Melalui dua karya monumentalnya, The World Is Flat (2005) dan Hot, Flat, and Crowded (2008), Friedman membangun sebuah narasi besar: Dunia yang semakin “rata” (flat) akibat revolusi teknologi informasi telah menciptakan arena persaingan global yang setara, sementara dunia yang kian “panas” (hot) dan “padat” (crowded) akibat perubahan iklim dan ledakan populasi sedang mendorong lahirnya tatanan geopolitik baru yang berpusat pada energi bersih. Friedman menawarkan sebuah sintesis visioner yang ia sebut “Geo-Greenism”, sebuah strategi nasional yang ambisius di mana kepemimpinan dalam teknologi hijau menjadi sumber kekuatan geopolitik dan militer yang tak kalah pentingnya dibandingkan tank, pesawat tempur, dan rudal nuklir.
Esai ini mula-mula menguraikan kerangka teoretis Friedman, kemudian mengevaluasi relevansinya dalam konteks dinamika politik internasional kontemporer, termasuk perang Rusia-Ukraina, rivalitas Amerika Serikat-Tiongkok, dan transformasi kebijakan energi global. Dengan mendasarkan analisis pada sumber-sumber primer karya Friedman serta literatur akademik terkini, tulisan ini berargumen bahwa meskipun prediksi Friedman tidak selalu tepat secara detail, esensi pemikirannya, bahwa transisi energi bersih akan menjadi pusat gravitasi baru geopolitik abad ke-21, terbukti sangat relevan dan terus membentuk arah persaingan kekuatan besar dunia saat ini.
Pada suatu hari di bulan Juni 2005, saat ekonomi global sedang bergelora, surat kabar satir Amerika Serikat The Onion memuat sebuah cerita rekaan tentang seorang buruh pabrik plastik di Fenghua, Tiongkok, yang mengaku tidak habis pikir melihat betapa banyak “sampah” yang dibeli oleh orang Amerika (Friedman, 2008, hlm. 1-2). Cerita itu, meskipun sepenuhnya fiktif, merangkum secara karikatural mesin pertumbuhan ekonomi global yang sesungguhnya: Konsumsi rakus Amerika yang didanai oleh tabungan Tiongkok, rantai pasok yang membentang melintasi samudra, dan laju industrialisasi yang tak terbendung. Namun di balik kemakmuran yang terhampar itu, tersembunyi dua bayang-bayang gelap yang kian membesar: suhu bumi yang terus memanas dan persaingan memperebutkan energi yang kian sengit.
Thomas L. Friedman, kolumnis urusan luar negeri The New York Times dan penulis yang telah membantu jutaan pembaca memahami globalisasi melalui buku larisnya The World Is Flat (2005), menangkap kegelisahan itu dengan jernih. Dalam buku lanjutannya, Hot, Flat, and Crowded: Why We Need a Green Revolution, and How It Can Renew America (2008), Friedman merumuskan sebuah tesis yang provokatif: Globalisasi dan pemanasan global bukanlah dua fenomena yang terpisah, melainkan dua sisi dari koin yang sama. Keduanya, bersama dengan pertumbuhan populasi, telah bertemu dan menciptakan “api besar” yang mendidihkan serangkaian masalah pelik, mulai dari ketimpangan ekonomi, krisis energi, kerusakan lingkungan, hingga instabilitas geopolitik (Friedman, 2008, hlm. 12-14).
Pertanyaan yang diajukan Friedman sederhana namun menggelisahkan: Jika dunia sedang “meratakan dirinya” (flattening) melalui teknologi digital yang menghubungkan miliaran individu ke dalam satu arena persaingan global, dan pada saat yang sama bumi sedang “memanas” (heating up) akibat emisi karbon yang tak terkendali, apa artinya semua ini bagi peta kekuasaan dunia? Jawaban Friedman: kita sedang memasuki era baru yang ia sebut “Era Energi-Iklim” (Energy-Climate Era), di mana energi bersih dan teknologi hijau akan menjadi “mata uang” baru kekuatan geopolitik dan militer, sama seperti tank, pesawat tempur, dan rudal nuklir selama Perang Dingin (Friedman, 2008, hlm. 33-35).
Esai ini berupaya membedah secara kritis dan mendalam gagasan besar Friedman tersebut. Bagian pertama akan menguraikan kerangka teoretis yang ia bangun, dari konsep “dunia yang rata” hingga “Geo-Greenism.” Bagian kedua akan mengevaluasi relevansi teori ini dalam konteks dinamika politik internasional masa kini, dengan menyoroti studi kasus nyata seperti perang energi pasca-invasi Rusia ke Ukraina, perlombaan teknologi hijau antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta transformasi kebijakan energi di Uni Eropa. Pada akhirnya, esai ini akan menunjukkan bahwa meskipun beberapa detail prediksi Friedman mungkin meleset, sebagaimana lazimnya setiap teori besar, inti pemikirannya tetap menawarkan kerangka analitis yang sangat berharga untuk memahami dan menavigasi lanskap geopolitik abad ke-21 yang kian kompleks dan saling terhubung.
