"Sebuah kekeliruan yang sudah berlangsung selama berabad-abad, harus diakui," tulisnya kemudian, "Kesalahan ini bukanlah kesalahan kecil; ini adalah kesalahan mendasar yang telah mengaburkan pemahaman kita tentang mengapa negara berperang, mengapa mereka bekerja sama, dan apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan" (Al-Rodhan, 2007, hlm. 1-2).
Ahli bedah itu adalah Nayef Al-Rodhan, seorang filsuf, neurosaintis, dan geostrategis kelahiran Arab Saudi yang menempuh pendidikan di Yale, Mayo Clinic, dan Harvard sebelum akhirnya bermukim di Oxford dan Geneva Centre for Security Policy (Saudipedia, 2026). Jawabannya terhadap kegelisahan intelektualnya adalah Symbiotic Realism, sebuah pendekatan transdisipliner yang mengintegrasikan temuan-temuan termutakhir dari ilmu saraf, biologi evolusioner, dan neuropsikologi ke dalam teori realis Hubungan Internasional.
Tidak seperti realis klasik yang mendasarkan pandangan pesimis mereka tentang sifat manusia pada spekulasi filosofis, entah itu Hobbes dengan "manusia serigala bagi manusia lainnya" atau Morgenthau dengan animus dominandi-nya, Al-Rodhan (2007) berusaha melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: Ia menempatkan ilmu saraf sebagai fondasi empiris untuk memahami mengapa negara berperilaku seperti yang mereka lakukan. Baginya, "sifat manusia bukanlah abstraksi filosofis yang dapat direka-reka oleh para pemikir di ruang seminar yang nyaman; ia adalah realitas neurobiologis yang dapat dipelajari, diukur, dan, yang paling penting, dikelola" (hlm. 44-45).
Esai ini bertujuan untuk membedah Symbiotic Realism secara mendalam: Fondasi teoretisnya, kontribusi uniknya terhadap disiplin HI, serta relevansinya dalam memahami dinamika politik internasional kontemporer. Menggunakan gaya bahasa populer yang mudah diakses, esai ini akan menunjukkan bahwa Symbiotic Realism, meskipun belum menjadi arus utama, menawarkan perspektif yang sangat diperlukan untuk memahami kompleksitas hubungan internasional abad ke-21.
Fondasi Teoretis
Untuk memahami Symbiotic Realism, kita harus memulai dari fondasi paling dasarnya: Sifat manusia. Seluruh teori HI, baik realisme, liberalisme, maupun konstruktivisme, dibangun di atas asumsi tertentu tentang sifat manusia. Kaum realis, mengikuti Hobbes dan Morgenthau, percaya bahwa manusia pada dasarnya egois, kompetitif, dan haus kekuasaan (Al-Rodhan & Puscas, 2021, hlm. 118). Kaum liberal, mengikuti Kant, percaya bahwa manusia memiliki kapasitas bawaan untuk nalar dan kerja sama. Namun, sebagaimana dicatat oleh Al-Rodhan (2008, hlm. 11-12), kedua posisi ini memiliki kelemahan yang sama: keduanya didasarkan pada spekulasi, bukan pada bukti ilmiah.Memasuki abad ke-21, kemajuan dalam ilmu saraf, khususnya pencitraan otak fungsional (functional magnetic resonance imaging atau fMRI), telah memungkinkan para peneliti untuk mengamati otak manusia secara real-time ketika membuat keputusan, merasakan emosi, dan berinteraksi dengan orang lain. Temuan-temuan ini, menurut Al-Rodhan (2008), secara fundamental menantang asumsi-asumsi yang mendasari teori HI tradisional.
Symbiotic Realism berpendapat bahwa "sifat manusia tidak dapat direduksi menjadi satu esensi tunggal, baik atau jahat, egois atau altruistik, melainkan merupakan produk dari interaksi kompleks antara predisposisi genetik, neurokimia, dan lingkungan" (Al-Rodhan, 2007, hlm. 60-61). Lebih lanjut, Al-Rodhan (2015) menegaskan: "Saya berpendapat bahwa manusia pada dasarnya amoral. Gagasan amoralitas menyiratkan bahwa kita bukan produk dari kehendak bebas murni, juga bukan sepenuhnya dari genetika" (paragraf 5).
Dengan kata lain, Symbiotic Realism menolak dikotomi sederhana "manusia baik" versus "manusia jahat" yang telah mendominasi pemikiran politik Barat selama berabad-abad. Sebagai gantinya, ia menawarkan pemahaman yang lebih bernuansa: Manusia dilahirkan dengan serangkaian predisposisi neurobiologis, tetapi lingkunganlah yang sangat menentukan bagaimana predisposisi tersebut diekspresikan.
Untuk memahami bagaimana sifat manusia bekerja menurut Symbiotic Realism, kita perlu menyelami teori Emotional Amoral Egoism (EAE), kontribusi neurofilosofis Al-Rodhan yang menjadi fondasi Symbiotic Realism. EAE adalah teori tentang sifat manusia yang didasarkan pada temuan-temuan neurosains kontemporer, dan ia memiliki tiga komponen utama:
Pertama, emosionalitas. Al-Rodhan (2008) berargumen bahwa "manusia pada dasarnya adalah makhluk emosional yang kemampuan rasionalnya dibangun di atas fondasi emosional" (hlm. 65). Ini adalah klaim yang revolusioner jika dilihat dalam konteks teori HI. Selama berabad-abad, teori HI, terutama dalam tradisi realis, mengasumsikan bahwa negara adalah aktor rasional yang membuat keputusan berdasarkan kalkulasi untung-rugi yang dingin. Symbiotic Realism membalikkan asumsi ini: Bahkan keputusan yang tampak paling "rasional" pun didorong oleh emosi, karena "emosi dan kognisi tidak dapat dipisahkan di dalam otak manusia" (Al-Rodhan, 2015, paragraf 12).
Secara neurobiologis, emosi dimediasi oleh neurotransmitter seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin, serta oleh struktur otak seperti amigdala (yang memproses rasa takut dan agresi), hipotalamus (yang mengatur respons stres), dan korteks prefrontal (yang terlibat dalam pengambilan keputusan). Studi-studi neuroscience, sebagaimana dicatat oleh Al-Rodhan (2025), menunjukkan bahwa "respons emosional seringkali mendahului dan membentuk penilaian kognitif" dan bahwa "proses pengambilan keputusan pada dasarnya bergantung pada mekanisme neural yang terkait dengan emosi" (hlm. 4-5).
