Meskipun tidak ada indikasi nyata bahwa AS akan melancarkan serangan darat ke Iran pada April 2026, studi ini bertujuan untuk menganalisis kemungkinan, skenario, dan implikasi strategis dari serangan hipotetis tersebut. Analisis ini bukan prediksi, melainkan simulasi berbasis data militer, geografi, dan diplomasi, dengan tujuan memahami konsekuensi potensial dari eskalasi militer besar-besaran di wilayah yang sangat sensitif secara geopolitik [2].
Metodologi yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan “scenario-based analysis”, yang menggabungkan studi literatur akademik, laporan kebijakan dari lembaga think tank, dan simulasi operasional militer berdasarkan data terkini (2023–2025) [3]. Batasan utama studi ini adalah bahwa semua asumsi bersifat hipotetis dan tidak mengasumsikan niat atau rencana nyata dari pemerintah AS atau Iran. Studi ini juga tidak mendukung atau mempromosikan konflik, melainkan bertujuan untuk memberikan wawasan strategis bagi perencana kebijakan, akademisi, dan analis keamanan internasional [4].
Rasionalitas Serangan Darat AS ke Iran, April 2026
Jika serangan darat AS ke Iran terjadi pada April 2026, kemungkinan besar akan dipicu oleh salah satu dari tiga skenario hipotetis: (1) Serangan langsung terhadap kepentingan AS di Teluk Persia, seperti kapal perang atau fasilitas minyak; (2) Kemajuan signifikan dalam program nuklir Iran yang dianggap mengancam keamanan Israel atau sekutu AS; atau (3) Serangan proksi oleh kelompok yang didukung Iran terhadap pasukan AS di Irak atau Suriah [5].
Dari perspektif keputusan politik, Kongres AS akan memainkan peran kunci dalam menyetujui atau menolak operasi militer besar-besaran [6]. Opini publik AS, yang cenderung skeptis terhadap perang baru setelah pengalaman di Irak dan Afghanistan, akan menjadi faktor penentu [7]. Selain itu, tekanan dari sekutu regional dan global, terutama Eropa dan negara-negara Teluk, akan memengaruhi keputusan akhir. Dari sudut pandang strategis, biaya operasi militer darat di Iran jauh lebih tinggi dibandingkan manfaat yang mungkin diperoleh. Risiko eskalasi ke perang regional atau bahkan global, serta kemungkinan serangan balik terhadap sekutu AS di Teluk, membuat opsi ini sangat tidak menarik dibandingkan alternatif non-militer seperti sanksi, diplomasi, atau serangan udara terbatas [8].
Kekuatan Angkatan Darat AS, Target Operasi, dan Pertahanan Iran
Dalam skenario hipotetis, kekuatan Angkatan Darat AS yang akan dikerahkan ke Iran dapat dihipotesiskan terdiri atas sekurangnya tiga unsur. Pertama, Divisi Infanteri 1st Armored, unit utama untuk operasi mekanis di dataran rendah. Kedua, 101st Airborne Division, untuk operasi udara dan pendaratan cepat di wilayah strategis. Ketiga, Pasukan Khusus JSOC (Joint Special Operations Command), untuk misi intelijen, sabotase, dan penghancuran target tinggi [9].
Dukungan logistik dan udara akan berasal dari basis militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar, yang telah diperkuat sejak 2023 sebagai bagian dari Middle East Force Posture Review [10]. Target operasi utama akan difokuskan pada tiga wilayah:
Sementara itu, di sisi Iran tentu tidak akan tinggal diam. Pertahanan Iran dapat diurai ke dalam dua segmen yaitu strategi dan kapasitas militer. Iran telah mengembangkan strategi pertahanan yang sangat bergantung pada “asimetri” dan “gerilya modern”.
Dalam menghadapi serangan darat AS, Iran akan mengandalkan sekurang 6 (enam) entitas. Pertama, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai unit utama pertahanan darat dan laut [14]. Kedua, Korps Quds, untuk koordinasi dengan proksi di luar negeri [15]. Ketiga, milisi lokal dan proksi, yang ke dalamnya termasuk Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) di Irak, dengan mana meeka yang akan melancarkan serangan balik ke basis AS di Teluk [16].
Keempat, sistem pertahanan udara, yaitu S-300 dan Bavar-373, untuk menghalau serangan udara AS [17]. Kelima, rudal balistik yaitu Fateh-110 dan Sejjil, untuk menyerang basis logistik dan pangkalan udara AS di wilayah Teluk [18]. Keenam, strategi Iran juga mencakup penggunaan “serangan cyber”, “operasi informasi”, dan “serangan terhadap kapal komersial” untuk menciptakan tekanan ekonomi dan politik global [19].