Thomas L. Friedman, kolumnis urusan luar negeri The New York Times dan penulis yang telah membantu jutaan pembaca memahami globalisasi melalui buku larisnya The World Is Flat (2005), menangkap kegelisahan itu dengan jernih. Dalam buku lanjutannya, Hot, Flat, and Crowded: Why We Need a Green Revolution, and How It Can Renew America (2008), Friedman merumuskan sebuah tesis yang provokatif: Globalisasi dan pemanasan global bukanlah dua fenomena yang terpisah, melainkan dua sisi dari koin yang sama. Keduanya, bersama dengan pertumbuhan populasi, telah bertemu dan menciptakan “api besar” yang mendidihkan serangkaian masalah pelik, mulai dari ketimpangan ekonomi, krisis energi, kerusakan lingkungan, hingga instabilitas geopolitik (Friedman, 2008, hlm. 12-14).
Pertanyaan yang diajukan Friedman sederhana namun menggelisahkan: Jika dunia sedang “meratakan dirinya” (flattening) melalui teknologi digital yang menghubungkan miliaran individu ke dalam satu arena persaingan global, dan pada saat yang sama bumi sedang “memanas” (heating up) akibat emisi karbon yang tak terkendali, apa artinya semua ini bagi peta kekuasaan dunia? Jawaban Friedman: kita sedang memasuki era baru yang ia sebut “Era Energi-Iklim” (Energy-Climate Era), di mana energi bersih dan teknologi hijau akan menjadi “mata uang” baru kekuatan geopolitik dan militer, sama seperti tank, pesawat tempur, dan rudal nuklir selama Perang Dingin (Friedman, 2008, hlm. 33-35).
Esai ini berupaya membedah secara kritis dan mendalam gagasan besar Friedman tersebut. Bagian pertama akan menguraikan kerangka teoretis yang ia bangun, dari konsep “dunia yang rata” hingga “Geo-Greenism.” Bagian kedua akan mengevaluasi relevansi teori ini dalam konteks dinamika politik internasional masa kini, dengan menyoroti studi kasus nyata seperti perang energi pasca-invasi Rusia ke Ukraina, perlombaan teknologi hijau antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta transformasi kebijakan energi di Uni Eropa. Pada akhirnya, esai ini akan menunjukkan bahwa meskipun beberapa detail prediksi Friedman mungkin meleset, sebagaimana lazimnya setiap teori besar, inti pemikirannya tetap menawarkan kerangka analitis yang sangat berharga untuk memahami dan menavigasi lanskap geopolitik abad ke-21 yang kian kompleks dan saling terhubung.
Kerangka Teoretis Thomas Friedman
Untuk memahami teori Friedman tentang geopolitik di era pemanasan global, kita perlu memulainya dari fondasi pemikirannya mengenai globalisasi. Dalam The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century (2005), Friedman mengajukan metafora yang sederhana namun kuat: Dunia sedang menjadi “rata.” Metafora ini terinspirasi oleh perjalanannya ke Bangalore, India, di mana ia menyaksikan bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi informasi Amerika mengalihdayakan pekerjaan mereka ke sana. Seorang eksekutif India berkata kepadanya, “The playing field is being leveled”, arena permainan ekonomi global sedang diratakan (Friedman, 2005, hlm. 6-9).Apa yang dimaksud Friedman dengan “perataan” ini? Ia mengidentifikasi tiga fase globalisasi dalam sejarah. Globalisasi 1.0 (1492-1800) didorong oleh negara-bangsa yang melakukan ekspansi untuk imperium, sumber daya, dan kekuasaan; dunia “menyusut” dari ukuran besar menjadi medium. Globalisasi 2.0 (1800-2000) didorong oleh perusahaan multinasional yang mengglobal untuk mencari pasar, tenaga kerja, dan sumber daya; dunia “menyusut” dari ukuran medium menjadi kecil. Globalisasi 3.0 (2000-sekarang) didorong oleh individu-individu yang kini dapat bersaing, terhubung, dan berkolaborasi secara global berkat platform digital; dunia “menyusut” dari ukuran kecil menjadi sangat kecil dan menjadi “rata” (Friedman, 2005, hlm. 12-19).
Hal yang membuat era ketiga ini unik dan “rata” adalah konvergensi dari apa yang disebut Friedman sebagai “sepuluh kekuatan perata” (ten flatteners). Di antaranya adalah runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 yang membuka pasar global, penawaran saham perdana Netscape pada 1995 yang memicu revolusi internet, perangkat lunak alur kerja yang memungkinkan kolaborasi lintas benua, pengalihdayaan (outsourcing), alih kapal (offshoring), rantai pasok global, dan apa yang ia sebut “in-forming”, kemampuan individu untuk mengakses informasi secara instan melalui mesin pencari seperti Google (Friedman, 2005, hlm. 73-155). Semua ini, menurut Friedman, telah menciptakan “lapangan bermain yang setara secara global” di mana individu dari Bangalore dapat bersaing dengan individu dari Boston, perusahaan kecil dari Shenzhen dapat menantang perusahaan raksasa dari Silicon Valley, dan ide-ide inovatif dapat muncul dari mana saja di belahan bumi.
Implikasi geopolitik dari perataan ini sangat besar. Dalam dunia yang rata, hierarki kekuasaan tradisional yang dibangun di atas kendali teritorial dan militer mulai terkikis oleh jaringan-jaringan ekonomi dan informasi yang melampaui batas negara. Negara-bangsa, yang selama berabad-abad menjadi aktor dominan dalam hubungan internasional, kini harus berbagi panggung dengan perusahaan multinasional raksasa, organisasi non-pemerintah, jaringan teroris, dan bahkan “individu super-berdaya” yang mampu mempengaruhi jalannya sejarah melalui teknologi (Friedman, 2005, hlm. 421-442). Dunia tidak lagi dijalankan dari pusat-pusat kekuasaan yang jelas, melainkan dari simpul-simpul jaringan yang tersebar.