Kedua, amoralitas. Berbeda dengan Hobbes yang menganggap manusia jahat dan Rousseau yang menganggap manusia baik, Al-Rodhan (2008) berargumen bahwa manusia pada dasarnya amoral, bukan baik atau jahat secara inheren. "Keadaan amoralitas ini berarti bahwa manusia dilahirkan dengan predisposed tabula rasa," tulis Al-Rodhan (2015), "bebas dari ide-ide bawaan tetapi memiliki kecenderungan tertentu untuk bertahan hidup yang dikodekan oleh genetika. Lingkunganlah yang sangat membentuk apakah kecenderungan ini akan menghasilkan perilaku moral atau immoral" (paragraf 7-8).
Ketiga, egoisme. Komponen terakhir EAE adalah pengakuan bahwa "dorongan untuk mempertahankan diri, suatu bentuk dasar egoisme, adalah motivasi utama bagi manusia, sebagaimana seharusnya agar proses evolusi dapat berfungsi" (Al-Rodhan, 2015, paragraf 13). Namun, penting untuk dicatat bahwa egoisme dalam kerangka EAE bukanlah egoisme sempit yang hanya peduli pada diri sendiri. Sebaliknya, ini adalah "egoisme emosional" yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki, identitas positif, dan pengakuan sosial. "Ego," tulis Al-Rodhan (2015), "melibatkan negosiasi antara kebutuhan batin dan konteks sosial, serta memerlukan rasa memiliki dan identitas positif" (paragraf 14). Dengan kata lain, manusia egois, tetapi egoisme mereka seringkali diekspresikan melalui kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok, sebuah wawasan yang memiliki implikasi mendalam untuk memahami nasionalisme, konflik etnis, dan politik identitas.
Salah satu kritik paling mendasar terhadap teori HI tradisional adalah penggunaan analogi antara individu manusia dan negara. Realisme klasik, dari Hobbes hingga Morgenthau, mendasarkan teorinya pada analogi ini: sebagaimana manusia dalam keadaan alamiah saling berperang, demikian pula negara dalam sistem internasional yang anarkis. Namun, sebagaimana dicatat oleh Al-Rodhan dan Puscas (2021), analogi ini "telah dipertahankan tanpa dasar empiris yang memadai" karena "realis klasik tidak memiliki akses ke pengetahuan tentang bagaimana otak manusia benar-benar bekerja" (hlm. 120-121).
Symbiotic Realism tidak menolak analogi antara individu dan negara; melainkan, ia memperbaruinya dengan landasan neurosaintifik. Jika negara adalah cerminan dari manusia yang membentuknya, pemimpin, pembuat kebijakan, diplomat, warga negara, maka pemahaman yang akurat tentang sifat manusia sangat penting untuk memahami perilaku negara. Al-Rodhan (2007) menulis bahwa "negara, seperti halnya individu, digerakkan oleh kombinasi antara kebutuhan bertahan hidup, rasa takut, ambisi, dan pencarian pengakuan... tetapi berbeda dengan individu, negara beroperasi dalam lingkungan di mana tidak ada otoritas pusat yang dapat memaksakan ketertiban" (hlm. 95-96).
Namun, Symbiotic Realism juga mengakui bahwa analogi ini memiliki keterbatasan. Negara bukanlah individu; negara adalah entitas kompleks yang terdiri dari berbagai aktor dengan kepentingan yang beragam. Oleh karena itu, Symbiotic Realism tidak mereduksi perilaku negara menjadi sekadar refleksi dari sifat manusia. Sebaliknya, ia berargumen bahwa "struktur institusional, budaya strategis, dan dinamika birokratis memediasi antara predisposisi manusia dan kebijakan luar negeri" (Al-Rodhan, 2025, hlm. 7). Dengan kata lain, sifat manusia menetapkan parameter dasar dari apa yang mungkin dalam politik internasional, tetapi tidak mendeterminasi hasil secara mekanis.
Setelah memahami fondasi neurofilosofisnya, kita dapat mengidentifikasi empat pilar yang membentuk arsitektur teoretis Symbiotic Realism:
Pilar pertama: Interdependensi. Symbiotic Realism berargumen bahwa dunia kontemporer dicirikan oleh saling ketergantungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam hal keamanan, lingkungan, dan identitas. Dalam dunia yang saling terhubung, "kepentingan nasional tidak dapat dicapai secara berkelanjutan tanpa mempertimbangkan kepentingan transnasional dan bahkan transplanetari," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 12). Ini adalah penyimpangan signifikan dari realisme klasik, yang cenderung melihat dunia dalam istilah zero-sum: Keuntungan satu negara adalah kerugian negara lain. Symbiotic Realism, sebaliknya, mengakui bahwa dalam banyak domain, dari perubahan iklim hingga pandemi, dari terorisme hingga keamanan siber, keamanan satu aktor bergantung pada keamanan aktor lainnya (Al-Rodhan, 2007, hlm. 132-135).
Pilar kedua: Konektivitas instan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menciptakan dunia di mana informasi menyebar secara instan melintasi batas negara. Ini memiliki implikasi yang mendalam bagi politik internasional. "Dalam dunia yang saling terhubung secara instan," tulis Al-Rodhan (2007), "persepsi tentang ketidakadilan, penghinaan, atau ancaman dapat menyebar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memobilisasi opini publik dan menciptakan tekanan yang sulit dikendalikan oleh pemerintah" (hlm. 112). Faktor emosional dalam politik internasional, yang diremehkan oleh realisme klasik, menjadi semakin penting dalam era konektivitas instan.
Pilar ketiga: Anarki global. Meskipun mengakui pentingnya interdependensi, Symbiotic Realism tidak jatuh ke dalam utopianisme. Ia tetap mengakui bahwa sistem internasional pada dasarnya anarkis, tidak ada otoritas pusat yang dapat memaksakan ketertiban. "Anarki bukanlah kondisi yang dapat diatasi melalui institusi atau norma semata," tulis Al-Rodhan (2007, hlm. 140-141). Namun, berbeda dengan realisme ofensif yang melihat anarki sebagai kondisi yang tak terhindarkan mengarah pada konflik, Symbiotic Realism berpendapat bahwa anarki dapat dikelola melalui kombinasi kendala institusional, saling ketergantungan, dan pemahaman yang lebih baik tentang sifat manusia.
