Ad Code

Jawdat Sa’ide dan Suara Non Kekerasan dalam Politik

Di tengah dominasi wacana kekerasan dan paksaan politik, muncul suara profetik yang menyerukan jalan lain: Jalan kenabian yang menolak kekerasan, menekankan kewajiban moral absolut untuk bersaksi, dan mendorong tanggung jawab individu sebagai motor perubahan sosial.

Suara itu adalah Jawdat Sa'id, seorang cendekiawan Muslim Suriah yang menghabiskan lebih dari setengah abad menulis, berkhotbah, dan mempraktikkan gagasan-gagasan ini. Mengapa Jawdat Sa'id penting bagi kita hari ini?

Pertama, ia menawarkan sebuah alternatif etis yang kuat terhadap politik kekuasaan. Di dunia di mana rezim-rezim otoriter bertahan dengan kekerasan dan kelompok-kelompok oposisi seringkali tergoda untuk membalas dengan cara yang sama, Sa'id mengingatkan bahwa perubahan sejati hanya mungkin melalui transformasi pemikiran, bukan melalui paksaan fisik. Kedua, ia menawarkan sebuah model tanggung jawab individu yang mendalam, di mana setiap Muslim dipanggil untuk menjadi agen moral yang aktif, bukan sekadar pengikut pasif. Ketiga, ia mengajarkan bahwa non-kekerasan bukanlah kepasifan, melainkan sebuah strategi aktif dan profetik untuk mewujudkan keadilan.

Biografi Intelektual

Jawdat Sa'id lahir pada tahun 1931 di Bi'r 'Ajam, sebuah desa di Dataran Tinggi Golan, Suriah, dari keluarga etnis Sirkasia. Wilayah ini saat itu berada di bawah kekuasaan Mandat Prancis. Tumbuh dalam lingkungan kolonial yang represif, Sa'id muda menyaksikan langsung dampak kekerasan dan penjajahan terhadap rakyatnya. Pengalaman ini kelak membentuk kepekaannya yang mendalam terhadap persoalan keadilan dan kekuasaan.

Pada awal 1950-an, Sa'id berangkat ke Kairo untuk menempuh studi di Universitas Al-Azhar, pusat intelektual Sunni yang paling prestisius di dunia Islam. Ia menghabiskan sekitar satu dekade di sana, lulus pada tahun 1957. Selama masa studinya di Mesir, Sa'id menyaksikan peristiwa-peristiwa yang akan membentuk seluruh pemikiran politiknya: Ketegangan yang meningkat antara Ikhwanul Muslimin dan rezim Gamal Abdel Nasser, serta bagaimana meningkatnya militansi kaum Islamis menjadi dalih bagi represi negara yang semakin keras.

Di Mesir pula Sa'id diperkenalkan pada pemikiran Malik Bennabi, seorang filsuf Aljazair yang menekankan pentingnya "ide" dan "pemikiran" sebagai fondasi perubahan peradaban. Bennabi-lah yang pertama kali mengajarkan kepada Sa'id bahwa krisis yang dihadapi umat Islam bukan terutama bersifat material, melainkan krisis pemikiran. Bennabi menekankan bahwa peradaban dibangun di atas tiga pilar: Manusia, tanah, dan waktu, di mana manusia adalah yang paling penting. Dari Bennabi pula Sa'id mewarisi keyakinan bahwa perubahan sosial sejati harus dimulai dari transformasi pemikiran dan kesadaran individu. Ide ini kelak menjadi fondasi seluruh proyek intelektualnya.



Titik balik dalam kehidupan intelektual Sa'id terjadi pada tahun 1964, ketika ia menerbitkan buku pertamanya yang kelak dianggap sebagai karya monumentalnya: Mazhab Ibn Adam al-Awwal (The Doctrine of the First Son of Adam) yang diberi subjudul The Problem of Violence in the Islamic Action.