Namun, di sinilah letak tegangan yang paling fundamental dalam pemikiran Friedman. Di satu sisi, perataan menciptakan peluang integrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya: rantai pasok global yang saling terkait, pasar keuangan yang terhubung 24 jam, dan komunitas ilmiah yang berkolaborasi melintasi benua. Di sisi lain, perataan juga menciptakan arena persaingan yang jauh lebih ketat dan brutal. Seperti yang ia tulis, “Ketika dunia menjadi rata, semua orang dapat melihat bagaimana orang lain hidup, dan semua orang ingin hidup seperti itu” (Friedman, 2005, hlm. 351). Hasrat yang merata itu, pada gilirannya, menciptakan tekanan luar biasa terhadap sumber daya alam, terutama energi, dan di sinilah pemanasan global masuk ke dalam persamaan.
Jika The World Is Flat adalah diagnosis, maka Hot, Flat, and Crowded adalah resep pengobatan sekaligus peringatan darurat. Dalam buku ini, Friedman mengidentifikasi tiga “peristiwa seismik besar” yang sedang bertemu: Panas (pemanasan global), rata (bangkitnya kelas menengah global yang mengadopsi pola konsumsi ala Amerika), dan padat (pertumbuhan populasi dunia yang pesat) (Friedman, 2008, hlm. 12-14). Ketiganya, tulis Friedman, “seperti tiga lidah api yang menyatu menjadi satu api besar, dan api ini sedang mendidihkan serangkaian masalah” (Friedman, 2008, hlm. 14).
Pemanasan global (hot) menjadi isu yang paling mendesak. Friedman, yang mengaku bukan ilmuwan iklim namun rajin membaca laporan-laporan ilmiah, menyajikan bukti-bukti yang mengkhawatirkan: Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer yang mencapai level tertinggi dalam 650.000 tahun, pencairan es di Greenland dan Antartika yang semakin cepat, dan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem. Ia mengutip para ilmuwan yang memperingatkan bahwa kita hanya memiliki waktu yang sempit untuk bertindak sebelum perubahan iklim mencapai “titik kritis” yang tak dapat dipulihkan (Friedman, 2008, hlm. 53-79).
Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bahwa pemanasan global terjadi bersamaan dengan “perataan” yang kedua: Kebangkitan kelas menengah global. Friedman menyebutnya sebagai “Amerikanisasi” pola konsumsi. “Ketika dunia menjadi rata,” tulisnya, “kita tidak hanya mendapatkan lebih banyak orang yang dapat berkompetisi dengan kita; kita juga mendapatkan lebih banyak orang yang ingin hidup seperti kita” (Friedman, 2008, hlm. 31). Pada tahun 2008, sekitar tiga miliar orang baru telah memasuki panggung ekonomi global berkat internet dan liberalisasi perdagangan. Mereka semua menginginkan rumah yang lebih besar, mobil, pendingin ruangan, dan daging dalam menu makanan mereka, semua hal yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Dan akhirnya, ada faktor “padat” (crowded). Populasi dunia, yang pada tahun 2008 berjumlah sekitar 6,7 miliar jiwa, diproyeksikan akan mencapai 9 miliar pada pertengahan abad ini. Setiap tambahan manusia, terutama yang lahir di negara berkembang dan bercita-cita menjadi kelas menengah, akan menambah tekanan luar biasa terhadap pasokan energi, air, pangan, dan sumber daya alam lainnya (Friedman, 2008, hlm. 79-95).
Konvergensi tiga krisis ini, menurut Friedman, memiliki implikasi geopolitik yang revolusioner. Ia merumuskan lima masalah kunci yang akan mendefinisikan arena politik internasional: (1) Permintaan energi dan sumber daya alam yang melampaui pasokan; (2) Transfer kekayaan besar-besaran ke negara-negara kaya minyak dan “petrodiktator” yang menggunakan kekayaan itu untuk melemahkan demokrasi dan menyebarkan ideologi ekstremis; (3) Perubahan iklim yang mengganggu stabilitas; (4) Kemiskinan energi yang membuat miliaran orang tidak memiliki akses ke listrik; dan (5) Hilangnya keanekaragaman hayati yang semakin cepat (Friedman, 2008, hlm. 103-115). Memperbaiki salah satu masalah ini tanpa mengatasi yang lain, tegasnya, adalah sia-sia, semuanya saling terkait dalam sebuah simpul erat yang harus diurai secara bersamaan.
Di sinilah Friedman menawarkan solusinya yang paling orisinal dan kontroversial: Sebuah strategi nasional ambisius yang ia sebut “Geo-Greenism.” Ia mendefinisikan Geo-Greenism sebagai “sebuah strategi untuk membuat Amerika lebih sehat, lebih kaya, lebih inovatif, lebih produktif, dan lebih aman dengan memimpin revolusi energi bersih global” (Friedman, 2008, hlm. 205). Namun di balik definisi yang terdengar teknokratis itu, tersimpan visi geopolitik yang sangat tajam: energi bersih, menurut Friedman, akan menjadi “mata uang baru” kekuatan global.