Pilar keempat: Substrat neurobiologis. Pilar yang paling inovatif dari Symbiotic Realism adalah pengakuannya bahwa hubungan internasional harus dipahami dalam konteks substrat neurobiologis manusia. "Para pemimpin negara bukanlah mesin kalkulasi rasional; mereka adalah manusia dengan otak yang telah dibentuk oleh jutaan tahun evolusi," tulis Al-Rodhan (2025). "Memahami sirkuit neural yang mendasari rasa takut, agresi, kepercayaan, dan kerja sama sangat penting untuk memahami mengapa negara kadang-kadang membuat keputusan yang tampaknya irasional" (hlm. 8).
Keempat pilar ini membentuk kerangka kerja yang koheren. Interdependensi dan konektivitas instan adalah ciri-ciri dunia kontemporer; anarki global adalah kondisi struktural yang bertahan; dan substrat neurobiologis adalah fondasi manusiawi yang mendasari semuanya. Symbiotic Realism berargumen bahwa hanya dengan memahami keempat elemen ini secara bersama-sama, bukan secara terpisah, kita dapat memahami dinamika politik internasional kontemporer.
Dalam artikelnya yang terbit di Frontiers in Political Science, artikel yang dapat dianggap sebagai pernyataan paling komprehensif tentang Symbiotic Realism hingga saat ini, Al-Rodhan (2025) mengidentifikasi tujuh kekuatan interdependen yang membentuk lanskap kontemporer Hubungan Internasional (hlm. 2-3):
- Kemajuan teknologi disruptif, termasuk kecerdasan buatan, komputasi kuantum, bioteknologi, dan neuroteknologi. Teknologi-teknologi ini tidak hanya mengubah sifat peperangan dan spionase, tetapi juga menantang pemahaman kita tentang apa artinya menjadi manusia.
- Perubahan peran aktor non-negara, termasuk korporasi multinasional, LSM, kelompok teroris, dan bahkan individu-individu yang memiliki akses ke teknologi yang sebelumnya hanya dimiliki oleh negara.
- Munculnya domain strategis baru, termasuk luar angkasa, dunia maya, dan neurosphere, ruang di mana otak manusia dan kesadarannya menjadi arena persaingan geopolitik.
- Risiko perbatasan peradaban kolektif (collective civilizational frontier risks), termasuk perubahan iklim, pandemi, dan risiko eksistensial lainnya yang tidak dapat ditangani oleh satu negara sendirian.
- Intensifikasi perpecahan historis transkultural sub-nasional dan supra-nasional, yang mencakup kebangkitan politik identitas, nasionalisme etnis, dan konflik peradaban.
- Persenjataan saling ketergantungan ekonomi (weaponization of economic interdependence), di mana rantai pasok, sistem keuangan, dan infrastruktur energi digunakan sebagai senjata dalam persaingan geopolitik.
- Predisposisi sifat manusia, kekuatan ketujuh yang "secara mendalam mempengaruhi" enam kekuatan lainnya. Tanpa memahami predisposisi manusia, kita tidak dapat memahami bagaimana enam kekuatan lainnya beroperasi atau bagaimana mereka dapat dikelola.
Symbiotic Realism dan Teori HI Tradisional
Untuk menghargai kontribusi Symbiotic Realism, kita harus membandingkannya dengan mazhab-mazhab HI yang sudah mapan. Realisme klasik, yang diwakili oleh Hans Morgenthau, E.H. Carr, dan Reinhold Niebuhr, mendasarkan teorinya pada pandangan pesimis tentang sifat manusia. Bagi Morgenthau (1948), "politik, seperti masyarakat pada umumnya, diatur oleh hukum objektif yang berakar pada sifat manusia" (hlm. 4). Hukum-hukum ini, menurutnya, bersifat abadi dan tidak berubah.Symbiotic Realism setuju dengan realisme klasik bahwa sifat manusia adalah fondasi yang tepat untuk teori HI. Namun, ia secara fundamental berbeda dalam pemahamannya tentang apa itu sifat manusia. Al-Rodhan (2025) berargumen bahwa "realisme klasik mengandalkan spekulasi filosofis yang belum diverifikasi tentang sifat manusia," sementara Symbiotic Realism "mendasarkan pemahamannya pada bukti neurosaintifik" (hlm. 4). Dengan kata lain, Symbiotic Realism setuju dengan pertanyaan yang diajukan oleh realisme klasik, apa sifat manusia dan bagaimana ia membentuk politik internasional?, tetapi memberikan jawaban yang berbeda dan, menurut Al-Rodhan, lebih akurat secara ilmiah.
Perbedaan utama lainnya adalah bahwa Symbiotic Realism tidak sepesimis realisme klasik. Jika realisme klasik melihat konflik sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan dari sifat manusia yang cacat, Symbiotic Realism berpendapat bahwa "karena sifat manusia tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh keadaan, maka ia dapat dikelola melalui tata kelola yang baik dan institusi yang dirancang dengan tepat" (Al-Rodhan, 2008, hlm. 149-150). Ini bukanlah idealisme naif; ini adalah keyakinan yang didasarkan pada neuroplastisitas, kemampuan otak untuk berubah sebagai respons terhadap pengalaman. Jika otak dapat berubah, maka manusia dapat belajar; dan jika manusia dapat belajar, maka negara pun dapat belajar.
Neorealisme, sebagaimana diartikulasikan oleh Kenneth Waltz (1979), mengalihkan fokus dari sifat manusia ke struktur sistem internasional. Bagi Waltz (1979), "struktur sistem internasional, bukan sifat manusia, adalah penyebab utama perilaku negara" (hlm. 79). Dalam sistem yang anarkis, semua negara, terlepas dari rezim domestik mereka, pada dasarnya berperilaku sama: mereka menyeimbangkan kekuasaan, membentuk aliansi, dan bersaing untuk keamanan.
Symbiotic Realism mengakui pentingnya struktur, tetapi menolak determinisme struktural neorealisme. Bagi Al-Rodhan, anarki bukanlah kondisi yang sepenuhnya menentukan; ia adalah konteks di mana agensi manusia beroperasi. "Struktur membatasi pilihan," tulis Al-Rodhan (2007, hlm. 142-143), "tetapi ia tidak menghilangkan agensi. Pemimpin negara, dengan segala kompleksitas neurobiologis dan emosional mereka, membuat pilihan dalam batasan struktural."