Buku ini merupakan respons sekaligus sanggahan terhadap Sayyid Qutb, ideolog utama militanisme Islam, dan gagasannya tentang kekerasan revolusioner. Dalam karya ini, Sa'id meletakkan dasar bagi konsepnya tentang non-kekerasan radikal yang berakar pada Al-Qur'an. Ia mengajukan pertanyaan fundamental: Metode apakah yang digunakan oleh para nabi dalam menghadapi kekuasaan yang zalim? Jawabannya, menurut Sa'id, adalah jelas: Mereka bersaksi, bukan memaksa.

Gagasan tentang "putra pertama Adam" sangat sentral dalam pemikiran Sa'id. Dalam Al-Qur'an, kisah Habil (Abel) dan Qabil (Cain) menampilkan dua model respons terhadap konflik: Habil yang menolak menggunakan kekerasan dan bersaksi atas kebenaran ("Sungguh, aku ingin engkau kembali dengan membawa dosaku dan dosamu sendiri, sehingga engkau akan menjadi penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim." QS Al-Ma'idah: 29), dan Qabil yang menggunakan kekerasan untuk menyingkirkan saudaranya. Bagi Sa'id, Habil adalah model bagi tindakan Islam yang autentik karena ia bersaksi atas kebenaran, menolak untuk membalas dengan kekerasan meskipun menghadapi ancaman kematian, dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.

Karya-karya Sa'id tidak membuatnya populer di mata rezim otoriter Suriah. Sejak tahun 1960-an, ia berulang kali dipenjara oleh pemerintah Suriah. Namun, alih-alih mematahkan semangatnya, pengalaman penjara justru menjadi kesempatan untuk memperdalam gagasannya. Seperti yang dicatat oleh sebuah artikel di Philomag, "Sa'id dipenjara pada awal 1960-an. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyempurnakan konsepsinya tentang non-kekerasan yang berakar pada eksegesis Al-Qur'an."

Meskipun berulang kali dipenjara, Sa'id tidak pernah meninggalkan keyakinannya. Ia terus menulis, menerbitkan puluhan buku dalam bahasa Arab (sebagian besar belum diterjemahkan) yang menekankan perlunya mengadopsi non-kekerasan sebagai modus operandi tindakan Islam. Setelah rumahnya di Bi'r 'Ajam dihancurkan selama perang saudara Suriah, ia melarikan diri ke Turki, di mana ia menghabiskan sisa-sisa hidupnya dalam pengasingan hingga wafat pada 30 Januari 2022 pada usia 90 tahun.

Fondasi Teologis

Salah satu argumen paling fundamental dalam pemikiran Sa'id adalah bahwa para nabi, termasuk Nabi Muhammad, tidak pernah menggunakan kekerasan untuk menyebarkan atau memaksakan keyakinan mereka. Sebaliknya, mereka adalah saksi (syahid) yang menyerukan kebenaran melalui perkataan dan tindakan, bukan melalui paksaan.

Argumen ini berakar pada prinsip Al-Qur'an yang sangat jelas: "Tidak ada paksaan dalam agama" (la ikraha fi al-din; QS Al-Baqarah: 256). Bagi Sa'id, ayat ini adalah prinsip konstitusional yang mendasari seluruh etika politik Islam, bukan sekadar anjuran moral yang bisa diabaikan. Ini adalah fondasi bagi kebebasan beragama, kebebasan intelektual, dan penolakan terhadap segala bentuk tirani. Dalam pandangannya, paksaan agama dan paksaan politik adalah dua sisi dari koin yang sama: Keduanya menolak tanggung jawab individu dan merampas kebebasan manusia untuk memilih secara sadar.

Sa'id merujuk pada model Nabi Muhammad di Mekkah. Selama tiga belas tahun, Nabi dan para pengikutnya dianiaya, ditekan, dan dibunuh, tetapi mereka tidak pernah menggunakan kekerasan untuk membela diri atau melawan. Mereka bersaksi, berargumen, dan menyerukan kebenaran. Ayat-ayat Al-Qur'an yang turun selama periode ini juga menekankan pentingnya bersabar dan menolak untuk menempuh jalan kekerasan. Ayat yang mengizinkan perlawanan bersenjata baru turun setelah hijrah ke Madinah, ketika umat Islam telah menjadi entitas politik yang terorganisasi.

