Dahulu, ada sebuah kerajaan bernama Persia yang letaknya persis di Iran modern kini. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja Bernama Cyrus the Great. Cikal-bakal tambahan "the Great" ini mirip dengan Alexander (atau Iskandar) "the Great" dari Makedonia karena sifatnya yang cukup mirip manakala menaklukan kerajaan lain.
Pendahuluan
Cyrus the Great (559–530 SM) bukan hanya seorang penakluk, tetapi arsitek peradaban multikultural pertama dalam sejarah dunia. Penaklukannya atas Babilonia (539 SM) bukanlah kemenangan militer biasa, melainkan revolusi politik dan etika kekuasaan. Ia memperkenalkan konsep bahwa kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang diakui oleh yang ditaklukkan — bukan melalui teror, tetapi melalui legitimasi simbolik, inklusi budaya, dan keadilan administratif. Seperti dikatakan Pierre Briant dalam bukunya From Cyrus to Alexander: A History of the Persian Empire (2002) bahwa “Koresh [sebutan Persia untuk Cyrus] tidak menaklukkan Babel; dia membebaskannya.”
Di Iran, Cyrus bukan hanya raja kuno, tetapi lebih dari itu, ia adalah simbol kebanggaan nasional dan etika pemerintahan. Mungkin mirip dengan figur Gadjah Mada di Indonesia. Pemerintah Iran modern sering mengutip Cyrus sebagai kontrast terhadap imperialisme Barat. Misalnya, seperti yang diungkap oleh Touraj Daryaee dalam Sasanian Persia: The Rise and Fall of an Empire (2009) bahwa “Cyrus adalah perwujudan komitmen peradaban Iran terhadap keadilan, toleransi, dan multikulturalisme.”
Di Iran, Cyrus Cylinder dipajang di Museum Nasional Teheran sebagai “piagam kemanusiaan pertama” dan sering dikaitkan dengan konsep ‘Adl’ (keadilan) dalam Islam dan Zoroastrianisme. Cyrus Cylinder yang dipajang di British Museum dengan kode BM 90920 adalah dokumen tanah liat berbentuk silinder, ditulis dalam bahasa Akkadia (Aramaik kuno), menggunakan aksara cuneiform. Teksnya terdiri dari 45 baris, dan ditemukan di Babilonia pada 1879.
Pada baris 1–10, Cyrus memperkenalkan dirinya sebagai raja Persia, raja Babilonia, raja Sumer dan Akkad, dan anak dari Cambyses I. Ia menyatakan bahwa Marduk, dewa utama Babilonia, memilihnya untuk membebaskan bangsa dari tirani Nabonidus. Baris 11–20 berisikan pernyataan Cyrus bahwa ia mengembalikan patung-patung dewa yang diambil oleh Nabonidus, dan memulihkan kuil-kuil yang dihancurkan. Baris 21–30 adalah pernyataan Cyrus bahwa ia membebaskan budak, memulihkan hak-hak agama, dan membangun kembali kota-kota yang hancur. Sementara itu, baris 31–45 Cyrus menyatakan bahwa ia tidak memaksa penduduk untuk memeluk agamanya, dan menghormati semua dewa dan budaya.
Perang merupakan kelanjutan proses politik dalam bentuk lain. Perang umumnya menyita korban jiwa tetapi tidak selalu. Perang cyber mengandalkan keterampilan programing komputer dari para pelakunya, mirip dengan pertandingan e-sport. Keterampilan yang dibutuhkan bukan "kill or to be killed" melainkan "hacked, cracked, atau spammed". Setiap pelaku terkesan terlibat tindakan "hidup-mati" tetapi virtual sifatnya.
Tidak terkecuali dalam proses penaklukan fisik terhadap suatu komunitas masyarakat. Penaklukan terhadap Babilonia oleh Persia dilakukan di Bawah Cyrus the Great bearoma semangat kemanusian (kendati motif politik sulit dikesampingkan). Di lain pihak, seperti kita tahu bagaimana Golden Horde dari Mongolia melakukan penaklukan, penuh darah dan melayangnya jiwa manusia. Bagaimana sejarah mencatat Golden Horde di bawah pimpinan Hulagu membumihanguskan Baghdad, kota peradaban. Penaklukan jenis ini adalah pembinasaan satu peradaban oleh peradaban lain.
Sedikit Mengenai Golden Horde
Tidak terkecuali dalam proses penaklukan fisik terhadap suatu komunitas masyarakat. Penaklukan terhadap Babilonia oleh Persia dilakukan di Bawah Cyrus the Great bearoma semangat kemanusian. Di lain pihak, seperti kita tahu bagaimana Golden Horde dari Mongolia melakukan penaklukan, penuh darah dan melayangnya jiwa manusia. Bagaimana sejarah mencatat Golden Horde di bawah pimpinan Hulagu membumihanguskan Baghdad, kota peradaban. Penaklukan jenis ini adalah pembinasaan satu peradaban oleh peradaban lain.
Golden Horde dalam bahasa Mongol disebut Altan Ordu sementara dalam bahasa Turki disebut Altın Ordu, adalah kerajaan Mongol yang berkuasa di Eropa Timur dan Asia Tengah dari abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Ia merupakan salah satu dari empat khanat utama yang muncul setelah pembagian Kekaisaran Mongol setelah kematian Genghis Khan (David Morgan, The Mongols, 2nd ed., 2007). Golden Horde tidak hanya dikenal sebagai kekuatan militer yang menakutkan, tetapi juga sebagai arsitek jaringan perdagangan Eurasia dan agen transformasi politik-agama di wilayah yang luas.
