Bayangkan Anda sedang menonton berita malam ini. Seorang pembaca berita melaporkan bahwa kapal perang Tiongkok dan Amerika Serikat kembali terlibat manuver berbahaya di Laut Tiongkok Selatan. Di segmen berikutnya, koresponden dari Kyiv menceritakan gencarnya serangan rudal Rusia ke infrastruktur energi Ukraina. Tidak lama kemudian, seorang analis menjelaskan mengapa negara-negara Eropa buru-buru meningkatkan anggaran militer mereka ke level tertinggi sejak Perang Dingin.
Tiga berita berbeda, tiga kawasan berbeda, namun satu benang merah yang sama: Negara-negara besar sedang bersaing, mempersenjatai diri, dan saling curiga satu sama lain. Pertanyaannya sederhana: Mengapa pola ini terus berulang, dari zaman Thucydides hingga era kecerdasan buatan?
Di sinilah teori Hubungan Internasional (HI) memainkan perannya. Teori bukan sekadar jargon akademis yang hanya dipahami oleh para profesor di menara gading. Teori adalah kacamata analitis (analytical lens) yang membantu kita melihat pola-pola yang tersembunyi di balik banjir peristiwa dunia yang tampak acak dan kacau. Ibarat seorang dokter yang memerlukan stetoskop untuk mendiagnosis penyakit, seorang pengamat politik global memerlukan teori untuk mendiagnosis dinamika internasional, apa yang menyebabkan konflik, mengapa kerja sama sulit terjalin, dan ke mana arah percaturan kekuasaan global.
Di antara sekian banyak teori HI yang tersedia, Realisme Struktural (Neorealisme) menempati posisi yang unik. Teori ini bukan yang paling populer di kalangan idealis yang memimpikan perdamaian abadi, tetapi sering kali menjadi yang paling tajam dalam memprediksi pola-pola permusuhan antarnegara besar. Tidak berlebihan jika Kenneth Waltz, sang arsitek utama teori ini, menyebut keseimbangan kekuatan sebagai "teori politik internasional yang khas" (distinctively political theory of international politics) (Waltz, 1979, hlm. 117).
Esai ini hadir untuk menjawab dua kebutuhan. Pertama, kebutuhan akan penjelasan yang sistematis namun tetap mudah dicerna mengenai apa itu Realisme Struktural, sebuah teori yang sering disalahpahami sebagai pembenaran bagi kekerasan dan egoisme negara, padahal sesungguhnya ia adalah alat diagnosis yang dingin dan jujur terhadap realitas. Kedua, kebutuhan akan evaluasi kritis: Setelah lebih dari empat dekade sejak Theory of International Politics diterbitkan, seberapa relevankah teori ini untuk memahami dunia kita yang telah berubah, dunia dengan internet, perubahan iklim, kebangkitan Tiongkok, dan perang hibrida?
Esai ini akan membawa Anda menyusuri lorong-lorong pemikiran strukturalis, dari ruang kuliah Kenneth Waltz di UC Berkeley hingga ruang perang di Kremlin dan Pentagon. Mari kita mulai perjalanan intelektual ini.
Fondasi Intelektual
Untuk memahami mengapa realisme struktural lahir, kita perlu kembali ke masa sebelum 1979. Sebelum Waltz, teori hubungan internasional didominasi oleh apa yang kini disebut sebagai realisme klasik (classical realism). Pemikir-pemikir seperti Hans Morgenthau, E.H. Carr, dan Reinhold Niebuhr menjelaskan politik internasional dengan merujuk pada sifat manusia (human nature). Bagi Morgenthau, hasrat untuk mendominasi (animus dominandi) adalah akar dari segala konflik politik, baik domestik maupun internasional (Morgenthau, 1948).Waltz tidak puas dengan penjelasan semacam ini. Ia menilai realisme klasik terlalu reduksionis (reductionist), yaitu mereduksi penjelasan fenomena internasional ke tingkat unit (negara dan sifat para pemimpinnya). Dalam Theory of International Politics, Waltz (1979) mengkritik pendekatan ini secara sistematis. Baginya, jika penyebab perang adalah sifat agresif manusia, lalu mengapa periode damai bisa terjadi? Sebaliknya, jika manusia pada dasarnya cinta damai, mengapa perang tetap pecah? Ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu di atas negara, yang membentuk dan membatasi perilaku mereka.
Buku Theory of International Politics (1979) adalah jawaban Waltz atas kekurangan realisme klasik. Buku ini bukan sekadar revisi, melainkan sebuah revolusi paradigmatik yang memindahkan fokus analisis dari sifat manusia ke struktur sistem internasional. Oleh karena itu, teori Waltz disebut realisme struktural atau neorealisme.