Konsep perjanjian primordial (al-mitsaq) yang disebutkan dalam Al-Qur'an (QS Al-A'raf: 172), ketika Tuhan mengeluarkan seluruh keturunan Adam dan bertanya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?", memiliki tempat sentral dalam pemikiran Sa'id. Seperti juga dalam kerangka Taha Abdurrahman, perjanjian ini adalah kontrak asali antara manusia dan Tuhan yang mendahului semua kontrak sosial manusia.

Apa implikasi politik dari perjanjian ini? Bagi Sa'id, setiap individu terikat langsung kepada Tuhan. Tidak ada otoritas politik yang boleh mengklaim telah mentransfer kewajiban moral individu ini kepada dirinya. Inilah dasar dari tanggung jawab individu yang absolut. Seorang Muslim tidak bisa bersembunyi di belakang penguasa, ulama, atau masyarakat dan berkata, "Saya hanya mengikuti perintah." Ia secara pribadi bertanggung jawab atas setiap tindakannya di hadapan Tuhan.

Sebuah kajian mendalam tentang pemikiran Sa'id yang diterbitkan oleh Cambridge University Press (2025) menegaskan bahwa ia "berusaha menyeimbangkan kewajiban moral absolut untuk bersaksi dengan penolakan sistematis terhadap paksaan politik melalui model-model skriptural dari Habil hingga Bilal bin Rabah."

Selain Habil, Sa'id sering merujuk pada figur Bilal bin Rabah sebagai model bagi aktivis Muslim. Bilal adalah seorang budak yang disiksa dengan kejam oleh tuannya di bawah terik matahari Mekkah, tetapi ia tidak pernah menggunakan kekerasan untuk membebaskan diri. Ia hanya terus mengulangi, "Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa, Allah Maha Esa). Bilal bersaksi, dan dalam kesaksiannya yang tanpa kekerasan itu, ia menang.

Di sini, Sa'id meradikalisasi konsep syahid (saksi/martir). Syahid bukanlah orang yang mati dalam pertempuran melawan musuh; syahid adalah orang yang bersaksi atas kebenaran dan menanggung konsekuensi dari kesaksiannya. Ini adalah rekonfigurasi yang mendalam dari konsep jihad dan syahadah dalam Islam. Sa'id (1964) mempertanyakan secara mendasar: "Mengapa kita menganggap bahwa perubahan hanya bisa terjadi melalui kekerasan? Bukankah para nabi telah menunjukkan kepada kita jalan yang berbeda?"

Dalam surat penolakannya yang terkenal atas penghargaan perdamaian dari Forum for Promoting Peace in Muslim Societies pada tahun 2015, Sa'id menulis: "Sesungguhnya, perdamaian dan non-kekerasan adalah bentuk jihad yang terbesar." Ini adalah pernyataan yang sangat berani dan provokatif. Dalam wacana yang didominasi oleh glorifikasi "jihad pedang," Sa'id menegaskan bahwa perjuangan terbesar adalah perjuangan melawan kekerasan itu sendiri.

Namun, Sa'id menolak dengan tegas bahwa non-kekerasan adalah kepengecutan atau sikap diam terhadap ketidakadilan. Bagi Sa'id, non-kekerasan adalah bentuk perlawanan tertinggi karena ia menolak logika dan metode penindas, sekaligus menuntut keberanian moral yang lebih besar daripada kekerasan. Berdiri di hadapan penguasa zalim dan mengatakan kebenaran tanpa senjata adalah lebih sulit, dan lebih terhormat, daripada mengangkat senjata.

Tanggung Jawab Individu

Salah satu tesis paling radikal Sa'id adalah bahwa krisis yang dihadapi umat Islam, dan dunia modern pada umumnya, bukan terutama krisis politik atau ekonomi, melainkan krisis ide. Bagi Sa'id, masalah mendasar umat Islam bukanlah pada struktur politik atau ekonomi, melainkan pada cara mereka berpikir tentang diri sendiri, masyarakat, dan alam semesta. Selama pemikiran tidak berubah, perubahan politik hanyalah kosmetik karena rezim baru akan mengulangi kesalahan yang sama melalui metode yang sama.