Dalam sebuah wawancara dengan Scientific American, Friedman menjelaskan inti argumennya dengan gamblang:
Clean power is going to be a source of power generally in the world, every bit as much as tanks, planes and nuclear missiles have been during the cold war. The country that takes the lead in clean power and clean tech is going to be an economic and strategic leader in the 21st century. If we take the lead in that industry, we will be generating the kind of innovation, competitiveness, respect, security and breakthroughs to help the world. (Friedman, sebagaimana dikutip dalam Mirsky, 2008, paragraf 4)
Pernyataan ini adalah inti dari teori geopolitik Friedman. Ia menegaskan bahwa dalam Era Energi-Iklim, hierarki kekuasaan internasional tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kapasitas militer konvensional, jumlah tank, pesawat tempur, atau hulu ledak nuklir yang dimiliki sebuah negara. Melainkan, oleh kapasitas untuk menciptakan, memproduksi, dan mengekspor teknologi energi bersih. Negara yang memimpin dalam energi surya, angin, baterai, jaringan pintar, kendaraan listrik, dan teknologi penangkapan karbon akan menjadi negara adidaya abad ke-21, sama seperti Amerika Serikat menjadi adidaya abad ke-20 dengan menguasai minyak dan nuklir.
Ungkapan Friedman yang paling provokatif, dan yang menjadi mantra Geo-Greenism, adalah, “Green is the new red, white, and blue” (hijau adalah merah, putih, dan biru yang baru) (Friedman, 2008, hlm. 203). Metafora ini bukan sekadar slogan puitis; ia mengandung argumentasi geopolitik yang dalam. Selama Perang Dingin, warna merah, putih, dan biru bendera Amerika melambangkan perjuangan melakukan komunisme dan kepemimpinan Amerika dalam aliansi demokrasi. Kini, Friedman berargumen, “hijau”, melambangkan energi bersih dan kelestarian lingkungan, harus menjadi identitas baru kepemimpinan Amerika dan, pada gilirannya, menjadi poros persaingan dan kerja sama global. Dengan memimpin revolusi hijau, Amerika Serikat tidak hanya akan menyelamatkan planet dari pemanasan berlebih, tetapi juga akan “mendapatkan kembali mojonya” (get its groove back), merajut kembali persatuan dalam negeri, menghubungkan kembali diri dengan dunia, dan memulihkan tempat alamiahnya dalam tatanan global (Friedman, 2008, hlm. 15-16).
Friedman juga memperkenalkan konsep “Perlombaan Bumi” (Earth Race) sebagai antitesis dari pendekatan “Hari Bumi” (Earth Day) yang menurutnya bersifat sukarela dan tidak mengikat. “Saya telah lama percaya bahwa ada dua strategi dasar untuk menghadapi perubahan iklim, strategi ‘Hari Bumi’ dan strategi ‘Perlombaan Bumi’,” tulisnya. Strategi Hari Bumi, yang diwakili oleh Protokol Kyoto dan konferensi-konferensi PBB, menurut Friedman terlalu bergantung pada komitmen sukarela dan target emisi yang tidak mengikat. Sebaliknya, strategi Perlombaan Bumi adalah tentang menciptakan kompetisi global yang sengit dalam industri teknologi bersih, yang akan mendorong inovasi, menurunkan biaya, dan pada akhirnya mempercepat transisi energi secara lebih efektif dibandingkan regulasi apa pun (Friedman, 2009, hlm. 1-2).
Dengan demikian, teori Friedman dapat diringkas sebagai berikut: Globalisasi, dengan meratakan lapangan permainan ekonomi dunia, menciptakan arena persaingan sekaligus integrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada saat yang sama, pemanasan global dan ledakan populasi menciptakan tekanan luar biasa terhadap sumber daya energi. Kombinasi kedua kekuatan ini mendorong lahirnya tatanan geopolitik baru di mana energi bersih menjadi sumber utama kekuatan nasional, menggantikan peran minyak dan senjata konvensional. Negara yang mampu memimpin revolusi ini tidak hanya akan menyelamatkan planet, tetapi juga akan mendominasi abad ke-21.
Relevansi Teori Friedman
Seperti halnya setiap teori besar, pemikiran Friedman perlu diuji di hadapan realitas politik internasional yang terus bergerak. Apakah prediksinya tentang energi bersih sebagai pusat gravitasi geopolitik baru terbukti? Apakah konsep Geo-Greenism masih relevan lima belas tahun setelah bukunya terbit? Bagian ini akan mengevaluasi relevansi teori Friedman dengan meninjaunya melalui tiga lensa: (1) Energi dan keamanan dalam konteks perang Rusia-Ukraina; (2) Persaingan Amerika Serikat-Tiongkok dalam teknologi hijau; dan (3) Transformasi kebijakan energi Uni Eropa dan implikasinya terhadap tata kelola global.Ketika Friedman menulis Hot, Flat, and Crowded pada tahun 2008, salah satu kekhawatiran utamanya adalah ketergantungan dunia, dan terutama Eropa, pada minyak dan gas dari negara-negara “petrodiktator” seperti Rusia, Venezuela, dan Arab Saudi. Ia memperingatkan bahwa rezim-rezim ini menggunakan pendapatan energi mereka untuk memperkuat kekuasaan di dalam negeri, melemahkan demokrasi di luar negeri, dan memproyeksikan pengaruh geopolitik yang merusak (Friedman, 2008, hlm. 103-115). Bagi Friedman, transisi ke energi bersih bukan hanya soal lingkungan; ia adalah soal membebaskan dunia dari cengkeraman para diktator energi dan menciptakan sistem internasional yang lebih aman dan demokratis.
Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 membuktikan bahwa kekhawatiran Friedman sangat beralasan, bahkan mungkin melampaui skenario terburuk yang ia bayangkan. Selama bertahun-tahun, Eropa telah membangun ketergantungan yang mendalam pada gas alam Rusia. Melalui jaringan pipa seperti Nord Stream 1 dan 2, Rusia memasok sekitar 40% kebutuhan gas Uni Eropa sebelum perang (Bordoff & O'Sullivan, 2022, hlm. 104). Rusia, di bawah Vladimir Putin, tidak segan-segan menggunakan ketergantungan ini sebagai senjata geopolitik: Memotong pasokan gas, memanipulasi harga, dan mengancam negara-negara yang berani menentangnya.
Namun, alih-alih mematahkan semangat Eropa, invasi Rusia justru memicu apa yang oleh para analis disebut sebagai “percepatan besar” (great acceleration) dalam transisi energi Eropa. Uni Eropa meluncurkan rencana REPowerEU pada Mei 2022, yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia secara drastis dan mempercepat penyebaran energi terbarukan. Komisi Eropa menetapkan target untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan menjadi 45% pada tahun 2030, naik dari target sebelumnya 40% (Komisi Eropa, 2022, hlm. 3-5). Investasi dalam energi surya, angin, dan efisiensi energi melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jerman, yang sebelumnya sangat bergantung pada gas Rusia, mempercepat pembangunan terminal gas alam cair (LNG) dan memperluas kapasitas energi terbarukannya secara masif.
Dalam konteks ini, teori Friedman tampak sangat presien. Ia telah meramalkan bahwa ketergantungan pada minyak dan gas akan menjadi kerentanan strategis yang dapat dieksploitasi oleh kekuatan-kekuatan revisionis. Ia juga meramalkan bahwa solusi terhadap kerentanan ini bukanlah isolasionisme atau autarki, melainkan percepatan transisi energi bersih. “Semakin cepat kita beralih ke energi bersih,” tulisnya, “semakin cepat kita membebaskan diri dari cengkeraman para petrodiktator” (Friedman, 2008, hlm. 310). Kata-kata ini, yang ditulis pada tahun 2008, terbaca seolah-olah ditulis untuk merespons krisis energi Eropa pada tahun 2022.
Namun, realitas juga menunjukkan kompleksitas yang mungkin luput dari perhatian Friedman. Transisi energi, dalam praktiknya, jauh lebih rumit daripada yang digambarkan dalam buku-bukunya. Meskipun Eropa telah membuat kemajuan luar biasa dalam energi terbarukan, ia masih sangat bergantung pada gas alam, kini dari sumber-sumber alternatif seperti Amerika Serikat, Qatar, dan Azerbaijan. LNG, meskipun lebih bersih daripada batu bara, tetaplah bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon. Selain itu, transisi energi memerlukan mineral-mineral kritis seperti litium, kobalt, dan nikel yang pasokannya didominasi oleh segelintir negara, termasuk Tiongkok, yang membawa kita pada dimensi lain dari persaingan geopolitik.
Friedman sendiri sebenarnya menyadari kompleksitas ini. Dalam edisi kedua Hot, Flat, and Crowded (dirilis sebagai Hot, Flat, and Crowded 2.0 pada tahun 2009), ia memperluas analisisnya untuk mencakup isu-isu ini. Namun demikian, narasi optimisnya tentang “inovasi akan menyelesaikan segalanya” kadang-kadang mengabaikan kenyataan bahwa transisi energi adalah proses yang kacau, mahal, dan penuh dengan konsekuensi geopolitik yang tak terduga. Perang Ukraina telah membuktikan bahwa teori Friedman benar tentang pentingnya energi bersih bagi keamanan nasional; tetapi ia juga menunjukkan bahwa jalan menuju transisi itu lebih berliku daripada yang ia bayangkan.
Jika ada satu arena di mana teori Friedman tentang “Earth Race” menjadi kenyataan dengan sangat gamblang, itu adalah persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam industri teknologi bersih. Kedua negara adidaya ini kini terlibat dalam apa yang oleh banyak pengamat disebut sebagai “perlombaan senjata hijau” (green arms race), di mana supremasi dalam panel surya, turbin angin, baterai litium-ion, dan kendaraan listrik dianggap sama strategisnya dengan supremasi dalam kecerdasan buatan, komputasi kuantum, atau teknologi hipersonik.
Perkembangan ini persis sesuai dengan prediksi Friedman. Dalam Hot, Flat, and Crowded, ia berulang kali menekankan bahwa negara yang memimpin dalam energi bersih akan menjadi negara adidaya abad ke-21, dan bahwa Amerika Serikat harus memimpin perlombaan ini jika tidak ingin disusul oleh Tiongkok (Friedman, 2008, hlm. 281-305). “Tiongkok memahami ini,” tulisnya. “Mereka tidak membangun ribuan pembangkit listrik tenaga batu bara karena mereka membenci planet ini; mereka melakukannya karena mereka ingin mengangkat rakyatnya dari kemiskinan. Tetapi mereka juga berinvestasi besar-besaran dalam energi bersih karena mereka tahu di situlah masa depan” (Friedman, 2008, hlm. 287).
