Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi landasan bagi Teori Rimland, sebuah tesis tandingan yang diajukan oleh Nicholas John Spykman (1893–1943), seorang profesor hubungan internasional di Yale University kelahiran Belanda. Jika Mackinder adalah “nabi” dari kekuatan daratan, maka Spykman adalah “sang pembela tepian”. Ia tidak sekadar mengkritik Mackinder; ia membalikkan seluruh logika geopolitik pada zamannya dan membangun fondasi intelektual bagi strategi paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat: kebijakan Pembendungan (Containment).
Esai ini akan membawa Anda menyusuri jejak pemikiran Spykman: dari masa kecilnya di Amsterdam hingga ruang-ruang seminar di Yale; dari analisis tajamnya tentang keseimbangan kekuatan global hingga cetak biru strategis yang mewarnai Perang Dingin dan bergema hingga hari ini di Selat Taiwan, Laut Cina Selatan, dan Timur Tengah. Kita akan bertanya: apakah teori ini masih relevan? Atau justru ia telah menjadi fosil intelektual yang buta terhadap realitas dunia siber dan perubahan iklim?
Biografi Nicholas John Spykman
Nicholas John Spykman lahir pada 13 Oktober 1893 di Amsterdam, Belanda, dalam keluarga kelas menengah yang dinamis. Tidak banyak yang meramalkan bahwa anak muda yang kelak menjelma menjadi “bapak geopolitik Amerika” ini mengawali hidupnya sebagai seorang wartawan, agen rahasia, dan bahkan “dandy” kosmopolitan yang menguasai banyak bahasa (Zajec, 2016, hlm. 9). Kehidupannya yang penuh warna, dari Amsterdam, Kairo, hingga Batavia (Jakarta), membentuk perspektif globalnya tentang kekuasaan dan ruang.Dua karya besar Spykman menjadi fondasi teorinya:
- America's Strategy in World Politics: The United States and the Balance of Power (1942): Sebuah buku setebal hampir 500 halaman yang menganalisis posisi Amerika Serikat dalam politik dunia dari perspektif keseimbangan kekuatan. Di sini, Spykman meletakkan dasar pemikiran bahwa keamanan Amerika bergantung pada mencegah kekuatan hegemonik mendominasi “Dunia Lama” (Eropa dan Asia) (Spykman, 1942).
- The Geography of the Peace (1944): Diterbitkan setahun setelah kematiannya, buku yang lebih ringkas ini memetakan pusat-pusat kekuatan geopolitik dunia dan memperkenalkan secara definitif konsep Rimland serta diktumnya yang terkenal (Spykman, 1944).
Spykman meninggal dunia pada 26 Juni 1943, di usia yang masih sangat muda, 49 tahun, karena kanker. Ia tidak sempat menyaksikan bagaimana gagasannya diadopsi secara luas oleh para pembuat kebijakan Perang Dingin, termasuk George F. Kennan, arsitek utama kebijakan Containment. Ironisnya, seperti dicatat oleh sejarawan Olivier Zajec dalam biografi intelektualnya yang monumental, “Spykman sering dikutip, tetapi hampir tidak pernah dipelajari secara mendalam” (Zajec, 2016, hlm. 16).
Warisan intelektual Spykman justru terletak pada paradoks ini: ia seorang realis keras yang menulis untuk memenangkan perdamaian, tetapi namanya kerap tenggelam di bawah bayang-bayang Mackinder dan Kennan. Sudah saatnya kita mengangkatnya ke permukaan.
Untuk memahami mengapa Spykman menulis tentang Rimland, kita harus membenamkan diri dalam konteks awal 1940-an. Dunia sedang terbakar oleh Perang Dunia II. Jerman Nazi telah menguasai sebagian besar Eropa Barat, sementara Jepang merangsek ke Asia Timur dan Pasifik. Amerika Serikat, yang baru saja keluar dari isolasionisme pasca-Trauma Perang Dunia I, dipaksa untuk menghadapi kenyataan bahwa dua samudra, Atlantik dan Pasifik, tidak lagi menjadi parit pertahanan yang cukup.
Dalam suasana inilah, pada Maret 1942, Spykman menerbitkan America's Strategy in World Politics. Buku ini lahir dari kegelisahan mendalam: bagaimana Amerika Serikat, yang secara geografis terpencil di Belahan Barat, dapat mencegah kekuatan hegemonik tunggal menguasai seluruh “Dunia Lama”? Jawabannya terletak pada keseimbangan kekuatan (balance of power).