Dalam surat penolakannya atas penghargaan perdamaian seperti telah disebutkan, Sa'id juga menulis dengan tajam: "Krisis muncul melalui ide sebelum ia muncul dalam realitas material. Bencana berasal dari pemikir sebelum ia dapat dimanifestasikan oleh politisi." Ini adalah kritik pedas terhadap para ulama dan intelektual Muslim yang, menurut Sa'id, telah gagal dalam tanggung jawab moral mereka.

Para intelektual dan cendekiawanlah yang, melalui buku-buku yang mereka tulis, khotbah-khotbah yang mereka sampaikan, ide-ide yang mereka sebarkan, dan hal-hal yang mereka diamkan, menjadi sumber krisis. Lebih lanjut, ia menantang: "Adalah tindakan penipuan besar bagi para ulama Muslim untuk berkumpul di tengah bencana yang sedang berlangsung ini dan menganggap diri mereka sebagai penyelamat. Lebih baik para ulama hadir sebagai pihak yang tertuduh, hadir untuk bertobat, melakukan evaluasi ulang secara radikal, mempraktikkan kritik-diri, dan mempertimbangkan kembali posisi-posisi mereka."

Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh Malik Bennabi yang menekankan bahwa peradaban dibangun di atas manusia, tanah, dan waktu, tetapi manusia adalah pilar yang paling menentukan. Seperti yang tercatat dalam disertasi Paola Pizzi, "Sa'id mengadopsi pendekatan yang sangat antroposentrik dan berorientasi pada tanggung jawab." Dalam kerangka ini, tatanan sosial yang tidak adil bukanlah takdir atau kehendak Tuhan; ia adalah produk dari pilihan-pilihan manusia, dan oleh karena itu, manusia bertanggung jawab untuk mengubahnya.

Salah satu kontribusi paling orisinal Sa'id adalah rekonseptualisasinya tentang syahadah (kesaksian) sebagai panggilan politik yang fundamental. Dalam Islam, syahadat (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya) secara tradisional dipahami sebagai fondasi teologis atau rukun iman yang terutama berkaitan dengan keyakinan pribadi. Namun, Sa'id memberikan dimensi yang sama sekali berbeda: "Bagi Sa'id, syahadat adalah tindakan politik. Bersaksi atas kebenaran di hadapan kekuasaan yang zalim adalah esensi dari misi kenabian."

Mengapa demikian? Karena syahadat menegaskan kedaulatan mutlak Tuhan atas seluruh alam semesta. Dengan mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah, seorang Muslim pada saat yang sama menyangkal legitimasi semua "tuhan-tuhan palsu", termasuk penguasa tiran yang mengklaim otoritas mutlak. Dalam pengertian ini, syahadat adalah deklarasi kemerdekaan spiritual dan politik. Untuk menegaskan bahwa "tiada yang berhak disembah selain Allah" berarti menolak untuk tunduk pada kekuasaan zalim, menolak untuk menyembah kekayaan, dan menolak untuk mendewakan ideologi atau partai politik apa pun.

Bagi Sa'id, perubahan sosial yang autentik tidak dimulai dari perubahan struktur atau institusi politik, melainkan dari perubahan diri. Ini adalah prinsip Qur'ani yang sangat fundamental: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri" (QS Ar-Ra'd: 11). Namun, Sa'id memahaminya bukan sebagai seruan untuk menarik diri dari politik demi kesalehan pribadi, melainkan sebagai prasyarat bagi keterlibatan politik yang efektif.

Dalam salah satu esainya, Sa'id menulis: "Apa yang ada dalam pikiran kita, apapun yang kita namakan, dan semua simbol dan ide yang kita pegang paling kita sayangi, semuanya menentukan apa yang terjadi pada kita." Dengan kata lain, realitas sosial adalah cerminan dari kondisi batin manusia. Masyarakat yang korup, penuh kekerasan, dan tidak adil adalah manifestasi dari pikiran-pikiran yang korup, penuh kekerasan, dan tidak adil. Oleh karena itu, mengubah masyarakat tanpa mengubah pikiran adalah usaha yang sia-sia.

