Ad Code

ASEM di Persimpangan, Sebuah Satir Politik Negara Mahjong

ASEM di Persimpangan, Sebuah Satir Politik Negara Mahjong

Satir ini mengisahkan seorang presiden yang ingin mengembangkan mobil nasional, bekerja sama dengan ilmuwan dalam negeri, mengalami jegalan dari komprador asing di kementerian dan legislatif.


PROLOG: MIMPI SEORANG PRESIDEN

Di sebuah negeri berbentuk republik bernama Mahjong, hiduplah seorang presiden yang memiliki mimpi begitu besar hingga hampir menyamai ukuran peci yang selalu bertengger di kepalanya. Presiden Togog, demikian rakyat menyapanya dengan campuran hormat dan keakraban, adalah sosok yang percaya bahwa sebuah bangsa harus bisa membuat mobil sendiri. Bukan sekadar merakit, bukan sekadar mengganti emblem, tetapi benar-benar mencipta dari nol: dari baut mungil yang menyatukan dashboard hingga karoseri yang melengkung anggun diterpa angin jalan raya.

Mimpi itu bernama ASEM.

"Nama yang jujur," kata Presiden Togog pada suatu sore di beranda istana, menyeruput kopi tubruk sambil memandangi sketsa mobil yang baru saja dikirim oleh tim pakar. "ASEM itu rasa yang pas untuk menggambarkan perjuangan. Ada manis, ada asam, ada getir. Tapi ujung-ujungnya bikin seger."

Para penasihatnya mengangguk-angguk, meskipun beberapa di antaranya bertanya-tanya dalam hati: sejak kapan rasa seger menjadi filosofi industri otomotif?

Tapi itulah Presiden Togog. Pria berusia lima puluh delapan tahun itu memiliki cara berpikir yang kadang sulit diikuti oleh logika konvensional, namun selalu berhasil memukau rakyat jelata. Ketika para pemimpin dunia sibuk berpidato tentang revolusi industri 4.0 dengan bahasa yang rumit, Presiden Togog cukup berkata, "Kita bikin mobil sendiri. Murah. Muat banyak orang. Nggak bikin polusi. Siapa yang nggak mau?"

Rakyat Mahjong, yang selama ini hanya bisa bermimpi memiliki mobil dengan harga terjangkau, menyambutnya dengan gegap gempita. Tagar ASEMUntukRakyat trending selama berminggu-minggu di media sosial. Kaos bergambar sketsa ASEM laku keras. Bahkan muncul grup musik indie yang menciptakan lagu berjudul "ASEM Cintaku" yang liriknya aneh tapi menghibur: "Asam di hati, manis di jalan, kau dan aku dalam ASEM bertahan..."

Presiden Togog mendengarkan lagu itu di ponselnya dan terkekeh. "Kreatif sekali rakyatku," gumamnya. "Mereka sudah mendukung sebelum mobilnya jadi. Ini namanya cinta buta yang produktif."

Namun, di balik semua euforia itu, ada sesuatu yang bergejolak di sudut-sudut kekuasaan. Sesuatu yang berbau tidak sedap, seperti oli bekas yang dibiarkan menggenang terlalu lama.


BAGIAN 1: LIMA KEPALA, SATU MIMPI

Untuk mewujudkan ASEM, Presiden Togog tidak main-main. Ia mengumpulkan para pakar otomotif dari lima universitas negeri terkemuka di Mahjong: Universitas Mahapawitra, Institut Teknologi Waspaada, Universitas Negeri Suraloka, Politeknik Agung Jayabaya, dan Sekolah Tinggi Teknik Mandalagiri.

Kelima profesor itu dipanggil ke istana pada suatu pagi yang cerah. Burung-burung berkicau di taman istana, seolah ikut menyambut BAGIANak baru sejarah otomotif Mahjong. Presiden Togog menyambut mereka di ruang rapat utama dengan suguhan pisang goreng dan teh manis hangat.

"Bapak-bapak dan Ibu sekalian," Presiden Togog membuka pertemuan dengan gaya khasnya yang setengah formal setengah lesehan. "Saya tidak butuh pidato panjang. Saya butuh mobil. Murah. Bagus. Bahan bakarnya dari sawit campur etanol. Bisa angkut tujuh orang. Harga cuma lima puluh juta rupiah per unit. Bisa?"

Profesor Suryakanta dari Universitas Mahapawitra, seorang pria berkacamata tebal dengan rambut yang selalu berdiri seperti baru tersengat listrik, mengangkat tangan. "Bisa, Bapak Presiden. Tapi..."

"Tidak ada tapi," potong Presiden Togog sambil tersenyum. "Kata 'tapi' itu hanya untuk celana yang kekecilan. Kita bicara mobil, bukan celana."

Ruang rapat bergemuruh dengan tawa kecil.

Profesor Wening dari Institut Teknologi Waspaada, satu-satunya perempuan dalam tim pakar, menimpali dengan serius. "Bapak Presiden, kami sudah melakukan studi pendahuluan. Untuk mencapai harga lima puluh juta dengan spesifikasi yang Bapak minta, kami harus membangun sendiri seluruh rantai pasok. Dari pabrik baut, pabrik kaca, pabrik ban, hingga pabrik karoseri. Tidak bisa setengah-setengah."

"Nah, itu yang saya suka!" seru Presiden Togog antusias. "Totalitas. Seperti cinta monyet. Seluruhnya, tidak setengah-setengah. Kalian mau bangun berapa pabrik?"

Profesor Gathotkoco dari Universitas Negeri Suraloka, yang terkenal dengan kemampuan kalkulasi kilatnya, membuka laptop dan menunjukkan proyeksi. "Minimal sepuluh pabrik sentra produksi, Bapak Presiden. Masing-masing menangani komponen berbeda. Ini akan menyerap sekitar seratus ribu tenaga kerja langsung, belum termasuk industri pendukung."

"Seratus ribu?" Mata Presiden Togog berbinar. "Itu baru sepuluh pabrik. Bayangkan kalau kita bangun lima puluh!"

Tim pakar saling berpandangan. Profesor Daniswara dari Politeknik Agung Jayabaya memberanikan diri bertanya, "Bapak Presiden berniat membangun lima puluh pabrik?"

"Tentu saja! Ini baru tahap awal. Kalau ASEM sukses, kita ekspansi. Saya ingin setiap kabupaten di Mahjong punya setidaknya satu pabrik komponen ASEM. Anak-anak muda lulusan SMK tidak perlu lagi menganggur. Mereka tinggal pilih: mau kerja di pabrik baut, pabrik kaca, atau pabrik jok. Pekerjaan mulia semuanya."

Profesor Wardaya dari Sekolah Tinggi Teknik Mandalagiri, yang paling senior di antara mereka, menepuk meja pelan. "Bapak Presiden, ini visi yang luar biasa. Tapi, eh, maaf, bukan tapi, kami perlu kepastian pendanaan dan perlindungan kebijakan. Proyek sebesar ini pasti akan mengundang... eh... perhatian dari berbagai pihak."

Presiden Togog mengerti maksudnya. Ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung baju, lalu memasangnya kembali dengan gerakan dramatis. "Profesor Wardaya, saya paham. Di negeri ini, niat baik sering kali harus berperang melawan niat yang lain-lain. Tapi selama saya masih jadi presiden, ASEM akan saya kawal seperti harimau mengawal anaknya. Siapa yang coba-coba mengganggu, akan saya... eh... sapa dengan ramah dulu, baru kalau bandel kita pikirkan cara lain."

Para profesor tertawa lagi. Tapi di balik tawa itu, mereka tahu bahwa perjuangan baru saja dimulai.

Pendanaan untuk proyek ASEM dialokasikan langsung dari APBN Mahjong. Jumlahnya fantastis: setara dengan pembangunan dua bendungan raksasa atau satu kota baru. Ketika berita ini sampai ke publik, reaksinya campur aduk. Ada yang bersorak, ada yang sinis, dan ada yang berkomentar netral sambil menikmati gorengan di warung kopi.

"Presiden kita sudah gila," kata seorang pengamat ekonomi di acara bincang-bincang televisi pagi. "Membangun industri mobil dari nol di era globalisasi? Ini sama saja dengan mencoba menjual pasir di Gurun Sahara. Negara-negara tetangga kita sudah puluhan tahun lebih maju dalam hal otomotif."

Tapi sang pembawa acara, yang dikenal pro-pemerintah, segera memotong. "Tapi, Pak Pengamat, bukankah setiap negara maju pernah memulai dari nol? Jepang dulu juga pernah jadi bahan tertawaan karena mobilnya jelek. Sekarang siapa yang tertawa?"

"Ya, tapi Jepang memulainya lima puluh tahun yang lalu. Kita sekarang hidup di era yang berbeda. Persaingan sudah sangat ketat. Belum lagi soal standar emisi, standar keselamatan, standar kenyamanan. Rakyat kita sudah terbiasa dengan mobil-mobil impor yang canggih. Masa mereka mau beli mobil buatan dalam negeri yang belum teruji?"

Presiden Togog yang menonton acara itu dari istana hanya tersenyum tipis. Ia mematikan televisi, lalu menyalakan radio lawasnya yang hanya menangkap siaran lokal. Kebetulan yang mengudara adalah lagu dangdut koplo dengan lirik sederhana: "Ora ono sing ra iso, yen wis wayahe..." (Tidak ada yang tidak bisa, kalau sudah waktunya).

"Nah, itu lebih menghibur," gumamnya.


BAGIAN 2: BISIKAN DARI SEBERANG

Sementara Presiden Togog dan tim pakarnya sibuk merancang cetak biru ASEM, di belahan lain ibu kota, terjadi pertemuan-pertemuan yang jauh lebih senyap namun sama sibuknya. Di ruang-ruang rapat hotel berbintang lima, di restoran-restoran mewah dengan pencahayaan remang-remang, dan kadang-kadang di ruang kerja para menteri yang katanya "tertutup untuk umum", berlangsung negosiasi yang intens.