Spykman adalah seorang realis klasik. Baginya, politik internasional adalah perjuangan tanpa henti untuk kekuasaan. Dalam kata-katanya sendiri:
“Perjuangan untuk kekuasaan identik dengan perjuangan untuk bertahan hidup, dan peningkatan posisi kekuasaan relatif menjadi tujuan utama kebijakan internal dan eksternal negara.” (Spykman, 1942, hlm. 16–17, sebagaimana dikutip dalam Zajec, 2016, hlm. 232)
Ia menolak idealisme Wilsonian yang mengandalkan hukum internasional dan opini publik dunia. Yang penting adalah geografi dan kapasitas militer-ekonomi.
Dalam memahami pemikiran Spykman (1942) ada baiknya kita simak tiga pilar pemikirannya sebagai berikut:
- Hemispheric Defense is a Myth: Spykman dengan tegas menolak gagasan bahwa Amerika bisa aman hanya dengan mempertahankan Belahan Barat. Jika Jerman menaklukkan Eropa dan Jepang mendominasi Asia, Amerika akan terkepung dan akhirnya jatuh. Keamanan Amerika bergantung pada keseimbangan kekuatan di Eropa dan Timur Jauh (Spykman, 1942, hlm. 195–196).
- The Old World is the Key: Bagi Spykman, “Dunia Lama”, gabungan Eropa dan Asia, adalah pusat gravitasi politik global. Namun, berbeda dengan Mackinder, ia tidak melihat “jantung” sebagai penentu. Sebaliknya, tepi Dunia Lama-lah yang vital (Spykman, 1942, hlm. 177–178).
- Forward Defense: Amerika tidak boleh menunggu musuh di pantainya sendiri. Ia harus “maju ke depan” (forward defense), membangun aliansi dan pangkalan di sepanjang tepi Eurasia untuk membendung ekspansi kekuatan hegemonik (Spykman, 1942, hlm. 457–458).
The Geography of the Peace
Jika America's Strategy adalah prelude, maka The Geography of the Peace adalah simfoni penuh. Buku ini, yang diterbitkan secara anumerta pada 20 April 1944, adalah karya terakhir Spykman dan sekaligus wasiat intelektualnya. Di sinilah ia secara eksplisit menantang Mackinder dan merumuskan teorinya sendiri.Spykman mengadopsi sebagian besar peta Mackinder, tetapi memberikan bobot yang sangat berbeda pada setiap zona:
- Heartland, Spykman tidak sepenuhnya menolak konsep Heartland, tetapi ia meremehkan potensinya. Baginya, Heartland adalah ruang yang terlalu luas, terlalu dingin, terlalu jarang penduduknya, dan terlalu sulit diakses untuk menjadi pusat kekuasaan dunia. Wilayah barat Rusia masih agraris; basis industri justru terletak di sebelah barat Pegunungan Ural; dan rintangan transportasi, es di utara, gunung di selatan, membatasi mobilitas (Spykman, 1944, hlm. 41–42).
- Rimland, inilah konsep kunci Spykman. Rimland adalah jalur pesisir yang melingkari Heartland, persis seperti “Sabit Dalam” (Inner Crescent) versi Mackinder. Jalur ini mencakup Eropa Barat, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur, termasuk Jepang dan pesisir Tiongkok. Spykman membagi Rimland menjadi tiga sektor: (1) Pesisir Eropa, (2) Timur Tengah dan anak benua India, dan (3) Timur Jauh. Di sinilah sebagian besar populasi dunia, pusat industri, dan, yang paling penting, rute perdagangan maritim utama berada (Spykman, 1944, hlm. 51–52).
- Lautan dan “Offshore Continents,” Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, dan Afrika sub-Sahara adalah “dunia luar” yang dapat dimobilisasi untuk mengimbangi kekuatan Rimland (Spykman, 1944, hlm. 59–60).
Dari peta ini, Spykman merumuskan diktumnya yang terkenal, yang sering dikutip sebagai jantung dari seluruh teorinya:
“Who controls the Rimland rules Eurasia; who rules Eurasia controls the destinies of the world.”
(“Barang siapa menguasai Rimland, ia menguasai Eurasia; barang siapa menguasai Eurasia, ia mengendalikan takdir dunia.”) (Spykman, 1944, hlm. 43)
Bandingkan dengan diktum Mackinder, “Barang siapa menguasai Eropa Timur, ia menguasai Heartland; barang siapa menguasai Heartland, ia menguasai Pulau Dunia; barang siapa menguasai Pulau Dunia, ia menguasai dunia” (Mackinder, 1919, hlm. 150). Perbedaannya sangat fundamental:
- Mackinder: Kekuasaan berasal dari dalam (Heartland), bergerak keluar menuju tepi.