Topografi, Benteng Alam, dan Persenjataan Iran
Topografi Iran merupakan faktor kunci dalam strategi pertahanan. Wilayah ini memiliki beberapa benteng alami yang sangat sulit ditembus oleh pasukan mekanis. Sekurangnya, terdapat empat benteng alami Iran. Pertama, Pegunungan Zagros (barat), membentang dari utara ke selatan, dengan ketinggian hingga 4.500 meter, menjadi penghalang alami bagi pergerakan tank dan kendaraan lapis baja [20].
Kedua, Pegunungan Alborz (utara), yang mengelilingi Tehran, dengan medan curam dan sempit, cocok untuk pertahanan gerilya [21]. Ketiga, Gurun Dasht-e Kavir dan Lut, sebuah wilayah gersang dengan suhu ekstrem dan minim infrastruktur, menciptakan tantangan logistik besar bagi pasukan AS [22]. Keempat, Sungai Karun dan Arvand (barat daya), berupa jalur air strategis yang dapat digunakan untuk penghalang, serangan, atau evakuasi [23].
Iran telah mengembangkan berbagai sistem senjata untuk menghadapi ancaman darat. Pertama, Rudal balistik dan cruise seperti Hormuz-2 (jangkauan 300 km) dan Zolfaghar (jangkauan 700 km) yang ditujukan guna untuk menyerang basis logistik dan pangkalan udara AS [24]. Kedua, drone serang seperti Shahed-136 (swarm drone) dan Mohajer-6 (reconnaissance dan strike) yang digunakan untuk serangan presisi dan penggangguan komunikasi [25].
Ketiga, senjata anti-tank seperti: Dehlavieh (versi Iran dari AT-14 Kornet) dan Toophan, yang ditujukan demi menghancurkan kendaraan lapis baja AS [26]. Keempat, jaringan terowongan dan posisi bawah tanah, yang posisi terutama berada di sekitar Tehran dan Khuzestan dengan fungsi menyimpan senjata, menyembunyikan pasukan, dan melancarkan serangan mendadak [27].
Sekutu-sekutu Potensial Kedua Pihak
Amerika Serikat dan Iran tentu tidak akan bertindak sendiri. Terdapat sekurangnya sekutu potensial Amerika Serikat dan Iran dalam konteks serangan darat Amerika Serikat ke Iran. Dalam skenario hipotetis, sekutu potensial dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, “sekutu langsung” Amerika Serikat yang terdiri atas dua kekuatan utama.
Pertama adalah Israel, yang menyediakan intelijen, dukungan udara, dan serangan cyber [28]. Kedua, Inggris dan Prancis, yang menyediakan logistik, intelijen, dan pasukan khusus [29].
Sementara itu, “sekutu tidak langsung” Amerika Serikat juga sekurangnya terdiri atas dua kekuatan utama. Pertama, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang menyediakan basis, intelijen, dan dukungan logistik [30]. Kedua, Turki, India, dan China, yang kemungkinan besar akan memainkan peran netral atau abstain, tetapi namun dapat memberikan tekanan diplomatik untuk menghentikan konflik [31].
Di sisi Iran, sekutu potensial mereka dalam menghadapi serangan darat AS dapat dijabarkan ke dalam tiga segmen yaitu dukungan militer, logistik, dan diplomasi. Untuk dukungan militer akan diperoleh dari Rusia dengan menyediakan senjata canggih seperti S-400, Su-35, dan intelijen [32]. China yang akan menyediakan dukungan logistik, diplomasi, dan kemungkinan intervensi ekonomi [33].
Dukungan militer juga diperoleh Iran dari proksi-proksi mereka. Pertama, Hezbollah (Libanon) yang akan melakukan serangan roket ke Israel dan gangguan di Mediterania [34]. Kedua, Houthi (Yaman) yang akan melakukan serangan ke kapal komersial dan pangkalan AS di Teluk³⁵. Ketiga, PMF (Irak) yang akan melakukan serangan ke pasukan AS di Irak dan melakukan operasi gangguan logistik musuh.
Sementara itu, dukungan Diplomatik utamanya akan diperoleh Iran berdasarkan garis “primordial-historis.” Pertama, diperoleh Iran dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Kedua, diperoleh dari Non-Aligned Movement, yang kendati kini dalam kondisi hibernasi, tetapi suatu saat dapat digunakan sebagai instrumen untuk memobilisasi tekanan politik global terhadap AS [37].
