Ad Code

Menjadi Indonesia adalah Proses Tak Kunjung Selesai

Menjadi Indonesia adalah Proses Tak Kunjung Selesai Esai ini menelusuri proses panjang pembentukan masyarakat Indonesia melalui tiga lensa analitis yang saling berkelindan: geografis-ekologis, sosiologis-politis, dan ideologis-diskursif.

Dengan mendialogkan perspektif para ilmuwan dari berbagai tradisi keilmuan—Barat, Muslim, dan Asia Timur—esai ini berargumen bahwa Indonesia adalah hasil dari akumulasi historis yang kompleks, bukan sekadar "komunitas terbayang" yang lahir dari imajinasi elitis. Lebih dari itu, identitas keindonesiaan terus dinegosiasikan dalam ketegangan antara warisan kolonial, kemajemukan asali, dan tantangan kontemporer.


Mendefinisikan Ulang "Masyarakat Indonesia"


Apa yang membuat lebih dari 280 juta jiwa yang tersebar di sekitar 17.000 pulau, berbicara dalam lebih dari 700 bahasa daerah, dan menganut beragam sistem kepercayaan, merasa sebagai satu "masyarakat Indonesia"? Jawabannya tidak sesederhana menunjuk pada bendera Merah Putih atau teks Proklamasi 1945. Masyarakat Indonesia adalah entitas historis yang terus "menjadi" (becoming), bukan entitas esensialis yang sudah "selesai" (being).


Esai ilmiah populer menelusuri genealogi masyarakat Indonesia: dari migrasi purba, kolonialisme, hingga imajinasi kebangsaan.


Michael Kimmel dan Amy Aronson (2010) mendefinisikan masyarakat sebagai kumpulan individu dan lembaga yang terorganisir, hidup dalam satu wilayah geografis, tunduk pada satu otoritas politik, dan diikat oleh nilai-nilai serta cita-cita bersama. Indonesia jelas memenuhi keempat kriteria ini secara formal. Namun, seperti yang akan diperlihatkan esai ini, kriteria tersebut hanyalah lapisan permukaan dari sebuah realitas yang jauh lebih kompleks dan penuh kontradiksi.

Untuk memahami kedalaman masyarakat Indonesia, kita perlu melacak tiga lapisan pembentuknya. Pertama, lapisan geografis-ekologis yang membentuk pola migrasi, perdagangan, dan interaksi antarbudaya selama ribuan tahun. Kedua, lapisan sosiologis-politis yang diwariskan oleh kolonialisme dan direspons oleh pergerakan nasional. Ketiga, lapisan ideologis-diskursif yang terus-menerus mendefinisikan ulang apa artinya menjadi "Indonesia" hingga hari ini.


Lapisan Geografis-Ekologis


Bicara tentang lapisan geografis-ekologis maka kita bicara seputar migrasi di kawasan Austronesia hingga jaringan maritim nusantara. Sebelum "Indonesia" hadir sebagai konsep politik, kepulauan Nusantara telah menjadi panggung bagi salah satu migrasi manusia terbesar dalam sejarah. Arkeolog Australia Peter Bellwood (1997) melalui "Teori Keluar dari Taiwan" (Out of Taiwan) menunjukkan bahwa sekitar 5.000 tahun lalu, penutur bahasa Austronesia bermigrasi dari Taiwan ke selatan, membawa serta teknologi perahu bercadik, kemampuan bercocok tanam padi, dan struktur sosial yang kompleks (CNN Indonesia, 2017).
 
Mereka tidak datang ke ruang kosong, melainkan berinteraksi dengan populasi Austro-Melanosoid yang telah lebih dulu menghuni kawasan ini sejak zaman es, seperti yang didokumentasikan secara rinci oleh Koentjaraningrat (2007).

Penting untuk dicatat bahwa narasi migrasi ini bukan sekadar kisah perpindahan fisik. Ia adalah fondasi bagi terbentuknya kemajemukan etnis dan budaya yang menjadi ciri khas Indonesia. Bahasa-bahasa Austronesia yang dituturkan dari Madagaskar hingga Pulau Paskah adalah bukti adanya kesinambungan budaya yang melintasi batas-batas geografis modern.