Data terkini mengonfirmasi analisis Friedman. Tiongkok kini adalah pemimpin dunia yang tak tertandingi dalam banyak sektor teknologi bersih. Pada tahun 2024, Tiongkok menguasai sekitar 80% rantai pasok panel surya global, 70% produksi baterai litium-ion, dan lebih dari 60% kapasitas produksi turbin angin (IEA, 2024, hlm. 45-52). Dalam kendaraan listrik, perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti BYD, NIO, dan Xpeng kini menantang dominasi Tesla dan produsen otomotif tradisional Eropa. Tiongkok juga mendominasi pengolahan mineral-mineral kritis yang diperlukan untuk teknologi hijau, seperti litium, kobalt, dan tanah jarang.
Amerika Serikat, di sisi lain, baru-baru ini mulai merespons dengan agresif melalui kebijakan-kebijakan seperti Inflation Reduction Act (IRA) tahun 2022, yang mengalokasikan sekitar $369 miliar untuk subsidi energi bersih dan insentif manufaktur dalam negeri (White House, 2022). IRA dirancang tidak hanya untuk mengurangi emisi karbon Amerika Serikat, tetapi juga, dan ini sangat khas pemikiran Friedman, untuk membangun kembali kapasitas manufaktur Amerika, menciptakan lapangan kerja hijau, dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok Tiongkok. Ini adalah Geo-Greenism dalam praktik: menggunakan transisi energi sebagai alat untuk mencapai tujuan strategis ganda, lingkungan dan geopolitik.
Namun, persaingan ini juga mengandung ironi yang mungkin tidak sepenuhnya diantisipasi oleh Friedman. Teorinya tentang Geo-Greenism dibangun di atas asumsi bahwa perlombaan energi bersih akan menjadi perlombaan yang “baik”, mendorong inovasi, menurunkan biaya, dan pada akhirnya menyelamatkan planet. Realitasnya, persaingan AS-Tiongkok dalam teknologi hijau semakin menyerupai perang dagang dan teknologi konvensional, lengkap dengan tarif, sanksi, pembatasan ekspor, dan retorika nasionalis. Amerika Serikat, misalnya, memberlakukan tarif tinggi pada panel surya Tiongkok dengan alasan anti-dumping, sementara Tiongkok membatasi ekspor mineral tanah jarang sebagai balasan. Alih-alih menciptakan arena persaingan yang sehat, Geo-Greenism kadang-kadang tampak seperti proteksionisme yang dibungkus dalam bahasa lingkungan (Zenglein & Holzmann, 2019, hlm. 12-18).
Friedman mungkin akan membela diri dengan mengatakan bahwa persaingan semacam ini, meskipun tidak ideal, tetaplah lebih baik daripada stagnasi. Dalam pandangannya, lebih baik memiliki “perlombaan bumi” yang kacau namun produktif daripada tidak ada perlombaan sama sekali. Namun kritik ini tetap penting: transisi energi global, jika dilakukan dalam semangat nasionalisme dan rivalitas geopolitik yang sempit, berisiko menciptakan fragmentasi, duplikasi, dan ketidakefisienan yang justru dapat memperlambat respons terhadap krisis iklim yang semakin mendesak.
Uni Eropa mungkin adalah contoh paling menarik tentang bagaimana ide-ide Friedman diadopsi dan diadaptasi oleh aktor geopolitik utama. Sejak awal abad ke-21, Eropa telah memposisikan diri sebagai pemimpin global dalam perang melawan perubahan iklim, dengan Sistem Perdagangan Emisi (EU ETS) sebagai instrumen kebijakan andalannya. Namun, baru dalam beberapa tahun terakhir Eropa mulai sepenuhnya merangkul logika Geo-Greenism, yaitu, menggunakan transisi energi tidak hanya untuk menyelamatkan planet, tetapi juga untuk memperkuat posisi geopolitiknya di dunia.
European Green Deal, yang diluncurkan oleh Komisi Eropa pada Desember 2019, adalah manifestasi paling ambisius dari ambisi ini. Green Deal menetapkan target untuk menjadikan Eropa sebagai “benua netral iklim pertama di dunia” pada tahun 2050, dan mencakup peta jalan komprehensif yang mencakup energi, transportasi, pertanian, industri, dan keuangan (Komisi Eropa, 2019, hlm. 9-15). Namun yang paling menarik dari perspektif geopolitik adalah dimensi eksternal Green Deal: Eropa secara eksplisit menyatakan keinginannya untuk menggunakan kekuatan regulasi dan pasarnya untuk mendorong mitra-mitra dagangnya menuju jalur yang lebih hijau, melalui mekanisme seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang akan mengenakan pajak karbon pada barang-barang impor yang tidak memenuhi standar lingkungan Eropa.
Ini adalah Geo-Greenism dalam skala kontinental. Seperti yang ditulis Friedman, energi bersih bukan hanya kebijakan lingkungan, ia adalah kebijakan luar negeri. CBAM, dalam pengertian ini, adalah instrumen geopolitik yang dirancang untuk melindungi industri Eropa dari “kebocoran karbon” sekaligus menekan negara-negara lain untuk mengadopsi standar lingkungan yang lebih ketat. Negara-negara berkembang, terutama yang ekonominya bergantung pada ekspor komoditas karbon-intensif, telah menyatakan keberatan keras, melihat CBAM sebagai bentuk imperialisme hijau yang akan merugikan prospek pembangunan mereka (Dröge & Schenuit, 2022, hlm. 7-11).