- Spykman: Kekuasaan berasal dari tepi (Rimland), bergerak ke dalam untuk “mencekik” Heartland.
Seperti dicatat oleh The Diplomat (2015), Spykman secara eksplisit membalikkan logika Mackinder: penguasaan atas jalur pesisir Eurasia, bukan padang rumput Asia Tengah, yang akan menentukan hegemoni global (paragraf 6). Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa Rimland lebih penting? Spykman memberikan beberapa argumen kunci:
- Populasi dan Industri. Rimland menampung mayoritas populasi dunia dan hampir seluruh pusat industri utama. Heartland, sebaliknya, adalah wilayah dengan kepadatan penduduk rendah dan industrialisasi yang relatif terbatas (Spykman, 1944, hlm. 40–41).
- Konektivitas Maritim. Rimland memiliki akses langsung ke lautan dunia, yang memungkinkan perdagangan global, proyeksi kekuatan, dan mobilitas militer yang cepat. Heartland terkurung daratan dan bergantung pada jalur kereta api yang mahal dan rentan (Spykman, 1944, hlm. 44–45).
- Zona Transisi. Rimland adalah “zona benturan” (shatter belt) tempat kekuatan darat dan laut bertemu. Menguasai Rimland berarti menguasai titik-titik pertemuan ini (Spykman, 1944, hlm. 51).
- Dikotomi Palsu Darat vs. Laut. Spykman berpendapat bahwa pertentangan darat-laut Mackinder terlalu disederhanakan. Tidak pernah ada “kekuatan darat murni” atau “kekuatan laut murni”. Setiap kekuatan besar adalah campuran keduanya, dan Rimland-lah yang menawarkan keseimbangan terbaik antara sumber daya pedalaman dan akses maritim (Spykman, 1944, hlm. 57).
- Sejarah Membuktikan. Spykman menunjuk pada sejarah: kekaisaran-kekaisaran besar, Romawi, Ottoman, Inggris, dan bahkan Amerika, semuanya menguasai jalur pesisir dan jalur perdagangan, bukan pedalaman yang terisolasi (Spykman, 1944, hlm. 42–43).
Spykman versus Mackinder
Pada titik ini, ada baiknya kita memetakan secara sistematis perdebatan antara dua raksasa pemikiran ini. Keduanya memiliki kesamaan: sama-sama melihat geografi sebagai fondasi strategi, sama-sama menulis diktum tiga lapis, dan sama-sama ingin menyelamatkan negara masing-masing dari ancaman eksistensial. Tetapi perbedaan mereka sangat tajam dan memiliki implikasi kebijakan yang nyata.Tabel Spykman vs. Macinder
- Posisi Nasional. Mackinder menulis untuk Britania Raya, sebuah kekuatan maritim yang takut digusur oleh kekuatan darat. Spykman menulis untuk Amerika Serikat, yang baru saja menyadari bahwa ia harus terlibat langsung di “Dunia Lama” untuk mencegah hegemon kontinental (Spykman, 1942, hlm. 3–4).
- Momentum Historis. Mackinder menulis pada 1904 ketika Kekaisaran Rusia sedang membangun rel kereta trans-Siberia; Spykman menulis pada 1942-1944 ketika AS dan Inggris sedang memenangkan perang melalui supremasi maritim dan udara (Spykman, 1944, hlm. 5–6).
- Bacaan Sejarah. Mackinder terobsesi dengan invasi bangsa stepa (Mongol, Hun) dari Heartland ke Rimland. Spykman melihat bahwa dalam sejarah modern, kekuatan yang mendominasi adalah mereka yang mengontrol laut dan pesisir, dari Imperium Britania Raya hingga Amerika Serikat (Spykman, 1944, hlm. 43).
Sebagaimana diringkas oleh Korea Times (2023): “Pada 1944, Spykman merevisi diktum Mackinder, menyatakan: ‘Siapa menguasai rimland menguasai Eurasia; siapa menguasai Eurasia mengendalikan takdir dunia.’ Dengan ini, AS bertekad mengontrol rimland Eurasia” (paragraf 3, diterjemahkan).