Sa'id juga menekankan pentingnya analisis-diri (self-analysis). "Di sini saya menemukan bahwa entah bagaimana kita sampai pada persoalan dua pembacaan Al-Qur'an, dan tanggung jawab manusia untuk memilih... Sekali lagi Anda melihat betapa banyak dari apa yang kita atribusikan kepada Tuhan sebenarnya adalah tanggung jawab manusia." Ini adalah poin yang sangat penting: Sa'id menolak determinisme dan fatalisme. Ia mendorong umat Islam untuk berhenti menyalahkan takdir atau konspirasi eksternal, dan mulai bertanya: apa yang telah kita lakukan? Bagaimana kita berkontribusi pada krisis ini? Ini adalah undangan menuju proaktif dan tanggung jawab pribadi, fondasi dari setiap perubahan sosial yang bermakna.

Kritik

Kritik paling umum terhadap pemikiran Sa'id adalah bahwa ia terlalu utopis. Bagaimana mungkin seseorang berdiri tanpa senjata di hadapan rezim seperti Assad yang tidak segan-segan menggunakan gas sarin terhadap rakyatnya sendiri? Tidakkah non-kekerasan dalam situasi semacam ini sama saja dengan menyerah pada tirani?

Kritik ini sangat valid dan tidak boleh diabaikan. Namun, pembelaan terhadap Sa'id dapat dirumuskan sebagai berikut: Non-kekerasan bukanlah kepasifan, melainkan strategi perlawanan yang berbeda. Gerakan non-kekerasan yang berhasil, dari Gandhi di India hingga Martin Luther King Jr. di Amerika Serikat, dari Solidaritas di Polandia hingga People Power di Filipina, menunjukkan bahwa non-kekerasan bisa efektif bahkan melawan rezim yang sangat represif. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Cambridge University Press (2025) menegaskan bahwa "para pendukung non-kekerasan, seperti Jawdat Said, tidak menolak perlawanan; mereka hanya bersikeras bahwa perlawanan tidak boleh meniru metode penindas."

Kritik kedua adalah bahwa Sa'id tidak memberikan cetak biru politik yang jelas. Ia berbicara tentang pentingnya bersaksi, tanggung jawab individu, dan transformasi pemikiran, tetapi ia tidak merinci bagaimana ini diterjemahkan ke dalam institusi-institusi politik. Bagaimana sebuah negara yang didasarkan pada prinsip non-kekerasan akan beroperasi? Bagaimana konflik diselesaikan tanpa aparatus paksaan?

Ini adalah kelemahan yang diakui oleh para sarjana yang bersimpati pada pemikiran Sa'id. Tom Woerner-Powell, editor buku Pacifism and Non-Violence in Contemporary Islamic Philosophy (2025), mencatat bahwa Sa'id lebih tertarik pada pertanyaan tentang bagaimana menjadi manusia yang autentik daripada pertanyaan tentang bagaimana merancang negara. Namun, dari berbagai tulisannya, kita bisa merekonstruksi visinya tentang negara yang didasarkan pada syura (musyawarah) yang otentik, kebebasan berpendapat, dan perlindungan hak-hak individu. Ia juga menyokong demokrasi bersyarat yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, seraya mengakui kesamaannya dengan sistem syura Islam.

Kritik ketiga, yang mungkin paling serius secara politis, adalah bahwa ajaran Sa'id bisa digunakan sebagai alasan untuk menarik diri dari politik sama sekali. Jika semua perubahan harus dimulai dari transformasi pemikiran, bukankah ini berarti kita bisa meninggalkan perjuangan politik "kotor" dan hanya fokus pada pendidikan dan kesalehan pribadi?

Risiko ini nyata. Namun, ini adalah penyalahgunaan, bukan implikasi yang sah, dari pemikiran Sa'id. Sa'id tidak pernah menganjurkan penarikan diri dari politik. Sebaliknya, ia secara aktif terlibat dalam oposisi demokratis di Suriah, ikut menandatangani Deklarasi Damaskus tahun 2005, dan menginspirasi para aktivis selama Arab Spring. Hal yang ia tolak adalah keterlibatan politik yang kehilangan fondasi etisnya, keterlibatan politik yang meniru metode musuh, dan keterlibatan politik yang menyerahkan tanggung jawab individu kepada pemimpin atau partai.