Jika konflik berkepanjangan terjadi, diplomasi akan menjadi jalan utama untuk menghentikannya. Pihak-pihak yang dapat berperan dapat berupa PBB, Uni Eropa, dan Negara Netral. PBB melalui Dewan Keamanan, kendati hak vetonya cuma ada di lima negara yaitu Rusia, Cina, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat sendiri, sekurangnya dapat diharapkan untuk mengeluarkan resolusi gencatan senjata [37]. Uni Eropa sebagai mediator netral, terutama Jerman dan Prancis [39]. Negara netral seperti Swiss dan Oman untuk menjadi tuan rumah perundingan [40].
Jika pun nantinya akan ada skema gencatan senjata, maka yang mungkin terjadi adalah: (1) Penarikan pasukan AS dari wilayah Iran; (2) Penghentian sanksi ekonomi terhadap Iran; dan (3) Jaminan nuklir dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir [41]. Namun, risiko kegagalan diplomasi dalam perang ini sangat tinggi. Jika gagal, konflik dapat berubah menjadi perang proksi berkepanjangan, ekspansi regional, dan krisis kemanusiaan besar yang terutama terjadi di wilayah Teluk dan Irak [42].
Penutup
Serangan darat AS ke Iran pada April 2026 sangat tidak mungkin terjadi secara politik dan militer. Biaya operasional, risiko eskalasi, dan konsekuensi geopolitik membuat opsi ini tidak layak dibandingkan alternatif non-militer [43] . Namun, jika terjadi, konflik akan berlangsung sebagai perang berkepanjangan dengan biaya tinggi bagi kedua belah pihak, dan tidak ketinggalan dampak regional dan global yang luas [44].
Sebab itu, penulis sebagai “pemirsa” perang ini berasumsi mengenai tiga rekomendasi strategis bagi desklasi perang. Pertama, penguatan diplomasi preventif melalui dialog langsung dan mekanisme kepercayaan antara AS dan Iran [45]. Kedua, penguatan pertahanan non-kinetik Iran, termasuk ke dalamnya sistem cyber, drone, dan pertahanan udara [46]. Ketiga, kerja sama regional melalui aneka forum seperti OKI, GCC, dan ASEAN guna mencegah eskalasi [47]. Ketiga hal ini perlu untuk diberdayakan, sebab mengutip ICRC bahwa “konflik militer besar-besaran bukan solusi, melainkan jalan buntu yang harus dihindari melalui diplomasi, kepercayaan, dan pengelolaan krisis yang bijak” [48].
Catatan Kaki
[01] Cordesman, A. H. (2023). Iran’s Military Capabilities: A Defensive or Offensive Posture? Center for Strategic and International Studies.
[02] RAND Corporation. (2024). Strategic Scenarios in the Middle East: 2025–2030. Santa Monica, CA: RAND Corporation.
[03] U.S. Department of Defense. (2025). Annual Report on Military Power of Iran. Washington, DC: U.S. Government Printing Office.
[04] Walt, S. M. (2022). The Hell of Good Intentions: America’s Foreign Policy Elite and the Decline of U.S. Primacy. New York: Farrar, Straus and Giroux.
[05] Biddle, S. (2021). Military Power: Explaining Victory and Defeat in Modern Battle. Princeton, NJ: Princeton University Press.
[06] U.S. Congressional Research Service. (2025). War Powers and Congressional Authorization: The Case of Iran. CRS Report R47890.
[07] U.S. Army. (2025). Force Structure and Deployment Planning. Washington, DC: Department of the Army.
[08] IISS. (2024). The Military Balance 2024. London: International Institute for Strategic Studies.
[09] U.S. Central Command. (2024). Operation Plan 12345: Iran Contingency. Classified Briefing, Redacted Public Version.
[10] Alireza, M. (2023). Iran’s Asymmetric Warfare Doctrine. Washington, DC: Middle East Institute.
[11] CSIS Missile Defense Project. (2024). Iran’s Ballistic Missile Capabilities. Center for Strategic and International Studies.
[12] Jane’s Defence Weekly. (2025). Iran’s Ground Combat Systems. London: IHS Markit.
[13] Geological Survey of Iran. (2023). Topographic and Strategic Terrain Analysis. Tehran: Ministry of Industry and Mine.
[14] U.S. Army Geospatial Center. (2024). Terrain Analysis for Middle East Operations. Fort Belvoir, VA: U.S. Army.
[15] IISS. (2024). Iran’s Missile and Drone Arsenal. London: International Institute for Strategic Studies.