Kritik terhadap Spykman
Seperti halnya Mackinder, Teori Rimland juga tidak luput dari kritik tajam. Bahkan, beberapa kritik terhadap Spykman justru lebih mendasar karena ia dianggap terlalu deterministik dan terlalu simplistik.Kritik paling umum terhadap Spykman adalah bahwa ia menganut determinisme geografis, keyakinan bahwa lokasi di peta secara otomatis menentukan nasib suatu bangsa. Para pengkritik berpendapat bahwa Spykman terlalu meremehkan faktor-faktor non-spasial seperti ideologi, kualitas kepemimpinan, institusi domestik, dan dinamika sosial-ekonomi.
Seperti dicatat oleh Zajec (2016) dalam upaya untuk “mendemitologisasi” Spykman, “Teori Rimland, seperti halnya Heartland, sering disalahpahami sebagai determinisme buta, seolah-olah menguasai titik X di peta secara otomatis memberi hasil Y.” Padahal, baik Mackinder maupun Spykman sebenarnya menawarkan kerangka analitis, bukan nubuat (hlm. 301–302).
Para sarjana kritis berpendapat bahwa Teori Rimland bukanlah teori ilmiah, melainkan ideologi imperial yang menyamar sebagai sains. Spykman, menurut mereka, hanya menulis pembenaran bagi ekspansi global Amerika Serikat. Diktumnya bahwa “siapa menguasai Rimland menguasai dunia” pada dasarnya adalah resep untuk intervensi militer AS di mana-mana.
Kritikus menunjuk pada fakta bahwa Spykman adalah pendukung gigih intervensi AS di Eropa dan Asia bahkan sebelum Perang Dingin dimulai. Bukunya America's Strategy diterbitkan pada saat AS masih ragu-ragu untuk meninggalkan isolasionisme. Tujuannya jelas: meyakinkan elit Amerika bahwa keamanan mereka bergantung pada penguasaan tepian Eurasia (Zajec, 2016, hlm. 245–246).
Beberapa analis berpendapat bahwa Spykman terlalu cepat meremehkan potensi Heartland. Uni Soviet, yang menguasai Heartland sepanjang Perang Dingin, terbukti mampu memproyeksikan kekuatan secara global melalui rudal balistik, kapal selam nuklir, dan aliansi ideologis. Jika Heartland benar-benar “tidak penting”, mengapa AS begitu ketakutan terhadap Soviet?
Seperti dicatat oleh Kaplan (2012), “Heartland tidak pernah sepenuhnya mati; ia tertidur, dan kini bangkit kembali dengan Rusia yang berusaha merekonstruksi lingkup pengaruhnya” (hlm. 168).
Di era internet, satelit, dan rudal hipersonik, beberapa pihak berpendapat bahwa semua teori geopolitik klasik sudah usang. Richard K. Betts (2000), misalnya, berargumen bahwa “geografi sudah mati” karena teknologi modern memungkinkan kekuatan untuk menyerang dari mana saja ke mana saja tanpa perlu menduduki Rimland.
Namun, para pembela Spykman menjawab bahwa justru karena teknologi modern, titik-titik simpul di Rimland, seperti pusat data, kabel bawah laut, dan pelabuhan, menjadi semakin penting, bukan semakin tidak penting. Perang di Ukraina dan ketegangan di Selat Taiwan menunjukkan bahwa kontrol atas ruang fisik tetap menjadi inti konflik global (Kaplan, 2012, hlm. 35–36).
Relevansi Teori Rimland di Era Kiwari
Kini kita memasuki inti dari esai ini: bagaimana Teori Rimland “bermain” di pentas dunia abad ke-21? Kita akan mengujinya melalui lima peristiwa dan tren utama: Perang Dingin, ekspansi NATO dan perang Ukraina, kebangkitan Tiongkok dan persaingan AS-Tiongkok di Indo-Pasifik, dinamika Timur Tengah, serta tantangan domain baru seperti dunia maya dan perubahan iklim.Tidak ada contoh yang lebih sempurna tentang penerapan Teori Rimland selain Perang Dingin (1947–1991). Ketika dunia terbelah menjadi dua kubu, AS dan sekutunya melawan Uni Soviet, arsitektur strategis yang dibangun AS persis mengikuti resep Spykman.
Apa itu Containment? George F. Kennan, dalam “Long Telegram”-nya yang legendaris (1946) dan artikel “The Sources of Soviet Conduct” (1947), merumuskan kebijakan “pembendungan” terhadap ekspansi Soviet. Tujuannya: mencegah Soviet menguasai Rimland Eurasia. AS membentuk serangkaian aliansi yang membentang di sepanjang tepian Eurasia:
- NATO (1949) : Eropa Barat.
