni.

Tatapan itu adalah teror paling murni. Tidak ada dendam di sana. Tidak ada ejekan. Tidak ada kemarahan. Hanya ada ketenangan seorang akademisi sejati, seorang profesor yang telah membaca puluhan ribu halaman dan menulis jutaan kata. Dan justru ketiadaan emosi itulah yang paling menakutkan. Itu adalah tatapan seorang hakim yang tidak bisa disuap, tidak bisa diancam, dan tidak bisa dikelabui. Itu adalah tatapan Neokorteks dalam bentuknya yang paling murni, menatap Sistem Limbik yang sedang bergetar ketakutan.

Bagi Sengkuni, melihat Togog duduk di sana sebagai pengujinya adalah pukulan telak yang pertama. Ini adalah dunia yang terbalik. Selama bertahun-tahun, di setiap rapat kabinet, Togog adalah objek bully-annya. "Togog, kopi saya mana?" "Togog, jangan ngomong soal moral, kamu ini badut!" Semua hinaan itu, semua ejekan itu, kini kembali menghantuinya di ruangan ini. Di ruang ini, hierarki kekuasaan tidak berlaku. Di ruang ini, badut itu adalah raja, dan raja itu adalah badut. Sengkuni, yang biasa membully Togog di KSP, kini harus duduk sebagai mahasiswa yang diuji oleh Profesor Togog. Rasa malunya sudah tidak terkira.


Babak Pembuka: Lawakan yang Menenangkan (Ternyata Jebakan)

Tepat pukul 09.00, sidang dimulai. Dr. Wangsa Kabeh, sebagai penguji internal dan tuan rumah, membuka acara. Ia mengetuk-ngetuk mikrofon, menciptakan suara thud... thud... yang memekakkan.

"Halo, halo... testing... 1, 2, 3... Selamat pagi, Mahamurid Sengkuni!" sapanya dengan suara ceria, seperti seorang pembawa acara di radio pagi. "Kabar baik? Sehat? Cukup tidur? Baik, kita mulai saja sidang tesis hari ini. Jangan tegang, anggap saja ini obrolan santai. Kalau terlalu tegang, nanti saya yang ikut tegang. Kalau saya tegang, saya tidak bisa melawak. Kalau saya tidak bisa melawak, nanti dunia ini terlalu serius. Setuju?"

Sengkuni, yang seluruh tubuhnya kaku seperti papan, hanya bisa mengangguk kaku. "Se... setuju, Doktor."

Dr. Wangsa Kabeh melanjutkan. "Baiklah, sesuai prosedur, silakan Anda presentasi. Tapi tolong, jangan terlalu serius dan jangan terlalu lama. Saya sarapan cuma kopi, jadi perut saya masih kosong. Kalau presentasi Anda membosankan, perut saya akan keroncongan dan itu akan masuk rekaman suara. Nanti jelek. Silakan, waktunya 15 menit. Mulai dari sekarang... sekarang!"

Sengkuni berdiri dari kursi pesakitan. Tangannya gemetar saat membuka laptop. Ia mulai mempresentasikan tesisnya dengan suara yang dipaksakan agar terdengar percaya diri. Ia berbicara tentang latar belakang, rumusan masalah, dan kerangka teori. Ia melafalkan istilah-istilah yang sebenarnya tidak ia pahami, seperti "otoritarianisme birokratik", "transisi demokratik", "konsolidasi rezim", dan "partisipasi politik inklusif". Semua itu ia ucapkan seperti sedang membaca mantra, berharap bahwa pelafalan yang fasih bisa menyembunyikan kekosongan makna di baliknya.

Namun, ia tidak bisa menipu mata Togog. Sang profesor duduk dengan tenang, tangannya sesekali mencatat sesuatu di buku catatan kecilnya. Ia tidak pernah menginterupsi. Ia hanya mendengarkan, memperhatikan, dan menganalisis setiap kata yang keluar dari mulut Sengkuni. Ketenangannya adalah horor tersendiri. Sengkuni merasa seperti sedang berenang di lautan yang tenang, tanpa sadar bahwa di bawahnya ada hiu predator yang sedang mengamati, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam.

Setelah presentasi selesai, Dr. Wangsa Kabeh bertepuk tangan kecil. "Bagus, bagus! Lancar sekali! Seperti pembawa berita! Baiklah, sekarang sesi tanya jawab. Karena saya adalah orang yang baik dan tidak suka menyulitkan, saya akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mudah dulu."

Dr. Wangsa Kabeh memberikan beberapa pertanyaan yang sangat lunak. Ia bertanya tentang alasan Sengkuni memilih judul, tentang minat pribadinya pada topik transisi, dan tentang pengalamannya sebagai praktisi politik. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan "bonus" yang dirancang untuk mencairkan suasana. Sengkuni menjawabnya dengan mudah, menggunakan bualan politik standarnya. Ia mulai merasa percaya diri. Ia mulai berpikir bahwa sidang ini mungkin tidak akan seburuk yang ia bayangkan. Senyum kecil bahkan mulai muncul di sudut bibirnya. Sistem limbiknya mulai mengirimkan sinyal kemenangan, "Lihat, aku bisa! Ini mudah! Aku akan selamat!"

Namun, Togog masih diam. Ia belum bergerak. Ia masih menulis di buku catatannya. Ketenangannya adalah sebuah bom yang belum meledak. Dan Sengkuni, yang terlena oleh pertanyaan-pertanyaan lunak, tidak sadar bahwa babak pertama hanyalah pemanasan. Babak sesungguhnya, babak di mana ia akan dihancurkan, akan segera dimulai.


Babak Kedua: Pukulan Pertama dari Sang Profesor

Dr. Wangsa Kabeh selesai. Ia menoleh ke Togog. "Prof. Togog, giliran Anda. Silakan."

Togog akhirnya meletakkan bolpoinnya. Ia membuka laptopnya, lalu membuka tesis Sengkuni yang sudah penuh dengan catatan tempel berwarna-warni. Ada puluhan penanda. Setiap penanda adalah sebuah lubang di lambung kapal Sengkuni. Ia membersihkan tenggorokannya dengan pelan, lalu menatap Sengkuni. Suasana ruang sidang yang tadinya riuh dengan tawa kecil dari Dr. Wangsa Kabeh, tiba-tiba berubah menjadi hening total. Detak jam dinding kembali terdengar. Tok... tok... tok...

"Rekan Sengkuni," suara Togog berat dan terukur. Suara yang tidak perlu berteriak untuk didengar. "Tesis Anda ini berjudul 'Transisi Astina dari Otoritarian ke Demokratis'. Sebuah judul yang sangat berani dan provokatif. Saya sangat antusias membacanya. Dan saya harus akui, setelah membacanya, antusiasme saya berubah menjadi... kebingungan."

Kata "kebingungan" itu menusuk Sengkuni seperti jarum. "Ke... kebingungan, Prof?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Ya, kebingungan," jawab Togog, matanya masih menatap layar laptop. "Kebingungan karena saya menemukan banyak sekali kontradiksi, ketidakakuratan, dan yang paling parah, kesalahpahaman mendasar terhadap teori-teori yang Anda kutip. Jadi, untuk meluruskan kebingungan saya, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan."

Togog membalik halaman. "Saya akan mulai dari fondasi teoretis Anda. Di Bab 2, halaman 25, Anda menulis tentang definisi otoritarianisme dan demokrasi. Anda dengan gagah berani mengutip Juan J. Linz, seorang ilmuwan politik terkemuka yang karyanya sangat monumental. Anda bahkan menulis kutipan langsung di sini: 'Menurut Linz (2000), otoritarianisme adalah...'"

Togog berhenti, lalu menatap Sengkuni. "Pertanyaan saya sederhana, Rekan. Bisakah Anda jelaskan kepada kami, tanpa membaca teks, dengan bahasa Anda sendiri: apa definisi otoritarianisme menurut Juan J. Linz, dan yang lebih penting, bagaimana definisi itu membedakan otoritarianisme secara fundamental dari konsep totalitarianisme yang juga ia bahas?"

Pertanyaan itu meluncur seperti peluru kendali. Ini adalah pertanyaan yang menguji pemahaman paling dasar. Siapa pun yang menulis tesis tentang otoritarianisme pasti harus bisa menjawab ini dengan mudah. Tapi bagi Sengkuni, nama "Linz" hanyalah rangkaian huruf yang disalin oleh Kucrit dan Ampang dari Wikipedia. Ia tidak tahu siapa Linz, tidak tahu bukunya, dan sama sekali tidak tahu definisinya.

Otaknya berputar kencang, tapi seperti mesin yang kehabisan bensin. "Ehm... Linz... Linz itu, Prof. Beliau adalah... seorang ilmuwan politik. Yang... yang membedakan otoriter dan totaliter. Otoriter itu... ya, otoriter. Totaliter itu... total."