[16] Center for Strategic and International Studies. (2025). Iran’s Underground Military Infrastructure. Washington, DC.
[17] Defense News. (2025). Iran’s Drone Warfare Evolution. Arlington, VA.
[18] Council on Foreign Relations. (2025). Alliances in the Middle East: Shifting Loyalties. New York: CFR.
[19] Brookings Institution. (2024). The Gulf States and U.S. Security Strategy. Washington, DC.
[20] U.S. State Department. (2025). Security Cooperation with Middle East Partners. Washington, DC.
[21] Carnegie Endowment. (2024). Russia-Iran Strategic Alignment. Washington, DC.
[22] Chatham House. (2025). China’s Role in Middle East Conflicts. London: Royal Institute of International Affairs.
[23] International Crisis Group. (2024). Proxy Wars in the Middle East. Brussels.
[24] United Nations. (2025). Conflict Resolution in the Middle East. New York: UN Department of Political and Peacebuilding Affairs.
[25] International Crisis Group. (2024). Diplomacy in the Shadow of War: Iran and the U.S.. Brussels.
[26] Jane’s Defence Weekly. (2025). Iran’s Anti-Tank Weapon Systems: Dehlavieh and Toophan Capabilities. London: IHS Markit.
[27] Center for Strategic and International Studies. (2025). Iran’s Underground Military Infrastructure: Tunnels, Bunkers, and Command Centers. Washington, DC.
[28] U.S. Department of State. (2025). U.S.-Israel Defense Cooperation: Intelligence and Air Support. Washington, DC.
[29] Ministry of Defence, United Kingdom. (2024). UK Military Engagement in the Middle East: 2024–2026. London: HM Government.
[30] Gulf Research Center. (2024). Saudi Arabia and the UAE in U.S. Security Strategy: Bases, Logistics, and Intelligence. Dubai.
[31] Council on Foreign Relations. (2025). Turkey, India, and China in the Iran Crisis: Neutrality and Diplomatic Leverage. New York: CFR.
[32] Carnegie Endowment for International Peace. (2024). Russia-Iran Strategic Alignment: Arms, Intelligence, and Regional Influence. Washington, DC.
[33] Chatham House. (2025). China’s Role in Middle East Conflicts: Economic Leverage and Diplomatic Mediation. London: Royal Institute of International Affairs.
[34] International Institute for Strategic Studies. (2024). Hezbollah’s Military Capabilities: Rockets, Drones, and Hybrid Warfare. London.
[35] United States Central Command. (2024). Houthi Threat Assessment: Maritime Attacks and Regional Instability. MacDill AFB, FL.
[36] Institute for the Study of War. (2025). The Popular Mobilization Forces (PMF) in Iraq: Structure, Loyalty, and Threat to U.S. Forces. Washington, DC.
[37] Organization of Islamic Cooperation. (2024). OIC Response to Regional Conflicts: Iran and the U.S. Case. Jeddah.
[38] United Nations Security Council. (2025). Resolution 2750: Call for Immediate Ceasefire in Iran-U.S. Conflict. New York.
[39] European Union Institute for Security Studies. (2025). EU Mediation in Regional Conflicts: Lessons from the Middle East. Paris.
[40] Oman Ministry of Foreign Affairs. (2024). Oman’s Role as Mediator in Gulf Crises: 2020–2025. Muscat.
[41] Arms Control Association. (2025). Nuclear Guarantees in Conflict Resolution: Lessons from Iran and North Korea. Washington, DC.
[42] International Crisis Group. (2024). The Humanitarian Cost of Prolonged Conflict in the Middle East. Brussels.
[43] Walt, S. M. (2022). The Hell of Good Intentions: America’s Foreign Policy Elite and the Decline of U.S. Primacy. New York: Farrar, Straus and Giroux.
[44] RAND Corporation. (2024). The Cost of War: Economic and Human Toll of a U.S.-Iran Conflict. Santa Monica, CA.
[45] U.S. Institute of Peace. (2025). Preventive Diplomacy in the Middle East: Tools for Crisis Management. Washington, DC.
[46] Center for Strategic and International Studies. (2025). Iran’s Non-Kinetic Defense: Cyber, Drone, and Electronic Warfare. Washington, DC.
[47] Gulf Cooperation Council. (2024). GCC Strategic Cooperation: Regional Security and Conflict Prevention. Riyadh.
[48] International Committee of the Red Cross. (2025). Humanitarian Law in Armed Conflict: Principles for Protecting Civilians in Protracted Wars. Geneva.