Apa yang dimaksud dengan "struktur" di sini? Waltz meminjam logika dari ilmu ekonomi mikro. Dalam pasar ekonomi, tidak ada seorang pun yang merancang harga keseimbangan; harga terbentuk dari interaksi spontan antara pembeli dan penjual yang masing-masing bertindak egois. Demikian pula dalam politik internasional: Tidak ada pemerintah dunia yang mengatur, tetapi dari ko-aksi (coaction) negara-negara yang berdaulat dan mementingkan diri sendiri muncullah sebuah sistem yang memiliki logikanya sendiri, logika yang kemudian memaksa negara untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu (Waltz, 1979, hlm. 91).
Untuk membangun teorinya, Waltz, dan kemudian Mearsheimer, bertumpu pada beberapa asumsi inti yang disaring dari pengamatan sejarah. Asumsi-asumsi ini bukanlah kebenaran absolut, melainkan penyederhanaan realitas yang diperlukan agar teori dapat bekerja. Versi paling ringkas dan berpengaruh dirumuskan oleh Mearsheimer dalam The False Promise of International Institutions (1994), yang kemudian diperluas dalam The Tragedy of Great Power Politics (2001). Kelima asumsi tersebut adalah:
- Sistem internasional bersifat anarkis. Ini tidak berarti "kacau balau," melainkan bahwa tidak ada otoritas pusat yang berdiri di atas negara-negara berdaulat. Tidak ada "polisi dunia" yang dapat memaksakan aturan secara efektif. Anarki adalah "prinsip pengaturan" (ordering principle) sistem (Waltz, 1979, hlm. 88).
- Negara-negara besar (great powers) secara inheren memiliki kapabilitas militer ofensif. Setiap negara besar memiliki kemampuan untuk menyerang dan menyakiti negara lain. Kapabilitas ini bervariasi dari waktu ke waktu, tetapi potensinya selalu ada (Mearsheimer, 2001, hlm. 30).
- Negara tidak pernah dapat memastikan intensi negara lain secara sempurna. Bahkan jika hari ini sebuah negara bersikap bersahabat, tidak ada jaminan bahwa ia akan tetap bersahabat esok hari. Sebuah doktrin militer defensif dapat terlihat ofensif di mata negara tetangga. Inilah inti dari dilema keamanan (security dilemma) (Mearsheimer, 2001, hlm. 31).
- Tujuan utama setiap negara adalah bertahan hidup (survival). Kelangsungan hidup adalah prasyarat untuk semua tujuan lain, kesejahteraan, ideologi, atau kehormatan. Tanpa eksistensi fisik, tujuan-tujuan lain tidak mungkin dicapai (Waltz, 1979, hlm. 91-92).
- Negara adalah aktor rasional dalam sistem yang tidak menyediakan informasi sempurna. Negara-negara besar berpikir secara strategis tentang bagaimana bertahan hidup. Mereka memperhitungkan biaya dan manfaat dari setiap tindakan, namun sering kali harus bertindak berdasarkan informasi yang terbatas dan dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi (Mearsheimer, 2001, hlm. 31).
Dari kelima asumsi ini, muncullah satu kesimpulan yang tak terelakkan: Dalam sistem anarkis, negara-negara harus mengandalkan diri sendiri (self-help). Tidak ada pemadam kebakaran internasional yang dapat dihubungi saat rumah terbakar; setiap negara harus menyediakan alat pemadamnya sendiri, atau bersekutu dengan tetangga untuk saling membantu, namun selalu dengan kewaspadaan bahwa tetangga hari ini bisa menjadi musuh esok hari.
Teori Realisme Struktural a.k.a. Neorealisme
Kata "anarki" sering disalahpahami sebagai sinonim dari kekacauan, chaos, atau the war of all against all ala Hobbes. Pemahaman ini keliru, setidaknya dalam konteks teori Waltz. Anarki dalam neorealisme semata-mata berarti ketiadaan otoritas yang lebih tinggi daripada negara berdaulat, tidak ada pemerintah dunia, tidak ada parlemen global dengan kekuatan memaksa yang efektif (Waltz, 1979, hlm. 88). Ini adalah kondisi struktural, bukan kondisi psikologis atau moral.Perbedaan antara politik domestik dan politik internasional dapat dirangkum dalam satu pertanyaan: "Siapa yang akan Anda telepon jika rumah Anda dirampok?" Di dalam negeri, jawabannya jelas: Polisi. Di ranah internasional, jawabannya lebih rumit: Tidak ada polisi dunia yang benar-benar efektif. Dewan Keamanan PBB dapat mengeluarkan resolusi, tetapi implementasinya bergantung pada kemauan politik negara-negara anggota, terutama lima anggota tetap dengan hak veto. Inilah makna fundamental dari anarki.
Implikasi dari anarki sangatlah besar. Karena tidak ada otoritas yang lebih tinggi untuk memberikan jaminan keamanan, negara harus menjamin keamanannya sendiri. Dalam ungkapan Waltz yang terkenal, "self-help is necessarily the principle of action in an anarchic order" (Waltz, 1979, hlm. 111). Negara-negara tidak bisa bergantung pada institusi internasional atau hukum internasional untuk melindungi kepentingan vital mereka jika hal itu bertentangan dengan kepentingan negara-negara kuat.