Negara tetangga Mahjong, Pancawati, Magada, dan Astina, sudah lama menjadi pemain utama industri otomotif di kawasan. Mobil-mobil buatan mereka memenuhi jalan-jalan di Mahjong. Dari sedan mungil yang lincah di gang-gang sempit hingga SUV gagah yang membuat pemiliknya merasa seperti penakluk aspal. Kehadiran ASEM adalah ancaman serius bagi dominasi mereka.

"Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi," kata Monsieur Pierre, seorang pelobi senior dari Pancawati, dalam pertemuan tertutup dengan beberapa anggota legislatif Mahjong. Monsieur Pierre adalah pria berkebangsaan ganda yang sudah dua puluh tahun bolak-balik antara Pancawati dan Mahjong. Ia berbicara dalam bahasa Mahjong yang fasih, dengan sedikit aksen yang justru membuatnya terdengar eksotis.

"Saya menghormati semangat nasionalisme Bapak Presiden Togog," lanjutnya sambil menyeruput anggur merah yang harganya setara dengan gaji satu bulan buruh pabrik. "Tapi nasionalisme tidak bisa dimakan. Ekonomi itu soal efisiensi, soal skala, soal keahlian yang sudah dibangun puluhan tahun. Negara kami sudah memproduksi mobil sejak kakeknya Bapak Presiden Togog masih belajar berjalan. Apakah masuk akal tiba-tiba Mahjong ingin membuat mobil sendiri?"

Anggota Dewan Aryaseta, dari Partai Garda Perubahan, mengangguk-angguk. "Tapi Pak Pierre, Presiden Togog sangat populis. Rakyat mendukungnya. Kami di parlemen tidak bisa terang-terangan menentang proyek ini. Bisa-bisa kami di-cap tidak nasionalis."

"Justru itu," Monsieur Pierre tersenyum licik. "Anda tidak perlu menentang. Anda cukup... mempertanyakan. Transparansi anggaran, dampak lingkungan, standar keselamatan, kelayakan teknis. Di parlemen, pertanyaan sering kali lebih tajam daripada peluru."

Pertemuan serupa terjadi di tempat lain. Dari Magada, hadir Mr. Takeshi Watanabe, seorang eksekutif ramah yang selalu membawa oleh-oleh unik untuk siapa pun yang ditemuinya. Dari Astina, datang Mrs. Priya Narayan, perempuan cerdas yang mampu mengubah data statistik menjadi senjata mematikan dalam debat.

Ketiganya tidak saling kenal, atau setidaknya berpura-pura tidak saling kenal. Mereka mewakili perusahaan yang berbeda, dari negara yang berbeda, dengan kepentingan yang berbeda. Tapi ada satu benang merah yang menyatukan mereka: ASEM harus dihentikan, atau setidaknya diperlambat hingga kehilangan momentum.

Dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menggunakan sistem politik Mahjong sendiri.

"Fee sepuluh persen," bisik seorang menteri kepada rekannya di koridor gedung parlemen.

Itu adalah angka ajaib. Sepuluh persen dari setiap unit mobil impor yang dijual dengan harga lima puluh juta rupiah berarti lima juta rupiah per unit. Jika target penjualan adalah dua ratus ribu unit per tahun, angka yang sangat realistis untuk pasar Mahjong, maka total fee yang beredar adalah satu triliun rupiah per tahun. Itu baru dari satu importir. Bagaimana dengan tiga negara sekaligus?

Angka itu menyebar seperti aroma masakan yang menggugah selera. Dari mulut ke mulut, dari ruang rapat ke ruang rapat, dari partai ke partai. Para menteri yang berasal dari berbagai partai politik mulai menghitung-hitung: berapa bagian yang akan mereka dapat? Berapa yang harus disetor ke pimpinan partai? Berapa yang bisa disimpan untuk dana kampanye berikutnya?

Menteri Koordinator Perekonomian, yang berasal dari Partai Kebangkitan Nasional, konon adalah orang pertama yang menyetujui skema ini. "Ini win-win solution," katanya dalam rapat internal partainya. "Kita tetap bisa sediakan mobil murah untuk rakyat, sesuai janji Presiden. Tapi kita tidak perlu repot-repot bangun pabrik, urus tenaga kerja, dan macam-macam. Tinggal impor, tempel stiker, jual. Praktis."

"Tapi bukankah Presiden Togog maunya mobil buatan dalam negeri?" tanya seorang kader muda yang masih polos.

Sang menteri menatapnya dengan campuran iba dan gemas. "Nak, dalam politik, yang penting adalah hasil akhirnya, bukan caranya. Rakyat dapat mobil murah. Kita dapat... eh... keuntungan logistik. Semua senang."

Kader muda itu mengangguk, meskipun dalam hatinya ia merasa ada yang janggal. Tapi sebagai anak baru, ia belum berani bersuara terlalu keras. Ia masih ingat nasihat seniornya: "Di partai ini, kamu boleh punya idealisme. Tapi simpan baik-baik di saku. Jangan dipamerkan."


BAGIAN 3: PABRIK YANG TAK PERNAH SEPI

Tim pakar dari lima universitas bekerja siang dan malam. Sepuluh pabrik sentra produksi mulai dibangun di berbagai lokasi strategis di Mahjong. Presiden Togog sendiri yang meresmikan groundbreaking pabrik pertama di kawasan industri Sidosuwung, dengan upacara yang meriah namun tidak berlebihan, sesuai gayanya.

"Hari ini kita menanam benih," kata Presiden Togog di hadapan para pekerja dan wartawan. "Bukan benih padi, bukan benih jagung. Tapi benih kebanggaan. Suatu hari nanti, anak cucu kita akan bilang: 'Kakek-nenekku dulu ikut membangun pabrik mobil pertama di Mahjong.' Dan itu keren sekali."

Tepuk tangan membahana. Para pekerja yang direkrut dari desa-desa sekitar memandangi Presiden Togog dengan mata berbinar. Bagi mereka, pabrik ini bukan sekadar tempat kerja. Ini adalah simbol bahwa Mahjong bisa menciptakan sesuatu yang besar.

Profesor Suryakanta memimpin langsung proses produksi. Ia dan timnya merancang mesin-mesin khusus yang bisa memproduksi komponen dengan presisi tinggi namun biaya rendah. "Kuncinya adalah simplifikasi," jelasnya kepada Presiden Togog saat kunjungan inspeksi. "Kami mengurangi jumlah komponen tanpa mengurangi kualitas. Desainnya modular. Kalau ada yang rusak, gampang diganti. Seperti bermain lego."

"Lego itu mainan anak-anak," kata Presiden Togog.

"Justru itu, Pak. Anak-anak saja bisa merakit lego. Artinya desain kami cukup sederhana untuk dipahami semua orang. Itu filosofi kami: mobil untuk rakyat harus bisa dirawat oleh rakyat."

Presiden Togog tersenyum lebar. "Profesor, Anda bukan hanya pakar otomotif. Anda penyair."

"Saya hanya mencoba menjelaskan dengan analogi yang Bapak suka," jawab Profesor Suryakanta rendah hati.

Namun di balik kemajuan yang menggembirakan, ada kenyataan pahit yang harus diakui. Sepuluh pabrik itu hanya mampu memenuhi dua puluh persen dari total permintaan pasar dalam negeri Mahjong. Sisanya, delapan puluh persen, masih menjadi rebutan.

"Kita butuh lebih banyak pabrik," kata Presiden Togog dalam rapat kabinet terbatas. "Saya sudah hitung-hitung. Kita akan bangun lima puluh pabrik baru. Total enam puluh pabrik. Itu cukup untuk memenuhi seluruh permintaan dalam negeri, plus ekspor ke negara tetangga yang lebih kecil."

Para menteri yang hadir saling berpandangan. Ada yang mengangguk setuju, ada yang diam-diam mengernyitkan dahi, dan ada yang sibuk menghitung sesuatu di ponselnya, mungkin kalkulator, mungkin game, mungkin chatting dengan pelobi asing.

"Pak Presiden," Menteri Perindustrian angkat bicara. Ia berasal dari Partai Garda Perubahan, partai yang kebetulan sedang intens berkomunikasi dengan Monsieur Pierre. "Ide membangun lima puluh pabrik baru sangat visioner. Tapi bagaimana dengan anggarannya? Bukankah APBN kita sudah cukup terbebani dengan proyek-proyek lain?"

Presiden Togog memandang Menteri Perindustrian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Anggaran selalu ada untuk hal yang prioritas. Dan menurut saya, menciptakan satu juta lapangan kerja baru adalah prioritas. Belum lagi efek domino-nya: bisnis kos-kosan, rumah kontrakan, kafe, warung nasi, laundry, dan entah apa lagi. Setiap pabrik adalah magnet ekonomi."

"Tapi Pak..."

"Lagi-lagi 'tapi'," potong Presiden Togog sambil menghela napas dramatis. "Anda tahu, Pak Menteri, di masa lalu, para raja Jawa membangun candi-candi megah. Borobudur, Prambanan, dan sebagainya. Mereka tidak bertanya: 'Tapi anggarannya bagaimana?' Mereka bertanya: 'Kapan kita mulai?' Dan lihatlah, candi-candi itu sekarang menjadi warisan dunia. Saya tidak ingin membangun candi. Saya ingin membangun pabrik. Tapi semangatnya sama: keberanian untuk memulai."

Menteri Perindustrian terdiam. Ia tahu Presiden Togog sedang menggunakan jurus retorika andalannya: analogi sejarah yang membuat lawan bicara tidak bisa membantah tanpa terkesan tidak patriotik.

Sementara itu, di sudut lain ruang rapat, Menteri Koordinator Perekonomian sedang mengetik pesan singkat di ponselnya: "Proyek 50 pabrik baru akan berjalan. Kita harus bertindak cepat."

Pesan itu terkirim ke nomor dengan kode negara Pancawati.


BAGIAN 4: PERANG DI RUMAH RAKYAT

Gedung Rumah Rakyat, sebutan untuk gedung parlemen di Mahjong, berdiri megah di pusat ibu kota. Arsitekturnya adalah perpaduan antara gaya modern dan tradisional, dengan atap berbentuk limas yang melambangkan filosofi lokal. Namun yang terjadi di dalamnya sering kali jauh dari filosofi luhur itu.

