Selama delapan belas tahun, Ludwig meneliti 1.941 pemimpin dari 199 negara yang berkuasa sepanjang abad ke-20. Hasilnya mengejutkan: Para pemimpin dunia, dari diktator hingga perdana menteri, bertindak dengan pola yang secara mencengangkan menyerupai perilaku alpha male di dunia primata. Bagi Ludwig, politik bukanlah aktivitas luhur yang dikelola oleh neokorteks—bagian otak paling maju dalam evolusi manusia. Politik justru digerakkan oleh sistem limbik dan kelenjar adrenal, bagian paling purba dari otak yang mengatur respons fight-or-flight, agresi, sifat teritorial, dan dorongan seksual (Ludwig, 2002). Dengan kata lain, politik adalah urusan kelenjar kecil di dalam otak manusia.
Jika bagi Anda tulisan terlampau panjang,
maka silakan unduh PDF-nya di MyBookstore
Mengapa Manusia Mengejar Kekuasaan?
Ludwig (2002) mengajukan tesis yang provokatif bahwa "semua alasan yang biasa diberikan oleh calon penguasa dalam mencari jabatan tinggi tiada lain merupakan rasionalisasi mereka atas dorongan sosial dan biologisnya." Klaim ini didukung oleh sembilan temuan empiris yang ia gali dari ribuan pemimpin.Semua bangsa pasti memiliki satu figur pemimpin. Hampir semua penguasa adalah laki-laki. Mereka memiliki akses reproduksi seksual yang luar biasa besar—harem, selir, atau sekadar perselingkuhan berantai. Inteligensi, bakat, bahkan kesehatan mental terbukti bukan prasyarat utama. Banyak penguasa yang justru alkoholik, depresif, mania, atau paranoid, namun mampu bertahan puluhan tahun di kursi kekuasaan. Hal yang lebih menentukan kemampuan berkuasa justru adalah keberanian, kemampuan mendominasi, dan kharisma yang nyaris mistis.
Francis Fukuyama (2011), dalam The Origins of Political Order, meskipun tidak seradikal Ludwig, turut mengakui bahwa politik memiliki akar biologis yang dalam. Fukuyama melacak asal-usul institusi politik dari zaman pra-manusia hingga Revolusi Prancis, dengan menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang mewarisi kecenderungan berkelompok dan berhierarki dari leluhur primata. Buku ini membuka pintu bagi pemahaman bahwa perilaku politik tidak dapat dilepaskan dari cetak biru evolusioner kita. Sekarang, mari kita bahas satu per satu para alpha male di panggung politik dunia.
Donald J. Trump, Alpha Male Primata di Era Digital
Dalam sejarah politik modern Amerika Serikat, tidak ada figur yang lebih sempurna mewakili tesis Ludwig selain Donald J. Trump. Psikolog Dan P. McAdams (2017) menganalisis Trump melalui kerangka evolusioner dan menyimpulkan bahwa ia "meminjamkan saluran kepada dominasi primal." McAdams menulis, "Kayak si jagoan di kelompok simpanse, Trump tuh memimpin dengan cara nggebuk mental, gertak sambel, dan ancaman. Terus, mainnya cuma tebar pesona sama orang-orang kuat lain buat kemitraan musiman yang saling manfaatin aja.”Trump adalah contoh sempurna dari "dominance-oriented leadership"—kepemimpinan berbasis dominasi—yang dibedakan McAdams dari "prestige leadership" yang berbasis keahlian dan penghormatan, sebagaimana dicontohkan Barack Obama. Kepribadian Trump adalah "campuran temperamen yang mudah meledak dari ekstraversi tinggi dan keramahan rendah, agenda motivasional yang berpusat pada narsisisme ekstrem, dan kisah hidup terinternalisasi yang mencerminkan pola hidup eksploitasi seorang pejuang yang harus selamanya berjuang untuk menang di dunia Hobbesian yang penuh pembantaian."
Apa yang membuat Trump menjadi contoh efektif dalam kerangka Ludwig? Trump tidak perlu menjadi ilmuwan politik atau ahli ketatanegaraan. Ia tidak perlu menguasai detail kebijakan atau memahami seluk-beluk birokrasi. Ia cukup menyalurkan agresi sistem limbiknya melalui cuitan-cuitan media sosial yang oleh McAdams disamakan dengan charging displays yang umum dilakukan simpanse alpha male: "dirancang untuk mengintimidasi".