Salah satu kontribusi terbesar Waltz adalah definisinya tentang struktur politik. Baginya, struktur politik dapat didefinisikan melalui tiga dimensi: (1) Prinsip pengaturan (ordering principle), (2) Diferensiasi fungsional unit-unit (functional differentiation), dan (3) Distribusi kapabilitas di antara unit-unit (distribution of capabilities) (Waltz, 1979, hlm. 88-101).
Dimensi pertama, prinsip pengaturan, bersifat konstan dalam politik internasional: Selalu anarki. Tidak seperti sistem domestik yang hierarkis, di mana ada atasan dan bawahan, sistem internasional tidak memiliki rantai komando yang jelas.
Dimensi kedua, diferensiasi fungsional, menunjukkan perbedaan mencolok antara politik domestik dan internasional. Dalam politik domestik, unit-unit (seperti kementerian, lembaga, pemerintah daerah) memiliki fungsi yang berbeda-beda: Ada yang mengurus pendidikan, ada yang mengurus pertahanan. Dalam politik internasional, semua negara secara fungsional serupa (like units): Semua mengklaim kedaulatan, semua memiliki fungsi keamanan, kesejahteraan, dan diplomasi yang serupa. Tidak ada spesialisasi fungsional yang signifikan (Waltz, 1979, hlm. 97). Karena unit-unit serupa, maka yang membedakan satu negara dari negara lain bukanlah apa yang mereka lakukan, melainkan seberapa besar kemampuan mereka untuk melakukannya.
Di sinilah dimensi ketiga, distribusi kapabilitas, menjadi sangat krusial. Struktur internasional berubah ketika kapabilitas terdistribusi ulang di antara unit-unit utama. Perubahan dari multipolaritas (banyak kekuatan besar) ke bipolaritas (dua kekuatan besar), atau dari bipolaritas ke unipolaritas (satu kekuatan dominan), adalah perubahan struktural yang fundamental. Distribusi kapabilitas material, terutama kapabilitas militer, adalah variabel paling dinamis dalam teori Waltz dan merupakan penentu utama stabilitas sistem.
Bagi realis struktural, "kekuasaan" (power) bukanlah konsep yang abstrak atau psikologis. Kekuasaan adalah kapabilitas material yang dapat diukur dan dibandingkan. Kapabilitas ini mencakup:
- Kapabilitas militer. Jumlah personel, kualitas persenjataan, teknologi pertahanan, anggaran belanja militer, dan, yang paling vital, kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan di luar wilayah sendiri (power projection).
- Kapabilitas ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat industrialisasi, penguasaan teknologi maju, cadangan devisa, dan kontrol atas jalur perdagangan vital.
- Kapabilitas demografis. Jumlah populasi, kualitas sumber daya manusia, dan, dalam konteks militer, jumlah pemuda yang tersedia untuk wajib militer.
- Kapabilitas geografis. Luas wilayah, posisi strategis, akses ke lautan (sea lanes of communication), dan kedalaman strategis (strategic depth).
Waltz menekankan bahwa yang penting bukanlah kapabilitas absolut, melainkan kapabilitas relatif. Dalam sistem anarkis, pertanyaan yang selalu menghantui para pembuat keputusan bukanlah "apakah kita semakin kuat?" melainkan "apakah kita semakin kuat dibandingkan dengan saingan potensial kita?" (Waltz, 1979, hlm. 131). Inilah logika posisional yang dingin dan tanpa ampun: Keuntungan absolut tidak berarti jika saingan memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Bagaimana struktur memengaruhi perilaku unit? Waltz mengidentifikasi dua mekanisme: Sosialisasi dan kompetisi. Sosialisasi adalah proses di mana negara-negara belajar norma-norma perilaku yang diterima dalam sistem. Negara yang berperilaku "menyimpang", misalnya terlalu agresif atau terlalu pasif, akan mendapatkan sanksi dari sistem, baik berupa isolasi diplomatik, sanksi ekonomi, atau bahkan konfrontasi militer. Melalui proses trial and error, negara-negara cenderung meniru praktik-praktik yang berhasil dari negara-negara sukses (Waltz, 1979, hlm. 74-77).
Kompetisi lebih bersifat mekanis dan kurang disengaja. Negara-negara yang gagal beradaptasi dengan tuntutan sistem, misalnya dengan tidak memodernisasi militer mereka atau mengabaikan aliansi strategis, akan "tersingkir" secara alamiah, sebagaimana perusahaan yang tidak efisien tersingkir dari pasar (Waltz, 1979, hlm. 77). Mekanisme ganda ini memastikan bahwa dari waktu ke waktu, perilaku negara-negara cenderung konvergen menuju pola-pola yang dapat diprediksi oleh teori.
Dari logika struktural ini, Waltz menurunkan prediksi intinya: Dalam sistem anarkis, keseimbangan kekuatan (balance of power) akan terbentuk secara berulang (recurrently). Ini bukan karena negara-negara secara sadar menginginkan keseimbangan, melainkan karena sistem memberikan insentif bagi perilaku penyeimbangan (balancing).