Hari itu, suasana di ruang rapat komisi gabungan terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena AC yang rusak, AC di gedung ini selalu dalam kondisi prima, berbeda dengan di rumah-rumah rakyat biasa yang AC-nya hanya berfungsi kalau lagi beruntung. Panasnya berasal dari tensi perdebatan yang akan segera meletus.

Agenda rapat: evaluasi proyek mobil nasional ASEM.

Tim pakar dari lima universitas duduk di satu sisi, rapi dalam balutan jas dan batik. Mereka membawa setumpuk dokumen, laptop, dan presentasi PowerPoint yang sudah disiapkan semalaman. Di sisi lain, berjajar anggota Dewan dari berbagai fraksi, dengan ekspresi yang bervariasi: dari yang mengantuk hingga yang tampak seperti kucing lapar melihat ikan asin.

Ketua Komisi, seorang politisi senior dari Partai Garda Perubahan bernama Setya Brata, membuka rapat dengan palu sidang. Tok tok tok!

"Rapat gabungan komisi dengan agenda evaluasi proyek mobil nasional ASEM, saya nyatakan dibuka," katanya dengan nada yang dibuat-bikin serius. "Saya persilakan Tim Pakar untuk memaparkan perkembangan terbaru."

Profesor Suryakanta berdiri, membawa laptopnya ke podium. Ia memulai presentasi dengan penuh semangat. Ia menjelaskan tentang sepuluh pabrik yang sudah beroperasi, tentang kualitas produk yang terjamin, tentang harga yang berhasil ditekan hingga di bawah lima puluh juta per unit. Ia bahkan membawa satu unit ASEM, versi miniatur, untuk didemonstrasikan.

"Yang Mulia anggota Dewan sekalian," katanya, "mobil ini menggunakan bahan bakar campuran minyak sawit dan etanol. Emisinya sangat rendah, hampir nol. Kami menyebutnya teknologi Green-Blend. Ini adalah terobosan yang bahkan belum dimiliki oleh negara-negara maju."

Beberapa anggota Dewan mengangguk-angguk, terkesan. Tapi sebagian besar tampak tidak sabar menunggu giliran bicara. Mereka seperti aktor yang sudah menghafal naskah dan hanya menunggu aba-aba sutradara.

Begitu sesi tanya jawab dibuka, serangan pun dimulai.

Anggota Dewan Aryaseta mengangkat tangan pertama. Ia memandang Tim Pakar dengan senyum yang ramah namun matanya menyipit penuh selidik. "Terima kasih, Profesor, atas paparannya yang sangat... eh... optimistis. Saya punya beberapa pertanyaan sederhana. Pertama: berapa total anggaran yang sudah dikeluarkan untuk proyek ini? Kedua: bagaimana aliran dana dari APBN ke masing-masing pabrik? Apakah ada audit independen? Ketiga: benarkah ada selisih antara harga komponen yang dilaporkan dengan harga pasar sebenarnya?"

Profesor Suryakanta sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung yang mengarah ke isu transparansi. Tapi ia menjawab dengan tenang. "Yang Mulia, total anggaran yang sudah terserap adalah sesuai dengan yang tercantum dalam dokumen APBN, dan semuanya bisa diakses publik. Audit dilakukan secara berkala oleh BPKP dan BPK. Untuk selisih harga, kami jamin tidak ada. Semua transaksi tercatat dengan baik."

"Tercatat dengan baik?" potong Anggota Dewi Saraswati dari Partai Demokrasi Siwer. "Kalau begitu, kenapa saya menerima laporan bahwa di pabrik Sidosuwung, ada pembelian baut dengan harga tiga kali lipat dari harga normal? Apakah ini yang disebut 'tercatat dengan baik'?"

Ruang rapat bergemuruh. Wartawan yang meliput sibuk mencatat. Profesor Suryakanta terlihat gugup. "Itu... itu tidak benar, Yang Mulia. Baut yang kami beli adalah baut khusus dengan spesifikasi tinggi, bukan baut biasa. Harganya memang lebih mahal, tapi sebanding dengan kualitasnya."

"Oh, baut khusus?" Anggota Dewi Saraswati tersenyum sinis. "Baut khusus yang kalau diukur dengan standar internasional, kualitasnya setara dengan baut biasa yang harganya sepertiga? Maaf, Profesor, saya bukan insinyur. Tapi naluri saya mengatakan ada yang tidak beres di sini."

Satu per satu anggota Dewan lainnya ikut menyerang. Ada yang mempertanyakan dampak lingkungan dari pembangunan lima puluh pabrik baru. Ada yang menyoroti kelayakan teknis mobil berbahan bakar sawit-etanol. Ada yang membandingkan harga ASEM dengan mobil impor dari Pancawati, Magada, dan Astina yang katanya "lebih murah dan lebih teruji".

Tim Pakar berusaha menjawab semua pertanyaan dengan sabar. Tapi mereka bukan politisi. Mereka adalah akademisi yang terbiasa dengan diskusi rasional dan data ilmiah. Mereka tidak siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang dirancang bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk menciptakan keraguan di mata publik.

Profesor Wening mencoba menjelaskan tentang teknologi Green-Blend. "Bahan bakar sawit-etanol adalah masa depan, Yang Mulia. Ini adalah sumber energi terbarukan, berbeda dengan bahan bakar fosil yang akan habis. Kami sudah melakukan uji coba selama ribuan jam, dan hasilnya..."

"Ribuan jam di laboratorium, bukan di jalan raya," potong Anggota Harsono dari Partai Persatuan Nasional. "Apa Anda berani menjamin mobil ini tidak akan mogok setelah dipakai setahun? Dua tahun? Apa Anda berani mengganti seluruh biaya perbaikan kalau terjadi kerusakan massal?"

"Itu... kami memberikan garansi selama tiga tahun atau seratus ribu kilometer, mana yang tercapai lebih dulu..."

"Garansi!" Anggota Harsono tertawa. "Garansi itu cuma kertas, Profesor. Yang dibutuhkan rakyat adalah kepastian. Kalau mobil ini bermasalah, siapa yang bertanggung jawab? Anda? Universitas? Atau Presiden Togog sendiri?"

Suasana semakin memanas. Profesor Gathotkoco, yang terkenal sabar, mulai kehilangan kesabarannya. "Yang Mulia, dengan segala hormat, pertanyaan-pertanyaan Anda cenderung tendensius. Seolah-olah Anda sudah berasumsi bahwa proyek ini akan gagal sebelum kami sempat membuktikannya."

"Keberatan!" seru Anggota Harsono. "Ketua, saksi menghina anggota Dewan!"

Ketua Setya Brata mengetukkan palu. Tok tok tok! "Saudara Profesor, saya harap Anda menjaga etika. Anggota Dewan memiliki hak untuk bertanya. Jawablah dengan proporsional tanpa menuduh."

Profesor Gathotkoco menghela napas panjang. Ia memandang rekan-rekannya sesama pakar, lalu ke arah kamera televisi yang menyiarkan langsung rapat ini. Ia tahu, apa pun yang ia katakan sekarang, narasinya sudah terbentuk: ada "masalah" di proyek ASEM, dan masalah itu, entah benar entah tidak, akan terus digoreng sampai publik ragu.


BAGIAN 5: DI BALIK PINTU TERTUTUP

Sementara perang narasi berkecamuk di gedung parlemen, pertemuan-pertemuan rahasia terus berlanjut di tempat-tempat yang lebih privat. Kali ini, di sebuah vila mewah di pinggiran kota, berkumpul perwakilan dari tiga negara: Monsieur Pierre dari Pancawati, Mr. Watanabe dari Magada, dan Mrs. Narayan dari Astina.

Ini adalah pertemuan yang langka. Biasanya mereka bersaing satu sama lain. Tapi kali ini, musuh bersama membuat mereka duduk semeja.

"Kita sepakat," kata Monsieur Pierre, membuka pembicaraan. "ASEM adalah ancaman bagi bisnis kita di Mahjong. Kalau proyek ini berhasil, pasar otomotif Mahjong akan didominasi oleh produk lokal. Kita akan kehilangan pangsa pasar yang sudah kita bangun puluhan tahun."

Mr. Watanabe mengangguk. "Tapi kita tidak bisa menghentikannya secara langsung. Presiden Togog terlalu populer. Upaya kita melalui parlemen sudah mulai membuahkan hasil, tapi belum cukup. Publik masih banyak yang percaya pada ASEM."

"Justru itu," Mrs. Narayan menimpali. "Kita harus menyerang dari sisi yang tidak terduga. Bukan hanya proyeknya, tapi orang-orang di baliknya. Tim pakar itu adalah titik lemah. Mereka jujur, idealis, dan tidak terbiasa dengan permainan politik. Kalau kita bisa membuat mereka terlihat korup atau tidak kompeten, kredibilitas ASEM akan runtuh dengan sendirinya."

"Bagaimana caranya?" tanya Monsieur Pierre.

Mrs. Narayan tersenyum. Ia mengeluarkan setumpuk dokumen dari tasnya. "Saya sudah menyewa investigator swasta untuk menyelidiki latar belakang masing-masing anggota tim pakar. Lihat ini: Profesor Suryakanta pernah menerima dana penelitian dari perusahaan otomotif kita sepuluh tahun lalu, sebelum proyek ASEM dimulai. Secara teknis, itu bukan konflik kepentingan. Tapi secara persepsi..."

"Ini bisa menjadi senjata yang ampuh," Monsieur Pierre menyelesaikan kalimatnya. "Kita bisa membingkai ini sebagai bukti bahwa tim pakar sebenarnya bekerja untuk kepentingan asing."

"Tepat sekali."

Mr. Watanabe menambahkan, "Saya juga punya informasi menarik. Di pabrik Sidosuwung, ada beberapa kontainer komponen yang ternyata diimpor dari negara saya. Katanya sih untuk penelitian dan perbandingan. Tapi kita bisa memelintirnya: ASEM ternyata bukan murni buatan dalam negeri. Komponennya impor!"