Trump membangun kekuasaannya di atas pondasi yang paling primitif: Rasa takut, ancaman, dan janji perlindungan dari musuh-musuh yang ia ciptakan sendiri. Bahkan setelah lolos dari upaya pembunuhan dalam kampanye 2024, Trump justru mengubah momen itu menjadi simbol ketangguhan. Dengan darah masih mengalir di wajahnya, ia mengepalkan tangan dan berteriak "Fight. Fight. Fight."—sebuah demonstrasi sempurna dari respons fight-or-flight yang Ludwig gambarkan sebagai esensi kepemimpinan politik. Seorang analis di The Jerusalem Post menyebutnya "Presiden yang mabuk kuasa menang perang, Netanyahu cuma numpang selamat doang."
Vladimir Putin, Hipermasculinity sebagai Skenario Kekuasaan
Jika Trump mewakili alpha male primata di era digital, Vladimir Putin adalah arketipe alpha male dalam kemasan hypermasculinity yang dikalkulasi secara cermat. Citra Putin bertelanjang dada di Siberia yang suhunya sangat dingin telah mencapai status mitis di kalangan jurnalis dan publik, baik Rusia maupun internasional. Para peneliti menganalisis "penggunaan instrumental hypermasculinity sebagai strategi untuk menciptakan tidak hanya legitimasi, tetapi juga kekuasaan".Putin memahami sesuatu yang mendasar tentang psikologi politik: Bahwa dalam masyarakat yang mengalami krisis maskulinitas—seperti Rusia pasca-Soviet—seorang pemimpin dapat membangun kekuasaannya di atas citra kejantanan. "Melejitnya popularitas Putin itu gara-gara cowok-cowok Rusia lagi krisis kejantanan. Putin jadi semacam contoh kebalikannya—badannya fit, sehat, dan mewakili semua hal yang konon udah hilang dari lelaki Rusia kebanyakan.".
Bagi Ludwig, ini adalah manifestasi sempurna dari bagaimana sistem limbik bekerja. Putin tidak membangun kekuasaannya melalui pidato-pidato intelektual atau debat kebijakan yang melibatkan struktur neokorteks otak. Ia membangunnya melalui tampilan fisik, gesture dominan, dan skenario kekuasaan yang secara implisit sarat dengan dominasi gender dan bahkan kekerasan gender. Saat ia duduk dengan kaki terbuka lebar di hadapan para pemimpin dunia, saat ia menunggang kuda tanpa baju, saat ia memamerkan keahlian bela dirinya—semua itu adalah charging displays alpha male dalam format modern.
Para ahli menyebut fenomena ini sebagai "militarized masculinity" yang dapat memiliki konsekuensi global yang mematikan. Sebagaimana dicatat oleh para pengamat, "Orang-orang kayak Putin itu ogah banget kelihatan lemah. Makanya, susah diajak negosiasi." Ini adalah ciri khas pemimpin yang sistem limbiknya mendominasi neokorteks: Ketidakmampuan menunjukkan kerentanan menjadi sumber kekuatan sekaligus jebakan yang berbahaya.
Recep Tayyip Erdoğan, Dominasi, Ketidakpercayaan, dan Jiwa Sultan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan telah mendominasi panggung politik negaranya selama lebih dari dua dekade. Sebuah studi psikobiografis yang komprehensif menggunakan kerangka Millon Inventory of Diagnostic Criteria (MIDC) menghasilkan profil kepribadian yang mengungkap tiga pola utama Erdoğan: Distrusting (tidak percaya), Dominant (dominan), dan Dauntless (tak gentar), serta tiga pola sekunder: Ambitious (ambisius), Conscientious (berhati-hati), dan Accommodating (akomodatif).Pola Dominant Erdoğan adalah kunci untuk memahami gaya kepemimpinannya dalam kerangka Ludwig. Ia dicap sebagai "pembangun" (builder) yang memenuhi Turki dengan jembatan, jalan tol, bandara, dan proyek-proyek megalomaniak lainnya yang ia sebut sebagai "proyek-proyek gilanya". Ia adalah "political brawler" (jagoan berantem di panggung politik) yang membandingkan dirinya dengan sultan dan firaun. Ia adalah orator ulung yang, seperti alpha male primata, mampu memukau massa dengan pidato-pidato berapi-api.