- CENTO (1955) : Timur Tengah (“Northern Tier”).
- SEATO (1954) : Asia Tenggara.
- Aliansi bilateral dengan Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Jika kita melihat peta, semua aliansi ini membentuk cincin pengepungan yang persis mengelilingi Heartland Soviet dari Norwegia di utara hingga Jepang di timur. Ini adalah implementasi paling murni dari logika Rimland.
Sebagaimana ditegaskan oleh Council on Geostrategy (2025), “Spykman mengusulkan model ‘rimlands’ sebagai strategi bersama Inggris-Amerika untuk membendung Uni Soviet” (paragraf 4). Dan seperti yang diakui oleh banyak sejarawan, kebijakan Containment ini berhasil: Soviet tidak pernah berhasil keluar dari Rimland dan akhirnya runtuh pada 1991.
Jika Perang Dingin adalah “kemenangan Rimland”, maka periode pasca-Perang Dingin adalah cerita tentang ekspansi Rimland yang terus merangsek ke arah Heartland. Setelah Uni Soviet runtuh, NATO, aliansi maritim utama, bukannya bubar, melainkan justru memperluas diri ke timur. Pada 1999, Polandia, Hongaria, dan Republik Ceko bergabung; pada 2004, tujuh negara tambahan, termasuk tiga negara Baltik; pada 2009, Albania dan Kroasia; pada 2017, Montenegro; pada 2020, Makedonia Utara; dan pada 2023, Finlandia, diikuti oleh Swedia pada 2024.
Dari perspektif Moskow, ini bukanlah “perluasan aliansi damai”, melainkan invasi Rimland ke depan pintu Heartland. Negara-negara yang dulunya adalah “zona penyangga” (buffer states) Mackinder kini menjadi bagian dari aliansi yang dipersenjatai dan dipimpin oleh kekuatan maritim dominan. Ukraina, yang terletak tepat di antara Eropa Timur dan Rusia, menjadi “garis patahan” geopolitik.
Perang Rusia-Ukraina yang meletus penuh pada 24 Februari 2022 dapat dibaca melalui dua lensa yang bertentangan namun saling melengkapi:
- Lensa Mackinder/Heartland: Rusia berusaha mempertahankan kendali atas Eropa Timur sebagai “kunci menuju Heartland”, mencegah perambahan kekuatan maritim. Ini adalah perang defensif untuk mempertahankan jantung.
- Lensa Spykman/Rimland: NATO/AS berusaha memperluas Rimland hingga ke perbatasan Rusia, mengurung Heartland dari sisi barat dayanya. Ukraina adalah “bagian Rimland” yang diperebutkan.
Seperti dicatat oleh De Pieri & Luigi (2026) dalam analisis geopolitik tentang “busur ketidakstabilan”, “perang di Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, dan persaingan di Asia Timur bukanlah episode yang terisolasi, melainkan bagian dari transformasi struktural sistem internasional” (paragraf 2, diterjemahkan). Kawasan-kawasan ini, dari Kiev hingga Taipei, berada tepat di Rimland yang digambarkan Spykman.
Dengan kata lain, perang Ukraina adalah perang Rimland: perebutan tepi Eurasia yang strategis, dengan Ukraina sebagai korban sekaligus medan pertempuran.
Di sinilah Teori Rimland menunjukkan relevansinya yang paling dramatis. Jika pada Perang Dingin musuh utamanya adalah Uni Soviet (Heartland), maka pada abad ke-21, musuh utama AS adalah Tiongkok, sebuah negara yang anehnya bukan Heartland, tetapi justru berada di Rimland!
Tiongkok adalah negara dengan garis pantai yang panjang, populasi besar, industrialisasi masif, dan ambisi maritim yang semakin agresif. Ia adalah “kekuatan Rimland” yang unik: memiliki akses laut (seperti kekuatan maritim) tetapi juga kedalaman strategis kontinental (seperti Heartland). Ini membuat persaingan AS-Tiongkok berbeda secara fundamental dari persaingan AS-Soviet.
