Ad Code

Teori Kapabilitas Sistem Politik Almond dan Analisis Ketahanan Sistem Politik Republik Islam Iran (2025–2026)

Artikel ini mengkaji kinerja dan ketahanan sistem politik Republik Islam Iran selama eskalasi konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel pada periode 2025–2026 melalui kerangka lima kapabilitas sistem politik Gabriel A. Almond. Dengan menggunakan data empiris dari sumber-sumber primer Iran, Tiongkok, Rusia, dan Eropa guna meminimalkan bias epistemik Amerika Serikat dan Israel yang media massanya telah menguasai dunia, studi ini menemukan adanya konfigurasi kapabilitas yang asimetris. 

Kapabilitas ekstraktif dan simbolik Iran menunjukkan tingkat ketangguhan yang tinggi, yang bersumber dari mobilisasi rente minyak dan narasi ideologis perlawanan. Sebaliknya, kapabilitas distributif dan responsif mengalami erosi signifikan, yang ditandai dengan hiperinflasi, devaluasi mata uang, dan represi massal terhadap tuntutan domestik. 

Suksesi kepemimpinan pasca-wafatnya Ayatollah Ali Khamenei juga mengonfirmasi kapabilitas regulatif yang adaptif, namun sekaligus mengungkap dominasi aktor militer dalam proses konstitusional. Studi ini menyimpulkan bahwa sistem vilayat-e faqih menunjukkan ketahanan institusional yang paradoksal: Kuat secara struktural dalam menghadapi tekanan eksternal, tetapi rentan secara internal akibat kontradiksi distributif yang akut.


Pendahuluan

Dalam kajian politik komparatif, analisis fungsional terhadap sistem politik yang dikembangkan oleh Gabriel Abraham Almond dan G. Bingham Powell (1966) menawarkan kerangka kerja yang elegan untuk mengukur kinerja suatu entitas politik. Almond mengidentifikasi lima kapabilitas fundamental yang menentukan viabilitas sebuah sistem: Ekstraktif, regulatif, distributif, simbolik, dan responsif (Almond & Powell, 1966; Johari, 2008; Wiseman, 1966). Kerangka ini tidak hanya relevan untuk analisis negara-bangsa dalam kondisi stabil, tetapi juga menjadi instrumen yang tajam untuk membedah ketahanan (resilience) sistem politik di bawah tekanan eksternal dan internal yang ekstrem.

Analisis lima kapabilitas sistem politik Iran 2025-2026 menurut Gabriel Almond: ekstraktif, regulatif, distributif, simbolik, responsif di tengah pera

Republik Islam Iran menyajikan locus classicus (rujukan klasik) bagi pengujian kerangka Almond. Sebagai entitas politik hibrida yang menggabungkan prinsip teokrasi vilayat-e faqih (Perwalian Ahli Hukum Islam) dengan elemen-elemen prosedural demokrasi elektoral (Chilcote, 1981), Iran telah bertahan selama lebih dari empat dekade dalam isolasi geopolitik dan tekanan sanksi ekonomi. Eskalasi konflik menjadi perang terbuka melawan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026 (Global Times, 2026; Sputnik News Africa, 2026) yang berpuncak pada terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyodorkan ujian akhir (ultimate stress test) terhadap arsitektur kapabilitas sistem politik Iran.

Artikel ini bertujuan untuk: (1) Mengoperasionalisasikan konsep lima kapabilitas Almond dalam konteks empiris Iran; (2) Menganalisis dinamika masing-masing kapabilitas selama periode perang menggunakan data ekonomi, militer, dan politik yang dapat diverifikasi dari sumber non-Barat; dan (3) Mengevaluasi implikasi dari konfigurasi kapabilitas yang timpang terhadap keberlanjutan sistem politik Iran.