Jawaban itu menggantung di udara seperti bau tidak sedap. Dr. Wangsa Kabeh, yang sedari tadi tersenyum, tiba-tiba menahan tawa. Bukan karena lucu, tapi karena ia tidak percaya ada mahasiswa S2 yang memberikan jawaban sekonyol itu. Ia melirik ke arah Togog, ingin melihat bagaimana sang profesor bereaksi.

Togog menghela napas dengan sangat pelan dan sangat sabar. "Anda tidak menjawab pertanyaan saya, Rekan. Anda hanya mengulang kata-kata yang sudah ada di dalam pertanyaan. Baiklah, akan saya bantu ingatkan."

Togog membuka sebuah buku tebal yang sudah ia siapkan. Tanpa melihat, ia langsung membuka halaman yang tepat. "Linz, dalam karyanya Totalitarian and Authoritarian Regimes (2000), mendefinisikan otoritarianisme sebagai sistem politik dengan pluralisme terbatas, tanpa ideologi panduan yang elaboratif, tanpa mobilisasi politik yang intensif dan ekstensif, dan dipimpin oleh seorang pemimpin atau kelompok kecil yang menjalankan kekuasaan dalam batas-batas yang tidak terdefinisi secara formal, namun pada kenyataannya sangat membatasi. Sementara totalitarianisme, yang tidak Anda singgung, memiliki tiga ciri utama: ideologi menyeluruh yang menjadi pusat, mobilisasi massa yang konstan, dan kontrol total terhadap seluruh aspek kehidupan."

Togog menutup bukunya dan kembali menatap Sengkuni. "Sekarang, di halaman 34 tesis Anda, Anda menyebut Astina dengan tegas sebagai 'rezim otoriter'. Berdasarkan definisi Linz yang baru saja saya bacakan, di mana Anda melihat adanya 'pluralisme terbatas' di Astina? Partai politik apa, organisasi masyarakat apa, kelompok kepentingan apa yang secara independen masih diizinkan eksis dan berfungsi sebagai oposisi yang terbatas itu? Sebutkan satu saja, dan jelaskan fungsinya sebagai bagian dari pluralisme terbatas tersebut."

Sengkuni membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Ikan asin di penjara Mahjong mungkin lebih bisa menjawab pertanyaan ini. Satu-satunya "pluralisme" yang ia tahu adalah pluralnya varian kopi yang ia minum. "Pluralisme terbatas... itu... ehm... di Astina kan ada banyak partai, Prof. Ada Partai Kurawa, ada Partai Kurawa Muda, ada Partai Istri Kurawa, ada Partai Simpatisan Kurawa..."

Dr. Wangsa Kabeh tidak bisa menahan diri lagi. Ia terkekeh kecil, lalu buru-buru pura-pura batuk.

Togog memotongnya dengan halus. "Itu bukan pluralisme, Rekan. Itu variasi dari satu kelompok yang sama. Itu adalah faksionalisme di dalam partai hegemonik, yang justru merupakan ciri dari sistem otoriter, bukan bukti pluralisme. Anda mengutip Linz, tapi Anda gagal memahami konsep paling fundamental darinya. Ini adalah kesalahan yang sangat serius. Sangat, sangat serius."

Pukulan pertama itu sukses membuat pertahanan Sengkuni goyah. Ia tidak menyangka pertanyaan "definisi" bisa sedemikian mematikannya. Keringat mulai membasahi dahinya. Jas hitamnya kini terasa seperti sauna pribadi. Rasa percaya diri yang tadi sempat muncul, kini menguap begitu saja. Ia baru sadar, ia tidak sedang berhadapan dengan birokrat yang bisa disuap. Ia berhadapan dengan seorang profesor yang tahu persis apa yang ia tanyakan.


Babak Ketiga: Transisi yang Tidak Pernah Dimengerti

Togog belum selesai. Ia membiarkan Sengkuni meresapi kegagalannya selama beberapa detik, lalu melanjutkan ke halaman berikutnya. "Baik, kita tinggalkan soal definisi. Anggap saja itu... kekhilafan. Mari kita lanjutkan ke inti dari tesis Anda, yaitu teori transisi."

Sengkuni menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering. Ia meraih botol air mineral dan meneguknya, tapi tangannya gemetar hingga airnya sedikit tumpah.

"Di halaman 45, Anda menulis tentang Guilermo O'Donnell dan Philippe Schmitter. Anda mengutip magnum opus mereka, Transitions from Authoritarian Rule: Tentative Conclusions about Uncertain Democracies (1986). Anda secara spesifik mengutip konsep 'liberalisasi' versus 'demokratisasi'. Saya tertarik di sini."

Togog mencondongkan badannya ke depan, melakukan kontak mata langsung dengan Sengkuni. "Pertanyaan saya: Bisakah Anda jelaskan perbedaan mendasar antara liberalisasi dan demokratisasi menurut kerangka O'Donnell dan Schmitter? Dan, jika Anda menerapkannya pada kasus Astina, pada fase mana Astina saat ini? Apakah Astina sedang berada dalam fase liberalisasi, atau sudah memasuki fase demokratisasi? Jelaskan dengan indikator-indikator spesifik yang mereka sebutkan!"

Sengkuni kini benar-benar berkeringat. Bukan sekadar lembab, tapi basah kuyup. Kucrit dan Ampang memang menyalin kutipan tentang O'Donnell dan Schmitter dari sebuah blog, tapi mereka tidak pernah menjelaskan apa artinya. Baginya, liberalisasi dan demokratisasi adalah dua kata yang terdengar mirip, seperti "kue" dan "bolu". Sama saja.

"Liberalisasi itu... Prof, liberalisasi adalah proses... ehm... meliberalkan. Ya, meliberalkan sesuatu. Demokratisasi adalah... proses... mendemokrasikan. Astina saat ini... saya rasa... sedang dalam proses transisi... menuju... ke arah yang lebih baik. Ya, ke arah yang lebih baik," jawabnya dengan suara yang semakin melemah.

Kali ini, Dr. Wangsa Kabeh tidak tertawa. Ia menatap Sengkuni dengan tatapan prihatin yang lucu. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu menulis sesuatu di catatannya. Mungkin ia sedang mencatat ide untuk materi lawakan barunya.

Togog melepas kacamatanya. Sebuah gestur yang sangat berbahaya. "Rekan Sengkuni, Anda mengulangi kebiasaan buruk Anda: menjawab dengan mengulang kata dalam bentuk kata kerja. Itu bukan jawaban. Itu permainan kata-kata, dan sangat tidak akademik."

Ia meletakkan kacamatanya di meja, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih tinggi, menandakan bahwa kesabarannya mulai menipis. "Izinkan saya menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana, agar kita bisa melanjutkan diskusi. Liberalisasi adalah proses pembukaan ruang gerak bagi hak-hak individu dan kelompok, seperti kebebasan pers, kebebasan berserikat, dan hak untuk berpendapat, tanpa harus mengubah struktur rezim secara fundamental. Rezimnya masih otoriter, tapi ada sedikit pelonggaran. Sementara demokratisasi adalah tahap lanjutannya, yaitu transfer kekuasaan substantif dari penguasa otoriter ke lembaga-lembaga baru yang dipilih melalui pemilihan umum yang bebas dan adil. Itu adalah penggantian rezim, bukan sekadar pelonggaran."

Penjelasan Togog sangat jelas, sangat gamblang, dan sangat memalukan bagi Sengkuni. Ini seperti seorang profesor yang terpaksa mengulang pelajaran dasar untuk seorang mahasiswa yang jelas-jelas tidak siap.

"Anda, dalam tesis ini, mencampuradukkan kedua konsep itu. Anda menggunakan istilah 'liberalisasi' tapi memberikan indikator 'demokratisasi'. Ini adalah kesalahan kategorik yang fatal. Ini menunjukkan bahwa Anda tidak memahami sumber yang Anda kutip. Sekarang, saya mau tanya lagi, dan tolong dijawab dengan serius." Togog kembali menatap Sengkuni. "Sebutkan satu langkah kebijakan spesifik di Astina dalam dua tahun terakhir yang menurut Anda adalah wujud dari 'liberalisasi'. Satu saja."

Satu saja. Pertanyaan yang seharusnya mudah. Satu langkah kebijakan. Sengkuni mengobrak-abrik seluruh folder di otaknya. Kebijakan? Apa kebijakan yang liberal? Semua kebijakan di Astina adalah perintah Duryudana yang otoriter! Satu-satunya "kebijakan liberal" yang ada mungkin adalah izin bagi pegawai istana untuk tidak memakai dasi di hari Jumat. Tapi itu pun bukan kebijakan politik.

Sekali lagi, Sengkuni terdiam. Keheningan di ruang sidang semakin memekakkan. Tok... tok... tok... Jam dinding itu terus berdetak, seolah sedang menghitung mundur sisa-sisa harga diri Sengkuni.