Sisi yang paling menarik dari sudut pandang Ludwig adalah bagaimana Erdoğan menggunakan politik emosi dan narasi Neo-Ottomanisme untuk membangun legitimasi kekuasaannya. Ini adalah contoh sempurna dari bagaimana manusia—tidak seperti primata lainnya—mampu memperhalus dorongan primitif dengan kemampuan berbahasa dan narasi. Erdoğan tidak hanya mendominasi secara fisik; ia mendominasi melalui konstruksi identitas nasional yang menempatkannya sebagai pewaris sah kejayaan Ottoman, pemimpin yang dipilih takdir untuk mengembalikan kejayaan Turki.
Prabowo Subianto, Sang Jenderal yang Kembali ke Kodrat
Di Indonesia, kasus Prabowo Subianto memberikan ilustrasi yang hidup tentang bagaimana citra dapat berubah, tetapi esensi tetap bertahan. Selama kampanye Pilpres 2024, Prabowo memoles citranya sebagai "kakek gemoy"—ramah, bersahabat, berpenampilan segar dan muda—yang berhasil menggaet 58% suara pemilih muda. Namun, setahun setelah dilantik, para pengamat sepakat bahwa gaya kepemimpinannya telah kembali ke "wujud aslinya"—kuat, tegas, dengan gaya kepemimpinan khas militer.BBC Indonesia mencatat bahwa kontras antara aksi joget Prabowo pada masa kampanye dan sikap tegasnya saat berpidato di forum internasional "ditafsirkan oleh para pengamat sebagai manifestasi karakter militernya". Peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aisah Putri Budiatri, menyatakan bahwa "Latar belakangnya memang seperti itu, sejak Pilpres 2014, Pilpres 2019, dan di pemilu terakhir ini saja citranya diubah. Sekarang, mulai keluar lagi karakter pemimpin yang tegas, kuat, dan dalam tanda kutip punya karakter militeristis."
Dalam perspektif Ludwig, transformasi citra Prabowo dari "kakek gemoy" menjadi "sang jenderal" bukanlah kontradiksi melainkan keniscayaan evolusioner. Seorang alpha male tidak dapat selamanya menyembunyikan sifat aslinya. Dorongan sistem limbik—kebutuhan untuk mendominasi, mengontrol, dan mempertahankan posisi puncak—pada akhirnya akan menerobos setiap upaya penyamaran. Pengamat politik Rocky Gerung menilai bahwa pemerintahan Prabowo mulai terlihat militeristik. Analisis dari Democratic Erosion bahkan menyebut taktik Prabowo sebagai "stealth authoritarianism"—otoritarianisme terselubung yang menyamar di balik prosedur demokratis.
Benjamin Netanyahu, Pemenang yang Bertahan Hidup
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mewakili tipe alpha male yang berbeda. Jika Trump adalah alpha male yang agresif dan eksplosif, Netanyahu adalah alpha male yang kalkulatif dan bertahan hidup. Ia telah dijuluki "genius of political survival". Pertanyaan yang mengusik para pengamat adalah "Apaan sih yang bikin dia segitunya ngeyel bertahan di tampuk pemerintahan walau pakai cara kotor?".Netanyahu membangun kepemimpinannya di atas fondasi ketidakpercayaan yang mendalam terhadap dunia. "Sikap mendasar Netanyahu terhadap dunia adalah ketidakpercayaan... pandangan utamanya adalah bahwa sifat manusia itu gelap dan dunia pada dasarnya tidak dapat membaik—terutama dalam kaitannya dengan orang Yahudi." Pandangan Hobbesian tentang sifat manusia yang gelap ini—yang juga tercermin dalam narasi internal Trump—adalah ciri khas pemimpin yang sistem limbiknya mendominasi. Mereka melihat dunia sebagai medan pertempuran abadi di mana hanya yang terkuat yang bertahan.