Golden Horde didirikan oleh Batu Khan, cucu Genghis Khan, setelah penaklukan Rusia dan Eropa Timur periode 1237–1242 Masehi (Thomas T. Allsen, Mongol Imperialism: The Policies of the Grand Qan Möngke in China, Russia, and the Islamic Lands, 1251–1259, 2001). Pusat kekuasaannya berada di Sarai, kota yang dibangun di sepanjang Sungai Volga, yang menjadi pusat administrasi, perdagangan, dan budaya selama lebih dari dua abad (Richard Foltz, A History of the Golden Horde, 2010). Morgan menyatakan “Batu Khan was not merely a conqueror; he was a state-builder who laid the foundations of a multi-ethnic, multi-religious empire” (David Morgan, The Mongols, 2007).
Karakteristik militer Golden Horde terkenal dengan pasukan berkuda yang gesit dan brutal, menggunakan taktik gerilya, pengepungan, dan teror psikologis untuk menaklukkan musuh (Allsen, Mongol Imperialism, 2001). Mereka tidak hanya menaklukkan, tetapi sering menghancurkan infrastruktur, kota, dan pusat ilmu pengetahuan seperti yang terjadi di Baghdad tahun 1258 oleh Hulagu Khan, kerabat Batu Khan (Reza Aslan, No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam, 2005). “Kavaleri Mongol bukan hanya kekuatan militer; itu adalah senjata psikologis yang mematahkan keinginan kota-kota sebelum panah pertama ditembakkan” (Thomas Allsen, Mongol Imperialism, 2001).
Penaklukan terkenal yang pernah dilakukan Golden Horde tercatat dalam sejarah. Di Rusia mereka menaklukkan Kiev, Vladimir, dan Novgorod, menjadikan Rusia sebagai vasal selama 240 tahun, periode yang dikenal sebagai “Yoke of the Tatars” (C. P. Davies, The Mongol Empire and Its Legacy, 2007). Selain itu, mereka juga menaklukan Baghdad pada tahun 1258 Masehi. Penaklukan ini dipimpin oleh Hulagu Khan, menghancurkan Perpustakaan Bayt al-Hikmah, membunuh Khalifah Abbasiyah al-Musta’sim, dan mengakhiri era keemasan Islam di Irak (Reza Aslan, No god but God, 2005). Mereka pun merambah Polandia dan Hungaria. Di kedua bangsa, mereka menyerang hingga ke Eropa Tengah, tetapi berhenti setelah kematian Ögedei Khan tahun 1241 Masehi, yang memaksa pasukan Mongol kembali ke Mongolia untuk memilih khan baru (Stephen Reinert, “The Mongol Empire and the Medieval World,” dalam The New Cambridge Medieval History, Vol. V, ed. David Abulafia, 2002).
Sistem pemerintahan Golden Horde bukan negara sentralisasi, melainkan konfederasi suku nomaden dengan sistem feodal-militer (Foltz, A History of the Golden Horde, 2010). Penguasa atau Khan memerintah melalui sistem “darugha” dengan mana gubernur militer yang mengawasi wilayah taklukan dan memastikan pembayaran upeti (Omeljan Pritsak, The Origin of the Old Rus’ Weights and Monetary Systems, 1981). Lebih lanjut Foltz menyatakan “Golden Horde adalah 'kerajaan nomaden', kekuatannya tidak terletak di kota-kota, tetapi dalam mobilitas, kesetiaan, dan kemampuan untuk mengekstraksi upeti” (Richard Foltz, A History of the Golden Horde, 2010).
Hubungan antara Golden Horde dengan Islam adalah pada awalnya mereka (Golden Horde) adalah pagan. Golden Horde masuk Islam pada abad ke-14 di bawah Khan Özbeg yang berkuasa 1313–1341 Masehi (Rudi Paul Lindner, “Nomadism, Islam, and the State in the Golden Horde,” Central Asian Survey 2, no. 1, 1983). Islam menjadi alat legitimasi politik, tetapi tidak selalu menghormati budaya lokal seperti dalam kasus Baghdad, di mana pusat ilmu pengetahuan dihancurkan meskipun penguasa sudah Muslim (Rudi Paul Lindner, “Nomadism, Islam, and the State,” 1983). Lebih lanjut, Lindner menulis “Masuk Islam tidak berarti toleransi; itu sering berarti pemberlakuan hierarki agama baru atas budaya yang ada” (Rudi Paul Lindner, Nomadism, Islam, and the State in the Golden Horde, 1983).
Kemunduran dan kehancuran Golden Horde dimulai saat mereka mulai melemah setelah perang saudara internal dan serangan Timurleng pada tahun 1395 Masehi. Serangan ini menghancurkan Sarai dan memicu fragmentasi politik (Beatrice Forbes Manz, The Rise and Rule of Tamerlane, 1989). Akhirnya, ia terpecah menjadi khanat-khanat kecil seperti Khanat Kazan, Astrakhan, dan Crimea (Maria Subtelny, Timurids in Transition: Turko-Persian Politics and Acculturation in Medieval Iran, 2007). Golden Horde resmi runtuh pada 1502 Masehi, setelah dikalahkan oleh Grand Duchy of Moscow (C. E. Bosworth, The Islamic Dynasties: A Chronological and Genealogical Handbook, 1991).