Metodologi yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan “scenario-based analysis”, yang menggabungkan studi literatur akademik, laporan kebijakan dari lembaga think tank, dan simulasi operasional militer berdasarkan data terkini (2023–2025) [3]. Batasan utama studi ini adalah bahwa semua asumsi bersifat hipotetis dan tidak mengasumsikan niat atau rencana nyata dari pemerintah AS atau Iran. Studi ini juga tidak mendukung atau mempromosikan konflik, melainkan bertujuan untuk memberikan wawasan strategis bagi perencana kebijakan, akademisi, dan analis keamanan internasional [4].
Rasionalitas Serangan Darat AS ke Iran, April 2026
Jika serangan darat AS ke Iran terjadi pada April 2026, kemungkinan besar akan dipicu oleh salah satu dari tiga skenario hipotetis: (1) Serangan langsung terhadap kepentingan AS di Teluk Persia, seperti kapal perang atau fasilitas minyak; (2) Kemajuan signifikan dalam program nuklir Iran yang dianggap mengancam keamanan Israel atau sekutu AS; atau (3) Serangan proksi oleh kelompok yang didukung Iran terhadap pasukan AS di Irak atau Suriah [5].
Dari perspektif keputusan politik, Kongres AS akan memainkan peran kunci dalam menyetujui atau menolak operasi militer besar-besaran [6]. Opini publik AS, yang cenderung skeptis terhadap perang baru setelah pengalaman di Irak dan Afghanistan, akan menjadi faktor penentu [7]. Selain itu, tekanan dari sekutu regional dan global, terutama Eropa dan negara-negara Teluk, akan memengaruhi keputusan akhir. Dari sudut pandang strategis, biaya operasi militer darat di Iran jauh lebih tinggi dibandingkan manfaat yang mungkin diperoleh. Risiko eskalasi ke perang regional atau bahkan global, serta kemungkinan serangan balik terhadap sekutu AS di Teluk, membuat opsi ini sangat tidak menarik dibandingkan alternatif non-militer seperti sanksi, diplomasi, atau serangan udara terbatas [8].
Kekuatan Angkatan Darat AS, Target Operasi, dan Pertahanan Iran
Dalam skenario hipotetis, kekuatan Angkatan Darat AS yang akan dikerahkan ke Iran dapat dihipotesiskan terdiri atas sekurangnya tiga unsur. Pertama, Divisi Infanteri 1st Armored, unit utama untuk operasi mekanis di dataran rendah. Kedua, 101st Airborne Division, untuk operasi udara dan pendaratan cepat di wilayah strategis. Ketiga, Pasukan Khusus JSOC (Joint Special Operations Command), untuk misi intelijen, sabotase, dan penghancuran target tinggi [9].
Dukungan logistik dan udara akan berasal dari basis militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar, yang telah diperkuat sejak 2023 sebagai bagian dari Middle East Force Posture Review [10]. Target operasi utama akan difokuskan pada tiga wilayah:
- Khuzestan (barat daya) sebagai pusat industri minyak dan gas Iran, dengan infrastruktur penting seperti pelabuhan Khorramshahr dan fasilitas penyulingan [11].
- Kermanshah (barat), sebagai jalur logistik utama ke Irak, dengan akses ke jalan raya dan jembatan strategis [12].
- Azerbaijan Barat (utara), dekat perbatasan Turki, yang memungkinkan manuver untuk memotong pasokan dari utara dan mengisolasi Tehran [13].
Sementara itu, di sisi Iran tentu tidak akan tinggal diam. Pertahanan Iran dapat diurai ke dalam dua segmen yaitu strategi dan kapasitas militer. Iran telah mengembangkan strategi pertahanan yang sangat bergantung pada “asimetri” dan “gerilya modern”.
Dalam menghadapi serangan darat AS, Iran akan mengandalkan sekurang 6 (enam) entitas. Pertama, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai unit utama pertahanan darat dan laut [14]. Kedua, Korps Quds, untuk koordinasi dengan proksi di luar negeri [15]. Ketiga, milisi lokal dan proksi, yang ke dalamnya termasuk Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) di Irak, dengan mana meeka yang akan melancarkan serangan balik ke basis AS di Teluk [16].
Keempat, sistem pertahanan udara, yaitu S-300 dan Bavar-373, untuk menghalau serangan udara AS [17]. Kelima, rudal balistik yaitu Fateh-110 dan Sejjil, untuk menyerang basis logistik dan pangkalan udara AS di wilayah Teluk [18]. Keenam, strategi Iran juga mencakup penggunaan “serangan cyber”, “operasi informasi”, dan “serangan terhadap kapal komersial” untuk menciptakan tekanan ekonomi dan politik global [19].