Para psikolog yang menganalisis Netanyahu mencatat bahwa ia "Dia gak pernah keliatan lemah—entah itu mental atau fisik. Badannya selalu oke. Selalu kuat. Gak pernah mau tanggung jawab. Dan ogah banget ngaku kalau dia salah." Ini adalah strategi bertahan hidup alpha male klasik: Jangan pernah menunjukkan kerentanan, karena kerentanan adalah undangan bagi rival untuk menyerang. Netanyahu bahkan dikatakan memiliki "Darwinian survival instinct" yang membantunya bertahan melalui berbagai krisis politik.
Sebuah analisis di Foreign Policy in Focus mencatat bahwa "Netanyahu itu jagonya justru pas lagi krisis. Bukannya beresin, malah sengaja diperpanjang biar kacau terus. Kekacauan itu dijadiin tameng buat nutupin momok yang selalu ngintilin dia: tamatnya riwayat politiknya sendiri." Ini adalah wawasan yang mendalam tentang psikologi alpha male dalam politik bahwa krisis bukanlah masalah yang harus diselesaikan, melainkan panggung untuk terus mempertahankan kekuasaan.
Jenderal Pervez Musharraf, Diktator dengan Pretensi Demokratis
Jenderal Pervez Musharraf, yang merebut kekuasaan Pakistan melalui kudeta militer pada 1999, menawarkan kasus yang tentang bagaimana latar belakang militer membentuk psikologi seorang pemimpin. Musharraf digambarkan sebagai "Diktator paling karismatik dari Pakistan yang bertahun-tahun bikin negara-negara Barat klepek-klepek gara-gara gaya dramatisnya dan sandiwara demokrasinya yang meyakinkan."
Analisis operational code Musharraf—seperangkat keyakinan politik umum yang dinilai dari pernyataan-pernyataan lisan dan tertulis—mengungkapkan sesuatu yang menarik. Ia mempertahankan keyakinan yang stabil tentang "alam semesta politik yang bersahabat" dan preferensi untuk "strategi kooperatif" dalam mencapai tujuannya. Namun, setelah 9/11, keyakinan-keyakinan ini menurun, meskipun tetap berada dalam spektrum yang bersahabat dan kooperatif.
Sisi yang penting untuk dicatat dalam kerangka Ludwig adalah pengakuan dari pengamat militer Pakistan bahwa "Musharraf itu perwira yang mumpuni waktu belum punya ambisi politik. Tapi dia nggak pernah matang jadi pemimpin bangsa, soalnya cara berpikirnya masih khas tentara melulu." Ini adalah ilustrasi sempurna dari tesis Ludwig bahwa latar belakang dan pelatihan intelektual tidak banyak berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk berkuasa. Musharraf adalah seorang jenderal yang berpikir seperti jenderal, bukan seorang negarawan yang berpikir seperti negarawan. Pikirannya "berorientasi militer"—sebuah kondisi di mana sistem limbik yang mengatur agresi dan teritorial lebih dominan daripada neokorteks yang mengatur diplomasi dan negosiasi.
Saddam Hussein, Narsisis Malignan di Istana Baghdad
Ludwig mungkin akan tersenyum membaca profil psikologis Saddam Hussein yang disusun oleh Jerrold M. Post (2003), pendiri Pusat Analisis Kepribadian dan Perilaku Politik CIA. Post mendiagnosis Saddam sebagai "malignant narcissist"—tipe kepribadian paling berbahaya yang menggunakan agresi apa pun untuk mencapai tujuan tanpa kendala nurani.Menariknya, Post menegaskan bahwa Saddam bukanlah orang gila melainkan "pribadi yang utuh secara psikologis dalam arti tidak gila, tetapi ia mewakili tipe kepribadian politik paling berbahaya" (Post, 2003). Ini sejalan dengan temuan Ludwig bahwa kesehatan mental bukan syarat berkuasa. Saddam memerintah Irak dengan tangan besi selama lebih dari dua dekade, bertahan dari perang, embargo, dan upaya kudeta. Dorongan limbiknya—agresi, dominasi, dan kebutuhan akan pengakuan—terus menyala hingga akhir hayatnya.