"Brilliant!" seru Monsieur Pierre. "Kita akan banjiri media sosial dengan isu ini. Rakyat Mahjong itu sensitif soal nasionalisme. Begitu mereka curiga ASEM tidak sepenuhnya buatan dalam negeri, dukungan akan merosot."

Mereka bertiga bersulang dengan gelas wine. Aliansi yang aneh: tiga predator yang biasanya saling memangsa, kini bekerja sama untuk menjatuhkan mangsa yang sama.

Sementara itu, di istana, Presiden Togog menerima laporan tentang jalannya rapat di parlemen. Ia duduk di beranda favoritnya, ditemani kopi tubruk yang sudah dingin dan sepiring singkong rebus. Di hadapannya, tergeletak transkrip rapat yang baru saja diantarkan oleh ajudannya.

Ia membaca dengan saksama, sesekali tersenyum, sesekali menggelengkan kepala.

"Pak Presiden," kata ajudannya ragu-ragu, "apakah Bapak tidak khawatir? Serangan di parlemen cukup gencar. Tim Pakar kelihatan kewalahan."

Presiden Togog meletakkan transkrip. Ia menatap langit senja yang mulai memerah. "Kamu tahu kenapa pohon jati itu kuat?"

Ajudannya bingung. "Ehm... karena akarnya dalam, Pak?"

"Karena dia tumbuh pelan-pelan. Pohon yang tumbuh terlalu cepat biasanya rapuh. Diterjang angin sedikit, tumbang." Presiden Togog menyesap kopinya yang sudah dingin. "ASEM itu seperti pohon jati. Mungkin sekarang kelihatan lambat. Tapi akarnya sudah dalam. Serangan dari parlemen itu hanya angin. Bikin goyang, tapi tidak akan menumbangkan."

"Lalu apa rencana Bapak selanjutnya?"

Presiden Togog tersenyum misterius. "Saya akan pidato. Bukan di televisi, bukan di depan parlemen. Tapi di depan pabrik. Di depan para pekerja. Di depan rakyat yang nanti akan membeli ASEM. Rakyat Mahjong itu pintar. Mereka bisa membedakan mana yang benar-benar berjuang untuk mereka, dan mana yang hanya berjuang untuk kantong sendiri."


BAGIAN 6: PIDATO DI BAWAH HUJAN

Tiga hari kemudian, Presiden Togog mengumumkan akan berpidato di halaman Pabrik Sidosuwung. Tidak ada undangan khusus untuk media, tidak ada backdrop mewah, tidak ada panggung megah. Hanya ada podium sederhana yang terbuat dari kayu, beberapa pengeras suara standar, dan kursi-kursi plastik untuk para pekerja.

Tapi yang datang luar biasa banyak. Ribuan pekerja dari pabrik-pabrik sekitar, warga desa, mahasiswa, dan simpatisan memadati halaman pabrik. Langit mendung, tapi tidak ada yang peduli. Mereka ingin mendengar langsung dari presiden mereka.

Presiden Togog naik ke podium dengan pakaian sederhana: kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang sudah sedikit kusam. Tidak ada dasi, tidak ada jas. Penampilannya lebih mirip dosen yang akan memberi kuliah daripada presiden yang akan berpidato kenegaraan.

"Selamat sore, rakyatku," ia memulai. Suaranya tenang, tanpa teriakan, tanpa retorika yang menggebu-gebu. Tapi entah kenapa, suara itu mampu membuat ribuan orang diam dan mendengarkan.

"Saya tidak akan berpidato panjang. Saya juga tidak akan membahas transkrip rapat parlemen. Kalian bisa baca sendiri di koran. Yang ingin saya sampaikan sederhana: Saya bangga pada kalian."

Ia menunjuk ke arah para pekerja yang duduk di barisan depan. "Kalian adalah pahlawan. Bukan pahlawan yang namanya diukir di monumen. Tapi pahlawan yang tangannya mengukir sejarah. Setiap baut yang kalian pasang, setiap lembar baja yang kalian bentuk, setiap mesin yang kalian hidupkan, itu semua adalah bagian dari kebangkitan Mahjong."

Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa pekerja terlihat menyeka air mata.

"Saya tahu," lanjut Presiden Togog, "ada orang-orang yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Ada yang bilang proyek ini terlalu ambisius. Ada yang bilang mobil kita tidak akan laku. Ada yang mempertanyakan kejujuran tim pakar. Bahkan ada yang menyebar isu bahwa ASEM sebenarnya mobil impor yang hanya ditempeli stiker."

Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di depannya. "Mereka bebas bicara. Ini negara demokrasi. Tapi izinkan saya bertanya pada kalian semua: Apa kalian percaya pada isu-isu itu?"

"TIDAK!" teriak ribuan suara serempak.

"Kenapa kalian tidak percaya?"

Seorang pekerja di barisan depan berdiri. "Karena kami yang membuat mobil ini dengan tangan kami sendiri, Pak Presiden! Setiap hari kami lihat baja masuk, mobil keluar. Mana mungkin itu impor?"

Presiden Togog tersenyum lebar. "Nah, itu jawaban yang lebih baik dari pidato saya. Kalian adalah saksi hidup. Kalian adalah bukti berjalan. Tidak perlu profesor untuk menjelaskan, tidak perlu anggota Dewan untuk berdebat. Mata kalian sendiri yang melihat, tangan kalian sendiri yang bekerja."

Rintik hujan mulai turun. Tapi tidak ada yang bergerak. Presiden Togog juga tetap di podium, membiarkan hujan membasahi kemejanya.

"Mereka bilang, harga lima puluh juta terlalu murah untuk mobil sebagus ini. Pasti ada yang tidak beres. Saya jawab: memang tidak beres. Tidak beres kalau rakyat sendiri tidak bisa membeli mobil buatan bangsanya. Tidak beres kalau kita terus-menerus mengirim uang ke luar negeri untuk membeli mobil, sementara anak-anak muda kita menganggur. Itu yang tidak beres!"

Tepuk tangan dan sorakan membahana, bersaing dengan suara hujan.

"Mereka bilang, kita harus impor saja dari negara tetangga. Lebih murah, lebih praktis. Saya jawab: murah untuk siapa? Praktis untuk siapa? Untuk rakyat yang kerja di pabrik? Untuk pemilik warung nasi di sekitar pabrik? Untuk anak-anak SMK yang baru lulus dan butuh pekerjaan? Atau murah dan praktis untuk segelintir orang yang dapat komisi dari setiap mobil impor yang masuk?"

Kali ini, suara sorakan bercampur dengan tawa. Banyak yang mulai paham ke mana arah pidato ini.

"Saya bukan orang bodoh," Presiden Togog melanjutkan, suaranya sedikit meninggi. "Saya tahu ada yang bermain di belakang. Saya tahu ada yang sudah dijanjikan fee sepuluh persen. Sepuluh persen dari setiap unit, bayangkan. Kalau ada dua ratus ribu unit yang diimpor, berapa itu? Satu triliun rupiah per tahun. Cukup untuk membiayai kampanye berkali-kali. Cukup untuk membeli rumah di perbukitan. Cukup untuk menyekolahkan anak ke luar negeri. Tapi tidak cukup untuk membangun harga diri bangsa."

Hening. Hujan semakin deras, tapi kata-kata Presiden Togog menembus derasnya air.

"Jadi, rakyatku, saya tidak akan melarang kalian untuk marah. Silakan marah. Tapi salurkan kemarahan itu dengan cara yang benar. Bukan dengan membakar ban. Bukan dengan merusak fasilitas. Tapi dengan membeli ASEM. Setiap rupiah yang kalian belanjakan untuk ASEM adalah suara. Suara yang lebih keras dari teriakan di parlemen. Suara yang mengatakan: Kami percaya pada bangsa ini!"

Presiden Togog mengakhiri pidatonya tanpa penutup formal. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, mengepalkan tinju, lalu turun dari podium. Hujan sudah membasahinya sekujur tubuh, tapi ia tidak peduli. Ia berjalan ke arah para pekerja, menyalami mereka satu per satu.

"Terima kasih," katanya berulang-ulang. "Terima kasih sudah percaya."


BAGIAN 7: KONSPIRASI MEMUNCUL

Pidato Presiden Togog di Pabrik Sidosuwung menjadi viral. Dalam hitungan jam, rekaman pidatonya sudah ditonton jutaan kali di media sosial. Tagar AkuASEM dan PresidenHujan menggantikan tagar sebelumnya. Dukungan publik terhadap proyek ASEM melonjak drastis. Bahkan oposisi yang biasanya kritis mulai berhati-hati dalam menyerang, takut dianggap berseberangan dengan rakyat.

Di kubu importir dan sekutunya, kepanikan mulai muncul.

Pertemuan darurat digelar di sebuah ruangan bawah tanah di salah satu gedung perkantoran mewah. Kali ini, selain Monsieur Pierre, Mr. Watanabe, dan Mrs. Narayan, hadir juga beberapa menteri dan pimpinan partai politik.

"Ini bencana," keluh Menteri Koordinator Perekonomian. "Setelah pidato itu, dukungan publik untuk ASEM hampir bulat. Kami di parlemen tidak bisa lagi menyerang tanpa risiko politik yang besar."

Monsieur Pierre mengangguk muram. "Presiden Togog memang cerdik. Ia tidak melawan di parlemen, di mana kami punya kekuatan. Ia langsung ke rakyat. Itu jurus yang sulit dilawan."

"Jadi kita menyerah saja?" tanya Menteri Perindustrian.

"Tidak," Mrs. Narayan memotong. "Kita hanya perlu mengubah strategi. Kalau serangan langsung tidak berhasil, kita gunakan pendekatan yang lebih... halus."

Ia menjelaskan rencananya. Intinya: alih-alih menyerang proyek ASEM, mereka akan mendukungnya secara resmi. Tapi dengan syarat-syarat yang akan memperlambat dan akhirnya mematikan proyek itu dari dalam.