Lebih penting lagi, Symbiotic Realism berargumen bahwa neorealisme gagal memperhitungkan bagaimana struktur itu sendiri berubah. Dalam dunia kontemporer, "teknologi disruptif, aktor non-negara, dan saling ketergantungan ekonomi telah secara fundamental mengubah struktur sistem internasional," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 5). Anarki mungkin tetap menjadi kondisi dasar, tetapi sifat anarki telah berubah: Anarki di era digital, di mana informasi menyebar secara instan dan aktor non-negara dapat menimbulkan kerusakan yang sebelumnya hanya mungkin dilakukan oleh negara, berbeda secara fundamental dari anarki yang digambarkan oleh Waltz pada 1979.
Liberalisme, dalam berbagai bentuknya, juga dibangun di atas asumsi tertentu tentang sifat manusia. Kaum liberal percaya bahwa manusia memiliki kapasitas untuk nalar, kerja sama, dan kemajuan moral. Mereka juga percaya bahwa institusi dapat mengatasi keterbatasan anarki dan memungkinkan kerja sama yang saling menguntungkan. "Pandangan liberal tentang sifat manusia," tulis Al-Rodhan (2025), "sama spekulatifnya dengan pandangan realis", bedanya, liberalisme optimis sementara realisme pesimis. Keduanya, menurut Al-Rodhan, gagal untuk mendasarkan asumsi mereka pada bukti ilmiah tentang bagaimana otak manusia benar-benar bekerja (hlm. 6).
Symbiotic Realism setuju dengan liberalisme bahwa kerja sama dimungkinkan dan bahwa institusi penting. Namun, ia memberikan alasan yang berbeda: kerja sama dimungkinkan bukan karena manusia pada dasarnya baik atau rasional, melainkan karena otak manusia memiliki kapasitas untuk empati, kepercayaan, dan pembelajaran. "Cermin neuron (mirror neurons)," tulis Al-Rodhan (2008), "memungkinkan manusia untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain, sebuah dasar neurobiologis untuk empati yang memungkinkan kerja sama bahkan di antara aktor yang egois" (hlm. 145-146).
Konstruktivisme, yang menekankan bahwa realitas sosial dibangun melalui ide, norma, dan interaksi, juga menemukan sekutu dalam Symbiotic Realism. Al-Rodhan (2007) setuju bahwa "norma, identitas, dan ide membentuk perilaku negara" (hlm. 148). Namun, ia berargumen bahwa konstruktivisme perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang substrat neurobiologis yang memungkinkan konstruksi sosial. "Norma tidak hanya 'mengambang' di ruang ide; mereka diinternalisasi oleh otak manusia, yang memprosesnya melalui mekanisme neural yang spesifik," tulisnya (Al-Rodhan, 2025, hlm. 6-7). Dengan kata lain, Symbiotic Realism berusaha untuk memberikan fondasi material, dalam arti neurobiologis, bagi wawasan-wawasan konstruktivis.
Relevansi dalam Politik Internasional
Setelah memahami fondasi teoretis Symbiotic Realism dan posisinya dalam lanskap teori HI, kita beralih ke pertanyaan yang paling mendesak: Sejauh mana pendekatan ini relevan untuk memahami dinamika politik internasional kontemporer? Bagian ini mengeksplorasi empat arena di mana Symbiotic Realism menawarkan wawasan yang lebih kaya daripada perspektif HI tradisional.Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 adalah contoh yang kuat tentang bagaimana perspektif neurosaintifik dapat memperkaya pemahaman kita tentang konflik internasional. Analisis konvensional, baik dari perspektif realis yang menekankan ekspansi NATO dan kalkulasi strategis Rusia, maupun dari perspektif liberal yang menyoroti pelanggaran norma internasional, memberikan wawasan penting, tetapi tidak lengkap.
Dari perspektif Symbiotic Realism, invasi Rusia tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan faktor emosional dan neurobiologis. Vladimir Putin, seperti semua pemimpin manusia, bukanlah mesin kalkulasi rasional. Keputusannya dipengaruhi oleh emosi yang dimediasi secara neurokimia: Kebanggaan yang terluka oleh runtuhnya Uni Soviet, ketakutan akan pengepungan oleh NATO, dan, mungkin yang paling penting, kebutuhan akan pengakuan dan rasa hormat. "Penghinaan (humiliation)," tulis Al-Rodhan (2025), "adalah salah satu emosi paling kuat dalam politik internasional. Secara neurobiologis, penghinaan mengaktifkan sirkuit neural yang sama dengan rasa sakit fisik, dan respons terhadapnya seringkali agresif dan tidak proporsional" (hlm. 10).
Ini bukan berarti bahwa Symbiotic Realism "memaafkan" invasi Rusia atau mereduksinya menjadi sekadar reaksi emosional. Sebaliknya, ia berargumen bahwa analisis yang lengkap harus mempertimbangkan interaksi antara faktor struktural (ekspansi NATO, anarki sistemik) dan faktor manusiawi (emosi pemimpin, persepsi ancaman yang dimediasi oleh neurokimia, identitas nasional yang terluka). Analisis semacam itu tidak hanya lebih akurat secara deskriptif, tetapi juga lebih berguna secara preskriptif: jika kita memahami bagaimana emosi berkontribusi pada konflik, kita dapat merancang intervensi yang lebih efektif untuk mengelolanya.
Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok adalah arena lain di mana Symbiotic Realism menawarkan wawasan yang berharga. Analisis realis tradisional melihat rivalitas ini dalam istilah transisi kekuasaan: Kekuatan yang bangkit (Tiongkok) menantang kekuatan yang mapan (AS), dan pertanyaannya adalah apakah transisi ini akan berlangsung damai atau penuh kekerasan.
Symbiotic Realism tidak menolak analisis transisi kekuasaan, tetapi memperkayanya dengan wawasan neurosaintifik. "Animus dominandi, hasrat untuk mendominasi, yang oleh Morgenthau dianggap sebagai sifat bawaan manusia, sebenarnya adalah produk dari sirkuit neural yang dapat dipelajari dan dimodulasi," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 11). Dengan kata lain, hasrat untuk mendominasi bukanlah takdir biologis; ia adalah kecenderungan yang dapat diperkuat atau dilemahkan oleh keadaan.
Hal yang lebih penting, Symbiotic Realism mengingatkan kita bahwa rivalitas AS-Tiongkok terjadi dalam konteks interdependensi yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Dalam dunia yang saling terhubung," tulis Al-Rodhan (2025), "konflik zero-sum antara dua kekuatan besar akan menghancurkan tidak hanya bagi mereka yang terlibat, tetapi juga bagi seluruh sistem global" (hlm. 12). Oleh karena itu, kedua negara memiliki insentif, yang dapat dipahami melalui lensa neurobiologis sebagai kombinasi rasa takut dan kepentingan diri yang tercerahkan, untuk mengelola rivalitas mereka secara bertanggung jawab.