Kerangka Teoretis

Almond mendefinisikan kapabilitas ekstraktif sebagai kemampuan sistem politik untuk mengerahkan sumber daya material dan manusia dari lingkungan domestik maupun internasional. Kapabilitas regulatif berkaitan dengan kapasitas sistem untuk mengendalikan perilaku individu dan kelompok melalui instrumen hukum dan kebijakan. Kapabilitas distributif adalah kemampuan untuk mengalokasikan barang, jasa, dan nilai-nilai kepada warga negara. Kapabilitas simbolik mengacu pada efektivitas sistem dalam memobilisasi dukungan dan legitimasi melalui narasi, ideologi, dan citra politik. Terakhir, kapabilitas responsif mengukur sejauh mana sistem dapat menyelaraskan output kebijakan dengan input tuntutan dari masyarakat (Almond & Powell, 1966, h. 190–203).

Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan analisis data sekunder, mengintegrasikan laporan lembaga keuangan internasional, kantor berita negara non-Barat, serta publikasi akademik untuk memastikan triangulasi data dan mengurangi bias yang mungkin terkandung dalam narasi media yang berafiliasi dengan pihak-pihak yang berkonflik.

Analisis Kapabilitas

Paradoks Rente Minyak dan Mobilisasi Perang

Kapabilitas ekstraktif Iran menunjukkan ketangguhan yang mencengangkan, didukung oleh dua pilar utama: ekspor minyak dan mobilisasi anggaran di luar mekanisme fiskal konvensional.

Alokasi Fiskal dan Kuota Minyak Militer

Pada tahun fiskal 2025, total alokasi anggaran untuk pertahanan dan keamanan Iran mencapai sekitar €20,4 miliar atau setara $23,4 miliar (sekitar Rp362,7 triliun) (Iran Open Data, 2025a). Signifikansi dari angka ini bukan hanya pada volumenya, tetapi pada mekanisme distribusinya. 

Sebanyak 47% dari total anggaran tersebut, yaitu sekitar $10,9 miliar (setara Rp168,9 triliun), tidak berasal dari penerimaan pajak umum, melainkan dari alokasi langsung minyak mentah (in-kind crude oil allocation) dan kredit proyek khusus yang berada di luar pengawasan parlemen (Iran Open Data, 2026). Lebih lanjut, untuk tahun anggaran 2026-2027, Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan mengusulkan peningkatan nominal anggaran pertahanan dan keamanan sebesar 145%, dengan alokasi spesifik sebesar $4,62 miliar (sekitar Rp71,6 triliun) untuk Kementerian Pertahanan dan $1,88 miliar (sekitar Rp29,1 triliun) untuk Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC (WANA, 2025).

Dominasi Finansial IRGC

Posisi IRGC sebagai aktor ekonomi-politik yang dominan semakin terkonsolidasi melalui akses istimewa terhadap rente minyak. Data yang diverifikasi menunjukkan bahwa 51% dari total pendapatan ekspor minyak dan gas Iran pada tahun 2025, yang bernilai sekitar $15,3 miliar (setara Rp237,2 triliun), dialokasikan langsung kepada IRGC dan aparat keamanan terkait (Celeo Ramirez, 2026; Rudaw, 2026). 
Proporsi ini diperkirakan akan meningkat menjadi 50% dari total pendapatan minyak pada tahun fiskal berikutnya, yang diproyeksikan bernilai lebih dari $13 miliar atau setara Rp201,5 triliun (AInvest, 2026). Keberadaan program rahasia seperti "Shahid Raisi" yang mendapatkan alokasi minyak senilai €490 juta atau sekitar $560 juta (setara Rp8,68 triliun) menunjukkan bahwa kapabilitas ekstraktif Iran beroperasi secara signifikan di luar kerangka transparansi anggaran negara (Iran Open Data, 2026).

Efisiensi Rente yang Menurun

Meskipun volume ekspor minyak Iran mencapai rekor tertinggi dalam tujuh tahun, yaitu rata-rata 1,4 juta barel per hari pada Oktober 2025 (bne IntelliNews, 2025), efisiensi ekonominya tergerus oleh diskon harga yang substansial. 