Ketika satu negara menjadi terlalu kuat dan mengancam dominasi, negara-negara lain akan menyeimbangkan (balancing), baik melalui peningkatan kapabilitas internal (internal balancing, yaitu mempersenjatai diri) maupun melalui pembentukan aliansi (external balancing). Waltz berargumen bahwa dalam sistem anarki, negara cenderung menyeimbangkan (balance) daripada bergabung (bandwagon) dengan kekuatan yang sedang naik daun. Bergabung dengan pihak yang kuat memang terlihat menggiurkan dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang sama saja dengan menyerahkan nasib kepada kekuatan dominan, sebuah pilihan yang berbahaya bagi negara yang menghargai kedaulatannya (Waltz, 1979, hlm. 126-127).
Salah satu klaim paling kontroversial Waltz adalah bahwa sistem bipolar lebih stabil dan damai daripada sistem multipolar. Logikanya adalah sebagai berikut. Dalam sistem bipolar (dua kekuatan besar), kedua pihak saling mengawasi secara langsung. Tidak ada ketergantungan pada aliansi yang rumit dan rentan terhadap permainan ganda. Kesalahan perhitungan (miscalculation) lebih kecil kemungkinannya karena hanya ada satu lawan utama yang perlu dipantau. Masing-masing pihak menyediakan keamanannya sendiri dan tidak bisa mengandalkan sekutu, sehingga mereka sangat berhati-hati. Perang Dunia yang melibatkan kedua kutub tidak terjadi selama Perang Dingin karena kedua negara adidaya memiliki kemampuan pembalasan nuklir yang membuat perang habis-habisan sama dengan bunuh diri (Waltz, 1979, hlm. 170-176).
Dalam sistem multipolar (tiga atau lebih kekuatan besar), situasinya lebih rumit dan berbahaya. Negara-negara dapat melakukan buck-passing, melempar tanggung jawab menghadapi ancaman kepada negara lain. Aliansi bersifat fleksibel dan tidak dapat diandalkan. Miskalkulasi kekuatan relatif lebih mungkin terjadi karena terlalu banyak variabel yang harus dihitung. Paradoksnya, dalam multipolaritas, semakin banyak aktor yang terlibat, semakin sulit memprediksi hasil interaksi, dan semakin tinggi risiko perang besar yang tidak disengaja (Waltz, 1979, hlm. 161-170).
Dua Wajah Realisme Struktural a.k.a. Neorealisme
Meskipun Waltz dan Mearsheimer sama-sama berpijak pada fondasi strukturalis yang sama, mereka tiba pada kesimpulan yang berbeda secara fundamental tentang seberapa banyak kekuasaan yang dibutuhkan negara untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Perbedaan ini melahirkan dua varian utama neorealisme: realisme defensif dan realisme ofensif.Bagi Waltz, tujuan utama negara adalah keamanan, bukan kekuasaan tanpa batas. Negara, dalam pandangan defensif, adalah security maximizer, pemaksimal keamanan, bukan power maximizer. Struktur internasional, kata Waltz, menghukum negara yang terlalu rakus. Negara yang berusaha mencapai hegemoni akan menghadapi counter-coalition yang akan mengembalikan keseimbangan dan membuat posisi si agresor justru lebih buruk daripada sebelumnya (Waltz, 1979, hlm. 126).
Dalam perspektif ini, "jumlah kekuasaan yang memadai" (appropriate amount of power) adalah kunci. Negara harus cukup kuat untuk mempertahankan diri, tetapi tidak boleh terlalu kuat hingga memprovokasi aliansi penyeimbang yang dapat menghancurkannya (Waltz, 1979, hlm. 40). Ini adalah filosofi "Goldilocks": Jangan terlalu lemah, jangan terlalu kuat; carilah titik yang "pas."
Mengapa negara tidak berusaha menjadi hegemon? Karena hegemoni global hampir mustahil dicapai, terlalu mahal, terlalu berisiko, dan selalu akan ditentang oleh koalisi penyeimbang. Bahkan negara yang sangat kuat seperti Amerika Serikat pun tidak bisa mendominasi seluruh dunia sendirian. Dalam logika defensif, keseimbangan kekuatan adalah hasil alami dari sistem yang cenderung mempertahankan dirinya sendiri; sistem memiliki mekanisme koreksi internal yang mencegah dominasi tunggal.
Mearsheimer membalik logika Waltz. Baginya, dalam dunia anarki, tidak ada yang namanya "kekuasaan yang cukup." Ketidakpastian tentang intensi negara lain begitu mendalam sehingga status quo bukanlah pilihan yang tersedia. Dalam kata-kata Mearsheimer, "States quickly understand that the best way to ensure their survival is to be the most powerful state in the system" (Mearsheimer, 2001, hlm. 33).