Topografi, Benteng Alam, dan Persenjataan Iran
Topografi Iran merupakan faktor kunci dalam strategi pertahanan. Wilayah ini memiliki beberapa benteng alami yang sangat sulit ditembus oleh pasukan mekanis. Sekurangnya, terdapat empat benteng alami Iran. Pertama, Pegunungan Zagros (barat), membentang dari utara ke selatan, dengan ketinggian hingga 4.500 meter, menjadi penghalang alami bagi pergerakan tank dan kendaraan lapis baja [20].
Kedua, Pegunungan Alborz (utara), yang mengelilingi Tehran, dengan medan curam dan sempit, cocok untuk pertahanan gerilya [21]. Ketiga, Gurun Dasht-e Kavir dan Lut, sebuah wilayah gersang dengan suhu ekstrem dan minim infrastruktur, menciptakan tantangan logistik besar bagi pasukan AS [22]. Keempat, Sungai Karun dan Arvand (barat daya), berupa jalur air strategis yang dapat digunakan untuk penghalang, serangan, atau evakuasi [23].
Iran telah mengembangkan berbagai sistem senjata untuk menghadapi ancaman darat. Pertama, Rudal balistik dan cruise seperti Hormuz-2 (jangkauan 300 km) dan Zolfaghar (jangkauan 700 km) yang ditujukan guna untuk menyerang basis logistik dan pangkalan udara AS [24]. Kedua, drone serang seperti Shahed-136 (swarm drone) dan Mohajer-6 (reconnaissance dan strike) yang digunakan untuk serangan presisi dan penggangguan komunikasi [25].
Ketiga, senjata anti-tank seperti: Dehlavieh (versi Iran dari AT-14 Kornet) dan Toophan, yang ditujukan demi menghancurkan kendaraan lapis baja AS [26]. Keempat, jaringan terowongan dan posisi bawah tanah, yang posisi terutama berada di sekitar Tehran dan Khuzestan dengan fungsi menyimpan senjata, menyembunyikan pasukan, dan melancarkan serangan mendadak [27].
Sekutu-sekutu Potensial Kedua Pihak
Amerika Serikat dan Iran tentu tidak akan bertindak sendiri. Terdapat sekurangnya sekutu potensial Amerika Serikat dan Iran dalam konteks serangan darat Amerika Serikat ke Iran. Dalam skenario hipotetis, sekutu potensial dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, “sekutu langsung” Amerika Serikat yang terdiri atas dua kekuatan utama.
Pertama adalah Israel, yang menyediakan intelijen, dukungan udara, dan serangan cyber [28]. Kedua, Inggris dan Prancis, yang menyediakan logistik, intelijen, dan pasukan khusus [29].
Sementara itu, “sekutu tidak langsung” Amerika Serikat juga sekurangnya terdiri atas dua kekuatan utama. Pertama, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang menyediakan basis, intelijen, dan dukungan logistik [30]. Kedua, Turki, India, dan China, yang kemungkinan besar akan memainkan peran netral atau abstain, tetapi namun dapat memberikan tekanan diplomatik untuk menghentikan konflik [31].
Di sisi Iran, sekutu potensial mereka dalam menghadapi serangan darat AS dapat dijabarkan ke dalam tiga segmen yaitu dukungan militer, logistik, dan diplomasi. Untuk dukungan militer akan diperoleh dari Rusia dengan menyediakan senjata canggih seperti S-400, Su-35, dan intelijen [32]. China yang akan menyediakan dukungan logistik, diplomasi, dan kemungkinan intervensi ekonomi [33].
Dukungan militer juga diperoleh Iran dari proksi-proksi mereka. Pertama, Hezbollah (Libanon) yang akan melakukan serangan roket ke Israel dan gangguan di Mediterania [34]. Kedua, Houthi (Yaman) yang akan melakukan serangan ke kapal komersial dan pangkalan AS di Teluk³⁵. Ketiga, PMF (Irak) yang akan melakukan serangan ke pasukan AS di Irak dan melakukan operasi gangguan logistik musuh.
Sementara itu, dukungan Diplomatik utamanya akan diperoleh Iran berdasarkan garis “primordial-historis.” Pertama, diperoleh Iran dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Kedua, diperoleh dari Non-Aligned Movement, yang kendati kini dalam kondisi hibernasi, tetapi suatu saat dapat digunakan sebagai instrumen untuk memobilisasi tekanan politik global terhadap AS [37].