"Kita ajukan regulasi yang 'melindungi konsumen'," kata Mrs. Narayan. "Misalnya, setiap mobil baru harus melalui uji kelayakan selama minimal dua tahun sebelum boleh dijual massal. Atau, standar emisi yang sangat ketat yang mungkin belum bisa dipenuhi oleh teknologi Green-Blend. Atau, kewajiban menggunakan komponen lokal seratus persen, yang ironisnya, akan menyulitkan karena beberapa komponen canggih memang belum bisa diproduksi di dalam negeri."

"Brilliant," Monsieur Pierre menyeringai. "Kita tampak mendukung, padahal kita mempersulit."

Mr. Watanabe menambahkan, "Saya bisa membantu dengan menyediakan 'studi independen' yang menunjukkan bahwa bahan bakar sawit-etanol sebenarnya tidak seramah lingkungan yang diklaim. Bahwa penanaman sawit justru merusak hutan. Bahwa etanol membutuhkan lahan luas yang seharusnya untuk pangan."

"Nanti saya bisa atur di parlemen," kata Setya Brata, Ketua Komisi. "Kami akan bentuk Panitia Khusus yang bertugas 'mengawal' proyek ASEM. Tapi dalam praktiknya, pansus ini akan menjadi alat untuk memperlambat dan mengorek-ngorek setiap detail sampai proyek ini kehabisan waktu dan anggaran."

Menteri Koordinator Perekonomian tersenyum lega. "Rencana yang indah. Presiden Togog pikir dia sudah menang karena didukung rakyat. Tapi dia lupa, di negeri ini, kebijakan tidak cukup hanya dengan dukungan rakyat. Harus melewati labirin birokrasi dan politik yang kita kendalikan."

Mereka bersulang dengan sampanye. Aliansi tiga negara plus komprador lokal kembali menemukan harapan.

Namun, apa yang mereka tidak sadari adalah bahwa Presiden Togog sudah mengantisipasi langkah ini. Sejak awal, ia tahu bahwa musuh-musuhnya tidak akan tinggal diam hanya karena satu pidato. Mereka akan mencari celah, dan celah yang paling mungkin adalah regulasi.

Malam itu, setelah pertemuan rahasia para konspirator bubar, Presiden Togog duduk di ruang kerjanya bersama seorang tamu istimewa. Tamu itu adalah seorang pria tua dengan rambut putih tergerai, mengenakan pakaian adat Mahjong: beskap hitam dengan kain batik melilit di pinggang. Namanya Ki Semar, ya, sama seperti nama tokoh punakawan dalam pewayangan, dan konon ia masih keturunan dari dalang legendaris yang mementaskan kisah-kisah itu.

Ki Semar bukan pejabat. Ia bukan politisi. Ia bahkan tidak punya jabatan resmi di pemerintahan. Tapi Presiden Togog selalu memanggilnya ketika situasi menjadi rumit. Ki Semar adalah penasihat spiritual sekaligus sahabat diskusi yang tidak pernah basa-basi.

"Ki Semar, apa pendapatmu tentang situasi ini?" tanya Presiden Togog sambil menyuguhkan wedang jahe.

Ki Semar menyeruput wedangnya perlahan. Wajahnya yang penuh keriput tampak tenang, seperti danau yang tidak terusik angin. "Presiden, di dunia ini ada dua jenis perang. Perang yang menggunakan senjata, dan perang yang menggunakan kata-kata. Yang kedua lebih berbahaya, karena lukanya tidak terlihat."

"Saya tahu. Mereka sekarang akan menggunakan regulasi untuk menyerang. DPR akan membentuk pansus, kementerian akan mengeluarkan aturan teknis, dan seterusnya. Saya bisa memveto beberapa hal, tapi tidak semuanya."

"Lalu apa yang akan Presiden lakukan?"

Presiden Togog tersenyum. "Saya akan memberi mereka apa yang mereka minta. Tapi dengan cara saya sendiri."

Ki Semar mengernyitkan dahi. "Maksud Presiden?"

"Ki Semar, dalam pewayangan, siapa tokoh yang paling licik?"

"Sangkuni."

"Dan bagaimana para Pandawa menghadapi Sangkuni?"

"Mereka tidak melawannya dengan kelicikan yang sama. Mereka justru menunjukkan kejujuran yang ekstrem, sehingga kelicikan Sangkuni terlihat telanjang oleh semua orang."

Presiden Togog mengangguk. "Tepat sekali. Saya akan transparan sampai ke level yang membuat mereka tidak nyaman. Saya akan buka semua data, semua kontrak, semua aliran dana. Saya akan undang LSM, media, bahkan auditor internasional untuk memeriksa proyek ASEM. Saya akan membuat mereka tidak punya celah untuk menyerang."

Ki Semar tersenyum bijak. "Itu langkah yang berani. Tapi ingat, Presiden. Semakin transparan kita, semakin banyak juga detail kecil yang bisa dipelintir oleh lawan. Mereka tidak akan berhenti meskipun tidak menemukan kesalahan. Mereka akan menciptakan kesalahan."

"Biarkan. Rakyat tidak bodoh. Mereka bisa membedakan antara kesalahan yang dicari-cari dengan kesalahan yang nyata. Dan yang terpenting, saya ingin proyek ini menjadi milik rakyat, bukan milik pemerintah. Kalau rakyat merasa memiliki, mereka akan melindunginya."

Malam semakin larut. Wedang jahe sudah habis, tapi diskusi terus berlanjut. Presiden Togog dan Ki Semar membahas strategi detail: bagaimana menghadapi pansus, bagaimana merespons studi-studi negatif, bagaimana menjaga moral tim pakar dan para pekerja.

"Yang paling penting," kata Ki Semar sebelum pamit, "jangan pernah lelah. Musuh kita tidak pernah lelah. Mereka punya waktu dua puluh empat jam sehari untuk memikirkan cara menjatuhkan kita. Kita juga harus punya stamina yang sama."

"Saya tidak akan lelah, Ki. Selama masih ada rakyat yang percaya, saya akan terus berjuang."


BAGIAN 8: PANSUS YANG BERKERINGAT

Seperti yang sudah diduga, sebulan kemudian DPR resmi membentuk Panitia Khusus (Pansus) Pengawasan Proyek ASEM. Anggotanya adalah campuran dari berbagai fraksi, dengan Setya Brata sebagai ketuanya. Tugas resminya adalah "memastikan proyek berjalan sesuai aturan dan tidak merugikan keuangan negara." Tapi semua orang yang mengikuti politik tahu bahwa ini adalah alat untuk menyerang.

Pansus mulai bekerja dengan mengundang berbagai pihak untuk dimintai keterangan. Tim Pakar, pejabat kementerian, kontraktor, bahkan pemasok baut dan kaca dipanggil satu per satu. Sidang-sidang pansus disiarkan langsung di televisi, lengkap dengan komentator yang sibuk menganalisis setiap gestur dan kata-kata.

Profesor Suryakanta kembali menjadi sasaran utama. Kali ini, pertanyaannya lebih detail dan lebih menjebak.

"Profesor, dalam laporan keuangan pabrik Sidosuwung, saya menemukan pengeluaran sebesar dua miliar rupiah untuk 'konsultasi teknis'. Bisa dijelaskan konsultasi dengan siapa dan untuk apa?" tanya Anggota Aryaseta.

"Itu adalah biaya untuk mengundang ahli otomotif dari luar negeri, Yang Mulia. Kami perlu mempelajari beberapa teknologi yang belum dikuasai."

"Ahli dari luar negeri? Dari negara mana?"

"Beberapa dari Jerman, beberapa dari Jepang."

"Jerman dan Jepang? Bukan dari negara-negara seperti Pancawati, Magada, atau Astina?"

"Tidak."

"Jadi, Anda mengakui bahwa Anda menggunakan uang negara untuk membayar konsultan asing dalam proyek yang katanya 'seratus persen buatan dalam negeri'?"

Profesor Suryakanta menghela napas. "Yang Mulia, dengan segala hormat, belajar dari ahlinya adalah hal yang wajar dalam pengembangan teknologi. Bahkan negara-negara maju pun saling bertukar pengetahuan. Konsultan yang kami undang tidak ikut merancang ASEM. Mereka hanya memberikan masukan umum tentang proses produksi yang efisien."

Anggota Aryaseta tersenyum tipis. Ia sudah mendapatkan klip yang ia butuhkan untuk diputar berulang-ulang di media sosial: "PROFESOR AKUI GUNAKAN KONSULTAN ASING."

Di kesempatan lain, giliran Profesor Wening yang diinterogasi. Pertanyaannya tentang dampak lingkungan.

"Profesor Wening, Anda mengklaim bahwa Green-Blend adalah teknologi ramah lingkungan. Tapi sebuah studi dari Lembaga Penelitian Independen Magada menunjukkan bahwa pembakaran campuran sawit dan etanol justru menghasilkan partikel mikro yang berbahaya bagi paru-paru. Apa komentar Anda?"

Profesor Wening, yang sudah menduga pertanyaan ini, menjawab dengan tenang. "Yang Mulia, studi yang Anda sebutkan itu saya sudah baca. Dan saya menemukan beberapa kejanggalan metodologis. Pertama, sampel yang digunakan bukan dari mesin ASEM, melainkan dari mesin diesel generasi lama. Kedua, konsentrasi etanol yang diuji berbeda dengan yang kami gunakan. Ketiga, penulis studi itu ternyata adalah konsultan untuk perusahaan otomotif Magada. Jadi, dengan segala hormat, studi tersebut tidak relevan dan memiliki konflik kepentingan."

Ruang sidang riuh. Anggota Dewan yang menanyakan terlihat tersudut. Tapi ia cepat berimprovisasi. "Jadi Anda menuduh studi itu tidak valid? Atau Anda menuduh saya berbohong?"

"Saya tidak menuduh siapa pun, Yang Mulia. Saya hanya menyampaikan fakta ilmiah."

"Fakta ilmiah yang Anda buat sendiri!"

"Fakta ilmiah yang sudah kami publikasikan di jurnal internasional bereputasi, Yang Mulia. Silakan dicek. Peer-review-nya ketat."