Warisan dan citra Golden Horde dikenal sebagai simbol kebrutalan Mongol. Mereka sering dikaitkan dengan “gerombolan berkuda yang menghancurkan peradaban” (Morgan, The Mongols, 2007). Namun, sejarawan modern menekankan bahwa tidak semua penaklukan Golden Horde bersifat destruktif, beberapa wilayah justru mengalami stabilitas ekonomi dan perdagangan di bawah mereka. “Golden Horde bukan hanya perusak, mereka juga pembangun jaringan perdagangan yang luas di seluruh Eurasia” (David Morgan, “The Mongols”, 2007).
Sementara Cyrus membangun, Hulagu Khan (1258 M) menghancurkan. Penaklukan Baghdad oleh Golden Horde bukan hanya militer, tetapi genosida budaya. “Hancurnya Rumah Hikmah (Bayt al-Hikmah) bukan hanya hilangnya buku, tetapi runtuhnya ekosistem intelektual yang menopang ilmu pengetahuan Islam selama berabad-abad” (Reza Aslan, No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam, 2005). Di Iran, Hulagu sering digambarkan sebagai simbol kebrutalan asing, kontras dengan Cyrus yang menghormati budaya yang ditaklukkan.
Penaklukan yang dilakukan Alexander the Great ataupun yang dilakukan Cyrus the Great adalah berbeda. Satu peradaban menyerang bukan untuk membinasakan peradaban lain melainkan melakukan "sintesis" peradaban. Perang jenis ini tentu saja lebih genius karena setiap peradaban sifatnya saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Bagaimana peradaban Islam menghidupkan kembali peradaban Yunani, terutama dalam semangat sains sehingga mampu menghadirkan teknologi yang menyempurkan kehidupan manusia di aneka bidang.
Demikian pula yang dilakukan Cyrus the Great terhadap Babilonia. Dua peradaban berhadap yaitu perdaban Mesopotamia yang direpresentasikan Babilonia melawan peradaban Persia yang diwakili Persia. Peradaban yang paling manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia selalu lebih unggul ketimbang peradaban yang menista kemanusiaan. Demikianlah yang terjadi pada sejarah penaklukan Babilonia oleh Persia.
Pada tahun 539 sebelum Masehi, Persia menaklukan Babilonia. Dua raja saling berhadapan yaitu Cyrus the Great dari Persia dan Nabonidus dari Babilonia. Dua perwakilan peradaban manusia berhadapan. Satu adalah peradaban yang lebih menghargai kemanusiaan, sementara lainnya yang kurang memandang tinggi harkat kemanusiaan. Penaklukan yang dilakukan Cyrus the Great tentu saja menggunakan kekuatan militer. Namun, penggunaan kekuataan militer yang terukur dan tidak membabi-buta. Kekuatan militer digunakan untuk menciptakan efek gentar pihak lawan walaupun tetap siap dipergunakan jika lawan memaksa untuk melawan.
Penaklukan di Dunia Modern
Penaklukan "berperadaban" adalah penaklukan sebagai legitimasi peradaban sang penakluk, bukan sekadar kemenangan militer. Cyrus datang bukan sebagai "destroyer" melainkan "liberator" itulah efek yang ingin Cyrus hadirkan dalam persepsi bangsa Babilonia. Tindakan pimpinan politik suatu negara belum tentu mencerminkan kehendak, atau dalam Bahasa Rousseau "Volonte Generale" bangsa secara keseluruhan.
Contoh konkrit dari hal ini bagaimana tindakan Trump menyerang Iran secara militer ditolak oleh bangsa Amerika melalui demonstrasi jutaan orang secara serentak di 50 negara bagian. Bangsa Amerika bukan berpihak kepada Iran, tetapi berpihak kepada kemanusiaan universal. Kemanusiaan universal tidak bisa disekat oleh "merek" negara atau kebijakan politik. Bangsa Amerika memposisikan simpati dan empati.
Simpati mengingat bagaimana agresi AS dan Israel terhadap Iran menyasar penduduk sipil, bahkan sekolah dan universitas tempat anak-anak dan remaja berada dalam masa emas mereka. Empati muncul manakala bagaimana sedihnya kehilangan orang-orang tersayang di sebuah perang yang tidak perlu dan masih bisa dihindari. Simpati dan empati inilah wujud dari kemanusiaan universal, keduanya bersifat lintas segala macam konstruksi sosial karena ada di dalam hati nurani, bukan otak manusia.
Kembali ke masalah penaklukan Cyrus atas Babilonia. Cyrus memposisikan diri sebagai "liberator" karena ia telah mengetahui adanya ketidakpuasan umum di kalangan bangsa Babilonia terhadap Nabonidus, raja mereka. Cyrus kemudian melancarkan propaganda politik yang menggambarkan dirinya sebagai "dewa lokal" bangsa Babilonia. Bagi Cyrus kekuasaan yang stabil tidak semata membutuhkan kemenangan militer melainkan juga legitimasi sosial dan psikologis dari rakyat yang ditaklukkan.