Fidel Castro, Neurotis Lapar Kuasa Tak Terpuaskan
Pada tahun 1961, CIA menyusun profil psikiatrik rahasia tentang Fidel Castro. Kesimpulannya, Castro tidak gila, tetapi memiliki "kepribadian yang sangat neurotik dan tidak stabil," dengan "lapar kuasa yang luar biasa dan kebutuhan untuk diakui serta dipuja oleh massa" (CIA, 1961, sebagaimana dikutip dalam Clarín, 2014).Kritik membuatnya kehilangan kontak dengan realitas. Egoismenya adalah tumit Achilles (kelemahan atau titik lemah yang mematikan pada seseorang atau sesuatu yang sebenarnya kuat atau hebat) sekaligus sumber kekuatannya. Castro berkuasa selama 49 tahun, menjadikannya salah satu pemimpin non-kerajaan terlama dalam sejarah modern. Bagi Ludwig, Castro adalah contoh sempurna bagaimana sistem limbik—bukan neokorteks—mengemudikan seorang pemimpin.
Mahathir Mohamad, Otoritarian Cerdas dari Asia Tenggara
Mahathir Mohamad memerintah Malaysia selama 22 tahun (1981–2003), lalu kembali lagi sebagai perdana menteri pada usia 92 tahun (2018–2020). Kajian sistematis tentang gaya kepemimpinannya mengidentifikasi sembilan tema utama: Berorientasi pada rakyat, visioner, pragmatis, komunikator ulung, beretika tinggi, dapat dipercaya, berbasis nilai, dan autentik (Razali et al., 2020).Namun di balik citra itu, Mahathir dikenal sebagai "otoritarian cerdas" yang menggunakan taktik intimidasi dan manipulasi untuk mempertahankan kekuasaan. Ia pernah memecat wakilnya sendiri, memenjarakan lawan politik, dan membungkam media kritis. Kerangka Ludwig membantu kita memahami bahwa bahkan pemimpin yang tampak rasional dan visioner pun tidak luput dari dorongan primitif untuk mendominasi dan mempertahankan takhta.
Margaret Thatcher, "Iron Lady" dan Pengecualian yang Membuktikan Kaidah
Ludwig mengakui bahwa perempuan jarang mencapai puncak kekuasaan absolut. Namun, ketika mereka berhasil, mereka menunjukkan sifat-sifat yang secara stereotip maskulin: Dominan, asertif, berorientasi pada tugas, dan berani mengambil risiko (Kellerman, 2017).Margaret Thatcher adalah contoh klasik. Dijuluki "Iron Lady", Thatcher memerintah Inggris dengan gaya konfrontatif dan tak kenal kompromi. Blema Steinberg (2008), dalam studinya tentang tiga pemimpin perempuan dunia—Thatcher, Indira Gandhi, dan Golda Meir—menemukan bahwa ketiganya sering disebut sebagai "satu-satunya pria" di kabinet mereka, merujuk pada perilaku keras dan dominan mereka. Ini menegaskan pengamatan Ludwig bahwa kekuasaan absolut, terlepas dari gender, cenderung mengaktifkan pola perilaku alpha male.
Biologi dan Psikologi, Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Ludwig bukanlah satu-satunya yang melihat benang merah antara biologi dan politik. Peter K. Hatemi dan Rose McDermott (2011), dalam Man Is by Nature a Political Animal, menghimpun riset-riset mutakhir yang menunjukkan bahwa sikap dan perilaku politik memiliki basis genetik, hormonal, dan neurofisiologis. Salah satu temuan paling menarik adalah, ternyata kadar testosteron memengaruhi preferensi politik.Sebuah eksperimen pada 136 pria sehat menunjukkan bahwa pemberian testosteron menginduksi "pergeseran merah"—meningkatkan kecenderungan ke arah konservatisme politik (Alogaily et al., 2025). Lebih jauh, penelitian pada malam pemilihan presiden AS 2008 menemukan bahwa pemilih pria yang kandidatnya menang mengalami kestabilan atau kenaikan kadar testosteron, sementara yang kalah mengalami penurunan drastis (Stanton et al., 2009). Pemilu, dalam perspektif ini, adalah "kompetisi dominasi" yang melibatkan fisiologi tubuh secara langsung.