Mearsheimer (2001) mendefinisikan lima asumsi "alas dasar" (bedrock assumptions) yang telah kita bahas sebelumnya, dan dari asumsi-asumsi itu ia menyimpulkan tiga pola perilaku umum negara-negara besar:
- Ketakutan (fear). Negara-negara besar saling mencurigai dan melihat satu sama lain sebagai ancaman potensial. Ketakutan adalah kekuatan pendorong utama dalam politik internasional.
- Swadaya (self-help). Tidak ada negara yang dapat sepenuhnya mengandalkan negara lain untuk keamanannya. Aliansi hanyalah perkawinan sementara demi kenyamanan, yang akan bubar begitu kepentingan bersama berakhir.
- Maksimalisasi kekuasaan (power maximization). Dalam dunia yang tidak pasti, hegemoni adalah satu-satunya jaminan keamanan sejati. Negara-negara besar terus-menerus mencari peluang untuk mengubah keseimbangan kekuasaan demi keuntungan mereka, dan akan merebutnya bila biayanya masuk akal.
Mearsheimer menyebut teorinya "tragedi" karena bahkan negara-negara yang tidak memiliki niat agresif pun akan terdorong untuk bersikap ofensif oleh logika sistem. Tragedi bukan terletak pada kebobrokan moral manusia, melainkan pada struktur interaksi itu sendiri. Dalam analogi Mearsheimer yang terkenal, negara-negara besar seperti perampok bersenjata yang saling berhadapan di ruangan gelap: masing-masing tahu bahwa siapa yang menembak lebih dulu akan selamat, meskipun mungkin tidak ada yang benar-benar ingin berkelahi.
Tabel Perbandingan Neorealisme Defensif dan Ofensif
Perbedaan ini memiliki implikasi praktis yang sangat besar. Jika Waltz benar, maka kebangkitan Tiongkok akan direspons oleh negara-negara Asia dan Amerika Serikat dengan membentuk koalisi penyeimbang yang akan menstabilkan sistem. Jika Mearsheimer benar, maka kebangkitan Tiongkok akan mengarah pada konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat, karena kedua negara akan berusaha mendominasi kawasan masing-masing dan mencegah dominasi satu sama lain, sebuah prediksi yang sangat pesimistis namun sayangnya semakin sulit diabaikan.
Kritik
Tidak ada teori yang sempurna, dan realisme struktural telah menghadapi gelombang kritik yang substansial sejak kemunculannya. Memahami kritik-kritik ini penting untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan teori.Kaum liberal institusionalis, yang dipelopori oleh Robert Keohane, tidak menolak premis anarki Waltz, tetapi mereka menarik kesimpulan yang sangat berbeda. Bagi Keohane (1984), anarki tidak selalu berarti ketidakmungkinan kerja sama. Justru karena negara-negara memiliki kepentingan bersama (common interests), mereka dapat membangun institusi internasional untuk memfasilitasi kerja sama.
Institusi, dalam pandangan liberal, menjalankan fungsi-fungsi vital: Menyediakan informasi, mengurangi biaya transaksi, memperjelas aturan main, dan memungkinkan negara-negara untuk membuat komitmen yang kredibel. Melalui mekanisme ini, institusi dapat memperlunak efek anarki dan memungkinkan kerja sama berlangsung bahkan di antara para pesaing (Keohane, 1984).
Kaum liberal juga menunjuk pada fenomena seperti democratic peace, temuan empiris bahwa negara-negara demokrasi cenderung tidak berperang satu sama lain, sebagai bukti bahwa faktor internal (rezim politik) sangat memengaruhi perilaku internasional. Neorealisme, dengan asumsinya yang mengabaikan perbedaan internal antarnegara, dianggap tidak mampu menjelaskan pola ini.
Serangan yang lebih fundamental datang dari kaum konstruktivis, terutama Alexander Wendt. Dalam artikelnya yang terkenal, "Anarchy is What States Make of It" (1992), Wendt berargumen bahwa anarki tidak memiliki logika yang inheren. Konsekuensi anarki bagi perilaku negara bergantung pada bagaimana negara-negara memahami dan menafsirkan anarki itu sendiri.
Wendt menunjukkan bahwa "self-help" dan "power politics" bukanlah konsekuensi niscaya dari anarki, melainkan hasil dari proses interaksi sosial antarnegara. Anarki dapat memiliki "kultur" yang berbeda: Hobbesian (musuh), Lockean (saingan), atau Kantian (teman) (Wendt, 1999). Negara-negara Eropa Barat saat ini tidak saling takut dan tidak mempersenjatai diri untuk melawan satu sama lain, meskipun secara struktural mereka berada dalam sistem anarkis. Mengapa? Karena identitas dan kepentingan mereka telah berubah melalui proses interaksi sosial selama puluhan tahun. Realisme struktural, yang memperlakukan identitas dan kepentingan sebagai sesuatu yang diberikan (given) dan tetap, tidak mampu menjelaskan transformasi fundamental semacam ini.