Cyrus memanfaatkan narrative legitimacy dengan menggambarkan dirinya sebagai pembebas yang diutus oleh Marduk, dewa utama Babilonia. Ini bukan sekadar trik politik, tetapi strategi teologis yang canggih. Untuk hal ini, Amélie Kuhrt dalam bukunya The Cyrus Cylinder: The First Charter of Human Rights? (1995) menyatakan, “Koresh menampilkan dirinya bukan sebagai penakluk asing, tetapi sebagai pewaris sah takhta Babilonia, yang dipilih oleh Marduk untuk memulihkan ketertiban.”
Langkah lain yang dilakukan Cyrus adalah menghormati agama dan budaya lokal. Agama dan budaya merupakan produk dari peradaban yang dinilai tinggi oleh penganut peradaban tersebut. Segera setelah menaklukkan Babilonia, Cyrus membiarkan ritual keagamaan khas Babilonia berjalan seperti biasa.
Hal tersebut termuat dalam Cyrus Cylinder. Cyrus Cylinder ditemukan di Babilonia, sekarang disimpan di British Museum, adalah dokumen paling awal yang menyatakan kebebasan beragama, pengembalian budak, dan penghormatan terhadap budaya lokal. Ini dianggap oleh banyak sarjana Barat sebagai “piagam hak-hak manusia pertama” meskipun kontroversial karena konteksnya lebih politis daripada universal.
Salah satu wujud dari kontroversi adalah pernyataan dari Irving Finkel, seorang kurator museum. Ia menyatakan bahwa "Silinder Koresh bukanlah deklarasi hak asasi manusia, tetapi teks propaganda kerajaan yang dirancang untuk melegitimasi pemerintahan Koresh di mata Babilonia" (Irving Finkel, Curator of Mesopotamian Antiquities, British Museum, 2013). Finkel menekankan bahwa teks ini adalah dokumen politik, bukan filosofis. Ia dibuat untuk menggambarkan Cyrus sebagai pembebas, bukan sebagai reformer hak-hak manusia.
Di lain pihak, sumber dari penulis Iran menyatakan hal berbeda. Mohammad Reza Shafiei Kadkani, Professor of Persian Literature, University of Tehran (2005) menyatakan bahwa “Silinder Cyrus adalah ungkapan paling awal dari 'Adl' (keadilan) dalam pemerintahan, ini bukan tentang hak, tetapi tentang keadilan bagi semua orang di bawah satu pemerintahan.” Di Iran, teks ini diinterpretasikan sebagai manifestasi ‘Adl’ Zoroastrian dan Islam, yaitu bahwa keadilan yang melampaui etnis, agama, dan budaya.
Pernyataan Kadhani didukung oleh penulis Arab Sunni. Tariq Ramadan, Professor of Islamic Studies di University of Oxford (2010) menyatakan “Silinder mencerminkan konsep yang mirip dengan 'al -' adl al - ' am ' (keadilan umum) dalam pemikiran politik Islam di mana penguasa harus menjamin keadilan bagi semua, tanpa memandang keyakinan.” Ramadan menekankan bahwa Cyrus adalah model bagi khalifah yang adil, mirip dengan Umar bin Khattab.
Selain itu, seorang intelektual China yang berbasis di Singapura juga menulis perihal Cyrus Cylinder ini. Wang Gungwu, Professor of History di National University of Singapore (2018) menyatakan bahwa “Silinder mewujudkan cita-cita Konfusianisme ' ren ' (kebajikan) penguasa harus peduli pada rakyatnya, bukan hanya menaklukkan mereka.” Wang mengaitkan Cyrus dengan konsep ‘tianxia’ (dunia di bawah langit) yaitu kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang mengutamakan kesejahteraan rakyat.
Masih berhubungan dengan perbincangan mengenai Cyrus Cylinder. Di dalam Islam pun terdapat perbincangan mengenai konsep ‘adl’. ‘Adl (العدل) dalam Islam bukan hanya keadilan hukum, tetapi keadilan sosial, ekonomi, dan spiritual. Ia adalah sifat utama Allah, dan kewajiban bagi penguasa. Seperti Imam al-Ghazali nyatakan pada abad ke-11 dalam karyanya Ihya Ulum al-Din bahwa “Penguasa harus 'adil', hanya dalam keputusannya, dalam perlakuannya terhadap minoritas, dan dalam pembagian kekayaannya.”
Di masa yang lebih modern, Ayatollah Khomeini menggambarkan revolusi Iran sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan Barat, dan pemulihan ‘Adl’ dalam pemerintahan. Beliau menyatakan “Republik Islam bukan tentang kekuasaan, tapi tentang' Adl', keadilan bagi yang tertindas” (Ayatollah Khomeini, Islamic Government (1970).
Kuil-kuil yang disucikan oleh bangsa Babilonia tidak dihancurkan melainkan dibiarkan berdiri. Juga, Cyrus tetap menghormati pendeta lokal Babilonia, seperti Khalifah Umar bin Khattab saat sebelum berjabat tangan dengan Sophronius, Uskup Yerusalem, turun dari kuda. Penakluk yang turun dari kudanya untuk menyalami taklukan adalah wujud kemanusiaan universal dan menunjukkan keagungan peradaban tersebut.