Namun, kemajemukan ini tidak statis. Sejarawan Australia Anthony Reid (1988) dalam magnum opus-nya, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, melukiskan periode yang ia sebut sebagai "Abad Perdagangan". Selama lebih dari dua abad, kota-kota pelabuhan di Nusantara—dari Aceh hingga Maluku—menjadi simpul-simpul vital dalam jaringan perdagangan global yang menghubungkan Timur Tengah, India, Tiongkok, dan Eropa. Rempah-rempah, terutama cengkeh dan pala, menarik para pedagang dari berbagai penjuru dunia, menjadikan Nusantara sebagai melting pot kosmopolitan jauh sebelum istilah itu populer seperti sekarang.

Sejarawan Prancis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya (2005) melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bahwa jaringan maritim ini menciptakan "peradaban pesisir" (civilisation de la côte) yang khas. Lombard mencatat bahwa orang-orang yang disebut sumber Tiongkok kuno sebagai "Kunlun" adalah para pelaut ulung Nusantara yang menguasai teknologi perkapalan canggih pada zamannya. Mereka bukanlah bangsa yang terisolasi, melainkan aktor aktif dalam sejarah maritim Asia. Wang Gungwu (1958), sejarawan terkemuka Singapura, dalam studinya tentang perdagangan Nanhai, menegaskan bahwa Laut Tiongkok Selatan adalah "laut Mediterania Asia" yang menghubungkan, bukan memisahkan, berbagai peradaban.

Dengan demikian, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, Nusantara telah memiliki infrastruktur maritim, jaringan ekonomi, dan ruang imajinasi geografis yang melampaui batas-batas kesukuan dan kerajaan lokal. Ini adalah fondasi material dan kultural yang kelak menjadi pijakan bagi gagasan "Indonesia".


Lapisan Sosiologis-Politis


Jika kita bicara mengenai lapisan sosiologis-politis maka kita bicara mengenai persoalan kolonialisme, masyarakat majemuk, dan involusi demografi. Kedatangan bangsa Eropa, terutama Belanda melalui VOC dan kemudian pemerintah kolonial Hindia Belanda, secara fundamental mengubah lanskap sosial-politik Nusantara. Jika sebelumnya masyarakat lokal terintegrasi secara organik melalui jaringan perdagangan, kolonialisme menciptakan struktur baru yang bersifat hierarkis dan segregatif.

Konsep paling berpengaruh untuk memahami fenomena ini datang dari John S. Furnivall, seorang administrator kolonial Inggris yang kemudian menjadi akademisi. Dalam Netherlands India: A Study of Plural Economy (1939), Furnivall mendefinisikan Hindia Belanda sebagai "masyarakat majemuk" (plural society)—suatu masyarakat di mana berbagai kelompok etnis dan ras hidup berdampingan tetapi hanya bertemu di pasar, tanpa adanya kehendak sosial bersama (common social will). Furnivall (dalam Nasikun, 2007) menggambarkan masyarakat majemuk sebagai kumpulan elemen-elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa pembauran satu sama lain dalam sebuah kesatuan politik.

Kritik terhadap konsep Furnivall kemudian bermunculan. Antropolog Maurice Freedman, seperti dikutip dalam Barnard dan Spencer (2002), berargumen bahwa kategori-kategori etnis yang tampak "alamiah" dalam masyarakat majemuk sebenarnya adalah konstruksi mental yang diinstitusikan oleh kekuasaan kolonial. Dengan kata lain, kolonialisme tidak sekadar mengelola kemajemukan, tetapi juga memproduksi dan memperkuatnya untuk kepentingan kontrol politik—sebuah praktik yang dikenal sebagai divide et impera.

Pada tataran hukum, pluralisme yang diwariskan kolonialisme juga sangat kentara. Ahli hukum M.B. Hooker (1975) menunjukkan bagaimana pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem hukum yang berbeda untuk tiga golongan penduduk: Eropa, Timur Asing (terutama Tionghoa dan Arab), dan Bumiputera. Masing-masing golongan tunduk pada hukum yang berbeda—hukum Eropa, hukum adat yang ditafsirkan ulang secara kolonial, dan hukum Islam untuk aspek-aspek tertentu. Warisan pluralisme hukum ini, seperti yang terlihat dalam studi kasus di berbagai daerah di Indonesia (lihat abstrak UI, t.t.), terus membayangi sistem hukum nasional hingga hari ini.