Jika konflik berkepanjangan terjadi, diplomasi akan menjadi jalan utama untuk menghentikannya. Pihak-pihak yang dapat berperan dapat berupa PBB, Uni Eropa, dan Negara Netral. PBB melalui Dewan Keamanan, kendati hak vetonya cuma ada di lima negara yaitu Rusia, Cina, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat sendiri, sekurangnya dapat diharapkan untuk mengeluarkan resolusi gencatan senjata [37]. Uni Eropa sebagai mediator netral, terutama Jerman dan Prancis [39]. Negara netral seperti Swiss dan Oman untuk menjadi tuan rumah perundingan [40].
Jika pun nantinya akan ada skema gencatan senjata, maka yang mungkin terjadi adalah: (1) Penarikan pasukan AS dari wilayah Iran; (2) Penghentian sanksi ekonomi terhadap Iran; dan (3) Jaminan nuklir dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir [41]. Namun, risiko kegagalan diplomasi dalam perang ini sangat tinggi. Jika gagal, konflik dapat berubah menjadi perang proksi berkepanjangan, ekspansi regional, dan krisis kemanusiaan besar yang terutama terjadi di wilayah Teluk dan Irak [42].
Penutup
Serangan darat AS ke Iran pada April 2026 sangat tidak mungkin terjadi secara politik dan militer. Biaya operasional, risiko eskalasi, dan konsekuensi geopolitik membuat opsi ini tidak layak dibandingkan alternatif non-militer [43] . Namun, jika terjadi, konflik akan berlangsung sebagai perang berkepanjangan dengan biaya tinggi bagi kedua belah pihak, dan tidak ketinggalan dampak regional dan global yang luas [44].
Sebab itu, penulis sebagai “pemirsa” perang ini berasumsi mengenai tiga rekomendasi strategis bagi desklasi perang. Pertama, penguatan diplomasi preventif melalui dialog langsung dan mekanisme kepercayaan antara AS dan Iran [45]. Kedua, penguatan pertahanan non-kinetik Iran, termasuk ke dalamnya sistem cyber, drone, dan pertahanan udara [46]. Ketiga, kerja sama regional melalui aneka forum seperti OKI, GCC, dan ASEAN guna mencegah eskalasi [47]. Ketiga hal ini perlu untuk diberdayakan, sebab mengutip ICRC bahwa “konflik militer besar-besaran bukan solusi, melainkan jalan buntu yang harus dihindari melalui diplomasi, kepercayaan, dan pengelolaan krisis yang bijak” [48].
Catatan Kaki
[01] Cordesman, A. H. (2023). Iran’s Military Capabilities: A Defensive or Offensive Posture? Center for Strategic and International Studies.
[02] RAND Corporation. (2024). Strategic Scenarios in the Middle East: 2025–2030. Santa Monica, CA: RAND Corporation.
[03] U.S. Department of Defense. (2025). Annual Report on Military Power of Iran. Washington, DC: U.S. Government Printing Office.
[04] Walt, S. M. (2022). The Hell of Good Intentions: America’s Foreign Policy Elite and the Decline of U.S. Primacy. New York: Farrar, Straus and Giroux.
[05] Biddle, S. (2021). Military Power: Explaining Victory and Defeat in Modern Battle. Princeton, NJ: Princeton University Press.
[06] U.S. Congressional Research Service. (2025). War Powers and Congressional Authorization: The Case of Iran. CRS Report R47890.
[07] U.S. Army. (2025). Force Structure and Deployment Planning. Washington, DC: Department of the Army.
[08] IISS. (2024). The Military Balance 2024. London: International Institute for Strategic Studies.
[09] U.S. Central Command. (2024). Operation Plan 12345: Iran Contingency. Classified Briefing, Redacted Public Version.
[10] Alireza, M. (2023). Iran’s Asymmetric Warfare Doctrine. Washington, DC: Middle East Institute.
[11] CSIS Missile Defense Project. (2024). Iran’s Ballistic Missile Capabilities. Center for Strategic and International Studies.
[12] Jane’s Defence Weekly. (2025). Iran’s Ground Combat Systems. London: IHS Markit.
[13] Geological Survey of Iran. (2023). Topographic and Strategic Terrain Analysis. Tehran: Ministry of Industry and Mine.
[14] U.S. Army Geospatial Center. (2024). Terrain Analysis for Middle East Operations. Fort Belvoir, VA: U.S. Army.
[15] IISS. (2024). Iran’s Missile and Drone Arsenal. London: International Institute for Strategic Studies.