Perspektif Symbiotic Realism tentang rivalitas AS-Tiongkok juga relevan dalam konteks teknologi disruptif. Kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan neuroteknologi tidak hanya mengubah sifat persaingan militer dan ekonomi; mereka juga mengubah cara otak manusia memproses informasi dan membuat keputusan. "Dalam era di mana algoritma dapat memanipulasi emosi manusia melalui media sosial dan di mana deepfake dapat menciptakan realitas alternatif yang meyakinkan," tulis Al-Rodhan (2025), "pemahaman tentang substrat neurobiologis pengambilan keputusan menjadi semakin penting" (hlm. 13-14).
Perang di Gaza (2023-sekarang) adalah contoh yang menyakitkan tentang bagaimana politik identitas dan emosi kolektif dapat memicu konflik yang tampaknya tidak dapat diselesaikan. Analisis realis tradisional tentang konflik Israel-Palestina berfokus pada faktor-faktor seperti teritori, keamanan, dan distribusi kekuasaan. Analisis liberal menekankan pentingnya institusi dan norma. Namun, kedua perspektif ini kesulitan menjelaskan mengapa konflik ini begitu sulit diselesaikan, bahkan ketika solusi teknis tampaknya tersedia.
Dari perspektif Symbiotic Realism, konflik Israel-Palestina tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan emotional amoral egoism yang beroperasi pada tingkat kolektif. "Manusia mencari tidak hanya kelangsungan hidup fisik, tetapi juga kelangsungan hidup psikologis, rasa memiliki, identitas positif, dan pengakuan," tulis Al-Rodhan (2008, hlm. 175). Ketika identitas kolektif terancam, apakah itu identitas Yahudi Israel atau identitas Palestina, responsnya seringkali tidak proporsional terhadap ancaman material yang sebenarnya.
Symbiotic Realism juga menjelaskan mengapa trauma historis memiliki daya tahan yang begitu kuat dalam konflik ini. "Secara neurobiologis, ingatan traumatis disimpan secara berbeda di otak dibandingkan ingatan biasa," tulis Al-Rodhan (2025). "Mereka melibatkan amigdala dan sistem limbik dengan cara yang membuatnya sangat resisten terhadap 'logika' atau 'fakta'" (hlm. 15). Holocaust, Nakba, perang-perang berturut-turut, semuanya telah menciptakan jejak neural yang dalam yang terus membentuk perilaku kedua belah pihak, seringkali dengan cara-cara yang tampaknya irasional dari perspektif kalkulasi strategis murni.
Ini bukan berarti bahwa Symbiotic Realism menawarkan solusi ajaib untuk konflik Israel-Palestina. Sebaliknya, ia berargumen bahwa solusi apa pun harus memperhitungkan dimensi neurobiologis dan emosional dari konflik tersebut. "Rekonsiliasi," tulis Al-Rodhan (2007), "bukan hanya proses politik; ia juga merupakan proses neurobiologis. Ia memerlukan penciptaan kondisi di mana otak dapat 'belajar' kepercayaan dan empati, bukan rasa takut dan kebencian" (hlm. 192).
Tidak ada isu yang lebih jelas mengilustrasikan tesis Symbiotic Realism selain ancaman-ancaman eksistensial kolektif seperti perubahan iklim dan pandemi. Dalam kedua kasus ini, "kepentingan nasional" dalam arti tradisional menjadi tidak relevan: Tidak ada satu negara pun yang dapat melindungi dirinya sendiri dari perubahan iklim atau pandemi melalui tindakan unilateral. Dalam istilah Symbiotic Realism, ini adalah contoh dari symbiosis paksa, kondisi di mana kelangsungan hidup satu aktor secara inheren bergantung pada kerja sama dengan aktor lain.
Gagasan symbiosis ini, yang merupakan inti dari nama teori ini, menantang asumsi realis tradisional bahwa hubungan internasional pada dasarnya zero-sum. "Symbiotic Realism mengakui bahwa sementara kompetisi tetap menjadi fitur fundamental politik internasional, interdependensi telah mencapai titik di mana kerja sama bukan lagi pilihan, ia adalah keniscayaan," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 18).
Namun, Symbiotic Realism tidak naif tentang kemungkinan kerja sama. "Kerja sama tidak akan muncul secara otomatis hanya karena ia rasional," tulis Al-Rodhan dan Puscas (2021). "Otak manusia telah berevolusi untuk memprioritaskan ancaman langsung dan konkret daripada ancaman jangka panjang dan abstrak. Secara neurobiologis, lebih sulit untuk memobilisasi respons terhadap perubahan iklim, yang efeknya bertahap dan tersebar, daripada terhadap invasi militer, yang efeknya langsung dan terlihat" (hlm. 131).
Inilah mengapa Symbiotic Realism menekankan pentingnya tata kelola global yang efektif. "Institusi global harus dirancang dengan pemahaman tentang bagaimana otak manusia benar-benar bekerja, bukan bagaimana kita berharap ia bekerja," tulis Al-Rodhan (2007, hlm. 219). Ini berarti, antara lain, bahwa institusi harus mampu menerjemahkan ancaman jangka panjang ke dalam insentif jangka pendek yang dapat dipahami oleh otak manusia yang telah berevolusi untuk bertahan hidup di savana Afrika, bukan untuk mengelola risiko global yang kompleks.
Kontribusi Konseptual Symbiotic Realism
Salah satu kontribusi konseptual paling penting dari Symbiotic Realism adalah konsep multi-sum security. Keamanan, dalam kerangka Symbiotic Realism, bukanlah permainan zero-sum di mana keamanan satu aktor diperoleh dengan mengorbankan aktor lain. Sebaliknya, dalam dunia yang saling tergantung, "keamanan satu aktor bergantung pada keamanan aktor lain, dan kadang-kadang, pada keamanan seluruh sistem," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 20).Konsep ini memiliki implikasi yang mendalam bagi kebijakan keamanan. Jika keamanan bersifat multi-sum, maka strategi yang melemahkan keamanan aktor lain, bahkan aktor yang dianggap sebagai musuh, pada akhirnya dapat merugikan keamanan sendiri. Ini bukanlah argumen moral; ini adalah argumen strategis yang didasarkan pada realitas interdependensi. "Dalam dunia di mana patogen tidak menghormati perbatasan, di mana emisi karbon menyebar secara global, dan di mana serangan siber dapat melumpuhkan infrastruktur kritis di mana pun, keamanan tidak dapat dicapai secara sepihak," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 21).