Di ranah ekonomi-ekologis, antropolog Amerika Clifford Geertz (1963) mengajukan tesis kontroversial tentang "involusi pertanian" (agricultural involution). Geertz berargumen bahwa sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan Belanda di Jawa menciptakan proses involusi: Peningkatan kompleksitas sosial tanpa disertai perubahan teknologi atau politik yang berarti. Petani Jawa, alih-alih melakukan modernisasi pertanian, justru terjebak dalam "kemiskinan bersama" (shared poverty) dengan cara membagi lahan yang semakin sempit kepada lebih banyak tenaga kerja (termasuk anak-keturunan mereka), sehingga menciptakan kemandekan struktural.

Tesis Geertz menuai banyak kritik. Artikel dalam Journal of Historical Sociology (1988) secara komprehensif menolak konsep involusi dengan menunjukkan bahwa data historis justru memperlihatkan adanya dinamika dan perubahan yang signifikan dalam ekonomi pedesaan Jawa. Kritik lain menyebut analisis Geertz sebagai "travesty" terhadap sejarah ekonomi Jawa (Amsterdam University Repository, t.t.). Lepas dari perdebatan ini, yang jelas adalah bahwa kolonialisme tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi juga secara fundamental membentuk struktur sosial-ekonomi yang dampaknya terasa hingga era pascakemerdekaan.


Lapisan Ideologis-Diskursif


Juga, apabila kita bicara soal lapisan ideologis-diskursif, maka artinya kita harus bicara seputar Indonesia “Imajiner” yang harus dikritisi. Pada lapisan ketiga inilah gagasan "Indonesia" sebagai sebuah bangsa mulai dikonstruksi secara sadar. R.E. Elson (2008) mendokumentasikan bagaimana istilah "Indonesia" pertama kali muncul dari pena para sarjana Eropa pada pertengahan abad ke-19, sebelum kemudian diadopsi dan diberi makna politis oleh para pergerakan nasional pada awal abad ke-20.

Teori yang paling berpengaruh dalam memahami proses ini adalah konsep "komunitas terbayang" (imagined communities) dari Benedict Anderson (1983). Anderson, seorang ilmuwan politik Amerika Serikat kelahiran Tiongkok yang menghabiskan masa mudanya di Indonesia, berargumen bahwa bangsa adalah komunitas politik yang terbayang—terbayang karena para anggotanya tidak akan pernah mengenal sebagian besar anggota lainnya, namun di benak mereka hidup sebuah gambaran tentang kebersamaan. Anderson menekankan peran "kapitalisme cetak" (print-capitalism) dalam menyebarkan kesadaran nasional ini: Surat kabar dan novel dalam bahasa Melayu pasar menciptakan ruang imajinasi bersama bagi para pembaca dari Sabang hingga Merauke.

Pemikiran Anderson sangat berpengaruh, tetapi tidak lepas dari kritik tajam. Partha Chatterjee (1993), seorang teoretikus poskolonial dari India, dalam The Nation and Its Fragments mengajukan pertanyaan provokatif: "Whose imagined community?" (Komunitas terbayang milik siapa?). Chatterjee berargumen bahwa nasionalisme di Asia dan Afrika tidak sekadar meniru model Barat, melainkan memiliki dimensi "spiritual" yang khas—sebuah ruang otonom di mana bangsa yang terjajah dapat menegaskan identitasnya di luar jangkauan kekuasaan kolonial. Di Indonesia, dimensi spiritual ini terwujud dalam sinergi antara nasionalisme dan agama, terutama Islam.

Kritik yang lebih radikal datang dari sarjana Tiongkok, Liang Zhan dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok. Dalam serangkaian kuliah dan publikasi (2020, 2022), Liang berargumen bahwa teori Anderson, yang terinspirasi oleh pengalaman nasionalisme di Amerika Latin, gagal menangkap kompleksitas dan kontradiksi internal nasionalisme Indonesia.
 