Umar bin Khattab mengimplementasikan konsep ‘adl’ dalam penaklukan Yerusalem. Umar menolak masuk Yerusalem kecuali turun dari kuda dan berjalan bersama Sophronius. Ia memberikan jaminan kebebasan beragama dan tidak menghancurkan gereja. Untuk ini, Khaled Abou El Fadl, Professor of Law di University of California Los Angeles (2007) menyatakan “Masuknya Umar ke Yerusalem adalah model 'Adl', dia tidak menaklukkan, dia membebaskan.”
Cyrus bahkan mengembalikan patung-patung dewa yang direlokasi oleh Nabonidus entah untuk keperluan apa, Kembali ke kota asalnya. Demikianlah, penguasa yang mengarbsorpsi identitas lokal akan dianggap sebagai "warga" dari pihak lokal tersebut. Jika simpati sudah diperoleh, terlebih juga empati telah diraih dari bangsa taklukan, maka perlawanan mereka anggap sebagai tidak perlu, maka terjadilah kondisi stabilitas jangka Panjang.
Hal lain yang juga Cyrus lakukan terhadap bangsa Babilonia adalah politik inklusif bukan pemusnahan elite seperti terjadi saat pimpinan Bani Abbasiyah mengambil-alih kekuasaan dari Bani Umayyah. Seluruh pimpinan dan keluarga Bani Umayyah yang masih hidup dimusnahkan, bahkan hingga penggalian kubur-kubur mereka untuk membakar tulang-belulang pimpinan Bani Umayah hingga menjadi abu.
Cyrus tidak melakukan hal keji semacam itu. Elit-elit lokal Babilonia tidak dimusnahkan. Administrasi kenegaraan yang telah dibangun oleh peradaban Babilonia tetap digunakan. Bagi Cyrus hal tersebut akan lebih efektif karena para elit lokal ini memegang kendali status quo. Membiarkan suatu administrasi kenegaraan yang telah berjalan adalah lebih efektif dan efisien ketimbang menggantinya dengan sistem dan personal baru. mengkooptasi elite lokal daripada menghancurkannya.
Menyerap Bukan Menghancurkan
Cyrus tidak menggantikan birokrasi Babilonia, tetapi mengintegrasikannya. Ia membiarkan gubernur lokal tetap berkuasa, membayar pajak dalam sistem yang sudah ada, dan bahkan mengembalikan patung dewa-dewa yang diambil oleh Nabonidus. Seperti dinyatakan Maria Brosius dalam The Persian Empire: A Historical Encyclopedia (2006) bahwa “Kekaisaran Achaemenid bukanlah negara yang tersentralisasi, tetapi sebuah federasi satrapies semi-otonom, masing-masing mempertahankan hukum, bahasa, dan adat istiadatnya sendiri.” Ini adalah model federalisme kuno yang jauh lebih canggih daripada sistem Romawi atau Yunani.
Cyrus juga melakukan pengintegrasian ekonomi dan administrasi negara pasca penaklukan Babilonia. Babilonia dijadikan bagian jaringan ekonomi global Persia. Infrastruktur seperti jalan-jalan raya yang merupakan temuan bangsa Persia dibangun dari pajak. Dampak dari hal-hal tersebut di atas adalah terciptanya transisi kekuasaan yang mulus dari Babilonia ke Persia. Biaya yang dibutuhkan oleh Cyrus untuk menaklukan Babilonia menjadi efisien. Selain itu, dalam hal pajak Cyrus juga memberikan perhatian.
Cyrus mengubah persepsi bangsa Babilonia bahwa pajak itu alat stabilitas masyarakat bukan eksploitasi. Pajak yang dibayarkan bangsa Babilonia kepada Persia digunakan untuk menjamin bahwa mereka akan tetap hidup normal dan terlindungi dari kesewenang-wenangan. Cyrus menciptakan persepsi bahwa pajak yang dibayar oleh bangsa Babilonia adalah demi keselamatan diri mereka sendiri, bukan semata kepentingan Persia.
Persoalan penarikan pajak selalu menjadi pemicu munculnya "unrest" di tengah masyarakat, di peradaban mana pun. Itu terjadi apabila pemimpin yang menarik pajak "bodoh" dan serakah. Eksploitasi yang terlalu keras terhadap masalah pajak justru akan merugikan Persia karena penerimaan potensial akan berkurang. Dalam jangka panjang akan mengurangi kemakmuran bangsa Persia secara keseluruhan.
Dengan demikian, Cyrus berhasil menciptakan narasi kekuasaan yang cerdas karena lebih mengedepankan soft power ketimbang hard power. Sesuai dengan bangunan keagamaan saat itu yang menekankan pada kekuasaan adi manusia seperti dewa-dewi, Cyrus dengan cerdas mencitrakan dirinya sebagai orang yang dipilih dewa orang-orang Babilonia untuk membebaskan mereka dari "kegelapan" Nabonidus.
Cyrus menciptakan persepsi bahwa ia datang untuk membebaskan bukan untuk menjajah. Hal ini membuat penaklukan yang dilakukan Cyrus terhadap Babilonia adalah benar-benar pembebasan. Hal ini berbeda dengan penaklukan Irak oleh AS yang justru menciptakan "unrest" di antara bangsa Irak sendiri. "Unrest" tersebut di antaranya adalah perang saudara antara Sunni versus Syi'ah dalam sisi agama maupun Arab versus Kurdi dalam sisi etnis.