Anggota Dewan itu terdiam. Ia tidak menyangka jawabannya akan sekomprehensif itu.

Sidang pansus terus berlangsung selama berminggu-minggu. Tim Pakar, yang awalnya gugup, mulai terbiasa dengan ritme interogasi. Mereka belajar bahwa kunci menghadapi pertanyaan politis adalah dengan tetap tenang, tetap faktual, dan tidak terpancing emosi.

Presiden Togog, yang mengamati dari jauh, tersenyum puas. "Mereka berlatih dengan cepat," katanya kepada Ki Semar. "Dulu mereka cuma profesor yang nyaman di laboratorium. Sekarang mereka jadi gladiator yang siap bertarung di arena."

"Siapa sangka," jawab Ki Semar, "musuh justru menjadi guru terbaik."


BAGIAN 9: KARTU AS DARI LACI BAWAH

Tapi para konspirator tidak kehabisan akal. Setelah serangan melalui pansus mulai kehilangan momentum, mereka memutuskan untuk mengeluarkan kartu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat.

Suatu pagi, sebuah media online yang dikenal kritis terhadap pemerintah menerbitkan berita mengejutkan. Judulnya bombastis: "KEJUTAN: SALAH SATU PROFESOR TIM ASEM TERIMA TRANSFER MILYARAN DARI PERUSAHAAN ASING!"

Berita itu menyertakan bukti berupa tangkapan layar transfer bank, lengkap dengan nama, tanggal, dan jumlah. Profesor Daniswara, dari Politeknik Agung Jayabaya, disebut menerima dana sebesar tiga miliar rupiah dari sebuah perusahaan yang berbasis di Astina.

Berita ini langsung meledak. Media sosial heboh. Pansus segera menjadwalkan sidang darurat. Tim Pakar terguncang. Profesor Daniswara sendiri membantah keras. "Itu uang pribadi! Itu tabungan saya sendiri yang saya transfer dari rekening lama ke rekening baru. Tidak ada hubungannya dengan perusahaan asing mana pun!"

Tapi bantahan itu tenggelam dalam riuhnya pemberitaan. Prinsip dasar komunikasi krisis berlaku di sini: kebohongan yang cukup sensasional, jika disebarkan dengan cukup cepat, akan sulit dilawan oleh kebenaran yang lambat dan rumit.

Presiden Togog membaca berita itu di pagi hari, sebelum sarapan. Ia tidak langsung bereaksi. Ia menyelesaikan kopinya, makan dua potong singkong rebus, baru kemudian memanggil tim komunikasinya.

"Jangan buru-buru membantah," katanya. "Bantahan yang terburu-buru terlihat seperti kepanikan. Kita kumpulkan dulu semua fakta. Profesor Daniswara harus menjelaskan sendiri, dengan bukti yang lengkap. Dan kita harus mencari tahu: siapa yang membocorkan data rekeningnya?"

Penyelidikan internal dilakukan. Hasilnya mengejutkan: data rekening Profesor Daniswara ternyata bocor dari database perbankan yang diretas. Ini bukan sekadar fitnah politik. Ini adalah kejahatan siber yang serius.

"Kita laporkan ke polisi," kata Presiden Togog. "Dan kita umumkan ke publik bahwa ini adalah tindakan kriminal, bukan sekadar perbedaan politik."

Laporan polisi dibuat. Siaran pers disebarkan. Tapi kerusakan sudah terjadi. Meskipun kemudian terbukti bahwa transfer tersebut adalah transfer pribadi yang sah, keraguan publik sudah terlanjur muncul. "Ah, mungkin memang ada sesuatu yang ditutup-tutupi," bisik-bisik di warung kopi. "Mana ada asap kalau tidak ada api."

Inilah senjata paling ampuh dalam politik: bukan kebenaran, melainkan persepsi. Sekali persepsi itu terbentuk, ia akan hidup lebih lama dari fakta.

Profesor Daniswara, yang merasa nama baiknya tercemar, menawarkan diri untuk mengundurkan diri dari tim. "Saya tidak mau proyek ini terhambat karena masalah pribadi saya," katanya kepada Presiden Togog.

Tapi Presiden Togog menolak. "Justru sekarang saya tidak akan membiarkan Anda mundur. Kalau Anda mundur, mereka menang. Mereka akan menggunakan taktik yang sama untuk menyerang yang lain. Satu per satu profesor akan dijatuhkan, sampai tim ini hancur."

"Tapi publik sudah curiga..."

"Publik selalu curiga. Itu sehat. Tapi publik juga bisa membedakan antara orang yang difitnah dan orang yang benar-benar bersalah. Beri mereka waktu. Kebenaran punya kecepatannya sendiri."

Profesor Daniswara bertahan. Ia bekerja lebih keras dari sebelumnya, seolah ingin membuktikan bahwa integritasnya tidak bisa dibeli oleh transferan fiktif mana pun.


BAGIAN 10: PERANG DINGIN DI KABINET

Sementara drama di publik terus berlangsung, di dalam kabinet sendiri terjadi perang dingin yang tidak kalah serunya. Para menteri yang berasal dari partai politik berbeda memiliki agenda yang bertabrakan, dan Presiden Togog harus memainkan peran sebagai penyeimbang.

Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, yang sama-sama dari Partai Garda Perubahan, secara halus terus mendorong agar ASEM "bekerja sama" dengan produsen asing. "Pak Presiden, daripada kita membangun lima puluh pabrik yang memakan waktu dan biaya besar, kenapa tidak kita jalin joint venture dengan perusahaan dari Pancawati? Mereka sudah punya teknologi, kita punya pasar. Sama-sama untung."

Presiden Togog memandang kedua menterinya dengan tatapan yang sulit ditebak. "Joint venture? Maksudnya, kita produksi mobil dengan merek mereka, lalu kita tempel logo ASEM?"

"Itu istilah kasarnya, Pak. Tapi praktik seperti ini sudah umum di banyak negara. Bahkan negara-negara maju pun melakukannya."

"Negara-negara maju melakukannya setelah industri dalam negeri mereka kuat. Kita? Industri kita masih bayi. Kalau sejak bayi sudah kita serahkan ke orang lain untuk dibesarkan, kapan kita akan mandiri?"

"Tapi Pak, efisiensi..."

"Efisiensi," potong Presiden Togog, "adalah alasan favorit para komprador. Lebih efisien impor daripada produksi sendiri. Lebih efisien pakai merek asing daripada bangun merek sendiri. Lebih efisien kirim uang ke luar negeri daripada menggaji pekerja lokal. Tapi sejak kapan membangun bangsa itu soal efisiensi? Membangun bangsa itu soal keberanian. Soal visi jangka panjang. Soal mau berkorban sekarang untuk hasil yang akan dinikmati anak cucu."

Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan saling pandang. Mereka tahu, berdebat dengan Presiden Togog soal nasionalisme adalah tindakan sia-sia. Presiden ini terlalu populer, terlalu dicintai rakyat justru karena idealismenya yang keras kepala.

Tapi di luar rapat kabinet, mereka tetap menjalankan agenda sendiri-sendiri. Perizinan impor komponen tertentu diperlambat, dengan alasan "penelitian lebih lanjut". Bea masuk untuk mobil asing yang seharusnya dinaikkan untuk melindungi ASEM, malah dipertahankan rendah, dengan alasan "melindungi konsumen dari harga tinggi".

Ini adalah perang gerilya birokrasi. Lambat, melelahkan, dan sulit dilacak. Setiap kali Presiden Togog meminta percepatan, selalu ada alasan teknis: "Masih dalam proses di direktorat jenderal." "Menunggu harmonisasi dengan kementerian lain." "Ada gugatan di PTUN."

Presiden Togog tahu apa yang terjadi. Tapi ia juga tahu, memecat menteri-menteri ini tidak akan menyelesaikan masalah. Mereka adalah representasi partai politik, dan partai politik memiliki kekuatan di parlemen. Kalau ia terlalu agresif, koalisi pemerintah bisa retak, dan proyek ASEM justru akan semakin terhambat.

"Sabar," kata Ki Semar dalam salah satu sesi diskusi malam mereka. "Dalam permainan catur, pion-pion yang tampak lemah justru sering menjadi kunci. Biarkan mereka bergerak dulu. Nanti akan ada momentum di mana semua pion itu bisa kita sikat sekaligus."

"Kapan momentum itu?"

"Ketika rakyat sudah cukup marah. Kemarahan rakyat adalah senjata paling ampuh yang dimiliki seorang pemimpin. Tapi kemarahan itu tidak bisa diciptakan. Ia harus tumbuh sendiri."


BAGIAN 11: PEMBERONTAKAN DARI BAWAH

Dan kemarahan itu mulai tumbuh.

Berawal dari sebuah unggahan di media sosial oleh seorang pemilik bengkel kecil di kota pinggiran. Ia menceritakan pengalamannya mencoba membeli ASEM. "Saya sudah pesan sejak tiga bulan lalu. Tapi katanya stok kosong. Padahal di televisi saya lihat ASEM banyak yang antre mau diekspor. Kenapa rakyat sendiri susah dapat?"

Unggahan itu viral. Rupanya, banyak yang mengalami hal serupa. Mereka yang sudah memesan ASEM harus menunggu berbulan-bulan, sementara di dealer-dealer mobil mewah, mobil impor dari Pancawati, Magada, dan Astina tersedia melimpah dengan waktu tunggu hanya seminggu.

"Ini ada yang tidak beres," tulis seorang netizen. "Katanya ASEM diproduksi massal, katanya sudah ada sepuluh pabrik. Kok produksinya sedikit sekali?"

Kecurigaan mulai merambat. Beberapa jurnalis investigatif mulai mengendus dan menemukan fakta mencengangkan: produksi ASEM memang sengaja diperlambat. Bukan oleh tim pakar, bukan oleh pekerja pabrik, tapi oleh rantai pasok yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan importir.