Liang menunjukkan bahwa Anderson cenderung mengabaikan "kekerasan, konflik agama, budaya, dan rasial yang intens" yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia (Liang, 2022, para. 4). Lebih lanjut, Liang menuduh bahwa di balik retorika "komunitas terbayang", tersembunyi sebuah proyek "imperialisme liberal" yang berupaya memaksakan model universal tentang negara-bangsa, dengan mengabaikan "karakteristik lokal yang diciptakan secara spontan" oleh gerakan kemerdekaan Indonesia (Liang, 2022, para. 5).

Terlepas dari perdebatan teoretis ini, yang tak terbantahkan adalah bahwa gerakan nasionalisme Indonesia memiliki akar yang beragam dan bersifat transnasional. Sejarawan Jepang Takashi Shiraishi (1990) dalam An Age in Motion mendokumentasikan bagaimana pergerakan rakyat di Surakarta pada 1912-1926 mengekspresikan diri melalui berbagai medium: Surat kabar, karya sastra, lagu, rapat umum, dan serikat buruh. Sementara itu, Azyumardi Azra (1994), sejarawan Muslim Indonesia, menunjukkan peran penting "jaringan ulama" yang menghubungkan Haramain (Mekah dan Madinah) dengan Nusantara sejak abad ke-17. Jaringan ini, menurut Azra, tidak hanya mentransmisikan ajaran Islam, tetapi juga gagasan-gagasan pembaruan dan kesadaran anti-kolonial.

Kairo, Mesir, menjadi episentrum penting lainnya. Laporan konsulat Belanda di Mesir pada 1920-an mencatat bahwa sekitar 150 mahasiswa Nusantara belajar di Universitas Al-Azhar (Republika, 2017). Mereka mendirikan organisasi seperti Jamiah Setia Pelajar (1912) dan menerbitkan jurnal berbahasa Melayu yang menyebarkan gagasan nasionalisme. Menurut laporan tersebut, pada perayaan Idul Fitri 1929, para mahasiswa Indonesia di Kairo menyanyikan lagu "Indonesia Raya" dan menerjemahkan teksnya ke dalam bahasa Arab—sebuah tindakan simbolik yang menunjukkan bahwa imajinasi keindonesiaan telah melampaui batas-batas teritorial Hindia Belanda.

Puncak dari proses panjang ini adalah Soempah Pemoeda 1928, di mana para pemuda dari berbagai latar belakang etnis dan kedaerahan mendeklarasikan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Inilah momen ketika "Indonesia" yang dibayangkan secara abstrak mulai mengambil bentuk konkret sebagai proyek politik bersama.


Nasionalisme sebagai "Proyek Bersama"


Perjalanan Indonesia tidak berhenti pada Proklamasi 1945. Seperti yang diingatkan oleh sebuah artikel dalam DOAJ (2024), nasionalisme Indonesia adalah "proyek bersama" (joint project) yang terus-menerus harus direfleksikan dan diredefinisi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Artikel tersebut menyoroti fenomena "penyempitan makna" dan "fosilisasi narasi" nasionalisme yang justru dapat memicu konflik komunal, seperti yang terjadi pasca-Reformasi 1998.

Indonesia kontemporer menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks dibandingkan era kolonial. Globalisasi, digitalisasi, dan kebangkitan politik identitas menguji ketahanan ikatan kebangsaan. Di satu sisi, teknologi informasi menciptakan ruang imajinasi baru yang lebih inklusif dan demokratis. Di sisi lain, ia juga membuka peluang bagi fragmentasi sosial dan penyebaran narasi-narasi eksklusif berbasis agama, etnis, atau ideologi politik.


Penutup


Esai ini telah menunjukkan bahwa "masyarakat Indonesia" bukanlah entitas yang lahir secara spontan atau sekadar hasil dari imajinasi elitis. Ia adalah produk dari akumulasi historis yang kompleks, melibatkan tiga lapisan yang saling berkelindan: Geografis-ekologis (migrasi Austronesia, jaringan maritim, dan interaksi antarbudaya), sosiologis-politis (kolonialisme, masyarakat majemuk, dan involusi), serta ideologis-diskursif (nasionalisme, kritik poskolonial, dan negosiasi identitas).