Hal yang luar biasa, Spykman telah meramalkan persis situasi ini. Dalam America's Strategy (1942), ia menulis tentang “Asiatic Mediterranean”, kawasan laut-laut marginal di Asia Timur, termasuk Laut Jepang, Laut Cina Timur, dan Laut Cina Selatan, sebagai “dunia kepulauan par excellence”. Ia memperingatkan:
“Tiongkok yang modern, tervitalisasi, dan termiliterisasi dengan 400 juta penduduk akan menjadi ancaman tidak hanya bagi Jepang, tetapi juga bagi posisi Kekuatan Barat di Asiatic Mediterranean.” (Spykman, 1942, hlm. 457)
Prediksi ini terbukti sangat akurat. Saat ini, Tiongkok sedang membangun “Second Island Chain”, strategi untuk mengontrol laut-laut di sekitar pesisirnya dan mencegah AS mengakses Rimland Asia Timur. Pembangunan pulau-pulau buatan di Spratly, klaim atas hampir seluruh Laut Cina Selatan, serta “Sabuk dan Jalan Maritim” adalah implementasi kontemporer dari penguasaan Rimland.
Respons AS adalah Strategi Indo-Pasifik yang berpusat pada penguatan aliansi di sepanjang Rimland Asia: Jepang, Korea Selatan, Australia, India, Filipina, dan Vietnam. Quad (Dialog Keamanan Kuadrilateral) antara AS, Jepang, Australia, dan India adalah versi mini dari pengepungan Rimland.
Seperti dijelaskan oleh artikel di KCI (Korean Citation Index, 2024) tentang “Rimland ASEAN's Value”, “artikel ini menganalisis nilai Rimland ASEAN dan persaingan AS-Tiongkok dari perspektif geopolitik... berfokus pada pandangan pesimistis para teoretisi realis bahwa tabrakan antara AS, negara maritim, dan Tiongkok, negara yang mempromosikan kebijakan maritim-sentris, tidak terelakkan” (abstrak, diterjemahkan).
Di sini kita melihat operasionalisasi Teori Rimland: AS membangun “pagar” di sepanjang tepi Asia untuk membendung Tiongkok yang juga berada di tepi yang sama. Ini adalah pertempuran antar dua kekuatan Rimland.
Salah satu wawasan paling penting dari Spykman adalah penekanannya pada chokepoints, titik-titik sempit di mana jalur perdagangan dan energi bisa diintersepsi. Spykman mengidentifikasi sejumlah chokepoints kritis di Rimland: Selat Gibraltar, Terusan Suez, Selat Hormuz, Selat Malaka, dan Selat Taiwan (Spykman, 1944, hlm. 38).
Pada tahun 2023, proyek India-Middle East-Europe Corridor (IMEC) diumumkan di KTT G20 di New Delhi. IMEC adalah koridor ekonomi yang menghubungkan India, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, Israel, dan Yunani, lalu ke Eropa. Ini adalah proyek infrastruktur raksasa yang, seperti dicatat oleh Times of India (2023), “memberi lebih banyak kekuatan pada Rimland Spykman. Dalam skema geopolitik dunia Spykman, intinya adalah Rimland, bukan Heartland” (paragraf 5, diterjemahkan).
IMEC adalah contoh bagaimana “penguasaan Rimland” dimanifestasikan bukan hanya melalui pangkalan militer, tetapi juga melalui jaringan infrastruktur, pipa gas, kabel data, dan jalur perdagangan. AS dan sekutunya berusaha menawarkan alternatif terhadap Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok, yang juga beroperasi di Rimland.
Sebagaimana dibahas dalam esai Heartland, mencairnya es Arktik menciptakan “Jalur Laut Utara” yang membuka akses maritim ke utara Rusia. Dari perspektif Rimland, ini adalah perluasan jalur pesisir strategis ke arah yang sebelumnya tidak dapat diakses (Madueño Álvarez, 2024, hlm. 125).
Rusia dan Tiongkok berlomba-lomba membangun infrastruktur di Arktik; NATO memperkuat kehadirannya di Atlantik Utara. Arktik, yang dulu adalah “benteng es” Heartland, kini menjadi bagian dari Rimland yang diperebutkan. Ini menunjukkan bahwa Teori Rimland tidaklah statis; ia berevolusi seiring perubahan lingkungan fisik.
Ketidakrelevansian Teori Rimland
Setelah memaparkan bukti-bukti relevansi, kini saatnya kita bersikap kritis. Di mana Teori Rimland gagal atau menjadi tidak relevan di era kontemporer?Kritik paling tajam terhadap Spykman adalah bahwa ia, seperti Mackinder, hanya memikirkan ruang fisik. Di era internet, serangan siber dapat melumpuhkan infrastruktur kritis suatu negara tanpa perlu satu tentara pun melintasi Rimland. Serangan ransomware terhadap Colonial Pipeline (2021) di AS, serangan siber terhadap jaringan listrik Ukraina (2015), dan perang informasi di media sosial adalah contoh-contoh bagaimana konflik kini terjadi di “domain meta-geografis” yang tidak terpetakan dalam model Spykman.