Relevansi Kontemporer

Ketika gelombang protes Arab Spring meletus di Suriah pada Maret 2011, demonstrasi-demonstrasi awal secara tegas bersifat non-kekerasan. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan damai, membawa bunga, dan menuntut reformasi, bukan penggulingan rezim dengan kekerasan. Hal yang mengejutkan banyak pengamat, "kutipan-kutipan dari karya-karya Sa'id tiba-tiba muncul di spanduk-spanduk demonstran."

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Religions (2022) mendokumentasikan bagaimana "Sa'id adalah seorang pemikir penting yang menginspirasi permulaan non-kekerasan dan komite-komite lokal yang pengaruhnya menjangkau jauh melampaui Suriah." Pada tahun 1998, kota Daraya di pinggiran Damaskus telah menjadikan ide-ide Sa'id tentang non-kekerasan sebagai titik awal untuk kegiatan mereka.

Sayangnya, seperti yang kita ketahui, revolusi Suriah akhirnya berubah menjadi perang saudara yang mengerikan. Sa'id, yang rumahnya di Bi'r 'Ajam dihancurkan, melarikan diri ke Turki. Namun, kegagalan revolusi Suriah untuk tetap non-kekerasan bukanlah kegagalan pemikiran Sa'id; sebaliknya, ia adalah bukti betapa sulitnya mempertahankan komitmen non-kekerasan dalam menghadapi kekerasan negara yang brutal.

Warisan intelektual Sa'id terus bergema. Buku Pacifism and Non-Violence in Contemporary Islamic Philosophy (2025), yang diterbitkan oleh Cambridge University Press, mendedikasikan satu bab penuh untuk menganalisis pemikiran Sa'id. Buku ini menempatkan Sa'id dalam jajaran pemikir non-kekerasan Islam terkemuka bersama tokoh-tokoh seperti Abdul Ghaffar Khan (India), Mahmoud Mohamed Taha (Sudan), dan Wahiduddin Khan (India).

Disertasi doktoral Paola Pizzi di Université Paris Sciences et Lettres (2022) secara khusus menganalisis kontribusi Sa'id pada non-kekerasan dalam Islam. Artikel jurnal yang diterbitkan di DOAJ (2025) mengkaji pemikiran demokratik Sa'id dan bagaimana ia menyokong demokrasi bersyarat yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, seraya mengakui kesamaannya dengan sistem syura Islam. Di Indonesia sendiri, sebuah artikel yang diterbitkan di jurnal IIQ (2025) mengkaji etika non-kekerasan Sa'id dan relevansinya dengan teks-teks hadis.

Bagaimana pemikiran Sa'id relevan bagi Indonesia? Negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia ini, seperti banyak negara lainnya, sedang bergulat dengan berbagai tantangan: polarisasi politik, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama. Dalam konteks ini, pemikiran Sa'id menawarkan sebuah etika publik yang mendalam.

Pertama, penekanan Sa'id pada non-kekerasan sebagai prinsip Islam menyediakan dasar teologis untuk menolak kekerasan atas nama agama. Bagi Sa'id, "Islam sebagai agama tanpa kekerasan" adalah realitas yang harus dipulihkan, bukan utopia yang harus diciptakan. Kedua, penekanannya pada tanggung jawab individu mendorong setiap warga negara untuk menjadi agen moral yang aktif, bukan sekadar konsumen pasif dalam politik. Ini berarti tidak menyerahkan keputusan moral kepada pemimpin atau mayoritas, tetapi berani bersaksi atas apa yang diyakini benar. Ketiga, kritiknya terhadap para intelektual sangat relevan bagi konteks Indonesia, di mana suara-suara keagamaan seringkali digunakan untuk melegitimasi kekuasaan alih-alih mengkritiknya.

Penutup

Jawdat Sa'id telah tiada. Ia meninggal dalam pengasingan di Turki pada tahun 2022, jauh dari tanah kelahirannya di Golan yang diduduki. Namun, suaranya, suara yang menyerukan non-kekerasan, tanggung jawab, dan keberanian moral, terus bergema melampaui batas-batas ruang dan waktu.