Babak Keempat: Gelombang yang Menenggelamkan

Togog melanjutkan tanpa ampun. Ia tidak memberi Sengkuni waktu untuk bernapas. "Sekarang, kita akan bergerak ke kerangka komparatif yang Anda gunakan. Di halaman 67, Anda dengan ambisius mengutip Samuel P. Huntington dan teorinya tentang Gelombang Demokrasi. Anda menulis bahwa Astina adalah bagian dari 'gelombang ketiga demokratisasi'. Ini adalah klaim yang sangat berani."

"Pertanyaan saya," suara Togog semakin tajam, "Menurut Huntington, apa karakteristik utama dari gelombang ketiga demokratisasi yang membedakannya dari gelombang pertama dan kedua? Sebutkan faktor-faktor penyebab global yang ia identifikasi. Dan yang paling penting, mengapa Anda begitu yakin Astina, sebuah negara yang Presidennya sendiri tidak pernah menyebut dirinya sedang bertransisi ke demokrasi, adalah bagian dari gelombang ketiga itu? Data komparatif apa yang Anda gunakan untuk menyandingkan Astina dengan Portugal, Spanyol, atau Filipina? Saya tidak menemukan satu pun data perbandingan dalam tesis Anda."

Sengkuni sekarang benar-benar panik. Sistem limbiknya sudah mengambil alih sepenuhnya. Neokorteksnya mati total, mungkin sudah meleleh menjadi bubur. "Huntington... gelombang... itu seperti tsunami politik, Prof!" jawabnya, mencoba untuk terlihat puitis. "Gelombang ketiga itu... yang terakhir. Yang paling besar. Yang paling dahsyat. Astina ikut dalam gelombang itu karena... karena kami juga negara yang besar! Kami adalah kekuatan regional! Jadi, secara alamiah, kami pasti ikut dalam gelombang global!"

"Argumentasi yang sangat... puitis. Tapi sangat tidak ilmiah," kata Togog datar, tanpa emosi. Nada datarnya justru lebih menyakitkan daripada bentakan. "Huntington, dalam The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century (1991), menjelaskan dengan sangat rinci konteks global spesifik pasca-1974. Gelombang ini dimulai dari Revolusi Anyelir di Portugal, menyebar ke Amerika Latin, Asia Timur, dan Eropa Timur setelah runtuhnya Tembok Berlin. Faktor-faktornya kompleks: krisis legitimasi rezim otoriter, pertumbuhan ekonomi yang menciptakan kelas menengah, perubahan kebijakan gereja Katolik, dan tekanan internasional dari Uni Eropa atau Amerika Serikat."

Togog menutup buku Huntington yang juga ada di mejanya. "Anda tidak menganalisis satu pun faktor itu dalam konteks Astina. Tidak ada analisis tentang krisis legitimasi Duryudana, justru sebaliknya, Anda selalu melaporkan bahwa legitimasinya kuat. Tidak ada analisis tentang tekanan internasional terhadap Astina. Tidak ada analisis tentang peran kelas menengah Astina. Analisis Anda kosong. Ini bukan studi komparatif. Ini adalah... dongeng."

Kata "dongeng" itu meluncur dengan sempurna. Dr. Wangsa Kabeh sampai harus menutup mulutnya dengan tangan. Ia menyesal tidak membawa popcorn.


Babak Pamungkas: Filsafat yang Dikorbankan

Sengkuni sudah hancur lebur. Tapi Togog belum selesai. Ia ingin memberikan pelajaran terakhir. Pelajaran tentang bagaimana mempertanggungjawabkan semua kutipan yang ada di dalam tesis.

"Sekarang, pertanyaan terakhir saya," kata Togog, suaranya kini berubah menjadi lebih tenang, namun lebih dalam. "Kita akan masuk ke ranah filsafat politik. Di Bab 1, Anda mengutip tiga filsuf besar: Aristoteles, Jean-Jacques Rousseau, dan Montesquieu. Anda menggunakan mereka sebagai fondasi normatif dari tesis Anda. Ini sangat ambisius."

Sengkuni sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Togog dengan tatapan kosong.

"Pertanyaan saya adalah sebuah sintesis. Pertama: Aristoteles, dalam Politics, mengklasifikasikan enam bentuk pemerintahan. Di mana letak 'demokrasi' dalam tipologi Aristoteles, dan apa kritik utamanya terhadap demokrasi? Kedua: Anda juga mengutip Rousseau, yang berbicara tentang General Will. Bagaimana Anda mendamaikan konsep General Will dari Rousseau, yang menekankan kedaulatan rakyat yang absolut dan tidak bisa diwakili, dengan konsep Trias Politica dari Montesquieu, yang justru ingin memisahkan dan membatasi kekuasaan ke dalam tiga cabang? Bukankah keduanya bertentangan secara fundamental? Yang satu menyerahkan kekuasaan pada kehendak umum yang mistis, yang lain membaginya-bagikan agar tidak ada yang absolut. Bagaimana Anda, sebagai penulis tesis ini, menyintesiskan dua pemikiran yang kontradiktif ini untuk mendukung argumen Anda tentang transisi Astina? Itu pertanyaan saya."

Ini adalah check-mate. Sebuah pertanyaan yang dirancang untuk membunuh. Ini adalah pertanyaan yang bahkan mahasiswa doktoral pun akan berpikir keras untuk menjawabnya. Ini membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang sejarah pemikiran politik, kemampuan untuk mensintesiskan konsep-konsep yang sangat abstrak, dan menerapkannya pada kasus modern. Ini adalah puncak dari penalaran neokorteks.

Dan Sengkuni? Sengkuni tidak bisa apa-apa. Otaknya, yang hanya terlatih untuk intrik dan manipulasi, tidak mampu memproses pertanyaan itu. Aristoteles? Baginya, Aristoteles adalah nama merek jam tangan. Rousseau? Mungkin itu nama keju. Montesquieu? Kedengarannya seperti nama penyakit kulit. Ia tidak pernah membaca satu pun buku mereka. Ia bahkan tidak bisa membedakan mana yang filsuf Yunani, mana yang Prancis, mana yang Inggris. Kata-kata "General Will" dan "Trias Politica" berdengung di telinganya seperti suara lebah yang marah.

Ia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia menutupnya lagi. Wajahnya yang biasanya penuh dengan seringai licik, kini pucat pasi, lebih pucat dari taplak meja hijau. Ia menatap Togog, lalu menatap Dr. Wangsa Kabeh, mencari pertolongan. Tapi Dr. Wangsa Kabeh, yang sedari tadi cengar-cengir, kini ikut terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pertanyaannya akan sebrutal ini. Ia menatap Togog dengan tatapan kagum dan ngeri. Ia sedang menyaksikan seorang grandmaster sedang bermain catur, dan Sengkuni hanyalah pion yang malang.

Keheningan di ruang sidang itu sempurna. Bahkan jam dinding pun seolah berhenti berdetak, ikut menikmati momen kehancuran total seorang Sengkuni.


Kebangkitan Sistem Limbik dan Kekalahan Terakhir

Dalam keheningan yang memekakkan itu, sesuatu meledak di dalam otak Sengkuni. Karena tidak mampu lagi menanggung beban penghinaan intelektual, karena tidak terbiasa terpojok, karena seluruh fondasi kekuasaannya dihancurkan oleh seorang profesor berkaus oblong dan sarung, Sistem Limbiknya akhirnya memberontak. Ini adalah mekanisme pertahanan terakhir dari seekor binatang yang terdesak ke sudut.

Dengan sisa-sisa adrenalin, Sengkuni menggebrak meja dengan sangat keras. Suaranya menggelegar, memecah keheningan. "CUKUP! SAYA TIDAK TERIMA DIPERLAKUKAN SEPERTI INI, PROF. TOGOG!"

Dr. Wangsa Kabeh terlonjak kaget. Ia nyaris menumpahkan termos kopinya. Ia menatap Sengkuni dengan mata terbelalak. Wah, wah, wah... ini lebih seru dari sinetron! batinnya.

Sengkuni berdiri, menunjuk-nunjuk Togog dengan jari yang gemetar. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol. "SAYA ADALAH PENASIHAT PRESIDEN! SAYA ADALAH ORANG PALING BERPENGARUH DI ASTINA! ANDA INI SIAPA?! ANDA HANYALAH BADUT TUA! BADUT BERKULIT KUSAM DAN BERPAKAIAN SARUNG! SAYA BISA MENGATUR INI SEMUA! SAYA BISA MENUTUP PADEPOKAN INI BESOK PAGI! SAYA BISA MENJEBLOSKAN ANDA KE PENJARA DENGAN SATU KALI TELEPON!"