Robert Sapolsky, ahli neuroendokrinologi dan primatolog dari Stanford, menambahkan dimensi yang lebih optimistis. Dalam berbagai tulisannya, Sapolsky menunjukkan bahwa meskipun manusia mewarisi kecenderungan agresif dan hierarkis dari primata, budaya dan lingkungan dapat mengubahnya. Ia mengisahkan "Forest Troop", sekelompok babun di Kenya yang kehilangan semua alpha male agresifnya karena wabah tuberkulosis. Populasi yang tersisa hanyalah betina dan jantan non-agresif. Hasilnya? Troop tersebut mengembangkan budaya damai yang bertahan selama lebih dari satu dekade—bahkan setelah jantan baru bergabung (Sapolsky & Share, 2004). "Jika babun bisa berubah," tulis Sapolsky, "kita pun bisa." Ini adalah pengingat penting bahwa determinisme biologis bukanlah takdir mutlak.
Suara dari Dunia Islam, Kembalikan Spiritualitas pada Kepemimpinan
Perspektif Ludwig yang reduksionis—mereduksi politik menjadi sekadar dorongan biologis—mendapat kritik tajam dari tradisi intelektual Islam. Ali Shari'ati (1933–1977), sosiolog revolusioner Iran yang diakui sebagai arsitek ideologi Revolusi Iran 1979, menawarkan visi kepemimpinan yang berakar pada spiritualitas dan tanggung jawab moral.Baginya, pemimpin sejati bukanlah alpha male yang mengejar dominasi, melainkan "insan kamil"—manusia paripurna yang memadukan intelektualitas dengan kesalehan. Dalam konsep "serat" (jalan)-nya, Shari'ati menekankan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan hak istimewa; pelayanan, bukan penaklukan (Baghidoost, 2014). Ini adalah antitesis langsung terhadap model Ludwig. Jika Ludwig melihat politik sebagai perpanjangan dari naluri primata, Shari'ati melihatnya sebagai panggung aktualisasi nilai-nilai Ilahiah.
Seyyed Hossein Nasr, filsuf tradisionalis Iran-Amerika, melangkah lebih jauh dengan mengkritik modernitas yang telah "mengebiri" dimensi sakral dari kekuasaan. Dalam pandangan Nasr, krisis kepemimpinan modern berakar pada pemisahan antara otoritas spiritual dan kekuasaan temporal—sebuah dikotomi yang tidak dikenal dalam peradaban Islam klasik. Ia mengidealkan model "kesultanan Islam" era Safawi, di mana penguasa sekaligus berfungsi sebagai penjaga tradisi spiritual. Nasr akan memandang tesis Ludwig sebagai cermin dari krisis peradaban Barat sendiri: Setika yang sakral disingkirkan, yang tersisa hanyalah binatang politik yang telanjang.
Sementara itu, Abdolkarim Soroush, filsuf reformis Iran, menawarkan sintesis yang menarik. Ia menerima bahwa manusia memiliki kecenderungan alamiah tertentu, tetapi menekankan bahwa institusi demokrasi dan hukum dapat "menjinakkan" kecenderungan tersebut. Dalam gagasannya tentang "demokrasi religius", Soroush berargumen bahwa nilai-nilai Islam justru sejalan dengan pembatasan kekuasaan dan akuntabilitas publik.
Soroush adalah tokoh kunci di balik gerakan pro-demokrasi Iran dan kritikus vokal terhadap negara, yang diskusinya tentang pemerintahan demokratis religius "Menawarkan perubahan total cara pandang di kalangan modernis Muslim soal isu itu". Ini menggemakan pengamatan Ludwig sendiri bahwa "pemimpin demokratis di negara demokrasi mapan bertindak dengan lebih terkendali dibandingkan rezim lain"—sebuah fakta yang Ludwig akui tetapi gagal jelaskan secara memadai.
Noam Chomsky, meskipun bukan pemikir Muslim, memberikan kritik struktural yang melengkapi perspektif di atas. Chomsky (2016) berulang kali menunjukkan bahwa kekuasaan politik di era modern tidak semata-mata soal psikologi individu, melainkan tentang struktur kekuasaan yang lebih luas—korporasi, media, dan kompleks militer-industri. Analisis Chomsky mengingatkan kita bahwa teori Ludwig, meskipun provokatif, terlalu menyederhanakan realitas politik kontemporer yang multidimensional.
