Artikel ini menganalisis kebijakan militer AS-Israel terhadap Iran menggunakan multiple theoretical frameworks: Realisme (Waltz, Mearsheimer, and Walt), Konstruktivisme (Wendt), Liberalisme (Doyle, Keohane), dan Marxisme (Harvey, Chomsky) dengan fokus pada studi kasus spesifik: (1) serangan terhadap pemimpin Iran (General Qasem Soleimani, Fakhrizadeh); (2) program nuklir Iran; (3) dampak sanksi ekonomi.
Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis kasus empiris, artikel ini menunjukkan bahwa tidak ada satu teori yang dapat menjelaskan kompleksitas konflik AS-Israel-Iran secara menyeluruh. Realisme menjelaskan kompetisi untuk hegemoni regional, Konstruktivisme menjelaskan peran identitas dan norma, Liberalisme menjelaskan peran institusi internasional dan interdependensi ekonomi, dan Marxisme menjelaskan peran kapitalisme dan imperialisme ekonomi.
Temuan menunjukkan bahwa strategi AS-Israel memiliki keterbatasan signifikan: (1) serangan targeted terhadap pemimpin Iran tidak mencapai tujuan strategis jangka panjang; (2) program nuklir Iran adalah rasional dari perspektif keamanan nasional, bukan agresi; (3) sanksi ekonomi menciptakan hardship untuk populasi sipil, namun memperkuat kohesi ideologis rezim Iran. Artikel ini berkontribusi pada pemahaman bahwa dalam konteks multipolar emerging, strategi unilateral hegemoni regional semakin sulit dipertahankan, dan pendekatan multilateral berbasis dialog dan negosiasi adalah alternatif yang lebih feasible.
Jika Anda tertarik maka silakan dibaca lengkapnya di Research Gate

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.