Ia berhenti sejenak, terengah-engah. Lalu, ia mengeluarkan kartu trufnya, satu-satunya filsafat yang ia percayai. "INI BUKAN SOAL TEORI-TEORI USANG ITU! INI SOAL KEKUASAAN! TESIS SAYA ADALAH SOAL STRATEGI, BUKAN SOAL DEFINISI-DEFINISI KONYOL DARI ORANG-ORANG YANG SUDAH MATI! DI DUNIA NYATA, YANG BERLAKU ADALAH ENDS JUSTIFY MEANS! TUJUAN MENGHALALKAN CARA! ITU ADALAH HUKUM BESI POLITIK! DAN SAYA ADALAH PEMENANGNYA!"

Setelah mengeluarkan semua amarahnya, Sengkuni terdiam. Ia terengah-engah, dadanya naik turun. Jas hitamnya kini basah kuyup oleh keringat. Ia menatap Togog, berharap melihat rasa takut, atau setidaknya rasa terkejut. Berharap bahwa ancamannya masih memiliki efek, bahwa dunia masih bisa ia kendalikan dengan teror.

Tapi Togog tetap duduk. Tenang. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Ia menatap Sengkuni dengan tatapan yang sama: tenang, dingin, dan sedikit iba. Seolah-olah ia baru saja menyaksikan seekor monyet yang mengamuk di kebun binatang. Ia membiarkan keheningan kembali tercipta, membiarkan kata-kata ancaman Sengkuni menggantung di udara, lalu membusuk dengan sendirinya.

Setelah jeda yang terasa seperti satu abad, Togog akhirnya angkat bicara. Suaranya tidak berubah. Masih berat, tenang, dan terukur. Sebuah suara yang kontras sekali dengan teriakan histeris Sengkuni.

"Rekan Sengkuni," katanya, melepas kacamatanya sekali lagi dan membersihkannya dengan ujung sarungnya. "Itu tadi adalah sebuah pertunjukan yang sangat... emosional. Dan di situlah letak masalahnya. Anda mempertontonkan kepada kami apa yang terjadi ketika Sistem Limbik mengambil alih kendali penuh atas diri seorang manusia. Ketika amarah dan ketakutan mengalahkan logika. Anda berbicara tentang kekuasaan, tentang ancaman, tentang penjara. Itu semua adalah alat dari dunia lain. Alat dari dunia politik yang Anda tinggali."

Togog meletakkan kacamatanya kembali. "Tapi di ruang sidang ini, di dunia akademik ini, semua itu tidak berlaku. Anda tidak bisa mengancam sebuah pertanyaan. Anda tidak bisa memenjarakan sebuah teori. Anda tidak bisa menyuap sebuah fakta. Di ruang ini, bukan kekuasaan yang diuji, melainkan penalaran dan kejujuran intelektual. Dua hal yang, berdasarkan pertunjukan Anda selama satu jam terakhir, terbukti tidak Anda miliki."

Togog menatap lurus ke mata Sengkuni. "Anda mengutip Ends Justify Means. Itu bukan hukum besi politik, Rekan. Itu adalah pembenaran diri untuk para bajingan yang tidak mampu mencapai tujuan dengan cara yang benar. Dan dari apa yang saya saksikan, Anda bahkan tidak mampu mencapai 'ends' yang Anda tuju, karena tesis Anda sebagai 'means' untuk mencapai gelar, gagal total."

Togog menutup laptopnya. Ia menutup tesis Sengkuni yang sudah penuh dengan catatan. Ia melipat tangannya di atas meja, dan dengan suara yang sangat jelas, sangat final, ia menyampaikan vonisnya.

"Oleh karena itu, sebagai Penguji Eksternal, berdasarkan semua ketidakmampuan yang telah Anda tunjukkan, dari kegagalan memahami definisi dasar, mencampuradukkan konsep, hingga kekosongan analisis, saya dengan berat hati, atau lebih tepatnya, dengan sangat ringan hati, menyatakan bahwa Anda... TIDAK LULUS. "


Suasana Setelah Kiamat

Kata-kata "TIDAK LULUS" itu menggema di ruang sidang yang hening. Seperti lonceng kematian. Seperti suara gergaji yang memotong pohon. Seperti suara batu nisan yang ditutup.

Sengkuni berdiri terpaku. Wajahnya berubah dari merah menjadi putih, lalu menjadi abu-abu. Semua kekuatan di tubuhnya seolah lenyap. Ia ambruk kembali ke kursi pesakitannya. Kursi kayu itu berderit keras, seolah ikut mengerang menahan beban kekalahannya. Semua ancamannya, semua gertakannya, semua kekuasaannya, hancur lebur dalam satu kalimat dari seorang profesor bersarung.

Di sebelah Togog, Dr. Wangsa Kabeh menatap layar laptopnya dengan mulut terbuka. Ia tidak tahu apakah ia harus tertawa atau bertepuk tangan. Di satu sisi, ia baru saja menyaksikan pemandangan paling langka di dunia: seorang politisi licik dihancurkan oleh logika. Di sisi lain, ia merasa sedikit takut pada Togog. Profesor yang pendiam dan sederhana itu ternyata adalah sebuah mesin penghancur intelektual yang sangat brutal. Ia menulis di buku catatannya: "Catatan untuk diri sendiri: Jangan pernah berdebat dengan Prof. Togog. Jangan. Jangan pernah."

Togog, sementara itu, sudah selesai. Ia memasukkan laptop dan buku-bukunya kembali ke dalam tas selempang lusuhnya. Ia berdiri, merapikan sarungnya, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya ringan, sama sekali tidak menunjukkan emosi. Saat melewati kursi Sengkuni, ia berhenti sejenak. Ia menatap Sengkuni yang sudah terkulai lemas, lalu berbicara dengan sangat pelan, hanya untuk didengar oleh mereka berdua.

"Rekan Sengkuni, ilmu politik itu bukan tentang bagaimana memanipulasi orang, tapi tentang bagaimana memahami dunia. Dan pelajaran pertama untuk memahami dunia adalah: kau tidak bisa menipu semua orang selamanya. Terkadang, kebenaran yang sederhana akan menang melawan kebohongan yang paling rumit sekalipun."

Lalu, Togog melanjutkan langkahnya, membuka pintu, dan keluar dari ruang sidang. Meninggalkan Sengkuni di kursi pesakitannya, sendirian, bersama dengan tesis merah marunnya yang kini sudah tidak berharga. Di luar, angin berhembus sepoi-sepoi. Dunia tetap berputar. Togog melangkah menuju angkringan terdekat, untuk memesan kopi joss susu. Untuk pertama kalinya dalam cerita ini, ia tersenyum. Bukan senyum kemenangan, tapi senyum kepuasan seorang guru yang telah berhasil memberikan pelajaran terbaik kepada murid terburuknya.



Bagian 5:
Interupsi dari Langit, Sebuah Drama Politik di Ruang Sidang

Saat Kata-Kata Itu Terucap

"Oleh karena itu, sebagai Penguji Eksternal, berdasarkan semua ketidakmampuan yang telah Anda tunjukkan, dari kegagalan memahami definisi dasar, mencampuradukkan konsep, hingga kekosongan analisis, saya dengan berat hati, atau lebih tepatnya, dengan sangat ringan hati, menyatakan bahwa Anda... TIDAK LULUS. "

Kata-kata itu masih menggema di ruang sidang. Seperti lonceng kematian. Seperti suara gergaji yang memotong pohon. Seperti suara batu nisan yang ditutup. Sengkuni berdiri terpaku, wajahnya berubah dari merah menjadi putih, lalu menjadi abu-abu. Semua kekuatan di tubuhnya seolah lenyap. Ia ambruk kembali ke kursi pesakitannya. Kursi kayu itu berderit keras, seolah ikut mengerang menahan beban kekalahannya.

Namun, alam semesta rupanya belum selesai mempermainkan Sengkuni. Tepat pada saat vonis itu selesai diucapkan, tepat pada saat keheningan yang memalukan itu mencapai puncaknya, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras dan tidak akademik sama sekali. Sebuah suara yang menggelegar, menggetarkan jendela, dan membuat Dr. Wangsa Kabeh hampir menumpahkan termos kopinya untuk kedua kalinya.

BRAKKK!!!

Pintu ruang sidang didobrak dengan sangat keras. Bukan dibuka, tapi benar-benar didobrak. Engselnya hampir copot, kayunya sedikit retak, dan gagang pintunya terlempar ke lantai. Sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa terjadi di sebuah institusi akademik.

Semua orang di ruangan menoleh ke arah pintu. Sengkuni, yang masih terkulai lemas, mendongakkan kepalanya dengan sisa-sisa kesadarannya. Dr. Wangsa Kabeh melongo, kali ini benar-benar melongo, dengan mulut terbuka lebar. Bahkan Togog, yang sudah siap-siap untuk pergi, berhenti sejenak dan menatap ke arah pintu dengan alis terangkat.