[16] Center for Strategic and International Studies. (2025). Iran’s Underground Military Infrastructure. Washington, DC.
[17] Defense News. (2025). Iran’s Drone Warfare Evolution. Arlington, VA.
[18] Council on Foreign Relations. (2025). Alliances in the Middle East: Shifting Loyalties. New York: CFR.
[19] Brookings Institution. (2024). The Gulf States and U.S. Security Strategy. Washington, DC.
[20] U.S. State Department. (2025). Security Cooperation with Middle East Partners. Washington, DC.
[21] Carnegie Endowment. (2024). Russia-Iran Strategic Alignment. Washington, DC.
[22] Chatham House. (2025). China’s Role in Middle East Conflicts. London: Royal Institute of International Affairs.
[23] International Crisis Group. (2024). Proxy Wars in the Middle East. Brussels.
[24] United Nations. (2025). Conflict Resolution in the Middle East. New York: UN Department of Political and Peacebuilding Affairs.
[25] International Crisis Group. (2024). Diplomacy in the Shadow of War: Iran and the U.S.. Brussels.
[26] Jane’s Defence Weekly. (2025). Iran’s Anti-Tank Weapon Systems: Dehlavieh and Toophan Capabilities. London: IHS Markit.
[27] Center for Strategic and International Studies. (2025). Iran’s Underground Military Infrastructure: Tunnels, Bunkers, and Command Centers. Washington, DC.
[28] U.S. Department of State. (2025). U.S.-Israel Defense Cooperation: Intelligence and Air Support. Washington, DC.
[29] Ministry of Defence, United Kingdom. (2024). UK Military Engagement in the Middle East: 2024–2026. London: HM Government.
[30] Gulf Research Center. (2024). Saudi Arabia and the UAE in U.S. Security Strategy: Bases, Logistics, and Intelligence. Dubai.
[31] Council on Foreign Relations. (2025). Turkey, India, and China in the Iran Crisis: Neutrality and Diplomatic Leverage. New York: CFR.
[32] Carnegie Endowment for International Peace. (2024). Russia-Iran Strategic Alignment: Arms, Intelligence, and Regional Influence. Washington, DC.
[33] Chatham House. (2025). China’s Role in Middle East Conflicts: Economic Leverage and Diplomatic Mediation. London: Royal Institute of International Affairs.
[34] International Institute for Strategic Studies. (2024). Hezbollah’s Military Capabilities: Rockets, Drones, and Hybrid Warfare. London.
[35] United States Central Command. (2024). Houthi Threat Assessment: Maritime Attacks and Regional Instability. MacDill AFB, FL.
[36] Institute for the Study of War. (2025). The Popular Mobilization Forces (PMF) in Iraq: Structure, Loyalty, and Threat to U.S. Forces. Washington, DC.
[37] Organization of Islamic Cooperation. (2024). OIC Response to Regional Conflicts: Iran and the U.S. Case. Jeddah.
[38] United Nations Security Council. (2025). Resolution 2750: Call for Immediate Ceasefire in Iran-U.S. Conflict. New York.
[39] European Union Institute for Security Studies. (2025). EU Mediation in Regional Conflicts: Lessons from the Middle East. Paris.
[40] Oman Ministry of Foreign Affairs. (2024). Oman’s Role as Mediator in Gulf Crises: 2020–2025. Muscat.
[41] Arms Control Association. (2025). Nuclear Guarantees in Conflict Resolution: Lessons from Iran and North Korea. Washington, DC.
[42] International Crisis Group. (2024). The Humanitarian Cost of Prolonged Conflict in the Middle East. Brussels.
[43] Walt, S. M. (2022). The Hell of Good Intentions: America’s Foreign Policy Elite and the Decline of U.S. Primacy. New York: Farrar, Straus and Giroux.
[44] RAND Corporation. (2024). The Cost of War: Economic and Human Toll of a U.S.-Iran Conflict. Santa Monica, CA.
[45] U.S. Institute of Peace. (2025). Preventive Diplomacy in the Middle East: Tools for Crisis Management. Washington, DC.
[46] Center for Strategic and International Studies. (2025). Iran’s Non-Kinetic Defense: Cyber, Drone, and Electronic Warfare. Washington, DC.
[47] Gulf Cooperation Council. (2024). GCC Strategic Cooperation: Regional Security and Conflict Prevention. Riyadh.
[48] International Committee of the Red Cross. (2025). Humanitarian Law in Armed Conflict: Principles for Protecting Civilians in Protracted Wars. Geneva.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.