Perang Ukraina semakin memperkuat logika Geo-Greenism Eropa. Dalam menghadapi pemutusan pasokan gas Rusia, Eropa tidak mundur dari ambisi hijaunya; sebaliknya, ia melipatgandakan upayanya. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan dengan tegas bahwa “transisi hijau adalah jawaban jangka panjang terhadap pemerasan energi Rusia” (von der Leyen, 2022). Pernyataan ini bisa saja keluar langsung dari halaman-halaman Hot, Flat, and Crowded. Ini menunjukkan bahwa ide-ide Friedman, yang dulu mungkin dianggap sebagai utopianisme teknokratis, kini telah menjadi arus utama dalam pemikiran strategis Eropa.
Namun, Uni Eropa juga menghadapi tantangan yang menunjukkan batas-batas teori Friedman. Salah satunya adalah “paradoks transisi”: meskipun Eropa telah mengurangi emisi domestiknya secara signifikan, ia masih bertanggung jawab atas emisi yang cukup besar melalui konsumsi barang-barang impor yang diproduksi di tempat lain dengan standar lingkungan yang lebih longgar. Selain itu, ketergantungan pada mineral kritis untuk teknologi hijau menciptakan kerentanan baru: Tiongkok menguasai sebagian besar rantai pasok mineral ini, dan upaya Eropa untuk mendiversifikasi sumber pasokan, misalnya, dengan mengembangkan proyek-proyek pertambangan di Afrika atau Amerika Latin, seringkali menghadapi kritik karena dianggap sebagai neokolonialisme hijau (Melber, 2023, hlm. 342-348).
Kritik dan Keterbatasan
Setelah mengapresiasi kekuatan prediktif teori Friedman, penting untuk mengakui kritik dan keterbatasannya. Tidak ada teori yang sempurna, dan pemikiran Friedman memiliki sejumlah titik lemah yang perlu dicatat untuk memberikan evaluasi yang berimbang.Pertama, optimisme teknologis yang berlebihan. Friedman sangat percaya pada kekuatan inovasi untuk memecahkan masalah-masalah besar. Seperti yang ia tulis berulang kali, “kita tidak akan bisa meregulasi jalan keluar dari masalah-masalah Era Energi-Iklim. Kita hanya bisa berinovasi keluar darinya” (Friedman, 2008, hlm. 233). Pandangan ini telah dikritik oleh banyak ilmuwan dan analis kebijakan karena meremehkan pentingnya regulasi, perubahan perilaku, dan transformasi struktural dalam sistem energi. Seperti yang dicatat oleh pakar energi Vaclav Smil, transisi energi bukanlah sekadar soal menemukan teknologi baru; ia adalah proses kompleks yang melibatkan infrastruktur, institusi, dan kebiasaan yang telah mengakar selama puluhan tahun (Smil, 2017, hlm. 12-30).
Kedua, Amerikasentrisme. Sebagian besar argumen Friedman dalam Hot, Flat, and Crowded dibingkai dalam konteks kepentingan Amerika Serikat. Buku ini pada dasarnya adalah seruan kepada Amerika untuk memimpin revolusi hijau, bukan semata-mata demi planet, tetapi demi memulihkan kejayaan Amerika. Bagi pembaca di luar Amerika Serikat, terutama di negara-negara berkembang, narasi ini bisa terasa problematis.
Friedman mengakui adanya “kemiskinan energi” yang menimpa miliaran orang, tetapi solusi yang ia tawarkan seringkali berasumsi bahwa model pembangunan Amerika, dengan konsumsi energi yang tinggi dan ketergantungan pada mobil, adalah aspirasi universal (Friedman, 2008, hlm. 319-335). Kritikus dari perspektif keadilan iklim akan berargumen bahwa negara-negara kaya, yang secara historis bertanggung jawab atas sebagian besar emisi karbon, seharusnya tidak hanya memimpin dalam teknologi hijau, tetapi juga dalam mengurangi konsumsi dan mendukung transfer teknologi serta pendanaan kepada negara-negara miskin (Roberts & Parks, 2007, hlm. 145-167).
Ketiga, pengabaian dimensi politik dalam negeri. Friedman seringkali menulis seolah-olah yang dibutuhkan hanyalah kepemimpinan politik yang visioner dan kesadaran publik yang terbangun. Realitasnya, transisi energi di negara-negara demokratis sangat dipengaruhi oleh dinamika politik domestik: kepentingan industri bahan bakar fosil, polarisasi partisan, gerakan populis yang skeptis terhadap perubahan iklim, dan resistensi dari komunitas yang mata pencahariannya bergantung pada sektor karbon. Kegagalan Amerika Serikat untuk mengesahkan undang-undang iklim yang komprehensif selama lebih dari satu dekade setelah Hot, Flat, and Crowded terbit, dan akhirnya keberhasilan melalui Inflation Reduction Act setelah negosiasi politik yang sangat alot, menunjukkan bahwa jalan dari visi ke realisasi jauh lebih berliku daripada yang digambarkan Friedman.
Keempat, pengabaian terhadap risiko “permainan jumlah nol.” Teori Geo-Greenism mengasumsikan bahwa perlombaan energi bersih pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak karena akan mempercepat inovasi dan menurunkan biaya. Namun, logika persaingan geopolitik tidak selalu berjalan seperti itu. Dalam perlombaan ini, ada yang menang dan ada yang kalah. Negara-negara yang ekonominya bergantung pada ekspor bahan bakar fosil, seperti Arab Saudi, Rusia, Nigeria, atau Indonesia, akan menghadapi guncangan ekonomi yang parah jika transisi global berjalan terlalu cepat. Friedman mengakui masalah ini, tetapi tidak mendalaminya secara memadai. Ketidakstabilan di negara-negara produsen minyak yang “kalah” dalam transisi energi dapat menciptakan krisis kemanusiaan, konflik internal, dan efek limpahan geopolitik yang merugikan semua pihak (van de Graaf & Sovacool, 2020, hlm. 89-112).