Yang berdiri di ambang pintu adalah sebuah sosok yang sangat dikenal oleh Sengkuni. Sosok yang seharusnya tidak berada di sini. Sosok yang kehadirannya adalah pertanda bahwa bencana yang sebenarnya baru saja dimulai.
 

Karna: Sang Ajudan yang Selalu Tahu Tempat yang Salah di Waktu yang Salah

Di depan pintu yang sudah hancur itu, berdiri dengan gagah seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dengan kulit keemasan dan anting-anting yang berkilauan. Karna. Ajudan Presiden yang paling setia dan paling tragis nasibnya. Ia memakai seragam keraton yang sangat formal, lengkap dengan selempang dan tanda jasa, seolah-olah ia baru saja keluar dari sebuah upacara kenegaraan.

Ekspresinya sulit ditebak. Setengah bangga karena telah berhasil menemukan lokasi targetnya, setengah takut karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan setengah lagi bingung karena tidak menyangka akan menemukan ruang sidang tesis. Ia memegang gagang pintu yang sudah copot dengan sedikit rasa bersalah.

"Maaf mengganggu," katanya dengan suara yang dibuat-buat tenang, "tetapi saya membawa tamu penting."

Ia melangkah ke samping, memberi jalan. Dan dari belakang tubuh Karna yang besar, muncullah sebuah sosok yang membuat seluruh ruangan langsung berubah suasananya. Jika sebelumnya suasananya adalah keheningan intelektual, kini suasananya adalah ketakutan politik.

Presiden Duryudana masuk dengan langkah yang menghentak. Wajahnya merah padam. Matanya menyala-nyala seperti bara api. Urat-urat di lehernya menonjol. Tangannya terkepal. Ia memakai setelan jas kebesarannya, lengkap dengan pin lambang negara, yang entah kenapa membuat penampilannya semakin mengerikan. Ia tidak sedang dalam mood untuk berdiplomasi. Ia sedang dalam mood untuk menghancurkan.

Di belakangnya, dua ajudan lain, Citraksa dan Citraksi, berlari-lari kecil mencoba mengimbangi langkah besar presiden mereka. Mereka membawa map-map dan botol air mineral, peralatan standar untuk mengantisipasi kemarahan presiden.


Misi Pencarian yang Dimulai dari Sebuah Laporan Keuangan

Untuk memahami mengapa Presiden Duryudana tiba-tiba muncul di sebuah padepokan tinggi kecil di Negeri Kaling, kita harus mundur beberapa jam ke belakang, ke Istana Astina.


Pagi itu, Duryudana bangun dengan perasaan yang tidak enak. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena ia ingat bahwa hari itu adalah tenggat waktu untuk menyerahkan laporan keuangan negara kepada Dewan Wong. Sebenarnya, ia tidak peduli dengan Dewan Wong. Dewan Wong hanyalah sekumpulan orang-orang yang ia bayar untuk menyetujui semua yang ia katakan. Namun, ia peduli dengan opini publik. Ada beberapa wartawan asing yang mulai mengendus ketidakberesan keuangan Astina, dan ia perlu menunjukkan laporan yang "bersih".

Dan dalam situasi seperti ini, hanya ada satu orang yang bisa ia andalkan. Satu-satunya orang yang bisa menyulap angka-angka kacau menjadi sebuah narasi keuangan yang heroik. Satu-satunya orang yang bisa membuat defisit terlihat seperti surplus, membuat utang terlihat seperti investasi, dan membuat korupsi terlihat seperti "biaya administrasi yang wajar". Orang itu adalah Sengkuni.

"Panggil Sengkuni! Sekarang!" bentak Duryudana pada ajudannya, Citraksa.

Citraksa berlari keluar ruangan. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan wajah pucat. "Ampun, Paduka. Hamba sudah mencari ke seluruh Istana. Sengkuni tidak ada. Di ruang kerjanya kosong. Di ruang rapat kosong. Di toilet juga kosong. Ponselnya tidak aktif. Kucrit dan Ampang, dua anak buahnya, juga tidak tahu. Mereka bilang Sengkuni sedang 'misi rahasia'."

"Misi rahasia? Misi rahasia apa?!" Duryudana mulai naik darah. "Saya tidak pernah memberikan misi rahasia apa pun padanya!"

Duryudana kemudian memanggil seluruh staf Istana. Satu per satu ia interogasi. Tidak ada yang tahu. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang berani memberi tahu. Karena Sengkuni, sebelum pergi, telah menyebar ancaman yang sangat efektif: "Siapa pun yang memberi tahu Presiden ke mana saya pergi, akan saya kriminalisasi. Saya akan cari kesalahannya, saya akan gandakan kasusnya, dan saya akan pastikan dia masuk penjara!"

Ancaman itu sangat ampuh. Seluruh staf Istana memilih untuk diam. Mereka lebih takut pada Sengkuni daripada pada Duryudana, karena Sengkuni-lah yang memegang semua data intelijen tentang keburukan mereka.

Namun, Duryudana bukanlah orang yang sabar. Ia mulai menggebrak meja. "CARI! CARI DIA! JIKA DALAM SATU JAM DIA TIDAK DITEMUKAN, SAYA AKAN PECAT KALIAN SEMUA! SAYA AKAN GANTI KALIAN DENGAN ROBOT!"

Kepanikan massal melanda Istana. Para staf berlarian ke sana kemari, pura-pura mencari, padahal mereka hanya berputar-putar di koridor. Hingga akhirnya, Duryudana menemukan satu orang yang bisa ia paksa untuk bicara. Seorang ajudan muda yang baru bekerja selama tiga bulan, yang belum sepenuhnya paham bahwa di Istana, diam adalah emas.

Duryudana menatapnya dengan tatapan yang bisa membunuh. "Kamu. Kamu tahu di mana Sengkuni?"

Ajudan muda itu gemetar hebat. Ia teringat ancaman Sengkuni. Tapi ia juga melihat wajah Duryudana yang sudah hampir meledak. Dalam ketakutannya yang dahsyat, ia akhirnya memilih untuk takut pada ancaman yang ada di depannya, bukan ancaman yang tidak ada. Dengan suara bergetar, ia berbisik, "Am... ampun, Paduka. Ham... hamba mendengar... dari Kucrit... bahwa Tuan Sengkuni... sedang berada di... Padepokan Tinggi Kaling. Beliau... beliau sedang sidang tesis S2 Ilmu Politik."

Hening.

Seluruh ruangan langsung membeku. Para staf yang mendengar bisikan itu langsung pucat pasi. Mereka tahu bahwa badai besar akan segera datang.

Duryudana terdiam selama beberapa detik. Otaknya memproses informasi itu. S2? Ilmu Politik? Sidang? Semua kata itu terdengar sangat asing baginya. Baginya, pendidikan tinggi adalah sesuatu yang tidak perlu. Ia sudah menjadi raja tanpa harus susah-susah kuliah. Dan kini, penasihatnya, orang yang seharusnya selalu siap 24 jam untuk melakukan perintah jahatnya, malah sedang bersekolah? Tanpa izinnya?

Wajah Duryudana yang tadinya merah padam, kini berubah menjadi ungu gelap. Warna yang sangat langka dan sangat berbahaya. Tangannya mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa?! S2?! SENGKUNI SEKOLAH LAGI TANPA IZIN SAYA?! DIA MENGIRA DIA SIAPA?! DIA MENGIRA DIA BISA PINTAR TANPA SEPENGETAHUAN SAYA?!"

Ia menggebrak meja di depannya dengan sangat keras. Meja kayu jati yang kokoh itu bergetar hebat. Sebuah vas bunga antik jatuh dan pecah. "KARNA! SIAPKAN JET GULF STREAM! KITA KE KALING! SEKARANG! SAYA HARUS TAHU APA YANG SEDANG DIKERJAKAN OLEH PENGKHIANAT ITU!"


Penerbangan Penuh Amarah

Jet pribadi Gulf Stream G650ER milik Keraton Astina, sebuah pesawat mewah yang biasanya digunakan untuk kunjungan kenegaraan dan liburan ke luar negeri, kini disiapkan dalam waktu singkat. Pilotnya, seorang profesional yang sudah terbiasa dengan permintaan-permintaan aneh dari Istana, hanya bisa mengangguk ketika mendengar tujuan penerbangan: "Padepokan Tinggi Kaling, Negeri Kaling. Cari lapangan terdekat."

"Lapangan, Paduka?" tanya pilot itu ragu. "Tidak ada bandara di dekat PTK. Bandara terdekat berjarak dua jam perjalanan darat."

"LAPANGAN! LAPANGAN APA SAJA! LAPANGAN SEPAK BOLA, LAPANGAN PARKIR, LAPANGAN UPACARA! SAYA TIDAK PEDULI! YANG PENTING MENDARAT!" raung Duryudana.