Dalam konteks penaklukan Irak oleh AS pada tahun 2003 hal yang cukup ekstrem terjadi. Irak adalah pewaris peradaban Mesopotamia dan Babilonia. Berlawanan dengan Cyrus, AS menghancurkan birokrasi Irak, memecat tentara dan pegawai negeri asli Irak, dan memicu perang saudara Sunni-Syi’ah. “Invasi AS ke Irak adalah kegagalan soft power, menghancurkan negara tanpa membangun yang baru.” ( Noam Chomsky, Hegemony or Survival, 2003).
Penaklukan yang dilakukan Cyrus ini, di masa modern mirip dengan upaya yang dilakukan China atas AS. China menghindari konfrontasi militer kendatipun posisi mereka tetap 100% mengklaim Taiwan sebagai salah satu provinsinya. Namun, jika China menyerang Taiwan maka dampak yang tidak dapat terukur akan terjadi, mirip dengan "bingungnya" Trump untuk keluar dari Perang Iran.
Hal yang China lakukan adalah memberikan tempat kepada perusahaan-perusahaan Barat untuk mendirikan pabrik mereka di China dengan upah buruh yang jauh di bawah buruh Barat. Sistem politik komunis dipertahankan hanya sekadar sebagai alat kohesi sosial, bukan alat penindasan seperti pernah terjadi dalam Tragedi Tiananmen di masa Deng Xiaoping tahun 1989.
China menyerap basis utama ekonomi AS yaitu perusahaan-perusahaan swasta untuk melakukan kegiatan produksi di dalam negeri mereka. Selain itu, China dengan dalih membangun infrastruktur berhasil menarik dukungan dari negara-negara Afrika dan Asia yang masih miskin agar dibangunkan jalan-jalan, jembatan, dan bandara. Lalu pabrik-pabrik China didirikan di sana yang kemudian menyerap tenaga kerja lokal, kendatipun di level manager menengah dan tinggi tetap dipegang bangsa China.
Dengan dibangunkan pusat-pusat kegiatan ekonomi maka akan tercipta "trickle-down effect" dengan mana masyarakat dan wilayah di sekitar pusat kegiatan ekonomi baru akan terkena imbas positif (juga negatif) dari kegiatan ekonomi tersebut. Namun, satu hal yang penting bagi China adalah bahwa ia dipandang sebagai motor pembaruan ekonomi dan kemakmuran. Inilah penaklukan dengan soft power, bukan hard power. Ironisnya, inilah yang dahulu dilakukan Barat terhadap negara-negara Asia-Afrika pasca Perang Dunia II, dengan mana aneka perusahaan AS dan Barat serta Jepang "membangun" Indonesia.
Kembali ke masalah Cyrus the Great, bahwa minimnya kehancuran di Babilonia sama dengan memaksimalkan warisan peradaban. Babilonia adalah sebuah peradaban di mana terdapat aneka teknologi yang dapat diserap untuk kepentingan Persia. Kebijakan Cyrus untuk tidak membumihanguskan Babilonia maka salah satu unsur peradaban Babilonia yaitu sains tetap hidup, administrasi negara berjalan, dan kota-kota di Babilonia terus menghasilkan kemakmuran yang tentu saja menguntungkan Persia karena pajak diasumsikan akan tetap dibayar oleh bangsa Babilonia.
Sebagai kontras, dapat kita bandingkan dengan perusakan sistem irigasi sehingga mempengaruhi produksi pangan di Irak. Jika basis ekonomi subsisten seperti pertanian untuk memproduksi bahan pangan hancur, maka peradaban pun akan runtuh cepat atau lambat. Manusia perlu makan, dan jika mereka tidak bisa makan di tempat tinggalnya maka mereka akan mencari tempat lain yang menyediakan makanan bagi mereka. Terjadilah eksodus yang membuat Baghdad menjadi mati total karena peradaban mereka berhenti.
Penaklukan Hulagu adalah penaklukan untuk jangka pendek. Memang, mereka mampu menjarah emas dan permata dari Baghdad. Namun, apa yang bisa dilakukan setelah itu? Mereka tidak bisa menetap di sana karena para petani dan para produsen manufaktur mereka habisi. Satu-satunya cara bagi Hulagu untuk tetap bisa hidup adalah mencari tempat-tempat baru untuk ditaklukan. Belakangan, keturunan Hulagu yaitu Timurleng sedikit lebih cerdas. Saat menaklukan India mereka menyerap peradaban India. Penguasa Mongolia justru memeluk agama Islam dan mengadaptasi peradaban India. Itulah asal dari Dinasti Moghul di India, yang berpuncak pada Akbar the Great.
Penaklukan India oleh Dinasti Moghul, khususnya Akbar the Great, 1556–1605 merupakan contoh penggunaan soft power. Akbar adalah keturunan Timurleng. Ia mengadopsi budaya India, memeluk agama Hindu, dan menciptakan Dinasti Moghul sebagai kekuatan multikultural, mirip dengan yang Cyrus lakukan di Babilonia. “Kebijakan Akbar tentang Sulh-i-Kul (perdamaian universal) merupakan warisan langsung dari model pemerintahan inklusif Cyrus.” (Irfan Habib, The Agrarian System of Mughal India, 1963).