Aliran realis neoklasik, yang dikembangkan oleh cendekiawan seperti Randall Schweller dan Fareed Zakaria, menawarkan jalan tengah. Mereka setuju bahwa struktur sistemik penting, tetapi berargumen bahwa dampak struktur difilter melalui variabel-variabel domestik: Persepsi ancaman oleh para pemimpin, kapasitas negara untuk memobilisasi sumber daya, kohesi masyarakat, dan dinamika politik dalam negeri (Schweller, 2006).
Bagi kaum neoklasik, neorealisme terlalu "kurus" (parsimonious) hingga kehilangan kemampuan untuk menjelaskan variasi perilaku negara yang signifikan. Mengapa beberapa negara merespons ancaman serupa dengan cara yang berbeda? Mengapa kebangkitan Tiongkok direspons dengan cara yang berbeda oleh Jepang, India, dan Vietnam? Neorealisme murni kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tanpa membuka "kotak hitam" negara dan melongok ke dalamnya.
Para neorealis sendiri tidak tinggal diam. Waltz, hingga akhir hayatnya, tetap mempertahankan bahwa teorinya adalah teori politik internasional, bukan teori kebijakan luar negeri. Teori ini menjelaskan pola-pola besar dan berulang dalam sejarah, bukan perilaku spesifik setiap negara pada setiap waktu. "Teori," tegas Waltz, "menjelaskan keteraturan, bukan kejadian spesifik" (Waltz, 1979, hlm. 69).
Sementara itu, para cendekiawan seperti Barry Buzan berusaha untuk memperkaya dan memperluas realisme struktural. Buzan, Jones, dan Little (1993) memperkenalkan konsep "struktur dalam" (deep structure) yang mencakup lebih banyak variabel, dan menekankan bahwa anarki bukanlah kondisi tunggal yang seragam, logika anarki dapat berubah seiring perubahan cara negara-negara mereproduksi diri mereka sendiri.
Relevansi dengan Politik Internasional Kiwari
Setelah memahami fondasi teoretisnya, tibalah kita pada pertanyaan yang paling penting: Seberapa relevan realisme struktural untuk memahami dunia kita saat ini?Tidak ada fenomena kontemporer yang lebih mencerminkan logika neorealis daripada rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok. Dari perspektif struktural, dinamika ini adalah skenario klasik yang dapat diprediksi sepenuhnya. Ketika sebuah kekuatan besar yang sedang naik daun (rising power) mulai mendekati kapabilitas kekuatan dominan yang sudah mapan (established power), gesekan struktural menjadi tak terelakkan. Perubahan dalam distribusi kapabilitas material, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang spektakuler, modernisasi militernya yang pesat, dan perluasan pengaruh geopolitiknya, mengubah struktur sistem dari unipolaritas yang didominasi AS menuju bipolaritas yang semakin jelas (Tunsjø, 2018).
Realisme ofensif Mearsheimer sangat pesimistis tentang prospek perdamaian dalam transisi ini. Dalam The Tragedy of Great Power Politics, Mearsheimer (2001) secara eksplisit berargumen bahwa "China cannot rise peacefully." Logikanya lugas: Tiongkok, sebagai kekuatan besar regional yang sedang naik, akan berusaha mencapai hegemoni di Asia, sementara Amerika Serikat, sebagai hegemon regional yang mapan di Belahan Bumi Barat, akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah munculnya hegemon saingan di Asia Timur. Ini adalah resep untuk bentrokan struktural.
Data empiris tampaknya mendukung pandangan pesimistis ini. Perlombaan senjata angkatan laut di Pasifik, militerisasi Laut Tiongkok Selatan, perang dagang dan teknologi, serta pembentukan aliansi seperti AUKUS dan penguatan Quad (AS, Jepang, India, Australia) adalah manifestasi nyata dari logika penyeimbangan yang diprediksi oleh Waltz dan Mearsheimer. Tunsjø (2018) bahkan berargumen bahwa kita sedang menyaksikan "kembalinya bipolaritas" dalam politik dunia, sebuah struktur yang menurut Waltz lebih stabil tetapi juga menuntut kewaspadaan konstan dari kedua kutub.
Namun, gambaran ini juga mengungkap keterbatasan neorealisme. Teori ini kesulitan menjelaskan mengapa respons terhadap kebangkitan Tiongkok sangat bervariasi: Jepang meningkatkan kapasitas militernya secara signifikan, Korea Selatan berusaha menjaga keseimbangan antara AS dan Tiongkok, sementara negara-negara Asia Tenggara menunjukkan pola hedging yang kompleks. Variasi ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan distribusi kapabilitas; ia memerlukan analisis faktor-faktor domestik, historis, dan kultural yang cenderung diabaikan oleh neorealisme struktural.
Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 adalah perang antarnegara terbesar di Eropa sejak 1945, dan telah menjadi arena perdebatan sengit bagi para teoritisi realis.