Konsep multi-sum security juga menawarkan jalan keluar dari dilema keamanan (security dilemma) yang terkenal dalam teori HI. Dilema keamanan, di mana tindakan defensif satu negara dipersepsikan sebagai ofensif oleh negara lain, memicu respons balasan yang meningkatkan ketegangan, adalah ciri khas dari dunia zero-sum. Dalam kerangka multi-sum, tindakan yang meningkatkan keamanan satu aktor sambil juga meningkatkan keamanan aktor lain (atau setidaknya tidak menguranginya) menjadi mungkin, dan, dalam banyak kasus, lebih efektif daripada pendekatan unilateral.
Kontribusi konseptual kedua adalah gagasan Just Power (kekuasaan yang adil). Jika realisme klasik cenderung memperlakukan kekuasaan sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, dan liberalisme cenderung menekankan pentingnya membatasi kekuasaan melalui norma dan institusi, Symbiotic Realism menawarkan perspektif yang berbeda: kekuasaan itu sendiri bersifat netral; yang penting adalah bagaimana ia digunakan.
"Kekuasaan, seperti emosi, tidak secara inheren baik atau buruk," tulis Al-Rodhan (2025). "Ia adalah instrumen. Pertanyaannya bukanlah apakah aktor harus mencari kekuasaan, semua aktor melakukannya, didorong oleh imperatif neurobiologis untuk bertahan hidup dan berkembang, tetapi apakah kekuasaan yang mereka cari digunakan untuk tujuan yang adil dan berkelanjutan" (hlm. 22-23).
Konsep Just Power didasarkan pada pemahaman bahwa manusia memiliki kebutuhan bawaan akan martabat (dignity). "Martabat," tulis Al-Rodhan (2025), "bukanlah konstruksi sosial yang dapat dinegosiasikan; ia adalah kebutuhan neurobiologis. Penelitian neurosains telah menunjukkan bahwa pengalaman dihina atau direndahkan mengaktifkan sirkuit neural yang sama dengan rasa sakit fisik" (hlm. 23-24). Oleh karena itu, kekuasaan yang adil adalah kekuasaan yang menghormati martabat semua pihak yang terlibat, bukan hanya martabat mereka yang berkuasa.
Ini memiliki implikasi langsung bagi kebijakan luar negeri. Intervensi militer, misalnya, tidak hanya harus dievaluasi berdasarkan efektivitas strategisnya, apakah ia mencapai tujuan yang dinyatakan, tetapi juga berdasarkan dampaknya terhadap martabat manusia. "Intervensi yang merendahkan atau menghina populasi target mungkin berhasil dalam jangka pendek tetapi akan menabur benih konflik di masa depan," tulis Al-Rodhan dan Puscas (2021, hlm. 135).
Kontribusi konseptual ketiga adalah gagasan dignity-based governance (tata kelola berbasis martabat). Al-Rodhan (2025) berargumen bahwa "tujuan akhir dari tata kelola, baik di tingkat domestik maupun internasional, haruslah penciptaan kondisi yang memungkinkan semua manusia untuk hidup dengan martabat" (hlm. 25-26).
Tata kelola berbasis martabat didasarkan pada pemahaman bahwa manusia memiliki sembilan kebutuhan martabat yang saling terkait: nalar, keamanan, hak asasi manusia, akuntabilitas, transparansi, keadilan, kesempatan, inovasi, dan inklusivitas. Kebutuhan-kebutuhan ini, menurut Al-Rodhan, bersifat universal, semua manusia memilikinya, terlepas dari budaya atau konteks mereka, tetapi cara mereka dipenuhi dapat bervariasi.
Sembilan kebutuhan ini harus diseimbangkan dengan tiga atribut sifat manusia yang diidentifikasi oleh Emotional Amoral Egoism: emosionalitas, amoralitas, dan egoisme. "Tata kelola yang baik," tulis Al-Rodhan (2008), "adalah tata kelola yang mengakui ketegangan antara kebutuhan martabat dan atribut sifat manusia, dan yang berusaha untuk menyeimbangkannya secara berkelanjutan" (hlm. 213-215).
Pendekatan ini menawarkan kriteria yang konkret untuk mengevaluasi tatanan internasional. Apakah institusi global memenuhi kebutuhan martabat semua manusia, atau hanya kebutuhan segelintir orang di negara-negara kaya? Apakah mereka cukup akuntabel? Apakah mereka transparan? Apakah mereka memberikan kesempatan dan keadilan bagi semua? Pertanyaan-pertanyaan ini, yang berakar pada pemahaman neurosaintifik tentang kebutuhan manusia, memberikan dasar yang kuat untuk kritik terhadap ketidaksetaraan global.
Mungkin kontribusi konseptual paling provokatif dari Symbiotic Realism akhir-akhir ini adalah gagasan Neurosphere, ruang di mana otak manusia dan kesadarannya menjadi arena persaingan geopolitik. Al-Rodhan menciptakan istilah ini untuk menggambarkan konvergensi antara neuroteknologi, kecerdasan buatan, dan geopolitik.
"Kemampuan untuk mempengaruhi, memanipulasi, atau bahkan mengendalikan otak manusia, melalui antarmuka otak-komputer, neurostimulasi, farmakologi canggih, atau manipulasi informasi yang ditargetkan, adalah perbatasan berikutnya dari persaingan kekuasaan global," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 16).
Neurosphere melampaui domain strategis tradisional, darat, laut, udara, luar angkasa, dan dunia maya, karena ia langsung menargetkan substrat biologis dari semua pengambilan keputusan manusia. Dalam pengertian ini, Neurosphere bukan sekadar domain baru yang setara dengan domain lainnya; ia adalah meta-domain yang berpotensi mempengaruhi semua domain lainnya, karena semua keputusan manusia, termasuk keputusan tentang perang, perdamaian, dan tata kelola, diproses melalui otak.
Gagasan ini memiliki implikasi yang mendalam bagi masa depan Hubungan Internasional. Jika Neurosphere menjadi medan persaingan geopolitik, maka pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang otonomi manusia, privasi mental, dan integritas kognitif akan menjadi isu-isu sentral dalam politik global. "Kita perlu mengembangkan norma dan aturan untuk Neurosphere sebelum teknologi untuk mengeksploitasinya menjadi tersedia secara luas," tulis Al-Rodhan (2025, hlm. 17).