Persia sebagai peradaban berpikir jangka panjang, dan sebab itu mereka membangun kekaisaran multi-etnis, menjaga stabilitas lintas wilayah. Sementara penaklukan Mongol kendati tidak seluruhnya, cenderung bersifat teror untuk memberikan efek takuk (bukan segan dan respek) secara psikologis.
Potensi pemberontakan dicegah oleh Mongol dengan menghancurkan pasukan lawan secara zero sum game. Sebaliknya, penaklukan yang dilakukan Persia bukan zero sum game melainkan penaklukan "terbatas." Hanya potensi militer dan pimpinan politik garis keras yang dihancurkan oleh Cyrus. Potensi militer yang sedia bergabung, termasuk pemimpin politik mereka, dijadikan mitra untuk mengelola Babilonia.
Inspirasi Cyrus Bagi Iran Modern
Pelajaran dari penaklukan Babilonia oleh Cyrus the Great dari Persia pun menginspirasi Iran modern, terutama dalam masalah diplomasi internasional. Iran, di era Ayatollah Ruhollah Khomeini (1979–1989) mengedepankan soft power sebagai revolusi ideologis. Khomeini menggunakan narasi anti-imperialisme dan konsep ‘Adl’ untuk memobilisasi dunia Muslim melawan AS dan Israel. Mengenai perihal revolusi yang direncanakan di Iran ini, sebelum Ali Syari’ati yang syahid tahun 1977 karena dibunuh oleh SAVAK Shah Pahlevi saat dirawat di sebuah rumah sakit di Inggris menulis “Revolusi Islam bukan hanya politik, tetapi proyek soft power, yang bertujuan untuk mengekspor model 'Adl' ke dunia Muslim.” (Ali Shariati, Sociologist and Islamic Thinker, 1970s).Namun, penulis Iran lainnya yaitu Hamid Dabashi menyatakan bahwa soft power Khomeini lebih bersifat ideologis daripada inklusif, ia menekankan ketaatan, bukan kebebasan. Dabashi menulis, “Kekuatan lunak Khomeini bersifat revolusioner, tetapi tidak pluralistik, ia menuntut kesesuaian, bukan koeksistensi.” (Hamid Dabashi, Professor of Iranian Studies, Columbia University, 2001). Konsep ‘adl’ di Iran terus bergerak dalam implementasi politik mereka.
Iran di era Presiden Khatami (1997–2005) memperlakukan soft power sebagai Dialog Peradaban. Presiden Khatami memperkenalkan “Dialog of Civilizations” sebuah konsep yang mirip dengan Cyrus yaitu menghormati perbedaan, bukan menghancurkannya. “Dialog, bukan dominasi, inilah intisari soft power di era Khatami” (Abdolkarim Soroush, 2000). Kendati demikian, pendapat berbeda juga dilontarkan oleh intelektual Iran lainnya. Kritikus Khatami menyebut bahwa dialog ini tidak diikuti oleh reformasi politik nyata. “Kekuatan lunak Khatami bersifat retoris, tidak diterjemahkan ke dalam kebebasan politik” (Dr. Mohsen Milani, Professor of Political Science di University of South Florida, 2003).
Perkembangan konsep ‘adl’ terus berkembang di Iran. Di masa Presiden Rouhani (2013–2021) soft power kemudian diterjemahkan sebagai Diplomasi Ekonomi mengingat Iran tengah terkena sanksi dari AS dan Barat. Presiden Rouhani menggunakan narasi ‘moderatisme’ dan kerjasama ekonomi untuk memperbaiki citra Iran di dunia. “Kekuatan lunak Rouhani adalah ekonomi, dia berusaha menarik investasi, bukan hanya simpati” (Saeed Ghasseminejad, Senior Fellow, Foundation for Defense of Democracies, 2019). Namun, kritikus menyebut bahwa soft power Rouhani gagal karena sanksi AS dan ketidakpercayaan internasional, seperti tampak dari pernyataan “Kekuatan lunak Rouhani dirusak oleh kekuatan keras, intervensi regional IRGC” (Karim Sadjadpour, Senior Fellow, Carnegie Endowment, 2020).
Selain Iran, China pun menempuh jalur soft power dalam upaya mereka menjadi kuat di dunia internasional. Belt and Road Initiative (BRI) adalah politik luar negeri soft power China yang menekankan pada ekonomi dan infrastruktur sebagai pengganti “bedil” dan “mesiu”.
China menggunakan BRI untuk membangun jalan, jembatan, dan pelabuhan di Afrika dan Asia Tenggara, mirip Cyrus yang membangun jalan raya Persia. Dinyatakan bahwa “BRI bukan hanya infrastruktur, ini adalah narasi 'kerja sama yang saling menguntungkan', menggemakan retorika 'pembebasan' Cyrus” (Yan Xuetong, Professor of International Relations, Tsinghua University, 2011). Namun, kritikus menyebut bahwa BRI adalah ‘debt-trap diplomacy’ dengan mana negara penerima bantuan China terjebak dalam utang. “Kekuatan lunak China adalah paksaan ekonomi, membangun jalan, tetapi menuntut kesetiaan” (Deborah Brautigam, Professor of International Development di Johns Hopkins University, 2019).
Penutup
Cyrus, diakui atau tidak, merupakan sebuah model etis kekuasaan bagi Dunia Modern. Cyrus the Great bukan hanya raja, ia sekaligus arsitek kekuasaan etis. Ia membuktikan bahwa kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang diakui oleh rakyat, bukan melalui kekerasan, tetapi melalui legitimasi simbolik, keadilan, dan inklusi.