Mearsheimer telah lama berargumen bahwa ekspansi NATO ke timur adalah provokasi struktural yang pada akhirnya akan memicu respons keras dari Rusia. Dalam pandangannya, Rusia, seperti semua kekuatan besar, akan berusaha mencegah kekuatan saingan membangun pijakan militer di "halaman belakangnya" (backyard). Dalam logika ofensif, tindakan Rusia dapat dipahami sebagai upaya untuk mempertahankan hegemoni regional di kawasan yang dianggapnya vital bagi keamanannya, sebuah perilaku yang sepenuhnya konsisten dengan teori Mearsheimer tentang bagaimana kekuatan besar berperilaku.
Di sisi lain, para kritikus menunjukkan bahwa narasi ini melebih-lebihkan determinisme struktural. NATO memang memperluas keanggotaannya, tetapi aliansi ini tidak menempatkan pasukan tempur signifikan di negara-negara anggota baru di Eropa Timur, dan Ukraina tidak ditawari keanggotaan penuh atau jaminan keamanan Pasal 5. Jika Rusia bertindak murni berdasarkan kalkulasi struktural yang rasional, mengapa ia menginvasi pada 2022 dan bukan pada 2008 atau 2014, dan mengapa perang ini terbukti jauh lebih sulit dan mahal daripada yang diperkirakan Moskow?
Perang ini menunjukkan bahwa faktor-faktor non-material dan domestik, ideologi revisionis Kremlin, dinamika politik internal Rusia, persepsi dan miskalkulasi pribadi Vladimir Putin, memainkan peran yang sangat besar. Neorealisme dapat menjelaskan mengapa gesekan antara Rusia dan Barat terjadi, tetapi sulit menjelaskan mengapa gesekan itu berubah menjadi perang skala penuh pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ini memperkuat argumen neoklasik bahwa variabel domestik dan agensi pemimpin adalah filter yang tidak dapat diabaikan.
Salah satu perkembangan paling mencolok dalam satu dekade terakhir adalah mundurnya globalisasi neoliberal dan kebangkitan kembali kebijakan proteksionis serta nasionalisme ekonomi. Perang dagang AS-Tiongkok di bawah pemerintahan Trump, Brexit, dan terpecahnya rantai pasok global akibat isu wabah semuanya menandakan pergeseran dari logika liberal menuju logika yang lebih bersifat posisional dan zero-sum, sejalan dengan premis neorealis tentang persaingan relatif.
Namun di sini pun, neorealisme menghadapi keterbatasan. Teori ini relatif buta terhadap dinamika ekonomi yang tidak terkait langsung dengan keamanan militer. Interdependensi ekonomi global yang masih sangat tinggi, peran perusahaan multinasional yang melampaui batas negara, dan pentingnya isu-isu seperti perubahan iklim atau regulasi teknologi digital menunjukkan bahwa agenda internasional telah berkembang jauh melampaui fokus neorealisme pada "high politics" militer. Realisme struktural dapat menjelaskan persaingan, tetapi kurang mampu menjelaskan kerja sama ekonomi yang masih berlangsung bahkan di antara rival strategis.
Salah satu pertanyaan paling mendesak bagi para pembuat kebijakan adalah: apakah transisi dari unipolaritas ke bipolaritas (atau multipolaritas) akan berlangsung damai?
Dari perspektif realisme defensif (Waltz), jawabannya relatif optimistis. Logika keseimbangan kekuatan akan bekerja: Ketika Tiongkok semakin kuat, kekuatan-kekuatan lain di Asia akan menyeimbangkan, dan AS akan melanjutkan perannya sebagai offshore balancer. Bipolaritas yang dihasilkan, seperti yang terjadi selama Perang Dingin, bisa jadi relatif stabil karena kedua pihak saling mengawasi dengan cermat dan menghindari eskalasi langsung yang dapat mengarah pada perang nuklir.
Dari perspektif realisme ofensif (Mearsheimer), jawabannya jauh lebih suram. AS tidak akan mentoleransi munculnya hegemon di Asia Timur, dan Tiongkok tidak akan puas sampai dominasi Amerika di kawasan itu berakhir. Tabrakan kepentingan struktural ini berarti bahwa perang besar antarnegara tetap merupakan kemungkinan yang nyata, betapapun mengerikannya prospek itu di era senjata nuklir.
Evaluasi yang berimbang menunjukkan bahwa kedua varian menangkap sebagian dari kebenaran, tetapi tidak ada yang sepenuhnya memadai. Struktur memang membentuk insentif dan batasan, tetapi dalam batasan itu, kebijakan spesifik yang dipilih oleh para pemimpin, dan respons masyarakat internasional terhadap pilihan-pilihan itu, dapat membuat perbedaan antara perdamaian dan perang. Tragedi sejati mungkin bukan bahwa sistem memaksa negara untuk berkonflik, melainkan bahwa teori yang terlalu deterministik dapat menutup ruang bagi kemungkinan-kemungkinan alternatif yang lebih baik.
Terlepas dari berbagai kritik, sebuah artikel terbaru yang diterbitkan oleh Project MUSE pada 2023 menegaskan bahwa neorealisme masih memberikan penjelasan yang meyakinkan tentang politik dunia. Artikel tersebut menunjukkan bahwa tiga dekade setelah berakhirnya bipolaritas, dan setelah berbagai tantangan dari neoliberalisme, neorealisme tetap kredibel sebagai teori hubungan internasional, baik dalam wacana normatif maupun empiris (Project MUSE, 2023).