Akibat sanksi dan ketergantungan pada armada kapal bayangan (shadow fleet), minyak mentah Iran dijual dengan diskon $8 hingga $10 per barel di bawah harga pasar Brent (Baird Maritime, 2025; Iran Open Data, 2025b). Estimasi menunjukkan bahwa dari potensi pendapatan $28 miliar (setara Rp434 triliun), Iran kehilangan sekitar $5 miliar (setara Rp77,5 triliun) akibat inefisiensi dan biaya transaksi tinggi dari mekanisme pengiriman non-konvensional (Iran Open Data, 2025c). Fenomena ini menandakan bahwa meskipun volume ekstraksi tinggi, surplus ekonomi riil yang tersedia untuk redistribusi atau investasi terus menyusut.

Mobilisasi Sumber Daya Militer

Dari segi persenjataan, Iran berhasil mempertahankan dan mengerahkan kapasitas yang signifikan. Laporan Anadolu Agency (2026) mengestimasi stok rudal balistik Iran sebelum perang berkisar antara 2.500 hingga 6.000 unit, dengan kapasitas produksi tahunan lebih dari 1.500 rudal dan 2.000 drone. Pada fase awal konflik, Iran mendemonstrasikan kapabilitas ekstraktifnya dengan meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan 2.000 drone ke berbagai sasaran strategis.

Ketahanan Konstitusional dan Kooptasi Elite

Kapabilitas regulatif sistem politik Iran mengalami uji material paling berat dengan wafatnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama perang (CBC, 2026; Global Times, 2026).

Mekanisme Suksesi Darurat

Sistem politik Iran menunjukkan kapasitas regulatif yang efisien dalam menghindari vakum kekuasaan. Majelis Pakar (Assembly of Experts) badan konstitusional beranggotakan 88 ulama terpilih segera menggelar sidang dan dalam waktu singkat menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru (Taiwan News, 2026). 

Proses ini, meskipun secara prosedural sesuai dengan Pasal 107 dan 109 Konstitusi Iran, diwarnai oleh intervensi politik yang intens dari IRGC untuk memastikan suksesi berjalan sesuai preferensi militer (STNN, 2026). Hal ini menunjukkan bahwa kapabilitas regulatif di Iran tidak hanya berfungsi sebagai instrumen hukum netral, melainkan sebagai perpanjangan tangan dari konfigurasi kekuasaan deep state.

Legislasi Mobilisasi Perang

Sebelum perang dimulai, parlemen Iran telah mengesahkan RUU "Memperkuat Kapasitas Pertahanan Angkatan Bersenjata dalam Menghadapi Kejahatan dan Agresi Rezim Zionis" (Iran Front Page, 2025). RUU ini mewajibkan pencairan penuh anggaran pertahanan dan memberikan kewenangan kepada eksekutif untuk mengalokasikan $1,5 miliar (setara Rp23,25 triliun) dalam bentuk minyak mentah langsung kepada angkatan bersenjata (Saed News, 2026). Legislasi ini menjadi bukti bahwa kapabilitas regulatif digunakan secara proaktif untuk memuluskan kapabilitas ekstraktif.

Regulasi Represif dan Kontrol Informasi

Dalam merespons gelombang protes domestik, kapabilitas regulatif dimanifestasikan melalui pembatasan akses internet nasional dan pemberlakuan undang-undang keamanan siber yang memberikan wewenang luas kepada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi untuk "melindungi keamanan nasional" (HRA, 2026). Hal ini mengonfirmasi teori Almond seperti termuat dalam Chilcote (1981) bahwa kapabilitas regulatif dalam sistem otoriter sering kali diprioritaskan untuk mempertahankan kohesi rezim ketimbang melindungi kebebasan sipil.

Disintegrasi Kesejahteraan Publik

Berbeda dengan kapabilitas ekstraktif dan regulatif yang relatif tangguh, kapabilitas distributif Iran berada dalam kondisi gagal (failing state) secara ekonomi.