Kesimpulan
Setelah menempuh perjalanan panjang melalui kerangka teoretis Thomas Friedman, mengujinya dengan realitas kontemporer, dan mengkritik keterbatasannya, sampailah kita pada pertanyaan akhir: Seberapa relevankah teori ini bagi pemahaman kita tentang dinamika politik internasional masa kini?Jawaban singkatnya: Relevan secara fundamental, tetapi tidak cukup memadai. Friedman, dengan bakatnya yang luar biasa sebagai jurnalis dan narator, telah menangkap dan mengartikulasikan sebuah kebenaran penting yang kini menjadi semakin nyata: bahwa transisi energi bersih bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan proyek geopolitik terbesar abad ke-21. Negara yang mampu memimpin revolusi ini akan mendefinisikan tatanan internasional beberapa dekade mendatang. Ini adalah wawasan yang telah diadopsi oleh para pembuat kebijakan di Washington, Brussels, Beijing, New Delhi, dan ibu kota-ibu kota lain di seluruh dunia.
Perang Rusia-Ukraina telah membuktikan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil adalah kerentanan strategis yang mematikan. Uni Eropa, dengan Green Deal dan responsnya terhadap krisis energi, telah menunjukkan bahwa logika Geo-Greenism bukan lagi sekadar teori, melainkan praktik kebijakan yang nyata. Rivalitas AS-Tiongkok dalam panel surya, baterai, dan kendaraan listrik adalah bukti bahwa “Earth Race” yang diimpikan Friedman benar-benar sedang terjadi, meskipun lebih kacau dan proteksionis daripada yang ia bayangkan.
Namun, teori Friedman tidak cukup untuk memahami seluruh kompleksitas transisi energi global. Ia terlalu optimis tentang kecepatan dan kemudahan inovasi teknologi. Ia terlalu Amerikasentris dan kadang-kadang mengabaikan dimensi keadilan global. Ia meremehkan betapa sulitnya politik domestik dalam mendorong perubahan sistemik. Dan ia tidak sepenuhnya menghargai risiko bahwa persaingan geopolitik yang ia dorong dapat berubah menjadi konflik jumlah nol yang justru menghambat kerja sama global yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis iklim.
Meskipun demikian, esensi visi Friedman tetap bertahan: Di era di mana planet kita semakin panas, rata, dan padat, energi bersih adalah medan pertempuran baru geopolitik. Siapa pun yang ingin memahami peta kekuasaan dunia abad ke-21, dan siapa pun yang ingin membantu membentuknya, harus terlebih dahulu memahami hubungan mendalam antara globalisasi, pemanasan global, dan persaingan antarwilayah yang telah dijelaskan oleh Thomas Friedman dengan begitu brilian. Teorinya bukanlah peta yang sempurna, tetapi ia adalah kompas yang sangat berguna untuk menavigasi dunia yang semakin panas dan semakin datar ini.
Referensi
Bordoff, J., & O'Sullivan, M. L. (2022). The new energy order: How the energy war is reshaping geopolitics. Foreign Affairs, 101(4), 98–115.Dröge, S., & Schenuit, F. (2022). The EU's carbon border adjustment mechanism: A piece in the climate policy puzzle. SWP Comment, 2022/C 42, 1–8. https://doi.org/10.18449/2022C42
European Commission. (2019). The European Green Deal (COM(2019) 640 final). Brussels: European Commission.
European Commission. (2022). REPowerEU Plan (COM(2022) 230 final). Brussels: European Commission.
Friedman, T. L. (2005). The world is flat: A brief history of the twenty-first century. Farrar, Straus and Giroux.
Friedman, T. L. (2008). Hot, flat, and crowded: Why we need a green revolution, and how it can renew America. Farrar, Straus and Giroux.
Friedman, T. L. (2009, December 20). Let the Earth Race begin. The New York Times, hlm. WK12.
International Energy Agency. (2024). World energy outlook 2024. Paris: IEA Publications.
Melber, H. (2023). Green extractivism and neocolonial resource politics. Review of African Political Economy, 50(177), 341–358. https://doi.org/10.1080/03056244.2023.2256789
Mirsky, S. (2008, October 1). Going green to save the economy: A Q&A with Thomas L. Friedman. Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/going-green-to-save-the-economy/
Roberts, J. T., & Parks, B. C. (2007). A climate of injustice: Global inequality, North-South politics, and climate policy. MIT Press.
Smil, V. (2017). Energy and civilization: A history. MIT Press.
van de Graaf, T., & Sovacool, B. K. (2020). Global energy politics. Polity Press.
von der Leyen, U. (2022, September 14). State of the European Union address. Brussels: European Parliament.
White House. (2022). Inflation Reduction Act guidebook. https://www.whitehouse.gov/cleanenergy/inflation-reduction-act-guidebook/
Zenglein, M. J., & Holzmann, A. (2019). Evolving made in China 2025: China's industrial policy in the quest for global tech leadership. Mercator Institute for China Studies (MERICS) Papers on China, 8, 1–47.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.