Beberapa sarjana mencoba mengadaptasi Teori Rimland ke dunia maya. Sebuah artikel di Korea Science (2022) misalnya, “mengusulkan untuk mempertimbangkan teori rimland dalam langkah-langkah kontrol di dunia maya. Artikel ini didedikasikan untuk pendekatan terintegrasi dari ruang fisik ke dunia maya” (Kim et al., 2022, hlm. 1, diterjemahkan). Namun, adaptasi ini masih dalam tahap awal dan belum menghasilkan kerangka kerja yang koheren.
Teori Rimland, seperti Heartland, sering dituduh menganut determinisme geografis yang kaku. Realitas abad ke-21 menunjukkan bahwa negara-negara yang tidak menguasai Rimland pun bisa menjadi kekuatan besar: Rusia (Heartland), India (semi-Rimland?), atau bahkan entitas non-negara seperti korporasi multinasional raksasa.
Selain itu, seperti dicatat oleh Zajec (2016), “Spykman sering dituduh mereduksi kompleksitas sejarah menjadi rumus sederhana: kendalikan pesisir, kendalikan dunia. Padahal, ia sendiri mengakui bahwa geografi hanyalah salah satu faktor di antara banyak faktor” (hlm. 302–303).
Tiongkok melalui BRI membangun infrastruktur darat yang menghubungkan Asia Tengah dengan Eropa, persis melalui Heartland Mackinder. Apakah ini berarti Heartland kembali relevan dan Rimland kehilangan relevansinya? Atau justru ini adalah upaya Tiongkok untuk mengintegrasikan Heartland dan Rimland secara bersamaan?
Beberapa analis berpendapat bahwa BRI adalah bukti bahwa teori Spykman tidak sepenuhnya akurat, karena Tiongkok menunjukkan bahwa menguasai Heartland (melalui konektivitas darat) juga penting. Astarita & Marconi (2023) dalam studi mereka “Reading Spykman in Beijing” mengeksplorasi bagaimana para pemikir Tiongkok mengadaptasi teori Rimland untuk membenarkan BRI, menunjukkan bahwa Beijing tidak sepenuhnya menolak Rimland, tetapi justru menggunakannya untuk memperkuat posisinya (hlm. 3–4).
Artikel terbaru dari E-Journals (2024) memperkenalkan konsep “Hyperland”, sebuah teori geopolitik baru yang mencoba melampaui dikotomi Heartland-Rimland dengan memasukkan domain luar angkasa, dunia maya, dan kognitif ke dalam analisis. Tujuan artikel ini adalah “memperkenalkan teori geopolitik baru yang memfasilitasi interpretasi perilaku... dalam konteks dinamika arena geopolitik yang muncul dan mengidentifikasi domain strategis baru” (abstrak, diterjemahkan). Jika Hyperland adalah masa depan, maka Rimland hanyalah masa lalu yang tidak memadai.
Penutup
Setelah menelusuri perjalanan panjang dari Amsterdam ke Yale, dari peta 1944 hingga perang Ukraina 2026, kita sampai pada kesimpulan yang berlapis.Teori Rimland relevan karena:
- Ia menyediakan kerangka analitis yang kuat untuk memahami rivalitas kekuatan besar di sepanjang tepi Eurasia: dari Eropa Timur hingga Laut Cina Selatan (Spykman, 1944, hlm. 51–52).
- Ia berhasil memprediksi kebangkitan Tiongkok sebagai ancaman utama di “Asiatic Mediterranean” (Spykman, 1942, hlm. 457).
- Fondasi strategisnya menjadi cetak biru kebijakan luar negeri AS yang masih berlaku hingga hari ini: NATO, aliansi Indo-Pasifik, dan IMEC adalah implementasi kontemporer dari penguasaan Rimland.
- Ia menekankan pentingnya chokepoints maritim yang terus menjadi pusat gravitasi ekonomi dan militer global (Spykman, 1944, hlm. 38).
Teori Rimland tidak relevan karena:
- Ia mengabaikan domain non-fisik, ruang siber, luar angkasa, dan informasi, yang kini menjadi medan konflik utama (Kim et al., 2022, hlm. 2).
- Determinismenya terlalu menyederhanakan realitas politik yang kompleks, meremehkan peran ideologi, kepemimpinan, dan institusi (Zajec, 2016, hlm. 302–303).