Hiperinflasi dan Keruntuhan Nilai Tukar

Data menunjukkan keruntuhan nilai mata uang Rial yang katastrofik. Pada awal 2025, nilai tukar tercatat 81.750 Rial per USD. Pada puncak krisis di April 2026, nilai tukar merosot ke 1,58 juta Rial per USD (The Print, 2026). Dengan kurs konversi Rupiah, situasi ini menggambarkan bahwa daya beli masyarakat Iran tergerus hingga mendekati nol. Tingkat inflasi tahunan resmi mencapai 48,6% pada akhir 2025, dengan inflasi harga pangan menembus 72% (IFC Markets, 2026; Yicai, 2026).
Kontraksi Ekonomi dan Kemiskinan

Produk Domestik Bruto (PDB) Iran diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 1,7% pada 2025 dan 2,8% pada 2026 (Egypt Independent, 2026). Studi dari Universitas Henan, Tiongkok, mengindikasikan bahwa 35,4% populasi Iran hidup di bawah garis kemiskinan (Precision HNU, 2026). Ketimpangan ini diperparah oleh kebijakan alokasi sumber daya yang timpang: Untuk setiap Rp10 yang dialokasikan untuk belanja militer dan keamanan, kurang dari Rp1 dialokasikan untuk layanan publik dasar (Middle East Forum, 2025).

Protes Sektoral

Krisis distributif ini memicu lebih dari 471 aksi protes buruh yang tersebar di 69 kota di Iran hanya dalam kurun waktu enam bulan kedua tahun 2025, berdasarkan data yang dihimpun oleh Worker Rights Watch dan dilaporkan oleh IPS News (2026). Puncak dari eskalasi ketidakpuasan ekonomi terjadi pada 28 Desember 2025, ketika para pedagang di Grand Bazaar Tehran secara massal menutup pertokoan mereka sebagai respons terhadap anjloknya nilai Rial dan melonjaknya harga barang pokok, sebuah peristiwa yang diverifikasi oleh berbagai kantor berita internasional termasuk AP News (2025), Al Jazeera (2025), dan EFE (2025). 

Menariknya, media pro-pemerintah Iran seperti PressTV (2026) dan ParsToday (2026) turut mengakui terjadinya penutupan bazaar tersebut, tetapi membingkainya sebagai "protes damai yang sah" yang kemudian "dibajak" oleh intervensi badan intelijen asing untuk menciptakan kerusuhan. Kontestasi naratif ini menegaskan temuan bahwa meskipun fakta material krisis distributif tidak dapat disangkal, rezim berupaya mempertahankan kapabilitas simboliknya dengan mengeksternalisasi penyebab kekerasan kepada aktor eksternal, sekaligus menegaskan kembali loyalitas kelas pedagang tradisional yang oleh Ayatollah Khamenei disebut sebagai "segmen paling setia kepada Revolusi Islam" (PressTV, 2026 terhadap sistem politik yang berkuasa.

Hegemoni Narasi "Perlawanan" dan Erosi Legitimasi

Kapabilitas simbolik Iran diuji oleh krisis legitimasi internal di tengah kebutuhan untuk memobilisasi dukungan menghadapi perang eksternal.

Mobilisasi Narasi Kesyahidan dan Anti-Imperialisme

Rezim secara efektif memanfaatkan perang untuk merevitalisasi narasi "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance). Kematian Ali Khamenei dikonstruksi bukan sebagai kekalahan militer, melainkan sebagai puncak "kesyahidan" yang paralel dengan tragedi Karbala (Bdnews24.com, 2026). Media pemerintah secara sistematis membingkai protes domestik sebagai bagian dari "perang hibrida" yang dilancarkan musuh asing, sebuah taktik propaganda yang bertujuan memobilisasi sentimen nasionalisme di bawah bayang-bayang ancaman eksternal (ICT, 2026).

Kontestasi Naratif dan Erosi Simbolik

Namun, efektivitas kapabilitas simbolik ini bersifat terbatas dan mengalami diminishing returns. Laporan menunjukkan adanya fenomena kontra-narasi yang signifikan, di mana sebagian warga Iran secara terbuka merayakan kematian komandan militer senior mereka sendiri (Iran International, 2026b). 

Insiden pembakaran bendera oleh mahasiswa dan munculnya spanduk-spanduk kontroversial yang membandingkan situasi rezim dengan simbol-simbol otoritarianisme ekstrem (The Jewish Chronicle, 2026) mengindikasikan bahwa modal simbolik rezim telah mengalami devaluasi serius, terutama di kalangan generasi muda dan kelas menengah urban. Elcano Royal Institute (2026) menyebut fenomena ini sebagai pergeseran dari "legitimasi ideologis" menuju "tata kelola penahanan" (containment governance), di mana stabilitas diperoleh melalui represi, bukan konsensus simbolik.