Maka, dimulailah sebuah penerbangan yang penuh dengan amarah. Di dalam kabin mewah yang biasanya dipenuhi dengan obrolan ringan dan gelas-gelas sampanye, kini hanya ada keheningan yang mencekam. Duryudana duduk di kursinya dengan tangan terlipat, matanya menatap kosong ke luar jendela, menatap awan-awan yang seolah tidak peduli pada amarahnya.

Di seberangnya, Karna duduk dengan tenang, meskipun di dalam hatinya ia sangat gelisah. Ia tahu persis karakter Sengkuni. Ia juga tahu bahwa apa pun yang sedang dilakukan Sengkuni di Kaling, pasti bukanlah sesuatu yang akan menyenangkan hati Duryudana. Karna adalah seorang kesatria yang menjunjung tinggi kesetiaan. Namun, kesetiaannya pada Duryudana seringkali membawanya pada situasi-situasi yang sangat tidak nyaman.

"Karna," suara Duryudana tiba-tiba memecah keheningan. "Menurutmu, apa yang sedang dilakukan Sengkuni?"

Karna menimbang-nimbang jawabannya dengan hati-hati. "Hamba tidak tahu, Paduka. Mungkin... beliau sedang mencoba untuk meningkatkan kapasitas dirinya?"

"Meningkatkan kapasitas?!" Duryudana menyeringai sinis. "Untuk apa dia meningkatkan kapasitas? Tugasnya hanya satu: memastikan saya tetap berkuasa! Apakah untuk itu dia butuh gelar S2? Apakah dengan gelar S2, manipulasi laporan keuangannya akan lebih baik? Apakah dengan gelar S2, intrik-intriknya akan lebih licik? TIDAK! Dia tidak butuh itu! Dia hanya butuh saya!"

Itu adalah sebuah pernyataan yang sangat narsistik, namun sangat mencerminkan cara berpikir Duryudana. Baginya, seluruh alam semesta harus berputar mengelilinginya. Dan jika ada satu planet yang berani memiliki orbitnya sendiri, planet itu harus dihancurkan.


Pendaratan Darurat di Lapangan Sepak Bola

Sementara itu, di Padepokan Tinggi Kaling, suasana masih tenang. Para mahasiswa berlalu lalang, beberapa sedang bermain sepak bola di lapangan utama, beberapa lainnya sedang duduk-duduk di kantin sambil mengerjakan tugas. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa sebuah peristiwa besar akan segera terjadi.

Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dari langit. Suara mesin jet yang sangat keras, semakin lama semakin dekat. Semua orang menengadah. Sebuah pesawat jet pribadi yang sangat besar, dengan lambang Keraton Astina di ekornya, mulai turun dari ketinggian. Pesawat itu berputar-putar di atas kampus, seolah sedang mencari sesuatu.

"Ini bukan jalur penerbangan! Pesawat itu mau ke mana?!" teriak seorang mahasiswa.

Pesawat itu semakin rendah. Semakin rendah. Hingga akhirnya, ia mulai mendarat. Bukan di landasan pacu, karena tidak ada. Melainkan di lapangan sepak bola utama kampus.

Para mahasiswa yang sedang bermain bola berlarian panik. "LARI! LARI! PESAWAT MAU MENDARAT!" teriak mereka sambil meninggalkan bola dan sepatu mereka. Penjaga gawang, seorang mahasiswa gemuk bernama Bramasta, berlari dengan kecepatan yang belum pernah ia capai sepanjang hidupnya, menabrak pagar lapangan dan tersangkut di jaring gawang.

Pesawat Gulf Stream itu mendarat dengan sedikit kasar di rumput lapangan. Rodanya merusak lapangan, menciptakan dua alur panjang yang mirip dengan bekas bajakan traktor. Debu dan rumput beterbangan ke mana-mana. Suara mesin jet yang memekakkan telinga menggema di seluruh penjuru kampus.

Seluruh aktivitas kampus terhenti. Para dosen berhenti mengajar dan keluar dari kelas. Para mahasiswa berhenti pacaran di kantin. Bahkan kucing-kucing kampus pun berhenti berkelahi. Semua mata tertuju pada pesawat mewah yang kini terparkir seenaknya di tengah lapangan sepak bola, seperti sebuah UFO yang baru saja mendarat.

Pintu pesawat terbuka. Sebuah tangga otomatis turun. Dan dari dalam pesawat, keluarlah Karna dengan langkah gagah, diikuti oleh Presiden Duryudana dengan wajah yang masih merah padam, dan dua ajudan yang membawa map dan air mineral.

Rektor PTK, seorang pria tua bijak bernama Begawan Lokanata, yang sedang berada di ruangannya, melihat pemandangan itu dari jendela. Ia mengucek-ngucek matanya. "Apakah saya baru saja minum jamu yang salah? Atau itu benar-benar Presiden Astina yang mendaratkan pesawatnya di lapangan sepak bola kita?"

Ia segera berlari keluar, setengah percaya bahwa ini adalah mimpi. Namun, begitu ia melihat sosok Duryudana yang besar dan mengerikan berjalan ke arah gedung Rektorat, ia sadar bahwa ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan yang akan menjadi mimpi buruk.

"Pa... Paduka Yang Mulia! Ini adalah sebuah kehormatan yang tidak terduga!" kata Rektor Lokanata sambil membungkuk-bungkuk. "Ma... maaf, kami tidak menerima pemberitahuan sebelumnya. Jika tahu Paduka akan datang, kami akan menyiapkan upacara penyambutan dan..."

"DI MANA SENGKUNI?!" potong Duryudana, tanpa memerdulikan basa-basi.

"Seng... Sengkuni?" Rektor Lokanata terkejut. "Oh, Penasihat Sengkuni? Beliau sedang berada di Ruang Sidang, Paduka. Lantai 2, di ujung koridor. Beliau sedang menjalani sidang tesis."

"BAWA SAYA KE SANA! SEKARANG!"



Konfrontasi di Ruang Sidang

Dan begitulah, kita kembali ke ruang sidang. Pintu yang sudah hancur. Karna yang berdiri dengan gagah. Dan Duryudana yang masuk dengan amarah yang membara.

Suasana di ruang sidang berubah total. Jika sebelumnya suasananya adalah keheningan akademik yang dingin, kini suasananya adalah ketegangan politik yang panas. Dr. Wangsa Kabeh, yang masih memegang termos kopinya, menatap Duryudana dengan mata terbelalak. Ia merasa seperti sedang menonton dua film sekaligus. Film pertama adalah drama sidang tesis yang brutal. Dan film kedua, yang baru saja dimulai, adalah film laga politik yang epik.

Sengkuni, yang masih terkulai di kursinya, melihat kehadiran Duryudana dan langsung merasakan sesuatu yang lebih mengerikan daripada vonis "tidak lulus". Ia merasakan kematian karier politiknya. Wajahnya yang sudah pucat, kini menjadi putih seperti kertas. Ia ingin lari, tapi kakinya tidak bisa digerakkan. Ia ingin bicara, tapi suaranya hilang.

Duryudana tidak langsung berteriak. Ia masuk dengan langkah-langkah yang lambat dan berat, menciptakan efek dramatis yang mengerikan. Ia menatap sekeliling ruangan. Ia menatap Dr. Wangsa Kabeh yang langsung merunduk. Ia menatap Sengkuni yang terkulai di kursi. Dan akhirnya, ia menatap Togog.

Tatapan Duryudana dan Togog bertemu. Ada percikan listrik di udara. Duryudana tidak menyangka akan bertemu Togog di sini. "Togog? Kau di sini?" katanya dengan nada terkejut.

"Selamat pagi, Paduka," jawab Togog dengan tenang, sedikit membungkuk hormat. "Saya adalah penguji eksternal untuk tesis Rekan Sengkuni."

"Penguji eksternal?" Duryudana menyeringai. "Jadi, kau yang menghakimi penasihatku?"

"Bukan menghakimi, Paduka. Menguji. Sesuai dengan standar akademik yang berlaku."

Duryudana tidak melanjutkan percakapan dengan Togog. Ia memiliki target yang lebih penting. Ia berjalan menuju meja sidang. Matanya langsung tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di atas meja. Sebuah buku tebal dengan sampul merah marun.

Tanpa bertanya, tanpa permisi, Duryudana langsung menyambar kopi tesis Sengkuni yang ada di meja Togog. Togog, yang sedari tadi tenang, hanya menghela napas pelan. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Duryudana memegang tesis itu dengan kedua tangannya. Ia menatap sampulnya. Ia membaca judulnya. Bibirnya bergerak, mengeja setiap kata.

"TRANSISI ASTINA DARI OTORITARIAN KE DEMOKRATIS: SEBUAH KENISCAYAAN SEJARAH?"