Kritik
Meskipun Symbiotic Realism menawarkan perspektif yang kaya dan inovatif, pendekatan ini tidak luput dari kritik dan pertanyaan. Bagian ini mengeksplorasi beberapa perdebatan utama seputar Symbiotic Realism.Kritik yang paling jelas terhadap Symbiotic Realism adalah tuduhan reduksionisme: bahwa ia mereduksi fenomena sosial yang kompleks, seperti perang, diplomasi, dan kerja sama internasional, menjadi sekadar proses neurobiologis. Kritik ini serupa dengan kritik yang sering dilontarkan terhadap sosiobiologi dan psikologi evolusioner: bahwa pendekatan-pendekatan ini mengabaikan otonomi relatif dari tingkat analisis sosial dan kultural.
Al-Rodhan (2025) menyadari risiko ini dan secara eksplisit berusaha untuk menghindarinya. "Symbiotic Realism tidak mengklaim bahwa neurobiologi menjelaskan segalanya," tulisnya. "Ia mengklaim bahwa neurobiologi adalah fondasi yang diperlukan tetapi tidak mencukupi untuk memahami politik internasional. Struktur, institusi, norma, dan ide tetap penting, tetapi mereka beroperasi di atas dan melalui substrat neurobiologis manusia" (hlm. 7-8).
Apakah pembelaan ini memadai? Itu adalah pertanyaan yang masih terbuka untuk diperdebatkan. Yang jelas, Symbiotic Realism berada di garis depan dari apa yang disebut "pergantian neurosaintifik" (neuroscientific turn) dalam ilmu-ilmu sosial, sebuah gerakan yang telah mempengaruhi ekonomi, psikologi, dan sekarang, semakin banyak, Hubungan Internasional. Sejauh mana gerakan ini akan berhasil dalam mentransformasi disiplin HI masih harus dilihat.
Kritik kedua terkait dengan klaim universalitas Symbiotic Realism. Al-Rodhan (2008) berargumen bahwa "sifat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh ilmu saraf, adalah universal, semua manusia, terlepas dari budaya atau konteks, berbagi arsitektur neural yang sama" (hlm. 155-156). Klaim ini penting untuk membangun teori yang berlaku lintas budaya. Namun, ia juga rentan terhadap kritik dari perspektif antropologis dan kultural.
Penelitian dalam neurosains kultural (cultural neuroscience) telah menunjukkan bahwa meskipun semua manusia berbagi arsitektur neural dasar, budaya dapat secara signifikan mempengaruhi bagaimana otak memproses informasi. Studi-studi menggunakan fMRI telah menemukan perbedaan dalam aktivasi neural antara orang-orang dari budaya individualis (seperti Amerika Serikat) dan budaya kolektivis (seperti Jepang atau Tiongkok) ketika mereka melakukan tugas-tugas yang sama. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara otak dan budaya bersifat dua arah: otak membentuk budaya, tetapi budaya juga membentuk otak.
Symbiotic Realism, dalam formulasinya saat ini, belum sepenuhnya bergulat dengan implikasi dari neurosains kultural ini. Namun, kerangka kerjanya, yang menekankan interaksi antara predisposisi genetik dan lingkungan, memberikan ruang untuk mengakomodasi variasi kultural. "Predisposisi genetik menetapkan parameter dasar," tulis Al-Rodhan (2007), "tetapi lingkungan, termasuk budaya, menentukan bagaimana parameter tersebut diekspresikan" (hlm. 160). Pengembangan lebih lanjut dari Symbiotic Realism perlu memasukkan temuan-temuan dari neurosains kultural secara lebih eksplisit.
Kritik ketiga bersifat praktis: bagaimana Symbiotic Realism dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan yang konkret? Sebuah teori bisa brilian secara intelektual tetapi tidak berguna jika ia tidak dapat memberikan panduan yang actionable bagi para pembuat kebijakan.
Symbiotic Realism menawarkan beberapa prinsip panduan yang dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan. Konsep multi-sum security, misalnya, menunjukkan bahwa kebijakan keamanan harus dirancang untuk menciptakan hasil positif bagi semua pihak yang terlibat, bukan hanya untuk satu pihak. Gagasan Just Power menunjukkan bahwa penggunaan kekuasaan harus dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap martabat manusia. Dan kerangka tata kelola berbasis martabat menawarkan kriteria konkret untuk mengevaluasi institusi.
Namun, menerjemahkan prinsip-prinsip ini ke dalam kebijakan spesifik tetap merupakan tantangan. "Symbiotic Realism lebih merupakan kerangka analitis daripada resep kebijakan," aku Al-Rodhan (2025, hlm. 27). Pengembangan lebih lanjut dari Symbiotic Realism perlu mencakup studi kasus yang lebih rinci tentang bagaimana prinsip-prinsipnya dapat diterapkan dalam konteks kebijakan yang spesifik, dari negosiasi perdagangan hingga manajemen krisis, dari reformasi PBB hingga tata kelola kecerdasan buatan.
Terakhir, penting untuk mempertimbangkan bagaimana Symbiotic Realism telah diterima dalam disiplin HI yang lebih luas. Meskipun Al-Rodhan adalah seorang sarjana yang dihormati dengan afiliasi di institusi-institusi bergengsi, St. Antony's College, Oxford; Geneva Centre for Security Policy; Institute of Philosophy, University of London, Symbiotic Realism belum menjadi bagian dari arus utama teori HI.
Sebagian alasannya mungkin bersifat institusional. Disiplin HI secara historis resisten terhadap pendekatan interdisipliner yang radikal, terutama yang melibatkan ilmu-ilmu alam. Sebagian lainnya mungkin bersifat epistemologis: banyak sarjana HI, terutama dalam tradisi interpretif dan post-positivis, mungkin skeptis terhadap klaim bahwa ilmu saraf dapat memberikan fondasi "objektif" untuk memahami politik internasional.
Namun, minat terhadap Symbiotic Realism tampaknya meningkat. Publikasi Al-Rodhan (2025) di Frontiers in Political Science, sebuah jurnal akses terbuka yang bereputasi baik, dan diskusi tentang Symbiotic Realism di platform-platform seperti Blog of the American Philosophical Association menunjukkan bahwa pendekatan ini mulai mendapatkan perhatian di luar lingkaran pendukung awalnya. Apakah ia akan mencapai penerimaan yang lebih luas akan bergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan wawasan empiris yang tidak dapat dihasilkan oleh pendekatan lain, serta pada kemampuannya untuk melatih generasi sarjana berikutnya yang dapat mengembangkan dan menguji proposisi-proposisinya.