Dalam dunia modern yang penuh konflik, model Cyrus adalah alternatif etis terhadap imperialisme dan hegemoni. Iran, China, dan bahkan Barat bisa belajar dari Cyrus. Sejumlah pelajaran tersebut di antaranya adalah: (1) Soft power bukan tentang kekuatan, tetapi tentang kepercayaan; (2) Keadilan (‘Adl’) bukan hanya retorika, tetapi praktik; (3) Peradaban tidak dibangun dengan menghancurkan, tetapi dengan mengintegrasikan.
Kemudian, etika kekuasaan seperti apa yang bisa para pemimpin dunia modern pelajari dari Cyrus? Pertama, kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang diakui oleh rakyat bukan melalui kekerasan, tetapi melalui legitimasi simbolik dan keadilan. Kedua, peradaban tidak dibangun dengan menghancurkan, tetapi dengan mengintegrasikan dengan mana Cyrus tidak menggantikan Babilonia, tetapi mengadopsinya.
Ketiga, soft power lebih efisien daripada hard power dengan mana biaya penaklukan Cyrus jauh lebih rendah daripada Hulagu atau AS di Irak. Keempat, kemanusiaan universal adalah dasar kekuasaan yang berkelanjutan, simpati dan empati lebih kuat daripada senjata.
Akhirnya, Cyrus the Great bukan hanya raja melainkan sekaligus ia adalah filosof kekuasaan. Ia membuktikan bahwa kekuasaan yang berkelanjutan bukanlah kekuasaan yang menakutkan, tetapi kekuasaan yang dihormati. Dalam dunia modern yang penuh konflik, model Cyrus adalah alternatif etis terhadap imperialisme dan hegemoni.
“The greatest conquest is not of land, but of hearts.”
Adapted from Cyrus the Great’s legacy
Daftar Pustaka
Abou El Fadl, Khaled. (2007). The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. HarperOne.
Allsen, Thomas T. (2001). Mongol Imperialism: The Policies of the Grand Qan Möngke in China, Russia, and the Islamic Lands, 1251–1259. University of California Press.
Aslan, Reza. (2005). No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam. Random House.
Bosworth, C. E. (1991). The Islamic Dynasties: A Chronological and Genealogical Handbook. Edinburgh University Press.
Brautigam, D. (2019). The Dragon’s Gift: The Real Story of China in Africa. Oxford University Press.
Briant, P. (2002). From Cyrus to Alexander: A History of the Persian Empire. Eisenbrauns.
Brosius, M. (2006). The Persian Empire: A Historical Encyclopedia. ABC-CLIO.
Chomsky, Noam. (2003). Hegemony or Survival. Metropolitan Books.
Dabashi, Hamid. (2001). Staging a Revolution: The Art of Persuasion in the Islamic Republic. University of California Press.
Daryaee, T. (2009). Sasanian Persia: The Rise and Fall of an Empire. I.B. Tauris.
Davies, C. P. (2007). The Mongol Empire and Its Legacy. Brill.
Finkel, Irving. (2013). The Cyrus Cylinder: The First Charter of Human Rights? British Museum.
Foltz, Richard. (2010). A History of the Golden Horde. Oxford University Press.
Ghazali, Al Imam. (11th century). Ihya Ulum al-Din. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Habib, I. (1963). The Agrarian System of Mughal India. Asia Publishing House.
Kadkani, Shafiei M. R. (2005). Cyrus Cylinder and the Concept of ‘Adl’. University of Tehran Press.
Kennedy, Hugh. (2007). The Great Arab Conquests. Da Capo Press.
Kuhrt, A. (1995). The Cyrus Cylinder: The First Charter of Human Rights? British Museum Press.
Lindner, Rudi Paul. (1983). “Nomadism, Islam, and the State in the Golden Horde,” Central Asian Survey 2, no. 1.
Manz, Beatrice Forbes. (1989). The Rise and Rule of Tamerlane. Cambridge University Press.
Milani, Mohsen. (2003). The Making of Iran’s Islamic Revolution: From Monarchy to Islamic Republic. Routledge.
Morgan, David. (2007). The Mongols, 2nd ed. Blackwell Publishing.
Nasr, Vali. (2006). The Shia Revival: How Conflicts Within Islam Will Shape the Future. W.W. Norton.
Pritsak, Omeljan. (1981). The Origin of the Old Rus’ Weights and Monetary Systems. Harvard Ukrainian Research Institute.
Ramadan, Tariq. (2010). Islam and the Arab Awakening. Penguin.
Reinert, Stephen. (2002). “The Mongol Empire and the Medieval World,” dalam The New Cambridge Medieval History, Vol. V, ed. David Abulafia. Cambridge University Press.
Soroush, Abdulkarim. (2000). Reason, Freedom, and Democracy in Islam. Oxford University Press.
Subtelny, Maria. (2007). Timurids in Transition: Turko-Persian Politics and Acculturation in Medieval Iran.: Brill.
Wang, G. (2018). China’s World Order: The Historical Context. National University of Singapore Press.
Yan, X. (2011). Ancient Chinese Thought, Modern Chinese Power. Princeton University Press.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.