Butuh beberapa detik bagi otak Duryudana untuk memproses arti dari kata-kata itu. Tapi begitu maknanya masuk ke dalam kesadarannya, reaksinya adalah sesuatu yang legendaris. Wajahnya berubah warna. Dari merah padam, menjadi ungu gelap, lalu menjadi pucat, lalu kembali menjadi merah padam. Seperti lampu lalu lintas yang rusak. Tangannya mulai gemetar hebat. Urat-urat di lehernya menonjol semakin besar, seolah siap meledak.

Ia menatap Sengkuni. Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang bos kepada bawahannya. Tatapan itu adalah tatapan seorang algojo kepada terpidana mati.

"SENGKUNI!!!!" suaranya menggelegar seperti bom, menggetarkan seluruh ruangan. Suara itu begitu kerasnya hingga plafon ruangan seolah bergetar. Dr. Wangsa Kabeh benar-benar menumpahkan sedikit kopinya kali ini. Karna, yang berdiri di depan pintu, menutup matanya, tidak sanggup menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sengkuni, yang mendengar namanya diteriakkan dengan nada seperti itu, langsung merosot dari kursinya. Ia jatuh ke lantai, berlutut. "Pa... Paduka... Hamba bisa jelaskan... Ini... ini..."

"APA-APAAN INI?! TRANSISI KE DEMOKRASI?!" Duryudana mengibas-ngibaskan tesis itu di depan wajah Sengkuni. "KAU, PENASIHATKU, ORANG YANG KUPERCAYA UNTUK MEMBANGUN ASTINA YANG KUAT DAN STABIL, MENULIS TESIS TENTANG MEMBAWA DEMOKRASI KE ASTINA?! DEMOKRASI! ITU ADALAH SISTEM YANG KUBENCI! ITU ADALAH SISTEM YANG MEMBUAT PEMIMPIN LEMAH! ITU ADALAH SISTEM YANG MEMBUAT RAKYAT BERTENGKAR SENDIRI! ITU ADALAH SISTEM DI MANA SEORANG PEMIMPIN HARUS TUNDUK PADA SUARA ORANG-ORANG BODOH! DAN KAU... KAU INGIN MEMBAWANYA KE ASTINA?!"

"Ti... tidak, Paduka! Itu bukan maksud hamba! Itu... itu... itu cuma tesis! Itu tidak nyata! Itu karangan! Itu... itu cuma syarat untuk lulus!" Sengkuni merengek, air mata hampir keluar dari matanya yang sipit.

Duryudana tidak mendengarkan. Ia membuka tesis itu secara acak. Matanya menangkap beberapa kata kunci yang semakin membuatnya murka. "BAB 4: STRATEGI TRANSISI DEMOKRATIK DI ASTINA"? "LANGKAH-LANGKAH MENUJU PEMILU YANG BEBAS DAN ADIL"? "MEMBANGUN PARLEMEN YANG KUAT DAN INDEPENDEN"?! "MEMBATASI KEKUASAAN EKSEKUTIF"?!

Setiap judul bab dan sub-bab yang ia baca adalah sebuah pukulan telak baginya. Tesis ini bukan sekadar analisis akademik. Tesis ini adalah sebuah manifesto makar. Sebuah cetak biru untuk kudeta. Sebuah dokumen yang ditulis oleh penasihatnya sendiri, yang menjelaskan langkah demi langkah bagaimana cara menggulingkan kekuasaannya!

"KAU INGIN SAYA TURUN, SENGKUNI?!" Duryudana menggebrak meja sidang hingga hampir patah. Sebuah patahan kecil terlihat di kaki meja. "KAU INGIN PEMILU?! KAU INGIN SAYA DIPILIH?! SAYA ADALAH RAJA! SAYA TIDAK DIPILIH! SAYA DILAHIRKAN UNTUK MEMERINTAH! DAN KAU, ORANG YANG SELAMA INI KUBERI MAKAN, KUBERI UANG, KUBERI KEKUASAAN, MENGKHIANATIKU DENGAN MENULIS BUKU PANDUAN UNTUK MENGGULINGKAN SAYA?!"

Sengkuni kini benar-benar menangis. Air matanya yang langka, karena ia hampir tidak pernah menangis, kini mengalir deras di pipinya yang licin. "AMPUN, PADUKA! HAMBA TIDAK BERMAKSUD BEGITU! TESIS ITU TIDAK SERIUS! ITU HANYA... ITU HANYA PLAGIAT! HAMBA TIDAK MENULISNYA SENDIRI! HAMBA SURUH ORANG LAIN! JADI, ITU BUKAN PENDAPAT HAMBA! ITU PENDAPAT MEREKA!"

Pengakuan itu meluncur begitu saja dari mulut Sengkuni. Dalam kepanikannya, ia tanpa sengaja telah mengakui kejahatan akademik terbesarnya. Dr. Wangsa Kabeh, yang mendengar ini, langsung mencatat dengan semangat. "Plagiat! Pengakuan! Catatan untuk Rektor!" tulisnya di buku catatannya.

Tapi Duryudana tidak peduli dengan masalah plagiat. Baginya, masalahnya adalah pengkhianatan politik. "OH, JADI KAU TIDAK MENULISNYA SENDIRI?! KAU SURUH ORANG LAIN UNTUK MENULISKAN MAKAR INI?! JADI KAU PUNYA KONSPIRATOR! SIAPA?! SIAPA YANG KAU SURUH?! SEBUTKAN NAMANYA! SAYA AKAN PENJARAKAN MEREKA SEMUA!"

Sengkuni tersadar bahwa ia baru saja menggali lubangnya sendiri lebih dalam. Kini ia tidak hanya menghadapi vonis tidak lulus, tetapi juga vonis makar dari Presiden. "Ti... tidak ada konspirator, Paduka! Hanya... hanya dua orang bodoh! Kucrit dan Ampang! Mereka tidak tahu apa-apa! Mereka cuma lulusan tata boga!"

Duryudana menghentikan amukannya sejenak. "Kucrit dan Ampang? Dua agen bodoh itu?! MEREKA YANG MENULIS INI?!" Ia menatap tesis itu lagi, lalu tertawa. Tapi tawanya adalah tawa yang mengerikan, tawa seorang tiran yang baru saja menemukan lelucon yang paling lucu sekaligus paling menyakitkan. "JADI, KAU MEMBERITAHUKU... BAHWA SEBUAH DOKUMEN YANG MENGUSULKAN UNTUK MENGGULINGKAN SAYA... DITULIS OLEH DUA ORANG JURU MASAK?!"

Suasana di ruang sidang menjadi sangat absurd. Dr. Wangsa Kabeh tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia ingin tertawa, tapi ia takut. Ia ingin menangis, tapi itu tidak lucu. Ia hanya bisa duduk terpaku, menyaksikan drama yang lebih konyol dari semua lawakan yang pernah ia buat.

Akhirnya, Duryudana mengambil keputusan. Ia meletakkan tesis itu kembali ke meja dengan sangat pelan, sangat kontras dengan amukannya tadi. Ketenangannya yang tiba-tiba ini justru lebih mengerikan. Ia menatap Sengkuni yang masih berlutut di lantai. Tatapannya dingin, tanpa emosi.

"Sengkuni," suaranya kini pelan, tapi setiap katanya penuh dengan bisa. "Mulai detik ini, kau saya pecat sebagai Penasihat Presiden."

Sengkuni tersentak. "Ti... tidak, Paduka! Jangan! Hamba mohon!"

"Semua gelarmu, meskipun kau tidak punya banyak, akan saya cabut. Semua aksesmu ke Istana akan saya tutup. Semua rekeningmu akan saya bekukan. Semua propertimu akan saya sita. Kau tidak lagi menjadi bagian dari Keraton Astina."


Sengkuni merangkak, mencoba mendekati kaki Duryudana. "Paduka... tolong... Hamba masih berguna... Hamba bisa..."

"Dan," Duryudana melanjutkan, mengabaikan rengekan Sengkuni, "sebagai hukuman atas pengkhianatan ini, kau akan saya kirim sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Negeri Kutub Utara yang Tidak Berpenghuni. " Itu adalah hukuman yang legendaris. Negeri Kutub Utara yang Tidak Berpenghuni adalah sebuah pulau es di ujung utara dunia, yang penduduknya hanyalah beruang kutub dan beberapa ilmuwan gila yang meneliti perubahan iklim. Duta Besar ke sana adalah sebuah posisi yang hanya ada di dalam lelucon. Tidak ada yang pernah benar-benar dikirim ke sana, karena itu artinya diasingkan ke neraka beku.

"Kau akan segera berangkat besok pagi. Di sana, kau bisa menulis tesis sebanyak yang kau mau. Tentang transisi, tentang demokrasi, tentang apa pun. Kau bisa menulis bahwa beruang kutub harus mengadakan pemilu. Saya tidak peduli. Karena di sana, tidak akan ada yang mendengarkanmu."