Kekuatan neorealisme terletak pada parsimoni dan konsistensi logisnya. Ia menawarkan kerangka yang jelas, dapat diuji, dan mampu menjelaskan pola-pola besar sejarah internasional, dari Perang Peloponnesos hingga Perang Dingin, dan dari Perang Dingin hingga rivalitas AS-Tiongkok saat ini. Tidak ada teori lain dalam HI yang dapat mengklaim jangkauan historis yang sama luas dengan tingkat presisi yang sama.
Penutup
Realisme struktural, seperti semua teori besar dalam ilmu sosial, adalah iluminasi parsial. Ia menerangi aspek-aspek tertentu dari realitas internasional dengan sangat tajam, namun meninggalkan aspek-aspek lain dalam kegelapan.Apa yang diterangi oleh realisme struktural adalah logika besi dari persaingan kekuasaan besar. Ia mengingatkan kita, terkadang dengan cara yang tidak mengenakkan, bahwa di balik retorika tentang "komunitas internasional" dan "tatanan berbasis aturan," politik internasional tetaplah ranah di mana kekuasaan material, terutama kapabilitas militer, adalah argumen terakhir. Perubahan dalam distribusi kapabilitas ini secara fundamental membentuk ulang kemungkinan-kemungkinan dan bahaya-bahaya yang dihadapi oleh semua negara.
Dalam hal ini, neorealisme adalah peringatan terhadap utopianisme yang naif. Ia mengajarkan bahwa perdamaian tidak dapat diandaikan begitu saja, bahwa niat baik tidak dapat menggantikan kapabilitas, dan bahwa keamanan adalah prasyarat bagi semua nilai-nilai lainnya.
Apa yang ditinggalkan dalam kegelapan adalah dimensi-dimensi kehidupan internasional yang tidak dapat direduksi menjadi persaingan material: peran norma, identitas, dan institusi dalam membentuk kembali apa yang dianggap mungkin dan diinginkan oleh negara-negara; dinamika internal negara yang sering kali menentukan pilihan kebijakan luar negeri; dan kemungkinan transformasi fundamental dalam cara komunitas politik mengorganisir hubungan mereka satu sama lain.
Seorang mahasiswa atau pengamat politik global yang bijak tidak akan menjadikan neorealisme sebagai satu-satunya kacamata, tetapi juga tidak akan membuangnya. Neorealisme adalah alat diagnosis, bukan resep kebijakan. Ia berguna untuk memahami mengapa negara-negara cenderung berperilaku dengan cara tertentu, tetapi tidak untuk menentukan bagaimana seharusnya mereka berperilaku.
Dunia yang kita tinggali saat ini, dengan rivalitas AS-Tiongkok yang memanas, perang di Ukraina, disintegrasi rezim kontrol senjata, dan meroketnya anggaran militer global, adalah dunia yang seolah-olah dirancang untuk membuktikan relevansi realisme struktural. Namun di saat yang sama, tantangan-tantangan seperti perubahan iklim, pandemi, dan ketidaksetaraan global menuntut respons kolektif yang melampaui logika persaingan kekuasaan dan memerlukan kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tantangan intelektual dan praktis bagi generasi mendatang adalah menemukan cara untuk mengakui realitas persaingan kekuasaan tanpa menyerah pada fatalisme bahwa konflik adalah takdir yang tidak dapat dihindari. Memahami realisme struktural, kekuatannya dan keterbatasannya, adalah langkah pertama yang penting dalam perjalanan ini.
Referensi
Buzan, B., Jones, C., & Little, R. (1993). The logic of anarchy: Neorealism to structural realism. Columbia University Press.Keohane, R. O. (1984). After hegemony: Cooperation and discord in the world political economy. Princeton University Press.
Mearsheimer, J. J. (1994). The false promise of international institutions. International Security, 19(3), 5–49.
Mearsheimer, J. J. (2001). The tragedy of great power politics. W. W. Norton & Company.
Morgenthau, H. J. (1948). Politics among nations: The struggle for power and peace. Alfred A. Knopf.
Project MUSE. (2023). A defence of the relevance of neorealism in the post-bipolar world. Irish Studies in International Affairs, 34, 11–26. https://doi.org/10.1353/isia.2023.0001
Schweller, R. L. (2006). Unanswered threats: Political constraints on the balance of power. Princeton University Press.
Tunsjø, Ø. (2018). The return of bipolarity in world politics: China, the United States, and geostructural realism. Columbia University Press.
Waltz, K. N. (1979). Theory of international politics. McGraw-Hill.
Waltz, K. N. (2008). Realism and international politics. Routledge.
Wendt, A. (1992). Anarchy is what states make of it: The social construction of power politics. International Organization, 46(2), 391–425.
Wendt, A. (1999). Social theory of international politics. Cambridge University Press.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.