"Ada monopoli di sektor bahan baku," ungkap seorang jurnalis dalam laporannya. "Baja lembaran yang dibutuhkan untuk karoseri ASEM ternyata dipasok oleh perusahaan yang sama yang juga mengimpor mobil dari Magada. Perusahaan itu sengaja memperlambat pasokan baja ke pabrik ASEM, sambil mempercepat impor mobil utuh. Ini adalah konflik kepentingan yang mengerikan."

Laporan itu mengguncang. Rakyat yang tadinya hanya curiga, sekarang mulai marah. Demonstrasi kecil-kecilan mulai muncul di beberapa kota. Bukan demonstrasi besar dengan spanduk dan orasi, tapi aksi-aksi kreatif: pengendara motor yang menempelkan stiker "Saya Mau ASEM!" di helm mereka, ibu-ibu yang membuat kue dengan hiasan logo ASEM, mahasiswa yang membuat meme-meme lucu tentang para importir.

Presiden Togog melihat ini sebagai peluang. "Rakyat sudah mulai bergerak sendiri. Ini yang kita tunggu-tunggu."

Ia memanggil Jaksa Agung dan Kepala Kepolisian. "Saya ingin Anda berdua menyelidiki monopoli di sektor baja ini. Tapi jangan ditangkap dulu. Kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Saya ingin kasus ini terang benderang. Saya ingin publik melihat sendiri siapa yang selama ini mempermainkan mereka."

"Baik, Pak Presiden."

"Dan satu lagi," Presiden Togog menambahkan, "lakukan dengan tenang. Jangan ada gebrak meja, jangan ada konferensi pers bombastis. Biarkan fakta yang berbicara."

Penyelidikan berjalan selama berminggu-minggu. Tim gabungan kejaksaan dan kepolisian bekerja diam-diam, mengumpulkan dokumen, memeriksa saksi, dan membuntuti para pelaku utama. Yang mengejutkan, jaringan yang mereka bongkar jauh lebih besar dari yang diduga.

"Ini bukan sekadar satu perusahaan baja, Pak," lapor Jaksa Agung kepada Presiden Togog. "Ini adalah kartel. Perusahaan baja, perusahaan logistik, bahkan perusahaan pelabuhan, semuanya terafiliasi dengan importir dari tiga negara. Mereka sengaja menciptakan kelangkaan bahan baku untuk proyek ASEM, sementara di saat yang sama mereka memperlancar arus impor mobil utuh."

"Dan siapa dalangnya?"

"Kami menduga kuat, ada keterlibatan pejabat tinggi. Tapi untuk membuktikannya, kami butuh waktu dan kehati-hatian ekstra."

"Ambil waktu sebanyak yang Anda butuhkan. Tapi pastikan tidak ada yang lolos."


BAGIAN 12: MALAM PENGANUGERAHAN

Di tengah semua kekacauan itu, sebuah acara besar sedang dipersiapkan. Lembaga Swadaya Masyarakat bernama "Mahjong Transparansi Internasional" akan memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang dianggap berkontribusi pada kemajuan industri dalam negeri. Dan tahun ini, penerima penghargaan utamanya adalah: Presiden Togog.

Ironisnya, ketua lembaga tersebut adalah seorang pengusaha yang juga memiliki saham di perusahaan importir mobil. Mungkin ini adalah cara mereka untuk "merangkul" Presiden Togog, atau mungkin sekadar pencitraan. Yang jelas, Presiden Togog memutuskan untuk hadir.

"Saya akan datang," katanya kepada ajudannya. "Dan saya akan berpidato. Tolong siapkan naskahnya."

"Naskah seperti apa, Pak?"

"Naskah yang... asem."

Ajudannya bingung, tapi ia tidak berani bertanya lebih lanjut.

Malam penganugerahan tiba. Ballroom hotel bintang lima dipenuhi oleh para elite Mahjong: pengusaha, politisi, selebritas, dan tentu saja para importir yang selama ini menjadi musuh tak terlihat. Mereka semua mengenakan pakaian terbaik mereka. Gaun-gaun mahal, jas-jas desainer, perhiasan berkilau. Sebuah parade kemewahan yang kontras dengan pidato-pidato tentang "kerakyatan" yang akan disampaikan malam itu.

Presiden Togog datang dengan pakaian yang, seperti biasa, sederhana. Batik lengan panjang, celana hitam, sepatu pantofel. Tidak ada istri, tidak ada anak. Hanya beliau sendiri, ditemani ajudan yang membawa map berisi naskah pidato.

Acara dimulai. Satu per satu penerima penghargaan naik ke panggung. Ada pengusaha tekstil, ada petani kopi organik, ada pendiri startup teknologi. Semuanya menyampaikan pidato singkat yang isinya kurang lebih sama: terima kasih, ini untuk bangsa, kami akan terus berkarya, dan seterusnya.

Lalu tiba giliran Presiden Togog. Ia naik ke panggung dengan langkah tenang. Lampu sorot mengikutinya. Hadirin bertepuk tangan, sebagian tulus, sebagian basa-basi, sebagian lagi gugup.

Presiden Togog berdiri di depan podium. Ia membuka mapnya. Tapi bukannya membaca naskah yang sudah disiapkan, ia malah meletakkan map itu di sampingnya.

"Selamat malam, hadirin sekalian," ia memulai. "Saya berterima kasih atas penghargaan ini. Tapi izinkan saya bertanya: Apakah saya pantas menerimanya?"

Hadirin terdiam. Beberapa saling pandang bingung.

"Saya bilang sama ajudan saya tadi: siapkan naskah pidato. Tapi sepanjang perjalanan ke sini, saya berpikir: untuk apa pidato? Bukankah lebih baik kita berdialog? Berbicara dari hati ke hati?"

Ia menatap satu per satu wajah di depannya. "Di ruangan ini hadir orang-orang hebat. Ada pemilik pabrik, ada pemilik media, ada pemilik partai politik. Semuanya adalah orang-orang yang menentukan arah negeri ini. Jadi izinkan saya bertanya langsung kepada Anda semua."

Suasana menjadi tegang. Beberapa orang mulai berkeringat, meskipun AC ballroom sangat dingin.

"Kenapa ASEM dipersulit?"

Pertanyaan itu meluncur sederhana. Tapi efeknya seperti bom. Hadirin bergeming. Tidak ada yang berani bersuara.

"Saya tidak butuh jawaban sekarang," lanjut Presiden Togog. "Saya cuma ingin Anda semua merenungkan. ASEM adalah proyek bangsa. Bukan proyek saya pribadi, bukan proyek partai tertentu. ASEM dibuat oleh anak-anak muda lulusan SMK, didesain oleh profesor-profesor terbaik kita, dibiayai oleh uang rakyat. Kenapa harus dipersulit?"

Ia berjalan keluar dari podium, mendekati meja-meja tamu. "Apakah karena ASEM tidak memberi fee sepuluh persen seperti mobil impor?"

Beberapa tamu tersedak minumannya. Yang lain pura-pura batuk. Monsieur Pierre, yang hadir di meja VIP, wajahnya memucat.

"Apakah karena ASEM tidak menyetor dana kampanye ke partai politik?"

Kali ini, beberapa pimpinan partai yang hadir saling melirik gugup.

"Atau apakah karena ASEM terlalu murah, terlalu bagus, terlalu mengancam bisnis yang sudah kalian bangun bertahun-tahun?"

Presiden Togog kembali ke podium. Ia tersenyum, senyum yang ramah namun entah kenapa terasa menusuk. "Hadirin yang saya hormati. Saya tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun. Saya hanya ingin membangun. Kalau Anda semua ingin ikut membangun, pintu saya terbuka lebar. Tapi kalau Anda lebih memilih untuk menghalangi, untuk mempersulit, untuk mempermainkan rakyat... ya sudah. Tapi ingat: rakyat tidak tidur. Rakyat melihat. Dan pada akhirnya, rakyat yang akan memutuskan."

Ia menutup "pidatonya" tanpa ucapan terima kasih. Hanya anggukan kecil, lalu ia berjalan turun dari panggung. Hadirin bertepuk tangan, tapi tepukannya aneh: tidak serempak, tidak antusias, seperti orang yang bingung harus bereaksi bagaimana.

Malam itu, media sosial kembali heboh. Potongan video "pidato" Presiden Togog menyebar seperti virus. Tagar PresidenBertanya dan KenapaASEMDipersulit menjadi trending. Banyak yang memuji keberanian Presiden Togog. Tapi ada juga yang mengkritik: "Presiden jangan cuma tanya. Harusnya tangkap saja yang main-main."

Presiden Togog membaca komentar-komentar itu di ponselnya, dalam perjalanan pulang. Ia tersenyum. "Sabar," gumamnya. "Tangkapan akan datang. Tapi bukan dari saya. Dari rakyat."


BAGIAN 13: OPERASI DIAM-DIAM

Seminggu setelah malam penganugerahan yang kontroversial itu, Jaksa Agung akhirnya menyelesaikan penyelidikannya. Ia datang ke istana dengan membawa empat koper besar berisi dokumen.

"Ini bukti-buktinya, Pak Presiden. Kartel baja, manipulasi pasokan, suap ke pejabat bea cukai, aliran dana ke partai politik. Semuanya ada di sini. Total kerugian negara dari praktik ini diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah."

Presiden Togog membuka salah satu koper. Ia melihat tumpukan kertas, foto, dan flash disk. "Berapa orang yang terlibat?"

"Kalau dihitung dari CEO perusahaan sampai staf administrasi, mungkin ribuan. Tapi target utama kami ada dua puluh tujuh orang. Termasuk dua menteri, tiga anggota DPR, dan beberapa pengusaha besar."

"Dua menteri? Sebutkan namanya."

Jaksa Agung menyebutkan dua nama. Presiden Togog tidak terkejut. Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan. Dua orang yang selama ini paling getol mendorong kerja sama dengan importir asing.

"Kapan Anda bisa melakukan penangkapan?"

"Secara teknis, kami bisa besok pagi. Tapi saya perlu pertimbangan politik, Pak. Menangkap menteri dan anggota DPR akan menimbulkan guncangan politik yang besar. Koalisi bisa retak. Parlemen bisa berhenti bekerja."