Warisan Sa'id bukanlah sebuah sistem politik yang siap pakai. Ia adalah sebuah undangan: Undangan untuk memikirkan ulang hubungan kita dengan kekuasaan, untuk mempertanyakan asumsi bahwa perubahan memerlukan paksaan, dan untuk memikul tanggung jawab pribadi atas nasib masyarakat kita. Di dunia yang semakin terpolarisasi dan penuh kekerasan, undangan ini mungkin adalah salah satu yang paling mendesak.

Sa'id mengingatkan kita bahwa para nabi tidak mengubah dunia dengan pedang. Mereka mengubahnya dengan kata-kata, dengan kesaksian, dan dengan keteladanan. Dan ia bertanya kepada kita, sebagaimana ia bertanya kepada generasi aktivis Suriah: Maukah kita mengikuti jalan kenabian ini?

Jawaban atas pertanyaan itu ada di tangan kita masing-masing.


Referensi

Ahmad, D., Kalwar, M. A., Khan, H. S. R., & Kalwar, B. A. (2025). Democratic thought according to Jawdat Saeed. DOAJ: Directory of Open Access Journals. https://doaj.org/article/165a562fdb5f44a98f7cbe4b91c6ff6a

Khan, A. R., & Anwar, S. (2025). Etika Non-Kekerasan Jawdat Saʿīd dan Teks Hadis: Sebuah Kajian Pemikiran dan Relevansi Kontemporer. Jurnal IIQ. https://ejurnal.iiq.ac.id/

Lohlker, R. (2024). Nonviolent theology in the Syrian protests: A critical analysis of Jawdat Sa'id's Qur'anic exegesis. CORE. https://core.ac.uk/outputs/599140667/

Lohlker, R., & Ivkovic, D. (2022). Jawdat Saʿid and the Islamic theology and practice of peace. Religions, 13(2), 160. https://doi.org/10.3390/rel13020160

Mende, C. (2015, June 24). Islamic approaches to non-violence: In Gandhi's footsteps. Qantara.de. https://qantara.de/en/article/islamic-approaches-non-violence-gandhis-footsteps

Pizzi, P. (2022). La non-violence comme moyen de changement en islam: la contribution de Ǧawdat Saʿīd [Tesis doktoral, Université Paris Sciences et Lettres]. Theses.fr. https://theses.fr/en/s246749

Pizzi, P. (2024). Tawḥīd as social justice: The anthropocentric hermeneutics of the Syrian theologian Jawdat Saʿīd. Journal of Qur'anic Studies, 26(1), 63–100. https://doi.org/10.3366/jqs.2024.0569

Said, J. (1964). Mazhab Ibn Adam al-Awwal: Mushkilat al-'Unf fi al-'Amal al-Islami [The Doctrine of the First Son of Adam: The Problem of Violence in the Islamic Action]. Damascus.

Said, J. (2010a, October 15). Be like Adam's son: No obedience in defiance of God's command! JawdatSaid.net. https://www.jawdatsaid.net

Said, J. (2010b, October 15). Be like Adam's son: Self-analysis. JawdatSaid.net. https://www.jawdatsaid.net

Said, J. (2010c, October 15). Be like Adam's son: The visible events and the events inside the minds. JawdatSaid.net. https://www.jawdatsaid.net

Said, J. (2015, April 22). Letter of rejection to Shaikh Abdallah bin Bayyah. Dalam T. Woerner-Powell, Pacifism and non-violence in contemporary Islamic philosophy (Appendix). Cambridge University Press.

Woerner-Powell, T. (2025). Nonviolence, duty, and compulsion in Syria: Jawdat Said. Dalam T. Woerner-Powell, Pacifism and non-violence in contemporary Islamic philosophy (Chapter 6). Cambridge University Press.

Woerner-Powell, T. (2025). Conversations on Islamic nonviolence with thinkers and activists. Dalam T. Woerner-Powell, Pacifism and non-violence in contemporary Islamic philosophy (Chapter 7). Cambridge University Press.

Posting Komentar

0 Komentar