Paradoks Represi dan Konsesi Terbatas

Kapabilitas responsif Iran dicirikan oleh kombinasi antara tindakan koersif yang ekstrem dan konsesi ekonomi yang minimalis.

Respons Koersif terhadap Protes

Data yang dikompilasi oleh International Commission of Jurists (ICJ, 2026) dan Amnesty International (2026) mendokumentasikan bahwa aparat keamanan Iran membunuh lebih dari 3.000 hingga 4.000 demonstran dan menangkap lebih dari 26.000 orang selama gelombang protes Desember 2025–Januari 2026. Respons ini menandakan bahwa ketika dihadapkan pada tuntutan perubahan struktural (input yang mengancam eksistensi rezim), output sistem politik adalah penolakan total melalui kekerasan negara.

Konsesi Ekonomi sebagai Instrumen Penenang

Bersamaan dengan represi, pemerintah menawarkan paket konsesi ekonomi yang terbatas, seperti mempertahankan subsidi untuk roti dan bahan bakar serta memberikan bantuan tunai parsial untuk mengompensasi kenaikan harga pangan (UK Parliament Commons Library, 2026; New Age BD, 2026). 
Strategi dua jalur ini "tongkat dan wortel" mencerminkan upaya sistem untuk menetralisir potensi mobilisasi massa yang lebih luas tanpa harus melakukan reformasi politik fundamental. Hal ini sejalan dengan pengamatan bahwa rezim telah menginstitusionalisasikan apa yang disebut sebagai containment governance, yaitu manajemen krisis yang bertujuan mempertahankan status quo dengan biaya sosial seminimal mungkin (Elcano Royal Institute, 2026).

Diskusi Ketahanan yang Paradoksal

Temuan empiris di atas mengonfirmasi bahwa sistem politik Iran tidak dapat dinilai secara monolitik. Terdapat asimetri kapabilitas yang ekstrem. Kapabilitas ekstraktif dan simbolik yang kuat memungkinkan Iran untuk memproyeksikan kekuatan militer dan mempertahankan kohesi elit di tengah perang. Namun, kekuatan ini dibangun di atas fondasi kapabilitas distributif dan responsif yang rapuh.

Analisis ini memperluas kerangka Almond dengan menunjukkan bahwa dalam konteks negara rentier yang mengalami konflik, kapabilitas ekstraktif dapat dipisahkan secara patologis dari kapabilitas distributif. Aliran rente minyak tidak diubah menjadi kesejahteraan publik (public goods), melainkan diserap oleh kompleks industri-militer (IRGC) dan digunakan untuk membiayai perang serta mempertahankan aparatus represif. Akibatnya, sistem politik kehilangan salah satu pilar legitimasinya yang paling fundamental: kemampuan untuk memenuhi kebutuhan material warga negara.

Suksesi Mojtaba Khamenei juga menandai fase baru dalam evolusi sistem politik Iran. Jika sebelumnya sistem vilayat-e faqih mengandalkan otoritas karismatik dan keilmuan agama, transisi ini mengisyaratkan pergeseran menuju model suksesi yang lebih mengandalkan pada koersi dan kooptasi militer (Iran International, 2026a). Dalam terminologi Almond, ini menunjukkan bahwa kapabilitas regulatif dan simbolik telah sepenuhnya dikorbankan untuk melayani kapabilitas ekstraktif dan koersif.


Kesimpulan

Studi ini menyimpulkan bahwa perang 2026 tidak meruntuhkan Republik Islam Iran, tetapi secara fundamental mengubah konfigurasi kapabilitas politiknya. Sistem ini telah bertransformasi menjadi "negara garnisun" (garrison state) dengan kapabilitas ekstraktif yang efisien untuk keperluan perang, namun dengan kapabilitas distributif yang mengalami gagal fungsi akut. 