Setelah menyampaikan vonisnya, Sengkuni tidak kuat lagi menahannya. Tubuhnya bergetar hebat, matanya berputar ke atas, dan ia langsung pingsan di tempat. Tubuhnya tergeletak di lantai ruang sidang, di samping kursi pesakitannya. Jas hitamnya yang mahal kini kusut dan kotor. Sebuah pemandangan yang sangat ironis. Orang yang paling berkuasa di Astina setelah Presiden, kini tergeletak tak berdaya seperti ikan yang kehabisan air.



Epilog di Ruang Sidang

Keheningan kembali meliputi ruang sidang. Duryudana menatap tubuh Sengkuni yang pingsan dengan tatapan jijik. Ia mendengus keras, lalu berbalik. "Karna! Bawa pengkhianat ini! Kita pulang!"

Karna melangkah masuk. Ia menatap Sengkuni yang tergeletak dengan tatapan iba. Meskipun ia tidak suka pada Sengkuni, ia tidak bisa tidak merasa kasihan. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh Sengkuni dan meletakkannya di bahunya, seperti karung beras.

Sebelum pergi, Duryudana menoleh pada Togog. "Togog," katanya. "Kau, dengan sarung dan kaus oblongmu, telah melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan: membuat Sengkuni jatuh. Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih atau membencimu."

Togog hanya menunduk hormat. "Saya hanya menjalankan tugas akademik, Paduka."

Duryudana tidak menjawab. Ia hanya mendengus lagi, lalu melangkah keluar dari ruang sidang. Karna mengikutinya, dengan tubuh Sengkuni yang masih pingsan di bahunya. Citraksa dan Citraksi berlari-lari kecil di belakangnya.

Kini, di ruang sidang, hanya ada dua orang: Dr. Wangsa Kabeh dan Prof. Dr. Togog. Suasana hening sekali. Hanya terdengar suara jam dinding. Tok... tok... tok...

Dr. Wangsa Kabeh adalah orang pertama yang memecah keheningan. Ia menatap pintu yang sudah hancur, lalu menatap Togog, lalu menatap tesis Sengkuni yang masih tergeletak di meja. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata, "Wah, Prof. Togog. Ini... ini adalah sidang tesis paling luar biasa yang pernah saya saksikan. Dan saya sudah menyaksikan banyak sidang tesis. Bahkan ada yang sampai bawa pengacara. Tapi yang bawa Presiden? Baru kali ini."

Togog tidak menjawab. Ia hanya membereskan laptop dan buku-bukunya dengan tenang.

Dr. Wangsa Kabeh melanjutkan, "Saya rasa, kita tidak perlu lagi menandatangani berita acara sidang untuk yang ini. Karena, yah... mahasiswanya sudah diangkut oleh Presiden untuk diasingkan ke Kutub Utara. Itu kan lebih parah dari tidak lulus."

Togog akhirnya angkat bicara. "Doktor Wangsa, tolong sampaikan pada Rektorat. Bahwa Sidang Tesis atas nama Sengkuni... ditunda. Sampai waktu yang tidak ditentukan. Atau mungkin, ditutup secara permanen."

"Baik, Prof. Akan saya sampaikan." Dr. Wangsa Kabeh berdiri, lalu menghampiri Togog. "Prof, boleh saya jujur?"

"Silakan."

"Saya tidak pernah menyangka bahwa ilmu politik bisa sedramatis ini. Saya pikir, ilmu politik itu cuma tentang debat kusir dan teori-teori membosankan. Ternyata, ilmu politik bisa membuat seorang tiran tumbang, seorang penasihat pingsan, dan sebuah jet pribadi mendarat di lapangan sepak bola. Ini... ini luar biasa. Anda telah mengajari saya sesuatu hari ini, Prof."

Togog tersenyum tipis. "Dan apa itu, Doktor?"

Dr. Wangsa Kabeh menatap Togog dengan tatapan kagum. "Bahwa kebenaran yang diucapkan dengan tenang, lebih kuat daripada kebohongan yang diteriakkan dengan lantang. Dan bahwa sarung dan kaus oblong, ternyata, bisa mengalahkan jas dan dasi."

Togog terkekeh kecil. "Anda melebih-lebihkan, Doktor. Saya hanya bertanya tentang beberapa definisi."

"Definisi yang menghancurkan sebuah rezim, Prof."

Togog tidak melanjutkan perdebatan itu. Ia menyampirkan tas selempangnya di bahu. Ia berjalan menju pintu, melangkahi puing-puing pintu yang didobrak oleh Karna. Di depan pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang, melihat tesis merah marun yang tergeletak di meja sidang. Tesis itu, yang lahir dari kepanikan, ditulis oleh dua juru masak, dan dipertahankan oleh seorang penjahat, kini menjadi simbol dari kehancuran total. Sebuah monumen untuk kebodohan dan kesombongan.

Ia berkata lirih pada dirinya sendiri, cukup keras untuk didengar oleh Dr. Wangsa Kabeh, "Akhirnya, Neokorteks menang. Meskipun hanya untuk satu hari."

Lalu, ia melangkah keluar dari ruang sidang, menyusuri koridor, keluar dari gedung Rektorat. Di depannya, ia melihat pemandangan yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya: sebuah jet pribadi Gulf Stream yang mewah, terparkir di tengah lapangan sepak bola yang sudah rusak parah. Para mahasiswa sudah mengerumuni pesawat itu, mengambil foto-foto selfie dengan latar belakang pesawat kepresidenan. Beberapa bahkan ada yang mencoba menyentuhnya.

Di kejauhan, ia melihat Karna sedang membawa tubuh Sengkuni yang masih pingsan menaiki tangga pesawat. Di belakangnya, Duryudana berjalan dengan langkah berat. Dan di belakang Duryudana, dua ajudan, Citraksa dan Citraksi, masih berlari-lari kecil sambil membawa map dan air mineral yang tidak jadi diminum.

Togog menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan yang sulit digambarkan. Bukan kemenangan. Bukan kesedihan. Melainkan sebuah ironi yang sangat dalam. Pria yang selama bertahun-tahun telah membuatnya menderita, pria yang telah merendahkannya di setiap rapat kabinet, kini diangkut seperti sampah oleh tuannya sendiri. Bukan karena kejahatannya, bukan karena korupsinya, bukan karena manipulasinya. Melainkan karena sebuah tesis bodoh yang bahkan tidak ia tulis sendiri.

"Keadilan, rupanya, punya selera humor yang aneh," gumam Togog.

Ia kemudian berjalan menuju arah yang berlawanan. Menuju gerbang kampus, lalu keluar, mencari angkringan terdekat. Ia butuh kopi joss susu. Secangkir kopi untuk merayakan akhir dari sebuah era. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Togog bukanlah penyebab dari depresi, melainkan saksi dari kehancuran lawannya. Dan ia memilih untuk menikmati momen itu dengan secangkir kopi, di sebuah angkringan sederhana, bersama rakyat biasa.

Di belakangnya, di Padepokan Tinggi Kaling, kekacauan politik terbesar di Astina baru saja dimulai. Berita tentang pemecatan Sengkuni akan menyebar seperti api. Para elit politik akan panik. Para sekutu Sengkuni akan mencari perlindungan baru. Dan Duryudana, untuk pertama kalinya, akan merasakan betapa sepinya Istana tanpa bisikan-bisikan licik dari penasihatnya.

Namun, Togog tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya ingin kopinya. Kopi yang rasanya pahit, tapi nikmat. Kopi yang mengingatkannya bahwa di tengah semua intrik dan kekacauan dunia, selalu ada hal-hal sederhana yang bisa dinikmati.

Ia duduk di bangku angkringan, memesan kopi joss susu dan sepiring nasi kucing. Pedagang angkringan, seorang pria ramah, menyapanya, "Wah, Pak Togog, kok kelihatan sumringah? Dapat rejeki nomplok, ya?"

Togog tersenyum. "Tidak, Pak. Saya hanya baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan yang sangat bagus."


Oh, ya? Pertunjukan apa, Pak?"

"Pertunjukan tentang bagaimana seekor singa yang sombong, akhirnya ditendang oleh keledai yang ia hina sepanjang hidupnya."


Pedagang itu bingung, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menyajikan kopi pesanan Togog. Togog menerima kopi itu, menyesapnya, dan merasakan kehangatannya menyebar ke seluruh tubuhnya.


"Ah, nikmat," katanya. "Dunia ini, meskipun kacau, masih layak untuk dinikmati."


TAMAT.

Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, tempat, dan kejadian adalah hasil

imajinasi. Kalau ada kesamaan dengan realitas, itu cuma kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, karena realitas kadang lebih absurd daripada fiksi.

Posting Komentar

0 Komentar