Dari perspektif ini, Indonesia dapat dipahami sebagai sebuah proses, bukan produk jadi. Ia adalah ruang negosiasi yang terus-menerus antara warisan masa lalu yang berlapis-lapis dan tantangan masa depan yang tak terduga. Kemajemukan yang oleh Furnivall dianggap sebagai sumber disintegrasi, justru oleh para pendiri bangsa diolah menjadi fondasi bagi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Involusi yang digambarkan Geertz sebagai kemandekan, dijawab oleh generasi berikutnya dengan modernisasi dan industrialisasi. Kritik Chatterjee dan Liang terhadap universalisme Anderson mengingatkan kita bahwa keindonesiaan memiliki jalurnya sendiri yang khas, yang tidak dapat direduksi ke dalam model Barat maupun Timur.

Akhirnya, menjadi Indonesia adalah sebuah panggilan untuk terus-menerus merawat dan memperbarui "proyek bersama" ini. Seperti yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, "Sejarah adalah guru kehidupan." Dari sejarah panjang yang telah diurai, kita belajar bahwa identitas keindonesiaan bukanlah sesuatu yang given, melainkan sesuatu yang harus terus diperjuangkan, dinegosiasikan, dan dirayakan. Dalam pengakuan akan kompleksitas dan kontradiksi itulah justru terletak kekuatan dan keindahan masyarakat Indonesia.


Daftar Pustaka


Anderson, B. (1983). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism. Verso.

Azra, A. (1994). Jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII: Akar pembaruan Islam Indonesia. Mizan.

Barnard, A., & Spencer, J. (Eds.). (2002). Encyclopedia of social and cultural anthropology. Routledge.

Bellwood, P. (1997). Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago (Rev. ed.). University of Hawai'i Press.

Chatterjee, P. (1993). The nation and its fragments: Colonial and postcolonial histories. Princeton University Press.

CNN Indonesia. (2017, Oktober 25). Budaya Austronesia di Papua. https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20171024125028-445-250595/budaya-austronesia-di-papua

Elson, R. E. (2008). The idea of Indonesia: Sejarah pemikiran dan gagasan. Serambi.

Furnivall, J. S. (1939). Netherlands India: A study of plural economy. Cambridge University Press.

Geertz, C. (1963). Agricultural involution: The process of ecological change in Indonesia. University of California Press.

Hooker, M. B. (1975). Legal pluralism: An introduction to colonial and neo-colonial laws. Clarendon Press.

Kimmel, M., & Aronson, A. (2010). Sociology now. Pearson Higher Education.

Koentjaraningrat. (2007). Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Djambatan.

Liang, Z. (2020, December 28). Lecture summary: Professor Liang Zhan's lecture. School of International Studies, Zhengzhou University. https://www5.zzu.edu.cn

-----, Z. (2022, January 3). Benedict Anderson's nationalism and liberal imperialism [Lecture]. School of Translation Studies, Shandong University. https://xinwen.wh.sdu.edu.cn/info/1003/34583.htm

Lombard, D. (2005). Nusa Jawa: Silang budaya (3 jilid). Gramedia Pustaka Utama.

Nasikun. (2007). Sistem sosial Indonesia. PT RajaGrafindo Persada.

Redefine our nationalism? Critical reflection on Indonesian nationalism as a "joint project": Case study of post-1998 racial communal conflict. (2024). DOAJ. https://doaj.org/article/bb02006465954b3881327261eeecc312

Reid, A. (1988). Southeast Asia in the age of commerce 1450-1680: Volume one, The lands below the winds. Yale University Press.

Republika. (2017, November 9). Jaringan Indonesia-Mesir (5). https://analisis.republika.co.id

Shiraishi, T. (1990). An age in motion: Popular radicalism in Java, 1912–1926. Cornell University Press.

Wang, G. (1958). The Nanhai trade: A study of the early history of Chinese trade in the South China Sea. Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 31(2), 1-135.

Posting Komentar

0 Komentar