Ketahanan rezim di bawah tekanan eksternal merupakan bukti dari efektivitas kapabilitas ekstraktif dan simboliknya. Namun, kontradiksi internal antara akumulasi sumber daya untuk perang dan pemiskinan massal rakyat merupakan sumber instabilitas laten yang fundamental. Selama rente minyak masih mengalir, sistem ini kemungkinan akan bertahan, tetapi legitimasi sosialnya akan terus terkikis, menjadikannya rentan terhadap guncangan internal di masa depan.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji bagaimana dinamika kapabilitas ini berinteraksi dengan aktor-aktor non-negara dalam "Poros Perlawanan" serta dampak jangka panjang dari sanksi finansial terhadap arsitektur ekonomi informal Iran.


Daftar Pustaka

AInvest. (2026, March 3). IRGC‘s financial flow: Oil, budget, and the $30-50 billion empire. https://www.ainvest.com/news/irgc-financial-flow-oil-budget-30-50-billion-empire-2603/

Al Jazeera. (2025, December 29). Iran currency crisis: Tehran bazaar merchants close shops in protest. https://www.aljazeera.com

Almond, G. A., & Powell, G. B. (1966). Comparative politics: A developmental approach. Little, Brown and Company.

Amnesty International. (2026, 8 Januari). 伊朗|當局針對抗議活動展開新一輪血腥鎮壓,死傷人數持續上升 [Iran: Otoritas melancarkan gelombang baru tindakan keras berdarah terhadap aksi protes, jumlah korban tewas dan luka terus meningkat]. https://www.amnesty.org

Anadolu Agency. (2026, March 28). One month of war: Assessing military strength of US, Israel, Iran. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/one-month-of-war-assessing-military-strength-of-us-israel-iran/3882816

AP News. (2025, December 29). Traders and shopkeepers rally in Tehran as currency collapse fuels unrest. https://apnews.com

Baird Maritime. (2025, October 29). Iran cuts oil prices further for China as sanctions bite. https://www.bairdmaritime.com

bne IntelliNews. (2025, November 9). Iran’s oil sales hit seven-year high despite tougher US sanctions. https://www.intellinews.com

CBC. (2026, March 1). News • World. https://www.cbc.ca

Celeo Ramirez. (2026, April 14). Trump Besieged the Besieger, But the Oil Problem Remains. https://qoshe.com

Chilcote, R. H. (1981). Theories of comparative politics: The search for a paradigm. Westview Press.

EFE. (2025, December 29). Comerciantes del Gran Bazar de Teherán cierran sus negocios en protesta por la caída del rial. https://www.efe.com

Egypt Independent. (2026, January 12). A sick economy and growing poverty have fueled Iran’s protests. https://www.egyptindependent.com

Elcano Royal Institute. (2026, February 9). Iran’s 2025-26 protests, resilience and political containment. https://www.realinstitutoelcano.org/en/analyses/irans-2025-26-protests-resilience-and-political-containment/

Global Times. (2026, February 28). US, Israel attacks on Iran show intention for regime change with negotiations likely being ‘cover’. https://www.globaltimes.cn/page/202602/1323456.shtml

HRA (Human Rights Activists in Iran). (2026, February 23). The Crimson Winter: A 50 Day Record of Iran’s 2025–2026 Nationwide Protests. https://www.hra-iran.org

ICJ (International Commission of Jurists). (2026, January 19). Iran: immediately stop mass killings of protestors and other atrocities and end impunity. https://www.icj.org

ICT (International Institute for Counter-Terrorism). (2026, February 4). Iran’s Information Warfare During the December 2025 – January 2026 Protests. https://ict.org.il

IFC Markets. (2026, January 16). Iran Currency Collapse and BRICS Stress Test. https://www.ifcmarkets.co.id

IPS News. (2026, February 24). Iran: A Regime with Nothing Left but Force. https://www.ipsnews.net

Iran Front Page. (2025, July 13). Parliamentary commission approves bill to bolster Iran’s military capabilities. https://ifpnews.com

Iran International. (2026a, April 3). Iran’s wartime messaging targets its own citizens. https://cdn.iranintl.com