Penutup
Perjalanan kita melalui Symbiotic Realism telah membawa kita dari laboratorium neurosains ke ruang perang Kremlin, dari sinapsis yang menembak di otak manusia ke rudal yang meluncur di langit Ukraina, dari neurokimia ketakutan dan agresi ke diplomasi perubahan iklim dan tata kelola global. Di sepanjang jalan, kita telah melihat bagaimana sebuah pendekatan yang berakar pada ilmu saraf dapat menawarkan wawasan yang segar dan berharga tentang dinamika politik internasional.Beberapa kesimpulan kunci muncul dari analisis ini.
Pertama, Symbiotic Realism memberikan fondasi empiris bagi teori HI yang selama ini hilang. Dengan mendasarkan pemahamannya tentang sifat manusia pada temuan-temuan ilmu saraf kontemporer, bukan pada spekulasi filosofis, Symbiotic Realism menawarkan dasar yang lebih kuat untuk membangun teori tentang perilaku negara. Ini tidak berarti bahwa teori-teori yang ada harus dibuang; melainkan, mereka perlu direvisi dan diperkaya dengan wawasan neurosaintifik.
Kedua, Symbiotic Realism menawarkan jalan tengah yang produktif antara pesimisme realis dan optimisme liberal. Dengan mengakui bahwa manusia memiliki predisposisi egois yang berakar pada neurobiologi, Symbiotic Realism menghindari utopianisme liberal. Tetapi dengan menekankan bahwa predisposisi ini dapat dimodulasi oleh lingkungan dan institusi, ia juga menghindari fatalisme realis. Hasilnya adalah sebuah pendekatan yang mengakui realitas konflik sambil tetap membuka kemungkinan untuk kemajuan.
Ketiga, Symbiotic Realism sangat relevan untuk memahami dinamika kontemporer. Dari perang Rusia-Ukraina hingga rivalitas AS-Tiongkok, dari konflik Israel-Palestina hingga perubahan iklim, Symbiotic Realism menawarkan perspektif yang melampaui analisis struktural dan institusional konvensional. Dengan memperhitungkan dimensi emosional, neurobiologis, dan psikologis dari politik internasional, ia memberikan pemahaman yang lebih komplet tentang mengapa konflik terjadi dan bagaimana ia dapat dikelola.
Keempat, Symbiotic Realism menghadapi tantangan yang signifikan dalam hal penerimaan disipliner, reduksionisme, dan aplikabilitas praktis. Ini adalah tantangan yang serius, dan bagaimana para pendukung Symbiotic Realism meresponsnya akan sangat menentukan masa depan pendekatan ini. Namun, tantangan-tantangan ini juga merupakan peluang untuk pengembangan lebih lanjut: untuk memperhalus argumen, untuk melakukan studi empiris yang lebih ketat, dan untuk menerjemahkan prinsip-prinsip abstrak ke dalam panduan kebijakan yang konkret.
Akhirnya, Symbiotic Realism mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang sederhana namun sering dilupakan: bahwa politik internasional, pada akhirnya, adalah tentang manusia. Bukan tentang negara sebagai abstraksi, bukan tentang sistem sebagai struktur tanpa agen, tetapi tentang manusia, dengan semua kompleksitas neurobiologis, emosional, dan kognitif mereka, yang membuat keputusan, merasakan ketakutan, mengejar ambisi, dan kadang-kadang, melampaui kepentingan sempit mereka untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar.
Dalam kata-kata Al-Rodhan (2007): "Kita tidak akan pernah sepenuhnya memahami hubungan internasional sampai kita memahami diri kita sendiri, bukan sebagai konstruksi filosofis, tetapi sebagai organisme biologis dengan otak yang telah dibentuk oleh evolusi untuk bertahan hidup, merasa, dan terhubung" (hlm. 221). Ini adalah tantangan yang ambisius, tetapi juga merupakan undangan, kepada para sarjana, pembuat kebijakan, dan warga dunia, untuk membangun ilmu Hubungan Internasional yang benar-benar didasarkan pada pemahaman tentang manusia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kita berharap mereka adanya.
Referensi
Al-Rodhan, N. R. F. (2007). Symbiotic realism: A theory of international relations in an instant and an interdependent world. Lit Verlag.Al-Rodhan, N. R. F. (2008). "Emotional amoral egoism": A neurophilosophical theory of human nature and its universal security implications. Lit Verlag.
Al-Rodhan, N. R. F. (2015, Januari). Who are we: Neurochemical man and emotional amoral egoism. The Montréal Review. https://themontrealreview.com/2009/Who-are-we-Neurochemical-man-and-emotional-amoral-egoism.php
Al-Rodhan, N. R. F. (2016, Juni). Neuro-philosophy of international relations: Implications for sustainable peace and security. The Montréal Review. https://themontrealreview.com/2009/Neuro-philosophy-of-International-Relations.php
Al-Rodhan, N. R. F. (2019, 23 Mei). A neuro-philosophy of global order: The case for symbiotic realism, multi-sum security and just power. Blog of the APA. https://blog.apaonline.org/2019/05/23/a-neurophilosophy-of-international-relations-the-case-for-symbiotic-realism-multi-sum-security-and-just-power/
Al-Rodhan, N. R. F. (2025). Symbiotic realism: A transdisciplinary approach to understanding international relations. Frontiers in Political Science, 7, 1429868. https://doi.org/10.3389/fpos.2025.1429868
Al-Rodhan, N. R. F., & Puscas, I.-M. (2021). Global security and neurophilosophy: Understanding the human factor. Dalam R. Geiß & N. Melzer (Eds.), The Oxford handbook of the international law of global security (hlm. 118–136). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/law/9780198827276.003.0008
Al-Rodhan, N. R. F., & Watanabe, L. (2007). Symbiotic realism: A theory of international relations in an instant and an interdependent world. Lit Verlag.
Geneva Centre for Security Policy. (2025, 8 Desember). Symbiotic realism: The future of the global order on Earth and in outer space. https://www.gcsp.ch/publications/symbiotic-realism-future-global-order-earth-and-outer-space
Morgenthau, H. J. (1948). Politics among nations: The struggle for power and peace. Alfred A. Knopf.
Saudipedia. (2026, 28 Maret). Nayef al-Rodhan. https://saudipedia.com/en/nayef-al-rodhan
Waltz, K. N. (1979). Theory of international politics. Addison-Wesley.
https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.