Determinisme Biologis versus Kehendak Bebas
Arnold M. Ludwig telah memberikan kontribusi yang tak ternilai dengan membuka tabir biopolitik yang selama ini tersembunyi di balik retorika muluk para pemimpin. Ia menunjukkan bahwa di balik jas dan dasi, di balik pidato kenegaraan dan konferensi pers, para penguasa tetaplah primata yang digerakkan oleh dorongan purba: mendominasi, mempertahankan teritori, dan menyebarkan gen.Tokoh-tokoh yang kita analisis—dari Trump yang "meminjamkan saluran kepada dominasi primal," Putin yang membangun kekuasaan di atas hipermasculinity yang dikalkulasi, Erdoğan yang mendominasi dengan narasi neo-Ottoman, Prabowo yang kembali ke karakter militernya setelah setahun berkuasa, Netanyahu yang bertahan hidup melalui ketidakpercayaan Hobbesian, hingga Musharraf yang pikirannya tetap berorientasi militer—semuanya adalah variasi dari tema yang sama: Alpha male dalam habitat politik modern.
Namun, kisah tidak berhenti di situ. Jika Ludwig benar bahwa politik adalah "urusan kelenjar", maka tugas peradaban adalah membangun institusi yang mampu menjinakkan kelenjar-kelenjar itu. Demokrasi, supremasi hukum, pers bebas, dan masyarakat sipil yang kuat—semuanya adalah "kandang" yang kita bangun untuk mengurung binatang politik di dalam diri setiap pemimpin. Seperti yang ditunjukkan Sapolsky, bahkan babun pun bisa belajar damai. Maka, manusia—dengan anugerah neokorteks yang kita miliki—semestinya bisa lebih dari sekadar alpha male yang berebut takhta di puncak gunung.
Pada akhirnya, teori Ludwig adalah cermin yang memantulkan wajah asli kekuasaan: mentah, primitif, dan tak selalu elok dipandang. Terserah kepada kita, sebagai masyarakat, apakah kita akan terus membiarkan sistem limbik para pemimpin menentukan nasib bangsa, ataukah kita akan menggunakan neokorteks kolektif kita untuk membangun tatanan politik yang lebih beradab.
Daftar Pustaka
Alogaily, R., et al. (2025). Testosterone administration induces a red shift in Democrats. Brain and Behavior, 15(2), e70245. https://doi.org/10.1002/brb3.70245Baghidoost, B. (2014). Political strategy and leadership in the work of Ali Shari'ati: A theoretical interpretation of the writings of an Islamic-Iranian revolutionary sociologist [Doctoral dissertation, University of Essex]. Ethos.
Chomsky, N. (2016). Who rules the world? Metropolitan Books.
Fukuyama, F. (2011). The origins of political order: From prehuman times to the French Revolution. Farrar, Straus and Giroux.
Hatemi, P. K., & McDermott, R. (Eds.). (2011). Man is by nature a political animal: Evolution, biology, and politics. University of Chicago Press.
Ludwig, A. M. (2002). King of the mountain: The nature of political leadership. University Press of Kentucky.
McAdams, D. P. (2017). The appeal of the primal leader: Human evolution and Donald J. Trump. Evolutionary Studies in Imaginative Culture, 1(2), 1–13. https://doi.org/10.26613/esic.1.2.45
Post, J. M. (Ed.). (2003). The psychological assessment of political leaders: With profiles of Saddam Hussein and Bill Clinton. University of Michigan Press.
Sapolsky, R. M., & Share, L. J. (2004). A pacific culture among wild baboons: Its emergence and transmission. PLoS Biology, 2(4), e106. https://doi.org/10.1371/journal.pbio.0020106
Stanton, S. J., Beehner, J. C., Saini, E. K., Kuhn, C. M., & LaBar, K. S. (2009). Dominance, politics, and physiology: Voters' testosterone changes on the night of the 2008 United States presidential election. PLoS ONE, 4(10), e7543. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0007543

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.