Iran International. (2026b, February 23). Iranian students burn flag, signaling a new phase in state–society rupture. https://v2.iranintl.com

Iran Open Data. (2025a, May 1). Iran’s Military Budget Runs on Crude Oil. https://iranopendata.org

Iran Open Data. (2025b, October 19). Discount Diplomacy: How Iran Keeps Its Oil Flowing. https://iranopendata.org

Iran Open Data. (2025c, May 12). Sanctions Sidestep Costs Iran One-Fifth of Oil Revenues. https://iranopendata.org

Iran Open Data. (2026, April 3). Barrels for Missiles: How Oil Fuels Iran’s Military Budget. https://iranopendata.org/en/article/322-Iran-Military-Budget-Oil/

Johari, J. C. (2008). Comparative politics (8th ed.). Sterling Publishers Private Limited.

MERIP (Middle East Research and Information Project). (2026, January 29). Governing Crisis–Sanctions, Austerity and Social Unrest in Iran. https://www.merip.org

Middle East Forum. (2025, December 31). Tax Increase in Iran to Finance the IRGC and Religious Institutions. https://www.meforum.org

New Age BD. (2026, April 9). Spiralling food prices fuel unrest. https://www.newagebd.net

ParsToday. (2026, January 31). Reza Pahlavi: Story of a prince who did not like his homeland. https://parstoday.ir

Precision HNU. (2026, 8 Februari). 伊朗实力与美以博弈及资源整合分析 [Analisis kekuatan Iran, pertarungan AS-Israel, dan integrasi sumber daya]. https://precision.henu.edu.cn

PressTV. (2025, December 21). Hands off Iran: Iranian workers protest, but refuse to fall into US 'regime change' trap. https://www.presstv.ir

PressTV. (2026, January 14). How Mossad and CIA sabotaged economic protests in Iran to stir up chaos – but failed. https://www.presstv.ir

Rudaw. (2026, March 5). How long can Iran sustain a war amid economic crisis? https://www.rudaw.net

Saed News. (2026, April 14). Parl. Commission Approves Plan to Boost Iran's Defense Power. https://en.saednews.com

Sputnik News Africa. (2026, April 3). US–Israeli war against Iran (February 28, 2026–Present). https://en.sputniknews.africa/20260403/1084491005.html

STNN. (2026, 4 Maret). 传伊朗专家会议已选出最高领袖,哈梅内伊之子接班 [Dikabarkan Majelis Pakar Iran telah memilih Pemimpin Tertinggi, putra Khamenei akan meneruskan jabatan]. https://www.stnn.cc

Taiwan News. (2026, 4 Maret). 哈米尼空襲身亡 兒子穆吉塔巴傳獲選接掌伊朗最高領袖 [Khamenei tewas dalam serangan udara, putranya Mojtaba dikabarkan terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi Iran]. https://www.taiwannews.com.tw

The Jewish Chronicle. (2026, March 25). Pro-Hitler banners threatening anti-regime protesters reported to appear across Iran. https://www.thejc.com

The Print. (2026, April 13). Rial hits 1.58 mn per USD: Iran economy on brink ahead of Trump‘s blockade bid to squeeze oil exports. https://theprint.in/diplomacy/rial-hits-1-58-mn-per-usd-iran-economy-on-brink-ahead-of-trumps-blockade-bid-to-squeeze-oil-exports/2903715/

UK Parliament Commons Library. (2026, April 5). Iran protests 2026: UK and international response. https://commonslibrary.parliament.uk

WANA (West Asia News Agency). (2025, December 27). 145% increase in Iran’s defense and security budget for 1405. https://wanaen.com/145-increase-in-irans-defense-and-security-budget-for-1405/

Wiseman, H. V. (1966). Political systems: Some sociological approaches. Routledge.

Yicai. (2026, 12 Januari). 巴扎商人點燃「火藥桶」: 惡性通脹引發伊朗動盪 [Pedagang bazaar menyalakan "tong bubuk mesiu": Inflasi ganas memicu pergolakan di Iran]. https://www.yicai.com  

Posting Komentar

0 Komentar