- Ia gagal sepenuhnya menjelaskan fenomena seperti BRI Tiongkok yang mengintegrasikan Heartland, atau kebangkitan Rusia sebagai kekuatan militer meskipun ekonominya lemah (Astarita & Marconi, 2023, hlm. 12).
- Perubahan iklim dan teknologi baru secara fundamental mengubah “peta” yang diasumsikan tetap oleh Spykman (Madueño Álvarez, 2024, hlm. 130).
Warisan Spykman adalah paradoks. Namanya kurang dikenal dibanding Mackinder atau Kennan, tetapi pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri Amerika mungkin lebih besar. Setiap kali kapal induk AS berpatroli di Laut Cina Selatan, setiap kali NATO memperluas diri ke timur, setiap kali Washington memperkuat aliansi dengan India atau Vietnam, di sanalah hantu Spykman berbisik: “Siapa menguasai Rimland, menguasai Eurasia.”
Namun, seperti alat analitis lainnya, Teori Rimland harus digunakan dengan hati-hati. Ia adalah lensa, bukan kunci. Ia membantu kita melihat pola, tetapi tidak menentukan takdir. Dalam dunia yang semakin kompleks, multipolar, dan multi-domain, para pembuat kebijakan perlu melampaui Spykman sambil tetap menghormati wawasannya yang brilian.
Pada akhirnya, perdebatan antara Heartland dan Rimland bukanlah tentang mana yang benar atau salah. Ia adalah cerminan dari ketegangan abadi dalam politik internasional: antara daratan dan lautan, antara pedalaman dan pesisir, antara sentralisasi dan jaringan. Selama umat manusia masih hidup di planet Bumi dengan geografi yang tetap, ketegangan ini akan terus berlanjut, dan Spykman akan tetap menjadi salah satu pemandu paling tajam untuk memahaminya.
Referensi
Astarita, C., & Marconi, M. (2023). Reading Spykman in Beijing: Can the Rimland Theory question the Belt and Road Initiative? L’Espace politique, 49–50(1–2). https://doi.org/10.4000/espacepolitique.12118Council on Geostrategy. (2025, Januari 15). Historical focus of British-American geostrategy. https://www.geostrategy.org.uk/research/historical-focus-of-british-american-geostrategy/
De Pieri, V. S. G., & Luigi, R. (2026, April 29). De Kiev a Taipei – Arco geopolítico de conflitos acelera transição para um mundo multipolar. Interesse Nacional. https://interessenacional.com.br/portal/de-kiev-a-taipei-arco-geopolitico-de-conflitos-acelera-transicao-para-um-mundo-multipolar/
Kaplan, R. D. (2012). The Revenge of Geography: What the Map Tells Us About Coming Conflicts and the Battle Against Fate. Random House.
Kim, D.-h., Lee, S.-j., Kim, W.-j., & Lim, J. S. (2022). Development of integrated control measures for CPS era: From the perspective of Rimland theory. Korea Science, 22(4), 1–14. http://dx.doi.org/10.33778/kcsa.2022.22.4.011
Lee, J.-S. (2026). The Silk Road Economic Belt: A neorealist perspective on China’s Eurasian strategy and Mackinder’s Heartland theory revisited. China and Chinese Studies, 57, 135–173. https://doi.org/10.17935/Chinan.2026.57..135
Mackinder, H. J. (1919). Democratic ideals and reality: A study in the politics of reconstruction. Constable and Company.
Madueño Álvarez, M. (2024). El Ártico en la configuración del espacio ruso y el final del Heartland. URVIO: Revista Latinoamericana de Estudios de Seguridad, 39, 117–135. https://doi.org/10.17141/urvio.39.2024.5962
Nicholas Spykman and the struggle for the Asiatic Mediterranean. (2015, Januari 9). The Diplomat. https://thediplomat.com/2015/01/nicholas-spykman-and-the-struggle-for-the-asiatic-mediterranean/
Rimland ASEAN’s value and the US-China competition from a geopolitical perspective. (2024). KCI Korean Journal Database. https://www.kci.go.kr/kciportal/ci/sereArticleSearch/ciSereArtiView.kci?sereArticleSearchBean.artiId=ART002621238
Spykman, N. J. (1942). America’s strategy in world politics: The United States and the balance of power. Harcourt, Brace and Company.
Spykman, N. J. (1944). The geography of the peace. Harcourt, Brace and Company.
Zajec, O. (2016). Nicholas John Spykman, l’invention de la géopolitique américaine: Un itinéraire intellectuel aux origines paradoxales de la théorie réaliste des relations internationales. Sorbonne Université Presses.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.