Presiden Togog memandang Jaksa Agung dengan tatapan serius. "Pak Jaksa, saya paham pertimbangan Anda. Tapi saya ingin bertanya balik: mana yang lebih buruk? Guncangan politik sesaat, atau membiarkan korupsi terus berjalan dan menghancurkan industri dalam negeri kita?"

"Tentu saja yang kedua, Pak."

"Kalau begitu, lakukan tugas Anda. Tangkap semua yang terbukti bersalah. Saya yang akan menghadapi guncangan politiknya. Ini risiko yang harus saya ambil sebagai presiden."

Jaksa Agung mengangguk hormat. "Siap, Pak Presiden."

Penggerebekan dilakukan serentak keesokan paginya. Rumah-rumah mewah, kantor perusahaan, bahkan ruang kerja di gedung parlemen dan kementerian, semuanya didatangi oleh tim gabungan dengan surat perintah yang sah.

Berita penangkapan ini tentu saja meledak seperti bom nuklir. Media cetak, online, televisi, semuanya memberitakan dengan judul besar-besar. "MENTERI DITANGKAP!" "SKANDAL KARTEL BAJA!" "FEE 10 PERSEN TERBONGKAR!"

Rakyat menyambut dengan campuran kaget, senang, dan marah. Demonstrasi dadakan muncul di beberapa kota, tapi kali ini bukan demonstrasi protes, melainkan demonstrasi dukungan. "TERIMA KASIH PRESIDEN!" "BERSIHKAN SEMUANYA!" "ASEM HARUS TETAP BERJALAN!"

Partai-partai politik yang menterinya ditangkap panik. Mereka menggelar rapat darurat. Ada yang menuntut pembebasan, ada yang memilih diam, dan ada yang langsung mengambil jarak. "Kami tidak tahu-menahu soal ini. Itu urusan pribadi yang bersangkutan," kata seorang juru bicara partai di depan kamera, dengan wajah pucat.

Presiden Togog memantau semua dari istana. Ia tidak ikut senang, juga tidak ikut panik. Ia hanya tenang, seperti biasa. "Ini baru awal," katanya kepada Ki Semar yang setia menemaninya. "Yang ditangkap baru aktornya. Masih ada sutradaranya. Masih ada dalangnya."

"Siapa dalangnya, Presiden?"

"Tiga negara. Pancawati, Magada, Astina. Mereka yang membiayai semua ini. Mereka yang menyediakan fee. Mereka yang dari awal ingin ASEM mati. Tapi melawan mereka tidak bisa dengan penangkapan. Mereka di luar yurisdiksi kita."

"Lalu bagaimana?"

"Dengan cara yang sudah saya siapkan sejak lama."


BAGIAN 14: KARTU TERAKHIR

Seminggu setelah penangkapan besar-besaran itu, Presiden Togog mengumumkan kebijakan baru yang mengejutkan semua orang. Dalam konferensi pers yang disiarkan langsung ke seluruh negeri, ia menyampaikan:

"Mulai hari ini, pemerintah Mahjong menetapkan kebijakan 'Satu Pabrik, Satu Desa'. Setiap desa di Mahjong akan memiliki setidaknya satu pabrik kecil yang memproduksi komponen untuk ASEM. Pemerintah akan memberikan bantuan modal, pelatihan, dan akses pasar. Targetnya: dalam dua tahun, Mahjong akan memiliki lima ribu pabrik komponen yang tersebar di seluruh pelosok negeri."

Para wartawan terkejut. "Lima ribu pabrik, Pak? Itu ambisius sekali."

"Ambisius? Tentu saja. Membangun bangsa harus ambisius. Tidak boleh setengah-setengah."

"Tapi bagaimana dengan pendanaannya? Bukankah APBN sudah terbebani?"

"Pendanaan akan dilakukan dengan skema baru: Koperasi Desa. Setiap desa akan membentuk koperasi yang sahamnya dimiliki oleh warga desa itu sendiri. Pemerintah hanya menyediakan pinjaman lunak dan jaminan pasar. Keuntungan akan kembali ke desa, bukan ke segelintir pengusaha."

Kebijakan ini langsung disambut meriah oleh rakyat, terutama di pedesaan. Ribuan desa mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari program "Satu Pabrik, Satu Desa". Para lulusan SMK yang selama ini menganggur melihat harapan baru. Mereka akan bekerja di desa sendiri, tidak perlu merantau ke kota, tidak perlu antre lowongan kerja yang sedikit.

Tapi kebijakan ini juga memiliki efek lain yang tidak kalah penting: memukul telak para importir.

Dengan ribuan pabrik kecil yang tersebar, rantai pasok ASEM menjadi sangat terdiversifikasi. Tidak ada lagi satu atau dua perusahaan besar yang bisa memonopoli pasokan bahan baku. Kalau satu pabrik bermasalah, masih ada ribuan pabrik lain yang siap menggantikan. Kartel menjadi tidak relevan.

"Ini jenius," komentar seorang pengamat ekonomi. "Presiden Togog tidak hanya melawan kartel dengan penegakan hukum. Ia melawan kartel dengan mengubah struktur pasarnya sendiri."

Monsieur Pierre, Mr. Watanabe, dan Mrs. Narayan, yang masih berada di Mahjong dan belum tersentuh hukum karena status kewarganegaraan mereka, menyaksikan perkembangan ini dengan perasaan campur aduk. Mereka kalah. Rencana mereka yang sudah disusun rapi, uang yang sudah dikeluarkan, lobi-lobi yang sudah dilakukan, semuanya sia-sia.

"Kita harus angkat kaki," kata Monsieur Pierre dengan nada muram.

"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan?" tanya Mr. Watanabe.

"Kita bisa menunggu. Siapa tahu program ini gagal. Tapi sejujurnya, saya tidak yakin. Presiden ini berbeda. Dia tidak hanya pandai berpidato. Dia juga pandai mengeksekusi."

Mrs. Narayan menambahkan, "Dan yang paling berbahaya, dia punya dukungan rakyat yang tulus. Itu yang membuat semua serangan kita mental."

Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk keluar dari Mahjong. Bukan karena diusir, tapi karena bisnis mereka sudah tidak lagi menguntungkan. Siapa yang mau membeli mobil impor kalau ada mobil lokal yang lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan didukung oleh seluruh negeri?


EPILOG: DI BAWAH POHON RINDANG

Setahun kemudian.

Presiden Togog duduk di beranda rumah masa kecilnya di sebuah desa kecil di pegunungan. Ini adalah liburan pertamanya setelah bertahun-tahun bekerja nonstop. Di sampingnya, Ki Semar duduk bersila, menikmati semilir angin pegunungan.

"Ki, apa aku sudah berhasil?" tanya Presiden Togog, matanya menerawang ke lembah di bawah.

"Menurutmu sendiri?"

"Aku tidak tahu. Kadang aku merasa sudah melakukan banyak hal. Tapi kadang aku merasa masih kurang."

"Itu tandanya kau pemimpin yang baik. Pemimpin yang buruk selalu merasa sudah cukup, padahal tidak."

Presiden Togog tertawa kecil. "Ki, kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik."

Di kejauhan, terdengar suara klakson. Sebuah mobil ASEM berwarna hijau melintas di jalan desa yang berkelok-kelok. Dari dalam mobil, seorang anak kecil melambai-lambaikan tangan.

"Lihat itu, Ki. Itu yang membuat semuanya sepadan."

"Ya. Kau tidak hanya membangun mobil. Kau membangun harapan."

Mereka berdua duduk dalam diam. Matahari perlahan turun di balik gunung. Langit berubah menjadi jingga, lalu ungu, lalu gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan, satu per satu.

"Ki, menurutmu, apa yang akan dikenang dari masa kepemimpinanku nanti?"

"Tergantung. Kalau yang menulis sejarah adalah kawan-kawanmu, kau akan dikenang sebagai pahlawan. Kalau musuhmu, kau akan dikenang sebagai populis gila."

"Dan kalau rakyat yang menulis?"

Ki Semar tersenyum. "Rakyat tidak menulis sejarah. Mereka menjalaninya. Tapi kalau kau tanya apa yang akan mereka ingat, aku rasa sederhana: mereka akan ingat bahwa pernah ada seorang presiden yang benar-benar peduli. Yang tidak hanya bicara, tapi bekerja. Yang tidak hanya berjanji, tapi membuktikan."

Presiden Togog tersenyum. Ia menatap bintang-bintang di atas sana. "Itu sudah cukup, Ki. Itu sudah lebih dari cukup."

Di ibu kota, di sebuah kafe kecil dekat pabrik ASEM Sidosuwung, beberapa pekerja shift malam sedang menikmati kopi sebelum pulang. Mereka berbicara tentang banyak hal: tentang keluarga, tentang rencana liburan, tentang rumor kenaikan gaji.

"Eh, kalian tahu nggak? Katanya pabrik kita mau nambah dua shift lagi."

"Iya, aku juga dengar. Soalnya pesanan dari luar negeri meningkat."

"Luar negeri? Maksudnya ekspor?"

"Iya. Negara tetangga pada pesan ASEM. Katanya murah, irit, dan ramah lingkungan. Siapa yang nggak mau?"

"Wah, hebat ya. Dulu kita cuma jadi pasar. Sekarang kita jadi pemain."

"Semua berkat Pak Togog."

Mereka mengangkat gelas kopi, bersulang untuk presiden mereka. Bukan untuk memujanya, bukan untuk mengkultuskannya. Tapi untuk menghormatinya. Untuk menghormati seorang pemimpin yang berani bermimpi, dan, yang lebih penting, berani mewujudkan mimpinya.

Malam semakin larut. Kota mulai redup. Tapi di pabrik-pabrik ASEM, lampu-lampu tetap menyala. Mesin-mesin terus berdengung. Roda-roda terus berputar. Dan di jalan-jalan, mobil-mobil ASEM terus melaju, membawa mimpi-mimpi kecil dari jutaan rakyat Mahjong.


TAMAT

Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi. Kalau ada kesamaan dengan realitas, itu cuma kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, karena realitas kadang lebih absurd daripada fiksi.

Posting Komentar

0 Komentar